Anda di halaman 1dari 14

ACARA II

KADAR AMILOSA BERAS

A. TUJUAN
Praktikum teknologi pengolahan tepung mie dan pasta acara II yaitu
kadar amilosa beras bertujuan untuk :
1. Mengetahui kadar amilosa tepung beras, tepung singkong dan tepung
ubi
2. Membuat kurva standar amilosa dan mencari persamaan garisnya.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Pati adalah bahan makanan yang memiliki atribut nilai tambah untuk
aplikasi industri yang tak terhitung banyaknya dan bersifat fleksibel. Sumber
yang paling umum dari pati yaitu jagung, kentang, gandum, ubi kayu atau
tapioka dan beras. Penggunaan Pati sekarang jauh melebihi desain aslinya
sebagai sumber energi biologis. Hampir setiap industri yang ada
menggunakan pati atau turunannya dalam satu bentuk atau lain. Dalam
makanan dan obat-obatan pati digunakan untuk mempengaruhi atau
mengendalikan karakteristik seperti tekstur, kelembaban, konsistensi dan
stabilitas. Hal ini dapat digunakan untuk menstabilkan emulsi atau
membentuk film tahan minyak. Pati benar-benar berfungsi sebagai bahan
multifungsi dalam industri makanan (Akpa et al, 2012).
Pati atau amilum adalah karbohidrat polisakarida yang terdiri dari
sejumlah besar unit glukosa bergabung bersama - sama oleh ikatan glikosidik.
Ini terdiri dari amilosa dan amilopektin seperti makromolekul. Pati
diproduksi oleh semua tanaman hijau sebagai menyimpan energi dan
merupakan sumber energi yang penting bagi manusia. Hal ini ditemukan
dalam kentang, gandum, beras dan makanan lainnya, dan bervariasi dalam
penampilan, tergantung pada sumbernya. Dalam bentuk yang tidak
dimodifikasi, pati memiliki penggunaan yang terbatas dalam industri
makanan. Secara umum, pati asli menghasilkan, kohesif, pasta karet lemah
bertubuh saat gel dipanaskan dan tidak diinginkan ketika pasta didinginkan
(Mering, 2003). Itu sebabnya, para produsen makanan umumnya lebih
memilih pati dengan karakteristik perilaku yang lebih baik daripada yang
diberikan oleh pati asli. Sifat pati dapat ditingkatkan dengan berbagai
modifikasi (Abbas K.A. 2010).
Pati tersusun atas dua fraksi, yaitu fraksi larut air dan fraksi yang tidak
larut air. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut
amilopektin berperan dalam pembentukan produk olahan. Fraksi amilopektin
lebih berperan terhadap kekuatan gel dibanding amilosa walaupun amilosa
juga berperan memperkuat gel, rantai tak bercabang dari amilosa
memudahkan molekul amilosa membentuk jaringan tiga dimensi atau
membentuk gel (Kuriki, 2002).
Kadar amilosa memiliki hubungan erat terhadap tekstur nasi. Beras
berkadar amilosa sedang menghasilkan nasi yang lunak, sedangkan beras
berkadar amilosa tinggi menghasilkan nasi yang pera dan tidak lengket. umbi
termasuk dalam kelompok amilosa tinggi. Kadar amilosa beras
dikelompokkan menjadi 3 yaitu kelompok amilosa rendah (<10-<20%);
sedang (20-25%) dan tinggi (>25%) (Herawati, 2009). Viskositasnya yang
