Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu pemikiran dan upaya untuk

menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani. Dengan

keselamatan dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan

pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun yang

dilakukan oleh pekerja tersebut, resiko yang mungkin muncul dapat dihindari.

Pekerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja yang bersangkutan dapat melakukan

pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah, sehingga tidak mudah capek.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga

kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan menerapkan

teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja

akan mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi.

Disamping itu keselamatan dan kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan

kenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Jadi, unsur yang ada dalam

kesehatan dan keselamatan kerja tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental,

emosional dan psikologi.

Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur

sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan. Begitu
banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja

seperti faktor manusia, lingkungan dan psikologis. Masih banyak perusahaan yang

tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja. Begitu banyak berita

kecelakaan kerja yang dapat kita saksikan. Dalam makalah ini kemudian akan dibahas

mengenai permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja serta bagaimana

mewujudkannya dalam keadaan yang nyata.

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang harus dipahami dalam hal keselamatan dan kesehatan

kerja yaitu apa saja tujuan dan pentingnya keselamatan kerja,gangguan apa yang bisa

terjadi dalam keselamatan dan kesehatan kerja,serta mengetahui strategi apa saja

yang digunakan untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan dan pertimbangan

hukum apa yang menaungi keselamatan dan kesehatan kerja.

C. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas dari

mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia 2 serta untuk mengetahui lebih lanjut

tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

Diharapkan manfaat dari pembahasan ini adalah dapat menambah pengetahuan kita

tentang syarat dan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga kita

mengerjakan suatu pekerjaan di bengkel atau industri sudah tahu keselamatan dan

kesehatan kerja.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

 Menurut Mangkunegara, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu

pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik

jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada

umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

 Menurut Suma’mur (1981: 2), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha

untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan

yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

 Menurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan

yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang

mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan,

dan kondisi pekerja

 Mathis dan Jackson, menyatakan bahwa keselamatan adalah merujuk pada

perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cidera yang

terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik,

mental dan stabilitas emosi secara umum.


 Menurut Ridley, John (1983), mengartikan kesehatan dan keselamatan kerja

adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi

pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar

pabrik atau tempat kerja tersebut.

 Jackson, menjelaskan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja menunjukkan

kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang

diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.

 Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan kerja adalah ilmu

pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan

terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. (Lalu Husni,

2003: 138).

Setelah melihat berbagai pengertian di atas, pada intinya dapat ditarik kesimpulan

bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang

sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan

lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Keselamatan dan kesehatan

kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau kondisi

tidak selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan.

Keselamatan dan kesehatan kerja menuju pada kondisi kondisi fisiologis-fisikal dan

psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh

perusahaan. Jika sebuah perusahaan melaksanakan tindakan-tindakan keselamatan

dan kesehatan yang efektif, maka lebih sedkit pekerja yang menderita cedera atau

penyakit jangkapendek maupun jangka panjang sebagai akibat dari pekerjaan mereka
diperusahaan tersebut.

Kondisi fisiologis-fiskal meliputih penyajit penyakit-penyakit kecelakaan kerja seperti

kehilangan nyawa atau anggota badan, cidera yang diakibatkan gerakan yang

berulang, sakit punggung, sindrom karpaltunnel, penyakit-penyakit kardiovaskular,

berbagai jenis kanker seperti kanker paru-paru dan leukemia, emphysema,serta

arthritis. Kondisi- kondisi lain yang diketahui sebagai akibat dari tidak sehatnya

lingkungan pekerjaan meliputih penyakit paru-paru putih, penyakit paru-paru coklat,

penyakit paru-paru hitam, kemandulan, kerusakan sistem syaraf pusat dan bronghitis

kronis.

Kondisi-kondisi fisikologis diakibatkan oleh stress pekerjaan dan kehidupan kerja yang

berkualitas rendah. Hal ini meliputih ketidak puasan, sikap apatis, penarikan diri,

penonjolan diri, pandangan sempit, menjadi pelupah, kebingungan terhadap peran

dan kewajiban, tidak mempercayai orang lain, bimbang dalam mengambil keputusan,

kurang perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan kecenderungan untuk

mudah putus asah terhadap hal-hal yang remeh.

B. Tujuan Keselamatan dan kesehatan Kerja

a. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja

1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

2. Mencegah timbulnya penyakit akibat suatu pekerjaan.


3. Mencegah/ mengurangi kematian.

4. Mencegah/mengurangi cacat tetap.

5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat-

alat kerja, mesin-mesin, instalasi dan lain sebagainya.

6. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin

kehidupan produktifnya.

7. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumbersumber produksi

lainnya.

8. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat

menimbulkan kegembiraan semangat kerja.

9. Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi industri serta

pembangunan

C. Gangguan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja

Baik aspek fisik maupun sosio-fisikologis lingkungan pekerjaan membawa dampak

kepada keselamatan dan kjesehatan kerja. Kondisi-kondisi sosio-fisikologis membawa

dampak besar bagi keselamatan dan kesehatan kerja, dan perusahaan yang harus

melakukan sesuatu untuk mengatasinya, yaitu, misalnya para pekerja setelah jam

kerjamenerimah petunjuk mengenai metode-metode manajemen stress. Petunjuk-

petunjuk ini meliputih meditasi, latihan pernapasan, dan satu teknik yang disebut

dotstopin. Teknik yang sejenis dengan biofekback ini mengajarkan para pekerja untuk

mengendalikan stress mereka dengan mengenang suatu saat yang indah dan

memusatkan diri pada perasaan-perasaan dan sensasi-sensasi yang mereka alamih

pada waktu itu. Dewasa ini, upaya-upaya untuk meningkatkan keselamatan dan
kesehatan kerja tidaklah lengkap tanpa suatu strategi untuk mengurangi stress

fisikologis yang berhubungan dengan pekerjaan.

a. kecelakan - kecelakan kerja

perusahaan-perusahaan tertentu atau depertemen tertentu cenderung mempunyai

tingkat kecelakan kecelakan kerja yang tinggi daripada lainya. Beberapa krateristik

dapat menjelaskan perbedaan tersebut.

1. kualitas organisasi. Tingkat kecelakaan berbeda secara substansi meburut jenis

industry. Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan industry konstruksi dan

manufaktur mempunyai tingkat kecelakan yang lebih tinggi daripada

perusahaan-perusahaan industry jasa, keuangan, asuransi, dan real estat.

