Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN UMUM BENDUNGAN

Bendungan adalah suatu bangunan air yang dibangun khusus untuk membendung
(menahan) aliran air yang berfungsi untuk memindahkan aliran air atau menampung
sementara dalam jumlah tertentu kapasitas/volume air dengan menggunakan
struktur timbunan tanah homogen (Earthfill Dam), timbunan batu dengan lapisan
kedap air (Rockfill Dam), konstruksi beton (Concrete Dam) atau berbagai tipe
konstruksi lainnya.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi dalam perencanaan dan pelaksanaan


pembangunan bendungan telah mengaburkan batasan secara jelas pengelompokan
tipe bendungan, karena sebagai akibat dari usaha para perancang concrete dams dan
geotechnical engineers dalam mengatasi permasalahan bendungan timbunan
(Embankment Dams) untuk menurunkan biaya konstruksi, pemeliharaan serta untuk
mendapatkan nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Usaha untuk mendapatkan nilai yang lebih kompetitif diantaranya adalah :

- Tingginya biaya membangun lapisan inti kedap air dan tanah liat diganti
dengan timbunan batu dan melapisi kedap air pada dinding permukaan sisi hulu
bendungan.

- Tingginya biaya tenaga kerja, peralatan dan lamanya durasi waktu


pelaksanaan pada bendungan beton (Concrete Dam) diatasi dengan pembangunan
dengan beton tuang yang langsung dipadatkan (Roller Compacted
Concrete Dams).

- Tingginya biaya pembangunan dan pelimpah darurat (Emergency Spillway)


diatasi dengan mengijinkan air melimpah melalui tubuh bendungan yang telah
dirancang tersendiri baik pada bendungan timbunan (Embankment Dams)
Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5
HIDROLOGI TERAPAN
maupun struktur beton (Concrete Dam).

- Penyelidikan yang menerus terhadap perilaku bendungan dan pengaruh


terhadap gempa akan memperbaiki laboratorium test dinamis (Dynamic

Laboratory Method) dan perbaikan pada teknik pembangunan Concrete Dams


dan Embankment Dams.

Berbagai usaha untuk memperoleh Bendungan yang layak terhadap kelayakan


teknis, ekonomis dan lingkungan terus diusahakan hingga saat ini.

Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :

1. Badan bendungan (body of dams)


Adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai penghalang air. Bendungan
umumnya memiliki tujuan untuk menahan air, sedangkan struktur lain seperti pintu
air atau tanggul digunakan untuk mengelola atau mencegah aliran air ke dalam daerah
tanah yang spesifik. Kekuatan air memberikan listrik yang disimpan dalam pompa air
dan ini dimanfaatkan untuk menyediakan listrik bagi jutaan konsumen.
2. Pondasi (foundation)
Adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga kokohnya bendungan.
3. Pintu air (gates)
Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di saluran baik yang
terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu air adalah :
a. Daun pintu (gate leaf)
Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan untuk
membuka , mengatur dan menutup aliran air.
b. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)
Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang digunakan
untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang direncanakan.
c. Angker (anchorage)
Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk menahan
rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari pintu air ke
dalam konstruksi beton.

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
d. Hoist
Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup dengan
mudah.
4. Bangunan pelimpah (spill way)
Adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan air banjir yang masuk ke
dalam waduk agar tidak membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian
penting dari bangunan pelimpah :
a. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)
Digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar kecepatan alirannya kecil
tetapi debit airnya besar.
b. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier, flood way)
Makin tinggi bendungan, makin besar perbedaan antara permukaan air tertinggi di
dalam waduk dengan permukaan air sungai di sebelah hilir bendungan. Apabila
kemiringan saluran pengangkut debit air dibuat kecil, maka ukurannya akan sangat
panjang dan berakibat bangunan menjadi mahal. Oleh karena itu, kemiringannya
terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya disesuaikan dengan keadaan topografi
setempat.
c. Bangunan peredam energy (energy dissipator)
Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air agar
tidak merusak tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain di sebelah hilir
bangunan pelimpah.
5. Kanal (canal)
Digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah hujan tinggi.
6. Reservoir
Digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari bendungan.
7. Stilling basin
Memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.
8. Katup (kelep, valves)
Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan yang lebih
tinggi (pipa air, pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan alat untuk membuka,
mengatur dan menutup aliran air dengan cara memutar, menggerakkan kea rah
melintang atau memenjang di dalam saluran airnya.
9. Drainage gallery
Digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
2. TIPE DAN FUNGSI BENDUNGAN

