Anda di halaman 1dari 8

Presentasi berjudul: "SAKRAMEN-SAKRAMEN Kata

“sakramen” berasal dari bahasa Latin “sacramentum” yang


berarti : hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau yang
ilahi. Kata." — Transcript presentasi:

Gambar slide 1
SAKRAMEN-SAKRAMEN Kata “sakramen” berasal dari bahasa Latin “sacramentum”
yang berarti : hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau yang ilahi. Kata “sakramen”
berasal dari bahasa Latin “sacramentum” yang berarti : hal-hal yang berkaitan dengan yang
kudus atau yang ilahi. Dalam konteks agama katolik, sakramen berarti : Tanda dan Sarana
keselamatan Allah yang diberikan kepada manusia. Dalam konteks agama katolik, sakramen
berarti : Tanda dan Sarana keselamatan Allah yang diberikan kepada manusia. Tujuan
sakramen : (SC 59) Tujuan sakramen : (SC 59) 1. Menguduskan manusia 2. Membangun
Tubuh Kristus 3. Mempersembahkan ibadat kepada Allah
Gambar slide 2
Sebagai Tanda dan Sarana keselamatan, maka sakramen hendaknya diterima berdasarkan
Iman. Sebagai Tanda dan Sarana keselamatan, maka sakramen hendaknya diterima
berdasarkan Iman. Sakramen biasanya diungkapkan dengan kata-kata dan tindakan.
Sakramen biasanya diungkapkan dengan kata-kata dan tindakan. Dalam semua sakramen
selalu mengandung 2 unsur yang hakiki, yaitu : Dalam semua sakramen selalu mengandung
2 unsur yang hakiki, yaitu : 1. Forma (=kata-kata yang menjelaskan peristiwa Ilahi) 2.
Materia (= barang / tindakan tertentu yang kelihatan)
Gambar slide 3
Dalam Gereja Katolik ada 7 sakramen : Dalam Gereja Katolik ada 7 sakramen : 1. Sakramen
Inisiasi (Baptis, Krisma & Ekaristi) 2. Sakramen Penyembuhan (Tobat & Pengurapan orang
sakit) 3. Sakramen Persekutuan dan Perutusan umat beriman (Perkawinan & Imamat)
Melalui sakramen-sakramen ini Allah berkehendak mewujudkan keselamatan-Nya bagi
manusia. Melalui sakramen-sakramen ini Allah berkehendak mewujudkan keselamatan-Nya
bagi manusia. Dari ketujuh sakramen tersebut, Ekaristilah yang menjadi sakramen segala
sakramen, artinya : semua sakramen yan lain diarahkan kepada Ekaristi sebagai tujuannya,
karena Ekaristilah yang menjadi “sumber dan puncak seluruh hidup kristian” (LG 11) Dari
ketujuh sakramen tersebut, Ekaristilah yang menjadi sakramen segala sakramen, artinya :
semua sakramen yan lain diarahkan kepada Ekaristi sebagai tujuannya, karena Ekaristilah
yang menjadi “sumber dan puncak seluruh hidup kristian” (LG 11)
Gambar slide 4
I. SAKRAMEN BAPTIS (Cfr. Mat 3:13-17 par; Mat 28:19-20) Sakramen baptis merupakan
salah satu bagian dari sakramen inisiasi. Sakramen baptis merupakan salah satu bagian dari
sakramen inisiasi. Inisiasi berasal dari bahasa Latin “inire” (masuk ke dalam), atau “initiare”
(memasukkan ke dalam), atau “initium” (awal) Melalui inisiasi ini orang dimasukkan ke
dalam keanggotaan Gereja, yang tampak secara nyata di dalam peristiwa pembaptisan.
Melalui inisiasi ini orang dimasukkan ke dalam keanggotaan Gereja, yang tampak secara
nyata di dalam peristiwa pembaptisan. Baptis berasal dari kata “baptizein” atau “baptismos”
(Yunani), yang berarti : “mencelupkan ke dalam air” atau “membasuh dengan air”. Baptis
berasal dari kata “baptizein” atau “baptismos” (Yunani), yang berarti : “mencelupkan ke
dalam air” atau “membasuh dengan air”.
