Anda di halaman 1dari 37

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN

(PPG DALJAB)

TUGAS M6 KB2
PENILAIAN OTENTIK

HOTDELIMA BR HUTABARAT, SP
18071084510016
SMK NEGERI 1 ARSE
KABUPATEN TAPANULI SELATAN
PROPINSI SUMATERA UTARA

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2018
Nama : Hotdelima Br Hutabarat

No.Peserta PPGDJ : 18071084510016

Kompetensi Keahlian : Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura

LPTK : Universitas Sebelas Maret

Modul/Materi : M6 KB2/ Penilaian Otentik

Tugas

Kemampuan berbahasa pesrta didik dapat dinilai dari aspek yaitu kompetensi aktif reseptif dan
kompetensi aktif produktif. Kompetensi aktif reseptif lebih ditujukan untuk mengungkap pemahaman
wacana lisan maupun tulisan, sedangkan kompetensi aktif produktif adalah kemampuan peerta didik untuk
menghasilkan bahasa untuk disampaikan kepada pihak lain secara lisan (berbicara) maupun tertulis
(menulis). Kedua kompetensi ini menuntut dilaksanakan penilaian unjuk kerja bahasa atau praktik
mepergunakan bahasa. Khusus untuk kompetensi aktif produktif yaitukompetensi berbicara dan menulis
sangat tepat dinilai menggunakan penilaian otentik.
Tugas
 Identifikasi tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan kompetensi berbicara.
 Identifikasi tugas-tugas belajar yangb berkaitan dengan kompetensi berbicara.
 Rancangkan program pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik untuk menilai kompetensi
berbicara.
 Rancangkan program pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik untuk menilai kompetensi
menulis.

Rubrik

Aspek Bobot
Tugas-tugas belajar kompetensi berbicara 20%
Tugas-tugas belajar komoetensi menulis 20%
Rancangan penilaian otentik untuk kompetensi berbicara 30%
Rancangan penilaian otentik untuk kompetensi menulis 30%
Pertanyaan dan Jawaban
1. Identifikasi tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan kompetensi berbicara.
Tarigan (2008:15) mendefinisikan berbicara adalah kemampuan dalam mengucapkan bunyi-bunyi
artikulasi untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Berbicara merupakan sutau bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis,
neurologis, semantik, dan linguistik, secara luas berbicara dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling
penting bagi kontrol manusia. Setiap orang yang berbicara tentu mempunyai tujuan yakni menyampaikan
pikiran dan perasaan secara efektif. Tarigan (2008:15) mengatakan bahwa sebagai alat sosial, pada dasarnya
berbicara mempunyai tiga maksud umum yaitu sebagai berikut: 1. memberitahukan dan melaporkan (to
inform); 2. menjamu dan menghibur (to entertain); 3. membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to
persuade). http://eprints.ums.ac.id/42879/15/naskah%20publikasi.pdf
Tugas tugas belajar yang dapat diberikan kepada peserta didik yang berkaitan dengan kompetensi berbicara
adalah sebagai berikut :
Tugas berbicara sebagai bentuk assesmen otentik harus berupa tugas-tugas yang ditemukan dan
dibutuhkan dalam kehidupan nyata Tugas berbicara otentik dimaksudkan sebagai tes berbicara yang
memenuhi kriteria assesmen otentik 
1. Berbicara berdasarkan gambar
1. Gambar Objek

2. Gambar Cerita

Tugas ini memang sangat berkaitan dengan kegiatan menyimak Tugas berbicara berdasarkan
rangsangan suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal dari radio atau rekaman yang
sengaja dibuat 
2. Berbicara berdasarkan rangsangan suara :
- Tugas berbicara berdasarkan rangsangan suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal
dari radio atau rekaman yang sengaja dibuat.
- Tugas ini berkaitan dengan menyimak
3. Berbicara berdasarkan rangsangan visual dan suara
Berbicara berdasarkan rangsangan visual dan suara merupakan gabungan antara berbicara berdasarkan
rangsangan gambar dan suara sebelumnya
4. Bercerita
Tugas bercerita yang dimaksudkan di sini ada kemiripan dengan tugas bercerita berdasarkan beberapa
rangsang di atas, namun lebih luas cakupannya. Ia dapat berdasarkan “rangsang” apa saja tergantung
perintah guru
5. Wawancara
Wawancara (oral interview) barangkali merupakan teknik yang paling banyak dipergunakan untuk
menilai kompetensi berbicara seseorang dalam suatu bahasa
Mampu memenuhi kebutuhan rutin untuk bepergian dan tatakama berbahasa secara minimal. 2. Mampu
memenuhi kebutuhan rutin sosial untuk keperluan pekerjaan secara terbatas. 3. Mampu berbicara dengan
ketepatan tata bahasa dan kosakata untuk berperan serta dalam umumnya percakapan formal dan non
formall dalam masalah yang bersifat praktis, sosial, dan profesional. 4. Mampu memergunakan bahasa itu
dengan fasih dan tepat dalam segala tingkat sesuai dengan kebutuhan professional. 5. Mampu
mempergunakan bahasa itu dengan fasih sekali (asing: setaraf dengan penutur asli terpelajar).
6. Berdiskusi dan Debat
Berdiskusi, berdebat, dan berdialog merupakan tugas-tugas berbicara yang paling tidak melibatkan dua
orang pembicara.
7. Berpidato
Untuk melatih kemampuan peserta didik mengungkapkan gagasan dalam bahasa yang tepat dan cerrnat,
tugas berpidato baik untuk diajarkan dan diujikan di sekolah. Ujian berbahasa lisan dengan tugas
berpidato pun tinggi kadar keotentikannya.
https://www.slideshare.net/diantara1/kompetensi-berbicara

