Anda di halaman 1dari 28

TUGAS I

PROSES GEOLOGI ALAMIAH YANG BERDAMPAK PADA


LINGKUNGAN HIDUP

OLEH

Hardianti Kamaluddin
F 121 14 032

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan ridho serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “Proses Geologi Alamiah yang Berdampak pada
Lingkungan Hidup”.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaiakan Mata
Kuliah Geologi Lingkungan di Program Studi Strata 1 Teknik Geologi Universitas
Tadulako.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
mengingat keterbatasan waktu, pengetahuan, dan kemampuan yang penulis
miliki. Namun demikian, dengan segala kemampuan yang ada dan dengan rasa
tanggung jawab, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi penulis khususnya dan umumnya bagi semua pihak.

Palu, Juli 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Daftar Isi ................................................................................................................ i
Kata Pengantar ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................................1
C. Rumusan Masalah ......................................................................................... 1

BAB II ISI
A. Pengertian Lingkungan ....................................................................................3
B. Pengertian Geologi ..........................................................................................3
C. Konsep-Konsep Geologi Lingkungan ..............................................................4
D. Proses Geologi ................................................................................................5
1. Gempabumi .................................................................................................5
a. Proses Terjadinya Gempabumi ..................................................................6
b. Penyebab Terjadinya Gempabumi .............................................................7
c. Dampak Gempabumi ..................................................................................9
2. Liquifaksi ...................................................................................................10
a. Faktor-faktor Penyebab Liquifaksi ...........................................................11
b. Dampak-dampak Liquifaksi .....................................................................11
3. Tsunami ....................................................................................................13
a. Mekanisme Tsunami .................................................................................14
b. Penyebab Tsunami ...................................................................................15
c. Dampak Tsunami ......................................................................................16
4. Longsor .....................................................................................................17
a. Karakteristik area rawan longsor .............................................................18
b. Dampak Longsor ......................................................................................21

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .....................................................................................................23

DAFTRA PUSTAKA ............................................................................................25


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia mempunyai ketergantungan yang sangat kuat dengan


lingkungan hidupnya. Membicarakan manusia harus pula membicarakan
lingkungan hidupnya, demikian pula sebaliknya membicarakan lingkungan juga
membicarakan manusia. Manusia tanpa lingkungannya adalah abstraksi belaka
(Otto Soemarwoto, 2001).
Lingkungan adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi
perkembangan dan tingkah laku makhluk hidup (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2005). Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang
dipengaruhi oleh perkembangan kehidupan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung merupakan pengertian lingkungan.
Geologi adalah ilmu pengetahuan bumi mengenai asal, struktur,
komposisi dan sejarahnya (termasuk perkembangan kehidupan) serta proses-
proses yang telah menyebabkan keadaan bumi seperti sekarang ini (Bates dan
Jackson, 1990).
Geologi Lingkungan pada hakekatnya merupakan ilmu geologi terapan
yang ditujukan sebagai upaya memanfaatkan sumberdaya alam dan energi
secara efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan perikehidupan manusia
masa kini dan masa mendatang dengan seminimal mungkin mengurangi
dampak lingkungan yang ditimbulkan (Noor, 2006).

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah mahasiswa dapat


mengetahui jenis-jenis proses geologi dan bagaimana proses itu terjadi serta
bagaimana dampaknya terhadap lingkungan.

C. Rumusan Masalah

1. Apa saja proses-proses geologi itu?


2. Bagaimana proses gempa bumi, liquifaksi, gunung api, tsunami, dan longsor
bisa terjadi?
3. Apa saja dampak dari gempa bumi, liquifaksi, gunung api, tsunami, dan longsor
bisa terjadi?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Geologi

Geologi berasal dari kata geo yang berarti bumi dan logos yang berarti
ilmu, jadi dapat disimpulkan bahwa geologi adalah ilmu yang mempelajari dan
menyelidiki lapisan-lapisan batuan yang ada dalam kerak bumi.
Geologi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang susunan
unsur-unsur bumi serta bentuk dari bumi, sebab geologi juga merupakan
pengetahuan yang mempelajari sejarah perkembangan dari bumi serta mahluk-
mahluk yang pernah hidup di muka bumi itu sendiri.

B. Pengertian Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan


mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Lingkungan terdiri dari
komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak
bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi.
Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti
tumbuhan, hewan, manusia dan mikroorganisme. Lingkungan erat kaitannya
dengan aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Aktivitas tersebut tentunya akan
menghasilkan dampak bagi lingkungan hidup, untuk itu dibentuklah sebuah
undang-undang yang mengatur perusahaan dalam perlakuan serta
pengolahannya terhadap lingkungan yaitu UU No 32 Tahun 2009 yang
mendefinisikan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lain.
Untuk menyempurnakan undang-undang sebelumnya maka dibentuk
lagi Undang Undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Segala aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan dan melibatkan lingkungan pasti membawa dampak. Dampak yang
merugikan lingkungan harus segera ditangani karena jika terlambat akan
semakin merusak lingkungan.

