Anda di halaman 1dari 63

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan

peningkatan kadar glukosa didalam darah. Penyakit ini dapat menyerang

segala lapisan umur dan sosial ekonomi. Di Indonesia saat ini penyakit

Diabetes Mellitus belum menempati skala prioritas utama pelayanan

kesehatan walaupun sudah jelas dampak negatifnya, yaitu berupa penurunan

kualitas SDM, terutama akibat penyulit menahun yang ditimbulkannya

(Shahab, 2006).

Diabetes didefinisikan sebagai kondisi awal hiperglikemia yang dapat

menimbulkan risiko kerusakan mikrovaskuler (retinopati, nefropati, dan

neuropati). Akibat dari kerusakan mikrovaskuler ini berdampak pada

berkurangnya angka harapan hidup, peningkatan angka kesakitan dan angka

kematian yang signifikan, meningkatkan risiko komplikasi makrovaskuler

(penyakit jantung iskemik, stroke dan penyakit pembuluh darah kapiler), dan

berkurang kualitas hidup (Wild, et al., 2004).

Seiring dengan bertambahnya sosial ekonomi masyarakat, perubahan

gaya hidup, kurangnya aktivitas fisik, serta kegemukan, menyebabkan ledakan

jumlah pasien Diabetes Mellitus yang tak terelakkan lagi (Ranakusuma,

2004). Perkiraan terakhir menunjukkan ada 171 juta orang di dunia dengan

diabetes pada tahun 2000 dan diproyeksikan meningkat menjadi 366 juta

orang di tahun 2030 (Wild, et al., 2004).

1
2

Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

(Dirjen P2PL), Tjandra Yoga Aditama menyatakan bahwa Indonesia

merupakan Negara urutan ke 7 dengan prevalensi diabetes tertinggi, dibawah

Cina, India, USA, Brazil, Rusia dan Mexico. Dalam laporan yang diterima

dari Global status report on NCD World Health Organization (WHO) pada

2010 lalu, 60 persen penyebab kematian di dunia adalah penyakit tidak

menular (PTM)(SINDOnews, 2013).

Di Indonesia, dari jumlah 2,5 juta pada tahun 1994 yang diprediksi

akan menjadi lima juta pada tahun 2010 (estimasi gabungan McCarty Zimmet

dan Askandar Tjkroprawiro, 1991), ternyata menurut IDF telah menjadi tujuh

juta, dan diprediksi akan bertambah menjadi 12 juta pada tahun 2030

(Tjokroprawiro, 2011).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,

diperoleh bahwa prevalensi Diabetes Mellitus di Jawa Timur meningkat dari

tahun 2007 sebesar 1,1% menjadi 2,5% pada tahun 2013. Sedangkan menurut

Askandar Tjokroprawiro (1997), prevalensi Diabetes Mellitus di Kotamadya

Surabaya sebesar 4,16%.

Kelompok diabetes mellitus terbanyak di Indonesia yaitu sekitar 90%

merupakan dari kelompok diabetes mellitus tipe 2 yang tidak tergantung

insulin. Kebanyakan timbul pada penderita berusia di atas 40 tahun

(Mahendra, dkk, 2008).

Hasil penelitian dari Diabetes Control and Complication Trial (DCCT)

menunjukkan bahwa pengendalian Diabetes Mellitus yang baik dapat

mengurangi komplikasi kronik Diabetes Mellitus antara 20-30%. Diabetes


3

Mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan, tetapi

sangat potensial untuk dapat dicegah dan dikendalikan melalui pengelolaan

yang tepat (Jazilah, 2003).

Langkah-langkah dalam pengendalian diabetes mellitus menurut

PERKENI (2011) ada 4 yaitu edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani,

dan obat berkhasiat hipoglikemik.

Terapi medis berupa pemberian obat hipoglikemik oral atau agen anti

hiperglikemik dan insulin telah banyak dilakukan. Namun

penatalaksanaanya masih menimbulkan efek samping (Suyono, dkk, 2009).

Salah satu upaya yang baik untuk menangani Diabetes Mellitus agar

tidak berlanjut pada komplikasi adalah pencegahan dengan melakukan edukasi

mengenai perubahan gaya hidup dan pola makan. Edukasi gizi adalah suatu

bentuk pendekatan yang digunakan dalam asuhan gizi untuk menolong

individu dan keluarga memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya

dan permasalahan yang dihadapi. Informasi yang diperoleh diharapkan dapat

membantu individu dan keluarga untuk mengambil langkah-langkah

dalam mengatasi masalah gizinya termasuk perubahan pola makan serta

memecahkan masalah terkait gizi ke arah kebiasaan hidup sehat (Jinlin, et

al., 2007).

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan hasil laporan kunjungan Poli umum Puskesmas Pucang

Sewu pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan Desember 2013,

penyakit Diabetes Mellitus termasuk peringkat 3 dengan Persentase 8,927%.


4

Menurut Agustina (2009), salah satu faktor yang menyebabkan

kekambuhan dan ketidakefektifan penanganan adalah diet diabetes, karena

walaupun mereka sudah mengetahui tentang makanan apa yang harus

dimakan, tetapi mereka sering mengalami kesulitan untuk menaati diet

diabetes.

Oleh karena itu, dalam pengelolaan diet diabetes pasien Puskesmas

Pucang Sewu, perlu adanya tindakan preventif seperti asuhan gizi berupa

terapi edukasi agar timbulnya komplikasi diabetes bisa diperlambat.

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana asuhan gizi

terhadap peningkatan pengetahuan dan asupan makan pasien Diabetes

Mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya ?”

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui pengaruh asuhan gizi

terhadap peningkatan pengetahuan dan asupan makan pasien diabetes

mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu.


1.4.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan penderita diabetes mellitus tipe 2

sebelum dan setelah diberikan asuhan gizi.


b. Mengidentifikasi asupan makan penderita diabetes mellitus tipe 2

sebelum dan setelah diberikan asuhan gizi.


c. Menganalisa pengaruh asuhan gizi terhadap pengetahuan penderita

diabetes mellitus tipe 2.


d. Menganalisa pengaruh asuhan gizi terhadap asupan makan penderita

diabetes mellitus tipe 2


5

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Masyarakat
Untuk menambah pengetahuan kepada masyarakat khususnya penderita

Diabetes Mellitus mengenai penanganan nutrisi pasien Diabetes Mellitus.


1.5.2 Puskesmas Pucang Sewu

Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

di Puskesmas khususnya tentang penatalaksanaan diet pada pasien

Diabetes Mellitus.

1.5.3 Ilmu pengetahuan


a. Menambah wawasan dan pengetahuan di bidang Ilmu Penyakit

Dalam khususnya Diabetes Mellitus dan gizi.


b. Sebagai bahan pengembangan penelitian selanjutnya.
1.5.4 Peneliti
Menambah pengalaman dan wawasan tentang asuhan gizi berupa terapi

edukasi pada pasien yang menjalani rawat jalan.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Mellitus


1.2.1 Pengertian
Arti diabetes mellitus dalam bahasa Indonesia adalah sirkulasi darah

madu. Kata ini digunakan karena pada pasien diabetes mellitus, meningginya

kadar gula darah termanifestasi juga dalam air seni. Ginjal tidak dapat lagi

menahan kadar gula darah yang tinggi (Mahendra, dkk., 2008).


Istilah diabetes mellitus berasal dari bahasa Yunani. Diabetes artinya

mengalir terus, dan Mellitus berarti madu atau manis. Jadi, istilah itu

menunjukkan tentang keadaan tubuh penderita, yaitu adanya cairan manis

yang mengalir terus (Mahendra, dkk., 2008).


International Diabetes Federation (IDF) mendefinisikan Diabetes

Mellitus sebagai penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi

mampu untuk membuat insulin, atau ketika tubuh tidak dapat memanfaatkan

insulin yang dihasilkan. Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas,

yang bertindak seperti sebuah kunci untuk membiarkan glukosa dari

makanan yang kita makan lolos dari aliran darah ke dalam sel-sel dalam

tubuh untuk menghasilkan energi. Semua makanan karbohidrat dipecah

menjadi glukosa dalam darah. Insulin membantu glukosa masuk ke sel.

Pankreas tidak mampu memproduksi insulin atau menggunakannya secara

efektif menyebabkan kadar glukosa berlebih di dalam darah (dikenal sebagai

hiperglikemia) (IDF, 2013).

2.1.2 Klasifikasi

Diabetes dapat diklasifikasikan menjadi (WHO, 2000) :

a. Diabetes Melitus Tipe I

6
7

Diabetes tipe – 1 adalah diabetes mellitus yang tergantung insulin (IDDM). IDDM

ditandai dengan defisiensi mutlak insulin, onset gejala yang berat timbul secara

mendadak, cenderung menjadi ketosis dan untuk menopang kehidupan tergantung

pada insulin dari luar. Usia saat timbulnya gejala klinis biasanya dibawah 30

tahun, meskipun gangguan dapat terjadi di semua usia. Sering dikenal dengan

juvenile – onset diabetes (WHO, 2000).

b. Diabetes Melitus Tipe II

Diabetes tipe – 2 adalah diabetes mellitus yang tak tergantung insulin (NIIDM).

Mencakup hampir 85% dari semua kasus diabetes di negara – negara maju, dan

sebagian besar kasus di negara – Negara berkembang. Diagnosa untuk orang –

orang eropa biasanya dibuat sesudah usia 40 tahun. Diagnosa dapat ditegakkan

bila kadar glukosa darah puasa meningkat sampai batas yang diterima sebagai

diagnostik diabetes. DM tipe – 2 ini kebanyakan disebabkan oleh kerusakan sel

beta pankreas (WHO, 2000).

c. Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

Diabetes Gestasional adalah intoleransi glukosa yang dimulai atau baru ditemukan

pada waktu hamil.Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu yang menderita diabetes

gestasional adalah preeklampsi, seksio sesarea dan terjadinya DM tipe – 2

dikemudian hari.Sedangkan pada janin dapat meningkatkan resiko terjadinya

hiperbilirubinemia, trauma persalinan, hipoglikemia, hipokalsemia, dan dapat juga

menyebabkan kecacatan dan kematian pada janin.

d. Tipe khusus lain, seperti :

1) Kelainan genetik pada sel beta.

2) Kelainan genetik pada kerja insulin : Sindrom resistensi insulin berat.


8

3) Penyakit pada eksokrin pankreas.

4) Penyakit endokrin : Cushing Syndrom, Akromegali.

5) Obat- obatan yang bersifat toksik terhadap sel-sel beta.

6) Infeksi.

2.1.3 Diagnosa

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes mellitus.

