Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN PUSTAKA

‘OSTEOARTHRITIS’

Pembimbing :
dr. Sumono Handoyo, Sp. OT, FICS

Disusun Oleh :
Karel Respati (2011730144)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSIJ PONDOK KOPI JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan berkat
rahmat dan hidayah-Nya, penulisan tinjauan pustaka yang berjudul
“Osteoarthtritis” dapat diselesaikan. Shalawat dan salam penulis haturkan
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari alam
kegelapan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Adapun tinjauan pustaka ini diajukan sebagai salah satu tugas dalam
menjalani Kepaniteraan pada Bagian Kepaniteraan Ilmu Bedah Universitas
Muhammadiyah Jakarta.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Sumono Handoyo, Sp. OT,
FICS yang telah bersedia meluangkan waktu membimbing penulis untuk
penulisan tugas ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para sahabat
dan rekan-rekan yang telah memberikan dorongan moril dan materil sehingga
tugas ini dapat selesai.

Jakarta, Juli 2018


Wassalam,

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................i
KATA PENGANTAR..................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
BAB I ...........................................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................5


2.1 Definisi Osteoarthritis..........................................................................................5
2.2 Etiologi....................................................................................................................5
2.3 Klasifikasi...............................................................................................................5
2.4 Epidemiologi...........................................................................................................6
2.5 Patogenesis..............................................................................................................6
2.6 Tanda dan Gejala klinis...........................................................................................7
2.7 Klasifikasi...............................................................................................................9
2.8 Diagnosis...............................................................................................................10
2.9 Penatalaksanaan....................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Osteoarthritis (OA) merupakan salah satu penyakit muskoskeletal yang paling
sering terjadi pada manusia dan menyerang sendi lutut yang menyebabkan
keterbatasan dari fungsi sendi dan dapat mengurangi kualitas hidup penderita.
Angka kejadian osteoarthritis dikalangan masyarakat sangatlah tinggi dan terus
mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia seseorang.1
Menurut British Orthopaedic Assosiation insidensi osteoarthritis pada usia 50
tahun adalah sebesar 20 % dan meningkat pada usian 80 tahun menjadi 40 %,
sedangkan di Amerika sebanyak 240 orang dari 100.000 orang menderita
osteoarthritis dan di Indonesia Prevalensi osteoarhtritis lutut secara radiologis
mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. sedangkan berdasarkan riset yang
dilakukan oleh Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2007 mencapai
30,3% dan Aceh merupakan salah satu provinsi dari 11 provinsi yang mempunyai
prevalensi penyakit sendi diatas angka nasional. Osteoartritis merupakan penyakit
sendi yang paling sering terjadi dibandingkan semua penyakit sendi lainnya.2,3
Untuk mencegah terjadinya kecacatan pada penderita osteoarthritis, diperlukan
penegakan diagnosis secara dini dan penentuan derajat berat osterorthritis secara
akurat, namun penilaian derajat beratnya osteorthritis saat ini masih belum objektif
karena sangat tergantung keahlian dan pengalaman radiologis. Penegakan diagnosis
osteoarthritis sering terlambat dimana saat diagnosis osteoarthritis ditegakkan pasien
telah berada pada stadium lanjut dikarena keterbatasan kemampuan radiografi dan
pemerikasaan fisik dalam mendeteksi kerusakan sendi pada stadium awal. Keadaan
ini berimplikasi pada kegagalan yang lebih tinggi dalam mencegah disabilitas pada
penderita osteoarthritis.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4
2.1 Definisi Osteoarthritis
Osteoarthritis merupakan gangguan pada satu sendi atau lebih, bersifat lokal,
progresif dan degeneratif yang ditandai dengan perubahan patologis pada struktur
sendi tersebut yaitu berupa degenerasi tulang rawan/kartilago hialin. Hal
tersebut disertai dengan peningkatan ketebalan dan sklerosis dari subchondral
yang bisa disebabkan oleh pertumbuhan osteofit pada tepian sendi,
peregangan kapsul artikular, synovitis ringan pada persendian, dan lemahnya otot-
otot yang menghubungkan persendian.5