Gambar slide 5
Pembaptisan merupakan upacara inisiasi, berarti bahwa orang yang belum termasuk dalam
kelompok orang yang percaya kepada Yesus Kristus dimasukkan ke dalam kelompok
dengan segala hak dan kewajibannya. Pembaptisan merupakan upacara inisiasi, berarti
bahwa orang yang belum termasuk dalam kelompok orang yang percaya kepada Yesus
Kristus dimasukkan ke dalam kelompok dengan segala hak dan kewajibannya. Pembaptisan
juga diartikan bahwa orang dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-
puteri Allah. Pembaptisan juga diartikan bahwa orang dibebaskan dari dosa dan dilahirkan
kembali sebagai putera-puteri Allah. Dengan demikian maka pembaptisan merupakan tanda
perjajian antara Allah yang berprakarsa untuk menawarkan keselamatan dan kehidupan
sejati dengan manusia yang beriman kepada-Nya. Dengan demikian maka pembaptisan
merupakan tanda perjajian antara Allah yang berprakarsa untuk menawarkan keselamatan
dan kehidupan sejati dengan manusia yang beriman kepada-Nya.
Gambar slide 6
Di dalam Gereja Katolik hanya ada satu pembatisan, yaitu pembaptisan dengan air. Di
dalam Gereja Katolik hanya ada satu pembatisan, yaitu pembaptisan dengan air.
Pembaptisan dengan air sungguh diimani sebagai meterai rohani yang tak terhapuskan dan
diterimakan hanya satu kali untuk selama- lamanya (tidak dapat diulang). Pembaptisan
dengan air sungguh diimani sebagai meterai rohani yang tak terhapuskan dan diterimakan
hanya satu kali untuk selama- lamanya (tidak dapat diulang). Dalam pembaptisan, orang
juga menerima pengurapan minyak krisma sebagai tanda pengurapan Roh Kudus, agar
orang yang dibaptis boleh mengambil bagian dalam tugas imamat, kanabian,dan
penggembalaan Yesus Kristus. Dalam pembaptisan, orang juga menerima pengurapan
minyak krisma sebagai tanda pengurapan Roh Kudus, agar orang yang dibaptis boleh
mengambil bagian dalam tugas imamat, kanabian,dan penggembalaan Yesus Kristus.
Gambar slide 7
Siapa yang boleh dibaptis ? Siapa yang boleh dibaptis ? = mereka yang diperbolehkan
menerima pembaptisan adalah setiap orang (sejauh tidak ada halangan) dan yang belum
dibaptis, baik anak-anak (bayi) maupun orang dewasa. Mengapa pembaptisan anak-anak
perlu dilakukan ? Mengapa pembaptisan anak-anak perlu dilakukan ? = menurut iman
Katolik, pembaptisan anak-anak itu perlu karena mereka dilahirkan dengan kodrat manusia
yang jatuh ke dalam dosa dan dinodai oleh dosa asal. Mereka membutuhkan kelahiran
kembali di dalam pembaptisan supaya mereka dibebaskan dari kuasa kegelapan. Dalam
pembaptisan anak-anak, yang pertama-tama mengungkapkan imannya adalah Gereja dan
orang tuanya.
Gambar slide 8
Dalam pembaptian dewasa ada beberapa proses yang harus dilalui : Dalam pembaptian
dewasa ada beberapa proses yang harus dilalui : 1. Tahap I : Masa Pra-katekumenat = Saat
untuk menampung para simpatisan, menjernihkan motivasi dan memperkenalkan Kristus
sehingga mereka mulai bertobat dan beriman. Masa ini ditutup dengan pelantikan menjadi
katekumen. 2. Tahap II : Masa Katekumenat = Saat untuk menjalani pembinaan menyeluruh
guna menjadi orang Katolik, baik melalui kegiatan katekese dan perayaan-perayaan liturgi
maupun penanaman berbagai macam sikap dan keutamaan Kristiani. Masa ini ditutup degan
pemilihan sebagai calon baptis.
