Anda di halaman 1dari 14

Metode pelaksanaan konstruksi

“ pembangunan breakwater”

Di susun oleh:

Nama : wahyudin a mutalib

Npm : 121052220115091

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
TERNATE
METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

“PEMBANGUNA BREAKWATER”

1.PEKERJAAN UMUM

1.1 MOBILISASI DAN DEMOBILISASI PERALATAN

Jenis peralatan, cara mobilisasi dan demobilisasi, asal alat dan jarak tempuh mobilasasi dan
demobilisasi perlu diuraikan secara ringkas seperti dalam Tabel 1.1 berikut:

Tabel 1.1. identifikasi peralatan yang dimobilisasi dan demobilisasi

Cara mobilisasi Jenis alat Asal alat Jarak dari lokasi


dan demobilisasi pekerjaan (km)

Darat - diangkut Bulldozer


escavator tree
wheel roller alat
ton cnune 15 ton

Darat – jalan Whell loader dump


sendiri truck tailer

Laut – diangkut Kapal keruk


/ditarik ponton

Laut berlayar Engineer boat tug


sendiri boat

Selain hal tersebut dalam tabel di atas, juga perlu di jelaskan jadwal mendetail mobilisasi dan
demobilisasi peralatan tersebut.

1.2. MOBILISASI DAN DEMBILISASI TENAGA KERJA


Tenaga kerja yang digunakan diutamakan tenaga lokal, tenaga dari luar didatangkan apabila tenaga
lokal dalam skil dan jumlah tidak memadai. Untuk menampang tenaga kerja yang didatangkan maka
perlu dibuat barak dan pemukiman sementara.

2. PEMBUATAN CAMPURAN BETON

Langkah pertama yang harus ditetapkan adalah cara mendapatkan campuran beton, apakah mensuplai
dari perusahan ready mix concret atau membuat sendiri campuran. Jarak tempat untuk memproduksi
campuran beton ( batching plant) dengan lokasi pekerjaan dapat ditempuh dalam waktu sekurang-
kurangnya 2 jam.jika membuat sendiri campuran apakah akan dipasang batching plant dilokasi
dilokasi atau mengunakan mesin berukuran lebih kecil. Pembuatan campuran baik dengan batching
plat maupun dengan mixer kecil pada prinsipnya sama. Yang berbeda adalah volume produksi, kontrol
proses lebih terjamin pada batching plant. Prosedur pembuatan campuran beton akan mengikuti suatu
diagram seperti diberikan pada Gambar 2.1.

Agregat halus

Agregat kasar
Agregat kasar

Kontrol
semen Pengangkutan
moisture

air Kontrol
moisture

Bahan aditive Kontrol


(bila ada) moisture

Gambar 2.1. diagram alur prosedur pembuatan campuran beton

Kode dan standar bahan dan pembuatan campuran beton, harus mengikuti daftar berikut:

1. PUBI 1970/NI-3 & ASTM Untuk air beton


2. PBI 71 NI-2;PUBI 1970/NI – 3& ASTM Untuk agregat beton
3. SII 1984 & ASTM C150 Untuk bahan semen
4. PBI 71; BS 8100 &ASTM Untuk campuran beton

Penentuan Komposisi campuran yang digunakan dilakukan melalui perhitungan desain campuran
berdasarkan standar yang dipersaratkan. Prosedur penentuan campuran desain yang digunakan
mengikuti diagram Gambar 2.2.