stabil terhadap panas menyebabkan pati terfosforilasi juga dipakai dalam
produksi bermacam-macam produk yang prosesnya melibatkan tahap
sterilisasi, misalnya produk sup dalam kaleng, bubur dan sebagainya
(Steichen, 2008).
Amilosa dan amilopektin adalah dua polimer glukosa dalam granula
pati. Amilosa pada dasarnya linear, terdiri dari α - (1,4) - linked unit D -
glucopyranosyl sementara amilopektin adalah bercabang dan terdiri dari α -
(1,4) - D glucopyranosyl unit bergabung melalui α - (1,6) hubungan. Kira-
kira, 90 % beras giling (bahan kering terdiri dari pati dan makan serta
memasak kualitas beras dipengaruhi oleh karakteristik pati, yang meliputi
konten, suhu gelatinisasi amilosa. Mengukur karakteristik gelatinisasi
makanan sangat relevan dalam pengolahan makanan karena memungkinkan
simulasi proses memasak untuk sifat fungsional (Amaka et.al. 2013).
Penetapan kadar amilosa dilakukan secara iodometri berdasarkan
reaksi antara amilosa dengan senyawa iod yang menghasilkan warna biru.
Tepung talas sebanyak 100 mg ditempatkan dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan dengan 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1N. Campuran
dipanaskan dalam air mendidih hingga terbentuk gel dan selanjutnya seluruh
gel dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml. Gel ditambahkan dengan air dan
dikocok, kemudian ditepatkan hingga 100 ml dengan air. Sebanyak 5
mllarutan dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan dengan
1 ml asam asetat 1N dan 2 ml larutan iod. Larutan ditepatkan hingga 100 ml,
kemudian dikocok dan dibiarkan selama 20 menit. Intensitas warna biru yang
terbetuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm.
Kadar amilosa dihitung berdasarkan persamaan kurva standar amilosa
(Hartati, 2003). Fungsi penambahan larutan iod pada saat pengujian kadar
amilosa yaitu pati akan bereaksi dengan iod dengan adanya iodida yang akan
membentuk suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada
konsentrasi-konsentrasi iod yang sangat rendah. Kepekaan reaksi warna ini
adalah sedemikian sehingga warna biru akan terlihat bila konsentrasi iod
adalah 2x10-5 M dan konsentrasi iodida lebih besar daripada 4x10-4 M pada
20oC. Kepekaan warna berkurang dengan naiknya temperatur larutan. Pada
suhu 50oC yaitu kira-kira sepuluh kali kurang peka dibandingkan pada suhu
25oC. Kepekaan berkurang pada penambahan pelarut-pelarut seperti etanol.
Tidak akan dapat diperoleh warna dalam larutan yang mengandung etanol
50% atau lebih. Amilosa akan memberikan warna biru dengan penambahan
iod sedangkan amilopektin membentuk suatu produk yang berwarna ungu-
merah (Bassett et al, 1994).
Fungsi dari pembuatan kurva standar amilosa murni adalah untuk
menunjukkan hubungan antara nilai penyerapan cahaya dengan penyerapan
amilosa. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm. Kadar amilosa dihitung
berdasarkan persamaan kurva standar amilosa (Lukman dkk, 2013).