2. Identifikasi tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan kompetensi menulis.


Tugas tugas belajar yang dapat diberikan kepada peserta didik yang berkaitan dengan kompetensi menulis
adalah sebagai berikut :
a. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja sering disebut sebagai penilaian unjuk kerja (performance
assessment). Bentuk penilaian ini digunakan untuk mengukur status kemampuan belajar
peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pada penilaian kinerja peserta didik
diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu dengan maksud agar peerta didik
mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Instrumen yang dapat
digunakan untuk merekam hasil belajar pada penilaian kinerja ini antara lain: daftar cek
(check list), catatan anekdot/narasi, skala penilaian ( rating scale).
b. Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment)adalah bentuk penilaian yang diujudkan dalam
bentuk pemberian tugas kepada peserta didik secara berkelompok. Penilaian ini difokuskan
pada penilaian terhadap tugas belajar yang harus diselesaikan oleh peserta didik dalam
periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat juga dikatakan sebagai penilaian berbentuk
penugasan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menghasilkan karya
tertentu yang dilakukan secara berkelompok. Dengan menggunakan penilaian proyek
pendidik dapat memperoleh informasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam hal
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis informasi atau data, sampai dengan pemaknaanatau
penyimpulan.
b. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan salah satu penilaian otentik yang dikenakan pada sekumpulan karya
peserta didik yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun
waktu tertentu. Karya-karya ini berkaitan dengan mata pelajaran dan disusun secara
7 sistematis dan terogansir . Proses penilaian portofolio dilakukan secara bersama antara antara
peserta didik dan guru.Hal ini dimaksudkan untuk menentukan fakta-fakta peserta didik dan
proses bagaimana fakta-fakta tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti bahwa peserta didik
telah memiliki kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan yang telah
ditetapkan. Untuk melakukan penilaian portofolio secara tepat perlu memperhatikan hal-hal
seperti berikutini, yaitu: kesesuaian,saling percaya antara pendidik dan peserta didik,
kerahasiaan bersama antara pendidik dan peserta didik, kepuasan, milik bersama antara
pendidik guru dan peserta didik, penilaian proses dan hasil.
d. Jurnal
Jurnal belajar merupakan rekaman tertulis tentang apa yang dilakukan peserta didik
berkaitan dengan apa-apa yang telah dipelajari. Jurnal belajar ini dapat digunakan untuk
merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang
dipelajari. Misalnya, perasaan siswa terhadap suatu pelajaran, kesulitan yang dialami, atau
keberhasilan di dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan
dan komentar yang dibuat siswa.Jurnal merupakan tulisan yang dibuat peserta didik untuk
menunjukkan segala sesuatu yang telah dipelajari atau diperoleh dalam proses pembelajaran.
Jadi, jurnal dapat juga diartikan sebagai catatan pribadi siswa tentang materi yang
disampaikan oleh guru di kelas maupun kondisi proses pembelajaran di kelas.
e. Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis mensuplai jawaban isian atau melengkapi, jawaban singkat atau
pendek dan uraian. Penilaian tertulis yang termasuk dalam model penilaian otentik adalah
penilaian yang berbentuk uraian atau esai yang menuntut peserta didik mampu mengingat,
memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi dan
sebagainya atas materi yang telah dipelajari. Penilaian ini sebisa mungkin bersifat
komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan
peserta didik.Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal
seperti kesesuaian soal dengan indikator pada kurikulum, konstruksisoal atau pertanyaan
harus jelas dan tegas, dan bahasa yang digunakan tidak menimbulkan penafsiran ganda.
f. Penilaian Diri
Penilaian diri(self assessment)adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik
diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan proses dan tingkat pencapaian
8 kompetensi yang diperolehnya dalam pelajaran tertentu. Dalam proses penilaian diri, bukan
berarti tugas pendidik untuk menilai dilimpahkan kepada peserta didik semata dan terbebas
dari kegiatan melakukan penilaian. Dengan penilaian diri, diharapkan dapat melengkapi dan
menambah penilaian yang telah dilakukan pendidik. Untuk melaksanakan penilaian diri oleh peserta
didik di kelas perlu memperhatikan hal-halseperti: menentukan terlebih dahulu kompetensi atau aspek
apa yang akan dinilai; langkah berikutnya menentukan criteria penilaian yang akan digunakan;
merancang format penilaian yang akan digunakan seperti pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau
skala penilaian; peserta didik diminta untuk melakukan penilaian diri; pendidik mengkaji sampel
hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan
penilaian diri secara cermat dan objektif; dan pendidik menyampaikan umpan balik kepada
peserta didik yang didasarkan pada hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil
secara acak.
g. Penilaian Antarteman
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peseta
didik untuk saling menilai temannya terkait dengan pencapain kompetensi, sikap, dan
perilaku keseharian peserta didik. Penilaian ini dapat dilakukan secara berkelompok untuk
mendapatkan informasi sekitar kompetensi peserta didik dalam kelompok. Informasi inidapat
dijadikan sebagai bahan menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
h. Pertanyaan Terbuka
Penilaian otentik juga dilakukan dengan cara meminta peserta didik membaca materi
pelajaran, kemudian merespon pertanyaan terbuka. Penilaian ini lebih difokuskan terhadap
bagaimana peserta didik mengaplikasikan informasi daripada seberapa banyak peserta didik
memanggil kembali apa yang telah diajarkan. Pertanyaan terbuka tesebut harus dibatasi
supaya jawabannya tidak terlalu luas dan bermakna sesuai dengan tujuannya.
i. Menceritakan Kembali Teks atau Cerita
Menceritakan kembali teks atau cerita merupakan model penilaian otentik yang
meminta peserta didik membaca atau mendengarkan suatu teks kemudian menceritakan
kembali ide pokok atau bagian yang dipilihnya. Penilaian model ini dimaksudkan untuk
mengetahui keampuan peserta didik dalam mengungkapkan kembali apa yang sudah dibaca
tidak sebatas pada apa yang didengar. 9
j. Menulis Sampel Teks
Menulis sampel teks adalah bentuk penilaian yang meminta peserta didik untuk
menulis teks narasi, ekspositori, persuasi, atau kombinasi berbeda dari teks-teks tersebut.
Penggunaan model penilaian ini disarankan menggunakan rubrik yang dapat menilai secara
analitis dan menyeluruh dalam ranah penulisan, seperti kosakata, komposisi, gaya bahasa,
konstruksi kalimat, dan proses penulisan.
k. Ekperimen atau Demonstrasi
Pada penilaian melalui eksperimen atau demonstrasi peserta didik diminta melakukan
eksperimen dengan bahan sebenarnya atau mengilustrasikan bagaimana sesuatu bekerja.
Peserta didik dapat dinilai dengan menggunakan rubrik berdasarkan semua aspek yang
dilakukan sesuai dengan karakteristik materi yang dieksprimenkan.
l. Pengamatan
Pada penilaian dengan pengamatan pendidik mengamati perhatian peserta didik dalam
mengerjakan tugas, responnya terhadap berbagai jenis tugas, atau interaksi dengan peserta
didik lain ketika sedang bekerja kelompok. Pengamatan dapat dilakukan dalam pembelajaran
secara spontan maupun dengan perencanaan sebelumnya.

3. Rancangkan program pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik untuk menilai


kompetensi berbicara.

Jawaban :

RPP dengan Penilaian Otentik Salah Satunya Siswa DISKUSI, BERDEBAT dan BERPIDATO

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan : SMK Negeri 1 Arse
Kelas/Semester : X / GANJIL
Tema : 1. Dasar Dasar Budidaya Tanaman
Sub Tema : 1.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Materi Pokok : Penerapan K3 Pada Pengendalian Hama Pada Pertanaman Hortikultura.
Pembelajaran ke :1
Alokasi Waktu : 50 menit
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerja sama,
toleran, damai), bertanggung-jawab, responsif, dan proaktif melalui keteladanan, pemberian nasehat,
penguatan, pembiasaan, dan pengkondisian secara berkesinambungan serta menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual,
operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja pada tingkat teknis,
spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia
kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
4. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual,
operasional lanjut, dan metakognitif secara multidisiplin sesuai dengan bidang dan lingkup kerja
pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan denganilmu pengetahuan,teknologi,seni,
budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga,
sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Mata pelajaran : Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

No. Kompetensi Dasar No. Indikator

3.2.  Menerapkan keselamatan dan 3.2.1.  Menerapkan pengunaan alat-alat pelindung


kesehatan (K3) dalam kegiatan diri dalam kegiata produksi tanaman
produksi tanaman. hortikultura
 Menerapkan K3 dalam kegiatan pengendalian
(C3) : menerapkan 3.2.2. hama pada tanaman hortikultura melalui
penyemprotan pestisida.