Spesifikasi mutu beton

Desain campuran

Sampling, uji sampel & Tidak


control slump

Spek terpenuhi?
Ya

Komposisi campuran
terpilih

Gambar 2.2 prosedur disain campuran beton

3.PEMBANGUNAN BREAKWATER

3.1. SUPLAI BATU BELAH

Batu belah yang dibutuhkan untuk breakwater mempunyai volume yang cukup besar yaitu berkisar
20.000 m3. Untuk mendapatkan quarry yang mencukupi perlu di adakan survey terlabih dahulu dalam
survey quarry dianjurkan agar panggalian tidak menggunakan peledak. Namun apabila mendapatkan
jumlah sebesar itu dalam waktu singkat, harus lah dilakukan konsesi dan peledakan selanjutnya diolah
menjadi ukuran yang ditetepkan dalam spesifikasi. Suplay batu belah meliputi peledakan , penyortiran
dan pemecahan serta pengangkutan ke lokasi pekerjaan.

a) Peralatan yang diperlukan untuk memproduksi batu belah quarry peledakan


 Drilling machine
 Giat breaker
 Escavator
 Wheel loader
 Dump truk
b) Bahan bahan:
 Dinamik
 Detonator
c) Langkah langkah pelaksanaan
 Pengobaran dengan drilling machine kedalam deposit batu sampai ke dalam tertentu
(sesuai) perhitungan jenis dan kepadatan batu serta jumlah yang diperlukan perblasting.
 Pemasangan dinamik, persiapan blasting lainnya serta pengamanan daera sekeliling
 Peledakan
 Pengumpulan dan penyortiran hasil ledakan dengan escavator
 Pemecahan batu dengan giant breaker untuk mendapatkan jumlah batu ukuran kecil yang
lebih banyak.
 Pengangkutan hasil sortiran batu
 Prosedur a-f dilakukan berulang hingga pruduksi memenuhi kebutuhan
 Pelaksana harus membuat /memilihara jalan sementara angkutan material quarry kelokasi
pekerjaan.

3.2. PENGANKUTAN BATU BELAH DAN TETRAPOD

Pengangkutan tetrapot meliputi beberapa kegiatan yaitu:

1. Pengangkatan dari stockpile keatas truk


2. Pengangkutan
3. Penurunan muatan
4. Pengangkatan batu belah keatas truk dilakukan dengan menggunakan wheel loader secara
massal, sedangkan pengangkatan tetrapot mengunakan mobile carne secara individual.
Truk yang digunakan mengangkat batu belah adalah dump truk, sedangkan untuk tetrapot
mengunakan truk tanpa dinding/trailer. Dengan demikian cara penempatannya pun
berbeda.

3.3. PEMASANGAN MATRAS GEOTEKSTILE

Pemasangan matras geotekstile harus memperhatikan musim gelombang tingkat bkesulitan


pemasangan tergantung besarnya gelombang yang ada. Ilustrasi pemasangan geotekstile di laut
perkihatkan pada Gambar. 3.2.

a) Bahan
 Lembaran geotekstile
 Tali nilong
b) Peralatan
 Ponton
 Kapal (tup boat)
c) Cara pelaksanaan
 Lembaran geotekstil berukuran 6 x 50 m di persiapkan diatas ponton yang sudah pada
posisi pemasangan. Pada ke empat sudutnya telah dipasang tali untuk penarikan.
 Dua kapal/perahu menarik masing-masing sudut pada satu unjung lembaran.
 Setelah terkembang, selanjutnya diturunkan dan diatasnya disisi batu pengisih sehingga
lembaran matras rapat kedasar.
 Demikian seterunya dilakukan setiap lebar 6 m overlap antar lembaran diambil berkisal
50 cm.

Gambar 3.2 cara pemasanga matras geotekstile

3.4. PENEMPATAN BATU PENGISI (INTI) 25 KG

Batu pengisih 10 -50 kg adalah lapisan bagian breakwater yang paling dalam (bagian inti – core),
terletak di atas matras geotekstile penempatan batu pengisih meliputi penumpukan batu, penggusuran,
perataan hingga terbentuk penampang trapesium sebagaimana ditunjukan dalam gambar penempatan
batu pengisih dilakuakan lapis perlapis hingga mencapai elevasi dan ukuran rencana

a) Bahan
 Batu belah berukuran 10 – 50 kg
b) Peralatan
 Loader
 Backhoe
c) Cara pelaksanaan
 Penghamparan batu pengisih di lakuakan lapis per lapis
 Batu yang ditimpahkan oleh dump truck digusur dan diratakan permukaan nya dengan
bulldozer pada posisi yang tepat sessuai gambar, diatas matras yang sudah terpasang.
 Urutan urutan dan cara penempatan bam pengisih di ilustrasikan dalam gambar 3.3.

