Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN DURASI PENYAKIT DAN KADAR GULA DARAH DENGAN

KELUHAN SUBYEKTIF PENDERITA DIABETES MELITUS


The Relationship Between Duration Disease and Glucose Blood Related to Subjective Compliance in
Diabetes Mellitus

Nur Lailatul Lathifah


FKM UA, layllatief@gmail.com
Alamat Korespondensi: Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

ABSTRAK
Diabetes melitus sering disebut dengan the silent killer karena penyakit ini bisa mengenai semua organ tubuh
dan menimbulkan beberapa macam keluhan. Kecamatan Tambaksari kota Surabaya pada tahun 2013 (DM
memiliki kasus DM yang tinggi dan menjadi masalah kesehatan karena mempunyai angka prevalensi DM
melebihi dari angka prevalensi Jawa Timur sebesar 2,1% dan lebih besar dari angka prevalensi rate DM di
Indonesia yaitu 1,5%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis antara durasi penyakit dan kadar gula
darah dengan keluhan subjektif pada penderita DM Tipe 2 di Puskesmas Rangkah dan Pacarkeling Surabaya.
Jenis penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel dalam
penelitian ini yaitu penderita DM tipe 2 sebanyak 50 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara
Simple Random Sampling, peneliti melakukan wawancara dengan bantuan instrumen kuesioner. Analisis data
menggunakan Uji Chi Square test. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu keluhan subyektif, sedangkan
variabel independen yaitu durasi penyakit dan kadar gula darah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada
hubungan antara durasi penyakit dengan keluhan subyektif pada penderita DM Tipe 2 (p = 0,049) dan kadar
gula darah dengan keluhan subyektif pada penderita DM tipe 2 (p = 0,004). Berdasarkan analisis tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara durasi penyakit dan kadar gula darah dengan keluhan
subyektif pada penderita DM Tipe 2. Saran penelitian yaitu, kepada puskesmas agar meningkatkan pengetahuan
dan informasi kepada penderita DM tipe 2 tentang bahaya yang ditimbulkan penyakit diabetes melitus berupa
komplikasi dan cara penanganannya.
Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, durasi penyakit, kadar gula darah, keluhan subyektif

ABSTRACT
Diabetes mellitus is often called the silent killer because it can affect all the organs of the body and cause
several kinds of complaints. In 2013, Tambaksari Sub-district, Surabaya city has high DM case and become
health problem because it has DM prevalence rate exceeding East Java prevalence 2,1% and bigger than DM
prevalence rate in Indonesia that is 1.5%. The purpose of this study was to analyze the duration of disease
and blood sugar levels with subjective complaints in patients with type 2 diabetes in Puskesmas Rangkah and
Pacarkeling Surabaya. This research uses analytic observational with cross sectional method. The sample in
this research that is patient of type 2 DM as much as 50 sample. The sampling technique was done by Simple
Random Sampling, the researcher conducted the interview with the help of questionnaire. Data analysis using
Chi Square test. Dependent variable in this research is subjective complaint, while the independent variable is
disease duration and blood sugar level. Result of research indicate that there is correlation between duration
of disease with subjective complaint in patient Type 2 DM (p = 0.049) and blood sugar level with subjective
complaint In patients with type 2 diabetes (p = 0.004). Based on the analysis it can be concluded that there is a
relationship between the duration of the disease and blood sugar levels with subjective complaints in patients
with Type 2 diabetes. To the puskesmas in order to increase knowledge and information to patients with type 2
diabetes mellitus diabetes mellitus in the form of complications and how to handle it.
Keywords: type 2 diabetes mellitus, disease duration, glucose blood, subjective complaint

©2017 FKM_UNAIR All right reserved. Open access under CC BY–SA license doi:10.20473/jbe.v5i2.2017.231-239
Received 05 July 2017, Received in Revised Form 07 August 2107, Accepted 07 August 2017, Published online: 31 August 2017
232 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 2, Mei 2017, hlm. 231-239

