Anda di halaman 1dari 124

ISLAM DAN KEHIDUPAN1

Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat

Bagian Pertama : Akidah Islamiyah


Oleh Drs. H. Bakri Dusar, MA.

Islam secara harfiah dengan arti keselamatan atau kebahagiaan,


Dalam Islam, untuk memperoleh kebahagiaan, baik untuk kehidupan
di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak ada tiga unsur pokok
yang harus dipahami, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga unsur
ini akan disampaikan dalam tiga kali pertemuan secara berurutan,
pertemuan pertama akan disampaikan tentang akidah, pertemuan
kedua tentang syari’ah sedangkan pertemuan terakhir tentang akhlak.
Dalam Islam, akidah merupakan sistem kepercayaan kepada
Tuhan, sistem kepercayaan itu mendasari seluruh aktivitas kehidupan
bagi pemeluknya. Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti
dipercayai dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam
bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam
merupakan sistem kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan
Tuhan.
Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti dipercayai
dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam bersumber pada
kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam merupakan sistem
kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan Tuhan. Hal ini
dinamakan dengan rukun Iman, yaitu :
1. Iman kepada Allah, yaitu mengaku akan adanya Allah, esa,
asma, sift dan perbuatan-Nya, dengan kalimat tauhid : ‫ال اله اال‬
‫هللا‬, pengakuan ini adalah dari hati sanubari.
2. Iman kepada Malaikat, yaitu mempercayi bahwa malaikat tidak
durhaka kepada Allah dan melaksanakan tugas dengan sebagik-
baiknya, seperti : Malaikat Jibril (menyampaikan wahyu ),
Mikail ( membagi rezki ), Israfil ( meniurp sangkala ), Izrail
( mencabut nyawa ), Ridwan ( menjaga surga ), Malik
( menjaga nerka ), Raqib ( mencatat amal ), Atid ( menncatat
amal ), Munkar ( enajga di kubur ), Nakir ( menjaga kubur ).
3. Iman kepada Kitab. Kitab merupakan himpunan aturan-aturan
Allah untuk pedoman hidupnya. Menurut ahli tauhid, kitab itu

1
Makalah ini disampaikan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat Desa Lagan
Mudik, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pesisir Selatan.

1
jumlahnya ada 104 buah, namun yang wajib dipercayai hanya 4
(empat ) buah, yaitu Taurat, ( Musa ), Zabur (Daud ), Injil ( Isa ),
dan quran ( Muhammad Saw ).
4. Iman kepada Rasul. Allah memilih di antra makhlukya sebagai
wakil-urusannya untuk hubungan antara manusia dengan Allah.
Mereka menyampaikan wahyu kepada seluruh umt manusia,
guna menuntun, membimbing demi kemaslahatan di dunia dan
di akhirat. Rasul itu, mempunyai sifat yang wajib, yaitu : sidiq
lawannya kizib, tabligh lawannya kitman, amanah, lwanya
khianat dan fathanah lawawannya jahlun(bodoh ). Nubuwah
adalah pangkat yang diberikan kepada seseorang yang
mendapat wahyu, baik wahyu itu disuruh menyampaikan
ataupun tidak, sedangkan Risalah adalah pangkat yang
diberikan kepada seseorang dan menerima wahyu serta disuruh
menyampaikannya.
5. Iman kepada hari akhirat. Hari akhirat adalah alam setelah
berqudrat, iradat Tuhanalih dari alam yang ada ini, yaitu alam
pembalasan terhadap amal yang dilakukan selama hidup di
dunia ini, apakah amal baik atau amal buruk.
6. Iman pada qadhi dan qadar. Iman kepada qada dan qadar ialah
mempercayai tiap-tiap yang terhadi di alam ini adalah dengan
ketentuan dan takdir Allah. Allah telah menjadikan alam ini
sesuai dengan sunnahnya.

Akidah atau disebut dengan iman, hal ini merupakan pondasi


dalam Islam, apabila pondasi telah kuat dan terhunjam dalam hati-jiwa
seseorang, maka seluruh perbuatannya akan menjadi koko pula. Kalau
diumpamakan engan seperti bangunan rumah, apabila hendak
mendirikan rumah, terlebih dahulu yang dibuat dengan kokoh adalah
pondasi-dasar-landasannya. Kemudian, di atas pondasi itulah didirikan
rumah. Tentu saja, berapa besar dan tingginya rumah yang akan
dibangun, tergantung pada kekuatan pondasinya. Karena itu, antara
pondasi dengan rumah akan saling bantu-membantu, kuat-menguatkan
antara yang satu dengan yang lainnya.
Begitu pulalah keadaannya dengan Islam, sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa Islam itu terdiri dari tiga pokok landasan,
yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga dimensi ini saling kuat-
menguatkan, apabila rusak satu, maka rusaklah semuanya. Karena
itulah dikatakan bahwa Islam itu saling kuat-menguatkan, terjalin

2
bersatu padu terhadap ketiganya : ‫ اسالم يشده بعض على بعض‬, Dengan
danya kekuatan tersebut, kita sebagai makhluk, maka untuk mengatur
dan menjalani kehidupan, perlu memegang dan mendalami ketiga
dimensi itu, supaya hidup kita menjadi kokoh dan kuat.
Dalam Islam, dasar utama yang harus dibina adalah akidah-
iman atau keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Pengatur
di alam ini, termasuk kita sebagai makhluk-Nya. Pengatur tersebut
dinamakan dengan Allah. Allah menciptakan kita sebagai manusia
adalah sebaik-baik bentuk jika dibandingkan dengan makhluk Allah
lainnya. Kita diciptakan adalah sebagai hamba-Nya ( ‘abdun ) untuk
beribadah dan sebagai khalifah fi al-ardh ( pengatur-pemimpin ) dan
memakmurkan alam.
Filsafat Minangkabau mengatakan, “ alam takambang menjadi
guru”. Adanya alam diciptakan oleh Allah dengan berbagai bentuk,
ada berbentuk gunung atau bukit, ada lautan dan daratan. Gunung,
lautan dan daratan, semuanya adalah untuk kebutuhan kehidupan
manusia. Sebagai landasannya, dapat diperhatikan firman Allah dalam
surat al-Ghasyiyah/ 88 : 17-26 :

Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana


dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, . dan gunung-
gunung bagaimana ia ditegakkan?, dan bumi bagaimana ia
dihamparkan? . Berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu
hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang
berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, Allah
akan mengazabnya dengan azab yang besar, dan sesungguhnya
kepada Kami-lah kembali kamu, kemudian, sesungguhnya kewajiban
Kami-lah menghisab mereka.
Maksud dari ayat di atas, Allah menyuruh kita memperhatikan
penciptaan alam ( binatang, langit, bumi-daratan dan gunung ), dan
semuanya itu bermanfaat untuk kehidupan manusia. Memperhatikan
keadaan alam seperti inilah yang dimaksudkan alam takambang
menjadi guru.
Allah dengan sifat rahmān dan rahīm-Nya, menjadikan alam
dengan semua isinya adalah untuk kebutuhan hidup kita. Dengan
gunung, kita dapat berkebun, bertanam pepohonan yang
menghasilkan , seperti karet, sawit, kulit manis, kelapa dan lain-lain.
Dengan lautan, sebahagian kita dapat mencari rezki sebagai nelayan
untuk menangkap ikan sebagai bahan konsumsi bagi kita. Betapa

3
banyaknya nelayan-pencari ikan di lautan di dunia ini, namun ikannya
tak pernah habis. Manusia-nelayan hanya menangkapnya saja, tetapi
tak pernah memberi makan, siapakah yang memberi makan,
mengembangbiakkan, membesarkannya. Disitulah letaknya kekuasaan,
rahman dan rahimnya Allah kepada ummatnya, demi kemashlahatan
dan kehidupannya. Karena itu, semua nikmat Allah yang kita terima
tersebut tak terhitung jumlah dan banyaknya. Justru itu patutlah
bersyukur kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang
artinya : “Jika kamu akan menghitung nikmat Allah, kamu/kita tak
akan sanggup untuk menghitungnya”.
Begitu pula keadaannya dengan daratan, kita dapat ke sawah
menanam padi, dan lain-lainnya, yang hasilnya juga untuk kebutuhan
hidup manusia/kita. Dengan hasil itu, kita dapat makan, dengan makan
kita dapat bergerak mengolah alam. Begitulah anugerah rahmat yang
Allah berikan kepada manusia, Cuma saja sebahagian manusia yang
tidak mau bersyukur kepada-Nya. Orang yang tak mau bersyukur
itulah yang akan merugi serta akan mendapat azab-siksa dari Allah.
Argumen ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya, surat
Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :
Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Apabila kita bersyukur kepada Tuhan, Tuhan akan menambah
nikmat-rezekinya, dan sebaliknya, jika manusia engkar-kafir, dia akan
mendapat azab. Azab itupun bermacam-macam, umpamanya : sawit
kita kurang atau tidak berbuah, atau cepat mati, atau kalau padi yang
akan panen, banyak musuhnya, dan perumpamaan lainnya sangat
banyak dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, sistem kepercayaan-keimanan dalam Islam
atau akidah dibina-dibangun atas enam dasar, yang disebut dengan
Rukun Iman. Rukun Iman tersebut adalah keimanan-keyakinan-
persaksian tentang adanya Allah, malaikat, kitab, Rasul, hari akhir dan
qadhā dan qadar. Dalam al-Qur`an banyak ayat yang menerangkan
tentang keimanan tersebut, di antaranya sebagaimana tertera pada
surat al-nisa`/4 : 136, yaitu :

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman


kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan

4
kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
Islam sebagai agama terakhir diturunkan oleh Allah kepada
ummatnya melalui Rasul-Nya yang mulia, yaitu Nabi Muhammad
Saw. Islam adalah sasu-satunya agama yang benar di sisi Allah, sebab,
Islam datang dengan membawa kebenaran yang bersifat umum guna
untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam menghadapi hidup dan
kehidupan. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka dia di
akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.
Terhadap kebenaran Islam sebagai suatu agama yang mulia
dan benar di sisi Allah, memang telah dinyatakan oleh Allah dengan
firman-Nya dalam surat Ali Imran/3 : 85, yaitu :

Artinya : Siapa mencari agama selain agama Islam, maka


sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Islam sebagai agama yang diakui kebenarannya oleh Allah,
maka dapatlah dikatakan bahwa agama Islam itu bersifat universal-
umum untuk seluruh manusia serta mampu untuk menjawab tantangan
yang muncul dalam hidup dan kehidupan, sekaligus sesuai pula
dengan tuntunan budaya manusia. Hal ini juga telah dijelaskan oleh
Allah dengan firman-Nya dalam surat al-Saba`/34 : 28, yaitu :

Artinya :Kami tidak mengutus kamu ( Nabi Muhammad ),


melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi, kebanyakan manusia
tiada mengetahui.
Dari ayat-ayat al-Qur`an tersebut di atas dapat dipahami
bahwa Islam yang sempurna lagi absolut ( mtlatk kebenarannya )
berdasarkan pada al-Qur`an dan hadis, ia adalah sebagai penuntun
kehidupan dengan membawa berbagai kabar gembira (basyiran ).
Kabar gembira disini maksudnya adalah memberikan bermacam
petunjuk untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup
manusia di dunia ini, apalagi untuk kehidupan di akhirat kelak, seperti
adanya kenikmatan di surga. Pengutusan Rasul/Nabi Muhammad
Saw., disamping membawa berita gembira, juga menjelaskan tentang
beberapa peringatan, yang disebut dengan naziran, artinya kabar

5
pertakut. Kabar pertakut itulah yang harus dihindari oleh manusia,
seperti adanya azab neraka di akhirat kelak.
Apabila kita takut akan azab Allah, maka hendaklah kita
taqwa kepada-Nya. Taqwa dengan arti menjernihkan apa-apa yang
kita miliki, seperti mata, telinga, lisan-mulut, hatu, perut dan pada
prinsipnya seluruh anggota tubuh kita, di antaranya adalah sebagai
berikut.
1. Mata. Kita punya mata untuk melihat apa saja yang kita sukai,
memandang keindahan alam, dan sebagainya. Ada hal-hal yang
boleh kita lihat, hal ini akan membawa kemashlahatan kepada kita,
sebab dengan melihat itu, kita dapat mempelajari dan
memperhatikannya. Hasil dari penglihatan itu akan menimbulkan
pengetahuan, dengan pengetahuan akan terbukalah pemikiran untuk
memperbuat sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, ada yang
dilarang untuk melihatnya, dan itupun akan membawa pada dosa-
azab. Sehubngan dengan hal ini, Nabi Saw. bersabda :”berhati-
hatilah dalam melihat, karena melihat itu berarti menanam syahwat
di hatimu”, dan salah seorang ahli tasawuf kenamaan, yaitu
Dzunnun al-Mishry berkata :” betapa baik perkara yang
menghalangi syahwat, yaitu memejamkan mata”.
Dari firman Allah dan sabda Nabi tersebut di atas, nyatalah
bahwa kita disuruh untuk melihat atau memperhatikan apa-apa yang
ada di alam ini, namun perlu menjaga penglihatan kita dari hal-hal
yang tidak bermanfaat dan akan menimbulkan dosa.
Perhatikanlah apa-apa yang ada di tubuh kita, jagalah anggota
tubuh itu menurut kegunaannya, seperti : kaki, untuk berjalan,
tangan untuk memegang gelas minuman dan memetik buah-buahan,
begitulah seterusnya alat-alat anggota tubuh kita yang banyak
variasi dan bentuknya.
2. Telinga, adalah sebagai alat untuk mendengar, mendengarkan hal-
hal yang baik dan menghindari pendengaran yang akan
menimbulkan fitnah, hasad dengki dan sebagainya. Mendengarkan
pelajaran yang baik, akan menimbulkan pengetahuan bagi kita,
sedangkan mendengarkan yang buruk akan menimbulkan siksaan,
tentu saja hal ini tergantung pada niat seseorang itu. Jadi,
pembicaraan yang masuk ke dalam hati manusia itu sama halnya
dengan makanan yang masuk ke perut. Dengan begitu,
sebahagiannya ada yang bermanfaat dan sebahagiannya ada pula
yang mudharat, seperti narkoba. Justru itu hendaklah menjaga

6
pendengaran kita dari perkara-perkara yang tak ada gunanya,
seperti pembicaraan omong kosong atau pembicaraan jelek, hal itu
bisa menimbulkan gangguan yang bermacam-macam di dalam hati
dan akan menimbulkan marabahaya, akhirnya hubungan dengan
seseorang menjadi rusak.
3. Lisan/mulut. Lisan/mulut sebagai alat untuk berbicara. Sama
halnya dengan telinga, bahwa lisan/mulut sangat bermanfaat bagi
manusia untuk berbicara, mengucapkan perkataan yang berguna,
tapi sebaliknya juga paling banyak kerusakan dan permusuhannya.
Karena itu, peliharalah lisan dengan amal-amal baik, siapa yang
tidak bisa memelihara lisannya, dan banyak bicara, bisa saja akan
terjerumus pada fitnah atau mempergunjingkan orang lain. Pepatah
mengatakan, “siapa yang banyak omong kosong, tentu banyak
salah”. Menggunjing menjadi sebab rusaknya ibadah.
Dalam minhaj al-‘abidin, karya al-Ghazali diriwayatkan :
pada suatu malam Hatim al-Asham tidak sempat melakukan shalat
tahajut, sehingga ditegur oleh istrinya. Lalu Hatim berkata :
“Kemaren malam orang-orang itu melakukan shalat tahajut, lalu
paginya ereka menggunjingku, maka nanti pada hari kiamat shalat
mereka akan berada pada timbangan amal kebaikanku”. Begitulah
di antara contoh mempergunjingkan orang lain, dengan arti kata
percuma saja melakukan amal kebaikan jika ia juga melakukan
kebujelekan.
4. Hati. Yang dimaksudkan dengan hati, bukan seperti hati lembu
yang dimakan orang. Menurut al-Ghazali, hati adalah suatu
perwujudan yang sangat ajaib dari alam ketuhanan yang
mempunyai hubungan dengan hati yang berwujud benda, seperti
halnya hubungan antara rumah dengan penghuninya. Ia sendirilah
yang merasakan apa yang pernah dirasakan dalam rumah itu.
Hati itu adalah suatu fitrah-potensi yang ada dalam diri
manusia, paling rumit urusannya, paling sulit perawatannya.
Dengan hati ( qalb ) itu, mansia dapat meyakini akan sesuatu.
Dalam kehidupan ini, kita disuruh oleh Allah untuk membaguskan
atau mengawasi gerak-gerik hati. Apapun yang tersirat-tertanam
dan tergores dalam hati seseorang, tidak lepas dari pengetahuan
Allah. Seperti firman Allah : ‫ انه عليم بذات‬, ‫و هللا يعلم ما فى قلوبكم‬
‫ الصدور‬, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kamu, Allah
mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Tentang persoalan
hati ini, dikemukakan dua buah hadis Rasulullah, yaitu :

7
‫ ان فى الجسد‬.‫ان هللا تعالى ال ينظر الى صوركم و ابشاركم و انما ينظر لى قلوبكم‬
. ‫مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله اال وهى القلب‬
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada
bentuk dan kulit kamu, tetapi Allah memandang hati kamu.
Sesungguhnya pada jasad/tubuh manusia terdapat segumpal daging,
apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad/ tubuh, sebaliknya,
apabila segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh
jasad/tubuhnya, kecuali hati/qalb.
Hati adalah tempat penyimpanan segala mutiara yang indah,
semua perkara yang penting bagi manusia, yang pertama adalah
akal dan yang paling agung adalah makrifat.( mengenal Allah yang
merupakan penyebab kebahagiaan dunia akhirat ). Kemudian
penglihatan hati dan niat yang bersih akan membawa sifat terpuji,
serta beraneka ilmu-hikmah merupakan kemuliaan-akhlak bagi
seseorang . Kemuliaan, keselamatan dan kebahagiaan itulah yang
dicita-citakan oleh ajaran Islam bagi pemeluknya.
5. Perut. Perut merupakan anggota tubuh yang paling banyak biaya-
ongkosnya dalam kehidupan, dan ia ( perut ) juga merupakan yang
paling banyak pengaruhnya. Perut apabila diisi, maka anggota
tubuh kita akan kuat untuk bekerja, namun, perut juga banyak
menimbulkan penyakit, sebab bermacam-macam yang dimakan
berkumpul pada perut, apakah yang dimakan itu halal atau haram.
Karena itu, kita harus menjaga perut dengan baik, jangan makan
berlebihan, jangan memakan harta anak yatim, jangan memakan
makanan yang haram kalau kita ingin selamat dan bahagia. Di
antara firman Allah yang menjelaskan tentang hal ini adalah : ‫ان‬
‫ الذين يأكلون اموال اليتامى انما يأكلون فى بطونهم نارا و سيصلون سعيرا‬,
artinya : Sungguh, orang-orang yang memakan harta anak yatim itu
sebenarnya memasukkan api ke dalam perut mereka dan mereka
akan masuk neraka sa’ir
Dalam kehidupan, tauhid berperan :

1. Mencari kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup


dunia dan akhirat ( QS. Baqarah : 189, bertaqwalah kepada
Allah, supaya kamu berbahagia ).
2. Agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,
seperti pikirn-pikiran dan kebudayaan yang menyesatkan
3. Agar terhindar dari tamak, rakus dan sebagainya.

8
Dengan demikian, prinsip-prinsip keimanan yang harus
diterapkan dalam kehidupan adalah seperti :
1. Melarang pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang
2. Penuh ketaatan kepada Allah
3. Perlu menjaga hak asasi manusia
4. Harta kekayaan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah
5. Dilarang bersifat tamak dan kikir
6. Mencegah perbuatan tercela
7. Memelihara anak yatim
8. Menyempurnakan timbangan, takaran, meteran dalam
perdagangan
9. Jangan berjalan di bumi engan sombong.
Karena itu, proses bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah kepada
ummatnya didasarkan pada :
1. Landasan Keimanan, keimanan kepada Rasul berarti
kepercayaan sepenuhnya
2. Landasan kepatuhan, kepatuhan kepada Rasulullah
mengisyaratkan mensejajarkan antara hati dan pikiran dengan
cita-cita dan prilaku yang baik atas petunjuk Allah Swt.
3. Landasan kesetiaan, kesetiaan terhadap Rasulullah harus
bersifat nyata, berdasarkan sifat yang dimilikinya
4. Landasan kecintaan, yaitu rasa kebaktian kepadanya sesuai
dengan sunnahnya.
Demikianlah tentang akidah yang dikemukakan dalam
pertemuan ini, mudah-mudahan akan menjadi panutan dalam
kehidupan secara mukmin, muslim dan muhsin.

Bagian Kedua : Syari’ah-Hukum Islam


Oleh : Drs. Chairusdi, M.Ag.

