Anda di halaman 1dari 133

MODUL

ASESMEN DAN RENCANA TERAPI


GANGGUAN PENGGUNAAN NARKOTIKA
Edisi Revisi 2018

DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN MASALAH


KESEHATAN JIWA DAN NAPZA

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DAFTAR ISI

TIM PENYUSUN …………………………………………………... 3

1. MATERI DASAR 1 …………………………………………………... 4

2. MATERI DASAR 2 …………………………………………………... 19

3. MATERI INTI 1 …………………………………………………... 27

4. MATERI INTI 2 …………………………………………………... 46

5. MATERI INTI 3 …………………………………………………... 81

6. MATERI INTI 4 …………………………………………………... 94

7. MATERI INTI 5 …………………………………………………... 114

8. MATERI INTI 6 …………………………………………………... 124

2
TIM PENYUSUN

1. dr. Parulian Sandy Noveria, MKK


2. dr. Carlamia Lusikooy, SpKJ
3. dr. Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ
4. dr. Arry Fadilah, MARS
5. Debby F. Hernawaty, M.Psi, P.si
6. Drg. Luki Hartanti, MPH
7. dr. Herbet Sidabutar, Sp.KJ
8. dr. Lusy Levina
9. dr. Lucia Maya Savitri, MARS
10. dr. Hans Christian Dharma, SpKJ
11. Wini Wulansari, S.Si, MKM

3
MATERI DASAR 1

KEBIJAKAN WAJIB LAPOR DAN REHABILITASI MEDIS PECANDU NARKOTIKA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Perkembangan legislasi dan kebijakan terkait masalah NAPZA belakangan ini mengarah pada
upaya untuk mendekriminalisasi pecandu Narkotika, dimana pecandu Narkotika diharapkan
tidak lagi menjalani pemenjaraan, melainkan menjalani terapi dan rehabilitasi, baik medis,
psikologis maupun sosial. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Narkotika No. 35/2009.
Perubahan tersebut didasari oleh fakta bahwa kondisi kesehatan mereka yang mengalami
ketergantungan NAPZA pada umumnya mengalami penurunan secara signifikan. Semangat
untuk mempersepsikan pecandu dari sudut pandang penyakit tentu sejalan dengan pasal 4
Undang-Undang Kesehatan No. 36/2009, yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas
kesehatan”.

Undang-Undang Narkotika No. 35/2009 mengamanahkan dilakukannya proses wajib lapor


pecandu narkotika ke Puskesmas, Rumah Sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan
lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapat pengobatan dan
perawatan. Untuk mendukung pelaksanaan wajib lapor ini disusunlah Peraturan Pemerintah
tentang Wajib Lapor Pecandu Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Rehabilitasi Medis Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan
Narkotika.Pelaksanaan proses wajib lapor ini memerlukan koordinasi antara instansi-instansi
yang terkait dan dukungan dari masyarakat sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

Selain itu Undang-Undang no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa pada pasal 54
menyebutkan setiap RS Jiwa wajib menyediakan ruang untuk pasien narkotika, psikotropika
dan zat adiksi dengan jumlah tempat tidur paling sedikit 10% dari jumlah tempat tidur yang
ada.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan pembelajaran umum:


Pada akhir sesi, peserta mampu memahami kebijakan wajib lapor dan rehabilitasi medis
pecandu narkotika di Indonesia

B. Tujuan pembelajaran khusus:


Pada akhir sesi ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan kebijakan wajib lapor pada UU Narkotika
4
2. Menjelaskan teknis pelaksanaan wajib lapor
3. Menjelaskan kebijakan rehabilitasi medis
4. Menjelaskan kode etik
5. Menjelaskan peran dan fungsi petugas penerima wajib lapor

III. POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan berikut:


Pokok Bahasan 1. Kebijakan wajib lapor UU Narkotika
Pokok Bahasan 2. Teknis Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika
Pokok Bahasan 3. Kebijakan Rehabilitasi Medis Pecandu Narkotika
Pokok Bahasan 4. Kode etik dan medikolegal
Pokok Bahasan 5. Peran dan Fungsi Petugas Penerima Wajib lapor

IV. URAIAN MATERI

Pokok Bahasan 1
KEBIJAKAN WAJIB LAPOR UNDANG-UNDANG NARKOTIKA NO. 35 TAHUN 2009

Upaya penanggulangan masalah gangguan penggunaan Napza dilakukan secara


komprehensif melalui 3 pilar yaitu supply reduction, demand reduction dan harm reduction.
Salah satu upaya pengurangan permintaan adalah terapi dan rehabilitasi. Dari data yang ada
di Kementerian Kesehatan menunjukkan masih rendahnya jumlah pecandu yang mencari
pertolongan medis. Faktor penyebab rendahnya pencarian pertolongan medis antara lain
adalah terkait budaya, adanya stigma dan diskriminasi yang dihadapi oleh para pecandu
Narkotika. Pandangan masyarakat bahwa perilaku ketergantungan Narkotika adalah amoral,
membentuk anggapan bahwa untuk dapat pulih yang diperlukan adalah hanya dengan
meningkatkan iman dan taqwa para pecandu. Kriminalisasi atas penggunaan Narkotika juga
semakin mempertegas pandangan ini, sehingga di mata masyarakat, para pecandu perlu
‘dihindari’ dan ‘disingkirkan’. Pandangan serupa tidak saja dimiliki oleh masyarakat,
melainkan juga para petugas kesehatan. Pemahaman bahwa adiksi Napza adalah suatu
penyakit otak belum sepenuhnya dipahami dan diterima oleh petugas kesehatan. Akibatnya,
sikap yang terbentuk dalam menghadapi pasien pecandu cenderung negatif. Stigma dan
diskriminasi sudah barang tentu menghambat pecandu Narkotika untuk mencari
pertolongan.

Hal lain yang berperan dalam perilaku mencari perawatan medis adalah minimnya
ketersediaan dana untuk mengakses layanan kesehatan. Kita semua tentu memahami bahwa
pola penggunaan Narkotika yang kronis secara perlahan akan menurunkan sumber daya

5
seseorang, termasuk sumber daya finansial. Banyak dari mereka tidak lagi memiliki
kemampuan untuk mengakses layanan kesehatan. Terlebih jaminan kesehatan masyarakat
tidak selalu mudah diakses. Semua kondisi di atas ini berkontribusi atas rendahnya perilaku
mencari perawatan kesehatan pada para pecandu Narkotika.

Melihat rendahnya persentase cakupan pecandu Narkotika yang mengakses layanan


kesehatan dan mengingat perubahan perilaku tidak dapat mudah dilakukan pada
Lapas/Rutan, maka dirasakan perlu untuk mendorong para pecandu Narkotika untuk lebih
mengakses layanan Terapi Rehabilitasi. Salah satu caranya adalah dengan mewajibkan
mereka untuk melaporkan diri guna memperoleh layanan terapi rehabilitasi Gangguan
penggunaan Napza. Pecandu Narkotika atau keluarga dari pecandu yang masih di bawah
umur diharapkan melaporkan diri pada fasilitas kesehatan sehingga dapat dilakukan proses
asesmen dan penyusunan rencana terapi untuk perubahan perilaku yang signifikan.

Kebijakan Wajib lapor tertuang dalam pasal 55 Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang
Narkotika, yang berbunyi sebagai berikut:

a. Orang tua atau wali dari pecandu yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat
kesehatan masyarakat, rumah sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan lembaga
rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan
atau perawatan melalui rehablitasi medis dan rehabilitasi sosial
b. Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh
kelurganya kepada kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit dan/atau lembaga
rehabilitasi medis dan lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk
mendapatkan pengobatan dan atau perawatan melalui rehablitasi medis dan rehabilitasi
sosial

Sekalipun terkesan menjadi “kewajiban”, namun filosofi dari wajib lapor ini adalah untuk
meningkatkan cakupan intervensi medis dan sosial bagi para pecandu dan untuk
mengidentifikasi masalah sedini mungkin.

Program ini juga mempertimbangkan hak azasi pecandu Narkotika, sehingga proses wajib
lapor juga tetap mempertahankan azas konfidensialitas dan memperlakukan pecandu
Narkotika sebagai pasien / pasien yang sungguh-sungguh membutuhkan terapi terkait
perilaku ketergantungan Narkotikanya.

Program wajib lapor mau tidak mau juga mendesak fasilitas kesehatan, lembaga rehabilitasi
medis dan sosial untuk siap dalam melayani pecandu Narkotika. Keengganan petugas
kesehatan/sosial dalam melakukan penatalaksanaan Gangguan penggunaan Napza dapat
diminimalisasi, sebab melakukan penolakan untuk merawat dapat dianggap sebagai
6
pelanggaran Undang-undang. Diharapkan program wajib lapor dapat meminimalisasi
stigma/diskriminasi yang selama ini dialami pecandu Narkotika.

Melalui program wajib lapor, pecandu Narkotika diharapkan setidaknya memperoleh


konseling dasar terkait perilaku ketergantungan Narkotikanya, memperoleh informasi yang
diperlukan untuk meminimalisasi risiko yang dihadapinya dan memperoleh rujukan untuk
perawatan lanjutan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang bersangkutan. Dengan
demikian program wajib lapor diharapkan dapat berperan serta dalam penanggulangan
dampak buruk yang seringkali dialami pecandu Narkotika.

Manfaat wajib lapor diharapkan tidak saja dirasakan oleh para pecandu Narkotika, melainkan
juga bagi masyarakat secara umum dan pemerintah secara khusus. Program wajib lapor
pecandu Narkotika untuk kepentingan rehabilitasi medis dan sosial dapat mendukung agenda
pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang ke 3 yaitu Kehidupan yang sehat dan
sejahtera. Target pada tujuan ke 3 yang terkait dengan penanggulangan masalah
penyalahgunaan Napza adalah Memperkuat pencegahan dan pengobatan penyalahgunaan
zat, termasuk penyalahgunaan narkotika dan penggunaan alkohol yang membahayakan.
Salah satu indikator untuk pencapaian target tersebut adalah Jumlah penyalahguna narkotika
dan pengguna alkohol yang merugikan, yang mengakses layanan rehabilitasi medis.

Pokok Bahasan 2
TEKNIS PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

Beberapa regulasi terkait wajib lapor pecandu narkotika sebagai amanat dari UU NO. 35 tahun
2009 tentang Narkotika telah disusun oleh Pemerintah antara lain Peraturan Pemerintah
Nomor 25 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 50 tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Wajib Lapor
dan Rehabilitasi Medis Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika.

A. Definisi
Wajib Lapor adalah kegiatan melaporkan diri yang dilakukan oleh Pecandu Narkotika
yang sudah cukup umur atau keluarganya, dan/atau orang tua atau wali dari Pecandu
Narkotika yang belum cukup umur kepada Institusi Penerima Wajib Lapor untuk
mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan
rehabilitasi sosial.

B. Tujuan
Pengaturan Wajib Lapor Pecandu Narkotika bertujuan untuk:
a. memenuhi hak Pecandu Narkotika dalam mendapatkan pengobatan dan/atau
perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial;

7
b. mengikutsertakan orang tua, wali, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan
tanggung jawab terhadap Pecandu Narkotika yang ada di bawah pengawasan dan
bimbingannya; dan
c. memberikan bahan informasi bagi Pemerintah dalam menetapkan kebijakan di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

C. Penyelenggaraan Wajib Lapor


Wajib Lapor Pecandu Narkotika dilakukan di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). IPWL
adalah pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis
serta lembaga rehabilitasi sosial yang ditetapkan oleh Pemerintah

IPWL harus memenuhi persyaratan:


1. ketenagaan yang memiliki keahlian dan kewenangan di bidang ketergantungan
Narkotika. Tenaga tersebut sekurang-kurangnya memiliki:
- pengetahuan dasar ketergantungan narkotika;
- keterampilan melakukan asesmen ketergantungan narkotika;
- keterampilan melakukan konseling dasar ketergantungan narkotika; dan
- pengetahuan penatalaksanaan terapi rehabilitasi berdasarkan jenis narkotika
yang digunakan.
2. sarana yang sesuai dengan standard rehabilitasi medis atau s8tandard rehabilitasi
sosial yang masing-masing ditetapkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang kesehatan dan Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang sosial.

