Anda di halaman 1dari 9

5.1.

1 Kondisi Geografis
Kepulauan Karimunjawa terdiri dari gugusan 27 pulau dan terbagi menjadi
dua wilayah, yaitu wilayah taman nasional dan wilayah luar taman nasional. Dari
gugusan pulau-pulau tersebut, lima buah pulau telah berpenghuni, yaitu Pulau
Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting.
Pusat administrasi pemerintahan ada di Pulau Karimunjawa. Kepulauan ini secara
administratif merupakan kecamatan dari wilayah kabupaten Jepara, yang berlokasi
sekitar 45 mil arah barat laut kota Jepara. Kawasan Taman Nasional Karimunjawa
sendiri terdiri atas gugusan 22 pulau seluas 111.625 ha, yang terdiri dari tiga desa
yaitu Desa Karimunjawa, Kemujan, dan Parang.

Sumber : Wildlife Conservation Society

Gambar 3. Lokasi Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Indonesia.

5.1.3 Kondisi Biofisik Taman Nasional Karimunjawa


1. Iklim dan Oseanografi
Berdasarkan klasifikasi tipe iklim Schimidt dan Ferguson, kawasan TNKJ
memiliki tipe iklim C dengan rata-rata curah hujan 3.000 mm per tahun. Temperatur
udara berkisar antara 30° - 31° C. Hujan turun sepanjang tahun, dalam bulan April –
November jumlah hari hujan rata-rata 10 hari hujan tiap bulannya. Sedangkan pada
bulan Juni hujan rata-rata hanya turun 1 hari. Musim kering atau kemarau terjadi pada
bulan April-November dan musim hujan terjadi pada bulan Desember-Maret. Pada saat
musim hujan, angin bertiup sangat kuat dari arah barat (musim barat) dan menyebabkan
gelombang laut yang besar, hal ini pun terjadi pada bulan Juli-Agustus, ketika bertiup
angin dari arah timur (musim timur).
Karakteristik oseanografi Kepulauan Karimunjawa sangat dipengaruhi oleh
kondisi musim yang ada di Indonesia. Pada musim barat atau barat laut, arus kuat di
Perairan Karimunjawa berasal dari Laut Cina Selatan. Kecepatan angin pada musim
timur di Indonesia dapat mencapai 3,5 – 5 m/dt dan 7,5 m/dt pada musim barat,
sedangkan di perairan sekitar Jepara kecepatan angin rata-rata berkisar antara 1,23–
2,89 m/dt. Salinitas laut pada musim barat yaitu 32,6 ppm dan 32,2 ppm pada musim
timur.
Ekosistem Terumbu Karang
Luas ekosistem terumbu karang TNKJ adalah 713,107 ha. Gugusan terumbu
karang di Kep.Karimunjawa merupakan terumbu karang tepi dan taka (gosong).
Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society
(WCS) pada tahun 2003-2004 di 69 lokasi, tutupan rata-rata karang keras bervariasi
antara 7% - 69% dan secara keseluruhan memiliki rata-rata sekitar 40 %. Selama
survey tahun 2003-2006 jumlah genera karang keras yang tercatat adalah sebanyak 64
genus yang termasuk kedalam ordo Slclectina 14 famili dan 3 ordo non-Scleratinia.
Acropora dan Porites merupakan jenis genera karang yang mendominasi di seluruh
gugusan terumbu karang. Dominasi bentuk pertumbuhan karang di masing-masing
lokasi tergantung kapada sifatnya yang terbuka atau terlindungi terhadap angin dan
gelombang. Bentuk pertumbuhan karang di daerah yang terbuka terhadap angin dan
gelombang relatif beragam seperti bercabang (branching), meja (tabulate), lembaran
(foliose), mengerak (encrusting), masif (massive), dan sebagainya, yang tumbuh lebih
ringkas dan padat.

