Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Halusinasi merupakan suatu gangguan dimana seseorang mengalami gangguan persepsi


dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera padahal sebenarnya itu tidak
terjadi.

Angka statistik dunia menyebutkan hampir 24 juta orang di seluruh dunia menderita
gangguan skizofrenia halusinasi dengan angka kejadian 1 per 1000 penduduk (pada wanita dan
pria sama) dan diperkirakan terdapat 4 –10 % resiko kematian sepanjang rentang kehidupan
penderita skizofrenia halusinasi. Di Indonesia sekarang diperkirakan 0,46 - 2 penduduk atau
1.700.000 jiwa. Provinsi Jawa Barat sendiri merupakan salah satu provinsi dengan angka
gangguan jiwa tertinggi di Indonesia mencapai 20 % dari 45 juta penduduk atau sekitar 9 juta
jiwa. Diantara jenis gangguan jiwa yang sering ditemui salah satunya adalah halusinasi.

Berdasarkan data di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat sebagai pusat rujukan jiwa di
Provinsi Jawa Barat menunjukan mayoritas pasien - pasien yang berkunjung adalah gangguan
jiwa berat skizofrenia halusinasi. Berdasarkan data periode januari – desember 2013 tercatat
sebanyak 13.725 kasus skizofrenia halusinasi dengan rincian Unit Rawat Jalan 10.029 kasus,
Unit Rawat Inap 1245
dan Unit Gawat Darurat 245 (Profil RSJ Jabar, 2013).
Dampak adanya skizofrenia halusinasi dapat mengakibatkan seseorang mengalami
ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran
dalam kemampuan seseorang untuk berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan sehari –
hari. (Maramis, 2004 dalam Irmasyah, 2010). Dalam literature ini terdapat beberapa teknik dalam
mengatasi halusinasi yaitu dengan pemberian cognitive behavior therapy (CBT), Terapi aktivitas
kelompok orientasi realitas sesi I-III, Terapi menghardik, Terapi musik klasik, Terapi aktivitas
stimulasi persepsi-sensori, Terapi Senam Aerobik Low Impact,dan Terapi Religius Zikir.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan tentang teknik penurunan tingkat halusinasi dalam pengembangan
intervensi keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Bagi Program Studi Profesi Ners, diharapkan literatur ini dapat dijadikan sebagai
perkembangan teori yang dapat diterapkan dalam teori tambahan dan aplikasi dalam
pengembangan intervensi keperawatan penurunan tingkat halusinasi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Perawat di RSJ Provinsi Jawa Barat
Diharapkan dapat dijadikan sebagai teori baru yang dikembangkan bagi
perawat dalam pengembangan intervensi keperawatan untuk menurunkan tingkat
halusinasi.
BAB II
METODOLOGI
A. Jenis Penulisan

Jenis penulisan yang digunakan adalah literature review. Literature Review merupakan
uraian analisa kritis mengenai teori, temuan, dan bahan penelitian lainnya yang diperoleh dari
bahan acuan untuk dijadikan landasan kegiatan penelitian dalam menyusun kerangka pikir yang
jelas dari perumusan masalah yang akan diteliti.

B. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan ini adalah literature review berbasis
journal, dengan beberapa tahap yakni; penentuan topik besar, screenning journal, coding journal,
dan menentukan tema dari refensi jurnal yang didapatkan.

C. Lokasi dan Waktu

Lokasi yang digunakan untuk melakukan literature review bertempat di RSJ Provinsi Jawa
Barat. Adapun waktu yang digunakan selama dua minggu, dimulai dari tanggal 12 - 24 Februari
2018.

D. Etika Literature Review


Dalam melakukan penulisan ini, struktur penulisan yang harus diperhatikan meliputi:
formulasi permasalahan, literature screenning, evaluasi data, analisis dan interpretasi.