2.1. Tipe Bendungan


Dalam penentuan tipe bendungan dapat ditinjau dari berbagai pandangan, misal :
- Pembagian tipe didasarkan pada ukurannya.
Bendungan besar (Large Dams)
Bendungan kecil (Small Dams)
- Pembagian tipe didasarkan pada tujuan pembangunannya.
Bendungan dengan tujuan tunggal (Single Purpose Dams)
Bendungan serba guna (Multi Purpose Dams)- Pembagian tipe
didasarkan pada jalannya air pelimpah.
Bendungan untuk dapat dilewati air (Overflow Dams)
endungan untuk dapat menahan air (Non Overflow Dams)
- Pembagian tipe didasarkan pada material konstruksinya.
Bendungan beton (Concrete Dams)
Bendungan timbunan (Embankment Dams).
Pada umumnya yang sering digunakan adalah pembagian tipe bendungan
berdasarkan material yang digunakan untuk konstruksi yaitu Bendungan tipe beton
dan Bendungan tipe timbunan.
2.2. Bendungan Beton (Concrete Dams)

a. Umum

Prinsip dalam dasar yang harus diperhatikan didalam bendungan beton


diantaranya adalah :

- Pondasi Bendungan terletak pada lapisan batuan keras (Rock foundation)

- Beton merupakan bentuk struktur yang kaku (rigid) sehingga sangat kuat
menahan tekanan (Compressive strength) tetapi lemah terhadap gaya tarik
(Tensile strength). Oleh karena itu, bentuk dari konstruksi Bendungan beton
diusahakan sekecil mungkin mengakibatkan terjadinya tarikan (tensile
strength).

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
(Lihat Gambar 8.1, Bendungan Beton (Concrete
Dam))

b. Beberapa tipe bendungan beton diantaranya adalah :

- Bendungan tipe Gravity (Gravity


Dams)

Pada dasarnya bendungan ini mampu menahan beban dari waduk/


Reservoir melalui daya tahan gesekan akibat dari berat bendungan pada
pondasi.

Pada bentang melebar bendungan dapat diasumsikan bias-bias kantilever


dengan mengusahakan sekecil mungkin gaya tarik akibat momen untuk
menahan gaya guling (Overturning).

Lapisan batuan yang menahan pondasi harus mampu terhadap beban gesek
dan daya dukungnya dengan faktor keamanan sesuai yang berlaku.

(Lihat Gambar 8.2, Bendungan Tipe


Gravity)

- Bendungan tipe Lengkung (Curved gravity Dams), apabila panjang as


bendungan sempit, maka sebagian dari gaya yang bekerja pada bendungan
dialihkan ke tebing (abutment).

Untuk menghindari terjadinya gaya tarik pada tubuh Bendungan beton, maka
bentuk bendungan disesuaikan dengan penyebaran arah gaya yang terjadi, dan
yang paling mendekati kea rah tegak lurus ke abutment adalah membuat
bentuk lengkung (Curved) atau busur (Arch).