Kecurigaan adanya diabetes mellitus perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan

klasik diabetes mellitus, antara lain (PERKENI, 2006) :

a. Keluhan klasik diabetes mellitus berupa : poliuria, polifagia, dan

penurunan berat badan yang tidak dijelaskan sebabnya.


b. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur

dan disfungsi ereksi pada laki-laki serta pruritus vulva pada perempuan.

Selain dengan keluhan, diagnosa diabetes mellitus harus ditegakkan

berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah dengan cara enzimatik dengan

bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena

ataupun kapiler sesuai kondisi dengan memperhatikan angka-angka kriteria

diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan WHO. Sedangkan untuk tujuan

pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan

glukosa darah kapiler (Gustaviani, 2006; PERKENI, 2006).

Tabel 2.1. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan
diagnosis DM (mg/dl)(PERKENI, 2011).
Belum pasti
Bukan DM DM
DM
Kadar glukosa Plasma vena <100 100 199 >= 200
darah sewaktu
Darah kapiler <90 90 199 >= 200
(mg/dL)
9

Kadar glukosa Plasma vena <100 100 125 >= 126


darah puasa
Darah kapiler <90 90 99 >= 100
(mg/dL)
Catatan :

Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil, dilakukan ulangan

tiap tahun. Bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko lain, pemeriksaan

penyaring dapat dilakukan setiap 3tahun.

Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosa diabetes mellitus adalah

(PERKENI, 2006) :

a. Didahului dengan adanya keluhan-keluhan khas yang dirasakan dan

dilanjutkan dengan pemeriksaan glukosa darah.


b. Pemeriksaan glukosa darah menunjukkan hasil : pemeriksaan glukosa

darah sewaktu ≥ 200 mg/dl (sudah cukup menegakkan diagnosis),

pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl (patokan diagnosis diabetes

mellitus).

Tabel 2.2 Kriteria Diagnosa Diabetes Mellitus


1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu >= 200 mg/dL (11,1
mmol/L)Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan
sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir,
Atau

2. Gejala klasikDM+Kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL (7.0


mmol/L)Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan
sedikitnya 8 jam, Atau

3. Kadar gula plasma2 jam pada TTGO 200 mg/dL(11,1


mmol/L)TTGO yang dilakukan dengan standar WHO, menggunakan
beban glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang
dilarutkan ke dalam air.
Sumber : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V. Jilid III. Jakarta : Balai Penerbit FK
UI, 2009
Pemeriksaan HbA1c (>6.5%) oleh ADA 2011 sudah dimasukkan menjadi

salah satu kriteria diagnosis DM, jika dilakukan pada sarana laboratorium

yang telah terstandardisasi dengan baik.


10

Untuk kelompok tanpa keluhan DM, hasil pemeriksaan glukosa darah

yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosa

DM. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mendapatkan sekali lagi angka

abnormal, baik kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, kadar glukosa darah

sewaktu ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau hasil tes toleransi glukosa

oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah setelah pembebanan ≥ 200 mg/dl

(PERKENI, 2006).

2.1.4 Etiologi

Dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli kedokteran,

dikemukakan teori baru yang menyatakan bahwa penyakit diabetes mellitus tidak

hanya disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), tetapi juga dipengaruhi oleh

beberapa faktor lain yang multi kompleks, antara lain kebiasaan hidup dan

lingkungan. Orang yang tubuhnya membawa gen diabetes, belum tentu akan

menderita penyakit gula, Karena masih ada beberapa faktor lain yang dapat

menyebabkan timbulnya penyakit ini pada seseorang, yaitu antara lain makan

yang berlebihan/kegemukan, kurang gerak atau jarang berolahraga, dan kehamilan

(Lanywati, 2001).

Makan yang berlebihan menyebabkan gula dan lemak dalam tubuh

menumpuk secara berlebihan.Kondisi tersebut menyebabkan kelenjar pankreas

terpaksa harus bekerja keras memproduksi hormon insulin untuk mengolah gula

yang masuk. Jika suatu saat pankreas tidak mampu memenuhi kebutuhan hormon

insulin yang terus bertambah, maka kelebihan gula tidak dapat terolah lagi dan

akan masuk ke dalam darah serta urine (air kencing) (Lanywati, 2001).
11

Pada saat tubuh melakukan aktivitas/gerakan, maka sejumlah gula

akan dibakar untuk dijadikan tenaga gerak. Sehingga jumah gula dalam tubuh

akan berkurang. Dan dengan demikian kebutuhan akan hormon insulin juga

berkurang. Pada orang yang kurang gerak dan jarang berolahraga, zat makanan

yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar, tetapi hanya akan ditimbun dalam

tubuh sebagai lemak dan gula. Proses pengubahan zat makanan menjadi lemak

dan gula, memerlukan hormon insulin. Namun, jika hormon insulin kurang

mencukupi, maka akan timbul gejala penyakit diabetes mellitus (Lanywati, 2001).

Pada saat hamil, untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janinnya,

seorang ibu secara naluri akan menambah jumlah konsumsi makanannya,

sehingga umumnya berat badan ibu hamil akan naik sekitar 7 kg – 10kg. Pada saat

penambahan jumlah konsumsi makanan terebut terjadi, jika ternyata produksi

insulin kurang mencukupi, maka akan timbul gejala penyakit diabetes mellitus

(Lanywati, 2001).

2.1.5 Faktor Risiko

Faktor risiko bagi penyandang diabetes mellitus tipe 2 :


a. Usia
Risiko timbulnya DM sejalan dengan usia. Insiden DM tipe 2

bertambah sejalan dengan pertambahan usia, kenyataannya bahwa

jumlah sel beta yang produktif berkurang seiring pertambahan usia.

Oleh karena itu, upayakan memeriksa gula darah puasa jika usia telah

diatas 45 tahun (Arisman, 2011). DM tipe 2 biasanya terjadi setelah

usia 30 tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40 tahun

(Sudoyo, 2006).
b. Jenis Kelamin
12

Berdasarkan penelitian Santono, Lian & Yudi (2006) dalam Karwaji

(2013), angka kejadian DM tipe 2 pada wanita lebih tinggi dari laki-

laki. Wanita lebih berisiko mengalami peningkatan indeks massa tubuh

yang lebih besar. Selain itu pada perempuan memiliki tingkat

kecemasan atau stress yang lebih tinggi dari laki-laki. Pada kondisi

stres, hormon stres yang berada dalam tubuh akan dikeluarkan yang

kemudian dapat mempengaruhi peningkatan kadar gula darah

(Smeltzer & Bare, 2001).

c. Berat badan
Kelebihan berat badan sebanyak 20% dari normal atau dengan BMI >

25, dapat meningkatkan resiko timbulnya DM sebanyak 2 kali.

Prevalensi obesitas dan diabetes berkorelasi positif, terutama obesitas

sentral (Arisman, 2011).


d. Riwayat keluarga
Sekitar 40% diabetes terbukti terlahir dari keluarga yang juga

mengidap DM, dan lebih kurang 60-90% kembar identik merupakan

penyandang DM (Arisman, 2011).

e. Tekanan darah
Tekanan darah yang melebihi normal yaitu lebih dari 140/90 mm Hg

atau seseorang yang memiliki riwayat hipertensi (Arisman, 2011).


f. Kolesterol HDL
Kadar kolesterol HDL <40 mg/dl untuk laki-laki dan <50 mg/dl untuk

wanita (Arisman, 2011).


g. Trigliserida
Risiko bertambah jika trigliserida >250 mg/dl.
h. DM kehamilan
Riwayat DM kehamilan/ gestasional atau pernah melahirkan anak

dengan BB>4kg. Kehamilan, trauma fisik, dan stress psikologis

menurunkan sekresi serta kepekaan insulin (Arisman, 2011).


13

i. Riwayat ketidaknormalan glukosa


Memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu dan glukosa darah puasa

terganggu (Arisman, 2011).


j. Gaya hidup
Menurut Trisnawati (2012), kurangnya aktifitas fisik juga menjadi

salah satu faktor risiko terjadinya DM tipe 2, dikarenakan aktifitas

fisik yang rendah tidak dapat mengontrol gula darah dengan baik.

Aktifitas fisik yang rendah dapat mengakibatkan penurunan jumlah

reseptor insulin yang siap berikatan dengan insulin, sehingga dapat

meningkatkan kadar gula dalam darah yang nantinya dapat

menyebabkan terjadinya DM (Kurniawan, 2010).

2.1.6 Patofisiologi

Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses

kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energy. Proses ini

disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang

peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam

sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini

adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pankreas (Sidartawan

dkk, 2009).

Dalam keadaan normal, kadar insulin cukup dan sensitif, insulin

akan ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permukaan sel otot,

kemudian membuka pintu masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel

untuk kemudian dibakar menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa

dalam darah normal (Sidartawan dkk, 2009).


14

Pada diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau

pada keadaan kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin), meskipun

insulin ada dan reseptor juga ada, tapi karema ada kelainan di dalam sel itu

sendiri pintu masuk tetap tidak dapat terbuka tetap hingga glukosa tidak

dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap

berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkat

(Sidartawan dkk, 2009).

Insulin pada DM tipe 1 tidak ada disebabkan oleh karena pada

jenis ini ada reaksi otoimun. Pada individu yang rentan (susceptible)

terhadap diabetes tipe 1, terdapat adanya ICA (Islet Cell Antibody) yang

meningkat kadarnya oleh karena beberapa factor pencetus seperti infeksi

virus, diantaranya virus cocksakie, rubella, CMV, herpes dan lain-lain

hingga timbul peradangan pada sel beta (insulitis) yang akhirnya

menyebabkan kerusakan permanen sel beta (Sidartawan dkk, 2009).

Pathogenesis diabetes mellitus tipe2 ditandai dengan adanya

resistensi insulin perifer, gangguan hepatic glucose production, dan

penurunan fungsi sel beta, yang akhirnya akan menuju ke kerusakan total

sel beta (Sidartawan dkk, 2009).

Pada stadium prediabetes mula-mula timbul resistensi insulin yang

kemudian disusul oleh peningkatan sekresi insulin untuk mengkompensasi

resistensi insulin itu agar kadar glukosa tetap normal. Lama kelamaan sel

beta tidak sanggup lagi mengkompenisasi resistensi insulin hingga kadar

glukosa darah meningkat dan fungsi sel beta makin menurun. Saat itulah

diagnosis diabetes ditegakkan.Ternyata penurunan fungsi sel beta itu


15

berlangsung secara progresif sampai akhirnya samasekali tidak mampu

lagi mengsekresi insulin, suatu keadaan menyerupai diabetes tipe 1.Kadar

glukosa darah makin meningkat (Sidartawan dkk, 2009).

2.1.7 Gejala Dan Tanda

Menurut Askandar Tjokroprawiro di bukunya yang berjudul “Hidup Sehat

dan Bahagia Bersama Diabetes” (2006), mengatakan bahwa gejala dan

tanda-tanda penyakit Diabetes Mellitus dapat digolongkan menjadi gejala

akut dan gejala kronik.

