Anda di halaman 1dari 14

Analisis Resiko Lingkungan dan Anggaran Berbasis

Lingkungan Hidup

BAB I

1.1 Pendahuluan
Sampah mengandung berbagai bahan beracun seperti logam berat, insektisida, dan se-
bagainya, sehingga manusia yang kontak langsung dengan sampah dapat berisiko mengala
mi gangguan pencernaan kronik. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas
manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau
volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang/material
yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari
jenis material yang dikonsumsi. Peningkatan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup
sangat berpengaruh pada volume sampah yang akan dihasilkan Oleh karena itu, perlu
berhati-hati terhadap sampah yang banyak dan menumpuk terutama pengangkut sampah
yang memegang atau mengalami kontak langsung dengan sampah Pengelolaan sampah
merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai salah satu bentuk pelayanan publik..
Pemanfaatan dan perlindungan lingkungan sudah diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dan UU No. 18 Tahun
2008 Tentang Pengelolaan Sampah.
1.2 Latar Belakang
Berdasarkan data DKKP pada tahun 2015, produksi sampah kawasan perkotaan
sebanyak 1.700 m3 perhari, namun yang dapat diangkut ke TPA Pinyungan-Bantul baru
sekitar 1300 m3 perhari, sehingga terjadi penumpukan sampah sebanyak 400 m3 per hari
dan tidak terangkut ke TPS atau TPA Piyungan. Dengan berbagai kondisi persampahan
yang ada seperti tersebut di atas, terdapat berbagai dampak negatif yang kemungkinan akan
muncul dan berpotensi menimbulkan resiko. Dari beberapa dampak negatif yang
kemungkinan akan terjadi, maka diperlukan suatu penilaian (assessmen) terhadap resiko
lingkungan dari kegiatan yang dilakukan. Hal ini salah satunya dapat disebabkan oleh sifat
leachate yang mengandung zat-zat kimia berbahaya dan dapat menyebar pada beberapa
komponen lingkungan seperti tanah, air tanah dan air permukaan. Sedangkan
dimungkinkan air yang sudah tekontaminasi zat-zat kima leachate akan dikonsumsi oleh
masyarakat ataupun penggunaan lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian resiko
total dari beberapa aspek yang ada. Secara umum resiko total merupakan fungsi dari
faktorfaktor: peluang terjadinya dampak, besaran dampak, frekuensi kejadian, luasan
dampak, keseriusan resiko, peluang terjadinya resiko, dan waktu pemaparan.
TPA Piyungan terletak di dukuh Bendo Ngablak dan dukuh Watu Gender desa
Sitimulyo Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, ± 16 km
sebelah tenggara pusat Kota Yogyakarta, dengan luas lahan 12,5 Ha. TPST Piyungan
didirikan pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1996.TPST Piyungan dikelola
oleh Sub Dinas Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
pada tahun 1996 s/d 1999. Namun, dengan adanya Undang-undang No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintah Daerah, sejak tahun 2000 sampai tahun 2017 pengelolaan TPAS / TPST
Piyungan dilakukan bersama oleh Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten
Bantul dalam wadah kerjasama Sekretariat Bersama Kartamantul TPST Piyungan terletak
pada cekungan dengan kemiringan bervariasi, curam, dan mendatar. Lokasi tempat TPST
Piyungan berdiri terbentuk atas tanah ledok dengan jurang yang cukup dalam sebesar 40 m.
Kedalaman airtanah berkisar antara 2-5 meter dengan lapisan tanah mengandung gamping.
Luas keseluruhan TPST Piyungan sebesar 12,5 Ha dengan kapasitas volume sampah 2.7
juta m3 . Saat ini TPST Piyungan merupakan tempat pembuangan akhir regional dari tiga
Kabupaten yaitu Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Sampah yang masuk ke TPST
Piyungan berkisar antara 400-500 ton/hari dengan sistem pengelolaan sampah control
landfill.
BAB II
2.1 Dasar Teori