Perusahaan-perusahaan kecil dan besar (yaitu perusahaan yang mempunyai

kurangdari seratus pekerja dan perusahaan yang mempunyai lebih dari seribu

pekerja) mempunyai tingkat kecelakan yang lebih rendah daripada perusahaan-

perusahaan menengah.

2. pekerja yang mudah celaka. Sebagian ahli enunjuk pekerja sebagi penyebab

utama terjadinya kecelakaan. Kecelakaan bergantung pada perilaku pekerja,

tingkat bahaya dalam lingkungan pekerjaan dan semata-mata bernasib sial.

Sampai seberapa jauh seorang pekerja menjadi penyebab kecelakaan dapat

menjadi petunjuk kecenderungansi pekerja untuk mengalami kecelakaan? Tidak

ada suatu karakteristik pribadi khusus pekerja yang selalu cenderung mendapat

kecelakan. Tetapi, karakteristik psikologis dan fisik tentu tampaknya membuat


sebagian pekerja lebih mudah mengalami kecelakaan disbanding yang lain.

Contohnya, para pekerja yang emosinya ‘tinggi’ mempunyai angka kecelakaan

yang lebih kecil daripada pekerja yang emosinya “rendah”, dan para pekerja

yang mengalami kecelakaan lebih kecil adalah orang-orang yang lebih optimis

dapat dipercaya dan peduli terhadap orang lain dibandingkan dengan para

pekerja yang lebih sering mengalami kecelakaan. Para pekerja yang mengalami

stress berat lebih mungkin mengalami kecelakaan dibandingkan dengan mereka

yang mengalami stress ringan. Para pekerja yang sudah berumur lebih sedikit

mengalami kecelakaan dibandingkan mereka yang berusia mudah. Dan orang-

orang yang lebih cepat mengenali pola-pola visual daripada membuat

manipulasi muscular lebih sedikit mengalami kecelakaan dibandingkan orang-

orang dengan karasteristik sebaliknya. Banyak kondisi fisikologis dapat

berkaitan dengan kecenderungan mengalami kecelaka –misalnya kebencian dan

ketidakmatangan emosional-barang kali merupakan kondisi yang tidak

permanen. Karenanya,kondisi-kondisi ini sulit dideteksi sampai suatu ketika

terjadi satu kecelakaan

3. pekerja berperangai sadis. Kekerasan ditempat pekerjaan meningkat dengan

pesat, dan perusahaan dianggap bertanggung-jawab terhadap hal itu.

Pembunuhan adalah penyebab kematian terbesar di tempat pekerjaan saat ini.

b. penyakit-penyakit yang diakibatkan dipekerjaan

sumber-sumber potensial penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan yang

sama beragamnya seperti gejala-gejala penyakit tersebut. Beberapa badan federal

secara sistematis telah mempelajari lingkungan pekerjaan, dan telah mengidentifikasi


penyebab penyakit-penyakit berbahaya berasal dari ansenik, asbes, bensin,

biglorometiletter, debu batu bara asap tungku batu arang, debu kapas, timah, radiasi

dan vinin florida. Para pekerja yang besar kemungkinannya terkena bahaya-bahaya itu

meliputih pekerja-pekerja dipabrik kimia dan penyulingan minyak, penambang,

pekerja pabrik testil dan pabrik baja, pekerja di peleburan timah, teknisi medis,

tukang cat, pembuatan sepatu, dan pekerja industry plastic.riset lebih lanjut

tentunya akan dapat mengungkapkan bahaya-bahaya lain yang ingin didiagnosis dan

diatasi oleh perusahaan untuk kesejahteraan tenaga kerja mereka dimasa depan.

1. kategori penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dalam jangka panjang,

bahaya-bahaya di lingkungan tempat kerja dikaitkan dengan kanker kelenjar

tiroid, hati, paru-paru, otak, dan ginjal ; penyakit paru-paru putih, coklat,dan

hitam ; leukemia; bronchitis; emphysema; lymphoma; anemia plastic,

kerusakan sistim saraf pusat; dan kelainan-kelainan reproduksi (misalnya

kemandulan, kerusakan genetic, keguguran, dan cacat pada waktu lahir.

2. kelompok-kelompok pekerjaan yang berisiko. Penambang, pekerja transportasi

dan konstruksi, serta pekerja kerah biru dan pekerja tingkat rendah pada

industry manufaktur menderita sebagian besar penyakit-penyakit yang

berhubungan dengan pekerjaan maupun kecelakaan-kecelakaan kerja.

Pekerjaan-pekerjaan yang paling tidak aman adalah pertambangan, pertanian,

dan konstruksi. disamping itu, sejumlah pekerja industry petro kimia dan

pengilangan minyak,pekerja pencelupan, pengguna bahan celup, pekerja

pabrik tekstil, pabrik industry plastic, pengecat dan pekerja pabrik kimia
adalah yang paling rentan terhadap risiko kecelakaan yang paling berbahaya.

Penyakit-penyakit kulit adalah penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan

yang paling umum dilaporkan, dimana para pekerja pabrik kulit sebagai

kelompok pekerja yang paling banyak terkena.

c. kehidupan kerja berkualitas rendah

Bagi banyak pekerja, kehidupan kerja berkualitas rendah disebabkan oleh kondisi

tempat kerja yang gagal untuk memenuhi freferensi-freferensi dan minat-minat

tertentu serti rasa tanggung jawab, keingina akan pemberdayaan dan keterlibatan

dalam pekerjaan, tantangan, harga diri, pengendalian diri, penghargaan, prestasi,

keadilan, kemanan, dan kepastian.

d. Stres pekerjaan

penyebab umum stress bagi banyak pekerja adalah supervisor (atasan), salary (gaji),

security (keamanan), dan safety (keselamatan). Aturan-aturan kerja yang sempit dan

tekanan-tekanan yang tiada henti untuk mencapai sejumlah produksi yang lebih tinggi

adalah penyebab untama stress yang dikaitkan para pekerja dengan supervisor. Gaji

adalah penyebab stress bila dianggap tidak diberikan secara adil. Para pekerja

mengalami stress ketika merasa tidak pasti apakah mereka tetap mempunyai

pekerjaan bulan depan, minggu depan, atau bahkan besok. Bagi banyak pekerja,

rendahnya keamanan kerja bahkan lebih menimbulkan stress dan rendahnya

keselamatan kerja-paling tidak, dengan pekerjaan dimana tigkat keselamatan kerja

rendah, mereka mengetahui risikonya, sementara dengan pekerja yang tidak aman
mere akan terus berada dalam keadaan tidak pasti.

