Anda di halaman 1dari 23

PT.

KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

I. PENDAHULUAN

I.1 Umum

Analisis hidrologi adalah tahap yang penting dalam perencanaan jembatan,


yakni untuk menentukan laju aliran, larian air atau debit yang harus
ditampung oleh alur jembatan tersebut.

Metode analisis dan perhitungan yang dipilih sangat tergantung dari data
yang tersedia, dan dalam analisis digunakan data empiris, yaitu berdasarkan
parameter data curah hujan dan karakteristik daerah aliran sungai. Ketelitian
dalam pengumpulan data primer dan sekunder sangat menentukan hasil
analisis hidrologi, mengingat dalam analisis tersebut sifatnya hanya
peramalan terhadap kondisi alam.

Parameter – parameter hidrologi yang diperlukan dalam Perencanaan Teknis


Jembatan dapat dikemukakan sebagai berikut :

 Curah Hujan Rencana

 Debit Banjir rencana

 Tinggi Banjir Maksimum

 Tinggi Air Pasang

 Kedalaman Gerusan (Scouring).

I.2 Lokasi Proyek

a. Jembatan Sungai Kaloling terletak di Kabupaten Bantaeng (Km. 133+200


Makassar) atau pada ruas No. 019 Bantaeng – Bulukumba.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 1


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

b. Jembatan Sungai Panoang terletak di Kabupaten Bantaeng (Km 135+900


Makassar) atau pada Ruas No. 019 Bantaeng Bulukumba.

c. Jembatan Sungai Garaccing terletak di kabupaten Bulukumba (Km


199+850 Makassar) atau pada ruas No. 020 Bulukumba – Tondong.

d. Jembatan S. Lonrong terletak di Kabupaten Bone (Km 133+900 Makassar)


atau pada ruas No. 026 Ujung Lamuru Watampone.

e. Jembatan S. Palampang terletak di Kabupaten Pangkep (Km 052+000


Makassar) atau pada ruas 011 Pekkae – Pangkajene.

f. Jembatan S. Melleperue terletak di Kabupaten Barru (Km 104+200


Makassar) atau pada ruas 009. Parepare – Barru.

g. Jembatan S. Bangkae terletak di Kabupaten Sidrap (Km 175+700


Makassar) atau pada ruas 008. Bangkae – Parepare.

h. Jembatan S. Bolong terletak di Kabupaten Pinrang (Km 216+950


Makassar) atau pada ruas 049 Pinrang – Polewali.

i. Jembatan S. Taosa terletak di Kabupaten mamuju (Km 409+120


Makassar) atau pada ruas 052.3 Batas Cabang Dinas Majene – Mamuju.

I.3 Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan analisis hidrologi dan drainase yang dilakukan meliputi :

 Pengumpulan peta-peta, data banjir dan data curah hujan

 Pengamatan dan pengumpulan data lapangan,

 Perhitungan curah hujan harian rata-rata rencana,

 Perhitungan debit banjir rencana dan maximum dalam alur sungai


jembatan untuk periode ulang tertentu,

 Perhitungan kedalaman aliran(h) dan kecepatan aliran(V).

 Perhitungan Gerusan.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 2


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

DAFTAR JEMBATAN

Paket – 3 Perencaaan Teknis Jembatan di Sulawesi Selatan

Nomor Bentang
No. Nama Ruas Nama Jembatan
Ruas (m1)