Syari’ah adalah ketentuan atau aturan-aturan Allah yang wajib


dikerjakan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang Islam, baligh dan
berakal. Jadi, syari’ah berisi peraturan atau perundang-undangan yang
mengatur aktivitas kehidupan yang seharusnya dikerjakan manusia
dalama rangka berubudiyah kepada Allah. Berubudiyah kepada Allah

9
banyak macamnya, apakah ibadah wajib, ibadah sunnat maupun yang
sunnat muakkad. Dengan demikian syari’ah ialah sistim nilai yang
merupakan inti dari ajaran Islam, disebut dengan rukun Islam.
Beribadah merupakan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dengan
ketentuana yang telah ditentukan sesuai dengan rukun dan syarat-
syaratnya.
Tentang rukun Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah
hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
‫بنى اإلسالم على خمس شهادة ان الاله اال هللا و اشهد ان محمد رسول هللا و اقام الصالة و‬
.‫ايتاء الزكاة و صوم رمضان و حخ البيت من استطاع اليه سبيال‬
Inti dari syari’ah Islam adalah sebagai aktivitas kehidupan
manusia yang mengatur hubungan antara makhluk-manusia dengan
Tuhan. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis Nabi
tersebut di atas, bahwa rukun Islam itu terdiri dari :

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahahat dengan arti


sumpah, pengakuan dan janji. Dalam al ini adalah mengucapkan
dua klimat syahadat, yaitu pengakuan terhadap adanya Allah
dan penyaksian terhadap keutusan rasul-Nya.
2. Mendirikan shalat. Shalat sebanyak lima kali sehari semalam,
yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Shalat dimulai
dengan takbir dan disudahi dengan salam, sesuai dengan
ketentuan dn syarat-syaratnya.
3. Membayarkan zakat. Zakat terdiri dari zakat diri dan zakat
harta-perniagaan. Zakat diri, seperti zakat fitrah, dan zakat harta
seperti zakat kekayaan, pertanian, peternakan dan lain-lainnya.
4. Puasa di bulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dri makan
dan minum n segala yang membatalkannya mulai dari terbit
fajar sampai terbenam mata hari.
5. Hajji bagi siapa yang sanggup. Hajji melakukan ibadah haji ke
Makkah al-mukarramah paa bulan hajji, dan hanya wajib satu
kali dalam seumur hidup jika dia sanggup untuk pergi kesana,
dalam arti mencukupi biaya kesana dan biaya bagi keluarga
yang ditinggalkannya.

Berdasarkan hadis tersebut di atas, nyatalah bahwa hubungan


manusia dengan Allah ini disebut dengan ibadah mahdhah atau ibadah
khusus, karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti
sebagaimana termaktub dalam kitabullah.

10
Syari’ah, selain mengatur hubungan manusia dengan Allah,
yang disebut dengan hubungan manusia dengan Allah-hablum min
Allah/fertikal ( ‫ ) حبل من هللا‬juga mengatur hubungan dengan sesama
manusia/horizontal- hablum min al-nas ( ‫) حبل من الناس‬, yang
disebut dengan mu’amalah.
Hubungan manusia dengan Allah dilakukan setiap saat, namun
secara khusus juga telah ditentukan waktunya, yaitu shalat lima waktu
sehari semalam, yaitu : subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya. Shalat
dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. Dengan shalat yang
sesungguhnya, seseorang akan terhindar dari perbuatan yang jahat. Ini
telah dijelaskan oleh Allah dalam surat al-ankabut/ : 45, yaitu : ‫و أقم‬
‫ الصالة ان الصلوة تنهى عن الفخشاء و المنكر‬, artinya : laksanakanlah shalat,
sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan jahat ( keji ) dan
mungkar.
Tentang waktu pelaksanaan shalat telahdi atur dalam Islam,
sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis
yang berbunyi :
‫قال رسول هللا صلى هللا عليه و سلم أمنى جبريل عند البيت مرتين فصلى فى الظهر حين‬
‫زالت الشمس والعسر حين كان ظل الشيء مثله و المغرب حين وجبت الشمس والعشاء‬
‫حين غاب الشفق والفجر حين سطع الفجر فلما كان الغد صلى فى الظهر صار ظل كل‬
‫شيء مثله و العصر حين صار ظل كل شيء مثليه والمغرب حين أفطر الصائم والعشاء‬
‫عند ثلث الليل والفجر حين أسفر و قال هذا وقت األنبياء من قبلك والقت ما بين هذين‬
. ‫الوقتين‬
Artinya : telah bersabda Rasulullah Saw., saya telah dijadikan
imam oleh Jibril di Batullah dua kali, maka ia shalat bersama saya
shalat zuhur ketika tergelincir matahari, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu sepanjangnya, dan maghrib, ketika terbenam matahari
dan isya, ketika terbenam syafaq, dan subuh, ketika bercahaya fajar.
Maka besoknya, shalat pulalah ia bersama saya, shalat zuhur, ketika
bayang-bayang sesuatu sepanjangnya, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu dua kali panjangnya, dan maghrib, ketika berbuka
puasa, dan isya, ketika sepertiga malam, dan subuh ketika menguning
cahaya pagi, dan berkata Jibril : inilah waktu shalat Nabi-nabi yang
sebelum engkau dan waktu shalat antara dua waktu ini ( HR. Riwayat
Abu Daud ).
Maksud dari hadis di atas adalah menjelaskan tentang waktu
shalat. Waktu shalat zuhur, apabila tergelincir matahari ke sebelah
barat. Shalat ashar, waktunya sebelum terbenam matahari. Shalat
maghrib, waktunya sebelum hilang syafaq ( tepi merah, cahaya

11
matahari yang terpancar ditepi langit, sesudah terbenamnya, ada dua
rupa, mula-mula merah, sesudah hilang yang merah ini datang cahaya
putih, kedua cahaya inilah yang dinamakan dengan syafaq ). Shalat
isya, waktunya dari terbenam syafaq merah sampai terbit fajar kedua
( cahaya matahari sewaktu akan terbit, bertebaran melintang ditepi
langit sebelah timur ). Shalat subuh, waktunya mulai dari terbit fajar
pagi hari sampai terbitnya mata hari.
Untuk melaksanakan shalat wajib tersebut, ada beberapa
syaratnya, yaitu : Islam, suci dari pada kotoran( haidh ), berakal,
baligh, sampai seruan dakwah kepadanya, melihat dan mendengar,
bangun ( tidak tidur ). Sedangkan syarat-syarat sahnya shalat adalah
seperti : suci dari hadas besar dan kecil, suci pkaian dana tempat
shalat, menutup aurat, mengetahui masuknya waktu shalat, dan
menghadap kiblat.
Sedangkan yang menjadi rukun shalat adalah : niat, berdiri
bagi yang kuasa, takbiratul ihram, membaca surat al-fatihah, ruku’
serta thuma`ninah, I’tidal serta thuma`ninah, sujud dua kali serta
thuma`ninah, duduk di antara dua sujud serta thum`ninah, duduk
akhir, membaca tasyahud akhir, membaca shalat kepada Nabi
Muhammad Saw., membaca salam ( ke kanan dan ke kiri ) serta
menertibkan rukun-rukun tersebut.
Selanjutnya tentang hal-hal yang membatalkan shalat,
seperti : meninggalkan salah satu syarat, meninggalkan salah satu
rukun, dengan sengaja berkata-kata banyak bergerak serta makan dan
minum. Inilah beberapa ketentuan syari’at tentang shalat.
Islam, dengan peraturan syari’ahnya menyatakan bahwa
sembahyang-shalat diwajibkan kepada setiap orang. Untuk itu
dijelaskan oleh syari’at, bahwa tiap-tiap orang Islam yang baligh dan
berakal, wajib mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam, dan
kewajiban orang tua untuk menyuruh anaknya yang telah berumur
tujuh tahun mengerjakan shalat. Karena itu, ibadah shalat dalam Islam
merupakan tiang agama.
Berikutnya, rukun shalat sebanyak 13 sebagaimana yang telah
dilaksanakan setiap shalat. Seterusnya dikemukakan tentang syarat-
syaratnya, yaitu : suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian
dan tempat dari najis, menutup aurat, mengetahui masuk waktu
shalat dan menghadap kiblat. Untuk shalat diterima Allah, hindarilah
yang membatalkannya, seperti : berhadas, dijatuhi najis jika tiada
dibuang segera, membiarkan aurat terbuka, berkata-kata dengan

12
sengaja, makan atau minum, bergerak berturut-turut tiga kali,
melompat atau memukul yang bersangatan, menambah rukun,
misalnya menambah ruku’ atau sujud dan membelakang kiblat.
Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam shalat adalah
seperti : rukun shalat, wajib dikerjakan, sunat ab’ad dan sunat haiat.
Sunat ab’ad adalah : membaca tasyahud awal, membaca selawat
pada tasyahut awal, membaca qunut pada waktu shalat subuh dan
pada shalat witir pada malam 16 ramadhan hingga malam
penghabisannya. Sedangkan yang termasuk sunat hai’at adalah : :
1. Mengangkat kedua tangan hingga bertentangan dengan dua
telinga pada empat tempat, yaitu ketika takbirul ihram, ketika
hendak ruku’, ketika I’tidal dan ketika berdiri sesudah bangkit
dari membaca tasyahud awal.
2. Meletakkan kedua tangan dibawah dada, tangan kanan
memegang pergelangan tangan kiri ketika beridiri.
3. Membaca do’a iftitah sesudah takbirul ihram.
4. Membaca ‫ اعوذ باهلل من الشيطان الرجيم‬ketika hendak memulai
membaca fatihah.
5. Membaca amin sesudah membaca fatihah.
6. Membaca surat atau ayat al-Qur`an pada raka’at shalat.
7. Menjaharkan bacaan fatihah dan surat pada rakat pertama dan
kedua setiap shalat, kecuali makmum.
8. Mengucapkan takbir ketika bangkit dan turun.
9. Mengucapkan ‫ سمع هللا لمن حمده‬.ketika bangkit dari ruku’.
10.Membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud.
11.Meletakkan tangan kanan pada paha kanan, dan tangan kiri
pada paha kiri ketika membaca tasyahud, jari tangan kiri
diluruskan, dan jari tangan kanan digemgamkan kecuali
telunjuk.
12.Duduk iftirasy pada pada sekalian duduk, yaitu menduduki
telapak kaki kiri.
13.Duduk bersimpuh pada duduk penghabisan.
14.Memberi salam yang kedua, dan
15.Memalingkan muka sekali ke kanan dan sekali ke kiri ketika
memberi salam..
Ibadah dalam Islam sangat banyak macam dan seluk-beluknya,
namun pada kesempatan ini sebagai pemahaman ulang dicukupkan
sebagaimana adanya, mudah-mudahan pada kesempatan lain akan
diteruskan. Insya Allah.

13
Dengan demikian, syari’ah, bukanlah hanya mengatur
hubungan manusia dengan Allah saja dalam hal ibadah khusus, tetapi
juga mengatur hubungan dengan sesama manusia dalam
kehidupannya di dunia ini, sep erti gotong royong, jual beli dan
pernikahan, pertanian dan perkebunan.

Bagian Ketiga : Akhlak Islamiyah


Oleh : Drs. Gusnar Zain

Akhlak merupakan dimensi ketiga dasar Islam yang berisi


tentang tingkahlaku atau sopan santun. Dengan perkataan lain, akhlak
dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur prilaku
manusia. Akhlak merupakan manifestasi-buah-hasil dari pada akidah
Islamiyah. Dalam kajian akhlak, yang menjadi pokok bahasannya
adalah mengatur perilaku manusia, seperti tolong-menolong, dan
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan itu bernilai baik
atau buruk.
Akhlak maupun syari’ah pada prinsipnya menyelidiki entang
perilaku manusia, persamaan keduanya terletak pada obyek formanya,
yaitu sama-sama manusia. Sedangkan obyek materinya terletak pada
obyek jaiannya itu. Kalau syari’ah melihat perbuatan manusia dari
segi hukumnya, seperti wajib, sunat, haram, makruh dan mubah,
sedangkan kajian akhlak melihat tentang perbuatan manusia dari segi
nilai, yaitu apakah perbuatan itu baik atau buruk.
Agama Islam, dengan tujuan untuk mencari keselamatan dan
kebahagiaan hidup, maka dari segi syari’ah, Allah menyuruh manusia
untuk berbuat yang wajib dan yang sunnat serta meninggalkan yang
haram, sedangkan dari segi akhlak menuntun manusia untuk bersikap
bersih dan jiwa yang suci. Atas dasar inilah Allah mengutus Nabi
Muhammad Saw. untuk membersihkan jiwa manusia yang kotor, agar
dia menjadi bersih. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-
ahzab/33 : 21, yaitu :

ِArtinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu


suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.

14
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa akhlak adalah melatih
diri untuk kesucian jiwa dan untuk memperoleh budi pekerti yang baik.
Misalnya, melatih diri dengan hidup zuhud, dalam pengertian hati
tidak dikendalikan oleh duniawi, serta bersikap tawakkal, dengan
pengertian berusaha dengan kesucian hati untuk selalu berusaha-
berikhtiar berserah diri kepada Allah atas segala yang diraihnya, dan
latihan-latihan kejiwaan lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi
tujuan akhir yang hendak dicapai dengan akhlak adalah taqarrub ila
Allah, maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan
mengerjakan perintah dan menghentikan larangan-Nya, demi
mengarah pada kebaikan hidup di dunia ini dan untuk bekal
dikampung akhirat nanti, karena itu dikatakan bahwa dunia ini adalah
sebagai shirath-ladang-sawah-jalan untuk memperoleh kebahagiaan di
akhirat kelak.
Alam dunia ini sebagai jalan untuk memperoleh kebahagiaan,
kebahagiaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kebahagiaan dunia akan diperoleh dengan banyaknya harta,
sedangkan untuk kebahagiaan akhirat adalah dengan banyaknya amal.
Kita, manusia diciptakan oleh Allah adalah sebagai hamba-Nya
( ‫ ) عبد‬adalah untuk beribadah kepadan-Nya sekaligus sebagai
khalifah-pemimpin. Baik pemimpin terhadap diri sendiri maupun
pemimpin terhadap keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Manusia sebagai Abdullah, maka wajiblah kita beribadah
kepada-Nya, hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam surat al-
an’am/6 : 162 sebagai berikut :

ِArtinya : Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,


hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa seorang muslim, paling
tidak mengerjakan shalat lima kali dalam sehari-semalam, dengan 17
( tujuh belas ) rak’at sebagai shalat wajib, apalagi ditambah dengan
shalat sunnat dengan bermacam-macam namanya, di antaranya shalat
tarawih. Untuk mengerjakan amal shaleh itu, selalu dimulai dengan
niat, dalam sebuah hadis dikatakan :
‫انما األعمال باانيات و انما لكل امرء مانوى‬
ِ Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap pekerjaan itu dimulai dengan
niat, dan suatu pekerjaan itu akan berhasil sesuai dengan niatnya‫ز‬

15
ِSebagai contoh : pada umumnya setiap akan makan dimulai
dengan ucapan basmalah, yaitu. dengan menyebut nama Allah yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maksud dari ayat al-Qur`an tersebut di atas adalah dengan


menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai
dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih
hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang
berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan
makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmān
(Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian
bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang
Ar Rahīm (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah
Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu
melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya.
Kemudian apabila telah selesai melakukan suatu perbuatan,
umpamanya ssetelah makan diucapkan alhamdulillah . , arti nya
Allah, Tuhan semesta alam.

Maksudnya : Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah


karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan
sendiri. Maka memuji Allah berati: menyanjung-Nya karena
perbuatan-Nya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti:
mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya,
dan kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah
sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Seterusnya kata Rabb ( Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang
Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafadh Rabb tidak dapat dipakai
selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul
bait (tuan rumah). Terakhir, kalimat-kata 'Alamīn (semesta alam),:
semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan
macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan,
benda-benda mati dan sebagainya. Allahlah sebagai Pencipta semua
alam-alam tersebut.
Akhlak itu masuk pada semua perbuatan dan iapun bermacam-
macam. Pada paparan ini dikemukakan tentang akhlak terhadap Allah,
diri sendiri, orang tua dan masyarakat-lingkungan.
1. Akhlak terhadap Allah

16
Akhlak terhadap Allah adalah dengan melaksanakan perintah,
dan menghentikan larangan-Nya, umpamanya :
a. Beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintahnya. Beribadah
terhadap Allah ini merupakan ketundukkan dan kepatuhan kepada-
Nya, seperti mencari rezki dengan baik, shalat, puasa dan ibadah-
ibadah lainnya.
b. Kemudian berzikir kepada-Nya, yaitu mengingat dalam berbagai
situasi, apakah diucapkan dengan lidah ataupun menyebutnya
dengan hati. Apabila zikir itu dilaksanakan dengan sepenuh hati,
ini akan melahirkan ketemteraman jiwa-ketenangan hati. Allah
menjelaskan dengan firman-Nya dalam surat al-Ra’d/13 : 28,
yaitu :

Artinya :. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka


manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
c. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja yang kita inginkan,
dan do’a merupakan inti ibadah, karena do’a merupakan
pengakuan akan keterbatasan manusia.sekaligus merupakan
pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya. Orang yang tidak
pernah berdoa kepada Allah termasuk orang yang tidak menerima
keterbatasan dirinya sebagai manusia, karena itu, ia dipandang
sebagai orang yang sombong. Sombong suatu prilaku yang tidak
disukai oleh Allah. Kata Allah dalam surat Luqman/31: 18, ‫وال‬
‫تمش فى اإلرض مرحا‬, artinya, janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong. Sifat sombong ini merupakan akhlak yang
tercela dalam kehidupan bermasyarakat.
d. Tawaduk, artinya adalah rendah hati kepada Allah. Maksudnya, ia
mengaku bahwa dirinya kecil dan rendah, karena itu tidak layak
kalau hidup dengan angkuh atau sombong, tidak mau memaafkan
kesalahan orang lain.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa kita sebagai manusia
memiliki berbagai keterbatasan , dengan keterbatasan itu, patutlah kita
memohon kepada yang lebih sempurna dari kita, dalam ajaran Islam,
yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa itu adalah Allah sebagai
pencipta alam semesta. Oleh karena itu, pantaslah kita mengucapkan
syukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya
kepada kita. Nikmat Allah yang kita terima semenjak kecil sampai
hari ini tidak terhitung jumlahnya, maka sewajarnyalah kita

17
mengucapkan syukur kepada-Nya. Hal ini sebagaimana difirman
Allah dalam surat Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :

Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
2. Akhlak terhadap diri sendiri.
Dalam hidup kita perlu menjaga diri kita sendiri dari berbagai
hal-hal yang akan merusak kepribadian. Akhlak terhadap diri sendiri
juga bermacam-macam, di antaranya seperti sifat sabar.
Sifat sabar. Sabar adalah merupakan prilaku seseorang
terhadap dirinya sendiri. Sifat ini adalah sebagai hasil dari
pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya ( musibah ), umpamanya : minggu besok kita akan
panen ( menyabit ) padi, namun sebelum panen, padi kita di makan
babi, dan lain sebagainya.
Sabar terhadap musibah adalah menerima musibah apa saja
yang datang dengan tetap berbalik sangka kepada Allah, dan yakin
bahwa ada hikmah dibalik musibah itu. Sabar terhadap musibah
merupakan gambaran jiwa yang tenang, dan keyakinan yang tinggi
terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa serta mengatur perjalanan
hidup kita.
3. Akhlak terhadap orang tua
Pada prinsipnya kita ada karena ada ibu dan bapak, yang
disebut dengan orang tua. Orang tua lah yang mengasuh,
membesarkan dengan memberi makan dan mendidiknya. Karena itu,
sewajarnyalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya.
Berbuat baik kepada orang tua ( birr al-walidain )mmerupakan
ibadah sekaligus sebagai akhlak yang mulia. Berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman/31 : 14,
sebagai berikut :

. Artinya :. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)


kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun.[. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada Akulah kamu kembali.