(C3) menerapkan
4.2 4.2.1  Mempraktekkan penerapan K3 dalam kegiatan
 Mengimplementasikan K3
produksi tanaman hortikultura
dalam kegiatan produksi
tanaman

Karakter: Disiplin, Kerjasama, teliti, Mandiri dan bertanggung jawab.


C. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui praktek kegiatan K3 peserta didik mampu menerapkan penggunaan alat-alat pelindung diri pada
kegiatan produksi tanaman hortikultura dengan teliti.
2. Melalui praktek kegiatan K3 peserta didik mampu menerapkan kegiatan pengendalian hama tanaman
hortikultura dengan teliti.
D. Materi Pembelajaran
 Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3)
 Menerapkan penggunaan K3
 Menerapkan Pekerjaan sesuai dengan SOP pada K3
E. Metode Pembelajaran

 Pendekatan Saintifik

 Model Pembelajaran Discovery Learning

 Metode belajar diskusi kelompok, praktek dan presentasi.


F. Media Pembelajaran
1. LCD Proyektor : berfungsi untuk menampilkan materi yang hendak disampaikan.
2. Laptop : alat bantu untuk menyampaikan materi penerapan K3.
3. Alat- alat pelindung diri seperti :Sarung tangan, Kacamata, Maker, Baju panjang tangan, Sepatu boot ,
Topi/Helm.
G. Sumber Belajar
a. Bahan ajar
1. Direktorat Pembinaan SMK. 2013. Buku Pembiakan Tanaman Kelas X
Semester 1. Jakarta: Kemendikbud RI.
2. Husni, lalu, 2003, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia , Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
b. Alat – alat pelindung diri
c. Modul PLPG
H. Langkah-langkah Pembelajaran :
Pertemuan 1 : 50 menit
KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI
WAKTU
Pendahuluan a. Guru memberi salam , dilanjutkan dengan meminta 5 menit
salah seorang siswa memandu doa, selanjutnya guru
menanyakan “kabar” kepada siswa, dengan
memberikan pertanyaan” bagaimana kabar anak-
anak hari ini ?”
b. Guru memperlihatkan gambar buah pear yang
dibungkus kertas kemudian mengajukan pertanyaan
“mengapa buah pear ini dibungkus?
c. Peserta didik menjawab, supaya buahnya terhindar
dari serangan hama.
d. Guru memperlihatkan lagi gambar buah yang sudah
diserang hama dan bertanya “ini kenapa”
e. Peserta didik menjawab, “buahnya sudah busuk
diserang hama”
f. Guru bertanya lagi “kalau sudah diserang hama
seperti ini apa yang harus dilakukan selain dengan
cara membungkus?
g. Peserta didik menjawab, “disemprot.”
h. Guru menanyakan “bagaimana cara menyemprot
yang benar, apa yang harus dipersiapkan?”
i. Guru meminta siswa untuk mendiskusikannya
dalam kelompok belajar.
j. Guru membentuk 3 kelompok, masing-masing
kelompok mengisi LKPD sambil mengamati alat-
alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan,
topi, sepatu lapangan dan menjelaskan fungsi.

Inti Merumuskan pertanyaan 35


Melalui menggali informasi dari referensi dan diskusi menit
siswa dapat mendeskripsikan K3 sesuai buku literatur
dengan teliti, santun, bekerjasama dan menghargai
pendapat orang lain.

a. Peserta didik diminta mengamati alat-alat pelindung


diri pada proses penyemprotan pestisida dipertanaman
sayur dan mendiskusikan masalah yang timbul yaitu:
Peserta didik merencanakan kegiatan penerapan
K3 pada pengendalian hama tanaman hortikultura:
melalui beberapa pertanyaan :
 Bagaimana cara menerapkan K3 dalam
pengendalian hama tanaman sayuran
 Apa yang terjadi bila alat pelindung diri tidak
digunakan pada saat penyemprotan hama pada
tanaman sayur ?

Merencanakan
a. Peserta didik mendiskusikan temuan-temuan
berdasarkan observasi terhadap penggunaan K3
dalam kegiatan penyemprotan pestisida pada tanaman
hortikultura.
b. Peserta didik merencanakan penerapan K3 untuk
pengendalian hama tanaman hortikultura.
c. Peserta didik melaksanakan cara penerapan K3 pada
pengendalian hama di pertanaman hortikultura.
Mengumpulkan dan menganalisis data
a. Peserta didik diminta mendata alat-alat pelindung diri
untuk pengendalian hama.
b. Peserta didik mencatat langkah kerja penerapan K3
pada pengendalian hama.
c. Peserta didik melaksanakan praktek penggunaan alat –
alat pelindung diri dalam pengendalian hama.
d. Peserta didik mengumpulkan data yang diperoleh dari
praktek penggunaan alat-alat pelindung diri pada
pengendalian hama pada tanaman hortikultura.
e. Peserta didik mengolah data yang diperoleh dari
praktek penerapan alat-alat pelindung diri pada
pengendalian hama.
f. Peserta didik membuat tabel dari data yang diperoleh.
g. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi
didepan kelas dan kelompok lain memberi tanggapan.
Menarik kesimpulan
Dari hasil diskusi dan praktek yang dilaksanakan peserta
didik bersama dengan guru menyimpulkan bahwa
penggunaan alat-alat pelindung diri dapat mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak pada
peningkatan produktifitas kerja.
Guru memberikan penguatan tentang materi yang telah
didiskusikan.
Aplikasi dan tindak lanjut

a. Peserta didik diminta dapat mengaplikasikan cara


yang tepat dalam penggunaan alat pelindung diri
dalam pengendalian hama tanaman hortikultura
dalam kehidupan sehari-hari
b. Guru meminta peserta didik untuk menanyakan hal-
hal yang belum jelas / kurang dipahami mengenai
penerapan K3 dalam pengendalian hama tanaman
hortikultura.
Penutup c. Guru bersama peserta didik melakukan refleksi 10 menit
terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
d. Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas
dan membimbing dalam merangkum kegiatan
menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
pada pengendalian hama tanaman sayuran.
e. Guru memberi beberapa pertanyaan kepada siswa
tentang kegiatan dalam pembelajaran pada hari ini.

