Anda di halaman 1dari 3

No.

Peserta : 18080652310036

Nama : NASARUDDIN, S.Pd.

Asal Sekolah : SMK Negeri 1 Ranah Ampek Hulu Tapan – Sumatera Barat

TUGAS : M3 KB1 Analisis Video Teori Behaviorisitik


(USE A LEARNING THEORY : BEHAVIORISM)

Instructions :
Menurut Bapak/Ibu, masalah apa yang mungkin muncul bila dalam suatu proses
pembelajaran diterapkan teori belajar behavioristik?

Jawaban Penyelesaian:
Video “USE A LEARNING THEORY : BEHAVIORISM” menceritakan
teori belajar yang diterapkan teacher Tony yang fokus dengan manajemen di
kelasnya. Beliau menerapkan aturan-aturan untuk membentuk perilaku siswa sehingga
muncul aturan dengan tujuan untuk mendisiplinkan siswa seperti datang ke kelas tepat
waktu, telah memiliki bahan pelajaran yang lengkap ketika bel berbunyi, ikut
berpartisipasi pada diskusi kelas dan ketika hendak meninggalkan kelas maka kursi
harus dirapikan. Untuk itu semua teacher Tony akan memberikan reinforcement
kepada siswa yang mengikuti semua aturan dengan memberikan uang.

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai


akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar
merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan
respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan
perubahan tingkah lakunya. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah
Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.

Diantara beberapa konsep tokoh behavioristik tersebut, konsep Skinner


dianggap mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para
tokoh sebelumnya karena mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana dan
lebih komprehensif. Pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada
seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut
akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan
respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau
menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah
laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara
stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan
dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon
tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan
perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan
menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan
lagi, demikian seterusnya.

Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behavioristik terdapat


kelebihan diantaranya membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi
dan kondisi belajar, guru tidak banyak memberikan ceramah tetapi dengan contoh
sehingga siswa dibiasakan belajar mandiri. Teori ini cocok diterapkan untuk melatih
murid-murid pada tingkat sekolah dasar yang masih membutuhkan dominasi peran
orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang
dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti hadiah dan pujian.

Teori belajar behavioristik memandang pentingnya conditioning. Melalui


pemberian reward dan punishment, seorang siswa akan berfikir dan memutuskan
perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Permasalahan yang akan muncul ketika
teori ini diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pembelajaran menjadi berpusat
pada guru (teacher center), bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil.
Siswa dipandang pasif karena hanya mendengarkan dan menghafal penjelasan guru
sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter. Pada teori ini guru lebih
menekankan tujuan pembelajaran pada hasil tanpa mengutamakan prosesnya sehingga
siswa hanya diberi teori latihan berulang tanpa tau prosesnya apakah siswa bisa atau
tidak.

Penerapan teori behavioristik yang salah dalam situasi pembelajaran juga


mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi
siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah
serta guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari siswa. Sedangkan siswa
berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang
didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Jika teori ini diterapkan
secara terus menerus pada siswa maka akan mengabaikan aspek mental yang dimiliki
siswa karena bakat, minat, kreatifitas bahkan perasaan yang ada pada siswa akan
terbunuh serta akan memunculkan kebosanan karena siswa tidak bisa menunjukkan
kreatifitas yang dimilikinya. Selain itu kelemahannya adalah pembelajaran lebih
menekankan pada hasil daripada proses. Siswa lebih tertantang ketika diberikan
reward namun ketika tak ada reward siswa menjadi tidak bersemangat untuk belajar.