Anda di halaman 1dari 128

EVALUASI PENGOBATAN PASIEN STROKE RAWAT INAP

DI UNIT STROKE RSUD BANYUMAS


JANUARI-APRIL 2010

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)
Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Yemima Hariyono

NIM : 068114160

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
EVALUASI PENGOBATAN PASIEN STROKE RAWAT INAP
DI UNIT STROKE RSUD BANYUMAS
JANUARI-APRIL 2010

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)
Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Yemima Hariyono

NIM : 068114160

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010

ii
iii
iv
Dedicated to:

Jesus Christ, Papa, Mama, Engkong, Emak, Emak Tegal,

Ruth, Karen and You.

v
vi
PRAKATA

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat kasih dan

anugerah-Nya di tahun 2010 sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

” EVALUASI PENGOBATAN PASIEN STROKE RAWAT INAP DI UNIT

STROKE RSUD BANYUMAS TAHUN 2010 (JANUARI-APRIL)”. Pada

kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yesus atas kasih, kekuatan, kemampuan dan penyertaan-Nya dalam

sepanjang hidup penulis.

2. Kedua orang tua penulis, Alm. Dr Tjipto Harijono, Sp.S dan Ayke

Liobawati Oswari atas doa, kasih, pengorbanan, kesabaran, dan

nasehatnya. Dan, maaf karena papa tidak sempat melihat skripsi ini.

3. Direktur dan staff RSUD Banyumas, atas kesediannya dalam membantu

proses terbentuknya skripsi ini.

4. Pak Ipang Djunarko M.Sc., Apt, Dekan Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta .

5. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt, Dosen Pembimbing yang telah banyak

memberikan dukungan, perhatian, semangat, bimbingan dan pengarahan

kepada penulis.

6. Dosen penguji, M. Wisnu Donowati., M.Si., Apt, dan dr. Fenty M.Kes.,

SpPK yang telah bersedia menguji skripsi penulis dan memberikan saran

dan kritik yang membangun sehingga skripsi ini dapat menjadi lebih baik

dari sebelumnya.

vii
7. Ruth Dwi Utami Hariyono dan Karen Tri Septiyani, adik-adikku tersayang

yang selalu menyemangati penulis.

8. Timotius Oswari dan Sulistyani Soedirgo, kakek dan nenek penulis di

Purwokerto atas doa dan kasihnya.

9. Haryanti, nenek penulis di Tegal atas doa dan kasihnya.

10. Keluarga besar Hariyono dan Oswari atas doa dan dukungannya.

11. Dr. Laksmi, Sp.S terima kasih atas waktu dan kesediannya untuk diskusi.

12. Para dosen, laboran dan karyawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

13. Lita, Ryan, Atika, Valida, Joice, Grace, KD, Yensi, Dinar, Frida dan

Winda atas kerjasama, semangat, dukungan, kesabarannya dan bantuan

dalam proses pembuatan skripsi ini.

14. Anak-anak kost Amakusa: Dian, Uut, Dewi, Ting-ting, Reta, Lia Udin,

Adel, Ci Ita, Meili, Yohana, Metri, Herta, Bertha, Mieke, Citra, Anna,

Ratih, Putri, Rina, Sevi, Cynthia dan Agnes.

15. Sahabat-sahabatku di Kelas C 2006 dan FKK-B atas kebersamaannya,

dukungan dan sarannya.

16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

membantu dalam proses menyelesaikan skripsi ini

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih ada kesalahan

dan kekurangan mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis.

Oleh karena itu, besar harapan penulis atas saran dan kritik yang membangun dari

semua pihak terhadap hasil buah karya penulis ini. Semoga skripsi ini dapat

viii
ix
x
INTISARI

Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan


setelah jantung dan kanker. Menurut survei tahun 2004, stroke merupakan
pembunuh no.1 di RS Pemerintah, dan stroke dapat menyebabkan gangguan
fungsional yang merugikan pasien. Salah satu upaya menurunkan angka kematian
dan tingkat keparahan gangguan fungsional adalah melalui perawatan khusus
secara intensif di unit stroke. RSUD Banyumas merupakan salah satu rumah sakit
pemerintah yang memiliki fasilitas Unit Stroke. Pada penelitian ini akan memberi
gambaran mengenai pasien Unit Stroke, obat yang digunakan, dan evaluasi Drug
Related Problems (DRP) yang terjadi.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan
rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif, berdasarkan catatan
rekam medik dari pasien stroke Unit Stroke RSUD Banyumas tahun 2010
(Januari-April). DRP yang terjadi dievaluasi dengan analisis SOAP.
Hasil penelitian dari 15 pasien diperoleh 46,67% berumur 45-65 tahun,
60% laki-laki, 60% stroke hemoragik, 80% memiliki riwayat hipertensi, 40%
riwayat merokok, 26,7% pernah mengalami stroke sebelumnya dan tingkat
kesadaran pasien terbanyak adalah somnolen 53,3%. Obat yang digunakan adalah
sitikolin (100%) dari kelas terapi kardiovaskular dan pirasetam (100%) dari kelas
terapi sistem saraf pusat (100%). Drug Related Problems yang terjadi: butuh obat
10 kasus, obat tidak efektif 2 kasus, dosis kurang 2 kasus, dosis berlebih 1 kasus,
dan reaksi efek samping 7 kasus. Lama masa perawatan pasien terbanyak antara
12-15 hari (5 pasien). Keadaan keluar pasien dari Unit Stroke : 11 pasien
membaik dan 4 meninggal.

Kata kunci: stroke, drug related problems, unit stroke

xi
ABSTRACT

Stroke is the third rank of disease causes death in Indonesia, after heart
diseases and cancer. Based on 2004 survey, stroke is the number one of killer
disease in Public Hospital. Stroke causes neurology problems, that is disadvantage
for the patients. Number of death and neurology disorder can solving by intensive
hospitalized at Unit Stroke. RSUD Banyumas has Unit Stroke facility. This study
will give information about Unit Stroke’s patients, medical treatment and
evaluation of Drug Related Problems (DRP).
This study is non experimental study with descriptive evaluative study
design which has retrospective charecteristic by looking at the medical record of
RSUD Banyumas Stroke Unit in 2010 (January-April). The occured DRPs are
evaluated by looking at the treatment of stroke and using analysis SOAP.
The result of this study (15 patients) that precentage of stroke patient
46,67% are 45-65 years old, 60% are man, 60% are hemoragic stroke, 80% have
hypertensi stroke, 40% have smoking history, 26,67% have stroke reccurent and
the biggest awareness level of patient is somnolen (53,3%). Cithicoline (100%)
from Cardiovascular class therapy and piracetam (100%) from Central Nervous
System class therapy are the most medicines therapy in stroke treatment. Drug
related problems which happen in medication of stroke are need for additional
drug therapy 10 cases, ineffective drug 2 cases, dossage too low 2 cases, dossage
too high 1 cases, and adverse drug reaction 7 cases. Length of hospitalized in
Stroke Unit: <4 days (2 patients), 4-7 days (2 patients), 8-11 days (patients), 12-15
days (5 patients) and 16-19 days (2 patients). The condition of patient when out
from Stroke Unit is 11 patients get well and 4 patients death.

Keywords: stroke, drug related problems, stroke unit

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL …………………………………………………........ i

HALAMAN JUDUL ……………………………………………................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………..…........ iii

HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………..... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………...... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................. vi

PRAKATA …………………………………………...…………………....... vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………................... ix

INTISARI……………………………………...........……….......................... xi

ABSTRACT ………………………………….......……………....................... xii

DAFTAR ISI ……………………………………………............................... xiii

DAFTAR TABEL ……………………………...................………................. xvii

DAFTAR GAMBAR ……………………………………….……….............. xxi

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………................ xxii

BAB I. PENDAHULUAN ……………………………….…………….......... 1

A. Latar Belakang ……………………………………...………….......... 1

1. Perumusan masalah ………………………………...................... 3

2. Keaslian penelitian …………………………………….....…...... 3

3. Manfaat penelitian ……………………………………................ 4

B. Tujuan Penelitian ………………………………………..................... 5

xiii
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ………...............…………………...... 6

A. Stroke …………………………………................................................ 6

1. Sejarah ........................................................................................... 6

2. Definisi……................................................................................... 6

3. Epidemiologi ................................................................................. 7

4. Faktor risiko .................................................................................. 8

5. Klasifikasi……............................................................................... 8

6. Penyebab ....................................................................................... 9

7. Gambaran klinis ............................................................................ 9

8. Patofisiologi ................................................................................... 10

9. Penatalaksanaan terapi stroke akut................................................. 11

10. Hipertensi pada stroke akut ........................................................... 16

11. Hiperglikemia pada stroke akut ..................................................... 18

12. Dislipidemia pada stroke akut ....................................................... 18

13. Kenaikan tekanan intra kranial ...................................................... 19

14. Demam dan infeksi pada stroke akut ............................................ 20

15. Gangguan gastrointestinal pada stroke akut .................................. 20

16. Kejang pada stroke akut ................................................................ 21

B. Drug Related Problems ………………..…………………………...... 21

C. Unit Stroke ........................……………………………………............ 23

D. Keterangan Empiris ................……………………………………...... 24

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……………………....………….... 26

A. Jenis dan Rancangan Penelitian .....………………………………...... 26

xiv
B. Definisi Operasional ………………………..........……....................... 26

C. Subyek Penelitian .........……………………...…………………….... 28

D. Bahan Penelitian dan Lokasi Penelitian…......…………………......... 28

E. Jalannya Penelitian ……….…..…………………………….........….. 28

1. Persiapan dan Pengumpulan Data ……….…..………......…….... 28

2. Pengolahan Data ……….…..…………….......………………...... 29

3. Evaluasi Kasus .. ……….…..…………….......…………….......... 30

F. Keterbatasan Penelitian ……….…..……………………………........ 30

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….…..…………………..…... 31

A. Karakteristik Pasien ............. ……….…..………………………….... 31

1. Umur Pasien ……………………………………………........ 31

2. Jenis Kelamin ........................................................................... 33

3. Jenis Stroke .............................................................................. 34

4. Riwayat Hipertensi .................................................................. 36

5. Riwayat Merokok .................................................................... 37

6. Riwayat Stroke ......................................................................... 38

7. Tingkat Kesadaran Pasien Saat Masuk Unit Stroke................. 38

B. Gambaran Penggunaan Obat ……….…..…………………………... 39

1. Sistem Gastrointestinal ……….…..…………………………..... 38

2. Sistem Kardiovaskular .....…………………………………........ 41

3. Sistem Pernapasan …….…..………………...............………….. 42

4. Sistem Saraf Pusat ......................……….….………………….... 42

5. Sistem Muskoletal ...........................................………………..... 43

xv
6. Antiinfeksi .........….....……………………………...................... 44

7. Sistem Endokrin dan Metabolik..………………………….......... 44

8. Vitamin dan Mineral ..................................................................... 46

9. Mata .............................................................................................. 46

C. Drug Related Problems .............................. ………………………… 50

D. Gambaran Lama Masa Perawatan dan Keadaan Keluar………....….. 63

1. Gambaran Lama Masa Perawatan ……….…....………………… 63

2. Keadaan Keluar ............................................................................ 63

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .....………………………………... 65

A. Kesimpulan ……….…..…………………………..............…………. 65

B. Saran ……….…..……………………………………………….......... 66

DAFTAR PUSTAKA ……….…..……………………………….........…….. 67

LAMPIRAN ……….…..…………………………………………………… 71

BIOGRAFI PENULIS ……….…..………………………………………… 105

xvi
DAFTAR TABEL

Tabel I. Kriteria pasien stroke yang sesuai terapi rt-PA intravena .... 13

Kriteria eksklusi pasien stroke terhadap terapi rt-PA


Tabel II.
intravena ............................................................................... 13

Tabel III. Skala luncur insulin reguler manusia ................................... 18

Tabel IV. Kajian Drug Related Problems ............................................ 21

Kelas terapi obat dan presentase penggunaannya pada

Tabel V. pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010


40
(Januari-April)……...............................................................

Obat sistem saluran cerna beserta presentase

Tabel VI. penggunaannya pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas


41
pada tahun 2010 (Januari-April) ...........................................

Obat sistem kardiovaskular beserta presentase

Tabel VII. penggunaannya pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas


42
pada tahun 2010 (Januari-April)………..............

Obat sistem pernapasanbeserta presentase penggunaannya

Tabel VIII. pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
46
(Januari-April).................................................………..........

Obat sistem saraf pusat beserta presentase penggunaannya

Tabel IX. pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
47
(Januari-April).......................................................................

xvii
Obat sistem muskoletal beserta presentase penggunaannya

Tabel X. pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
48
(Januari-April) ......................................................................

Obat antiinfeksi beserta presentase penggunaannya pada

Tabel XI. pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
49
(Januari-April).......................................................................

Obat sistem endokrin dan metabolik beserta presentase

Tabel XII. penggunaannya pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas


50
pada tahun 2010 (Januari-April)...........................................

Vitamin dan mineral beserta presentase penggunaannya

Tabel XIII. pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
50
(Januari-April).......................................................................

Obat mata beserta presentase penggunaannya pada pasien

Tabel XIV Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-
51
April)....................................................................................

Drug Related Problems pada pasien Unit Stroke RSUD


Tabel XV.
Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April) ......................... 51

Drug Related Problems pada pasien yang Butuh Obat di

Tabel XVI. Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April)..................................................................................... 52

Drug Related Problems pada pasien yang Obat Tidak


Tabel XVII.
Efektif di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010

xviii
(Januari-April)...................................................................... 53

Drug Related Problems pada pasien yang Dosis Kurang di

Tabel XVIII. Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-
53
April)...........................……………......................................

Drug Related Problems pada pasien yang Dosis Berlebih

Tabel XIX. di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April)..............................................................……............... 53

Drug Related Problems pada pasien yang Reaksi Efek

Tabel XX. Samping di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010

(Januari-April)..........…………............................................. 54

Drug Related Problems pada pasien kasus 2 yang

mengalami: Obat tidak efektif dan Reaksi efek samping


Tabel XXI.
obat di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010

(Januari-April) ...................................................................... 56

Drug Related Problems pada pasien kasus 4 yang

mengalami: Obat Butuh obat, dan Dosis Kurang di Unit


Tabel XXII.
Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April)..................................................................................... 57

Drug Related Problems pada pasien kasus 5 yang

mengalami: Reaksi efek samping obat di Unit Stroke


Tabel XXIII.
RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April).................................................... 58

Tabel XXIV. Related Problems pada pasien kasus 6 yang mengalami:

xix
Butuh obat di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun

2010 (Januari-April).............................................................. 59

Drug Related Problems pada pasien kasus 9 yang

Tabel XXV. mengalami: Butuh Obat di Unit Stroke RSUD Banyumas

pada tahun 2010 (Januari-April)............................................ 60

Drug Related Problems pada pasien kasus 11 yang

Tabel XXVI. mengalami: Butuh Obat di Unit Stroke RSUD Banyumas

pada tahun 2010 (Januari-April)... 61

Drug Related Problems pada pasien kasus 12 yang

mengalami: Butuh Obat, dan Dosis kurang RSUD


Tabel XXVII.
Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)

…………………………….................................................. 62

xx
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Kelompok


Umur di RSUD Banyumas Tahun 2010 (Januari-April).. 32

Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Jenis


Gambar 2.
Kelamin di RSUD Banyumas pada Tahun 2010
33
(Januari-April)……..........................................................

Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Jenis Stroke


Gambar 3.
di RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-
35
April).................................................................................

Gambar 4. Presentase Pasien Dengan Stroke Hemoragik di RSUD


Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)………….... 35

Presentase Pasien Unit Stroke Dengan Riwayat


Gambar 5.
Hipertensi di RSUD Banyumas pada Tahun 2010
36
(Januari-April)......………………………...………….....

Presentase Riwayat Pengobatan Hipertensi Pasien


Gambar 6.
Stroke di RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-
37
April)……………………………...................................

Presentase Pasien Unit Stroke dengan Riwayat Merokok


Gambar 7.
di RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-
37
April)…………………………........................................

Pasien Unit Stroke Dengan Riwayat Stroke Sebelumnya


Gambar 8.
di RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-
38
April)………………........................................................

Tingkat Kesadaran Pasien Saat Masuk Unit Stroke di


Gambar 9. RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-
39
April)…………………………………............................

Gambar 10. Lama Masa Perawatan Pasien di Unit Stroke RSUD


Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)..................... 63

Gambar 11. Keadaan Keluar Pasien Dari Unit Stroke RSUD 64


Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)….................

xxi
DAFTAR LAMPIRAN

PEDOMAN DIAGNOSA DAN TERAPI


Lampiran 1. GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK
(STROKE)(STANDAR PELAYANAN MEDIS
71
2009) RSUD BANYUMAS........................................

Data Pasien Unit Stroke RSUD Banyumas 2010


Lampiran 2.
(Januari-April) …...........……………………………..
74

105
Lampiran 3. Surat Keterangan Penelitian RSUD Banyumas ...........

xxii
BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Stroke bukanlah sebuah penyakit baru, melainkan merupakan masalah

kesehatan yang sudah lama sekali dikenal di dunia kedokteran. Namun demikian

hingga kini stroke masih menjadi masalah kesehatan yang serius dan belum dapat

diturunkan angka kejadiannya secara signifikan (Wahjoepramono, 2005).

Amerika Serikat, stroke menempati posisi ketiga sebagai penyakit utama yang

menyebabkan kematian. Posisi di atasnya dipegang penyakit jantung dan kanker.

Sementara itu, di Eropa, di jumpai 650.000 kasus stroke tiap tahunnya. Di Inggris,

stroke juga menempati urutan ketiga (Sutrisno, 2007).

Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan

setelah jantung dan kanker. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena

stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya

mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya

mengalami gangguan fungsional berat. Menurut Yayasan Stroke Indonesia

(Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di

Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi

muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya

tingkat produktivitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi

keluarga (Anonim, 2008).

1
2

Salah satu upaya menurunkan angka kematian dan tingkat keparahan

gangguan fungsional adalah melalui perawatan khusus secara intensif di unit

stroke. Budiastuti dkk (2002), telah melakukan meta-analisa terhadap enam

penelitian tentang manfaat unit stroke hasilnya kematian awal penderita stroke

yang dirawat di unit stroke lebih rendah daripada yang dirawat di bangsal (cit.,

Gofir, 2009). Dalam unit stroke farmasis memiliki peranan yaitu melihat ulang

kembali daftar harian obat-obatan untuk kepastian keamanan, rasional serta terapi

yang efektif yaitu ekonomis dan tepat (Soertidewi, 2007).

RSUD Banyumas adalah institusi kesehatan milik pemerintah kabupaten

Banyumas yang merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapat

sertifikat akreditasi penuh tingkat lengkap dari Departemen Kesehatan RI pada

tahun 2004. Stroke juga merupakan penyakit dengan tingkat hunian rumah sakit

terbanyak di bawah penyakit gangguan mental (Sutrisno, 2007). Di RSUD

Banyumas jumlah pasien rawat inap kasus stroke berada di posisi ke-14 (434

kasus) sedangkan stroke hemoragik pada posisi ke-15 (310 kasus) berdasarkan

data dari dua puluh besar diagnosa rawat inap tahun 2009. Jika dilihat dari jumlah

keseluruhannya stroke berada diurutan ke-5. Pelayanan stroke di RSUD

Banyumas meliputi: Unit Stroke dan bangsal inap untuk merawat pasien yang

terdiagnosis stroke. Penelitian di Unit Stroke masih jarang dilakukan, hal ini

mendorong penulis untuk mengadakan penelitian di Unit Stroke.


3

1. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka

dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut.

a. Seperti apa karakteristik pasien stroke rawat inap di Unit Stroke RSUD

Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April) meliputi umur, jenis kelamin,

jenis stroke, riwayat hipertensi, riwayat merokok, riwayat stroke dan tingkat

kesadaran saat masuk ?

b. Seperti apa gambaran penggunaan obat pada penyakit stroke di Unit Stroke ?

c. Pada obat yang digunakan, apakah terdapat drug related problems yang

meliputi:

1) butuh obat (need for additional drug therapy) ?

2) tidak butuh obat (unnecessary drug therapy) ?

3) obat yang tidak efektif (ineffective drug) ?

4) dosis kurang (dosage too low) ?

5) dosis berlebih (dosage too high) ?

6) reaksi efek samping obat (adverse drug reaction) ?

d. Berapa lama masa perawatan dan seperti apa keadaan pasien stroke rawat inap

saat keluar dari Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April) ?

2. Keaslian penelitian

Penelitian mengenai kasus stroke sudah banyak dilakukan, seperti pola

pengobatan penyakit stroke (Kristanto, 2001), kajian peresepan dan biaya

pengobatan (Santi, 2002) pada pasien rawat inap di RS Panti Rapih Yogyakarta
4

periode 1999. Kajian peresepan pada pasien stroke iskemik RS Panti Rapih

Yogyakarta periode 2003 (Bharoto, 2005). Evaluasi Drug Related Problems

pasien stroke RS Panti Rapih Yogyakarta tahun 2005 (Krismayanti, 2007).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang lain adalah peneliti lain

melakukan penelitian di rumah sakit yang belum memiliki fasilitas Unit Strokes

sedangkan penelitian ini dilakukan di RSUD Banyumas (Jawa Tengah) yang

sudah memilikki Unit Stroke dan peneliti berfokus pada pasien Unit Stroke saja.

Penelitian di Unit Stroke RSUD Banyumas pernah dilakukan dengan

kajian obat neuromuskular (Valida, 2010) dan kajian obat saluran napas dan

saluran cerna (Septiana, 2010). Pada penelitian ini dilakukan evaluasi terhadap

semua jenis kajian obat dan sampel yang digunakan berbeda dengan penelitian

sebelumnya.

3. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini yaitu dapat memberi referensi dan informasi

untuk penyusunan standar pelayanan medik dalam pengobatan pasien Unit Stroke

di rumah sakit khususnya RSUD Banyumas. Diharapkan dapat memberikan

gambaran bagi pembaca yang ingin mengetahui bagaimana pengobatan pasien

stroke terutama yang dirawat di Unit Stroke dan contoh-contoh kejadian drug

related problems yang terjadi pada pasien stroke.


5

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Diharapkan akan memberi informasi mengenai penggunaan obat-obatan

dan Drug Related Problems yang terjadi pada penderita stroke di Unit Stroke.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui karakteristik pasien stroke rawat inap di Unit Stroke RSUD

Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April) meliputi umur, jenis kelamin,

jenis stroke, riwayat hipertensi, riwayat merokok, riwayat stroke dan tingkat

kesadaran saat masuk.

b. Mengetahui gambaran penggunaan obat penyakit stroke pada pasien stroke

rawat inap di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April).

c. Mengetahui hasil evaluasi Drug Related Problems obat-obatan pada pasien

stroke rawat inap di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April).

d. Memberi informasi berapa lama masa perawatan dan keadaan keluar pasien

stroke rawat inap di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April)
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA

A. Stroke

1. Sejarah

Gejala stroke pertama kali dikenal oleh Hippokrates pada 2400 tahun yang

lalu. Hippokrates menyebutnya dalam bahasa Yunani: apopleksi (tertubruk oleh

pengabaian). Faktanya penderita stroke mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba

dan perubahan pola hidup.

Pada abad pertengahan tahun 1600, peneliti Jacob Wepfer menemukan

beberapa pasiennya meninggal dengan kelumpuhan dan perdarahan di otak. Ia

juga menemukan sejumlah penyumbatan pembuluh darah di otak yang

menyebabkan apopleksi. Pada tahun 1928, sejumlah peneliti menyimpulkan

apopleksi adalah gangguan pembuluh darah di otak, sehingga akhirnya dikenal

dengan penyakit cerebrovascular atau kita kenal sebagai stroke (Sutrisno, 2007).

2. Definisi

Menurut Warlow, stroke adalah suatu sindrom yang ditandai dengan gejala

dan atau tanda klinis yang berkembang dengan cepat yang berupa gangguan

fungsional otak fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam (kecuali

ada intervensi bedah atau membawa kematian), yang tidak disebabkan oleh sebab

lain selain penyakit penyebab vaskuler. Definisi ini mencakup stroke akibat infark

otak (stroke iskemik), perdarahan intraserebral (PIS) non traumatik, perdarahan

intraventikuler dan beberapa kasus perdarahan subarakhnoid (cit., Gofir, 2009).

