Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PROSES ENERGI II

HUMIDIFIKASI

Kelompok : 6 (Enam)
Nama Anggota Kelompok : 1. Aditiya Rahman (141734001)
2. Mohammad Anshar J.A (1417340
3. Putri Vicky H (1417340
4. Tyari Octhalya
Tanggal Praktikum : 22 Mei 2017
Tanggal/ Jam Pengumpulan :
Nama Instruktur Dosen : Yanti Supriyanti

JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI


PRODI D-4 KONSERVASI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan diharapkan mahasiswa dapat :
a. Memahami proses humidifikasi
b. Memahami proses humidifikasi pada cooling tower
c. Mengetahui parameter yang terlihat dalam humidifikasi
d. Mengamati perubahan parameter humidifikasi
e. Mengamati neraca massa dan energi pada proses humidifkasi

II. Landasan Teori


A. Humidifikasi
Humidifikasi adalah proses perpindahan / penguapan cairan (A) ke dalam campuran
[gas (B) dan uap cairan (A)] karena adanya kontak antara cairan (A) (yang temperaturnya
lebih tinggi) dengan campurannya. *Syarat : gas B tidak melarut ke dalam cairan A.

Terminologi pada Humidifikasi


• Dry bulb temperature
• Wet bulb temperature
• Dew point
• Enthalpy
• Humid volume
• Humid heat
• Absolute humidity
• Relative humidity
• Persen (absolute) humidity

Td = Dry Bulb Temperature Tw = Wet Bulb Temperature


Gambar II.B.1.a Tdb dan Twb
Nilai dari humidity juga dilambangkan dengan RH (Relative Humidity) dengan satuan
persen. Relative humidity disebut juga kelembaban spesifik, adalah sifat udara basah yang
umumnya mengacu pada massa udara kering (mda ) yang terkandung dalam udara. Jadi
defenisi secara lebih jelasnya adalah perbandingan antara massa uap air dan massa udara
kering yang terkandung dalam udara pada volume dan temperatur tertentu.
B. Menara Pendingin (Cooling Tower)
1. Pengertian dan Fungsi
Menara pendingin merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menurunkan suhu
aliran air dengan cara mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfir.
Fungsi Menara Pendingin adalah sebagai alat untuk mendinginkan air panas dari
kondensor dengan cara dikontakkan langsung dengan udara secara konveksi paksa
menggunakan fan atau kipas.
Pada umumnya sistem air pendingin utama terdiri dari komponen :
 Intake (untuk sistem air pendingin siklus terbuka)
 Saringan (screen)
 Pompa (cooling water pump – CWP)
 Katup dan Pemipaan (piping)
 Menara pendingin (cooling tower)
Berikut gambar Cooling tower dengan sistem kerjanya:
Gambar II.B.1.b Proses pendinginan air dengan cooling tower