(Lihat Gambar 8.3, Bendungan Tipe Lengkung (Curved Gravity


Dam))
Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5
HIDROLOGI TERAPAN
- Bendungan tipe Busur (Arch Dams)

Apabila bendung tipe lengkung (Curved Dams) terjadi dengan pengalihan


beban ke abutment lebih besar, akibat bentuk topografi yang lebih curam

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
dan lebih sempit, maka untuk memperoleh bentuk Bendungan yang lebih
sesuai dengan penyebaran gaya yang terjadi dengan arah tekan ke dinding
abutment, maka bentuk struktur menjadi lengkung busur atau Bendungan
tipe Busur (Arch Dams). Bentuk diperlukan dinding sandaran abutment yang
kokoh. (Lihat Gambar 8.4, Bendungan Tipe Busur (Arch Dams))

- Bendungan dengan Penyangga (Buttress Dams)

Tipe bendungan ini merupakan alternative penyelesaian untuk bendungan


tipe gravity bentang yang cukup panjang dengan lebih mengintensifkan
tenaga pelaksana dan memperkecil volume beton yang diperlukan.

Bentuk Bendungan dapat merupakan kombinasi antara Gravity, Curved atau

Arch Dams diantara kolom penyangganya.

Namun pemilihan dari bentuk Bendungan ini masih tergantung dari kondisi
geologi dan problem yang ditemui di lapangan.

(Lihat Gambar 8.5, Bendungan Tipe Penyangga (Buttress Dam))

c. Yang perlu diperhatikan untuk Bendungan Beton

[1] Pondasi (Foundation)

Pondasi merupakan permasalahan kritis untuk Perencanaan Bendungan Beton


(Concrete Dams), untuk harus memperhatikan hal-hal diantaranya sebagai
berikut :

Modulus Deformasi (Deformation Modulus)

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
Deformasi yang tinggi yang disebabkan oleh adanya konsentrasi
tegangan di dalam struktur batuan harus dapat diketahui, namun variable
deformasi pada pondasi harus mengetahui material properties yang ada
di lapangan. Untuk itu diperlukan penyelidikan/test batuan fondasi lebih
rinci.

Stabilitas Blok (Block Stability)

Diperlukan pemetaan batuan pondasi rinci untuk mengindikasi adanya


potensi bentuk kehancuran didalam pondasi akibat pengaruh beban.
Indikasi terhadap faults (patahan), shlaris (geseran), weathering profiles
(profil perlemahan) dan Jariting patterns (pola sambungan) yang terdapat
pada massa batuan pondasi.

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
Tes kekuatan geser (shear strength) terkait dengan perubahan relative
sesuai pada bentuk pondasi.

Perbaikan Pondasi (Foundation Treatment)

Permasalah pondasi dapat diketahui selama masa tahap penyelidikan


batuan dasar pondasi. Perbaikan pondasi mungkin diantaranya adalah
membuang blok batuan yang tidak stabil, menambah system perkuatan,
memasang system drainage untuk mengurangi Up lift (tekanan keatas
akibat tekanan air) dan memberikan material ke dalam pondasi dengan
injeksi (grouting) untuk memperbaiki daya dukung (strength) pada zona
yang lemah dan menaikkan tingkat permeabilitas pada dasar pondasi.

[2] Pengaruh Temperatur (Temperature Effects)

Pengaruh temperature terkait dengan desain tipe beton untuk Bendungan


terhadap panas hidrasi dari beton pada kondisi batas. Apabila batas temperatur
(ambient temperature) tidak dijaga dengan baik, kemungkinan akan terjadi
retakan pada beton. Untuk mengatasi kondisi tersebut, diperlukan
langkah-langkah untuk mengatasi diantaranya adalah dengan memasang
sambungan-sambungan di dalam massa beton atau melakukan pendinginan
awal (Pre Cooling) pada material beton dan mengawasi secara teliti pada
proses pembuatan beton, atau melakukan pendinginan setelah pengecoran
beton dengan memasang jaringan pipa pendingin (Post Cooling).

[3] Bentuk Struktur (Structure


Shaping)

Perubahan bentuk yang tajam (patah) diusahakan untuk dihindari, karena


dapat menimbulkan penempatan konsentrasi tegangan. Konsentrasi
tegangan ini merupakan bagian yang kritis terutama apabila terjadi gempa.

