Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Cystotomi merupakan suatu tindakan operasi pada Visika urinaria yang merupakan

tindakan terakhir pada indikasi tertntu. Hal ini dilakukan jika terdapat sistik kalkuli,

mengeksisi tumor (neoplasma) pada dinding Visika urinaria dan juga untuk mengeksplorasi

rupture Visika urinaria yang merupakan abnormalitas yang paling sering terjadi pada hewan

kecil yang dapat berakibat bocornya urin kedalam rongga abdominal (fossum, 2002)

Menurut Diamon. D. (2004) Cystotomi adalah tindakan membuka Visika urinaria

dengan tindakan operasi secara umum untuk memperbaiki kondisi seekor hewan dan untuk

menetapkan sebuah dianogsa

Visika urinaria merupakan bagian dari alat perkencingan (Tractus uropitika) yang

berfungsi sebagai tempat penampungan urin sebelum diekresikan dari tubuh. Visika urinaria

terdiri dari servik, corpus dan vartex. Servik terletak pada bagian posterior, corpus berbentuk

bulat dan agak datar dorsoventral. Kecuali jika mengalami distensi. Corpus ini mempunyai

permukaan dorsal (Fasies dorsalis) dan ventral (Facies dorsalis). Permukaan dorsal lebih

konveks daripada ventral, terutama pada bagian posterior tempat bermuaranya ureter. Kedua

permukaan ini terdiri dari lapisan serosa, nuscularis dan mukosa. Vertex merupakan bagian

ujung anterior yang bentuknya agak bulat (Sisson, 1956)

Permukaan dorsal pada hewan jantan bersentuhan dengan rectum, lipat kelamin,

ujung Ductus deferent. Visika seminalis dan prostate, sedangkan pada hewan betina

bersentuhan dengan corpus uteri dan vagina (Sisson,1956).


Pada prinsipnya Cystotomi merupakan operasi membuka Visika urinaria. Indikasi

yang paling sering dilakukan cistetotomi adalah pengeluaran sistik kalkuli atau tumor yang

terdapat pada dinding vesika urinaria (Hickman dan Walker, 1980). Disampin itu Cystotomi

juga dapat dilakukan dengan maksud untuk mengeksplorasi Visika urinaria yang merupakan

abnormalitas yang palisng sering terjadi pada hewan kecil (Fossum,2002).

Operasi Cystotomi dilakukan dengan hewan rebah dorsal setelah di anastesi. Pada

daerah yang akan diincisi yaitu daerah lateral dari penis jika hewannya jantan dan pada

daerah midline jika hewan betina yang dibatasi dengan drapping untuk mencegah

kontaminasi. Diincisi dan preparier daerah kulit, facia muskulus dan peritoneum sepanjang 3-

5 cm. bila terjadi pendarahan maka ligasi dengan arteri klem. Visika urinaria dikeluarkan,

bila masih terisi urine maka harus dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara memijitnya atau

disedot dengan menggunakan spuit (Glier,1975). Visika urinaria diincisi pada daerah yang

telah ditentukan, sepertiga atau setengah dari panjang visika urinary, kemudian diperiksa

terhadap sistik kalkuli, lesion atau neoplasma pada dinding Visika urinaria.

Menurut Diamond (2007) pelaksanaan operasi Cystotomi harus melalui prosedur

anastesi umum untuk itu pertimbangan pemeriksaan darah harus dipertimbangkan untuk

menghindari kesulitan-kesulitan dalam perlakuan dan pertimbangan dalam pemilihan anastesi

Pada opersi ini dilakukan anastesi umum dengan menggunakan ketamin secara intra

muskuler dan menggunkan atropine sulfat 0.004 mg/ Kg BB secara subkutan sebagai

premikasi.
METODE

Persiapan Pasien

Pasien adalah seekor anjing jantan loka (Canin domestika) bewarna krem, umur ± 5

bulan dengan berat ± 10 kg. anjing tersebut berasal dari desa rukoh, Darussalam

Persiapan Ruangan, Alat, Bahan Serta Obat-Obatan

Sebelum operasi, ruangan harus sudah dibersihkan, peralatan yang akan digunakan

harus sudah disterilkan. Bahan-bahan dan obat-obatan harus sudah tersedia. Alat yang

digunkan adalah meja bedah, pisau cukur, scalpel, arteri klem, gunting ujung tumpul, gunting

ujung runcing, gunting bengkok, spuit, forcep, needle dan holder, pinset anatomis, pinset

serugis, daraping dan teteskop.