1. 019 N Bantaeng – Bulukumba S. Kaloling 35,00

2. 019 N Bantaeng – Bulukumba S. Panoang 20,00

3. 020 N Bulukumba – Tondong S. Garaccing 45,00

4. 026 N Ujung Lamuru Watampone S. Lonrong 24,00

5. 011 N Pekkae – Pangkajene K. S. Palampang 18,00

6. 009 N Parepare – Barru S. Melleperue 16,00

7. 008 N Parepare – Bangkae S. Bangkae 20,00

8. 049 N Pinrang – Polewali S. Bolong 30,00

9. 052.3 N BCD. Majene – Mamuju S. Taosa 50,00

Total Panjang 258,00

Gambar 1.1 PETA LOKASI KEGIATAN

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 3


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

J. S. Taosa
50,00 m, Km. 409.12

J. S. Bolong
30,00 m, Km. 216.95

J. S. Bangkae
20,00 m, Km. 175.71

J. S. Malleperrue
16,00 m, Km. 104.20 J. S. Lonrong
24,00 m, Km. 133.91

J. S. Palampang J. S. Garraccing
18,00 m, Km. 052.00 45,00 m, Km. 199.85

J. S. Kaloling
35,00 m, Km. 113.20

J. S. Panoang
20,00 m, Km. 115.90

II. SURVAI DATA BANJIR DAN CURAH HUJAN


Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 4
SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

II.1 Data Debit Banjir (Pengamatan Lapangan)

Guna pembuatan rencana teknis sebuah jembatan, maka diperlukan suatu


debit banjir rencana yang realistis. Untuk maksud tersebut, maka angka-angka
hasil perhitungan hidrologi perlu diuji dengan menggunakan data-data banjir
besar dari pencatatan-pencatatan dan pengamatan-pengamatan setempat.

Data-data debit banjir besar yang pernah terjadi dapat diperoleh dari tanda-
tanda adanya genangan tertinggi yang pernah terjadi, yang terdapat antara
lain pada bangunan-bangunan disekitar jembatan.

Beberapa contoh konkrit dalam usaha mendapatkan data-data banjir yang


pernah terjadi sebelumnya adalah :

2.1.1. Memperhatikan Kondisi Meteorologi

Apabila data-data hidrologi dan meteorologi daerah pengaliran


disekitar lokasi jembatan sangat terbatas, sedangkan data-data daerah
pengaliran sungai sekitarnya cukup banyak maka dengan
membandingkan kondisi-kondisi geologi dan tofografi yang ada akan
dapat memperkirakan tingkat kesamaan debit banjir yang mungkin
terjadi pada daerah-daerah pengaliran tersebut.

2.1.2. Daerah Pengaliran Sungai Yang Tidak Mempunyai Station


Pencatat.

Biasanya pada sungai-sungai kecil atau anak-anak sungai jarang sekali


dilakukan pengukuran dan pencatatan-pencatatan data, baik untuk
memperoleh data meteorologi maupun untuk memperoleh data
hidrologi.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 5


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Dalam kondisi yang demikian, maka satu-satunya cara untuk


menetapkan debit banjir rencana yang melewati suatu alur jembatan
biasanya dengan menggunakan tanda-tanda banjir yang pernah
terjadi.

Dengan didapatkannya elevasi tertinggi dari permukaan air sungai


pada saat terjadinya banjir yang paling besar, maka dengan
perhitungan ulang dengan metode hidrolik akan dihitung debit banjir
rencana yang diinginkan (sebagai perbandingan).

Titik-titik pengamatan yang paling ideal adalah didaerah upstream dan


downstream sekitar lokasi rencana jembatan.

Karena perhitungan hidrolik pada tempat-tempat tersebut dapat


dilakukan dengan menggunakan rumus yang sederhana dan ketelitian
hasilnya cukup memadai.

2.1.3. Kalibrasi Data

Bilamana ada data yang didapat/terambil kurang dapat dipercaya


(meragukan), maka dapat dilakukan kalibrasi terhadap data tersebut.

Kebenaran data-data tersebut harus terlebih dahulu dianalisis, baik


dengan cara membandingkan dengan data yang lain ataupun dengan
mengadakan analisis-analisis perhitungan empiris (kalau memang
rumusnya ada) dan jika perlu dengan peninjauan setempat.

Jadi data yang telah terkumpul harus dikalibrasi dengan seksama


sebelum data-data tersebut dinyatakan gugur karena kadang-kadang
terjadi hal-hal yang bahkan sebaliknya, dimana data-data yang
kelihatannya kurang logis ternyata lebih baik dibandingkan dengan
data-data lainnya.