6
7

Berdasarkan American Stroke Association, stroke merupakan salah satu

tipe gangguan pada kardiovaskular yang mempengaruhi arteri yang menuju dan

yang berada pada otak. Stroke timbul ketika aliran darah yan membawa oksigen

dan nutrisi ke otak dihalangi oleh sebuah gumpalan. Akibatnya, ada bagian pada

otak yang tidak dialiri oleh darah sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan.

3. Epidemiologi

Amerika Serikat, stroke menduduk peringkat ke-3 sebagai penyebab

kematian setelah penyakit jantung dan kanker. Setiap tahunnya 500.000 orang

Amerika terserang stroke, 400.000 orang terkena stroke iskemik dan 100.000

orang menderita stroke hemoragik, dengan 175.000 orang diantaranya mengalami

kematian (Gofir, 2009).

Pada populasi orang Asia dan orang berkulit hitam, dikatakan insiden

stroke iskemik 60-70% dari seluruh kasus stroke. Di Indonesia stroke termasuk

penyebab kematian utama (Wahjoepramono,2005). Menurut data Riskesdas

Depkes RI, 2007 bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah

stroke (15,4%), TB (7,5%), Hipetensi (6,8%). Stroke iskemik memilikki

presentasi paling besar yaitu sebesar 80%. Pada kasus stroke hemoragik: 75%

stroke hemoragik intraserebral dan 25% stroke hemoragik subarakhnoid

(Wahjoepramono, 2005).

American Heart Association pada tahun 2006 menyebutkan prevalensi

stroke pada laki-laki 1,25 kali lebih besar dibandingkan perempuan, sehingga laki-

laki kemungkinan besar berpeluang untuk terkena stroke daripada perempuan.

Gofir (2009), mengulas suatu hasil penelitian mengenai jenis kelamin penderita
8

stroke, ditemukan rata-rata kejadian stroke pada perempuan lebih tinggi

dibandingkan dengan laki-laki. Faktor risiko hipertensi dan penyakit kardioemboli

berpengaruh pada perempuan. Pemakaian alkohol berlebihan, merokok, dan

penyakit vaskuler perifer pada laki-laki. Wanita diketahui memilikki kecacatan

stroke yang lebih besar.

4. Faktor Resiko

a. Faktor resiko dapat dimodifikasi

Faktor resiko stroke adalah: (1) hipertensi, (2) diabetes melitus, (3)

penyakit jantung, (4) serangan iskemik sepintas (TIA), (5) obesitas, (6) hiper-

agregasi trombosit, (7) alkoholism, (8) merokok, (9) peningkatan kadar lemak

darah (kolesterol, trigliserida, LDL), (10) hiperurisemia, (11) infeksi, (12) lain-

lain. Tidak heran ditemukan penggunaan obat kardiovaskular pada penderita

stroke (Gofir, 2009).

b. Faktor resiko tidak dapat dimodifikasi

Faktor yang termasuk dalam kategori ini adalah usia, jenis kelamin, etnis

dan hereditas (Gofir, 2009).

5. Klasifikasi

Stroke dapat dibagi menjadi dua kategori utama yaitu stroke perdarahan

atau hemoragik dan stroke iskemik (Fagan dan Hess, 2005). Keduanya merupakan

suatu kondisi yang berlawanan. Stroke hemoragik kranium yang tertutup

mengadung banyak darah, sedangkan pada stroke iskemik mengalami gangguan

ketersediaan darah pada suatu area di otak (oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan
9

menjadi tidak terpenuhi). Kategori utama pembagian stroke tersebut masih dapat

dibagi lagi menjadi beberapa subtipe lagi (Gofir, 2009).

Perjalanan klinis pasien dengan stroke infark akan sebanding dengan

tingkat penurunan darah ke jaringan otak. Perjalanan klinis ini akan dapat

mengklasifikasikan iskemik serebral menjadi 4, yaitu:

a. Transient Ischemic Attack (TIA)

b. Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND)

c. Stroke In Evolusiont

d. Complete Stroke Non-Haemmorhagic

Stroke hemoragik juga dibagi dua berdasarkan lokasi serangan yaitu stroke

hemoragik intraserebral dan stroke hemoragik subarakhnoid (Sutrisno, 2007).

6. Penyebab

Menurut Fagan dan Hess (2005), penyebab sroke adalah:

a. Stroke iskemik : penyakit pembuluh darah besar (emboli pada arteri), emboli

pada ateri ke jantung, penyakit pembuluh darah kecil (infark lakuner).

Penyebab jarang terjadi, misalnya infark vena, vaskulopathi, penggunaan obat

tertentu, migrain, dll.

b. Stroke hemoragik : intraserebral primer dan hemoragik subarakhnoid

7. Gambaran Klinis

Stroke dengan jenis patologis apapun dan oleh faktor resiko apapun maka

akan menimbulkan defisit neurologis pada pasien tersebut. Tanda-tanda dan

gejala-gejala yang ditimbulkan oleh adanya stroke tersebut bersifat akut, yaitu

berupa; (1) hemidefisit motorik, (2) hemidefisit sensorik, (3) penurunan


10

kesadaran, (4) kelumpuhan saraf otak fasialis (VII) dan hipoglosus (XII) yang

bersifat sentral, (5) gangguan funsi luhur seperti sulit berbahasa (aphasia) dan

gangguan fungsi intelektual (demensia), (6) buta separo lapang pandangan

(hemianopsia), dan defisit batang otak (Setyopranoto, 2007).

8. Patofisiologi

a. Stroke Iskemik

Sekitar 85% dari semua stroke disebabkan oleh stroke iskemik atau infark.

Stroke infark pada dasarnya terjadi akibat kurangnya aliran darah ke otak. Pada

keadaan normal, aliran darah ke otak adalah 58 ml/100 gram jaringan otak/menit.

Bila hal ini turun sampai 18 ml/100 gram jaringan otak/menit maka aktivitas

listrik neuron terhenti tetapi struktur sel masih baik, sehingga gejala klinis masih

reversibel. Penurunan aliran darah ini jika semakin parah dapat menyebabkan

jaringan otak mati, yang disebut sebagi infark. Jadi, infark otak timbul karena

iskemik otak yang lama dan parah dengan perubahan fungsi dan struktur otak

yang ireversibel (Gofir, 2009).

Mekanisme terjadinya stroke iskemik secara garis besar dibagi dua, yaitu

akibat trombosis atau akibat emboli. Diperkirakan dua per tiga stroke iskemik

disebabkan karena trombosis, dan sisanya karena emboli. Walaupun demikian

untuk membedakan secara klinis patogenesis mana yang terjadi pada sebuah kasus

stroke iskemik tidaklah mudah, bahkan seringkali tidak dapat dibedakan

(Wahjoepramono, 2005).
11

b. Stroke Hemoragik Intraserebral

Stroke hemoragik intraserebral terjadi karena adanya ekstravasasi darah ke

dalam jaringan parenkim yang disebabkan oleh ruptur arteri perforantes dalam.

Kerusakan pembuluh darah ini biasanya akibat dari hipertensi atau kelainan pada

pembuluh darah (Wahjoepramono, 2005).

Hankey dan Less (2001) membagi faktor penyebab stroke ini dalam tiga

kategori, yaitu faktor anatomi, faktor hemodinamik, dan faktor hemostatik. Faktor

anatomi berkaitan dengan penyakit aterial. Faktor hemodinamik berkaitan dengan

kenaikan tekanan darah (misalnya hipertensi). Faktor hemostatik berkaitan dengan

diatesa perdarahan, misalnya penggunan antikoagulan.

c. Stroke Hemoragik Subarakhnoid

Hemoragik subarakhnoid adalah terjadinya ekstravasasi darah ke dalam

ruang subaraknoid dalam sistem saraf pusat (SSP). Hal ini biasanya disebakan

oleh karena trauma/ cedera kepala, umumnya disebabkan oleh rupturnya suatu

aneurisma intrakranial.

Mekanisme terjadinya stroke ini dasarnya tidak berbeda dengan stroke

hemoragik intraserebral, hanya saja lokasi ekstravasasi darah yang melibatkan

ruang subarakhnoid (Wahjoepramono, 2005).

9. Pentalaksanaan Terapi Stroke Akut

Penatalaksanaan terapi pada stroke akut dapat dilihat sebagai berikut.

a. Tujuan terapi

Tujuan terapi adalah mengurangi kerusakan neurologis, mengurangi

mortalitas dan kecacatan dalam waktu yang lama, mencegah terjadinya


12

komplikasi sekunder pada imobilitas dan disfungsi neurologis, mencegah

kekambuhan stroke (Fagan dan Hess, 2005).

b. Prinsip-prinsip manajemen stroke akut adalah :

1) Diagnosis yang cepat dan tepat terhadap stroke

2) Mengurangi meluasnya lesi di otak

3) Mencegah dan mengobati komplikasi stroke akut

4) Mencegah berulangnya serangan stroke

5) Memaksimalkan kembalinya fungsi-fungsi neurologik (Misbach, 2007).

c. Strategi terapi farmakologi

Dalam pemberian terapi farmakologis pada stroke akut, perlu dibedakan

antara stroke iskemik dan stroke hemoragik.

1) Stroke iskemik

a) Trombolisis rt-PA (recombinat tissue-Plasminogen Activator)intravena

Terapi trombolitik intravena dengan tujuan melakukan reperfusi jaringan

otak. Trombolisis rt-PA intravena merupakan pengobatan stroke iskemik akut

yang disetujui oleh FDA sejak tahun 1996 karena terbukti secara ilmiah efektif

membatasi kerusakan otak akibat stroke iskemik (Wahjoepramono, 2005)

Berdasarkan penelitian, pada pasien yang pemberiannya terlambat (lebih

dari 3 jam onset, atau bila waktu awitanyya tidak dapat dipercaya), pemberian

obat ini tidak dianjurkan karena tingginya resiko komplikasi trombolitik.


13

Karakteristik pasien dengan stroke yang memungkinkan terapi rt-PA intravena

adalah sebagai berikut:

Tabel I. Kriteria pasien stroke yang sesuai terapi rt-PA intravena


(1) Usia > 18 tahun
(2) Diagnosis stroke iskemik menyebabkan defisit neurologis secara klinis jelas
(3) Tidak ada stroke atau trauma kepala dalam 3 bulan sebelumnya
(4) Tidak ada pembedahan mayor dalam 14 hari sebelumnya
(5) Tidak ada riwayat perdarahan intrakranial
(6) Tekanan darah sistolik < 185 mmHg
(7) Tekanan darah diastolik < 110 mmHg
(8) Tidak ada gejala yang menghilang dengan cepat atau gejala stroke yang ringan
(9) Tidak ada gejala yang memunculkan dugaan perdarahan subarakhnoid
(10) Tidak ada perdarahan gastrointestinal atau perdarahan traktus urinarius dalam 21 bulan sebelumnya
(11) Tidak ada pungsi arteri pada lokasi non-compressible dalam 7 hari sebelumnya
(12) Tidak ada bangkitan pada saat onset bangkitan
(13) Waktu protombin 15 detik atau international normalized ratio <1,7 tanpa penggunaan obat
antikoagulan
(14) Waktu parsial protombin dalam rentang normal, jika heparin diberikan selama 48 jam sebelumnya
(15) Hitung trombosit > 100.000/mm3
(16) Konsentrasi glukosa darah > 50 mg/dl (2.7 mmol/l)
(17) Tidak ada kebutuhan untuk langkah agresif dalam menurunkan tekanan darah hingga batas yang telah
disebutkan di atas (Gofir, 2009).

Tabel II. Kriteria eksklusi pasien stroke terhadap terapi rt-PA intravena
(1) Sedang menggunakan antikoagulan oral, waktu protrombin >15 detik atau INR (International
Normalized Ratio) waktu protrombin <1,7
(2) Penggunaan heparin dalam 48 jam sebelumnya
(3) Jumlah platelet kurang dari 100.000/mm3
(4) Bukan stroke atau cedera kepala berat 3 bulan sebelumnya
(5) Mengalami operasi besar dalam 14 hari sebelumnya
(6) Tekanan darah sistolik sebelum pengobatan lebih besar dari 185 mmHg, atau tekanan darah diastolik
lebih besar dari 110 mmHg
(7) Perbaikkan cepat gejala neurologik
(8) Defisit neurologik terpisah dan ringan seperti hanya ataksia, hanya kehilangan sensoris, hanya
disartri, atau kelemahan minimal
(9) Didahului perdarahan intrakranial
(10) Kadar gula darah kurang dari 50 mg/dL, atau >400 mg/dL
(11) Terjadi bangkitan (seizure) pada awitan stroke
(12) Terjadi perdarahan gastrointestinal atau uriner dalam 21 hari sebelumnya
(13) Sedang menderita infark miokardial (Gofir, 2009).

b) Antikoagulan

Antikoagulan telah digunakan selama lebih dari 50 tahun untuk menangani

pasien dengan stroke iskemik akut (Wahjoepramono, 2005). Tujuan pemberian

obat ini adalah untuk : mencegah pembesaran trombus dan mencegah progesifitas

defisit neurologik, dan mencegah terjadinya stroke ulang (Setyopranoto, 2006).


14

Ada dua macam antikoagulan, yaitu yang bekerja secara langsung dan yang tidak

langsung, contoh antikoagulan yang bekerja langsung: heparin, heparinoid,

danaproid, hirudin, lepirudin, dan desirudin. Sedangkan antikoagulan yang

bekerja tidak langsung adalah derivat kumarin (Sukandar dkk, 2008).

Pemberian antikoagulan tidak dapat dilakukan sampai ada hasil

pemeriksaan imaging memastikan tidak ada perdarahan intrakranial primer.

Terhadap penderita yang mendapat pengobatan antikoagulan perlu dilakukan

monitor kadar antikoagulan (Anonim, 2007).

c) Antiplatelet agregasi (antitrombosit)

Antiplatelet adalah obat yang digunakan untuk menghambat agregasi

platelet sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukkan trombus yang sering

ditemukan pada sistem arteri (Dewoto, 2009). Obat antiplatelet yang digunakan

adalah: asetosal, dipiridamol, klopidogrel, tiklodipin dan cilostasol.

d) Obat neuroprotektif

Obat ini terbukti pada percobaan binatang dan uji klink fase II dapat

mencegah dan membatasi kerusakkan jaringan otak akibat iskemik dan

mengurangi luas infark yang terjadi, dengan demikian menurunkan angka

kematian dan angka kecacatan (Setyopranoto, 2006). Obat neuroprotektif yang

dianjurkan PERDOSSI (2007) adalah: sitikolin, pirasetam, nicergolin,

naftidrofuril, nimodipin dan neuropeptida.


15

2) Stroke hemoragik intraserebral

a) Terapi hemostatik

Perluasan perdarahan (hemoragik) yang terjadi setelah beberapa saat

setelah serangan sering kali ditemukan. Hal ini disebabkan oleh masih

berlanjutnya proses perdarahan akibat ruptur arteria serebral, terjadinya

perdarahan ulang, maupun perdarahan sekunder di jaringan sekitar hematom. Hal

tersebut berakibat bertambahnya efek masa, pergeseran garis tengah otak,

meningkatnya tekanan intra kranial, memburuknya defisit neurologik, sehingga

meningkatkan mortalitas dan disabilitas. Sehingga diperlukan terapi hemostatik

untuk mencegahnya (Saiful, 2008). Contoh obat yang digunakan adalah : eptacog

alfa (recombinant activated factor VII [rFVIIa], dan asam aminokaproid.

Pada penelitian keempat Mayer et al. (2008) terapi dengan rFVIIa pada

kasus ini terbukti dapat mengurangi hematoma, akan tetapi tidak meningkatkan

suvival atau outcome fungsional setelah stroke intraserebral (Gofir, 2009).

b) Terapi yang berkaitan dengan obat anti koagulan

Obat anti koagulan dapat berperan sebagai faktor pemicu yang menjadikan

stroke hemoragik intraserebral mengalami eksaserbasi atau semakin buruk.

Implementasi dari hipotesis ini dalam terapi stroke hemoragik intraserebral yang

berkaitan dengan pemakain anti koagulan adalah selain menghentikan pemakain

obat anti koagulan dan memperbaikki defisiensi faktor koagulasi secepat

mungkin, juga terapi yang terkait dengan penangan faktor resiko yang mendasari

terjadinya stroke hemoragik intraserebral (Saiful, 2008).


16

Pasien stroke hemoragik intraserebral akibat dari pemakai wafarin harus

secepatnya diberikan fresh frosen plasma atau prothrombic complex concentrate

dan vitamin K. Pada pasien yang memang harus menggunakan antikoagulan maka

pemberian obat dapat dimulai pada hari ke 7-14 setelah terjadinya perdarahan

(Anonim 2007).

3) Stroke hemoragik subarakhnoid

a) Terapi untuk vasospasme

Beberapa hari setelah terjadi stroke hemoragik subarakhnoid terjadi

inflamasi pembuluh darah yang dikelilingi darah subarakhnoid yang

mengakibatkan penyempitan lumen pembuluh darah. Femona ini disebut

vasospasme dan menyerang 60%-70% penderita stroke hemoragik subarakhnoid

dan mengakibatkan iskemia simptomatis pada 50% kasus (Anggraeni, 2008).

Pengatasan untuk masalah ini, pasien dapat diberikan nimodipin (Anonim, 2007).

b) Antifibrinolitik

Obat-obat anti fibrinolitik dapat mencegah perdarahan ulang. Obat-obat

yang sering dipakai adalah epsilon asam aminokaproid dengan dosis 36 gram/hari

atau asam traneksamat dengan dosis 6-12 gram/hari (Anonim, 2007).

10. Hipertensi pada Stroke Akut

Hipertensi sering kali dijumpai pada pasien dengan stroke akut. Bahkan

pasien yang sebelumnya dalam kondisi normotensi sekalipun. Peningkatan

tekanan darah pada stroke iskemik akut sesungguhnya merupakan respon dari

jaringan otak yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan perfusi otak, agar aliran

darah ke area penumbra pun akan meningkat. Diharapkan dengan berjalannya


17

respon tersebut kerusakan di area penumbra tidak bertambah berat

(Wahjoepramono, 2005). Terdapat dua konsep yang dapat dipakai untuk

manajemen hipertensi pada stroke akut, yaitu: (1) tanpa pemberian obat, (2)

dengan pemberian obat antihipertensi (Setyopranoto, 2007). Penanganan

hipertensi pada stroke hemoragik berbeda dengan stroke iskemik karena tekanan

yang tinggi dapat menyebabkan perburukan edema perihematoma serta serta

kemungkinan perdarahan ulang.

1) Stroke iskemik (berdasarkan Guidelines Stroke 2007)

a) Pada penderita dengan tekanan darah diastolik >140 mmHg (atau >110

mmHg bila akan dilakukan terapi trombolisis) diperlakukan sebagai

penderita hipertensi emergensi berupa drip kontinyu nikardipin, diltiazem,

nimodipin, dan lain-lain.

b) Jika tekanan darah sistolik >220 mmHg dan /atau tekanan darah diastolik

>120 mmHg, berikan labetolol i.v selama 1-2 menit.

c) Jika tekanan darah sistolik <220 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik

<120 mmHg, terapi darurat harus ditunda kecuali adanya bukti perdarahan

intraserebral, gagal ventrikel jantung kiri, infark miokard akut, gagal ginjal

akut, edema paru, diseksi aorta, ensefalopati hipertensi dan sebagainya.

2) Stroke hemoragik intraserebral

a) Tekanan sistolik >230 mmHg atau diastolik >140 mmHg dapat diberikan

nitropruside

b) Tekanan sistolik >180-230 mmHg; atau diastolik >105-140 mmHg; atau

tekanan darah arterial rata-rata 130 mmHg dapat diberikan labetolol,


18

esmolol, enalapril, atau preparat anti hipertensi intravena lainnya yang

pemberiannya dapat secara titrasi seperti diltiazem, lisinopril, dan

verapamil.

c) Tekanan sistolik <180 mmHg atau diastolik <105 mmHg tangguhkan

pemberian antihipertensi

d) Pertahankan tekanan perfusi serebral >70 mmHg (Wahjoepramono, 2005)

11. Hiperglikemia pada Stroke Akut

Penanganan penderita stroke dan diabetes melitus tidak berbeda banyak

dengan penderita dengan nondiabetes, kecuali memerlukan penanganan

hiperglikemianya. Kadar gula darah yang yang dianjurkan adalah 80-140 mg/dL.

Kadar gula yang terlalu rendah juga tidak diharapkan karena apabila kadar gula

darah terlalu rendah juga akan menimbulkan terjadinya penurunan kesadaran yang

terlihat seperti stroke itu sendiri, sedangkan hiperglikemia akan menyebabkan

terbentuknya asam laktat yang lebih banyak yang akan merusak jaringan otak itu

sendiri (Baoezier, 2008). Koreksi segera hiperglikemia dengan insulin subkutan

atau intravena terbukti memperbaikki keluaran pasien (Bustami, 2007). Pemberian

insulin dapat dilihat pada Tabel I

Tabel III. Skala luncur insulin reguler manusia (Anonim, 2007)


Gula darah (mg/dL) Dosis insulin subkutan (Unit)
150-200 2
201-250 4
251-300 6
301-350 8
351-400 10
19

12. Dislipidemia pada Stroke Akut

Pada pasien yang mengalami faktor resiko dislipidemia dapat diatasi

dengan pemberian statin. Selain menggunakan statin, pada pasien dengan

hipertrigliseridemia atau kadar HDL-C yang rendah dapat diberikan ezetimibe,

niasin atau gemfibrosil (Gofir, 2009).

13. Kenaikan Tekanan Intra Kranial

Tekanan intra kranial yang normal pada orang dewasa adalah 5-20 mmHg.

Tekanan intra kranial dapat meningkat karena beberapa sebab. Penyebab dapat

bersifat sementara saja, misalnya karena batuk dan bersin yang keras, mengejan

dengan kuat, atau hal lainnya yang menyebabkan tekanan dalam sistem vena

meningkat. Hal patologis yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan intra kranial

yang berbahaya adalah stroke, cedera kepala, ensefalopati hipertensif dan

sebagainya. Pada sroke iskemik, terjadinya edema serebral merupakan penyebab

kenaikan volume otak; sedangkan pada stroke hemoragik, adanya massa

perdarahan jelas akan menambah massa intrakranial (Wahjoepramono, 2005).

Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan:

a. Meninggikan posisi kepala 20-30°

b. Posisi pasien hendaklah menghindari penekanan vena

c. Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik

d. Hindari hipertermia

e. Jaga normovolemia

f. Pemberian osmoterapi (Anonim, 2007).


20

Zat osmoterapi yang sering digunakan adalah manitol, suatu obat osmotik

intravaskuler yang dapat menarik cairan dari jaringan otak yang mengalami

edema dan yang non edema (Gofir, 2009). Dosis manitol yang dianjurkan 0,25-

0,50g/kgBB (Anonim, 2007), untuk mengendalikan kenaikan tekanan intrakranial.

Diuretik lain (seperti furosemid) dapat digunakan untuk memberikan diuresis

cepat dan berlanjut dengan menurunkan kenaikan intra kranial (Gofir, 2009).

14. Demam dan Infeksi pada Stroke Akut

Demam akan mempengaruhi outcome stroke karena secara eksperimental

demam akan memperluas jaringan infark. Rekomendasi :

a. Atasi suhu tubuh > 37.5°C dengan obat antipiretika, parasetamol 500 mg

b. Berikan antibiotika pada kasus-kasus infeksi (Rasyid dan Soertidewi, 2007).

Infeksi saluran kemih juga cukup sering terjadi pada pasien stroke dan

dapat menyebabkan sepsis pada sekitar 5% pasien. Pneumonia merupakan

penyebab kematian yang cukup sering pada pasien stroke. Hal ini biasanya terjadi

pada pasien dengan imobilisasi atau dengan kemapuan batuk yang menurun.

Pneumonia harus dipikirkan jika timbul demam setelah serangan stroke dan

antibiotik yang sesuai harus diberikan (Wahjoepramono, 2005).

15. Gangguan Gastrointestinal pada Stroke Akut

Penggunaan nasogatric tube dicurigai menyebabkan terjadinya perubahan

pada mukosa lambung. Pemberian antikoagulasi dan antifibrinolitik pada

penderita dengan riwayat ulkus lambung kadang-kadang menyebabkan

perdarahan lambung. Preparat reseptor H2 antagonis dapat diberikan pada

penderita dengan riwayat ulkus lambung, khususnya penderita dengan pengobatan


21

aspirin, antikoagulasi, fibrinolitik, anti inflamasi non steroid, atau kortikosteroid

(Setyopranoto, 2006).