Gambar 3.3 penempatan batu pengisih 10 – 50 kg lapis 1.

3.5 PEMASANGAN FILTER GEOTEKSTILE

Lapisan filter atau saringan geotekstile dipasang diantara lapisan batu inti (pengisi) dengan batu trans
sisi untuk mencegah mengalihnya pasir menyebrang breakwater. Pemasangan filter pasir ini juga
mengikuti tahapan penempatan batu pengisih, batu filter dan kubus beton.

a) Bahan
 Lembaran geotekstile
 Tali nilon
b) Peralatan
 Kapal (tug buot)
 Besi jangkar
 Escavator
c) Cara pelaksanaan
 Gulungan geotekstile berukuran 6 x 50 m dipersiapkan dipermukaan batu pengisih lapis 1
yang sudah pada posisi pemasangan. Pada keempat sudutnya telah dipasang tali untuk
penarikan.
 Sepanjang tertentu sesuai panjang pemasangan tahap -1 ditarik oleh dua kapal/ perahu
pada kedua sudutnya.
 Setelah berkembang sudutnya ditekan turun ke dasar merapat pada lereng batu pengisih
dan diatasnya diisi batu transisi sehingga leburan matras rapat ke dasar.
 Demikian setenisnya dilakukan setiap lebar 6 m. overlap antar lembaran diambil
bersekitar 50 cm.
 Cara pemasangan filter geotekstile diperhatikan pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4 penempatan batu pengisi 10 -50 kg lapis.

3.6. PENEMPATAN BATU FILTER 120 KG

Batu filter yang berukuran 120 kg adalah lapisan atau bagian breakwater yang terletak antara lapisan
inti (core) dengan lapisan lindung (tetrapot). Penempatan batu transisi meliputi penumpukan batu
penempatan dengan escavator peralatan permukaan pada posisi dan ukuran sebagaimana ditunjukan
dalam gambar.

a) Bahan
 Batu belah berukuran 120 kg.
b) Peralatan
 Loader
 Backhoe
c) Cara pelaksanaan
 Penghamparan baru pengisih dilakukan lapis perlapis
 Batu yang ditumpahkan oleh dump truck dilorong kesamping dengan loader atau
diangkat dan ditempatkan oleh backhoe ke posisi yang tepat sesuai gambar, di atas batu
pengisih yang sudah terpasang.
 Urutan – urutan dan cara penempatan batu transisi diilustrasikan dalm Gambar 3.5.

Gambar 3.5. cara penempatan batu transisi.

3.7. PEMASANGAN TETRAPOD

Tetrapod dengan berat 1.8 ton adalah lapis lindung atau lapisan paling luar yang berhadapan alngsung
dengan hantaman gelombang terapot terletak diatas lapisan batu filter. Penempatan tetrapod meliputi
penyedian tetrapot dilokasi dan sebaiknya tidak dibongkar dari truck/trailer, pengangkatan dan
penempatan dengan crane 15 ton atau 50 ton penyetelan dan perapihan permukaan permukaan pada
posisi dan ukuran sebagaimana ditunjukan dalam gambar.

a) Bahan
 Tetrapod dengan berat 1.8 ton.
b) Peralatan
 Tailer/truck open
 Crane 50 atau 15 ton
c) Cara pelaksanaan
 Pemasangan tetrapod dilakukan secara bertahap mengikuti tahapan lapisan batu
sebelumnya
 Tetrapod diangkat dengan crane dari atas truck lalu dipasang pada posisi yang ditunjukan
pelaksana ahli dengan posisi yang stabil
 Urutan – urutan dan cara penempatan kubus diilustrasikan dalam gambar 3.6.
Gambar 3.6. cara pemasangan lapis lindung tetrapot tahap pertama.