C. Konsep- Konsep Geologi Lingkungan

Dalam Ilmu Geologi Lingkungan tidak pernah terlepas dari


pemahaman mengenai bumi beserta isi dan aktivitasnya. Terdapat 7 Konsep
Geologi Lingkungan yang perlu dipahami oleh planner dalam perencanaan
suatu wilayah.
Konsep pertama menjelaskan bahwa bumi pada dasarnya
merupakan sistem tertutup. Maksudnya, di bumi terdapat berbagai macam
peristiwa yang terjadi karena aktivitas–aktivitas setiap bagian dari bumi. Bumi
dikatakan sebagai system dengan empat buah bagian. Yaitu atmosfer,
hidrosfer, biosfer, dan litosfer. Di setiap bagian system itu terjadi berbagai
macam aktivitas yang saling berkaitan. Itulah mengapa bumi disebut sebagai
suatu sistem tertutup.
Konsep kedua, yakni menjelaskan bahwa bumi merupakan satu–
satunya tempat yang paling sesuai dengan kehidupan manusia, akan tetapi
sumber daya yang dimiliki sangat terbatas. Walaupun SDA terbatas dan
walaupun ada beberapa SDA yang bisa diperbarui, tetapi masih lebih banyak
SDA yang tak bisa diperbarui. Tentunya akan diperlukan tindakan yang tepat
untuk bisa memanfaatkannya dengan baik sekaligus melestarikanya.
Konsep ketiga, menjelaskan bahwa proses–proses fisik yang terjadi
di bumi mengubah bentang alam yang di miliki. Konsep ini memberikan suatu
pengetahuan tentang sejarah geologi mengenai proses yang telah terbentuk
pada masa lalu yang saat ini masih bisa lihat hasil dari proses–proses itu.
Konsep keempat, yakni menjelaskan tentang banyak proses alam
yang terjadi di bumi yang membahayakan umat manusia. Seperti: aktivitas
gunung berapi (meletus), tsunami, erosi, longsor, gempa bumi, dan lain
sebagainya. Semua bencana itu merupakan dampak dari proses–proses yang
terjadi di bumi, karena bumi merupakan suatu sistem yang terus bergerak.
Konsep kelima, menjelaskan tentang perencanaan penggunaan
lahan dan pengairan harus berusaha memperhatikan keseimbangan antara
pertimbangan segi ekonomi dan dari segi yang lain seperti estetika.
Konsep keenam, menjelaskan tentang dampak dari penggunaan
lahan yang cenderung bertumpuk.
Konsep ketujuh, yang menjelaskan tentang komponen fundamental
lingkungan merupakan faktor geologi, dan pemahaman tentang lingkungan
memerlukan beberapa pendekatan melalui ilmu–ilmu kebumian dan disiplin
ilmu lain yang berhubungan.

D. Proses Geologi

Bumi mulai terbentuk empat setengah milyar tahun yang lalu. Mula-
mula merupakan gumpalan batu cair yang pijar. Lambat laun permukaannya
mendingin dan terbentuklah suatu lapisan tipis yang agak keras, disebut kerak
bumi. Inilah yang menjadi permukaan bumi sekarang. Tetapi di bawah kerak
bumi tetap terdapat batuan pijar yang sekali-sekali menerobos ke permukaan,
membentuk gunung api dan menyelimuti daerah sekelilingnya dengan lahar.
Gempa bumi pun merupakan petunjuk bahwa bagian di bawah kulit bumi masih
tetap giat.

1. Gempa Bumi

Dalam literatur berbahasa Inggris, gempabumi disebut earthquake.


Seringkali gempabumi hanya disebut gempabumi saja, atau quake.
Padanan kata quake ini adalah shock dan seismic. Dalam refernsi geofisika
dan geologi serta ilmu-ilmu kebumian lainnya, disebutkan bahwa ada 3 jenis
gempabumi, (Abdullah, 2017) yaitu:

 Gempabumi longsoran (runtuhan), disebabkan oleh longsoran tanah


dan runtuhan goa-goa di dalam tanah, baik goa alam maupun goa
penambangan. Getarannya bersifat sangat lokal sehingga efeknya tidak
berdampak luas.

 Gempabumi vulkanik, disebabkan oleh meletusnya gunungapi. Proses


letusannya dan material yang dimuntahkannya yang jatuh kembali ke
bumi menimbulkan getaran, tetapi bersifat lokal sehingga efek getaran
tersebut tidak berdampak luas. Yang berbahaya dari letusan gunung api
adalah bahaya langsungnya berupa awan panas, lontaran batu (pijar),
hujan abu lebat dan gas beracun serta bahaya tidak langsungnya berupa
lahar dan tsunami. Letusan gunung api yang mengeluarkan material
padat yang sangat besar dan jatuh di laut dapat menimbulkan getaran
besar dan tsunami, seperti yang terjadi pada letusan gunung api Krakatau
pada tahun 1838 yang menimbulkan tsunami setinggi 40m, menelan
korban sekitar 36.417 jiwa manusia dan kerusakan harta benda lainnya.

 Gempabumi tektonik, disebabkan oleh pergeseran lempeng-lempeng


litosfer. Efek getarannya dapat bersifat lokal, regional dan global atau
jauh, tergantung besarnya magnitudo gempa atau besarnya energi yang
dilepaskan oleh pusat gempanya dan juga kedalaman pusat gempa
tersebut.