16. Kejang pada Stroke Akut

Bangkitan kejang dan status epileptikus sering terjadi pada stroke akut.

Bangkitan (seizure). Pengobatan dapat dimulai segera setelah bangkitan pertama

atau menunggu bangkitan berikutnya. Obat-obatan yang digunakan adalah

fenitoin, karbamasepin, asam valproat, dan obat-obat antiepilepsi yang baru

(Gofir, 2009). Pemberian antikolvusan profilatik pada penderita stroke iskemik

tanpa kejang tidak dianjurkan. Pada stroke hemoragik intraserebral dapat

diberikan obat antiepilepsi profilaksis, selama 1 bulan dan kemudian diturunkan

dan dihentikan bila tidak ada kejang selama pengobatan (Anonim, 2007).

B. Drug Related Problems

Dalam praktek pharmaceutical care harus diperhatikan pertama kali

adalah INDIKASI, kemudian KEEFEKTIFAN, diikuti oleh kesadaran dalam

KEAMANAN dan akhirnya masalah KETAATAN pasien dalam menggunakan

obat tersebut. Indikasi, keefektifan, keamanan dan ketaatan merupakan dasar dari

kajian DRP (Drug Related Problems), hal ini dapat dilihat pada Tabel II.

Tabel IV. Kajian Drug Related Problems (Cipolle, Strand, dan Morley, 2004)
Drug related needs Kajian DRP
INDIKASI Tidak butuh obat
Butuh obat
KEEFEKTIFAN Obat tidak efektif
Dosis kurang
KEAMANAN Efek samping obat
Dosis berlebih
KETAATAN Ketidaktaatan pasien
22

Masalah-masalah dalam kajian DRP akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Tidak butuh obat (unnecessary drug therapy), yang meliputi: tidak ada

indikasi medik untuk terapi obat tersebut, penggunaan obat lebih dari satu

padahal kondisi pasien hanya memerlukan terapi tunggal obat, kondisi medis

yang tidak memerlukan penanganan dengan obat, pemberian obat untuk

mencegah terjadinya efek samping obat. Dan, masalah yang disebabkan oleh

penyalahgunaan obat, alkohol tau merokok.

2. Butuh obat (need for additional drug therapy), meliputi: ada indikasi medik

yang memerlukan obat, dibutuhkan pemberian obat untuk mencegah

timbulnya resiko baru, dan diperlukan tambahan obat untuk meningkatkan

kerja obat baik secara sinergis atau aditif.

3. Obat tidak efektif (ineffective drug), meliputi: obat tidak efekif untuk

mengatasi masalah medik tertentu, kondisi medik yang sukar disembuhkan

dengan obat, bentuk sedian dari suatu produk obat yang tidak tepat, dan

produk obat yang tidak efektif dengan indikasi yang ditangani.

4. Dosis kurang (dosage too low), meliputi: dosis obat terlalu rendah sehingga

respon obat yang diharapkan tidak tercapai, interval pemberian terlalu lama

sehingga tidak tercapai respon yang diharapkan, adanya interaksi obat yang

menyebabkan berkurangnya ketersediaan obat dalam tubuh, dan durasi

pemberian obat terlalu singkat sehingga respon obat belum tercapai.

5. Reaksi efek samping obat (adverse drug reaction), yang meliputi: ada produk

obat yang menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan (tidak ada kaitannya
23

dengan dosis), interaksi obat yang menyebabkan reaksi tidak diharapkan

(tidak ada kaitannya dengan dosis), dosis obat yang diberikan (administrasi

pemberiannya) terlalu cepat, produk obat yang menyebabkan alergi, dan obat

yang dikontraindikasikan dengan faktor resiko yang ada.

6. Dosis berlebih (dosage too high), meliputi: dosis terlalu tinggi, frekuensi

pemberian obat terlalu pendek, durasi pemberian terlalu lama, adanya

interaksi obat yang menyebabkan reaksi tosik, dan cara pemberian yang

sifatnya terlalu cepat.

7. Ketidaktaatan (noncompliance), meliputi: pasien tidak mengerti instruksi

penggunaannya, pasien memilih tidak menggunakan obat, pasien lupa, obat

terlalu mahal, pasien tidak dapat menelan atau menggunakannya sendiri, dan

produk obat yang sesuai tidak tersedia (Cipolle dkk, 2004).

C. Unit Stroke

Pada prinsipnya pengobatan stroke akut sangat menentukan kualitas hidup

pasien dan bahkan mencegah kematian. Karenanya motto tatalaksana pasien

stroke adalah Time is Brain. Perawatan harus dilakukan di Unit Stroke, karena

telah dibuktikan dan diakui oleh FDA-Amerika Serikat dan EUSI (lembaga stroke

Eropa) serta America Heart Asosciation/ American Stroke Council, American

Chest Physician Association sebagai Evidenced based treatment, baik secara

organisatoris maupun secara competency based (Misbach, 2007).

Menurut Langhorne dan Dennis (1993), definisi unit stroke ada 3 macam.

Definisi pertama adalah tim terdiri atas spesialis-spesialis sesuai dengan


24

bidangnya dalam mengenai penderita stroke dan sebagai konsulen di rumah sakit.

Definis kedua adalah ruangan khusus di rumah sakit yang menyediakan tempat

tidur khusus untuk penderita-penderita yang memerlukan perawatan oleh tim yang

terdiri atas spesialis-spesialis. Definis ketiga adalah tempat khusus di rumah sakit

yang sudah disiapkan bagi penderita stroke dan penderita stroke yang memerlukan

pelayan rehabilitasi serta kemampuan pelayanan profesional dalam suatu unit

yang tetap (cit., Gofir 2009).

Anggota tim stroke harus mempunyai kompetensi dan pengetahuan

mengenai tatalaksana stroke yang meliputi:

1. Melakukan diagnosis, terapi, perawatan dan evaluasi stroke akut

2. Membantu pemulihan penderita stroke seoptimal mungkin

3. Menurunkan insidensi stroke melalui usaha prevensi primer dengan edukasi.

4. Mengimplementasikan prevensi primer untuk menurunkan resiko stroke

ulang

5. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan riset stroke

(Gofir, 2009).

D. Keterangan Empiris

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai evaluasi

pengobatan pasien stroke rawat inap di Unit Stroke RSUD Banyumas tahun 2010

(Januari-April) yang meliputi: butuh obat (need for additional drug therapy),

tidak butuh obat (unnecessary drug therapy), obat yang tidak efektif (ineffective

drug), dosis kurang (dosage too low), dosis berlebih (dosage too high), dan reaksi

efek samping obat (adverse drug reaction). Selain itu juga, diinformasikan
25

karakteristik pasien, gambaran penggunaan obat, lama inap dan keadaan waktu

pulang pasien Unit Stroke RSUD Banyumas.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan

rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini termasuk

penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan dari peneliti pada subjek

uji. Rancangan deskriptif evaluatif karena penelitian ini bertujuan mendapat

gambaran dan mengevaluasi fenomena kesehatan yang terjadi. Bersifat

retrospektif karena data yang digunakan berdasarkan catatan rekam medik dari

pasien stroke rawat inap RSUD Banyumas tahun 2010 (Januari-April).

B. Definisi Operasional

1. Pasien dalam penelitian ini adalah pasien yang telah terdiagnosis stroke akut

baik iskemik maupun hemoragik yang menjalani perawatan inap di Unit

Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas pada tahun 2010 (Januari-

April).

2. Unit Stroke adalah ruang rawat inap intensif RSUD Banyumas untuk

menangani secara khusus pasien yang didiagnosa stroke.

3. Lembar rekam/catatan medik merupakan lembar catatan medik dari pasien

stroke akut Unit Stroke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas yang berisi

data umum pasien Unit Stroke pada tahun 2010 (Januari-April) beserta

diagnosa, hasil laboratorium dan daftar obat yang diberikan selama perawatan.

67
27

4. Faktor risiko stroke adalah faktor yang memungkinkan memperbesar kejadian

stroke iskemik atau hemoragik yang dimiliki oleh pasien.

5. Terapi stroke akut adalah terapi farmakologis yang diterima oleh pasien stroke

akut Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April). Terapi

non farmakologi tidak dibahas dalam penelitian ini.

6. Pengelompokkan obat adalah obat-obat yang digunakan oleh pasien stroke

akut Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April) yang

kemudian dikelompokkan sesuai dengan MIMS Indonesia Edisi 8 2008/2009 .

7. Drug Related Problems (DRP) adalah suatu peristiwa yang tidak diinginkan

yang melibatkan atau dicurigai melibatkan terapi obat yang berpotensi

bertentangan dengan hasil yang diharapkan. DRP ini meliputi : tidak butuh

obat, butuh obat, obat tidak efektif, dosis kurang, dosis berlebih dan efek

samping obat.

8. Evaluasi pengobatan adalah pengevaluasian obat secara DRP dengan

menggunakan metode SOAP yaitu Subjective, Objective, Assessment, dan

Plan. Penelitian ini bersifat retroprospektif sehingga Plan diganti dengan

Suggestion (Saran), yang diharapkan dengan saran ini dapat membantu

sebagai bahan pertimbangan keputusan dikemudian hari.

9. Pasien keluar dalam keadaan membaik adalah keadaan stroke yang dialami

oleh pasien sudah tidak membahayakan jiwanya. Tidak berkaitan dengan

gangguan saraf pasca stroke.


28

C. Subyek penelitian

Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua

pasien stroke akut Unit Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas tahun

2010 yang menjalani rawat inap pada bulan Januari sampai April.

D. Bahan Penelitian dan Lokasi Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar

rekam medik (RM) atau catatan medik pasien stroke akut Unit Stroke tahun 2010

(Januari-April) yang tersedia. Penelitian ini dilakukan Rumah Sakit Umum

Daerah Banyumas Jalan Rumah Sakit No.1 Banyumas (Kabupaten Banyumas-

Jawa Tengah).

E. Jalannya Penelitian

Dalam menyelesaikan penelitian ini dibagi dalam 3tahap yaitu:

1. Persiapan dan Pengumpulan Data

Dilakukan survei terhadap jumlah pasien stroke yang ada di RSUD

Banyumas pada tahun sebelumnya yaitu 2009 serta fasilitas rawat inap pasien

stroke. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010 sehingga belum didapatkan data

perhitungan jumlah pasien yang lengkap. Terdapat dua tempat perawatan untuk

pasien stroke yaitu di Bangsal Rumah Sakit (tempat rawat inap biasa) dan Unit

Stroke (tempat rawat inap intensif). Penelitian dilakukan di Unit Stroke karena

jarangnya penelitian di Unit Stroke dan pemilihan sampel untuk penelitian ini

lebih mudah, karena semua pasien yang dirawat di unit ini sudah pasti mengalami

stroke. Diperoleh 15 lembar catatan medis pada Unit Stroke dari pasien stroke

akut yang menjalani rawat inap pada periode bulan Januari sampai April.
29

Sehingga, 15 lembar catatan medis ini digunakan sebagai bahan penelitian. Data

yang dikumpulkan meliputi: identitas pasien, keadaan pasien pada waktu masuk

RS, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat merokok, hasil CT-Scan, hasil

laboratorium, pengecekan tekanan darah, daftar obat yang diberikan, dan keadaan

pasien keluar dari Unit Stroke.

2. Pengolahan Data

Pada tahapan ini data yang sudah dicatat dilakukan pengolahan

berdasarkan tujuan penelitian ini. Dilakukan pengelompokkan data yaitu umur,

jenis kelamin, jenis stroke, riwayat hipertensi, riwayat merokok, riwayat stroke

dan tingkat kesadaran saat masuk untuk karakteristik pasien, sedangkan

pengelompokkan obat digunakan untuk menunjukkan gambaran obat yang

dipakai. Dalam pengelompokkan obat digunakan MIMS Indonesia Edisi 8

2008/2009. Lama inap di Unit Stroke dan keadaan keluar pasien juga dilakukan

pengelompokkan. Hasil pengelompokkan tersebut disajikan dalam bentuk

diagram atau bagan untuk memberi gambaran yang jelas.

Pengolahan data untuk Drug Related Problems yang terjadi dalam masa

pengobatan dilakukan berdasarkan standar yang ada, yaitu menggunakan :

a. Guideline Stroke 2007 PERDOSSI

b. Standar Pelayanan Medis Rumah Sakit Umum Banyumas tahun 2009

c. dan, pustaka lain yang terkait seperti: Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Drugs

Information Handbooks dan makalah-makalah mengenai stroke.

Kemudian dihitung fenomena Drug Related Problems yang ada dan

dikelompokkan berdasarkan jenisnya.


30

3. Evaluasi Kasus

Kasus yang ada akan dievaluasi dengan metode SOAP (Subjective,

Objective, Assessment, Plan), Plan pada hal ini diganti dengan Suggestion. yang

diharapkan dengan saran ini dapat membantu sebagai bahan pertimbangan

keputusan dikemudian hari. Pengevaluasian ini didasarkan pada standar dan

pustaka yang ada.

F. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini bersifat retrospektif sehingga mempunyai banyak

kelemahan. Peneliti mengetahui kondisi pasien secara tidak langsung yaitu berasal

dari catatan medik yang ada, tetapi lembaran catatan medik yang tersedia kurang

detail dan lengkap terutama hasil laboratorium sehingga ada beberapa informasi

pasien yang tidak lengkap, hal ini menyulitkan peneliti mengetahui kondisi pasien

secara utuh selama masa perawatan di Unit Stroke. Dalam mengatasi masalah

yang timbul ini, peneliti melakukan wawancara dengan dokter yang bersangkutan
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pasien

Pada penelitian ini akan disajikan karakteristik 15 pasien Unit Stroke

RSUD Banyumas 2010 (Januari-April) meliputi beberapa aspek, antara lain:

umur, jenis kelamin, jenis stroke, riwayat hipertensi, riwayat merokok, riwayat

stroke dan tingkat kesadaran saat masuk, berdasarkan rekam medis yang ada.

Karakteristik umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi, riwayat merokok, dan

riwayat stroke merupakan beberapa faktor resiko dari stroke. Jenis stroke

disajikan untuk memperjelas gambaran patologis pasien stroke. Tingkat kesadaran

pasien untuk menggambarkan keadaan pasien saat masuk.

1. Umur Pasien

Berdasarkan data yang diperoleh usia pasien Unit Stroke berkisar 40

sampai 81 tahun untuk lebih jelasnya akan dibagi dalam tiga kelompok umur yang

disajikan pada Gambar 1.

Pasien berumur 45-65 tahun memiliki presentase paling tinggi (46,7%)

kemudian diikuti oleh pasien yang berusia >65 tahun (40%) dan <45 tahun

(13,3%). Hasil ini mendekati dengan hasil penelitian profil stroke di Indonesian

yang dilakukan oleh Survey ASNA di 28 Rumah Sakit di Indonesia yaitu 11,8%

(<45 tahun); 54,2% (45-64 tahun) dan 33,5 % (>65 tahun) (Misbach, 2007).

67
32

Gambar 1. Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Kelompok Umur di


RSUD Banyumas Tahun 2010 (Januari-April)

Kebanyakan orang awam dan bahkan sebagian dokter masih memilikki

pandangan bahwa stroke adalah penyakit yang hanya dialami oleh orang dewasa

dan lanjut usia. Stroke sering dikaitkan dengan keadaan hipertensi kronik dan

penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Padahal, banyak laporan

kasus stroke iskemik maupun hemoragik yang dialami oleh pasien yang masih

muda (Wahjoepramono, 2005).

Pada penelitian ini diketahui 2 pasien (13,3%) berusia <45 tahun

menderita stroke. Pada kasus no. 1 (44 tahun/ stroke hemoragik) dan no. 12 (40

tahun/ stroke iskemik). Dilihat dari umur 2 pasien tersebut, pasien dapat dikatakan

sebagai pasien dewasa muda. Menurut Japardi 2002, salah satu penyebab

terjadinya stroke pada usia ini disebabkan oleh kardioemboli.

Paling banyak stroke dialami oleh pasien yang berusia 45-65 tahun (usia

dewasa tengah) daripada yang berusia di atas 65 tahun. Kejadian ini mungkin

disebabkan usia dewasa tengah adalah usia yang sibuk, terkadang memiliki waktu
33

yang membuat stress akibat dari tanggung jawab kehidupan yang berat dan

berganda, seperti mengurus rumah, berkarir, mengurus usaha, mengurus anak-

anak dan merawat orang tua yang sudah lanjut usia atau memulai karir baru di

pertengahan usia (Gallagher, Lachman, Merrill, dan Verbrugge dalam Tirtawati

dan Zulkaida, 2008). Gaya hidup yang sibuk tersebut, membuat sebagian orang

tidak mempedulikan kesehatannya, sehingga berisiko terkena faktor-faktor risiko

stroke yang kemudian dapat menyebabkan kejadian stroke.

2. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian pasien laki-laki jumlahnya 1,5 kali lipat dari

banyaknya pasien perempuan. Pada Gambar 2 dapat dilihat jumlah pasien laki-

laki sebanyak 60% dan perempuan 40%.

Gambar 2. Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Jenis Kelamin di


RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

Pada penelitian ini pasien berjenis kelamin perempuan berjumlah 6

pasien (40%) bila dikaitkan dengan umurnya, lima diantaranya berusia > 60 tahun

(kasus no. 7, 9, 10, 13 dan 15), umumnya pada usia tersebut pasien mengalami

menopause. Pada keadaan demikian angka kejadian patah tulang, penyakit


34

jantung koroner, stroke, demensia, dan kanker usus besar pada wanita meningkat

(Said, 2004).

3. Jenis Stroke

Dalam menetukan apakah pasien mengalami pasien stroke iskemik atau

hemoragik perlu melakukan pemeriksaan yang menunjang. Diagnosis jenis stroke

ini dapat ditentukan dengan gold standart (baku emas) yaitu menggunakan

pemeriksaan CT-Scan kepala karena memiliki sensitifitas yang tinggi untuk

membedakan kedua stroke (Gofir, 2009). Umumnya kejadian stroke iskemik lebih

besar daripada stroke hemoragik. Berdasarkan hasil CT-Scan yang dilakukan

pasien seperti pada Gambar 3 diketahui 33% pasien menderita stroke iskemik dan

67% stroke hemoragik.

Di RSUD Banyumas secara umum jumlah pasien stroke iskemik lebih

besar daripada yang hemoragik, tetapi pada penelitian ini ternyata jumlah pasien

stroke hemoragik yang di Unit Stroke lebih besar. Hal ini dikarenakan, tidak

semua pasien stroke dapat masuk ke Unit Stroke, biasanya pasien yang benar-

benar membutuhkan perawatan yang intensif. Pada stroke hemoragik umumnya

pasien masuk dalam keadaan yang sudah parah dan kejadian kematian bila tidak

segera ditangani secara intensif pada stroke hemoragik lebih besar daripada yang

iskemik sehingga lebih memerlukan perawatan di Unit Stroke.


35

Gambar 3. Presentase Pasien Unit Stroke Berdasarkan Jenis Stroke di RSUD


Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

Gambar 4. Presentase Pasien Dengan Stroke Hemoragik di RSUD Banyumas


pada Tahun 2010 (Januari-April)

Dalam penanganan stroke hemoragik pada Guidelines Stroke 2007 harus

dibedakan antara stroke hemoragik intraserebral dan stroke hemoragik

subarakhnoid karena masing-masing memiliki penanganan khusus yang berbeda.

Dari 10 pasien yang mengalami stroke hemoragik (Gambar 4), 8 pasien (78%)

pasien mengalami stroke hemoragik intraserebral dan 2 pasien (22%) mengalami


36

stroke hemoragik subarakhnoid, berarti kejadian stroke hemoragik intraserebral

lebih besar.

4. Riwayat Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor risiko terpenting untuk semua tipe stroke

baik stroke hemoragik maupun stroke infark. Risiko stroke meningkat 1,6 kali

setiap peningkatan 10 mmHg tekanan darah sistolik (Gofir,2009). Dari penelitian

yang dilakukan 80% pasien unit stroke ini, memilikki riwayat hipertensi

sebelumnya seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Presentase Pasien Unit Stroke Dengan Riwayat Hipertensi di


RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

Berdasarkan Anonim (2006), paling sedikit 50% pasien yang diresepkan

obat hipertensi tidak meminumnya sesuai rekomendasi. Pasien yang

menghentikan terapi antihipertensinya lima kali lebih besar kemungkinan terkena

stroke (Anonim, 2006). Pasien pada kasus ini yang memilikki riwayat hipertensi,

lebih dari 50% menggunakan obat antihipertensi secara tidak teratur.


37

Gambar 6. Presentase Riwayat Pengobatan Hipertensi Pasien Stroke di


RSUD Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

5. Riwayat Merokok

Merokok menyebabkan peninggian viskositas darah, meninggikan kadar

fibrinogen, mendorong agregasi platelet, meninggikan tekanan darah,

meninggikan hematokrit dan menurunkan HDL serta menaikan LDL kolesterol

(Anonim, 2007). Pada penelitian ini 40% pasien (Gambar 7) adalah perokok

aktif. Banyak bahaya dari merokok yang ada tersebut juga merupakan faktor yang

dapat menyebabkan kejadian stroke, sehingga disarankan pasien tersebut untuk

berhenti merokok. Berdasarkan jenis kelaminnya, pasien perokok aktif ini

semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Gambar 7. Presentase Pasien Unit Stroke dengan Riwayat Merokok di RSUD


Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)
38

6. Riwayat Stroke

Sekitar 12% penderita mengalami serangan stroke pada tahun pertama

dan 30% terjadi dalam waktu 5 tahun (Susilo, 2008). Pada penelitian ini 27 % atau

4 pasien pernah mengalami stroke sebelumnya dan kejadian stroke dalam

penelitian ini kurang dari setahun dari kejadian stroke sebelumnya. Besar pasien

dengan riwayat stroke dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Pasien Unit Stroke Dengan Riwayat Stroke Sebelumnya di RSUD


Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

7. Tingkat Kesadaran Pasien Saat Masuk Unit Stroke

Pada saat pasien masuk Unit Stroke perlu diketahui apakah terjadi

penurunan kesadaran atau tidak. Umumnya tingkat kesadaran pasien dibagi

menjadi empat yaitu Compos Mentis (CM), Somnolen, Stupor, dan Koma.

Tingkat kesadaran pasien dapat dilihat pada Gambar 9.


39

Gambar 9. Tingkat Kesadaran Pasien Saat Masuk Unit Stroke di RSUD


Banyumas pada Tahun 2010 (Januari-April)

B. Gambaran Penggunaan Obat

Strategi penanganan pasien stroke dapat dibagi dua yaitu secara

farmakolgi dan non farmakologi (pembedahan atau operasi). Berdasarkan

keterangan yang diperoleh dari tenaga medis Unit Stroke RSUD Banyumas,

pasien jarang sekali mendapat penanganan operasi, dan penanganannya lebih ke

pemberian obat (farmakologi). Dari 15 kasus yang ada, semua tidak melakukan

operasi atau pembedahan untuk mengatasi strokenya. Pada penelitian ini, akan

menggambarkan obat-obat apa saja yang digunakan oleh pasien selama masa

perawatan di Unit Stroke.


40

Pada Tabel V, kita dapat melihat pengelompokkan obat berdasarkan

kelas terapinya berdasarkan MIMS Indonesia Edisi 8 2008/2009.

Tabel V. Kelas terapi obat dan presentase penggunaannya pada pasien Unit
Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah Presentase
No Kelas Terapi Obat kasus (%)
1 Sistem saluran cerna 13 86,7
2 Sistem kardiovaskular dan hematopoietik 15 100,0
3 Sistem pernapasan 5 33,3
4 Sistem saraf pusat 15 100,0
5 Sistem muskoletal 1 6,7
6 Antiinfeksi 13 86,7
7 Sistem endokrin dan metabolik 1 6,7
8 Vitamin dan mineral 8 53,3
9 Mata 2 13,3

Berdasarkan pengelompokkan tersebut, diperoleh 9 kelas terapi obat.

Obat sistem kardiovaskular dan sistem saraf pusat paling banyak digunakan

dengan presentase 100% dari seluruh kasus yang ada. Hal ini dikarenakan,

penyakit stroke merupakan jenis penyakit kardiovaskular sehingga obat yang

digunakan adalah obat kardiovaskular. Penyakit stroke menyerang bagian otak,

yang merupakan pusat pengendali saraf tubuh, sehingga penggunaan obat dari

kelas terapi sistem saraf pusat banyak digunakan.