1. Perubahan organisasi. Perubahan-perubahan yang dibuat oleh perusahaan

biasanya melibatkan sesuatu yang penting dan disertai dengan ketidakpastian.

Banyak perubahan dibuat tanpa pemberitahuan-pemberitahuan resmi.

Walaupun kabar-kabar burung seriung beredar bahwa aka nada perubahan,

bentuk perubahan yang pasti hanya sebatas spekulasi. Orang-orang was-was

apakah perubahan tersebut akan mempunya dampak kepada mereka,

barangkali dengan mengganti mereka. Atau menyebabkan mereka di

pindahkan. Akibtnya, banyak pekerja menderita gejal-gejala stress.

2. Tingkat kecepatan kerja. Tingkat kecepatan kerja dapat dkendalikan oleh

mesin atau manusia. Kecepatan kerja yang diitentukan oleh mesin memberikan

kendali atas kecepatan pelaksanaan dan hasil pekerjaan kepada sesuatu selain

manusia. Kecepata yang ditentukan oleh manusia tersebut memberikan Kendali

kepada manusia. Akibat dari kecepatan yang ditentukan olehn mesin adalah

amat besar, pekerja tidak dapat memuaskan kebutuhan yang penting untuk

mengendalikan situasi.

3. Lingkungan fisik. Walaupun otomatisasi kantor adalah suatu cara meningkatkan

produktivitas, hal itu mempunya kelemahan-kelemahan yang berhubungan

dengan stres. Satu aspek otomatisasi kantor mempunyai karakteristik berkaitan

dengan stress adalah video, display, temina (VDT) aspek-aspek lingkungan kerja

yang berkaitan dengan stress adalah tempat kerja yang sesat, kurangnya

kebebasan pribadi dan kurangnya pengawasan.


4. Pekerja yang rentan stress. Manusia memang berbeda dalam memberikan

respon terhadap penyebab stress. Perbedaaan klasik adalah yang disebut

sebagaia tipe A dan prilaku tipe B. orang-orang dengan prilaku tipe A suka

melakukan hal-hal menurut cara mereka sendiri, dan mau mengeluarkan

banyak tenaga untuk memastikan bahwa tugas-tugas yang sangat sulitpun

dikerjakan dengan cara yang mereka sukai. Tetapi, orang-orang tipe A adalah

‘pengerak dan pendobrak’. Mereka menikmati menjadi pemimpin di lingkungan

mereka, dan mengubah prilaku orang lain. Orang –orang dengan prilaku tipe B

umumnya lebih toleran. Mereka tidak mudah frustasi atau marah, dan mereka

juga tidak menghabiskan banyak energy dalam memberikan respon terhadap

hal-hal yang mereka tidak sesuai. Orang-orang tipe B biasanya merupakan

supervisor yang hebat. Mereka mungkin akan memberikan kebebasan yang

besar kepada bawahannya tetapi juga mungkn tidak akan memberikan

dukungan keatas yang diperlukan untuk kepemimpinan yang efektif.

e. kelelahan kerja (job burnout)

Kelelahan kerja (job burnout) adalah sejinis stress yang banyak dialami oleh orang-

orang yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan, seperti karyawan

kesehatan, pendidikan, kepolisian, keagamaan, dan sebagainya. Jenis reaksi terhadap

pekerjaan ini meliputih reaksi-reaksi sikap dan emosional sebagai akibat pengalaman-

pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan.

Konsekuensi kelelahan kerja. Pekerja yang mengalami kelelahan kerja akan

berprestasi lebih buruk daripda pekerja yang masih ‘penuh semangat’. Konsekuensi
kelelahan kerja yang tidak menguntungkan lainnya adalah memburuknya hubungan si

pekerja dengan rekan kerjanya yang lain. Selain membawa kepada prilaku yang

mempunyai dampak negative terhadap kwalitas kehidupan kerja seseorang, kelelahan

kerja juga dapat mendorong terciptanya tingkah laku yang menyebabkan menurunnya

kwalitas hidup rumah tangga seseorang.akhirnya. kelelahan kerja akan menjadi

penyebab timbulnya masalah-masalah kesehatan.

D. Strategi meningkatkan kualitas kerja

Bila penyebab sudah diidentifikasi, strategi-strategi dapat dikembangkan untuk

menghilangkan atau mengurangi bahaya kerja. Untuk menentukan apakah suatu

strategi efektif atau tidak, perusahaan dapat membandingkan insiden, kegawatan,

dan frekuensi penyakit-penyakit dan kecelakaan sebelum dan sesudah strategi

tersebut diberlakukan.

1. memantau tingkat keselamatan dan kesehatan kerja.

Mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk menyimpan catatan insiden-insiden

kecelakaan dan kasus penyakit yang terjadi dalam perusahaan. Perusahaan juga

mencatat tingkat kegawatan dan frekuensi setiap kecelakaan atau kasus penyakit

tersebut.

1. tingkat insiden indeks keamanan indutsri yang paling eksplisit adalah tingkat

insiden yang mengambarkan jumlah kecelakan dan penyakit dalam satu tahun.

2. tingkat frekuensi mencerminkan jumlah kecelakaan dan penyakit setiap satu

juta jam kerja, bukan dalam setahun seperti dalam tingkat insiden.
3. tingkat kegawatan. Tingkat kegawatan mengambarkan jam kerja yang hilang

karena kecelakaan atau penyakit.

4. mengendalikan kecelakaan. Cara terbaik untuk mencegah kecelakaan dan

meningkatkan keselamatan kerja barang kali adalah dengan merancang

lingkungan kerja sedemikian rupa sehinga kecelakaan tidak akan terjadi.

Diantara bentuk-bentuk keselamatan kerja yang dapat dirancang didalam

lingkungan fisik perusahaan adalah menempatkan penjaga dekat mesin-,mesin,

pegangan pada tangga, kaca mata dan helm pelindung, lampu peringatan,

mekanisme perbaikan diri dan penghentian pekerjaan secara otomatis. Sampai

seberapa jauh usaha-usaha tersebut dapat mengurangi kecelakaan tergantung

pada penerimaan dan penerimaan oleh pekerja. Sebagai contoh, kemungkinan

cedera mata dapat dikurangi dengan tersedianya kacamata pelindung hanya

bila para pekerja memakai kacamata tersebut dengan benar.