4.PENGURUKAN

4.1. PENGURUKAN PASIR DENGAN ESCAVATOR

Pemilihan cara pengurukan ditentukan oleh jenis material, waktu dan volume pekerjaan jenis material
pasir berkerikil, alokasi waktu 3 bulan atau sekitar 100 hari dan volume pengurukan berkisar 147.000
m3. Bedasarkan data tersebut maka tipe alat keruk yang cocok adalah cutter suction dredger ukuran
dengan kapsitas 500 m3/jam

a) Peralatan
 Escavator
 Pontoon
 Tongkang
b) Cara pelaksanaan
 Escavator dan pontoon berfungsi untuk mengeruk material pasir
 Hasil kerukan langsung diletakan dalam tongkang
 Setelah kapasitas tongkang terisi penuh tongkang digerakan menuju darat untuk
dilakukan pemindahan material hasil pengurukan.
 Penguruykan dilakukan secara frontal dari baik sisi muara maupun dari sisi hulu sungai

4.2.PENGANGKUTAN PASIR HASIL KERUKAN

Material hasil kerukan adalahpasir bercampur kerikil dan dapat menjadi bahan timbunan yang baik.
Oleh karena itu material tersebut akan ditumpahkan dilokasidalam kawasan pelabuhan untuk kelak
dapat digunakan. Lokasi yang digunakan untuk penimbunan, adalah diarea sebelah barat muara sungai
ketahuan yang berarti jarak angkutan berkisar < 500 m

a) Peralatan
 Wheel loader
 Dump truck
b) Cara pelaksanaan
 Material diangkat dengan wheel loader ke atas truck
 Material diangkat dan ditumpahkan dilokasi yang ditujuh dengan dump truck.

4.3. PERATAAN MATERIAL HASIL KERUKAN

Sebagian pasir hasil kerukan yang ditumpahkan di atas kali dilem selanjutnya diratakan hingga elevasi
yang direncanakan.

a) Peralatan
 Bulldozer
b) Cara pelaksanaan
 Tumpukan pasir dilokasi digusur dan diratakan oleh bulldozer lapis perlapis 50 cm

5. PEMBANGUNAN DERMAGA

5.1. PEMBUATAN DAN PEMASANGAN BUIS BETON

Buis beton dicetak dilokasih pekerjaan dengan mutu beton k-225 dan diberi tulangan 14Ø8 dan
sengkang Ø8-20 pemasangan buis beton disusun secara vertical dimulai kedalam -2.50 sampai dengan
+2.50 mdari LWS dengan 50 cm ditanam dalam tanah.buis beton diisi dengan beton cyclop K-175
ditambah batu belah 40% dan pada bagian tengah diberi kolom praktis (15x15)cm. posisi dan ukuran
sebagaimana ditunjukan dalam gambar.

a) Bahan
 Beton mutu K- 225, K-175
 Tulangan
 Batu belah
b) Peralatan
 Alat pengangkat
 Peralatan pengecoran
c) Cara pelaksanaan
 Pemasangan buis beton dilakukan secara bertahap mulai bagian paling bawah yaitu
ditanam dalam tanah (-2.50 LWS) diteruskan hingga ketinggian 5 m (+2.50 dari LWS)
 Buis beton diberi kolom praktis dan sisi dengan beton cyclop.
 Buis beton ditutup dengan plet beton bertulang dengan tebal 20 cm.