Hal tersebut mungkin disebabkan keistimewaan-keistimewaan kondisi


setempat yang hanya dengan sepintas lalu saja tidak sempat terambil
pada saat survai lapangan dilakukan.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 6


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

II.2 Survai Data Curah Hujan


Pada perhitungan debit rencana sebuah jembatan, data-data curah hujan ini
akan diperlukan untuk analisis karakteristik debit banjir, antara lain mengenai
kapasitas debit banjir, lamanya banjir, waktu terjadinya banjir dan periode
ulangnya.

Data curah hujan tersebut biasanya merupakan data-data hujan jam-jaman,


data hujan harian, distribusi curah hujan pada saat terjadinya hujan yang lebat
dan lain-lain.

Data ini dapat dikumpulkan dari hasil pencatatan stasiun penakar hujan
ataupun stasiun meteorologi yang biasanya dipasang baik untuk kebutuhun-
kebutuhan yang bersifat umum, maupun yang bersifat khusus dan sementara.
Semua data-data dari daerah pengaliran maupun daerah sekitarnya yang
pernah dicatat supaya dicari dan dikumpulkan, yang kelak akan berguna untuk
analisis yang lebih mendalam.

Dalam menetepkan daerah survai curah hujan yang diperlukan supaya


didasarkan pada pertimbangan topografi dan pada radius pengamatan dari
titik tempat kedudukan jembatan.

Guna penentuan daerah survai kiranya beberapa karakteristik dari pada curah
hujan perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut :

a. Pada daerah dataran rendah/pantai yang datar, maka curah hujan


biasanya menunjukan tendensi penurunan secara proposional sesuai
dengan semakin jauhnya suatu tempat dengan garis pantai.

b. Makin tinggi elevasi suatu daerah maka biasanya angka curah hujannya
semakin tinggi.

Data-data curah hujan yang pernah dicatat oleh masing-masing alat penakar
hujan supaya dikumpulkan semuanya. Semakin panjang periode pencatatan
yang berhasil dikumpulkan berarti semakin baik, karena dengan data-data

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 7


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

yang panjang periode pencatatannya, berarti akan mendapatkan hasil


perhitungan probobilitas yang memadai.

II.3 Curah Hujan Harian Maksimum


Untuk perhitungan curah hujan harian rencana digunakan metode statistik
dalam periode ulang tahun tertentu.

Ada beberapa metode statistik yang dapat dipakai untuk memperkirakan curah
hujan maksimum rencana. Metode yang akan digunakan adalah metode
“gumbel” dan metode “Log Person” (untuk n data lebih dari 10) serta metode
“Hasperz” (untuk n data kurang dari 10).

2.3.1. Metode Gumbel

Metode gumbel menggunakan teori harga ekstrim untuk menunjukan


bahwa dalam deret harga-harga ekstrim X1, X2, X3 dst, dimana
sampel-sampelnya sama besarnya, dan X merupakan variabel distribusi
exponensial, maka probabilitas komulatifnya P dalam nama sembarang
harga diantara n buah harga Xn akan lebih kecil dari harga X tertentu.

Rumus-rumus regresi gumbel dapat ditulis :

XT = X + sK

Dengan : Xt = Curah Hujan Harian dengan periode ulang Tr

X = harga rata-rata sampel

S = pengumpulan baku sampel

Faktor frekwensi K untuk harga-harga ekstrim gumbel ditulis :

Yt  Yn
K
Sn

Dengan : Yt = reduced vaiate

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 8


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Yn = reduced mean yang tergantung dari besarnya sampel

Sn = reduced standard deviasi

Persamaan tersebut diatas dapat ditulis kembali :