Analisis Resiko Lingkungan


Ada beberapa definisi dari analisis risiko, menurut EPA analisis risiko adalah
karakterisasi dari bahaya-bahaya potensial yang berefek pada kesehatan manusia dan
bahaya terhadap lingkungan (www.epa.gov/iris/: Integrated Risk Information System).
Menurut M.L Richardson (1989) analisis resiko adalah proses pengambilan keputusan
untuk mengatasi masalah dengan keragaman kemungkinan yang ada dan
ketidakmungkinan yang akan terjadi. Dalam analisa risiko pertama kali masalah harus
didefinisikan dan risiko diperkirakan, kemudian resiko dievaluasi dan dipertimbangkan
juga faktor-faktor yang mungkin bisa mempengaruhi sehingga bisa diputuskan tindakan
mana yang bisa diambil. Proses perkiraan risiko, evaluasi risiko, pengambilan keputusan,
dan penerapannya disebut analisis risiko.
Analiss resiko lingkungan merupakan kegiatan untuk mengkaji perkiraan
kemungkinan terjadinya konsekuensi kepada manusia atau lingkungan. Resiko tersebut
terbagi menjadi dua, yakni risiko yang terjadi kepada manusia disebut sebagai risiko
kesehatan, sedangkan risiko yang terjadi kepada lingkungan disebut sebagai risiko ekologi.
Ekologi merupakan cabang dari ilmu biologi, dimana ekologi adalah salah satu komponen
dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama dengan komponen
lain untuk mendapatkan keputusan yang seimbang. Jd dalam hal ini, Ekologilah yang
menjadi titik pusat perhatian. Analiss Resiko Lingkungan (ARl) adalah proses prediksi
kemungkinan dampak negatif yang terjadi terhadap lingkungan sebagai akibat dari kegiatan
tertentu. Analisis resiko lingkungan (ARI) diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009. Analisis
resiko lingkunngan (ARL) diharapkan pihak manajemen akan lebih mudah untuk
melakukan pengelolaan lingkungannya dan akan sangat bermanfaat dalam audit lingkungan
(Morenne, 2008).
Dalam hal yang berkaitan dengan aspek sosial, terdapat tiga macam risiko ekologis
yang dimnuculkan dari hal tersebut, yakni :
1. Risiko fisik-ekologis (physical-ecological risk), yaitu aneka risiko kerusakan fisik
pada manusia dan lingkungannya

2. Risiko mental (mental risk), yaitu aneka risiko kerusakan mental akibat perlakuan
buruk pada tatanan psikis

3. Risiko sosial (social risk), yaitu aneka risiko yang menggiring pada rusaknya
bangunan dan lingkungan sosial (eco-social).

Tiga macam resiko yang dirtimbulkan diatas, dapat menimblkan suatu keadaan yang tidak
baik, dimana resiko tersebut dapat enimbulkan keadaan yang berupa ketakutan, ancaman,
paranoia,. Keadaan seperti ini tidak dapat dibiarkan terus-menerus, untuk itu diperlukan
adanya upaya analisis lingkungan untuk menncegah atau mengurangi kerusakan
lingkungan adapun tahapan tahapannya yaitu :

1. Tentukan batasan studi atau analisis


2. Tentukan area yang ingin diperdalam dan informasi
3. Lakukan uji dampak lingkungan berdasarkan informasi data dan pengkategorian
data yang telah dikumpulkan
4. Evaluasi informasi yang diperoleh dari uji data, dengan melakukan uji aspek dan
dampak lingkungan lingkungan. Indentifikasi dari kegiatan pada masa lalu, masa
kini dan masa yang akan datang memiliki potensi memiliki dampak negatif
terhadap lingkungan.
Ada 4 langkah dalam menentukan aspek dan dampak lingkungan, yaitu :
1. Identifikasi secara menyeluruh aktifitas dari suatu kegiatan dengan menggunakan
diagra alir atau table
2. Identifikasi aspek lingkungan dari kegiatan yang dilakukan sebanyak-banyaknya
3. Identifikasi dampak yang ditimbulkan berdasarkan aspek-aspek yang telah dibuat
4. Evaluasi dampak yang signifikan.