2.2 Etiologi
Etiologi osteoarthritis belum diketahui secara pasti, namun faktor
biomekanik dan biokimia sepertinya merupakan faktor terpenting dalam proses
terjadinya osteoarthritis. Faktor biomekanik yaitu kegagalan mekanisme
protektif, antara lain kapsul sendi, ligamen, otot-otot persendian, serabut aferen,
dan tulang-tulang. Kerusakan sendi terjadi multifaktorial, yaitu akibat
terganggunya faktor-faktor protektif tersebut. Osteoarthritis juga bisa terjadi
akibat komplikasi dari penyakit lain seperti gout, rheumatoid arthritis, dan
sebagainya. 5

2.3 Klasifikasi
Menurut penyebabnya osteoarthritis dikategorikan menjadi7 :
a. Osteoarhritis primer adalah degeneratif artikular sendi yang terjadi pada sendi tanpa adanya
abnormalitas lain pada tubuh. Penyakit ini sering menyerang sendi penahan beban tubuh
(weight bearing joint), atau tekanan yang normal pada sendi dan kerusakkan akibatproses
penuaan. Paling sering terjadi pada sendi lutut dan sendi panggul, tapi ini juga ditemukan
pada sendi lumbal, sendi jari tangan, dan jari pada kaki
b. Osteoarthritis sekunder, paling sering terjadi pada trauma atau terjadi akibat dari suatu
pekerjaan, atau dapat pula terjadi pada kongenital dan adanya penyakit sistem sistemik.
Osteoarthritis sekunder biasanya terjadi pada umur yang lebih awal daripada osteoarthritis
primer.

2.4 Epidemiologi
Penyakit ini memiliki prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada orang
tua. Prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Di Amerika Serikat,

5
prevalensi osteoartritis pada populasi dengan usia di atas 65 tahun mencapai 80%
dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2020. OA terjadi pada 13,9%
orang dewasa berusia lebih dari 25 tahun dan 33,6% dari mereka yang berusia
lebih dari 65 tahun. Prevalensi sendi yang terkena OA menurut temuan
radiologis adalah pada tangan 7,3%, kaki 2,3%, lutut 0,9%, dan panggul 1,5%.
Prevalensi OA menurut gejala yang ditemui yaitu pada tangan 8%, kaki 2%,
lutut 12,1% pada orang dewasa berusia lebih dari 60 tahun dan 16% pada orang
dewasa berusi 45 – 60 tahun, dan panggul 4,4%.
Angka kematian yang diakibatkan osteoarthritis adalah sekitar 0,2 hingga
0,3 kematian per 100.000 (1979-1988). Angka kematian akibat OA sekitar 6% dari
semua kematian akibat arthritis. Hampir 500 kematian per tahun disebabkan OA
dan angka tersebut meningkat selama 10 tahun terakhir6.7.

2.5 Patogenesis
Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari proses penuaan dan tidak
dapat dihindari. Namun telah diketahui bahwa OA merupakan gangguan
keseimbangan dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur yang
penyebabnya masih belum jelas diketahui. Kerusakan tersebut diawali oleh
kegagalan mekanisme perlindungan sendi serta diikuti oleh beberapa mekanisme lain
sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera.
Pada Osteoarthritis terjadi perubahan-perubahan metabolisme tulang rawan sendi.
Perubahan tersebut berupa peningkatan aktifitas enzim-enzim yang merusak makromolekul matriks
tulang rawan sendi, disertai penurunan sintesis proteoglikan dan kolagen. Hal ini menyebabkan
penurunan kadar proteoglikan, perubahan sifat-sifat kolagen dan berkurangnya kadar air tulang
rawan sendi. Pada proses degenerasi dari kartilago artikular menghasilkan suatu substansi atau zat
yang dapat menimbulkan suatu reaksi inflamasi yang merangsang makrofag untuk menhasilkan
IL-1 yang akan meningkatkan enzim proteolitik untuk degradasi matriks ekstraseluler.
Gambaran utama pada Osteoarthritis adalah :
1. Dektruksi kartilago yang progresif
2. Terbentuknya kista subartikular
3. Sklerosis yang mengelilingi tulang
4. Terbentuknya osteofit
5. Adanya fibrosis kapsul
Patologik pada OA ditandai oleh kapsul sendi yang menebal dan mengalami
fibrosis serta distorsi. Pada rawan sendi pasien OA juga terjadi proses peningkatan