1. Sistem Saluran Cerna

Sub kelas terapi, golongan, jenis obat, jumlah kasus beserta

presentasenya dari obat sistem saluran cerna dapat dilihat pada tabel VI.
41

Tabel VI. Obat untuk sistem saluran cerna beserta presentase


penggunaannya pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
(Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Antasid, Antagonis ranitidin 12 80,0
obat Reseptor -
antirefluks H2 kleboprida
dan maleat 1 6,7
antiulserasi Penghambat lansoprazole 1 6,7
Pompa
Proton omeperazole 1 6,7
attalpugite
2 Antidiare aktif 1 6,7
Lacto B 1 6,7
Pada kelas terapi ini obat yang paling banyak digunakan adalah sub kelas

terapi antasid, obat antirefluks dan antiulserasi terutama ranitidin (80%). Banyak

digunakan karena pasien stroke ada yang memiliki masalah pada lambungnya

(pasien geriatri umumnya banyak yang memiliki masalah ini) dan mencegah

terjadinya stress ulcer, dan untuk mengatasi obat-obat yang berefeksamping

menggangu lambung. Obat antidiare diberikan pada pasien yang mengalami diare

selama masa perawatan.

2. Sistem Kardiovaskular

Obat-obat kardiovaskular yang digunakan adalah obat jantung,

antiangina, ACE inhibitor, penyekat beta, antagonis kalsium, Angiotensin II

Reseptor Blocker (ARB), diuretik, vasodilator perifer dan aktivator serebral, obat

dislipidemia, hemostatik, dan antikoagulan, antiplatelet, dan fibrinolitik (Tabel

VII). Dari tiap sub kelas terapi tersebut, akan diinformasikan golongan dan jenis

obat yang digunakan.


42

Tabel VII. Obat sistem kardiovaskular beserta presentase penggunaannya


pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada
tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah Presentase
No Sub kelas terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Obat jantung amiodaran hcl 1 6,7
atropin sulfat 1 6,7
digoxin 1 6,7
2 Antiangina trimetazidine
hcl 2 13,3
Nitrat isdn 5 33,3
3 ACE inhibitor kaptopril 2 13,3

lisinopril 3 20,0
4 Penyekat Beta Kardioselektif bisoprolol 4 26,7
Antagonis Dihidropiridin amlodipin 8 53,3
5 Kalsium Dihidropiridin nikardipin 1 6,7
Dihidropiridin nifedipin 2 13,3
nimodipin 1 6,7
Non-
dihidropiridin diltiazem 3 20,0
6 ARB valsartan 12 80,0
7 Diuretik Tiazid hidroklorotiazid
(hct) 3 20,0
Kuat furosemid 7 46,7
Osmotik manitol 8 53,3
Vasodilator
8 perifer dan sitikolin 15 100,0
aktivator
serebral
Obat Statin simvastatin 10 66,7
9 dislipidemia

Asam fibrat gemfibrosil 1 6,7


10 Hemostatik Vitamin vitamin k 1 6.67
asam
traneksamat 2 13.33
Siklooksigenase
inhibitor asetosal 4 26.67
11 Antiplatelet reseptor adenosin
difosfat inhibitor klopidogrel 1 6.67
cilostasol 1 6.67
43

Obat yang paling banyak digunakan oleh pasien stroke pada kasus ini

adalah sitikolin (100%) sebagai vasolidator perifer dan aktivator serebral

kemudian diikuti oleh Valsartan (80%) sebagai antihipertensi (ARB).

Hipertensi sering sekali dijumpai pada pasien stroke akut. Bahkan pasien

yang sebelumnya dalam keadaan normotensi sekalipun pada fase akut dapat

mengalami peningkatan tekanan darah (Wahjoepramono, 2005). Pengunaan obat

sub kelas terapi dari ACE inhibitor, penyekat beta, antagonis kalsium (kecuali

nimodipin), Angiotensin II Reseptor Blocker, dan diuretik (hidroklorotiazid) ini

bertujuan menurunkan tekanan darah pasien ke keadaan yang diinginkan dan

biasanya disesuaikan dengan standar pengobatan yang ada. Waktu pemberian

obat hipertensi ini harus diperhatikan dan disesuaikan dengan standar stroke yang

ada. Pasien umumnya menerima obat antihipertensi secara kombinasi atau

tunggal, pada kasus ini pasien menerima secara kombinasi. Pasien paling banyak

menerima golongan Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB) yaitu valsartan. Obat

ARB banyak digunakan karena mempunyai efek samping paling rendah

dibandingkan dengan obat antihipertensi yang lain (Anonim, 2006). Valsartan

dapat secara nyata mengurangi total insiden komplikasi hipertensi pada jantung,

otak dan vaskular pada pasien yang beresiko tinggi terhadap kejadian

kardiovaskular (Yus, 2009). Nimodipin pada pasien stroke penggunaanya lebih

dikhususkan pada pasien yang mengalami stroke hemoragik subarakhnoid. Obat

ini diberikan untuk mengatasi masalah vasospasme yang sering terjadi pada

pasien.
44

Diuretik merupakan obat yang dapat menambah kecepatan

pembentukkan urin. Fungsi utama diuretik adalah memobilisasi cairan edema,

yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume

cairan ekstrasel kembali menjadi normal (Gunawan, 2009). Pada kasus ini

terutama manitol dan furosemid lebih digunakan untuk menurunkan tekanan

intrakranial pada otak. Hidroklortiazid pada kasus ini lebih mengarah pada

penurunan tekanan darah pasien.

Sitikolin (100,0%) selain sebagai vasodilator perifer dan aktivator

serebral dapat berperan juga sebagai neuroprotektan, dan digunakan untuk seluruh

kasus stroke. Pada vaskular, obat ini dapat meningkatkan aliran darah ke otak,

meningkatkan konsusmsi oksigen dan menurunkan resistensi vaskular. Sebagai

neuroprotektan memilikki bukti klinis, dapat memperbaikki outcome fungsional

dan mengurangi defisit neurologis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kolesterol pasien yang mengalami

ketidaknormalan, seperti kolesterol total meningkat dan adanya peningkatan LDL

atau trigliserida, penurunan HDL. Pasien sebaiknya diberikan obat penurun

kolesterol. Pada kasus ini jenis obat yang digunakan adalah simvastatin digunakan

sebesar 66,7% dan gemfibrozil sebesar 6,7%.

Hemostatik ialah zat atau obat yang digunakan untuk menghentikan

perdarahan. Pada pasien stroke yang boleh menerima terapi obat ini, hanya pasien

yang teridentifikasi mengalami stroke hemoragik subarakhnoid. Vitamin K

(6.67%) bermanfaat untuk meningkatkan beberapa faktor pembekuan darah yaitu

protrombin, faktor VII (prokonvertin), faktor IX (faktor Christmas) dan faktor X


45

(faktor Stuart) yang berlangsung di hati. Vitamin K bekerja sebagai kofaktor

enzim mikrosom hati yang penting untuk mengaktivasi prekursor faktor

pembekuan darah, dengan mengubah residu asam glutamat dekat amino terminal

tiap prekursor menjadi residu asam γ-karbolsilglutamil. Pembentukkan asam

amino baru yaitu asam γ-karboksiglutamat, memungkinkan protein tersebut

mengikat ion kalsium dan selanjutnya dapat terikat pada fosfolipid. Perubahan

tersebut diperlukan untuk rangkaian tahapan selanjutnya untuk pembekuan darah.

Asam traneksamat (13.33%), merupakan penghambat bersaing dari aktivator

plasminogen dan penghambat plasmin.

Antiplatelet atau yang dikenal juga sebagai antitrombotik, adalah suatu

obat yang dapat menghambat agregasi trombosit sehingga menyebabkan

terhambatnya pembentukan trombus. Pada penelitian ini, antiplatelet diberikan

pada kasus pasien yang mengalami stroke iskemik untuk memperbaiki sumbatan

darah pada daerah otak yang mengalami infark. Asetosal paling banyak digunakan

sekitar 26,7%. Dari 5 penderita stroke iskemik pada penelitian ini menerima

asetosal (3 pasien), aspirin + klopidogrel (1 pasien), dan cilostasol (1 pasien).

Asetosal yang digunakan pasien stroke adalah asetosal dosis rendah,

yang diketahui dapat menghambat sintesis tromboksan A2 di dalam trombosit dan

prostasiklin (PGI2) di pembuluh darah, dengan menghambat secara ireversibel

enzim siklooksigenase (akan tetapi siklooksigenase dapat dibentuk kembali oleh

sel endotel). Penghambatan sintesis tromboksan A2 ini dapat mengurangi agregasi

trombosit.
46

Klopidogrel adalah derivat thienopiridine suatu prodrug, yang metabolit

aktifnya secara irreversible berikatan pada reseptor adenosin difosfat P2Y12 yang

terdapat dipermukaan trombosit, dengan demikian menurunkan aktivitas,

degranulasi dan agregasi trombosit. Dapat digunakan monoterapi atau kombinasi,

umunya kombinasi dengan aspirin dapat memberi hasil luaran yang baik.

Cilostasol adalah obat yang digunakan untuk mencegah terbentuknya

trombus. Mekanisme kerjanya dengan menghambat phospodiesterase-3 (PDE-3).

Cilostasol lebih aman digunakan dibandingkan Aspirin terutama dalam efek

samping perdarahan .

3. Sistem Pernapasan

Berdasarkan Tabel VIII, pasien menerima obat pilek yaitu ambroksol

13,3% dan bromheksin 33,3% dan juga kombinasi dengan parasetamol yaitu

Sistenol 13,3%.

Tabel VIII. Obat sistem pernapasan beserta presentase penggunaannya pada


pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
Mukolitik ambroksol 2 13,3
bromheksin 5 33,3
1 Obat pilek Kombinasi Sistenol
(parasetamol + 2 13,3
asetil sisteina)

Manfaat penggunaan sub kelas terapi obat pilek, pada penelitian ini

untuk mempermudah mengencerkan dahak yang terkumpul pada bagian

pernapasan akibat pasien dirawat dalam keadaan berbaring atau ada infeksi di

saluran napas, yang dapat mengakibatkan pasien susah bernapas atau


47

menimbulkan batuk. Hal ini harus ditangani segera, apabila pasien menunjukkan

tanda-tanda tersebut agar tidak memperparah stroke. Pertimbangan pemberian

Sistenol dikarenakan pasien mengalami demam, sakit kepala atau dalam kondisi

nyeri ringan sampai sedang.

4. Sistem Saraf Pusat

Obat sistem saraf pusat dapat dibagi menjadi: analgesik non opiat dan

antipiretik, ansiolitik, antipsikotik, antikonvulsan, dan nootropik dan neurotonik.

Tabel IX. Obat sistem saraf pusat beserta presentase penggunaannya pada
pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Analgesik non asam mefenamat 1 6,7
opiat dan ketorolak 2 13,3
antipiretik meloksikam 1 6,7
parasetamol 3 20,0
2 Ansiolitik Benzodiazepin alprazolam 4 26,7
3 Antipsikotik haloperidol 1 6,7
4 Antikonvulsan Hidantoin fenitoin 2 13,3
5 Nootropik dan pirasetam 15 100,0
neurotonik

Analgesik non opiat pada penelitian ini untuk mengatasi keluhan nyeri

yang sering terjadi pada pasien. Antipiretik yang digunakan yaitu, parasetamol

(20%) diberikan pada pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh atau

demam, parasetamol dapat juga digunakan sebagi analgesik non opiat.

Pirasetam (100%) termasuk dalam nootropik dan neurotonik atau yang

dikenal sebagai neuroprotektan sama seperti sitikolin. Pirasetam pada neuronal

dapat memperbaikki fluiditas membran sel, memperbaiki neurotransmisi, dan

menstimulasi adenylate kinase yang mengkatalis konversi Adenosin Difosfat


48

(ADP) menjadi Adenosin Trifosfat (ATP). Pada vaskular dapat meningkatkan

deformabilitas eritrosit sehingga aliran darah ke otak meningkat, mengurangi

hiper-agregasi platelet dan memperbaiki mikrosirkulasi. Pemberian pirasetam

perlu memperhatikan apakah pasien memiliki gangguan fungsi ginjal yang berat

(kreatinin kirens <20 ml/menit) atau tidak.

5. Sistem Muskuloskeletal

Alopurinol (6,7%) termasuk dalam obat gout, pasien yang mengalami

kenaikan asam urat dengan atau tanpa nyeri dapat menggunakan obat jenis ini.

Tabel X. Obat sistem muskuloskletal beserta presentase penggunaannya


pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Obat gout alopurinol 1 6,7

6. Antiinfeksi

Pasien stroke yang mengalami infeksi harus diberikan antiinfeksi agar

tidak memperparah keadaan. Pasien diketahui mengalami infeksi apabila

mengalami peningkatan leukosit atau ditemukan bakteri pada kultur urin. Pasien

stroke, mengalami gangguan aliran darah pada otaknya, sehingga menimbulkan

adanya aktivasi leukosit, kenaikan jumlah leukosit ini disebabkan oleh mekanisme

hemostatis tubuh, akibat terjadinya ischemic brain injury. Jadi, untuk memastikan

pasien terkena infeksi atau tidak sebaiknya dilakukan juga kultur urin dan melihat

kondisi pasien yang menunjukkan gejala adanya infeksi (seperti demam, warna

mukus, dll.). Pemberian Antiinfeksi untuk profilaksi dari kejadian infeksi

nosokomial perlu dipertimbangkan pada pasien rawat inap. Penggunaan

Antiinfeksi dapat dilihat di Tabel XI.


49

Seftriakson (86,7%) merupakan Sefalosporin generasi ketiga, pada kasus

penelitian ini paling banyak digunakan dibandingkan dengan yang lain. Obat ini

sekarang merupakan pilihan utama untuk uretritis oleh gonokokus tanpa

komplikasi (Gunawan, 2009). Antiinfeksi yang digunakan pada kasus penelitian

ini diberikan umunya untuk mencegah atau mengobati kejadian infeksi saluran

kemih, pneumonia dan infeksi nosokomial dari pasien rawat inap, yang peluang

terinfeksi hal tersebut sangat besar.

Tabel XI. Antiinfeksi beserta presentase penggunaannya pada pasien Unit


Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
No. Sub Kelas Golongan Jumlah Presentase
Terapi Jenis Obat Kasus (%)
1. Aminoglikosida gentamisin 2 13,3
2. Generasi
Sefalosporin ke-3 seftriakson 13 86,7
3. Makrolida asitromisin 1 6,7
4. Penisilin amoksilin 1 6,7
5. Kuinolon siprofloksasin 6 40,0
levofloksasin 2 13,3
6. Derivat 8-
hidroksikuinolon metronidazole 1 6,7

7. Sistem Endokrin dan Metabolik

Pasien yang memilikki riwayat Diabetes Mellitus (DM) dan mengalami

stress hiperglikemia (pada pasien stroke yang tidak memilikki riwayat DM),

sebaiknya diberikan terapi antidiabetik. Konsentrasi glukosa yang meningkat di

area iskemik akan meningkatkan konsentrasi laktat dan menyebabkan asidosis,

akibatnya terjadi peningkatan pembentukkan radikal bebas oksigen yang akan

merusak neuron-neuron. Pemberian dosis Insulin sebaiknya didasarkan pada


50

standart yang berlaku. Pada penelitian ini antidiabetik yang digunakan adalah

insulin yang memilikki waktu kerja singkat sekitar 8 jam yaitu atracpid (6,7%)

Tabel XII. Obat sistem endokrin dan metabolik beserta presentase


penggunaannya pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
(Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Insulin Short acting atracpid 1 6,7

8. Vitamin Dan Mineral

Penggunaan vitamin dan mineral dapat dilihat pada Tabel XIII. Vitamin

A (6,7%) digunakan untuk suplemen mata pasien. Kalium digunakan bersama

dengan pengobatan yang menggunakan diuretik untuk mencegah terjadinya

hipokalemia, tetapi penggunaanya harus dijaga agar tidak menimbulkan

hiperkalemia. Kalium yang digunakan adalah kalium aspartat (33,3%) dan kalium

klorida (55,3%).

Tabel XIII.Vitamin dan Mineral beserta presentase penggunaannya pada


pasien Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah Presentase
No Golongan Kelompok Jenis Obat Kasus (%)
1 Vitamin vitamin a 1 6,7
kalium
Elektrolit dan aspartat 5 33,3
2 mineral Kalium kalium
klorida 8 53,3

9. Mata

Pasien yang menerima obat mata yaitu Occugard (6,7%) dan Cendolite

(6,7%) hal ini dapat dilihat pada Tabel XIV.


51

Tabel XIV.Obat mata beserta presentase penggunaannya pada pasien Unit


Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Sub Kelas Jumlah Presentase
No Terapi Golongan Jenis Obat Kasus (%)
1 Preparasi Occugard 1 6,7
obat mata
lain-lain Kombinasi Cendolyteers 1 6,7

Occugard mengandung lutein 6 mg, dan ekstrak buah bilberry 80 mg,

yang biasanya digunakan untuk menjaga kesehatan mata, sediaan ini digunakan

secara oral. Cendolyteers adalah obat tetes mata yang mengandung Na-klorida

dan K-klorida, obat ini digunakan sebagai air mata buatan.

C. Drug Related Problems

Pada penderita stroke yang dirawat inap umumnya menerima banyak

sekali jenis obat, sehingga perlu dilakukan evaluasi yang meliputi: indikasi,

efektifitas, keamanan dan kepatuhan, yang diharapkan dengan evaluasi ini dapat

membantu pasien mencapai tujuan terapi dan hasil luaran yang terbaik. Dalam

penelitian ini dilakukan evaluasi tersebut kecuali kepatuhan pasien dalam

penggunaan obat karena sifat penelitian adalah retrospektif. Adapun, hasilnya

dapat dilihat pada Tabel XV.

Tabel XV. Drug Related Problems pada pasien Unit Stroke RSUD Banyumas
pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah Kejadian
Tipe Drug Related Problems (Kasus)
Butuh Obat 10
Tidak Butuh Obat -
Obat tidak Efektif 2
Dosis Kurang 2
Dosis Berlebih 1
Reaksi Efek Samping 7
52

Pada penelitian ini tidak ditemukan tipe DRP tidak butuh obat sehingga

informasi DRP yang akan disajikan meliputi: butuh obat (need for additional drug

therapy), obat tidak efektif (ineffective drug), dosis kurang (dosage too low),

dosis berlebih (dosage too high), dan reaksi efek samping (adverse drug

reaction). Dari tiap tipe DRP tersebut akan disajikan mengenai nomor kasus,

permasalahan dan saran pengatasan kejadian DRP disajikan pada Tabel XVI-XX.

1. Butuh Obat (Need for Additional Drug Therapy)

Tabel XVI. Drug Related Problems pada pasien yang Butuh Obat di Unit
Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah dan
Nomor
No Kasus Permasalahan Keterangan Saran
1 (7) Pasien Terjadi Berikan insulin, dosis
1,8,9,10, membutuhkan peningkatan Gula disesuaikan dengan
11,12,13 antidiabetik Darah pasien >150 Skala luncur pemberian
mg/dl insulin
2 (2) Pasien Suhu badan pasien Berikan antipiretik
4,9 membutuhkan meningkat >37°C seperti parasetamol
antipiretik
4 (2) Pasien Pasien menerima Sebaiknya diberikan
1,6 membutuhkan obat yang PPI atau antagonis
obat antiulser menyebabkan reseptor H2
terjadinya
gangguan
lambung/ stress
ulcer
5 (5) Pasien Pasien diberikan Kontrol kalium,
1,7,8,9,10 membutuhkan obat diuretik apabila terjadi
kalium penurunan sebaiknya
segera berikan
suplemen kalium
53

2. Obat Tidak Efektif (Ineffective Drug)

Tabel XVII. Drug Related Problems pada pasien yang Obat Tidak Efektif di
Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah dan
Nomor
No Kasus Permasalahan Keterangan Saran
1 (1) Pemberian Kedua obat Berikan salah satu
15 ambroksol dan bekerja sebagai saja.
bromheksin mukolitik
2 (1) Pemberian Sistenol Kedua obat Cukup diberikan
2 (parasetamol+ mengandung Sistenol.
N.asetil sistein) parasetamol.
bersama
parasetamol

3. Dosis Kurang (Dosage Too Low)

Tabel XVIII. Drug Related Problems pada pasien yang Dosis Kurang di Unit
Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah dan
Nomor
No Kasus Permasalahan Keterangan Saran
1 (1) Dosis gemfibrozil Pasien Pasien diberikan 300mg,
4 kurang diberikan 300 2x sehari. Dosis
mg, 1x sehari pengobatan minimal 600
mg per hari.
2 (1) Dosis cilostasol Pasien Berdasarkan standart
12 kurang diberikan 50 seharusnya 100 mg, 2x
mg, 2x sehari sehari.

4. Dosis Berlebih (Dosage Too High)

Tabel XIX. Drug Related Problems pada pasien yang Dosis Berlebih di Unit
Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah dan
No Nomor Kasus Permasalahan Keterangan Saran
1 (1) Pemberian Aspar Kedua obat Dikhawatirkan akan
15 K dan KSR tersebut sama- menyebabkan
bersamaan sama hiperkalemia pada pasien.
mengandung Dipilih salah satu dan
Kalium penggunaan satu macam
obat akan lebih ekonomis
54

5. Reaksi Efek Samping (Adverse Drug Reaction)

Tabel XX. Drug Related Problems pada pasien yang Reaksi Efek Samping dan
Interaksi Obat di Unit Stroke RSUD Banyumas
pada tahun 2010 (Januari-April)
Jumlah
dan
Nomor
No Kasus Permasalahan Keterangan Saran
1 (3) Penggunaan Penggunaan diuretik Sebaiknya Kalium
5,13,15 kalium sudah dihentikan, dihentikan
dengan tetapi masih diberi
ARB/ACEi Kalium, padahal pasien
menerima obat
ARB/ACEi hal ini
dapat memperbesar
timbulnya efek
samping dari obat
ARB/ACEi atau
Kalium yaitu
hiperkalemia
2 (1) Pemberian klopidogrel
4 Klopidogrel dikombinasi dengan Ganti Lanzoprasole
dengan PPI PPI, yaitu lanzoprasole. dengan PPI yang
Dapat mengurangi interaksinya tidak besar
khasiat klinik dari yaitu pantoprazole
klopidogrel, sehingga
terapi untuk Stroke
iskemik menjadi
kurang efektif
4 (3) Penggunaan Hal itu dapat Monitoring TD pasien
1, 7, 14 ACEi/ARB/ menurunkan efek jika tidak memberi hasil
Diuretik hipertensi yang baik, NSAID
bersama dihentikan apabila
dengan dimungkinkan atau
NSAID kombinasikan dengan
obat antihipertensi
golongan yang lain.
5 (1) Penggunaan Menimbulkan Monitoring kalium
1 ACEi/ARB terjadinya hiperkalemia pasien jika terjadi
bersama hiperkalemia, NSAID
NSAID pada dihentikan apabila
penderita dimungkinkan atau bila
gangguan dimungkinkan ganti
ginjal dengan obat
antihipertensi golongan
yang lain.
55

Mekanisme kerja obat hipertensi golongan ACEi dan ARB adalah

menurunkan tekanan darah dengan mengekskresikan Natrium dan air sedangkan

Kalium mengalami retensi. Hal ini menyebabkan jumlah Kalium dalam tubuh

meningkat. Pasien yang memperoleh tambahan Kalium dalam kondisi ini akan

memperbesar timbulnya kejadian hiperkalemia yang merupakan efek samping

dari ARB/ACEi dan suplemen tersebut.

Klopidogrel adalah derivat thienopyridine yang dapat menurunkan

aktivitas, degranulasi, dan agregasi trombosit. Klopidogrel dapat mengiritasi

lambung, sehingga salah satu obat yang sering diberikan bersama adalah PPI.

