Anda di halaman 1dari 15

Tugas 1

Novel Manusia Setengah Salmon – Raditya Dika

Judul : Manusia Setengah Salmon

Penulis : Raditya Dika

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 264 halaman

Tahun Terbit : 2011

Setiap orang akan mengalami yang namanya perpindahan dalam hidupnya. Baik disadari atau
pun tidak, setiap orang akan mengalami sebuah proses yang namanya ‘pindah’ dalam
perjalanan hidupnya.

Manusia Setengah Salmon adalah buku ke enam dari penulis novel komedi nomor satu di
negeri ini, yaitu Raditya Dika. Di dalam buku terbarunya ini Raditya Dika menyuguhkan 18
bab yang menceritakan makna sebuah kata ‘pindah’. Pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah
status dan bahkan pindah hati.

Dengan gaya bahasa yang kocak,Raditya Dika mengajak para pembaca untuk mengintip
berbagai macam perpindahan dalam hidup ini yang mampu membuat pembaca tertawa
sekaligus merenungi perpindahan yang telah terjadi tanpa disadari.

“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya.


kita hidup di antaranya.”

Selain bercerita tentang makna ‘pindah’ di kehidupan yang dijalani, di dalam Manusia
Setengah Salmon, Raditya Dika juga menyelipkan pesan tentang kasih sayang ibu yang tidak
pernah luntur di dalam bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Di dalam bab ini, Raditya Dika
baru menyadari perhatian dan cinta yang diberikan oleh ibunya (yang menurut Raditya Dika
cukup mengganggu dan over protective).

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Namun walau begitu Raditya Dika tetap menyelipkan humor dalam buku ini,seperti
contoh dalam bab Pesan Moral Dari Sepiring Makanan, Bakar Saja Keteknya dan
Jomblonology akan benar-benar mengocok perut para pembaca. Selain tulisannya yang
penuh humor, Raditya Dika juga menyuguhkan tulisan beraliran galau. Seperti contoh dalam
tulisannya Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat, Penggalauan, Mencari Rumah Sempurna,
Manusia Setengah Salmon benar-benar membuat para pembaca tenggelam dalam kegalauan
hati yang sempurna.

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Hal. 29

“Mungkin itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang jadi terlalu sempit buat keluarga kami,
gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika suatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman,
saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya.
Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa
sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. Mirip seperti gue dan dia.
Dan dia, memutuskan untuk pindah.”

1. Amanah yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah...


a. Jangan terlalu larut dalam suatu masalah
b. Kita harus bisa menyelesaikan masalah dengan cepat
c. Bersifat mandiri sangat diperlukan bagi remaja
d. Mengambil keputusan tidak boleh tergesa-gesa
e. Masalah yang datang menjadikan kita lebih dewasa dalam bertindak
2. Perasaan yang sedang dialami tokoh ‘gue’ adalah...
A. Senang
B. Sedih
C. Marah
D. Bingung
E. Bahagia

Hal. 111

“Perjalanan menuju ke Belanda berjalan lancar. Gue tiba di airport tepat waktu, pesawatnya juga
enggak delay dan tiba sesuai dengan waktu yang ditentukan. Namun, ketika pesawat gue dari
Bandara Jakarta tiba di Bandara Schipol, Belanda, perkataan Nyokap sebelum pergi meresap di
kepala gue. Mampus, gue sama sekali gak bisa bahasa Belanda.”

1. Latar tempat pada kutipan novel tersebut adalah...


A. Jakarta
B. Bandara Soekarno-Hatta
C. Bandara Schipol
D. Di dalam pesawat
E. Rumah

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Hal. 133

“Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orang tua. Kemungkinan yang paling besar adalah
orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orang tua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian.
Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat gue untuk mendengar suara menyebalkan
mereka kembali.”

1. Watak tokoh ‘gue’ dalam kutipan tersebut adalah...


A. Baik hati
B. Dewasa
C. Iri Hati
D. Tekun
E. Penyabar

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Tugas 2

Veteran Tua

Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa. Karena baru saja datang,
lelaki itu akhirnya duduk di antrian paling belakang. Satu jam sudah ia duduk mengantri di tempat
itu. Beberapa saat kemudian, tibalah kakek itu di antrian paling depan. Ia mengeluarkan sebuah map
berwarna merah yang ia bungkus dengan kresek berwarna hitam dan menyerahkannya kepada si
petugas kelurahan. Si petugas pun langsung memeriksa satu per satu isi map merah milik kakek tadi.

