Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN ANALISIS

Setelah perancangan dan pembuatan alat selesai, alat yang dibuat harus
dilakukan pengujian untuk menguji kinerja alat agar sesuai dengan tujuan yang
diinginkan. Pengujian dilakukan untuk mendapatkan data dari alat yang dibuat,
sehingga data dijadikan dasar untuk menganalisa serta menentukan kesalahan jika
suatu saat terjadi kerusakan pada alat. Pengujian merupakan suatu proses
membandingkan suatu besaran yang belum diketahui dengan suatu besaran
standar yang baku. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat
melakukan pengujian diantaranya besaran yang diukur, alat ukur yang digunakan
dan metode pengujian. Pengujian yang dilakukan diantaranya yaitu, pengujian
sensor rotary dan pengujian sistem pengamanan pada actuator ketika terjadi
gangguan. Pengujian sesor rotary dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar
eror pengukuran pada sensor yang dibuat dengan alat ukur putaran standar
lainnya, seperti tachometer. Pada pengujian sistem pengaman, alat ini dilakukan
pengujian gangguan pada motor induksi, gangguan tersebut akan didapat ketika
putaran melebihi nilai setpoint sehingga sistem akan menginstruksikan untuk
mematikan motor induksi tiga fasa.

4.1 Metode pengujian

Metode pengujian yang digunakan adalah dengan cara mengukur


rangkaian yang telah direalisasikan. Dengan demikian akan diperoleh kesesuaian
input/output antara rangkaian yang satu dengan rangkaian lainnya. Sehingga kerja
sistem yang diinginkan dapat tercapai.

4.2 Penggunaan alat ukur

Alat ukur yang digunakan pada saat pengujian yaitu :


1. Digital Multimeter Heles
2. Digital Tachometer

64
65

4.3 Pengukuran dan analisis perangkat

Dalam penulisan Tugas Akhir ini, pengujian perangkat dilakukan dengan


cara melakukan pengujian dan pengukuran terhadap rangkaian-rangkaian yang
telah direalisasikan. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan nilai output yang
diinginkan.

4.3.1 Pengujian Sensor Rotary

Untuk mengetahui rangkaian sensor rotary berfungsi dengan baik atau


tidak, dilakukan pengujian pada putaran motor induksi. Proses pengujian
perangkat sensor ini dilakukan dengan menjalankan program yang telah dibuat,
untuk mengetahui kesesuaian putaran motor yang terdeteksi oleh sensor rotary
dengan pengukuran yang dilakukan dengan tachometer sebagai indikator
pengukuran sesuai atau tidak. Berikut tachometer yang digunakan dapat dilihat
pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.1. Digital Tachometer


66

Gambar 4.2. Inverter

Gambar 4.3. Kontaktor Magnet sebagai switching motor induksi tiga fasa
67

Gambar 4.4. Motor Induksi Tiga Fasa yang dilengkapi dengan sensor rotary.
Pengujian dilakukan pada mode manual program dengan merubah nilai
frekuensi pada inverter seperti terlihat pada gambar 4.1, sehingga pembacaan pada
LCD dan tachometer yang akan dilakukan perbandingan. Pengujian ini
merupakan kalibrasi dari sensor rotary agar sesuai dengan hasil alat ukur
tachometer. Berikut ini tabel hasil pengukuran sensor rotary.

Tabel 4.1. Hasil pengukuran Sensor rotary.


No Frekuensi (Hz) LCD (RPM) Tacho (RPM)
1 6.1 160 170
2 7.8 220 230
3 12.9 400 384
4 17.4 520 524
5 21.9 645 644
6 24.2 705 708
7 28.8 820 824
8 40 1180 1203
9 49 1480 1448
10 60 1720 1782

Berdasarkan hasil data tabel pengukuran diatas dilakukan 10 kali


pengambilan data pengukuran. Total rata-rata eror pengukuran yang ditampikan
pada LCD yaitu 0.99 % dari pengukuran tachometer sebagai alat ukur standar. Hal
ini menandakan bahwa pengukuran menggunakan sensor rotary yang kemudian
diolah oleh mikrokontroler arduino dan ditampilkan pada LCD sudah mendekati
hasil dari alat ukur tachometer yang sudah standar. Berikut ini tampilan pengujian
putaran motor induksi menggunakan sensor rotary dengan tampilan pada inverter,
tampilan rpm pada LCD dan tampilan rpm pada tachometer pada gambar dibawah
ini.
68

Gambar 4.4. Tampilan Frekuensi pada Inverter.

Gambar 4.5. Tampilan RPM pada LCD

Gambar 4.6. Tampilan RPM pada Tachometer


4.5 Pengujian gangguan
69

Pada pengujian gangguan ini merupakan pengujian keseluruhan prinsip


kerja sistem pengaman dan monitoring motor induksi tiga fasa apakah bekerja
sesuai mestinya atau tidak. Jenis-jenis gangguan yang diamankan yaitu putaran
lebih, putaran kurang.
4.5.1 Pengujian gangguan putaran lebih
Pengujian gangguan putaran lebih dilakukan dengan cara mengubah nilai
frekuensi pada inverter sehingga putaran melebihi nilai setpoint yang telah
ditentukan pada mikrokontroller arduino. Pada pengujian ini (SV) setpoint
dirubah secara bertahap dari 500 hingga 1400 rpm. Nilai terbawah diambil yaitu
500 rpm karena pada putaran dibawah 500 rpm, putaran tersebut memiliki putaran
yang tidak konstan atau memiliki eror yang cukup besar. Batas nilai lebih dari
proteksi putaran lebih ini yakni 50rpm. Jika nilai (PV) variable proses berada 50
rpm diatas nilai setpoint, maka mikrokontroller arduino akan menginstruksikan
untuk mematikan kontaktor magnetic sebagai switching motor induksi tiga fasa.
Berikut ini tabel hasil pengujian puataran lebih.