2. Jenis-jenis Cooling Tower


Bagian ini menjelaskan dua jenis utama menara pendingin: menara pendingin jenis
natural Draft dan jenis mechanical draft.
a. menara pendingin jenis natural draft
Menara pendingin jenis natural draft atau hiperbola menggunakan perbedaan suhu
antara udara ambien dan udara yang lebih panas dibagian dalam menara. Begitu udara panas
mengalir ke atas melalui menara (sebab udara panas akan naik), udara segar yang dingin
disalurkan ke menara melalui saluran udara masuk di bagian bawah. Tidak diperlukan fan
dan disana hampir tidak ada sirkulasi udara panas yang dapat mempengaruhi kinerja.
Kontruksi beton banyak digunakan untuk dinding menara dengan ketinggian hingga
mencapai 200 m. Menara pendingin tersebutkebanyakan hanya digunakan untuk jumlah
panas yang besar sebab struktur beton yang besar cukup mahal. Terdapat dua jenis utama
menara natural draft:
- Menara aliran melintang: udara dialirkan melintasi air yang jatuh dan bahan pengisi berada
diluar menara.
- Menara dengan aliran yang berlawanan arah: udara dihisap melalui air yang jatuh dan oleh
karena itu bahan pengisi terletak dibagian dalam menara, walaupun desain tergantung pada
kondisi tempat yang spesifik.
Gambar II.B.2.a Aliran melintang Gambar II.B.2.b Aliran berlawanan arah
b. menara pendingin jenis draft mekanik
Menara dragt mekanik memiliki fan yang besar untuk mendorong atau mengalirkan
udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun diatas permukaan bahan pengisi, yang
membantu untuk meningkatkan waktu kontak antara air dan udara, hal ini membantu dalam
memaksimalkan perpindahan panas diantara keduanya. Laju pendinginan menara
draftmekanis tergantung pada banyak parameter seperti diameter fan dan kecepatan operasi,
bahan pengisi untuk tahanan sistim dll. Menara draftmekanik tersedia dalam range kapasitas
yang besar. Menara tersedia dalam bentuk rakitan pabrik atau didirikan dilapangan, sebagai
contoh menara beton hanya bisa dibuat dilapangan. Banyak menara telah dibangun dan dapat
digabungkan untuk mendapatkan kapasitas yang dikehendaki. Jadi, banyak menara
pendingin yang merupakan rakitan dari dua atau lebih menara pendingin individu atau “sel”.
Jumlah sel yang mereka miliki, misalnya suatu menara delapan sel, dinamakan sesuai dengan
jumlahselnya. Menara dengan jumlah sel banyak, dapat berupa garis lurus, segi empat, atau
bundar tergantung pada bentuk individu sel dan tempat saluran udara masuk ditempatkan
pada sisi atau dibawah sel.

 menara Pendingin Forced Draft


Prinsip kerjanya adalah udara dihembuskan ke menara oleh sebuah fan yang terletak
pada saluran udara masuk sehingga terjadi kontak langsung dengan air yang jatuh, berikut
gambarnya:
Gambar II.B.2.c Cooling Tower Forced Draft

 Cooling tower induced draft dengan aliran berlawanan


Prinsip kerjanya :
 Air masuk pada puncak dan melewati bahan pengisi (filler)
 Udara masuk dari salah satu sisi (menara aliran tunggal) atau pada sisi yang berlawanan
(menara aliran ganda)
 Fan mengalirkan udara melintasi bahan pengisi menuju saluran keluar pada puncak
menara
berikut gambarnya:

Gambar II.B.2.d Cooling Tower induced draft dengan aliran berlawanan

 Cooling Tower induced draft dengan aliran melintang


Prinsip kerjanya :
 Air panas masuk pada puncak menara, melalui bahan pengisi (filler)
 Udara masuk dari samping menara melewati filler, sehingga terjadi kontak langsung
dengan air (pendinginan) dan keluar menuju puncak
berikut gambarnya :

Gambar II.B.2.e Cooling Tower induced draft dengan aliran melintang

3. Langkah kerja Cooling Tower


Berikut adalah step by step kerja Cooling Tower:
 Langkah pertama adalah memompa air panas dari kondensor menuju menara cooling
tower melalui system pemipaan yang pada ujungnya memiliki banyak nozzle untuk tahap
spraying atau semburan.
 Air panas yang keluar dari nozzle (spray) secara langsung melakukan kontak dengan
udara sekitar yang bergerak secara paksa karena pengaruh.fan/blower yang terpasang
pada cooling tower.
 Kemudaian air yang sudah mengalami penurunan temperature ditampung dalam
bak/basin untuk kemudian dipompa kembali menuju kondensor yang berada di dalam
chiller.
 Pada cooling tower juga dipasang katup make up water yang dihubungkan ke sumber air
terdekat untuk menambah kapasitas air jika terjadi kehilangan air ketika proses
evaporative dan blowdown.
 Prestasi menara pendingin biasanya dinyatakan dalam “range” dan “approach”, dimana
range adalah penurunan suhu air yang melewati cooling tower dan approach adalah selisih
antara suhu udara wet-bulb dan suhu air yang keluar.
 Perpindahan kalor yang terjadi pada cooling tower berlangsung dari air ke udara tak
jenuh. Ada dua penyebab terjadinya perpindahan kalor yaitu perbedaan suhu dan
perbedaan tekanan parsial antara air dan udara. Suhu pengembunan yang rendah pada
cooling tower membuat sistem ini lebih hemat energi jika digunakan untuk system
refrigerasi pada skala besar seperti chiller.