“Maaf pak, tapi syarat-syarat bapak kurang lengkap. Bapak harus meminta surat keterangan tidak
mampu dari ketua RT dan RW, baru bapak bisa kembali lagi kesini.” Kata si petugas kelurahan sambil
menyerahkan kembali map merah milik kakek.

Lelaki tua itu tetap berusaha tersenyum, sudah lebih dari sejam ia duduk menunggu disana namun
ternyata semua itu sia-sia. Ia kembali menuju sepeda onthel tuanya yang diparkir diantara beberapa
mobil dan sepeda motor.

Kakek tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu dulunya adalah seorang pejuang
kemerdekaan, sudah banyak pengalaman pahit manis yang dialaminya. Ia telah kehilangan banyak
sekali teman-teman seperjuangannya, tapi kematian teman-temannya tersebut tidaklah sia-sia.
Mereka semua adalah para syuhada, mereka semua mati syahid, mati di jalan Illahi sebagai bunga
bangsa.

Lelaki tua itu tiba-tiba tersentak mendengar klakson bis yang membangunkannya dari lamunan masa
lalunya. Tak terasa ternyata ia telah berada di jalan raya, itu artinya ia harus lebih berhati-hati lagi.

Kakek itu sekarang tinggal bersama istrinya di kolong jembatan setelah rumah mereka digusur polisi
seminggu lalu. Tapi sayangnya sang istri sekarang sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit,
sementara si kakek sedang mengusahakan pengobatan gratis bagi istrinya tersebut.
Tiba-tiba angin berhembus semakin kencang, suara petir mulai terdengar dan awanpun berubah
menjadi hitam tanda akan turun hujan. Dan benar saja, hujan turun dengan derasnya. Si kakek
memutuskan untuk berteduh di emperan toko karena tak ingin map yang dibawanya tersebut
menjadi basah dan rusak.

Ternyata dari tadi lelaki tua itu berteduh di depan warung sate, pantas saja perutnya merasa
semakin lapar. Ia ingat bahwa terakhir ia makan sudah sejak tadi malam, sedangkan sekarang sudah
jam dua lebih. Sekilas ia menengok ke dalam warung sate tadi, di dalamnya banyak orang sedang
makan dengan lahapnya. Lelaki tua itu pun tersenyum, ia merasa bangga karena perjuangannya dulu
saat mengusir kompeni dari tanah airnya tidaklah sia-sia. Bila ia dan teman-teman seperjuangannya
dulu gagal mengusir penjajah, mungkin mereka tak akan bisa menikmati suasana seperti ini.

Kakek tua itu kemudian mengalihkan pandangannya ke televisi yang dari tadi di setel oleh seorang
pedagang kaset yang berjualan tak jauh darinya. Televisi itu sedang menyiarkan seorang berpakaian
jas hitam rapi dengan mengenakan dasi sedang berpidato di sebuah ruangan yang kelihatannya

Fiqi Decroli – XII IPA 3


sangat mewah. Si lelaki tua itu menebak bahwa orang yang sedang muncul di televisi tadi pastilah
seorang pejabat negerinya. Dalam pidatonya, orang itu mengatakan bahwa rakyat di negerinya
sudah kehilangan rasa nasionalisme, rakyat dinegerinya juga dikatakan sudah kehilangan rasa cinta
terhadap tanah airnya. Sejenak ia berpikir merenungi kata-kata pejabat itu. Dalam hati ia bertanya,
siapa sebenarnya yang tidak punya nasionalisme, rakyat negerinya atau para pejabat itu?

Apakah pejabat yang bernasionalisme adalah pejabat yang makan kekenyangan saat rakyatnya mati
kelaparan? Apakah pejabat yang nasionalis adalah para pejabat yang bebas liburan keliling dunia
saat rakyat di negerinya antri bbm hingga berhari-hari? Atau pejabat yang punya banyak mobil
mewah saat rakyatnya berdesakan di gerbong kereta api?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus memenuhi pikirannya, namun ia sadar ia harus pergi


sekarang. Istrinya di rumah sakit pasti sudah menunggunya dan hujan pun kini telah reda, lelaki tua
itu kembali mengayuh sepedanya.

Sesampainya di rumah sakit kekek tua itu memarkirkan sepedanya dan langsung bergegas menuju
kamar tempat istrinya dirawat. Entah kenapa kakek itu selalu merasa tak tenang setiap jauh dari
istrinya. Ia akan memastikan dulu bahwa istrinya tak membutuhkan bantuannya, baru ia akan
berangkat lagi untuk mengurus surat keringanan ke ketua RT dan RW.