Proses penetapan failitas pelayanan kesehatan (fasyankes) sebagai IPWL oleh Menteri
Kesehaan diawali dengan pengusulan pemilik fasyankes (Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi/Kab/Kota, pimpinan TNI/Polri atau pimpinan instansi pemerintah lainnya)
kepada Menteri Kesehatan. Fasyankes yang diusulkan harus memenuhi satu dari dua
syarat berikut, yaitu:

1. telah memberikan pelayanan terapi rehabilitasi Napza sebelumnya


2. mempunyai tenaga kesehatan yang sekurang-kurangnya terdiri dari dokter dan
perawat yang telah menerima pelatihan di bidang gangguan penggunaan Napza yang
tercatat di Kementerian Kesehatan.
Selain syarat tersebut di atas fasyankes yang akan memberikan layanan rehabiltasi
medis secara rawat jalan dan atau rawat inap juga harus memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1. Rawat Jalan
a. Mempunyai ruang periksa dan intervensi psikososial

8
b. Mempunyai program rawat jalan berupa layanan simtomatik da intervensi
psikososial sederhana
c. Mempunyai prosedur operasional yang baku untuk layanan rehabilitasi medis
Napza rawat jalan
2. Rawat Inap
a. Mempunyai tempat tidur untuk durasi perawatan sesingkatnya tiga bulan
b. Mempunyai program rehabilitasi medis Napza rawat inap
c. Mempunyai prosedur operasional yang baku untuk layanan rehabilitasi medis
Napza rawat inap dan
d. Mempunyai prosedur keamanan minimal yang terdiri dari pencatatan
pengunjung yang masuk dan keluar, pemeriksaan fisik dan barang bawaan
setiap masuk program agar tidak membawa Napza dan benda tajam ke dalam
fasilitas rehabilitasi medis, tugas penjaga keamanan dan sarana /prasarana
yang aman agar pasien terhindar dari kemungkinan melukai dirinya
sendiri/orang lain dan melarikan diri.

IPWL wajib melakukan asesmen yang meliputi aspek medis dan aspek sosial terhadap
Pecandu Narkotika untuk mengetahui kondisi Pecandu Narkotika. Asesmen dilakukan
dengan cara:

1. Wawancara meliputi riwayat kesehatan, riwayat penggunaan narkotika, riwayat


pengobatan dan perawatan, riwayat keterlibatan pada tindak kriminalitas, riwayat
psikiatris, serta riwayat keluarga dan sosial Pecandu Narkotika.
2. Observasi meliputi observasi atas perilaku Pecandu Narkotika baik verbal maupun
non verbal
3. Pemeriksaan fisik dan psikis terhadap Pecandu Narkotika

Hasil asesmen tersebut dicatat pada rekam medis yang bersifat rahasia dan merupakan
dasar dalam rencana rehabilitasi terhadap Pecandu Narkotika yang bersangkutan.
Kerahasiaan hasil asesmen dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Selanjutnya Rencana rehabilitasi yang telah disusun berdasarkan hasil
asesmen harus disepakati oleh pecandu narkotika, orang tua, wali, atau keluarga
pecandu narkotika dan pimpinan IPWL

Pecandu narkotika yang telah melaporkan diri atau dilaporkan kepada IPWL diberi kartu
lapor diri setelah menjalani asesmen. Kartu lapor diri tersebut berlaku untuk 2 (dua) kali
masa perawatan. Yang dimaksud dengan “masa perawatan” adalah suatu layanan
program rencana terapi dibuat berdasarkan hasil asesmen yang komprehensif yang
sesuai dengan kondisi pasien dengan jenis gangguan penggunaan narkotika dan
kebutuhan individu/pasien/Pecandu narkotika dengan program yang dijalankan
9
mengikuti program yang tersedia di layanan, dengan waktu minimal 1 (satu) sampai 6
(enam) bulan sesuai dengan Standar Pelayanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan
Penggunaan Narkotika yang ditetapkan Menteri. Standar Pelayanan Terapi dan
Rehabilitasi Gangguan Penggunaan Narkotika, antara lain meliputi: pelayanan
detoksifikasi, pelayanan gawat darurat, pelayanan rehabilitasi (model: terapi komunitas,
minnesota, model medis), pelayanan rawat jalan non rumatan, pelayanan rawat jalan
rumatan, dan pelayanan penatalaksanaan dual diagnosis.

Berdasarkan rencana rehabilitasi yang telah disepakati, IPWL melakukan rangkaian


pengobatan dan/atau perawatan guna kepentingan pemulihan Pecandu Narkotika. Bila
IPWL tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengobatan dan/atau perawatan
tertentu sesuai rencana rehabilitasi atau atas permintaan Pecandu Narkotika, orang tua,
wali dan/atau keluarganya, maka IPWL harus melakukan rujukan kepada institusi yang
memiliki kemampuan tersebut.

Pecandu narkotika yang sedang menjalani pengobatan dan/atau perawatan di rumah


sakit, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, lembaga rehabilitasi medis dan lembaga
rehabilitasi sosial serta terapi berbasis komunitas (therapeutic community) atau melalui
pendekatan keagamaan dan tradisional tetap harus melakukan wajib lapor kepada IPWL.

D. Pembiayaan
Berdasarkan PP No. 25 tahun 2011, pembiayaan wajib lapor bagi yang tidak mampu
ditanggung oleh pemerintah dan pemerintah derah melalui APBN dan APBD

E. Pelaporan, Monitoring dan Evaluasi


IPWL wajib melaporkan mengenai informasi Pecandu Narkotika kepada Kementerian
terkait melalui tata cara pelaporan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Selanjutnya Kementerian terkait memberikan informasi ke BNN yang
menyelenggarakan sistem informasi pecandu narkotika. Informasi yang dilaporkan dalam
bentuk rekapitulasi data.

Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Wajib Lapor dilaksanakan oleh Kementerian terkait
dan BNN yang meliputi:
a. penerapan prosedur Wajib Lapor;
b. cakupan proses Wajib Lapor; dan
c. tantangan dan hambatan proses wajib lapor

10
Pecandu Narkotika yang telah selesai menjalani rehabilitasi dilakukan pembinaan dan
pengawasan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
sosial dan Badan Narkotika Nasional dengan mengikutsertakan partisipasi masyarakat.

Pokok Bahasan 3
KEBIJAKAN REHABILITASI MEDIS PECANDU, PENYALAHGUNA DAN KORBAN
PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA

Undang-Undang No. 35 tahun 2009 mengamanahkan penyusunan Permenkes tentang


Rehabilitasi Medis. Beberapa regulasi yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan terkait
rehabilitasi medis peacandu narkotika yaitu: Permenkes No 2415/MENKES/PER/XII/2011
tentang Rehabilitasi Medis Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika
dan Permenkes No.50 tahun 2015 tentang Petujuk Teknis Pelaksanaan Wajib Lapor dan
Rehabilitasi Medis Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika. Selain itu
pada tahun 2011 juga telah disusun Peraturan Bersama Kementerian dan Lembaga
(Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, Kepolisian RI, BNN,
Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan
Korban Penyalahgunaan Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi.

A. Fasilitas rehabilitasi medis


Rehabilitasi medis dilaksanakan di fasilitas rehabilitasi medis yang diselenggarakan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat meliputi rumah sakit, puskesmas atau
lembaga rehabilitasi tertentu yang menyelenggarakan rehabilitasi medis. Lembaga
rehabilitasi medis tertentu meliputi:

1. lembaga rehabilitasi NAPZA milik Pemerintah atau Pemerintah Daerah; dan


2. klinik rehabilitasi medis NAPZA yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Rumah sakit atau puskesmas yang menyelenggarakan rehabilitasi medis ditetapkan oleh
Menteri. Penetapan rumah sakit milik pemerintah daerah atau masyarakat dan
puskesmas sebagai penyelenggara rehabilitasi medis dilakukan setelah mendapatkan
rekomendasi dari pemerintah daerah. Sedangkan Lembaga rehabilitasi tertentu yang
menyelenggarakan rehabilitasi medis wajib mendapatkan izin dari Menteri.
Fasilitas rehabilitasi medis mempunyai kewajiban:
1. menyelenggarakan rehabilitasi medis sesuai standar profesi, standar pelayanan dan
standar prosedur operasional;
2. melaksanakan fungsi sosial;
3. berperan serta dalam jejaring dan melaksanakan fungsi rujukan;

11
4. melaksanakan serangkaian terapi dan upaya pencegahan penularan penyakit pada
penggunaan narkotika suntik;
5. menyusun standar prosedur operasional penatalaksanaan rehabilitasi sesuai dengan
modalitas yang digunakan dengan mengacu pada standar dan pedoman
penatalaksanaan medis.
6. melakukan pencatatan dan pelaporan dalam penyelenggaraan rehabilitasi medis.

B. Penyelenggaraan Rehabilitasi Medis


1. Rehabilitasi medis dapat dilaksanakan melalui rawat jalan dan/atau rawat inap sesuai
dengan rencana rehabilitasi yang telah disusun dengan mempertimbangkan hasil
asesmen sesuai dengan standar dan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
2. Pelaksanaan rawat jalan meliputi:
a. intervensi medis antara lain melalui program detoksifikasi, terapi simtomatik,
dan/atau terapi rumatan medis serta terapi penyakit komplikasi sesuai indikasi; dan
b. intervensi psikososial antara lain melalui konseling adiksi narkotika, wawancara
motivasional, terapi perilaku dan kognitif (Cognitive Behavior Therapy), dan
pencegahan kambuh.
3. Pelaksanaan rawat inap sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. intervensi medis antara lain melalui program detoksifikasi, terapi simtomatik, dan
terapi penyakit komplikasi sesuai indikasi;
b. intervensi psikososial antara lain melalui konseling individual, kelompok, keluarga, dan
vokasional;
c. pendekatan filosofi therapeutic community (TC) dan/atau metode 12 (dua belas)
langkah dan pendekatan filosofi lain yang sudah teruji secara ilmiah.

Proses pemulihan pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika yang


diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui pendekatan keagamaan
dan tradisional harus bekerjasama dengan Rumah Sakit dan Puskesmas yang ditetapkan oleh
Menteri.

Fasilitas rehabilitasi medis dalam menyelenggarakan pelayanan rehabilitasi medis wajib


membuat rekam medis yang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain itu terkait mediko legal maka pelayanan rehabilitasi medis harus memperoleh
persetujuan (informed consent) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Fasilitas
rehabilitasi medis dilarang menggunakan kekerasan fisik dan kekerasan psikologis/mental
dalam melaksanakan pelayanan rehabilitasi medis.

12
Penyelenggaraan Rehabilitasi Medis Terkait Putusan Pengadilan:
1. Rehabilitasi medis terhadap pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan
narkotika yang telah diputus oleh pengadilan diselenggarakan di fasilitas rehabilitasi
medis milik pemerintah yang telah ditetapkan oleh Menteri.
2. Rehabilitasi medis terhadap pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan
narkotika yang telah diputus oleh pengadilan dilaksanakan melalui tahapan: program
rawat inap awal; program lanjutan; dan program pasca rawat.
3. Program rawat inap awal dilaksanakan selama minimal 3 (tiga) bulan untuk kepentingan
asesmen lanjutan, serta penatalaksanaan medis untuk gangguan fisik dan mental.
4. Program lanjutan meliputi program rawat inap jangka panjang atau program rawat jalan
yang dilaksanakan sesuai standar prosedur operasional.
5. Pelaksanaan program lanjutan dengan program rawat jalan hanya dapat dilaksanakan
untuk pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika yang telah diputus
bersalah oleh pengadilan dengan pola penggunaan rekreasional (penggunaan narkotika
hanya untuk mencari kesenangan pada situasi tertentu dan belum ditemukan adanya
toleransi serta gejala putus zat) dan jenis narkotika amfetamin, dan ganja, dan/atau
berusia di bawah 18 tahun.
6. Program rawat jalan dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali seminggu dengan
pemeriksaan urin berkala atau sewaktu-waktu.
7. Program pasca rawat meliputi rehabilitasi sosial dan program pengembalian kepada
masyarakat.