E. Formulasikan Permasalahan
Merumuskan atau menyusun sesuai topik yang akan diambil dalam bentuk yang tepat.
Dalam pemformulasian masalah yang dibahas, ditulis dalam bentuk tinjauan pustaka yang
mengacu pada jurnal atau hasil studi pustaka. Penulisan dilakukan secara kronologis dari
penelitian–penelitian sebelumnya.
F. Literature Screenning
Proses ini berawal dari pengumpulan jurnal yang berjumlah minimal 25-30 jurnal
internasional. Literatur dari jurnal yang dikumpulkan harus relevan dengan topik. Screenning
dilakukan untuk memudahkan proses codding yang bertujuan untuk mengevaluasi data yang
muncul sebagai kelolaan sub topik.
G. Evaluasi Data
Proses ini lebih mengarahkan penulis kepada pengelompokan sub-sub topik yang
dikontribusikan dari hasil codding. Data yang didapatkan dari journal codding dapat berupa data
kualitatif, data kuantitatif maupun data yang berasal dari kombinasi keduanya. Data yang telah
dikelompokan akan dilihat kembali compare (kesamaan) dan contrast (ketidaksamaan) baik dari
segi kelebihan dan kelemahan untuk mengidentifikasi level of significance yang terdiri dari
literatur utama (significant literature) dan literature penunjang (collateral literature).
H. Analisis dan Interpretasi
Proses akhir dari penulisan literature review adalah menganalisis dan menginterpretasikan
data dalam sub topik. Pandangan yang kritis diperlukan untuk memparafrasekan isi sub topik
(literature of journal).
I. Metode Pencarian
Literature Review ini menggukan 1 (Satu) media atau metode pencarian jurnal, yaitu
sebagai berikut :
1. Portal Garuda
Tahun
No Nama Jurnal
Penerbitan
PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI
TERHADAP KEMAMPUAN PASIEN MENGONTROL HALUSINASI DI
1. RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN
2013-2014
PROVINSI RIAU
EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT HALUSINASI
2. PADA PASIEN HALUSINASI DENGAR DI RSJ TAMPAN PROVINSI RIAU
2014
PENGARUH MENGHARDIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT
HALUSINASI DENGAR PADA PASIEN SKIZOFRENIA
3. DI RSJD DR. AMINOGONDOHUTOMO
2008
SEMARANG
PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITAS SESI I-III TERHADAP
4. KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA KLIEN HALUSINASI DI RSU Dr.AMINO 2013
GONDOHUTOMO SEMARANG
PERBEDAAN SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN TERAPI AKTIVITAS
KELOMPOK OLAHRAGA (SENAM) TERHADAP PENURUNAN EFEK
5. SAMPING OBAT SEDATIF PADA PASIEN HALUSINASI DI RSJ PROF. Dr.
2014
SOEROYO MAGELANG
6. PENURUNAN HALUSINASI PADA KLIEN JIWA MELALUI COGNITIVE BEHAVIOR THERAPHY 2011
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menggambarkan tentang literature review dengan judul teknik
penatalaksanaan dalam penurunan tingkat halusinasi. Berdasarkan literature ditemukan 7 cara
untuk mengatasi penurunan tingkat halusinasi yaitu dengan pemberian cognitive behavior
therapy (CBT), Terapi aktivitas kelompok orientasi realitas sesi I-III, Terapi menghardik, Terapi
musik klasik, Terapi aktivitas stimulasi persepsi-sensori,Terapi Senam Aerobik Low Impact, dan
Terapi Religius Zikir.
A. Pemberian cognitive behavior therapy (CBT)
Dalam proses cognitive behavior therapy terdapat proses belajar antara terapis dan klien,
dimana terapis melakukan transfer pengetahuan terhadap klien mengenai bagaimana cara klien
mengontrol halusinasinya.