Selain ketiga jenis gempa tersebut, ada juga yang disebut gempa
buatan atau gempa artifisial, yakni melibatkan aktivitas manusia. Percobaan-
percobaan senjata balistik dan pemboman tentara sekutu di Nagasaki dan
Hirosima Jepang pada tahun 1945 dikelompokkan sebagai gempa buatan.
Kekuatan atatu magnitudo gempa menunjukkan besarnya energi dalam
skala Richter (SR).
Berdasarkan magnitudonya, klasifikasi gempa dapat dibagi menjadi
(Prasetya, T., 2006):
 Kecil, bila magnitudonya : < 5 SR
 Sedang, bila magnitudonya : 5 – 6,4 SR
 Besar, bila magnitudonya : > 6,4 – 7,4 SR
 Sangat besar, bila magnitudonya : > 7,4 SR.

a. Proses Terjadinya Gempabumi

Lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar ketika


bertumbukkan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) akan
menyusup ke bawah. Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan
akibat gesekan dari selubung bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan
penumpukkan energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di
zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, dan geseran. Pada saat batas
elastisitas lempeng terlampaui, maka terjadilah patahan batuan yang diikuti
oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbukan getaran
partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempabumi.

Gambar 1 Pergerakan Lempeng (Sumber: Badan Geologi, 2007)

b. Penyebab Terjadinya Gempabumi

Banyak teori yang telah dikemukan mengenai penyebab terjadinya


gempa bumi. Menurut pendapat para ahli, sebab-sebab terjadinya gempa
adalah sebagai berikut:
- Runtuhnya gua-gua besar yang berada di bawah permukaan tanah.
Namun, kenyataannya keruntuhan yng menyebabkan terjadinya gempa
bumi tidak pernah terjadi.
- Tabrakan meteor pada permukaan bumi. Bumi merupakan salah satu
planet yang ada dalam susunan tata surya. Dalam tata surya kita terdapat
ribuan meteor atau batuan yang bertebaran mengelilingi orbit bumi.
Sewaktu-waktu meteor tersebut jatuh ke atmosfir bumi dan kadang-
kadang sampai ke permukaan bumi. Meteor yang jatuh ini akan
menimbulkan getaran bumi jika massa meteor cukup besar. Getaran ini
disebut gempa jatuhan, namun gempa ini jarang sekali terjadi. Kejadian
ini sangat jarang terjadi dan pengaruhnya juga tidak terlalu besar.
- Letusan gunung berapi. Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas
magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Gempa bumi
jenis ini disebut gempa vulkanik dan jarang terjadi bila dibandingkan
dengan gempa tektonik. Ketika gunung berapi meletus maka getaran dan
goncangan letusannya bisa terasa sampai dengan sejauh 20 mil. Sejarah
mencatat, di Indonesia pernah terjadi letusan gunung berapi yang sangat
dahsyat pada tahun 1883 yaitu meletusnya Gunung Krakatau yang
berada di Jawa barat. Letusan ini menyebabkan goncangan dan bunyi
yang terdengar sampai sejauh 5.000 Km. Letusan tersebut juga
menyebabkan adanya gelombang pasang “Tsunami” setinggi 36 meter
dilautan dan letusan ini memakan korban jiwa sekitar 36.000 orang.
Gempa ini merupakan gempa mikro sampai menengah, gempa ini
umumnya berkekuatan kurang dari 4 Skala Richter.
- Kegiatan tektonik. Semua gempa bumi yang memiliki efek yang cukup
besar berasal dari kegiatan tektonik. Gaya-gaya tektonik biasa
disebabkan oleh proses pembentukan gunung, pembentukan patahan,
gerakan-gerakan patahan lempeng bumi, dan tarikan atau tekanan
bagian-bagian benua yang besar. Gempa ini merupakan gempa yang
umumnya berkekuatan lebih dari 5 Skala Richter.
Dari berbagai teori yang telah dikemukan, maka teori lempeng
tektonik inilah yang dianggap paling tepat. Teori ini menyatakan bahwa bumi
diselimuti oleh beberapa lempeng kaku keras (lapisan litosfer) yang berada
di atas lapisan yang lebih lunak dari litosfer dan lempemg-lempeng tersebut
terus bergerak dengan kecepatan 8 km per tahun sampai 12 km per tahun.
Pergerakan lempengan-lempengan tektonik ini menyebabkan terjadinya
penimbunan energi secara perlahan-lahan. Gempa tektonik kemudian terjadi
karena adanya pelepasan energi yang telah lama tertimbun tersebut. Daerah
yang paling rawan gempa umumnya berada pada pertemuan
lempenglempeng tersebut. Pertemuan dua buah lempeng tektonik akan
menyebabkan pergeseran relatif pada batas lempeng tersebut, yaitu:
- Subduction, yaitu peristiwa dimana salah satu lempeng mengalah dan
dipaksa turun ke bawah. Peristiwa inilah yang paling banyak
menyebabkan gempa bumi.
- Extrusion, yaitu penarikan satu lempeng terhadap lempeng yang lain.
- Transcursion, yaitu terjadi gerakan vertikal satu lempeng terhadap yang
lainnya.
- Accretion, yaitu tabrakan lambat yang terjadi antara lempeng lautan dan
lempeng benua.
c. Dampak Gempabumi