Penyelenggaraan Rehabilitasi Medis Terhadap Pecandu, Penyalahguna dan Korban


Penyalahgunaan Narkotika yang sedang Menjalani Proses Penyidikan, Penuntutan, dan
Persidangan Pengadilan adalah sebagai berikut:

1. Penetapan rehabilitasi medis terhadap pecandu, penyalahguna dan korban


penyalahgunaan narkotika yang sedang menjalani proses penyidikan, penuntutan, dan
persidangan pengadilan dilakukan oleh tim dokter yang merupakan bagian dari Tim
Asesmen Terpadu (TAT) yang terdiri dari dokter dari fasilitas rehabilitasi medis dan rumah
sakit kepolisian.
2. Diselenggarakan di fasilitas rehabilitasi medis milik pemerintah yang memenuhi standar
keamanan tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Rehabilitasi pada pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika yang
sedang menjalani proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan pengadilan
tergantung pada wewenang pihak penyidik dan dilaksanakan maksimal 3 (tiga) bulan.
4. Sesuai standar dan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

13
C. Pembiayaan
Terkait pembiayaan yang sering menjadi masalah implementasi di lapangan maka salah
satu pasal dalam Permenkes No. 2415 tahun 2011 menyatakan bahwa Pemerintah dan
Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas biaya pelaksanaan rehabilitasi medis bagi
pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan Narkotika yang tidak mampu sesuai
peraturan perundang-undangan. Selain itu Pemerintah juga bertanggung jawab atas
biaya pelaksanaan rehabilitasi medis bagi pecandu, penyalahguna dan korban
penyalahgunaan Narkotika yang yang telah diputus oleh pengadilan. Namun sejak
diberlakukan Permenkes No. 50 tahun 2015 untuk mendukung Gerakan Rehabilitasi
100.000 Pecandu maka pembiayaan rehabilitasi medis bagi pecandu, penyalahguna dan
korban penyalahgunaan Narkotika secara sukarela maupun yang sedang dalam proses
hukum dan yang telah diputuskan pengadilan ditanggung oleh Pemerintah. Pembiayaan
rehabilitasi medis yang dilakukan di IPWL yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan
dibebankan kepada anggaran Kementerian Kesehatan.

D. Pelaporan
Fasilitas rehabilitasi medis wajib melakukan pelaporan dalam bentuk rekapitulasi data
secara berkala kepada Menteri melalui mekanisme sistem pelaporan mengikuti sistem
informasi kesehatan nasional. Rekapitulasi data yang telah dilaporkan dapat diakses oleh
pihak yang berkepentingan dalam pengembangan kebijakan dan program baik lembaga
pemerintah maupun masyarakat.

E. Pembinaan dan Pengawasan


Pembinaan dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan dan atau
Menteri/Kepala Lembaga lainnya yang membawahi lembaga rehabilitasi untuk:
1. Pembinaan dalam rangka meningkatkan kemampuan fasilitas rehabilitasi medis yang
dilakukan oleh Menteri dan Kepala Dinas Kesehatan sedangkan
2. Pembinaan dalam rangka peningkatan kemampuan fasilitas rehabilitasi medis juga
dilakukan oleh BNN, berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Pemerintah
Daerah.
3. Pengawasan dilakukan guna menjamin kualitas penyelenggaraan rehabilitasi medis.
4. Dalam melakukan kegiatan pembinaan dan pengawasan Menteri dapat membentuk
suatu tim dengan melibatkan unsur Pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota
melalui kepala dinas kesehatan/kepala biro NAPZA, organisasi profesi di bidang
kesehatan, BNN Provinsi/Kabupaten/Kota atau organisasi kemasyarakatan terkait
lainnya.
5. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, Menteri dapat mengambil tindakan
administratif kepada fasilitas rehabilitasi medis, berupa:
a. teguran lisan;

14
b. teguran tertulis; atau
c. pencabutan izin.

Saat ini Pemerintah sedang merevisi beberapa kebijakan terkait rehabilitasi yang tercantum
dalam UU No. 35 tahun 2009 tentag Narkotika. Beberapa kementerian dan lembaga terkait
dikoordinir oleh Kemenko PMK telah menyusun Rencana AKsi Nasional Rehabilitasi dengan
konsep rehabilitasi yang berkelanjutan dan tidak ada lagi dikotomi istilah rehabilitasi medis
dan rehabilitasi sosial.

Pokok Bahasan 4
KODE ETIK DAN ASPEK MEDIKOLEGAL WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

Petugas penerima wajib lapor dalam menjalankan tugasnya tetap terikat pada kode etik
sesuai profesi masing-masing. Profesi dalam bahasa Latin berarti ’mengumumkan kepada
dunia luar’ (Bond, 2005). Seseorang dapat dianggap profesional apabila dia dengan
sumpahnya kepada publik bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya, sesuai dengan
aturan dan prinsip-prinsip yang berlaku, yang umumnya dikeluarkan oleh ikatan profesi.
Menjalankan tindakan sesuai dengan aturan dan prinsip adalah upaya menjaga kode etik yang
berlaku.

Seorang dokter pada lembaga penerima wajib lapor tetap harus mematuhi Kode Etik
Kedokteran Indonesia. Beberapa Prinsip Etika Kedokteran yaitu:
• Beneficiency: mengutamakan kepentingan pasien
• Autonomy: menghormati hak pasien dalam mengambil keputusan
• Non-Malefeciency: tidak memperburuk keadaan pasien
• Justice: tidak mendiskriminasikan pasien, apapun dasarnya.

Tujuan etik didasari oleh filosofi kemanusiaan, dimana setiap tindakan profesional hendaknya
dilandasi oleh pertimbangan yang kuat tentang hak azasi manusia. Secara rinci, tujuan etik
adalah:

1. Menyediakan dasar bertindak yang adekuat untuk melindungi masyarakat dari berbagai
kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat malpraktik atau perilaku yang salah dari
profesional.
2. Menjadi acuan untuk identifikasi perilaku yang disadari ataupun tidak disadari, yang
secara potensial dapat mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain

Petugas penerima wajib lapor harus menjaga profesionalisme, apalagi terkait dengan undang-
undang No. 35/2009 tentang narkotika yang menyebutkan orang yang mengetahui adanya

15
gangguan penggunaan Napza namun tidak melaporkan kepada pejabat berwenang dapat
dikenakan sanksi pidana. Hal ini bisa menempatkan petugas kesehatan pada situasi dilematis
dalam menjaga kerahasiaan pecandu yang melakukan wajib lapor.

Dalam pelaksanaannya petugas kesehatan penerima wajib lapor harus:

1. Mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien


2. Bertanggung jawab dan bebas dari konflik kepentingan manapun.
3. Senantiasa meningkatkan kompetensinya yaitu pengetahuan dan keterampilan tentang
gangguan penggunaan Napza sesuai dengan perkembangan ilmu terbaru.
4. Menjaga kerahasiaan pecandu Narkotika. Pada situasi khusus ada kalanya petugas
penerima wajib lapor membuka tentang data pecandu narkotika pada pihak yang
berwajib untuk kepentingan hukum.
5. Menjaga hubungan profesional antara petugas itu sendiri baik kepada pimpinan atau
bawahannya dan kepada pecandu Narkotika yang melakukan wajib lapor, serta terhadap
lintas sektoral terkait.
6. Bersedia melakukan rujukan bila institusi yang menerima wajib lapor tidak memiliki
kemampuan untuk melaksanakan pengobatan/perawatan yang sesuai dengan rencana
terapi yang telah disepakati antara petugas dengan pecandu narkotika yang melaporkan
diri.

Mengingat pasien dengan gangguan penggunaan Napza yang kerap berhubungan dengan
tindak kriminalitas maka tak jarang petugas kesehatan, dalam hal ini dokter sebagai profesi
yang tersumpah diminta keterangan sebagai ahli. Keterangan ahli dapat diberikan secara lisan
maupun tertulis. Keterangan ahli secara lisan bisa diberikan pada saat sidang di pengadilan
maupun pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam
satu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah diwaktu menerima jabatan atau
pekerjaan. Keterangan ahli secara tertulis adalah surat keterangan dari ahli yang memuat
pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta
secara resmi kepadanya.

Pokok Bahasan 5
PERAN DAN FUNGSI PETUGAS
Sampai saat ini kompetensi tenaga kesehatan dilayanan terapi dan rehabilitasi masih sangat
terbatas baik dari sisi ketenagaannya maupun keterampilan petugas dalam penatalaksanaan
pasien dengan gangguan penggunaan napza dan pemahaman yang benar tentang gangguan
penggunaan napza. Selain hal diatas aksesibilitas pecandu narkotika yang mencari
pertolongan medis masih kurang karena masih adanya stigma dan diskriminasi yang dihadapi
pecandu narkotika dari masyarakat dan petugas kesehatan sendiri.
16
Pada pelatihan ini diharapkan petugas mengetahui peran dan fungsi mereka nantinya dalam
melaksanakan proses wajib lapor yang terdiri dari:

1. Melakukan asesmen klinis


Instrumen yang digunakan dalam melakukan asesmen untuk wajib lapor ini sesuai dengan
yang terdapat dalam lampiran peraturan menteri yang ditetapkan. Penting bagi petugas
untuk dapat menentukan atau meninjau besar atau beratnya masalah penggunaan
narkotika yang dialami pecandu. Dari asesmen ini juga petugas mampu mengidentifikasi
perilaku penggunaan narkotika mereka, serta menemukan batas-batas masalah
kesehatan akibat efek penggunaan narkotikanya.
2. Menegakkan diagnose
Sesuai dengan asesmen yang telah dilakukan di awal proses penerimaan pecandu
narkotika.
3. Menyusun rencana terapi dan rujukan
Rencana terapi disusun dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan awal dan
diagnosis yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen. Tidak semua institusi wajib lapor
memiliki modalitas terapi yang lengkap, pada layanan yang tidak tersedia perawatan
khusus maka petugas tersebut wajib untuk melakukan rujukan ke tempat lain sesuai
dengan kebutuhan pecandu narkotika tersebut. Tidak jarang pecandu narkotika yang
datang tidak murni hanya dengan masalah napzanya saja tapi juga banyak diantara
mereka dengan masalah dual diagnosis atau triple diagnosis yang tentunya membutuhkan
penanganan lebih khusus.
4. Melakukan rehabilitasi medis minimal sesuai dengan rencana terapi yang ditentukan.
Dalam rehabilitasi minimal ini diharapkan juga dapat dipergunakan pada layanan dasar
seperti di puskesmas, tidak hanya dalam bentuk rawat inap, tapi juga bisa melalui rawat
jalan.

5. Melakukan monitoring dan evaluasi dari penyelenggaraan proses wajib lapor

Peran dan fungsi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan sebagai petugas penerima
wajib lapor merupakan kontribusi yang penting oleh karena itu dibutuhkan beberapa kriteria
dalam memberikan layanan terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan napza.

Petugas kesehatan penerima wajib lapor idealnya juga memenuhi beberapa kriteria lainnya
seperti magang di pusat layanan terapi rehabilitasi gangguan penggunaan napza baik rawat
inap maupun rawat jalan dan mempunyai motivasi untuk memberikan layanan bagi pasien
yang mengalami gangguan penggunaan napza.