Gambar slide 9
3. Tahap III : Masa Persiapan Terakhir = Saat untuk mempersiapkan diri dan hidup guna
menerima Sakramen Baptis (dan sakramen-sakramen lainnya). Masa ini ditutup dengan
penerimaan sakramen inisiasi sebagai wujud bahwa seseorang sudah menjadi anggota penuh
dalam Gereja. 4. Tahap IV : Masa Mistagogi = Saat di mana para baptisan baru dibimbing
untuk semakin mendalami penghayatan iman mereka, baik dalam perayaan Ekaristi maupun
dalam persekutuan umat beriman. Note : Pembaptisan dalam keadaan wajar dapat dilakukan
oleh Uskup, Imam dan Diakon (tertahbis), sedangkan dalam keadaan darurat pebaptisan
dapat dilakukan oleh setiap orang dengan tetap memperhatikan rumusan Trinitas : “NN, aku
membaptis engkau atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” Note : Pembaptisan dalam
keadaan wajar dapat dilakukan oleh Uskup, Imam dan Diakon (tertahbis), sedangkan dalam
keadaan darurat pebaptisan dapat dilakukan oleh setiap orang dengan tetap memperhatikan
rumusan Trinitas : “NN, aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”
Gambar slide 10
II. SAKRAMEN KRISMA Pada mulanya sakramen krisma / penguatan ini tidak terpisahkan
dengan sakramen baptis. Kedua sakramen ini dilaksanakan dalam satu rangkaian upacara,
yaitu penerimaan pembaptisan pada malam Paskah, yang dilakukan oleh Uskup. Pada
mulanya sakramen krisma / penguatan ini tidak terpisahkan dengan sakramen baptis. Kedua
sakramen ini dilaksanakan dalam satu rangkaian upacara, yaitu penerimaan pembaptisan
pada malam Paskah, yang dilakukan oleh Uskup. Zaman berubah dan perkembangan umat
bertambah, sedangkan jumlah Uskup terbatas dan kehadiran Uskup juga terbatas, maka
pelaksanaan sakramen krisma dipisahkan dengan sakramen baptis. Zaman berubah dan
perkembangan umat bertambah, sedangkan jumlah Uskup terbatas dan kehadiran Uskup
juga terbatas, maka pelaksanaan sakramen krisma dipisahkan dengan sakramen baptis.
Pembaptisan sungguh dipusatkan pada baptisan air, sedangkan krisma lebih pada
pengurapan dengan Roh Kudus. Pembaptisan sungguh dipusatkan pada baptisan air,
sedangkan krisma lebih pada pengurapan dengan Roh Kudus.
Gambar slide 11
Sakramen krisma melengkapi ataupun menyempurnakan rahmat pembaptisan, artinya :
dengan menerima sakramen krisma orang secara nyata diikutsertakan dalam tugas publik
umat, yaitu mewartakan kabar gembira keselamatan Allah bagi dunia (LG 11) Sakramen
krisma melengkapi ataupun menyempurnakan rahmat pembaptisan, artinya : dengan
menerima sakramen krisma orang secara nyata diikutsertakan dalam tugas publik umat,
yaitu mewartakan kabar gembira keselamatan Allah bagi dunia (LG 11) Dkl. Seseorang
yang menerima sakramen krisma dianggap layak untk menjadi saksi Kristus dalam
kehidupannya sehari-hari karena rahmat pengurapan Roh Kudus. Unsur pokok dalam
penerimaan sakramen krisma adalah : Unsur pokok dalam penerimaan sakramen krisma
adalah : 1. Penumpangan tangan sebagai tanda pencurahan Roh Kudus 2. Pengurapan
dengan minyak krisma di dahi sambil berkatan : “NN, terimalah tanda karunia Roh Kudus”
Gambar slide 12
Sakramen krisma diberikan oleh Uskup atau Wakil Uskup yang diberi kuasa (biasanya
Vikjen / Vikaris Jenderal). Sakramen krisma diberikan oleh Uskup atau Wakil Uskup yang
diberi kuasa (biasanya Vikjen / Vikaris Jenderal). Setiap orang yang sudah dibaptis dan
belum menerima Krisma berhak dan harus menerima sakramen krisma. Setiap orang yang
sudah dibaptis dan belum menerima Krisma berhak dan harus menerima sakramen krisma.
Dalam penerimaan sakramen krisma ini perlu diperhatikan soal kedewasaan seseorang,
khususnya kedewasaan iman agar rahmat Roh Kudus sungguh dapat berdaya guna bagi
orang yang bersangkutan. (usia 13 – 15 tahun) Dalam penerimaan sakramen krisma ini perlu
diperhatikan soal kedewasaan seseorang, khususnya kedewasaan iman agar rahmat Roh
Kudus sungguh dapat berdaya guna bagi orang yang bersangkutan. (usia 13 – 15 tahun)
Sakramen krisma ini diberikan satu kali, sebagai meterai rohani yang tak terhapuskan.
Sakramen krisma ini diberikan satu kali, sebagai meterai rohani yang tak terhapuskan.