C. Perpindahan Panas
Pada cooling tower terjadi perpindahan kalor dari air ke udara melalui kontak
langsung. Besarnya kalor yang di pindahkan adalah :
Q = ṁ x Cp x T atau
Q = ṁ x H
dengan : Q = nilai perpindahan kalor (kJ/s)
ṁ = laju alir massa (kg/s)
Cp = kapasitas panas zat (kJ/kg.C)
T = selisih suhu masuk dan keluar (C)
H = selisih nilai entalpi masuk dan keluar (kJ/kg)

III. Perlengkapan Percobaan


a. Petrol Engine
b. Cooling Tower
c. Clamp On
d. Anemometer
e. Humidi meter
f. meteran pengukur panjang
g. Thermocople
h. Timer

IV. Prosedure Percobaan


a. Persiapkan seluruh perlengkapan percobaan.
b. Jalankan petrol engine dengan meng-On kan MCB pada bagian belakang panel kontrol petrol
engine, kemudian run.
c. Tunggu beberapa saat hingga petrol engine siap digunakan (mesin panas, suhu air kondensor
untuk mendinginkan mesin menigkat).
d. Hidupkan fan pada cooling tower melalui panel kontrol cooling tower.
e. Catat debit dan suhu air keluar kondensor pada panel kontrol petrol engine.
f. Ukur kemudian catat data kelistrikan (P3, S3, VL-L, IL, dan cos ) pada panel kontrol cooling
tower menggunakan clamp on.
g. Ukur kemudian catat RH (Relative Humidity), kecepatan, dan temperature udara pada sisi
keluaran fan.
h. Ukur kemudian catat temperature udara dan air, RH udara pada sisi keluaran cooling tower.
i. Lakukan percobaan setiap 5 menit selama satu jam dan lengkapi tabel data pengukuran.
V. Data Pengamatan Humidifikasi
Menit Tegangan Arus Daya RH (%) Tdb (°C) T air (°C)
No. Cos φ
Ke - (V) (A) (kW) In Out In Out In Out
1 5 370 1.43 0.68 0.731 61 65 27.5 23.5 35 22.4
2 10 371 1.42 0.66 0.733 63 71 27.4 23.4 34 22.4
3 15 372 1.42 0.67 0.728 63 69 27.2 23.7 36 22.7
4 20 372 1.42 0.67 0.729 64 70 27.4 23.5 35 22.6
5 25 373 1.44 0.67 0.728 63 69 27.1 23.5 35 22.5
6 30 372 1.43 0.66 0.725 55.9 78.5 27.4 23.5 36 22.3
7 35 373 1.43 0.68 0.731 55.5 82.7 27.3 23.5 36 22.3
8 40 373 1.44 0.68 0.731 56.1 83.2 27.1 23.9 36 22.2
9 45 373 1.44 0.68 0.733 55.8 80.8 27.3 23.7 36 22.3
10 50 376 1.45 0.69 0.731 55.2 80.7 27.2 23.6 36 22.2
11 55 376 1.44 0.68 0.725 55.6 80.5 27.4 23.5 36 22.1
12 60 403 1.45 0.71 0.704 55.4 80.4 27 22.6 36 22.2
VI. Perhitungan
1. Neraca Massa

mw in
ma out

mevaporator mw
Udara
Udara Air

ma in mw out

𝑚𝑤 = 𝑉𝑒𝑓𝑓𝑒𝑐𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑥 𝜌𝑤
𝑚 𝑐𝑜𝑜𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑜𝑤𝑒𝑟 = 𝑚𝑎 𝑖𝑛 − 𝑚𝑎 𝑜𝑢𝑡 − 𝑄