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan No. 269 Tahun 2008 tentang Rekam Medis

2. Peraturan Menteri Kesehatan No. 2415 Tahun 2011 tentang Rehabilitasi Medis Pecandu,

Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika


3. Keputusan Menteri Kesehatan No. 486 Tahun 2007 tentang Kebijakan & Rencana Strategi

Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA


4. Keputusan Menteri Kesehatan No. 421 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Terapi dan

Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA


5. Sarasvita, R. and A. Anwar. (2002). Kilas Balik 30 Tahun RS Ketergantungan Obat. Jakarta:
RSKO
6. Marc Stauch and Kay Wheat. (2005). Text, Cases and materials on Medical Law third
edition

18
MATERI DASAR 2

PERKEMBANGAN MASALAH GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya lainnya
merupakan suatu kajian yang menjadi masalah dalam lingkup nasional maupun secara
internasional. Pada kenyataanya, kejahatan narkotika memang telah menjadi sebuah
kejahatan transnasional yang dilakukan oleh kelompok kejahatan terorganisir (organized
crime). Masalah ini melibatkan sebuah sistem kompleks yang berpengaruh secara global dan
akan berkaitan erat dengan Ketahanan Nasional sebuah bangsa. Masalah gangguan
penggunaan narkotika berkembang mengikuti trend, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor,
diantaranya adalah ketersediaan zat, kebutuhan masyarakat dan faktor penegakan hukum.
New Psychoactive Substances (NPS) menjadi salah satu perhatian dunia karena maraknya
peredaran dan kurangnya penelitian dan pemahaman terkait efek sampingnya.

Pada tahun 1998, sesi khusus pada pertemuan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
bersepakat untuk bekerjasama dalam “memberantas atau mengurangi dengan signifikan”
produksi narkotika illegal dan penyalahgunaannya pada tahun 2019. Hal ini tentu bukanlah
target yang mudah dicapai. UNODC mencatat bahwa sebagian negara-negara di dunia ada
yang telah mampu mengontrol situasi masalah narkotikanya dalam kurun waktu yang relatif
singkat, namun sebagian besar justru tidak atau belum mampu mengontrol situasi tersebut.

II. PEMBELAJARAN

A. Tujuan pembelajaran umum:


Pada akhir sesi, peserta mampu memahami perkembangan masalah gangguan
penggunaan Napza

B. Tujuan pembelajaran khusus:


Pada akhir sesi ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan perkembangan masalah gangguan penggunaan Napza di kawasan global
2. Menjelaskan perkembangan masalah gangguan penguunaan Napza di kawasan
regional.
3. Menjelaskan perkembangan masalah gangguan penggunaan Napza di kawasan
nasional

19
III. POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan berikut:


Pokok Bahasan 1. Epidemiologi dan perkembangan penggunaan narkotika dikawasan
global
Pokok Bahasan 2. Epidemiologi dan perkembangan penggunaan narkotika dikawasan
regional
Pokok Bahasan 3. Epidemiologi dan perkembangan penggunaan narkotika dikawasan
nasional

IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
EPIDEMIOLOGI DAN PERKEMBANGAN PENGGUNAAN NARKOTIKA DIKAWASAN
GLOBAL

Berbicara masalah epidemi gangguan penggunaan narkotika tidak dapat terlepas dari
masalah produksi dan peredarannya. Sejarah terkini mencatat bahwa hampir 74% konsumsi
heroin di seluruh dunia disumbangkan oleh produksi opium yang berasal dari daerah Bulan
Sabit Emas (Golden Crescent), terutama Afghanistan. Peringkat kedua adalah produksi opium
dari daerah Segitiga Emas (Golden Triangle), yaitu Laos, Myanmar dan Thailand. Sementara
itu negara pemasok kokain terutama berasal dari Amerika Latin, seperti Columbia dan
Meksiko. UNODC menyatakan pada tahun 2016 produksi opium global menunjukkan
peningkatan 30% dibandingkan tahun 2015. Namun produksi opium di tahun 2016 masih 20%
lebih rendah dibandingkan dengan puncak produksi di tahun 2014. Terdapat kecenderungan
peningkatan area penanaman opium pada tahun 2012-2016 dibandingkan tahun 2007 – 2011.

Dalam 10 tahun belakangan ini peningkatan produksi narkotika justru mencolok pada ganja
dan amphetamine-type stimulants (ATS) seperti shabu dan ecstasy. Masalahnya, pencatatan
atas produksi zat-zat ini amatlah kompleks karena pada umumnya produksi dilakukan di
dalam negeri negara-negara yang bersangkutan. Misalnya, produksi ganja di Aceh pada
umumnya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Kontrol atas peredarannya amat
sangat bergantung pada upaya yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.

Peredaran gelap narkotika yang bersifat jarak jauh (long-distance trafficking) umumnya
menyangkut zat jenis kokain dan heroin. Dalam skala yang jauh lebih kecil, termasuk pula
resin ganja dan ecstasy. Penyitaan atas penyelundupan kokain secara global menunjukkan
upaya yang relatif stabil. Penyitaan yang dilakukan pada wilayah Amerika Utara dan Eropa
menunjukkan penurunan, namun penyitaan yang dilakukan di Amerika Selatan dan Amerika

20
Tengah menunjukkan peningkatan. Peredaran melalui Afrika Barat yang meningkat diantara
tahun 2004 – 2007 menunjukkan penurunan pada tahun 2008 – 2009, namun hal ini selalu
patut dimonitor karena tren peredaran selalu menunjukkan perubahan dan selalu ada upaya
untuk membuat jalur-jalur baru. Penyitaan atas peredaran produk-produk opium mengalami
peningkatan, terutama pada negara-negara tetangga Afghanistan, yaitu Pakistan dan
Republik Iran. Sementara itu melacak peredaran ATS menjadi lebih kompleks karena sifat
produksinya yang umumnya bersifat lokal. Namun demikian dari laporan negara-negara
anggota PBB, tercatat adanya penyitaan ATS yang sangat tinggi sejak tahun 2006. Penyitaan
atas daun ganja secara global meningkat pada periode 2006 – 2008, terutama di Amerika
Selatan. Penyitaan resin ganja yang meningkat pada 2008 terutama tercatat di regional Timur
Tengah, dan juga Eropa dan Afrika.

Zat psikoatif baru (New Psychoactive Substances, NPS) saat ini juga menarik perhatian dunia.
NPS didefinisikan sebagai senyawa bentuk tunggal atau sediaan berupa campuran yang marak
disalahgunakan dan belum diatur dalam Konvensi Internasional, tetapi memiliki efek yang
sama dengan obat yang diatur. NPS mengalami peningkatan, yang sebelumnya sebanyak 260
di tahun 2012 menjadi 483 di pertengahan tahun 2015. Diagram di bawah ini menunjukkan
jumlah NPS dan jenisnya yang dilaporkan tipa tahun sejak 2009 sampai 2015. Jumlah NPS yang
paling banyak dilaporkan adalah jenis kanabinoid sintetik.

Sumber: UNODC, World Drug Report 2017

UNODC memperkirakan 5 % penduduk dunia yang berusia 15 – 64 tahun di dunia pernah


menggunakan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya setidaknya sekali di tahun 2015
(kisaran 158 juta – 351 juta orang). Sebagian dari populasi pengguna ini sekitar lebih dari 11%
diantaranya mengalami masalah medis, psikologis dan sosial. Namun diperkirakan hanya 1
dari 6 orang yang memerlukan terapi dan rehabilitasi dapat mengakses layanan terapi dan
rehabilitasi.

21
Studi beban global akibat penyakit tahun 2015 menyatakan bahwa sekitar 17 juta disability
adjusted life years diakibatkan karena gangguan penggunaan Napza. Beban penyakit yang
terkait dengan Hepatitis C karena penggunaan zat lebih besar dibandingkan dengan HIV.
Orang dengan penggunaan napza suntik merupakan populasi kunci yang berisiko terkena
infeksi HIV pada tahun 2015 diperkirakan infeksi baru HIV diantara orang dengan penggunaan
Napza suntik sebesar 152.000 dengan prevalensi HIV di kalangan pengguna napza suntik
sebesar 13,1 Pada tahun 2015 UNODC/WHO/UNAIDS memperkirakan 51,5% orang dengan
penggunaan napza suntik terinfeksi Hepatitis C.

Opioid adalah jenis Napza yang menyebabkan dampak negatif kesehatan tertinggi meskipun
secara global, jenis narkotika yang paling banyak disalahgunakan, adalah ganja dimana
diperkirakan sekitar 183 juta orang menggunakannya. Dan kedua terbanyak digunakan
adalah jenis amfetamin,

Persoalan pada banyak negara, terutama di negara berkembang adalah kurang tersedianya
data-data yang akurat terkait dengan penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya. Oleh karenanya data secara internasional (global) lebih sering bersifat estimasi,
karena minimnya data yang dapat dijadikan patokan untuk melihat besaran masalah yang
diakibatkan gangguan penggunaan NAPZA. Salah satu sumber data yang dapat diandalkan
adalah data yang berasal dari fasilitas layanan terapi dan rehabilitasi. Sekalipun mungkin tidak
menggambarkan besaran masalah yang ada, tetapi dapat menunjukkan kecenderungan
persoalan penyalahgunaan narkotika yang terjadi pada suatu negara.

Diagram di bawah ini menunjukkan kebutuhan terapi dan rehabilitasi berdasarkan jenis zat
yang digunakan di beberapa kawasan regional pada tahun 2015.

Sumber: UNODC, World Drug Report 2017

22
Pokok Bahasan 2
EPIDEMIOLOGI DAN PERKEMBANGAN PENGGUNAAN NARKOTIKA DIKAWASAN
REGIONAL

Penanggulangan dan pemberantasan bahaya NAPZA bukanlah sebuah pekerjaan yang


mudah. Banyak negara yang cukup kesulitan bahkan nyaris kewalahan dalam menangani
tindak kejahatan narkotika ini. Dalam lingkup Asia Tenggara sendiri, negara-negara yang
tergabung dalam ASEAN telah menunjukkan sikap yang sama dalam pencegahan dan
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dengan merumuskan
kesepakatan untuk mempercepat menjadikan Asean bebas narkoba. Untuk mencapai hal
tersebut, oleh ACCORD (Asean and China Cooperative Operations in Response to Dangerous
Drugs), telah disusun empat pilar sebagai pokok kegiatan sebagai berikut:
1. Secara proaktif membangkitkan kesadaran dan mendorong peran masyarakat dalam
menangkal penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
2. Membangun kesepakatan bersama dan bertukar pengalaman terbaik dalam upaya
pencegahan.
3. Mempertegas penegakan hukum dan peraturan melalui kerjasama yang lebih baik dalam
pengawasan dan peningkatan kerjasama aparat penegak hukum, serta peninjauan
pembuatan undang-undangyang berlaku.
4. Menghapus persediaan narkotika gelap dengan mendorong program-program
pengembangan alternatif dalam membasmi penanaman gelap narkotika.

Sejak awal tahun 2000, penggunaan zat jenis amfetamin (ATS) marak di berbagai negara di
Asia Tenggara, yaitu pada negara-negara Cambodia, China, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina
dan Thailand. Produksi ATS umumnya dilakukan di dalam negeri, seperti yang tercatat di
China, Myanmar dan Indonesia. Penyitaan beberapa pabrik ATS rumahan dengan kapasitas
produksi hingga ribuan kilogram setiap bulannya menunjukkan tingginya kebutuhan yang juga
mencerminkan tingginya potensi penyalahgunaan. Salah satu zat yang digunakan untuk
memproduksi metamfetamin adalah efedrin, yang banyak diselundupkan dari China dan
India. Sementara itu penggunaan zat jenis opiat, khususnya heroin, tetap memiliki pangsa
pasar yang tetap di wilayah ini. Pengguna NAPZA suntik masih menyumbang angka penularan
HIV yang cukup tinggi pada banyak negara di Asia. Walaupun demikian, jenis zat yang paling
banyak disalahgunakan di wilayah Asia Tenggara adalah ganja.

