Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Herpes zoster adalah penyakit infeksi akibat reaktivasi virus varisela zoster yang
laten berdiam terutama dalam sel neuronal dan di dalam sel satelit ganglion radiks
dorsalis dan ganglion sensorik saraf kranial menyebar ke dermatom atau jaringan saraf
yang sesuai dengan segmen yang dipersarafinya. Herpes zoster merupakan infeksi
umum yang disebabkan oleh human herpes virus (varisela zoster virus), virus yang
sama menyebabkan varisela (chicken pox). Virus ini termasuk dalam famili Herpes
viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr Virus, dan Cytomegalovirus.
Herpes zoster oftalmika adalah infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian
ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmika saraf trigeminus
(N.V) yang ditandai dengan erupsi herpetik unilateral yang terjadi pada wajah dan
sekitar mata. Beberapa komplikasi serius dapat terjadi jika mengenai mata.
Secara global insidensi herpes zoster sekitar 1,2-3,4/1000 orang. Beberapa kasus
herpes zoster, dilaporkan terdapat sekitar 8-56% kasus herpes zoster oftalmika. Sekitar
50-72% pasien dengan zoster periokular akan terjadi gangguan pada mata dan
kehilangan visualnya dari derajat sedang sampai berat. Kejadian herpes zoster
meningkat secara dramatis seiring dengan bertambahnya usia. Sekitar 30% populasi (1
dari 3 orang) akan mengalami herpes zoster selama masa hidupnya, bahkan pada usia 85
tahun, 50 % akan mengalami herpes zoster. Insiden herpes zoster pada anak-anak 0,74
per 1000 orang per tahun. Insiden ini meningkat menjadi 2,5 per 1000 orang di usia 20-
50 tahun (adult age), 7 per 1000 orang di usia lebih dari 60 tahun (older adult age) dan
mencapai 10 per 1000 orang per tahun di usia 80 tahun.
Faktor resiko dari perkembangan oleh herpes zoster adalah menyusutnya sel
mediated dari sistem imun yang berhubungan dengan perkembangan usia. Faktor risiko
lain untuk herpes zoster diperoleh dari hambatan respon sel mediated imun, seperti pada
pasien dengan obat imunosupresif dan HIV, dan yang lebih spesifik dengan AIDS. Pada
kenyataannya, risiko relatif dari herper zoster sedikitnya 15x lebih besar dengan HIV
dibandingkan tanpa HIV.
Herpes zoster oftalmika biasanya dimulai dengan rasa nyeri atau kesemutan
pada kulit kepala, dahi dan wajah di satu sisi. Pada tahap awal biasanya tidak ada ruam,

1
sehingga sulit untuk didiagnosis. Umumnya, ruam muncul dalam beberapa jam sampai
beberapa hari setelah sensasi rasa sakit atau kesemutan dimulai. Pada saat tidak adanya
ruam komplikasi ke mata jarang terjadi. Ruam herpes zoster oftalmika dimulai saat
adanya kemerahan pada kulit diikuti oleh munculnya vesikel berisi cairan yang cepat
pecah dan berakhir dengan krusta. Lesi pada kulit ini butuh waktu berhari-hari sampai
berminggu-minggu untuk sembuh dan bisa menyebabkan jaringan parut yang
signifikan.
Manifestasi okular pada Herpes zoster oftalmika sangat banyak bisa dari invasi
virus langsung, maupun secara sekunder terjadi peradangan dan vaskulitis, kerusakan
saraf dan atau jaringan parut. Komplikasi yang dilaporkan dari Herpes zoster oftalmika
termasuk vesikel pada kelopak mata dan jaringan parut, beberapa bentuk konjungtivitis,
keratitis, episkleritis, skleritis, uveitis, glaukoma sekunder, kelainan papiler, nekrosis
retina akut, neuritis optik, palsi saraf kranial (N III, IV dan VI), sindrom apeks orbital,
arteritis lokal dan post herpetik neuralgia.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn J.W
Agama : Kristen
Umur : 79 tahun
Alamat : Klabat, Minut
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Minahasa
Tanggal masuk : 18 Mei 2018
No. RM : 11-99-92