Ternyata gabungan obat ini dapat mengurangi khasiat klinik klopidogrel. Secara

farmakologis kedua obat ini adalah prodrug dan membutuhkan isozim CYP2C19

yang sama untuk menghasilkan metabolit aktif. Pantoprasole adalah salah satu

sedian PPI yang paling minimal memberikan interaksi yang merugikan (Nogard et

all, 2009)

NSAID atau obat antiinflamasi non-steroid bekerja dengan menghambat

sintesis prostaglandin. Prostaglandin adalah vasodilator yang membantu

menurunkan tekanan darah. Antihipertensi seperti ACEi, ARB dan Diuretik

memerlukan prostaglandin dalam mekanisme antihipertensinya. Sehingga

pemberian antihipertensi bersama NSAID dapat menurukan efek

antihipertensinya.

Pada penelitian ini akan dilakukan evaluasi dengan metode SOAP

(Subjective, Objective, Assesment dan Plan) pada 7 kasus, yang dapat mewakili

kejadian DRP pada pasien rawat inap Unit Stroke RSUD Banyumas 2010
56

(Januari-April). Plan pada evaluasi ini akan diganti dengan Suggestion (saran),

karena sifat penelitian ini retrospektif dan diharapkan saran yang diberikan dapat

menjadi pertimbangan dalam pemberian terapi farmakologi bagi pasien stroke di

Unit Stroke RSUD Banyumas. Ketujuh kasus yang dipilih adalah kasus dengan

nomor : 2, 4, 5, 6, 9, 11 dan 12. Kasus tersebut akan disajikan pada Tabel XXI –

XXVII.

Tabel XXI. Drug Related Problems pada pasien kasus 2 yang mengalami:
Obat tidak efektif dan Reaksi efek samping obat di Unit Stroke RSUD
Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 17-99-59 Keluhan masuk : 15 jam sebelum masuk RS mengalami
Usia/Jenis Kelamin : 60 th/Laki-laki kelemahan anggota gerak kanan dan kemudian tidak
Tanggal kejadian serangan : 08/02/10 dapat bicara. Pasien mengalami penurunan kesadaran.
Tanggal masuk US : 09/02/10 Pasien koma, kaku kuduk dan disafasia dan demam.
Masuk dari : IGD Terapi obat yang diberikan :
Tanggal keluar US : 11/02/10 Aspilet (p.o) 1x 80 mg (09-10/02)
Lama Inap : 3 hari klopidogrel (p.o) 1x75 mg (09-10/02)
Keadaan pulang : meninggal PCT (p.o) 3x 500 mg (09-11/02)
Riwayat Hipertensi :tidak tahu lanzoprasole (p.o) 1x 1 tab(09-10/02)
Merokok : iya sistenol (p.o) 4x 1tab (10-11/02)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : pernah, Agustus 2009 isdn (p.o) 3x 5mg (10/02)
Diagnosa masuk : Stroke Iskemik Berulang piracetam (inj) 2x 3g (09-11/02)
sitikolin (inj) 2x 250 mg (09-11/02)
seftriakson (inj) 2x 1g (09-11/02)
ranitidin (inj) 2x 1 a (09-11/02)
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Hemoglobin:15,2g/dL Hemoglobin: M 14-18 HDL Kolesterol : M35-
Hmt:44,8% F 12-16 g/dL 55 F45-65 mg/dl LDL
Eritrosit (dalam juta) t:5,29/uL Leukosit (dalam ribuan)t: Kolesterol: 150-
Platelet :293(10^3/uL) 4.8-10.8/uL 190mg/dl Trigliserida:
Leukosit (dalam ribuan) t: 12,7/Ul Hmt: M 42-52% F 37- 47% 40-155 mg/dl
(H) Eritrosit (dalam juta) t: M Kreatinin: 0.7-1.3mg/dl
4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL Ureum: 10-50mg/dl
(H) = high Platelet : 150-450(10^3/uL) SGPT: 13-40U/L
(L) = low Kolesterol Total : 150- SGOT: 1-37U/L Asam
250mg/dl urat:3-6
Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark cerebri
Lokasi: lobus parientalis, atropi cerebri
Tekanan Darah
Hari ke-1 = 150/100/180/100;140/100;160/100
Hari ke-2 = 120/70;180/80;150/100;140/100;150/100;140/90
Hari ke-3 = 130/90/60/-;40/-
ASSESSMENT
1. Pasien menerima PCT dan Sistenol (PCT+Asam sistinea) pada tanggal 10-11. Keduanya memilikki kandungan PCT.
DRP yang terjadi : Obat tidak efektif
2. Lanzoprasole dapat mengurangi efek klopidogrel. DRP yang terjadi: Interaksi obat
SUGGESTION
1. Pada tanggal 10, PCT dihentikan dan cukup diberikan Sistenol saja.
2. Mengganti lansoprasole dengan Pantoprasole atau obat antagonis reseptor H2
57

Tabel XXII. Drug Related Problems pada pasien kasus 4 yang mengalami:
Obat Butuh obat dan Dosis Kurang di Unit Stroke RSUD Banyumas pada
tahun 2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 27-63-94 Terapi obat yang diberikan :
Usia/Jenis Kelamin : 67/Laki-laki valsartan (p.o) 1x 160 mg (30/03-04/04)
Tanggal kejadian serangan : 29/03/10 amlodipin (p.o) 1x 5 mg (30/03)
Tanggal masuk US : 30/03/10 amlodipin (p.o) 1x 10 mg (31/03-04/04)
Masuk dari : IGD aspilet (p.o) 1x 80 mg (31/03-04/04)
Tanggal keluar US : 05/04/10 alprazolam (p.o) 1x 0,5 mg (31/03-04/04)
Lama Inap : 7 hari ISDN (p.o) 3x 5 mg (01-04/04)
Keadaan pulang : meninggal allopurinol (p.o) 1x 100 mg (01-04/04)
Riwayat Hipertensi : ada, tidak diobati PCT (p.o) 3x 500 mg (02-04/04)
Riwayat TIA : tidak gemfibrosil (p.o) 1x 300 mg (02-04/04)
Riwayat DM : tidak kleboprida maleat (p.o) 2x 1 tab (03-04/04)
Riwayat serangan jantung : tidak pirasetam (inj) 3x 1g (30/03-04/04)
Riwayat lemah jantung : tidak sitikolin (inj) 2x 250 mg (30/03-04/04)
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak nikardipin (inj) 0,5 mg/kgbb/menit (30/03-04/04)
Merokok : ya, 10 batang/hari ranitidin (inj) 2x 1 amp (30/03-04/04)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak pernah haloperidol (inj) 1x 1 amp (30/03)
Dignosis: Stroke Iskemik
Keluhan masuk : Perubahan tingkah laku, 3 hari sebelumnya
kalau diajak bicara kadang nyambung kadang tidak, tampak
seperti orang bingung, ngompol pada malam hari. Lumpuh
anggota badan sebelah kanan. Penurunan kesadaran (Somnolen)
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: Kreatinin: 1,26mg/dl Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
168mg/dl (H) Ureum: 32mg/dl 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Hemoglobin: 12,6/Dl (L) SGPT: 18U/L Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-155
Leukosit (dalam ribuan) t: SGOT: 22U/L F 12-16 g/dL mg/dl
10,35/uL Na: 139mmol/L Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
Hmt: 38% (H) Ka: 3,7mmol/L 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
Eritrosit (dalam juta) : 5,93/uL Hmt: M 42-52% F 37-47% Ureum: 10-50mg/dl
Platelet : 288(10^3/uL) * = 3 jam pp Eritrosit (dalam juta) t: M SGPT: 13-40U/L
Kolesterol Total 4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL SGOT: 1-37U/L
:206/283(H)*mg/dl Platelet : 150-450(10^3/uL) Asam urat:3-6
HDL Kolesterol : 42,7/47,7*mg/dl Kolesterol Total : 150- Na: 135-155
LDL Kolesterol: 250mg/dl mmol/L
236(H)/215,3(H)*mg/dl HDL Kolesterol : M35-55 Ka: 3.6-5.5 mmol/L
Trigliserida: 84/100*mg/dl (H) = high F45-65 mg/dl
(L) = low

Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark


Tekanan Darah
Hari ke-1 = 210/150;150/90;180/110 Hari ke-5 = 130/70;170/70;160/80;150/90
Hari ke-2 = 170/100;180/120;180/100 Hari ke-6 = 120/60;190/100;120/70;100/60
Hari ke-3= 150/100;180/110;190/110;180/100 Hari ke-7 = -
Hari ke-4 = 180/90;140/90;150/90
ASSESSMENT
1. Pada tanggal 5 suhu badan pasien 38,9°C (di atas 37,5°C), Parasetamol sudah dihentikan pemberiannya pada
tanggal 4. DRP yang terjadi : Butuh Obat (sama dengan kasus no.9)
2. Gemfibrozil diberikan 1x 300mg, berdasarkan ISO 2009, untuk pengobatan hiperlipidemia minimal dosis 600 mg.
DRP yang terjadi : Dosis kurang
SUGGESTION
1. Pasien yang demam harus diobati dengan antipiretika dan diatasi penyebabnya (Anonim, 2007). Sehingga tetap
diberi PCT sampai suhu badan normal.
2. Berikan pasien gemfibrosil 2x 300 mg.
58

Tabel XXIII. Drug Related Problems pada pasien kasus 5 yang mengalami:
Reaksi efek samping obat di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010
(Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 52-25-63 Terapi obat yang diberikan :
Usia/Jenis Kelamin : 58 th/Laki-laki amlodipin (p.o) 1x 10 mg (16-24/01)
Tanggal kejadian serangan : 14/01/10 valsartan (p.o) 1x 160 mg (16-24/01)
Tanggal masuk US : 16/01/10 aspar k (p.o) 2x 300 mg (17-20/01)
Masuk dari : Bangsal aspar k (p.o) 1x 300 mg (23-24/01)
Tanggal keluar US : 24/01/10 simvastatin (p.o) 1x 10 mg (19-24/01)
Lama Inap : 9 hari lisinopril (p.o) 1x 10 mg (20-24/01)
Keadaan keluar: membaik, pindah ruangan pirasetam (p.o) 3x 800 mg (24/01)
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak teratur. Jika diobati pirasetam (inj) 2x 3g (16-17, 20-24/01)
teratur tekanan menjadi normal. pirasetam (inj) 3x 1g (18-19/01)
Riwayat DM : tidak sitikolin (inj) 2x 250 mg (16-23/01)
Riwayat serangan jantung : tidak ranitidin (inj) 2x 1a(19-23/01)
Riwayat lemah jantung : tidak seftriakson (inj) 1x 1g (16-20/01)
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu furosemid (inj) 2x 1 a (18-22/01)
Merokok : ya, 6 batang/hari asam traneksamat (inj) 2x 250 mg/5ml (16-17/01)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak pernah vitamin k (inj) 2x 10 mg (1 a) (16-17/01)
Diagnosis : Stroke Hemoragik Subarakhnoid
Keluhan masuk : Penurunan kesadaran + 3 jam sebelum masuk
rumah sakit, pasien mendadak tidak sadar. Lumpuh separoh
anggota badan, sebelah kanan.Nyeri Kepala bagian parietal
sebelah kanan. Vertigo. Muntah.Penurunan kesadaran
Somnolen.
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol : Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
129mg/dl (H) 142,8mg/dl (L) 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Hemoglobin: 15,3g/dL Trigliserida: 73mg/dl Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-155
Platelet : 143(10^3/uL) Kreatinin: 1,75mg/dl(H) F 12-16 g/dL mg/dl
Kolesterol Total : 227mg/dl(H) Ureum: 36mg/dl Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
HDL Kolesterol : 69,6mg/dl(H) Na: 143mmol/L 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
Ka: 2,9mmol/L (L) Platelet : 150-450(10^3/uL) Ureum: 10-50mg/dl
Kolesterol Total : 150- Asam urat:3-6
(H) = high 250mg/dl Na: 135-155
(L) = low HDL Kolesterol : M35-55 mmol/L
F45-65 mg/dl Ka: 3.6-5.5 mmol/L
Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
Lokasi: lobus parientalis
Bagian: kiri
Tekanan Darah
Hari ke-1 = 190/130 Hari ke-6 = 140/90
Hari ke-2 = 200/120 Hari ke-7 = 130/80
Hari ke-3 = 180/100;220/130 Hari ke-8 = 130/80
Hari ke-4 = 190/120 Hari ke-9 = 190/100
Hari ke-5 = 160/100;160/110
ASSESSMENT
1. Pada tanggal 24 pasien masih memperoleh suplemen kalium yaitu Aspar K, pada waktu itu juga pengobatan
dengan diuretik sudah dihentikan dan masih memperoleh valsartan dan lisinopril. Efek samping dari Aspar K ,
ARB dan ACEi adalah hiperkalemia. DRP yang terjadi : Efek samping obat
(mirip kasus no. 13 dan 15)
SUGGESTION

1. Aspar K dihentikan untuk menghindari resiko hiperkalemia.


59

Tabel XXIV. Drug Related Problems pada pasien kasus 6 yang mengalami:
Butuh obat di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 53-20-65 Terapi obat yang diberikan :
Usia/Jenis Kelamin : 55 th/Laki-laki valsartan (p.o) 1x 160 mg (08-20/01)
Tanggal kejadian serangan : 04/01/10 Adalat Oros 1x 1tab (08-10/01)
Tanggal masuk US : 08/01/10 Aspar K (p.o) 1x 300 mg (08-20/01)
Masuk dari : IGD simvastatin (p.o) 1x 20 mg (11-20/01)
Tanggal keluar US : 21/01/10 diltiasem (p.o) 1x 100 mg (12-20/01)
Lama Inap : 14 hari HCT (p.o) 1x 25 mg (13-20/01)
Keadaan keluar: membaik, pindah ruangan bisoprolol (p.o) 1x 10 mg (14-21/01)
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak teratur.Jika teratur alprazolam (p.o) 2x 0,5 mg (17-20/01)
TD menjadi normal pirasetam (p.o) 2x 800 mg (19-21/01)
Riwayat TIA : tidak sitikolin (p.o) 2x 500 mg (19-21/01)
Riwayat DM : tidak pirasetam (inj) 2x 3g (08-18/01)
Riwayat serangan jantung : tidak sitikolin (inj) 2x 500 mg (19-21/01)
Riwayat lemah jantung : tidak seftriakson (inj)2x 1g (12-13/01)
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak furosemid (inj) 1x 1 a (08-11/01)
Merokok : tidak mannitol (inj) 125 cc, rapp off (08-10/01)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak pernah
Diagnosis : Stroke Hemoragik Intraserebral
Keluhan masuk : Perubahan tingkah laku, 3 hari sebelumnya
kalau diajak bicara kadang nyambung kadang tidak, tampak
seperti orang bingung, ngompol pada malam hari.

OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: 75 Trigliserida: 84/100* Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
Hemoglobin: 16,6 Kreatinin: 1,26 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Leukosit (dalam ribuan) t: 10,35 Ureum: 32 Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-155
(H) SGPT: 18 F 12-16 g/dL mg/dl
Hmt: 49,1 SGOT: 22 Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
Eritrosit (dalam ribuan) : 5,93 Na: 139 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
Platelet : 288 Ka: 3,7 Hmt: M 42-52% F 37-47% Ureum: 10-50mg/dl
Kolesterol Total :206/283*(H) Eritrosit (dalam juta) t: M SGPT: 13-40U/L
HDL Kolesterol : 42,7/47,7* 4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL SGOT: 1-37U/L
LDL Kolesterol: 236/215,3*(H) Platelet : 150-450(10^3/uL) Asam urat:3-6
Kolesterol Total : 150- Na: 135-155
* = 3 jam pp 250mg/dl mmol/L
HDL Kolesterol : M35-55 Ka: 3.6-5.5 mmol/L
(H) = high F45-65 mg/dl
(L) = low
Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark dan perdarahan
Lokasi: talamus
Bagian: kiri
Tekanan Darah
Hari ke-1 = 220/150 Hari ke-8 = 170/110;140/110
Hari ke-2 = 180/120 Hari ke-9 =150/100;170/160
Hari ke-3= 150/100 Hari ke-10 =110/80
Hari ke-4 = 166/110 Hari ke-11 =140/90;170/140
Hari ke-5 = 160/100 Hari ke-12 =150/100
Hari ke-6 = 180/140;190/120 Hari ke-13 =140/100; 150/100
Hari ke-7 = 180/120 Hari ke-14 =160/100
ASSESSMENT
1. Pasien menerima obat-obat yang memberi efek samping gangguan lambung. DRP yang terjadi: Butuh obat (mirip
dengan kasus no. 1)
SUGGESTION
1. Pasien sebaiknya diberikan obat PPI atau antagonis reseptor H2.
60

Tabel XXV. Drug Related Problems pada pasien kasus 9 yang mengalami:
Butuh Obat di Unit Stroke RSUD Banyumas
pada tahun 2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 50-84-55 Keluhan masuk : Penurunan kesadaran + 3 jam
Usia/Jenis Kelamin : 80 th/Perempuan sebelum masuk rumah sakit, pasien mendadak tidak
Tanggal kejadian serangan : 26/01/10 sadar. Lumpuh separoh anggota badan, sebelah
Tanggal masuk US : 26/01/10 kanan. Vertigo, muntah. Penurunan kesadaran
Masuk dari : IGD Tingkat kesadaran stupor. Kejang-kejang. Kaku
Tanggal keluar US : 27/01/10 kuduk
Lama Inap : 2 hari
Keadaan pulang : meninggal Terapi obat yang diberikan :
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak teratur. Jika diobati pirasetam (inj) 2x 3g (26-27/01)
TD menjadi normal. sitikolin (inj) 2x 250 mg (26-27/01)
Riwayat TIA : ya seftriakson (inj) 2x 1g (26-27/01)
Riwayat DM : ya ranitidin (inj) 2x 1a (26-27/01)
Riwayat serangan jantung : tidak fenitoin (inj) 1x 1a (27/01)
Riwayat lemah jantung : tidak furosemid (inj) 1x 1a (27/01)
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu manitol (inj) 125 cc (dari 26-27/01, total 3x
Merokok : tidak pemberian)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : pernah, 4 bulan yang
lalu.
Diagnosis ; Stroke Hemoragik Intrakranial
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol: 112,2 Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
237mg/dl (H) Trigliserida: 78 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Hemoglobin: 15,6g/dL Kreatinin: 1,16 Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-155
Leukosit (dalam ribuan) t: 16,4/uL Ureum: 32 F 12-16 g/dL mg/dl
(H) Asam urat : 6,8 (H) Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
Hmt:45,9 SGPT: 19U/L 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
Platelet : 523(10^3/uL) (H) SGOT: 18U/L Hmt: M 42-52% F 37-47% Ureum: 10-50mg/dl
Kolesterol Total : 179 Na: 144mmol/L Eritrosit (dalam juta) t: M SGPT: 13-40U/L
HDL Kolesterol : 51,2 Ka: 3,8mmol/L 4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL SGOT: 1-37U/L
Suhu tubuh :40.1°C Platelet : 150-450(10^3/uL) Asam urat:3-6
Kolesterol Total : 150- Na: 135-155
250mg/dl mmol/L
(H) = high HDL Kolesterol : M35-55 Ka: 3.6-5.5 mmol/L
(L) = low F45-65 mg/dl
Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
Lokasi: lobus parientalis dan temporal
Tekanan Darah
Hari ke-1 = 150/100
Hari ke-2 = 150/100,-
ASSESSMENT
1. Suhu tubuh pasien pada hari pertama, 40.1°C, pasien tidak diberi antipiretik. DRP yang terjadi: Butuh obat (mirip
dengan kasus no. 4)
2. Pasien menerima diuretik kuat, dikhawatirkan kalium dalam tubuh pasien menjadi tidak seimbang. DRP yang
terjadi : Butuh obat (mirip dengan kasus no. 1, 7, 8, dan 10)
SUGGESTION
1. Pasien diberikan PCT sebagai antipiretik
2. Pasien diberikan suplemen kalium seperti Aspar K untuk mencegah terjadinya hipokalemia.
61

Tabel XXVI. Drug Related Problems pada pasien kasus 11 yang mengalami:
Butuh Obat di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun 2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 52-34-08 KSR (p.o) 3x 600 mg (08-13/02)
Usia/Jenis Kelamin : 70 th/Laki-laki KSR (p.o) 2x 600 mg (14/02)
Tanggal kejadian serangan : 06/02/10 tetrazosin (p.o) 2x 35 mg (09-14/02)
Tanggal masuk US : 08/02/10 simvastatin (p.o) 1x 10 mg (09-14/02)
Masuk dari : Bangsal amlodipin (p.o) 1x 5 mg (10/02) 1x 10 mg (11-
Tanggal keluar US :15/02 /10 14/02)
Lama Inap : 8 hari sistenol (p.o) 4x 1 tab (11-14/02)
Kondisi pulang : meninggal lisinopril (p.o) 1x 5mg (11/02) dan 1x 10 mg (12-
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak teratur. Jika diobati 14/02)
TD menjadi normal. pirasetam (inj) 2x 3g (08-14/02)
Merokok : iya sitikolin (inj) 2x 250 mg (08-14/02)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak pernah ranitidin (inj) 2x 1a (14/02)
Diagnosis : Stroke Hemoragik Intrakranial seftriakson (inj) 2x 1g (08-11/02)
Padada tanggal 10 mengalami stupor omz (inj) 2x 1 a (08-13/02)
Keluhan masuk : Pasien datang dengan keluhan pusing, muntah, bromheksin 3x 1a (10-14/02)
kaki dan tangan kiri lemah, mulut menceng ke kanan.Penurunan manitol 125 cc (dari 08-10/02, total 6 kali
kesadaran Somnolen. pemberian)
Terapi obat yang diberikan : furosemid 1x 1a (12-13/02) 2x 1a (14/02)
Valsartan (p.o) 1x 80 mg (08/02) siprofloksasin 2x 200 mg (12-14/02)
Valsartan (p.o) 1x 160 mg (09-14/02) insulin 3x 4ui (13-14/02)
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: 157 mg/dl Na: 141mmol/L Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
(H) Ka: 2,9mmol/L (L) 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Hemoglobin: 14,5 g/dL URINALISIS Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-
Leukosit (dalam ribuan)t:18.63/uL (H) pH : 7.0 F 12-16 g/dL 155 mg/dl
Hmt: 43,6% BJ :1.010 Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
Eritrosit (dalam juta) t:5,12/uL Lekosit : 2-4 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
Platelet : 267(10^3/uL) Keton + Hmt: M 42-52% F 37-47% Ureum: 10-
Kolesterol Total : 248mg/dl Darah +2 Eritrosit (dalam juta) t: M 50mg/dl
HDL Kolesterol : 55,9 mg/dl Eritrosit 8-12 4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL SGPT: 13-40U/L
LDL Kolesterol: 156,9mg/dl Epitel 0-2 Platelet : 150-450(10^3/uL) SGOT: 1-37U/L
Trigliserida: 176mg/dl(H) Protein + Kolesterol Total : 150- Asam urat:3-6
Kreatinin: 1,32mg/dl(H) Kristal amorph +++ 250mg/dl Na: 135-155
Ureum: 25 mg/dl HDL Kolesterol : M35-55 mmol/L
SGPT: 23U/L (H) = high F45-65 mg/dl Ka: 3.6-5.5
SGOT: 25U/L (L) = low mmol/L
Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
Lokasi: lobus parientalis dan intravarikuler
Bagian: kanan/dextra
Tekanan Darah
Hari ke-1= 200/100;190/100;160/90 Hari ke-5 =180/110;170/90
Hari ke-2= 200/100;190/110;170/100;190/100 Hari ke-6 = 130/80;140/80;150/90;140/80
Hari ke-3 = 220/100;190/110;180/100;200/110 Hari ke-7 = 150/100;140/90;130/80;90/60
Hari ke-4 = 220/110;140/120;170/120;130/80 Hari ke-8 = 110/70
ASSESSMENT
1. Pasien mengalami hiperglikemia mulai tanggal 8, tetapi tidak diberikan antidiabetik. DRP yang terjadi: Butuh
obat (mirip kasus 1, 8, 10, 11, 12, dan 13)

SUGGESTION
1. Pasien dari tanggal 8 sebaiknya diberi insulin, dosis 2 ui (berdasarkan Standar Pelayanan Medik Stroke RSUD
Banyumas).
62