23
Pokok Bahasan 3
EPIDEMIOLOGI DAN PERKEMBANGAN PENGGUNAAN NARKOTIKA DI KAWASAN
NASIONAL

Letak geografis negara Republik Indonesia sebagaimana tergambar di dalam peta dunia
terbentang di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudera
yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik yang keduanya memiliki posisi silang yang sangat
strategis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Indonesia mempunyai kedudukan penting
ditengah-tengah lalu lintas dunia international. Namun demikian, permasalahan letak dan
kedudukan ini selain memberikan dampak positif, pada kenyataanya dapat pula memberikan
dampak negatif. Peredaran gelap narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya adalah salah
satu bentuk dampak negatif dari keberadaan Indonesia pada posisi geografisnya. Kontrol atas
masuknya berbagai jenis NAPZA ke Indonesia menjadi lebih sulit. Pengaruh sosial budaya juga
sulit dibendung mengingat tamu asing dapat masuk dari berbagai belahan nusantara ini.

Penyalahgunaan dan peredaran gelap NAPZA merupakan suatu keprihatinan global.


Kejahatan narkotika telah menjadi sebuah kejahatan transnasional yang dilakukan oleh
kelompok kejahatan terorganisir (organized crime). Masalah ini melibatkan sebuah sistem
kompleks yang berpengaruh secara global dan akan berkaitan erat dengan ketahanan
nasional sebuah bangsa. Hal ini karena kecenderungan peningkatan penyalahgunaan NAPZA
pada kelompok usia produktif.

Di Indonesia sendiri, masalah penyalahgunaan NAPZA tidak pernah mereda, sekalipun jenis
zat yang digunakan menunjukkan perbedaan dari waktu ke waktu. Secara resmi pemerintah
awalnya mencatat masalah penyalahgunaan NAPZA dari laporan yang diberikan oleh
Kementerian Kesehatan, khususnya Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan berbagai
panti rehabilitasi sosial yang berada dalam tanggungjawab Kementerian Sosial. Pada tahun
70an jenis zat yang marak disalahgunakan dan menggiring penggunanya mencari pertolongan
medis, adalah zat morfin/heroin. Tahun 80an berubah menjadi barbiturat yang kemudia
diikuti oleh golongan benzodiazepin. Penggunaan kedua jenis zat tersebut biasanya
dikombinasi dengan penggunaan alkohol. Sempat terjadi trend penggunaan obat-obat yang
mengandung Ephedrin sebagai obat asma, walaupun hal ini hanya berlangsung singkat. Tahun
90an menjadi awal dari penggunaan ekstasi yang kemudian diikuti oleh masuknya heroin.
Penggunaan heroin dengan cara suntik memicu cepatnya penularan HIV di Indonesia, dimana
prevalensi HIV di kalangan pengguna NAPZA suntik berkisar 50%. Sekitar tahun 1998 mulai
marak penggunaan metamfetamin (shabu). Sejak tahun 2002 penyalahgunaan heroin tidak
menunjukkan peningkatan pengguna baru yang berarti, namun penggunaan zat jenis
amfetamin, baik ekstasi maupun metamfetamin (shabu) justru semakin meningkat. Saat ini
shabu dan ektasi menjadi zat nomor 2 yang terbanyak disalahgunakan setelah ganja. Diluar

24
zat-zat tersebut diatas, penyalahgunaan ganja sudah dilakukan semenjak tahun 1960an
hingga saat ini. Data tentang penggunaan kokain dan ketamin sangat sedikit. Pada
pertengahan tahun 2000 sampai sekarang tercatat adanya penyalahgunaan Buprenorfin,
alprazolam, DMP, trihexyphenidyl, krokodil, YABA, katinona dan metkatinona.

Indonesia sendiri adalah produsen ganja sejak awal abad ke 20 dan ganja yang berasal dari
Aceh adalah salah satu dari yang berkualitas baik di dunia. Sediaan heroin berasal dari segitiga
emas dan tidak berasal dari dalam negeri. Sementara konsumsi metamfetamin sejak tahun
2000 tampaknya dipenuhi oleh produksi dalam negeri, terbukti dari laporan penyitaan dan
penggerebekan laboratorium-laboratorium klandestin di Indonesia memproduksi
metamfetamin dalam jumlah yang besar.

Survei yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional bekerjasama dengan Pusat Penelitian
Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa estimasi
penyalahguna NAPZA adalah sekitar 2,18% dari total seluruh penduduk Indonesia berusia 10-
59 tahun. Pada tahun 2016 diproyeksikan angka prevalensi sebesr 2,21% atau setara dengan
4.173.633 orang. Dari sejumlah penyalahguna tersebut, terdistribusi atas 0,87% coba pakai,
0,82% teratur pakai, 0,49% pecandu bukan suntik, dan 0,04% pecandu suntik.. Berdasarkan
survei BNN tahun 2016 di kalangan pelajar dan mahasiswa diketahui, hampir semua (91%)
pelajar dan mahasiswa pernah mendengar jenis narkoba di tahun 2016, dengan proporsi
terendah pada kelompok SMP (88%). Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin
banyak yang mengenali jenis-jenis narkoba.Lebih dari separuh responden memiliki tingkat
pengetahuan baik (53%). Namun, masih ada 30% dari responden yang memiliki pengetahuan
narkoba kurang. Bila dibandingkan tingkat pengetahuan antara penyalahguna dan bukan
penyalahguna, ternyata tingkat pengetahuan penyalahguna lebih baik dibandingkan yang
bukan penyalahguna, baik pada laki-laki maupun perempuan. Mereka yang bukan
penyalahguna memiliki tingkat pengetahuan kurang yang lebih besar, misalkan dikalangan
laki-laki (37% vs 26%) dan perempuan (24% vs 14%).Data BNN tahun 2017 menyatakan
jumlah pecandu yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi sebanyak 33.267 orang.
Sedangkan hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan
narkoba meningkat dari Rp.57,0 trilyun di tahun 2012 menjadi Rp.63,1 trilyun di tahun 2014.

Berbagai upaya baik berupa pencegahan, pemberantasan maupun penanggulangan


permasalahan peredaran gelap Narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya telah dilakukan
oleh segenap elemen bangsa ini. Sebut saja upaya pembaharuan undang-undang tentang
Narkotika dari UU Nomor 22 tahun 1997 menjadi UU Nomor 35 tahun 2009. Undang-undang
terbaru itu diyakini dapat memberikan efek jera yang diiringi harapan semakin berkurangnya
jumlah penyalahgunaan Narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya di Indonesia.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. UNODC, 2017. World Drug Report


2. BNN, 2017. Ringkasan Eksekutif Survei Di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa.
3. Kementerian Kesehatan, 2017. Infodatin. Anti Narkona Sedunia 26 Juni 2017.

26
MATERI INTI 1

KETERGANTUNGAN NARKOTIKA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Pengetahuan dasar mengenai gangguan penggunaan napza perlu dimiliki oleh petugas
kesehatan yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan napza. Pemahaman
mengenai dasar teori terjadinya gangguan penggunaan napza, terminologi yang sering
digunakan, serta berbagai model pendekatan pemahaman kondisi ini, merupakan sebagian
dari landasan pengetahuan bagi petugas kesehatan agar dapat memberikan pendekatan
terbaik dalam melakukan asesmen dan terapi bagi pengguna napza. Istilah penggunaan napza
dan penggunaan zat akan digunakan secara bergantian pada materi ini.

Seseorang dapat menggunakan zat karena berbagai alasan, salah satu di antaranya adalah
untuk mendapatkan rasa senang atau kenikmatan (to feel good). Sebagian besar zat dapat
menimbulkan rasa nikmat yang sangat tinggi. Zat dapat menimbulkan sensasi awal berupa
eforia, yang kemudian diikuti dengan berbagai efek lainnya, bergantung pada jenis zat yang
digunakan. Alasan lain menggunakan zat adalah untuk merasa lebih baik (to feel better).
Sebagian orang menggunakan zat untuk mengurangi kecemasan, rasa tertekan, dan depresi.
Dalam hal ini, stres memiliki peran yang sangat penting untuk membuat seseorang mulai
menggunakan, melanjutkan, atau kembali menggunakan zat.

Penggunaan napza juga dapat ditujukan untuk mendapatkan performa yang lebih baik (to do
better). Sebagai contoh, penggunaan stimulansia untuk meningkatkan fungsi kognitif dan
atletik. Pada beberapa orang, khususnya remaja, penggunaan zat dapat didasari rasa ingin
tahu yang kuat, atau karena yang lain juga melakukannya (curiosity and “because others are
doing it”). Remaja merupakan populasi yang paling rentan akan hal ini akibat kuatnya
pengaruh dari tekanan sebaya (peer pressure).

Pada awal penggunaan zat, seseorang dapat merasakan efek yang “tampaknya” positif. Selain
itu, biasanya pengguna zat beranggapan bahwa mereka dapat mengendalikan penggunaan
zatnya. Namun demikian, zat dapat dengan cepat mengambil alih kehidupan seseorang dalam
berbagai aspek, misalnya kesehatan dan keuangan. Seiring waktu, bila penggunaan zat
berlanjut, aktivitas yang sebelumnya menyenangkan menjadi tidak lagi menyenangkan,
sehingga zat digunakan hanya untuk membuat pengguna zat merasa “normal”. Mereka
kemudian mulai mencari zat secara kompulsif meskipun paham mengenai risiko untuk dirinya
dan keluarga.

27
II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan Pembelajaran Umum


Pada akhir sesi ini peserta mampu menjelaskan pengetahuan dasar mengenai gangguan
penggunaan napza.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus
Pada akhir sesi ini, peserta mampu
1. menjelaskan berbagai terminologi yang berkaitan dengan gangguan penggunaan zat
2. menyebutkan penggolongan zat.
3. menjelaskan patofisiologi gangguan penggunaan zat.
4. menjelaskan berbagai pendekatan mengenai gangguan penggunaan zat.

III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut:


Pokok Bahasan 1. Terminologi.
Pokok Bahasan 2. Penggolongan Zat
Pokok Bahasan 3. Patofisiologi Gangguan Penggunaan Zat
3.1. Komunikasi antar sel otak
3.2. Pengaruh zat terhadap otak
3.3. Proses terjadinya adiksi
Pokok Bahasan 4. Pemahaman mengenai Gangguan Penggunaan Zat
4.1. Berbagai Pendekatan mengenai Gangguan Penggunaan Zat
4.2. Pendekatan Biopsikososial

IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
TERMINOLOGI

Berbagai macam istilah (terminologi) sering digunakan dalam pembahasan mengenai


masalah dan gangguan terkait penggunaan napza. Kementerian Kesehatan dan Kementerian
Sosial Republik Indonesia menggunakan istilah napza sebagai istilah pengganti substance atau
drug. Kalangan penegak hukum dan masyarakat secara umum lebih sering menggunakan
istilah NARKOBA.

Gangguan penggunaan zat (substance use disorder) merupakan terminologi diagnostik yang
mulai digunakan sejak terbitnya edisi ke lima buku panduan diagnostik gangguan mental, The
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), tahun 2013.

28
Terminologi diagnostik ini menggantikan istilah diagnosis ketergantungan zat (substance
dependence) dan penyalahgunaan zat (substance abuse).

Berdasarkan DSM-5, seseorang dinyatakan mengalami gangguan penggunaan zat saat


penggunaan zat yang berulang menyebabkan timbulnya hendaya klinis dan fungsi yang
bermakna, misalnya masalah kesehatan, disabilitas, dan kegagalan memenuhi
tanggungjawabnya di tempat kerja, sekolah, dan rumah. Diagnosis gangguan penggunan zat
didasarkan atas adanya bukti hendaya pada pengendalian diri (impaired control), hendaya
sosial (social impairment), penggunaan berisiko (risky use), serta kriteria farmakologis.
Gangguan penggunaan zat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya (severity level)
menjadi ringan (mild), sedang (moderate), dan berat (severe).

Adiksi, merupakan istilah umum lainnya yang juga sering digunakan. Menurut The National
Institute on Drug Abuse (NIDA), adiksi didefinisikan sebagai penyakit otak kronis dan
kambuhan yang ditandai dengan perilaku mencari dan menggunakan zat yang kompulsif,
meskipun memiliki konsekuensi yang merugikan. Adiksi dianggap sebagai suatu penyakit otak
karena zat yang digunakan dapat mengubah struktur dan cara kerja otak. Perubahan pada
otak tersebut dapat bersifat jangka panjang dan menyebabkan perilaku merugikan yang
tampak pada orang yang menggunakan zat. Istilah adiksi yang dimaksud di sini dapat dianggap
ekivalen dengan istilah gangguan pengunaan zat berat (severe subtance use disorder) pada
DSM-5.