PENDAHULUAN Data dari berbagai studi global menyebutkan


Transisi epidemiologi biasa disebut dengan bahwa penyakit DM adalah masalah kesehatan
perubahan keadaan yang ditandai dengan adanya yang besar. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan
perubahan angka kematian dan angka kesakitan jumlah penderita diabetes dari tahun ke tahun. Pada
akibat penyakit infeksius menjadi penyakit non tahun 2015 menyebutkan sekitar 415 juta orang
infeksius. Hal ini terjadi karena adanya era globalisasi dewasa memiliki diabetes, kenaikan 4 kali lipat dari
yang mengubah pola hidup di masyarakat, mulai dari 108 juta di tahun 1980an. Apabila tidak ada tindakan
sosial ekonomi dan tingginya angka harapan hidup. pencegahan maka jumlah ini akan terus meningkat
Perubahan tersebut menimbulkan penyakit kronis tanpa ada penurunan. Diperkirakan pada tahun 2040
seperti jantung, diabetes melitus, hipertensi, dan meningkat menjadi 642 juta penderita (IDF, 2015).
penyakit kronis lainnya (Smeltzer dan Bare, 2008) Insidensi DM terbukti meningkat dalam berbagai
Diabetes melitus merupakan penyebab penelitian. Penelitian di Indonesia termasuk Jakarta
hiperglikemi. Hiperglikemi disebabkan oleh berbagai dan kota lainnya menunjukkan adanya peningkatan.
hal, namun hiperglikemi paling sering disebabkan Peningkatan insidensi DM akan memengaruhi
oleh diabetes melitus. Pada diabetes melitus gula peningkatan kejadian komplikasi kronik. Komplikasi
menumpuk dalam darah sehingga gagal masuk ke kronik dapat terjadi khususnya pada penderita DM
dalam sel. Kegagalan tersebut terjadi akibat hormon tipe 2 (Waspadji, 2009).
insulin jumlahnya kurang atau cacat fungsi. Hormon Penyandang DM memiliki risiko timbulnya
insulin merupakan hormon yang membantu masuknya penyakit. Penyakit yang timbul pada penderita DM
gula darah (WHO, 2016). misalnya penyakit jantung koroner. Orang dengan
Penyakit kronis seperti DM sangat rentan terhadap DM memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami
gangguan fungsi yang bisa menyebabkan kegagalan jantung koroner, lebih rentan menderita gangrene
pada organ mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh sebesar lima kali, tujuh kali lebih rentan mengidap
darah. Gangguan fungsi yang terjadi karena adanya gagal ginjal, dan 25 kali lebih rentan mengalami
gangguan sekresi insulin dan gangguan kerja insulin kerusakan retina yang mengakibatkan kebutaan pada
maupun keduanya. penyandang DM tipe 2 daripada pasien non DM
Menurut International Diabetes Federation-7 (Waspadji, 2007).
tahun 2015, dalam metabolisme tubuh hormon Komplikasi yang terjadi pada penderita DM
insulin bertanggung jawab dalam mengatur kadar mengakibatkan terjadinya angka kematian dan angka
glukosa darah. Hormon ini diproduksi dalam pankreas kesakitan bukan hiperglikemi (Pernama, 2013).
kemudian dikeluarkan untuk digunakan sebagai Diabetes melitus biasa disebut dengan penyakit yang
sumber energi. Apabila di dalam tubuh kekurangan mematikan karena menyerang semua organ tubuh
hormone insulin maka dapat menyebabkan dan menimbulkan keluhan. Keluhan pada penderita
hiperglikemi (IDF, 2015). DM disebabkan oleh banyak hal diantaranya
Diabetes melitus tipe 2 merupakan golongan karakteristik individu meliputi jenis kelamin, umur,
diabetes dengan prevalensi tertinggi. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan,
karena berbagai faktor diantaranya faktor lingkungan jumlah anggota keluarga, riwayat penyakit dan
dan faktor keturunan. Faktor lingkungan disebabkan dapat dipengaruhi juga dengan faktor penanganan
karena adanya urbanisasi sehingga mengubah gaya yang meliputi diet, aktivitas fisik, terapi obat, dan
hidup seseorang yang mulanya konsumsi makanan pemantauan glukosa darah (Trisnawati, 2013).
yang sehat dan bergizi dari alam menjadi konsumsi Penyandang DM memiliki risiko terkena penyakit
makanan yang cepat saji. Makanan cepat saji berisiko jantung 2-4 daripada orang yang non DM. Kemenkes
menimbulkan obesitas sehingga seseorang berisiko RI (2013) menyebutkan bahwa Provinsi Jawa
DM tipe 2. Orang dengan obesitas memiliki risiko 4 Timur mengalami peningkatan prevalensi 1,1 bila
kali lebih besar mengalami DM tipe 2 daripada orang dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007
dengan status gizi normal (WHO, 2017). Penyakit (Kemenkes RI, 2013).
DM tipe 2 dapat juga menimbulkan infeksi. Hal Prevalensi diabetes se-Indonesia diduduki oleh
ini terjadi karena hiperglikemia di mana kadar gula provinsi Jawa Timur karena diabetes merupakan
darah tinggi. Kemampuan sel untuk fagosit menurun. 10 besar penyakit terbanyak. Jumlah penderita DM
Infeksi yang biasa terjadi pada penderita DM tipe 2 menurut Riskesdas mengalami peningkatan dari tahun
adalah infeksi paru (Wijaya, 2015). 2007 sampai tahun 2013 sebesar 330.512 penderita
(Kemenkes RI, 2014).
Nur Lailatul L., Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah dengan … 233