II. ANAMNESIS
a. Keluhan utama : Nyeri dan bengkak di daerah mata sebelah kiri
b. Keluhan tambahan : Muncul bintil-bintil kecil di sekitar mata kiri
c. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke IGD RSAD Robert Wolter Mongisidi Manado dengan
keluhan nyeri dan bengkak di daerah mata sebelah kiri sejak 1 hari SMRS.
Selain itu, muncul bintil-bintil kecil pada daerah sekitar mata mulai dari
kelopak mata, dahi, kepala, dan hidung sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu,
terasa panas dan nyeri. Awalnya hanya berupa bercak kemerahan yang nyeri,
kemudian timbul bintil bewarna putih dan berisi cairan. Bintil awalnya
muncul di kelopak mata kiri, terus menyebar hingga dahi dan kepala sebelah
kiri pasien. Bintil yang muncul kemudian pecah mengeluarkan cairan dan
membentuk koreng dengan dasar bewarna merah yang kemudian mengering.
Pasien juga mengalami demam yang tidak terlalu tinggi dan nyeri kepala.
Keluhan hanya dirasakan pada daerah sekitar mata kiri saja. Keluhan
dirasakan semakin lama semakin memberat. Rasa nyeri yang muncul timbul
terus menerus dengan kualitas sedang-berat. Keluhan nyeri muncul tanpa
dipengaruhi oleh aktivitas. Keluhan nyeri juga diperberat ketika pasien

3
mencoba mengangkat kelopak mata kiri dan menggerakan bola mata.
Keluhan pada mata kiri timbul 1 hari SMRS. Mata kiri lama-kelamaan
semakin merah, berair dan timbul kotoran pada mata. Kotoran bersifat
lengket, berwarna putih kekuningan yang dirasakan semakin lama semakin
banyak. Keluhan mata merah ini disertai dengan pandangan kabur. Penderita
pernah menderita cacar air waktu masih kecil. Riwayat kontak dengan
penderita sakit yang sama atau cacar air dalam waktu dekat ini disangkal.
Riwayat trauma disangkal. Riwayat penggunaaan obat-obatan yang lama
disangkal. Riwayat alergi disangkal. Riwayat penggunaan kacamata
disangkal.
d. Riwayat penyakit dahulu :
Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat penyakit hipertensi, jantung, diabetes melitus, ginjal, kolesterol
disangkal.
e. Riwayat pengobatan :
Riwayat keluarga yang pernah mengalami hal serupa disangkal.
f. Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat keluarga dalam keluarga disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status generalis
 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran (GCS) : E4V5M6
 Nadi : 82 x/menit, kuat angkat
 Respirasi : 22 x/menit, SpO2 97%
 Suhu : 37,40 C
 Berat badan : 61 kg

Kepala : Normocephal
Status dermatologi : pada regio frontalis, nasal, periorbital sinistra
tampak vesikel berkelompok dengan dasar eritematousa berukuran

4
lentikuler-plakat, sebagian pecah membentuk erosi, multipel, batas tegas,
sebagian ditutupi krusta, berdistribusi sesuai dermatom, unilateral.

Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil bulat isokor,
ᴓ3mm/3mm, RC (+/+), refleks kornea (+/-)

Status oftalmologis :
Visus : Tidak dievaluasi dengan snellen chart, OS : kesan menurun.
TIO palpasi ODS dalam batas normal.
Segmen anterior :
Arcus senilis (+/+)
OD : dalam batas normal.
OS : palpebra superior dan inferior edema, hiperemis dan sekret (+),
supersilia dan silia dalam batas normal, gerak bola mata ke segala arah,
injeksi konjungtiva (+) injeksi siliar (-) kornea jernih, kamera okuli
anterior dalam, iris kripta (+), pupil bulat, regular sentral, diameter 3mm,
refleks cahaya (+) lensa keruh (+).
Segmen posterior : tidak dievaluasi
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thoraks
Cor :
 Inspeksi : IC tidak tampak
 Palpasi : IC tidak kuat angkat
 Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar

5
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, murmur (-)
gallop (-)
Pulmo :
 Inspeksi : Pengembangan dada simetris
 Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
 Perkusi : Sonor kanan = kiri
 Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronki(-), wheezing(-)
Abdomen :
 Inspeksi : Datar
 Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak membesar
 Perkusi : Tympani
 Auskultasi : Peristaltik usus (+) normal
Ekstremitas :
 Akral hangat, CRT < 2 detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak ada.