2.1.2.1 Gejala akut


Pada permulaannya gejala yang ditunjukkan meliputi banyak makan

(polifagia), banyak minum (polidipsia), dan banyak kencing (poliuria).

Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus

bertambah, karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi. Bila

keadaan tersebut tidak cepat diobati, maka dapat sering timbul keluhan

polidipsia dan poliuria dan keluhan lain berupa turunnya nafsu makan (tidak

polifagia lagi) bahkan kadang-kadang diikuti dengan mual jika kadar glukosa

darah melebihi 500 mg/dl, berat badan turun dengan cepat (dapat turun 5-10

kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah, dan bila tidak lekas diobati lagi

dapat menimbulkan rasa mual dan dapat terjadi koma diabetik (penderita

tidak sadarkan diri)(Tjokroprawiro, 2006).


2.1.2.2 Gejala kronik
Gejala kronik yang sering timbul antara lain (Tjokroprawiro, 2006) :
a. Kesemutan
b. Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum
c. Terasa tebal di kulit, sehingga kalau berjalan seperti di atas bantal
atau kasur
d. Kram
16

e. Lelah
f. Mudah mengantuk
g. Mata kabur
h. Gatal di sekitar kemaluan, terutama wanita
i. Gigi mudah goyah dan mudah lepas
j. Kemampuan seksual menurun, bahkan impoten
k. Pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin

dalam kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.

2.1.8 Komplikasi

Komplikasi penyakit DM diklasifikasikan menjadi dua, yaitu

komplikasi yang bersifat akut dan kronis. Komplikasi akut merupakan

komplikasi yang harus ditindak cepat atau memerlukan pertolongan

segera. Sedangkan komplikasi kronis merupakan komplikasi yang timbul

setelah penderita mengidap diabetes mellitus selama 5-10 tahun atau lebih

(Mahendra dkk, 2008).

Komplikasi akut meliputi ketoasidosis diabetika (DKA), koma non

ketosis, hiperosmolar (koma hiperglikemia), dan hiperglikemia. Sementara

komplikasi kronis meliputi komplikasi mikrovaskuler yaitu komplikasi

dimana pembuluh-pembuluh rambut kaku atau menyempit sehingga organ

yang seharusnya mendapatkan suplai darah dari pembuluh-pembuluh

trsebut menjadi kekurangan suplai. Dan komplikasi makrovaskuler atau

komplikasi yang mengenai pembuluh darah arteri yang lebih besar

sehingga terjadi aterosklerosis (Mahendra dkk, 2008).

Berikut beberapa kerusakan dan gangguan yang terjadi akibat

komplikasi penyakit diabetes mellitus (Mahendra dkk, 2008) :


17

a. Kerusakan pada pembuluh darah (vasculopaty)


Kerusakan pada dinding pembuluh darah akan mengakibatkan masalah

pada jantung dan otak, serta gangguan pada pembuluh darah di kaki.

Akibatnya :
1) Makro dan mikrovaskuler sirkulasi akan terganggu
2) Peningkatan tekanan darah
3) Infark hati dan cerebral.

Penyempitan pembuluh darah disebabkan adanya tumpukan lemak

pada dinding pembuluh darah. Penumpukan lemak ini tidak hanya

diakibatkan oleh pola makan yang tidak normal, tetapi juga disebabkan

oleh kontrol pada metabolisme karbohidrat di hati tidak normal.

b. Gangguan fungsi jantung


Gangguan pada pembuluh darah akan mengakibatkan aliran darah

ke jantung terhambat atau terjadi iskemia atau kekurangan oksigen di otot

jantung, timbul angina pectoris yaitu sakit di daerah dada, lengan, dan

rahang) bahkan pada akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung.


c. Gangguan fungsi pembuluh otak
Pasien sering merasakan berat di belakang kepala, leher, dan

pundak, pusing (vertigo), serta pendengaran dan penglihatan terganggu.

Jika hal ini dibiarkan, gangguan neurologis akan muncul, misanya dalam

bentuk stroke yang disebabkan oleh penyumbatan dan pendarahan.


d. Gangguan pembuluh darah di kaki
Berkurangnya sirkulasi darah dan oksigen ke kaki atau betis

menyebabkan rasa sakit di betis muncul sewaktu berjalan kaki. Pasien

harus berhenti dan duduk untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.Selain

penyumbatan pembuluh darah besar pada kaki, mikro sirkulasi dikaki juga
18

mudah terlambat. Hal ini penyebab utama gangrene (pembusukan

jaringan) yang sering diderita pasien diabetes.


e. Tidak stabilnya tekanan darah
Tekanan darah tinggi disebabkan oleh buruknya kondisi pembuluh

darah dan memburuknya fungsi ginjal.


f. Gangguan pada system saraf (Neuropathy)
Neuropathy adalah salah satu komplikasi diabetes

mellitus.Kerusakan pada system saraf ini lebih memacu pada saraf

sensorik (saraf perasa), menimbulkan rasa sakit, kesemutan, serta baal

(mati rasa) pada kaki dan tangan.


g. Gangguan mata (Retinopathy)
Retinopathy disebabkan memburuknya kondisi mikro sirkulasi

sehingga terjadi kebocoran pada pembuluh retina. Hal ini bahkan bisa

menjadi salah satu penyebab kebutaan.


h. Gangguan ginjal (Nefropathy)
Sebab utama gangguan ginjal pada pasien diabetes adalah

buruknya mikrosirkulasi. Gangguan ini sering muncul paralel dengan

gangguan pembuluh darah di mata. Penyebab lainnya adalah proses kronis

dari hipertensi yang akhirnya merusak ginjal.


i. Gangguan pada kaki karena diabetes mellitus
Kaki adalah bagian tubuh yang paling sensitf pada pasien diabetes

mellitus. Ada beberapa factor yang berperan dalam perubahan ini, yaitu :
a. Terhambatnya sirkulasi menimbulkan rasa sakit pada betis kaki

sewaktu berjalan, gangrene (gangguan makro dan mikrosirkulasi-

vasculopathy)
b. Gangguan pada saraf (neuropathy), yakni kerusakan pada saraf di

otot, kulit, dan kerusakan saraf autonom.


c. Sensitive terhadap infeksi di kaki.
j. Gangguan pada otot dan sendi-sendi
Terhambatnya ruang gerak sendi dan otot banyak diderita pada

orang tua, namun, kini gejala tersebut juga kerap dirasakan pada pasien

usia muda yang menderita diabetes mellitus tipe 2.


19

2.2 Asuhan Gizi

Asuhan gizi merupakan serangkaian kegiatan yang

terorganisir/terstruktur yang memungkinkan untuk identifikasi kebutuhan

gizi. Pelayanan gizi rawat inap sering disebut juga dengan terapi gizi

medik. Pelayanan kesehatan paripurna seorang pasien, baik rawat inap

maupun rawat jalan, secara teoritis memerlukan tiga jenis asuhan (care)

yang pada pelaksanaannya dikenal sebagi pelayan (service). Ketiga jenis

asuhan tersebut adalah : asuhan medik, asuhan keperawatan dan asuhan

gizi (Depkes RI, 2006a).

Tujuan utama asuhan gizi adalah memenuhi kebutuhan zat gizi

pasien secara optimal baik berupa pemberian makanan pada pasien yang

dirawat maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan. Untuk mencapai

tujuan tersebut diperlukan kerjasama tim yang terdiri dari unsur terkait

untuk melaksanakan urutan kegiatan, yang dikelompokan menjadi lima (5)

kegiatan, yaitu :

1. Membuat diagnosis masalah gizi

2. Menentukan kebutuhan terapi gizi. Dalam pelaksanaan asuhan gizi,

penentuan terapi gizi pasien perlu mempertimbangkan tiga (3) macam

kebutuhan yaitu a) penggantian (replacement), b) pemeliharaan

(maintenance), dan c) penambahan akibat kehilangan (loss) yang

berkelanjutan dan untuk pemulihan jaringan dengan berpedoman

kepada : tepat zat gizi (bahan makanan), tepat formula, tepat bentuk,

tepat cara pemberian, serta tepat dosis dan waktu.


20

3. Memilih dan mempersiapkan bahan/makanan/formula khusus (oral,

enteral dan parenteral) sesuai kebutuhan.

4. Melaksanakan pemberian makanan.

5. Evaluasi/pengkajian gizi dan pemantauan.

Dalam mengelola Diabates Melitus secara umum sesuai dengan

Konsensus Pengelolaan DM di Indonesia tahun 2006 yaitu untuk jangka

pendek adalah menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahankan

rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. Untuk

jangka panjang adalah mencegah dan menghambat progresivitas penyulit

mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati. Dan tujuan akhir

pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM (PERKENI,

2011).
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian

glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui

pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri

dan perubahan perilaku (PERKENI, 2011).

Pilar utama pengelolaan DM (PERKENI, 2011).:

1) Edukasi
Edukasi merupakan bagian integral asuhan gizi diabetes. Edukasi

diabetes adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan

keterampilan dalam pengelolaan diabetes yang diberikan kepada setiap

pasien diabetes, keluarga, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan

pihak perencana kebijakan. Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat

pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan.

Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif


21

pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien

dalam menuju perubahan perilaku sehat. Untuk mencapai keberhasilan

perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya

peningkatan motivasi. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah

mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus

diberikan kepada pasien. Pemantauan kadar glukosa darah dapat

dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.


2) Perencanaan makan / Terapi Nutrisi Medis (TNM)
Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari

penatalaksanaan diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah

keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi,

petugas kesehatan yang lain serta pasien dan keluarganya). Setiap

penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan

kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi.


Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama

dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang

seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-

masing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan

pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan

jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat

penurun glukosa darah atau insulin.

A. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:


Karbohidrat
a. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 4565% total asupan energi.
b. Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat

tinggi.
22

c. Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes

dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain


d. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
e. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal

tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted-Daily

Intake)
f. Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat

dalam sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan

buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori

sehari.

Lemak
a. Asupan lemak dianjurkan sekitar 2025% kebutuhan kalori. Tidak

diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.


1) Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
2) Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak

tidak jenuh tunggal.


b. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak

mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging

berlemak dan susu penuh (whole milk).


c. Anjuran konsumsi kolesterol <200 mg/hari.
Protein
a. Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.
b. Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang,cumi,dll),

daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu


c. Rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.

Natrium

a. Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan

anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg

atau sama dengan 6-7 gram (1 sendok teh) garam dapur.


b. Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400 mg.
23

Serat

a. Jumlah konsumsi sayuran dalam diet diabetes yaitu 2-3 porsi sayur

(1 porsi=satu gelas sayur masak yang sudah ditiriskan)


b. Jumlah konsumsi buah dalam diet diabetes yaitu 3-5 porsi buah (1

porsi setara satu pisang ambon sedang/50 gram)


c. Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari.