Kecamatan Tambaksari kota Surabaya memiliki adalah pembengkakan pada kaki, sendi kaki, dan
kasus DM yang tinggi pada tahun 2013 dan menjadi tangan, sesak nafas, hipertensi, bingung atau sukar
masalah kesehatan karena mempunyai angka berkonsentrasi, nafsu makan menurun, kulit menjadi
prevalensi DM melebihi angka prevalensi Jawa Timur kering, dan gatal, capek (Tandra, 2008).
sebesar 2,1% dan lebih tinggi dari angka prevalensi Menurut Kariadi (2009), neuropati adalah
rate DM di Indonesia yaitu 1,5%. komplikasi yang terdapat pada syaraf. Kadar gula
Penderita DM penting untuk mematuhi darah yang tinggi mengakibatkan serat saraf hancur
serangkaian pemeriksaan seperti pengontrolan gula sehingga sinyal ke otak dan dari otak tidak terkirim
darah. Bila kepatuhan dalam pengontrolan gula darah dengan benar, akibat dari tidak terkirimnya sinyal
pada penderita DM rendah maka bisa menyebabkan tersebut maka hilangnya indera perasa, meningkatnya
tidak terkontrolnya kadar gula darah yang akan rasa nyeri di bagian yang terganggu. Kerusakan
menyebabkan komplikasi. Mematuhi pengontrolan saraf tepi yang umum terjadi biasanya dimulai dari
gula darah pada DM merupakan tantangan yang besar jempol kaki hingga seluruh kaki dan akan timbul
supaya tidak terjadi keluhan subyektif yang mengarah mati rasa. Keluhan yang paling sering dirasakan
pada kejadian komplikasi. adalah kesemutan. Munculnya berbagai keluhan pada
Diabetes melitus apabila tidak tertangani secara penderita DM memperbesar risiko penderita tersebut
benar, maka dapat mengakibatkan berbagai macam mengalami komplikasi. Penelitian ini perlu dilakukan
komplikasi. Ada dua komplikasi pada DM yaitu sebagai salah satu upaya preventif munculnya
komplikasi akut dan komplikasi kronik. Komplikasi komplikasi yang lebih berbahaya pada penderita
kronik terdiri dari komplikasi makrovaskuler DM.
dan komplikasi mikrovaskuler. Penyakit jantung
koroner, penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit
METODE
pembuluh darah perifer merupakan jenis komplikasi
makrovaskular, retinopati, nefropati, dan neuropati Penelitian observasional analitik digunakan
merupakan jenis komplikasi mikrovaskuler. dalam penelitian ini karena peneliti tidak melakukan
Retinopati adalah terganggunya retina mata intervensi kepada penderita DM hanya observasi
sehingga terjadi kebutaan secara parsial maupun kemudian menganalisis hasil pengamatan.
permanen (Fox, dkk, 2010). Apabila retina terganggu, Penelitian ini menggunakan cross sectional karena
maka otak tidak dapat memproses gambar yang penelitian dilakukan serentak satu waktu tanpa adanya
dilihat oleh mata. Retinopati sulit dideteksi karena follow up. Populasi dalam penelitian ini merupakan
gejalanya berjalan lambat. Keluhan yang timbul penderita DM tipe 2 yang terdaftar di PROLANIS
akibat kerusakan mata adalah sebagai berikut: pada (Program Pengendalian Penyakit Kronis) Puskesmas
penglihatan mata terlihat bayang jaring laba-laba, Rangkah dan Puskesmas Pacarkeling Surabaya pada
bayangan ke abu-abuan, pandangan kabur, tidak periode bulan Januari tahun 2017 yang berjumlah
dapat membaca karena pandangan kabur, di tengah 50 orang. Penentuan jumlah sampel penelitian ini
lapangan pandang terdapat titik gelap atau kosong, dilakukan melalui teknik sampling simple random
pada penglihatan seperti ada selaput merah, mata sampling. Pengambilan sampel secara acak sederhana
terasa nyeri, lingkaran terang mengelilingi obyek adalah sampel dari populasi yang diambil memiliki
yang dilihat, terdapat perubahan garis vertikal yang kesempatan yang sama untuk diseleksi (Notoatmodjo,
terlihat, dan kebutaan (Tandra, 2008). 2012).
Nefropati diabetik merupakan komplikasi yang Besar sampel pada penelitian ini didapatkan
terjadi pada penderita DM pada ginjal yang memiliki dengan menghitung rumus dari Sugiyono (2012).
risiko akhir yaitu sebagai gagal ginjal. Nefropati Hasil perhitungan besar sampel didapatkan sampel
diabetik ditandai dengan adanya albuminuria (mikro/ sebanyak 50 orang. Lokasi penelitian ini dilaksanakan
makroalbuminuria). Diabetes yang menyerang di Puskesmas Rangkah dan Puskesmas Pacarkeling
pembuluh darah kecil ginjal berakibat pada efisiensi Surabaya. Penelitian dilaksanakan mulai bulan
ginjal sehingga penyaringan darah terganggu. Maret–Juni 2017. Pengambilan data primer diambil
Keadaan normal ginjal tidak dapat ditembus oleh pada bulan Maret–Mei 2017.
protein, namun jika sel ginjal mengalami kerusakan Terdapat dua variabel yang diteliti dalam penelitian
maka pembuluh darah dapat dilewati oleh protein ini, diantaranya variabel dependen dan variabel
dan masuk ke saluran urin (Kariadi, 2009). Keluhan independen. Variabel dependen atau tergantung yaitu,
yang timbul pada penderita komplikasi nefropati keluhan subyektif pada penderita DM tipe 2 yaitu
234 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 2, Mei 2017, hlm. 231-239

keluhan yang dialami responden bukan berdasarkan crosstabs antara dua variabel. Sedangkan untuk
diagnosis dokter melainkan keluhan yang dirasakan menguji korelasi antara durasi penyakit dengan
oleh responden. Variabel independen atau bebas keluhan subyektif penderita DM dan hubungan kadar
meliputi: durasi penyakit yaitu periode waktu sejak gula darah dengan keluhan subyektif penderita DM
penderita didiagnosis DM Tipe 2 hingga saat penderita menggunakan uji chi square. Nilai 0,05 merupakan
diikutsertakan dalam penelitian dan kadar gula darah nilai p yang digunakan.
yaitu kadar gula darah acak terakhir penderita DM Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dari
tipe 2 selama 1 tahun terakhir . komisi etik penelitian kesehatan Fakultas Kesehatan
Data primer didapat dari hasil interview pada Masyarakat Universitas Airlangga pada tanggal 17
responden dengan menggunakan lembar kuesioner. Mei 2017 dengan No: 228-KEPK.
Kuesioner tersebut meliputi: karakteristik responden
(umur, jenis kelamin, dan pendidikan), durasi penyakit
HASIL
dan kadar gula darah. Data sekunder merupakan data
jumlah penderita DM yang didapatkan dari Puskesmas Karakteristik Responden
Rangkah dan Puskesmas Pacarkeling Surabaya.
Lembar kuesioner digunakan sebagai proses untuk Pada penelitian ini karakteristik yang diteliti
mengambil data. Data primer dan sekunder yang meliputi umur, jenis kelamin, dan pendidikan.
diperoleh kemudian dicek kelengkapan dan ketepatan Karakteristik umur responden penderita DM Tipe 2
jawaban. Data tersebut kemudian diolah dengan cara yang berada di Puskesmas Rangkah dan Pacarkeling
manual dan diolah dengan komputer. Data yang Surabaya terbagi menjadi 2 kategori, yaitu umur < 58
sudah diolah, kemudian dianalisis untuk dinarasikan tahun dan > 58 tahun. Hasil penelitian menunjukkan
dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan bahwa sebagian besar penderita DM Tipe 2 berumur

