Anda di halaman 1dari 6

Penetasan telur

Pengertian penetasan telur


Penetasan telur merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan
ternak unggas yang baru dari telur. Penetasan secara alami dilakukan oleh induk unggas
dengan cara mengerami telurnya, sedangkan yang secara tiruan dilakukan oleh manusia
dengan bantuan alat penetasan. Alat penetasan sekarang telah berkembang dengan pesat
mulai dari manual sampai otomatis (semua kegiatan dilakukan oleh mesin).
Faktor yang memengaruhi daya tetes telur

. Kualitas telur. Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat
kematangan telur.
2. Lingkungan yaitu kualitas air terdiri dari suhu, oksigen, karbon-dioksida, amonia, dll.
3. Gerakan air yang terlalu kuat yang menyebabkan terjadinya benturan yang keras di antara telur
atau benda lainnya sehingga mengakibatkan telur pecah.

Penetasan telur dapat disebabkan oleh gerakan telur, peningkatan suhu, intensitas cahaya atau
pengurangan tekanan oksigen. alam penekanan mortalitas telur, yang banyak berperan adalah
faktor kualitas air dan kualitas telur selain penanganan secara intensif.

secara alami telur lele akan menetas dalam waktu 20-36 jam. Untuk
mendapatkan daya tetas yang tinggi, air media penetasan dapat disterilkan
dengan mencampurkan methylene blue 5 ml untuk 5 liter air media atau kita
dapat menggunakan air garam. Pergantian air media penetasan dapat kita
lakukan sebanyak 1-2 kali sehari, untuk membersihkan sisa lemak dan telur yang
mati/tidak menetas.

Dalam upaya penetasan telur lele, ada beberapa cara yang sering dilakukan, di
antaranya adalah sebagai berikut:
1. Penetasan dalam kolam pemijahan
Pada penetasan telur di kolam pemijahan, setelah terjadi pemijahan maka
kakaban yang telah berisi telur hasil pemijahan akan tetap dibiarkan di kolam
tersebut, sedangkan pasangan induk dipindahkan ke kolam lain. Pemeliharaan
larva di kolam pemijahan berkisar 2-4 minggu. Ketika telur sudah menjadi
larva/benih, untuk menghindari bahaya pengaruh alam dan predator, kolam
pemijahan dapat diberi pelindung seperti ranting pepohonan, dedaunan atau
rumpon. Penetasan dengan cara ini dapat menghemat tenaga dan biaya.
2. Penetasan dalam kolam penetasan
Penetasan telur ikan lele juga dapat dilakukan di kolam penetasan. Untuk
penetasan di kolam penetasan kita tinggal memindahkan kakaban ke kolam
penetasan.
Kolam penetasan yang dipersiapkan berukuran sekitar 2x2 meter. Penetasan telur
ikan lele dengan menggunakan kolam tanah sudah jarang dilakukan karena
tingkat kematian benih lele lebih tinggi oleh karena itu untuk mengatisipasinya
kita dapat menggunakan hapa dengan ukuran 1x2 meter yang dipasang di kolam
tanah tersebut dan dibuat beberapa petak namun alternatif yang baik adalah
dengan menggunakan kolam yang terbuat dari terpal atau bak beton.

“Khusus kolam tanah” Sebelum digunakan untuk menetaskan telur, kolam perlu
diolah terlebih dahulu agar diperoleh hasil yang optimal. Pengolahan lahan untuk
kolam penetasan hampir sama dengan kolam untuk pembesaran.
3. Penetasan telur di akuarium/corong
Penetasan secara intensif dilakaukan pada wadah khusus agar penetasan telur
lebih terpantau. Prosesnya dimulai dengan memindahkan kakaban ke tempat
penetasan khusus seperti akuarium atau corong pemijahan. Penetasan dengan
cara ini banyak digunakan pada pemijahan lele dari hasil kawin suntik pemijahan
stripping