Gambar slide 13
III. SAKRAMEN EKARISTI Ekaristi berasal dari kata Latin “Eucharistia” atau kata Yunani
“Eucharistein”, yang berarti : Ucapan Syukur. Ekaristi berasal dari kata Latin “Eucharistia”
atau kata Yunani “Eucharistein”, yang berarti : Ucapan Syukur. Ekaristi pertama-tama
dilihat dan dipahami sebagai : (I Kor 11:23-26; Luk 22:14-20) Ekaristi pertama-tama dilihat
dan dipahami sebagai : (I Kor 11:23-26; Luk 22:14-20) 1. Kenangan akan Perjamuan
Terakhir yang diadakan Kristus bersama para rasul 2. Kenangan akan wafat dan kebangkitan
Kristus
Gambar slide 14
Bagi Gereja Katolik, sakramen ekaristi dipahami sebagai “sumber dan puncak seluruh hidup
kristiani” (LG 11) Bagi Gereja Katolik, sakramen ekaristi dipahami sebagai “sumber dan
puncak seluruh hidup kristiani” (LG 11) Dalam merayakan Ekaristi, Gereja Katolik
mempunyai kerangka dasar yang sepanjang sejarah tetap sama sampai sekarang, yaitu :
Dalam merayakan Ekaristi, Gereja Katolik mempunyai kerangka dasar yang sepanjang
sejarah tetap sama sampai sekarang, yaitu : 1. Liturgi Sabda, yang terdiri dari : bacaan KS,
kotbah, dan doa umat. 2. Liturgi Ekaristi, yang terdiri dari : persembahan roti dan anggur,
doa syukur agung, dan komuni.
Gambar slide 15
Di dalam ekaristi inilah Gereja meyakini Kristus hadir. Kehadiran Kristus terjadi di dalam
seluruh perayaan ekaristi (awal s/d akhir) dan dalam semua peserta perayaan (imam dan
umatnya) Cfr. SC 7 Di dalam ekaristi inilah Gereja meyakini Kristus hadir. Kehadiran
Kristus terjadi di dalam seluruh perayaan ekaristi (awal s/d akhir) dan dalam semua peserta
perayaan (imam dan umatnya) Cfr. SC 7 Pemahaman di atas bukan berarti lalu
menghilangkan arti misteri kehadiran Kristus dalam rupa roti dan anggur (Realis
Praesentia). Pemahaman di atas bukan berarti lalu menghilangkan arti misteri kehadiran
Kristus dalam rupa roti dan anggur (Realis Praesentia). Kehadiran Kristus tetap dirasakan
pada saat roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah (Transubstantiatio).
Transubstantiatio (perubahan) ini terjadi karena kekuatan Sabda Kristus dan kekuatan Roh
Kudus pada saat konsekrasi. Kehadiran Kristus tetap dirasakan pada saat roti dan anggur
berubah menjadi Tubuh dan Darah (Transubstantiatio). Transubstantiatio (perubahan) ini
terjadi karena kekuatan Sabda Kristus dan kekuatan Roh Kudus pada saat konsekrasi.
Gambar slide 16
Tubuh dan Darah Kristus disambut oleh umat pada saat komuni. (dari kata Latin
“communio” yang berarti : “kesatuan”). Tubuh dan Darah Kristus disambut oleh umat pada
saat komuni. (dari kata Latin “communio” yang berarti : “kesatuan”). Dkl. Menyambut
komuni berarti mengalami kesatuan dengan Kristus dan kesatuan dengan umat. Perayaan
ekaristi bukan bukan perayaan pribadi (satu orang), melainkan perayaan bersama. Oleh
karena itu dituntut partisipasi aktif dari para peserta untuk mengambil bagian di dalamnya,
baik sebagai umat biasa maupun sebagai petugas. Perayaan ekaristi bukan bukan perayaan
pribadi (satu orang), melainkan perayaan bersama. Oleh karena itu dituntut partisipasi aktif
dari para peserta untuk mengambil bagian di dalamnya, baik sebagai umat biasa maupun
sebagai petugas. Ekaristi juga bukan sebagai kewajiban atau formalitas belaka (setiap
minggu ikut misa), melainkan sebagai kebutuhan hakiki di dalam hidup. Ekaristi juga bukan
sebagai kewajiban atau formalitas belaka (setiap minggu ikut misa), melainkan sebagai
kebutuhan hakiki di dalam hidup.