C. METODOLOGI
1. Alat
a. Kompor
b. Labu takar 100 mL
c. Neraca analitik
d. Panci
e. Penjepit
f. Pipet
g. Pro pipet
h. Spektrofotometer
i. Tabung reaksi
2. Bahan
a. Aquades
b. Asam asetat
c. Etanol 95%
d. Larutan iod
e. Larutan NaOH
f. Tepung jagung
g. Tepung ubi kuning
h. Tepung ubi ungu
3. Cara kerja
a. Pembuatan Kurva Standar Amilosa
40 mg amilosa murni (amilosa kentang)

Pemasukkan kedalam tabung reaksi


1 ml etanol
95%, 9 ml Penambahan
NaOH 1 N
Pemanasan dalam air mendidih selama 5-10’
sampai semua bahan terlarut

Pendinginan

Pemindahan campuran kedalam labu takar 100 ml

aquadest Penambahan sampai tanda tera

Pemipetan campuran kedalam labu takar masing-


masing 1,2,3,4, dan 5 ml

1 ml asam
asetat 1 N Penambahan berturut-turut sebanyak 0,2; 0,4; 0,6;
0,8; dan 1 ml

2 ml larutan iod Penambahan

air Penambahan sampai tanda tera

Penggojokan dan pendiaman 20 menit

Pengukuran absorbansinya panjang gelombang


625 nm

pembuatan kurva standart hubungan antara


amilosa dengan absorbansinya

Gambar 2.1 Cara Kerja Pembuatan Kurva Standar Amilosa


b. Penentuan Kadar Amilosa

Tepung beras ketan, tepung beras rojo lele, tepung


tapioka dan tepung jagung

Pengayakan dengan ayakan 40 mesh

Penimbangan 100 mg
1 ml alkohol
95% Pemasukan kedalam tabung reaksi
9 ml NaOH 1 N
Pemanasan campuran tersebut selama 5-10’
sampai semua bahan terlarut

Pendinginan

Pemindahan kedalam labu takar 100 ml

Aquadest Penambahan sampai tanda tera

Pemipetan 5 ml larutan kedalam labu takar 100 ml

1 ml asam
asetat 1 N Penambahan
2 ml larutan iod
Aquadest Penambahan sampai tanda tera

Penggojokan dan pendiaman 20 menit

Pengukuran absorbansi dengan menggunakan


panjang gelombang yang sama dengan waktu
pembuatan kurva standart

Pengukuran kadar amilosa dengan menggunakan


kurva standart

Gambar 2.2 Cara Kerja Penetuan Kadar Amilosa.


D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2.1 Absorbansi dari kosentrasi Larutan Amilosa Standar
ml larutan Kosentrasi (ml) Ao (y)
1 0.4 0,099
2 0,8 0,187
3 1,2 0,241
4 1,6 0,356
5 2,0 0,468
Sumber: Laporan Sementara.

Tabel 2.2 Penentuan Kadar Amilosa


Jenis W sampel y rata %
Shift Kel y x
Tepung (mg) rata Amilosa
Tepung 0,288
1 103 0,2900 1,2873 24,9961
ubi ungu 0,292
Tepung 0,195
A 2 ubi 102 0,1925 0,8573 16,8098
0,190
kuning
Tepung 0,150
3 100 0,1595 0,7118 14,2360
jagung 0,160
Tepung 0,210
1 100 0,2100 0,9345 18,6900
beras 0,210
Tepung 0,340
B 2 107 0,3385 1,5012 28,0598
tapioka 0,337
Tepung 0,272
3 112 0,2725 1,2101 21,6089
terigu 0,273
Sumber: Laporan Sementara.