Bahan yang digunkan adalah alcohol 70%, iodium tincture 3%, aquades, NaCL

fisiologis, penicillin Kristal, penicillin oil, vitamin B complex, ketamin, xilazin, atropine

sulfat, plain cat gut, benang nilon dan tampon steril.

Persiapan Operator dan Cooperator

Sebelum melakukan operasi operator dan cooperator mencuci tangan dari ujung jari

sampai kesiku denga air sabun dan dibilas sampai bersih. Tangan dikeringkan dengan handuk

bersih kemudian disinfeksi dengan alcohol 70%. Setelah itu operator dan cooperator

menggunkan sarung tangan dan pakaian khusus. Keadaan asepsis tersebut dipertahankan

hingga operasi selesai dilakukan.


Pelaksanaan Operasi

Premedikasi dan Anastesi

Premedikasi merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum pemberian anastesi

yang dapat menginduksi jalannya anastesi. Premedikasi dilakukan beberapa saat sebelum

dilakukan anastesi dilakukan dengan tujuan, mengurangi rasa takut, amnesia, induksi anastesi

lancar dan mudah, memperkecil resiko buruk dari anastesi, hipersalivasi,

bradikardia/takikardia dan muntah selama anastesi (Ibrahim, 2000)

Premedikasi yang digunakan adalah atropine sulfat dengan dosis 0,04 mg/KgBB

secara subkutan. 10 (sepuluh) menit kemudian dilanjutkan dengan pemberian ketamin dengan

dosis 10-40mg/KgBB, xilazin dengan dosis 2-3mg/KgBB secara intra muscular. Setelah

pemberian anastesi. Frekwensi nafas dan jantung diperiksa setiap 5 menit sekali sampai

pembedahan selesai (Tilley dan Smith,2002)

Teknik operasi

Pasien yang telah dianastesi diletakkan pada posisi dorsal recumbency dengan

keempat kakinya diikat pada meja operasi. Daerah yang diincisi yairu daerah lateral dari

penis yang dibatasi dengan drapping untuk mencegah kontaminasi, dibersihkan dengan

alcohol 70% dan kemudian dioles dengan iodium tincture 3%. Dincisi dan preparier daerah

kulit, facia, musculus dan peritoneum sepanjang 3-5cm. bela terjadi pendarahan maka ligasi

dengan arteri klem atau diikat dengan benang nilon. Visika urinaria dikeluarkan, bila masih

terisi urine makan harus dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara meminjitnya atau disedot
dengan memakai spuit, kemudian dibuat jahitan bantu dengan benang nilon pada ujung

cranial dan caudal dari bidang yang akan diincisi (Glier,1975).

Visika urinaria diincisi pada daerah yang telah ditentukan, sepertiga atau setengah

dari panjang Visika urinaria, kemudian diperiksa terhadap sistik kalkuli, lesion-lesio atau

neoplasma pada dinding Visika urinaria. penutupan luka sayat pada vesika urinaria dengan

pola simple interrupted dan diuji kebocorannya. Selanjutnya vesika urianria dimasukkan

kembali ke rongga abdomen.

Peritoneum ditutup dengan menggunakan benang catton dengan pola simple

interrupted, muskulus dijahit dengan dengan pola continous menggunakan benang cat gut,

fascia dijahit dengan metode continous menggunkan benang cat gut dan kulit dijahit dengan

pola simple interrupted menggunkan benang nilon (Anonimus, 2004).