B. Terapi aktivitas kelompok orientasi realitas sesi I-III


TAK orientasi realitas sesi I-III merupakan terapi yang memberi stimulasi secara
konsisten kepada klien tentang lingkungan di sekitarnya.Terapi yang diberikan ini terdiri tiga sesi
yang menajdikan klien halusinasi mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada,mampu
mengenal waktu dengan tepat,dan mampu mengenal diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya
dengan tepat (Keliat & Akemat,2005,hlm. 116).
Pada saat terapi berlangsung klien diberikan stimulus-stimulus tentang realitas yang
ada,sehingga menjadikan klien dapat mengontrol halusinasi yang dialami dengan cara
menghardik halusinasi,bercakap-cakap dengan orang lain,beraktivitas secara terjadwal,dan
minum obat secara teratur,
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Angriani (2012) dengan judul pengaruh
terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan pasien mengontrol halusinasi
pendengaran di rumah sakit khusus daerah provinsi sulawesi selatan dengan uji statistik
Wilcoxon Signed Rank Test mengatakan terdapat oengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi
persepsi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran setelah dilakukan terapi.
Dalam penelitian ini,masing-masing anggota kelompok TAK adalah sebanyak 11 orang.
Jumlah ini adalah jumlah anggota kelompok yang ideal untuk diberikan TAK, Karena dengan
jumlah yang ideal dan tidak terlalu banyak anggota kelompok yang satu dengan anggota
kelompok yang lain dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam pelaksanaan TAK,masing-masing
anggota kelompok dapat mengungkapkan halusinasi yang selama ini sering dialami oleh klien.
Dengan demikian,terapi dapat lebih mudah untuk mengorientasikam realita yang ada di
lingkungan sekitar kita.
C. Terapi musik klasik
Pemberian terapi dilakukan sebanyak 5 kali selama 5 hari dengan durasi 10-15 menit.
Penelitian Ayu, Wayan, dan Ketut (2013) melakukan penelitian dengan judul pengaruh terapi musik
klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada klien skizofrenia di ruang Kunti RSJ Provinsi
Bali dengan pemberian terapi musik klasik sebanyak 7 kali dengan durasi selama 30 menit. Hasil
penelitian ini didapatkan jumlah responden dengan tingkat halusinasi sedang sebelum diberikan terapi
musik klasik adalah 11 orang (73,3%), setelah diberikan terapi musik klasik tingkat halusinasi sedang
menjadi 3 orang (20%) dengan total responden sebanyak 15 orang. Hal ini menunjukkan semakin
sering frekuensi dan semakin lama durasi terapi musik klasik yang diberikan, maka tingkat halusinasi
pasien semakin menurun.
Penelitian Ulrich, Houtmans, dan Gold (2007) yang juga menggunakan terapi musik untuk
kelompok pasien skizofrenia, didapatkan hasil bahwa terapi musik dapat mengurangi gejala negatif
dan meningkatkan kontak interpersonal serta meningkatkan kemampuan pasien untuk beradaptasi
dengan lingkungan sosial di masyarakat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan terapi musik sangat
efektif bagi penderita skhizofrenia, penderita merasakan ketenangan, santai, rileks, nyaman, mulai
dapat berinteraksi dengan orang lain, fokus terhadap apa yang dilakukan serta munculnya motivasi
untuk sembuh. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Campbell (2001) yaitu pada gelombang otak,
gelombang beta yang bergetar dari 14 hingga 20 hertz dalam kegiatan sehari-hari di dunia luar,
maupun apabila kita mengalami perasaan negatif yang kuat. Ketenangan dan kesadaran yang
dirasakan dicirikan oleh gelombang alfa, yang daurnya mulai 8 hingga 13 hertz. Periode-periode
puncak kreativitas, meditasi, dan tidur dicirikan dalam gelombang theta dari 4 hingga 7 hertz, dan
tidur nyenyak, meditasi napas dalam, serta keadaan tak sadar menghasilkan gelombang delta, yang
berkisar 0,5 hingga 3 hertz. Semakin lambat gelombang otak, semakin santai, puas, dan damailah
perasaan kita.
Terapi musik sangat mudah diterima organ pendengaran dan kemudian melalui saraf
pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi yaitu sistem limbik (Aldridge, 2008).
Penelitian yang juga dilakukan oleh Crithley & Hensen tentang musik dan otak mengatakan bahwa
karena sifatnya non verbal, musik bisa menjangkau sistem limbik yang secara langsung dapat
mempengaruhi reaksi emosional dan reaksi fisik manusia seperti detak jantung, tekanan darah, dan
temperatur tubuh, hasil pengamatannya mengatakan dengan mengaktifkan aliran ingatan yang
tersimpan di wilayah corpus collosum musik meningkatkan integrasi seluruh wilayah otak
(Rachmawati, 2005).
D. Terapi aktivitas stimulasi persepsi-sensori
Salah satu penatalaksanaan pada pasien gangguan jiwa di RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Semarang menggunakan terapi aktivitas kelompok. Asuhan keperawatan yang biasa diberikan adalah
TAK sosialisasi tanpa melakukan homogenisasi jenis masalah keperawatan yang dialami oleh pasien.
Perlakuan pada kelompok kontrol berbeda dengan kelompok intervensi. Pada kelompok kontrol yang
berjumlah 10 responden mendapatkan perlakuan TAK stimulasi persepsi pada sesi 1 dan 2 yaitu
mengenal halusinasi dan mengontrol halusinasi dengan menghardik, selain itu responden juga telah
mendapatkan program SP1P. Hasil yang didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam
kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien halusinasi dengan perlakuan TAK stimulasi persepsi-
sensori. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Purwaningsih & Karlina (2010) tentang manfaat TAK
antara lain mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Pada gangguan halusinasi gejala
dapat terjadi kapan saja oleh karenanya perawat perlu mengkaji isi halusinasi, waktu, frekuensi,
situasi dan respon halusinasi. Sehingga pemberian intervensi keperawatan akan tepat diberikan pada
pasien dengan gangguan halusinasi. Salah satu intervensinya adalah pemberian TAK stimulasi
perspsi-sensori.