18
Dari ayat di atas nyatalah bahwa kita telah diasuh semenjak
kecil oleh orang tua kita, apalagi seorang ibu yang menyusukan
anaknya selama dua tahun, karena itu patutlah bersyukur kepada
kedua orang tua, berbuat baik kepadanya dalam bentuk perbuatan dan
perkataan yang baik ( lemah lembut ), menjalankan perintahnya
selama perintah itu sesuai dengan ajaran agama Islam. Berbuat kepada
orang tua bukanlah ketika ia dikala hidup saja, namun jika ia telah
meninggal, kita berbuat baik kepadanya dengan berdo’a kepada Allah,
umpamanya untuk mendapatkan syafaat di akhirat nanti. Tentang
berbuat kepada orang tua, dapat dipaparkan lagi firman Allah dalam
surat Bani Isra`/17 : 23, sebagai berikut :

Artinya : dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu


jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara
keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air

19
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :

Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat


dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Maksud ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk berbuat
baik kepada kedua orang tua, janganlah mengatakan kepadanya
perkataan yang menyakiti hatinya ( “ah” ), janganlah menghardiknya,
jangan mengucapkan kata-kata kasar kepadanya, tetapi ucapkanlah
perkataan yang mulia, perkataan yang baik, perkataan yang
menyenangkan hatinya. Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua
tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau
memperlakukannya dengan lebih kasar daripada itu, seperti
membunuh. Membunuh adalah dosa besar, pelaku dosa besar
kedudukannya di akhirat adalah di neraka.
4. Akhlak terhadap Masyarakat-lingkungan
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan

20
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Jadi perbuatan manusia yang dinilai dengan baik atau buruk,
besar atau sekecil apapun, dia akan menerima balasannya, baik di
dunia maupun di akhirat nanti. Di akhirat, terhadap perbuatan yang
dikerjakan di atas dunia ini, akan ditimbang dan diperhitungkan,
setelah itu barulah mereka dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam
neraka. Apalagi dalam ajaran Islam, iman dan amal shaleh itu harus
sejalan, dan inilah yang dinilai dengan akhlak, hasilnya adalah seperti
difirmankan Allah dalam surat al-baqarah/2 : 82, sebagai berikut :
Artinya : dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh,
mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Kekal dalam
surga itu adalah merupakan kebahagiaan yang abadi di alam akhirat.

21
Menurut Imam al-Ghazali, pembentukan prilaku-akhlak yang
baik dapat dilakukan melalui pergaulan dengan orang-orang pilihan
dan orang-orang yang shaleh ( Husn al-Khuluq-baik budi pekerti ).
Bergaul dengan orang-orang yang shaleh, sedikit demi sedikit akan
menyerap kebiasaan-kebiasaan dan akhlak yang baik. Islam telah
mengatur tatatertib dari hal-hl yang kecil sampai yang terbesar,
mengatur bagaimana bergaul dengan orang lain dalam suatu
masyarakat. Satu sama lain berhubungan dan berinteraksi dengan baik
sehingga mencegah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
keretakan dalam pergaulan. Begitulah seterusnya, mulai dari mengatur
diri kita sendiri sampai mengatur negara.
Apa yang diutarakan dalam tulisan ini, hanya menjelaskan
sekelumit tentang ajaran Islam secara garis besarnya, mudah-mudahan
dari paparan ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut.
Oleh al-Ghazali, konsep ini disebut dengan tazkiyat al-nafs
( membersihkan diri dengan ilmu dan amal ), yaitu mengibaratkan
jiwa manusia layaknya sebuah cermin yang dengan cermin itu akan
tercetak gambar yang ada dihadapannya. Amin

DAFTAR BACAAN

22
Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran al-Ghazali Tentang
Pendidikan, Madium : Jaya Star Nine, 2013
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2003
Ahmad Muhammad Al-Hufy, Akhlak Nabi Muhammad Saw.
Keluhuran dan Kemuliaannya, Bandung : Gema Risalah
Press, 1995
Anwar Harjono, Indonesia Kita, Pemikiran Berwawasan Iman-Islam,
Jakarta : Gema Insani Press, 1995
Al-Kalabadzi, Ajaran Kaum Sufi, Bandung : Mizan, 1995
A. Malik Ahmad, Tauhid Membina Pribadi Muslim dan Masyarakat,
Jakarta : Al-Hidayah, 1980
Bakri Dusar dan Gusnar Zain, Akhlak Dalam Berbagai Dimensi,
Padang : IAIN Press, 2009
Bey Arifin, Mengenal Tuhan, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1966
Ghazali, Imam, Minhaj al-‘Abidin, alih bahasa M. Adib Bisri, Meniti
Jalan Menuju Surga, Jakarta : Pustaka Amani, 1986
…….., Kitab al-Taubah, alih bahasa Abdul Rasyad Shiddiq, Rahasia
Tobat, Jakarta : Khatulistiwa Pres, 2012
…….., Fan al-Zikr wa al-Dua`, alih bahasa Achmad Sumarto,
Menjala Pahala Dengan zikir dan Doa, Jakarta : Pustaka
Amani, 1990
…….., Intisari Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1966
…….., Majmu’ah Rasa`il al-Imam al-Ghazali, alih bahasa Irwan
Kurniawan, Risalah Risalah al-Ghazali, Bandung, Pustaka
Al-Hidayah, 1997
Halimuddin, Kembali Kepada Akidah Islam, Jakarta : Rineka Cipta,
1988
HAMKA, Tasawuf , Perkembangn dan Pemurniannya, Jakarta :
Pustaka Panjimas, 1993
Jalaluddin et. al., Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan
Perkembangannya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999
Mahmoud Sjaltout, Islam Sebagai Aqidah dan Syari’ah, Jakarta :
Bulan Bintang, 1972
…….., Islam Sebagai Aqidah dan Syari’ah, Jld. 2, Jakarta : Bulan
Bintang, 1972
Moh. Abdai Rathomi, Tiga Serangkai Sendi Agama, Tauhid, Fiqih,
Tasawuf, Bandung : PT. Alma’arif, 1968

23
Muhammad Ali Usman, Manausia Menurut Islam, Melalui Empat
Alam, Bandung : Mawar, 1970
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Remaja
Rosda Karya, 2006
Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Pelajaran Ibadat, Medan,
Islamiyah, 1950
Muhammad bin Abdul Wahab, Ma’a Aqidah al-Salaf Kitab al-
Tauhid al-Lazi Huwa Haqq Allah ‘Ala al-‘Abid, alih bahasa
Bey Arifin, Bersihkan Tauhid Anda Dari Noda Syirk,
Surabaya : Bina Ilmu, 1984
Murthada Mutahhari, Perspektif Al-Qur`an Tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan, 1986
Sayid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Bandung :
CV. Diponegoro, 1978
Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Nur at-Tauhid wa Zhulumat asy-
Syairk li Dhau’I al-Kitab wa as-Sunnah, alih bahasa Ahmad,
Murnikan Tauhid,Jauhkan Syirik, Jakarta : Pustaka at-Tazkia,
2011
Sulaiman Rasyid, Fiqhi Islam, Jakarta : Attahiriyah, 1976
S. Kusumopradoto, Pandangan Hidup Manusia Berdasarkan Ilmu,
Iman, Amal dan Takwa, Semarang : Aneka, 1979
Ulil Amri Syarif, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur`an, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Yusuf Qardhawy, Al-Taubat Ila Allah, alih bahasa Kathur Suhardi,
Taubat, Jakarta : CV. Pustaka al-Kautsar, 1998
…….., Jalan Menuju Ma’rifat Islam, Jakarta : Restu Ilahi, 2006
Zainal Efendi Hasibuan, Pendidikan Berbasis Sirah Nabawiyah,
Medan : Mitra, 2012

24
JADWAL KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA
MASYARAKAT
Memurnikan Aqidah Masyarakat Petani karet
di Kenegarian Lagan Mudik Punggasan Kabupaten Pesisir
Selatan

HARI DAN
NO WAKTU KEGIATAN TEMPAT
TANGGAN
1 Sabtu/ 09-00- Penjajagan Lagan Mudik

25
06-09-2014 12.00
Ceramah agama
Sabtu/ 08.00- Masjid Dar-
2 tentang Akidah
13-09-2014 12.00 al-Taqwa
Islamiyah
Ceramah agama
Sabtu/ 08.00-
3 tentang Syari’ah- Sda
20-09-2014 12.00
Hukum Islam
Ceramah agama
Sabtu/ 08.00-
4 tentang Akhlak sda
27-09-2014 12.00
Islamiyah
Tinjauan ke
Sabtu/ 13.30-
5 lokasi pertanian Lagan Mudik
27-09-2014 15.00
karet

Padang, 02-09-2014
Ketua,

DRS. H. BAKRI DUSAR, MA.

26
27
DAFTAR BACAAN

Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran al-Ghazali Tentang


Pendidikan, Madium : Jaya Star Nine, 2013
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada,
2003
A. Malik Ahmad, Tauhid Membina Pribadi Muslim dan Masyarakat,
Jakarta : Al-Hidayah, 1980
Bakri Dusar dan Gusnar Zain, Akhlak Dalam Berbagai Dimensi,
Padang : IAIN Press, 2009
Ghazali, Imam, Minhaj al-‘Abidin, alih bahasa M. Adib Bisri, Meniti
Jalan Menuju Surga, Jakarta : Pustaka Amani, 1986
…….., Kitab al-Taubah, alih bahasa Abdul Rasyad Shiddiq, Rahasia
Tobat, Jakarta : Khatulistiwa Pres, 2012
…….., Fan al-Zikr wa al-Dua`, alih bahasa Achmad Sumarto,
Menjala Pahala Dengan zikir dan Doa, Jakarta : Pustaka
Amani, 1990
…….., Intisari Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1966
…….., Majmu’ah Rasa`il al-Imam al-Ghazali, alih bahasa Irwan
Kurniawan, Risalah Risalah al-Ghazali, Bandung, Pustaka
Al-Hidayah, 1997
Halimuddin, Kembali Kepada Akidah Islam, Jakarta : Rineka Cipta,
1988

28
Jalaluddin et. al., Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan
Perkembangannya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Remaja
Rosda Karya, 2006
Murthada Mutahhari, Perspektif Al-Qur`an Tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan, 1986
Sulaiman Rasyid, Fiqhi Islam, Jakarta : Attahiriyah, 1976
Ulil Amri Syarif, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur`an, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Yusuf Qardhawy, Al-Taubat Ila Allah, alih bahasa Kathur Suhardi,
Taubat, Jakarta : CV. Pustaka al-Kautsar, 1998
Zainal Efendi Hasibuan, Pendidikan Berbasis Sirah Nabawiyah,
Medan : Mitra, 2012

ISLAM DAN KEHIDUPAN2

Oleh : Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat


Islam secara harfiah dengan arti keselamatan atau kebahagiaan,
Dalam Islam, untuk memperoleh kebahagiaan, baik untuk kehidupan
di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak ada tiga unsur pokok
yang harus dipahami, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga unsur

2
Makalah ini disampaikan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat Desa Lagan
Mudik, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pesisir Selatan, tanggal 27 September 2014

29
ini akan disampaikan dalam tiga kali pertemuan secara berurutan,
pertemuan pertama akan disampaikan tentang akidah, pertemuan
kedua tentang syari’ah sedangkan pertemuan terakhir tentang akhlak.

Dalam Islam, akidah merupakan sistem kepercayaan kepada


Tuhan, sistem kepercayaan itu mendasari seluruh aktivitas kehidupan
bagi pemeluknya. Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti
dipercayai dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam
bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam
merupakan sistem kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan
Khalik ( Tuhan ) inilah yang disebut hubungan dengan Allah. Selub-
beluk tentang akidah ini termaktub dalam rukun iman. Penjelasannya
sebagai berikut :
1. Iman kepada Allah, yaitu mengaku akan adanya Allah, esa, asma,
sift dan perbuatan-Nya, dengan kalimat tauhid : ‫ال اله اال هللا‬ ,
pengakuan ini adalah dari hati sanubari.
2. Iman kepada Malaikat, yaitu mempercayi bahwa malaikat tidak
durhaka kepada Allah dan melaksanakan tugas dengan sebagik-
baiknya, seperti : Malaikat Jibril (menyampaikan wahyu ), Mikail
( membagi rezki ), Israfil ( meniurp sangkala ), Izrail ( mencabut
nyawa ), Ridwan ( menjaga surga ), Malik ( menjaga nerka ), Raqib
( mencatat amal ), Atid ( menncatat amal ), Munkar ( enajga di
kubur ), Nakir ( menjaga kubur ).
3. Iman kepada Kitab. Kitab merupakan himpunan aturan-aturan Allah
untuk pedoman hidupnya. Menurut ahli tauhid, kitab itu jumlahnya
ada 104 buah, namun yang wajib dipercayai hanya 4 (empat ) buah,

30
yaitu Taurat, ( Musa ), Zabur (Daud ), Injil ( Isa ), dan quran
( Muhammad Saw ).
4. Iman kepada Rasul. Allah memilih di antra makhlukya sebagai
wakil-urusannya untuk hubungan antara manusia dengan Allah.
Mereka menyampaikan wahyu kepada seluruh umt manusia, guna
menuntun, membimbing demi kemaslahatan di dunia dan di akhirat.
Rasul itu, mempunyai sifat yang wajib, yaitu : sidiq lawannya kizib,
tabligh lawannya kitman, amanah, lwanya khianat dan fathanah
lawawannya jahlun(bodoh ). Nubuwah adalah pangkat yang
diberikan kepada seseorang yang mendapat wahyu, baik wahyu itu
disuruh menyampaikan ataupun tidak, sedangkan Risalah adalah
pangkat yang diberikan kepada seseorang dan menerima wahyu
serta disuruh menyampaikannya.
5. Iman kepada hari akhirat. Hari akhirat adalah alam setelah
berqudrat, iradat Tuhanalih dari alam yang ada ini, yaitu alam
pembalasan terhadap amal yang dilakukan selama hidup di dunia
ini, apakah amal baik atau amal buruk.
6. Iman pada qadhi dan qadar. Iman kepada qada dan qadar ialah
mempercayai tiap-tiap yang terhadi di alam ini adalah dengan
ketentuan dan takdir Allah. Allah telah menjadikan alam ini sesuai
dengan sunnahnya.

Dalam kehidupan, tauhid berperan :


1. Mencari kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup
dunia dan akhirat ( QS. Baqarah : 189, bertaqwalah kepada
Allah, supaya kamu berbahagia ).

31
2. Agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,
seperti pikirn-pikiran dan kebudayaan yang menyesatkan
3. Agar terhindar dari tamak, rakus dan sebagainya.
Dengan demikian, prinsip-prinsip keimanan yang harus
diterapkan dalam kehidupan, di antaranya adalah seperti :
1. Melarang pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang
2. Penuh ketaatan kepada Allah
3. Perlu menjaga hak asasi manusia
4. Harta kekayaan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah
5. Dilarang bersifat tamak dan kikir
6. Mencegah perbuatan tercela
7. Memelihara anak yatim
8. Menyempurnakan timbangan, takaran, meteran dalam
perdagangan
9. Jangan berjalan di bumi engan sombong.
Karena itu, proses bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah kepada
ummatnya dalam menegakkan agama Islam didasarkan pada :
1. Landasan Keimanan, keimanan kepada Rasul berarti
kepercayaan sepenuhnya
2. Landasan kepatuhan, kepatuhan kepada Rasulullah
mengisyaratkan mensejajarkan antara hati dan pikiran dengan
cita-cita dan prilaku yang baik atas petunjuk Allah Swt.
3. Landasan kesetiaan, kesetiaan terhadap Rasulullah harus
bersifat nyata, berdasarkan sifat yang dimilikinya
4. Landasan kecintaan, yaitu rasa kebaktian kepadanya sesuai
dengan sunnahnya.

32
B. Syari’ah

Syari’ah adalah ketentuan atau aturan-aturan Allah yang wajib


dikerjakan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang Islam, baligh dan
berakal. Jadi, syari’ah berisi peraturan atau perundang-undangan yang
mengatur aktivitas kehidupan yang seharusnya dikerjakan manusia.
Dengan demikian syari’ah ialah sistim nilai yang merupakan inti dari
ajaran Islam.
Inti dari syari’ah Islam sebagai aktivitas kehidupan manusia
yang mengatur hubungan antara makhluk-manusia dengan Tuhan. Hal
ini sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi, bahwa
rukun Islam itu terdiri dari :
1. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahahat dengan arti
sumpah, pengakuan dan janji. Dalam al ini adalah mengucapkan
dua klimat syahadat, yaitu pengakuan terhadap adanya Allah
dan penyaksian terhadap keutusan rasul-Nya.
2. Mendirikan shalat. Shalat sebanyak lima kali sehari semalam,
yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Shalat dimulai
dengan takbir dan disudahi dengan salam, sesuai dengan
ketentuan dn syarat-syaratnya.

33
3. Membayarkan zakat. Zakat terdiri dari zakat diri dan zakat
harta-perniagaan. Zakat diri, seperti zakat fitrah, dan zakat harta
seperti zakat kekayaan, pertanian, peternakan dan lain-lainnya.
4. Puasa di bulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dri makan
dan minum n segala yang membatalkannya mulai dari terbit
fajar sampai terbenam mata hari.
5. Hajji bagi siapa yang sanggup. Hajji melakukan ibadah haji ke
Makkah al-mukarramah paa bulan hajji, dan hanya wajib satu
kali dalam seumur hidup jika dia sanggup untuk pergi kesana,
dalam arti mencukupi biaya kesana dan biaya bagi keluarga
yang ditinggalkannya.

Tentang rukun Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah


hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
‫بنى اإلسالم على خمس شهادة ان الاله اال هللا و اشهد ان محمد رسول هللا و اقام الصالة و‬
.‫و صوم رمضان و حخ البيت من استطاع اليه سبيال‬ ‫ايتاء الزكاة‬
Berdasarkan hadis tersebut di atas, nyatalah bahwa hubungan
manusia dengan Allah ini disebut dengan ibadah mahdhah atau ibadah
khusus, karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti
sebagaimana termaktub dalam kitabullah.

34
C. Akhlak

Akhlak merupakan dimensi ketiga dasar Islam yang berisi


tentang tingkahlaku atau sopan santun. Dengan perkataan lain, akhlak
dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur prilaku
manusia. Akhlak merupakan manifestasi-buah-hasil dari pada akidah
Islamiyah. Dalam kajian akhlak, yang menjadi pokok bahasannya
adalah mengatur perilaku manusia, seperti tolong-menolong, dan
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan itu bernilai baik
atau buruk.
Secara garis besarnya, akhlak dibagi pada dua bahagian, yaitu
akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama manusia.
1. Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah dengan melaksanakan perintah,
dan menghentikan larangan-Nya, umpamanya :

35
a. Beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintahnya. Beribadah
terhadap Allah ini merupakan ketundukkan dan kepatuhan kepada-
Nya, seperti mencari rezki dengan baik, shalat, puasa dan ibadah-
ibadah lainnya.
b. Kemudian berzikir kepada-Nya, yaitu mengingat dalam berbagai
situasi, apakah diucapkan dengan lidah ataupun menyebutnya
dengan hati. Apabila zikir itu dilaksanakan dengan sepenuh hati,
ini akan melahirkan ketemteraman jiwa-ketenangan hati. Allah
menjelaskan dengan firman-Nya dalam surat al-Ra’d/13 : 28,
yaitu :
 
 
    
  

Artinya :. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
c. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja yang kita inginkan,
dan do’a merupakan inti ibadah, karena do’a merupakan
pengakuan akan keterbatasan manusia.sekaligus merupakan
pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya. Orang yang tidak
pernah berdoa kepada Allah termasuk orang yang tidak menerima
keterbatasan dirinya sebagai manusia, karena itu, ia dipandang
sebagai orang yang sombong. Sombong suatu prilaku yang tidak
disukai oleh Allah. Kata Allah dalam surat Luqman/31: 18, ‫وال‬
‫تمش فى اإلرض مرحا‬, artinya, janganlah kamu berjalan di muka bumi

36
ini dengan sombong. Sifat sombong ini merupakan akhlak yang
tercela dalam kehidupan bermasyarakat.
d. Tawaduk, artinya adalah rendah hati kepada Allah. Maksudnya, ia
mengaku bahwa dirinya kecil dan rendah, karena itu tidak layak
kalau hidup dengan angkuh atau sombong, tidak mau memaafkan
kesalahan orang lain.
2. Akhlak kepada sesama manusia, meliputi :
a. Akhlak terhadap diri sendiri.
Dalam hidup kita perlu menjaga diri kita sendiri dari berbagai
hal-hal yang akan merusak kepribadian. Akhlak terhadap diri sendiri
juga bermacam-macam, di antaranya seperti sifat sabar.
Sifat sabar. Sabar adalah merupakan prilaku seseorang
terhadap dirinya sendiri. Sifat ini adalah sebagai hasil dari
pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya ( musibah ), umpamanya : minggu besok kita akan
panen ( menyabit ) padi, namun sebelum panen, padi kita di makan
babi, dan lain sebagainya.
Sabar terhadap musibah adalah menerima musibah apa saja
yang datang dengan tetap berbalik sangka kepada Allah, dan yakin
bahwa ada hikmah dibalik musibah itu. Sabar terhadap musibah
merupakan gambaran jiwa yang tenang, dan keyakinan yang tinggi
terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa serta mengatur perjalanan
hidup kita.
b. Akhlak terhadap orang tua
Pada prinsipnya kita ada karena ada ibu dan bapak, yang
disebut dengan orang tua. Orang tua lah yang mengasuh,

37
membesarkan dengan memberi makan dan mendidiknya. Karena itu,
sewajarnyalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya.
Berbuat baik kepada orang tua ( birr al-walidain )mmerupakan
ibadah sekaligus sebagai akhlak yang mulia. Berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman/31 : 14,
sebagai berikut :
 
 
   
   
  
  
.
Artinya :. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun.[. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada Akulah kamu kembali.

c. Akhlak terhadap Masyarakat-lingkungan


Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah

38
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 
Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang mengerjakan

39
kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya
pula.