5.1.4 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat


1. Kependudukan
Penduduk Karimunjawa berasal dari etnis Jawa, Madura, Bajo, Bugis, Muna,
Luwu, Buton, dan Mandar. Mayoritas penduduk berasal dari Jawa, namun sebagian
besar etnis telah berbaur dan berinteraksi dengan etnis lain (Yulianto et al, 2007).
Berdasarkan data monografi Kecamatan Karimunjawa tahun 2008, jumlah penduduk di
Kecamatan Karimunjawa sebanyak 8.655 jiwa terdiri dari 2.875 kepala keluarga yang
tersebar di tiga desa, yaitu Desa Karimunjawa, Kemujan, dan Parang. Jumlah
penduduk laki-laki sebanyak 4.325 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 4.330
jiwa.
Tabel 5. Data Jumlah Penduduk Kecamatan Karimunjawa 2008
No Desa Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah Keluarga (KK)
1 Karimunjawa 4.300 1.489
2 Kemujan 2.805 899
3 Parang 1.550 497
Jumlah 8.655 2.875
Sumber : Monografi Kecamatan Karimunjawa 2008

Komposisi penduduk Kecamatan Karimunjawa berdasarkan tingkat pendidikan, yaitu


67 % lulusan SD, 23 % lulusan SLTP, 8 % lulusan SLTA, dan 2 % lulusan PT.

Tabel 6. Jumlah Penduduk Kecamatan Karimunjawa Menurut Tingkat Pendidikan


Tingkat Pendidikan
No Desa
SD (orang) SLTP (orang) SLTA (orang) PT (orang)

1 Karimunjawa 1154 661 194 36

2 Kemujan 1208 155 86 19

3 Parang 150 35 17 7

Jumlah 2512 851 297 62

Sumber : Monografi Kecamatan Karimunjawa 2008

Komposisi mata pencaharian penduduk yang berada di kawasan TNKJ adalah 8 %


petani, 28 % nelayan, 4 % swasta, 34 % buruh, 6 % PNS, 0.3 % TNI/POLRI, dan 20 %
lainnya.
Tabel 7. Jumlah Penduduk Kecamatan Karimunjawa Berdasarkan Mata Pencaharian
Desa Jumlah
Mata Pencaharian (orang)
Karimunjawa (orang) Kemujan (orang) Parang (orang)

Petani 135 451 52 638

Nelayan 1112 467 588 2167

Swasta 138 83 34 255

Buruh 2318 199 120 2637


PNS 386 39 14 439

TNI/POLRI 24 - - 24

Lainnya 23 956 600 1579

Sumber : Monografi Kecamatan Karimunjawa 2008

5.2.1 Kegiatan Perikanan Tangkap


Jumlah nelayan di Kecamatan Karimunjawa sebanyak 2.944 orang (Diskanlut
Kab. Jepara 2007) yang tersebar di tiga desa. Dari data tersebut 761 orang adalah
nelayan berstatus juragan dan 2.813 orang adalah nelayan pandega. Armada
penangkapan ikan di kecamatan ini terdiri dari dua jenis yaitu kapal motor sebanyak
473 dan perahu motor tempel sebanyak 124 unit dengan tonase kira-kira < 5 GT.
Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan berupa jaring, pancing, bubu, panah,
branjang, dan muroami.
Tabel 8. Jenis Alat Tangkap, Musim (Masa Operasi), dan Jenis Ikan Tangkapan
No Alat Tangkap Jumlah (unit) Masa Operasi Jenis ikan tangkapan
1 Muroami 2 September-Desember Ekor kuning
2 Branjang 90 Juni-Agustus Teri
3 Pancing tonda 617 Juni-September Tongkol
4 Pancing edo 200 Maret-Juni Ikan karang
5 Jaring 200 September-Nopember Ekor kuning
6 Bubu 2000 Sepanjang musim Ikan karang
Sumber : Dislutkan Kab. Jepara 2007

Produksi ikan laut yang tertangkap di perairan TNKJ dikelompokkan ke


dalam 2 kelompok yaitu kelompok ikan segar dan ikan hidup. Kelompok ikan segar
terdiri dari tongkol, tenggiri, cumi-cumi, badong, kakap merah, ekor kuning,
manyung, dan ikan campuran, sedangkan jenis ikan hidup terdiri dari sunuk, kerapu,
dan lobster.
Tabel 9. Produksi Ikan Perairan Karimunjawa
Tahun Ikan Segar (Kg) Ikan Hidup (Kg) Total (Kg)