V. DIAGNOSIS KERJA
Herpes Zoster Oftalmika OS

VI. TATALAKSANA
- Asiklovir tab 5 x 800 mg selama 7-10 hari
- Salep mata gentamicin 3 x app OS
- Asam mefenamat tab 3 x 500 mg
- Neurodex tab 1 x 1

6
BAB III
PEMBAHASAN

1. Definisi
Herpes zoster merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh Human Herpes Virus
(Varisela Zoster Virus), virus yang sama menyebabkan varisela (chicken pox). Virus
ini termasuk dalam famili Herpes viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr
Virus, dan Cytomegalovirus.
Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela
Zoster Virus (VZV) pada Nervus Trigeminal (N.V). Semua cabang dari nervus
tersebut bisa terpengaruh, dan cabang frontal divisi pertama N.V merupakan yang
paling umum terlibat. Cabang ini menginervasi hampir semua struktur okular dan
periokular. Blefarokonjungtivitis pada HZO ditandai dengan hiperemis dan
konjungtivitis infiltratif disertai dengan erupsi vesikuler yang khas sepanjang
penyebaran dermatom N.V cabang oftalmikus. Konjungtivitis biasanya papiler, tetapi
pernah ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer, yang kemudian
berulserasi. Lesi palpebra mirip lesi kulit di tempat lain, bisa timbul di tepi palpebra
ataupun palpebra secara keseluruhan, dan sering menimbulkan parut.
Lesi kornea pada HZO sering disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya,
sesuai dengan status kekebalan pasien. Keratouveitis pada anak umumnya tergolong
jinak, pada orang dewasa tergolong penyakit berat, dan kadang-kadang berakibat
kebutaan.

2. Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh Varisela Zoster Virus (VZV). VZV mempunyai
kapsid yang tersusun dari 162 sub unit protein dan berbentuk simetri isohedral
dengan diameter 100 nm. Virion lengkapnya berdiameter 150-200 nm, dan hanya
virion yang berselubung yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan cepat
dapat dihancurkan oleh bahan organik, deterjen, enzim proteolitik, panas, dan

7
lingkungan dengan pH yang tinggi. HZO merupakan reaktivasi dari VZV di N.V
divisi oftalmik (N.V1).

3. Epidemiologi
HZO khas mempengaruhi 10-20 % populasi. HZO biasanya berpengaruh pada usia
tua dengan meningkatnya pertambahan usia. Dari data insiden terjadinya HZO pada
populasi Caucasian adalah 131 : 100.000. Populasi American-Afrika mempunyai
insiden 50 % dari Caucasian. Alasan untuk perbedaan ini tidak sepenuhnya
dipahami. Kebanyakan kasus HZO disebabkan reaktivasi dari virus laten.
Lebih dari 90 % dewasa di Amerika terbukti mempunyai serologi yang terinfeksi
VZV. Dari hasil tahunan, insiden dari herpes zoster bervariasi, dari 1,5 – 3, 4 kasus
per 1000 orang. Faktor resiko dari perkembangan oleh herpes zoster adalah
menyusutnya sel mediated dari sistem imun yang berhubungan dengan
perkembangan usia. Insiden HZO pada usia 75 tahun ke atas melebihi 10 kasus per
1.000 orang per tahun, dan risiko seumur hidup diperkirakan 10-20 %.
Faktor risiko lain untuk herpes zoster diperoleh dari hambatan respon sel
mediated imun, seperti pada pasien dengan obat imunosupresif dan HIV, dan yang
lebih spesifik dengan AIDS. Pada kenyataannya, risiko relatif dari herper zoster
sedikitnya 15x lebih besar dengan HIV dibandingkan tanpa HIV. HZO terdapat 10-
25% dari semua kasus herpes zoster. Resiko komplikasi oftalmik pada pasien herpes
zoster tidak terlihat berhubungan dengan umur, jenis kelamin, atau keganasan dari
ruam kulit.

4. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi timbulnya herpes zoster oftalmikus ini adalah:
a. Kondisi imunocompromise (penurunan imunitas sel T)
- Usia tua
- HIV
- Kanker
- Kemoterapi
b. Faktor reaktivasi
- Trauma lokal

8
- Demam
- Sinar UV
- Udara dingin
- Penyakit sistemik
- Menstruasi
- Stres dan emosi

5. Patogenesis
Seperti herpes virus lainnya, VZV menyebabkan infeksi primer (varisela/ cacar air)
dan sebagian lagi bersifat laten, dan ada kalanya diikuti dengan penyakit yang
rekuren di kemudian hari (zoster/ shingles). Infeksi primer VZV menular ketika
kontak langsung dengan lesi kulit VZV atau sekresi pernapasan melalui droplet
udara. Infeksi VZV biasanya merupakan infeksi yang self-limited pada anak-anak,
dan jarang terjadi dalam waktu yang lama, sedangkan pada orang dewasa atau
imunosupresif bisa berakibat fatal. Pada anak-anak, infeksi VZV ini ditandai dengan
adanya demam, malaise, dermatitis vesikuler selama 7-10 hari, kecuali pada infeksi
primer yang mengenai mata (berupa vesikel kelopak mata dan konjungtivitis
vesikuler). VZV laten mengenai ganglion saraf dan rata-rata 20 % terinfeksi dan
bereaktivasi di kemudian hari.
HZO timbul akibat infeksi N.V1. Kondisi ini akibat reaktivasi VZV yang
diperoleh selama masa anak-anak. Varisela zoster adalah virus DNA yang termasuk
dalam famili Herpes viridae. Selama infeksi, virus varisela bereplikasi secara efisien
dalam sel ganglion. Bagaimanapun, jumlah VZV yang laten per sel terlalu sedikit
untuk menentukan tipe sel apa yang terkena. Imunitas spesifik sel mediated VZV
bertindak untuk membatasi penyebaran virus dalam ganglion dan ke kulit.
Kerusakan jaringan yang terlihat pada wajah disebabkan oleh infeksi yang
menghasilkan inflamasi kronik dan iskemik pembuluh darah pada cabang N.V1. Hal
ini terjadi sebagai respon langsung terhadap invasi virus pada berbagai jaringan.
Walaupun sulit dimengerti, penyebaran dermatom pada N. V1 dan daerah toraks
paling banyak terkena.
Tanda-tanda dan gejala HZO terjadi ketika N.V1 diserang virus, dan akhirnya
akan mengakibatkan ruam, vesikel pada ujung hidung (dikenal sebagai tanda

9
Hutchinson) yang merupakan indikasi untuk resiko lebih tinggi terkena gannguan
penglihatan. Dalam suatu studi 76 % pasien dengan tanda Hutchinson mempunyai
gangguan penglihatan.

6. Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi klinis HZO ini, antara lain:
a. Prodormal (didahului ruam sampai beberapa hari)
- Nyeri lateral sampai mengenai mata
- Demam
- Malaise
- Sakit kepala
- Kuduk terasa kaku
Gejala-gejala di atas terjadi pada 5 % penderita, terutama pada anak-anak, dan
timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi.
b. Dermatitis
c. Nyeri mata
d. Lakrimasi
e. Perubahan visual
f. Mata merah unilateral
Gejala-gejala mata yang dapat dilihat yaitu:
- Kelopak mata
HZO sering mengenai kelopak mata. Hal ini ditandai dengan adanya
pembengkakan kelopak mata, dan akhirnya timbul radang kelopak, yang
disebut blefaritis, dan bisa timbul ptosis. Kebanyakan pasien akan memiliki
lesi vesikuler pada kelopak mata, ptosis, disertai edema dan inflamasi. Lesi
pada palpebra mirip lesi kulit di tempat lain.
- Konjungtiva
Konjungtivitis adalah salah satu komplikasi terbanyak pada HZO. Pada
konjungtiva sering terdapat injeksi konjungtiva dan edema, dan kadang
disertai timbulnya petechie. Ini biasanya terjadi 1 minggu. Infeksi sekunder
akibat S. aureus bisa berkembang di kemudian hari.