5. ergonomis. Cara lain untuk meningkatkan keselamatan kerja adalah dengan

membuat pekerjaan itu sendiri menjadi lebih nyaman dan tidak terlalu

melelahkan, melalui ergonomis. Ergonomis mempertimbangkan perubahan-

perubahan pada lingkungan pekerjaan sehubungan dengan kemampuan-

kemampuan fisik dan fisiologis serta keterbatasan-keterbatasan pekerja.

6. divisi keselamatan kerja. Strategi lain dalam rangka mencegah kecelakaan

adalah pemamfaatan divisi-divisi keselamatan kerja. Departemen SDM dapat

berfungsi sebagai coordinator panitia yang terdiri dari beberapa orang wakil

pekerja. Bil ada serikat buruh di perusahaan, divisi ini juga harus mempunyai

anggota yang mewakili serikat buruh. Sering beberapa perusahaan memiliki


beberapa anggota divisi keselamatan kerja pada tingkat departemen untuk

implementasi dan administrasi, dan divisi yang lebih besar pada tingkat

perusahaan untuk merumuskan kebijakan.

7. pengubahan tingkah laku. Mendorong dilaksanakannya kebiasaan kerja yang

dapat mengurangi kenungkinan kecelakaan juga dapat menjadi strategi yang

sangat berhasil. Untuk mengubah prilaku pekerja dapat dipakai imbalan yang

bukan berbentuk uang, seperti umpan baik yang positif, berbentuk aktivitas

(seperti libur kerja), imbalan materi (perusahaan membelikan kue donat

selama waktu istirahat), sampai pada yang berbentuk uang (seperti, bonus

pekerja mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan tingkat keselamatan kerja

yang diiniginkan).

8. mengurangi timbunya penyakit. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan

pekerjaan jauh lebih memakan biaya dan berbahaya bagi perusahaan dan para

pekerja dibandingkan dengan kecelakaan kerja.karena hubungan sebab akibat

antara lingkungan fisik dengan penyakit-penyakit tersebut sering kabur,

umumnya perusahaan sulit mengembangkan strategi untuk mengurangi

timbulnya penyakit-penyakit.

9. penyimpanan catatan. Mewajibkan perusahaan untuk setidak-tidaknya

melakukan pemeriksaan terhadap kadar bahan kimia yanh terdapat dalam

lingkungan pekerjaan dan menyimpan catatan mengenai informasi yang terinci

tersebut. Catatan ini juga harus mencantumkan informasi mengenai penyakit-

penyakit yang dapat ditimbulkan dan jarak yang aman dan pengaruh berbahaya

bahan-bahan tersebut. Informasi ini harus disimpan selama masa inkubasi


penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkannya bahkan mungkin ada yang sampai

selama 40 tahun. Jika perusahaan tersebut dijual, pemilik yang baru harus

mengambil alih tanggung jawab penyimpanan catatan tersebut dan harus

melanjutkan pengumpulan data yang dibutuhkan.

10. memantau kontak langsung. pendekatan yang pertama dalam mengendalikan

penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan adalah

membebaskan tempat pekerjaan dari bahan-bahan kimia atau racun; suatu

pendekatan alternatifnya adalah dengan memantau dan membatasi kontak

langsung terhadap zat-zat yang berbahaya.

11. penyaringan genetic. Penyeringan genetic adalah pendekatan untuk

mengandalikan pengakit-penyakit yang paling ekstrem, sehingga controversial.

Susunan genetic individu dapat membuat seseorang lebih atau tidak begitu

mudah terserang penyakit tertentu. Dengan menggunakan uji genetic untuk

menyering individu-individu yang rentang terhadap penyakit-penyakit tertentu,

perusahaan dapat mengurangi kemungkinan untuk menghadapi klaim

kompensasi dan masalh-masalah yang terkait dengan hal itu. Penentang

penyeringan genetic berpendapat bahwa prosedur tersebut mengukur

predisposisi seseorang terhadap penyakit, bukan kehadiran tersebutyang

sebenarnya,dan oleh karenanya melanggar hak-hak individu.

2. mengendalikan stress dan kelelahan kerja

Semakin banyak perusahaan memberikan program pelatihan yang dirancang untuk

membantu para pekerja mengatasi stres yang diakibatkan oleh pekerjaan. Contohnya

J.P. Morgan memberikan program manajemen stress sebagai bagian dari kurikulum
pengembangan pengawasan manajemen yang lebih luas program ini disediankan untuk

staf pengawasan, staf profesional, dan pegawai, dengan tujuan memperkenalkan

bahan-bahan, keahlian informasi, dan definisi peran pengawasan dan manajemen.

Titik beratnya adalah pada penyediaan informasi yang konkret untuk mengurangi

ambiguitas yang berkaitan dengan pergantian peran pekerjaan yangber langsung

dengan cepat.

1. peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Pentingnya kemampuan

mengendalika atau setidaknya memprediksi apa yang akan terjadi dimasa yang

akan datang sangat disadari. Mempunya kesempatan bagi karyawan untuk

menentukan sendiri ditambah dengan kebebasan dan kemampuan untuk

mempengaruhi kejadian-kejadian di sekitarnya dapat memnjadi suber motivasi

intrinsic (dari dalam diri) dan penghargaan yang sangat berarti. Jika

kesempatan untuk mengendalikan tidak dipunyai seorang karyawan dan

karyawan merasa terjebak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat

dikendalikan maupun dieamlkan, kondisi psikologis mauapun fisik karyawan

kemungkinana besar akan terganggu.

2. strategi- strategi manajemen stress pribasi. Manajemen waktu dapat

merupakan strategi yang efektif dalam mengetasi stres pekerjaan. Strategi ini

sebagian besar di dasarkana atas indentifikasi atas awal tujuan-tujuan pribadi

pekerjaan. Strategi-strategi lain yang menjadi bagian manajemen stress

perorangan meliputi pola makan yang sehat, olahraga yang teratu, pemantauan

kesehatan fisik, dan membentuk kelompok pendukung sosial. Banyak


perusahaan besar mendorong pekerja-pekerjanya untuk mendaftarkan diri

dalam program latihan olahraga yang tertur dimana kebugaran dan kesehatan

mereka dipantau secara seksama.

3. mengembangkan kebijakan-kebijakan kesehatan kerja

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan meningkatnya tanggung jawab,

semakin banyak perusahaan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan kebijakan yang

menangkut bahaya-bahaya. Pertanyaan-pertanyaan ini berkembang dari satu

kepedulia bahwa perusahaan-perusahaan harus pro aktif mengenai masalah-masalah

kesehatan dan keselamatan kerja.

4. menciptakan program-program kebugaran.