Kesimpulan dari ajaran Islam secara garis besar, sesuai dengan


pertemuan pertama, kedua, dan pertemuan terakhir ini, maka inti dari
ketiga pertemuan tersebut dapat disarikan sebagai berikut :

Islam :
1. Aqidah, yaitu :
a. Mabda, qismun ilahiyat
b. Washithah, qismun al-wustha
c. Ma’ad, qismun sam’iyyat

40
Kesemua ini tercakup dalam rukum iman, yaitu :
1). Iman kepada Allah
2). Iman kepada malaikat
3). Iman kepada kitab
4). Iman kepada Rasul
5). Iman pada hari akhirat
6). Iman pada qadha dan qadar

2. Syari’ah. Syari’at/hukum dibagi atas 3 (tiga) bagian, yaitu :


a. Hukum Taklifi, adalah ketentuan-ketentuan Allah terhadap
orang Islam, baligh dan berakal.
b. Hukum wadh’i, merupakan ketentuan hukum disebabkan
oleh sebab, syarat dan mani’ ( larangan ).
c. Hukum takhyiri, yaitu pilihan terhadap hukum Islam yang
lima macam, yaitu : wajib. Sunat, haram, makruh dan
mubah.
3. Akhlak, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh hamba terhadap
Allah maupun terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Hukum akhlak ini terbagi pada dua bagian, yaitu akhlak baik
dinamakan dengan mahmumah dan akhlak buruk yang disebut
dengan mazmumah. Macam-macam akhlak dapat dibekana
pada :
1. Akhlak kepada Allah Allah dan Rasul
2. Akhlak kepada sesama makhluk, terdiri dari :
a. Akhlak terhadap diri sendiri
b. Akhlak terhadap orang tua

41
c. Akhlak terhadap keluarga, lingkungan dan masyarakat.

ISLAM DAN KEHIDUPAN3

Oleh : Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat


Islam secara harfiah dengan arti keselamatan atau kebahagiaan,
Dalam Islam, untuk memperoleh kebahagiaan, baik untuk kehidupan
di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak ada tiga unsur pokok
yang harus dipahami, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga unsur
ini akan disampaikan dalam tiga kali pertemuan secara berurutan,

3
Makalah ini disampaikan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat Desa Lagan
Mudik, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pesisir Selatan, tanggal / /2012

42
pertemuan pertama akan disampaikan tentang akidah, pertemuan
kedua tentang syari’ah sedangkan pertemuan terakhir tentang akhlak.

Dalam Islam, akidah merupakan sistem kepercayaan kepada


Tuhan, sistem kepercayaan itu mendasari seluruh aktivitas kehidupan
bagi pemeluknya. Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti
dipercayai dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam
bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam
merupakan sistem kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan
Tuhan.
Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti dipercayai
dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam bersumber pada
kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam merupakan sistem
kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan Tuhan. Hal ini
dinamakan dengan rukun Iman, yaitu :
7. Iman kepada Allah, yaitu mengaku akan adanya Allah, esa,
asma, sift dan perbuatan-Nya, dengan kalimat tauhid : ‫ال اله اال‬
‫هللا‬, pengakuan ini adalah dari hati sanubari.
8. Iman kepada Malaikat, yaitu mempercayi bahwa malaikat tidak
durhaka kepada Allah dan melaksanakan tugas dengan sebagik-
baiknya, seperti : Malaikat Jibril (menyampaikan wahyu ),
Mikail ( membagi rezki ), Israfil ( meniurp sangkala ), Izrail
( mencabut nyawa ), Ridwan ( menjaga surga ), Malik
( menjaga nerka ), Raqib ( mencatat amal ), Atid ( menncatat
amal ), Munkar ( enajga di kubur ), Nakir ( menjaga kubur ).

43
9. Iman kepada Kitab. Kitab merupakan himpunan aturan-aturan
Allah untuk pedoman hidupnya. Menurut ahli tauhid, kitab itu
jumlahnya ada 104 buah, namun yang wajib dipercayai hanya 4
(empat ) buah, yaitu Taurat, ( Musa ), Zabur (Daud ), Injil ( Isa ),
dan quran ( Muhammad Saw ).
10.Iman kepada Rasul. Allah memilih di antra makhlukya sebagai
wakil-urusannya untuk hubungan antara manusia dengan Allah.
Mereka menyampaikan wahyu kepada seluruh umt manusia,
guna menuntun, membimbing demi kemaslahatan di dunia dan
di akhirat. Rasul itu, mempunyai sifat yang wajib, yaitu : sidiq
lawannya kizib, tabligh lawannya kitman, amanah, lwanya
khianat dan fathanah lawawannya jahlun(bodoh ). Nubuwah
adalah pangkat yang diberikan kepada seseorang yang
mendapat wahyu, baik wahyu itu disuruh menyampaikan
ataupun tidak, sedangkan Risalah adalah pangkat yang
diberikan kepada seseorang dan menerima wahyu serta disuruh
menyampaikannya.
11.Iman kepada hari akhirat. Hari akhirat adalah alam setelah
berqudrat, iradat Tuhanalih dari alam yang ada ini, yaitu alam
pembalasan terhadap amal yang dilakukan selama hidup di
dunia ini, apakah amal baik atau amal buruk.
12.Iman pada qadhi dan qadar. Iman kepada qada dan qadar ialah
mempercayai tiap-tiap yang terhadi di alam ini adalah dengan
ketentuan dan takdir Allah. Allah telah menjadikan alam ini
sesuai dengan sunnahnya.

44
Akidah atau disebut dengan iman, hal ini merupakan pondasi
dalam Islam, apabila pondasi telah kuat dan terhunjam dalam hati-jiwa
seseorang, maka seluruh perbuatannya akan menjadi koko pula. Kalau
diumpamakan engan seperti bangunan rumah, apabila hendak
mendirikan rumah, terlebih dahulu yang dibuat dengan kokoh adalah
pondasi-dasar-landasannya. Kemudian, di atas pondasi itulah didirikan
rumah. Tentu saja, berapa besar dan tingginya rumah yang akan
dibangun, tergantung pada kekuatan pondasinya. Karena itu, antara
pondasi dengan rumah akan saling bantu-membantu, kuat-menguatkan
antara yang satu dengan yang lainnya.
Begitu pulalah keadaannya dengan Islam, sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa Islam itu terdiri dari tiga pokok landasan,
yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga dimensi ini saling kuat-
menguatkan, apabila rusak satu, maka rusaklah semuanya. Karena
itulah dikatakan bahwa Islam itu saling kuat-menguatkan, terjalin
bersatu padu terhadap ketiganya : ‫اسالم يشده بعض على بعض‬ , Dengan
danya kekuatan tersebut, kita sebagai makhluk, maka untuk mengatur
dan menjalani kehidupan, perlu memegang dan mendalami ketiga
dimensi itu, supaya hidup kita menjadi kokoh dan kuat.
Dalam Islam, dasar utama yang harus dibina adalah akidah-
iman atau keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Pengatur
di alam ini, termasuk kita sebagai makhluk-Nya. Pengatur tersebut
dinamakan dengan Allah. Allah menciptakan kita sebagai manusia
adalah sebaik-baik bentuk jika dibandingkan dengan makhluk Allah
lainnya. Kita diciptakan adalah sebagai hamba-Nya ( ‘abdun ) untuk

45
beribadah dan sebagai khalifah fi al-ardh ( pengatur-pemimpin ) dan
memakmurkan alam.
Filsafat Minangkabau mengatakan, “ alam takambang menjadi
guru”. Adanya alam diciptakan oleh Allah dengan berbagai bentuk,
ada berbentuk gunung atau bukit, ada lautan dan daratan. Gunung,
lautan dan daratan, semuanya adalah untuk kebutuhan kehidupan
manusia. Sebagai landasannya, dapat diperhatikan firman Allah dalam
surat al-Ghasyiyah/ 88 : 17-26 ,.yaitu :
   
   
  
  
   
   
  
   
   
  
 
  
   
   


Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana


dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, . dan gunung-
gunung bagaimana ia ditegakkan?, dan bumi bagaimana ia

46
dihamparkan? . Berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu
hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang
berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, Allah
akan mengazabnya dengan azab yang besar, dan sesungguhnya
kepada Kami-lah kembali kamu, kemudian, sesungguhnya kewajiban
Kami-lah menghisab mereka.
Maksud dari ayat di atas, Allah menyuruh kita memperhatikan
penciptaan alam ( binatang, langit, bumi-daratan dan gunung ), dan
semuanya itu bermanfaat untuk kehidupan manusia. Memperhatikan
keadaan alam seperti inilah yang dimaksudkan alam takambang
menjadi guru.
Allah dengan sifat rahmān dan rahīm-Nya, menjadikan alam
dengan semua isinya adalah untuk kebutuhan hidup kita. Dengan
gunung, kita dapat berkebun, bertanam pepohonan yang
menghasilkan , seperti karet, sawit, kulit manis, kelapa dan lain-lain.
Dengan lautan, sebahagian kita dapat mencari rezki sebagai nelayan
untuk menangkap ikan sebagai bahan konsumsi bagi kita. Betapa
banyaknya nelayan-pencari ikan di lautan di dunia ini, namun ikannya
tak pernah habis. Manusia-nelayan hanya menangkapnya saja, tetapi
tak pernah memberi makan, siapakah yang memberi makan,
mengembangbiakkan, membesarkannya. Disitulah letaknya kekuasaan,
rahman dan rahimnya Allah kepada ummatnya, demi kemashlahatan
dan kehidupannya. Karena itu, semua nikmat Allah yang kita terima
tersebut tak terhitung jumlah dan banyaknya. Justru itu patutlah
bersyukur kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang

47
artinya : “Jika kamu akan menghitung nikmat Allah, kamu/kita tak
akan sanggup untuk menghitungnya”.
Begitu pula keadaannya dengan daratan, kita dapat ke sawah
menanam padi, dan lain-lainnya, yang hasilnya juga untuk kebutuhan
hidup manusia/kita. Dengan hasil itu, kita dapat makan, dengan makan
kita dapat bergerak mengolah alam. Begitulah anugerah rahmat yang
Allah berikan kepada manusia, Cuma saja sebahagian manusia yang
tidak mau bersyukur kepada-Nya. Orang yang tak mau bersyukur
itulah yang akan merugi serta akan mendapat azab-siksa dari Allah.
Argumen ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya, surat
Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :
   
   
  
 
Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Apabila kita bersyukur kepada Tuhan, Tuhan akan menambah
nikmat-rezekinya, dan sebaliknya, jika manusia engkar-kafir, dia akan
mendapat azab. Azab itupun bermacam-macam, umpamanya : sawit
kita kurang atau tidak berbuah, atau cepat mati, atau kalau padi yang
akan panen, banyak musuhnya, dan perumpamaan lainnya sangat
banyak dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, sistem kepercayaan-keimanan dalam Islam
atau akidah dibina-dibangun atas enam dasar, yang disebut dengan

48
Rukun Iman. Rukun Iman tersebut adalah keimanan-keyakinan-
persaksian tentang adanya Allah, malaikat, kitab, Rasul, hari akhir dan
qadhā dan qadar. Dalam al-Qur`an banyak ayat yang menerangkan
tentang keimanan tersebut, di antaranya sebagaimana tertera pada
surat al-nisa`/4 : 136, yaitu :

 
  
 
   
  
     
 
 
   
 

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman


kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan
kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
Islam sebagai agama terakhir diturunkan oleh Allah kepada
ummatnya melalui Rasul-Nya yang mulia, yaitu Nabi Muhammad
Saw. Islam adalah sasu-satunya agama yang benar di sisi Allah, sebab,
Islam datang dengan membawa kebenaran yang bersifat umum guna

49
untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam menghadapi hidup dan
kehidupan. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka dia di
akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.
Terhadap kebenaran Islam sebagai suatu agama yang mulia
dan benar di sisi Allah, memang telah dinyatakan oleh Allah dengan
firman-Nya dalam surat Ali Imran/3 : 85, yaitu :
   
    
  
 
Artinya : Siapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Islam sebagai agama yang diakui kebenarannya oleh Allah,
maka dapatlah dikatakan bahwa agama Islam itu bersifat universal-
umum untuk seluruh manusia serta mampu untuk menjawab tantangan
yang muncul dalam hidup dan kehidupan, sekaligus sesuai pula
dengan tuntunan budaya manusia. Hal ini juga telah dijelaskan oleh
Allah dengan firman-Nya dalam surat al-Saba`/34 : 28, yaitu :
   
  
   
 
Artinya :Kami tidak mengutus kamu ( Nabi Muhammad ),
melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi, kebanyakan manusia
tiada mengetahui.

50
Dari ayat-ayat al-Qur`an tersebut di atas dapat dipahami
bahwa Islam yang sempurna lagi absolut ( mtlatk kebenarannya )
berdasarkan pada al-Qur`an dan hadis, ia adalah sebagai penuntun
kehidupan dengan membawa berbagai kabar gembira (basyiran ).
Kabar gembira disini maksudnya adalah memberikan bermacam
petunjuk untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup
manusia di dunia ini, apalagi untuk kehidupan di akhirat kelak, seperti
adanya kenikmatan di surga. Pengutusan Rasul/Nabi Muhammad
Saw., disamping membawa berita gembira, juga menjelaskan tentang
beberapa peringatan, yang disebut dengan naziran, artinya kabar
pertakut. Kabar pertakut itulah yang harus dihindari oleh manusia,
seperti adanya azab neraka di akhirat kelak.
Apabila kita takut akan azab Allah, maka hendaklah kita
taqwa kepada-Nya. Taqwa dengan arti menjernihkan apa-apa yang
kita miliki, seperti mata, telinga, lisan-mulut, hatu, perut dan pada
prinsipnya seluruh anggota tubuh kita, di antaranya adalah sebagai
berikut.
6. Mata. Kita punya mata untuk melihat apa saja yang kita sukai,
memandang keindahan alam, dan sebagainya. Ada hal-hal yang
boleh kita lihat, hal ini akan membawa kemashlahatan kepada kita,
sebab dengan melihat itu, kita dapat mempelajari dan
memperhatikannya. Hasil dari penglihatan itu akan menimbulkan
pengetahuan, dengan pengetahuan akan terbukalah pemikiran untuk
memperbuat sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, ada yang
dilarang untuk melihatnya, dan itupun akan membawa pada dosa-
azab. Sehubngan dengan hal ini, Nabi Saw. bersabda :”berhati-

51
hatilah dalam melihat, karena melihat itu berarti menanam syahwat
di hatimu”, dan salah seorang ahli tasawuf kenamaan, yaitu
Dzunnun al-Mishry berkata :” betapa baik perkara yang
menghalangi syahwat, yaitu memejamkan mata”.
Dari firman Allah dan sabda Nabi tersebut di atas, nyatalah
bahwa kita disuruh untuk melihat atau memperhatikan apa-apa yang
ada di alam ini, namun perlu menjaga penglihatan kita dari hal-hal
yang tidak bermanfaat dan akan menimbulkan dosa.
Perhatikanlah apa-apa yang ada di tubuh kita, jagalah anggota
tubuh itu menurut kegunaannya, seperti : kaki, untuk berjalan,
tangan untuk memegang gelas minuman dan memetik buah-buahan,
begitulah seterusnya alat-alat anggota tubuh kita yang banyak
variasi dan bentuknya.
7. Telinga, adalah sebagai alat untuk mendengar, mendengarkan hal-
hal yang baik dan menghindari pendengaran yang akan
menimbulkan fitnah, hasad dengki dan sebagainya. Mendengarkan
pelajaran yang baik, akan menimbulkan pengetahuan bagi kita,
sedangkan mendengarkan yang buruk akan menimbulkan siksaan,
tentu saja hal ini tergantung pada niat seseorang itu. Jadi,
pembicaraan yang masuk ke dalam hati manusia itu sama halnya
dengan makanan yang masuk ke perut. Dengan begitu,
sebahagiannya ada yang bermanfaat dan sebahagiannya ada pula
yang mudharat, seperti narkoba. Justru itu hendaklah menjaga
pendengaran kita dari perkara-perkara yang tak ada gunanya,
seperti pembicaraan omong kosong atau pembicaraan jelek, hal itu
bisa menimbulkan gangguan yang bermacam-macam di dalam hati

52
dan akan menimbulkan marabahaya, akhirnya hubungan dengan
seseorang menjadi rusak.
8. Lisan/mulut. Lisan/mulut sebagai alat untuk berbicara. Sama
halnya dengan telinga, bahwa lisan/mulut sangat bermanfaat bagi
manusia untuk berbicara, mengucapkan perkataan yang berguna,
tapi sebaliknya juga paling banyak kerusakan dan permusuhannya.
Karena itu, peliharalah lisan dengan amal-amal baik, siapa yang
tidak bisa memelihara lisannya, dan banyak bicara, bisa saja akan
terjerumus pada fitnah atau mempergunjingkan orang lain. Pepatah
mengatakan, “siapa yang banyak omong kosong, tentu banyak
salah”. Menggunjing menjadi sebab rusaknya ibadah.
Dalam minhaj al-‘abidin, karya al-Ghazali diriwayatkan :
pada suatu malam Hatim al-Asham tidak sempat melakukan shalat
tahajut, sehingga ditegur oleh istrinya. Lalu Hatim berkata :
“Kemaren malam orang-orang itu melakukan shalat tahajut, lalu
paginya ereka menggunjingku, maka nanti pada hari kiamat shalat
mereka akan berada pada timbangan amal kebaikanku”. Begitulah
di antara contoh mempergunjingkan orang lain, dengan arti kata
percuma saja melakukan amal kebaikan jika ia juga melakukan
kebujelekan.
9. Hati. Yang dimaksudkan dengan hati, bukan seperti hati lembu
yang dimakan orang. Menurut al-Ghazali, hati adalah suatu
perwujudan yang sangat ajaib dari alam ketuhanan yang
mempunyai hubungan dengan hati yang berwujud benda, seperti
halnya hubungan antara rumah dengan penghuninya. Ia sendirilah
yang merasakan apa yang pernah dirasakan dalam rumah itu.

53
Hati itu adalah suatu fitrah-potensi yang ada dalam diri
manusia, paling rumit urusannya, paling sulit perawatannya.
Dengan hati ( qalb ) itu, mansia dapat meyakini akan sesuatu.
Dalam kehidupan ini, kita disuruh oleh Allah untuk membaguskan
atau mengawasi gerak-gerik hati. Apapun yang tersirat-tertanam
dan tergores dalam hati seseorang, tidak lepas dari pengetahuan
Allah. Seperti firman Allah : ‫ انه عليم بذات‬, ‫و هللا يعلم ما فى قلوبكم‬
‫ الصدور‬, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kamu, Allah
mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Tentang persoalan
hati ini, dikemukakan dua buah hadis Rasulullah, yaitu :
‫ ان فى الجسد‬.‫ان هللا تعالى ال ينظر الى صوركم و ابشاركم و انما ينظر لى قلوبكم‬
. ‫مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله اال وهى القلب‬
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada
bentuk dan kulit kamu, tetapi Allah memandang hati kamu.
Sesungguhnya pada jasad/tubuh manusia terdapat segumpal daging,
apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad/ tubuh, sebaliknya,
apabila segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh
jasad/tubuhnya, kecuali hati/qalb.
Hati adalah tempat penyimpanan segala mutiara yang indah,
semua perkara yang penting bagi manusia, yang pertama adalah
akal dan yang paling agung adalah makrifat.( mengenal Allah yang
merupakan penyebab kebahagiaan dunia akhirat ). Kemudian
penglihatan hati dan niat yang bersih akan membawa sifat terpuji,
serta beraneka ilmu-hikmah merupakan kemuliaan-akhlak bagi
seseorang . Kemuliaan, keselamatan dan kebahagiaan itulah yang
dicita-citakan oleh ajaran Islam bagi pemeluknya.