Pemanis alternatif

a. Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan

pemanis tak berkalori. Termasuk pemanis berkalori adalah gula

alkohol dan fruktosa.


b. Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol,

sorbitol dan xylitol.


d. Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan

kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.


e. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes

karena efek samping pada lemak darah.


f. Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara lain

aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame.


g. Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman

(Accepted Daily Intake / ADI).

Preskripsi diet secara singkat menggambarkan rekomendasi

mengenai kebutuhan energi dan zat gizi individual, jenis diet,

bentuk makanan, komposisi zat gizi, frekuensi makan.


a) Perhitungan kebutuhan gizi
Penentuan kebutuhan zat gizi yang diberikan kepada

pasien/klien atas dasar diagnosis gizi, kondisi pasien dan jenis

penyakitnya (Kemenkes, 2011).


b) Jenis Diet
Pada umumnya pasien masuk ke ruang rawat sudah dibuat

permintaan makanan berdasarkan pesanan/order diet awal


24

dari dokter jaga/ penanggung jawab pelayanan (DPJP).

Dietisien bersama tim atau secara mandiri akan menetapkan

jenis diet berdasarkan diagnosis gizi. Bila jenis diet yang

ditentukan sesuai dengan diet order maka diet tersebut

diteruskan dengan dilengkapi dengan rancangan diet. Bila diet

tidak sesuai akan dilakukan usulan perubahan jenis diet

dengan mendiskusikannya terlebih dahulu bersama (DPJP)

(Kemenkes, 2011).
c) Modifikasi diet
Modifikasi diet merupakan pengubahan dari makanan biasa

(normal). Pengubahan dapat berupa perubahan dalam

konsistensi; meningkatkan/menurunan nilai energi;

menambah/mengurangi jenis bahan makanan atau zat gizi yang

dikonsumsi; membatasi jenis atau kandungan makanan

tertentu; menyesuaikan komposisi zat gizi (protein, lemak, KH,

cairan dan zat gizi lain); mengubah jumlah, frekuensi makan

dan rute makanan. Makanan di RS umumnya berbentuk

makanan biasa, lunak, saring dan cair (Kemenkes, 2011).


d) Jadwal Pemberian Diet
Jadwal pemberian diet/makanan dituliskan sesuai dengan pola

makan sebagai contoh :


Makan Pagi: 500 Kalori; Makan Siang: 600 kalori; Makan

Malam: 600 Kalori; Selingan pagi: 200 Kalori; Selingan Sore:

200 Kalori.
e) Jalur makanan

Jalur makanan yang diberikan dapat melalui oral dan enteral

atau parenteral (Kemenkes, 2011).


25

3) Latihan jasmani
Kegiatan jasmani seharihari dan latihan jasmani secara teratur (34

kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu

pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan jasmani selain untuk

menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan

memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali

glukosa darah.
Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang

bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan

berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan

status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas

latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat

komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang

kurang gerak atau bermalasmalasan.


4) Obat berkhasiat hipoglikemik

Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan

makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat).

Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

1. Obat hipoglikemik oral


Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
a. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan

glinid.
b. Peningkat sensitivitas terhadap insulin (Tiazolidindion).
c. Penghambat gluconeogenesis (Metformin).
d. Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa

(Acarbose).
e. DPPIV inhibitor = Glucagon-like peptide-1 (GLP1)

2.3 Penatalaksanaan Gizi Diabetes Mellitus


2.3.1 Tujuan diet
26

Tujuan umum terapi gizi adalah membantu orang dengan diabetes

memperbaiki kebiasaan gizi dan olahraga untuk mendapatkan kontrol

metabolik yang lebih baik, dan beberapa tambahan tujuan khusus yaitu

(Sukardji, 2011) :
a. Mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal dengan

keseimbangan asupan makanan dengan insulin (endogen atau eksogen)

atau OHO dan tingkat aktivitas.


b. Mencapai kadar serum lipid yang optimal.
c. Memberikan energi yang cukup untuk mencapai berat badan yang

memadai pada orang dewasa, mencapai perkembangan yang normal

pada anak dan remaja, untuk peningkatan kebutuhan metabolic selama

kehamilan dan laktasi atau penyembuhan dari penyakit katabolik.


d. Menghindari dan menangani komplikasi akut orang dengan diabetes

yang menggunakan insulin seperti hipoglikemia, penyakit jangka

pendek, dan komplikasi kronik diabetes.


e. Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal.
2.3.2 Prinsip diet
3J (tepat jadwal makan, tepat jumlah kalori dan tepat jenis makanan)
Jadwal makan :
Jadwal yang dianjurkan yaitu 6 kali makan sehari (3 kali makanan utama

dan 3 kali makanan selingan) dengan interval waktu makan tiap 3 jam

(Abduracchin, dkk, 2008).


Contoh jadwal makan yang biasa digunakan :
- Makan besar pukul 07.00, pukul 13.00 dan pukul 19.00; makan kecil

(snack) : pukul 10.00, pukul 16.00 dan pukul 22.00.


Jumlah kalori yang biasa di pakai :
Makan Pagi: 500 Kalori; Makan Siang: 600 kalori; Makan Malam: 600

Kalori; Selingan pagi: 200 Kalori; Selingan Sore: 200 Kalori.


2.3.3 Syarat diet
1. Jumlah energi diberikan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan umur,

jenis kelamin, tinggi badan, aktivitas fisik, proses pertumbuhan, dan

kelainan metabolik.
27

2. Jumlah karbohidrat disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk

menggunakannya, yaitu berkisar 60 – 70% dari total konsumsi.


3. Makanan/minuman yang mengandung gula dibatasi, dan digunakan

jenis karbohidrat kompleks/makanan yang berserat.


4. Protein berkisar 12 – 20%, dan digunakan protein yang bernilai biologi

tinggi (nilai cernanya tinggi).


5. Lemak berkisar antara 20 – 25%, dan lemak jenuh serta kolestrol tidak

dikonsumsi.
6. Vitamin dan mineral diberikan sesuai dengan kebutuhannya.
2.3.4 Perhitungan Kebutuhan Zat Gizi pada Diabetes Mellitus
Penentuan status gizi pada penderita diabetes mellitus dengan

menggunakan rumus RBW (Relative Body Weight) yaitu (Tjokroprawiro,

1999) :
RBW = BB X 100%
TB - 100
Keterangan :
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (cm)
Setelah dihitung Persentase RBW, status gizi penderita diabetes mellitus

dibedakan menjadi :
Under nutrition : < 80%
Kurus (Underweight) : < 90%
Normal : 90 – 100%
Gemuk (Overweight) : > 110%
Obesitas Ringan : 120 -130%
Obesitas Sedang : >130 -140%
Obesitas Berat : > 140%
Obesitas Morbid : > 200%
Apabila sudah diketahui relative body weight nya, maka jumlah kalori

yang diperlukan sehari-hari untuk penderita diabetes mellitus adalah sebagai

berikut :
Kurus : BB x 40 – 60 kkal
Normal : BB x 30 kkal
Gemuk : BB x 20 kkal
Obesitas : BB x 10 – 15 kkal

2.4 Pengetahuan
28

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan

(Notoatmodjo, 2003).
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) kedalaman

pengetahuan yang diperoleh seseorang terhadap suatu rangsangan dapat

diklasifikasikan berdasarkan enam tingkat yaitu :


a. Tahu (know)
Merupakan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,

termasuk ke dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall)

terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima, antara lain : menguraikan,

mendefinisikan, mengatakan, dan lain sebagainya.


b. Memahami (comprehension)
Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar obyek

yang diketahui. Orang telah paham akan obyek atau materi harus

mampu menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.


c. Aplikasi (application)
Kemampuan dalam menggunakan materi yang telah dipelajari pada

situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi ini dapat diartikan sebagai

aplikasi atau menggunakan hukum-hukum rumus, metode, prinsip dan

lain sebagainya.
d. Analisis (analysis)
Kemampuan dalam menjabarkan materi atau sutau obyek dalam

komponen-komponen dan masuk ke dalam struktur organisasi tersebut.

Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti


29

dapat, mengembalikan, membuat, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan dan lain sebagainya.


e. Sintesis (synthesis)
Kemampuan dalam meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di

dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya dapat menyusun,

merencanakan, meringkas, dapat menyesuaikan dan lain sebagainya

terhadap suatu teori atau rumusan.


f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justufikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

dilaksanakan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, keluarga mampu

menilai bagaimana pelaksanaan pemenuhan kebutuhan lanjut usia yang

baik dan benar. Pengukuran atau penilaian pengetahuan menurut dapat

dikategorikan menjadi 4 yaitu:


a) Pengetahuan baik 75-100 %
b) Pengetahuan cukup 56-74%
c) Pengetahuan kurang <55%

Menurut Nasution (1993) pengetahuan dalam masyarakat

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :


1) Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan maka akan lebih mudah menerima hal –

hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal – hal baru tersebut.
2) Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak

akan memberikan pengetahuan yang lebih jelas.


3) Budaya
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkatan pengetahuan

seseorang karena informasi – informasi baru akan disaring kira –

kira susuai atau tidak dengan budaya yang dianut.


4) Pengalaman
30

Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu,

maksudnya pendidikan pendidikan yang lebih tinggi pengalamannya

akan lebih luas dan umur yang semakin banyak pengalamannya juga

akan semakin banyak.


5) Sosial ekonomi
Tingkat seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pengetahuan diabetes mellitus merupakan suatu pengetahuan yang

dimiliki oleh penderita diabetes mellitus mengenai pengertian diabetes

mellitus, tanda dan gejala diabetes mellitus, terapi diit diabetes mellitus dan

pemeriksaan diabetes mellitus. Menurut Notoatmodjo (2003), perubahan

perilaku melalui tiga tahap yaitu pencairan, proses bergerak dan pembekuan

kembali. Pada tahap pencairan, individu menyadari adanya masalah dan

alternative penyelesaian masalah dan individu mempunyai motivasi yang

kuat untuk beranjak pada tahap bergerak yaitu bergerak menuju tahap baru

karena telah cukup mempunyai informasi serta data.

Pada penyandang diabetes bentuk dari perubahan perilaku bermula

dari meningkatnya pengetahuan mengenai pengelolaan diabetes, kemudian

sikap untuk bersedia mendengarkan atau melihat informasi mengenai gizi,

mengikutsertakan kebiasaan diet atau pola makan yang baru dalam gaya

hidupnya, dukungan kelompok dan keluarga, serta penyuluhan gizi yang

berkelanjutan sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang

dalam berperilaku sesuai dengan pola hidup sehat (Soegondo, dkk, 2011).