Perusahaan-perusahaan semakin memusatkan perhatian kepada usaha-usaha menjaga

agar para kerja tetap sehat dari pada menolong mereka sembuh dari sakitnya. Mereka

membuka makin banyak program-program kebugaran dan kelihatannya program-

program tersebut memberikan hasil yang mengembirakan.

Lihat Dulu :

Cara Menghilangkan Jerawat

E. Pertimbangan hukum

perangkat kerja hukum bagi keselamatan dan kesehatan kerja dapat dibagi menjadi

empat kategori yaitu sebagai berikut :

1. occupational safety and health administration


occupational safety and health administration (OSHA) mengharuskan pemeriksaan

keselamatan dan kesehatan kerja tanpa memandang ukuran perusahaan, pelaporan

oleh perusahaan, dan penyelidikan terhadap kecelakaan kerja. OSHA bertanggung

jawab untuk menetapkan dan pemberlakuan strandar keselamtan dan kesehatan

kerja, serta memeriksa dan menerbitkan surat panggilan kepada perusahaan yang

melanggar starndar tersebut. Tanpa memandang apakah akandiperiksa oleh OSHA

perusahaan-perusahaan tetap harus mamiliki catatan keselamatan dan kesehatan

kerja yang baik, sehingga OSHA dapat memperoleh statistic yang akurat mengenai

kecelakaan-kecelakaan dan kasus yang berhubungan dengan pekerjaan.

2. program-program kompensasi pekerjaan

Sementara OSHA diciptakan untuk memberikan perlindungan terhadap kecelakaan dan

penyekit yang dialami pekerja dalam pekerjaan, kompensasi pekerja diciptakan untuk

memberikan bantuan keuangan bagi para pekerja akibat keselakaan kerja dan

penyekit tersebut. Pembayaran kompensasi pekerja dalam kasus-kasus kecemasan,

depresi, dan kelainan mental yang berhubungan dengan pekerja.

3. common-law doctrine of torts

Hokum ini terdiri dari putusan-putusan pengadilan yang berkenaan dengan tidakan-

tindakan pelanggaran seperti cedera ang dialami seorang pekerja akibat tindakannya

sendiri atau akibat perbuatan lainnya, atau bahkan konsumen, dan menyebabkan

tuntunan hokum kepada perusahaan. Pekerja dan konsumen dapat memperoleh ganti

rugi kerusakan jika mereka dapat menunjukan bahwa perusahaan telah bertindak

ceroboh, atau dengan sengaja menimbulkan kesusahan dengan maksud merendahkan


atau menghina. Hanya beberapa kasus yang berhasil, mungkin sebagai karena program

kompensasi pekerja dirancang untuk menghindarkan kecelakaan-kecelakaan kerja dan

tuntunan hokum selama ini kasus-kasus yang berhasal mengajukan perusahaan

kepengadilan adalah kasus-kasus khusus karena melibatkan biaya yang besar.

4. inisiatif-inisiatif local

Perusahaan-perusahaan perlu memperhatikan perturan-peraturan local. Kadang-

kadang inisiativ-inisiativ local ini memberikan sekilas tentang petunjuk yang akan

dilakukan ileh pemerintah daerah lainnya atau bahkan pemerintah pusat yang akan

datang.

F. Urgensi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian yang sangat penting dalam

ketenagakerjaan. Oleh karena itu, dibuatlah berbagai ketentuan yang mengatur

tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Berawal dari adanya Undang-Undang

Nomor 14 Tahun 1969 tentang Pokok-Pokok Ketenagakerjaan yang dinyatakan dalam

Pasal 9 bahwa “setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas

keselamatan, kesehatan dan pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai

dengan harkat, martabat, manusia, moral dan agama”. Undang-Undang tersebut

kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 ini ada beberapa hal yang diatur antara

lain:

a. Ruang lingkup keselamatan kerja, adalah segala tempat kerja, baik di darat, di
dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada dalam

wilayah hukum kekuasaan RI. (Pasal 2).

b. Syarat-syarat keselamatan kerja adalah untuk:

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan

2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran

3. Mencegah dan mengurangi peledaka

4. Memberi pertolongan pada kecelakaan

5. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja

6. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai

7. Memelihara kesehatan dan ketertiban

c. Pengawasan Undang-Undang Keselamatan Kerja, “direktur melakukan pelaksanaan

umum terhadap undang-undang ini, sedangkan para pegawai pengawas dan ahli

keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya

undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. (Pasal 5).

d. Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembinaan Kesehatan dan

Keselamatan Kerja untuk mengembangkan kerja sama, saling pengertian dan

partisipasi yang efektif dari pengusaha atau pengurus tenaga kerja untuk

melaksanakan tugas bersama dalam rangka keselamatan dan kesehatan kerja untuk

melancarkan produksi. (Pasal 10).


e. Setiap kecelakan kerja juga harus dilaporkan pada pejabat yang ditunjuk oleh

Menteri Tenaga Kerja di dinas yang terkait. (Pasal 11 ayat 1).

(Suma’mur. 1981: 29-34).

Dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 86 ayat 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 diatur pula

bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:

1. Keselamatan kerja

2. Moral dan kesusilaan

3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai

agama.

Selain diwujudkan dalam bentuk undang-undang, kesehatan dan keselamatan kerja

juga diatur dalam berbagai Peraturan Menteri. Diantaranya Peraturan Menteri Tenaga

Kerja Nomor Per-01/MEN/1979 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja. Tujuan pelayanan

kesehatan kerja adalah:

1. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri dengan

pekerjaanya.

2. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari

pekerjaan atau lingkungan kerja.

3. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental, dan kemapuan fisik tenaga

kerja.
4. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja

yang menderita sakit.

Selanjutnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-02/MEN/1979 tentang

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja meliputi:

pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan

kesehatan khusus. Aturan yang lain diantaranya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981

tentang Wajib Lapor Ketenagaan dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor

03/MEN/1984 tentang Mekanisme Pengawasan Ketenagakerjaan.

Arti penting dari kesehatan dan keselamatan kerja bagi perusahaan adalah tujuan dan

efisiensi perusahaan sendiri juga akan tercapai apabila semua pihak melakukan

pekerjaannya masing-masing dengan tenang dan tentram, tidak khawatir akan

ancaman yang mungkin menimpa mereka. Selain itu akan dapat meningkatkan

produksi dan produktivitas nasional. Setiap kecelakaan kerja yang terjadi nantinya

juga akan membawa kerugian bagi semua pihak. Kerugian tersebut diantaranya

menurut Slamet Saksono (1988: 102) adalah hilangnya jam kerja selama terjadi

kecelakaan, pengeluaran biaya perbaikan atau penggantian mesin dan alat kerja serta

pengeluaran biaya pengobatan bagi korban kecelakaan kerja.