Tabel XXVII. Drug Related Problems pada pasien kasus 12 yang mengalami:
Butuh Obat, dan Dosis kurang di Unit Stroke RSUD Banyumas pada tahun
2010 (Januari-April)
SUBJECTIVE
No. RM : 52-56-54 Terapi obat yang diberikan :
Usia/Jenis Kelamin : 40 th/Perempuan parasetamol (p.o) 4x 500 mg (01-09/04)
Tanggal kejadian serangan : 01/04/10 parasetamol (p.o) p.r.n 500 mg (10/04)
Tanggal masuk US : 01/04/10 simvastatin (p.o) 1x 10 mg (03-12/04)
Masuk dari : IGD cilostasol (p.o) 2x 50 mg (03-12/04)
Tanggal keluar US : 12/04/10 amlodipin (p.o) 1x 5 mg (03-08/04) 1x 10 mg (09-
Lama Inap : 12 hari 12/04)
Kondisi keluar : pasien pindah ruangan dalam keadaan valsartan (p.o) 1x 80 mg (03-12/04)
membaik aspar k (p.o) 2x 300 mg (07-09/04)
Riwayat Hipertensi : ada, diobati teratur. Jika diobati TD aspar k (p.o) 3x 300 mg (10-12/04)
menjadi normal. fenitoin cap (p.o) 2x 100 mg (10-12/04)
Riwayat TIA : tidak furosemid (p.o) 1x 40 mg (10-12/04)
Riwayat DM : tidak pirasetam (inj) 3x 1g (01-08/04)
Riwayat serangan jantung : tidak pirasetam (inj) 2x 3g (09-12/04)
Riwayat lemah jantung : tidak sitikolin (inj) 2x 250 mg (01-12/04)
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu ranitidin (inj) 2x 1a (01-08/04)
Merokok : tidak seftriakson (inj) 2x 1g (01-09/04)
Pernah mengalami stroke sebelumnya : pernah, Oktober 2009 siprofloksasin 2x 200 mg (09-12/04)
Diagnosis : Stroke iskemik fenitoin (inj) drip (03-09/04)
Sampai tanggal 6 mengalami koma bisolvon (inj) 3x 1a (03-12/04)
Keluhan masuk : muntah, kehilangan kesadaran dan koma gentamisin (inj) 1x 80 mg (06-10/04)
OBJECTIVE
Hasil laboratorium pasien Nilai normal hasil laboratorium
Kadar gula darah sewaktu: 172(H) SGOT: 137(H) Kadar gula darah sewaktu: LDL Kolesterol:
Hemoglobin: 17(H) Na: 145 60-100 mg/dl 150-190mg/dl
Leukosit (dalam ribuan) t: 23,48(H) Ka: 3,8 Hemoglobin: M 14-18 Trigliserida: 40-
Hmt:52,4(H) URINALISIS F 12-16 g/dL 155 mg/dl
Platelet : 713 Protein + Leukosit (dalam ribuan)t: Kreatinin: 0.7-
Kolesterol Total :237 Epitel + 4.8-10.8/uL 1.3mg/dl
HDL Kolesterol : 66,6 (H) Darah +3 Hmt: M 42-52% F 37-47% Ureum: 10-
LDL Kolesterol: 154 Leukosit 2-4 Eritrosit (dalam juta) t: M 50mg/dl
Trigliserida: 82 Eritrosit banyak 4.7-6.1 F 4.2-5.4/uL SGPT: 13-40U/L
Kreatinin: 1,71(H) Platelet : 150-450(10^3/uL) SGOT: 1-37U/L
Ureum: 31 (H) = high Kolesterol Total : 150- Asam urat:3-6
Asam urat : 5,1 (L) = low 250mg/dl Na: 135-155
SGPT: 74(H) HDL Kolesterol : M35-55 mmol/L
F45-65 mg/dl Ka: 3.6-5.5
mmol/L
Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark
Lokasi: lobus parientalis, temporal, oksipitalis
Bagian: kiri dan kanan
Tekanan Darah
Hari ke-1= 120/70;130/70;140/80 Hari ke-7 =150/100;160/90;120/80
Hari ke-2= 130/90;140/90;160/100; Hari ke-8 =130/80;110/80;150/110
Hari ke-3 = 170/160;150/100;100/70;120/80 Hari ke-9 =150/90;130/90
Hari ke-4 = 110/80;140/90;100/80;150/80 Hari ke-10=120/70;120/90
Hari ke-5 = 160/100;120/80;130/90;100/70;120/80 Hari ke-11= 140/90;120/80;130/80
Hari ke-6 = 140/90;160/100 Hari ke-12=140/110

ASSESSMENT
1. Pasien mengalami hiperglikemi, tetapi tidak diberikan antidiabetik. DRP yang terjadi: Butuh obat (mirip kasus 1,
8, 9, 10, 12, dan 13)
2. Dosis cilostasol seharusnya 2x 100 mg. DRP yang terjadi : Dosis kurang
SUGGESTION
1. Pasien sebaiknya diberi insulin sesuai dengan tabel skala luncur
2. Dosis cilostasol dinaikkan menjadi 2x 100mg
63

D. Gambaran Lama Masa Perawatan Dan Keadaan Keluar

1. Lama Masa Perawatan

Pasien pada penelitian ini dirawat antara 12-17 hari di Unit Stroke. Lama

masa perawatan pasien di Unit Stroke dapat dilihat pada Gambar 10. Pasien yang

lama masa perawatannya singkat atau dalam kasus ini < 7 hari, biasanya pasien

keluar dalam keadaan sudah meninggal dalam masa perawatan di unit Stroke.

Paling banyak pasien mengalami masa perawatan 12-15 hari.

Gambar 10. Lama Masa Perawatan Pasien di Unit Stroke RSUD Banyumas
pada tahun 2010 (Januari-April)

2. Keadaan Keluar Pasien Dari Unit Stroke

Pasien yang dianggap sudah membaik dan tidak memerlukan perawatan

intensif dari Unit Stroke, umumnya diperbolehkan untuk pulang atau pindah ke

Bangsal RS. Pada penelitian ini 11 pasien (73,3%) dalam keadaan membaik

waktu keluar dari Unit Stroke dan sisanya keluar dalam keadaan meninggal

(Gambar 11).
64

Gambar 11. Keadaan Keluar Pasien Dari Unit Stroke RSUD Banyumas
pada tahun 2010 (Januari-April)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Karakteristik pasien stroke (n=15 pasien) di Unit Stroke RSUD Banyumas

pada tahun 2010 (Januari-April) sebagai berikut: 46,7% pasien berumur 45-

65 tahun, 60% laki-laki, jenis stroke hemoragik 60%, memiliki riwayat

hipertensi 80%, memiliki riwayat merokok 40%, dan 4 orang pasien pernah

dan mengalami stroke sebelumnya. Tingkat kesadaran pasien saat masuk, 3

pasien dalam keadaan normal, 8 pasien somnolen, 2 pasien stupor dan 2 koma.

2. Penggunaan obat pasien stroke di Unit Stroke terbanyak adalah obat yang

bekerja sebagai neuroprotektan yaitu, sitikolin (100%) dari kelas terapi

kardiovaskular dan pirasetam (100%) dari kelas terapi sistem saraf pusat.

3. Evaluasi Drug Related Problems yang ditemukan adalah: butuh obat 10 kasus,

obat tidak efektif 2 kasus, dosis kurang 2 kasus, dosis berlebih1 kasus, dan

reaksi efek samping 7 kasus.

4. Lama masa perawatan pasien: <4 hari (2 pasien), 4-7 hari (2 pasien), 8-11 hari

(4 pasien), 12-15 hari (5 pasien), dan 16-19 hari (2 pasien). Sedangkan,

keadaan keluar pasien dari Unit Stroke : 11 pasien membaik dan 4 pasien

meninggal.

67
66

B. Saran

1. Diharapkan adanya penelitian serupa tetapi dengan rancangan prospektif

sehingga data yang diperoleh mengenai keadaan pasien dapat diketahui oleh

peneliti secara langsung.

2. Disarankan penelitian dilakukan di bangsal yang merawat pasien stroke dan

Unit Stroke, sehingga dapat dilakukan perbandingan hasil dan pengobatannya

selama perawatan.

3. Bagi Rumah Sakit, dalam penyimpanan data pasien sebaiknya data pasien

sebelum masuk Unit Stroke dan waktu pindah ruangan dijadikan satu, apabila

akan dilakukan penelusuran informasi dan pengadaan evaluasi menjadi lebih

mudah.

4. Banyak penderita stroke yang menggunakan sonde, terutama pada pasien yang

mengalami penurunan kesadaran. Pemberian obat oral yang didesain khusus,

seperti valsartan (tablet salut gula) dan pemberian obat digerus bersamaan

obat lain, dikhawatirkan dapat mengurangi efek terapetiknya. Peneliti

menyarankan untuk industri farmasi agar membuat desain obat yang sesuai

dengan keadaan pasien rawat inap khusunya pasien stroke yang mengalami

penurunan kesadaran.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, R., 2008, Penatalaksanaan Medis Perdarahan Subarakhnoid Primer,


Makalah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Penyakit
Saraf, 313-338, Airlangga University Press, Surabaya

Anonim, 2003, Usia Muda Perlu Tahu Penyakit Stroke, Yayasan Stroke
Indonesia, http://www.yastroki.or.id/read.php?id=255, diakses pada
tanggal 20 Juni 2010

Anonim, 2006, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi, Departemen


Kesehatan RI, Jakarta

Anonim, 2007, Guidelines Stroke 2007, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf


Indonesia, Jakarta

Anonim, 2008, Stroke, Pembunuh No. 3 di Indonesia,


http://www.medicastore.com, diakses pada tanggal 1 Agustus 2010

Anonim, 2009, Informasi Spesialite Obat, Volume 44, Penerbit Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia, Jakarta

Baoezier, F., 2008, Manajemen Hiperglikemia Pada Stroke Akut, Makalah


Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Penyakit Saraf, 67-
84, Airlangga University Press, Surabaya

Bustami, M., 2007, Penanganan Neuroemergensi dan Neurointensif Pada Pasien


Stroke Akut., Pustaka Cendikia Press, Yogyakarta

Cipolle, R.J., Strand, L.M., and Morley, P.C., 2004, Pharmaceutical Care
Practice, McGraw-Hill Companies, Inc., New York

Dewoto, H R., 2009, Antikoagulan, Antitrombotik, Trombolitik dan Hemostatik,


Farmakologi dan Terapi Edisi 5, FK Universitas Indonesia, Jakarta

Djuanda. A., Sani, A., Azwar, A., Handaya., Almatsier, M., Setiabudy, R.,
Firmansyah, R., Ismail, S., MIMS Indonesia, Edisi 8 2008/2009, PT Info
Master, Indonesia

Fagan. S.C., and Hess, D.C., dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Matzke, B.R.,
Well, B.G., dan Poyes. M.L., 2005, Pharmacotherapy a
Pathophysiologic Approach, 3rd edition, Appleton and Lange Stampord
Conecticut, USA

67
68

Gofir, A., 2007, Pengantar Manjemen Stroke Komprehensif, Pustaka Cendikia


Press, Yogyakarta

Gofir, A., 2009, Evidenced Based Medicine: Manejemen Stroke, Pustaka


Cendikia Press, Yogyakarta

Gunawan,S.G., 2009, Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi


dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Hariyono, T., 2002, Stroke dan Hipertensi, SMF Bagian Saraf, RSUD Banyumas,
Jawa Tengah

Hartono, B., 2004, RSUD Banyumas Terakreditasi Tingkat Lengkap, Harian


umum Suara Merdeka 13 Januari 2004, Jawa Tengah

Hayes, P C dan Thomas W.M., 1997, Buku Saku Diagnosis dan Terapi, 208-209,
EGC, Jakarta

Japardi, I., 2002, Patofisiologi Stroke Infark Akibat Tromboemboli, Fakultas


Bagian Bedah, Universitas Sumatera Utara,
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi32.pdf ,
diakses pada tanggal 20 Juni 2010

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information
Handbook, 14th Edition, LexiComp, Amerika

Lelo, A., 2009, Clopidogrel From Pharmacology Perspective To Clinical


Protection, Makalah Simposium Nasional Otak dan Jantung ke-10, 25-
33, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Misbach, J., 2007, Pandangan Umum Mengenai Stroke, Unit Stroke Manajemen
Stroke Secara Komprehensif, 1-9, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta

Wahyuni, N., 2009, Neuroprotective Agent in Stroke,


http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/07/21/neuroprotective-
agents-in-stroke/ , diakses pada tanggal 20 Juni 2010

Notoaadmojo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, edisi 2, Rineka Cipta,


Jakarta

Rasyid, Al., 2007, Aspek Anatomi, Fisiologi dan Pemeriksaan Fisik, Unit Stroke
Manajemen Stroke Secara Komprehensif, 13-20, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta
69

Said, U., 2004, Interaksi Hormonal Dan Kualitas Kehidupan Pada Wanita,
Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI/ RSMH
Palembang,
http://digilib.unsri.ac.id/download/INTERAKSI%20HORMONAL%20%
20DAN%20KUALITAS%20HIDUP%20WANITA.pdf , diakses pada
tanggal 20 Juni 2010

Saiful-Islam, M., 2008, Perkembangan Terapi Medikal Stroke Perdarahan


Intraserebral, Makalah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
Ilmu Penyakit Saraf, 219-234, Airlangga University Press, Surabaya

Setyopranoto, I., 2006., Penerapan Evidence Based Medicine Pada Kegawatan


Stroke Iskemik Akut, Kumpulan Makalah Lengkap: Continuing
Professional Development 2006, 17-36, RS DR. Sardjito, Yogyakarta

Setyopranoto, I., 2006., Penerapan Evidence Based Medicine Pada Manjemen


Stroke Perdarahan Intraserebral, Kumpulan Makalah Lengkap:
Continuing Professional Development 2006, 37-60, RS DR. Sardjito,
Yogyakarta

Soertidewi, L., 2007, Peran Unit Stroke Dalam Tata Laksana Stroke
Komprehensif, Unit Stroke Manajemen Stroke Secara Komprehensif, 21-
37, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Stringer, J.L., 2006, Konsep Dasar Farmakologi Panduan untuk Mahasiswa,


Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta

Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.A.P.,
Kusnandar., 2008, ISO Farmakoterapi, PT ISFI Penerbitan, Jakarta

Susilo, H., 2008, The Evidence Of Antiplatelets In The Primary And Secondary
Stroke Prevention, Makalah Lengkap Pendidikan Kedokteran
Berkelanjutan Ilmu Penyakit Saraf, 291-300, Airlangga University Press,
Surabaya

Sutedjo, A.Y., 2006, Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan


Laboratorium, Amara Books, Yogyakarta

Sutrisno, A., 2007, Stroke??? You Must Know Before You Get It!, Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tirtawati, K., Zulkaida, A., 2008, Locus of Control Pada Insan Pasca Stroke Usia
40-65 Tahun, Fakultas Psikologi Gunadarma, Jakarta

Tugasworo, D., 2009, The Role Cilostazol In The Mangement Of Stroke And
Intracranial Arterial Stenosis, Makalah Simposium Nasional Otak dan
70

Jantung ke-10, 127-131, Badan Penerbit Universitas Diponegoro,


Semarang

Wahjoepramono, E.J., 2005, Stroke Tata Laksana Fase Akut, Fakultas Kedokteran
Universitas Pelita Harapan, Jakarta

Winkler, S.R., 2008, Pharmacotherapy principles and Practices, 161-173,


McGraw Hills Companies, United State

Wirawan, R.B., 2009, Manajemen Nyeri Pasca Stroke, Makalah Simposium


Nasional Otak dan Jantung ke-10, 37-42, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang

Yus, 2009, Valsartan Obat Antihipertensi Turunkan Angka Kejadian


Kardiovaskular Pada Pasien Hipertensi, http://www. valsartan-obat-anti-
hipertensi-turunkan-angka-kejadian-kardiovaskular-pada-pasien-
hipertensi_2.pdf, diakses pada tanggal 20 Juni 2010
Lampiran 1.

PEDOMAN DIAGNOSA DAN TERAPI


GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK (STROKE)
(STANDAR PELAYANAN MEDIS 2009)
RSUD BANYUMAS

Nama Penyakit/ Diagnosa Gangguan peredaran darh otak (stroke)


1. Stroke hemoragik
2. Stroke non hemoragik
Kriteria Diagnosis 1. Stroke hemoragik
a. Anamnesis
1) Onset/awitan terjadi secara mendadak
2) Onset terjadi saat sedang aktif
3) Tidak ada peringatan/ warning terlebih dahulu
4) Kepala sangat nyeri
5) Ada kejang-kejang dan muntah
6) Kesadaran menurun sampai hilang
b. Klinis
1) Bradikardi sejak awal serangan
2) Sering terjadi edama papil
3) Kaku kuduk
4) Ditemukan tanda kernig, brudzinsky
2. Stroke non hemoragik
Anamnesis
a. Onset/ awitan terjadi secara mendadak
b. Onset terjadi saat istirahat
c. Terdapat peringatan/ warning berupa TIA
d. Kadang-kadang nyeri kepala
e. Tidak ada kejang-kejang dan muntah
Diagnosa Banding 1. Trauma
2. Infeksi otak/ selaput otak
3. Tumor otak
Pemeriksaan Penunjang Fungsi lumbal:
1. Bila memungkinkan CT-Scan otak, MRI
2. Laboratorium: darah aputus, rutin, trombosit,
hematokrit, agregasi platelet (bila memungkinkan
periksa kreatinin, asam urat, kolesterol total, HDL,
LDL), gula darah dan urine rutin.
3. EKG
Konsultasi 1. Spesialis Penyakit Dalam
2. Spesialis Bedah Saraf
3. Spesialis Rehabilitasi Medis
4. Spesialis Jantung
5. Psikiatri
6. Anasthesi
Perawatan RS Untuk penderita baru (<10 hari) dan penderita dengan
progrefisitas penyakit perlu rawat inap.
Kriteria:
1. GSC <9, dirawat di ruang perawatan intensif khusus

71
2. Bila GSC >9, dirawat di ruang perawatan biasa
Terapi/ tatalaksana 1. Stroke hemoragik (PIS & PSA)
a. Bed rest selama 2-3 minggu
b. Tekanan intrakranial (TIK) meningkat diberi manitol
0,25-0,5mg/kgBB/hari, tappering off
c. Asam traneksamat 6x1 gram (10-14 hari), khusus
perdarahan subarakhnoid (PSA)
d. Neuroprotektan:
- Sitikolin 2-3x 1000mg/hari
- Pirasetam 3-12 g/hari
2. Stroke non hemoragik
a. Neuroprotektan:
- Sitikolin 250-1000 mg/hari
- Pirasetam 3-12 g/hari
b. Antiplatelet:
- Aspirin 50-325 mg/hari
- Klopidogrel 1x1 tab (1x 75 mg)
- Cilostasol 2x 100 mg
- Aspirin + dipiridamol
- Aspirin + klopidogrel
3. Bila terdapat hipertensi
a. Sistolik (S) >230 mmHg; diastolik (D) 140 mmHg
- diltiazem injeksi: 5-40 mg/kgBB/hari
- penurunan tensi tidak melebihi 20-25%
b. S >230 mmHg; D= 105-120 mmHg
Ulangi tensi setelah 15 menit hasil tetap: diltiazem
injeksi
c. S= 180-220 mmHg; D= 105-120 mmHg
- Ada PIS atau gangguan target organ lainnya:
diltiazem injeksi
- Bila tidak ada: ulangi 1 jam, bila tensi tetap: oral
antihipertensi
d. S< 180 mmHg; D< 105 mmHg
Diberikan oral antihipertensi setelah hari ke 7-10 hari
bila keadaan tetap
4. Kenaikan gula darah
a. Baik pada SNH&SH bila gula darah >= 150 mg/dL
maka harus diturunkan
b. Bila diperlukan dapat diberikan insulin
c. Infus kontinyu dengan dimulai/ unit/ jam dan dapat
dinaikkan sampai 10unit/jam
d. Kadar gula dimonitor setiap 1-2 jam

Tabel pemberian insulin pada pasien stroke dengan


hipertensi
Kadar Glukosa Darah Insulin setiap 6 jam
(mg%) subkutan
80-150 Tidak diberikan insulin
150-200 2 unit
201-250 4 unit

72
251-300 6 unit
301-350 8 unit
351-400 10 unit
>400 12 unit

5. Pada kelompok risiko tinggi


Untuk emboli otak berulang
a. Fibrilasi natrium non valuler, katup jantung buatan,
trombus mural dalam ventrikel, infark miokard baru
b. Diberikan koagulan: low molecular weight heparin
(LMWH) dosis 2x 0,4cc subkutan 5-7
c. Monitoring trombosit hari ke-1 dan ke-3 (jika
<100.000 tidak diberikan)
6. Perdarahan subarakhnoid
a. Antivasospasme : nimodipin
b. Neuroprotektan
Penyulit 1. Perdarahan atau infark luas
2. Infark yang diikuti oleh pererdaran (infark
hemoragik)
3. Ada komplikasi penyakit lain (jantung, ginjal,
diabetes mellitus)
Inform Consent Diperlukan
Lama Perawatan Hemoragik: 3-4 minggu, tergantung keadaan
Masa Pemulihan ---
Output Tergantung komplikasi penyakit penderita
PA ---

73
LAMPIRAN 2

Data Pasien Unit Stroke


RSUD Banyumas Tahun 2010
(Januari-April)

74
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
1 No. RM : 52-24-37 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen. Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 44 th/Laki-laki sebelah kanan. Kejang-kejang Saraf otak no. VII normal
Tanggal kejadian serangan : 08/01/10 Nyeri Kepala bagian oksipital Pupil isokor Saraf otak no. XII normal
Tanggal masuk US : 14/01/10 sebelah kiri Refleks pupil + Disphasia
Masuk dari : Bangsal (11/01) Vertigo Refleks kornea +
Tanggal keluar US : 22/01/10 Muntah
Lama Inap : 9 hari Penurunan kesadaran

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Gelisa, tidak bias diajak komunikasi, 3 hari Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 186 LDL Kolesterol : 158,2
sebelum masuk rumah sakit mengeluh nyeri Jantung normal Hemoglobin: 16,6 Trigliserida: 140
kepala, pilek, 2 hari sebelumnya tidak bisa Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 16,66 Kreatinin: 1,51
komunikasi, tidak mau makan dan minum, Denyut Nadi ritme teratur dan Hmt: 47,9 Ureum: 32
gelisah. frekuensi penuh Eritrosit (dalam ribuan) t:6,05 SGPT: 24
EKG TD : 180/100 (11/01) Platelet : 231 SGOT: 26
Iskemik anterior lateral 180/100 (12/01) Kolesterol Total : 240 Na: 140
Diagnosis 200/120 (13/01) HDL Kolesterol : 53,8 Ka: 3,5
Stroke Perdarahan,

Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis


Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark
teratur. Jika diobati teratur tekanan menjadi Lokasi: lobus parientalis dan oksipitalis
normal. Bagian: kiri
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari Unit Stroke
Riwayat serangan jantung : tidak (US)
Riwayat lemah jantung : tidak Hari ke-1 = 190/120 Hari ke-7 = 160/100 Pindah ruangan dalam keadaan
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak Hari ke-2 = 160/100 Hari ke-8 = 160/100 membaik.
Merokok : tidak Hari ke-3 = 140/90;250/130 Hari ke-9 = 160/100
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak Hari ke-4 = 180/100
pernah Hari ke-5 = 180/100
Hari ke-6 = 180/110

75
No Pelaksanaan Pemberian Obat
1 Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Pemberian (hari) Keterangan
Pemberian Pemberian
Captropil Oral 25 mg 1x 14/01 1
Valsartan Oral 160 mg 1x 14-22/01 9 Jam 18
Asetosal Oral 80 mg 1x 14-22/01 9 Jam 18
Alprazolam Oral 0,5 mg 2x 14-22/01 9 Jam 10,22
Tetrasaozin Oral 35 mg 2x 15-22/01 8 Jam 10,22
Simvastatin Oral 10 mg 1x 15-22/01 8 Jam 22
HCT Oral 12,5mg 1x 18/01 1 Jam 06
25 mg 1x 19-22/01 4 Jam 06
Diltiasem Oral 100 mg 1x 19/01 1 Jam 18
Bisoprolol Oral 10 mg 1x 20-22/01 3 Jam 22
Pirasetam Oral 800 mg 3x 22/01 1
Sitikolin Oral 500 mg 2x 22/01 1 Jam 06,18
Meloksikam Oral 7,5 mg 2x 22/01 1
Nifedipin Oral 1x 22/01 1
Pirasetam Injeksi 3g 2x 14-21/01 8 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 14-20/01 7 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 14-17/01 4 Jam 10,22
OMZ Injeksi 1g 2x 14/01 1
Infuse Cipro Injeksi 200 mg 2x 18-21/01 4 Jam 10,22
Diltiasem Injeksi 3 mg 1x(p.r.n) 14/01 1 Jam 22