I. Penilaian Hasil Pembelajaran


a. Penilaian Sikap : Teknik Non Tes Bentuk Pengamatan sikap
dalam pembelajaran.
b. Penilaian pengetahuan : Teknik tes bentuk tertulis uraian
c. Penilaian keterampilan : Teknik Tes Hasil pengamatan di lapangan
dalam melakukan praktek / eksprimen.
J. LAMPIRAN-LAMPIRAN:
Lampiran 1 : Pengembangan Bahan ajar
Lampiran 2 : Media pembelajaran
Lampiran 3 : Lembar kerja peserta didik
Lampiran 4 : Instrumen penilaian (Kisi-kisi, Soal, Kunci/rubrik/rambu-rambu
Jawaban, Pedoman penskoran)

Arse , Juli 2018

Guru Mata Pelajaran,

Hotdelima Br Hutabarat, SP
Nip. 197705252009042003

Lampiran 1 : Pengembangan Bahan ajar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

1. Mendeskripsikan Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3)

Pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah secara filosofis suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.

Seirama dengan derap langkah pembangunan negara ini kita akan memajukan industri yang maju
dan mandiri dalam rangka mewujudkan era industrialisasi. Proses industrialisasi maju ditandai antara lain
dengan mekanisme, elektrifikasi dan modernisasi. Dalam keadaan yang demikian maka penggunaan mesin-
mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern serta bahan berbahaya mungkin makin meningkat.

Masalah tersebut di atas akan sangat mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun
tingkat keseriusan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu
keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan tenaga kerja perlu
dikembangkan dan ditingkatkan, mengingat keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan agar :

A. Setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas
keselamatannya.
B. Setiap sumber produksi dapat dipakai, dipergunakan secara aman dan efisien.
C. Proses produksi berjalan lancar.
Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan
penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi. Oleh karena itu setiap usaha kesehatan dan
keselamatan kerja tidak lain adalah usaha pencegahan dan penanggulangan dan kecelakaan di tempat kerja.
Pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja haruslah ditujukan untuk mengenal dan menemukan
sebabsebabnya, bukan gejala-gejalanya untuk kemudian sedapat mungkin menghilangkan atau
mengeliminirnya. Untuk itu semua pihak yang terlibat dalam usaha berproduksi khususnya para pengusaha
dan tenaga kerja diharapkan dapat mengerti dan memahami serta menerapkan keselamatan dan kesehatan
kerja.

2. Kesehatan

Tujuan utama kesehatan Kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan
demikian mungkin dicapai, oleh karena terdapatnya korelasi diantara derajat kesehatan yang tinggi dengan
produktivitas keja atau perusahaan, yang didasarkan kenyataan-kenyataan.

Kondisi-kondisi Kesehatan Yang Menyebabkan Rendahnya Produktivitas Kerja Bedasarkan hasil survey
dan pengamatan Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan esehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja
tentang kesehatan yang berhubungan dengan produktifitas kerja diperoleh gambaran terlihat adanya kondisi-
kondisi kesehatan yang ditinjau dari sudut produktivitas tenaga kerja sangat tidak menguntungkan.

Adapun kondisi-kondisi tersebut adalah sebagai berikut.

a) Penyakit Umum Baik pada sektor pertanian, maupun sektor pertambangan, industri, dan lainlainnya,
penyakit yang paling banyak terdapat adalah penyakit infeksi, penyakit endemik dan penyakit parasit.
b) Penyakit Akibat Kerja Penyakit seperti pneumoconioses, dermatoses akibat kerja, keracunankeracunan
bahan kimia, gangguan-gangguan menatal psikologi akibat kerja, dan lainlain benar-benar terdapat pada
tenaga kerja.
c) Kondisi Gizi Keadaan gizi pada buruh-buruh menurut pengamatan yang pernah dijalankan sering tidak
menguntungkan ditinjau dari sudut produktivitas kerja. Adapun keadaan gizi kurang baik dikarenakan
baik dikarenakan penyakit-penyakit endemis dan parasitis, kurangnya pengertian tentang gizi,
kemampuan pengupahan yang rendah, dan beban kerja yang terlalu besar.
d) Lingkungan Kerja Lingkungan kerja sering kurang membantu untuk produktivitas optimal tenaga kerja.
Keadaan suhu, kelembaban, dan gerak udara memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
e) Perencanaan Lingkungan kerja sering kurang membantu untuk produktivitas optimal tenaga kerja.
Keadaan suhu, kelembaban, dan gerak udara memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
3. Menerapkan Pekerjaan sesuai dengan SOP

Dalam melaksanakan SOP perlu diketahuai diantaranya : Persyaratan Petunjuk-petunjuk, Tahapan


kerja, Tujuan, aspek-aspek yang diperlukan sesuai dengan prosedur dan standar. Di bawah ini kami
contohkan Jenis SOP Pekerjaan Diklat

Prasyarat Untuk memudahkan peserta diklat memahami unit buku ini, maka sebaiknya telah memahami
terlebih dahulu :

a) Isi Undang-Undang No. 14 tahun 1969. Tentang Ketentuan Pokok Mengenai Ketenagakerjaan
b) Isi Undang-Undang No. 1. tahun 1970. Tentang Keselamatan Kerja
c) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per. 04/Men/1980 tentang syarat- syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam bidang Agribisnis Tanaman Pangan dan
Hortikultura dapat mencegah kecelakaan akibat aktifitas pekerjaan.
Tujuan penerapan K3 dalam kegiatan ATPH adalah:
a. Menjaga kesehatan pekerja yang bergerak dibidang ATPH.
b. Mencegah timbulnya kecelakaan kerja dalam pelaksanaan aktifitas ATPH
c. Memberikan perlindungan bagi pekerja dari pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan
oleh factor-faktor yang membehayakan keselamatan dan kesehatan.

Sasaran K3 dalam ATPH adalah: seluruh pelaksana atau pekerja dan tempat kegiatan ATPH (segala tempat
kerja, baik darat, dalam tanah, dipermukaan air maupun didalam air).

Ketentuan – ketentuan penerapan prosedur K3 sebagai berikut:

a. Menerapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan system manajemen K3.
b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3.
c. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme
pendukung yang diperlukan mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran K3.
d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan
pencegahan.
e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem K3 secara berkesinambungan dengan
tujuan meningkatkan kinerja K3.
4. Potensi bahaya dilingkungan kerja.
Potensi bahaya dilingkungan kerja ATPH antara lain disebabkan oleh peralatan, bahan kimia dan
microorganism. Factor – factor penyebab kecelakaan kerja dapat berupa : Tindakan tidak aman dari
manusia itu sendiri dan keadaan tidak aman dari lingkungan kerja.
4.2.Alat pelindung diri.
Untuk memperkecil resiko akibat kecelakaan kerja biasanya para pekerja dilengkapi alat untuk
melindungi diri, yang terdiri dari : Alat pelindung mata, Pelindung pernafasan, dan Pelindung tangan
4.3.Pakaian Pelindung
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuh dari kotoran, debu,
bahaya percikan bahan kimia, radiasi,panas, dan api.
4.4.Sepatu Lapangan
Sepatu lapangan digunakan jika jenis pekerjaan yang digunakan adalah pekerjaan lapangan.
4.5.Topi Pengaman
Jenis alat ini digunakan untuk melindungi kepala dari panas dan kemungkinan benda-benda jatuh
dilapangan.
5. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
Prosedur untuk mengatasi kondisi darurat pada kecelakaan adalah :
1) Penanganan kondisi darurat dilapangan, banyak resiko yang terjadi dilapangan, dimana lokasi
tempat kerja biasanya jauh dari pemukiman sehingga pekerja perlu dibekali kemampuan untuk
memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.
2) Prosedur penanganan darurat diikuti berdasarkan standard perusahaan dan peryaratan kerja bagi
organisasi perusahaan.
3) Prinsip dasar penanganan keadaan darurat diantaranya:
a. Pastikan anda bukan menjadi korban berikutnya.
b. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efisien.
c. Pergunakanlah sumber daya yang ada: baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya.
d. Buatlah catatan usaha-usaha pertolongan yang telah dilakukan yakni memuat identitas
kornab, tempat dan waktu kejadian.
4) Tahapan secara umum pertolongan pertama yaitu:
a. Jangan panik.
b. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.
c. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.
d. Perhatikan tanda-tanda shock.
e. Jangan memindahkan korban secara berturut-turut.
f. Segera transportasikan korban kesentral pengobatan.