2.5 Asupan Makan


Asupan makanan merupakan banyaknya atau jumlah pangan

secara tunggal maupun beragam jenis, yang dikonsumsi seseorang atau


31

sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan

fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya

untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh

zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk

memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis

adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan

masyarakat (Soesanti, 2012).


Asupan makanan merupakan faktor utama untuk memenuhi

kebutuhan gizi sebagai sumber tenaga, mempertahankan ketahanan tubuh

dalam menghadapi serangan penyakit dan untuk pertumbuhan (Soesanti,

2012).
Perbaikan asupan makan dapat menggunakan analisis yang

bersifat individual maupun kelompok dengan mengacu kepada Angka

Kecukupan Gizi (AKG). AKG ini diantaranya dipengaruhi oleh usia,

jenis kelamin, dan faktor infeksi (Soesanti, 2012).

Metode pengukuran asupan makanan digunakan untuk mendapatkan

datakonsumsi makanan tingkat individu. Ada beberapa metode pengukuran

konsumsi makanan, yaitu sebagai berikut :

1. Recall 24 jam (24 Hour Recall)


Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah makanan

serta minuman yang telah dikonsumsi dalam 24 jam yang lalu. Recall

dilakukan pada saat wawancara dilakukan dan mundur ke belakang sampai

24 jam penuh. Wawancara menggunakan formulir recallharus dilakukan

oleh petugas yang telah terlatih. Data yang didapatkan dari hasil recall

lebih bersifat kualitatif. Untuk mendapatkan data kuantitatif maka perlu


32

ditanyakanpenggunaan URT (Ukuran Rumah Tangga). Sebaiknya recall

dilakukan minimal dua kali dengan tidak berturut-turut. Recall yang

dilakukan sebanyak satu kali kurang dapat menggambarkan kebiasaan

makan seseorang (Supariasa, 2001).


Metode recall sangat tergantung dengan daya ingat individu,

sehingga sebaiknya responden memiliki ingatan yang baik agar dapat

menggambarkan konsumsi yang sebenarnya tanpa ada satu jenis makanan

yang terlupakan. Recall tidak cocok bila dilakukan pada responden yang di

bawah 7 tahun dan di atas 70 tahun. Recall dapat menimbulkan the flat

slope syndrome, yaitu kecenderungan responden untuk melaporkan

konsumsinya. Responden kurus akan melaporkan konsumsinya lebih

banyak dan responden gemuk akan melaporkan konsumsi lebih sedikit,

sehingga kurang menggambarkan asupan energi, protein, karbohidrat, dan

lemak yang sebenarnya (Supariasa, 2001).


2. Food Record
Food record merupakan catatan responden mengenai jenis dan jumlah

makanan dan minuman dalam satu periode waktu, biasanya 1 sampai 7

hari dan dapat dikuantifikasikan dengan estimasi menggunakan ukuran

rumah tangga (estimated food record) atau menimbang (weighed food

record) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).


3. Food Frequency Questionnaire(FFQ)
FFQ merupakan metode pengukuran konsumsi makanan dengan

menggunakan kuesioner untuk memperoleh data mengenai frekuensi

seseorang dalam mengonsumi makanan dan minuman. Frekuensi

konsumsi dapat dilakukan selama periode tertentu, misalnya harian,

mingguan, bulanan maupun tahunan. Kuesioner terdiri dari daftar jenis

makanan dan minuman (Supariasa, 2001).


33

4. Penimbangan makanan (Food Weighing)


Metode penimbangan makanan dilakukan dengan cara menimbang

makanan disertai dengan mencatat seluruh makanan dan minuman yang

dikonsumsi responden selama satu hari. Persiapan pembuatan makanan,

penjelasan mengenai bahan-bahan yang digunakan dan merk makanan

(jika ada) sebaiknya harus diketahui (Gibson, 2005).

5. Metode Riwayat Makan


Metode riwayat makan dilakukan untuk menghitung asupan makanan yang

selalu dimakan dan pola makan seseorang dalam waktu yang relatif lama,

misalnya satu minggu, satu bulan, maupun satu tahun. Metode ini terdiri

dari 3 komponen, yaitu wawancara recall 24 jam, memeriksa kebenaran

recall 24 jam dengan menggunakan kuesioner berdasarkan frekuensi

konsumsi sejumlah makanan, dan konsumsi makanan selama tiga hari,

termasuk porsi makanan (Gibson, 2005).


34
BAB 3

KERANGKA KONSEP

FAKTOR PENYEBAB ASUHAN GIZI Dampak DM :


 Keturunan (TERAPI EDUKASI)  Kerusakan
 Gaya Hidup Pada mikrovaskuler
 Obesitas DIABETES MELLITUS
(retinopati,
 Kurang
nefropati, dan
Olahraga/
neuropati)
kurang gerak  Berkurangnya
 kehamilan
angka harapan
hidup dan kualitas
hidup
Faktor yang  Peningkatan risiko
mempengaruhi komplikasi
pengetahuan : PENGETAHUAN makrovaskuler
 Tingkat pendidikan
 Informasi
 Budaya
 Pengalaman
 Sosial ekonomi

ASUPAN MAKAN

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Keterangan :

Diteliti

Tidak diteliti

35
36

Berdasarkan kerangka konsep diatas dijelaskan bahwa timbulnya diabetes

mellitus pada pasien diabetes mellitus disebabkan oleh keturunan, aya hidup,

obesitas, kurang olahraga/ kurang gerak, dan kehamilan. Dan akibat atau

komplikasi yang timbul karena diabetes mellitus yaitu kerusakan mikrovaskuler

(retinopati, nefropati, dan neuropati), berkurangnya angka harapan hidup,

peningkatan risiko komplikasi makrovaskuler (penyakit jantung iskemik, stroke,

dan penyakit pembuluh darah perifer), dan berkurangnya kualitas hidup.

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya komplikasi yang semakin

parah, perlu adanya asuhan gizi pada pasien diabetes mellitus dengan pemberian

asuhan gizi mengenai penatalaksanaan diet diabetes mellitus. Sehingga asuhan

gizi akan mempengaruhi pengetahuan, dan pengetahuan mempengaruhi asupan

makan.

Hipotesa Penelitian

Ho :

1. Ada pengaruh penerapan asuhan gizi terhadap pengetahuan pada penderita

diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya


2. Ada pengaruh penerapan asuhan gizi terhadap asupan makan pada penderita

diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya

H1 :

1. Tidak ada pengaruh penerapan asuhan gizi terhadap pengetahuan pada

penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya


2. Tidak ada pengaruh penerapan asuhan gizi terhadap asupan makan pada

penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya


BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian penelitan ini adalah pra eksperimen dengan rancangan

one group pre-test and post-test design. Pada rancangan ini, tidak terdapat

kelompok pembanding (kontrol), tetapi dilakukan observasi pertama (pre-test)

yang memungkinkan dapat mengetahui adanya perubahan pengetahuan dan

asupan makan setelah diberikan asuhan gizi.

4.2 Waktu Dan Tempat Penelitian

Tabel 4.1. Waktu Pelaksanaan Penelitian


Kegiatan Bulan
Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul
Pembuatan
Proposal
Pengesahan
Proposal
Pengumpulan
Data
Pengolahan
Data
Analisa Data

Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Pasien Puskesmas Pucang Sewu

Surabaya.

37
38

4.3 Populasi Dan Sampel Penelitian

4.3.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah semua penderita diabetes mellitus tipe 2 yang

mendapatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya

yaitu sebanyak 130 orang.

4.3.2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan

teknik pengambilan sampel.

Besarnya sampel dapat di hitung menggunakan rumus (Mendenhall, 1990) :

Keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi4
B = Batas kekeliruan

Z1-α/2 = 1,96 pada α 0,05

D = (39/1,96)2 = 396,01

= (130x76x54) : ((130-1)396,01+(76x54))
= 9,667
dari hasil perhitungan diperoleh sampel penelitian sebesar 10 orang.

4.3.3 Teknik Pengambilan Sampel


39

Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel dengan menggunakan teknik

sample acak (Simple Random Sampling). Adapun pemilihan sampel

didasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

1. Pasien diabetes mellitus tipe 2 yang memiliki kadar gula puasa ≥

126 mmHg

2. Pasien yang menjalani rawat jalan di Puskesmas Pucang Sewu.


3. Pasien belum pernah mendapatkan penyuluhan gizi atau konsultasi

gizi mengenai diabetes mellitus.


4. Responden bersedia menjadi sampel penelitian yang dinyatakan

dengan menandatangani surat persetujuan (informed concern).

b. Kriteria Eksklusi

1. Pasien diabetes mellitus tipe 1 (keturunan)


2. Pasien hamil.
3. Pasien mengalami komplikasi Diabetes Mellitus.

4.4 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional

4.4.1 Variabel Penelitian

Variabel bebas : Asuhan Gizi

Variabel Terikat : Pengetahuan dan Asupan makan

4.4.2 Definisi Operasional

Tabel 4.2. Definisi Operasional Penelitian

No Variabel Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala Data

1 Asuhan Gizi Serangkaian kegiatan yang - -


40

terorganisir/terstruktur yang
memungkinkan untuk identifikasi
kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan
untuk memenuhi kebutuhan
2 Pengetahuan Hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah Kuesioner Ordinal
orang melakukan penginderaan Kategori :
terhadap suatu obyek tertentu. a) Baik Persentase jawaban
benar 75 - 100%
b) Cukup : Persentase jawaban
benar 56 - 74%
c) Kurang: Persentase jawaban
benar < 55%
3 Asupan makan Semua jenis makanan dan Mencatat jenis dan jumlah bahan Ordinal
minuman yang dikonsumsi tubuh setiap makanan yang dikonsumsi pada
hariuntuk menduga keadaan gizi periode 24 jam yang lalu.
kelompok masyarakat atau individu Kategori :
bersangkutan.
a) Lebih : >120 %
b) Baik : 90 – 120%
c) Defisit ringan : 80 – 89%
d) Defisit sedang : 70 – 79%
e) Defisit berat : < 70%

4.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian, terdapat 2 jenis data yaitu data

primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan, antara lain :

a. Data dasar yang meliputi usia, pendidikan, jenis kelamin, tingkat

pendidikan, pekerjaan, berat badan, tinggi badan, pola makan sehari-

hari, alergi, makanan yang disukai, makanan yang tidak disukai,

makanan yang dibatasi, dan makanan yang dihidari responden yang

dikumpulkan melalui wawancara dan pengukuran antropometri

dengan menggunakan instrument form anamese riwayat gizi.


b. Data mengenai pengetahuan responden yang diambil melalui

kuesioner tentang pengetahuan. Data kuesioner didapatkan sebanyak 2

kali yaitu pada hari pertama sebelum responden diberikan asuhan gizi

dan pada hari terakhir setelah responden diberikan asuhan gizi.