Penetasan yang dilakukan di akuarium/corong biasanya lebih intensif dengan


kepadatan relatif tinggi dengan pantauan kondisi lingkungan yang lebih baik.
Beberapa peralatan penunjang yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Aerator atau blower untuk menyuplai oksigen, dilengkapi instalasi pipa


dan selang plastik untuk mengalirkan oksigen ke dalam akuarium.
2. Water heater, untuk menghangatkan air media jika mengalami penurunan
suhu.
3. Selang sipon, untuk membersihkan kotoran dan sisa pakan bila telur
sudah menetas.
4. Pompa air, untuk menyuplai air bersih.
5. Tes kit untuk kualitas air, minimal kertal lakmus atau pH meter, untuk
mengukur pH air akuarium.
6. Zat-zat kimia/obat, seperti:
1. Methylene blue, untuk membunuh jasad renik pada waktu penetasan telur.
2. Sodium bikarbonat, untuk menaikkan pH.
3. Asam fosfat, untuk menurunkan pH.
4. Antibiotik, untuk mencegah serangan mikroorganisme.
Pemijahan di dalam media terkontrol seperti akuarium, bak, kolam kecil, apabila
terjadi fluktuasi pH maka dapat distabilkan dengan zat kimia. Untuk menurunkan
pH 1 digit dapat menggunakan asam fosfat sebanyak 0,5 gram untuk 100 liter air
sedangkan untuk menaikkan pH 1 digit kita dapat menggunakan sodium
bikarbonat 0,5 gram untuk 100 liter air
Proses penetasan telur
Pada ikan lele biasanya telurnya dilekatkan pada substrat. Telur yang telah menempel pada kakaban
dapat ditetaskan dalam wadah budi daya disesuaikan dengan sistem budi daya yang akan
diaplikasikan. Selama penetasan telur, air dialirkan terus menerus. Seluruh telur yang akan
ditetaskan harus terendam air, kakaban yang penuh dengan telur diletakan terbalik sehingga telur
menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam air seluruhnya. Telur yang telah
dibuahi berwarna kuning cerah kecokelatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih
pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi
kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan dpasang aerasi. Telur akan
menetas tergantung dari suhu air wadah penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur
akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama.
Morula Awal Blastula Akhir Blastula Dimulainya epiboly 30% epiboly Germinal disk 60% epiboly 90%
epiboly 1–10 somite 80–100% menetas.

Telur ikan lele akan menetas berkisar antara 24–57 jam dari pembuahan. Selama penetasan telur
harus selalu dicek, telur yang sehat berwarna hijau kecoklatan, bila ada telur yang berwarna putih
harus segera dibuang untuk menghindari berkembangnya jamur. Perkembangan stadia embrio
pada ikan leletelah diamati oleh Volkaert et al (1994) yang melakukan pengamatan pada suhu
penetasan telur yang optimal adalah 28° C (Tabel 4.7). Telur ikan lele (African catfish) akan menetas
setelah 24 jam dengan derajat penetasan 80–100%.

Proses penetasan telur

Setelah telur dipindahkan ke dalam wadah penetasantelur (pada pemijahan secara alami
dan semi-intensif), atau campuran sel telur dan sperma sudah diletakkan dalam wadah
penetasan (pada pemijahan secara intensif), tahap selanjutnya adalah menunggu telur-telur
tersebut menetas. Untuk penetasan telur induk lele. dibutuhkan oksigen terlarut yang cukup.
Selain itu, suhu air dipertahankan 25-28O C. Jika memungkinkan, pertahankan suhu air
pada suhu yang paling optimum bagi lele, yakni 27° C. Untuk mengukur suhu tersebut
gunakan termometer. Untuk mengatasi suhu terlalu rendah (dingin), pasang tenda yang
terbuat dari terpal plastik di atas kolam pemijahan.

Umumnya, telur-telur akan menetas sekitar 24 jam sejak peletakan telur di bak penetasan.
Larva atau anakan lele sudah mulai terlihat bergerak-gerak. Ketika sampai pada fase ini
yang sangat penting diperhatikan adalah sirkulasi air. Pasang aerator pada bak penetasan
tersebut. Aerasi dapat membantu dalam menyuplai oksigen terlarut .

Setelah telur menetas,angkat kakaban secara perlahan. Sekali lagi harap diperhatikan,
sirkulasi air tetap dijaga agar tidak terjadi pembusukan dari telur-telur yang gagal menetas.
Kondisi umum air pasca penetasan telur memang kotor. Karena itu, sebaiknya air dikurangi
sebagian, sekitar 10-1 5 cm, lalu diganti dengan air baru yang jernih dan bersih

Penetasan Telur Lele


Pemijahan lele bertujuan untuk menghasilkan benih lele berkualitas yang nantinya dapat
dipelihara hingga besar atau dijual sebagai benih. Proses pemijahan lele dapat dibaca pada.
Dalam proses pemijahan tersebut, lele akan bertelur dan telurnya menempel pada kakaban
(media bertelur) yang telah disiapkan. Salah satu proses penting berikutnya adalah proses
penetasan telur lele.