2003 263700 15441.1 279141.1

2004 253850 15042.4 268892.4


2005 237535 18934.3 256469.3

2005 543775 10618.8 554393.8

2007 307721 10309.6 318030.6

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai Karimunjawa 2008

Berdasarkan Laporan Monotoring WCS, 2006 tentang Kajian Pola


Pemanfaatan Perikanan di Karimunjawa Tahun 2003 – 2005, total hasil tangkapan
yang tercatat selama penelitian didaerah penangkapan yang memiliki ekosistem
terumbu karang, yaitu sebesar 62.230 kg, terdiri dari 49 famili dan 287 spesies.
Komposisi hasil tangkapan didominasi oleh keluarga Caesionidae (fusillier) sebanyak
72.9 %, kemudian di susul oleh keluarga tongkol dan Tengiri (Scombridae) sebanyak

14 % dan keluarga Ikan Selar dan Badong (Carangidae) sebanyak 3.1 %. Ekor kuning
merupakan spesies ikan yang paling banyak ditangkap, yaitu 68.8 %. Jenis Tongkol
Lurik (Euthynnus affinis) menempati urutan kedua dengan nilai 8.6 %, di susul oleh
Tengiri dan Tongkol Hitam masing-masing sebanyak 2.6 % dan 2.2 %.

Sumber : WCS-fish catch report, 2006

Gambar 4. Komposisi tangkapan berdasarkan famili dan spesies

Berdasarkan gambar 4 di atas, 68,6 % ikan tangkapan di Karimunjawa adalah


ekor kuning, jadi bisa dikatakan bahwa perikanan karimunjawa saat ini adalah
perikanan ekor kuning. Jumlah ikan yang di tangkap di karimunjawa 55,8 % berasal
dari alat tangkap Muroami, 24 % berasal dari alat tangkap Jaring Pocong dimana
kedua alat tangkap ini memiliki jenis ikan target yang sama, yakni ikan Ekor Kuning.
Laporan Monitoring tersebut juga menyatakan bahwa tekanan perikanan tertinggi terjadi
di daerah terumbu karang sekitar Pulau Krakal Besar dan Krakal Kecil, Taka
Menyawakan, P. Burung , P. Geleang, P. Cemara Kecil, P. Menyawakan, P. Menjangan
Kecil, P. Tengah, P. Kecil, P. Cendikian, P. Gundul dan Timur P. Genting. Tekanan
perikanan tangkap didefinisikan sebagai jumlah rata-rata dari biomassa ikan (kg) yang di
ekstrak dari tiap-tiap lokasi penangkapan (Fishing Ground) di kepulauan Karimunjawa di
bagi dengan luasan dari tiap-tiap lokasi
tersebut (km2). Sedangkan lokasi penangkapan yang sudah jenuh meliputi P.

Menyawakan, Taka Menyawakan, P. Cemara Besar, P. Burung, Tj. Gelam, P. Tengah dan
sebelah timur P. Kemujan.
Nelayan Karimunjawa pada umumnya menjual hasil tangkapan mereka ke
pedagang atau tengkulak setempat (90 %) dan hanya sekitar 10 % yang dipakai untuk
konsumsi pribadi. Jenis-jenis ikan Ekor Kuning dan Tenggiri dijual ke padagang
penampung di Desa Karimunjawa untuk kemudian dikirim ke Jepang. Khusus untuk ikan
Ekor Kuning selanjutnya akan dikirim ke luar negeri melalui Semarang dan Jakarta,
sedangkan ikan Tenggiri dan Tonggkol dijual di pasar local Jepara dan kota lainnya di
Jawa Tengah (Yulianto et al, 2007).