41

c. Data Asupan makan yang diperoleh dengan recall 24 jam. Data

asupan makan didapatkan sebanyak 2 kali yaitu pada hari pertama

sebelum diberikan asuhan gizi dan setelah diberikan asuhan gizi.

Untuk data asupan makan setelah asuhan gizi, diukur sebanyak 3 kali,

yaitu setiap 3 hari sekali, kemudian diambil rata-rata dari ketiga data

tersebut. Data asupan makan diambil melalui wawancara dengan

responden dan pencatatan dalam form recall dengan mengestimasi

beratnya dalam ukuran rumah tangga (URT).

Selain data primer, juga ada data sekunder yang diambil dari buku rekam

medik di puskesmas meliputi nama, diagnosa penyakit pasien, dan alamat

pasien.

4.6 Instrument Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Form surat pernyataan kesediaan responden dijadikan sebagai sampel

penelitian
2. Form recall 24 jam.
3. Form kuesioner mengenai pengetahuan diabetes mellitus.
4. Data rekam medik pasien/ Data Laboratorium.
5. Form Anamese Riwayat Gizi.
6. Software computer SPSS 16.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Alat tulis
2. Komputer
3. Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM)
4. Ukuran Rumah Tangga (URT)
5. Mikrotoa
6. Timbangan berat badan digital
7. Medline dengan kapasitas 150 cm dan ketelitian 0,1 cm
42

8. CD Menu
9. Leaflet diet diabetes mellitus
10. Food Model

4.7 Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data meliputi kegiatan :

1. Editing

Hasil recall 24 jam dan kuesioner dilakukan penyuntingan (editing)

dengan cara pengecekan terhadap hasil recall 24 jam dan kuesioner

apakah data sudah lengkap atau belum. Jika data tidak lengkap, data tidak

diolah dalam pengolahan dan dianggap sebagai data missing.

2. Coding

Setelah data diedit, selanjutnya dilakukan pengkodean, yakni mengubah

data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

Untuk data asupan makan, jika data masih dalam satuan URT (Ukuran

Rumah Tangga) diubah dalam satuan gram. Kemudian dikategorikan

menurut kategori yang telah ditetapkan, pemberian kode untuk data

asupan makan antara lain yaitu :

1 = defisit berat

2 = defisit sedang

3 = defisit ringan

4 = baik

5 = lebih
43

Untuk data pengetahuan juga demikian, data diubah menjadi data angka

atau bilangan dengan memberikan kode

1 = kurang

2 = cukup

3 = baik

3. Memasukkan data (data entry)

Setelah data diubah kemudian dimasukkan kedalam program atau

software computer (SPSS 16.0 for windows)

4. Pembersihan data

Pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-

kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan

pembetulan atau koreksi.

4.8 Teknik Analisa Data

Setelah data ditabulasi, data dianalisa secara deskriptif. Data yang

terkumpul dari kuesioner yang telah diisi kemudian diolah dan ditabulasi

dengan menggunakan perangkat komputer. Hasil pengolahan data dari

software komputer kemudian digabung secara analitik, yaitu : Analisa

statistic non parametric untuk mengetahui pengaruh sebelum dilakukan dan

setelah dilakukan asuhan gizi terhadap pengetahuan dan asupan makan

dengan menggunakan uji Sign test dengan tingkat kemaknaan (α) = 0,05.
44
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Puskesmas Pucang Sewu

Puskesmas Pucang Sewu terletak di Kecamatan Gubeng, Surabaya.

Puskesmas ini terletak di tepi jalan utama sehingga memudahkan

jangkauan oleh pasien untuk berobat. Wilayah kerja Puskesmas ini mencakup

kelurahan Kertajaya, Pucang Sewu, dan Baratajaya.

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas ini berkisar 52.604

jiwa yang terdiri dari 24.810 penduduk laki-laki dan 27.794

penduduk perempuan.

Program pelayanan yang dilakukan oleh Puskesmas Pucang Sewu

antara lain Poli umum, Poli lansia, Kesehatan ibu dan anak, Imunisasi,

Poli Gigi, Pojok Gizi, Promkes, Pojok kesling, Batra, Apotik, dan

Laboratorium.

Tabel 5.1. Kunjungan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Non Komplikasi Bulan Oktober –
Desember 2013 di Poli umum Puskesmas Pucang Sewu.
Jenis Umur
Total
Kelamin 15 – 44 tahun 45 -55 tahun 56 – 64 tahun >= 65 tahun
Laki-laki 2 21 22 70 115
Perempuan 22 74 91 88 275
Total 390
Sumber : Laporan kunjungan pasien di poli umum bulan Oktober – Desember 2013

Berdasarkan hasil laporan kunjungan pada bulan Oktober 2013 sampai

dengan bulan Desember 2013, penyakit Diabetes Mellitus termasuk peringkat 3

dari penyakit terbanyak yang ada di Puskesmas Pucang Sewu dengan Persentase

8,927%.

45
46

5.2 Karakteristik Responden

5.2.1 Jenis Kelamin

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin yang

dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2014
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 2 20%
Perempuan 8 80%
Total 10 100%

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 8 dari 10 responden berjenis

kelamin perempuan dengan Persentase 80%. Sedangkan responden yang berjenis

kelamin laki-laki hanya ada 2 orang (20%). Berdasarkan penelitian Santono, Lian

& Yudi (2006) dalam Karwaji (2013), angka kejadian DM tipe 2 pada wanita lebih

tinggi dari laki-laki. Wanita lebih berisiko mengalami peningkatan indeks massa

tubuh yang lebih besar. Selain itu pada perempuan memiliki tingkat kecemasan

atau stress yang lebih tinggi dari laki-laki. Pada kondisi stres, hormon stres yang

berada dalam tubuh akan dikeluarkan yang kemudian dapat mempengaruhi

peningkatan kadar gula darah (Smeltzer & Bare, 2001).

5.2.2 Umur

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan umur

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Tahun 2014


Usia Frekuensi Persentase
<1 Tahun 0 0%
1 – 4 Tahun 0 0%
5 – 14 Tahun 0 0%
15 – 44 Tahun 0 0%
45 – 55 Tahun 2 20%
56 – 64 Tahun 5 50%
>= 65 Tahun 3 30%
Total 10 100%
47

Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa responden yang berumur 45 – 55

tahun ada 2 orang (20%). Responden yang berumur 56 – 64 tahun ada 5 orang

(50%), sedangkan yang berumur >= 65 tahun ada 3 orang (30%). DM tipe 2

biasanya terjadi setelah usia 30 tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40

tahun (Sudoyo, 2006). Usia Lanjut akan memiliki peningkatan risiko terhadap

terjadinya DM dan intoleransi glukosa karena faktor degeneratif umumnya yaitu

menurunnya fungsi tubuh untuk memetabolisme glukosa (Wicaksono, 2011).

5.2.3 Pekerjaan

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan.

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2014


Pekerjaan Frekuensi Persentase
Ibu Rumah Tangga 8 80%
Tidak bekerja 1 10%
Swasta 1 10%
Total 10 100%

Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa sebagian besar responden bekerja

sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 8 orang (80%). Pekerjaan sebagai IRT

termasuk dalam aktivitas ringan. Bahwa orang yang aktivitas fisiknya ringan

memiliki risiko 4,36 kali lebih besar untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan

dengan orang yang memiliki aktivitas yang sedang dan berat (Sujaya, 2009).

5.2.4 Tingkat Pendidikan

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014
Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase
Tidak Sekolah 0 0
Tamat SD 2 20%
Tamat SMP 6 60%
Tamat SMA 2 20%
Perguruan Tinggi 0 0
Total 10 100%
48

Berdasarkan tabel 5.5 diatas, diketahui bahwa sebagian besar

responden tamat SMP yaitu sebanyak 6 orang (60%). Tingkat pendidikan

mempunyai pengaruh terhadap kejadian DM tipe 2. Orang dengan tingkat

pendidikan yang tinggi biasanya akan memiliki banyak pengetahuan tentang

kesehatan. Dengan adanya pengetahuan tersebut orang akan memiliki kesadaran

dalam menjaga kesehatannya (Irawan, 2010).

5.2.5 Status Gizi

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan status gizi.

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Gizi Tahun 2014
Status Gizi Frekuensi Persentase
Under nutrition 0 0%
Underweight 0 0%
Normal 3 30%
Overweight 1 10%
Obesitas Ringan 2 20%
Obesitas Sedang 3 30%
Obesitas Berat 1 10%
Obesitas Morbid 0 0%
Total 10 100%

Berdasarkan tabel 10 diatas, dapat diketahui bahwa status gizi

responden beragam, responden yang memiliki status gizi normal ada 3 orang

(30%), responden yang memiliki status gizi overweight ada 1 orang (10%),

responden dengan status gizi obesitas ringan ada 2 orang (20%), responden

dengan status gizi obesitas sedang ada 3 orang (30%), dan responden dengan

status gizi obesitas berat ada 1 orang.

5.3 Pengetahuan

Pengetahuan responden diukur 2 kali yaitu sebelum responden

diberikan asuhan gizi (pre test) dan setelah responden diberikan asuhan gizi (post
49

test). Pengetahuan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu baik (Persentase skor 76%

- 100%), cukup (Persentase skor 56% - 75%), dan kurang (Persentase skor <56%).

a. Pre test

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan kategori hasil pre test

tentang pengetahuan.

Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasakan Hasil Pre test Tentang
Pengetahuan
Kategori Frekuensi Persentase
Baik 3 30%
Cukup 6 60%
Kurang 1 10%
Total 10 100%

Melalui hasil pre test pada tabel 5.7 diketahui bahwa sebagian besar

responden memiliki pengetahuan cukup yaitu sebanyak 6 orang (60%). Hanya 1

orang (10%) yang memiliki pengetahuan kurang, dan 3 orang (30%) yang

memiliki pengetahuan baik.

b. Post test

Berikut adalah distribusi frekuensi responden berdasarkan kategori hasil post test

mengenai pengetahuan.

Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hasil Post Test Tentang
Pengetahuan
Kategori Frekuensi Persentase
Baik 10 100 %
Cukup 0 0
Kurang 0 0
Total 10 100 %

Melalui hasil post test pada tabel 5.8 dapat diketahui bahwa semua

responden memiliki pengetahuan baik (100%). Tidak ada sama sekali yang

pengetahuannya cukup dan kurang.


50

5.4 Asupan Makan

Asupan makan responden didapat dari hasil recall 24 jam sebelum

diberikan asuhan gizi dan setelah diberikan asuhan gizi. Setelah diberikan asuhan

gizi, responden di recall 24 jam setiap 3 hari sekali sebanyak 3 kali. Hasil recall

tersebut dirata-rata, kemudian hasilnya merupakan asupan makan responden

setelah diberikan asuhan gizi. Tingkat konsumsi responden dibedakan menjadi 4

kategori yaitu lebih (Persentase >120%), baik (Persentase 90-120%), defisit

ringan (Persentase 80-89%), defisit sedang (Persentase 70-79%), dan defisit berat

(Persentase <70%).