5.2 PEMASANGAN BOLLARD (BITT)

Jenis bollard (bitt) atau alat penambat kapal adalah bolder tipe bitt yang dibuat oleh pabrik.

a) Bahan
 Bollard tipe bitt 25 + baut angkur
b) Peralatan
 Alat pengangkat
 Template baut
 Peralatan tukang besi
c) Cara pelaksanaan
 Angkur baut dipasang pada saat pengecoran, agar baut tepat sesuai ukuran maka
diperlukan template baut dengan plat baja.
 Bollard dipasang pada angkur

5.3 PEMASANGAN TANGGA BESI

Tangga dari bahan pipa besi galvanis 2” adapun cara pemasangannya adalah:

a) Bahan
 Pipa besi glavanis 2”
 Plat baja tebal 4mm
 Kawat las
 Baut angkur (dyna both)
b) Peralatan
 Peralatan tukang las
 Alat bantu pemasangan
c) Cara pelaksanaan
 Besi dipotong dan dilas sesuai dengan gambar rencana
 Pplat dudukan dilas pada pipa tangga bagian vertikal.
 Baut (dyna bolt) dengan bor dipasang pada sisi samping dermaga
 Tangga yang sudah jadi dipasang pada angkur baut.

6. PEKERJAAN JALAN

6.1. PRODUKSI ASPAL BETON

Produksi/pelaksanaan campuran harus menurut spesifikasi berikut:

1. Perbandingan bahan campuran harus sesuai dengan campuran rencana.


2. Pencampuran harus dilaksanakan sebaik-baiknya sampai bahan tercampur baik dan
merata.
3. Temperature campuran sebagai berikut:
 Agregat dipanaskan maksimum 175°c
 Aspal keras (penetrasi 60) dipanaskan pada temperature 150°c-170°c atau sesuai
hasil test viskositas pada 70 cst.
 Temperatur agregat tidak boleh lebih dari 15°c diatas temperature aspal semen.
 Temperature campuran aspal beton yang keluar dan pugmill, tidak boleh lebih
dari 165°c

6.2 PENGANGKUTAN

Pengangkutan dilakukan dengan dump truck yang baknya terbuat dari metal,rapat,bersih dan telah
disemprot dengan air sabun ,solar, minyak parfum atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya
aspal pada bak dump truck.selama pengankutan ,campura harus ditutup dengan terpal , untuk
melindungi dari pengaruh cuaca dan menjaga penuaian temperature yang terlalu cepat.

6.3. PEMADATAN

Cara pemadatan :

 Pada jalan lurus, pemadatan dimulai dari tepi perkerasan sejajar dengan sumbu jalan menuju ke
tengah.
 Pada tikungan, pemadatan dimulai dari bagian yang rendah sejajar sumbuh jalan menuju
kebagian yang tinggi.
 Pada bagian tanjakan dan turunan harus dimulai dari bagian yang terendah sejajar sumbu jalan
menuju bagian yang tinggi.
 Untuk mencegah pelekatan campuran pada mesin gilas, maka roda mesin gilas perlu dibasahi
dengan air
 Roda penggerak mesin gilas pada lintasan pertama ditempatkan dimuka.
 Pekerjaan pemadatan dihentikan jika kepadatan telah mencapai 97% dari kepadatan labolatorium

Penghamparan dan pemadatan harus diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak terlalu banyak terjadi
sambungan sambungan. Bila sambungan harus diadakan, hendaknya diperhatikan agar dicapai
pelekatan yang sempurnah pada seluru tebalnya.

Dalam menempatkan campuran baru terhadap lapisan yang telah digilas hendaknya diusahakan bahwa
bidang kontak harus vertikal (dengan cara lapisan lama dipotong tegak lurus) dan perlu behkan pada
bidang vertikal tersebut lapis pengikat (tackcoat) untuk menambahkan pendekatan pada sambungan .

Lapisan aspal beton bam boleh digunakan untuk lalu lintas dengan kecepatan rendah,setelah selesai
pemadatan akhir dan temperature sudah dibawah titik lembek aspal, atau setelah lebih kurang 2 jam.
Lapisan aspal beton baru boleh digunakan untuk lalu lintas secara bebas minimum setelah 4 jam dan
pemadatan akhir.