54
10. Perut. Perut merupakan anggota tubuh yang paling banyak
biaya-ongkosnya dalam kehidupan, dan ia ( perut ) juga merupakan
yang paling banyak pengaruhnya. Perut apabila diisi, maka anggota
tubuh kita akan kuat untuk bekerja, namun, perut juga banyak
menimbulkan penyakit, sebab bermacam-macam yang dimakan
berkumpul pada perut, apakah yang dimakan itu halal atau haram.
Karena itu, kita harus menjaga perut dengan baik, jangan makan
berlebihan, jangan memakan harta anak yatim, jangan memakan
makanan yang haram kalau kita ingin selamat dan bahagia. Di
antara firman Allah yang menjelaskan tentang hal ini adalah : ‫ان‬
‫ الذين يأكلون اموال اليتامى انما يأكلون فى بطونهم نارا و سيصلون سعيرا‬,
artinya : Sungguh, orang-orang yang memakan harta anak yatim itu
sebenarnya memasukkan api ke dalam perut mereka dan mereka
akan masuk neraka sa’ir
Dalam kehidupan, tauhid berperan :

4. Mencari kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup


dunia dan akhirat ( QS. Baqarah : 189, bertaqwalah kepada
Allah, supaya kamu berbahagia ).
5. Agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,
seperti pikirn-pikiran dan kebudayaan yang menyesatkan
6. Agar terhindar dari tamak, rakus dan sebagainya.
Dengan demikian, prinsip-prinsip keimanan yang harus
diterapkan dalam kehidupan adalah seperti :
10.Melarang pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang
11.Penuh ketaatan kepada Allah

55
12.Perlu menjaga hak asasi manusia
13.Harta kekayaan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah
14.Dilarang bersifat tamak dan kikir
15.Mencegah perbuatan tercela
16.Memelihara anak yatim
17.Menyempurnakan timbangan, takaran, meteran dalam
perdagangan
18.Jangan berjalan di bumi engan sombong.
Karena itu, proses bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah
kepada ummatnya didasarkan pada :
5. Landasan Keimanan, keimanan kepada Rasul berarti
kepercayaan sepenuhnya
6. Landasan kepatuhan, kepatuhan kepada Rasulullah
mengisyaratkan mensejajarkan antara hati dan pikiran dengan
cita-cita dan prilaku yang baik atas petunjuk Allah Swt.
7. Landasan kesetiaan, kesetiaan terhadap Rasulullah harus
bersifat nyata, berdasarkan sifat yang dimilikinya
8. Landasan kecintaan, yaitu rasa kebaktian kepadanya sesuai
dengan sunnahnya.

A. Syari’ah
Syari’ah adalah ketentuan atau aturan-aturan Allah yang wajib
dikerjakan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang Islam, baligh dan
berakal. Jadi, syari’ah berisi peraturan atau perundang-undangan yang
mengatur aktivitas kehidupan yang seharusnya dikerjakan manusia.

56
Dengan demikian syari’ah ialah sistim nilai yang merupakan inti dari
ajaran Islam, disebut dengan rukun Islam..
Tentang rukun Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah
hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
‫بنى اإلسالم على خمس شهادة ان الاله اال هللا و اشهد ان محمد رسول هللا و اقام الصالة و‬
.‫و صوم رمضان و حخ البيت من استطاع اليه سبيال‬ ‫ايتاء الزكاة‬
Inti dari syari’ah Islam adalah sebagai aktivitas kehidupan
manusia yang mengatur hubungan antara makhluk-manusia dengan
Tuhan. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis Nabi
tersebut di atas, bahwa rukun Islam itu terdiri dari :
6. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahahat dengan arti
sumpah, pengakuan dan janji. Dalam al ini adalah mengucapkan
dua klimat syahadat, yaitu pengakuan terhadap adanya Allah
dan penyaksian terhadap keutusan rasul-Nya.
7. Mendirikan shalat. Shalat sebanyak lima kali sehari semalam,
yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Shalat dimulai
dengan takbir dan disudahi dengan salam, sesuai dengan
ketentuan dn syarat-syaratnya.
8. Membayarkan zakat. Zakat terdiri dari zakat diri dan zakat
harta-perniagaan. Zakat diri, seperti zakat fitrah, dan zakat harta
seperti zakat kekayaan, pertanian, peternakan dan lain-lainnya.
9. Puasa di bulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dri makan
dan minum n segala yang membatalkannya mulai dari terbit
fajar sampai terbenam mata hari.
10.Hajji bagi siapa yang sanggup. Hajji melakukan ibadah haji ke
Makkah al-mukarramah paa bulan hajji, dan hanya wajib satu

57
kali dalam seumur hidup jika dia sanggup untuk pergi kesana,
dalam arti mencukupi biaya kesana dan biaya bagi keluarga
yang ditinggalkannya.

Berdasarkan hadis tersebut di atas, nyatalah bahwa hubungan


manusia dengan Allah ini disebut dengan ibadah mahdhah atau ibadah
khusus, karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti
sebagaimana termaktub dalam kitabullah.
Syari’ah, selain mengatur hubungan manusia dengan Allah,
yang disebut dengan hubungan manusia dengan Allah-hablum min
Allah/fertikal ( ‫ ) حبل من هللا‬juga mengatur hubungan dengan sesama
manusia/horizontal- hablum min al-nas ( ‫حبل من الناس‬ ), yang
disebut dengan mu’amalah.
Hubungan manusia dengan Allah dilakukan setiap saat, namun
secara khusus juga telah ditentukan waktunya, yaitu shalat lima waktu
sehari semalam, yaitu : subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya. Shalat
dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. Dengan shalat yang
sesungguhnya, seseorang akan terhindar dari perbuatan yang jahat. Ini
telah dijelaskan oleh Allah dalam surat al-ankabut/ : 45, yaitu : ‫و أقم‬
‫ الصالة ان الصلوة تنهى عن الفخشاء و المنكر‬, artinya : laksanakanlah shalat,
sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan jahat ( keji ) dan
mungkar.
Tentang waktu pelaksanaan shalat telahdi atur dalam Islam,
sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis
yang berbunyi :

58
‫قال رسول هللا صلى هللا عليه و سلم أمنى جبريل عند البيت مرتين فصلى فى الظهر حين‬
‫زالت الشمس والعسر حين كان ظل الشيء مثله و المغرب حين وجبت الشمس والعشاء‬
‫حين غاب الشفق والفجر حين سطع الفجر فلما كان الغد صلى فى الظهر صار ظل كل‬
‫شيء مثله و العصر حين صار ظل كل شيء مثليه والمغرب حين أفطر الصائم والعشاء‬
‫عند ثلث الليل والفجر حين أسفر و قال هذا وقت األنبياء من قبلك والقت ما بين هذين‬
. ‫الوقتين‬
Artinya : telah bersabda Rasulullah Saw., saya telah dijadikan
imam oleh Jibril di Batullah dua kali, maka ia shalat bersama saya
shalat zuhur ketika tergelincir matahari, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu sepanjangnya, dan maghrib, ketika terbenam matahari
dan isya, ketika terbenam syafaq, dan subuh, ketika bercahaya fajar.
Maka besoknya, shalat pulalah ia bersama saya, shalat zuhur, ketika
bayang-bayang sesuatu sepanjangnya, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu dua kali panjangnya, dan maghrib, ketika berbuka
puasa, dan isya, ketika sepertiga malam, dan subuh ketika menguning
cahaya pagi, dan berkata Jibril : inilah waktu shalat Nabi-nabi yang
sebelum engkau dan waktu shalat antara dua waktu ini ( HR. Riwayat
Abu Daud ).
Maksud dari hadis di atas adalah menjelaskan tentang waktu
shalat. Waktu shalat zuhur, apabila tergelincir matahari ke sebelah
barat. Shalat ashar, waktunya sebelum terbenam matahari. Shalat
maghrib, waktunya sebelum hilang syafaq ( tepi merah, cahaya
matahari yang terpancar ditepi langit, sesudah terbenamnya, ada dua
rupa, mula-mula merah, sesudah hilang yang merah ini datang cahaya
putih, kedua cahaya inilah yang dinamakan dengan syafaq ). Shalat
isya, waktunya dari terbenam syafaq merah sampai terbit fajar kedua

59
( cahaya matahari sewaktu akan terbit, bertebaran melintang ditepi
langit sebelah timur ). Shalat subuh, waktunya mulai dari terbit fajar
pagi hari sampai terbitnya mata hari.
Untuk melaksanakan shalat wajib tersebut, ada beberapa
syaratnya, yaitu : Islam, suci dari pada kotoran( haidh ), berakal,
baligh, sampai seruan dakwah kepadanya, melihat dan mendengar,
bangun ( tidak tidur ). Sedangkan syarat-syarat sahnya shalat adalah
seperti : suci dari hadas besar dan kecil, suci pkaian dana tempat
shalat, menutup aurat, mengetahui masuknya waktu shalat, dan
menghadap kiblat.
Sedangkan yang menjadi rukun shalat adalah : niat, berdiri
bagi yang kuasa, takbiratul ihram, membaca surat al-fatihah, ruku’
serta thuma`ninah, I’tidal serta thuma`ninah, sujud dua kali serta
thuma`ninah, duduk di antara dua sujud serta thum`ninah, duduk
akhir, membaca tasyahud akhir, membaca shalat kepada Nabi
Muhammad Saw., membaca salam ( ke kanan dan ke kiri ) serta
menertibkan rukun-rukun tersebut.
Selanjutnya tentang hal-hal yang membatalkan shalat,
seperti : meninggalkan salah satu syarat, meninggalkan salah satu
rukun, dengan sengaja berkata-kata banyak bergerak serta makan dan
minum. Inilah beberapa ketentuan syari’at tentang shalat.
Dengan demikian, syari’ah, bukanlah hanya mengatur
hubungan manusia dengan Allah saja dalam hal ibadah khusus, tetapi
juga mengatur hubungan dengan sesama manusia dalam
kehidupannya di dunia ini, seperti gotong royong, jual beli dan
pernikahan, pertanian dan perkebunan.

60
B. Akhlak
Akhlak merupakan dimensi ketiga dasar Islam yang berisi
tentang tingkahlaku atau sopan santun. Dengan perkataan lain, akhlak
dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur prilaku
manusia. Akhlak merupakan manifestasi-buah-hasil dari pada akidah
Islamiyah. Dalam kajian akhlak, yang menjadi pokok bahasannya
adalah mengatur perilaku manusia, seperti tolong-menolong, dan
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan itu bernilai baik
atau buruk.
Akhlak maupun syari’ah pada prinsipnya menyelidiki entang
perilaku manusia, persamaan keduanya terletak pada obyek formanya,
yaitu sama-sama manusia. Sedangkan obyek materinya terletak pada
obyek jaiannya itu. Kalau syari’ah melihat perbuatan manusia dari
segi hukumnya, seperti wajib, sunat, haram, makruh dan mubah,
sedangkan kajian akhlak melihat tentang perbuatan manusia dari segi
nilai, yaitu apakah perbuatan itu baik atau buruk.
Agama Islam, dengan tujuan untuk mencari keselamatan dan
kebahagiaan hidup, maka dari segi syari’ah, Allah menyuruh manusia
untuk berbuat yang wajib dan yang sunnat serta meninggalkan yang
haram, sedangkan dari segi akhlak menuntun manusia untuk bersikap
bersih dan jiwa yang suci. Atas dasar inilah Allah mengutus Nabi
Muhammad Saw. untuk membersihkan jiwa manusia yang kotor, agar
dia menjadi bersih. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-
ahzab/33 : 21, yaitu :
    
   
  

61
  
  
ِArtinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa akhlak adalah melatih
diri untuk kesucian jiwa dan untuk memperoleh budi pekerti yang baik.
Misalnya, melatih diri dengan hidup zuhud, dalam pengertian hati
tidak dikendalikan oleh duniawi, serta bersikap tawakkal, dengan
pengertian berusaha dengan kesucian hati untuk selalu berusaha-
berikhtiar berserah diri kepada Allah atas segala yang diraihnya, dan
latihan-latihan kejiwaan lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi
tujuan akhir yang hendak dicapai dengan akhlak adalah taqarrub ila
Allah, maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan
mengerjakan perintah dan menghentikan larangan-Nya, demi
mengarah pada kebaikan hidup di dunia ini dan untuk bekal
dikampung akhirat nanti, karena itu dikatakan bahwa dunia ini adalah
sebagai shirath-ladang-sawah-jalan untuk memperoleh kebahagiaan di
akhirat kelak.
Alam dunia ini sebagai jalan untuk memperoleh kebahagiaan,
kebahagiaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kebahagiaan dunia akan diperoleh dengan banyaknya harta,
sedangkan untuk kebahagiaan akhirat adalah dengan banyaknya amal.
Kita, manusia diciptakan oleh Allah adalah sebagai hamba-Nya
( ‫عبد‬ ) adalah untuk beribadah kepadan-Nya sekaligus sebagai

62
khalifah-pemimpin. Baik pemimpin terhadap diri sendiri maupun
pemimpin terhadap keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Manusia sebagai Abdullah, maka wajiblah kita beribadah
kepada-Nya, hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam surat al-
an’am/6 : 162 sebagai berikut :
   
   
 
ِArtinya : Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa seorang muslim, paling
tidak mengerjakan shalat lima kali dalam sehari-semalam, dengan 17
( tujuh belas ) rak’at sebagai shalat wajib, apalagi ditambah dengan
shalat sunnat dengan bermacam-macam namanya, di antaranya shalat
tarawih. Untuk mengerjakan amal shaleh itu, selalu dimulai dengan
niat, dalam sebuah hadis dikatakan :
‫انما األعمال باانيات و انما لكل امرء مانوى‬
ِ Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap pekerjaan itu dimulai dengan
niat, dan suatu pekerjaan itu akan berhasil sesuai dengan niatnya‫ز‬
ِSebagai contoh : pada umumnya setiap akan makan dimulai
dengan ucapan basmalah, yaitu :  
    . dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maksud dari ayat al-Qur`an tersebut di atas adalah dengan


menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai
dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih

63
hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang
berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan
makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmān
(Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian
bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang
Ar Rahīm (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah
Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu
melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya.
Kemudian apabila telah selesai melakukan suatu perbuatan,
umpamanya ssetelah makan diucapkan alhamdulillah ( 
   
 ). , arti nya Allah, Tuhan semesta alam.

Maksudnya : Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah


karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan
sendiri. Maka memuji Allah berati: menyanjung-Nya karena
perbuatan-Nya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti:
mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya,
dan kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah
sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Seterusnya kata Rabb ( Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang
Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafadh Rabb tidak dapat dipakai
selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul
bait (tuan rumah). Terakhir, kalimat-kata 'Alamīn (semesta alam),:
semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan
macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan,

64
benda-benda mati dan sebagainya. Allahlah sebagai Pencipta semua
alam-alam tersebut.
Akhlak itu masuk pada semua perbuatan dan iapun bermacam-
macam. Pada paparan ini dikemukakan tentang akhlak terhadap Allah,
manusia dan lingkungan.
5. Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah dengan melaksanakan perintah,
dan menghentikan larangan-Nya, umpamanya :
a. Beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintahnya. Beribadah
terhadap Allah ini merupakan ketundukkan dan kepatuhan kepada-
Nya, seperti mencari rezki dengan baik, shalat, puasa dan ibadah-
ibadah lainnya.
b. Kemudian berzikir kepada-Nya, yaitu mengingat dalam berbagai
situasi, apakah diucapkan dengan lidah ataupun menyebutnya
dengan hati. Apabila zikir itu dilaksanakan dengan sepenuh hati,
ini akan melahirkan ketemteraman jiwa-ketenangan hati. Allah
menjelaskan dengan firman-Nya dalam surat al-Ra’d/13 : 28,
yaitu :
 
 
    
  


Artinya :. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka


manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

65
c. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja yang kita inginkan,
dan do’a merupakan inti ibadah, karena do’a merupakan
pengakuan akan keterbatasan manusia.sekaligus merupakan
pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya. Orang yang tidak
pernah berdoa kepada Allah termasuk orang yang tidak menerima
keterbatasan dirinya sebagai manusia, karena itu, ia dipandang
sebagai orang yang sombong. Sombong suatu prilaku yang tidak
disukai oleh Allah. Kata Allah dalam surat Luqman/31: 18, ‫وال‬
‫تمش فى اإلرض مرحا‬, artinya, janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong. Sifat sombong ini merupakan akhlak yang
tercela dalam kehidupan bermasyarakat.
d. Tawaduk, artinya adalah rendah hati kepada Allah. Maksudnya, ia
mengaku bahwa dirinya kecil dan rendah, karena itu tidak layak
kalau hidup dengan angkuh atau sombong, tidak mau memaafkan
kesalahan orang lain.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa kita sebagai manusia
memiliki berbagai keterbatasan , dengan keterbatasan itu, patutlah kita
memohon kepada yang lebih sempurna dari kita, dalam ajaran Islam,
yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa itu adalah Allah sebagai
pencipta alam semesta. Oleh karena itu, pantaslah kita mengucapkan
syukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya
kepada kita. Nikmat Allah yang kita terima semenjak kecil sampai
hari ini tidak terhitung jumlahnya, maka sewajarnyalah kita
mengucapkan syukur kepada-Nya. Hal ini sebagaimana difirman
Allah dalam surat Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :
   
   

66
  
 

Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
6. Akhlak terhadap diri sendiri.
Dalam hidup kita perlu menjaga diri kita sendiri dari berbagai
hal-hal yang akan merusak kepribadian. Akhlak terhadap diri sendiri
juga bermacam-macam, di antaranya seperti sifat sabar.
Sifat sabar. Sabar adalah merupakan prilaku seseorang
terhadap dirinya sendiri. Sifat ini adalah sebagai hasil dari
pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya ( musibah ), umpamanya : minggu besok kita akan
panen ( menyabit ) padi, namun sebelum panen, padi kita di makan
babi, dan lain sebagainya.
Sabar terhadap musibah adalah menerima musibah apa saja
yang datang dengan tetap berbalik sangka kepada Allah, dan yakin
bahwa ada hikmah dibalik musibah itu. Sabar terhadap musibah
merupakan gambaran jiwa yang tenang, dan keyakinan yang tinggi
terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa serta mengatur perjalanan
hidup kita.
7. Akhlak terhadap orang tua
Pada prinsipnya kita ada karena ada ibu dan bapak, yang
disebut dengan orang tua. Orang tua lah yang mengasuh,
membesarkan dengan memberi makan dan mendidiknya. Karena itu,

67
sewajarnyalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya.
Berbuat baik kepada orang tua ( birr al-walidain )mmerupakan
ibadah sekaligus sebagai akhlak yang mulia. Berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman/31 : 14,
sebagai berikut :
 
 
   
   
  
  
. Artinya :. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun.[. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada Akulah kamu kembali.
Dari ayat di atas nyatalah bahwa kita telah diasuh semenjak
kecil oleh orang tua kita, apalagi seorang ibu yang menyusukan
anaknya selama dua tahun, karena itu patutlah bersyukur kepada
kedua orang tua, berbuat baik kepadanya dalam bentuk perbuatan dan
perkataan yang baik ( lemah lembut ), menjalankan perintahnya
selama perintah itu sesuai dengan ajaran agama Islam. Berbuat kepada
orang tua bukanlah ketika ia dikala hidup saja, namun jika ia telah
meninggal, kita berbuat baik kepadanya dengan berdo’a kepada Allah,
umpamanya untuk mendapatkan syafaat di akhirat nanti. Tentang
berbuat kepada orang tua, dapat dipaparkan lagi firman Allah dalam
surat Bani Isra`/17 : 23, sebagai berikut :

68
  
  

   
 
   
   
  
  

Artinya : dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu


jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara
keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan

69
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 

70
Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Maksud ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk berbuat
baik kepada kedua orang tua, janganlah mengatakan kepadanya
perkataan yang menyakiti hatinya ( “ah” ), janganlah menghardiknya,
jangan mengucapkan kata-kata kasar kepadanya, tetapi ucapkanlah
perkataan yang mulia, perkataan yang baik, perkataan yang
menyenangkan hatinya. Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua
tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau
memperlakukannya dengan lebih kasar daripada itu, seperti
membunuh. Membunuh adalah dosa besar, pelaku dosa besar
kedudukannya di akhirat adalah di neraka.
8. Akhlak terhadap Masyarakat-lingkungan
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan

71
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 

72
Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Jadi perbuatan manusia yang dinilai dengan baik atau buruk,
besar atau sekecil apapun, dia akan menerima balasannya, baik di
dunia maupun di akhirat nanti. Di akhirat, terhadap perbuatan yang
dikerjakan di atas dunia ini, akan ditimbang dan diperhitungkan,
setelah itu barulah mereka dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam
neraka. Apalagi dalam ajaran Islam, iman dan amal shaleh itu harus
sejalan, dan inilah yang dinilai dengan akhlak, hasilnya adalah seperti
difirmankan Allah dalam surat al-baqarah/2 : 82, sebagai berikut :
 
 
 
   
 

Artinya : dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh,


mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Kekal dalam
surga itu adalah merupakan kebahagiaan yang abadi di alam akhirat.
Menurut Imam al-Ghazali, pembentukan prilaku-akhlak yang
baik dapat dilakukan melalui pergaulan dengan orang-orang pilihan
dan orang-orang yang shaleh ( Husn al-Khuluq-baik budi pekerti ).
Bergaul dengan orang-orang yang shaleh, sedikit demi sedikit akan
menyerap kebiasaan-kebiasaan dan akhlak yang baik. Islam telah