Saat sampai di depan kamar tempat istrinya dirawat, ia mendapati bahwa kamar sudah dalam
keadaan kosong. Pintu kamarpun dalam keadaan terkunci sehingga tak bisa dibuka, padahal kakek
itu yakin ia tidak salah kamar. Dalam hati ia berpikir bahwa mungkin istrinya telah sembuh sehingga
dipindahkan ke tempat lain oleh dokter. Namun untuk memastikan, si kakek mencari seorang dokter
yang tadi pagi memeriksa keadaan istrinya. Si kakek pun menanyakan kepada dokter tadi dimana
istrinya sekarang berada. Dokter pun menatap wajah si kakek dengan mata berkaca-kaca.

“Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa kami tapi ternyata Allah berkehendak lain. Istri bapak sudah
meninggal sejam yang lalu.” Kata si dokter yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
Si kakek pun meneteskan air matanya, tubuhnya bergetar hebat, map merah yang dibawanya jatuh
dari pegangan tangannya. Pandangannya pun menjadi semakin kabur dan perlahan menjadi gelap
gulita. Si kakek pun sekarang sudah tak ingat apa-apa lagi.

Keesokan harinya dua buah gundukan tanah baru muncul di kuburan. Yang satu bertuliskan Darsono
bin Atmo, seorang veteran tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul. Sedangkan nisan yang
satunya lagi bertuliskan Pariyem binti Ngatijo, istri dari sang veteran pejuang. Meskipun sang
veteran miskin itu sekarang telah tiada. Namun di negerinya, negeri dimana kayu dan batu bisa jadi
tanaman, masih banyak orang yang bernasib sama bahkan lebih tragis darinya. Mereka semua, para
rakyat di negeri itu, banyak yang rela bekerja keras membanting tulang memeras darah hanya
sekedar untuk makan sekali sehari.

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Unsur Intrinsik

1. Tema : Perjuangan
“Kakek tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu dulunya adalah
seorang pejuang kemerdekaan, sudah banyak pengalaman pahit manis yang
dialaminya. Ia telah kehilangan banyak sekali teman-teman seperjuangannya, tapi
kematian teman-temannya tersebut tidaklah sia-sia. Mereka semua adalah para
syuhada, mereka semua mati syahid, mati di jalan Illahi sebagai bunga bangsa.”

2. Sudut Pandang : Orang ketiga serba tahu.


Penulis menggunakan kata ‘dia’ dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada tokoh.
3. Amanat : Tetaplah sabar dan tetap berjuang sesulit apapun keadaan.

“Lelaki tua itu tetap berusaha tersenyum, sudah lebih dari sejam ia duduk menunggu
disana namun ternyata semua itu sia-sia. Ia kembali menuju sepeda onthel tuanya
yang diparkir diantara beberapa mobil dan sepeda motor.”

“Sesampainya di rumah sakit kekek tua itu memarkirkan sepedanya dan langsung
bergegas menuju kamar tempat istrinya dirawat. Entah kenapa kakek itu selalu merasa
tak tenang setiap jauh dari istrinya. Ia akan memastikan dulu bahwa istrinya tak
membutuhkan bantuannya, baru ia akan berangkat lagi untuk mengurus surat
keringanan ke ketua RT dan RW.

4. Alur : Gabungan (maju dan mundur)

Maju : Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa.
Karena baru saja datang, lelaki itu akhirnya duduk di antrian paling belakang. Satu
jam sudah ia duduk mengantri di tempat itu. Beberapa saat kemudian, tibalah kakek
itu di antrian paling depan. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang ia
bungkus dengan kresek berwarna hitam dan menyerahkannya kepada si petugas
kelurahan. Si petugas pun langsung memeriksa satu per satu isi map merah milik
kakek tadi.

Mundur : Sekilas ia menengok ke dalam warung sate tadi, di dalamnya banyak orang
sedang makan dengan lahapnya. Lelaki tua itu pun tersenyum, ia merasa bangga
karena perjuangannya dulu saat mengusir kompeni dari tanah airnya tidaklah sia-sia.
Bila ia dan teman-teman seperjuangannya dulu gagal mengusir penjajah, mungkin
mereka tak akan bisa menikmati suasana seperti ini.

Fiqi Decroli – XII IPA 3


5. Latar :

Tempat: kantor balai desa, emperan toko, rumah sakit.