Perawatan operasi

Setelah kulit dijahit, maka daerah sekitar incise dibersihkan dan diolesi dengan

iodium tincture 3% kedalam luka disemprotkan penicillin oil. Selama 1 (satu) minggu

berturut-turut pasien diberikan penicillin cristal dengan dosis 4.000-10.000 IU/KgBB dan

injeksi vitamin B complex secara intra muscular. Jahitan dibuka setelah luka menunjukkan

kesembuhan dan kemudian diolesi iodium tincture 3% pada bekas luka.


DISKUSI

Urolithiasis atau penyakit kencing batu merupakan suatu istilah yang digunakan

untuk menyatakan terdapatnya endapan abnormalitas yang berupa batu dalam system

perkencingan. Penyakit ini merupakan penyakit yang penting karena akan menyebabkan

obtruksi uretra yang diikuti dengan tertahannya kemih, sehingga terjadi distensi kantong

kemih, serta usaha untuk kencing berulang kali kadang-kadang dapat mengakibatkan

robeknya uretra atau kantong kemih (Anonymous 2007)

ETIOLOGI

Penyebab penyakit kencing batu bersifat kompleks dan berbagai factor saling

berpengaruh dalam proses pembentukan batu kencing. Pembentukan batu dap[at terjadi bila

bahan yang terlarut dalam kantong kemih mengalami endapan. Susunan kimia batu kencing

sebagian terantung pada keasaman kemih. Pada derajat keasaman tinggi (pH 8,5-9,5),

kalsium fosfat dan kalsium karbonat cenderung untuk mengendap. Sedangkan pada derajat

keasaman kemih yang agak asam batu-batu yang terbentuk adalah asam silikat.
Menurud Diamond (2004) batu-batu didalam Visika urinaria terbentuk adakalanya

merupakan efek sekunder dari penyakit sistemik atau tidak seimbangnya gizi. Kalkuli dapat

berupa Kristal-kristal yang mengendap dan menjadi padat yang dapat menyumbat dan

obstruksi pada saluran kencing.

Menurut Hembing (2004) batu ginjal dapat berbentuk seperti batu Kristal yang dapat

menghambat saluran ginjal, kemih atau kantong kemih. Jenis batu yang berada dalam ginjal

dan kantong kemih sangat beragam, diantaranya yaitu batu kalsium oksalat, dan batu kalsium

karbonat yang mengandung kapur, batu asam urat dan sistin yang mengandung kapur, namun

pada umumnya terdiri atas campuran berbagai jenis komponen tersebut, batu yang terbentuk

bervariasi ukuranya dan dapat bersifat tunggal ataupun ganda.

Batu-batu kencing mungkin susunannya berbeda untuk hewan-hewan dalam satu

spesies. Pada umumnya bahan-bahan pembentukan batu terdapat didalam kantong kemih

(Visika urinaria). Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :

1. Kadar silica dalam makanan

Pembentukan batu karena terjadinya polimerasi asam silikat.

2. Mineral dalam makanan

Hubungan antara Ca dan P dalam ransum dengan pembentukan batu telah diteliti.

Untuk hewan yang dikandangkan dan diberi ransum mineral tinggi dalam air minum

atau pada ransumnya, memungkinkan penga,bilan mineral yang tinggi. Meskipun

jumlah fosfor yang dimasukkan merupakan factor yang penting, akan tetapi

pemberian Ca dan K pada hewan yang diberi P tinggi akan menurunkan kejadian
penyakit kencing batu. Hewan-hewan yang menderita kencing batu ternyata memiliki

kadar P yang tinggi dari normal didalam darah dan kantong kemihnya.

3. Pengambilan air

Apabila jumlah air yang diminum kurang, kejadian penyakit kencing batu akan

meningkat. Pada pedet yang dibatasi pengambilan airnya sampai kemihnya mencapai

kejenuhan asam silikat, kejadian penyakit kencing batu pada hewan tersebut

meningkat kira-kira lima kali dari pada pedet lain yang diberi minum tambahan

untuk melarutkan asam silikat dalam kemihnya.