Y y  Yn
Xt  x S
Sn

sn Yn 1
Jika  a dan X  S  b maka X t  b  Yt
S S n a

Dengan : X = Curah hujan harian dengan periode ulang Tr

2.3.2. Metode Log Pearson Type III

Langkah-langkah perhitungan analisis frekuensi dengan Metode Log


Pearson Type III adalah dengan cara mentransper data – data ke
harga logaritme. Secara garis besar metode perhitungan adalah
sebagai berikut :

i. Urutkan data dari kecil ke besar dan ubah data (X 1, X2, ……, Xn)
dalam bentuk logaritma (log X1, log X2, ……, log Xn).
ii. Hitung nilai rerata, dengan persaman :
1 in
log x   (log Xi)
n i1
iii. Hitung standar deviasi, dengan persamaan :
in

2
 (log Xi  log xi) 2

S1  i 1

n 1
iv. Hitung koefisien kepencengan, dengan persamaan :
i n

 (log Xi  LogX i) 3

Cs  i 1
2
(n  1)(n  2)( S1 )
v. Hitung logaritma X dengan persamaan :

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 9


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

log X  log x  G.S 1

vi. Hitung anti log X


X = anti log X
dengan :
log X = logaritma curah hujan
log X = logaritma rerata dari curah hujan
log Xi = logaritma curah hujan ke 1
G = Konstanta Log Pearsen Type III, berdasarkan
koefisien kemencengan (Cs), dapat dilihat pada
tabel 3.4 dan tabel 3.5.
S1 = Simpangan baku
Cs = Koefisien kemencengan
n = jumlah data

2.3.3. Metode Hasperz

Perhitungan dengan metode hasperz dapat dilakukan dengan


persamaan berikut ini :

o Hitung curah hujan harian pertama = R1 = M1

o Hitung curah hujan harian kedua = R2 = M2

o Jumlah pengamatan atau data =n

o Curah hujan maksimum rata-rata R’

o Hitung S = ½[{(R1 – R’)/U} + {(R2 – R’)/u}]

o Hitung Rt= R’ + (SxU)

o Dimana R = Curah hujan, U = Standar variabel (tabel)

Hasil perhitungan curah hujan harian maksimum untuk beberapa


stasiun hujan yang akan digunakan dalam perencanaan, dapat dilihat
pada lampiran.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 10


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

2.3.4. Uji Kesesuaian Distribusi

Pemeriksaan uji kesesuaian distribusi ini dimaksudkan untuk :


- Apakah data curah hujan tersebut benar-benar sesuai dengan distribusi
teoritis yang dipakai (metode Log Pearson Type III dan Metode Gumbell)
atau tidak
- Apakah hipotesa tersebut dapat digunakan atau tidak
Dalam studi ini digunakan uji kesesuaian distribusi sebagai berikut :

Uji Chi – Kuadrat (X2 – Test)

Uji kesesuaian Chi-Kuadrat merupakan suatu ukuran mengenai perbedaan


yang terdapat antara frekuensi yang diamati dan diharapkan. Uji ini
digunakan untuk menguji simpangan secara tegak lurus, yang ditentukan
dengan rumus :

X 2
hit 
 (E f  Of )2
Of

dengan :
X2hit = harga uji statistik
Ef = Frekuensi yang diharapkan
Of = Frekuensi pengamatan
Perhitungan Ef
- Untuk metode Gumbel
S
Ef  X   Y  Yn
Sn
Dengan :
Ef = Niali Variant yang diharapkan terjadi
X = Nilai rata – rata hitung variant

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 11


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Y = Nilai reduksi variant dari variabel yang diharapkan terjadi


pada periode ulang tertentu yang dapat dihitung dengan
rumus :
 T  1
Y   ln  ln ………………..(untuk T < 20 )
 T 
Y = ln T ………………………………(Untuk T > 20)
Yn = Nilai rata – rata dari reduksi variant (mean of reduced
variate) nilainya tergantung dari jumlah data (n)
Sn = deviasi standar dari reduksi variant (Standard deviation of
the reduced variate), nilainya tergantung dari jumlah data
(n)

- Untuk Log – Pearson Tipe III


Ef = X + k . s
Nilai K diperoleh dari tabel Nilai K distribusi Pearson tipe III dan
Log – Pearson tipe III.