2.3. Bendungan Timbunan (Embankment Dams)


Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5
HIDROLOGI TERAPAN
a. Umum

Tipe Bendungan Timbunan/Urugan (Embankment Dams) pada umumnya


didasarkan pada material yang digunakan untuk pembangunan bendungan
tersebut, dapat dari tanah atau batuan (Earth fill atau Rock fill). Pengelompokkan
selanjutnya diklasifikasikan oleh penempatan lapisan inti kedap air, ada yang

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
ditempatkan didalam tubuh bendungan (ditengah/miring, homogen), ada juga
yang ditempatkan di permukaan sisi hulu tubuh bendungan.

Stabilitas bendungan timbunan adalah didasarkan pada berat sendiri dari massa
materian Bendungan memenuhi syarat untuk menahan tekanan/beban yang
terjadi, dengan susunan gradasi material timbunan untuk menurunkan garis
tekan hidrolis antara timbunan dengan pondasi, sehingga rembesan (leakage)
diharapkan sekecil mungkin dan tanpa ada material yang ikut terhanyut (ter
erosi).

Tipe bendungan timbunan batu (Rock fill Dams) pada awalnya untuk Konstruksi
yang kecil dengan lapisan kedap air pada bagian permukaan hulu, namun
dengan kemajuan technologi pada saat ini Rock fill Dams cukup kompetitif untuk
bendungan besar dengan lapisan ini kedap air dibagian dalam tubuh
bendungan.

Untuk menghindari settlement di kemudian hari batuan harus juga dipadatkan


dengan pengaturan lapisan gradasi secara teliti.

Embankment Sheel (pelapis timbunan) biasanya terdiri dari material random


(campuran) atau abu batu berfungsi sebagai pengisi antara struktur dan lapisan
kedap air.

Timbunan dibagian permukaan hulu tubuh bendung biasanya dilindungi oleh


timbunan batu keras dengan susunan gradasi dan bentuk yang sesuai, bila tidak
tersedia dapat dilapisi dengan tanah bercampur semen (Soil cement facing).

Sedangkan untuk lapisan pelindung dibagian permukaan hilir tubuh bendungan


dari erosi terhadap hujan dapat dilapisi dengan gebalan rumput atau tanaman
keras. Perlu diperhatikan bahwa lapisan pelindung pada bagian hilir permukaan
tubuh bendung jangan sampai menjadi lapisan kedap air.

Dimensi besaran lapisan inti kedap air sangat tergantung dari ketersediaan
material didaerah pembangunan bendungan . Untuk lapisan kedap air dibagian
Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5
HIDROLOGI TERAPAN
permukaan hulu dapat terbuat dari lapisan Asphalt atau beton, dengan
menggunakan metode cetakan berjalan (Slipforming methods) dan ikatan (key)
kedalam lapisan kedap air, pondasi batuan keras atau cut off.

Lapisan material kedap air tidak mungkin dapat menghilangkan 100% rembesan
dan hanya dapat memperkecil rembesan. Oleh karena itu harus disiapkan
lapisan drainase untuk mengalirkan rembesan secara aman didalam tubuh

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
bendungan tanpa membawa serta material timbunan
bendungan melalui lapisan halus sampai kasar (finer zones
to courser zones).

Drainase galeri dan sumuran (Drainage galleries dan


relief well) juga perlu dipersiapkan.

3. Yang perlu diperhatikan untuk Bendungan Timbunan

[A] Pondasi
(Foundation)

Pondasi bendungan timbunan dapat dibangun diatas


batuan keras atau tidak. Bila dibangun diatas massa
batuan keras maka penurunan/Settlement yang terjadi
lebih kecil bila dibandingkan bendungan yang dibangun
diatas massa batuan lunak karena terdapat tambahan
penurunan pada pondasi (Consulidate) dan penurunan
lebih kecil pada awal masa operasinya.