Tabel 5.9. Asupan Makan Responden Tahun 2014


Sebelum Sesudah
Zat Gizi Kategori
Jumlah % Jumlah %
Lebih 3 30% 1 10%
Baik 5 50% 3 30%
Energi Defisit ringan 0 0 1 10%
Defisit sedang 0 0 2 20%
Defisit berat 2 20% 3 30%
Lebih 6 60% 2 20%
Baik 0 0 3 30%
Protein Defisit ringan 0 0 2 20%
Defisit sedang 2 20% 0 0
Defisit berat 2 20% 3 30%
Lebih 8 80% 7 70%
Baik 1 10% 2 20%
Lemak Defisit ringan 0 0 0 0
Defisit sedang 0 0 0 0
Defisit berat 1 10% 1 10%
Lebih 1 10% 0 0
Baik 3 30% 3 30%
Karbohidrat Defisit ringan 2 20% 2 20%
Defisit sedang 2 20% 2 20%
Defisit berat 2 20% 3 30%

5.4.1 Asupan energi

Sebelum diberikan asuhan gizi, 5 dari 10 responden asupan energinya

baik, namun ada pula 3 orang (30%) yang asupan energinya lebih dan 2 orang
51

(20%) yang asupan energinya defisit berat. Akan tetapi, setelah diberikan asuhan

gizi, responden yang asupan energinya lebih turun menjadi 1 orang (10%), yang

asupan energinya baik turun menjadi 3 orang (30%), sedangkan yang defisit berat

naik menjadi 3 orang (30%). Berdasarkan hasil tersebut, sebagian responden

asupan energinya berangsur-angsur menjadi baik dan meningkat dari sebelum

diberikan asuhan gizi, dan sebagian lainnya masih tergolong lebih dan kurang. Hal

ini dikarenakan hanya sebagian responden saja yang mau mematuhi anjuran diit

yang diberikan.

5.4.2 Asupan protein

Berdasarkan tabel 5.9 diketahui bahwa sebelum diberikan asuhan gizi,

asupan protein responden sebagian besar masih tergolong lebih yaitu sebanyak 6

orang (60%). Namun masih ada juga responden yang asupan proteinnya tergolong

defisit, ada 2 orang (20%) yang asupan proteinnya defisit sedang, dan 2 orang

(20%) juga tergolong asupan proteinnya defisit berat.

Setelah diberikan asuhan gizi, responden yang asupan proteinnya

lebih berubah menjadi baik sebanyak 3 orang (30%) dan ada juga yang berubah

menjadi defisit ringan sebanyak 2 orang (20%). Sedangkan yang asupan

proteinnya tergolong lebih, turun menjadi 2 orang (20%).

5.4.3 Asupan Lemak

8 dari 10 responden asupan lemaknya tergolong lebih sebelum

diberikan asuhan gizi, hal ini dikarenakan, rata-rata responden menyukai makanan

yang diolah dengan cara digoreng. Selain itu, ada yang asupan lemaknya baik

hanya 1 orang (10%), dan yang tergolong defisit berat juga 1 orang (10%). Akan

tetapi, setelah diberikan asuhan gizi, asupan lemak yang tergolong lebih turun
52

menjadi 7 orang (70%). Persentase responden yang asupan lemaknya tergolong

baik menjadi 20%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa responden yang asupan

lemaknya menjadi baik hanya 1 orang. Hal ini dikarenakan, responden yang lain

masih belum bisa membiasakan dirinya untuk membatasi makanan yang diolah

dengan menggunakan minyak.

5.4.4 Asupan Karbohidrat

Sebelum diberikan asuhan gizi, asupan karbohidrat responden masih

banyak yang tergolong defisit. Dan masih ada yang tergolong lebih, yaitu 1 orang

(10%). Namun setelah diberikan asuhan gizi, asupan karbohidrat responden yang

tergolong lebih berubah menjadi defisit ringan yaitu sebanyak 2 orang (20%)

dikarenakan responden telah mematuhi anjuran menu yang diberikan. Akan tetapi,

jumlah responden yang tidak patuh pada anjuran menu masih lebih banyak

dibandingkan yang patuh, yang dimana menyebabkan asupan karbohidratnya

tidak berbeda dengan sebelum diberikan asuhan gizi.

5.5 Pengaruh Asuhan Gizi Terhadap Pengetahuan

Untuk melihat hasil perbedaan skor hasil pre test dan post test,

dilakukan pengujian sebagai berikut.

Tabel 5.10. Hasil Uji tanda pre test – post test.


Exact Sig 2-tailed
Skor post test – pre test 0,016

Perhitungan uji statistik menghasilkan nilai Exact Sig 2-tailed

(signifikansi) sebesar 0,016. Exact Sig 2-tailed < α (0,016 < 0,05) maka H0 ditolak.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan skor yang signifikan
53

antara hasil post test dengan hasil pre test, maka dapat disimpulkan bahwa ada

pengaruh penerapan asuhan gizi terhadap pengetahuan pasien diabetes mellitus

tipe 2.

5.6 Pengaruh Asuhan Gizi Terhadap Asupan Makan

5.6.1 Asupan Energi

Hasil pengujian statistik asupan energi menggunakan uji tanda (Sign

Test), dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.11. Hasil Uji Tanda Asupan Energi


Exact Sig 2-tailed
Energi sebelum - Energi setelah 0,289

Perhitungan uji statistik menghasilkan nilai Exact Sig 2-tailed

(signifikansi) sebesar 0,289. Oleh karena Exact Sig. > α (0,289 > 0,05) maka H0

diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh

penerapan asuhan gizi terhadap asupan energi pasien diabetes mellitus tipe 2.

5.6.2 Asupan Protein

Hasil pengujian statistik asupan protein menggunakan uji tanda (Sign

Test), dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.12. Hasil Uji Tanda Asupan Protein


Exact Sig 2-tailed
Protein sebelum – Protein setelah 0,687

Perhitungan uji statistik menghasilkan nilai Exact Sig. (signifikansi)

sebesar 0,687. Oleh karena Exact Sig. > α (0,280 > 0,05) maka H 0 diterima.
54

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh penerapan asuhan

gizi terhadap asupan protein pasien diabetes mellitus tipe 2.

5.6.3 Asupan Lemak

Hasil pengujian statistik asupan lemak menggunakan uji tanda (Sign Test),

dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.13. Hasil Uji Tanda Asupan Lemak


Exact Sig 2-tailed
Lemak sebelum - Lemak setelah 0,5

Perhitungan uji statistik menghasilkan nilai Exact Sig. (signifikansi)

sebesar 0,317. Oleh karena, Exact Sig. > α (0,5 > 0,05) maka H0 diterima. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh penerapan asuhan gizi

terhadap asupan lemak pasien diabetes mellitus tipe 2.

5.6.4 Asupan Karbohidrat

Hasil pengujian statistik asupan karbohidrat menggunakan uji tanda (Sign

Test), dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.14. Hasil Uji Tanda Asupan Karbohidrat


Exact Sig 2-tailed
Karbohidrat sebelum-karbohidrat setelah 0,125

Perhitungan uji statistik menghasilkan nilai Exact Sig. (signifikansi)

sebesar 0,125. Oleh karena, Exact Sig > α (0,125 > 0,05) maka H0 diterima.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh penerapan asuhan

gizi terhadap asupan karbohidrat pasien diabetes mellitus tipe 2.


55

5.7 Pembahasan

5.7.1 Pengetahuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang

diabetes mellitus tipe 2 sebelum pemberian asuhan gizi, sebanyak 6 orang (60%)

hanya memilki tingkat pengetahuan yang cukup, dan hanya 3 orang (30%) yang

memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini disebabkan sebagian responden

belum pernah mendapatkan konseling gizi atau penyuluhan mengenai gizi untuk

penyakit diabetes. Responden selama ini hanya diberikan pemahaman singkat dari

dokter atau perawat puskesmas mengenai makanan yang tidak diperbolehkan

untuk pasien dengan diabetes mellitus tipe 2.

Menurut Notoadmojo (2007) pengetahuan merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Salah satu usaha untuk

meningkatkan pengetahuan adalah dengan mengikuti penyuluhan tentang gizi

pasien diabetes, melakukan konsultasi dengan ahli gizi puskesmas atau rumah

sakit.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ada pengaruh asuhan gizi pada

tingkat pengetahuan (p<0,05). Hal tersebut disebabkan karena intervensi yang

diberikan adalah berupa konseling gizi secara individu yang intensif menjelaskan

mengenai diabetes mellitus, mulai dari pengertian diabetes, penyebab diabetes,

gejala diabetes, komplikasi diabetes, dan penatalaksanaan gizi pada penderita

diabetes. Seperti yang dikemukakan oleh Notoatmojo (2007), dengan memberikan

pendidikan kesehatan (gizi) secara intensif dapat menghasilkan perubahan dan

peningkatan pengetahuan pada individu, kelompok atau masyarakat.


56

5.7.2 Asupan Makan

Pada penyandang diabetes bentuk dari perubahan perilaku bermula

dari meningkatnya pengetahuan mengenai pengelolaan diabetes, kemudian sikap

untuk bersedia mendengarkan atau melihat informasi mengenai gizi,

mengikutsertakan kebiasaan diet atau pola makan yang baru dalam gaya

hidupnya, dukungan kelompok dan keluarga, serta penyuluhan gizi yang

berkelanjutan sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang dalam

berperilaku sesuai dengan pola hidup sehat (Soegondo, dkk, 2011).

Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang

bermakna pada asupan makan (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) sebelum

diberikan asuhan gizi dan setelah diberikan asuhan gizi (p>0,05). Pengetahuan

gizi baik yang dimiliki penderita diabetes mellitus masih belum dapat menjadikan

pola makan dan asupan makannya menjadi baik. Hal ini disebabkan pada saat

melakukan recall 24 jam, ada responden yang mengaku sakit dan tidak memiliki

nafsu makan yang baik, sehingga dari menu yang telah diberikan, responden

hanya memakan setengahnya, bahkan ada yang tidak teratur makan. Berdasarkan

hasil wawancara, ada salah satu responden yang tidak teratur makannya

disebabkan tidak terbiasa makan pagi. Beberapa responden tidak mematuhi diit

yang telah dianjurkan, hal ini dikarenakan responden merasa bahwa semua

makanan yang dimakan sudah baik menurutnya. Bahkan ada yang merasa sudah

terlalu capek untuk membatas-batasi makanan yang dikonsumsi.