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2


Tanpa Mengalami
Karakteristik Frekuensi % % %
Keluhan Keluhan
Umur
< 58 tahun 24 48 10 41,7 14 58,3
> 58 tahun 26 52 25 96,2 1 3,8
Jenis Kelamin %
Laki-laki 26 52 13 50 13 50
Perempuan 24 48 22 91,7 2 8,3
Pendidikan
Tidak tamat SD 3 6 3 18,75 11 31
Tamat SD 15 30 1 6,25 8 22
SLTP 15 30 2 12,5 10 28
SLTA 16 32 4 25 3 9,5
Akademi/PT 1 2 6 37,5 3 9,5
Durasi penyakit
< 6,5 tahun 16 32 8 50 8 50
> 6,5 tahun 34 68 7 20,6 27 79,4
Kadar Gula darah
Kadar gula darah kurang dari rata-rata 28 56 13 46,4 15 53,6
Kadar gula darah lebih dari rata-rata 22 44 2 9,1 20 90,9
Nur Lailatul L., Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah dengan … 235

> 58 tahun berjumlah 26 responden (52%). Pada tabel tinggi dibandingkan dengan penderita yang teratur
karakteristik jenis kelamin responden dapat diperoleh periksa.
informasi bahwa hampir setengah lebih responden
memiliki jenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 26 Hubungan antara Kadar Gula Darah dengan
responden atau sebesar 52%. Dilihat dari tingkat keluhan Subyektif pada Penderita Diabetes
pendidikan responden dapat didapatkan informasi Melitus Tipe 2
bahwa setengah lebih responden mempunyai tingkat
pendidikan yang rendah (tidak sekolah, SD, SMP) Kadar gula darah dapat memengaruhi keluhan
yaitu 33 responden atau sebesar 66%. subyektif. Hasil analisis didapatkan rata-rata kadar
gula darah responden adalah 254,4 sehingga kadar
Hubungan antara Durasi Penyakit dengan gula darah dibagi menjadi dua kategori yaitu > rata-
Keluhan Subyektif pada Penderita Diabetes rata dan < rata-rata. Tabel dibawah ini merupakan
Melitus Tipe 2 frekuensi dari kadar gula darah penderita DM dengan
keluhan subyektif.
Durasi penyakit sangat memengaruhi keluhan
Tabel 3. Hubungan Kadar Gula Darah Dengan
subyektif pada penderita DM Tipe 2.
Keluhan Subjektif Pada Penderita DM
Tabel 2. Hubungan Durasi Penyakit Dengan Keluhan Tipe 2.
Subyektif Pada Penderita DM Tipe 2 Keluhan Subyektif
Kadar Tidak PR
Keluhan Subyektif Ada p
Gula Ada (95%
PR Keluhan value
Tidak p Darah Keluhan CI)
Durasi Ada (95%
Ada value
n % n %
Keluhan CI) > rata-rata 20 57,1 2 13,3 1,697
Keluhan
0,004 (1,173-
n % n % < rata-rata 15 42,9 13 86,7
2,455)
> 6,5 th 27 77,1 7 46,7 1,588 Total 35 100 15 100
0,049 (0,945-
< 6,5 th 8 22,9 8 53,3 Hasil dari penelitian yang sudah dilaksanakan di
2,669)
Total 35 100 15 100 Puskesmas Rangkah dan Pacarkeling Surabaya dapat
diketahui bahwa responden yang memiliki kadar
gula darah kurang dari rata-rata mengalami keluhan
Hasil penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas subyektif sebesar 53,6% atau 15 responden dan
Rangkah dan Pacarkeling Surabaya dapat diketahui yang tanpa keluhan subyektif sebesar 46,4% atau 13
bahwa responden yang menderita DM Tipe 2 selama responden. Responden dengan kadar gula darah lebih
> 6,5 tahun mengalami keluhan subyektif sebesar dari rata-rata yang mengalami keluhan subyektif
79,4% atau 27 responden. Hasil analisis statistik sebesar 90,9% atau 20 responden dan yang tanpa
dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,049. Nilai keluhan subyektif sebesar 9,1% atau 2 responden.
p kurang dari α ( 0,049 < 0,005), maka H1 diterima Dari hasil analisis yang menggunakan uji Chi-Square
atau terdapat hubungan antara durasi penyakit dengan diperoleh nilai p = 0,004.
keluhan subyektif. Angka risiko relatif dihitung untuk Nilai p kurang dari α ( 0,004 < 0,005), maka H1
melihat kemungkinan berkembangnya suatu perilaku diterima atau terdapat hubungan antara kadar gula
yang berkaitan dengan faktor risiko. darah dengan keluhan subyektif. Hasil perhitungan
Pada rancangan cross sectional penghitungan rumus rasio prevalensi dari faktor kadar gula darah
rr atau risiko relatif dicerminkan dengan angka didapatkan nilai 1,697 (95% CI = 1,173 < RP <
prevalence ratio/PR. Hasil perhitungan rumus rasio 2,455). Hal ini berarti bahwa kadar gula darah
prevalensi dari faktor durasi penyakit didapatkan lebih dari rata-rata merupakan faktor risiko keluhan
nilai 1,588 (95% CI = 0,945 < RP < 2,669). Hal ini subyektif pada penderita DM tipe 2. Prevalensi
berarti bahwa durasi penyakit > 6,5 tahun merupakan terjadinya keluhan subyektif pada penderita dengan
faktor risiko keluhan subyektif pada penderita DM kadar gula darah lebih dari rata-rata 1,697 kali lebih
tipe 2. Prevalensi terjadinya keluhan subyektif pada tinggi dibandingkan dengan kadar gula darah kurang
penderita yang tidak teratur periksa 1,588 kali lebih dari rata-rata.
236 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 2, Mei 2017, hlm. 231-239

