Anda di halaman 1dari 5

Nama : Elsa Safitri

NIM : 4301415090

1. Mengapa perlu kurikulum?


Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang
diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran
yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan
setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan
lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud
dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk
dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam
kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Kurikulum adalah jantung pendidikan, adanya kurikulum menjadi pondasi suatu
pendidikan. Perubahan kurikulum tahun ke tahun dilakukan oleh pemerintah, hal ini
dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam suatu perkembangan kurikulum,
terdapat beberapa faktor yang menyebabkan suatu kurikulum tersebut perlu dirubah.
Beberapa faktor tersebut adalah:
Adanya perkembangan dan perubahan bangsa yang satu dengan yang lain. Dengan
demikian, perubahan perhatian dan perluaan bentuk pembelajaran harus mendapat
perhatian.
a. Industri dan produksi
b. Orientasi politik dan praktek kenegaraan
c. Pandangan kalangan intelektual yang berubah
d. Pemikiran baru mengenai proses belajar mengajar
e. Eksploitasi ilmu pengetahuan
f. Perubahan dalam masyarakat

2. Apa saja yang harus ada dalam kurikulum?


Kurikulum memiliki beberapa komponen yaitu:
a. Tujuan
Tujuan merupakan komponen penting dalam perkembangan kurikulum
karena sebagai arah semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-
komponen kurikulum lainnya. Sehingga dalam merumuskan tujuan kurikulum
berdasarkan dua hal yaitu perkembangan masyarakat dan falsafah sebuah negara.
Tujuan Kurikulum yang baik memiliki kesesuaian dengan perkembangan
masyarakat, baik tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat, karena salah satu
tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk hidup ditengah-
tengah masyarakat. Sehingga sekolah diibaratkan sebagai miniatur masyarakat
atau masyarakat dalam bentuk mini.
Tujuan kurikulum yang baik memiliki kesesuaian dengan falsafah negara
yaitu pemikiran-pemikiran dan nilai-nilai yang berlaku di sebuah negara. Tujuan
kurikulum Nasional disusun sesuai dengan falsafah negara Indonesia. Tujuan
terbagi menjadi beberapa kategori seperti tujuan khusus dan umum. Tujuan
berkaitan dengan waktu terbagi menjadi tujuan jangka panjang, jangka menengah
dan jangka panjang. Tujuan berkaitan jenjang pendidikan terbagi menjadi tujuan
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Tujuan yang
berhubungan langsung dalam proses pendidikan meliputi tujuan domain kognitif,
domain afektif, dan domain psikomotorik.
b. Isi atau materi
Komponen isi atau materi pembelajaran merupakan materi yang
direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Isi atau
materi yang dimaksud adalah mata pelajaran.
Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan
pasal 6 menjelaskan bahwa Mata pelajaran itu terbagi menjadi kelompok mata
pelajaran yang terdiri dari Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, Kelompok mata
pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, Kelompok mata pelajaran estetika,
dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
c. Proses Pembelajaran
Proses Pembelajar adalah komponen kurikulum ini memiliki peranan
penting dalam pendidikan. Mutu proses pembelajar ditentukan oleh kompetensi
pendidik , yaitu kompetensi pendidik dalam menguasai dan mengaplikasikan
teori-teori psikologi, metode mengajar, dan penggunaan alat pengajaran. Proses
pembelajaran dalam pembahasannya sering terbagi menjadi dua yaitu strategi
pembelajaran dan media pembelajaran . Strategi pembalajaran adalah ca ra yang
dimiliki oleh pendidik dalam proses belajar mengajar. Strategi yang digunakan
dalam mengajar, antara lain reception/exposition learning atau discovery
learning, rote learning atau meaningful learning, dan group learning atau
individual learning .
Media pembelajaran adalah segala macam bentuk rangsangan dan alat yang
disediakan pendidik untuk mendorong peserta didik belajar. Fungsinya sebagai
alat bantu untuk memudahkan dalam menyampaikan isi atau materi kurikulum
agar dapat dipahami dengan mudah oleh peserta didik. Kemampuan pendidik
memilih media yang tetap dapat menentukan kelancaran proses proses
pembelajaran. Media pembelajaran terbagi menjadi lima kelompok,
yaitu interaktif insani, realita, pictorial, simbol tertulis,dan rekaman suara. Pada
perkembanganya, keberadaan alat-alat teknologi dan komunikasi seperti internet,