Tabel 4.2. Data pengujian gangguan tegangan lebih.

No SV PV Kondisi
Kontaktor
1 500 576 Trip
2 600 668 Trip
3 700 794 Trip
4 800 864 Trip
5 900 977 Trip
6 1000 1082 Trip
7 1100 1198 Trip
8 1200 1276 Trip
9 1300 1386 Trip
10 1400 1469 Trip
Berdasarkan tabel data pengujian gangguan kecepatan lebih diatas dapat
disimpulkan bahwa sistem mampu mengamankan (trip) ketika terdapat gangguan
putaran lebih. Dari 10 data yang diambil hampir semua kondisi setpoint,
70

mikrokontroller dapat dengan baik melakukan pemutusan ke koil kontaktor


sehingga suplai ke motor induksi terputus.

4.5.2 Pengujian gangguan putaran rendah


Pengujian gangguan putaran lebih dilakukan dengan cara mengubah nilai
frekuensi pada inverter sehingga putaran kurang dari nilai (SV) setpoint yang
telah ditentukan pada mikrokontroller arduino. Pada pengujian ini setpoint
dirubah secara bertahap dari 500 hingga 1400 rpm. Nilai terbawah diambil yaitu
500 rpm karena pada putaran dibawah 500 rpm, putaran tersebut memiliki putaran
yang tidak konstan atau memiliki eror yang cukup besar. Batas nilai kurang dari
proteksi putaran lebih ini yakni 50 rpm. Jika nilai (PV) variable proses berada 50
rpm dibawah nilai setpoint, maka mikrokontroller arduino akan menginstruksikan
untuk mematikan kontaktor magnet sebagai switching motor induksi tiga fasa.
Berikut ini tabel hasil pengujian putaran rendah/kurang.
Tabel 4.3. Data pengujian gangguan tegangan kurang.

No SV PV Kondisi
Kontaktor
1 500 429 Trip
2 600 541 Trip
3 700 617 Trip
4 800 725 Trip
5 900 838 Trip
6 1000 909 Trip
7 1100 1035 Trip
8 1200 1129 Trip
9 1300 1247 Trip
10 1400 1322 Trip

Berdasarkan tabel data pengujian gangguan kecepatan rendah/kurang


diatas dapat disimpulkan bahwa sistem mampu mengamankan (trip) ketika
terdapat gangguan putaran rendah/kurang. Dari 10 data yang diambil hampir
71

semua kondisi setpoint, mikrokontroller dapat dengan baik melakukan pemutusan


ke koil kontaktor sehingga suplai ke motor induksi terputus.

4.6 Analisis

Dari pengujian diatas didapatkan alat dan hasil yang sudah sesuai dengan
kajian pustaka dan rancangan yang telah diinginkan. Sistem kerja pengaman yang
berfungsi mematikan kontaktor magnit ketika terjadi gangguan pada sistem
maupun pada motor itu sendiri, seperti gangguan putaran lebih dan gangguan
putaran rendah/kurang.

Pada hasil pengujian sensor rotary sebagai alat pengukur putaran motor
didapatkan hasil yang sudah cukup signifikan dengan total rata-rata eror yaitu
0.99 %. Hasil pengukuran ini berdasarkan perbandingan pengukuran dengan alat
ukur tachometer yang sudah standar. Hal ini mengindikasikan bahwa sensor yang
telah dibuat sudah mampu mendekati hasil dari pengukuran tachometer.

Untuk hasil pengujian gangguan, baik gangguan putaran lebih maupun


putaran rendah atau kurang sistem sudah mampu mengamankan dengan baik
ketika terjadi gangguan. Hal ini dapat terlihat pada data hasil pengujian gangguan
baik pada gangguan putaran rendah maupun putaran tinggi.

Pada saat pengujian putaran lebih didapatkan hasil pengukuran rata rata
dari 10 data. Hasil didapatkan pada saat terjadi gangguan motor melebihi putaran
motor, dapat kita lihat pada tabel untuk putaran dengan setpoint 500 rpm, ketika
terjadi putaran yang melebihi sampai 576 rpm. Hal ini menandakan puataran
motor sudah melebihi batas atas dari setpoint yakni 550 rpm karena penambahan
batas atas yaitu 50 rpm dari nilai setpoint. Sistem langsung mengamankan dengan
cara mematikan suplai ke motor induksi 3 fasa.

Pada pengujian putaran rendah dengan data yang didapatkan dari 10 kali
pengujian. Hasil didapatkan ketika nilai proses variable (PV) berada di bawah
nilai setpoint (SV). Untuk nilai pengukuran dengan setpoint 500 rpm, hasil
pembacaan ketika terjadi gangguan putaran lebih 429 rpm. Nilai PV berada 50
72

rpm di bawah dari nilai setpoint, sistem akan menginstruksikan untuk mematikan
suplai ke motor induksi.