6
aktivitas fibrinogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini menyebabkan
terjadinya penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah subkondral
yang menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan subkondral tersebut. Ini
mengakibatkan dilepaskannya mediator kimiawi seperti prostaglandin dan
interleukin yang selanjutnya menimbulkan bone angina lewat subkondral yang
diketahui mengandung ujung saraf sensibel yang dapat menghantarkan rasa sakit8.
Penyebab rasa sakit itu dapat juga berupa akibat dari dilepasnya mediator
kimiawi seperti kinin dan prostaglandin yang menyebabkan radang sendi,
peregangan tendon atau ligamentum serta spasmus otot-otot ekstraartikuler akibat
kerja yang berlebihan. Sakit pada sendi juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang
menekan periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medulla spinalis serta
kenaikan tekanan vena intrameduler akibat stasis vena intrameduler karena proses
remodelling pada trabekula dan subkondral.
Sinovium mengalami keradangan dan akan memicu terjadinya efusi serta
proses keradangan kronik sendi yang terkena. Permukaan rawan sendi akan retak dan
terjadi fibrilasi serta fisura yang lama-kelamaan akan menipis dan tampak
kehilangan rawan sendi fokal. Selanjutnya akan tampak respon dari tulang
subkhondral berupa penebalan tulang, sklerotik dan pembentukkan kista. Pada ujung
tulang dapat dijumpai pembentukan osteofit serta penebalan jaringan ikat sekitarnya.
Oleh sebab itu pembesaran tepi tulang ini memberikan gambaran seolah persendian
yang terkena itu bengkak6,8.

2.6 Tanda dan Gejala Klinis


Pada umumnya, pasien OA mengatakan bahwa keluhan-keluhan yang
dirasakannya telah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan Berikut
adalah keluhan yang dapat dijumpai pada pasien OA :
a. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama pasien. Nyeri biasanya bertambah
dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan dan
tertentu terkadang dapat menimbulkan rasa nyeri yang melebihi gerakan lain.
Perubahan ini dapat ditemukan meski OA masih tergolong dini ( secara radiologis).
Umumnya bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya
bias digoyangkan dan menjadi kontraktur, Hambatan gerak dapat konsentris
( seluruh arah gerakan ) maupun eksentris ( salah satu arah gerakan saja)7.
Kartilago tidak mengandung serabut saraf dan kehilangan kartilago pada sendi

