Anda di halaman 1dari 1

Pengertian Riya’ dna Sum’ah

Kata Riya’ berasal dari kata ru’yah yang artinya melihat. Berlaku riya’
artinya menampakkan amal saleh supaya dilihat manusia. Arti ini antara lain,
terdapat dalam firman Allah SWT :
Orang-orang yang memperlihatkan amalnya (yura’un) dan enggan
membayar zakat.” (QS. Al-ma’un:6-7).
Dengan rasas angkuh dan pamer (ri’a) kepada manusia. (QS. Al-anfal:
47).
Kata sum’ah berasa dari kata samma’a yang artinya memperdengarkan.
“Memperdengarkan” amal kepada manusia artinya menampakkan amal yang
sebelumnya terahasiakan.
Riya’ dan Sum’ah menurut istilah, adalah memamerkan amal saleh kepada orang
dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan, kedudukan atau hal-hal yang
bersifat keduniaan dari mereka. Jika seseorang beramal untuk dilihat manusia, itu
namanya riya’. Jika tidak dilihat oleh manusia, tapi kemudian dia
menceritakannya kepada mereka, itu namanya sum’ah.1
‘Izzuddin bin ‘Abdissalam membedakan riya dan sum’ah. Dia berkata “Riya’
adalah beramal karena selain Alloh. Sum’ah adalah menyembunyikan amal karena
Alloh, tapi kemudian menceritakan amal tersebut kepada manusia.”2
Di sini, sepertinya “Izzuddin melihat bahwa semua riya’ tercela, sedangkan
sum’ah ada yang tercela dan ada yang terpuji. Sum’ah tercela adalah bila tujuan
penceritaan amal tersebut demi penghormatan manusia, dan sum’ah terpuji adalah
bila tujuan penceritaan tersebut demi penghormatan Allah dan rida-Nya.
Tampaknya, pendapat ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam sesuai dengan nas-nas syariat.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-menyebutnya dan menyakiti
perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer
kepada manusia……” (QS. Al-Baqarah : 264).
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memperdengarkan (amalnya), Allah
pun akan memperdengarkan (keburukannya); barang siapa memperlihatkan
(amalnya), Allah pun akan memperlihatkan (keburukannya). (HR. Bukhari)