73
mengatur tatatertib dari hal-hl yang kecil sampai yang terbesar,
mengatur bagaimana bergaul dengan orang lain dalam suatu
masyarakat. Satu sama lain berhubungan dan berinteraksi dengan baik
sehingga mencegah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
keretakan dalam pergaulan. Begitulah seterusnya, mulai dari mengatur
diri kita sendiri sampai mengatur negara.
Apa yang diutarakan dalam tulisan ini, hanya menjelaskan
sekelumit tentang ajaran Islam secara garis besarnya, mudah-mudahan
dari paparan ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut.
Oleh al-Ghazali, konsep ini disebut dengan tazkiyat al-nafs
( membersihkan diri dengan ilmu dan amal ), yaitu mengibaratkan
jiwa manusia layaknya sebuah cermin yang dengan cermin itu akan
tercetak gambar yang ada dihadapannya. Amin

D. Daftar Bacaan

Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran al-Ghazali Tentang


Pendidikan, Madium : Jaya Star Nine, 2013
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada,
2003
A. Malik Ahmad, Tauhid Membina Pribadi Muslim dan Masyarakat,
Jakarta : Al-Hidayah, 1980
Bakri Dusar dan Gusnar Zain, Akhlak Dalam Berbagai Dimensi,
Padang : IAIN Press, 2009
Ghazali, Imam, Minhaj al-‘Abidin, alih bahasa M. Adib Bisri, Meniti
Jalan Menuju Surga, Jakarta : Pustaka Amani, 1986

74
…….., Kitab al-Taubah, alih bahasa Abdul Rasyad Shiddiq, Rahasia
Tobat, Jakarta : Khatulistiwa Pres, 2012
…….., Fan al-Zikr wa al-Dua`, alih bahasa Achmad Sumarto,
Menjala Pahala Dengan zikir dan Doa, Jakarta : Pustaka
Amani, 1990
…….., Intisari Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1966
…….., Majmu’ah Rasa`il al-Imam al-Ghazali, alih bahasa Irwan
Kurniawan, Risalah Risalah al-Ghazali, Bandung, Pustaka
Al-Hidayah, 1997
Halimuddin, Kembali Kepada Akidah Islam, Jakarta : Rineka Cipta,
1988
Jalaluddin et. al., Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan
Perkembangannya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Remaja
Rosda Karya, 2006
Murthada Mutahhari, Perspektif Al-Qur`an Tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan, 1986
Sayid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Bandung,
CV. Diponegoro, , 1978
Sulaiman Rasyid, Fiqhi Islam, Jakarta : Attahiriyah, 1976
Ulil Amri Syarif, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur`an, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Yusuf Qardhawy, Al-Taubat Ila Allah, alih bahasa Kathur Suhardi,
Taubat, Jakarta : CV. Pustaka al-Kautsar, 1998
Zainal Efendi Hasibuan, Pendidikan Berbasis Sirah Nabawiyah,
Medan : Mitra, 2012

75
ISLAM DAN KEHIDUPAN4

Oleh : Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat

4
Makalah ini disampaikan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat Desa Lagan
Mudik, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pesisir Selatan, tanggal 27 September 2014

76
Islam secara harfiah dengan arti keselamatan atau kebahagiaan,
Dalam Islam, untuk memperoleh kebahagiaan, baik untuk kehidupan
di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak ada tiga unsur pokok
yang harus dipahami, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak.
A. Akidah

Dalam Islam, akidah merupakan sistem kepercayaan kepada


Tuhan, sistem kepercayaan itu mendasari seluruh aktivitas kehidupan
bagi pemeluknya. Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti
dipercayai dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam
bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam
merupakan sistem kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan
Tuhan. Hal ini dinamakan dengan rukun Iman, yaitu :
7. Iman kepada Allah, yaitu mengaku akan adanya Allah, esa, asma,
sift dan perbuatan-Nya, dengan kalimat tauhid : ‫ال اله اال هللا‬ ,
pengakuan ini adalah dari hati sanubari.
8. Iman kepada Malaikat, yaitu mempercayi bahwa malaikat tidak
durhaka kepada Allah dan melaksanakan tugas dengan sebagik-
baiknya, seperti : Malaikat Jibril (menyampaikan wahyu ), Mikail
( membagi rezki ), Israfil ( meniurp sangkala ), Izrail ( mencabut
nyawa ), Ridwan ( menjaga surga ), Malik ( menjaga nerka ), Raqib
( mencatat amal ), Atid ( menncatat amal ), Munkar ( enajga di
kubur ), Nakir ( menjaga kubur ).
9. Iman kepada Kitab. Kitab merupakan himpunan aturan-aturan Allah
untuk pedoman hidupnya. Menurut ahli tauhid, kitab itu jumlahnya
ada 104 buah, namun yang wajib dipercayai hanya 4 (empat ) buah,

77
yaitu Taurat, ( Musa ), Zabur (Daud ), Injil ( Isa ), dan quran
( Muhammad Saw ).
10. Iman kepada Rasul. Allah memilih di antra makhlukya sebagai
wakil-urusannya untuk hubungan antara manusia dengan Allah.
Mereka menyampaikan wahyu kepada seluruh umt manusia, guna
menuntun, membimbing demi kemaslahatan di dunia dan di akhirat.
Rasul itu, mempunyai sifat yang wajib, yaitu : sidiq lawannya kizib,
tabligh lawannya kitman, amanah, lwanya khianat dan fathanah
lawawannya jahlun(bodoh ). Nubuwah adalah pangkat yang
diberikan kepada seseorang yang mendapat wahyu, baik wahyu itu
disuruh menyampaikan ataupun tidak, sedangkan Risalah adalah
pangkat yang diberikan kepada seseorang dan menerima wahyu
serta disuruh menyampaikannya.
11. Iman kepada hari akhirat. Hari akhirat adalah alam setelah
berqudrat, iradat Tuhanalih dari alam yang ada ini, yaitu alam
pembalasan terhadap amal yang dilakukan selama hidup di dunia
ini, apakah amal baik atau amal buruk.
12. Iman pada qadhi dan qadar. Iman kepada qada dan qadar ialah
mempercayai tiap-tiap yang terhadi di alam ini adalah dengan
ketentuan dan takdir Allah. Allah telah menjadikan alam ini sesuai
dengan sunnahnya.

Dalam kehidupan, tauhid berperan :


4. Mencari kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup
dunia dan akhirat ( QS. Baqarah : 189, bertaqwalah kepada
Allah, supaya kamu berbahagia ).

78
5. Agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,
seperti pikirn-pikiran dan kebudayaan yang menyesatkan
6. Agar terhindar dari tamak, rakus dan sebagainya.
Dengan demikian, prinsip-prinsip keimanan yang harus
diterapkan dalam kehidupan adalah seperti :
10.Melarang pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang
11.Penuh ketaatan kepada Allah
12.Perlu menjaga hak asasi manusia
13.Harta kekayaan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah
14.Dilarang bersifat tamak dan kikir
15.Mencegah perbuatan tercela
16.Memelihara anak yatim
17.Menyempurnakan timbangan, takaran, meteran dalam
perdagangan
18.Jangan berjalan di bumi engan sombong.
Karena itu, ptoses bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah
kepada ummatnya didasarkan pada :
5. Landasan Keimanan, keimanan kepada Rasul berarti
kepercayaan sepenuhnya
6. Landasan kepatuhan, kepatuhan kepada Rasulullah
mengisyaratkan mensejajarkan antara hati dan pikiran dengan
cita-cita dan prilaku yang baik atas petunjuk Allah Swt.
7. Landasan kesetiaan, kesetiaan terhadap Rasulullah harus
bersifat nyata, berdasarkan sifat yang dimilikinya
8. Landasan kecintaan, yaitu rasa kebaktian kepadanya sesuai
dengan sunnahnya.

79
B. Syari’ah

Syari’ah adalah ketentuan atau aturan-aturan Allah yang wajib


dikerjakan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang Islam, baligh dan
berakal. Jadi, syari’ah berisi peraturan atau perundang-undangan yang
mengatur aktivitas kehidupan yang seharusnya dikerjakan manusia.
Dengan demikian syari’ah ialah sistim nilai yang merupakan inti dari
ajaran Islam.
Inti dari syari’ah Islam sebagai aktivitas kehidupan manusia
yang mengatur hubungan antara makhluk-manusia dengan Tuhan. Hal
ini sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi, bahwa
rukun Islam itu terdiri dari :
6. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahahat dengan arti
sumpah, pengakuan dan janji. Dalam al ini adalah mengucapkan
dua klimat syahadat, yaitu pengakuan terhadap adanya Allah
dan penyaksian terhadap keutusan rasul-Nya.
7. Mendirikan shalat. Shalat sebanyak lima kali sehari semalam,
yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Shalat dimulai
dengan takbir dan disudahi dengan salam, sesuai dengan
ketentuan dn syarat-syaratnya.
8. Membayarkan zakat. Zakat terdiri dari zakat diri dan zakat
harta-perniagaan. Zakat diri, seperti zakat fitrah, dan zakat harta
seperti zakat kekayaan, pertanian, peternakan dan lain-lainnya.

80
9. Puasa di bulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dri makan
dan minum n segala yang membatalkannya mulai dari terbit
fajar sampai terbenam mata hari.
10.Hajji bagi siapa yang sanggup. Hajji melakukan ibadah haji ke
Makkah al-mukarramah paa bulan hajji, dan hanya wajib satu
kali dalam seumur hidup jika dia sanggup untuk pergi kesana,
dalam arti mencukupi biaya kesana dan biaya bagi keluarga
yang ditinggalkannya.

Tentang rukun Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah


hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
‫بنى اإلسالم على خمس شهادة ان الاله اال هللا و اشهد ان محمد رسول هللا و اقام الصالة و‬
.‫و صوم رمضان و حخ البيت من استطاع اليه سبيال‬ ‫ايتاء الزكاة‬
Berdasarkan hadis tersebut di atas, nyatalah bahwa hubungan
manusia dengan Allah ini disebut dengan ibadah mahdhah atau ibadah
khusus, karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti
sebagaimana termaktub dalam kitabullah.

C. Akhlak

Akhlak merupakan dimensi ketiga dasar Islam yang berisi


tentang tingkahlaku atau sopan santun. Dengan perkataan lain, akhlak
dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur prilaku
manusia. Akhlak merupakan manifestasi-buah-hasil dari pada akidah
Islamiyah. Dalam kajian akhlak, yang menjadi pokok bahasannya
adalah mengatur perilaku manusia, seperti tolong-menolong, dan

81
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan itu bernilai baik
atau buruk.
Secara garis besarnya, akhlak dibagi pada dua bahagian, yaitu
akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama manusia.
3. Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah dengan melaksanakan perintah,
dan menghentikan larangan-Nya, umpamanya :
a. Beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintahnya. Beribadah
terhadap Allah ini merupakan ketundukkan dan kepatuhan kepada-
Nya, seperti mencari rezki dengan baik, shalat, puasa dan ibadah-
ibadah lainnya.
b. Kemudian berzikir kepada-Nya, yaitu mengingat dalam berbagai
situasi, apakah diucapkan dengan lidah ataupun menyebutnya
dengan hati. Apabila zikir itu dilaksanakan dengan sepenuh hati,
ini akan melahirkan ketemteraman jiwa-ketenangan hati. Allah
menjelaskan dengan firman-Nya dalam surat al-Ra’d/13 : 28,
yaitu :
 
 
    
  

Artinya :. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
c. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja yang kita inginkan,
dan do’a merupakan inti ibadah, karena do’a merupakan

82
pengakuan akan keterbatasan manusia.sekaligus merupakan
pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya. Orang yang tidak
pernah berdoa kepada Allah termasuk orang yang tidak menerima
keterbatasan dirinya sebagai manusia, karena itu, ia dipandang
sebagai orang yang sombong. Sombong suatu prilaku yang tidak
disukai oleh Allah. Kata Allah dalam surat Luqman/31: 18, ‫وال‬
‫تمش فى اإلرض مرحا‬, artinya, janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong. Sifat sombong ini merupakan akhlak yang
tercela dalam kehidupan bermasyarakat.
d. Tawaduk, artinya adalah rendah hati kepada Allah. Maksudnya, ia
mengaku bahwa dirinya kecil dan rendah, karena itu tidak layak
kalau hidup dengan angkuh atau sombong, tidak mau memaafkan
kesalahan orang lain.
4. Akhlak kepada sesama manusia, meliputi :
d. Akhlak terhadap diri sendiri.
Dalam hidup kita perlu menjaga diri kita sendiri dari berbagai
hal-hal yang akan merusak kepribadian. Akhlak terhadap diri sendiri
juga bermacam-macam, di antaranya seperti sifat sabar.
Sifat sabar. Sabar adalah merupakan prilaku seseorang
terhadap dirinya sendiri. Sifat ini adalah sebagai hasil dari
pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya ( musibah ), umpamanya : minggu besok kita akan
panen ( menyabit ) padi, namun sebelum panen, padi kita di makan
babi, dan lain sebagainya.
Sabar terhadap musibah adalah menerima musibah apa saja
yang datang dengan tetap berbalik sangka kepada Allah, dan yakin

83
bahwa ada hikmah dibalik musibah itu. Sabar terhadap musibah
merupakan gambaran jiwa yang tenang, dan keyakinan yang tinggi
terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa serta mengatur perjalanan
hidup kita.
e. Akhlak terhadap orang tua
Pada prinsipnya kita ada karena ada ibu dan bapak, yang
disebut dengan orang tua. Orang tua lah yang mengasuh,
membesarkan dengan memberi makan dan mendidiknya. Karena itu,
sewajarnyalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya.
Berbuat baik kepada orang tua ( birr al-walidain )mmerupakan
ibadah sekaligus sebagai akhlak yang mulia. Berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman/31 : 14,
sebagai berikut :
 
 
   
   
  
  
.
Artinya :. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun.[. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada Akulah kamu kembali.

f. Akhlak terhadap Masyarakat-lingkungan

84
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.

85
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 
Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang mengerjakan
kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya
pula.

Islam :
4. Aqidah, yaitu :
d. Mabda, qismun ilahiyat
e. Washithah, qismun al-wustha
f. Ma’ad, qismun sam’iyyat
Kesemua ini tercakup dalam rukum iman, yaitu :
1). Iman kepada Allah
2). Iman kepada malaikat
3). Iman kepada kitab
4). Iman kepada Rasul

86
5). Iman pada hari akhirat
6). Iman pada qadha dan qadar

5. Syari’ah. Syari’at/hukum dibagi atas 3 (tiga) bagian, yaitu :


d. Hukum Taklifi, adalah ketentuan-ketentuan Allah terhadap
orang Islam, baligh dan berakal.
e. Hukum wadh’i, merupakan ketentuan hukum disebabkan
oleh sebab, syarat dan mani’ ( larangan ).
f. Hukum takhyiri, yaitu pilihan terhadap hukum Islam yang
lima macam, yaitu : wajib. Sunat, haram, makruh dan
mubah.
6. Akhlak, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh hamba terhadap
Allah maupun terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Hukum akhlak ini terbagi pada dua bagian, yaitu akhlak baik
dinamakan dengan mahmumah dan akhlak buruk yang disebut
dengan mazmumah. Macam-macam akhlak dapat dibekana
pada :
3. Akhlak kepada Allah Allah dan Rasul
4. Akhlak kepada sesama makhluk, terdiri dari :
d. Akhlak terhadap diri sendiri
e. Akhlak terhadap orang tua
f. Akhlak terhadap keluarga, lingkungan dan masyarakat.

87
88
ISLAM DAN KEHIDUPAN5
Oleh : Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat

Islam secara harfiah dengan arti keselamatan atau kebahagiaan,


Dalam Islam, untuk memperoleh kebahagiaan, baik untuk kehidupan
di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak ada tiga unsur pokok
yang harus dipahami, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak.
C. Akidah
Dalam Islam, akidah merupakan sistem kepercayaan kepada
Tuhan, sistem kepercayaan itu mendasari seluruh aktivitas kehidupan
bagi pemeluknya. Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti
dipercayai dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam
bersumber pada kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam
merupakan sistem kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan
Tuhan.
Jadi akidah Islam berisikan tentang apa yang mesti dipercayai
dan diimani oleh setiap individu, sebab agama Islam bersumber pada
kepercayaan kepada Tuhan, maka akidah Islam merupakan sistem
kepercayaan yang mengikat antara makhluk dengan Tuhan. Hal ini
dinamakan dengan rukun Iman, yaitu :
5
Makalah ini disampaikan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat Desa Lagan
Mudik, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pesisir Selatan, tanggal / /2012

89
13.Iman kepada Allah, yaitu mengaku akan adanya Allah, esa,
asma, sift dan perbuatan-Nya, dengan kalimat tauhid : ‫ال اله اال‬
‫هللا‬, pengakuan ini adalah dari hati sanubari.
14.Iman kepada Malaikat, yaitu mempercayi bahwa malaikat tidak
durhaka kepada Allah dan melaksanakan tugas dengan sebagik-
baiknya, seperti : Malaikat Jibril (menyampaikan wahyu ),
Mikail ( membagi rezki ), Israfil ( meniurp sangkala ), Izrail
( mencabut nyawa ), Ridwan ( menjaga surga ), Malik
( menjaga nerka ), Raqib ( mencatat amal ), Atid ( menncatat
amal ), Munkar ( enajga di kubur ), Nakir ( menjaga kubur ).
15.Iman kepada Kitab. Kitab merupakan himpunan aturan-aturan
Allah untuk pedoman hidupnya. Menurut ahli tauhid, kitab itu
jumlahnya ada 104 buah, namun yang wajib dipercayai hanya 4
(empat ) buah, yaitu Taurat, ( Musa ), Zabur (Daud ), Injil ( Isa ),
dan quran ( Muhammad Saw ).
16.Iman kepada Rasul. Allah memilih di antra makhlukya sebagai
wakil-urusannya untuk hubungan antara manusia dengan Allah.
Mereka menyampaikan wahyu kepada seluruh umt manusia,
guna menuntun, membimbing demi kemaslahatan di dunia dan
di akhirat. Rasul itu, mempunyai sifat yang wajib, yaitu : sidiq
lawannya kizib, tabligh lawannya kitman, amanah, lwanya
khianat dan fathanah lawawannya jahlun(bodoh ). Nubuwah
adalah pangkat yang diberikan kepada seseorang yang
mendapat wahyu, baik wahyu itu disuruh menyampaikan
ataupun tidak, sedangkan Risalah adalah pangkat yang

90
diberikan kepada seseorang dan menerima wahyu serta disuruh
menyampaikannya.
17.Iman kepada hari akhirat. Hari akhirat adalah alam setelah
berqudrat, iradat Tuhanalih dari alam yang ada ini, yaitu alam
pembalasan terhadap amal yang dilakukan selama hidup di
dunia ini, apakah amal baik atau amal buruk.
18.Iman pada qadhi dan qadar. Iman kepada qada dan qadar ialah
mempercayai tiap-tiap yang terhadi di alam ini adalah dengan
ketentuan dan takdir Allah. Allah telah menjadikan alam ini
sesuai dengan sunnahnya.