Adapun dampak dari terjadinya gempabumi adalah sebagai berikut


Dampak positif dari tenaga eksogen dan endogen di antaranya adalah :
- Para ahli dapat membuat struktur perut bumi, karena hanya gelombang
gempa yang dapat menerobos lubang perut bumi dengan cara
menelurusuri jalur datangnya gempa.
- Tektonisme akan membentuk relief bumi yang baru.
- Tektonisme dapat mengangkat mineral tambang ke permukaan bumi.
- Vulkanisme dapat menghasilkan mineral-mineral baru yang berguna buat
kelangsungan hidup makhluk di bumi.
Sebagai dampak negatif dari tenaga eksogen dan endogen
diantaranya adalah:
- Gunung yang meletus dapat mengakibatkan terjadinya bencana alam yang
hebat.
- Gempa bumi dapat mengakibatkan kerusankan harta benda bahkan nyawa
manusia.
- Pergerakan lempeng kerak bumi menimbulkan bencana.
- Abrasi di daerah pantai dapat menyebabkan rusaknya pantai sehingga
semakin lama pantai akan menghilang.
- Longsor. Gempa bumi adalah getaran yang ditimbulkan karena adanya
gerakan endogen. Hentakan gempa dan bergoyangnya tanah
menyebabkan keluarnya tanah dan massa batuan yang menyebabkan
tanah longsor, lumpur, dan longsornya batuan di atasnya. Semua ini
mendorong terjadinya kerusakan dan kerugian pada kehidupan di muka
bumi ini.
- Kerusakan bangunan. Gelombang pada gempa bumi menyebabkan
lapisan tanah bergerak, menggoyangkan bangunann gedung dan
menyebabkan kontruksi bangunan menjadi tidak kokoh atau kerangka
bangunan menjadi lemah, bahkan sebagian atau keseluruhan bangunan
menjadi runtuh. Bergoyangnya lapisan tanah juga melemahkan tanah dan
bahan material fondasi dibawah kerangka bangunan serta bisa
menyebabkan perubahan yang dramatis dalam susunan tanah halus dan
tanah jenis berbutir/pasir selama terjadinya gempa, tanah jenuh yang
berpasir menjadi seperti cairan lumpur. Prosesnya disebut pencairan.
Proses pencairan menyebabkan kerusakan pada material fondasi tanah
dan kerangka bangunan menjadi lemah.
- Banjir . Gempa bumi juga bisa menyebabkan air dalam sebuah waduk atau
danau mengalir ke berbagai arah atau tumpah kembali dan keluar. Air
yanga mengalir dalam jumlah besar tersebut akan memenuhi sungai-
sungai dibawahnya akibat rusaknya danau atau jebolnya waduk akibat
gempa.
- Kebakaran. Akibat gempa yang lain adalah kebakaran. Bencana susulan
ini biasanya terjadi didaerah pemukiman padat penduduk maupun gedung
bertingkat, hal itu disebabkan oleh bahan bangunan gedung, bahan
material apartemen maupun permukiman padat penduduk yang
digunakan. Jika bahan tersebut sangat rentan terhadap api, kebakaran bisa
terjadi. Kebakaran bisa pula karena putusnya aliran listrik tiba-tiba
sehingga terjadi percikan api atau meledaknya tabung gas dan pipa gas
karena bocor setelah terjadinya gempa.
- Perubahan struktur tanah dan batuan. Dengan adanya getaran serta
gerakan yang disebabkan oleh tenaga endogen maka struktur tanah akan
berubah dan mengalami kerusakan.
- Krisis air bersih. Getaran dan goncangan besar karena gempa
mengakibatkan aliran-aliran sungai bawah tanah terputus, jaringan pipa
dan saluran bawah tanah rusak.
- Tsunami. Selain itu gempa bumi juga dapat mengakibatkan tsunami.
Gelombang tsunami disebabkan oleh adanya gempa bumi tektonik yang
dahsyat di dasar laut atau hiposentrumnya dibawah dasar laut. Gempa
tersebut terjadi karena adanya gesekan lempeng litosfer.

2. Liquifaksi

Likuifaksi adalah suatu kondisi dimana material lepas


(unconsolidated) berubah karena proses liquified (berasal dari bahasa
Inggris yang secara harafiah berarti peluluhan/pencairan), yakni
transformasi material berbutir dari kondisi solid menjadi cair sebagai akibat
dari peningkatan tekanan air pada pori-pori material (Youd, 1973). Konsep
ini kemudian berkembang meliputi berbagai manifestasi dari likuifaksi
mulai dari deformasi akibat induksi yang terjadi pada endapan-endapan
sungai dan semi-perairan dangkal pada umumnya dan aplikasi kriteria
dalam menetapkan asal muala gempa.

Likuifaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah


akibat getaran gempa. Lapisan pasir berubah menjadi seperti cairan
sehingga tak mampu menopang bebab bangunan di dalam atau di atasnya.
Suatu proses hilangnya kekuatan geser tanah akibat kenaikan tegangan
air pori tanah yang timbul akibat beban siklis (cyclic mobility). Hal ini dapat
terjadi pada suatu deposit tanah yang tidak kohesif (cohesionless) dan
jenuh air (saturated) menerima beban siklik dengan kondisi pembebanan
undrained (Jayarnih. 2011).

a. Faktor-faktor Penyebab Liquifaksi

- Lapisan tanah berukuran butir pasir atau lanau,


- Keseragaman butir dan susunan gradasi butir,
- Bentuk butir membundar,
- Tidak memiliki ikatan antar butir (cohesionless),
- Massa butiran jenuh air,
- Lapisan bersifat lepas (tidak padat).