Induk lele betina menghasilkan sekitar 3000-5000 butir telur per kg berat tubuhnya. Lele yang
memiliki ukuran tubuh lebih besar akan menghasilkan telur lebih banyak. Dalam proses
penetasan yang penting diperhatikan adalah memindahkan indukan yang telah selesai bertelur
dari kolam pemijahan. Induk lele yang telah kelelahan bertelur akan memakan telurnya sendiri
apabila tidak segera dipindahkan dari kolam pemijahan tersebut.

Setelah induk lele dikeluarkan dari kolam pemijahan, air di dalam kolam harus dikurangi agar
telur menetas sempurna. Kolam pemijahan yang awalnya diisi dengan air sedalam 20 cm
dikurangi hingga setengahnya, yaitu menjadi sedalam 10 cm saja. Hal ini perlu dilakukan agar
oksigen di udara mudah berdifusi ke dalam air dan mencapai telur yang sedang berkembang.
Telur membutuhkan pasokan oksigen yang baik agar dapat berkembang dengan sempurna
hingga menjadi lele-lele kecil.

Kolam yang berisi telur sebaiknya dihindarkan dari panas matahari dan hujan karena keduanya
dapat mempengaruhi kualitas air dan mempengaruhi penetasan telur. Solusinya dapat
dilakukan dengan membuat penurup dari plastik gelap atau terpal di atasnya. Penutup tersebut
terus dipertahankan hingga anakan lele berumur 2 hingga 3 minggu.

Setelah kolam lele dilindungi dari panas dan hujan, proses selanjutnya hanya menunggu sampai
telur tersebut menetas. Telur yang akan menetas biasanya berwarna bening, sedangkan telur
yang berwarna putih adalah telur yang gagal dibuahi dan tidak akan menetas. Normalnya, telur
lele akan menetas dalam waktu kurang lebih 24 jam setelah dikeluarkan. Namun di daerah-
daerah yang bersuhu sangat dingin, telur dapat menetas dalam waktu yang lebih lama hingga 48
jam.

Lele yang baru menetas berukuran sangat kecil dan berwarna coklat muda, biasanya akan
berkumpul di dasar kolam. Lele yang baru menetas masih memiliki cadangan makanan sisa dari
telurnya sehingga tidak perlu diberi makan selama 2-3 hari. Setelah cadangan makanan habis,
anak lele bisa mulai diberi makan dengan cacing sutra atau pelet tabur yang berbentuk serbuk.
Pemberian pakan berupa cacing sutra sangat baik untuk pertumbuhan lele karena memiliki
kadar protein yang tinggi

Cara Menetaskan Telur Lele Secara Alami


a. Persiapan Kolam atau Wadah Penetasan Telur
Wadah penetasan telur harus dilengkapi dengan aerator untuk menjaga sirkulasi air.
Keberadaan aerator ini juga sebagai penyuplai oksigen terlarut. Perlu diingat, proses
perkembangan telur hingga menetas memerlukan oksigen terlarut yang cukup.

1. Kolam atau Bak semen


Pengertian bak semen untuk penetasan telur sama dengan kolam semen unuik pemijahan,
yaitu seluruh kolam dibuat dari semen, baik dinding maupun dasar kolam. Ukuran kolam
atau hak semen untuk penetasan telur sama dengan kolam semen untuk pemijahan, yakni
sekitar 1 x 2 m atau 2 x 3 m. Begitu pula dengan tinggi kolam sama, yaitu sekitar 1 meter
dengan kedalaman air 60-70 cm. Kolam semen ini dilengkapi dengan saluran pemasukan
dan pengeluaran air yang terbuat dari pipa paralon. Lubang saluran pembuanganjuga
berguna untuk mengangkut kotoran yang berada di dalam kolam

.2. Kolam Terpaal


Bak terpal merupakan wadah alternatif yang dapat digunakan untuk tempat penetasan telur-
telur lele. Ukuran kolam terpal untuk penetasan telur biasanya lebih besar dibandingkan
dengan ukuran kolam terpal untuk pemijahan. Ukurannya 2 x 3 m atau 3 x 4 m. Tinggi
dinding kolam 60-70 cm, sedangkan ketinggian air 25-30 cm.

3. Bak Fiberglass

Bak hberglass bisa juga digunakan untuk tempat penetasan telur lele. Ukuran liberglass
untuk tempat penetasan telur sama dengan fiberglass yang digunakan untuk tempat
pemijahan, yaitu 1 x 2 m. Namun, ketinggian bak sedikit lebih pendek, yakni 60 cm. Bak
fiberglass ini dapat diisi air setinggi 50 cm.