1. “Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa. Karena
baru saja datang, lelaki itu akhirnya duduk di antrian paling belakang. Satu jam sudah
ia duduk mengantri di tempat itu. Beberapa saat kemudian, tibalah kakek itu di antrian
paling depan. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang ia bungkus dengan
kresek berwarna hitam dan menyerahkannya kepada si petugas kelurahan. Si petugas
pun langsung memeriksa satu per satu isi map merah milik kakek tadi.”

2. “Ternyata dari tadi lelaki tua itu berteduh di depan warung sate, pantas saja perutnya
merasa semakin lapar. Ia ingat bahwa terakhir ia makan sudah sejak tadi malam,
sedangkan sekarang sudah jam dua lebih. Sekilas ia menengok ke dalam warung sate
tadi, di dalamnya banyak orang sedang makan dengan lahapnya.”

3. “Sesampainya di rumah sakit kekek tua itu memarkirkan sepedanya dan langsung
bergegas menuju kamar tempat istrinya dirawat”

Waktu: siang hari, jam dua siang.

“...Ia ingat bahwa terakhir ia makan sudah sejak tadi malam, sedangkan sekarang sudah jam
dua lebih.”

Suasana: sedih, mengharukan.

“Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa kami tapi ternyata Allah berkehendak lain. Istri
bapak sudah meninggal sejam yang lalu.” Kata si dokter yang tak bisa menyembunyikan rasa
sedihnya.

6. Penokohan :

Kakek Tua : pekerja keras, penyabar, ramah.

“Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa. Karena baru saja
datang, lelaki itu akhirnya duduk di antrian paling belakang. Satu jam sudah ia duduk
mengantri di tempat itu. Beberapa saat kemudian, tibalah kakek itu di antrian paling depan. Ia
mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang ia bungkus dengan kresek berwarna hitam
dan menyerahkannya kepada si petugas kelurahan.”

“Lelaki tua itu pun tersenyum, ia merasa bangga karena perjuangannya dulu saat mengusir
kompeni dari tanah airnya tidaklah sia-sia. Bila ia dan teman-teman seperjuangannya dulu
gagal mengusir penjajah, mungkin mereka tak akan bisa menikmati suasana seperti ini.”

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Istri : setia, penyabar.

“Kakek itu sekarang tinggal bersama istrinya di kolong jembatan setelah rumah mereka
digusur polisi seminggu lalu. Tapi sayangnya sang istri sekarang sedang sakit keras dan
dirawat di rumah sakit, sementara si kakek sedang mengusahakan pengobatan gratis bagi
istrinya tersebut.”

Dokter : Bijaksana

“Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa kami tapi ternyata Allah berkehendak lain. Istri bapak sudah
meninggal sejam yang lalu.” Kata si dokter yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.”

7. Majas

1. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi


tidak masuk akal.

“Mereka semua, para rakyat di negeri itu, banyak yang rela bekerja keras membanting tulang
memeras darah hanya sekedar untuk makan sekali sehari.”

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Tugas 3

Baik-baik mengirai padi


Takut mercik ke muka orang
Biar pandai menjaga diri
Takut nanti diejek orang

1. Pelajaran yang dapat diambil dari pantun tersebut adalah...


A. Berhati-hati dalam mengirai padi
B. Tidak boleh mengejek orang lain
C. Jangan sampai memercikkan padi
D. Pandai-pandai menjaga perilaku
E. Jadi orang bermental kuat

(1)Buah delima ditanam kakak


(2)....
(3)Kalau kamu pandai menebak
(4)....

2. Larik-larik yang tepat untuk melengkapi larik (2) dan (4) pantun tersebut adalah....
a. (2) Aku tunggu bersama kakak
(4) Di dekat bus dekat Rawa Badak
b. (2) Tumbuh rindang di depan rumah
(4) Tanaman apa buah di dalam tanah
c. (2) Aku senang kakak yang ramah
(4) belum disapa tetawa ngakak
d. (2) Aku senang bersama kakak
(4) Tentu kamu tidak ditolak

1.Kalau Anda ingin cerdas


2. Pergi ke pasar beli talas
3. Sebelum makan rebus dulu
4. Siang malam baca buku

3. Larik-larik kalimat acak tersebut akan menjadi pantun bila disusun dengan urutan ….
a. 1 – 4 – 3 – 2
b. 2 – 3 – 1 – 4
c. 3 – 2 – 1 – 4
d. 4 – 2 – 1 – 3
e. 2 – 1- 4- 3