Pertolongan kepada pihak lain dapat berupa evakuasi. Prinsip evakuasi adalah :

a) Dilakukan jika mutlak perlu.


b) Menggunakan teknik yang baik dan benar
c) Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat
untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian.
6. Alat Pengangkutan
Untuk melaksanakan proses evakuasi korban ada beberapa cara alat pengangkutan yaitu: Manusia
sebagai pengakutan langsung. Peranan dan jumlah pengangkutan mempengaruhi cara angkut yang
dilaksanakan. Bila tugas penolong satu orang maka korban dapat dievakuasi dengan cara: dipondong
(untuk korban ringan dan anak-anak), di gendong, dipapah, dipanggul, merayap posisi miring.
7. Manajemen K3 pada Industri tanaman pangan dan hortikultura
Sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen yang teratur dan terintegrasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pedoman manajemen kesehatan dan keselamatan kerja menurut
peraturan mentri kesehatan 2007, meliputi :Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan), Tahap
perencanaan, Tahap pengukuran dan evaluasi, Tahap peninjauan ulang dan peningkatan.
Lampiran 2 : Media pembelajaran

Sepatu lapangan Kaca mata

Sarung tangan Baju pelindung Topi/helm


Lampiran 3 : Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

1. Aspek keterampilan.
Penerapan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada pengendalian hama
tanaman sayuran.
Tujuan
Dengan disediakan alat dan bahan siswa mampu menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) pada pengendalian hama tanaman sayuran.
Alat dan Bahan :
 Masker
 Sarung tangan
 Kacamata
 Sepatu lapangan
 Baju pelindung
Keselamatan Kerja : Lakukan dengan Hati-hati, teliti dan Tekun
Contoh : Instrumen praktek

1. Siswa secara berkelompok menunjukkan contoh penerapan K3 pada pengendalian hama tanaman
hortikultura.
2. Siswa secara kelompok mempraktekkan penggunaan alat pelindung diri dan menjelaskan
fungsinya.

No Kompetensi/uraian Alat – Alat Fungsi


kegiatan Pelindung Diri (K3)

1 Menerapkan Sarung tangan


keselamatan dan
Masker
kesehatan kerja (K3)
(C3) Topi

Kaca mata

Baju pelindung
Lampiran 4. Lembar Penilaian
1. Aspek Sikap
Selama pembelajaran, anda akan dinilai sikap meliputi sikap dalam melakukan pengamatan, sikap
diskusi, sikap dalam melakukan eksperimen, dan sikap dalam melakukan presentasi. Penilaian akan
dilakukan oleh dua observer/penilai yaitu Bapak/Ibu Guru dan anda atau temen anda.
Rubrik Penilaian Diskusi
PENILAIAN
NO ASPEK 4 3 2 1
1 Terlibat penuh
2 Bertanya
3 Menjawab
4 Memberikan gagasan orisinil
5 Kerjasama
6 Tertib

Aspek terlibat penuh


Skor 4 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang jelas
Skor 3 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang kurang jelas

Skor 2 Kadang-kadang memberikan pertanyaan

Skor 1 Diam sama sekali tdak bertanya

Aspek bertanya:
Skor 4 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang jelas

Skor 3 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang kurang jelas

Skor 2 Kadang-kadang memberikan pertanyaan


Skor 1 Diam sama sekali tdak bertanya

Aspek menjawab
Skor 4 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang jelas
Skor 3 Memberikan pertanyaan dalam kelompok dengan bahasa yang kurang jelas
Skor 2 Kadang-kadang memberikan pertanyaan
Skor 1 Diam sama sekali tdak bertanya
Aspek memberi jawaban original
Skor 4 Memberikan gagasan/ide yang orisinil berdasarkan pemikiran sendiri
Skor 3 Memberikan gagasan/ide yang didapat dari buku bacaan
Skor 2 Kadang-kadang memberikan gagasan/ide

Skor 1 Diam tidak pernah memberikan gagasan

Aspek kerjasama
Skor 4 Dalam diskusi kelompok terlibat aktif, tanggung jawab dalam tugas, dan
membuat teman-temannya nyaman dengan keberadaannya

Skor 3 Dalam diskusi kelompok terlibat aktif tapi kadang-kadang membuat teman-
temannya kurang nyaman dengan keberadaannya

Skor 2 Dalam diskusi kelompok kurang terlibat aktif


Skor 1 Diam tidak aktif

Aspek tertib
Skor 4 Dalam diskusi kelompok aktif, santun, sabar mendengarkan pendapat teman-
temannya

Skor 3 Dalam diskusi kelompok tampak aktif,tapi kurang santun


Skor 2 Dalam diskusi kelompok suka menyela pendapat orang lain
Skor 1 Selama terjadi diskusi sibuk sendiri dengan cara berjalan kesana kemari
Rubrik Presentasi
PENILAIAN
NO ASPEK 4 3 2 1
1 Kejelasan presentasi

2 Pengetahuan

3 penampilan

Kriteria
Penilaian
Aspek
4 3 2 1

Kejelasan Sistematika Sistematika Sistematika Sistematika


presentasi penjelasan logis penjelasan logis penjelasan tidak penjelasan tidak
dengan bahasa dan bahasa sangat logis meskipun logis meskipun
dan suara yang jelas tetapi suara menggunakan menggunakan
sangat jelas kurang jelas bahasa dan suara bahasa dan suara
cukup jelas cukup jelas

Pengetahuan Menguasai Menguasai materi Penguasaan Materi kurang


materi presentasi presentasi dan materi kurang dikuasai serta
dan dapat dapat menjawab meskipun bisa tidak bisa
menjawab pertanyaan dengan menjawab menjawab seluruh
pertanyaan baik dan seluruh pertanyaan dan
dengan baik dan kesimpulan pertanyaan dan kesimpulan tidak
kesimpulan mendukung topik kesimpulan tidak mendukung topik
mendukung topik yang dibahas berhubungan
yang dibahas dengan topik
yang dibahas
Penampilan Penampilan Penampilan cukup Penampilan Penampilan
menarik, sopan menarik, sopan, kurang menarik, kurang menarik,
dan rapi, dengan rapih dan percaya sopan, rapi tetapi sopan, rapi tetapi
penuh percaya diri menggunakan kurang percaya tidak percaya diri
diri serta alat bantu diri serta dan tidak
menggunakan menggunakan menggunakan alat
alat bantu alat bantu bantu
PENGETAHUAN
A. Teknik penilaian : tes tertulis
 Menerapkan pengunaan alat-alat pelindung diri dalam kegiatan produksi tanaman hortikultura
 Menerapkan K3 dalam kegiatan pengendalian hama pada tanaman sayur melalui penyemprotan
pestisida.