10
- Sklera
Skleritis atau episkleritis mungkin berupa nodul atau difus yang biasa
menetap selama beberapa bulan.
- Kornea
Komplikasi kornea kira-kira 65 % dari kasus HZO. Lesi pada kornea sering
disertai dengan keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan
kekebalan tubuh pasien. Komplikasi pada kornea bisa berakibat kehilangan
penglihatan secara signifikan. Gejalanya adalah nyeri, fotosensitif, dan
gangguan visus. Hal ini terjadi jika terdapat erupsi kulit di daerah yang
disarafi cabang-cabang N. nasosiliaris.
Berbeda dengan keratitis pada HSV yang bersifat rekuren dan biasanya
hanya mengenai epitel, keratitis HZV mengenai stroma dan uvea anterior
pada awalnya, lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang ada
pseudodendrit linear yang mirip dendrit pada HSV. Kehilangan sensasi pada
kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-
bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh.
Keratitis epithelial : gejala awal, berupa punctat epitel. Multipel, lesi
vocal dengan fluoresen atau rose Bengal. Lesi ini mengandung virus keratitis
stroma. Ini merupakan reaksi imun selama serangan akut dan memungkinkan
perpindahan virus dari ganglion. Keratitis stroma kronik bisa menyerang
vaskularisasi, keratopati, penipisan kornea dan astigmatisme.
- Traktus uvea
Sering menyebabkan peningkatan TIO. Tanpa perawatan yang baik penyakit
ini bisa menyebabkan glaukoma dan katarak.
- Retina
Retinitis pada HZO digambarkan sebagai retinitis nekrotik dengan perdarahan
dan eksudat, oklusi pembuluh darah posterior, dan neuritis optik. Lesi ini
dimulai dari bagian retina perifer.

11
7. Diagnosis
Anamnesis
- Fase prodormal pada herpes zoster oftalmikus biasanya terdapat influenza –like
illness seperti lemah, malaise, demam derajat rendah yang mungkin berakhir
sehingga 1 minggu sebelum perkembangan ruam unilateral menyelubungi
daerah kepala, atas kening dan hidung (divisi dermatom pertama daripada
nervus trigeminus).
- Kira – kira 60% pasien mempunyai variasi derajat gejala nyeri dermatom
sebelum erupsi kemerahan. Akibatnya, makula eritematosus muncul keliatan
yang lama kelamaan akan membentuk kluster yang terdiri daripada papula dan
vesikel. Lesi ini akan membentuk pustula dan seterusnya lisis dan membentuk
krusta dalam masa 5 – 7 hari.

Pemeriksaan Fisik
- Periksa struktur eksternal/superfisial dahulu secara sistematik mengikut urutan
daripada bulu mata, kunjungtiva dan pembengkakan sklera.
- Periksa keadaan integritas motorik ekstraokular dan defisiensi lapang pandang.
- Lakukan pemeriksaan funduskopi dan coba untuk mengeradikasi fotofobia
untuk menetapkan kemungkinan terdapatnya iritis. Pengurangan sensitivitas
kornea dapat dilihat dengan apabila dicoba dengan serat cotton.
- Lesi epitel kornea dapat dilihat setelah diberikan fluorescein. Defek epitel dan
ulkus kornea akan jelas terlihat dengan pemeriksaan ini.
- Pemeriksaan slit lamp seharusnya dilakukan untuk melihat sel dalam segmen
anterior dan kewujudan infiltrat stroma
- Setelah ditetes anestesi mata, ukur tekanan intraokular (tekanan normal ialah
dibawah 12 – 15 mmHg).

Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis laboratorium terdiri dari beberapa pemeriksaan :
a. Pemeriksaaan langsung secara mikroskopik
Kerokan palpebra diwarnai dengan Giemsa, untuk melihat adanya sel-sel
raksasa berinti banyak (Tzanck) yang khas dengan badan inklusi intranukleus
asidofil.
12
b. Pemeriksaaan serologik.
HZ dapat terjadi pada individu yang terinfeksi dengan HIV yang kadangkala
asimtomatik, pemeriksaan serologik untuk mendeteksi retrovirus sesuai untuk
pasien dengan faktor resiko untuk HZ (individu muda daripada 50 tahun yang
nonimunosupres).
c. Isolasi dan identifikasi virus dengan teknik Polymerase Chain Reaction.

8. Diferensial Diagnosis
a. Kondisi yang memperlihatkan penampakan luar yang sama
- Herpes simplek
- Ulkus blefaritis
b. Kondisi yang menyebabkan penyebaran nyeri
- Tic Douloureux
- Migrain
- Pseudotumor orbita
- Selulitis orbita
- Nyeri akibat sakit gigi
c. Kondisi yang menyebabkan inflamasi stromal kornea
- Epstein-Barr Virus
- Mumps
- Sipilis