PEMBAHASAN usia maka risiko menderita intoleransi glukosa juga


meningkat.
Karakteristik Responden Menurut Tjokroprawiro (2004), batas usia
50-60 tahun adalah batas umur yang sering mengalami
Orang yang memiliki riwayat diabetes dari keluarga serangan mendadak penyakit pembuluh darah
berisiko menderita DM. Usia 40-an tahun merupakan baik pada otak maupun jantung, namun hubungan
umur yang rentan terjadinya obesitas karena kurang yang signifikan antara kedua hal tersebut masih
aktif dalam beraktivitas fisik sehari-hari. Menurunnya uncorrectable, untuk bisa menyebabkan komplikasi,
gerak badan juga salah satu faktor yang berpengaruh diperlukan beberapa faktor lain yang turut berperan
dalam timbulnya DM. Aktivitas fisik yang dimaksud penting dalam menyebabkan glukosa darah tidak
adalah setiap gerak tubuh yang dapat menghilangkan terkontrol, sehingga mempunyai dampak buruk pada
kalori, seperti naik turun tangga, menyapu, berkebun, organ tubuh yang lainnya.
berolahraga, dan menyetrika. Pada anak-anak dan Berdasarkan hasil dari penelitian dapat diketahui
remaja rentan mengalami DM tipe 1. Salah satu bahwa hampir semua responden penderita DM tipe 2
penyebabnya adalah seringnya konsumsi makanan adalah laki-laki. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian
cepat saji. Diabetes melitus juga berisiko pada ibu Pratiwi (2010), didapatkan hasil uji statistik yang tidak
yang melahirkan bayi yang memiliki berat badan signifikan mengenai risiko penderita DM perempuan
lebih dari 4 kg. yang memiliki risiko untuk mengalami komplikasi
Umur dapat memengaruhi risiko dan terjadinya DM kronis 1,253 kali dibandingkan dengan penderita
tipe 2. Kenaikan kadar gula darah sangat berhubungan laki-laki (p=1,253). Hal ini disebabkan karena antara
dengan umur, sehingga prevalensi DM tipe 2 akan responden laki-laki dan perempuan berbeda dalam
meningkat seiring dengan semakin meningkatnya upaya manajemen penyakit. Upaya manajemen
umur dan mengakibatkan semakin tinggi pula penyakit DM seperti olahraga, dukungan keluarga,
gangguan toleransi glukosa. Pada umur > 30 tahun dan diet menjadi faktor penyebab, bukan faktor jenis
proses penuaan yang berlangsung mengakibatkan kelamin yang menjadi penyebab
perubahan anatomi tubuh, fungsi tubuh dan biokimia. Mengenai perempuan yang lebih berisiko untuk
Menurut WHO pada umur > 30 tahun, maka kenaikan mengalami komplikasi kronis DM dapat disebabkan
kadar glukosa darah bisa sampai 1-2 mg/dL/tahun karena selain adanya fase menopause, riwayat
pada saat tidak makan dan akan naik 5,6-13 mg/dL diabetes gestasional juga memperbesar kemungkinan
pada 2 jpp atau 2 jam setelah makan (Sudoyo, 2009). perempuan untuk mengalami DM tipe 2 di kemudian
Perubahan fisiologi biasanya menurun secara hari dan terjadinya komplikasi karena diabetes
drastis pada usia > 40 tahun. Diabetes biasanya akan tersebut.
timbul saat sudah memasuki umur rentan, yaitu umur
> 45 tahun yang mengalami kegemukan, sehingga Hubungan antara Durasi Penyakit dengan
insulin pada tubuh tidak peka. Teori yang ada Keluhan Subyektif pada Penderita Diabetes
mengatakan bahwa faktor degeneratif yaitu fungsi Melitus Tipe 2
tubuh yang menurun yang terjadi pada seseorang ≥
Durasi penyakit DM yang lama menunjukkan
45 tahun dapat mengalami peningkatan risiko pada
lama penderita tersebut mengalami DM sejak
kejadian diabetes melitus dan intoleransi glukosa
diagnosis penyakit ditegakkan. Risiko komplikasi
khususnya kemampuan dari sel β pada metabolisme
pada diabetes melitus sangat berhubungan dengan
glukosa untuk produksi insulin (Pangemanan, 2014).
lama penderita mengalami DM. Tingkat keparahan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh
diabetes merupakan faktor yang sangat memengaruhi
informasi bahwa sebagian besar penderita DM tipe
terjadinya komplikasi pada DM selain dari durasi
2 berumur > 58 tahun yaitu sebesar 52%. Teori
penyakit atau lama menderita. Akan tetapi jika lama
menyebutkan bahwa seseorang dengan usia ≥ 45
menderita DM diimbangi dengan pola hidup yang
tahun mempunyai tingkat risiko yang tinggi terhadap
sehat maka kualitas hidup yang baik akan tercipta,
DM dan intoleransi glukosa akibat faktor degeneratif
sehingga komplikasi jangka panjang bisa dicegah
yaitu menurunnya fungsi tubuh untuk metabolisme
atau ditunda (Zimmet, 2009). Komplikasi jangka
glukosa. Umur bukan hanya penyebab kondisi ini
panjang dapat dicegah maupun ditunda dengan
saja, melainkan bagaimana lama penderita dapat
mengendalikan keluhan subyektif yang diderita oleh
bertahan pada kondisi tersebut. Berbagai penelitian
penderita DM tipe 2.
menunjukkan bahwa seiring dengan bertambahnya
Nur Lailatul L., Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah dengan … 237