Menurut Mangkunegara tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai

berikut:

1. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik

secara fisik, sosial, dan psikologis.


2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya dan

seefektif mungkin.

3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi

pegawai.

5. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.

6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau

kondisi kerja.

7. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja

Melihat urgensi mengenai pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, maka di

setiap tempat kerja perlu adanya pihak-pihak yang melakukan kesehatan dan

keselamatan kerja. Pelaksananya dapat terdiri atas pimpinan atau pengurus

perusahaan secara bersama-sama dengan seluruh tenaga kerja serta petugas

kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja yang bersangkutan. Petugas

tersebut adalah karyawan yang memang mempunyai keahlian di bidang keselamatan

dan kesehatan kerja, dan ditunjuk oleh pimpinan atau pengurus tempat

kerja/perusahaan

Pengusaha sendiri juga memiliki kewajiban dalam melaksanakan kesehatan dan

keselamatan kerja. Misalnya terhadap tenaga kerja yang baru, ia berkewajiban

menjelaskan tentang kondisi dan bahaya yang dapat timbul di tempat kerja, semua

alat pengaman diri yang harus dipakai saat bekerja, dan cara melakukan

pekerjaannya. Sedangkan untuk pekerja yang telah dipekerjakan, pengusaha wajib

memeriksa kesehatan fisik dan mental secara berkala, menyediakan secara cuma-
cuma alat pelindung diri, memasang gambar-gambar tanda bahaya di tempat kerja

dan melaporkan setiap kecelakaan kerja yang terjadi kepada Depnaker setempat.

Para pekerja sendiri berhak meminta kepada pimpinan perusahaan untuk dilaksanakan

semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja, menyatakan keberatan bila

melakukan pekerjaan yang alat pelindung keselamatan dan kesehatan kerjanya tidak

layak. Tetapi pekerja juga memiliki kewajiban untuk memakai alat perlindungan diri

yang diwajibkan dan menaati persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja yang

berlaku. Setelah mengetahui urgensi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja,

koordinasi dari pihak-pihak yang ada di tempat kerja guna mewujudkan keadaan yang

aman saat bekerja akan lebih mudah terwujud.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan

dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan perlindungan

dan keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun

emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi kesehatan

dan keselamatan kerja tidak melulu berkaitan dengan masalah fisik pekerja, tetapi

juga mental, psikologis dan emosional.

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting dalam
ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak berbagai peraturan perundang-

undangan yang dibuat untuk mengatur nmasalah kesehatan dan keselamatan kerja.

Meskipun banyak ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan

kerja, tetapi masih banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan

keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih banyak

pula perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja

sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.

Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan

kerja yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semua pihak. Tidak hanya bagi

para pekerja, tetapi juga pengusaha itu sendiri, masyarakat dan lingkungan sehingga

dapat tercapai peningkatan mutu kehidupan dan produktivitas nasional.

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan diatas maka kami ajukan saran-saran

sebagai berikut :

1. Bagi perusahaan

Bagi pihak perusahaan untuk disarankan untuk menekankan seminimal mungkin

terjadinya kecelakaan kerja, dengan jalan antara lain meningkatkan dan menerapkan

keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dengan baik dan tepat. Hal ini dapat dilakukan

dengan sering diadakan sosialisasi tentang manfaat dan arti pentingnya program

keselamatan dan kesehatan kerja (k3) bagikaryawan, seperti misalnya dengan

pemberitahuan bagaimana cara penggunaan peralatan, pemakaian alat pelindung diri,

cara mengoprasikan mesin secara baik dan benar. Selain itu perusahaan harus
meningkatkan program keselamatan dan kesehatan kerja (k3) serta menerangkan

prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dalam kegiatan operasional.

2. Bagi karyawan

Bagi karyawan lebih memperhatikan program keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

dengan bekerja secara disiplin dan berhati-hati serta mengikuti proses.

DAFTAR PUSTAKA

Rivai,H. Veithzal., dan Ella Jauvani Sagala, 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia

untuk perusahaan, Edisi Kedua, (Jakarta: Rajawali Pers).

Schuler, Randall. S., dan Susan E. Jackson, 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia,

Edisi Keenam, Jilid Dua, (Jakarta: Erlangga).

Husni, Lalu. 2003. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada.

Markkanen, Pia K. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Indonesia. Jakarta :

Internasional Labour Organisation Sub Regional South-East Asia and The Pacific Manila

Philippines

Saksono, Slamet. 1998. Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius.

Suma’mur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Gunung

Agung.
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi. 2007. Prosedur Keamanan, Keselamatan, &

Kesehatan Kerja. Sukabumi: Yudhistira.


injauan Umum Tentang Gizi dan Gizi Kerja

1. Pengertian Gizi

Batasan tentang gizi menurut kamus umum Bahasa Indonesia, gizi berarti (zat) makanan. Sedangkan menurut

ilmu gizi, gizi adalah ilmu pengetahuan dan seni yang mempelajari makanan (food) dan zat gizi (Nutrient)

yang terkandung di dalamnya dalam kaitannya dengan kesehatan.

Fungsi makanan dalam tubuh adalah untuk proses pertumbuhan bagi individu yang sedang tumbuh. Selain itu

makanan memberikan kekuatan atau energi untuk aktivitas fisik dan mental. Zat-zat gizi lain dalam makanan

diperlukan untuk proses metabolisme, regenerasi sel-sel jaringan tubuh yang sudah tua, rusak atau hilang.

Zat gizi diperlukan juga untuk proses pembentukan zat kebal juga untuk mempertahankan eksistensi dan

fungsi organ-organ tubuh.

Gizi yang baik dapat diperoleh apabila makanan mengandung energi dan nutrient yang seimbang dengan

kebutuhan. Nutrient yang harus ada dalam makanan ialah : protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan air,

sedangkan energi dapat diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein.

2. Pengertian Gizi Kerja

Gizi kerja adalah bagian ilmu gizi yang diterapkan pada lingkungan kerja untuk memenuhi kebutuhan gizi

pekerja, memelihara dan meningkatkan status gizi dan kesehatan pekerja sehingga dapat meningkatkan daya

kerja dan produktivitas kerja.