Berikut ini beberapa istilah yang sering digunakan pada pembahasan masalah dan gangguan
penggunaan napza beserta definisi operasionalnya masing-masing.

• Zat. Diterjemahkan dari kata substance, adalah segala bentuk zat kimia yang memiliki efek
spesifik terhadap otak dan tubuh.
• Drug.Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai obat, adalah setiap zat kecuali
makanan, minuman dan oksigen yang apabila masuk ke dalam tubuh akan memengaruhi
fungsi fisik maupun psikologis individu.
• Narkotika. Menurut Undang-Undang no. 35 tahun 2009 tentang narkotika, yang disebut
narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Jenis zat yang dimasukkan kedalam kelompok narkotika
didalam UU tersebut tidak sejalan dengan terminologi dalam farmakologi. Salah satu hal
yang mendasari adalah dari besaran masalah penggunaannya. Jenis zat yang dimasukkan
ke dalam kelompok narkotika di dalam Undang-Undang (UU) tersebut tidak sejalan dengan
terminologi dalam farmakologi. Narkotika berasal dari kata Yunani narkotikaos, yaitu obat

29
apa pun yang menginduksi tidur. Narkotika juga sering diartikan dalam lingkup yang lebih
sempit, yaitu sebagai opioda; dalam konteks hukum seperti pada UU tersebut di atas,
narkotika diartikan sebagai senyawa yang sering disalahgunakan dan bersifat adiktif.
• Psikotropika. Menurut Undang Undang RI nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika, yang
dimaksud psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat dan meyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
• Zat Psikoaktif. Istilah psikoaktif dipakai dalam buku International Classification of Diseases edisi 10
(ICD 10) dan dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi III (PPDGJ III).
Zat psikoaktif adalah zat yang bekerja pada susuanan saraf pusat secara selektif sehingga dapat
menimbulkan perubahan pada pikiran, perasaan, perilaku, persepsi maupun kesadaran (Gangguan
Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif, Joewana, EGC, 2004).
• NAPZA. Akronim dari Narkotika, Psikotropika, Zat Adiktif lain. Akronim ini banyak digunakan oleh
jajaran Kementerian Kesehatan.
• Narkoba. Akronim dari Narkotika dan Bahan adiktif lain. Akronim ini disukai oleh jajaran penegak
hukum.
• Opium. Dalam bahasa Yunani opos, artinya getah (juice), maksudnya getah dari kotak biji tanaman
Papaver somniferum (pohon candu).
• Opiat. Semua senyawa yang berasal dari produk yang terdapat dalam opium, baik yang alami
seperti morfin, kodein dan tebain, maupun yang semi-sintetik seperti heroin.
• Opioda. Semua senyawa yang mempunyai fungsi dan sifat farmakologis seperti opiat, jadi
metadon.
• Zat Psikedelik (Psychedelic agent). Senyawa yang dapat menimbulkan gangguan persepsi seperti
halusinasi, ilusi dan waham, termasuk di dalamnya adalah senyawa halusinogenik yaitu senyawa
yang dalam dosis kecil menimbulkan gangguan persepsi, pikiran, perasaan, akan tetapi
pengaruhnya terhadap daya ingat dan orientasi minimal
• Club drug. Zat yang banyak digunakan di klub-klub (allnite dance) seperti ecstasy, LSD, PCP,
ketamin.
• Amfetamin. Zat jenis stimulansia kuat yang bekerja pada sistim saraf pusat. Zat stimulansia
bekerja dengan cara memercepat proses penyampaian pesan di otak dan tubuh. Beberapa
jenis amfetamin diresepkan secara legal oleh dokter untuk pengobatan attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD) dan narkolepsi.
• Amphetamine-type stimulants (ATS). istilah yang digunakan untuk amfetamin dan
sekelompok zat yang secara kimiawi menyerupai amfetamin dan memiliki effek
stimulansia seperti amfetamin.
• New Psychoactive Substances (NPS). Zat jenis baru yang muncul dalam peredaran napza,
biasanya merupakan designer drug (lihat keterangan designer drug)
• Designer drug. zat yang memiliki struktur atau fungsi menyerupai zat original, dibuat
dengan tujuan untuk menghindari klasifikasi sebagai zat atau obat ilegal dan untuk
menghindari deteksi pada pemeriksaan tes zat yang standar.

30
• Benzodiazepin. Golongan obat yang memiliki efek hipnotik, anti ansietas, antikonvulsan,
amnestik dan relaksan otot. Biasa digunakan untuk pengobatan insomnia dan ansietas
(gangguan cemas).
• Kratom. Sejenis tanaman, senyawa aktif berasal dari daunnya. Tanaman ini populer di Asia
tenggara, digunakan secara tradisional pada awalnya sebagai obat diare dan pereda nyeri.
• Khat. Tanaman yang tumbuh di Afrika timur dan bagian selatan Arab, digunakan dengan
cara mengunyah daunnya untuk mendapatkan efek stimulansia ringan.
• Synthetic cathinones. Stimulansia yang dibuat olah manusia, secara kimiawi serupa
dengan cathinone, zat yang ditemukan pada tanaman khat.
• Synthetic cannabinoids. Zat yang dibuat menyerupai struktur kanabis dan menimbulkan
efek yang serupa dengan kanabis.
• Penyalahgunaan (abuse). Penggunaan zat, biasanya digunakan sendiri, dengan cara yang
berbeda dari pola penggunaan medis atau dengan cara yang bertentangan dengan norma
sosial.
• Misuse. Serupa dengan abuse, biasanya digunakan untuk obat-obatan yang diresepkan
oleh dokter yang tidak digunakan sesuai petunjuk.
• Toleransi. Suatu kondisi yang terjadi saat efek suatu zat menurun pada penggunaan
berulang, dalam arti lain, dibutuhkan dosis yang lebih besar untuk mendapatkan efek yang
sama seperti penggunaan sebelumnya.
• Toleransi silang. Keadaan saat seseorang yang mengalami toleransi terhadap satu jenis zat
juga mengalami toleransi terhadap zat lain yang sifat farmakologiknya sama dan
memproduksi efek fisiologis dan psikologis yang sama. Contoh: toleransi silang antara
heroin dan metadon.
• Adverse tolerance. Suatu keadaan ketika untuk memperoleh efek suatu zat dibutuhkan
dosis yang semakin sedikit. Contoh: pada penggunaan ganja, disebabkan adanya efek
kumulatif dari zat psikoaktif dalam ganja (THC).
• Neuroadaptasi. Perubahan neurokimiawi atau neurofisiologis pada tubuh yang terjadi
akibat penggunaan zat berulang. Neuroadaptasi yang berperan dalam fenomena toleransi.
• Ketergantungan zat. Kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan zat secara
terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama. Apabila
penggunaannya dikurangi / atau dihentikan secara tiba-tiba, menimbulkan gejala fisik dan
psikis yang khas. Menurut pemahaman ilmiah, ketergantungan zat terjadi karena
penggunaan zat berulang kali secara teratur sehingga terjadi toleransi dan gejala putus zat.
• Ketergantungan fisik (physical dependence). Berbagai efek fisik (fisiologis) yang
diakibatkan oleh penggunaan zat berulang.
• Ketergantungan psikologis atau emosional, disebut juga habituasi. Ditandai dengan
adanya perasaaan menagih (craving) yaitu hasrat yang sangat kuat untuk kembali
menggunakan suatu zat. Kondisi ini dapat terjadi tanpa disertai gejala fisik, setelah
berhenti memakai zat tersebut untuk durasi waktu tertentu.

31
• Ketergantungan perilaku (behavioral dependence). Aktivitas mencari zat serta pola
penggunaan zat yang patologis.
• Adiksi. Penggunaan zat yang berulang dan meningkat; pengurangan penggunaan
menyebabkan munculnya gejala penderitaan (distress) dan dorongan yang tak dapat
ditolak (irresistable) untuk menggunakan zat kembali yang kemudian menyebabkan
kemunduran fisik dan mental.
• Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (ICD 10, PPDGJ III).
Kelompok gangguan mental yang berkaitan dengan penggunaan zat psikoaktif, jadi bukan
suatu diagnosis. Dalam kelompok gangguan mental ini terdapat sepuluh kondisi klinik
yaitu: intoksikasi akut, penggunaan yang merugikan, sindroma ketergantungan, keadaan
putus zat, keadaan putus zat dengan delirium, gangguan psikosis akibat zat, sindroma
amnestik akibat penggunaan zat psikoaktif, gangguan psikosis residual dan onset lambat
akibat pengunaan zat psikoaktif, gangguan mental dan perilaku (terinci) lainnya akibat
penggunaa zat psikoaktif, dan gangguan mental dan perilaku yang tak terinci akibat
penggunaan zat psikoaktif.
• Intoksikasi akut. Kondisi yang timbul akibat penggunaan zat psikoaktif sehingga terjadi
gangguan kesadaran, fungsi kognitif, persepsi, afek, perilaku atau fungsi dan respons
psikofisiologis lainnya.
• Penggunaan yang merugikan (harmful). Suatu pola penggunaan zat psikoaktif yang
menyebabkan terganggunya kesehatan, dapat berupa gangguan kesehatan fisik maupun
gangguan kesehatan mental.
• Sindroma ketergantungan. Sindroma yang terdiri dari paling sedikit 3 dari gejala berikut
ini: (1) adanya keinginan yang kuat untuk menggunakan zat psikoaktif, (2) ganguan dalam
mengendalikan perilaku penggunaan zat psikoaktif, (3) adanya gejala putus zat, (4)
toleransi, (5) preokupasi terhadap zat psikoaktif, (6) tetap menggunakan zat psikoaktif
walaupun menderita gangguan yang nyata akibat zat psikoaktif yang digunakannya.
• Keadaan putus zat. Kumpulan gejala yang timbul sebagai akibat berhenti atau mengurangi
jumlah zat psikoaktif yang biasa digunakan secara cukup teratur dan sering dalam jumlah
yang banyak.
• Keadaan putus zat dengan delirium. Sama dengan putus zat tersebut di atas tetapi disertai
delirium, dapat disertai kejang atau tanpa kejang.
• Gangguan psikotik akibat zat psikoaktif. Psikosis yang muncul pada waktu menggunakan
zat psikoaktif yang menetap lebih dari 48 jam dan berlangsung paling lama 6 bulan.
• Kodependensi. Istilah ini digunakan untuk anggota keluarga yang terdampak oleh perilaku
pengguna zat atau justru memengaruhi perilaku dari pengguna zat. Istilah ini juga
berkaitan dengan istilah enabler, yaitu orang yang memfasilitasi perilaku adiktif seseorang
(contoh memberikan zat secara langsung atau uang untuk membeli zat). Enabling juga
mencakup sikap keengganan anggota keluarga unutk menerima adiksi sebagai gangguan
medis-psikiatrik atau menyangkal bahwa seseorang menyalahgunakan zat.