b. Dampak Liquifaksi

Likuifaksi hanya terjadi pada tanah jenuh air, sehingga kedalaman


muka air tanah akan mempengaruhi potensi terhadap likuifaksi. Potensi
terhadap likuifaksi akan menurun dengan bertambah dalamnya muka
airtanah. Fenomena likuifaksi terjadi seiring terjadinya gempa bumi. Secara
visual peristiwa likuifaksi ini ditandai munculnya lumpur pasir di permukaan
tanah berupa semburan pasir (sand boil), rembesan air melalui rekahan
tanah, atau bisa juga dalam bentuk tenggelamnya struktur bangunan di atas
permukaan, penurunan muka tanah dan perpindahan lateral. Evaluasi
potensi likuifaksi pada suatu lapisan tanah dapat ditentukan dari kombinasi
sifat-sifat tanah (gradasi butiran dan ukuran butir), lingkungan geologi
(proses pembentukan lapisan tanah, sejarah kegempaan, kedalaman muka
air tanah). Likuifaksi telah banyak menjadi penyebab dari hancurnya
bangunan struktur di beberapa kejadian gempa bumi. Berdasarkan simulasi
yang dilakukan di Jepang, goncangan akibat gempa, membuat bangunan
diatasnya ambles (Gambar 2), sedangkan benda di dalam tanah seperti
tangki minyak muncul ke permukaan (Gambar 3). Seperti yang terjadi di Kota
Cilacap, yang berdekatan dengan pantai, yaitu tangki Pertamina dan
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang muncul ke permukaan tanah
pasca kejadian gempa. (Jayarnih. 2011).

Gambar 2 Bangunan yang ambles karena hilangnya daya dukung


tanah akibat likuifaksi (Sumber: Jarayani, 2011)

Gambar 3 Tangki yang muncul ke permukaan tanah karena


tekanan ke atas akibat likuifaksi (Sumber: Jayarnih, 2011)
Selain hal di atas, beberapa fenomena likuifaksi yang pernah
ditemui di Indonesia di kawasan pascagempa, diantaranya berupa
semburan pasir yang menyumbat sumur artesis/gali seperti di Bantul, dan
perpindahan lateral pada permukaan datar yang berupa retakan seperti di
Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Ada pula longsoran lereng tanah,
kegagalan pondasi jembatan (loss of bearing capacity), dan bangunan
ambles (ground settlement). (Jayarnih. 2011).

3. Tsunami

Tsunami adalah fenomena gelombang raksasa yang melanda ke


daratan. Fenomena ini dapat terjadi karena gempa bumi atau gangguan
berskala besar di dasar laut, seperti longsoran bawah laut atau erusi
letusan gunungapi di bawah laut (Skinner dan Porter, 2000). Gelombang
tsunami dapat merambat sangat cepat (dapat mencapai kecepatan 950
km/jam), panjang gelombangnya sangat panjang (dapat mencapat panjang
250 km). Di samudera, tinggi gelombang tsunami cukup rendah sehingga
sulit diamati, dan ketika mencapai perairan dangkal ketinggiannya dapat
mencapai 30 m. Sifat kedatangan gelombang tsunami sangat mendadak
dan tidak adanya sistem peringatan dini merupakan penyebab dari
banyaknya korban jiwa yang jatuh ketika gelombang tsunami melanda ke
daratan pesisir yang banyak penduduknya. Contoh yang paling mutakhir
peristiwa kencana tsunami ini adalah ketika tsunami melanda pesisir barat
dan utara Sumatera di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal
26 Desember 2004.

Gambar 4 Kecepatan Gelombang (Sumber: Badan Geologi, 2007)


Tsunami yang terjadi karena gempa bumi atau longsoran di bawah
laut kejadiannya berkaitan erat dengan sistem interaksi lempeng kerak bumi
yang membentuk sistem penunjaman dan palung laut dalam. Sementara itu,
tsunami yang terjadi karena erupsi letusan gunungapi kejadiannya berkaitan
erat dengan kehadiran gunungapi bawah laut, baik yang muncul di
permukaan laut maupun yang tidak muncul di permukaan laut.