Amilosa merupakan suatu polimer lurus yang tersusun hampir


seluruhnya dari D-glukopiranosa yang disambung dengan ikatan α-1,4. Bila
dalam bentuk pilinan, maka amilosa dapat membentuk kompleks chlatrate
dengan asam bebas, komponen asam lemak gliserida, beberapa alkohol, dan
iodin karena sebagian dalam dari pilinan tersebut bersifat hidrofobik.
Sedangkan amilopektin tersusun atas segmen-segmen glukosa yang berikatan
α-1,4 dan bagian-bagian tersebut dihubungkan oleh titik-titik percabangan β-
1,6 (Anggit, 2011). Amilosa mempunyai struktur lurus dengan ikatan α-(1,4)-
D-glukosa, sedangkan amilopektin mempunyai cabang dengan ikatan α-
(1,4)-D-glukosa sebanyak 4-5% dari berat total. Peranan perbandingan
amilosa dan amilopektin terlihat pada serealia, contohnya pada beras.
Semakin kecil kandungan amilosa atau semakin tinggi kandungan
amilopektinnya, semakin lekat nasi tersebut. Beras ketan praktis tidak ada
amilosanya (1-2%), sedang beras yang mengandung amilosa lebih besar dari
2% disebut beras biasa atau beras bukan ketan (Winarno, 1992). Amilosa
merupakan suatu senyawa berantai lurus dan terdapat berlimpah dalam pati
kentang, memberi warna biru dengan iod dan rantainya mengambil bentuk
spiral. Amilopektin yang mempunyai struktur rantai bercabang, membentuk
suatu produk berwarna ungu-merah yang mungkin dengan adsorpsi (Bassett
et al, 1994). Penentuan kadar amilosa beras untuk menentukan sifat tekstur
beras daripada sifat-sifat fisik lainnya, seperti suhu gelatinisasi dan gel
konsistensi. Kadar amilosa dalam beras berkisar 1-37% (Aliawati, 2013)..
Aplikasi dari kadar amilosa pada pangan adalah untuk mengetahui kandungan
kadar amilosa dalam pangan itu sendiri. Contohnya untuk mengetahui kadar
amilosa pada tepung beras (Santosa, 2005).
Kadar amilosa yang berbeda-beda pada masing-masing tepung
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu umur panen
produk. Kadar amilosa menurun seiring dengan bertambahnya umur panen
pada produk. Penurunan kadar amilosa disebabkan amilosa yang terkandung
didalam pati tersebut mengalami titik jenuh. Tingginya kadar amilosa pada
tepung karena tepung memiliki kandungan pati tinggi dan diduga pati tersebut
memiliki rantai α 1,4 D-glikosida yang lebih panjang dibandingkan dengan
tepung lainnya. Semakin panjang rantai α 1,4 D-glikosida yang terkandung
didalam pati, maka semakin tinggi kadar amilosa yang terkandung
didalamnya. Selain itu perbedaan kadar amilosa pada tepung juga tergantung
pada bahan yang digunakan dalam pembuatan tepung dan lokasi penanaman
atau pertumbuhannya (Susilawati dkk, 2008).
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia
yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah
pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia,
etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk
sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama
digunakan sebagai bahan bakar. Fungsi penambahan NaOH adalah untuk
memberikan suasana basa pada uji iodin. Pada pengujian larutan amilum dan
iod, NaOh menghalangi terjadinya reaksi antara amilum dengan iod. Hal ini
disebabkan karena iod bereaksi dengan basa sehingga tidak mengalami reaksi
dengan amilum. Keadaan ini terjadi sebab NaOH yang sudah ada dalam
larutan lebih dulu bereaksi dengan iod membentuk senyawa NaI dan NaOI,
sehingga pada uji dengan penambahan NaOH tidak terjadi perubahan pada
larutan amilum (Utomo, 2005).
Penambahab asam (asam asetat) dan basa (NaOH) bertujuan untuk
mengkondisikan suasana menjadi netral sehingga dapat memperkuat
kompleks warna amilosa-iodin sehingga kadar amilosa bahan lebih dapat
dilihat jelas secara kasat mata (Bassett, 1994).
Fungsi penambahan larutan iod pada saat pengujian kadar amilosa
yaitu pati akan bereaksi dengan iod dengan adanya iodida yang akan
membentuk suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada
konsentrasi-konsentrasi iod yang sangat rendah. Kepekaan reaksi warna ini
adalah sedemikian sehingga warna biru akan terlihat bila konsentrasi iod
adalah 2x10-5 M dan konsentrasi iodida lebih besar daripada 4x10-4 M pada
20oC. Kepekaan warna berkurang dengan naiknya temperatur larutan. Pada
suhu 50oC yaitu kira-kira sepuluh kali kurang peka dibandingkan pada suhu
25oC. Kepekaan berkurang pada penambahan pelarut-pelarut seperti etanol.
Tidak akan dapat diperoleh warna dalam larutan yang mengandung etanol
50% atau lebih. Amilosa akan memberikan warna biru dengan penambahan