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Tugas 4

Aku Ingin- Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana


dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah


dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak


dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif


dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Puisi Pilihan

TAMAN – Chairil Anwar, 1943

Taman punya kita berdua


tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Fiqi Decroli – XII IPA 3


Tugas 5

3 menit Belajar Pengetahuan Umum

Judul Seri : 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum


Penulis : Kim Seok-Ho
Ilustrator : Kim Seok Cheon
Pengalih Bahasa : Retno Dewi R.
Penerbit : BIP (PT. Bhuana Imu Populer)
Cetakan : 2007

Anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar dibanding orang dewasa.
Mereka kerap bertanya akan apa yang mereka lihat, amati dan rasakan. Tak jarang
keingintahuan itu membuat mereka penasaran dan selalu ingin memperoleh jawaban yang
memuaskan pada saat itu juga.

Sebagai orang tua, sangat bangga mendengarkan pertanyaan-pertanyaan kritis dari anak.
Akan tetapi, terkadang orang tua tidak dapat memberikan jawaban yang tepat, sehingga
membuat anak kurang puas terhadap jawaban yang diberikan.

Karena buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, buku yang digarap oleh penulis dan ilustrator
Korea (Kim Seok-Ho dan Kim Seok Cheon) ini dibuat dengan sangat menarik. Garis-garis
gambarnya bersih dan dipulas dengan warna-warni yang menarik.
Setiap judul habis dalam 2 halaman saja, ditulis dengan kalimat-kalimat yang singkat dan
mudah dimengerti oleh seorang anak yang telah bisa membaca hingga orang dewasa.

buku ini memiliki 3 tokoh utama yang menarik :

Fiqi Decroli – XII IPA 3


- Ding Dong, siluman kecil yang tinggal bersama Paman Penyihir. Penuh rasa ingin tahu,
suka hal-hal baru, juga sangat suka makan.

Paman Penyihir, Penyihir yang tinggal di desa siluman.

Pinggu, Penguin yang tinggal di Desa Penyihir.

Selain ketiga tokoh diatas ada juga beberapa tokoh tambahan sesuai dengan judul serinya.
Melalui tokoh-tokoh tersebut anak-anak akan diajak menemukan fakta-fakta menarik tentang
berbagai hal sesuai dengan judul bukunya. Karakter, tingkah laku, dan dialog tokoh-tokohnya
dibuat dengan lucu. Kelucuan dialog mereka dalam komik ini tanpa terasa telah memberikan
jawaban, membuat anak-anak mendapatkan pengetahuan dan juga membuat orang dewasa
menemukan kembali sifat anak-anaknya sambil menyelami ilmu pengetahuan.

Selain itu di setiap akhir per judulnya terdapat kolom khusus yang berisi penjelasan ilmiah

Fiqi Decroli – XII IPA 3


dari kisah komiknya. Namun sekali lagi penjelasan ilmiahnya pun dibuat dengan sederhana
dan mudah dimengerti baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Walau dikhususkan untuk anak-anak, namun tak dapat dipungkiri bagi orang dewasa pun
buku ini sangat menarik dan memberikan fakta-fakta di sekitar kita yang mengejutkan dan
mungkin selama ini tidak pernah kita ketahui.

Masih banyak hal-hal menarik lainnya misalnya, mengapa kalau kita capek bsia sariawan?,
mengapa dokter menyuntik di pantat, dll. Selain itu pada buku iklim, uji coba, fakta unik
terdapat aneka uji coba ilmiah yang bisa dipraktekkan di rumah seperti mengangkat es
dengan benang, memasukkan telur ke botol, menulis dokumen rahasia, dll.

Melihat keunikan dan kandungan pengetahuan yang beragam di buku ini, tak berlebihan
rasanya jika Buku ini menjadi buku yang dianjurkan dimiliki oleh setiap keluarga. Terlebih
bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Setidaknya buku ini membantu orang tua untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh anak seputar pengetahuan umum.
Karena kemudahan kalimat dan gambar-gambarnya yang menarik buku ini bisa diberikan
pada anak TK hingga SMP, bahkan orang dewasa pun rasanya masih pantas mengoleksi buku
ini.

Melalui buku ini, ilmu pengetahuan akan menjadi sangat menarik dan terasa bukan sebagai
sesuatu yang rumit. Buku ini mengungkap semua yang berhubungan dengan keseharian kita
dimana kita sebenarnya selalu bersentuhan dan belajar dari pengalaman mengenai pentingnya
ilmu pengetahuan. Dan buku ini mengajak pembacanya untuk merasakan berapa menariknya
ilmu pengetahuan.

Fiqi Decroli – XII IPA 3