Sebagian besar responden dalam penelitian ini tidak patuh terhadap

jadwal makan yang telah diberikan, ada yang tidak terbiasa makan pagi, ada pula
57

yang merasa sudah cukup dengan hanya makan 3 kali makan utama dalam sehari.

Padahal bagi seorang penderita DM dianjurkan untuk sering makan dengan porsi

yang kecil. Jadwal yang dianjurkan yaitu 6 kali makan sehari (3 kali makanan

utama dan 3 kali makanan selingan) dengan interval waktu makan tiap 3 jam

(Abduracchin, dkk, 2008).

Sebagian responden mengikuti menu yang telah diberikan, namun

untuk responden yang asupan proteinnya masih tergolong defisit berat, ini

dikarenakan responden masih tidak ada nafsu makan akibat merasa cemas dan

khawatir dengan penyakitnya. Hasil ini tidak sejalan dengan pernyataan Wahyuni

(2012) yaitu kecemasan dapat memotivasi penderita diabetes mellitus untuk

mencapai kesembuhan dan merupakan sumber penting dalam usaha memelihara

keseimbangan hidup. Kenyataannya bahwa kecemasan dapat mempengaruhi

asupan makan penderita diabetes mellitus.

Anjuran konsumsi protein dalam satu hari pada penderita Diabetes

Mellitus tipe 2 adalah 15-20% dari total kalori (PERKENI, 2006). Oleh karena itu

kecukupan asupan protein dibutuhkan untuk mempertahankan sintesis protein.

Seluruh responden mengonsumsi sumber protein nabati berupa tempe dan tahu

dengan frekuensi hampir setiap hari. Alasannya karena harga yang terjangkau dan

mudah didapat. Namun sumber protein hewani jarang dikonsumsi hampir

sebagian responden karena harganya yang tidak terjangkau. Sumber protein

hewani yang sering dimakan responden antara lain telur ayam, ikan mujaer, dan

ikan pindang. Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil tidak ada pengaruh asuhan

gizi terhadap asupan protein responden, hal ini dikarenakan, makanan yang biasa
58

dikonsumsi oleh responden dengan makanan yang dikonsumsi responden melalui

anjuran menu kurang lebih sama.

Sumber asupan lemak utama responden berasal dari minyak.

Responden hampir menggunakan minyak goreng setiap kali memasak. Sebagian

besar responden tidak mematuhi anjuran menu yang diberikan dan responden

menyatakan masih sulit untuk menghindari makan makanan yang diolah dengan

cara digoreng, padahal dalam anjuran menu, penggunaan lemak atau minyak telah

dibatasi. Meskipun memiliki pengetahuan gizi baik tetapi tidak timbul kesadaran

dalam diri responden untuk mengubah perilaku makannya.

Berdasarkan hasil observasi, hampir semua responden menggunakan

beras giling putih sebagai makanan pokok dengan rata-rata konsumsi 2-3 kali

sehari. Hanya satu responden yang mengonsumsi nasi jagung 3 kali sehari sebagai

ganti nasi putih. Responden memilih nasi jagung dikarenakan anjuran teman

responden yang menyatakan bahwa nasi jagung dapat menurunkan kadar gula

darah. Dalam menu yang telah diberikan, sumber karbohidrat juga hanya didapat

dari nasi putih dan nasi jagung, yang sama dengan yang dikonsumsi responden.

Oleh karena itu, tidak ada perbedaan yang bermakna antara asupan karbohidrat

sebelum dan sesudah asuhan gizi.

Perilaku seseorang untuk taat menjalani diet atau kepatuhan terhadap

diet dapat berhubungan dengan intensitas pemberian penyuluhan, edukasi dan

motivasi yang diberikan secara teratur dan terus menerus, tingkat ekonomi dan

kesadaran dalam diri individu tersebut. Pemberian motivasi oleh lingkungan

terdekat mampu memberikan dampak positif bagi perilaku dan pola konsumsi

penderita diabetes mellitus.


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil pre test, sebagian besar responden memiliki

pengetahuan cukup yaitu sebanyak 6 orang (60%). Hanya 1 orang

(10%) yang memiliki pengetahuan kurang, dan 3 orang (30%) yang

memiliki pengetahuan baik. Melalui hasil post test dapat diketahui

bahwa semua responden memiliki pengetahuan baik (100%) setelah

diberikan asuhan gizi. Tidak ada sama sekali yang pengetahuannya

cukup dan kurang.

2. Berdasarkan hasil recall 24 jam didapat :

a. Asupan energi responden sebelum diberikan asuhan gizi sebagian

besar tergolong baik (50%), sebanyak 3 orang (30%) asupan

energinya tergolong lebih dan sebanyak 2 orang (20%) asupan

energinya tergolong defisit berat. Setelah diberikan asuhan gizi,

responden yang asupan energinya lebih, turun menjadi 1 orang

(10%), yang asupan energinya baik turun menjadi 3 orang (30%),

sedangkan yang defisit berat naik menjadi 3 orang (30%).

b. Asupan protein responden sebelum diberikan asuhan gizi

sebagian besar tergolong lebih yaitu 60%, namun setelah

diberikan asuhan gizi, responden yang asupan proteinnya lebih

berubah menjadi baik sebanyak 3 orang (30%) dan ada juga yang

berubah menjadi defisit ringan sebanyak 2 orang (20%).

59
60

c. Asupan lemaknya juga masih tergolong lebih yaitu 80% dan yang

tergolong baik hanya 1 orang (10%) sebelum diberikan asuhan

gizi, akan tetapi, setelah diberikan asuhan gizi, asupan lemak

yang tergolong lebih, turun menjadi 7 orang (70%) dan yang

tergolong baik naik menjadi 2 orang (20%).

d. Asupan karbohidrat sebelum diberi asuhan gizi masih tergolong

defisit (ringan, sedang, berat) yaitu 60% dan naik menjadi 70%

setelah diberikan asuhan gizi.

3. Ada pengaruh asuhan gizi pada pengetahuan pada penderita diabetes

mellitus tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya (p<0,05).

4. Tidak ada pengaruh asuhan gizi pada asupan makan (energi, protein,

lemak dan karbohidrat) pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di

Puskesmas Pucang Sewu Surabaya (p>0,05).

6.2 Saran

1. Bagi Puskesmas

a. Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam

pengaturan makan dan diet diabetes, diharapkan ahli gizi

Puskesmas untuk mengadakan konseling gizi secara rutin untuk

pasien diabetes mellitus.

b. Diharapkan untuk dokter atau perawat di Puskesmas merujuk

pasien diabetes mellitus yang berobat untuk mendapatkan

konseling gizi di Pojok Gizi secara rutin.


61

c. Diharapkan untuk mengadakan perkumpulan khusus untuk pasien

diabetes mellitus yang didalamnya terdapat kegiatan seperti senam

diabetes, penyuluhan kesehatan dan gizi mengenai diabetes, dan

berbagi pengalaman dan pengetahuan antar penderita diabetes

mellitus.

2. Untuk Penderita Diabetes Mellitus

a. Penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk secara rutin berobat ke

Puskesmas dan konsultasi ke pojok gizi di Puskesmas, dan

mengatur pola makan sesuai dengan standar diet penderita diabetes

sehingga komplikasi penyakit dapat dicegah.

b. Diharapkan pula untuk secara rutin memonitor kadar gula darah di

laboratorium Puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2006. Pelayanan Gizi Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan :
Penuntun Diet Edisi Terbaru. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Arisman, Dr, MB, M.Kes. 2011. Obesitas, Diabetes Melitus, dan Disiplidemia.
Palembang : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Irawan, D. (2010). Prevalensi dan faktor risiko kejadian diabetes mellitus tipe 2
di daerah urban Indonesia. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia

Jazilah. 2003. Disertasi Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Praktek ( PSP)
Penderita DM mengenai Pengelolaan DM dengan Kendali Kadar Gula
Darah..Yogyakarta :Universitas Gadjah Mada.

Jinlin F, Binyou W, Terry C. A new approach to the study of diet and risk of type 2
diabetes. J Postgrad Med [serial on the Internet]. 2007 [cited 2011
Jan23]; 53(4)Available from http://www.bioline.org.br/pdf?jp07048.

Lanywati, dr Endang. 2001. Diabetes mellitus penyakit kencing manis. Yogyakarta


: Kanisius.

Luddin, Abu Bakar. 2010. Dasar – Dasar Konseling. Bandung: Citapustaka


Media Perintis.

Mahendra, Ir. B, Akp, dkk. 2005. Care Your Self : Diabetes Mellitus.Jakarta :
Penebar plus.

PERSAGI. 2010. Penuntun Konseling Gizi.Jakarta : PT. Abadi.

Rachmaningtyas, Ayu. 2013. Jumlah penderita diabetes di Indonesia masuk 7


dunia.http://nasional.sindonews.com/read/2013/09/03/15/778889/juml
ah-penderita-diabetes-di-indonesia-masuk-7-dunia (19 Oktober 2013)

Sari, Paramita Wahyu, 2013. Perbedaan Pengetahuan Gizi, Pola Makan, Dan
Kontrol Glukosa Darah Pada Anggota Organisasi Penyandang
Diabetes Mellitus Dan Non Anggota, Skripsi, Universitas Diponegoro,
Semarang.

Shahab, Alwi. 2006. Diagnosis dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus (disarikan


dari Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia : Perkeni 2006).

Soegondo, Sidartawan Prof. DR. Dr. dkk. 2011. Penatalaksanaan Diabetes


Mellitus Terpadu.Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Soesanti, Diah Ayu. 2012. Perbedaan Asupan Energi, Protein, dan Status Gizi
Pada Remaja Panti Asuhan dan Pondok Pesantren, Karya Tulis Ilmiah,
Universitas Diponegoro. Semarang.

62
63

Sujaya, I. N. (2009). Pola Konsumsi Makanan Tradisional Bali Sebagai Faktor


Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Tabanam. Jurnal skala husada
6(1), 75-81.

Sukardji, Kartini. 2011. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu :


Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Mellitus. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Suliswati. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Suyono, S., dkk., 2005. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu.


Sebagai Panduan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Bagi Dokter
Maupun Edukator.Jakarta : FKUI.

Tim Kemenkes. 2013. Pedoman Gizi Rumah Sakit. Kementerian Kesehatan RI.

Tjokroprawiro, Askandar. 2006. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama


Diabetes.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tjokroprawiro, Askandar. 2011. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama


Diabetes.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

WHO. 1999. Definition, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus and its
Complications. World Health organization department of
Noncomunicable Disease Surveillance. Geneva

WHO. 2003.Adherence to long-term therapies: evidence for action. Geneva. 110


pages.

Wicaksono, R. P. (2011). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian


Diabetes Mellitus II. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro

Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H. Global Prevalence of Diabetes:


Estimates for the year 2000 and projections for 2030. Diabetes
Care.2004; 27: 1047-1053