i. Mekanisme Tsunami

Mekanisme tsunami akibat gempa bumi dapat diuraikan dalam 4


(empat) tahap yaitu kondisi awal, pemisahan gelombang, amplifikasi, dan
rayapan.
a) Kondisi Awal. Gempa bumi biasanya berhubungan dengan goncangan
permukaan yang terjadi sebagai akibat perambatan gelombang elastik
(elastic waves) melewati batuan dasar ke permukaan tanah. Pada daerah
yang berdekatan dengan sumber-sumber gempa laut (patahan), dasar
lautan sebagian akan terangkat (uplifted) secara permanen dan sebagian
lagi turun ke bawah (down-dropped), sehingga mendorong kolom air naik
dan turun. Energi potensial yang diakibatkan dorongan air ini, kemudian
berubah menjadi gelombang tsunami atau energi kinetik di atas elevasi
muka air laut rata-rata (mean sea level) yang merambat secara horisontal.
Kasus yang diperlihatkan adalah keruntuhan dasar lereng kontinental
dengan lautan yang relatif dalam akibat gempa. Kasus ini dapat juga terjadi
pada keruntuhan lempeng kontinental dengan kedalaman air dangkal
akibat gempa.
b) Pemisahan Gelombang. Setelah beberapa menit kejadian gempa bumi,
gelombang awal tsunami akan terpisah menjadi tsunami yang merambat
ke samudera yang disebut sebagai tsunami berjarak (distant tsunami), dan
sebagian lagi merambat ke pantai-pantai berdekatan yang disebut sebagai
tsunami lokal (local tsunami). Tinggi gelombang di atas muka air laut rata-
rata dari ke dua gelombang tsunami, yang merambat dengan arah
berlawanan ini, besarnya kira-kira setengah tinggi gelombang tsunami
awal. Kecepatan rambat ke dua gelombang tsunami ini dapat diperkirakan
sebesar akar dari kedalaman laut ( gd ). Oleh karena itu, kecepatan rambat
tsunami di samudera dalam akan lebih cepat dari pada tsunami lokal.
c) Amplifikasi. Pada waktu tsunami lokal merambat melewati lereng
kontinental, sering terjadi hal-hal seperti peningkatan amplitudo gelombang
dan penurunan panjang gelombang Setelah mendekati daratan dengan
lereng yang lebih tegak, akan terjadi rayapan gelombang.
d) Rayapan. Pada saat gelombang tsunami merambat dari perairan dalam,
akan melewati bagian lereng kontinental sampai mendekati bagian pantai
dan terjadi rayapan tsunami . Rayapan tsunami adalah ukuran tinggi air di
pantai terhadap muka air laut rata-rata yang digunakan sebagai acuan.
Dari pengamatan berbagai kejadian tsunami, pada umumnya tsunami tidak
menyebabkan gelombang tinggi yang berputar setempat (gelombang
akibat angin yang dimanfaatkan oleh peselancar air untuk meluncur di
pantai). Namun, tsunami datang berupa gelombang kuat dengan
kecepatan tinggi di daratan yang berlainan seperti diuraikan pada
Amplikasi, sehingga rayapan gelombang pertama bukanlah rayapan
tertinggi (usgs.gov, 2013).

ii. Penyebab Tsunami


Ada beberapa penyebab yang mengakibatkan terjadinya
tsunami. Faktor penyebab terjadinya tsunami itu adalah:
1. Gempa bumi yang berpusat dibawah laut, Meskipun demikian tidak semua
gempa bumi dibawah laut berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi
dibawah laut yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami adalah gempa
bumi dengan kriteria sebagai berikut:
a. Gempa bumi yang terjadi di dasar laut,
b. Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut,
c. Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR,
d. Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar naik
atauturun).
2. Letusan gunung berapi, letusan gunung berapi dapat menyebabkan
terjadinya gempa vulkanik. Tsunami besar yang terjadi padatahun 1883
adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 10-11
April 1815 juga memicu terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan
Maluku. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah ring
of fire (sabuk berapi) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.
3. Longsor bawah laut, longsor bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan
antara lempeng samudera dan lempeng benua. Proses ini mengakibatkan
terjadinya palung laut dan pegunungan. Tsunami karena longsoran bawah
laut ini dikenal dengan nama tsunamic submarine landslide.
4. Hambatan meteor laut, jatuhnya meteor yang berukuran besar di laut juga
merupakan penyebab terjadinya tsunami.

iii. Dampak Tsunami

Adapun dampak bencana terhadap kesehatan yaitu terjadinya krisis


kesehatan, yang menimbulkan : (1) Korban massal; bencana yang terjadi
dapat mengakibatkan korban meninggal dunia, patah tulang, luka-luka,
trauma dan kecacatan dalam jumlah besar. (2) Pengungsian; pengungsian
ini dapat terjadi sebagai akibat dari rusaknya rumah-rumah mereka atau
adanya bahaya yang dapat terjadi jika tetap berada dilokasi kejadian. Hal ini
dipengaruhi oleh tingkat resiko dari suatu wilayah atau daerah dimana
terjadinya bencana (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan dampak positif dari bencana tsunami adalah :
a. Bencana alam merenggut banyak korban,sehingga lapangan pekerjaan
menjadi terbuka luas bagi yang masih hidup,
b. Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana,
menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu
sama lain,
c. Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan
kita serta kelemahannya dan dapat melakukan inovasi baru untuk
penangkalan apabila bencana tersebut datang kembali tetapi degan
konstruksi yang lebih baik
Dampak negatif dari bencana tsunami adalah :
a. Merusak apa saja yang dilaluinya bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan
mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan,
pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih,
b. Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari
lagi tenaga ahli yang sesuai dalam bidang pekerjaanya,
c. Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksanaan pembangunan pasca
bencana karna faktor dana yang besar,
d. Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana
yang kehilangan segalanya.