dan smartphone sering menggantikan peran pendidik. Oleh karena itu,
perkembangan tersebut perlu diantisipasi dengan bijak oleh pakar pendidikan,
sehingga dapat membahasa tugas-tugas apa saja yang dapat digantikan oleh
mesin.
d. Penilaian atau evaluasi
Evaluasi atau penilaian ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan dan menilai proses pelaksanaan pembelajaran secara total.
Evaluasi ini terbagi menjadi evaluasi hasil belajar mengajar yaitu menilai
keberhasilan penguasaan peserta didik atau tujuan-tujuan khusus yang telah
ditentukan, dan evaluasi pelaksanaan mengajar yaitu menilai keseluruhan
pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi komponen tujuan mengajar,
bahan mengajar, strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi
mengajar sendiri.
3. Apa makna Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan silabus
a. Kompetensi Inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi
Lulusan yang harus dimiliki oleh peserta didik pada setiap tingkat, kelas atau
program.
b. Kompetensi dasar adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang
harus diperoleh oleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi Dasar
adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan
ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta
didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik
peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.
c. Istilah Silabus dapat didefinisikan sebagai “garis besar, ringkasan, atau pokok-
pokok isi atau materi pelajaran”. Silabus digunakan untuk menyebut suatu produk
pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standart kompetensi
dan kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi
yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai standart kompetensi dan kemampuan
dasar. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran
dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
4. Mengapa model pembelajaran harus saintifik?
Kata Saintifik berasal dari kata dasar “Science” dan berasal dari bahasa Latin
“scientia,” yang berarti pengetahuan. Menurut Webster New Collegiate Dictionary,
definisi science adalah pengetahuan yang diperoleh melalui studi atau praktek, atau
pengetahuan meliputi kebenaran umum yang dilandasi beberapa aturan umum, yang
diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah dan berkaitan dengan alam. Elemen dasar
dari ilmu pengetahuan adalah bagaimana mengetahui dan menjelaskan tentang alam
ini. Menurut Bybee (2006: 2-3) bahwa pengetahuan ilmiah harus didasarkan oleh
pengamatan dan data eksperimen, artinya bahwa penjelasan tentang fenomena yang
terjadi harus dibuktikan dengan data empiris. Beberapa literatur menjelaskan bahwa
ilmu pengetahuan dimulai dengan pengamatan, selanjutnya berdasarkan pengamatan
mereka menyatakan hipotesis, biasanya dinyatakan dengan bentuk proposisi
“jika…maka…” artinya hipotesis tersebut memiliki kualitas prediksi yang bisa
dikonfirmasi melalui pengamatan lebih lanjut melalui eksperimentasi. Jika
pengamatan atau percobaan mengkonfirmasi prediksi, hipotesis bertahan dan
investigasi terus berlanjut. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa tidak ada
kesepakatan umum tentang metode atau cara para ilmuwan melakukannya, namun
sebuah metode ilmiah perpegang pada hukum bahwa pemerolehan pengetahuan
ilmiah harus logis, obyektif, dan imparsial. Mereka juga sepakat bahwa dalam
menjelaskan dan memahami fenomena, menggunakan penalaran, data empiris,
menghindari prasangka, dan menyajikan penjelasan sebagai proses ilmiah.
Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifik/ilmiah,
selain dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan
keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna
menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Artinya, dalam proses
pembelajaran, siswa dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah,
bukan diajak untuk beropini apalagi fitnah dalam melihat suatu fenomena. Mereka
dilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan sistematis, dengan menggunakan
kapasistas berfikir tingkat tinggi (High Order Thingking/HOT). Combie White (1997)
dalam bukunya yang berjudul “Curriculum Innovation; A Celebration of Classroom
Practice” telah mengingatkan kita tentang pentingnya membelajarkan para siswa
tentang fakta-fakta. “Tidak ada yang lebih penting, selain fakta“, demikian
ungkapnya.

Bybee, R. W. (2006). Scientific Inquiry And Nature Of Science: Implications for Teaching,
Learning, and Teacher Education, ed. Flick Lawrence B. and Lederman Norman G. Springer,
Netherland.