Gambar slide 17
IV. SAKRAMEN TOBAT Situasi kedosaan manusia di satu pihak dan kasih setia Allah
yang diberikan kepada manusia di lain pihak, sungguh dapat dirasakan dan dihayati dalam
Gereja melalui sakramen tobat atau sakramen pengampunan dosa. Situasi kedosaan manusia
di satu pihak dan kasih setia Allah yang diberikan kepada manusia di lain pihak, sungguh
dapat dirasakan dan dihayati dalam Gereja melalui sakramen tobat atau sakramen
pengampunan dosa. Iman Katolik mengatakan bahwa orang berdosa berarti berdosa di
hadapan Allah dan di hadapan Gereja. Iman Katolik mengatakan bahwa orang berdosa
berarti berdosa di hadapan Allah dan di hadapan Gereja. Melalui sakramen pengampunan
dosa, orang tidak hanya diampuni dosa-dosanya, melainkan dapat mengambil bagian lagi
secara penuh dalam kehidupan Gereja. Dkl. Melalui sakramen tobat, orang memperoleh
pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja. (LG 11) Melalui
sakramen pengampunan dosa, orang tidak hanya diampuni dosa-dosanya, melainkan dapat
mengambil bagian lagi secara penuh dalam kehidupan Gereja. Dkl. Melalui sakramen tobat,
orang memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja. (LG
11)
Gambar slide 18
Praktek sakramen tobat pada zaman Gereja perdana / pada zaman para Bapa Gereja berbeda
dengan praktek zaman sekarang : Praktek sakramen tobat pada zaman Gereja perdana / pada
zaman para Bapa Gereja berbeda dengan praktek zaman sekarang : 1. Zaman dulu Orang
berbuat dosa (membunuh, merampok, berzinah, dan murtad) harus mengaku dosa dihadapan
Uskup Orang berbuat dosa (membunuh, merampok, berzinah, dan murtad) harus mengaku
dosa dihadapan Uskup Dilakukan secara publik dan terbuka Dilakukan secara publik dan
terbuka Memakai pakaian khusus dan mempunyai tempat khusus di gedung gereja (di luar
gedung gereja) Memakai pakaian khusus dan mempunyai tempat khusus di gedung gereja
(di luar gedung gereja) Diwajibkan berpuasa, berdoa, dan bersedekah Diwajibkan berpuasa,
berdoa, dan bersedekah Tidak diperbolehkan mengambil bagian dalam perayaan ekaristi
Tidak diperbolehkan mengambil bagian dalam perayaan ekaristi Orang dapat menjalani
tobat hanya satu kali, dan apabila ia jatuh lagi dalam dosa, maka ia tidak diberi kesempatan
kembali menjadi anggota aktif dalam Gereja. Orang dapat menjalani tobat hanya satu kali,
dan apabila ia jatuh lagi dalam dosa, maka ia tidak diberi kesempatan kembali menjadi
anggota aktif dalam Gereja.
Gambar slide 19
2. Zaman Sekarang Orang yang berdosa cukup mengaku dosa secara pribadi Orang yang
berdosa cukup mengaku dosa secara pribadi Dilayani oleh seorang Imam Dilayani oleh
seorang Imam Denda atas dosa biasanya berupa doa Denda atas dosa biasanya berupa doa
Sakramen tobat ini dapat diterima lebih dari satu kali. Sakramen tobat ini dapat diterima
lebih dari satu kali. Dari kedua praktek tersebut di atas, satu hal yang tetap dipertahankan
yaitu Gereja Katolik yakin bahwa melalui Gereja (Uskup dan Imam) Allah berkenan untuk
melimpahkan rahmat pengampunan-Nya kepada orang berdosa. Dari kedua praktek tersebut
di atas, satu hal yang tetap dipertahankan yaitu Gereja Katolik yakin bahwa melalui Gereja
(Uskup dan Imam) Allah berkenan untuk melimpahkan rahmat pengampunan-Nya kepada
orang berdosa. Dua hal penting yang harus diperhatikan : Dua hal penting yang harus
diperhatikan : 1. Dari pihak orang yang berdosa dituntut penyesalan, pengakuan dosa,
membuat silih atas dosa (penitensi) serta memperbaiki diri dan hidup. 2. Dari pihak Gereja
(Uskup dan Imam) berkat tahbisannya diberi wewenang atau kuasa untuk mengampuni
segala dosa (memberi absolusi) atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Gambar slide 20
V. SAKRAMEN PERKAWINAN Iman Katolik melihat dan memahami perkawinan sebagai
panggilan Allah. Allah memanggil pria dan wanita untuk hidup secara khusus, yaitu
membangun hidup berkeluarga. Iman Katolik melihat dan memahami perkawinan sebagai
panggilan Allah. Allah memanggil pria dan wanita untuk hidup secara khusus, yaitu
membangun hidup berkeluarga. Hidup bekeluarga hendaknya dipahami sebagai bentuk
kehidupan yang sungguh suci dan agung serta patut disyukuri karena merupakan karya
agung Allah sendiri. Hidup bekeluarga hendaknya dipahami sebagai bentuk kehidupan yang
sungguh suci dan agung serta patut disyukuri karena merupakan karya agung Allah sendiri.