E. Terapi Senam Aerobik Low Impact


Penanganan pasien dengan halusinasi bertujuan agar pasien mampu mengontrol
halusinasinya. Penanganan pada pasien ini meliputi pemberian obat, tindakan keperawatan sesuai
dengan standar asuhan keperawatan serta tindakan nonfamakologis lainnya (Damayanti, Jumaini,
& Utami 2014). Salah satu terapi nonfarmakologis adalah senam aerobic low impact.
Senam aerobic low impact pada pasien halusinasi dapat menurunkan tanda dan gejala
halusinasi atau pasien lebih dapat mengontrol halusinasinya hal ini terjadi karena senam aerobic
low impact dapat meningkatkan aliran darah ke otak.
meningkatkan nutrisi otak, menjaga plasitas otak, menjaga fungsi otak, meningkatkan ukuran
hipotalamus dan memfasilitasi metabolisme neurotransmitter (Kuntaraf, 2005).
Senam aerobic low impact yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan sekresi
serotonin dan dopamin ke area hipotalamus yang akan menimbulkan perasan senang, rasa puas
serta mengatasi stres, emosi dan depresi (Heryati, 2008). Sehingga senam aerobic low impact
dapat mengurangi gejala halusinasi dan pasien mampu mengontrol halusinasi.
Penelitian yang dilakukan Gordon (2010) menyatakan bahwa olahraga senam aerobic selama 30
menit dengan frekuensi 3 kali seminggu mampu meningkatkan ukuran hipotalamus dan
peningkatan kemampuan short-term memory pada penderita skizofrenia. Faulkner dan Sparker
(1999, dalam Akhmad, Handoyo, & Setiono, 2011) dalam penelitiannya yang berjudul Exercise
as therapy for schizophrenia tentang pengaruh senam aerobic low impact sebagai terapi bagi
pasien dengan skizofrenia dan didapatkan hasil bahwa dengan pemberian senam aerobic low
impact selama 10 minggu dapat membantu mengurangi halusinasi dengar dan meningkatkan pola
tidur yang lebih baik.
Penelitian Purnamasari, Made, Sukawana, Wayan, Suarnatha, dan Ketut (2013) yang
melakukan senam aerobic low impact dengan durasi 20 menit dengan frekuensi 3 kali seminggu
selama 2 minggu menunjukan terjadi penurunakan tingkat depresi yang cukup signifikan.
Penelitian Akhmad, Handoyo, dan Setiono (2011) yang melakukan senam aerobic low impact
dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 2 minggu berturut-turut terhadap pasien dengan resiko
perilaku menunjukan terjadi peningkatan skor aggression self control. Diperkuat dengan hasil
penelitian Kirana, Nauli dan Novayelinda (2014) yang melakukan senam aerobic low impact 3
kali seminggu selama 2 minggu berturut-turut dengan durasi 30 menit, senam aerobic low impact
efektif terhadap peningkatan aggression self control pada pasien dengan resiko perilaku
kekerasan. Pada penelitian ini pemberian senam aerobic low impact dilakukan sebanyak 6 kali
selama 2 minggu berturut-turut dengan durasi 35 menit. Menurut Tangkudung (2004) frekuensi
latihan adalah berapa kali latihan intensif yang dilakukan oleh seseorang. Frekuensi latihan untuk
senam aerobic low impact dilakukan 3-4 kali seminggu. Apabila frekuensi latihan kurang dari 3
kali maka tidak memenuhi takaran latihan,
sedangkan kalau lebih dari 4 kali maka dikhawatirkan tubuh tidak cukup beristirahat dan
melakukan adaptasi kembali ke keadaan normal sehingga dapat menimbulkan sakit atau over
training.
Pemberian terapi senam sebanyak satu kali dalam satu minggu tidak begitu
banyak membawa perubahan pada pasien gangguan jiwa, begitu pula dengan intensitas senam
aerobic sebanyak 4-7 kali seminggu tidak membawa perubahan yang berarti dibandingkan
dengan terapi senam aerobic yang dilakukan selama 2-3 kali seminggu (Daley, 2002). Dalam
senam aerobic total waktu latihan yang baik umumnya antara 30-60 menit dalam satu sesi latihan
(Suharno, 2009).