7
tidak diikuti dengan timbulnya nyeri. Sehingga dapat diasumsikan bahwa nyeri yang
timbul pada OA berasal dari luar kartilago7.
Pada penelitian dengan menggunakan MRI, didapat bahwa sumber dari nyeri
yang timbul diduga berasal dari peradangan sendi ( sinovitis ), efusi sendi, dan
edema sumsum tulang.
Osteofit merupakan salah satu penyebab timbulnya nyeri. Ketika osteofit
tumbuh, inervasi neurovaskular menembusi bagian dasar tulang hingga ke kartilago
dan menuju ke osteofit yang sedang berkembang Hal ini menimbulkan nyeri5.
Nyeri dapat timbul dari bagian di luar sendi, termasuk bursae di dekat sendi.
Sumber nyeri yang umum di lutut adalah akibat dari anserine bursitis dan sindrom
iliotibial band.
b. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara perlahan sejalan
dengan pertambahan rasa nyeri7.
c. Kaku pagi
Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah pasien berdiam diri atau
tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu
yang cukup lama, bahkan setelah bangun tidur di pagi hari9.
d. Krepitasi
Krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang sakit. Gejala
ini umum dijumpai pada pasien OA lutut. Pada awalnya hanya berupa perasaan akan
adanya sesuatu yang patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa.
Seiring dengan perkembangan penyakit, krepitasi dapat terdengar hingga jarak
tertentu.9
e. Pembesaran sendi ( deformitas )
Sendi yang terkena secara perlahan dapat membesar.
f. Pembengkakan sendi yang asimetris
Pembengkakan sendi dapat timbul dikarenakan terjadi efusi pada sendi yang
biasanya tidak banyak ( < 100 cc ) atau karena adanya osteofit, sehingga bentuk
permukaan sendi berubah.9
g. Tanda – tanda peradangan
Tanda – tanda adanya peradangan pada sendi ( nyeri tekan, gangguan gerak, rasa
hangat yang merata, dan warna kemerahan ) dapat dijumpai pada OA karena adanya
synovitis. Biasanya tanda – tanda ini tidak menonjol dan timbul pada perkembangan
penyakit yang lebih jauh. Gejala ini sering dijumpai pada OA lutut.9

8
h. Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien dan merupakan ancaman
yang besar untuk kemandirian pasien OA, terlebih pada pasien lanjut usia. Keadaan
ini selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan terutama
pada OA lutut.9
2.7 Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, OA dibedakan menjadi dua jenis yaitu OA primer
dan OA Sekunder. OA primer adalah jenis OA yang tidak diketahui secara pasti
penyebabnya atau biasanya disebut idiopatik. OA primer atau idiopatik dapat
dibedakan lagi beradasarkan tempatnya, yaitu lokal dan menyeluruh (generalized
osteoarthritis). Sedangkan secara radiologis, OA lutut klasifikasikan menjadi 5 grade
yaitu 0-4, menurut Kellgren-Lawrence yang dibedakan berdasarkan gambaran
osteofit, jarak anatara sendi, sklerosis subkondral dan kista yang terbentuk.10
Grade Klasifikasi Deskripsi
Grade Deskripsi
0 Normal tidak ada gambaran osteoartritis
1 Meragukan gambaran sendi normal, tetapi terdapat osteofit
minimal
2 Ringan osteofit kecil, kemungkinan penyempitan sendi
3 Sedang osteofit sedang, deformitas ujung tulang, dan celah
sendi sempit
4 Berat osteoartritis berat dengan osteofit besar, deformitas
ujung tulang, celah sendi hilang, serta adanya
sklerosis dan kista subkondral

Tabel Klasifikasi derajat OA lutut berdasarkan Kellgren-Lawrence.

Gambar derajat OA lutut berdasarkan kellgren-Lawrence

2.8 Diagnosis

9
Diagnosis osteoarthritis lutut berdasrkan klinis, klinis dan radiologis, serta
klinis dan laboratoris 11
a. Klinis:
Nyeri sendi lutut dan 3 dari kriteria di bawah ini:
1. umur > 50 tahun
2. kaku sendi < 30 menit
3. krepitus
4. nyeri tekan tepi tulang
5. pembesaran tulang sendi lutut
6. tidak teraba hangat pada sendi
Catatan: Sensitivitas 95% dan spesifisitas 69%.
b. Pemeriksaan penunjang
a). Pemeriksaan Radiologi
Diagnosis OA selain dari gambaran klinis, juga dapat ditegakkan dengan
gambaran radiologis, yaitu menyempitnya celah antar sendi, terbentuknya osteofit,
10
terbentuknya kista, dan sklerosis subchondral.

10
Gambar 2.3. Pencitraan radiologis sinar-x pada osteoarthritis lutut.
Sumber : LS, Daniel, Deborah Hellinger. 2001. Radiographic Assessment of
Osteoarthritis. American Family Physician. 64 (2) : 279-286
Keterangan :
a. Gambar atas kiri : pandangan anteroposterior menunjukkan
menyempitnya celah sendi (tanda panah)
b. Gambar bawah kiri : pandangan lateral menunjukkan sklerosis
yang ditandai terbentuknya osteofit (tanda panah)
c. Gambar atas kanan : menyempitnya celah sendi (tanda panah
putih) menyebabkan destruksi padapada kartilago dan sunchondral
(tanda panah terbuka)
d. Gambar bawah kanan : ditemukan kista subchondral (tanda panah)

Gambar 2.4 Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada jari kaki.


