Anda di halaman 1dari 3

4.

Upaya Konservasi Ekosistem Terumbu Karang

James W. Nybakken (1992) dalam bukunya yang berjudul Marine Biology : An Ecology Approach
menyatakan bahwa terumbu karang sebagai ekosistem kawasan pesisir, berperan besar sebagai :
(1) tempat tumbuh biota lain karena fungsinya sebagai tempat memijah, mencari makan, daerah
asuhan berbagai biota laut, (2) sumber plasma nutfah, (3) mencegah erosi dan mendukung
terbentuknya pantai berpasir, dan (4) melindungi pantai dari hempasan ombak dan keganasan
badai, disamping melindungi berbagai macam bangunan fisik. Berdasarkan penelitian (Allister,
1989 dalam Adriman, 2012) ekosistem terumbu karang yang sehat menghasilkan 35 ton
ikan/km2/tahun, sedangkan dalam ekosistem terumbu karang rusak menghasilkan kurang dari 5
ton ikan. Penurunan jumlah terumbu karang sangat berimplikasi terhadap jumlah dan
keanekaragaman ikan pada ekosistem laut, yang secara otomatis akan berpengaruh terhadap
penghasilan para nelayan. Oleh karena itu perlu adanya konservasi terumbu karang untuk
mencegah hal tersebut. Menurut Peter J. Mumby dan Robert S Steneck (2008) perlu adanya
management tools untuk meminimalisir hal-hal buruk yang akan mempengaruhi kesehatan dan
pemulihan pada terumbu karang. Kegiatan konserasi terumbu karang yang telah berhasil dilakukan
di Fillipina diantaranya adalah (Horigue et al, 2012)
1. Mengurangi penangkapan ikan dan menghilangkan metode penangkapan yang akan
membahayakan ekosistem terumbu karang, melindungi habitat mangrove dan rumput laut,
serta mengurangi panen pada spesies herbivora sebagai upaya untuk menjaga pertumbuhan
alga.
2. Mengurangi pencemaran air di daerah pesisir dengan menerapkan sistem pengelolaan
limbah yang sesuai, mengurangi penggunaan pupuk dan menerapkan sistem pertanian yang
paling baik untuk mengelola air dan tanah.
3. Mengelola perkembangan pesisir untuk mengurangi sedimentasi dan kekeruhan dengan
membatasi pengerukan dan pengurasan, merencanakan perubahan pada saluran air untuk
memastikan bahwa tidak ada terumbu karang yang terkena dampak dan mencegah
terjadinya pencabutan langsung terhadap terumbu karang yang masih hidup.

Selain itu, Peter. F Sale (2015), menyatakan bahwa membentuk political will adalah salah satu
upaya dalam konservasi terumbu karang. Selanjutnya, Peter menjelaskan bahwa political will
yang dimaksud adalah kerjasama antara pihak pengelola dan pemerintah dalam hal keuangan,
agenda politik yang mengangkat isu-isu lingkungan, kepemimpinan dalam pemerintahan dan
komunitas, tingkat korupsi yang dapat dikelola.
Selain upaya yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat sebuah alternatif yang sekarang telah
diterapkan dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat, Papua yaitu sebuah program
manajemen dan rehabilitasi terumbu karang (The Coral Reef Rehabilitation and Management
Program), program ini bertujuan untuk mencapai keberlanjutan terumbu karang melalui konsep
manajemen berbasis komunitas dan kolaboratif (Dirhamsyah, 2013). Bagaimanapun, agar program
ini dapat berhasil maka faktor peran masyarakat dalam perencanaan sangatlah penting. Hal ini
sudah dibuktikan di Sulawesi Utara, Fillipina dan Caribbean. Dirhamsyah menjelaskan bahwa
konsep manajemen berbasis komunitas dan kolaboratif di Raja Ampat melibatkan 43 orang yang
disebut sebagai “Fasilitator” yang berperan dalam mengkoordinasi aktivitas masyarakat, dan 11
orang senior pemberi pelatihan. Akan tetapi konsep program ini tidak dapat berjalan tanpa adanya
bantuan dari institusi yaitu pemerintah, organisasi non pemerintah dan universitas / pusat
penelitian. Selain itu, perlu adanya komitmen dari pihak-pihak yang terlibat agar program dapat
berlangsung secara berkelanjutan.
SALE, P. (2015). Coral reef conservation and political will. Environmental Conservation, 42(2),
97-101.
Fadli, N., Campbell, S. J., Ferguson, K., Keyse, J., Rudi, E., Riedel, A., & Baird, A. H. (2012).
The role of habitat creation in coral reef conservation: A case study from Aceh,
indonesia. Oryx, 46(4), 501-507
Horigue,V.,Aliño,P.M.,White,A.T.& Pressey,R.L.(2012)Marine protected area networks in the
Philippines: trends and challenges for establishment and governance Coast a land Ocean
Management 64: 15–26.
Dirhamsyah. (2013). The community-based and co-management concept for coral reef
management in the raja ampat islands dirhamsyah. Australian Journal of Maritime and Ocean
Affairs, 5(2), 65-73.
Nybakken, JW. Marine biology : an ecological approach. 3rd edition. HarperCollins College
Publisher. 1993.
Adriman. Desain Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Secara Berkelanjutan Di Kawasan
Konservasi Laut Daerah Bintan Timur Kepulauan Riau. 2013.
Mumby, PJ., Steneck, RS. Coral Reef Management and Conservation in Light of Rapidly
Ecological Paradigm. 2008