Analisis Resiko Lingkungan dengan Metode Semi Kuantitatif


Analisis resiko dengan menggunakan metode semi kuantitatif adalah menggabungkan
antara unsur frekuensi kejadian, besaran kejadian dan sensitifitas seperti terlihat pada Tabel
4. Sedangkan nilai resiko seperti pada persamaan (1) (Razif. M., 2002).
Resiko = Frekuensi kejadian x (Besaran kejadian + Sensitifitas) R = F x (S1 + S2)
Dimana jika, R = 1 – 150. Resiko rendah, pengelolaan dengan prosedur yang rutin R =
151-300 : Resiko sedang, memerlukan perhatian manajemen tingkat tinggi R = 301-450 :

Resiko tinggi, memerlukan penelitian dan manajemen terperinci

Anggaran Berbasis Lingkungan Hidup

Dalam Pasal 45 dan 46 UU PPLH, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat


Republik Indonesia serta pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah wajib
mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membiayai:
a. kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

b. program pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup.


Pemerintah wajib mengalokasikan anggaran dana alokasi khusus lingkungan hidup yang
memadai untuk diberikan kepada daerah yang memiliki kinerja perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Selain ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45, dalam rangka pemulihan kondisi lingkungan hidup yang kualitasnya telah
mengalami pencemaran dan/atau kerusakan pada saat undang-undang ini ditetapkan,
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran untuk pemulihan
lingkungan hidup.
2.2 Dasar Yuridis
1. UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Dalam Pasal 1 UU No. 32 Tahun 2009, yang dimaksud dengan pencemaran
lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui
baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan dan kerusakan lingkungan hidup adalah
perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati
lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Kegiatan
usaha pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup tersebut sudah diatur
lebih lanjut dalam pasal selanjutnya yaitu dalam Pasal 14 UU No. 32 Tahun 2009 bahwa
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri atas:
a. KLHS
b. Tata ruang
c. Baku mutu lingkungan hidup
d. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup
e. Amdal
f. UKL-UPL
g. Perizinan
h. Instrumen ekonomi lingkungan hidup
i. Peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup; j. anggaran berbasis
lingkungan hidup
j. Anggaran berbasis lingkungan hidup
k. Analisis risiko lingkungan hidup
l. Audit lingkungan hidup
m. Instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu
pengetahuan.

Pasal 47 UU No. 32 Tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan
yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman
terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan manusia wajib
melakukan analisis risiko lingkungan hidup. Ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko
LH diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) UU No. 32
Tahun 2009, meliputi:
a. Pengkajian risiko
b. Pengelolaan risiko
c. Komunikasi risiko

2. UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah


Bab VII Pembiayaan Dan Kompensasi
Bagian Kesatu Pembiayaan Pasal 24
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membiayai penyelenggaraan pengelolaan
sampah.
(2) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari anggaran
pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang


Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Bab IV Kompensasi, Pasal 31
(1) Pemerintah kabupaten/kota secara sendiri atau secara bersama dapat memberikan
kompensasi sebagai akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan
akhir sampah.
(2) Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakibatkan oleh:
a. pencemaran air;
b. pencemaran udara
c. pencemaran tanah
d. longsor
e. kebakaran
f. ledakan gas metan; dan/atau
g. hal lain yang menimbulkan dampak negatif.
(3) Bentuk kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. relokasi penduduk
b. pemulihan lingkungan
c. biaya kesehatan dan pengobatan
d. penyediaan fasilitas sanitasi dan kesehatan
e. kompensasi dalam bentuk lain.
BAB III