32
Istilah Gaul

Para pengguna zat psikoaktif merupakan suatu subkultur yang biasanya mempunyai bahasa
gaul tersendiri. Bahasa gaul ini bisa berbeda untuk setiap daerah dan senantiasa mengalami
perubahan, artinya yang lama sudah tidak digunakan lagi, sebaliknya muncul istilah gaul yang
baru. Berikut ini disajikan beberapa istilah gaul yang umum dan masih sering terdengar
dengan tujuan agar petugas kesehatan lebih mudah membina rapport.
- Acid : LSD, zat golongan halusinogen
- Amper : amplop
- Bokul : beli
- Cimeng, gele, budha stick : ganja, kanabis
- Cucau : menggunakan putau dengan cara menyuntik kedalam
pembuluh darah balik (intravena)
- Ekstasi (ecstacy), XTC : MDMA
- Elsid : pelafalan slank dari LSD
- Etep : heroin dalam peredaran ilegal, isinya tidak murni heroin; slank
putau/w yang disingkat PT, ditulis sesuai pelafalan: pete, lalu
dibaca dari belakang
- Gau : gram (satuan berat, khususnya untuk putau)
- Giting, mabok, beler : intoksikasi
- Insul, Spidol : alat suntik, spuit, syringe
- Linting : ukuran jumlah, untuk ganja
- Ngedrag : menggunakan putau dengan cara inhalasi asap putau yang
dibakar
- Ngelem : mengonsumsi inhalansia, seperti lem dan bensin
- Ngive : (lihat cucau)
- Ngubas : mengonsumsi sabu-sabu (metamfetamin)
- Nyabu : (lihat ngubas)
- Nyepet : (lihat cucau)
- Pakau/w : singkatan dari pakai putau/w, istilah sedang mengonsumsi
putau
- Paket : satuan jumlah putau
- Parno : paranoid, salah satu gejala intoksikasi metamfetamin
- Pedau/w : intoksikasi putau/w
- Pil anjing, gedek, koplo : MDMA, zat golongan halusinogen
- PT, pete : (lihat etep)
- Putau/w : (lihat etep)
- Riv, rivotril : clonazepam, obat golongan benzodiazepine

33
- Sabu-sabu : metamfetamin
- Sakau/w : singkatan dari sakit karena putau/w, sindrom putus opioid
- Seperempi : seperempat (gau)
- Setengki : setengah (gau)
- Syut : isapan (satu syut = satu isapan)
- Ubas : (lihat sabu-sabu), slank sabu (dibaca dari belakang)

Pokok bahasan 2
PENGGOLONGAN ZAT

Terdapat berbagai penggolongan zat yang digunakan dalam berbagai pedoman di Indonesia
saat ini. Berikut beberapa penggolongan zat yang digunakan dalam pembahasan masalah dan
gangguan penggunaan napza.

Dalam buku PPDGJ III atau ICD 10, zat psikoaktif dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1. Alkohol, yaitu semua minuman yang mengandung etanol seperti bir, wiski, vodka, brem,
tuak, saguer, ciu, arak.
2. Opioid, termasuk di dalamnya adalah candu, morfin, heroin, petidin, kodein, metadon.
3. Kanabinoid, yaitu ganja atau marihuana, hashish.
4. Sedatif dan hipnotik, misalnya nitrazepam, klonasepam, bromazepam.
5. Kokain, yang terdapat dalam daun koka, pasta kokain, bubuk kokain.
6. Stimulan lain, termasuk kafein, metamfetamin, MDMA.
7. Halusinogen, misalnya LSD, meskalin, psilosin, psilosibin.
8. Tembakau yang mengandung zat psikoaktif nikotin.
9. Inhalansia atau bahan pelarut yang mudah menguap, misalnya minyak cat, lem, aseton.
10. Lainnya, yang tidak/belum dapat dikelompokkan ke salah satu dari 9 kelompok di atas.

PENGGOLONGAN NARKOTIKA MENURUT UNDANG-UNDANG RI NOMOR 35 TAHUN


2009 TENTANG NARKOTIKA

Dalam Undang-undang ini, narkotika dibedakan menjadi 3 golongan, tanpa memperhatikan


struktur molekul maupun khasiat farmakologiknya.
a. Golongan I:
• Dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan
• Dalam jumlah terbatas, narkotika golongan I dapat digunakan untuk kepentingan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik,
serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan menteri atas
rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (pasal 8).

34
• Termasuk narkotika golongan I adalah opium, heroin, kokain, ganja, metakualon,
metamfetamin, amfetamin, MDMA, STP, fensiklidin.
b. Golongan II:
• Berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan dan digunakan dalam pengobatan
sebagai pilihan terakhir.
• Termasuk dalam golongan ini adalah morfin, petidin, metadon.
c. Golongan III:
• Berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan digunakan dalam terapi.
• Termasuk dalam golongan ini adalah kodein, bufrenorfin.

New Psychoactive Substance (NPS)


New Psychoactive Substance (NPS) merupakan istilah yang digunakan oleh The United Nations
Office on Drugs and Crime (UNODC) untuk menggambarkan zat dalam bentuk murni atau
olahan, yang belum diatur dan dikendalikan oleh undang-undang atau aturan legal, namun
dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan publik. Di pasaran, NPS dikenal juga sebagai
“legal high”, “bath salts”, atau “research chemicals”.

Menurut UNODC, kelompok zat utama dari NPS antara lain:

 Aminoindanes, contoh MDAI


 Synthetic cannabinoids, contoh JWH-018
 Synthetic cathinones, contoh 4-MEC
 α-pyrrolidinopentiophenone (α-PVP)
 Zat tipe phencyclidine, contoh methoxetamine (MXE)
 Phenethylemanine, contoh 25H-NBOME
 Piperazine, contoh BZP, mCPP
 Zat berbasis tanaman, contoh kratom, khat
 Typtamine, contoh AMT
 Zat lainnya, seperti dimethylamylamine (DMAA)

Tiap zat memiliki efek yang berbeda, sebagai contoh BZP dan MDAI, termasuk tipe
stimulansia, menyerupai efek amfetamin, kokain dan ekstasi. Synthetic cannabinoid sesuai
dengan namanya, memiliki efek seperti kanabis, sedangkan 25H-NBOME memiliki efek
halusinogenik menyerupai LSD.

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), sebagian NPS telah beredar di Indonesia dengan
berbagai jenis. Beberapa di antaranya telah diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia tentang perubahan penggolongan narkotika, dan masuk ke dalam daftar
narkotika golongan I.

35
Pokok bahasan 3
PATOFISIOLOGI GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT

Otak dan fungsinya


Untuk memahami patofisiologi gangguan penggunaan zat, hal pertama yang perlu dipelajari
adalah otak dan fungsinya. Otak manusia terdiri dari beberapa bagian yang bekerja sama
layaknya sebuah tim. Tiap bagian otak bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan
melakukan suatu fungsi spesifik. Zat psikoaktif dapat mengubah fungsi area-area penting
pada otak yang berhubungan dengan kelangsungan hidup, serta dapat mendorong
penggunaan zat yang bersifat kompulsif yang menandai terjadinya adiksi.
Area otak yang dipengaruhi oleh zat antara lain:

1. Batang otak (brain stem)


Bagian otak ini mengendalikan fungsi dasar yang penting bagi kelangsungan hidup,
seperti detak jantung, pernapasan, dan tidur.

2. Korteks serebri (cerebral cortex)


Bagian otak ini terbagi menjadi beberapa area yang mengontrol fungsi spesifik. Bagian
paling depan dari korteks, yaitu korteks prefrontal, merupakan pusat berpikir pada otak,
di sinilah letak kemampuan berpikir, menyusun rencana, memecahkan masalah, dan
membuat keputusan seseorang.
3. Sistim limbik (limbic system)
Pada sistim limbik, terdapat yang disebut brain reward circuit. Sistim ini menghubungkan
beberapa struktur otak yang mengatur dan mengendalikan kemampuan seseorang untuk
merasa senang. Perasaan senang akan memotivasi seseorang untuk mengulang suatu
perilaku, hal ini penting untuk eksistensi manusia. Sistim limbik teraktivasi oleh aktivitas
yang menyehatkan dan memertahankan hidup seperti makan dan juga bersosialisasi.
Namun, area ini juga teraktivasi oleh penggunaan zat. Selain itu, sistim limbik juga
bertanggung jawab terhadap persepsi dari berbagai emosi lainnya, yang menjelaskan
mengapa zat tertentu dapat memengaruhi atau mengubah mood seseorang.

36
Gambar 1. Area otak yang dipengaruhi oleh zat

Komunikasi antar sel otak


Otak merupakan pusat komunikasi yang terdiri dari jutaan sel otak yang disebut neuron. Tiap
neuron mengirim dan menerima pesan dalam bentuk sinyal elektrik dan kimiawi. Pesan antar
neuron ini diantarkan oleh neurotransmiter. Neurotransmiter yang membawa pesan, akan
berikatan dengan tempat tertentu pada neuron lainnya yang disebut reseptor.
Neurotransmiter dan reseptor bekerja dengan analogi menyerupai kunci dan lubang kunci.
Reseptor diumpamakan seperti lubang kunci sedangkan neurotransmiter sebagai kunci.
Setelah neurotransmiter berikatan dengan reseptor, pesan kemudian akan diteruskan.

Zat memengaruhi otak dengan cara mengganggu proses neurotransmisi (penerimaan dan
pengiriman pesan antar sel otak). Beberapa zat seperti mariyuana dan heroin misalnya,
menyerupai neurotransmiter alami dan “menipu” reseptor, sehingga mengakibatkan pesan
“abnormal” yang terkirim sepanjang jaringan otak.

Gambar 2. Komunikasi antar sel otak

37
Pengaruh zat pada otak
Satu jaras yang penting dalam memahami efek zat pada otak adalah jaras reward (reward
pathway). Jaras ini melibatkan beberapa bagian otak, antara lain: ventral tegmental area
(VTA), nucleus accumbens (NAc), dan prefrontal cortex (PFC). Saat teraktivasi oleh suatu
rangsang yang menyenangkan (rewarding stimulus) misalnya makanan atau aktivitas seksual,
informasi berjalan dari VTA ke NAc dan naik ke PFC.

Gambar 3. Brain reward system

Manusia, demikian juga organisme lain, melakukan perilaku yang sifatnya rewarding.
Perasaan senang memberikan penguatan positif (positive reinforcement) sehingga perilaku
tertentu akan diulang kembali. Reward dapat bersifat alami seperti makanan, air, seks, dan
juga pengasuhan (nurturing), atau reward buatan (artificial) seperti zat.

Perasaan senang/nikmat muncul akibat adanya pelepasan neurotransmiter dopamin ke NAc


pada reward system. Area lain di otak merekam situasi dan lingkungan yang berkaitan dengan
perasaan menyenangkan ini ke dalam memori. Memori ini, disebut conditioned associations,
seringkali menyebabkan craving (menagih) zat saat pengguna zat berhadapan dengan orang,
tempat, atau benda yang berkaitan denga penggunaan zatnya. Hal ini dapat mengarahkan
pengguna zat untuk mencari zat lagi.

Proses terjadinya adiksi

Pada tahap-tahap awal proses penggunaan zat, stimulasi zat pada sistim reward di otak
merupakan alasan utama seseorang menggunakan zat secara berulang. Namun demikian,
seiring berjalannya waktu, dorongan untuk menggunakan zat meningkat melampaui sekedar

38
dorongan untuk merasakan rasa senang. Peningkatan dorongan ini kemudian akan berkaitan
dengan toleransi dan ketergantungan.

Paparan berulang terhadap peningkatan dosis zat mengubah fungsi otak sehingga fungsi
menjadi normal saat terdapat zat dan tidak normal saat tak menggunakan zat. Dua dampak
klinis yang penting dari perubahan ini adalah toleransi (kebutuhan untuk menggunakan dosis
lebih tinggi untuk mencapai efek zat yang sama) dan juga ketergantungan (dependence),
kecenderungan untuk mengalami gejala putus zat. Gejala putus zat muncul hanya bila pasien
telah mengalami toleransi.

Toleransi zat terjadi karena sel-sel otak yang memiliki reseptor untuk zat tertentu secara
bertahap menjadi kurang responsif terhadap stimulasi zat, sehingga lebih banyak zat yang
dibutuhkan untuk menstimulasi sel otak pada VTA di sistim reward untuk melepaskan jumlah
dopamin yang sama ke NAc. Dengan demikian, dibutuhkan zat dalam jumlah lebih banyak
untuk menimbukan rasa senang/nikmat yang sama pada penggunaan.