Bentuk No Butir
KD IPK Materi Pokok Indikator Soal
Soal Soal Soal

Melaksan 
7.2.Menerapkan Mendeskripsika 1. Disajikan alat- PG 1 Terlampi
1
keselamatan n Keselamatan alat pelindung r
akan K3
dan dan kesehatan diri dalam K3 Lampira
dalam
kesehatan Kerja (K3) pada proses n
kegiatan
kerja (K3) kegiatan
produksi
produksi
tanaman
(C3) tanaman

 Memprak  Disajikan PG 2 Terlampi


 4.2 Menerapkan
tekkan penggunaan r
Mengimple prinsip
K3 alat-alat Lampira
mentasikan penggunaan alat
dalam pelindung diri n
K3 dalam pelindung diri
kegiatan dalam K3 pada
kegiatan
produksi proses kegiatan
produksi
tanaman produksi
tanaman
hortikult tanaman
.
ura

4.Rancangkan program pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik untuk menilai


kompetensi menulis.

Jawaban :

RPP dengan Penilaian Otentik Salah Satunya Siswa PENILAIAN TERTULIS


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMK Negeri 1 Arse
Kelas/Semester : X / GANJIL
Tema : 1. Dasar Dasar Budidaya Tanaman
Sub Tema : 1.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Materi Pokok : Penerapan K3 Pada Pengendalian Hama Pada Pertanaman Hortikultura.
Pembelajaran ke :1
Alokasi Waktu : 50 menit
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerja sama,
toleran, damai), bertanggung-jawab, responsif, dan proaktif melalui keteladanan, pemberian nasehat,
penguatan, pembiasaan, dan pengkondisian secara berkesinambungan serta menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual,
operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja pada tingkat teknis,
spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia
kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
4. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual,
operasional lanjut, dan metakognitif secara multidisiplin sesuai dengan bidang dan lingkup kerja
pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan denganilmu pengetahuan,teknologi,seni,
budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga,
sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Mata pelajaran : Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

No. Kompetensi Dasar No. Indikator

3.2.  Menerapkan keselamatan dan 3.2.1.  Menerapkan pengunaan alat-alat pelindung


kesehatan (K3) dalam kegiatan diri dalam kegiata produksi tanaman
produksi tanaman. hortikultura
 Menerapkan K3 dalam kegiatan pengendalian
(C3) : menerapkan 3.2.2. hama pada tanaman hortikultura melalui
penyemprotan pestisida.

(C3) menerapkan

4.2 4.2.1  Mempraktekkan penerapan K3 dalam


 Mengimplementasikan K3
kegiatan produksi tanaman hortikultura
dalam kegiatan produksi
tanaman

Karakter: Disiplin, Kerjasama, teliti, Mandiri dan bertanggung jawab.


C. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui praktek kegiatan K3 peserta didik mampu menerapkan penggunaan alat-alat pelindung diri pada
kegiatan produksi tanaman hortikultura dengan teliti.
2. Melalui praktek kegiatan K3 peserta didik mampu menerapkan kegiatan pengendalian hama tanaman
hortikultura dengan teliti.
D. Materi Pembelajaran
 Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3)
 Menerapkan penggunaan K3
 Menerapkan Pekerjaan sesuai dengan SOP pada K3
E. Metode Pembelajaran

 Pendekatan Saintifik

 Model Pembelajaran Discovery Learning

 Metode belajar diskusi kelompok, praktek dan presentasi.


F. Media Pembelajaran
 LCD Proyektor : berfungsi untuk menampilkan materi yang hendak disampaikan.
 Laptop : alat bantu untuk menyampaikan materi penerapan K3.
 Alat- alat pelindung diri seperti :Sarung tangan, Kacamata, Maker, Baju panjang tangan, Sepatu boot ,
Topi/Helm.
G. Sumber Belajar
a. Bahan ajar
b. Direktorat Pembinaan SMK. 2013. Buku Pembiakan Tanaman Kelas X
1. Semester 1. Jakarta: Kemendikbud RI.
c. Husni, lalu, 2003, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia , Jakarta: PT Raja
1. Grafindo Persada.
d. Alat – alat pelindung diri
e. Modul PLPG
H. Langkah-langkah Pembelajaran :
Pertemuan 1 : 50 menit
KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI
WAKTU
Pendahuluan k. Guru memberi salam , dilanjutkan dengan meminta 5 menit
salah seorang siswa memandu doa, selanjutnya guru
menanyakan “kabar” kepada siswa, dengan
memberikan pertanyaan” bagaimana kabar anak-
anak hari ini ?”
l. Guru memperlihatkan gambar buah pear yang
dibungkus kertas kemudian mengajukan pertanyaan
“mengapa buah pear ini dibungkus?
m. Peserta didik menjawab, supaya buahnya terhindar
dari serangan hama.
n. Guru memperlihatkan lagi gambar buah yang sudah
diserang hama dan bertanya “ini kenapa”
o. Peserta didik menjawab, “buahnya sudah busuk
diserang hama”
p. Guru bertanya lagi “kalau sudah diserang hama
seperti ini apa yang harus dilakukan selain dengan
cara membungkus?
q. Peserta didik menjawab, “disemprot.”
r. Guru menanyakan “bagaimana cara menyemprot
yang benar, apa yang harus dipersiapkan?”
s. Guru meminta siswa untuk mendiskusikannya
dalam kelompok belajar.
t. Guru membentuk 3 kelompok, masing-masing
kelompok mengisi LKPD sambil mengamati alat-
alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan,
topi, sepatu lapangan dan menjelaskan fungsi.

Inti Merumuskan pertanyaan 35


Melalui menggali informasi dari referensi dan diskusi menit
siswa dapat mendeskripsikan K3 sesuai buku literatur
dengan teliti, santun, bekerjasama dan menghargai
pendapat orang lain.

b. Peserta didik diminta mengamati alat-alat pelindung


diri pada proses penyemprotan pestisida dipertanaman
sayur dan mendiskusikan masalah yang timbul yaitu:
Peserta didik merencanakan kegiatan penerapan
K3 pada pengendalian hama tanaman hortikultura:
melalui beberapa pertanyaan :
 Bagaimana cara menerapkan K3 dalam
pengendalian hama tanaman sayuran
 Apa yang terjadi bila alat pelindung diri tidak
digunakan pada saat penyemprotan hama pada
tanaman sayur ?