3.1 Kasus
Timbulan sampah di wilayah perkotaan Yogyakarta sampai saat ini dilakukan di
TPA Piyungan Kabupaten Bantul. Meskipun hal ini merupakan metode yang paling
konvesional dan tidak sesuai dengan beberapa alternative yang lebih baik dalam
rangkaian teknologi manajemen sampah perkotaan. Dampak negatif dengan adanya
TPA adalah dihasilkan timbulan gas dan lindi yang sangat berpotensi merusak
lingkungan. Risiko lingkungan ini muncul jika Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) tidak mampu mengolah lindi sehingga melebihi standard baku mutu serta
lapisan dasar TPA yang tidak memenuhi syarat sehingga lindi merembes kedalam
tanah.
Lahan TPA semakin sempit, faktor jarak mengakibatkan pengangkutan sampah
kurang efektif, teknologi pengolahan tidak optimal, terbatasnya tempat penampungan
sampah sementara (TPS), kurangnya sosialisasi dan dukungan pemerintah mengenai
pengelolaan sampah serta minimnya edukasi dan manajemen diri pengelolaan
sampah.. Pengelolaan tersebut mulai dari penarikan retribusi, pengumpulan sampah
dari sumber, pengumpulan di TPS atau depo sampah dan pengangkutan serta
pengumpulan di TPA. Kota Yogyakarta, Kabupatan Bantul dan Kabupaten Sleman
menggunakan TPA Piyungan. Adapun usia teknis TPST berdasarkan AMDAL adalah
17 tahun terhitung sejak terbangun dan beroperasi pada tahun 1995. Masalah yang
ada yaitu tren volume sampah yang terus meningkat sejak beroperasi penuh pada
tahun 1996 sampai sekarang.
TPST Piyungan terbatas pada pengelolaan sampah semata dimana sampah yang
diangkut ke TPST ini dikelola dengan proses penimbangan, penumpukan, pengurugan
dan penimbunan sebagaimana sistem Control Landfill. Pengurangan volume sampah
di TPST Piyungan terfokus pada pembusukan alami dan pengambilan sampah
bernilai ekonomi oleh pemulung. Aturan yang berlaku menyatakan bahwa lokasi
badan sampah harus steril dari pihak eksternal namun kenyatannya sekitar 400
pemulung setiap harinya dibebaskan untuk mengambil sampah di lokasi tersebut.
3.2 Analisis dan Pembahasan
Dari uraian rona lingkungan yang dijelaskan dan penjelasan tentang aktifitas TPA
sebagaimana disebutkan sebelumnya maka dapat diidentifikasi hazard dan
diperkirakan resiko terhadap komponen lingkungan sebagai berikut:
a. Tata guna lahan (tanah)
Prakiraan resiko terhadap tata guna lahan yang mungkin terjadi yaitu
resiko berasal dari buangan limbah terutama lindi yang mencemari air tanah
dan air permukaan.
b. Kualitas udara
Resiko berasal dari bau gas yang timbul dari proses degradasi sampah
yang semakin lama semakin tidak sedap. Akibat pencemaran tersebut warga
khususnya masyarakat disekitar TPA Piyungan merasa kurang nyaman akibat
terhisapnya bau ke dalam pernafasan.
c. Kualitas air permukaan
Prakiraan resiko terhadap air permukaan yaitu berasal dari pengolahan
limbah cair, yang dibuang ke sungai. Resiko yang timbul pada flora, fauna,
dan manusia, yang memanfaatkan sungai. Resiko terbesar yang mungkin
terjadi adalah matinya biota air, tumbuhan air, dan hewan air. Resiko yang
muncul bersifat negatif.
d. Kualitas air tanah
Prakiraan resiko terhadap air tanah yaitu berasal dari pengolahan lindi dan
rembesan lindi pada lapisan dasar TPA. Resiko yang timbul pada manusia,
yang memanfaatkan air tanah untuk keperluan sehari-hari.
e. Flora darat
Prakiraan resiko terhadap flora darat berasal dari pengolahan limbah cair
kemudian kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang
hidup di sekitar sungai. Selain itu gangguan terhadap flora air adanya gas
Methan. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya kemampuan
tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan tumbuhan tersebut
mati serta bersifat negatif. Tetapi bobotnya sedang karena effluen dari IPAL
telah mengalami pengenceran air sungai sehingga konsentrasi pencemar juga
menurun.
f. Flora air
Prakiraan resiko terhadap flora air berasal dari pengolahan limbah cair
kemudian kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang
hidup di sekitar sungai. Selain itu gangguan terhadap flora air juga dari
adanya gas Methan.
i. Tingkat kesehatan masyarakat
Prakiraan resiko terhadap tingkat kesehatan masyarakat berasal dari
buangan pengolahan limbah cair yang masuk ke dalam air permukaan/sungai,
di mana masyarakat sekitar tinggal dan memanfaatkan sungai. Disamping itu
masyarakat juga mengkonsumsi air tanah yang terkontaminasi lindi yang
meresap melalui lapisan dasar TPA. Resiko yang mungkin timbul berupa
munculnya penyakit kulit, perut, dan sebagainya serta bersifat negatif.
Bobotnya adalah besar karena berkaitan secara langsung dengan kehipuan
manusia.
j. Estetika lingkungan
Prakiraan resiko terhadap estetika lingkungan berasal dari limbah cair
yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/sungai,
limbah padat yang ditumpuk dan timbulnya gas yang menimbulkan bau tidak
enak. Resiko yang mungkin terjadi berupa penurunan estetika lingkungan
dan bersifat negatif serta bobotnya besar.