Tenaga kerja memerlukan makanan yang bergizi untuk pemeliharaan tubuh, untuk perbaikan sel-sel dalam

jaringan dan untuk pertumbuhan sampai masa-masa tertentu serta kegiatan-kegiatan termasuk pekerjaan.

Gizi kerja berarti nutrisi/gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan

jenis pekerjaannya. Tujuannya adalah tingkat kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja yang setinggi-

tingginya. Kesehatan tenaga kerja dan produktivitas bertalian erat dengan tingkat gizi. Dalam hubungannya

dengan produktivitas kerja, seorang tenaga kerja dengan status gizi yang baik akan memiliki kapasitas dan

ketahanan yang lebih baik pula (Suma’mur, 1997).

Pengaruh tentang gizi kerja meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

1. Kebutuhan gizi bagi tenaga kerja sebagai suatu kelompok dalam masyarakat.

2. Kalori yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan.

3. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi status gizi tenaga kerja.


4. Gizi kerja yang produktivitas.

Gizi kerja yang baik mempunyai pengaruh terhadap produktivitas kerja yang tinggi, secara konkrit dapat

dijabarkan beberapa fakta penting peranan status gizi baik secara langsung maupun tidak langsung yang

mempengaruhi kesehatan dan kualitas tenaga kerja sebagai berikut :

1. Kecukupan makanan secara kualitas dan kuantitas menurut “empat sehat lima sempurna” diisyaratkan

untuk mempertahankan kondisi fisik yang tangguh dan untuk mencapai kesegaran jasmani.

2. Peranan zat gizi, disamping zat-zat gizi penting pada pekerjaan yang membutuhkan tenaga otot juga

jumlah atau prevalensi anemia gizi yang disebabkan oleh kurangnya zat besi.

Gizi kerja dapat dikaitkan dengan pendidikan, pengadaan ruang makan, penilaian dan perbaiakn kebutuhan

kalori. Selain memenuhi kebutuhan kalori pekerja, juga masih perlu dipenuhi kualitas makanan bagi tenaga

kerja.

B. Tinjauan Umum Tentang Status Gizi

Status gizi adalah suatu keadaan kesehatan (kondisi tubuh) sebagai hasil penyerapan zat-zat gizi yang

esensial dan ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari

pangan yang dampak fisiknya dapat diukur.

Terdapat tiga konsep pengertian status gizi (Satriono, 1999).

1. Keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara gizi disatu pihak dan pengeluaran organisme di lain

pihak.

2. Proses dari organisme dalam menggunakan bahan makanan melalui proses pencernaan, penyerapan,

transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pembuangan untuk pemeliharaan hidup, pertumbuhan, fungsi

organ tubuh dan produksi energi.

3. Tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh “nutriture” yang terlihat pada variabel tertentu.

Oleh karena itu dalam mengacu tentang keadaan gizi seseorang perlu disebutkan.

4. Perlu dipahami bahwa antara status gizi dan indikator status gizi terdapat suatu perbedaan, yaitu bahwa

indikator memberikan refleksi tidak hanya status gizi tersebut tetapi juga pengaruh non gizi, oleh karenanya
indikator walaupun sensitif tetapi tidak selalu spesifik

Status gizi merupakan salah satu unsur dalam menentukan kondisi fisik atau kualitas fisik seseorang atau

kelompok masyarakat tertentu. Pada dasarnya bekerja adalah aktivitas fisik yang selalu memerlukan enegi

yang bersumber dari asupan gizi. Makin banyak aktivitas fisik makin banyak pula kebutuhan energi. Individu

dengan status gizi baik menyimpan cadangan energi lebih baik dan relative lebih lama bertahan dalam

bekerja disbanding individu dengan status gizi kurang. Dengan demikian, dapat dirumuskan asumsi bahwa

semakin baik status gizi seseorang, semakin bertahan di dalam mencegah timbulnya kelelehan kerja.

Penilaian Status Gizi

Penentuan status gizi meliputi :

1. Gejala klinik

2. Pemeriksaan antropometrik

3. Pemeriksaan biokimia.

Penentuan status gizi berdasarkan gejala klinik merupakan pemeriksaan yang mudah dan murah. Sehingga

timbul asumsi bahwa cara ini cepat dan mudah dipelajari oleh pemula dan hasilnya mudah diintrepretasi.

Tapi cara ini mempunyai keterbatasan seperti hanya dapat dipakai pada kasus-kasus berat sementara pada

kasus-kasus yang belum bergejala sulit dilakukan.

Pemeriksaan antropometrik merupakan pengukuran variasi dimensi fisik dan komposisi tubuh pada tingkat

umum dan derajat nutrisi yang berbeda. Cara-cara dan pengukuran antropometrik sangat banyak sehingga

cara yang dipilih akan tergantung pada tujuan dan maksud suatu survey atau penelitian.

Pengukuran antropometrik dilakukan dengan mangukur bagian-bagian tubuh tertentu, yaitu berat badan,

tinggi badan, lingkar kepala, lingkar dada, jumlah gizi, lingkar lengan atas, dan tebal lipatan kulit yang

dihubungkan dengan umur dan jenis kelamin.

Pengukuran status gizi secara antropometrik dapat menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Indeks massa

tubuh merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya berkaitan dengan

kekurangan dan kelebihan berat badan, maka dengan mempertahankan berat badan normal memungkinkan

seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang.

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah penting, karena selain

mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja.


Artikel Gizi Kerja

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Peningkatan kualitas sumber daya manusia ke arah peningkatan kecerdasan dan


produktivitas kerja. Salah satu upaya yang mempunyai dampak cukup penting terhadap
peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah upaya peningkatan status gizi masyarakat.
Status gizi masyarakat merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan
produktivitas kerja.
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai
nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk
memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk
dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel
yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan
tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan
menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya
memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan
Kartasapoetra, 1991).
Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan standar
kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang miskin
tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan
dan gizi, mereka menderita gizi kurang. (Sri Handajani, 1996). Keadaan gizi seseorang
merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila
kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul
konsekuensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut
karena faktor gizi (Ari Agung, 2002).