2. Neraca Energi

ha out hw in

q mw
Udara
Udara Air

ha in hw out

∆ℎ𝑤 = ℎ𝑤 𝑖𝑛 − ℎ𝑤 𝑜𝑢𝑡 − 𝑞
3. Tabel Perhitungan Udara

Udara In

Tin db Tin dwb RH Entalpi Vsp r


No.
(°C) (°C) (%) (kj/kg) (kg/m3) 3
(m /kg)
1 27.5 21.741 61 63.526 0.869 1.150748
2 27.4 21.981 63 64.405 0.87 1.149425
3 27.2 21.805 63 63.76 0.869 1.150748
4 27.4 22.143 64 65.004 0.87 1.149425
5 27.1 21.717 63 63.439 0.869 1.150748
6 27.4 20.802 55.9 60.167 0.867 1.153403
7 27.3 20.649 55.5 59.633 0.867 1.153403
8 27.1 20.581 56.1 59.395 0.866 1.154734
9 27.3 20.7 55.8 59.81 0.867 1.153403
10 27.2 20.514 55.2 59.162 0.866 1.154734
11 27.4 20.751 55.6 59.988 0.867 1.153403
12 27 20.379 55.4 58.694 0.866 1.154734

Udara Out

Tout db Tout dwb RH Entalpi Vsp r


No.
(°C) (°C) (%) (kj/kg) (kg/m3) 3
(m /kg)
1 23.5 18.85 65 53.583 0.855 1.169591
2 23.4 19.615 71 56.1 0.856 1.168224
3 23.7 19.603 69 56.062 0.857 1.166861
4 23.5 19.565 70 55.933 0.856 1.168224
5 23.5 19.423 69 55.463 0.856 1.168224
6 23.5 20.739 78.5 59.945 0.858 1.165501
7 23.5 21.301 82.7 61.935 0.859 1.164144
8 23.9 21.747 83.2 63.548 0.861 1.16144
9 23.7 21.237 80.8 61.705 0.86 1.162791
10 23.6 21.129 80.7 61.321 0.859 1.164144
11 23.5 21.008 80.5 60.892 0.859 1.164144
12 22.6 20.148 80.4 57.902 0.855 1.169591
4. Air

Perhitungan data ke - 1
 Q = 100 ltr/mnt = 0.00016 m3/s
 T rata-rata air masuk dan keluar = 28.97C
 air saat 28.97C = 995.427 kg/m3
𝑘𝑔
 𝑚𝑎
̇ = 𝑄 𝑥 𝜌𝑎𝑖𝑟 = 0.00016 𝑥 995.427 = 0.15927 𝑠
𝑘𝐽
 ℎ1 = 146.68
𝑘𝑔
 ℎ2 = 94.006 𝑘𝐽/𝑘𝑔
 𝑄𝑤 = 𝑚̇𝑎 𝑥 ∆ℎ = 0.15927 𝑥 (94.006 − 146.68) = −8.3893𝑘𝑊 (melepaskan panas)

Tabel Perhitungan Air

Laju Alir r ma hA1 hA2


No. Q air (Kw)
Volumetrik (m3/s) (kg/m3) (kg/s) (kJ/kg) (kJ/kg)
1 0.00016 995.427 0.15927 146.68 94.006 -8.3893
2 0.00016 995.427 0.15927 142.5 94.006 -7.72356
3 0.00016 995.427 0.15927 150.86 95.263 -8.85484
4 0.00016 995.427 0.15927 146.68 94.844 -8.25583
5 0.00016 995.427 0.15927 146.68 94.425 -8.32257
6 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.587 -9.12177
7 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.587 -9.12177
8 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.168 -9.18851
9 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.587 -9.12177
10 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.168 -9.18851
11 0.00016 995.427 0.15927 150.86 92.749 -9.25524
12 0.00016 995.427 0.15927 150.86 93.168 -9.18851
5. Performansi Cooling Tower

Performansi cooling tower bisa ditinjau dari banyak parameter diantaranya yaitu T range dan T
approach. T range merupakan beda antara suhu air masuk dan keluar cooling tower. T range yang tinggi
menunjukkan bahwa cooling tower mampu menurunkan suhu air secara efektif, dan kinerja yang bagus.
Sedangkan T approach adalah beda antara suhu air dingin keluar cooling tower dan suhu wet bulb
ambien. Tapproach yang semakin rendah menunjukkan bahwa kinerja cooling tower semakin baik

Perhitungan data ke -1
𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒(℃) = 𝑇𝑤, 𝑖𝑛 − 𝑇𝑤, 𝑜𝑢𝑡 = 35 − 22.4 = 12.6℃