9. Penatalaksanaan
Sebagian besar kasus herpes zoster dapat didiagnosis dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Cara terbaru dalam mendiagnosis herpes zoster adalah dengan
tes DFA (Direct Immunofluorence with Fluorescein-tagged Antibody) dan PCR
(jika ada), terbukti lebih efektif dan spesifik dalam membedakan infeksi akibat
VZV dengan HSV. Tes bisa dilanjutkan dengan kultur virus.
Pasien dengan herpes zoster oftalmikus dapat diterapi dengan Acyclovir (5 x
800 mg sehari) selama 7-10 hari. Penelitian menunjukkan pemakaian Acyclovir,
terutama dalam 3 hari setelah gejala muncul, dapat mengurangi nyeri pada herpes
zoster oftalmikus. Onset Acyclovir dalam 72 jam pertama menunjukkan mampu

13
mempercepat penyembuhan lesi kulit, menekan jumlah virus, dan mengurangi
kemungkinan terjadinya dendritis, stromal keratitis, serta uveitis anterior.
Terapi lain dengan menggunakan Valacyclovir yang memiliki bioavaibilitas
yang lebih tinggi, menunjukkan efektivitas yang sama terhadap herpes zoster
oftalmikus pada dosis 3 x 1000 mg sehari. Pemakaian Valacyclovir dalam 7 hari
menunjukkan mampu mencegah komplikasi herpes zoster oftalmikus, seperti
konjungtivitis, keratitis, dan nyeri. Pada pasien imunocompromise dapat digunakan
Valacyclovir intravena. Untuk mengurangi nyeri akut pada pasien herpes zoster
oftalmikus dapat digunakan analgetik oral.
Untuk mengobati berbagai komplikasi yang ditimbulkan oleh herpes zoster
oftalmikus disesuaikan dengan gejala yang ditimbulkan. Pada blefarokonjungtivitis,
untuk blefaritis dan konjungtivitisnya, diterapi secara paliatif, yaitu dengan
kompres dingin dan topikal lubrikasi, serta pada indikasi infeksi sekunder oleh
bakteri (biasanya S. aureus). Pada keratitis, jika hanya mengenai epitel bisa
didebridemant, jika mengenai stromal dapat digunakan topikal steroid, pada
neurotropik keratitis diterapi dengan lubrikasi topikal, serta dapat digunakan
antibiotik jika terdapat infeksi sekunder bakteri.
Antibiotik sebaiknya digunakan jika terdapat infeksi bakterial. Antibiotik pada
kasus ini ialah ampicillin dan tetes mata gentamisin, merupakan antibakteri
spektrum luas. Isprinol yang diberikan oleh spesialis kulit pada penderita termasuk
obat imunomodulator yang bekerja memperbaiki sistem imun.
Untuk neuralgia pasca herpetik obat yang direkomendasikan di antaranya
Gabapentin dosisnya 1,800 mg - 2,400 mg sehari. Hari pertama dosisnya 300 mg
sehari diberikan sebelum tidur, setiap 3 hari dosis dinaikkan 300 mg sehari
sehingga mencapai 1,800 mg sehari.
Vitamin neurotropik berupa neurodex digunakan sebagai vitamin untuk saraf.
Pada umumnya direkomendasikan pemberian NSAID topikal 4 kali sehari dan
ibuprofen sebagai analgetik oral. Ahli THT memberikan obat kumur tantum verde
yang berisi benzydamine hydrochloride, merupakan anti inflamasi non steroid lokal
pada mulut dan tengggorokan. Dapat diberikan antioksidan berupa asthin force
untuk perlindungan kesehatan kulit.

14
Sindrom Ramsay Hunt dapat diberikan Prednison dengan dosis 3 x 20 mg
sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis prednison
setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung dengan obat
antiviral. Dikatakan kegunaannya untuk mencegah fibrosis ganglion.

10. Komplikasi
Hampir semua pasien akan pulih sempurna dalam beberapa minggu, meskipun ada
beberapa yang mengalami komplikasi. Hal ini tidak berhubungan dengan umur dan
luasnya ruam, tetapi bergantung pada daya tahan tubuh penderita. Ini akan terjadi
beberapa bulan atau beberapa tahun setelah serangan awal.
Komplikasi mata terjadi pada 50 % kasus. Nyeri terjadi pada 93% dari pasien
tersebut, 31% nya masih ada sampai 6 bulan berikutnya. Pengaruh itu semua,
terjadi anterior uveitis pada 92% dan keratitis 52%. Pada 6 bulan, 28% mengenai
mata dengan uveitis kronik, keratitis, dan ulkus neuropatik.
Komplikasi mata yang jarang yaitu optik neuritis, retinitis, dan kelumpuhan
nervus kranial okuler. Ancaman ganguan penglihatan oleh keratitis neuropatik,
perforasi, glaukoma sekunder, posterior skleritis, optik neuritis, dan nekrosis retina
akut.
Komplikasi jangka panjang, bisa berhubungan dengan lemahnya sensasi dari
kornea dan fungsi motor palpebra. Ini beresiko pada ulkus neuropati dan keratopati.
Resiko jangka panjang ini juga terjadi pada pasien yang memiliki riwayat HZO, 6-
14% rekuren. Infeksi permanen zoster oftalmik bisa termasuk inflamasi okuler
kronik dan kehilangan penglihatan.