[B]
Pemutus
aliran (Cut
offs)

Cut off sangat diperlukan oleh pondasi pada massa

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
batuan lunak dan batuan pecah (Non Rock atau
Fractured rock) untuk mengurangi tekanan rembesan
(seepage), cut off dipasang dibagian hulu dari as puncak
bendungan.

[C] Sifat
Pelunakan
(Liquefaction)

Kejenuhan akan mengakibatkan penurunan kepadatan


material halus dan akan menjadi tidak stabil bila
ditambah dengan beban gempa. Selama terjadi gempa,
konfigurasi butiran akan menjadi lebih padat yang
mengakibatkan menaikkan tekanan air pori dan lepas.

Sistem drainase tidak berfungsi dengan baik dan air


akan membuat perilaku pondasi menjadi
meleleh/mencair.

[D] Retakan dan stabilitas timbunan


(Embankment Stability and

C
r
a
c
k
i
n
g
)

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
Bendungan timbunan harus direncanakan aman
terhadap kemungkinan terjadinya retakan, khususnya
retakan melintang/vertikal (transverse cracks), mungkin
disebabkan akibat kerusakan oleh bocoran (piping).
Retakan melintang ini kemungkinan juga
disebabkan oleh : akibat terjadinya

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
perbedaan settlement pada lereng abutment, kurang sempurnanya
prosedur penempatan material, permasalahan pondasi atau sebab
lainnya.

[E] Tinggi jagaan (Free


board)

Tinggi jagaan disiapkan untuk melindungi terhadap kemungkinan


melimpahnya volume air atau overtopping akibat gelombang,
gempa bumu, dan sebab lainnya.
Struktur Tampungan Waduk

Terkait dengan fungsinya maka tampungan waduk dapat dibagimenjadi tiga bagian
utama, yaitu ;
tampungan mati (dead storage)
tampungan efektif (effective storage,) dan
tampungan tambahan yang biasanya dimanfaatkan untu
k pengendalian banjir (flood storage)

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
BAB II

PEMBAHASAN
Bendungan Penadah Air Siguragura (Siguragura Intake Dam) yang terletak di Simorea dan berfungsi
sebagai sumber air yang stabil untuk stasiun pembangkit listrik Siguragura. Air yang ditampung di
bendungan ini dipergunakan di Stasiun pembangkit listrik Siguragura (Siguragura Power Station) yang
berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4 unit generator dan total kapasitas tetap dari keempat
generator tersebut adalah 203 MW dan merupakan PLTA bawah tanah pertama di Indonesia. Tipe
bendungan ini adalah beton massa dengan ketinggian 47 meter.

Informasi Infrastruktur
Propinsi
:
Sumatera Utara
Sektor
:
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Tahun Mulai Bendungan Sigura-gura di Sumatera Utara

:
1978
Tahun Selesai
:
1981
Tipe
:
Beton Gravity
Tinggi Diatas Dasar Sungai
:

Tinggi Diatas Galian


:
46,00 m

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
Panjang Puncak
:
173 m
Lebar Puncak
:
9,50 m
Volume Tubuh Bendungan
:
38000 m
Biaya
:

Konsultan
:
Nippon Koei Co Ltd
Kontraktor
:
Kajima, Mitsubishi, Toshiba
Manfaat
:
Listrik 1868 GWH/thn
Lokasi
:
Sigura- gura, Tapanuli Utara-Sumatera Utara

Air Terjun Sigura-gura merupakan air terjun tertinggi di Indonesia. Dengan ketinggian 250 meter, air
terjun ini mengalahkan air terjun lainnya seperti air terjun Madakaripura yang memiliki tinggi 200
meter atau air terjun Payakumbuh di Sumatera Barat yan memiliki tinggi "hanya" 150 meter.

Air Terjun Sigura-gura terletak di Kabupaten Toba Samosir, sekitar 250 kilometer dari Kota Medan.
Karena letaknya yang dekat dengan Danau Toba, maka tak heran jika air terjun ini selalu ramai
dikunjungi oleh para pelancong.