4. Pengaruh estrogen dalam makanan

Pengaruh pemberian stilbesterol secar implantasi mengakibatkan naiknya kasus

kencing batu. Obstruksi saluran kencing diakibatkan oleh sumbatan mukoprotein,

sumbatan tidak lansung mungkin juga terjadinya hipertropi kelenjar kelamin

tambahan.

5. Defisiensi vitamin A

Makanan yang mangandung vitamin A dalam jumlah rendah menyebabkan kencing

batu. Hal tersebut diduga karena hipovitaminosis A yang dapat terkelupasnya selaput

lender yang berlebihan dan terjadinya nidus (sarang) tempat kalkuli terbentuk.

6. Derajat keasaman (pH) kemih

Kelarutan beberapa bahan yang didapat dalam kemih dipengaruhi oleh seasaman

kemih. Dalam suasana alkalis pembentukan campuran kalkuli fosfat dan karbonat
lebih mudah terjadi. Penambahan senyawa-senyawa seperti ammonium klorida dan

asam fosfat kedalam ransum akan menaikan derajat keasaman kemih hingga

berakibat menurunnya kejadian penyakit kencing batu

7. Kastrasi

Kastrasi yang dilakukan terlalu awal dapat menyebabkan kencing batu. Penundaan

kastrasi sampai hewan berumur 8 bulan dapat mengurangi kejadian penyakit kencing

batu. Hai ini berkaitan dengan penyempitan lumen uretra sebagai akibat kastrasi.

Gejala-gejala

Tempat obstruksi kemih yang banyak terdapat di uretra. Gejala-gejala

meliputi rasa sakit didaerah uretra, hewan tidak tenang, ekor diluruskan dan kesulitan

pada saat urinasi. Pada kejadian obstruksi sebagian kemih bercampur darah dan akan

terlihat menetes dari uretra. Apabila sumbatan uretra berlanjut, gejala-gejala kolik

dimana hewan memukul perutnya, menghentakkan kaki belakangnya serta tidur dan

bangun berulang kali.pengeluaran urin dilakukan dengan susah payah, penderita akan

mengerang dan merejang serta mengertakkan giginya.

Pemerisaan laboratorium sering tidak dilakukan meskipun dapat membantu

menentukan dianogsa kencing batu pada stadium awal. Apabila kalkuli terdapat

dalam ginjal atau kantong kemih, biasanya sel darah merah, sel epitel dan Kristal-

kristal yang lebih besar dari normal dapat ditemukan dalam kemih, sebelum

terjadinya perforasi uretra atau robeknya kantong kemih, kadar nitrogen urea didalam
darah akan meningkat, setelah robeknya kantong kemih kadar nitrogen tersebut dapat

melampaui 100mg

Pemeriksaan Patologi Anatomi

Robeknya kantong kemih dapat ditemukan dalam bedah bangkai terhadap

sapi yang mati karena urolithiasis.. apabila kantong kemih robek, peritonitis yang

ringan akan ditemukan dan didalam perut terdapat endapan timbunan kemih yang

mengakibatkan distensi perut. Dalam seksi ditemukan batu kemih.

Dianogsa

Dianogsa penyakit kencing batu relatifa gak mudah, dan biasanya didasarkan

atas pemeriksaan fisik, riwayat dan gejala-gejala yang ditemukan. Rasa sakit

didaerah uretra bersifat khas pada obstruksi uretra. Didalam praktek diketafui ada

beberapa cara yang berguna dalam menentukan dianogsa penyakit kencing batu.