Sumber : Jacobson, JA, et al. 2008. Radiographic Evaluation of Arthritis :Degenerative
Joint Disease and Variation. Radiology. 248(3) : 737-747.
Keterangan : gambaran radiologis anteroposterior kaki menunjukkan

menyempitnya celah sendi metatarsophalangeal pertama, sklerosis, dan

pembentukan osteofit (panah).9

11
Gambar 2.5. Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada lutut.
Sumber : Jacobson, JA, et al. 2008. Radiographic Evaluation of Arthritis :
Degenerative Joint Disease and Variation. Radiology. 248(3) : 737-747.

Keterangan :Gambaran radiologis anteroposterior lutut


menunjukkan penyempitan ruang sendi, sklerosis, dan pembentukan
osteofit (panah).10

Gambar 2.6. Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada pinggul.


Sumber : Jacobson, JA, et al. 2008. Radiographic Evaluation of Arthritis :
Degenerative Joint Disease and Variation. Radiology. 248(3) : 737-747.

Keterangan : Kedua gambar di atas menunjukkan penyempitan

ruang superolateral sendi, sklerosis, kista subkondral, dan pembentukan

osteofit (panah).10

12
b). Pemeriksaan Laboratorium dan MRI

Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna.

Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas – batas normal. Pemeriksaan

imunologi masih dalam batas – batas normal. Pada OA yang disertai peradangan

sendi dapat dijumpai peningkatan ringan sel peradangan ( < 8000 / m ) dan

peningkatan nilai protein. 10

Pemeriksaan tambahan lain yang dapat dilakukan adalah MRI yaitu

untuk mengetahui derajat patologisnya, namun pemeriksaan ini jarang

dilakukan sebagai penunjang diagnostik dalam osteoarthritis, karena sebagian

besar gambaran penyakit ini sudah bisa dinilai berdasarkan pemeriksaan

sinar-x.

2.9 Penatalaksanaan

Strategi pengelolaan pasien dan pilihan jenis pengobatan ditentukan oleh

letak sendi yang mengalami OA, sesuai dengan karakteristik masing-masing

serta kebutuhannya. Oleh karena itu diperlukan penilaian yang cermat pada sendi

dan pasiennya secara keseluruhan, agar pengelolaannya aman, sederhana,

memperhatikan edukasi pasien serta melakukan pendekatan multidisiplin atau

holistic.11

Tujuan penatalaksanaan pasien dengan osteoarthritis adalah:11


1. Meredakan nyeri
2. Mengoptimalkan fungsi sendi
3. Mengurangi ketergantungan kepada orang lain dan meningkatkan kualitas
hidup
4. Menghambat progresivitas penyakit

13
5. Mencegah terjadinya komplikasi

Penatalaksanaan pada pasien dengan osteoarthritis yaitu:


2.11.1 Nonfarmakologis: 11
a. Modifikasi pola hidup

b. Edukasi

c. Istirahat teratur yang bertujuan mengurangi penggunaan beban pada sendi

d. Modifikasi aktivitas

e. Menurunkan berat badan

f. Rehabilitasi medik/ fisioterapi

o Latihan statis dan memperkuat otot-otot

o Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan

otot, dan menambah luas pergerakan sendi

g. Penggunaan alat bantu (Mairunzi, 2010).