Tingkat patogenitas penyakit dapat dilihat dari Penyakit kardiovaskuler, buta, luka anggota badan
berapa lama penyakit DM diderita. Faktor herediter, bagian bawah, dan penyakit gagal ginjal merupakan
gaya hidup dan faktor lingkungan merupakan faktor penyakit yang sebagian besar dialami oleh penderita
penyebab tingginya angka morbiditas DM dari waktu DM (International Diabetes Federation, 2014).
ke waktu. Semakin lama seseorang menderita DM Adanya penurunan kualitas hidup ditunjukkan
maka semakin mudah penderita DM mengalami dengan terjadinya komplikasi baik akut maupun kronis
komplikasi. Pola hidup sehat seperti rajin berolahraga, pada penderita DM. Pada hakikatnya, diabetes melitus
makan-makanan bergizi, dan menghindari rokok adalah penyakit seumur hidup dan merupakan penyakit
maka orang dengan diabetes melitus tipe 2 dapat yang tak tersembuhkan, tapi dapat dikendalikan
meningkatkan kualitas hidupnya karena kadar gula dengan menjaga kualitas hidup agar tetap baik (PB
darah dapat terkontrol sehingga tidak ada keluhan Perkeni, 2006). Kadar glukosa darah harus tetap
subyektif yang diderita. Orang tanpa keluhan dijaga pada batas normal untuk bisa menjaga kualitas
subyektif maka kualitas hidupnya menjadi baik dan hidup penderita DM (Centers for Disease Control
produktif. and Prevention, 2014). Keluhan subyektif dikaitkan
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa sebanyak dengan kadar gula darah menunjukkan bahwa
34 responden (68%) telah menderita DM selama dengan tingginya kadar gula darah maka semakin
> 6,5 tahun. Pada penelitian Purnamasari (2008) berisiko penderita DM mengalami keluhan subyektif.
menunjukkan bahwa risiko terjadinya komplikasi Keluhan subyektif yang mengarah pada komplikasi
akan meningkat seiring dengan semakin lama neuropati yaitu kesemutan. Jika kadar gula darah
seseorang menderita DM. dikontrol dengan rutin dan baik maka dapat mencegah
Diabetes melitus menyebabkan komplikasi yang keluhan yang mengarah pada komplikasi neuropati
berakhir pada kematian. Durasi penyakit berhubungan sehingga keluhan subyektif seperti kesemutan dapat
dengan keluhan subyektif . Tingkat keparahan dilihat dikendalikan dan kejadian komplikasi khususnya
dari lamanya penyakit tersebut diderita, risiko komplikasi neuropati dapat dihindari.
terjadinya keluhan subyektif bisa bertambah seiring Kejadian komplikasi pada penderita DM seringkali
dengan lama penyakit DM. Jika keluhan subyektif tidak diketahui. Deteksi dini dengan pengontrolan gula
tidak dikendalikan atau tidak diketahui penyebabnya darah secara teratur oleh dokter merupakan hal yang
maka keluhan tersebut dapat mengarah pada kejadian harus dilakukan agar tidak terjadi komplikasi diabetes.
komplikasi. Faktor-faktor risiko tersebut adalah faktor kegemukan,
faktor genetik, metabolik sindrom termasuk tekanan
Hubungan antara Kadar Gula Darah dengan darah tinggi, serta menurunnya aktivitas fisik (Tandra,
Keluhan Subjektif pada Penderita Diabetes 2008). Jika upaya untuk mengontrol kadar gula darah
Melitus Tipe 2 dilakukan, maka keluhan subyektif tidak akan terjadi
Kadar gula darah merupakan tingkat glukosa dan komplikasi dapat dicegah.
dalam darah. Tubuh mengatur konsentrasi gula darah Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil
(Adrian, 2017). Sel-sel dalam tubuh memiliki sumber rerata kadar gula darah acak pada penderita DM
energi yang paling utama yaitu glukosa darah. Gejala yaitu 254,40 mg/dl. Pada responden dengan kadar
klinis DM biasanya ringan atau bahkan tidak ada gula darah acak kurang dari rata-rata lebih besar
gejala, perjalanan penyakit DM berkembang kronis (56%) daripada kadar gula darah acak lebih dari rata-
dan cenderung mengalami peningkatan. Respons rata. Responden yang mengalami keluhan subyektif
tubuh seseorang terhadap penyakit sangat bergantung sebagian besar memiliki kadar gula darah acak lebih
pada adanya penyakit DM dalam tubuh seseorang dari rata-rata (90,9%).
sehingga setiap penderita diabetes melitus berbeda Menurut Smeltzer dan Bare (2008), Perilaku
kejadian komplikasinya (Wulandari, 2013). Perbedaan preventif yaitu perilaku pencegahan dapat
komplikasi yang dialami pada penderita DM juga memengaruhi kejadian komplikasi berjalan cepat
bergantung pada keluhan subyektif yang dirasakan. atau lambat. Keluhan subyektif merupakan keluhan
Penderita DM memiliki risiko yang tinggi dalam yang dirasakan oleh penderita DM bukan berdasarkan
kejadian masalah kesehatan lainnya, karena kadar diagnosis dokter. Salah satu upaya preventif dari DM
gula yang tinggi secara konsisten bisa memengaruhi yaitu mengetahui keluhan subyektif penderita DM,
penyakit baru yang timbul. Penyakit yang timbul akan karena biasanya komplikasi terjadi diawali dengan
memengaruhi organ yang ada ditubuh kita seperti keluhan sehingga apabila keluhan pada penderita
jantung, pembuluh darah, mata, saraf, dan ginjal. ditangani dengan cepat, maka kejadian komplikasi
238 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 2, Mei 2017, hlm. 231-239