Memplot data hujan dengan persamaan Weibull


N 1 m
T ( Xm)  atau P( Xm) 
m N 1

Adapun langkah-langkah pengujian adalah sebagai berikut :


1. Urutkan data pengamatan (dari besar kekecil atau sebaliknya),
2. Jumlahkan data pengamatan sebesar Of,
3. hitung nilai :

E  2
E f  Of  2

f  Of dan
Of

E f  Of  2

4. Jumlahkan seluruh nilai untuk menentukan nilai chi-kuadrat


Of

hitung,
5. Tentukan derajat kebebasan (DK), dengan menggunakan persamaan :

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 12


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

DK = n – (m+1)
dimana :
DK = harga derajat bebas
n = jumlah data
m = jumlah parameter untuk X2hit (m=2 untuk distribusi normal dan
binomial, dan nilai R =1 untuk distribusi Poison)

Implementasi hasilnya adalah :


1. Apabila Peluang lebih dari 5 %, maka persamaan distribusi teoritis yang
digunakan dapat diterima,
2. Apabila peluang lebih kecil dari 1 %, maka persamaan distribusi teoritis
yang digunakan tidak dapat diterima,
3. apabila peluang berada diantara 1 – 5 % adalah tidak mungkin
mengambil keputusan, misal perlu penambahan data.

II.4 Periode Ulang Banjir Rencana (Tr).

Periode ulang banjir adalah interval waktu rata-rata pada mana kejadian banjir
akan sama atau terlampaui. Kebalikan periode ulang adalah kemungkinan
terlampauinya banjir dalam tiap tahun, yaitu periode ulang banjir 100 tahun
adalah banjir yang akan terjadi sekali dalam 100 tahun dan akan mempunyai
kemungkinan sebesar 0,01 kali.
Pilihan periode ulang yang digunakan dalam memilih banjir rencana adalah
umumnya berdasarkan pengkajian biaya – keuntungan, dengan
mempertimbangkan tingkat pelayanan lalulintas yang diperlukan dan
kerusakan yang dapat disebabkan oleh banjir rencana yang dilampaui, yaitu
biaya keterlambatan lalulintas dan biaya perbaikan kerusakan akibat banjir
diimbangi terhadap biaya pengadaan standar yang lebih tinggi.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 13


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Periode ulang banjir rencana yang digunakan untuk perencanaan aur sungai
jembatan adalah 50 tahun atau kemungkinan terjadi dalam 1 tahun adalah
0,02 kali.

III. PERHITUNGAN DEBIT RENCANA DAN GERUSAN

Perkiraan banjir rencana dapat didasarkan pada rekaman aliran sungai atau curah
hujan. Penggunaan teknik curah hujan adalah kedua terbaik terhadap analisis
langsung dari data aliran sungai. Dengan memperhatikan lebih banyak sungai-
sungai di Indonesia dimana data curah hujan lebih mudah diperoleh dibandingkan
data aliran sungai.

Dengan mengabaikan bentuk fisik dari daerah aliran, debit akan bervariasi dengan
curah hujan, tumbuh-tumbuhan, jenis tanah dsb. Dengan demikian perlu bahwa
cara perkiraan debit diperiksa atau diuji untuk memperbaiki hasil tersebut.

Cara yang digunakan untuk perkiraan aliran banjir rencana dapat dibagi dalam dua
kelompok sebagai berikut :

III.1 Cara Berdasarkan Aliran Sungai

Untuk daerah aliran sungai yang terukur dengan pencatatan jangka waktu
yang cukup panjang (umumnya paling sedikit 15 tahun), data dapat dianalisis
secara statistik dan dibuat perkiraan aliran rencana dengan periode ulang
tertentu. Analisis frekwensi riwayat banjir adalah cara paling dipercaya untuk
perkiraan besaran dan frekwensi banjir yang akan datang.