2.10.2 Farmakologis

1. Sistemik

a. Analgetik

- Non narkotik: parasetamol

- Opioid (kodein, tramadol)

b. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs)

- Oral

- injeksi

- suppositoria

c. Chondroprotective

14
Yang dimaksud dengan chondoprotectie agent adalah obat-obatan

yang dapat menjaga dan merangsang perbaikan (repair) tuamg rawan sendi

pada pasien OA, sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan tersebut

dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau Disease

Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini yang

termasuk dalam kelompok obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat,

kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-C, superoxide desmutase dan

sebagainya.

a. Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai efek menghambat kerja

enzime MMP. Salah satu contohnya doxycycline. Sayangnya obat

ini baru dipakai oleh hewan belum dipakai pada manusia.

b. Glikosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang

berperan dalam degradasi tulang rawan, antara lain: hialuronidase,

protease, elastase dan cathepsin B1 in vitro dan juga merangsang

sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan

sendi. Pada penelitian Rejholec tahun 1987

c. pemakaian GAG selama 5 tahun dapat memberikan perbaikan

dalam rasa sakit pada lutut, naik tangga, kehilangan jam kerja

(mangkir), yang secara statistik bermakna.

d. Kondroitin sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan

kelompok vertebra, dan terutama terdapat pada matriks

ekstraseluler sekeliling sel. Menurut penelitian Ronca dkk (1998),

efektivitas kondroitin sulfat pada pasien OA mungkin melalui 3

mekanisme utama, yaitu : 1. Anti inflamasi 2. Efek metabolik

15
terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan. 3. Anti degeneratif

melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat oksigen

reaktif.

e. Vitamin C, dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas

enzim lisozim dan bermanfaat dalam terapi OA

f. Superoxide Dismutase, dapat diumpai pada setiap sel mamalia dam

mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superoxide dan

hydroxyl radicals. Secara in vitro, radikal superoxide mampu

merusak asam hialuronat, kolagen dan proteoglikan sedang

hydrogen peroxyde dapat merusak kondroitin secara langsung.

Dalam percobaan klinis dilaporkan bahwa pemberian superoxide

dismutase dapat mengurangi keluhan-keluhan pada pasien OA.

2. Topikal
a. Krim rubefacients dan capsaicin.
1 Beberapa sediaan telah tersedia di Indonesia dengan cara kerja
pada umumnya bersifat counter irritant.
b. Krim NSAIDs

2 Selain zat berkhasiat yang terkandung didalamnya, perlu

diperhatikan campuran yang dipergunakan untuk penetrasi kulit. Salah satu yang

dapat digunakan adalah gel piroxicam, dan sodium diclofenac.

3. Injeksi intraartikular/intra lesi

Injeksi intra artikular ataupun periartikular bukan merupakan pilihan

utama dalam penanganan osteoartritis. Diperlukan kehati-hatian dan selektifitas

dalam penggunaan modalitas terapi ini, mengingat efek merugikan baik yang

bersifat lokal maupun sistemik. Pada dasarnya ada 2 indikasi suntikan intra

16
artikular yakni penanganan simtomatik dengan steroid, dan viskosuplementasi

dengan hyaluronan untuk modifikasi perjalanan penyakit. Dengan pertimbangan

ini yang sebaiknya melakukan tindakan, adalah dokter yang telah melalui

pendidikan tambahan dalam bidang reumatologi.

a. Steroid: ( triamsinolone hexacetonide dan methyl prednisolone )

Hanya diberikan jika ada satu atau dua sendi yang mengalami nyeri dan

inflamasi yang kurang responsif terhadap pemberian NSAIDs, tak dapat

mentolerir NSAIDs atau ada komorbiditas yang merupakan kontra indikasi

terhadap pemberian NSAIDs. Teknik penyuntikan harus aseptik, tepat dan benar

untuk menghindari penyulit yang timbul. Sebagian besar literatur tidak

menganjurkan dilakukanpenyuntikan lebih dari sekali dalam kurun 3 bulan atau

setahun 3 kali terutama untuk sendi besar penyangga tubuh. Dosis untuk sendi

besar seperti lutut 40-50 mg/injeksi, sedangkan untuk sendi-sendi kecil

biasanya digunakan dosis 10 mg.

b. Hyaluronan: high molecular weight dan low molecular weight

Di Indonesia terdapat 3 sediaan injeksi Hyaluronan. Penyuntikan intra

artikular biasanya untuk sendi lutut (paling sering), sendi bahu dan koksa.