Dari kejauhan terlihat, air terjun Sigura-gura seperti air terjun raksasa. Air terjun ini berasal
dari Sungai Asahan yang airnya dari Danau Toba. Suara dentuman air yang turun kebawah, masih
bisa terdengar dari kejauhan karena ketinggiannya.

Air Terjun Sigura-gura

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
Air terjun ini dikelilingi tebing-tebing bebatuan yang sangat terjal dan licin. Nuansa hutan rimba yang
alami pun akan menyambut sobat ketika memasuki kawasan ini, beberapa pepohonan khas dataran
tinggi tampak tumbuh dan menghiasi panorama di sekitar objek wisata air terjun ini.

Tertinggi Di Indonesia
Sobat dapat merasakan kesejukan airnya sambil melepas lelah setelah melalui perjalanan yang
cukup panjang dan melelahkan untuk menuju ke objek wisata ini. Atau bagi sobat yang ingin
melihat beberapa objek wisata di sekitar Air Terjun Sigura-gura ini, pengunjung pun dapat
berjalan untuk menelusurinya, dan tak jauh beberapa meter saja sobat akan disuguhkan oleh
panorama Bendungan Sigura-gura yang sangat terkenal itu.

Bendungan Sigura-gura
Memang air terjun Sigura-gura dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA). Selain berendam dan berbasah-basahan disini, pengunjung juga banyak yang
mendirikan tenda untuk berkemah di sekitar air terjun ini.

Aliran sungai di sekitar air terjun Sigura-gura sering dan rutin digunakan sebagai lokasi arung
jeram. Bahkan disini juga pernah diadakan kompetisi arung jeram tingkat nasional dan
internasional. Ya, aliran sungai di sekitar Air Terjun Sigura-gura ini memang sangat potensial
sekali untuk melaksanakan kegiatan ataupun kompetisi Arung Jeram, apalagi alirannya yang
sangat deras dapat memacu adrenalin peserta ditengah kekompakan satu tim Arung Jeram.

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
PLTA SIGURA-GURA terletak di Simorea yang berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4

unit generator dan total kapasitas tetap dari keempat generator tersebut adalah 286 MWatt

(4 x 71,5 Mwatt) dan merupakan PLTA bawah tanah pertama di Indonesia. Tipe bendungan

ini adalah beton massa dengan ketinggian 47 meter. Sayangnya ditengah defisit listrik yang

masih terjadi di Sumut sebesar 200 MW, listrik yang dihasilkan PLTA ini sepenuhnya hanya

digunakan oleh PT INALUM.

Rumah pengendali
Semua pengendalian seperti membuka dan menutup pintu air, menjalankan atau menghentikan
putaran turbin, menurunkan atau menaikkan pembangkit tenaga listrik oleh generator dan lain-lainnya
diatur melalui rumah pengendali.

Listrik yang dibangkitkan di Stasiun Pembangkit Listrik Siguragura selanjutnya dialirkan ke Kuala
Tanjung. Sebelum dialirkan ke Kuala Tanjung, arus listrik diatur di Rumah Pengendali. Pengendalian
ini dilaksanakan dengan bantuan komputer di rumah pengendali PLTA Sigura-Gura, dengan sistem
kendali jarak jaur. Rumah pengendali dipersiapkan untuk mengendalikan pengoperasian semua PLTA
yang akan dibangun di sepanjang Sungai Asahan.

Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-Gura


Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-Gura dibangun 200 m dibawah permukaan tanah, terdiri dari
dua ruangan besar, yaitu ruang pembangkit listrik dan ruang transformator utama. Dengan 4
perangkat pembangkit tenaga listrik (turbin), Sigura-Gura dapat menyediakan tenaga listrik sebesar
206 MW.

BAB III

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN
PENUTUP

Teknik Sipil UMY 2014 KELOMPOK 5


HIDROLOGI TERAPAN