Bila terdapat sejumlah daerah aliran dalam daerah dengan pencatatan cukup
panjang, data dapat dianalisis dan aliran rencana dihubungkan dengan
karakteristik daerah aliran (sebagai contoh luas, panjang sungai dsb).

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 14


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Hubungan tersebut kemudian dapat digunakan untuk perkiraan aliran rencana


dalam daerah aliran tidak terukur; pendekatan tersebut dikenal sebagai acra
frekwensi banjir regional.

III.2 Cara Berdasarkan Curah Hujan

Untuk daerah aliran terukur yang mempunyai pencatatan kurang panjang


untuk melakukan analisis frekwensi banjir, data aliran tersedia dan data
pluviogrf dapat digunakan untuk memperoleh parameter dari daerah aliran
(yaitu unit hidrograf atau model aliran air).

Hujan lebat rencana kemudian dapat digunakan pada model yang dihasilkan
untuk memberikan banjir rencana yang diperlukan.

Bila terdapat daerah aliran dalam daerah dengan cukup data untuk
memperoleh parameter model, data-data tersebut dapat dihubungkan dengan
karakteristik daerah aliran untuk memberikan unit hidrograf atau prosedur
larian air untuk dearah tersebut. Hubungan tersebut dapat digunakan untuk
memperoleh model dari daerah aliran yang tidak diukur dimana curah hujan
rencana dapat digunakan untuk memperoleh aliran rencana.

Dalam daerah dimana aliran sungai dan data curah hujan yang berhubungan
adalah sangat terbatas, hubungan antara parameter model dan karakteristik
daerah aliran yang diperoleh diluar daerah yang ditinjau dapat diuji
dengandata yang tersedia dan yang paling dekat menjadi model daerah aliran
yang digunakan.

Perhitungan debit rencana dapat diperoleh dari hasil-hasil perhitungan curah


hujan dengan memasukan beberapa faktor kondisi daerah pengaliran, yaitu
jangka waktu sejak terkumpulnya air hujan tersebut sampai pada saat
terjadinya debit besar pada tempat kedudukan rencana jembatan. Besarnya

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 15


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

jangka waktu tersebut tergantung dari kondisi geologi dan topografi daerah
pengaliran.

Ada beberapa metode perhitungan debit banjir, salah satu metode yang umum
digunakan adalah metode “Rasional” seperti dijelaskan dibawah ini :

Q = (f x r x A)/ 3,60

Q = debit banjir rencana (m3/dt)

A = Luas daerah pengaliran (km2)

R = intensitaas curah hujan rata-rata


L
dalam jangka waktu T, sejak
permulaan jatuhnya hujan
sampai dengan waktu mulai
timbulnya banjir (flood arrival
tima)(mm/jam)

Lokasi Jembatan F = Koefisien pengaliran

T= interval kedatangan banjir.

Untuk mendapat harga debit (Q), maka terlebih dahulu supaya didapatkan
harga-harga komponen yang terdapat dalam persamaan tersebut, yaitu

3.2.1. Koefisien pengaliran

Koefisien pengaliran (f) adalah suatu variabel yang didasarkan pada


kondisi daerah aliran sungai dan karakteristik hujan yang jatuh
didaerah tersebut. Beberapa petunjuk untuk mendapatkan angka
tersebut dapat dilihat pada tebel berikut ini :

Tabel 3.2.1

Daerah pegunungan berlereng terjal 0,75 – 0,90


Daerah perbukitan 0,70 – 0,80
Daerah bergelombang dan semak-semak 0,50 – 0,75

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 16


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Daerah datar yang digarap 0,45 – 0,60


Daerah persawahan irigasi 0,70 – 0,80
Sungai didaerah pegunungan 0,75 – 0,85
Sungai kecil didaerah daratan 0,45 – 0,75
Sungai yang besar dengan daerah pengaliran
yang lebih dari seperduanya terdiri dari daratan 0,50 – 0,75

3.2.2. Interval Kedatangan Banjir

Harga interval kedatangan banjir (T) dapat dihitung dari persamaan


berikut ini :

T = L/W

L = panjang bagian sungai dari sumber air sampai


kedudukan rencana jembatan(Km)

W = kecepatan perambatan banjir (m/det), (km/jam)

W = 20 x(H/L)0,60 (m/det)

= 72 x (H/L)0,60 (km/jam)

H = perbedaan elevasi.

Guna meyakinkan ketelitian harga T dengan hasil perhitungan yang


mendekat keadaan yang sesungguhnya, maka dilakukan pengujian-
pengujian yang antara lain dengan membandingkan hasil-hasil dari
perhitungan dengan rumus-rumus lainnya. Komponen T merupakan
komponen yang paling penting dalam perhitungan dan ketelitian
hasilnya akan sangat menentukan ketelitian hasil Q. andaikata jangka
waktu yang diperlukan sejak hujan turun diatas permukaan tanah
sampai terkumpulnya air kedalam alur sungai dinyatakan dengan a,
kecepatan perambatan baanjir setelah terkumpulnya air dalam alur
sungai dinyatakan dengan W dan panjang sungai dinyatakan dengan L,
maka interval kedatangan banjir (T) dapat dihitung dengan rumus

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 17


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

sebagai berikut : T = a + (L/W); akan tetapi oleh karena harga a


biasanya sangat kecil, maka komponen a tersebut biasanya diabaikan
dengan harga T dihitung dengan persamaan diatas.

Untuk memudahkan perhitungan, maka biasanya dibuatkan diagram


perhitungan seperti pada gambar berikut yang didasarkan pada
persamaan diatas.

Perhitungan debit (Q) dengan rumus diatas dapat dilakukan dengan


urutan sebagai berikut :

i. Dari peta topografi dasar (biasanya dengan skala 1 : 25.000)


dapat dihitung panjang sungai (L) yang diinginkan; supaya
diperhatikan bahwa sebagai titik permulaan pengukuran untuk
harga (L), dimulai dari tempat keluarnya mata air sungai ddan
bukan tempat tertinggi pada daerah pengaliran sungai tersebut.

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 18


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

ii. Untuk mendapatkan harga W, disamping dengan rumus-rumus


empiris, sebaiknya dilakukan pula pengukuran-pengukuran
setempat, karena harga W hanya tergantung pada kemiringan
sungai, tetapi masih dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya
(seperti : lebar sungai, kedalaman sungai, konfigurasi sungai,
vegetasi yang terdapat dalam sungai, jenis sedimen yang
bergerak diddasar sungai maupun yang melayang dalam aliran
sungai, dan sebagainya).

3.2.3. Intansitaas CurahHujan Rata-rata Dalam Interval Waktu(T).

Untuk memperoleh harga intensitaas curah hujan rata-rata dalam


waktu T (R), baik yang dinyatakan dalam curah hujan harian, jam-
jaman, dan lain-lain dapat digunakan rumus- rumus berikut :

i. Apabila perhitungan dilakukan berdasarkan curah hujan harian,


maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

r = {(R4/24) x (24/T)}n

Dengan :

r = intensitas curah hujan rata-rata dalam interval


waktu T (mm/jam). \

R4 = curah hujan harian (mm)

T = intensitas kedatangan banjir

n = biasanya diambil 2/3 sampai ½ .

ii. Apabila perhitungan dilakukan berdasarkan data-data curah hujan


maksimum dalam interval waktu tertentu (T jam), maka rumus
yang digunakan adalah :

r = {(R4/24) x (24/T)}n

Dengan :

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 19


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

i = intensitas curah hujan maksimum (mm/jam).

Rt = intensitas curah hujan rata-rata dalam interval


waktu T (mm/jam)

III.3 Pengaruh arus balik (Back Water)


Pengaruh arus balik dapat dikarenakan oleh adanya hambatan pada aliran,
seperti adanya pilar pada bangunan jembatan. Tinggi pengaruh arus balik
dapat dihitung dengan rumus “Ghantey” seperti berikut ini :

Z = (V2/2g)x{(Aa/Ca)-1}
Dimana :
Z = Tinggi air balik (m)
Va = kecepatan aliran
A = Luas pengaruh hidrolik pada pilar
C = koefisien
C = 0,78 + (0,021 x S0,05)
S = lebar efektif penampang sungai

III.4 Perhitungan Gerusan (Scouring)


Perhitungan gerusan atau scouring adalah penting dalam menentukan
kedalam pilar dan abutmen jembatan. Gerusan dapat terjadi pada dasar dan
tebing sungai pada daerah sekitaar pilar dan abutmen jembatan. Gerusan
dapat terjadi bilamana :

 Kecepatan aliran sungai lebih besar dari kecepatan ijin material


dasar/tebing sungai,
 Akibat terbelahnya aliran disekitar pilar jembatan.

Untuk memperkirakan besarnya scouring, ada beberapa metode yang umum


digunakan, diantaranya :

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 20


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

a. Metode – I ,

Metode I menggunakan persamaan dasar sebagai berikut :


Dst = Ds1 + Ds2 (m)
Dengan :
Ds1 : General scour, yaitu gerusan yang terjadi akibaat tergerusnya
material dasar sungai :
Ds1 = (Yr x Vo x K) / (A/W)1/2 (m)

DS2 : Local scour, yaitu gerusan yang terjadi disekitar pilar/abutmen akibat
terjadinya pusaran aliran (turbulensi).

Ds2 = (0,80 x (Vo x b)1/2 (m)

Total scour Dst = Ds1 + Ds2 (m)

Dengan :

Vo = (Q/A)x{Yo/(A/W)}2/3 x C
K = {(W/4,83) x Q1/2}1/2
Yr = kenaikan tinggi muka
Yr = kenaikan tinggi muka air dari keadaan normal sampai keadaan banjir
dibagian upstream jembatan.
Vo = kecepatan rata-rata aliran upstream pada daerah pengerusan
(m/det.)
K = faktor perbandingan lebar opening terhadap lacey regime,
A = luas opening yang ditempati, diukur normal terhadap aliran dengan
asumsi bahwa profil tidak tergerus (m2)
W = Lebar Opening awal
B = lebar efektif proyeksi pilar jembatan
Yo = kedalaman air banjir maksimum segaris dengan bagian upstream
dari daerah pengerusan (m)
Q = debit banjir rencana
C = konstanta aliran (aliran umum C = 1, dan aliran memusat C=2),

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 21


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

b. Metode Lacey Regime,

Perhitungan gerusan/scouring dengan metode Lacey regime terbagi atau 2


bagian yaitu :

 Aluvial stream (lebar regime < lebar jembatan), dimana kedalam gerusan

normal dapat diprediksi dengan persamaan :


1/3
Q
Ds  0,472 x  
F

Dengan :

Ds = kedalaman normal scouring dibawah muka air banjir

Q = debit rencana (m3/det)

F = faktor lacey regime (f = m)

M = diameter rata-rata material sungai.

 Alluvialstream (lebar regime > lebar jembatan), dimana kedalaman

gerusan normal dapat diprediksi dengan persamaan :

0 , 61
W 
d1  d x  
 L 

Dengan : W = Lebar regime

L = Lebar aliran dibawah jembatan

d = normal scour, untuk L = W

d1 = normal scour yang terjadi

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 22


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005
PT. KHARISMA KARYA
Engineering Consultant
Jl. A. P. Pettarani Blok GA. 9/3 Telp./Fax. 0411-458643 Makassar

Pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan Laporan Penyelidikan dan Analisis Hidrologi/Drainase# 23


SKS P2JJ Propinsi Sulawesi Selatan – Paket 3 T.A. 2005

Anda mungkin juga menyukai