dapat diminimalisir dan angka kematian akibat keteraturan pemeriksaan gula darah di puskesmas.
komplikasi dapat menurun. Responden kurang sadar akan perilaku preventif,
Rerata kadar gula darah acak pada responden mereka cenderung ke puskesmas hanya untuk tahu
DM pada penelitian kadar gula darah responden tentang penyakit diabetes yang dialami dan obat
dikategorikan dalam kadar gula darah acak yang yang diberikan tanpa ingin mengetahui pengendalian
melebihi batas normal (> 200 mg/dl), perlunya upaya penyakit DM tipe 2 ataupun keluhan subyektif yang
untuk manajemen penyakit DM pada setiap responden diderita agar tidak bertambah parah. Peningkatan
perlu diperhatikan karena keluhan subyektif yang pengetahuan terhadap penderita DM tentang keluhan
dialami memengaruhi perbedaan kondisi akhir juga, subyektif yang mengarah pada kejadian komplikasi
misalnya orang dengan keluhan subyektif kesemutan juga perlu dilakukan oleh pihak puskesmas agar
disarankan untuk mengontrol kadar gula darahnya penderita rutin memeriksakan kadar gula darah
sehingga komplikasi pada penderita diabetes melitus sehingga dapat menghindari keluhan subyektif dan
dapat dihindari. Diperlukan upaya manajemen memperkecil angka kejadian komplikasi.
yang baik untuk penderita yang belum mengalami
komplikasi diabetes melitus agar tetap sehat tanpa
REFERENSI
komplikasi dengan mengetahui keluhan yang
dirasakan dan melakukan pencegahan yang sesuai Adib, M. 2011. Pengetahuan Praktis Ragam Penyakit
dengan kondisi keluhan subyektif tersebut. Mematikan yang Paling Sering Menyerang Kita.
Jogjakarta: Buku Biru.
Adrian, A.K., Fathonah, S., Amatiria, G. 2017.
SIMPULAN DAN SARAN
Pengaruh Ultra Filtration Rate (UFR) Terhadap
Kadar Gula Darah Dan Tekanan Darah Pada
Simpulan
Pasien DM (Diabetes Melitus) Dengan Komplikasi
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan, Cronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani
kesimpulan dalam penelitian ini yaitu: responden Hemodialisis. Jurnal Keperawatan, 10(1), pp.81-
penderita Diabetes Melitus Tipe 2 sebagian besar 89. [Sitasi pada 11Juli 2017]
berasal dari kelompok umur > 58 tahun, berjenis Arisman. 2011. Obesitas, Diabetes Mellitus, &
kelamin laki-laki dan dengan pendidikan terakhir Dislipidemia: Konsep, Teori, dan Penangan
SLTA. Penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Aplikatif. Jakarta: EGC.
Rangkah dan Puskesmas Pacarkeling sebagian besar Bustan, M.N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak
memiliki durasi penyakit > 6,5 tahun. Durasi penyakit Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
dan kadar gula darah mempunyai hubungan dengan Centers for Disease Control and Prevention. 2014.
keluhan subjektif pada penderita Diabetes Melitus Translating Research Into Action for Diabetes
Tipe 2. Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 yang (TRIAD) Fact Sheet, 2009. [Online] Available
memiliki durasi penyakit > 6,5 tahun lebih berisiko at:http://www.cdc.gov/diabetes/programs/
mengalami keluhan subyektif daripada penderita research/triad.html [Sitasi 11 Juli 2017].
Diabetes Melitus Tipe 2 dengan durasi penyakit < 6,5 Depkes. RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk
tahun. Penderita Diabetes Melitus tipe 2 dengan kadar Penyakit Diabetes Mellitus. Jakarta: Direktorat
gula darah lebih dari rata-rata memiliki risiko lebih Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
tinggi untuk mengalami keluhan subjektif daripada Halaman. 1, 7, 11-12, 25 27, 32.
penderita dengan kadar gula darah kurang dari rata- Fox, Charles dan Kilvert, Anne. 2010. Bersahabat
rata. dengan diabetes tipe 2. Diterjemahkan oleh: Joko
Saran Suranto. Jakarta: Penebar Plus.
International Diabetes Federation. 2011. Diabetes
Saran pada penelitian ini yaitu, kepada penderita Evidence Demands Real Action from the Un Summit
DM tipe 2 yang memiliki durasi penyakit > 6,5 on Non-Communicable Diseases. [http://www.idf.
tahun supaya teratur dalam melakukan pemeriksaan org/diabetes-evidence-demands-realaction-un-
sehingga kadar gula darah dapat terkontrol dan summit-non-communicable-diseases] [Diunduh
terhindar dari keluhan subyektif. Kepada penderita pada 11Juli 2017 pukul 17.20 WIB].
DM tipe 2 dengan umur > 58 tahun agar teratur International Diabetes Federation. 2011. One Adult in
periksa agar tidak terjadi keluhan subyektif. Upaya Ten Will Have Diabetes By 2030. Tersedia di: http://
deteksi dini pada kejadian komplikasi yaitu dengan www.idf.org/mediaevents /press-releases/2011/
Nur Lailatul L., Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah dengan … 239

diabetes-atlas-8th-edition] [Sitasi pada 18 Juli 2017] Edisi 5. Jakarta: Interna: 1873-85.