Tw (°C) Range
No.
In Out (°C)
1 35 22.4 12.6
2 34 22.4 11.6
3 36 22.7 13.3
4 35 22.6 12.4
5 35 22.5 12.5
6 36 22.3 13.7
7 36 22.3 13.7
8 36 22.2 13.8
9 36 22.3 13.7
10 36 22.2 13.8
11 36 22.1 13.9
12 36 22.2 13.8

𝐴𝑝𝑝𝑟𝑜𝑎𝑐ℎ(℃) = 𝑇𝑤, 𝑜𝑢𝑡 − 𝑇𝑎 𝑤𝑏 = 22.4 − 20.4 = 2℃

No. T air Out (°C) Ta wb (°C) T Approach (°C)


1 22.4 20.4 2
2 22.4 20.4 2
3 22.7 20.4 2.3
4 22.6 20.4 2.2
5 22.5 20.4 2.1
6 22.3 20.4 1.9
7 22.3 20.4 1.9
8 22.2 20.4 1.8
9 22.3 20.4 1.9
10 22.2 20.4 1.8
11 22.1 20.4 1.7
12 22.2 20.4 1.8

6. Efisiensi Cooling Tower

T air (°C)
𝑇𝑤 𝑖𝑛 − 𝑇𝑤 𝑜𝑢𝑡 No. h (%)
η= x 100% In Out
𝑇𝑤 𝑖𝑛 − 𝑇𝑎 𝑤𝑏 1 35 22.4 86.30137
35−22.4 2 34 22.4 85.29412
η= 35−20.4 x 100% = 86.301%
3 36 22.7 85.25641
4 35 22.6 84.93151
5 35 22.5 85.61644
6 36 22.3 87.82051
7 36 22.3 87.82051
8 36 22.2 88.46154
9 36 22.3 87.82051
10 36 22.2 88.46154
11 36 22.1 89.10256
12 36 22.2 88.46154
VII. Pembahasan
a. Profil

Grafik Arus Terhadap Waktu Cooling Tower


1.455
1.45 1.45
1.45
1.445
1.44 1.44 1.44 1.44
Arus (Ampere)

1.44
1.435
1.43 1.43 1.43
1.43
1.425
1.42 1.42 1.42
1.42
1.415
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa arus mengalami kenaikan dengan bertambahnya waktu operasi.
Grafik Daya Terhadap Waktu Cooling Tower
0.72
0.71
0.71

0.7
0.69
Daya (kW)

0.69
0.68 0.68 0.68 0.68 0.68
0.68
0.67 0.67 0.67
0.67
0.66 0.66
0.66

0.65
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa daya cooling tower cenderung mengalami kenaikan terhadap
bertambahnya waktu operasi.

Grafik Suhu Dry Bulb Udara Masuk


terhadap Waktu Cooling Tower
27.6 27.5
27.5 27.4 27.4 27.4 27.4
27.4 27.3 27.3
Tin db (°C)

27.3 27.2 27.2


27.2 27.1 27.1
27.1 27
27
26.9
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa suhu masuk pada dry bulb cenderung mengalami penurunan terhadap
bertambahnya waktu operasi.
Grafik Suhu Dry Bulb Udara Keluar
terhadap Waktu Cooling Tower
23.9
24
23.7 23.7
23.8 23.6
23.5 23.5 23.5 23.5 23.5 23.5
23.6 23.4
Tout db (°C)

23.4
23.2
23
22.8 22.6
22.6
22.4
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa suhu keluar dry bulb cenderung mengalami penurunan dengan
bertambahnya waktu operasi.

Grafik Relatif Humidity (RH) Udara


Masuk terhadap Waktu Cooling Tower
66 64
64 63 63 63

62 61
RH (%)

60
58 55.9 55.5 56.1 55.8
55.2 55.6 55.4
56
54
52
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa relative humidity udara masuk cooling tower cenderung mengalami
penurunan terhadap bertambahnya waktu operasi.
Grafik Relatif Humidity (RH) Udara
Keluar terhadap Waktu Cooling Tower
90 82.7 83.2 80.8 80.7 80.5 80.4
78.5
80 71 69 70 69
65
70
60
RH (%)

50
40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut terlihat bahwa relatif humidity udara keluar cenderung mengalami kenaikan terhadap
bertambahnya waktu operasi.