Merencanakan
d. Peserta didik mendiskusikan temuan-temuan
berdasarkan observasi terhadap penggunaan K3
dalam kegiatan penyemprotan pestisida pada tanaman
hortikultura.
e. Peserta didik merencanakan penerapan K3 untuk
pengendalian hama tanaman hortikultura.
f. Peserta didik melaksanakan cara penerapan K3 pada
pengendalian hama di pertanaman hortikultura.
Mengumpulkan dan menganalisis data
h. Peserta didik diminta mendata alat-alat pelindung diri
untuk pengendalian hama.
i. Peserta didik mencatat langkah kerja penerapan K3
pada pengendalian hama.
j. Peserta didik melaksanakan praktek penggunaan alat –
alat pelindung diri dalam pengendalian hama.
k. Peserta didik mengumpulkan data yang diperoleh dari
praktek penggunaan alat-alat pelindung diri pada
pengendalian hama pada tanaman hortikultura.
l. Peserta didik mengolah data yang diperoleh dari
praktek penerapan alat-alat pelindung diri pada
pengendalian hama.
m. Peserta didik membuat tabel dari data yang diperoleh.
n. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi
didepan kelas dan kelompok lain memberi tanggapan.
Menarik kesimpulan
Dari hasil diskusi dan praktek yang dilaksanakan peserta
didik bersama dengan guru menyimpulkan bahwa
penggunaan alat-alat pelindung diri dapat mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak pada
peningkatan produktifitas kerja.
Guru memberikan penguatan tentang materi yang telah
didiskusikan.
Aplikasi dan tindak lanjut

f. Peserta didik diminta dapat mengaplikasikan cara


yang tepat dalam penggunaan alat pelindung diri
dalam pengendalian hama tanaman hortikultura
dalam kehidupan sehari-hari
g. Guru meminta peserta didik untuk menanyakan hal-
hal yang belum jelas / kurang dipahami mengenai
penerapan K3 dalam pengendalian hama tanaman
hortikultura.
Penutup h. Guru bersama peserta didik melakukan refleksi 1
terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
i. Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas
dan membimbing dalam merangkum kegiatan
menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
pada pengendalian hama tanaman sayuran.
j. Guru memberi beberapa pertanyaan kepada siswa
tentang kegiatan dalam pembelajaran pada hari ini.

I.Penilaian Hasil Pembelajaran


a. Penilaian Sikap : Teknik Non Tes Bentuk Pengamatan sikap dalam pembelajaran.
b. Penilaian pengetahuan : Teknik tes bentuk tertulis uraian
c. Penilaian keterampilan : Teknik Tes Hasil pengamatan di lapangan dalam melakukan praktek
/ eksprimen.

J.LAMPIRAN-LAMPIRAN:
Lampiran 1 : Pengembangan Bahan ajar
Lampiran 2 : Media pembelajaran
Lampiran 3 : Lembar kerja peserta didik
Lampiran 4 : Instrumen penilaian (Kisi-kisi, Soal, Kunci/rubrik/rambu-rambu
Jawaban, Pedoman penskoran)

Arse , Juli 2018

Guru Mata Pelajaran,

Hotdelima Br Hutabarat, SP
Nip. 197705252009042003
Lampiran 1 : Pengembangan Bahan ajar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

8. Mendeskripsikan Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3)

Pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah secara filosofis suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.

Seirama dengan derap langkah pembangunan negara ini kita akan memajukan industri yang maju
dan mandiri dalam rangka mewujudkan era industrialisasi. Proses industrialisasi maju ditandai antara lain
dengan mekanisme, elektrifikasi dan modernisasi. Dalam keadaan yang demikian maka penggunaan mesin-
mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern serta bahan berbahaya mungkin makin meningkat.

Masalah tersebut di atas akan sangat mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun
tingkat keseriusan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu
keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan tenaga kerja perlu
dikembangkan dan ditingkatkan, mengingat keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan agar :

a. Setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas
keselamatannya.
b. Setiap sumber produksi dapat dipakai, dipergunakan secara aman dan efisien.
c. Proses produksi berjalan lancar.

Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan
penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi. Oleh karena itu setiap usaha kesehatan dan
keselamatan kerja tidak lain adalah usaha pencegahan dan penanggulangan dan kecelakaan di tempat kerja.
Pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja haruslah ditujukan untuk mengenal dan menemukan
sebabsebabnya, bukan gejala-gejalanya untuk kemudian sedapat mungkin menghilangkan atau
mengeliminirnya. Untuk itu semua pihak yang terlibat dalam usaha berproduksi khususnya para pengusaha
dan tenaga kerja diharapkan dapat mengerti dan memahami serta menerapkan keselamatan dan kesehatan
kerja.

9. Kesehatan

Tujuan utama kesehatan Kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan
demikian mungkin dicapai, oleh karena terdapatnya korelasi diantara derajat kesehatan yang tinggi dengan
produktivitas keja atau perusahaan, yang didasarkan kenyataan-kenyataan.
Kondisi-kondisi Kesehatan Yang Menyebabkan Rendahnya Produktivitas Kerja Bedasarkan hasil survey
dan pengamatan Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan esehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja
tentang kesehatan yang berhubungan dengan produktifitas kerja diperoleh gambaran terlihat adanya kondisi-
kondisi kesehatan yang ditinjau dari sudut produktivitas tenaga kerja sangat tidak menguntungkan.

Adapun kondisi-kondisi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Penyakit Umum Baik pada sektor pertanian, maupun sektor pertambangan, industri, dan lainlainnya,
penyakit yang paling banyak terdapat adalah penyakit infeksi, penyakit endemik dan penyakit parasit.
b. Penyakit Akibat Kerja Penyakit seperti pneumoconioses, dermatoses akibat kerja, keracunankeracunan
bahan kimia, gangguan-gangguan menatal psikologi akibat kerja, dan lainlain benar-benar terdapat pada
tenaga kerja.
c. Kondisi Gizi Keadaan gizi pada buruh-buruh menurut pengamatan yang pernah dijalankan sering tidak
menguntungkan ditinjau dari sudut produktivitas kerja. Adapun keadaan gizi kurang baik dikarenakan
baik dikarenakan penyakit-penyakit endemis dan parasitis, kurangnya pengertian tentang gizi,
kemampuan pengupahan yang rendah, dan beban kerja yang terlalu besar.
d. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja sering kurang membantu untuk produktivitas optimal tenaga kerja.
Keadaan suhu, kelembaban, dan gerak udara memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
e. Perencanaan Lingkungan kerja sering kurang membantu untuk produktivitas optimal tenaga kerja.
Keadaan suhu, kelembaban, dan gerak udara memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
10. Menerapkan Pekerjaan sesuai dengan SOP