Diberikan berturut-turut 5 sampai 6 kali dengan interval satu minggu masing-

masing 2 sampai 2,5 ml Hyaluronan. Teknik penyuntikan harus aseptik, tepat dan

benar. Kalau tidak dapat timbul berbagai penyulit seperti artritis septik, nekrosis

jaringan dan abses steril. Perlu diperhatikan faktor alergi terhadap unsur/bahan

dasar hyaluronan misalnya harus dicari riwayat alergi terhadap telur. Ada 3

sediaan di Indonesia diantaranya adalah Hyalgan, dan Osflex.

4. Pembedahan

17
Sebelum diputuskan untuk terapi pembedahan, harus dipertimbangkan
terlebih dahulu risiko dan keuntungannya.
Pertimbangan dilakukan tindakan operatif bila :
1 1. Deformitas menimbulkan gangguan mobilisasi
2 2. Nyeri yang tidak dapat teratasi dengan penganan medikamentosa dan
rehabilitatif
Ada 2 tipe terapi pembedahan : Realignment osteotomi dan replacement joint

1. Realignment osteotomi

Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan


merubah sudut dari weightbearing. Tujuan : Membuat karilago sendi yang sehat
menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan
ligamen atau meniscus repair (Thomas, 2000).
2. . Arthroplasty

Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang

baru ditanam. Permukaan penunjang biasanya terbuat dari logam yang berada

dalam high-density polyethylene (Thomas, 2000).

Macam-macam operasi sendi lutut untuk osteoarthritis :

a. Partial replacement/unicompartemental
b. High tibial osteotmy : orang muda
c. Patella &condyle resurfacing
d. Minimally constrained total replacement : stabilitas sendi
dilakukan sebagian oleh ligament asli dan sebagian oelh sendi
buatan.
e. Cinstrained joint : fixed hinges : dipakai bila ada tulang
hilang&severe instability
Indikasi dilakukan total knee replacement apabila didapatkan nyeri,

deformitas, instability akibat dari Rheumatoid atau osteoarthritis. Sedangankan

kontraindikasi meliputi non fungsi otot ektensor, adanya neuromuscular

dysfunction, Infeksi, Neuropathic Joint, Prior Surgical fusion.11

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Arya RK, Jain V. Osteoarthritis of the Knee Joint : an


Overview.2013.JIACM ; 14(2):154-62, Newdelhi
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. RISKESDAS 2007.
Jakarta:Kementerian Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan; 2008.
3. British Orthopaedic Association (BOA). Commissioning Guide : Painful
Osteoarthritis of the Knee.2013.London.
4. Andriyasa K, Putra TR. Korelasi antara derajat beratnya osteoarthritis lutut
dan cartilage oligomeric matrix protein serum. 2012. J penyakit dalam :
vol 13 N 1, Jakarta.
5. David, T. 2006. Osteoarthritis of the knee. The New England Journal of
Medicine
6. Lozada, Carlos J. 2009. Osteoarthritis. http://emedicine.medscape.com.
Diakses tanggal 19 April 2016.
7. Iannone F, Lapadula G. 2003. The pathophysiology of
osteoarthritis. Aging Clin Exp Res. 15(5):364–372.
8. Jacobson, JA, et al. 2008. Radiographic Evaluation of Arthritis
: Degenerative Joint Disease and Variation. Radiology. 248(3):737–747.
9. Tjokroprawiro, Askandar, 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Surabaya: Airlangga University Press.
10. Michael JWP, Brust KUS, Eysel P. The Epidemiology, Etiology,Diagnosis
and Treatment of Osteoarthritis of the Knee. Deutsches Ärzteblatt
International. 2010; 107: p. 152-162.
11. Jacobson, JA, et al. 2008. Radiographic Evaluation of Arthritis
: Degenerative Joint Disease and Variation. Radiology. 248(3):737–747.

19