5.2.2 Kegiatan perikanan budidaya


Kegiatan perikanan budidaya di sekitar Taman Nasional Karimunjawa
meliputi dua komoditas yaitu kerapu dan rumput laut. Saat ini untuk kegiatan
budidaya kerapu terdapat 60 unit karamba, yaitu 40 unit karamba
pengumpul/penampung dan 20 unit karamba budidaya dengan luas tambak 65.2 ha
dan jumlah petak sebanyak 161 (Dislutkan Jepara 2007). Jenis kerapu yang di
dibudidayakan nelayan pembudidaya adalah kerapu macan dan bebek, benih
kerapu ini mereka peroleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (
BBPBAP), balai ini merupakan salah satu kelembagaan penyuluhan perikanan
milik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara yang terdapat di Desa
Karimunjawa. Jenis karamba yang digunakan nelayan pembudidaya dan
pengumpul kerapu adalah karamba jaring apung dan karamba jaring tancap. Pada
umumnya dalam satu petak kolam, nelayan pembudidaya menebar 200 ekor benih
ikan kerapu. Ukuran benih kerapu macan yang ditebar adalah 11 cm dengan harga
beli Rp 1000/cm dan 8 cm untuk benih kerapu bebek dengan harga beli Rp
1500/cm, masa produksi dari awal penebaran hingga panen adalah 1-1.5 tahun.
Harga kerapu macan Rp 80.000-Rp 90.000 /kg dan kerapu bebek Rp 350.000/kg.
Nelayan pembudidaya menjual hasil produksinya ke pedagang di Jepara dan
kepada pembeli yang datang langsung ke karamba mereka. Hasil produksi
budidaya kerapu pada karamba jaring tancap dan apung pada tahun 2007
mencapai 3.15 ton.
Budidaya rumput laut mulai berkembang di Kepulauan Karimunjawa pada
akhir tahun 2004, Rumput laut yang di tanam di Karimunjawa tergolong ke dalam
tiga filum yaitu Clorophyta, Phaeophyta, dan Rhodophhyta. Luas area laut yang
potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut di Karimunjawa sekitar 1159
Ha dengan tingkat pemanfaatan mencapai 275 Ha, yang tersebar di tiga desa
(Dislutkan Jepara 2007). Hasil produksi rumput laut dari tiap kelompok tani, dibeli
dalam keadaan basah seharga Rp 500/kg, lalu oleh pengusaha tadi dikeringkan dan
dipasarkan kedaerah Surabaya dengan harga jual Rp 6000/kg. Sejak tahun 2004 –
2006 bibit rumput laut yang ditanam petani adalah Eucheuma cottoni yang berasal
dari Cilacap, namun sejak awal 2007 hingga sekarang petani menggunakan bibit
Eucheuma cottoni (pembudidaya menyebutnya sebagai “cottoni jumbo”) dari
Kepulauan Morotai karena lebih tahan terhadap hama penyakit (ice-ice), lumut,
gelombang, dan ukurannya lebih besar dari pada bibit sebelumnya. Umumnya para
petani rumput laut menggunakan 2-5 kw bibit per musim tanam, harga bibit Rp
1000/kg, bibit tersebut di besarkan hingga umur 2 bulan, setelah bibit tumbuh dan
berkembang lalu bibit dipotong dan diikat pada sisa tali ris dan dibiarkan tumbuh
hingga 2 bulan selanjutnya. Masa produksi dari awal tanam hingga panen adalah 4
bulan dengan total produksi mencapai 2-5 ton rumput laut basah.
5.2.3 Kegiatan Pariwisata
Prinsip dalam pengembangan pariwisata di Taman Nasional Karimunjawa
diarahkan untuk meningkatkan upaya konservasi sekaligus memenuhi fungsi pendidikan,
penelitian, dan rekreasi yang melibatkan partisipasi masyarakat (Yulianto et al, 2007).
Keindahan alam Kepulauan Karimunjawa sangat potensial untuk dikembangkan sebagai