76
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Pemeriksaan Neurologis
Serangan
2 No. RM : 17-99-59 Lumpuh separoh anggota Tingkat kesadaran koma Gerakan
Usia/Jenis Kelamin : 60 th/Laki-laki badan, sebelah kanan Kaku kuduk bola mata
Tanggal kejadian serangan : Penurunan kesadaran Pupil isokor normal
08/02/10 Refleks pupil + Disafasia
Tanggal masuk US : 09/02/10 Refleks kornea +
Masuk dari : IGD
Tanggal keluar US : 11/02/10
Lama Inap : 3 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


15 jam sebelum masuk RS Paru-paru normal Hemoglobin:15,2
mengalami kelemahan anggota Jantung normal Hmt:44,8
gerak kanan dan kemudian tidak Abdomen normal Eritrosit (dalam ribuan)
dapat bicara. Demam. Denyut Nadi ritme teratur t:5,29
dan frekuensi penuh Platelet :293
Diagnosis Leukosit (dalam
Stroke Non Hemmorhagik ribuan)t:12,7
recurrent
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis Urinalisis
Riwayat Hipertensi :tidak tahu Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark cerebri
Merokok : iya Lokasi: lobus parientalis, atropi cerebri
Pernah mengalami stroke
sebelumnya : pernah, Agustus Tekanan Darah Keadaan
2009 keluar dari
US
Hari ke-1 = 150/100/180/100;140/100;160/100 Meninggal
Hari ke-2 = 120/70;180/80;150/100;140/100;150/100;140/90 tgl 11 jam
Hari ke-3 = 130/90/60/-;40/- 11.05

77
No. No. RM : 17-99-59
2 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Asetosal Oral 80 mg 1x 09-10/02 2 Jam 18
Klopidogrel Oral 75 mg 1x 09-10/02 2 Jam 14
Parasetamol Oral 500 3x 09-11/02 3 Jam
mg 06,14,22
Lansoprazole Oral 1 1x 09-10/02 2 Jam 22
tablet
Sistenol Oral 1 4x 10-11/02 2 Jam
tablet 06,12,18,24
ISDN Oral 5 mg 3x 10/02 1 Jam
06,14,.22
Pirasetam Injeksi 3g 2x 9-11/02 3 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 2x 9-11/02 3 Jam 10,22
mg
Seftriakson Injeksi 1g 2x 9-11/02 3 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 2x 9-11/02 3 Jam 10,22
ampul

78
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
3 No. RM : 52-38-28 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen. Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 65 th/Laki-laki sebelah kanan. Pupil isokor Saraf otak no. XII paresis,
Tanggal kejadian serangan :12/02/10 Nyeri kepala bagian temporal Refleks pupil + sebelah kiri
Tanggal masuk US : 17/02/10 sebelah kanan. Refleks kornea + Gangguan Sensorik –
Masuk dari : Bangsal Vertigo Buta - Dyslexia
Tanggal keluar US : 22/02/10 Muntah
Lama Inap : 6 Penurunan kesadaran
Berat Badan = 40 kg
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Kelemahan anggota badan sebelah kanan, Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 107 Trigliserida: 109
nyeri kepala, dan pasien merasa gelisah. Jantung normal Hemoglobin: 13,2 Kreatinin: 0,85
Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 5,28 Ureum: 14
Denyut Nadi ritme teratur dan Hmt:39,3 Asam urat: 3,1
frekuensi penuh Eritrosit (dalam ribuan) t:4,31 SGPT: 27
Diagnosis Platelet : 99 SGOT: 20
Stroke iskemik Kolesterol Total : 163 Na: 131
Ka: 3,6
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati teratur. Jika Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark
diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus parientalis
Riwayat TIA : ya Bagian: kiri
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak tahu Hari ke-1 = Hari ke-6 = Pulang atas permintaan sendiri,
Riwayat lemah jantung : tidak tahu 240/140;170/100;180/100 190/120;140/100;150/100 kondisi membaik.
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak Hari ke-2 = 140/90; 210/110;190/20 Obat injeksi diganti oral untuk
Merokok : iya, 10 batang/hari. Sudah berhenti Hari ke-3 = 190/120; 120/80 dibawa pulang.
sejak 6 bulan yang lalui Hari ke-4 =
Pernah mengalami stroke sebelumnya : pernah 110/90;150/80;140/90;130/80
Hari ke-5 = 130/80;160/100;150/90

79
No. No. RM : 52-21-31
3 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartran Oral 80 mg 1x 17-22/02 6 Jam 22
Asetosal Oral 80 mg 1x 18-22/02 6 Jam 14
Kaptropil Oral 25 mg 2x 17-22/02 6 Jam 06 dan 18
Amlodipin Oral 10 mg 1x 17-22/02 6 Jam 20
Alprazolam Oral 0,5 mg 1x 18-22/02 5 Jam 22
Simvastatin Oral 10 mg 1x 19-22/02 4 Jam 22
Diltiasem CD Oral 100 mg 1x 21-22/02 2 Jam 14
Diltiasem Injeksi 3 2,4 ml/jam 17,18,20/02 3 Tgl 17 jam 13.30, tgl 18
mcg/kgBB/menit jam 10, tgl 20 jam 16
5 4 ml/jam 19/02 1 Tgl 19 jam 9.30
mcg/kgBB/menit
Piracetam Injeksi 3g 2x 17-22/02 6 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 1 ampul (250 mg) 2x 17-22/02 6 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 17-22/02 6 Jam 10,22

80
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
4 No. RM : 27-63-94 Lumpuh separuh anggota badan Tingkat kesadaran somnolen Gerakan bola mata
Usia/Jenis Kelamin : 67/Laki-laki sebelah kanan. Pupl isokor normal
Tanggal kejadian serangan : 29/03/10 Penurunan kesadaran Refleks pupil + Saraf otak no. VII
Tanggal masuk US : 30/03/10 Refleks kornea + normal
Masuk dari : IGD
Tanggal keluar US : 05/04/10
Lama Inap : 7 hari
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Perubahan tingkah laku, 3 hari Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 168 Trigliserida: 84/100*
sebelumnya kalau diajak bicara kadang Jantung normal Hemoglobin: 12,6 Kreatinin: 1,26
nyambung kadang tidak, tampak seperti Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 10,35 Ureum: 32
orang bingung, ngompol pada malam Hmt: 38 SGPT: 18
hari. Eritrosit (dalam ribuan) : 5,93 SGOT: 22
EKG Platelet : 288 Na: 139
normal Kolesterol Total :206/283* Ka: 3,7
Diagnosis HDL Kolesterol : 42,7/47,7*
Stroke Iskemik LDL Kolesterol: 236/215,3*
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis CATATAN:
Riwayat Hipertensi : ada, tidak diobati Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark * = 3 jam pp
Riwayat TIA : tidak
Riwayat DM : tidak
Riwayat serangan jantung : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari
Riwayat lemah jantung : tidak US
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak Hari ke-1 = 210/150;150/90;180/110 Hari ke-5 = Meninggal tgl 05/04
Merokok : ya, 10batang/hari 130/70;170/70;160/80;150/90 k.08.00
Pernah mengalami stroke sebelumnya :
Hari ke-2 = 170/100;180/120;180/100 Hari ke-6 =
tidak pernah
120/60;190/100;120/70;100/60
Hari ke-3= Hari ke-7 = -
150/100;180/110;190/110;180/100
Hari ke-4 = 180/90;140/90;150/90

81
No. RM : 27-63-94
No
4 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartan Oral 160 mg 1x 30/03-4/04 6 Jam 22
Amlodipin Oral 5 mg 1x 30/03 1
Asetosal Oral 80 mg 1x 31/03-04/04 5 Jam 14
Alprasolam Oral 0,5 mg 1x 31/03-04/04 5 Jam 22
ISDN Oral 5 mg 3x 01-04/04 4 Jam 06,14,22
Allopurinol Oral 100mg 1x 01-04/04 4 Jam 18
Parasetamol Oral 500 mg 3x 02-04/04 3 Jam 18, suhu badan
39,9°C
Gemfibrozil Oral 300 mg 1x 02-04/04 3 Jam 18, Trigliserid
tinggi, kolesterol total
tinggi
Amlodipin Oral 10 mg 1x 31/03-04/04 5 Jam 10
Class (kleboprida maleat) Oral 1 tab 2x 03-04/04 2 Jam 06,18
Pirasetam Injeksi 1g 3x 30/03-4/04 6 Jam 06,14,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 30/03-4/04 6 Jam 9,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 30/03-4/04 6 Jam 9,22
Nikardipin Injeksi 0,5mg/kgBB/me 30/03-4/04 6
nit
Haloperidol Injeksi 1 ampul 1x 30/03 1 Jam 22

82
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
5 No. RM : 52-25-63 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen. Gerakan bola mata
Usia/Jenis Kelamin : 58 th/Laki-laki sebelah kanan. Pupil isokor normal
Tanggal kejadian serangan : 14/01/10 Nyeri Kepala bagian parietal sebelah Refleks pupil + Saraf otak no. VII normal
Tanggal masuk US : 16/01/10 kanan Refleks kornea + Saraf otak no. XII normal
Masuk dari : Bangsal Vertigo
Tanggal keluar US : 24/01/10 Muntah
Lama Inap : 9 hari Penurunan kesadaran

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Penurunan kesadaran + 3 jam sebelum masuk Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 129 LDL Kolesterol : 142,8
rumah sakit, pasien mendadak tidak sadar. Jantung normal Hemoglobin: 15,3 Trigliserida: 73
Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: Kreatinin: 1,75
EKG Denyut Nadi ritme teratur dan Eritrosit (dalam ribuan) t: Ureum: 36
Iskemik frekuensi penuh Platelet : 143 Na: 143
Diagnosis TD 15/01: 190/100 Kolesterol Total : 227 Ka: 2,9
Stroke Perdarahan SUBARAKHNOID HDL Kolesterol : 69,6

Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis


Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
teratur. Jika diobati teratur tekanan menjadi Lokasi: lobus parientalis
normal. Bagian: kiri
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak Hari ke-1 = 190/130 Hari ke-7 = 130/80 Pindah ruangan dalam
Riwayat lemah jantung : tidak Hari ke-2 = 200/120 Hari ke-8 = 130/80 keadaan membaik.
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu Hari ke-3 = 180/100;220/130 Hari ke-9 = 190/100
Merokok : ya, 6 batang/hari Hari ke-4 = 190/120
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak Hari ke-5 = 160/100;160/110
pernah Hari ke-6 = 140/90

83
No. No. RM : 52-25-63
5 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Amlodipin Oral 10 mg 1x 16-24/01 9 Jam 22 (16-21), 18 (22-24)
Valsartan Oral 160 mg 1x 16-24/01 9 Jam 22
Aspar K Oral 300 mg 2x 17-20/01 4 Jam 06,18
1X 23-24/01 2 Jam 14
Simvastatin Oral 10 mg 1x 19-24/01 6 Jam 22
Lisinopril Oral 10 mg 1x 20-24/01 5 Jam 14
Piracetam Oral 800 mg 3x 24/01 1
Piracetam Injeksi 3g 2x 16,17,20-24/01 7 Jam 10,22
Injeksi 1g 3x 18-19/01 2 Jam 06,14,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 16-23/01 8 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 19-23/01 5 Jam 10,22
(50mg/2ml)
Seftriaksone Injeksi 1g 2x 16-20/01 5 Jam 10,22
Furosemid Injeksi 1 ampul 2x 18-20/01 3 Jam 10,22
(20 mg/2 ml)
As. traneksamat Injeksi 1 ampul 2x 16-17/01 2 Jam 10,22
(250mg/5ml)
Vit. K Injeksi 1 ampul (10 2x 16-17/01 2 Jam 10,22
mg)

84
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
6 No. RM : 53-20-65 Nyeri kepala bagian frontal sebelah Tingkat kesadaran CM Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 55 th/Laki-laki kanan Pupl isokor Saraf otak no. VII normal
Tanggal kejadian serangan : 04/01/10 Refleks pupil +
Tanggal masuk US : 08/01/10 Refleks kornea +
Masuk dari : IGD
Tanggal keluar US : 21/01/10
Lama Inap : 14 hari
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Perubahan tingkah laku, 3 hari Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 75 Trigliserida: 84/100*
sebelumnya kalau diajak bicara kadang Jantung normal Hemoglobin: 16,6 Kreatinin: 1,26
nyambung kadang tidak, tampak seperti Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 10,35 Ureum: 32
orang bingung, ngompol pada malam Hmt: 49,1 SGPT: 18
hari. Eritrosit (dalam ribuan) : 5,93 SGOT: 22
EKG Platelet : 288 Na: 139
normal Kolesterol Total :206/283* Ka: 3,7
Diagnosis HDL Kolesterol : 42,7/47,7*
Stroke Perdarahan INTRASEREBRAL LDL Kolesterol: 236/215,3*
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis CATATAN:
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark dan perdarahan * = 3 jam pp
tidak teratur.Jika teratur TD menjadi Lokasi: talamus
normal Bagian: kiri
Riwayat TIA : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat DM : tidak Hari ke-1 = 220/150 Hari ke-8 = 170/110;140/110 Pindah ruangan dalam
Riwayat serangan jantung : tidak keadaan membaik.
Hari ke-2 = 180/120 Hari ke-9 =150/100;170/160
Riwayat lemah jantung : tidak
Hari ke-3= 150/100 Hari ke-10 =110/80
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak
Hari ke-4 = 166/110 Hari ke-11 =140/90;170/140
Merokok : tidak
Pernah mengalami stroke sebelumnya : Hari ke-5 = 160/100 Hari ke-12 =150/100
tidak pernah Hari ke-6 = 180/140;190/120 Hari ke-13 =140/100; 150/100
Hari ke-7 = 180/120 Hari ke-14 =160/100

85
No. No. RM : 52-56-54
6 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartam Oral 160 mg 1x 08-20/01 13 Jam 22
Nifedipin Oral 1x 08-10/01 3 Tgl 08 jam 18; jam 06
KSR Oral 1 tab 1x 08-20/01 13 Jam 14
Simvastatin Oral 20 mg 1x 11-20/01 10 Jam 22
Herbesser Oral 100 mg 1x 12-20/01 9 Jam 18
HCT Oral 25 mg 1x 13-20/01 8 Jam 06
Bisoprolol Oral 10 mg 1x 14-21/01 8 Jam 14
Alprazolam Oral 0,5 mg 2x 17-20/01 4 Jam 10,22
Pirasetam Oral 800 mg 2x 19-21/01 3 Jam 06,19
Sitikolin Oral 500 mg 2x 19-21/01 3 Jam 06,19
Pirasetam Injeksi 3g 2x 08-18/01 11 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 08-18/01 8 Jam 10,22
Furosemid Injeksi 1 ampul 1x 08-11/01 4 Jam 06
Ceftriaxon Injeksi 1g 2x 12-13/01 2 Jam 10,22
Mannitol Injeksi 125 cc Rapp off 08-10/01 3 Jam 06,12,18,24

86
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
7 No. RM : 52-38-09 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 60th/Perempuan sebelah kanan. Pupil isokor Saraf otak no. VII normal
Tanggal kejadian serangan : 16/02/10 Nyeri kepala Refleks pupil + Saraf otak no. XII normal
Tanggal masuk US : 16/02/01 Penurunan kesadaran Refleks kornea + Disaphasia
Masuk dari : IGD Disphagia
Tanggal keluar US : 03/03/10
Lama Inap : 16 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Mengalami kelemahan anggota tubuh bagian Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 143 HDL kolesterol: 66,4LDL
kanan dan tingkat kesadaran menurun Abdomen normal Hemoglobin: 13,3 kolesterol: 128,8
Denyut Nadi ritme teratur dan Leukosit (dalam ribuan) t: 13,2 Trigliserida: 54
frekuensi penuh Hmt:40,9 Kreatinin: 0,85
TD : 180/110 Eritrosit (dalam ribuan) t:4,70 Ureum: 19
Diagnosis Platelet : 26 Na: 145
Stroke Perdarahan intraserebral Kolesterol Total : 206 Ka: 2,6
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis URINALISIS
Riwayat Hipertensi : ada, diobati teratur, tetapi Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan Warna: kuning muda
tidak tahu TD menjadi baik atau tidak Lokasi : lobus temporal dan parientalis Ph: 5,0 BJ:1,010
Riwayat TIA : tidak Sebelah : kiri Al: 5-6 Eritrosit: 1-3
Riwayat DM : tidak tahu Bakteri: Candida
Riwayat serangan jantung : tidak tahu Kristal : Ca oksalat
Riwayat lemah jantung : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu Hari ke-1 = 160/100 Hari ke-9 = 150/100 Membaik dan dizinkan pulang.
Merokok : tidak Hari ke-2 = 170/100 Hari ke-10 = 150/90
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak Hari ke-3 = 180/100;180/90 Hari ke-11 = 130/90
pernah Hari ke-4 = 180/90;170/110 Hari ke-12= 130/70
Hari ke-5 = 170/100 Hari ke-13= 100/80
Hari ke-6 = 140/90 Hari ke-14= 120/80
Hari ke-7 = 150/90 Hari ke-15= 110/80
Hari ke-8 = 140/90 Hari ke-16= 130/90; 120/90

87
No. No. RM : 52-38-09
7 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartam Oral 80 mg 1x 17/02-03/03 15 Jam 12
Simvastatin Oral 10 mg 1x 19/02-02/03 12 Jam 22
KSR Oral 600 mg 1x 20/02-03/03 12 Jam 14
Pirasetam Oral 800 mg 3x 25/02-03/03 7 Jam 06,14,22
Sitikolin Oral 250 mg 2x 25/02-03/03 7 Jam 06,18
Ranitidin Oral 150 mg 2x 25/02-03/03 7 Jam 06,18
Metronidazole Oral 500 mg 3x 01-03/03 3 Jam 06,14,22
Asam mefenamat Oral 500 mg 3x 01-03/03 3 Jam 06,14,22
Pirasetam Injeksi 3g 2x 16-24/02 9 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 16-24/02 9 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 16-24/02 9 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 16-24/02 9 Jam 10,22
Bromheksin Injeksi 1 ampul 3x 19-21/02 3 Jam 06,14,22; kecuali tgl
19 2x jam 14 dan 22
Manitol Injeksi 250 cc 16-17/02 2 Tgl 16 jam 23;tgl 17 jam
05,11,17

88
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
8 No. RM : 52-21-31 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen. Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 45 th/Laki-laki sebelah kanan. Kejang-kejang Saraf otak no. VII paresis
Tanggal kejadian serangan : 03/01/10 Nyeri kepala bagian oksipital Kaku kuduk Saraf otak no. XII normal
Tanggal masuk US : 04/01/10 sebelah kanan. Pupil isokor Aphasia -
Masuk dari : IGD Vertigo Refleks pupil + Gangguan Sensorik -
Tanggal keluar US : 13/01/10 Muntah Refleks kornea +
Lama Inap : 10 hari Penurunan kesadaran Buta -

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Kelemahan anggota gerak bagian kanan, 6 jam Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 172 LDL Kolesterol: 71,6
sebelum masuk RS tiba-tiba mengeluh Jantung normal Hemoglobin: 12,6 Trigliserida: 67
kelemahan anggota bagian kanan, bicara pelo. Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 19,0 Kreatinin: 1,75
EKG Denyut Nadi ritme teratur dan Hmt:39,1 Ureum: 32
Iskemik anterior frekuensi penuh Eritrosit (dalam ribuan) t:4,40 SGPT: 18
Diagnosis TD : 180/110 Platelet : 322 SGOT: 26
Stroke Perdarahan intraserebral Kolesterol Total : Na: 140
HDL Kolesterol : 54,0 Ka: 4,1
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
teratur. Jika diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus parientalis
Riwayat TIA : tidak Bagian: kiri
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak Hari ke-1 = 170/100; 180/110 Hari ke-6 = 160/100 Pindah ruangan dalam keadaan
Riwayat lemah jantung : tidak Hari ke-2 = 130/90; 130/90 Hari ke-7 = 150/90 membaik.
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu Hari ke-3 = 180/120; 140/90 Hari ke-8 = 180/110; 150/100
Merokok : iya, 7 batang/hari Hari ke-4 = 150/100 Hari ke-9 = 180/120; 140/90;
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak 150/100; 140/90
pernah Hari ke-5 = 150/100 Hari ke-10 = 150/100;

89
No. No. RM : 52-21-31
8 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
ISDN Oral 5 mg 3x 04-13/01 10 Jam 6,14,22
Valsartan Oral 80 mg 1x 04,06-13/01 9 Malam hari, kecuali tgl 13
pk.18.00 (dosis 160mg)
KSR Oral 600 mg 2x 10-11/01 2 Jam 10,22
Amlodipin Oral 5 mg 1x 12-13/01 2 Jam 22
Pirasetam Injeksi 3g 2x 04,06-14/01 9 Jam 10,22
Pirasetam Injeksi 1g 3x 5/01 1
Sitikolin Injeksi 1 ampul 2x 05-13/01 9 Jam 10,22
(250 mg)
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 06-13/01 8 Jam 10,22
Ceftriazon Injeksi 1g 2x 04-09/01 6 Jam 10,22 (tgl 4 dan 9
hanya 1x pemberian)
Furosemid Injeksi 1 ampul 1x 04-09/01 6 Pk.06.00 kecuali Tgl 04
pk.18.00
Inf.Ciprofloxacin Injeksi 200 2x 10-13/01 4 Jma 10, 22
Mannitol Infuse 125 cc p.r.n 06-10/01 5 Tgl 06 3x, tgl 07-08 2x dan
tgl 09-10 1x.
Tgl 09 Creatinin 0,94 dan
Ureum 11

90
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
9 No. RM : 50-84-55 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran stupor
Usia/Jenis Kelamin : 80 th/Perempuan sebelah kanan. Kejang-kejang
Tanggal kejadian serangan : 26/01/10 Vertigo Kaku kuduk
Tanggal masuk US : 26/01/10 Muntah
Masuk dari : IGD Penurunan kesadaran
Tanggal keluar US : 27/01/10
Lama Inap : 2 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Penurunan kesadaran, kejang,+20 jam sebelum Jantung takikardia Kadar gula darah sewaktu: 237 LDL Kolesterol: 112,2
masuk RS mendadak pingsan dan kejang- Abdomen normal Hemoglobin: 15,6 Trigliserida: 78
kejang (berkali-kali dan lama). Denyut Nadi ritme cepat Leukosit (dalam ribuan) t: 16,4 Kreatinin: 1,16
Lemas. Temperatur: 40.1° Hmt:45,9 Ureum: 32
EKG Eritrosit (dalam ribuan) t: Asam urat : 6,8
Iskemik anterior Platelet : 523 SGPT: 19
Diagnosis Kolesterol Total : 179 SGOT: 18
Stroke Hemoragik Intraserebral HDL Kolesterol : 51,2 Na: 144
Ka: 3,8
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
teratur. Jika diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus parientalis dan temporal
Riwayat TIA : ya
Riwayat DM : ya Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak Hari ke-1 = 150/100 Meninggal, tgl 27/01 jam 17.30
Riwayat lemah jantung : tidak Hari ke-2 = 150/100, meninggal
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu
Merokok : tidak
Pernah mengalami stroke sebelumnya :
pernah, 4 bulan yang lalu.