Gambar slide 21
Perkawinan Katolik dipahami sebagai : Perkawinan Katolik dipahami sebagai : “Perjanjian
perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh
hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami isteri serta pada kelahiran dan
pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan, perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat
ke martabat Sakramen” (KHK, Kan, 1055 par.1) Dari rumusan di atas dapat ditegaskan
unsur- unsur paham Gereja mengenai perkawinan : Dari rumusan di atas dapat ditegaskan
unsur- unsur paham Gereja mengenai perkawinan : 1. Perjanjian Perkawinan Lambang real
hubungan antara Tuhan dan umat-Nya Lambang real hubungan antara Tuhan dan umat-Nya
Sehidup semati Sehidup semati
Gambar slide 22
2. Kebersamaan seluruh hidup Hubungan pribadi suami istri yang beraspek kualitatif (bukan
kuantitatif) di segala bidang kehidupan. Hubungan pribadi suami istri yang beraspek
kualitatif (bukan kuantitatif) di segala bidang kehidupan. 3. Antara pria dan wanita
Kebersamaan hidup dalam keluarga sungguh terjadi antara pria dan wanita (bukan pria
dengan pria atau wanita dengan wanita) Kebersamaan hidup dalam keluarga sungguh terjadi
antara pria dan wanita (bukan pria dengan pria atau wanita dengan wanita) 4. Terarah pada
kesejateraan suami istri Perkawinan bertujuan untuk kebahagiaan lahir batin bagi suami istri
untuk selamanya. Perkawinan bertujuan untuk kebahagiaan lahir batin bagi suami istri untuk
selamanya.
Gambar slide 23
5. Terarah pada anak Perkawinan terbuka pada prokreasi (keturunan) yang terjadi dalam
hubungan persetubuhan suami istri, serta usaha mendidik anak dengan sebaik-baiknya
(khususnya pendidikan iman). Perkawinan terbuka pada prokreasi (keturunan) yang terjadi
dalam hubungan persetubuhan suami istri, serta usaha mendidik anak dengan sebaik-
baiknya (khususnya pendidikan iman). 6. Perkawinan sebagai sakramen Perkawinan ini
terjadi antara dua orang yang dibaptis (baik baptis Katolik maupun Kristen). Perkawinan ini
terjadi antara dua orang yang dibaptis (baik baptis Katolik maupun Kristen). Sifat hakiki
perkawinan : (KHK, Kan. 1056) Sifat hakiki perkawinan : (KHK, Kan. 1056) 1. Monogami
(= seorang pria dan seorang wanita) 2. Tak terceraikan (= ikatan perkawinan tidak
terputuskan oleh kemauan suami istri sendiri ataupun kuasa manusia, mis. Instansi tertentu,
kecuali karena kematian pasangannya / kematian secara wajar).
Gambar slide 24
Proses menuju perkawinan : Proses menuju perkawinan : 1. Menghadap ketua lingkungan
setempat 2. Menghadap pastor paroki 3 bulan sebelum hari pernikahan, sambil
menyelesaikan surat-surat yang dibutuhkan baik oleh Gereja maupun catatan sipil 3.
Menghadap pastor paroki untuk menjalani penyelidikan kanonik 4. Pengumuman di Gereja
sebanyak 3 kali (3 minggu) Tata peneguhan perkawinan : (KHK, Kan 1108 par 1) Tata
peneguhan perkawinan : (KHK, Kan 1108 par 1) Perkawinan hanyalah sah bila : 1.
Dilangsungkan di hadapan ordinaris wilayah (Uskup) atau pastor paroki atau imam maupun
diakon - yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu – yang meneguhkannya, 2.
Serta dihadapan 2 orang saksi
Gambar slide 25
Perkawinan campur : Perkawinan campur : 1. Perkawinan beda Agama = perkawinan yang
terjadi antara seorang yang sudah dibaptis dalam Gereja Katolik, atau yang sudah diterima
di dalamnya, dengan seorang yang tidak dibaptis. Maka untuk mengesahkan perkawinan ini
diperlukan DISPENSASI dari ordinaris wilayah (Uskup) 2. Perkawinan beda Gereja =
Perkawinan yang terjadi antara seorang yang sudah dibaptis dalam Gereja Katolik, atau
yang sudah diterima di dalamnya, dengan seorang yang dibaptis dalam Gereja Kristen.
Maka untuk mengesahkan perkawinan ini diperlukan IZIN dari ordinaris wilayah (Uskup).