Tujuan

1. Mengetahui pentingnya gizi dalam bekerja.


2. Memahami pengertian gizi kerja secara jelas.
3. Mendapat pemahaman tentang fungsi gizi terhadap produktifitas kerja.

MATERI
Gizi dan permasalahannya

Berbicara masalah gizi, kita tidak terlepas dari pembahasan mengenai zat-zat makanan
atau nutrisi yang masuk kedalam tubuh. Makanan yang bergizi adalah makanan yang
mengandung zat-zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh agar tubuh dapat melakukan fungsi-
fungsinya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain zat gizi sangat diperlukan oleh tubuh
untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan pemeliharaan tubuh beserta semua fungsinya.
Sebenarnya, dalam pembahasan gizi salah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan tidaklah
semata-mata hanya keadaan kurang gizi, namun kelebihan gizipun dapat menimbulkan gangguan
pada manusia.
Secara umum, permasalahan gizi dan pangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain faktor demografi seperti pertambahan jumlah penduduk, laju pertumbuhan penduduk yang
tinggi, besarnya proporsi penduduk usia muda, penyebaran penduduk yang tidak merata,
perubahan susunan penduduk, faktor sosial ekonomi dimana terjadinya peningkatan
kesejahteraan masyarakat, meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi yang secara baik langsung
berpengaruh pada pendapatan keluarga. Selain itu, faktor lain yang berpengaruh pada masalah
gizi dan pangan adalah perkembangan IPTEK dimana terjadinya arus moderenisasi yang
membawa banyak perubahan pada pola hidup masyarakat termasuk pada pola makan. Salah satu
dampak dari arus moderenisasi terhadap pola makan adalah meningkatnya konsumsi lemak.
Tidak heran kalau kita lihat bahwa penyakit jantung koroner cenderung meningkat akhir-akhir
ini.

Gizi dan produktivitas kerja.

Produktifitas kerja pada hakekatnya ditentukan oleh banyak faktor, faktor manusia dan
faktor di luar diri manusia. Faktor manusia dapat dibagi dalam faktor fisik dan faktor non fisik,
sedangkan faktor di luar diri manusia dapat berupa tekno-struktur yang dipakai dalam bekerja,
sistem manajemen perusahaan, dan lain-lain. Upaya perbaikan kesejahteraan tenaga kerja secara
menyeluruh secara jelas dicakup dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, 1988 pada
Kebijaksanaan di bidang perlindungan tenaga kerja yang ditujukan pada perbaikan upah, syarat
kerja, kondisi kerja, hubungan kerja, keselamatan dan kesehatan kerja.
Dalam kesehatan kerja tercakup tiga aspek penting yaitu mengenai kapasitas kerja, beban
kerja dan lingkungan kerja dimana tujuannya adalah agar masyarakat dapat bekerja secara sehat
tanpa membahayakan dirinya. Gizi dalam hati ini merupakan salah satu faktor penentu kapasitas
kerja. Masukan gizi yang cukup kualitas dan kuantitasnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan
dan pembangunan fisik maupun mental. Dari berbagai penelitian yang dilakukan ternyata bahwa
gizi mempunyai kaitan dengan produktifitas kerja. Hal ini terbukti dari hasil-hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa secara umum kurang gizi akan menurunkan daya kerja serta
produktifitas kerja. Dalam melakukan pekerjaannya, perlu disadari bahwa masyarakat pekerja
yang sehat akan bekerja dengan giat, tekun, produktif dan teliti sehingga dapat mencegah
kecelakaan yang mungkin terjadi selama bekerja. Dapat dibayangkan apabila pekerja mengalami
kurang gizi, hal ini paling tidak akan mengurangi konsentrasi bekerja ataupun ketelitiannya
dalam melakukan kerja, kondisi ini tentunya sangat membahayakan keselamatannya apalagi
kalau pekerja tersebut bekerja dengan menggunakan alat-alat yang dalam penggunaannya sangat
membutuhkan konsentrasi dan perhatian yang tinggi karena kalau tidak berhati-hati dapat
menimbulkan kecelakaan.
Berbagai penelitian baik yang dilakukan di luar negeri maupun di Indonesia menunjukkan
bahwa keadaan gizi kurang dapat menghambat aktivitas kerja yang akan menurunkan
produktivitas kerja. Hal ini disebabkan karena kemampuan kerja seseorang sangat dipengaruhi
oleh jumlah energi yang tersedia, dimana energi tersebut diperoleh dari makanan sehari-hari dan
bilamana jumlah makanan sehari-hari tak memenuhi kebutuhan tubuh, maka energi didapat dari
cadangan tubuh (Rachmad Soegih dkk, 1987). Pada dasarnya zat gizi yang dibutuhkan oleh
seseorang sangat ditentukan oleh aktifitas yang dilakukannya sehari-hari.
Makin berat aktifitas yang dilakukan maka kebutuhan zat gizi akan meningkat pula terutama
energi. Dalam hasil penelitiannya Jill dkk. (1987) didapatkan bahwa pekerja pabrik yang
mendapat makanan siang dari kantin pabrik terlihat status gizinya lebih baik dibanding dengan
yang makan siangnya diserahkan pada masing-masing pekerja.
PENUTUP
Kesimpulan

Peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat dibutuhkan guna peningkatan kreatifitas
dan produktifitas kerja. Hal ini dapat dicapai dengan mengadakan perbaikan gizi pekerja. Upaya
perbaikan gizi pekerja berarti meningkatkan kualitas fisik dalam artian peningkatan daya tahan
tubuh, peningkatan kesanggupan kerja juga peningkatan kualitas non fisik seperti kecerdasan,
aspirasi yang tinggi dan peningkatan ketrampilan yang selanjutnya dapat meningkatkan
tingkat pendapatan pekerja. Makin baik status gizi seseorang semakin baik kualitas fisiknya.
Ketahanan dan kemampuan tubuh untuk melakukan pekerjaan dengan produktifitas yang
memadai akan lebih dipunyai oleh individu dengan status gizi baik. Jadi dalam hal ini
pemenuhan gizi dalam tubuh pekerja sangat berpengaruh terhadap hasil pekerjaannya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ari Agung, I Gusti Ayu. Pengaruh Perbaikan Gizi Terhadap Produktivitas Kerja. Patria
Untag.Surabaya.
2. Marsetyo, H dan G. Kartasapoetra. 1991. Ilmu Gizi. Rineka Cipta. Jakarta.
3. Rachmad Soegih, Savitri Sayogo, Erina. 1987. Perbandingan Effek Makan Siang dari Kantin
dan makan Siang Kemasan Khusus pada Pekerja Pabrik. Majalah Kesehatan Masyarakat
Indonesia Tahun XVI No.12. Jakarta.
4. Sri Handajani. 1996. Pangan, Gizi dan Masyarakat. Sebelas Maret University Press. Solo