4. Akuarium
Akuarium juga cukup memadai untuk digunakan sebagai tempat penetasan telur ikan lele.
Ukuran akuarium yang biasa digunakan untuk keperluan ini sekitar 40 x 80.cm_ atau 50 x
100 cm, dengan tinggi akuarium masing-masing 40 cm. Akuarium ini dapat diisi air setinggi
30 cm.

b. . Proses Penetasan Telur

Setelah telur dipindahkan ke dalam wadah penetasantelur (pada pemijahan secara alami
dan semi-intensif), atau campuran sel telur dan sperma sudah diletakkan dalam wadah
penetasan (pada pemijahan secara intensif), tahap selanjutnya adalah menunggu telur-telur
tersebut menetas. Untuk penetasan telur induk lele. dibutuhkan oksigen terlarut yang cukup.
Selain itu, suhu air dipertahankan 25-28O C. Jika memungkinkan, pertahankan suhu air
pada suhu yang paling optimum bagi lele, yakni 27° C. Untuk mengukur suhu tersebut
gunakan termometer. Untuk mengatasi suhu terlalu rendah (dingin), pasang tenda yang
terbuat dari terpal plastik di atas kolam pemijahan.

Umumnya, telur-telur akan menetas sekitar 24 jam sejak peletakan telur di bak penetasan.
Larva atau anakan lele sudah mulai terlihat bergerak-gerak. Ketika sampai pada fase ini
yang sangat penting diperhatikan adalah sirkulasi air. Pasang aerator pada bak penetasan
tersebut. Aerasi dapat membantu dalam menyuplai oksigen terlarut.

Setelah telur menetas,angkat kakaban secara perlahan. Sekali lagi harap diperhatikan,
sirkulasi air tetap dijaga agar tidak terjadi pembusukan dari telur-telur yang gagal menetas.
Kondisi umum air pasca penetasan telur memang kotor. Karena itu, sebaiknya air dikurangi
sebagian, sekitar 10-1 5 cm, lalu diganti dengan air baru yang jernih dan bersih.

Penyebab ikan lele gagal menetas


TELUR IKAN LELE BELUM MATANG
Dі dalam perut induknya, telur-telur mengalami stadia perkembangan уаng dikenal dеngаn
sebutan TKG (Tingkat Kematangan Gonad).

Apabila peternak lele salah dalam mengenali ciri-ciri induk betina уаng ѕudаh matang gonad,
maka pemijahan ikan tеrѕеbut tіdаk аkаn menghasilkan telur уаng bіѕа berkembang menjadi
larva.

Tingkat kematangan telur ikan lele bіаѕаnуа mudah dikenali lewat warnanya. Telur уаng
berwarna hijau kecokelatan menandakan kondisi уаng ѕudаh siap dibuahi sel sperma.
Sеdаngkаn telur уаng bеlum matang warnanya hijau muda.

KUALITAS AIR MENURUN

Kualitas air berpengaruh besar terhadap keberhasilan telur dalam menetas menjadi larva.
Misalnya saat pagi dan siang hari Andа melihat bеgіtu banyak telur-telur ikan уаng sukses
menetas.

Tеtарі sore harinya kondisi air berubah menjadi keruh dan berbau busuk, maka telur-telur
lainnya рun gagal menetas karena keracunan amonia. Solusinya аntаrа lаіn memperluas
ukuran kolam penetasan telur, mengalirkan air tаnра putus, atau menumbuhkan fitoplankton.

SUHU TERLALU TINGGI

Fase telur pada ikan merupakan tahap уаng paling rentan mengalami kematian. Salah satu
faktor уаng turut mendukung penetasan telur ikan іаlаh suhu media air уаng dipakai.

Suhu air уаng paling ideal dі kolam penetasan іаlаh 21 derajat celsius. Suhu air уаng tеrlаlu
tinggi аkаn memicu kematian pada telur-telur tersebut.

TELUR SUDAH KADALUWARSA

Kasus іnі bіаѕаnуа terjadi pada ikan betina уаng baru dipijahkan pertama kali.

Karena ikan betina уаng ѕudаh matang gonad tіdаk kunjung dikawinkan mengakibatkan telur-
telur dі perutnya semakin menua.

Telur-telur уаng ѕudаh tua іnі bіаѕаnуа tіdаk аkаn berkembang menjadi larva mеѕkірun ѕudаh
berhasil dibuahi оlеh sel penjantan.