Gambar slide 26
VI. SAKRAMEN IMAMAT Melalui sakramen imamat / tahbisan seseorang diangkat
menjadi pemimpin resmi dalam Gereja, baik dalam pelayanan sakramen-sakramen maupun
dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja. Melalui sakramen imamat / tahbisan
seseorang diangkat menjadi pemimpin resmi dalam Gereja, baik dalam pelayanan sakramen-
sakramen maupun dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja. Dkl. Dengan sakramen
tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah”
(LG 11) Melalui tahbisan suci, seseorang boleh mengambil bagian dalam imamat Yesus
Kristus, khususnya imamat jabatan. Imamat jabatan inilah yang menjadikan seseorang
bertindak atas nama Kristus dan atas nama seluruh Gereja. Melalui tahbisan suci, seseorang
boleh mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus, khususnya imamat jabatan. Imamat
jabatan inilah yang menjadikan seseorang bertindak atas nama Kristus dan atas nama
seluruh Gereja.
Gambar slide 27
Imamat jabatan hendaklah dimengerti dan dihayati sebagai salah satu bentuk pelayanan (LG
24). Dkl. Melalui tahbisan orang menjadi pelayan Kristus dan sekaligus pelayan Gereja.
Imamat jabatan hendaklah dimengerti dan dihayati sebagai salah satu bentuk pelayanan (LG
24). Dkl. Melalui tahbisan orang menjadi pelayan Kristus dan sekaligus pelayan Gereja.
Dalam Gereja Katolik, ada 3 jenjang tahbisan suci : Dalam Gereja Katolik, ada 3 jenjang
tahbisan suci : 1. Tahbisan Uskup (LG 21) 2. Tahbisan Imam (LG 28) 3. Tahbisan Diakon
(LG 29) Inti sakraman tahbisan adalah penumpangan tangan oleh Uskup atas orang yang
tertahbis dan doa pencurahan Roh Kudus. Inti sakraman tahbisan adalah penumpangan
tangan oleh Uskup atas orang yang tertahbis dan doa pencurahan Roh Kudus. Tahbisan
merupakan meterai atau tanda rohani yang tidak terhapuskan dan tidak dapat diulang atau
dikembalikan. Tahbisan merupakan meterai atau tanda rohani yang tidak terhapuskan dan
tidak dapat diulang atau dikembalikan.
Gambar slide 28
VII. SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT Dalam Gereja Katolik ada suatu
kebiasaan untuk mendoakan orang sakit. Dalam Gereja Katolik ada suatu kebiasaan untuk
mendoakan orang sakit. Gereja mengimani bahwa di dalam doa, Allah sungguh berkarya
untuk menyembuhkan yang sakit dan memberkan keselamtan padanya. Secara nyata
kebiasaan ini tampak dalam penerimaan sakramen pengurapan orang sakit (cfr. Yak 5:14-
16). Gereja mengimani bahwa di dalam doa, Allah sungguh berkarya untuk menyembuhkan
yang sakit dan memberkan keselamtan padanya. Secara nyata kebiasaan ini tampak dalam
penerimaan sakramen pengurapan orang sakit (cfr. Yak 5:14-16). Selain doa resmi,
dilakukan juga pengolesan dengan minyak pengurapan orang sakit (OI = Oleum
Infirmorum) Selain doa resmi, dilakukan juga pengolesan dengan minyak pengurapan orang
sakit (OI = Oleum Infirmorum)
Gambar slide 29
Melalui sakramen pengurapan orang sakit, seseorang dipersatukan dengan Kristus yang
wafat dan bangkit dengan mulia, yang menjadi sumber pengharapan dan kekuatan bagi si
sakit. (Cfr. LG 11) Melalui sakramen pengurapan orang sakit, seseorang dipersatukan
dengan Kristus yang wafat dan bangkit dengan mulia, yang menjadi sumber pengharapan
dan kekuatan bagi si sakit. (Cfr. LG 11) Sakramen pengurapan orang sakit hanya diberikan
kepada orang yang sakit berat. Sakramen pengurapan orang sakit hanya diberikan kepada
orang yang sakit berat. Hal yang penting diperhatikan adalah bahwa penerimaan sakramen
ini bukan dimaksudkan untuk mereka yang sudah hampir menemui ajal, tetapi hendaklah
diberikan kepada mereka sewaktu belum parah, sehingga ia dapat ikut serta dalam perayaan
perminyakan suci. Hal yang penting diperhatikan adalah bahwa penerimaan sakramen ini
bukan dimaksudkan untuk mereka yang sudah hampir menemui ajal, tetapi hendaklah
diberikan kepada mereka sewaktu belum parah, sehingga ia dapat ikut serta dalam perayaan
perminyakan suci.