iod sedangkan amilopektin membentuk suatu produk yang berwarna ungu-
merah (Bassett et al, 1994).
Fungsi dari pembuatan kurva standar amilosa murni adalah untuk
menunjukkan hubungan antara nilai penyerapan cahaya dengan penyerapan
amilosa. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm. Kadar amilosa dihitung
berdasarkan persamaan kurva standar amilosa (Lukman dkk, 2013).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil kadar
amilosa dengan urutan tertinggi sampai terendah yaitu tepung jagung shift a
sebesar 14,2360; tepung ubi kuning shift a sebesar 16,8098; tepung beras shift
b sebesar 18,6900; tepung terigu shift b sebesar 21,6089; tepung ubi ungu
shift a sebesar 24,9961 dan tepung tapioka shift b sebesar 28,0598. Hasil
tersebut diperoleh dengan cara melakukan perulangan pada setiap sampel
sebanyak dua kali. Kemudian dilakukan uji kadar amilosa pada tiap
perulangan tersebut. Setelah dilakukan peneraan larutan yang diuji kadar
amilosanya menggunakan spektrofotometer maka didapat nilai absorbansi.
Nilai absorbansi yang diperoleh dirata-rata pada tiap sampel. Sehingga
diperoleh satu nilai perhitungan kadar amilosa pada tiap sampel.
Teori menurut Winarno (1992), kadar amilosa tepung beras dapat
dibagi menjadi empat golongan berdasarkan kandungan amilosanya, yaitu :
(1) beras dengan kadar amilosa tinggi 25-33%; (2) beras dengan kadar
amilosa menengah 20-25%; (3) beras dengan kadar amilosa rendah (9-20%);
dan beras dengan kadar amilosa sangat rendah (< 9%). Kadar amilosa tepung
tapioka menurut Alam (2008), bahwa tepung tapioka mengandung 17%
amilosa dan 83% amilopektin. Dan menurut referensi dari Setyowati (Parker,
2001), kadar amilosa tepung ubi adalah 23 %.
Jika dibandingkan antara hasil praktikum dengan teori maka kadar
amilosa tepung beras pada praktikum belum sesuai dengan teori. Yang mana
kadar amilosa tepung beras hasil praktikum 18,6900%, menurut teori
termasuk dalam golongan beras dengan kadar amilosa menengah 20-25%.
Sedangkan kadar amilosa tepung ubi dan tepung singkong belum sesuai
dengan teori. Pada tepung ubi, kadar amilosanya yaitu 24,9961 dan
16,8098%, sedangakan menurut toeri kadar amilosa tepung ubi adalah 23 %.
Dan kadar amilosa tepung singkong pada hasil praktikum yaitu 28,0598%,
sedangkan menurut S. Joni (2005), kadar amilosa tepung singkong yaitu 17%.
Pada tepung terigu dan jagung, kadar amilosanya yaitu 21,6089 dan 14,2360.
Menurut teori (Suprapti, 2005), kadar amilosa tepung terigu dan jagung
sebesar 21% dan 23%.
Ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan teori tersebut
dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang menyebabkan
penyimpangan pada hasil praktikum kadar amilosa tepung yaitu sifat pati dari
tepung dan kondisi tepung. Pada jenis tepung yang berbeda maka akan
memiliki sifat pati yang berbeda pula. Sifat pati yang mempengaruhi kadar
amilosa adalah perbedaan perbandingan jumlah amilosa dan amilopektin
setiap pati pada satu jenis tepung dengan tepung yang lainnya berbeda.
Sedangkan kondisi tepung yang menjadi faktor kadar amilosa pada tepung
yaitu meliputi kadar air dalam tepung dan umur simpan. Tepung yang
memiliki kadar air yang relatif tinggi yang disebabkan penyerapan uap air di
udara oleh tepung dapat mengakibatkan perbedaan pengukuran kadar
amilosa. Karena tepung yang memiliki kadar air tinggi pada granula patinya,
maka akan merubah struktur dari pati tersebut. termasuk stuktur amilosa.
Untuk umur simpan tepung yang semakin lama maka kualitas pati dari tepung
itu sendiri juga akan berubah, dan hal tersebut tidak dikehendaki karena dapat
mempengaruhi kadar amilosa pati (Suprapti, 2003).
E. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum dan analisis yang telah dilakukan maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Prinsip uji kadar amilosa yaitu pati (amilosa) bereaksi dengan Iod
membentuk warna biru pada larutan.
2. Kadar amilosa tertinggi hingga terndah adalah tepung jagung shift a
sebesar 14,2360; tepung ubi kuning shift a sebesar 16,8098; tepung beras
shift b sebesar 18,6900; tepung terigu shift b sebesar 21,6089; tepung ubi
ungu shift a sebesar 24,9961 dan tepung tapioka shift b sebesar 28,0598.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar amilosa tepung yaitu sifat pati
dari tepung dan kondisi tepung yang meliputi kadar air dalam tepung dan
umur simpan.
DAFTAR PUSTAKA