International Diabetes Federation. 2015. IDF Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif
Diabetes Atlas 7th Edition. Brussels: International Kualitatif dan R & D. Bandung: Penerbit Alfabeta
Diabetes Federation. http://www. diabetes atlas. Bandung.
org/. [Sitasi: 9 Februari 2017]. [Sitasi pada 18 Tandra, H. 2008. Segala Sesuatu yang Harus Anda
November 2016]. Ketahui Tentang Diabetes. Jakarta: Penerbit PT.
Kariadi, S.H.K.S. 2009. Diabetes? Siapa takut!! Gramedia Pustaka Utama.
Panduan lengkap untuk diabetis, keluarganya, Tjokroprawiro, Askandar. 2004. DM: Klasifikasi,
dan professional medis. Bandung: Qanita Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT. Gramedia
PT. Mizan Pustaka. Pustaka Utama.
Kementrian Kesehatan RI. 2013. Profil Kesehatan Trisnawati, S.K., Setyorogo, S. 2013. Faktor risiko
Indonesia 2010. Kemenkes RI. Jakarta. Kejadian diabetes melitus tipe II di puskesmas
Kemenkes, RI. 2014. Infodatin Diabetes. Jakarta: kecamatan cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012.
Pusat data dan informasi Kemenkes RI. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1), pp. 6-11. http://
Tersedia di: http://www.depkes.go.id/download. www.academia.edu/download/40771315/jurnal_
php?file=download/pusdatin/infodatin-diabetes. kesehatan_DM_epid_non.PDF. [Sitasi: 11 Juli 2017].
pdf. [Sitasi: 9 Desember 2015]. Waspadji, S. 2007. Diabetes Melitus: Penyulit Kronik
Lathifah, N.L. 2017 Hubungan Antara Karakteristik dan Pencegahannya. Dalam: Penatalaksanaan
Penderita, Durasi Penyakit, Keteraturan Periksa, Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit
dan Kadar Gula Darah dengan Keluhan Subjektif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Skripsi. World Health Organization (WHO). [updated 2017;
Surabaya, Universitas Airlangga. cited 2017 July 11]. Tersedia fromhttp://www.
Notoatmodjo, S. 2007. Pendidikan dan Perilaku who.int/topics/diabetes_mellitus/en/.
Kesehatan. Jakarta: Rineka. Widiawaty, N. 2013. Hubungan Tingkat Pendidikan
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Formal dan Tingkat Pengetahuan Wanita tentang
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Kanker Payudara dengan Kejadian Kanker
Pangemanan., Malayu. 2014. Analisis Faktor Resiko Payudara di Borokulon Banyuurip Purworejo.
Penyebab Terjadinya DM Tipe 2 Pada Wanita Jurnal Komunikasi Kesehatan [e-journal] 3 http://
Usia Produktif di Puskesmas Wawonasa. Jurnal e-journal.akbid-purworejo.ac.id/index.php/jkk3/
e-Biomedik (eBM). Volume 2 Nomor 2. article/view/57[Sitasi: 11 Juli 2017].
Pernama, H. 2013. Komplikasi Kronik dan Penyakit Wijayanto, A., Burhan, E., Nawas, A.,
Penyerta pada Diabetes. Bandung: Division of Rochsismandoko. 2015. Faktor Terjadinya
Endocrinology and Metabolism Department of Tuberkulosis Paru pada Pasien Diabetes Melitus
Internal Medicine Padjadjaran University Medical Tipe 2. Journal Respiratori Indonesia, [e-journal]
School/Hasan Sadikin Hospital. 25 (1): 1-11. http://jurnalrespiratori .org/wp-content/
Pratiwi, Y. 2010. Hubungan Diet, Olahraga, uploads/2015/08/jri-jan-2015-35-1-1-11.pdf.
Kepatuhan Berobat, dan Penyuluhan Kesehatan [Sitasi: 31 Mei 2017].
dengan Komplikasi Kronis Diabetes Melitus. Wulandari, O., Martin, S. 2013. Perbedaan Kejadian
Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga. Komplikasi Penderita Diabetes Melitus Tipe
Purnamasari, D., 2009. Diagnosis dan Klasifikasi 2 Menurut Gula Darah Acak. Jurnal Berkala
Diabetes Mellitus. In: Sudoyo, Aru W., Bambang Epidemiologi, I. vol. 1 no. 2. P. 182-191.
Setyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata, World Health Organization. 2014. Noncommunicable
Siti Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Diseases. [Online] Available at: http://www.who.
III Ed 5. Jakarta: Interna Publishing. 1880-1883. int/topics/non communicable_diseases/en/ [Sitasi
Rohmah, N. 2016. Hubungan antara PHBS, Penggunaan 3 Juli 2017].
Air Bersih, dan Jamban Sehat di Rumah Tangga World Health Organization. 2016. Global Report on
dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Diabetes. France: World Health Organization.
Kerja Puskesmas Sekardangan Kabupaten Sidoarjo. http://www.who.int/diabetes /global-report/en/.
Skripsi. Surabaya, Universitas Airlangga. [Sitasi: 29 Mei 2017].
Smeltzer, S.C., Bare B.G. 2008. Keperawatan Medikal Zimmet, P. 2009. Preventing Diabetic Complication:
Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. A Primary Care Prospective, Diabetes Res Clin
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Pract 84:107.
Setiati S. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.