Grafik Range Cooling Tower Terhadap


Waktu
16 13.7 13.7 13.8 13.7 13.8 13.9 13.8
13.3
14 12.6 12.4 12.5
11.6
12
Range (°C)

10
8
6
4
2
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Menit ke-

Pada grafik tersebut memperlihatkan bahwa range cooling tower cenderung mengalami kenaikan dengan
bertambahnya waktu operasi.
Profil Daya dan Suhu Dry Bulb Udara Masuk
Cooling Tower
30 27.5 27.4 27.2 27.4 27.1 27.4 27.3 27.1 27.3 27.2 27.4 27

25
20
15
10
5 0.68 0.66 0.67 0.67 0.67 0.66 0.68 0.68 0.68 0.69 0.68 0.71
0
0 2 4 6 8 10 12 14

Daya (kW) Tin db (°C)


Linear (Daya (kW)) Linear (Tin db (°C))

Profil Daya dan Suhu Dry Bulb Udara


Keluar Cooling Tower
30
23.5 23.4 23.7 23.5 23.5 23.5 23.5 23.9 23.7 23.6 23.5 22.6
25
20
15
10
5 0.68 0.66 0.67 0.67 0.67 0.66 0.68 0.68 0.68 0.69 0.68 0.71
0
0 2 4 6 8 10 12 14

Daya (kW) Tout db (°C)


Linear (Daya (kW)) Linear (Tout db (°C))

b. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, perhitungan, dan analisis yang telah kami


lakukan dapat dikatakan bahwa efisiensi kinerja cooling tower dipengaruhi
oleh temperatur air masuk (inlet) dan temperatur ambient dry bulb. Laju
aliran panas di dalam cooling tower juga akan mempengaruhi nilai efisiensi
yang biasanya dipengaruhi oleh besarnya temperatur air masuk dan
pengaruh temperatur dry bulb walaupun pada temperature dry bulb pengaruh
terhadap laju panasnya sangat kecil sekali dibanding temperature air masuk.
Pada percobaan kami cooling tower lab atas POLBAN memiliki nilai
efisiensi rata-rata sebesar 87,11% dan dapat dikatakan sangat baik karena
pada umunya nilai standar cooling tower berkisar antara 70-75%.

Efisiensi Cooling Tower


Efisiensi Baseline Linear (Efisiensi )

90.00
89.10
89.00 88.46
88.46 88.46
87.82 87.82 87.82
88.00
87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11 87.11
oC

87.00 86.30
86.00 85.62
85.29 85.26
84.93
85.00

84.00
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (menit)

Performansi Cooling Tower


16 13.7 13.7 13.8 13.7 13.8 13.9 13.8
12.6 13.3
14 12.4 12.5
11.6
12
10
Axis Title

Range
8
Aprroach
6
4 2 2 2.3 2.2 2.1 1.9 1.9 1.8 1.9 1.8 1.8 Linear (Range )
1.7
2 Linear (Aprroach)
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Axis Title

VIII. Kesimpulan

 Perpindahan panas yang dapat terjadi dipengaruhi oleh jumlah air permukaan yang terkena udara.
 Kinerja cooling tower sangat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan sekitar.
 Kinerja cooling tower dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu : temperatur dry bulb, temperatur wet
bulb, temperatur air masukkan/inlet, laju aliran air yang masuk dan kinerja fan.
 Nilai Efisiensi Cooling Tower lab atas POLBAN memiliki nilai rata-rata sebesar 87,11% .
IX. Daftar Pustaka
Taufan, Muhammad.2010.”Rasio Kelembaban”.Desember.www.rider-system.net
[21:25, 26 Apr 2017]
Pramudono.2010.”Humidifikasi”.http://tekim.undip.ac.id/staf/bpramudono/files/2009/0
5/kul_humidifikasi_2.pdf [08:54, 26 Apr 2017]
Eka Rina.-.”Cooling Tower”.-.
https://www.academia.edu/8723958/Tugas_cooling_tower [05:30, 26 Apr 2017]

Anda mungkin juga menyukai