Abbas K.A, et.all. 2010. Modified Starches and Their Usages in Selected Food
Products: A Review Study. Department of Food Technology, Faculty of
Food Science and Technology Universiti Putra Malaysia, 43400 Serdang,
Selangor, Malaysia

Akpa, et al. 2012. Modification of Cassava Starch for Industrial Uses. International
Journal of Engineering and Technology Vol. 2 (6). Bassett, J., et al. 1994.

Alam, Nur dan Nurhaeni. 2008. Komposisi Kimia Dan Sifat Fungsional Pati
Jagung Berbagai Varietas Yang Diekstrak Dengan Pelarut Natrium
Bikarbonat. J. Agroland 15 (2) : 89 - 94, Juni 2008.
Aliawati, Gusnimar. 2013. Teknik Analisis Kadar Amilosa dalam Beras. Buletin
Teknik Pertanian. Vol. 8, No. 2.
Amaka et.all. 2013. Study on the gelatinization properties and amylose content of
rice varieties from Nigeria and Cameroun. International Journal of
Nutrition and Food Sciences. 2013; 2(4): 181-186.
Anggit, dkk. 2011. Analisa Mutu Satsuma Age Ikan Kurisi (Nemipterus Sp) Dengan
Penggunaan Jenis Tepung yang Berbeda. Jurnal Saintek Perikanan Vol. 6,
No. 2, 2011, 13 – 22.
Bassett, J., et al. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Hartati, Sri dan Prana, K. Prana. 2003. Analisis Kadar Pati dan Serat Kasar Tepung
beberapa Kultivar Talas (Colocasia esculenta L. Schott). Jurnal Natur
Indonesia 6(1): 29-33.
Herawati., Widowati. 2009. Karakteristik Beras Mutiara Dari Ubi Jalar (Ipomea
Batatas). Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian Vol. 5 2009.
Kuriki, Steven M. Smith and Shigetaka Okada Michiyo Yanase, Hiroki Takata,
Takeshi Takaha, and Takashi. 2002. Cyclization Reaction Catalyzed by
Glycogen Debranching Enzyme (EC 2.4.1.25/EC 3.2.1.33) and Its Potential
for Cycloamylose Production. Journal of Appl. Environ. Microbiol 68 (49)
: 4233
Lukman, Anita dkk. 2013. Pembuatan dan Uji Sifat Fisikokimia Pati Beras Ketan
Kampar yang Dipragelatinasi. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol.1
(2).
Mering, von C., Huynen, M., Jaeggi, D., Schmidt, S., Bork, P., Snel, B., 2003.
STRING: a Database of Predicted Functional Associations Between
Proteins. Nucleic Acids Research 31, 258-261. Didalam : Hansen (Eds) .
Food uses of Enzyme Modified Starches. Samfundslitteratur Grafik,
Frederiksberg C. Denmark
Parker, R., and Ring, S.G., 2001. Aspects of The Physical Chemistry of Starch.
Journal of Cereal Science 34 : 1-17
S. Joni, dkk. 2004. Perubahan Sifat Fisikokimia dan Fungsional Tepung Beras
Akibat Proses Modifikasi Ikat Silang. J.Pascapanen 1 (1) 2004 : 22-28.
Santosa, dkk. 2005. Evaluasi Teknologi Tepung Instan Dari Jagung Brondong dan
Mutunya. J.Pascapanen 2 (2) 2005 : 18-27.
Steichen, J.M., Petty, R.V., Sharkey, T.D., 2008. Domain Characterization of a 4-
alpha-glucanotransferase Essential for Maltose Metabolism in
Photosynthetic Leaves. Journal of Biological Chemistry 283, 20797-20804.
Suprapti, Lies. 2003. Tepung Ubi Jalar Pembuatan dan Pemanfaatannya. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.
Suprapti, Lies. 2005. Tepung Tapioka. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Susilawati, dkk. 2008. Karakteristik Sifat Fisik dan Kimia Ubi Kayu (Manihot
esculenta) Berdasarkan Lokasi Penanaman dan Umur Panen Berbeda.
Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian Vol. 13 (2).
Utomo, Hendra. 2005. Resep Eklusif Jajan Pasar. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.