F. Terapi Religius Zikir.


Kegiatan terapi religius zikir, dapat menurunkan gejala psikiatrik, Riset yang lain menyebutkan
bahwa menurunnya kunjungan ke tempat ibadah, meningkatkan jumlah bunuh diri di USA , Kesimpulan
dari berbagai riset bahwa religius mampu mencegah dan melindungi dari penyakit kejiwaan, mengurangi
penderitaan, meningkatkan proses adaptasi mengontrol suara-suara yang tidak ada wujudnya seperti
halusinasi pendengaran. (Mahoney et.all, 1985 dalam Yosep, 2007).
Terapi religius tidak diarahkan untuk merubah agama pasiennya tetapi menggali sumber
kopingnya (Yosep, 2009, hlm.344). Terapi Zikir adalah ucapan yang selalu mengingatkan kita kepada
Allah (Hawari, 2009, hlm.202). dengan berzikir. Hati seseorang akan terasa tentram. Terdapat 3 sesi yang
menjadikan pasien halusinasi mampu melafalkan bacaan zikirnya, mampu lebih nyaman untuk berzikir
saat halusinasinya muncul, mampu menyampaikan perasaanya setelah berzikir.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari berbagai Jurnal yang didapat maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Dalam proses cognitive behavior therapy terdapat proses belajar antara terapis dan klien,
dimana terapis melakukan transfer pengetahuan terhadap klien mengenai bagaimana cara
klien mengontrol halusinasinya
2. Terapi musik untuk kelompok pasien skizofrenia, didapatkan hasil bahwa terapi musik dapat
mengurangi gejala negatif dan meningkatkan kontak interpersonal serta meningkatkan
kemampuan pasien untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial di masyarakat
3. Pada gangguan halusinasi gejala dapat terjadi kapan saja oleh karenanya perawat perlu mengkaji
isi halusinasi, waktu, frekuensi, situasi dan respon halusinasi
4. Senam aerobic low impact pada pasien halusinasi dapat menurunkan tanda dan gejala
halusinasi atau pasien lebih dapat mengontrol halusinasinya hal ini terjadi karena senam
aerobic low impact dapat meningkatkan aliran darah ke otak
5. Kegiatan terapi religius zikir, dapat menurunkan gejala psikiatrik
B. Saran
1. Bagi Program Studi Profesi Ners
Diharapkan laporan jurnal ini dapat dijadikan tambahan teori dan bahan bacaan tentang
keperawatan jiwa khususnya dalam melaksanakan intervensi keperawatan pada klien dengan
gangguan halusinasi.
2. Bagi Perawat
Diharapkan laporan jurnal ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi perawat dalam
teknik untuk menurunkan halusinasi.
3. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan laporan jurnal ini dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit dalam melaksanakan
terapi untuk menurunkan tingkat halusinasi.
DAFTAR PUSTAKA

2014. Efektivitas Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan Tingkat Halusinasi pada Pada Pasien
Halusinasi Dengar di RSJ Tampan Provinsi Riau.

Anggraini dkk. 2008. Pengaruh Menghardik Terhadap Penurnan Tingkat Halusinasi Dengar pada
Pasien Skizoprenia Di RSJD DR. Amino Gondohutomo Semarang.

Qodir, Dkk. 2013. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Oriantasi Realitas Sesi I-III Terhadap
Kemampuan Mengontrol Halusinasi Di RSU Dr. Amino Gondohutomo Semarang.

Sari, dkk. 2014. Perbedaan Sebelum dan Sesudah Diberikan Terapi Aktivitas Kelompok
Olahraga (Senam) Terhadap Penurunan Efek Samping Obat Sedatif pada Pasien Halusinsi
Di RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang.

2014. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Pasien
Mengontrol Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.

Wahyuni, dkk. 2011. Penurunan Halusinasi pada Klien Jiwa Melalui Cognitive Behavior
Theraphy.