D. Longsor

Longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau


batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng
akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng
tersebut. Pemicu dari terjadinya gerakan tanah ini adalah curah hujan yang
tinggi serta kelerengan tebing.
Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(2005) menyatakan bahwa tanah longsor boleh disebut juga dengan
gerakan tanah. Didefinisikan sebagai massa tanah atau material campuran
lempung, kerikil, pasir, dan kerakal serta bongkah dan lumpur, yang
bergerak sepanjang lereng atau keluar karena faktor gravitasi bumi.
Karnawati; Dwikorita (1996) mendefinisikan gerakan tanah sebagai
suatu gerakan menuruni lereng oleh massa tanah dan atau batuan
penyusun lereng, akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan
penyusun lereng tersebut. Massa yang bergerak dapat berupa massa
tanah, massa batuan ataupun bahan rombakan hasil percampuran antara
massa tanah dan batuan penyusun lereng. Jika massa yang bergerak
didominasi oleh massa tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada
lereng, baik berupa bidang miring ataupun lengkung, maka proses
pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran tanah.
Gerakan tanah dapat terjadi di mana saja dengan kecepatan
bervariasi. dari sangat perlahan (< 6 cm/th) sampai sangat cepat (> 3
m/detik). Waktu terjadinya sangat sulit diprediksi karena banyaknya faktor
pemicu proses tersebut akan tetapi dibandingkan dengan bencana lainnya
ini relatif lebih mudah diramalkan. Salah satu upaya untuk meminimalkan
resiko gerakan tanah adalah dengan melakukan pemetaan daerah-daerah
rawan. Penerapan langkah-langkah peminimalan resiko akibat
kelongsoran harus didahului dengan penelitian penentuan lokasi rawan
longsor sehingga dengan adanya peta tersebut dapat digunakan sebagai
dasar perencanaan pembangunan.
Bencana tanah longsor sering terjadi di Indonesia yang
mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda. Untuk itu perlu ditingkatkan
kesiapsiagaan dalam menghadapi jenis bencana ini. Pada akhir kegiatan
pemetaan ini akan ditampilkan daerah-daerah yang rawan terhadap
bencana tanah longsor yang ditampilkan dalam bentuk peta, serta jika data
memungkinan ditampilkan juga statistik kejadian dan kerusakan yang
pernah dialami.
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada
lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya
dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah, sedangkan gaya
pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat
jenis tanah/batuan.

a. Karakteristik Area Rawan Longsor

b. Memiliki intensitas hujan yang tinggi. Musim kering yang panjang


menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah
besar. Hal ini mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah
sehingga tanah permukaan retak dan merekah. Ketika hujan turun dengan
intensitas yang tinggi, air akan menyusup ke bagian yang retak membuat
tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat dan dapat terakumulasi di bagian
dasar lereng sehingga menimbulkan gerakan lateral dan terjadi longsoran.
c. Tergolong sebagai area lereng/tebing yang terjal.Lereng atau tebing
yang terjal akan memperbesar gaya pendorong sehingga dapat memicu
terjadinya longsoran.
d. Memiliki kandungan tanah yang kurang padat dan tebal. Jenis tanah
yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan
lebih dari 2,5 m. Tanah jenis ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah
karena mudah menjadi lembek bila terkena air dan mudah pecah ketika
hawa terlalu panas.
e. Memiliki batuan yang kurang kuat. Batuan endapan gunung api dan
batuan sedimen berukuran pasir dan merupakan campuran antara kerikil,
pasir, dan lempung umumnya merupakan batuan yang kurang kuat. Batuan
tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan,
sehingga pada umumnya rentan terhadap tanah longsor.
f. Jenis tata lahan yang rawan longsor. Tanah longsor banyak terjadi di
daerah tata lahan persawahan dan perladangan. Pada lahan persawahan,
akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah sehingga membuat tanah
menjadi lembek dan jenuh dengan air, oleh sebab itu pada lahan jenis ini
mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan, akar
pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan
umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
g. Adanya pengikisan/erosi. Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke
arah tebing. Selain itu, penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai
menyebabkan tebing menjadi terjal dan menjadi rawan terhadap longsoran.
h. Merupakan area bekas longsoran lama. Area bekas longsoran lama
memiliki ciri sebagai berikut :
1. Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda,
2. Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena
tanahnya gembur dan subur,
3. Adanya longsoran kecil terutama pada tebing lembah,
4. Adanya tebing-tebing yang relatif terjal,
5. Adanya alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran
kecil.
i. Merupakan bidang diskontinuitas (bidang yang tidak selaras). Bidang
ini merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran
tanah longsor dan memiliki ciri yaitu :
a. bidang perlapisan batuan,
b. bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar,
c. bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat,
d. bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan
yang tidak melewatkan air (kedap air),
e. bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
Tabel 1 Jenis-jenis Longsor
No Jenis Longsor dan Penjelasam Sketsa
1 Longsoran translasi adalah ber-
geraknya massa tanah dan batuan
pada bidang gelincir berbentuk rata
atau menggelombang landai.

2 Longsoran rotasi adalah bergerak-nya


massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.

3 Pergerakan blok adalah perpindahan


batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini
disebut juga longsoran translasi blok
batu.

4 Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah


besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh
bebas. Umumnya terjadi pada lereng
yang terjal hingga menggantung
terutama di daerah pantai. Batu-batu
besar yang jatuh dapat menyebabkan
kerusakan yang parah.
5 Rayapan Tanah adalah jenis tanah
longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan
halus. Jenis tanah longsor ini hampir
tidak dapat dikenali. Setelah waktu
yang cukup lama longsor jenis rayapan
ini bisa menyebabkan tiang-tiang
telepon, pohon, atau rumah miring ke
bawah.