11. Pencegahan
Tindakan preventif yang harus dilakukan penderita ialah tidak mengusap-usap
mata, menyentuh lesi kulit, dan menggaruk luka untuk menghindari penyebaran
gejala. Bagi orang sekitar hendaknya menghindari kontak langsung dengan
penderita terutama anak-anak. Obat-obatan antiviral seperti asiklovir, valasiklovir,
dan famsiklovir merupakan terapi utama yang lebih efektif dalam mencegah
keterlibatan okuler terutama jika obat diberikan tiga hari pertama munculnya gejala.
Berdasarkan rekomendasi dari National Guidelines Clearinghouse, dosis asiklovir

15
oral untuk dewasa ialah 800 mg 5 kali sehari selama 7 sampai 10 hari. Sedangkan
antiviral topikal tidak dianjurkan karena tidak efektif. Antiviral digunakan untuk
mempercepat resolusi lesi kulit, mencegah replikasi virus, dan menurunkan insiden
keratitis stroma dan uveitis anterior.

12. Prognosis
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan
perawatan secara dini. Prognosis dari segi visus penderita baik karena asiklovir
dapat mencegah penyakit-penyakit mata yang menurunkan visus. Kesembuhan
penyakit ini umunya baik pada dewasa dan anak-anak dengan perawatan secara
dini. Prognosis ke arah fungsi vital diperkirakan ke arah baik dengan pencegahan
paralisis motorik dan menghindari komplikasi ke mata sampai kehilangan
penglihatan. Prognosis kosmetika pada mata penderita tersebut baik karena
bengkak dan merah pada mata dapat hilang. Pada kulit dapat menimbulkan makula
hiperpigmentasi atau sikatrik.

13. Penutup
Pada pasien yang menderita herpes zoster oftalmikus, pertimbangkan untuk
terkaitnya persarafan dermatoma yang multipel, kondisi imunocompromised dan
superinfeksi bakteri yang signifikan di wajah. Pengobatan antiviral seharusnya
diadministrasi seperti yang telah disebutkan dalam pengobatan di atas. Pasien yang
dirawat jalan seharusnya mempunyai tindak lanjut yang adekuat untuk penanganan
pada HZO. Pemeriksaan ulang setelah maksimum 1 minggu haruslah dijadwalkan
pada stadium awal.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Shaikh S. Evaluation and management of herpes zoster. Diakses dari:


www.AAFP.org. Last update: November 1, 2012.
2. Moon EJ. Herpes zoster. Diakses dari www.emedicine.com. Last update: November
27, 2007.
3. Voughan D, Tailor A. Penyakit virus: ophtalmologi umum. Edisi 14. Widya
Medika. 2005: 112, 336.
4. Djuanda Adhi. Penyakit virus: ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi !!!.
FKUI.1999: 107-109
5. Moon CH. Herpes zoster oftalmikus.Diakses dari: www.emedicine.com. Last
update: April 4, 2006.
6. Gurwood AS. Herpes zoster ophtalmicus. Diakses dari: www.optometry.co.uk. Last
update: November 16, 2011.
7. Moses S. Herpes zoster ophtalmicus. Diakses dari: www.fpnotebook.com. Last
update: January 13,2008.
8. American Academy of Ophtalmology. External cornea and disease. Section 8. 2005-
2006.
9. Wiafe B. Herpes zoster ophtalmicus in HIV/ AIDS. J. Comm Eye Health. 2003;
16(47): 35-36.
10. Ophtalmic Shingles. Diakses dari: www.ophtalmicshinles.htm. Last update: January
2, 2008.
11. Staf Pengajar FKUI. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Revisi. Bina Rupa Aksara.
2003: 303-318.

17