Akidah atau disebut dengan iman, hal ini merupakan pondasi


dalam Islam, apabila pondasi telah kuat dan terhunjam dalam hati-jiwa
seseorang, maka seluruh perbuatannya akan menjadi koko pula. Kalau
diumpamakan engan seperti bangunan rumah, apabila hendak
mendirikan rumah, terlebih dahulu yang dibuat dengan kokoh adalah
pondasi-dasar-landasannya. Kemudian, di atas pondasi itulah didirikan
rumah. Tentu saja, berapa besar dan tingginya rumah yang akan
dibangun, tergantung pada kekuatan pondasinya. Karena itu, antara
pondasi dengan rumah akan saling bantu-membantu, kuat-menguatkan
antara yang satu dengan yang lainnya.
Begitu pulalah keadaannya dengan Islam, sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa Islam itu terdiri dari tiga pokok landasan,
yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga dimensi ini saling kuat-
menguatkan, apabila rusak satu, maka rusaklah semuanya. Karena
itulah dikatakan bahwa Islam itu saling kuat-menguatkan, terjalin

91
bersatu padu terhadap ketiganya : ‫اسالم يشده بعض على بعض‬ , Dengan
danya kekuatan tersebut, kita sebagai makhluk, maka untuk mengatur
dan menjalani kehidupan, perlu memegang dan mendalami ketiga
dimensi itu, supaya hidup kita menjadi kokoh dan kuat.
Dalam Islam, dasar utama yang harus dibina adalah akidah-
iman atau keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Pengatur
di alam ini, termasuk kita sebagai makhluk-Nya. Pengatur tersebut
dinamakan dengan Allah. Allah menciptakan kita sebagai manusia
adalah sebaik-baik bentuk jika dibandingkan dengan makhluk Allah
lainnya. Kita diciptakan adalah sebagai hamba-Nya ( ‘abdun ) untuk
beribadah dan sebagai khalifah fi al-ardh ( pengatur-pemimpin ) dan
memakmurkan alam.
Filsafat Minangkabau mengatakan, “ alam takambang menjadi
guru”. Adanya alam diciptakan oleh Allah dengan berbagai bentuk,
ada berbentuk gunung atau bukit, ada lautan dan daratan. Gunung,
lautan dan daratan, semuanya adalah untuk kebutuhan kehidupan
manusia. Sebagai landasannya, dapat diperhatikan firman Allah dalam
surat al-Ghasyiyah/ 88 : 17-26 ,.yaitu :
   
   
  
  
   
   
  
   
   

92
  
 
  
   
   


Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana


dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, . dan gunung-
gunung bagaimana ia ditegakkan?, dan bumi bagaimana ia
dihamparkan? . Berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu
hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang
berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, Allah
akan mengazabnya dengan azab yang besar, dan sesungguhnya
kepada Kami-lah kembali kamu, kemudian, sesungguhnya kewajiban
Kami-lah menghisab mereka.
Maksud dari ayat di atas, Allah menyuruh kita memperhatikan
penciptaan alam ( binatang, langit, bumi-daratan dan gunung ), dan
semuanya itu bermanfaat untuk kehidupan manusia. Memperhatikan
keadaan alam seperti inilah yang dimaksudkan alam takambang
menjadi guru.
Allah dengan sifat rahmān dan rahīm-Nya, menjadikan alam
dengan semua isinya adalah untuk kebutuhan hidup kita. Dengan
gunung, kita dapat berkebun, bertanam pepohonan yang
menghasilkan , seperti karet, sawit, kulit manis, kelapa dan lain-lain.
Dengan lautan, sebahagian kita dapat mencari rezki sebagai nelayan
untuk menangkap ikan sebagai bahan konsumsi bagi kita. Betapa

93
banyaknya nelayan-pencari ikan di lautan di dunia ini, namun ikannya
tak pernah habis. Manusia-nelayan hanya menangkapnya saja, tetapi
tak pernah memberi makan, siapakah yang memberi makan,
mengembangbiakkan, membesarkannya. Disitulah letaknya kekuasaan,
rahman dan rahimnya Allah kepada ummatnya, demi kemashlahatan
dan kehidupannya. Karena itu, semua nikmat Allah yang kita terima
tersebut tak terhitung jumlah dan banyaknya. Justru itu patutlah
bersyukur kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang
artinya : “Jika kamu akan menghitung nikmat Allah, kamu/kita tak
akan sanggup untuk menghitungnya”.
Begitu pula keadaannya dengan daratan, kita dapat ke sawah
menanam padi, dan lain-lainnya, yang hasilnya juga untuk kebutuhan
hidup manusia/kita. Dengan hasil itu, kita dapat makan, dengan makan
kita dapat bergerak mengolah alam. Begitulah anugerah rahmat yang
Allah berikan kepada manusia, Cuma saja sebahagian manusia yang
tidak mau bersyukur kepada-Nya. Orang yang tak mau bersyukur
itulah yang akan merugi serta akan mendapat azab-siksa dari Allah.
Argumen ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya, surat
Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :
   
   
  
 
Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

94
Apabila kita bersyukur kepada Tuhan, Tuhan akan menambah
nikmat-rezekinya, dan sebaliknya, jika manusia engkar-kafir, dia akan
mendapat azab. Azab itupun bermacam-macam, umpamanya : sawit
kita kurang atau tidak berbuah, atau cepat mati, atau kalau padi yang
akan panen, banyak musuhnya, dan perumpamaan lainnya sangat
banyak dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, sistem kepercayaan-keimanan dalam Islam
atau akidah dibina-dibangun atas enam dasar, yang disebut dengan
Rukun Iman. Rukun Iman tersebut adalah keimanan-keyakinan-
persaksian tentang adanya Allah, malaikat, kitab, Rasul, hari akhir dan
qadhā dan qadar. Dalam al-Qur`an banyak ayat yang menerangkan
tentang keimanan tersebut, di antaranya sebagaimana tertera pada
surat al-nisa`/4 : 136, yaitu :

 
  
 
   
  
     
 
 
   
 

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman


kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan

95
kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
Islam sebagai agama terakhir diturunkan oleh Allah kepada
ummatnya melalui Rasul-Nya yang mulia, yaitu Nabi Muhammad
Saw. Islam adalah sasu-satunya agama yang benar di sisi Allah, sebab,
Islam datang dengan membawa kebenaran yang bersifat umum guna
untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam menghadapi hidup dan
kehidupan. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka dia di
akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.
Terhadap kebenaran Islam sebagai suatu agama yang mulia
dan benar di sisi Allah, memang telah dinyatakan oleh Allah dengan
firman-Nya dalam surat Ali Imran/3 : 85, yaitu :
   
    
  
 
Artinya : Siapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Islam sebagai agama yang diakui kebenarannya oleh Allah,
maka dapatlah dikatakan bahwa agama Islam itu bersifat universal-
umum untuk seluruh manusia serta mampu untuk menjawab tantangan
yang muncul dalam hidup dan kehidupan, sekaligus sesuai pula
dengan tuntunan budaya manusia. Hal ini juga telah dijelaskan oleh
Allah dengan firman-Nya dalam surat al-Saba`/34 : 28, yaitu :

96
   
  
   
 
Artinya :Kami tidak mengutus kamu ( Nabi Muhammad ),
melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi, kebanyakan manusia
tiada mengetahui.
Dari ayat-ayat al-Qur`an tersebut di atas dapat dipahami
bahwa Islam yang sempurna lagi absolut ( mtlatk kebenarannya )
berdasarkan pada al-Qur`an dan hadis, ia adalah sebagai penuntun
kehidupan dengan membawa berbagai kabar gembira (basyiran ).
Kabar gembira disini maksudnya adalah memberikan bermacam
petunjuk untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup
manusia di dunia ini, apalagi untuk kehidupan di akhirat kelak, seperti
adanya kenikmatan di surga. Pengutusan Rasul/Nabi Muhammad
Saw., disamping membawa berita gembira, juga menjelaskan tentang
beberapa peringatan, yang disebut dengan naziran, artinya kabar
pertakut. Kabar pertakut itulah yang harus dihindari oleh manusia,
seperti adanya azab neraka di akhirat kelak.
Apabila kita takut akan azab Allah, maka hendaklah kita
taqwa kepada-Nya. Taqwa dengan arti menjernihkan apa-apa yang
kita miliki, seperti mata, telinga, lisan-mulut, hatu, perut dan pada
prinsipnya seluruh anggota tubuh kita, di antaranya adalah sebagai
berikut.
11. Mata. Kita punya mata untuk melihat apa saja yang kita sukai,
memandang keindahan alam, dan sebagainya. Ada hal-hal yang

97
boleh kita lihat, hal ini akan membawa kemashlahatan kepada kita,
sebab dengan melihat itu, kita dapat mempelajari dan
memperhatikannya. Hasil dari penglihatan itu akan menimbulkan
pengetahuan, dengan pengetahuan akan terbukalah pemikiran untuk
memperbuat sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, ada yang
dilarang untuk melihatnya, dan itupun akan membawa pada dosa-
azab. Sehubngan dengan hal ini, Nabi Saw. bersabda :”berhati-
hatilah dalam melihat, karena melihat itu berarti menanam syahwat
di hatimu”, dan salah seorang ahli tasawuf kenamaan, yaitu
Dzunnun al-Mishry berkata :” betapa baik perkara yang
menghalangi syahwat, yaitu memejamkan mata”.
Dari firman Allah dan sabda Nabi tersebut di atas, nyatalah
bahwa kita disuruh untuk melihat atau memperhatikan apa-apa yang
ada di alam ini, namun perlu menjaga penglihatan kita dari hal-hal
yang tidak bermanfaat dan akan menimbulkan dosa.
Perhatikanlah apa-apa yang ada di tubuh kita, jagalah anggota
tubuh itu menurut kegunaannya, seperti : kaki, untuk berjalan,
tangan untuk memegang gelas minuman dan memetik buah-buahan,
begitulah seterusnya alat-alat anggota tubuh kita yang banyak
variasi dan bentuknya.
12. Telinga, adalah sebagai alat untuk mendengar, mendengarkan
hal-hal yang baik dan menghindari pendengaran yang akan
menimbulkan fitnah, hasad dengki dan sebagainya. Mendengarkan
pelajaran yang baik, akan menimbulkan pengetahuan bagi kita,
sedangkan mendengarkan yang buruk akan menimbulkan siksaan,
tentu saja hal ini tergantung pada niat seseorang itu. Jadi,

98
pembicaraan yang masuk ke dalam hati manusia itu sama halnya
dengan makanan yang masuk ke perut. Dengan begitu,
sebahagiannya ada yang bermanfaat dan sebahagiannya ada pula
yang mudharat, seperti narkoba. Justru itu hendaklah menjaga
pendengaran kita dari perkara-perkara yang tak ada gunanya,
seperti pembicaraan omong kosong atau pembicaraan jelek, hal itu
bisa menimbulkan gangguan yang bermacam-macam di dalam hati
dan akan menimbulkan marabahaya, akhirnya hubungan dengan
seseorang menjadi rusak.
13. Lisan/mulut. Lisan/mulut sebagai alat untuk berbicara. Sama
halnya dengan telinga, bahwa lisan/mulut sangat bermanfaat bagi
manusia untuk berbicara, mengucapkan perkataan yang berguna,
tapi sebaliknya juga paling banyak kerusakan dan permusuhannya.
Karena itu, peliharalah lisan dengan amal-amal baik, siapa yang
tidak bisa memelihara lisannya, dan banyak bicara, bisa saja akan
terjerumus pada fitnah atau mempergunjingkan orang lain. Pepatah
mengatakan, “siapa yang banyak omong kosong, tentu banyak
salah”. Menggunjing menjadi sebab rusaknya ibadah.
Dalam minhaj al-‘abidin, karya al-Ghazali diriwayatkan :
pada suatu malam Hatim al-Asham tidak sempat melakukan shalat
tahajut, sehingga ditegur oleh istrinya. Lalu Hatim berkata :
“Kemaren malam orang-orang itu melakukan shalat tahajut, lalu
paginya ereka menggunjingku, maka nanti pada hari kiamat shalat
mereka akan berada pada timbangan amal kebaikanku”. Begitulah
di antara contoh mempergunjingkan orang lain, dengan arti kata

99
percuma saja melakukan amal kebaikan jika ia juga melakukan
kebujelekan.
14. Hati. Yang dimaksudkan dengan hati, bukan seperti hati lembu
yang dimakan orang. Menurut al-Ghazali, hati adalah suatu
perwujudan yang sangat ajaib dari alam ketuhanan yang
mempunyai hubungan dengan hati yang berwujud benda, seperti
halnya hubungan antara rumah dengan penghuninya. Ia sendirilah
yang merasakan apa yang pernah dirasakan dalam rumah itu.
Hati itu adalah suatu fitrah-potensi yang ada dalam diri
manusia, paling rumit urusannya, paling sulit perawatannya.
Dengan hati ( qalb ) itu, mansia dapat meyakini akan sesuatu.
Dalam kehidupan ini, kita disuruh oleh Allah untuk membaguskan
atau mengawasi gerak-gerik hati. Apapun yang tersirat-tertanam
dan tergores dalam hati seseorang, tidak lepas dari pengetahuan
Allah. Seperti firman Allah : ‫ انه عليم بذات‬, ‫و هللا يعلم ما فى قلوبكم‬
‫ الصدور‬, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kamu, Allah
mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Tentang persoalan
hati ini, dikemukakan dua buah hadis Rasulullah, yaitu :
‫ ان فى الجسد‬.‫ان هللا تعالى ال ينظر الى صوركم و ابشاركم و انما ينظر لى قلوبكم‬
. ‫مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله اال وهى القلب‬
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada
bentuk dan kulit kamu, tetapi Allah memandang hati kamu.
Sesungguhnya pada jasad/tubuh manusia terdapat segumpal daging,
apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad/ tubuh, sebaliknya,
apabila segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh
jasad/tubuhnya, kecuali hati/qalb.

100
Hati adalah tempat penyimpanan segala mutiara yang indah,
semua perkara yang penting bagi manusia, yang pertama adalah
akal dan yang paling agung adalah makrifat.( mengenal Allah yang
merupakan penyebab kebahagiaan dunia akhirat ). Kemudian
penglihatan hati dan niat yang bersih akan membawa sifat terpuji,
serta beraneka ilmu-hikmah merupakan kemuliaan-akhlak bagi
seseorang . Kemuliaan, keselamatan dan kebahagiaan itulah yang
dicita-citakan oleh ajaran Islam bagi pemeluknya.
15. Perut. Perut merupakan anggota tubuh yang paling banyak
biaya-ongkosnya dalam kehidupan, dan ia ( perut ) juga merupakan
yang paling banyak pengaruhnya. Perut apabila diisi, maka anggota
tubuh kita akan kuat untuk bekerja, namun, perut juga banyak
menimbulkan penyakit, sebab bermacam-macam yang dimakan
berkumpul pada perut, apakah yang dimakan itu halal atau haram.
Karena itu, kita harus menjaga perut dengan baik, jangan makan
berlebihan, jangan memakan harta anak yatim, jangan memakan
makanan yang haram kalau kita ingin selamat dan bahagia. Di
antara firman Allah yang menjelaskan tentang hal ini adalah : ‫ان‬
‫ الذين يأكلون اموال اليتامى انما يأكلون فى بطونهم نارا و سيصلون سعيرا‬,
artinya : Sungguh, orang-orang yang memakan harta anak yatim itu
sebenarnya memasukkan api ke dalam perut mereka dan mereka
akan masuk neraka sa’ir
Dalam kehidupan, tauhid berperan :

101
7. Mencari kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup
dunia dan akhirat ( QS. Baqarah : 189, bertaqwalah kepada
Allah, supaya kamu berbahagia ).
8. Agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,
seperti pikirn-pikiran dan kebudayaan yang menyesatkan
9. Agar terhindar dari tamak, rakus dan sebagainya.
Dengan demikian, prinsip-prinsip keimanan yang harus
diterapkan dalam kehidupan adalah seperti :
19.Melarang pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang
20.Penuh ketaatan kepada Allah
21.Perlu menjaga hak asasi manusia
22.Harta kekayaan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah
23.Dilarang bersifat tamak dan kikir
24.Mencegah perbuatan tercela
25.Memelihara anak yatim
26.Menyempurnakan timbangan, takaran, meteran dalam
perdagangan
27.Jangan berjalan di bumi engan sombong.
Karena itu, proses bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah
kepada ummatnya didasarkan pada :
9. Landasan Keimanan, keimanan kepada Rasul berarti
kepercayaan sepenuhnya
10.Landasan kepatuhan, kepatuhan kepada Rasulullah
mengisyaratkan mensejajarkan antara hati dan pikiran dengan
cita-cita dan prilaku yang baik atas petunjuk Allah Swt.

102
11.Landasan kesetiaan, kesetiaan terhadap Rasulullah harus
bersifat nyata, berdasarkan sifat yang dimilikinya
12.Landasan kecintaan, yaitu rasa kebaktian kepadanya sesuai
dengan sunnahnya.

D. Syari’ah
Syari’ah adalah ketentuan atau aturan-aturan Allah yang wajib
dikerjakan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang Islam, baligh dan
berakal. Jadi, syari’ah berisi peraturan atau perundang-undangan yang
mengatur aktivitas kehidupan yang seharusnya dikerjakan manusia.
Dengan demikian syari’ah ialah sistim nilai yang merupakan inti dari
ajaran Islam, disebut dengan rukun Islam..
Tentang rukun Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah
hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
‫بنى اإلسالم على خمس شهادة ان الاله اال هللا و اشهد ان محمد رسول هللا و اقام الصالة و‬
.‫و صوم رمضان و حخ البيت من استطاع اليه سبيال‬ ‫ايتاء الزكاة‬
Inti dari syari’ah Islam adalah sebagai aktivitas kehidupan
manusia yang mengatur hubungan antara makhluk-manusia dengan
Tuhan. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis Nabi
tersebut di atas, bahwa rukun Islam itu terdiri dari :
11.Mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahahat dengan arti
sumpah, pengakuan dan janji. Dalam al ini adalah mengucapkan
dua klimat syahadat, yaitu pengakuan terhadap adanya Allah
dan penyaksian terhadap keutusan rasul-Nya.
12.Mendirikan shalat. Shalat sebanyak lima kali sehari semalam,
yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Shalat dimulai

103
dengan takbir dan disudahi dengan salam, sesuai dengan
ketentuan dn syarat-syaratnya.
13.Membayarkan zakat. Zakat terdiri dari zakat diri dan zakat
harta-perniagaan. Zakat diri, seperti zakat fitrah, dan zakat harta
seperti zakat kekayaan, pertanian, peternakan dan lain-lainnya.
14.Puasa di bulan ramadhan. Puasa adalah menahan diri dri makan
dan minum n segala yang membatalkannya mulai dari terbit
fajar sampai terbenam mata hari.
15.Hajji bagi siapa yang sanggup. Hajji melakukan ibadah haji ke
Makkah al-mukarramah paa bulan hajji, dan hanya wajib satu
kali dalam seumur hidup jika dia sanggup untuk pergi kesana,
dalam arti mencukupi biaya kesana dan biaya bagi keluarga
yang ditinggalkannya.

Berdasarkan hadis tersebut di atas, nyatalah bahwa hubungan


manusia dengan Allah ini disebut dengan ibadah mahdhah atau ibadah
khusus, karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti
sebagaimana termaktub dalam kitabullah.
Syari’ah, selain mengatur hubungan manusia dengan Allah,
yang disebut dengan hubungan manusia dengan Allah-hablum min
Allah/fertikal ( ‫ ) حبل من هللا‬juga mengatur hubungan dengan sesama
manusia/horizontal- hablum min al-nas ( ‫حبل من الناس‬ ), yang
disebut dengan mu’amalah.
Hubungan manusia dengan Allah dilakukan setiap saat, namun
secara khusus juga telah ditentukan waktunya, yaitu shalat lima waktu
sehari semalam, yaitu : subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya. Shalat

104
dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. Dengan shalat yang
sesungguhnya, seseorang akan terhindar dari perbuatan yang jahat. Ini
telah dijelaskan oleh Allah dalam surat al-ankabut/ : 45, yaitu : ‫و أقم‬
‫ الصالة ان الصلوة تنهى عن الفخشاء و المنكر‬, artinya : laksanakanlah shalat,
sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan jahat ( keji ) dan
mungkar.
Tentang waktu pelaksanaan shalat telahdi atur dalam Islam,
sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis
yang berbunyi :
‫قال رسول هللا صلى هللا عليه و سلم أمنى جبريل عند البيت مرتين فصلى فى الظهر حين‬
‫زالت الشمس والعسر حين كان ظل الشيء مثله و المغرب حين وجبت الشمس والعشاء‬
‫حين غاب الشفق والفجر حين سطع الفجر فلما كان الغد صلى فى الظهر صار ظل كل‬
‫شيء مثله و العصر حين صار ظل كل شيء مثليه والمغرب حين أفطر الصائم والعشاء‬
‫عند ثلث الليل والفجر حين أسفر و قال هذا وقت األنبياء من قبلك والقت ما بين هذين‬
. ‫الوقتين‬
Artinya : telah bersabda Rasulullah Saw., saya telah dijadikan
imam oleh Jibril di Batullah dua kali, maka ia shalat bersama saya
shalat zuhur ketika tergelincir matahari, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu sepanjangnya, dan maghrib, ketika terbenam matahari
dan isya, ketika terbenam syafaq, dan subuh, ketika bercahaya fajar.
Maka besoknya, shalat pulalah ia bersama saya, shalat zuhur, ketika
bayang-bayang sesuatu sepanjangnya, dan ashar, ketika bayang-
bayang sesuatu dua kali panjangnya, dan maghrib, ketika berbuka
puasa, dan isya, ketika sepertiga malam, dan subuh ketika menguning
cahaya pagi, dan berkata Jibril : inilah waktu shalat Nabi-nabi yang