6 Jenis tanah longsor ini terjadi ketika


massa tanah bergerak didorong oleh
air. Kecepatan aliran tergantung pada
kemiringan lereng, volume dan tekanan
air, dan jenis materialnya. Gerakannya
terjadi di sepanjang lembah dan
mampu mencapai ratusan meter
jauhnya. Di beberapa tempat bisa
sampai ribuan meter seperti di daerah
aliran sungai di sekitar gunungapi.
Aliran tanah ini dapat menelan korban
cukup banyak.
Sumber: Noor, 2006

b. Dampak Longsor

Banyak dampak yang ditimbulkan akibat terjandinya tanah longsor


baik dampak terhadap kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan maupun
dampaknya terhadap keseimbangan lingkungan.
1. Dampak terhadap kehidupan
Terjadinya bencana tanah longsor memiliki dampak yang sangat
besar terhadap kehidupan, khususnya manusia. Bila tanah longsor itu
terjadinya pada wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi,
maka korban jiwa yang ditimbulkan akan sangat besar, terutama bencana
tanah longsor yang terjadi secara tiba-tiba tanpa diawali tanda-tanda akan
terjadinya longsor.
Adapun dampak yang ditimbulkan dengan terjadinya tanah longsor
terhadap kehidupan adalah sebagai berikut:
i. Bencana longsor banyak menelan korban,
ii. Terjadinya kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan dan
sebagainya,
iii. Kerusakan bangunan-bangunan seperti gedung dan perumahan
penduduk,
iv. Menghambat proses aktivitas manusia dan merugikan baik masyarakat
yang terdapat disekitar bencana maupun pemerintah.

2. Dampak terhadap lingkungan


Adapun dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan akibat
terjadinya tanah longsir adalah sebagai berikut:
j. Terjadinya kerusakan lahan,
k. Hilangnya vegetasi penutup lahan,
l. Terganggunya keseimbangan ekosistem,
m. Lahan menjadi kritis sehingga cadangan air bawah tanah menipis,
n. Terjadinya tanah longsor dapat menutup lahan yang lain seperti sawah,
kebun, jalan dan lahan produktif lainnya.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari tulisan diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu:


a. Yang termasuk proses-proses geologi adalah gempa bumi, liquifaksi,
gunung api, tsunami, dan longsor.
b. Adapun proses terjadinya proses-proses geologi yaitu:
o. Gempabumi terjadi karena adanya pergerakan lempeng di zona tumbukan
kemudian mengalami perlambatan lalu terjadi penumpukan energi.
Kemudian pada saat zona itu tertekan, tertarik ataupun tergeser maka
terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba.
p. Liqufaksi terjadi karena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran
gempa.
q. Salah satu terjadinya tsunami yaitu karena gempa bumi yang berpusat
dibawah laut,
r. Longsor terjadi karena peristiwa perpindahan material pembentuk lereng
berupa berupa batuan atau tanah yang bergerak turun kebawah.
3. Adapun dampak dari proses-prose geologi, yaitu:
s. Dampak gempabumi:
i. Dampak positif, contohnya gunung dapat di jadikan tempat rekreasi yang
indah, letusan gunung api dalam waktu yang lama dapat menjadikan
daerah yang sangat subur bagi pertanian, terdapat bahan tambang yang di
hasilkan oleh bumi yang berguna bagi kehidupan manusia,
ii. Dampak negatif, contohnya gunung yang meletus dapat mengakibatkan
terjadinya bencana alam yang hebat, mengakibatkan kerusankan harta
benda bahkan nyawa manusia.
t. Dampak liqufaksi adalah runtuhnya bangunan atau bergesernya suatu
bangunan.
d. Dampak tsunami
u. Dampak positif, contohnya: tsunami merenggut banyak korban,sehingga
lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas bagi yang masih hidup, menjalin
kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana,
menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu
sama lain.
v. Dampak negatif, contohnya: merusak apa saja yang dilaluinya bangunan,
tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta
menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan
air bersih.
i. Dampak longsor, contohnya adalah bencana longsor banyak menelan
korban, terjadinya kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan
dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Abullah, 2017, Tsunami di Teluk Palu dan Sesar Palu Koro, Tadulako Publishing,
Sulawesi Tengah
Allen, P.A. & Allen, J.R. (1990) Basin Analysis: Principles and Application,
Blackwell Scientific Publications, Oxford
Bates, R.L. & Jackson, J.A. (1990) Glossary of Geology, 3rd Edition, American
Geological Institute, Virginia
Depkes RI. (2007). Profil Kesehatan 2007. Departemen Kesehtan RI
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Manajemen Bencana
Tanah Longsor.
Jayarnih, 2011, Geologi dan Studi Potensi Liquifaksi Daerah Srihardono dan
Sekitarnya Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005
Karnawati, Dwikorita. 1996a, Mechanism of rain-induced landsliding ini Java,
Media Teknik No. 3 Th XVIII November 1996.
Noor, Djauhari. 2006. Geologi Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Prasetya, T., M. Saleh, Endhiq Anang Pamungkas dan Hermi Susanti, 2006,
Gempabumi, Gitanagari, Yogyajarta
Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an Introduction to
Physical Geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112p.
Soemarwoto, O., 2001. Ekologi, Lingkungan dan Pembanguna. Jakarta:
Djambatan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Youd, T.L., 1973, Liquefaction Flow and Associated Ground Failure, Geological
Survey Circular, Washington, D.C.