Gambar slide 30
Sakramen ini jangan dipandang sebagai yang mendatangkan maut atau mempercepat
kematian, tetapi dipahami sebagai karya Allah yang akan menyelamatkan (menyembuhkan)
si sakit. Allah sungguh berperan bagi si sakit, baik menyembuhkan atau memanggil si sakit
ke hadapan-Nya untuk selamanya. Sakramen ini jangan dipandang sebagai yang
mendatangkan maut atau mempercepat kematian, tetapi dipahami sebagai karya Allah yang
akan menyelamatkan (menyembuhkan) si sakit. Allah sungguh berperan bagi si sakit, baik
menyembuhkan atau memanggil si sakit ke hadapan-Nya untuk selamanya. Sakramen ini
hanya boleh diberikan oleh Imam atau Uskup, dengan mengolesan minyak orang sakit (OI =
Oleum Infirmorum) di dahi dan tangan si sakit. Sakramen ini hanya boleh diberikan oleh
Imam atau Uskup, dengan mengolesan minyak orang sakit (OI = Oleum Infirmorum) di dahi
dan tangan si sakit. Sakramen ini dapat diterima berulang kali. Sakramen ini dapat diterima
berulang kali.
Edisi : XL/13 Jan 2013 HARI RAYA PEMBAPTISAN TUHAN YESUS “Engkaulah Putra-Ku yang
Kukasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan “ “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi,
“Carilah dahulu Kerajaan Allah, jangan kuatir akan hari esok.” Edisi : XCIX/ 2 MARET 2014
HARI MINGGU BIASA VIII Carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya,
Peserta kursusOleh Ignas. L.. dapat mengerti katekese inisiasi dengan segala
permasalahannya. Peserta kursus dapat menyusun kurikulum katekese inisiasi.
CONVENIENTES EX UNIVERSO AMANAT SINODE USKUP, 30 DESEMBER 1971 – CU VIII.
Presentasi PowerPoint ini digunakan hanya untuk satu komputer dan tidak untuk dipindahkan ke
komputer lainnya. Presentasi ini lebih cocok digunakan pada.
APOLOGETIK RD Yustinus Dwi Karyanto. Apologetik Asal kata Bahasa Latin : Apologia =
pembebasan Awal mula Apologia dipakai pengacara yang sedang mempertahankan.
“Inilah Anak domba Allah yang menghapus dosa-dosa manusia” SELAMA PERAYAAN LITURGI
BERLANGSUNG, MOHON HANDPHONE DIMATIKAN. Edisi : XCIII/ 19 Jan 2014 HARI.
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap
hari” KATEKESE : KOMPENDIUM KATEKISMUS GEREJA KATOLIK. PERAYAAN.
PENGAKUAN IMAN RASULI Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit
dan bumi.
Strategi Pengembangan Jemaat (Pastoral Umat) Oleh: Lastiko Runtuwene Bahan
pembinaan/pelatihan calon petugas/pelayan pastoral di Sekolah Tinggi Pastoral.
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” Edisi : XCV/ 02 Feb
2014 HARI MINGGU BIASA IV “Pesta Yesus Dipersembahkan di Kanisah”
Edisi : XLV/ 17 Feb 2013 HARI MINGGU MASA PRAPASKAH : I “Yesus berpuasa 40 hari
lamanya di padang gurun dan dicobai iblis“ “Manusia hidup bukan dari roti.
Dipersiapkan oleh : Vonny. PUNCAK DAN SUMBER spiritual Katolik Membawa persembahan
hati Dibersihkan Bagian dari Ekaristi: (satu kesatuan tak-terpisah)
AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2012 DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS
UNTUK BERBAGI KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA.
Edisi : XXVI/7 Okt. 2012 HARI MINGGU BIASA XXVII “ Apa yang telah dipersatukan Allah,
jangan diceraikan oleh manusia “ Bacaan I : Kej 2:18-24 II : Ibr.
“Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” Edisi : XCII/ 12 Jan 2014 HARI
MINGGU BIASA I “ H ari R aya P embaptisan Tuhan” Bacaan Minggu.
“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia
menyambut Dia yang mengutus Aku.” KATEKESE : KOMPENDIUM KATEKISMUS GEREJA.
MERANCANG LITURGI : KOOPERASI, KOORDINASI, DELEGASI C. H. Suryanugraha, OSC
Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung.
DOA ROSARIO BERSAMA PERISTIWA CAHAYA KKI – FLORIDA, PALM BEACH AREA
“Engkau Yang Dikandung Tanpa Dosa, Bunda Perawan, kepadamu aku berpaling dalam doa.