105
sebelum engkau dan waktu shalat antara dua waktu ini ( HR. Riwayat
Abu Daud ).
Maksud dari hadis di atas adalah menjelaskan tentang waktu
shalat. Waktu shalat zuhur, apabila tergelincir matahari ke sebelah
barat. Shalat ashar, waktunya sebelum terbenam matahari. Shalat
maghrib, waktunya sebelum hilang syafaq ( tepi merah, cahaya
matahari yang terpancar ditepi langit, sesudah terbenamnya, ada dua
rupa, mula-mula merah, sesudah hilang yang merah ini datang cahaya
putih, kedua cahaya inilah yang dinamakan dengan syafaq ). Shalat
isya, waktunya dari terbenam syafaq merah sampai terbit fajar kedua
( cahaya matahari sewaktu akan terbit, bertebaran melintang ditepi
langit sebelah timur ). Shalat subuh, waktunya mulai dari terbit fajar
pagi hari sampai terbitnya mata hari.
Untuk melaksanakan shalat wajib tersebut, ada beberapa
syaratnya, yaitu : Islam, suci dari pada kotoran( haidh ), berakal,
baligh, sampai seruan dakwah kepadanya, melihat dan mendengar,
bangun ( tidak tidur ). Sedangkan syarat-syarat sahnya shalat adalah
seperti : suci dari hadas besar dan kecil, suci pkaian dana tempat
shalat, menutup aurat, mengetahui masuknya waktu shalat, dan
menghadap kiblat.
Sedangkan yang menjadi rukun shalat adalah : niat, berdiri
bagi yang kuasa, takbiratul ihram, membaca surat al-fatihah, ruku’
serta thuma`ninah, I’tidal serta thuma`ninah, sujud dua kali serta
thuma`ninah, duduk di antara dua sujud serta thum`ninah, duduk
akhir, membaca tasyahud akhir, membaca shalat kepada Nabi

106
Muhammad Saw., membaca salam ( ke kanan dan ke kiri ) serta
menertibkan rukun-rukun tersebut.
Selanjutnya tentang hal-hal yang membatalkan shalat,
seperti : meninggalkan salah satu syarat, meninggalkan salah satu
rukun, dengan sengaja berkata-kata banyak bergerak serta makan dan
minum. Inilah beberapa ketentuan syari’at tentang shalat.
Dengan demikian, syari’ah, bukanlah hanya mengatur
hubungan manusia dengan Allah saja dalam hal ibadah khusus, tetapi
juga mengatur hubungan dengan sesama manusia dalam
kehidupannya di dunia ini, seperti gotong royong, jual beli dan
pernikahan, pertanian dan perkebunan.
E. Akhlak
Akhlak merupakan dimensi ketiga dasar Islam yang berisi
tentang tingkahlaku atau sopan santun. Dengan perkataan lain, akhlak
dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur prilaku
manusia. Akhlak merupakan manifestasi-buah-hasil dari pada akidah
Islamiyah. Dalam kajian akhlak, yang menjadi pokok bahasannya
adalah mengatur perilaku manusia, seperti tolong-menolong, dan
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan itu bernilai baik
atau buruk.
Akhlak maupun syari’ah pada prinsipnya menyelidiki entang
perilaku manusia, persamaan keduanya terletak pada obyek formanya,
yaitu sama-sama manusia. Sedangkan obyek materinya terletak pada
obyek jaiannya itu. Kalau syari’ah melihat perbuatan manusia dari
segi hukumnya, seperti wajib, sunat, haram, makruh dan mubah,

107
sedangkan kajian akhlak melihat tentang perbuatan manusia dari segi
nilai, yaitu apakah perbuatan itu baik atau buruk.
Agama Islam, dengan tujuan untuk mencari keselamatan dan
kebahagiaan hidup, maka dari segi syari’ah, Allah menyuruh manusia
untuk berbuat yang wajib dan yang sunnat serta meninggalkan yang
haram, sedangkan dari segi akhlak menuntun manusia untuk bersikap
bersih dan jiwa yang suci. Atas dasar inilah Allah mengutus Nabi
Muhammad Saw. untuk membersihkan jiwa manusia yang kotor, agar
dia menjadi bersih. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-
ahzab/33 : 21, yaitu :
    
   
  
  
  
ِArtinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa akhlak adalah melatih
diri untuk kesucian jiwa dan untuk memperoleh budi pekerti yang baik.
Misalnya, melatih diri dengan hidup zuhud, dalam pengertian hati
tidak dikendalikan oleh duniawi, serta bersikap tawakkal, dengan
pengertian berusaha dengan kesucian hati untuk selalu berusaha-
berikhtiar berserah diri kepada Allah atas segala yang diraihnya, dan
latihan-latihan kejiwaan lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi
tujuan akhir yang hendak dicapai dengan akhlak adalah taqarrub ila

108
Allah, maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan
mengerjakan perintah dan menghentikan larangan-Nya, demi
mengarah pada kebaikan hidup di dunia ini dan untuk bekal
dikampung akhirat nanti, karena itu dikatakan bahwa dunia ini adalah
sebagai shirath-ladang-sawah-jalan untuk memperoleh kebahagiaan di
akhirat kelak.
Alam dunia ini sebagai jalan untuk memperoleh kebahagiaan,
kebahagiaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kebahagiaan dunia akan diperoleh dengan banyaknya harta,
sedangkan untuk kebahagiaan akhirat adalah dengan banyaknya amal.
Kita, manusia diciptakan oleh Allah adalah sebagai hamba-Nya
( ‫عبد‬ ) adalah untuk beribadah kepadan-Nya sekaligus sebagai
khalifah-pemimpin. Baik pemimpin terhadap diri sendiri maupun
pemimpin terhadap keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Manusia sebagai Abdullah, maka wajiblah kita beribadah
kepada-Nya, hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam surat al-
an’am/6 : 162 sebagai berikut :
   
   
 
ِArtinya : Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa seorang muslim, paling
tidak mengerjakan shalat lima kali dalam sehari-semalam, dengan 17
( tujuh belas ) rak’at sebagai shalat wajib, apalagi ditambah dengan
shalat sunnat dengan bermacam-macam namanya, di antaranya shalat

109
tarawih. Untuk mengerjakan amal shaleh itu, selalu dimulai dengan
niat, dalam sebuah hadis dikatakan :
‫انما األعمال باانيات و انما لكل امرء مانوى‬
ِ Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap pekerjaan itu dimulai dengan
niat, dan suatu pekerjaan itu akan berhasil sesuai dengan niatnya‫ز‬
ِSebagai contoh : pada umumnya setiap akan makan dimulai
dengan ucapan basmalah, yaitu :  
    . dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maksud dari ayat al-Qur`an tersebut di atas adalah dengan


menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai
dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih
hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang
berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan
makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmān
(Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian
bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang
Ar Rahīm (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah
Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu
melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya.
Kemudian apabila telah selesai melakukan suatu perbuatan,
umpamanya ssetelah makan diucapkan alhamdulillah ( 
   
 ). , arti nya Allah, Tuhan semesta alam.

110
Maksudnya : Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah
karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan
sendiri. Maka memuji Allah berati: menyanjung-Nya karena
perbuatan-Nya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti:
mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya,
dan kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah
sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Seterusnya kata Rabb ( Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang
Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafadh Rabb tidak dapat dipakai
selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul
bait (tuan rumah). Terakhir, kalimat-kata 'Alamīn (semesta alam),:
semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan
macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan,
benda-benda mati dan sebagainya. Allahlah sebagai Pencipta semua
alam-alam tersebut.
Akhlak itu masuk pada semua perbuatan dan iapun bermacam-
macam. Pada paparan ini dikemukakan tentang akhlak terhadap Allah,
manusia dan lingkungan.
9. Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah dengan melaksanakan perintah,
dan menghentikan larangan-Nya, umpamanya :
a. Beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintahnya. Beribadah
terhadap Allah ini merupakan ketundukkan dan kepatuhan kepada-
Nya, seperti mencari rezki dengan baik, shalat, puasa dan ibadah-
ibadah lainnya.

111
b. Kemudian berzikir kepada-Nya, yaitu mengingat dalam berbagai
situasi, apakah diucapkan dengan lidah ataupun menyebutnya
dengan hati. Apabila zikir itu dilaksanakan dengan sepenuh hati,
ini akan melahirkan ketemteraman jiwa-ketenangan hati. Allah
menjelaskan dengan firman-Nya dalam surat al-Ra’d/13 : 28,
yaitu :
 
 
    
  


Artinya :. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka


manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
c. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja yang kita inginkan,
dan do’a merupakan inti ibadah, karena do’a merupakan
pengakuan akan keterbatasan manusia.sekaligus merupakan
pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya. Orang yang tidak
pernah berdoa kepada Allah termasuk orang yang tidak menerima
keterbatasan dirinya sebagai manusia, karena itu, ia dipandang
sebagai orang yang sombong. Sombong suatu prilaku yang tidak
disukai oleh Allah. Kata Allah dalam surat Luqman/31: 18, ‫وال‬
‫تمش فى اإلرض مرحا‬, artinya, janganlah kamu berjalan di muka bumi
ini dengan sombong. Sifat sombong ini merupakan akhlak yang
tercela dalam kehidupan bermasyarakat.

112
d. Tawaduk, artinya adalah rendah hati kepada Allah. Maksudnya, ia
mengaku bahwa dirinya kecil dan rendah, karena itu tidak layak
kalau hidup dengan angkuh atau sombong, tidak mau memaafkan
kesalahan orang lain.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa kita sebagai manusia
memiliki berbagai keterbatasan , dengan keterbatasan itu, patutlah kita
memohon kepada yang lebih sempurna dari kita, dalam ajaran Islam,
yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa itu adalah Allah sebagai
pencipta alam semesta. Oleh karena itu, pantaslah kita mengucapkan
syukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya
kepada kita. Nikmat Allah yang kita terima semenjak kecil sampai
hari ini tidak terhitung jumlahnya, maka sewajarnyalah kita
mengucapkan syukur kepada-Nya. Hal ini sebagaimana difirman
Allah dalam surat Ibrahim/14 : 7 sebagai berikut :
   
   
  
 

Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
10. Akhlak terhadap diri sendiri.
Dalam hidup kita perlu menjaga diri kita sendiri dari berbagai
hal-hal yang akan merusak kepribadian. Akhlak terhadap diri sendiri
juga bermacam-macam, di antaranya seperti sifat sabar.

113
Sifat sabar. Sabar adalah merupakan prilaku seseorang
terhadap dirinya sendiri. Sifat ini adalah sebagai hasil dari
pengendalian hawa nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya ( musibah ), umpamanya : minggu besok kita akan
panen ( menyabit ) padi, namun sebelum panen, padi kita di makan
babi, dan lain sebagainya.
Sabar terhadap musibah adalah menerima musibah apa saja
yang datang dengan tetap berbalik sangka kepada Allah, dan yakin
bahwa ada hikmah dibalik musibah itu. Sabar terhadap musibah
merupakan gambaran jiwa yang tenang, dan keyakinan yang tinggi
terhadap adanya Allah Yang Maha Kuasa serta mengatur perjalanan
hidup kita.
11. Akhlak terhadap orang tua
Pada prinsipnya kita ada karena ada ibu dan bapak, yang
disebut dengan orang tua. Orang tua lah yang mengasuh,
membesarkan dengan memberi makan dan mendidiknya. Karena itu,
sewajarnyalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya.
Berbuat baik kepada orang tua ( birr al-walidain )mmerupakan
ibadah sekaligus sebagai akhlak yang mulia. Berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman/31 : 14,
sebagai berikut :
 
 
   
   
  
  

114
. Artinya :. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun.[. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada Akulah kamu kembali.
Dari ayat di atas nyatalah bahwa kita telah diasuh semenjak
kecil oleh orang tua kita, apalagi seorang ibu yang menyusukan
anaknya selama dua tahun, karena itu patutlah bersyukur kepada
kedua orang tua, berbuat baik kepadanya dalam bentuk perbuatan dan
perkataan yang baik ( lemah lembut ), menjalankan perintahnya
selama perintah itu sesuai dengan ajaran agama Islam. Berbuat kepada
orang tua bukanlah ketika ia dikala hidup saja, namun jika ia telah
meninggal, kita berbuat baik kepadanya dengan berdo’a kepada Allah,
umpamanya untuk mendapatkan syafaat di akhirat nanti. Tentang
berbuat kepada orang tua, dapat dipaparkan lagi firman Allah dalam
surat Bani Isra`/17 : 23, sebagai berikut :
  
  

   
 
   
   
  
  

115
Artinya : dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara
keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,

116
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 

Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat


dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Maksud ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk berbuat
baik kepada kedua orang tua, janganlah mengatakan kepadanya
perkataan yang menyakiti hatinya ( “ah” ), janganlah menghardiknya,
jangan mengucapkan kata-kata kasar kepadanya, tetapi ucapkanlah

117
perkataan yang mulia, perkataan yang baik, perkataan yang
menyenangkan hatinya. Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua
tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau
memperlakukannya dengan lebih kasar daripada itu, seperti
membunuh. Membunuh adalah dosa besar, pelaku dosa besar
kedudukannya di akhirat adalah di neraka.
12. Akhlak terhadap Masyarakat-lingkungan
Kita sebagai manusia diciptakan Allah bukan hanya semata-
mata beribadah kepada-Nya, tetapi juga sebagai khalifah-pemimpin di
atas dunia ini, baik pemimpin terhadap diri sendiri, keluarga dan
lingkungan. Yang dimaksudkan dengan akhlak terhadap lingkungan
adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia secara baik dan
dengan alam sekitarnya, seperti tumbuh-tumbuhdan dan binatang.
Manusia sebagai khalifah di bumi ini mengandung arti
mengayomi,, memelihara dengan baik. Tumbuh-tumbuhan, binatang
dan semua benda yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Cuma
saja, kita sebagai manusia disuruh untuk memelihara dan
memanfaatkannya. Seumpama pohon karet, dan sawit dan kelapa.
Kita hanya bisa menanam, memelihara ataupun memberinya pupuk,
yang membebsarkan, menjadikan dia hidup dan berbuah adalah
anugerah Allah. Hasil dari karet, sawit dan kelapa yang kita ambil itu
dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup kita. Karena itu, sesuai
dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, patutlah kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan itu.
Kemudian, sebagi contoh lain tentang akhlak terhadap
lingkungan adalah seperti gotong royong membuat jalan,

118
membersihkan jalan, atau gotong royong membersihkan bandan air
dikala kita hendak ke sawah. Gotong royong itu adalah kerja secara
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang
bergotong royong membersihkan bandar untuk kelancaran air ke
sawah, namun kita tidak ikut gotong royong, padahal kalau kita ke
sawah, air yang kita perlukan adalah melalui bandar yang telah
dibersihkan tadi. Kalau begitu keadaannya, maka kita dikatakan tidak
berakhlak terhadap lingkungan., dan masih banyak seluk-beluk akhlak
terhadap lingkungan, namun dengan contoh tersebut dapat dipahami
betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan dalam lingkungan atau
bermasyarakat.
Sebagai dasar atau penjelasan dari keterangan di atas, dapat
dipaparkan firman Allah dalam surat al-zalzalah/99 : 7-8, sebagai
berikut :
   
   
   
 

Artinya : Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat


dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan siapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.
Jadi perbuatan manusia yang dinilai dengan baik atau buruk,
besar atau sekecil apapun, dia akan menerima balasannya, baik di
dunia maupun di akhirat nanti. Di akhirat, terhadap perbuatan yang
dikerjakan di atas dunia ini, akan ditimbang dan diperhitungkan,

119
setelah itu barulah mereka dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam
neraka. Apalagi dalam ajaran Islam, iman dan amal shaleh itu harus
sejalan, dan inilah yang dinilai dengan akhlak, hasilnya adalah seperti
difirmankan Allah dalam surat al-baqarah/2 : 82, sebagai berikut :
 
 
 
   
 

Artinya : dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh,


mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Kekal dalam
surga itu adalah merupakan kebahagiaan yang abadi di alam akhirat.
Menurut Imam al-Ghazali, pembentukan prilaku-akhlak yang
baik dapat dilakukan melalui pergaulan dengan orang-orang pilihan
dan orang-orang yang shaleh ( Husn al-Khuluq-baik budi pekerti ).
Bergaul dengan orang-orang yang shaleh, sedikit demi sedikit akan
menyerap kebiasaan-kebiasaan dan akhlak yang baik. Islam telah
mengatur tatatertib dari hal-hl yang kecil sampai yang terbesar,
mengatur bagaimana bergaul dengan orang lain dalam suatu
masyarakat. Satu sama lain berhubungan dan berinteraksi dengan baik
sehingga mencegah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
keretakan dalam pergaulan. Begitulah seterusnya, mulai dari mengatur
diri kita sendiri sampai mengatur negara.
Apa yang diutarakan dalam tulisan ini, hanya menjelaskan
sekelumit tentang ajaran Islam secara garis besarnya, mudah-mudahan
dari paparan ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut.

120
Oleh al-Ghazali, konsep ini disebut dengan tazkiyat al-nafs
( membersihkan diri dengan ilmu dan amal ), yaitu mengibaratkan
jiwa manusia layaknya sebuah cermin yang dengan cermin itu akan
tercetak gambar yang ada dihadapannya. Amin

DAFTAR BACAAN

Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran al-Ghazali Tentang


Pendidikan, Madium : Jaya Star Nine, 2013
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2003
Ahmad Muhammad Al-Hufy, Akhlak Nabi Muhammad Saw.
Keluhuran dan Kemuliaannya, Bandung : Gema Risalah
Press, 1995
Anwar Harjono, Indonesia Kita, Pemikiran Berwawasan Iman-Islam,
Jakarta : Gema Insani Press, 1995
Al-Kalabadzi, Ajaran Kaum Sufi, Bandung : Mizan, 1995

121
A. Malik Ahmad, Tauhid Membina Pribadi Muslim dan Masyarakat,
Jakarta : Al-Hidayah, 1980
Bakri Dusar dan Gusnar Zain, Akhlak Dalam Berbagai Dimensi,
Padang : IAIN Press, 2009
Bey Arifin, Mengenal Tuhan, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1966
Ghazali, Imam, Minhaj al-‘Abidin, alih bahasa M. Adib Bisri, Meniti
Jalan Menuju Surga, Jakarta : Pustaka Amani, 1986
…….., Kitab al-Taubah, alih bahasa Abdul Rasyad Shiddiq, Rahasia
Tobat, Jakarta : Khatulistiwa Pres, 2012
…….., Fan al-Zikr wa al-Dua`, alih bahasa Achmad Sumarto,
Menjala Pahala Dengan zikir dan Doa, Jakarta : Pustaka
Amani, 1990
…….., Intisari Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1966
…….., Majmu’ah Rasa`il al-Imam al-Ghazali, alih bahasa Irwan
Kurniawan, Risalah Risalah al-Ghazali, Bandung, Pustaka
Al-Hidayah, 1997
Halimuddin, Kembali Kepada Akidah Islam, Jakarta : Rineka Cipta,
1988
HAMKA, Tasawuf , Perkembangn dan Pemurniannya, Jakarta :
Pustaka Panjimas, 1993
Jalaluddin et. al., Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan
Perkembangannya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999
Mahmoud Sjaltout, Islam Sebagai Aqidah dan Syari’ah, Jld. 1,
Jakarta : Bulan Bintang, 1972
…….., Islam Sebagai Aqidah dan Syari’ah, Jld. 2, Jakarta : Bulan
Bintang, 1972
Moh. Abdai Rathomi, Tiga Serangkai Sendi Agama, Tauhid, Fiqih,
Tasawuf, Bandung : PT. Alma’arif, 1968
Muhammad Ali Usman, Manausia Menurut Islam, Melalui Empat
Alam, Bandung : Mawar, 1970
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Remaja
Rosda Karya, 2006
Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Pelajaran Ibadat, Medan,
Islamiyah, 1950
Muhammad bin Abdul Wahab, Ma’a Aqidah al-Salaf Kitab al-
Tauhid al-Lazi Huwa Haqq Allah ‘Ala al-‘Abid, alih bahasa
Bey Arifin, Bersihkan Tauhid Anda Dari Noda Syirk,
Surabaya : Bina Ilmu, 1984

122
Murthada Mutahhari, Perspektif Al-Qur`an Tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan, 1986
Sayid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Bandung :
CV. Diponegoro, 1978
Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Nur at-Tauhid wa Zhulumat asy-
Syairk li Dhau’I al-Kitab wa as-Sunnah, alih bahasa Ahmad,
Murnikan Tauhid,Jauhkan Syirik, Jakarta : Pustaka at-Tazkia,
2011
Sulaiman Rasyid, Fiqhi Islam, Jakarta : Attahiriyah, 1976
S. Kusumopradoto, Pandangan Hidup Manusia Berdasarkan Ilmu,
Iman, Amal dan Takwa, Semarang : Aneka, 1979
Ulil Amri Syarif, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur`an, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Yusuf Qardhawy, Al-Taubat Ila Allah, alih bahasa Kathur Suhardi,
Taubat, Jakarta : CV. Pustaka al-Kautsar, 1998
…….., Jalan Menuju Ma’rifat Islam, Jakarta : Restu Ilahi, 2006
Zainal Efendi Hasibuan, Pendidikan Berbasis Sirah Nabawiyah,
Medan : Mitra, 2012

123
124