91
No. Pelaksanaan Pemberian Obat
9 Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Pirasetam Injeksi 3g 2x 26-27/01 2 Tgl 26 jam 18 dan tgl 27
jam 06
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 26-27/01 2 Tgl 26 jam 18 dan tgl 27
jam 06
Seftriakson Injeksi 1g 2x 26-27/01 2 Tgl 26 jam 18 dan tgl 27
jam 06
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 26-27/01 2 Tgl 26 jam 18 dan tgl 27
jam 06
Phenitoin Injeksi 1 ampul 1x 27/01 1 Jam 12
Furosemid Injeksi 1ampul 1x 27/01 1 Jam 10
Mannitol Injeksi 125 cc 26-27/01 2 Tgl 26 jam 23 dan tgl 27
jam 05,11

92
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
10 No. RM : 27-71-02 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen. Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 63 th/Perempuan sebelah kanan. Kejang-kejang Saraf otak no. VII normal
Tanggal kejadian serangan : 07/01/10 Penurunan kesadaran Pupil isokor Aphasia +
Tanggal masuk US : 09/01/10 Refleks pupil + Disarthria +
Masuk dari : Bangsal Refleks kornea + Disphagia +
Tanggal keluar US : 20/01/10 Buta +
Lama Inap : 12 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Penurunan kesadaran + 3 hari disertai Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 210 LDL Kolesterol :
kelemahan anggota gerak bagian kanan Jantung normal Hemoglobin: 15,1 222,7/2444,4*
Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 8,46 Trigliserida: 65/85*
EKG Denyut Nadi ritme teratur dan Hmt: 44,8 Kreatinin: 1,44
Iskemik inferior frekuensi penuh Eritrosit (dalam ribuan) t:4,99 Ureum: 66
Diagnosis TD : 180/110 Platelet : 168 Asam urat ; 4,4
Stroke Perdarahan intraserebral PT : 28 SGPT: 47
Kolesterol Total : 313/301* SGOT: 28
HDL Kolesterol : 77,3/39,6* Na: 142
Ka: 3,9
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis CATATAN:
Riwayat Hipertensi : tidak ada Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark * = 3 jam pp
Riwayat DM : tidak Lokasi: lobus parientalis
Riwayat serangan jantung : ya Bagian: kiri
Riwayat lemah jantung : ya Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu Hari ke-1 = 130/90 Hari ke-7 = 150/90 Pindah ruangan dalam
Merokok : tidak Hari ke-2 = 130/90 Hari ke-8 = 150/100 keadaan membaik.
Pernah mengalami stroke sebelumnya : tidak Hari ke-3 = 150/90 Hari ke-9 = 170/90
pernah Hari ke-4 = 140/90 Hari ke-10 = 140/90;
Hari ke-5 = 150/100 Hari ke-11 = 140/90
Hari ke-6 = 140/90 Hari ke-12 =130/100

93
No.
10 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
ISDN Oral 5 mg 3x 09-14/01 6 Jam 06,14,22
Digoksin Oral 0,25 mg 1x 09-20/01 12 Jam 06
Simvastatin Oral 20 mg 1x 10-19/01 11 Jam 22
Lisinopril Oral 5 mg 1x 16-20/01 5 Jam 22
ISDN Oral 5 mg 3x 15-20/01 6 Jam 06,14,22
KSR Oral 600 mg 2x 18-20/01 3 Jam 10,22
Piracetam Injeksi 3g 2x 09-20/01 12 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 09-20/01 12 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 11-20/01 10 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 13-17/01 5 Jam 10,22
1g 1x 18-20/01 3 Jam 10
Infus. Cipro Infus 200 mg 2x 18-20/01 3 Jam 10,22

94
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
11 No. RM : 52-34-08 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran somnolen Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 70 th/Laki-laki sebelah kiri. Pupil isokor
Tanggal kejadian serangan : Penurunan kesadaran Refleks pupil +
06/02/10 Muntah Refleks kornea +
Tanggal masuk US : 08/02/10
Masuk dari : Bangsal
Tanggal keluar US :15/02 /10
Lama Inap : 8 hari
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Pasien datang dengan keluhan Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 157 LDL Kolesterol: 156,9
pusing, muntah, kaki dan tangan Jantung normal Hemoglobin: 14,5 Trigliserida: 176
kiri lemah, mulut menceng ke Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan)t:18.63 Kreatinin: 1,32
kanan. TD: 180/90 Hmt: 43,6 Ureum: 25
EKG Eritrosit (dalam ribuan) t:5,12 SGPT: 23
Normal Platelet : 267 SGOT: 25
Diagnosis Kolesterol Total : 248 Na: 141
Stroke Perdarahan intraserebral HDL Kolesterol : 55,9 Ka: 2,9
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis Urinalisis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan pH : 7.0 BJ :1.010
tapi tidak teratur. Jika diobati TD Lokasi: lobus parientalis dan intravarikuler Lekosit : 2-4 Keton +
menjadi normal. Bagian: kanan/dextra Darah +2 Eritrosit 8-12
Merokok : iya Epitel 0-2 Protein +
Pernah mengalami stroke Kristal amorph +++
sebelumnya : tidak pernah Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Hari ke-1= 200/100;190/100;160/90 Hari ke-5 =180/110;170/90 Meninggal 15/02/10 jam 9
Hari ke-2= Hari ke-6 =
200/100;190/110;170/100;190/100 130/80;140/80;150/90;140/80
Hari ke-3 = Hari ke-7 =
220/100;190/110;180/100;200/110 150/100;140/90;130/80;90/60
Hari ke-4 = Hari ke-8 = 110/70
220/110;140/120;170/120;130/80

95
No. No. RM : 52-56-62
11 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartran Oral 80 mg 1x 08 1 Jam 22
160 mg 1x 09-14 6 Jam 22
KSR Oral 600 mg 3x 08-13 6 Jam 06,14,22
600 mg 2x 14 1 Jam 06,18
Trizedon Oral 35 mg 2x 09-14 6 Jam 06,18
Simvastatin Oral 10 mg 1x 09-14 6 Jam 22
Amlodipin Oral 5 mg 1x 10 1 Jam 14
10 mg 1x 11-14 4 Jam 14
Sistenol Oral 1 tab 4x 11-14 4 Jam 06,12,18,24
Lisinopril Oral 5 mg 1x 11 1 Jam18
10 mg 1x 12-14 3 Jam 18
Pirasetam Injeksi 3g 2x 08-14 7 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 08-14 7 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 08-11 4 Jam 10,22
OMZ Injeksi 1A 2x 08-13 6 Jam 10,22
Manitol Injeksi 125 cc 3x;2x;1x 08;9;10 3 Jam 04,12,20; jam 04,16;
jam 04
Bromheksin Injeksi 1 ampul 3x 10-14 5 Jam 06,14,22
Infus Ciprofloxacin Injeksi 200 mg 2x 12-14 3 Jam 10,22
Furosemid Injeksi 1A 1x 12-13 2 Jam 10
1A 2x 14 1 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1A 2x 14 1 Jam 10,22
Actrapid Injeksi 4 ui 3x 13-14 2 Jam 6.30,11.30,17.30 (a.c
periksa GDS)Tgl 13 GDS
245,Tgl 14 GDS
350,267,284
Hasil Lab tgl 10
Ureum =41,Creatinin=1,11,Au 2,9, Na 136, Cl 95, Al 19,94, Hb 13,2, HMT 39,8 PLT 235
Pada tgl 11 jam 3 pagi pasien mengalami stupor dan jam 15 koma.
Tgl 13 jam 12 supor.

96
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
12 No. RM : 52-56-54 Muntah Tingkat kesadaran koma. Disphasia
Usia/Jenis Kelamin : 40 th/Perempuan Penurunan kesadaran Kejang-kejang Diasarthria
Tanggal kejadian serangan : 01/04/10 Disphagia
Tanggal masuk US : 01/04/10
Masuk dari : IGD
Tanggal keluar US : 12/04/10
Lama Inap : 12 hari
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Kehilangan kesadaran, koma. Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 172 Trigliserida: 82
Jantung takikhardia Hemoglobin: 17 Kreatinin: 1,71
EKG Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan) t: 23,48 Ureum: 31
Iskemik anterior Hmt:52,4 Asam urat : 5,1
Diagnosis Platelet : 713 SGPT: 74
Stroke infark Kolesterol Total :237 SGOT: 137
HDL Kolesterol : 66,6 Na: 145
LDL Kolesterol: 154 Ka: 3,8
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis Urinalisis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati teratur. Pemeriksaan CT-Scan kepala: infark Protein + Epitel +
Jika diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus parientalis, temporal, oksipitalis Darah +3 Leukosit 2-4
Riwayat TIA : tidak Bagian: kiri dan kanan Eritrosit banyak
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak Hari ke-1 = 120/70;130/70;140/80 Hari ke-7 = 150/100;160/90;120/80 Pindah ruangan dalam
Riwayat lemah jantung : tidak
Hari ke-2 = 130/90;140/90;160/100; Hari ke-8 = 130/80;110/80;150/110 keadaan membaik.
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu
Hari ke-3= 170/160;150/100;100/70;120/80 Hari ke-9 =150/90;130/90
Merokok : tidak
Hari ke-4 = 110/80;140/90;100/80;150/80 Hari ke-10 =120/70;120/90 Pasien mengalami koma
Pernah mengalami stroke sebelumnya :
sampai tgl 06/04
pernah, Oktober 2009 Hari ke-5 = Hari ke-11 =140/90;120/80;130/80
160/100;120/80;130/90;100/70;120/80
Hari ke-6 = 140/90;160/100;150/90;140/100 Hari ke-12 =140/110

97
No. No. RM : 52-56-54
12 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Parasetamol Oral 500 mg 4x 01-09/04 9 Jam 06,12,18,24
Oral 500 mg p.r.n 10/04 1
Simvastatin Oral 10 mg 1x 03-12/04 10 Jam 22
Cilostasol Oral 50 mg 2x 03-12/04 10 Jam 10,22
Amlodipin Oral 5 mg 1x 03-08/04 6 Jam 06
Oral 10 mg 1x 09-12/04 4 Jam 06
Valsartan Oral 80 mg 1x 03-12/04 10 Jam 22
Aspar K Oral 300 mg 2x 07-09/04 3 Jam 10,22
Oral 300 mg 3x 10-12/04 3 Jam 06,14,22
Phenitoin caps Oral 100 mg 2x 10-12/04 3 Jam 06,18
Furosemid Oral 40 mg 1x 10-12/04 3 Jam 06
Pirasetam Injeksi 1g 3x 01-08/04 8 Jam 06,14,22
Injeksi 3g 2x 09-12/04 4 Jam 06,18
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 01-12/04 12 Jam 06,18
Seftriakson Injeksi 1g 2x 01-09/04 9 Jam 06,18
Radnitidin Injeksi 1 ampul 2x 01-08/04 8 Jam 06,18
Phenitoin Injeksi drip 03-09/04 7
Bromheksin Injeksi 1 ampul 3x 03-12/04 7
Gentamisin Injeksi 80 mg 1x 06-10/04 5 Jam 14
Cipro inf injeksi 200 mg 2x 09-12/04 4 Jam 06,18

98
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
13 No. RM : 52-53-92 Nyeri kepala bagian oksipital Tingkat kesadaran CM. Gerakan bola mata normal
Usia/Jenis Kelamin : 60th/Perempuan Vertigo Kaku kuduk Saraf otak no. VII normal
Tanggal kejadian serangan : 25/03/10 Pupil isokor Saraf otak no. XII normal
Tanggal masuk US : 26/03/10 Refleks pupil +
Masuk dari : IGD Refleks kornea +
Tanggal keluar US : 08/04/10
Lama Inap : 14 hari
Berat badan : 45 kg
Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium
Pasien mengalami nyeri kepala dan kaku Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 168 Trigliserida: 119
kuduk. Abdomen normal Hemoglobin: 13,0 Kreatinin: 1,08
TD : 180/110 Leukosit (dalam ribuan) t: 19,43 Ureum: 23
EKG Hmt:39,7 SGOT :31
Bradikardia Eritrosit (dalam ribuan) t:4,82 SGPT :21
Diagnosis Platelet : 241 Na: 131
Stroke Perdarahan Subaraknoid Kolesterol Total : 328 Ka: 2,7
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis
Riwayat Hipertensi : tidak ada Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
Riwayat TIA : tidak
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Riwayat serangan jantung : tidak Hari ke-1=140/70;120/70;130/80 Hari ke-8=140/80;170/100;140/90 Membaik, dan pindah
Riwayat lemah jantung : tidak tahu Hari ke-2= Hari ke- ruangan.
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu 170/120;150/90;130/80;120/90 9=170/100;150/100;160/90;170/90
Merokok : tidak Hari ke-3= 160/100;150/90 Hari ke-10=130/70;170/20;160/100
Pernah mengalami stroke sebelumnya : Hari ke-4= Hari ke-11=
tidak pernah 180/130;170/90;150/90;180/100 140/80;160/90;150/100;170/100
Hari ke-5= Hari ke-12=140/80;150/90
130/80;180/100;130/70;170/90
Hari ke-6=150/80;170/100;130/80 Hari ke-13=160/90;180/80;170/80
Hari ke-7=160/90;180/100 Hari ke-14=140/80;160/90

99
No. No. RM : 52-53-92
13 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
KSR Oral 600 mg 3x 26-28/03 3 Jam 06,14,22
Simvastatin Oral 10 mg 1x 26/03-08/04 14 Jam 22
Aspar K Oral 300 mg 3x 29/03-06/04 9 Jam 06,14,22
300 mg 1x 07-08/04 2 Jam 06
ISDN Oral 5 mg 2x 27/03-08/04 13 Jam 06,18
Valsartan Oral 80 mg 1x 29/03-02/04 5 Jam 18
160 mg 1x 03-08/04 6 Jam 18
Pirasetam Oral 800 mg 3x 06-08/04 3 Jam 06,14,22
Sitikolin Oral 250 mg 2x 06-08/04 3 Jam 06,18
HCT Oral 12,5 mg 1x 06-08/04 3 Jam 06
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 26/03-05/04 11 Jam 10,22
Pirasetam Injeksi 3g 2x 26/03-05/04 11 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 26-30/03 5 Jam 10,22
Asam traneksamat Injeksi 1 ampul 3x 26/03-06/04 12 Jam 06,14,22
Ketorolak Injeksi 30% 3x 26/03-06/04 12 Jam 06,14,22
SA Injeksi 1 ampul 1x 27/03-30/03 4 Jam 10
1 ampul 2x 31/03 1 Jam 06,18,22
Nimodipin Injeksi 1 mg/kgBB 5cc/jam 26-29/03 dan 5 Tgl 26 dimulai jam 11.20
04/04
10 cc/jam 30/03-03/04 5
Manitol Injeksi 125 cc 2x;3x;1x 26/03;27/03;28- 4 Jam 03,11; jam
29/03 09,11,23;jam 11
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 28/03-02/04 6 Jam 10,22

100
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
14 No. RM : 52-56-62 Lumpuh separoh anggota Tingkat kesadaran CM Gerakan bola mata
Usia/Jenis Kelamin : 81 th/Laki-laki badan, sebelah kiri. Kaku kuduk normal
Tanggal kejadian serangan : 31/03/10 Penurunan kesadaran Pupil isokor
Tanggal masuk US : 01/04/10 Refleks pupil +
Masuk dari : IGD Refleks kornea +
Tanggal keluar US : /10
Lama Inap : 17 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Penurunan keasadaran disertai kelemahan Paru-paru normal GDS : 127 LDL Kolesterol: 136,6
anggota gerak kiri. Keadaan bisa pulih Jantung normal Hemoglobin: 14,2 Trigliserida: 89
kembali pada siang hari dan sorenya Abdomen normal Hmt: 40,8 Kreatinin: 1,05
kambuh lagi. Denyut Nadi ritme teratur dan Eritrosit (dalam ribuan) t:4,40 Ureum: 59
EKG frekuensi penuh Platelet : 251 SGPT: 18
Normal Kolesterol Total : 213 SGOT: 36
Diagnosis HDL Kolesterol : 58,6 Na: 128
Stroke Perdarahan INTRASEREBRAL Ka: 3,7
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis Urinalisis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati tapi tidak Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan pH : 8,5 BJ :10.10
teratur. Jika diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus parientalis Lekosit : 4-5 Keton +
Merokok : iya Bagian: kanan Darah + Eritrosit 7-
Pernah mengalami stroke sebelumnya : 12
tidak pernah Epitel 3-4
Tekanan Darah Keadaan keluar dari US
Hari ke-1 =190/120;170/100 Hari ke-8 =170/80;160/90 Pasien membaik,
Hari ke-2 =190/110;170/90 Hari ke-9 = 160/100;170/90 dizinkan pulang
Hari ke-3 =150/100;190/110 Hari ke-10=130/90;150/90
Hari ke-4 =210/100;200/110 Hari ke-11=150/80;160/100 Tekanan Darah
Hari ke-5 =180/100;170/80 Hari ke-12=130/60;160/80 Hari ke-
15=140/80;140/90
Hari ke-6 =180/90;180/100 Hari ke-13=160/90;150/90 Hari ke-
16=130/80;160/100
Hari ke-7 =190/90;200/110 Hari ke-14=160/90;150/80 Hari ke-
17=120/80;130/80

No.

101
14 Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/hari Tanggal Lama Keterangan
Pemberian Pemberian Pemberian
(hari)
Amlodipin Oral 5 mg 1x 01-02 2 Jam 22
Oral 10 mg 1x 03-17 15 Jam 06
Valsartan Oral 80 mg 1x 01-02 2 Jam 18
Oral 160 mg 1x 03-11 9 Jam 18
Bisoprolol Oral 5 mg 1x 07-11 4 Jam 06
Hytrin Oral 1 tab 1x 07-11 4 Jam 22
KSR Oral 600 mg 2x 07-09;14- 7 Jam 06,18; jam 10,22
17
Silopect syr Oral 1 sdm 3x 07-17 11 Jam06,14,22
Aspar K Oral 600 mg 2x 09 1 Jam 06,18; Lab K:3,9
N:126 Cl: 92
Simvastatin Oral 10 mg 1x 10-17 8 Jam 22
Levofloxacin Oral 500 mg 1x 11-17stop 7 Jam 18
Pirasetam Oral 800 mg 3x 12-17 6 Jam 06,14,22
Sitikolin Oral 500 mg 2x 12-17 6 Jam 06,18
Ranitidin Oral 1 tab 2x 12-17 6 Jam 06,18
Attapugite Oral 2 tab 3x;4x 12;13-17 6 Jam 06,14,22; jam
06,12,18,24
Lacto B Oral 1 sachet 3x 13-17 5 Jam 06,14,22
Occugard Oral 1 tab 1x 15-17 3 Jam 18
Bisolvon Injeksi 1A 2x 12-17stop 6 Jam 10,22
Piracetam Injeksi 3g 2x 01-11 11 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 01-11 11 Jam 10,22
Ceftriaxon Injeksi 1g 2x 01-05 5 Jam 10,22
Infus Cipro 200 mg 2x 06-10 5 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 01-03,08- 7 Jam 10, 22
11
Manitol Injeksi 125 cc 3x;1x 02-03;04- 4 Jam 04,12,20; jam 12
05
Ketorolak Injeksi 1 ampul 2x 05-08 4 Jam 10,22
Garam oral Sepucuk 3x 14 1 Jam 06,21,24
sendok Na: 127

101
N0 Data Pasien Gejala-gejala Waktu Serangan Pemeriksaan Neurologis
15 No. RM : 52-60-59 Lumpuh separoh anggota badan, Tingkat kesadaran stupor Gerakan bola mata
Usia/Jenis Kelamin : 68 th/Perempuan sebelah kiri. Pupil isokor normal
Tanggal kejadian serangan :10/04 /10 Nyeri kepala bagian frontal Refleks pupil + Disaphasia
Tanggal masuk US :10/04 /10 Vertigo Refleks kornea + Disarthria
Masuk dari : IGD Penurunan kesadaran
Tanggal keluar US : /10
Lama Inap:14 hari

Keluhan Utama Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan Laboratorium


Penurunan keasadaran disertai Paru-paru normal Kadar gula darah sewaktu: 133 LDL Kolesterol: 77
kelemahan anggota gerak kiri. Keadaan Jantung takhikardia Hemoglobin: 14,7 Trigliserida: 115
bisa pulih kembali pada siang hari dan Abdomen normal Leukosit (dalam ribuan)t:15,04 Kreatinin: 1,43
sorenya kambuh lagi. Hmt:43,5 Ureum: 68
Eritrosit (dalam ribuan) t:4,94 SGPT: 23
Platelet : 200 SGOT: 42
Diagnosis Kolesterol Total :150 Na: 138
Stroke Perdarahan intraserebral HDL Kolesterol : 50 Ka: 3,8
Faktor Resiko Pemeriksaan Radiologis Urinalisis
Riwayat Hipertensi : ada, diobati teratur. Pemeriksaan CT-Scan kepala: perdarahan
Jika diobati TD menjadi normal. Lokasi: lobus oksipitalis dan thalamus,ventrikel
Riwayat TIA : tidak Bagian: kiri
Riwayat DM : tidak Tekanan Darah Keadaan keluar
Riwayat serangan jantung : tidak dari US
Riwayat lemah jantung : tidak Hari ke-1=190/140;180/30;160/100 Hari ke-8=140/90;150/100;140/100 Pulang jam 12.30
Riwayat hiperkolesterolmia : tidak tahu Hari ke-2=190/120;180/100;160/100 Hari ke-9=130/90 dalam keadaan
Merokok : tidak Hari ke-3=150/110;190/100;190/110 Hari ke-10=140/90;140/100;130/90 membaik.
Pernah mengalami stroke sebelumnya : Hari ke-4=170/80;180/100;190/100 Hari ke-11=170/100;150/80;140/90
tidak pernah Hari ke-5=160/100;150/110;150/90 Hari ke-12=140/90;150/100
Hari ke-6=140/90;150/110;140/90 Hari ke-13=130/80;140/90
Hari ke-7=140/100;150/200;160/110 Hari ke-14=150/100

102
Pelaksanaan Pemberian Obat
Nama Obat Cara Dosis Frekuensi/ha Tanggal Lama Keterangan
Pemberian ri Pemberian Pemberian
(hari)
Valsartam Oral 80 mg 1x 11-12,19-22/04 6 Jam 22
160 mg 1x 13-18/04 6 Jam 22
KSR Oral 600 mg 2x 12-23/04 12 Jam 06,18
Amiodaran Oral 1 tablet 1x 13-16/04 4 Jam 14
½ tablet 1x 17-23/04 7 Jam 14
Aspar K Oral 300 mg 2x 13-23/04 11 Jam 10,22
Norvask Oral 10 mg 1x 13-23/04 11 Jam 16
Asitromicin Oral 250 mg 1x 17/04 1 Jam 18
Levofloxacin Oral 500 mg 1x 17-22/04 6 Jam 10
Pirasetam Oral 800 mg 3x 22-23/04 2 Jam 06,14,22
Takelin Oral 500 mg 2x 22-23/04 2 Jam 06,18
Amoksisilin Oral 500 mg 2x 22-23/04 2 Jam 06,18
Silopect Syr Oral 1 sdm 3x 20/04 1 Jam 06,14,22
Pirasetam Injeksi 3g 2x 10-22/04 13 Jam 10,22
Sitikolin Injeksi 250 mg 2x 10-22/04 13 Jam 10,22
Ranitidin Injeksi 1 ampul 2x 10-22/04 13 Jam 10,22
Seftriakson Injeksi 1g 2x 10-16/04 7 Jam 10,22
Furosemid Injeksi 1 ampul 1x 10-19/04 10 Jam 20
Manitol Injeksi 125 cc 11-13/04 3 Jam 18,24; 06,12; 04,20
Bisolvon Injeksi 1A 3x 14-23/04 10 Jam 06,14,22
Biscor Injeksi 2,5 mg 1x 15/04 1 Jam 06
Vit A 6000 ui 1x 15/04 1 Jam 18
Cendolite 1 tts ka-ki 6x 15/04 1 jam

103
LAMPIRAN 3

104
BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi ini memilikki nama lengkap Yemima


Hariyono memilikki panggilan akrab Yemi, dilahirkan pada
tanggal 1 Mei 1988 di Purwokerto, Jawa Tengah.
Merupakan putri sulung dari pasangan Alm. dr.Tjipto
Harijono, Sp.S dan Ayke Liobawati Oswari. Memilikki
dua adik perempuan bernama Ruth Dwi Utami Hariyono
dan Karen Tri Septiyani Hariyono. Pernah tinggal di
Kerinci (Jambi) ketika berusia 1 sampai 2 tahun, kemudian tinggal di Semarang
dan menimba ilmu di TK St. Martinus (1992-1994), dan SD St. Antonius (1994-
1997). Pada tahun 1997 penulis kembali ke kota kelahirannya dan menempuh
penidikan di SD Kristen 02 (1997-2000), SLTP N 8 (2000-2003), dan SMU N 1
(2003-2006). Untuk memperoleh gelar S1 Farmasi akhirnya penulis memilih
kuliah di Universitas Farmasi Sanata Dharma di Kota Gudeg dari tahun 2006
sampai tahun 2010. Penulis pernah menjadi asisten dosen praktikum
mikrobilologi, toksikologi dasar dan patologi klinik.

105