Dengan palpasi terhadap uretra dapt diketahui adanya obstruksi dan penggunaan

kateterisasi uretra dapat menentukan tempat yang mengalami obstruksi. Pemeriksaan

pH urin, uji sedimentasi denga ditemukannya urolit berupa endapan

phospatase/kalsium oksalat

Anonymous 2007, mengatakan pemeriksaan urine sangat menolong dalam

membuat suatu hasil dianogsa, pH air seni, kandungan mineral, jumlah bakteri dan

kandungan Kristal-kristal akan member informasi yang sangat beharga. Radiografi

adalah salah satu metode yang tepat untuk menentukan suatu batu bersifat regular

atau tidak, ini dapat ditentukan dengan cara menyuntikkan udara, zat warna atau
kombinasi keduanya kedalam kantung kemih untuk menentukan bentuk batu yang

dicurigai. Pemeriksaan dengan ultra sound adalah tindakan yang paling tepat untuk

mendianogsa penyaki ini karena dengan menggunakan metode ini sangat membantu

dalam mengatahui apakah ada kerusakan anatomis pada kantung kemih

Therapy

Kencing batu dapat diperlakukan secara medis jika batu berasal dari suatu

komposisi mineral, penentuan komposisi batu dapat dilakukan dengan pemeriksaan

urine sehingga makanan penyebabnya dapat diketahui dan ini akan membantu dalam

perawatan kedepan nantinya (Anonymous 2007).

Pengobatan terhadap penyakit kencing batu tergantung pada tingkatan

penyakit. Pada stadium awal yang hanya berupa sumbatan sebagian dapa dilakukan

pengobatan dengan obat-obatan antispasmodika dan tranguilezer untuk merelaksasi

otot polos, misalnya aminopromazine, asam-asetihidrosamid, inhibitor uretra.

Untuk penyakit kencing batu yang tidak dapat disembuhkan dengan obat

relaksasi otot maka tindakan operasi harus dilakukan.


KESIMPULAN

Operasi Cystotomi merupakan tindakan terapi terakhir untuk membebaskan pasien dari

kondisi sistik kalkuli, tumor atau neoplasma dan untuk mengeksplorasi vesika urinaria dari

kondisi pustule atau gangrene.

Kesimpulan yang diperoleh dari operasi Cystotomi ini adalah :

1. Pemeriksan kondisi fisik dan laboratorium pada pasien sebelum operasi adalah

sangat penting untuk menghindari terjadinya komplikasi selama operasi berlansung

dan untuk proses penyembuhan luka setelah operasi dilakukan.

2. Pemberian obat premedikai atropin sulfat dan anastesi umum yitu ketamin dan

Xilazin mempunyai kerja yang baik dan dapat menimbulkan suasana aman bagi

pasien

3. Pemberian antibiotic Penicilin dapat mencegah terjadi infeksi sekunder dan

mempercepat penyembuhan luka pasca operasi.

4. Perlakuan yang bersih dan steril pada saat operasi serta kondisi lingkungan dimana

pasien diopname merupakan syarat mutlak untuk menghindari infeksi pasca bedah
5. Temperamen dan kondisi tubuh hewan merupakan faktor yang menentukan lamanya

penyembuhan pasca operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2004. Penuntun Pratikum Ilmu Beda Khusus dan Radiologi, FKH Universitas
Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh.

Anonymous. 2007. Bladder Stones. http://www.moorevet.com/Canine/Urolithiasi

Diamond. D. (2007). Cystotomi in Dog. http://www.petplace.com/dogs/cystotomy-in-


dogs/page1.aspx#
Fossum. T.W, 2002. Small Animal Surgery, ed 2nd. Mosby, st. Lovis London, Philadhelpia
Sydney, Toronto.

Glier, J and R.G. Walker 1973. An Atlas of Veterinary Surgeri. Oliver & boyd, Edinburgh.

Hembing. W. 2004. Mencegah dan Mengatasi Batu Ginjal dengan Cara alami.
http://cyberman.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?
x=Hembing&y=cybermed%7CO%7CO%7C8%7C64
Sisson, S. and J. P. grossman. 1961. Spanchologi In the Anatomie of domestika animals, 4 th.
W.B. souders, London.

Tilley. L. P. and Smith. F. W. K. 2000. The 5-minute Veterinary Consult, Canine and Feline.
Lipincoot Williams and Wilkins.