tujuan wisata, baik wisata bahari seperti diving, snorkeling, swimming, canoing, sun
bathing, fishing, dan akuarium laut maupun wisata petualangan alam seperti hiking,
camping, dan caving. Selain alam yang indah, penduduk Karimunjawa yang multietnis
membuat kawasan ini pun menarik untuk disimak berbagai keunikan budaya dan
tradisinya. Terdapat pula wisata Religi,
berupa ziarah ke Makam Sunan Nyamplungan. Sunan Nyamplungan dikenal sebagai
Sunan Muria yang merupakan murid Sunan Kudus dan merupakan orang pertama yang
mendiami Pulau Karimunjawa.
Sarana penginapan sebagai penunjang kegiatan pariwisata yang ada saat ini terdiri
dari jenis pondok tinggal (homestay), wisma, pondok apung, dan hotel. Tarifnya berkisar
antara Rp 50.000,- hingga Rp 500.000,- . Fasilitas penginapan ini tersebar di Pulau
Karimunjawa, Menjangan Besar, Tengah, dan Menyawakan. Selain itu, terdapat pula
fasilitas penyewaan sarana transportasi bagi wisatawan yang ingin berkeliling TNKJ.
Sarana transportasi ini berupa perahu wisata (Rp 200.000,- – Rp
500.000,-), perahu kaca untuk melihat keindahan terumbu karang (Rp 400.000,-), speed
boat (Rp 250.000,-), sepeda motor (Rp 30.000,- – Rp 50.000,- per hari), dan mobil (Rp
150.000,- – Rp 300.000,- per hari).
Saat ini terdapat empat operator wisata yang menawarkan paket wisata. Empat
operator wisata tersebut yaitu Jaya Karimun (wisma apung), Hamfa, Duta Karimun, dan
Wisma Wisata (milik Dinas Pariwisata Kab.Jepara). Harga paket wisata tersebut berkisar
antara Rp 225.000 – Rp 300.000 per orang selama dua hari satu malam. Para operator
wisata ini bekerja sama dengan biro perjalanan wisata/agen yang terdapat di sekitar kota
Jepara dalam mengokomodasi wisatawan yang ingin berkunjung ke TNKJ. Biro
perjalanan wisata tersebut yaitu Tirta Bianca Tour and Travel, Senja Furindo, Trio Tour,
Puspa Tour, Bejeu, Kartika Tour, Central Java, Duta Karimun, dan Karimunjawa Trans.
Tabel 12. Jumlah Kunjungan Wisatawan TNKJ 2000 – 2008
Wisatawan Wisatawan
Total Persen Perubahan
No Tahun Nusantara Mancanegara
(orang) per tahun
(0rang) (orang)
1 2000 303 92 395
2 2001 485 301 786 2.13
3 2002 561 134 695 (0.5)
4 2003 772 157 929 1.27
5 2004 3409 507 3916 16.3
6 2005 5960 1010 6970 16.7
7 2006 2718 380 3098 (21.1)
8 2007 1043 245 1288 (9.8)
9 2008 (hingga bulan April) 209 48 257 (5.6)
Sumber : Statistik Balai Taman Nasional Karimunjawa 2007

Berdasarkan tabel 12 di atas terlihat terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebesar 16 %


pada tahun 2004, hal ini selain dikarenakan adanya penambahan fasilitas penyebrangan,
yaitu KMC Kartini I, juga karena pada tahun 2004 mulai menjamurnya pondok tinggal
(homestay) yang dikelola oleh masyarakat, dan adanya kampanye pemilihan presiden
menyebabkan kawasan TNKJ mendapat perhatian dari masyarakat luar. Namun jika kita
lihat mulai dari tahun 2004 hingga 2008, jumlah kunjungan wisatawan mengalami
fluktuatif, hal ini karena menurunnya euforia masyarakat luar terhadap kawasan TNKJ
yang sebelumnya tidak begitu mereka ketahui karena minimnya informasi dan sarana
transportasi. Dengan kemudahan aksesibilitas transportasi dan informasi menuju dan
tentang TNKJ, menyebabkan menurunnya animo masyarakat luar untuk bewisata ke
kawasan TNKJ.