Dalam melaksanakan SOP perlu diketahuai diantaranya : Persyaratan Petunjuk-petunjuk, Tahapan


kerja, Tujuan, aspek-aspek yang diperlukan sesuai dengan prosedur dan standar. Di bawah ini kami
contohkan Jenis SOP Pekerjaan Diklat

Prasyarat Untuk memudahkan peserta diklat memahami unit buku ini, maka sebaiknya telah memahami
terlebih dahulu :

a. Isi Undang-Undang No. 14 tahun 1969. Tentang Ketentuan Pokok Mengenai Ketenagakerjaan
b. Isi Undang-Undang No. 1. tahun 1970. Tentang Keselamatan Kerja
c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per. 04/Men/1980 tentang syarat- syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam bidang Agribisnis Tanaman Pangan dan
Hortikultura dapat mencegah kecelakaan akibat aktifitas pekerjaan.
Tujuan penerapan K3 dalam kegiatan ATPH adalah:
a. Menjaga kesehatan pekerja yang bergerak dibidang ATPH.
b. Mencegah timbulnya kecelakaan kerja dalam pelaksanaan aktifitas ATPH
c. Memberikan perlindungan bagi pekerja dari pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan
oleh factor-faktor yang membehayakan keselamatan dan kesehatan.
Sasaran K3 dalam ATPH adalah: seluruh pelaksana atau pekerja dan tempat kegiatan ATPH (segala tempat
kerja, baik darat, dalam tanah, dipermukaan air maupun didalam air).

Ketentuan – ketentuan penerapan prosedur K3 sebagai berikut:

a. Menerapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan system manajemen K3.
b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3.
c. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme
pendukung yang diperlukan mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran K3.
d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.
e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem K3 secara berkesinambungan dengan
tujuan meningkatkan kinerja K3.
11. Potensi bahaya dilingkungan kerja.
Potensi bahaya dilingkungan kerja ATPH antara lain disebabkan oleh peralatan, bahan kimia dan
microorganism. Factor – factor penyebab kecelakaan kerja dapat berupa : Tindakan tidak aman dari
manusia itu sendiri dan keadaan tidak aman dari lingkungan kerja.
11.2. Alat pelindung diri.
Untuk memperkecil resiko akibat kecelakaan kerja biasanya para pekerja dilengkapi alat untuk
melindungi diri, yang terdiri dari : Alat pelindung mata, Pelindung pernafasan, dan Pelindung tangan
11.3. Pakaian Pelindung
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuh dari kotoran, debu,
bahaya percikan bahan kimia, radiasi,panas, dan api.
11.4. Sepatu Lapangan
Sepatu lapangan digunakan jika jenis pekerjaan yang digunakan adalah pekerjaan lapangan.
11.5. Topi Pengaman
Jenis alat ini digunakan untuk melindungi kepala dari panas dan kemungkinan benda-benda jatuh
dilapangan.
12. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
Prosedur untuk mengatasi kondisi darurat pada kecelakaan adalah :
1. Penanganan kondisi darurat dilapangan, banyak resiko yang terjadi dilapangan, dimana lokasi tempat
kerja biasanya jauh dari pemukiman sehingga pekerja perlu dibekali kemampuan untuk memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan.
2. Prosedur penanganan darurat diikuti berdasarkan standard perusahaan dan peryaratan kerja bagi
organisasi perusahaan.
3. Prinsip dasar penanganan keadaan darurat diantaranya:
a. Pastikan anda bukan menjadi korban berikutnya.
b. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efisien.
c. Pergunakanlah sumber daya yang ada: baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya.
d. Buatlah catatan usaha-usaha pertolongan yang telah dilakukan yakni memuat identitas
kornab, tempat dan waktu kejadian.
4. Tahapan secara umum pertolongan pertama yaitu:
a. Jangan panik.
b. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.
c. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.
d. Perhatikan tanda-tanda shock.
e. Jangan memindahkan korban secara berturut-turut.
f. Segera transportasikan korban kesentral pengobatan.

Pertolongan kepada pihak lain dapat berupa evakuasi. Prinsip evakuasi adalah :

a. Dilakukan jika mutlak perlu.


b. Menggunakan teknik yang baik dan benar
c. Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk
menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian.
13. Alat Pengangkutan
Untuk melaksanakan proses evakuasi korban ada beberapa cara alat pengangkutan yaitu: Manusia
sebagai pengakutan langsung. Peranan dan jumlah pengangkutan mempengaruhi cara angkut yang
dilaksanakan. Bila tugas penolong satu orang maka korban dapat dievakuasi dengan cara: dipondong
(untuk korban ringan dan anak-anak), di gendong, dipapah, dipanggul, merayap posisi miring.
14. Manajemen K3 pada Industri tanaman pangan dan hortikultura
Sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen yang teratur dan terintegrasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pedoman manajemen kesehatan dan keselamatan kerja menurut
peraturan mentri kesehatan 2007, meliputi :Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan), Tahap
perencanaan, Tahap pengukuran dan evaluasi, Tahap peninjauan ulang dan peningkatan.
Lampiran 2 : Media pembelajaran

Sepatu lapangan Kaca mata

Sarung tangan Baju pelindung Topi/helm


Contoh soal :
1) Apakah resiko yang terjadi dalam melakukan kegiatan penyemprotan tanaman sayuran.
Jawab :
Resiko yang sering terjadi pada saat kegiatan penyemprotan pestisida pada pertanaman sayur adalah :
1. Keracunan akibat petani tidak menggunakan masker.
2. Iritasi kulit karena tidak menggunakan baju lengan panjang.
3. Iritasi mata karena tidak menggunakan kaca mata.
4. Kaki akan luka bila tidak menggunakan sepatu lapangan.

2) Uraikan dan jelaskan fungsi alat-alat yang digunakan dalam mengatasi berisiko dalam melakukan
kegiatan penyemprotan pestisida pada tanaman sayuran.
Jawab
Fungsi alat pelindung diri adalah sebagai berikut :
1. Sarung tangan befungsi melindung tangan dari tergorek, luka, terkena benda keras lainnya.
2. Masker berfungsi untuk melindungi alat pernapasan.
3. Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi tubuh.
4. Topi/helm untuk melindungi kepala dari panas matahari
5. Sepatu lapangan berfungsi untuk melindungi kaki dari gigitan ular, benda-benda yang tajam.
Nilai Akhir = Skor Perolehan x 100
Skor maksimal

Evaluasi K3 dalam pengendalian hama tanaman hortikultura

Jawablah pertanyana berikut ini dengan tepat

1. Bagaimana cara menerapkan K3 dalam pengendalian hama tanaman hortikultura.


2. Apa yang terjadi bila alat pelindung diri tidak digunakan pada saat penyemprotan hama pada
tanaman hortikultura.
3. Resiko terberat yang terjadi dalam melakukan kegiatan penyemprotan tanaman hortikultura dapat
berupa apa saja.
4. Uraikan dan jelaskan fungsi alat-alat yang digunakan untuk mengatasi risiko dalam melakukan
kegiatan penyemprotan pestisida pada tanaman hortikultura.
5. Mengapa kemasan bekas pestisida harus dibakar.