Analisis Resiko dan Anggaran Berbasis Lingkungan


Sesuai dengan undang – undang pemerintah No 18 tahun 2008 tentang
pengelolaan sampah, pengadaan alat atau teknologi pemusnah sampah perlu di
prioritaskan. Beberapa teknologi yang dapat membantu meyelesaikan masalah di
TPA Piyungan adalah teknologi mesin pemecah biji plastik, insenerator, dan
rumah komposter. Melalui pengadaan teknologi tersebut dapat mengurangi
volume sampah yang ada di TPA Piyungan Bantul, sehingga resiko-resiko yang
sudah dijelaskan sebelumnya dapat diminimalisir. Teknologi yang dapat
digunakan adalah dengan mesin pemecah plastik menjadi biji plastik. Biji plastik
memiliki daya jual yang tinggi dan dapat di impor dengan omset puluhan juta
rupiah. Hal ini telah di terapkan di beberapa tempat pengolahan plastik secara
kecilkecilan sejauh ini pemerintah belum menggunakan alat pemecah plastik
untuk pengolahan sekala besar di tempat pembuangan akhir.
Usaha tersebut dapat diterapkan melalui Pemerintah Daaerah yang
mendukung dengan adanya anggaran berbasis lingkungan hidup. Tetapi, pada
pelaksanaannya selalu defisit anggaran pengelolaan sampah dan tingkat
partisipasi stakeholder masih belum optimal. Sehingga dalam kondisi tersebut,
dapat dilakukan penerapan bank sampah. Bank sampah yang mempunyai sistem
“membayar” sampah yang dijual oleh warga ini, secara tidak langsung dapat
mengurangi volume sampah yang akan disimpan di TPA Piyungan, yang
kemudian dengan adanya pengurangan volume juga dapat mengurangi dampak
yang ada. Tetapi dalam pengadaan teknologi ataupun penerapan bank sammpah
tersebut harus didukung oleh Pemerintah Daerah dengan pengadaan anggaran
berbasis lingkungan hidup untuk dapat mengelola persampahan yang ada.

BAB IV

4.1 Kesimpulan

Pengelolaan lingkungan di TPA Piyungan sudah dilaksanakan tetapi belum optimal


dan komponen lain yang berada di TPA Piyungan belum dilakukan pengelolaan dengan
maksimal, yaitu dimulai dari pembuatan awal TPA yang semula berjenis sanitary
landfill tetapi pada kenyataannya hanya controlled landfill. Setelah dilakukan analisis
resiko, keadaan tersebut menyebabkan komponen lingkungan seperti air, udara, tanah
dan kesehatan masyarakat mengalami penurunan kualitas dan terjadi pencemaran.
Berdasarkan UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, Pemerintah wajib
memberikan anggaran untuk pengelolaan lingkungan hidup yang dalam kasus ini
adalah masalah yang terjadi di TPA Piyungan.
4.2 Saran
Sebaiknya peraturan untuk pengelolaan lingkungan di kawasan TPA lebih
ditegaskan lagi baik dari Pemerintah Daerah maupun warga sekitar, mengingat
kemampuan TPA yang sudah melebihi kapasitas dan umur TPA yang pada dokumen
Amdalnya hanya sampai tahun 2012. Selain itu, anggaran dari Pemerintah Daerha untuk
pengelolaan lingkungan, benar-benar dialokasikan dan diterapkan contohnya dalam
pengadaan teknologi-teknologi untuk pengurangan sampah dan program bank sampah
akan dapat terlaksanakan dengan adanya anggaran berbasis lingkungan hidup dari
Pemerintah Daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Morenne, Andra. 2008. Modul Hukum Lingkungan. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh
November

www.epa.gov/iris/: Integrated Risk Information System, diakses pada tanggal 10 Mei 2018,
pukul 19.08

UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga