Anda di halaman 1dari 16

A.

Konsep Teori Leukemia


1. Definisi
Leukemia adalah penyakit ganas, progresif pada organ-organ pembentuk
darah yang ditandai dengan ploriferasi dan perkembangan leukosit serta
pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang (Ramadi,
2005). Sedangkan menurut Setiawan (2005), Leukemia adalah penyakit yang
ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah.
Sel- sel abnormal ini menyebabkan timbulnya gejala karena :
a. Kegagalan sumsum tulang (anemia, netropenia, trombositopenia)
b. Infiltrasi organ ( hati, limpa, kelenjar getah bening)

2. Epidemiologi
Pada tahun 2016, di AS diperkirakan ada sekitar 8.220 kasus baru leukemia
mieloid kronik dan sekitar 1.070 orang meninggal karena penyakit tersebut. Usia
median saat didiagnosis leukemia mieloid kronik 55-60 tahun, penyakit ini
terutama dijumpai pada orang dewasa. Di Indonesia median usia saat didiagnosis
leukemia mieloid kronik adalah 34-35 tahun. Leukemia mieloid kronik dijumpai
sekitar 15% dari semua leukemia dan 7-20% dari leukemia pada dewasa.Pria
sedikit lebih sering dibandingkan wanita (1,3-2,2 : 1).

3. Etiologi
Penyebab sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui, tetapi ada beberapa
faktor risiko leukemia diantaranya:
a. Faktor Genetik
Anak-anak dengan down’s syndrome memiliki risiko 10-20 kali lipat
mengalami leukemia dari pada anak-anak normal. Terdapat pula penyakit turunan
lainnya seperti Fanconi’s anemia dan Bloom syndrome, yang ditandai dengan
dengan ketidakstabilan genetik dan ketidakmampuan memperbaiki kerusakan
DNA yang berhubungan dengan meningkatnya risiko leukemia.

b. Bahan Kimia
Paparan jangka panjang terhadap benzene dapat mengakibatkan leukemia
akut. Paparan jangka panjang terhadap herbisida, pestisida dan bahan kimia
pertanian lain, berhubungan dengan meningkatnya risiko leukemia. Banyak
pewarna rambut yang mengandung bahan kimia yang menyebabkan kanker dan
berhuhungan dengan leukemia, terutama dalam jangka panjang.
c. Merokok
Menghisap rokok dapat menyebabkan leukemia, terlebih bila mengandung
senyawa penyebab leukemia seperti benzene. Merokok pada usia remaja
menyebabkan peningkatan yang relative tidak terlalu besar berkembangnya
leukemia. Tapi, pada orang di atas usia 60 tahun merokok meningkatkan risiko
dua kali lipat berkembangnya LGA/LMA dan tiga kali lipat LLA.
d. Virus
Acute T cell leukemia berhubungan dengan infeksi oleh human T cell
leukemia virus (HTLV); human lymphotrophic virus-1 penyebab leukemia pada
manusia. Pada pasien yang terinfeksi, protein HTLV melekat pada protein
lymphocytes yang bertanggung jawab dalam mengatur pertumbuhan sel. Jika
HLTV melekat, maka dia mengganggu pertumbuhan sel normal dan mengkorup
fungsinya. Leukemia ini jarang terjadi di Amerika Serikat. Umumnya terjadi di
Asia dan sebagian Karibia.

4. Klasifikasi Leukemia
4.1 Leukemia Akut
Leukemia akut merupakan suatu penyakit yang serius, berkembang dengan
cepat, dan apabila tidak diterapi dapat menyebabkan kematian dalam beberapa
minggu atau bulan. Leukemia akut dapat mempengaruhi jalan perkembangan sel
limfoid akut atau jalur perkembangan sel mieloid akut.
4.1.1. Leukemia Limfositik Akut
LLA adalah keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Lebih dari 80 %
kasus, sel-sel ganas berasal sari limfosit B, dan sisanya merupakan leukemia sel T.
LLA terjadi pada 80% kasus leukemia akut anak- anak. Insidensi puncak LLA
adalah pada umur 3-7 tahun. LLA juga dapat tampak pada orang dewasa,
menyebabkan sekitar 20 % leukemia akut dewasa.
Tanpa pengobatan rata-rata hidup penderita LLA 3-6 bulan. Dengan
pengobatan rata-rata hidup penderita LLA yang berumur di bawah 2 tahun dan
50% penderita LLA yang berumur antara 2-10 tahun rata-rata hidup 2-10 tahun.
Menurut Djajadiman (2001) sekitar 60-70 % dari 100 anak yang menderita LLA
dapat disembuhkan dengan pengobatan kemoterapi.
4.1.2. Leukemia Granulostik/Mielositik Akut
LGA/LMA adalah suatu penyakit yang ditandai dengan transformasi
neoplastik dan gangguan differensiasi sel-sel progenitor dari sel myeloid. Pada
LGA/LMA terjadi proliferasi dari salah satu unsur sel yang memproduksi sel
darah yang ganas. Sel yang ganas tersebut menginfiltrasi sumsum tulang dengan
menyebabkan kegagalan fungsi tulang normal dalam proses hematopoetik normal.
Dengan pengobatan angka remisi (waktu berkurangnya gejala penyakit ) penderita
LGA/LMA mencapai 50- 75 %, tetapi angka rata-rata hidup masih 2 tahun dan
yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya 10 %. Pada saat ini 50 % anak-anak
dan kira-kira 35 % orang dewasa muda disembuhkan dengan kemoterapi intensif.
Jika tidak ada pengobatan, penderita LGA/LMA meninggal kira-kira 3-6 bulan.

4.2 Leukemia Kronis


Leukemia kronik ditandai dengan keberadaan jumlah leukosit darah tepi yang
sangat tinggi. Sel-sel ini adalah sel matur. Leukemia kronis biasanya memiliki
awitan samar dan lagi perkembangan yang lambat. Sebagian pasien mengalami
perkembangan yang lambat dan pembesaran organ yang infiltrasi oleh sel-sel
leukemia.
4.2.1. Leukemia Granulostik/Mielositik Kronis
LGK/LMK adalah golongan penyakit mieloproliferatif, yang ditandai oleh
proliferasi dari seri granulosit tanpa gangguan diferensiasi. Pada pemeriksaan
laboratorium ditemukan leukosit lebih dari 50.000/mm. Pada pemeriksaan
sumsum tulang didapatkan keadaan hiperseluler dengan peningkatan jumlah
megakariosit dan granulokoesis. Jumlah granulosit umumnya lebih dari 30.000/
mm3. Pada 85 % kasus terhadap kelainan kromosom yang disebut kromosom
philadelpia. Limfa membesar pada 90 % kasus sehingga mengakibatkan perasaan
penuh pada abdomen dan mudah merasa kenyang atau perut membesar.
Sebagian besar penderita LGK/ LMK akan meninggal setelah memasuki
fase akhir yang disebut krisis blastik, yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit,
biasanya berupa mieloblas atau promielosit disertai produksi neutrofil, trombosit,
dan sel eritrosit yang amat kurang. Dengan pengobatan rata-rata hidup penderita
LGK/LMK adalah 3-5 tahun
4.2.2. Leukemia Limfositik Kronis
LLK adalah suatu keganasan hematologik yang ditandai oleh proliferasi
klonal dan penumpukan limfosit B neoplastik dalam darah, sumsum tulang,
limfonodi, limfa dan organ-organ lain. LLK berbeda dari leukemia yang lain
yaitu bahwa penyakit ini biasanya berjalan secara indolen ( lambat ) selama
bertahun-tahun. Penyakit ini hampir selalu dijumpai pada orang dewasa berusia
lebih dari 40 tahun.
Pemeriksaan darah tepi menunjukkan limfositosis lebih dari 50.000/mm.
Pada sumsum tulang didapatkan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil, yaitu
lebih dari 40 % dari total sel yang berinti. Terjadi pada manula dengan
limfodenopati generalisata dan peningkatan jumlah leukosit disertai limfositosis.
Perjalanan penyakit biasanya jinak dan indikasi pengobatan adalah hanya jika
timbul gejala.

5. Patofisiologi
Penyakit leukemia ditandai oleh adanya proliferasi tak terkendali dari satu
atau beberapa jenis sel darah. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pada
kromosom sel induk sistem hemopoetik. Sel sistem hemopoetik adalah sel yang
terus menerus berproliferasi, karena itu sel ini lebih potensial untuk
bcrtransformasi menjadi sel ganas dan lebih peka terhadap obat toksik seperti
sitostatika dan radiasi. Penelitian morfologik menunjukkan bahwa pada Leukemia
Limfositik Akut (LLA) terjadi hambatan diferensiasi dan sel limfoblas yang
neoplastik memperlihatkan waktu generasi yang memanjang, bukan memendek.
Oleh karena itu, akumulasi sel blas terjadi akibat ekspansi klonal dan kegagalan
pematangan progeni menjadi sel matur fungsional. Akibat penumpukan sel blas di
sumsum tulang, sel bakal hemopoetik mengalami tekanan (sudoyo, 2007)
Kelainan paling mendasar dalam proses terjadinya keganasan adalah kelainan
genetik sel. Proses transformasi menjadi sel ganas dimulai saat DNA gen suatu sel
mengalami perubahan. Akibat proliferasi sel yang tidak terkendali ini tcrjadi
kenaikan kadar satu atau beberapa jenis sel darah dan penghambatan
pembentukan sel darah lainnya dengan akibat terjadinya anemia, trombositopenia
dan granulositopenia.
Perubahan kromosom yang terjadi merupakan tahap awal onkogenesis dan
prosesnya sangat kompleks, melibatkan faktor intrinsik (host) dan ekstrinsik
(lingkungan).
Leukemia diduga mulai sebagai suatu proliferasi local dari sel neoplastik,
timbul dalam sumsum tulang dan limfe noduli (dimana limfosit terutama
dibentuk) atau dalam lien, hepar dan tymus. Sel neoplastik ini kemudian
disebarkan melalui aliran darah yang kemudian tersangkut dalam jaringan
pembentuk darah dimana terus terjadi aktifitas proliferasi, menginfiltrasi banyak
jaringan tubuh, misalnya tulang dan ginjal. Gambaran darah menunjukan sel yang
inmatur. Lebih sering limfosit dan kadang-kadang mieloblast. Normalnya tulang
marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya
proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan
menimbulkan anemia dan trombositipenia (Aguayo dkk, 2006)
Adanya priliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga
menimbulkan anemia dan trombositopenia. System etikuloendotelial akan
terpengaruh dan menyebabkan gangguan system pertahanan tubuh dan mudah
mengalami infeksi (Aguayo dkk, 2006).
Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi
organ, system syaraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi
sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan leukosit, eritrosit, faktor
pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan (Aguayo dkk, 2006).

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Gejala yang terlihat pada darah tepi berdasarkan pada kelainan sumsum tulang
berupa pansitopenia, limfositosis yang kadang-kadang menyebabkan gambaran
darah tepi menoton dan terdapat sel blas. Terdapatnya sel blas dalam darah tepi
merupakan gajala patognomik untuk leukemia.kolesterol mungkin rendah, asam
urat dapat meningkat , hipogamaglobinea. Dari pemeriksaan sumsum tulang akan
ditemukan gambaran yang menoton, yaitu hanya terdiri dari sel limfopoietik
patologis sedangkan sistem lain terdesak (aplasia sekunder). Pada LMA selain
gambaran yang menoton, terlihat pula adanya hiatus leukemia ialah keadaan yang
memperlihatkan banyak sel blas (mieloblas), beberapa sel tua (segmen) dan
sangat kurang bentuk pematangan sel yang berada di antaranya (promielosit,
mielosit, metamielosit dan sel batang).

b. Biopsi Limpa
Pemeriksaan ini memperlihatkan proliferase sel leukemia dan sel yang berasal
dari jaringan limpa yang terdesak, seperti limfosit normal, RES, granulosit, dan
pulp cell.

c. Pungsi Sumsum Tulang


Pungsi sumsum tulang merupakan pengambilan sedikit cairan sumsum tulang,
yang bertujuan untuk penilaian terhadap simpanan zat besi, mendapatkan
spesimen untuk pemeriksaan bakteriovirologis (biakan mikrobiologi), untuk
diagnosa sitomorfologi/ evaluasi produk pematangan sel asal darah. Tempat yang
biasanya digunakan aspirasi untuk pungsi sumsum tulang adalah spina iliaka
posterior superior (SIPS), krista iliaka, spina iliaka anterior superior (SIAS),
sternum di antara iga ke-2 dan ke-3 midsternal atau sedikit di kanannya (jangan
lebih dari 1 cm), spina dorsalis/prosesus spinosus vertebra lumbalis.

d. Cairan Serebrospinal
Bila terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein,berarti suatu
leukemia meningeal. Kelainan ini dapat terjadi setiap saat pada perjalanan
penyakit baik dalam keadaan remisi maupun keadaan kambuh. Untuk
mencegahnya diberikan metotreksat (MTX) secara intratekal secara rutin pada
setiap pasien baru atau pasien yang menunjukkan gejala tekanan intrakranial
meninggi.
Untuk menentukan pengobatannya harus diketahui jenis kelainan yang
ditemukan. Pada leukemia biasanya didapatkan dari hasil darah tepi berupa
limfositosis lebih dari 80% atau terdapat sel blas. Juga diperlukan pemeriksaan
dari sumsum tulang dengan menggunakan mikroskop elektron akan terlihat
adanya sel patologis.
7. Penatalaksanaan
a. Penetalaksanaan Medis
1) Transfusi darah, biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6g%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi
trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin
2) Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah
dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
3) Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6-merkaptopurin atau 6-mp,
metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih
poten seperti vinkristin (Oncovin), rubidomisin (daunorubycine) dan
berbagai nama obat lainnya. Umumnya sitostatika diberikan dalam
kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini
sering terdapat efek samping berupa alopesia (botak), stomatitis, leukopenia,
infeksi sekunder atau kandidiasis. Bila jumlah leukosit kurang dari
2000/mm3 pemberiannya harus hati-hati.
4) Imunoterapi, merupakan cara pengobatan terbaru. Setelah tercapai remisi
dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai
diberikan (mengenai cara pengobatan yang terbaru masih dalam
pengembangan).

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan umumnya sama dengan pasien lain
yang menderita penyakit darah. Tetapi karena prognosis pasien pada umumnya
kurang menggembirakan (sama seperti pasien kanker lainnya) maka pendekatan
psikososial harus diutamakan. Yang perlu diusahakan ialah ruangan yang aseptik
dan cara bekerja yang aseptik pula. Sikap perawat yang ramah dan lembut
diharapkan tidak hanya untuk pasien saja tetapi juga pada keluarga yang dalam
hal ini sangat peka perasaannya jika mengetahui penyakit anaknya atau
keluarganya.
Beberapa cara yang bisa kita anjurkan adalah hindari menyikat gigi terlalu
keras, karena bulu sikat gigi dapat mencederai gusi. Menyarankan klien supaya
berhati-hati ketika berjalan di lantai yang licin seperti kamar mandi agar tidak
jatuh. Memberikan klien dan keluarganya pendidikan kesehatan bagaimana cara
mengatasi perdarahan hidung, misalnya dibendung dengan kapas atau perban,
posisi kepala menengadah.
Untuk menangani infeksi klien harus menjaga kebersihan diri, seperti mencuci
tangan, mandi 3x sehari. Menganjurkan keluarga klien untuk menjaga keersihan
diri mereka, membatasi jumlah pengunjung karena dikhawatirkan dapat
menularkan penyaki-penyakit seperti flu dan batuk. Menciptakan lingkungan yang
bersih dan jika perlu pertahankan tehnik isolasi.
B. Clinical Pathway

Virus (Enzyme Retrovirus Transcriptase) Genetik Sinar Radioaktif

Kelainan Kromosom 21 Perubahan Ionisasi Sumsum


Invasi ke Sumsum (Syndroma Down) Tulang Belakang
Tulang

Leukemia

Proliferasi Sel Darah Putih


Immatur

Imunosupresi Sumsung Tulang Hematopiosis Eritrosit, Neutrofil & Trombosit

Nyeri Eritroprnia Neutropenia Trombositopenia Kelelahan

Intoleransi
Hemoglobin Pertahanan Imunitas Pendarahan
Aktivitas

Sirkulasi O2 Dalam Darah Risiko Infeksi Risiko


Hipovolemia
Gangguan perfusi jaringan
perifer
C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama: mengetahui identitas klien
Umur dan tanggal lahir: sering terjadi pada usia anak-anak.
Jenis kelamin: bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan
b. Keluhan utama : pucat, atau perdarahan
c. Riwayat penyakit sekarang: Informasi yang dapat diperoleh meliputi informasi
mengenai timbulnya gejala seperti terdapat ruam ptekie, pucat ataupun terjadi
perdarahan.
d. Riwayat penyakit dahulu : pasien sering mengalami perdarahan karena terjadi
penurunan trombosit
e. Riwayat penyakit keluarga : keluarga pasien memiliki riwayat penyakit
leukemia
f. Pemeriksaan Fisik :
B1 (Breath) : terjadi peningkatan respirasi rate.
B2 (Blood) : Nadi 120x/menit, CRT > 2detik, anemia, trombositopenia ,
netropenia
B3 (Brain) : Composmentis, tidak terjadi defisit neurologis
B4 (Bladder) : berkemih dengan normal
B5 (Bowel) : abdomen
I: tampak normal, datar
A: terdengar bising usus dengan intensitas normal (5x/menit)
P: turgor kulit normal
P: timpani, tidak ada distensi abdomen
B6 (Bone) : terdapat nyeri tulang dan sendi

1. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan infiltrasi leukosit ke jaringan
sistemik
b. Resiko Infeksi berhubungan dengan menurunnya daya tahan
tubuh yang berkaitan dengan neutropenia/ menurunnya sistem imun
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan secara
menyeluruh akibat anemia
3 Rencana Tindakan Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC


1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada a. Kaji karakteristik nyeri : lokasi, kualitas, frekuensi,
dengan infiltrasi leukosit klien nyeri akan berkurang. Kriteria Hasil : dan durasi.
ke jaringan sistemik Rasional : Memberikan dasar untuk mengkaji
1) Menyatakan nyeri
perubahan pada tingkat nyeri dan mengevaluasi
berkurang dengan indikator 1-3 (tidak
intervensi.
ada, ringan, sedang )
b. Berikan terapi analgetik sesuai dengan instruksi
2) Ekspresi wajah tenang.
dokter. Lakukan penilaian respon pasien terhadap
3) Tidak ada petunjuk non
pemberian analgetik
verbal tentang nyeri
Rasional : analgetik merupakan agen farmakologi
4) HR 60-100x/mnt, RR
yang berfungsi mengurangi rasa nyeri, analgetik
16-24x/mnt, TD 120/80mmHg.
cenderung lebih efektif ketika diberikan secara dini
5) Menerima medikasi
pada siklus nyeri, respon pasien memberikan
nyeri sesuai yang diresepkan
informasi tambahan tentang nyeri klien.
6) Mengambil peran aktif
c. Berikan dukungan emosional dan menentramkan
dalam pemberian analgetik.
kekuatiaran pasien.
7) Skala nyeri 1-3 (tidak
Rasional : mengurangi ketakutan dan ansietas
ada, ringan, sedang )
akibat penyakit yang di derita. Ketakutan dan
ansietas akan meningkatkan persepsi nyeri.
d. Gunakan metode distraksi seperti relaksasi, teknik
pernapsan dalam, mendengarkan musik, dan
imajinasi.
Raional : teknik pengalihan perhatian atau distraksi
dapat membuat mengurangi nyeri yang dirasakan
pasien karena pasien tidak fokus terhadap nyeri
yang dialaminya
2. Resiko Infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan pada 1) Pantau tanda / gejala infeksi
berhubungan dengan
klien, klien akan terbebas dari gejala infeksi. (misalnya suhu tubuh, denyut jantung,
menurunnya daya tahan
tubuh yang berkaitan Kriteria Hasil: pembuangan, penampilan luka, sekresi,
dengan neutropenia/
penampilan urin, suhu kulit, lesi kulit, keletihan
menurunnya sistem imun 1) Faktor resiko akan
dan malaise, nilai leukosit).
hilang ditunjukkan dengan status imun
Rasional : memberikan dasar untuk mengkaji
pasien
perubahan jika terjadi kemungkinan infeksi
2) Pasien menunjukkan
2) Kaji faktor yang meningkatkan
pengendalian resiko, dibuktikan dengan
serangan infeksi (misalnya: usia lanjut, tanggap
indikator berikut ini (antara 1-3: tidak
imun rendah, malnutrisi).
pernah, jarang, kadang-kadang,).
Rasional : untuk menentukan intervensi
3) Mengindikasi status
gastrointestinal, pernapasan, selanjutnya
genitourinaria, dan imum dalam batas 3) Instruksikan untuk menjaga
normal. higiene pribadi untuk melindungi tubuh terhadap
4) Menunjukkan higiene infeksi baik pada pasien maupun keluarga.
pribadi yang adekuat. Rasional : higiene pribadi dapat melindungi tubuh
5) Leukosit 4000 - untuk meminimalkan pajanan pada organisme
11.000/L, Neutrofil : 150-300/L infektif.
6) Suhu 36-37oC 4) Berikan terapi antibiotik bila
diperlukan sesuai dengan instruksi dokter.
Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau
mengobati infeksi khusus
5) Pertahankan teknik isolasi, bila
diperlukan.
Rasional : ruangan yang terisolasi dapat
meminimalkan terpaparnya pasien dari sumber
infeksi.
6) Lindungi pasien dari
kontaminasi silang dengan tidak menugaskan
perawat yang sama untuk setiap pasien infeksi dan
memisahkan pasien infeksi dalam kamar yang
berbeda.
Rasional : kontaminasi silang dapat memperbesar
resiko infeksi pada klien.
3. Intoleransi aktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan pada 1) Kaji Tanda-tanda Vital
berhubungan dengan klien, terjadi peningkatan toleransi aktifitas. serta pantau respons kardiorespirasi terhadap
kelemahan secara Kriteria Hasil: aktivitas (misalnya, takikardia, disaritmia lain,
menyeluruh akibat dispnea, diaforesis, pucat, tekanan, hemodinamik,
1) Mentolenrasi
anemia dan frekuensi respirasi) pasien dan kadar Hb dalam
aktivitas yang biasa dilakukan dan
darah.
ditunjukan dengan daya tahan,
Rasional : memberikan dasar untuk menentukan
penghematan energi, dan perawatan diri :
intervensi serta tingkat kemampuan klien
Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKSI).
2) Evaluasi laporan
2) Menunjukkan
kelemahan, perhatikan kemampuan untuk
penghematan energi, ditandai dengan
berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari.
indikator 1-5 (tidak sama sekali, ringan,
Rasional : menentukan derajat dan efek
sedang, berat, atau sangat berat),
ketidakmampuan.
menyadari keterbatasan energi,
3) Berikan lingkungan
menyeimbangkan aktivitas dan istirahat.
tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan.
3) Mengungkapkan
secara verbal pemahaman tentang Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan
kebutuhan oksigen, pengobatan, dan/atau regenerasi seluler atau penyambungan jaringan.
peralatan yang dapat meningkatkan 4) Pantau asupan nutrisi
toleransi terhadap aktivitas. untuk memastikan keadekuatan sumber-sumber
4) Istirahat jika energi serta berikan masukan protein dan kalori
mengalami keletihan yang adekuat.
5) Melaporkan Rasional : nutrisi kalori dan proten yang cukup
tingkat keletihan dapat membantu mengembalikan energi yang
hilang dan meningkatkan toleransi aktivitas.
5) Ajarkan pengaturan
aktivitas dan teknik menajemen waktu untuk
mencegah kelelahan.
Rasional : pengaturan aktivitas dan menejemen
waktu dapat mengatur penggunaan energi sehingga
dapat mencegah kelelahan
DAFTAR PUSTAKA

Aguayo, Bieker, Podar, Greaves, Espositon, Felix, etc. Management of Surgical


Injury and Critical Gynecology. Ethical Digest. 2006; 26: 54-59.

Berg SL, Steuber CP, Poplack DG. Clinical Manifestation of Acute Lymphoblastic
Leukemia. In Hoffman ed: Hematology: Basic Principles and Practice 3rd
ed. Churchill Livingstone Inc. 2000, pp 1070-76.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 2007. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya,
Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Long, B.C., 2006. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Soeparman. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta

Sudoyo et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan IPD FK
UI, 2007.