Ketergantungan zat dan gejala putus zat berkaitan dengan sistem lainnya di otak yang juga
penting yaitu Locus Ceruleus (LC). Neuron pada LC memproduksi senyawa kimiawi
noradrenalin (NA) dan mendistribusikannya ke area lain di otak yag berhubungan dengan
keterjagaan, pernapasan, tekanan darah, kewaspadaan dan fungsi-fungsi lainnya. Sebagai
contoh, pada penggunaan opioida, saat opioida berikatan dengan reseptor mu pada sel otak
di LC, terjadi penekanan pelepasan NA yang menyebabkan kantuk, pernapasan melambat,
dan tekanan darah turun – suatu kondisi yang sesuai dengan keadaan intoksikasi opioida.
Dengan paparan opioida berulang, neuron LC kemudian menyesuaikan dengan meningkatkan
akitivas kerjanya. Sehingga, bila opioida muncul, NA dalam jumlah normal dilepaskan dan
pasien merasa kurang lebih normal. Saat opioida tidak muncul untuk menekan peningkatan
aktivitas LC, neuron meningkatkan pelepasan NA dalam jumlah besar, memicu kegelisahan,
kecemasan, kram otot dan diarea. Area brain reward system juga berperan dalam gejala
putus zat. Toleransi terhadap zat mengurangi pelepasan dopamin dari VTA ke NAc sehingga
mencegah seseorang merasa senang dari aktivitas rewarding yang normal seperti makan.

Rasa senang yang berasal dari aktivasi zat pada brain reward system mendukung penggunaan
zat secara kontinyu pada tahap awal adiksi zat. Selanjutnya, paparan berulang terhadap zat
mencetuskan mekanisme ketergantungan pada otak, yang mengakibatkan penggunaan zat
harian untuk menghindari gejala putus zat yang tidak menyenangkan. Penggunaan zat yang
memanjang selanjutnya akan mengakibatkan perubahan otak yang bertahan lama yang
menjadi dasar dari perilaku mencari zat yang kompulsif dan berbagai konsekuensi negatif
yang berkaitan yang merupakan hallmark dari adiksi.

39
Pokok bahasan 4
PEMAHAMAN MENGENAI GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

1. Berbagai Pendekatan Pemahaman Mengenai Gangguan Penggunaan Napza

Pemahaman tentang gangguan penggunaan napza memiliki sejarah tersendiri, yang perlu
diketahui oleh petugas kesehatan yang bergerak di bidang penanganan napza. Pendekatan
pemahaman mengenai mengapa seseorang mengalami gangguan penggunaan zat (adiksi)
dan apa yang menyebabkannya, akan mengarahkan masyarakat atau lingkungan kepada jenis
penanganan atau perlakuan terhadap seorang pengguna zat yang sesuai dengan
pendekatan/model yang dianut. Selanjutnya gangguan penggunaan napza akan disingkat
sebagai GPN dalam modul ini.

Berbagai pendekatan untuk memahami GPN, dikenal juga sebagai model atau paradigma,
telah ada sejak beratus tahun lalu. Sebelum abad ke 16, pendekatan seperti pendekatan
moral dan pendekatan kriminal, paling sering digunakan untuk menjelaskan mengapa
seseorang mengalami GPN. Masyarakat sebelum abad ke 16, menganggap seseorang yang
menggunakan napza sebagai individu yang lemah secara moral dan berdosa, karena terus
menerus membuat keputusan buruk untuk dirinya. Berawal dari pemahaman ini, berbagai
pendekatan terapi berbasis religi muncul dan memberi solusi abstinensia total sebagai satu-
satunya penyelesaian. Kita ketahui bahwa hal ini tidak lagi dapat diterapkan saat ini.
Pendekatan kriminal memiliki hubungan erat dengan pendekatan moral, memandang
perilaku adiktif sebagai tindakan kriminal yang melawan hukum dan masyarakat. Segala
sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan zat pada saat itu akan mendapatkan
hukuman.

Setelah abad ke 16, muncul berbagai pendekatan lain seperti pendekatan epidemik, dengan
zat yang berbeda di tempat berbeda di dunia. Epidemik alkohol di Inggris, misalnya, terjadi
karena importasi minuman alkohol yang murah ke Inggris dari Karibia. Pendekatan ini
berujung pada kebijakan untuk menaikkan pajak minuman beralkohol. Pendekatan lain yang
muncul setelah abad ke 16 adalah pendekatan penyakit (illness or disease model).
Pendekatan ini muncul saat terjadi epidemi opium di Asia, Eropa dan Amerika Utara. Pada
periode tersebut, banyak pengguna zat yang dirawat di rumah sakit karena mengalami
gangguan medis dan psikiatrik akibat penggunaan zatnya. Pendekatan ini merupakan awal
mulanya berkembang terapi medis bagi penggunaan zat.

Pendekatan pemahaman gangguan penggunaan zat sebagai suatu penyakit, menimbulkan


kekhawatiran pada masyarakat bahwa para pengguna zat akan menggunakan model ini
sebagai alasan untuk terus menggunakan zat. Meskipun hal ini dapat terjadi pada beberapa
pengguna, sebagian besar pengguna zat menginginkan untuk kembali pada kehidupan normal
40
setelah menjalani proses pemulihan. Pendekatan penyakit sejalan dengan pendekatan
psikologis, psikososial dan budaya. Hal ini yang kemudian menjadi dasar pendekatan
biopsikososial yang saat ini banyak digunakan untuk memahami gangguan penggunaan zat.

2. Pendekatan Biopsikososial

Berbagai model atau pendekatan muncul dalam upaya memahami mengenai adiksi atau
gangguan penggunaan zat. Pada prinsipnya, tak ada satu pendekatan yang paling tepat dalam
menjeaskan mengenai fenomena gangguan penggunaan zat. Model-model baru terus muncul
dalam menjelaskan mengenai penggunaan zat. Satu pendekatan yang sering dan lebih banyak
digunakan saat ini adalah pendekatan biopsikososial yang akan dijelaskan berikut ini.

Ilmu pengetahuan yang ada hingga saat ini belum dapat menemukan satu faktor tunggal yang
menentukan mengapa seseorang dapat menggunakan zat tanpa berlanjut ke adiksi, dan
mengapa sebagian lagi menyalahgunakan zat dan berlanjut pada ketergantungan. Bukti dari
penelitian yang ada saat ini menunjukkan bahwa gangguan penggunaan zat merupakan hasil
interaksi dari berbagai faktor biologis, genetik, kepribadian, psikologis, kognitif, sosial, budaya
dan lingkungan.

Biologis

Psikologis Sosial

Gambar 4. Diagram Biopsikososial

 Faktor Biologis

Faktor biologis dan predisposisi genetik dapat meningkatan risiko seseorang mengalami
masalah penggunaan zat. Beberapa penelitian yang melibatkan anak kembar dan adopsi,
menunjukan bahwa hingga taraf tertentu, penyalahgunaan zat adalah suatu hal yang
diturunkan (herediter). Seorang anak laki-laki dari orang tua yang ketergantungan alkohol,
memiliki risiko 4 kali lebih tinggi untuk memiliki masalah dengan penggunaan alkohol,
dibandingkan dengan anak dari orang tua yang tidak memiliki masalah ketergantungan
alkohol. Anak perempuan dari orang tua yang mengalami ketergantungan alkohol,

41
memiliki risiko 3 kali lipat lebih tinggi dibanding anak dari orang tua yang tidak
ketergantungan alkohol.

Predisposisi genetik terhadap adiksi tidak memengaruhi pilihan zat yag menyebabkan
seseorang menjadi adiksi, namun berhubungan dengan kecenderungan terhadap perilaku
adiktif secara umum. Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa faktor genetik juga dapat
menjadi faktor protektif terkait gangguan penggunaan zat. Sebagai contoh, orang
keturunan Asia, memiliki kekurangan pada satu enzim hati yaitu alcohol dehydrogenase
yang terlibat dalam metabolisme alkohol di hati (liver). Orang dengan variasi genetik ini
cenderung tidak mudah mengalami masalah dengan penggunaan alkohol.

 Faktor Psikologis
Berbagai faktor psikologis diketahui terlibat dalam proses perkembangan seseorang
mengalami gangguan penggunaan zat.

Faktor risiko pada masa kanak


Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan memiliki
kecenderungan untuk memiliki masalah dengan penggunaan zat di kemudian hari. Anak-
anak dengan tampilan perilaku tertentu misalnya gangguan tingkah laku (conduct
disorder), gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (attention
deficit/hyperactivity disorder (ADHD)), dan gangguan perilaku menentang (oppositional
defiant disorder) memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah dengan penggunaan zat.

Secara umum, perilaku antisosial dan menyimpang seperti agresivitas, hostilitas,


vandalisme, perilaku sadistik dan pemberontakan (rebelliousness) merupakan faktor
risiko untuk gangguan penggunaan zat di kemudian hari.

Kepribadian dan Temperamen


Variabel kepribadian yang dapat memengaruhi penggunaan zat antara lain
kecenderungan yang tinggi pada seseorang untuk mencari sesuatu atau sensasi baru
(novelty/sensation seeking). Selain itu, orang yang tidak terlalu takut menghadapi hal
berbahaya dan merugikan (memiliki kadar harm avoidance rendah), orang yang memiliki
afek negatif (perasaan negatif) serta orang yang bergantung pada penghargaan (reward
dependence) memiliki risiko lebih tinggi untuk menggunakan zat.

Beberapa variabel temparen lainnya adalah rendahnya kapasitas atensi (perhatian),


tingkat emosionalitas yang tinggi, sosiabilitas yang rendah dan juga impulsivitas tinggi.
Temperamen yang menyulitkan pada masa kanak misalnya tingkat aktivitas yang tinggi,

42
kurang fleksibel, orientasi tugas yag rendah, mood yang tidak stabil, dan penarikan diri
dari sosial, merupakan beberapa faktor prediktif penyalahgunaan zat pada masa remaja.

Self Efficacy
Variabel psikologis yang juga berpengaruh dalam risiko penggunaan zat adalah self
efficacy. Self efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya utnuk
melakukan suatu perilaku tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self efficacy juga
berarti keyakinan seseorang bahwa ia mampu menghadapi situasi yang membuat stres
atau situasi menantang tanpa menggunakan zat. Hal ini juga berkaitan dengan self efficacy
seseorang untuk menggunakan keterampilan koping yang lain selain penggunaan zat
dalam menghadapi suatu situasi.

Proses pembelajaran
Berbagai teori mengenai pembelajaran, mencoba menjelaskan mengapa seseorang
melakukan suatu perilaku tertentu. Menurut teori classical conditioning, terdapat proses
pembelajaran yang terjadi pada orang yang mengalami adiksi; suatu stimulus non
kondisional atau stimulus yang awalnya netral (misal alat suntik) dipasangkan dengan
stimulus terkondisi (misal zat yang digunakan) sehingga menimbulkan suatu respons yang
terkondisi (misal stimulasi psikomotor). Akibat proses pembelajaran ini, orang, tempat,
atau benda-benda yang berhubungan dengan zat yang digunakan, akan menimbulkan
suatu respons tertentu (misalnya craving atau menagih zat) yang merupakan pencetus
kuat seseorang menggunakan zat lagi selepas pemulihan.

Menurut teori operant conditioning, suatu perilaku didorong oleh reward atau
punishment (hukuman). Reward merupakan bagian dari reinforcement (penguat), yaitu
penguat untuk mencapai konsekuensi positif tertentu (positive reinforcement/reward),
sedangkan negative reinforcement adalah penguat untuk menghindari konsekuensi
negatif tertentu. Sebagai contoh, penggunaan zat dapat memunculkan sensasi
kenikmatan yang merupakan reward, selain itu terdapat penguat negatif (negative
reinforcement) dari penggunaan zat yaitu untuk menghindari gejala putus zat (sakaw).
Proses pembelajaran ini akan terus berlangsung membentuk suatu perilaku adiktif.

 Faktor Sosial

Keluarga
Selain berkaitan dengan faktor genetik, perilaku adiktif diturunkan dari generasi ke
generasi berdasarkan pengaruh sosial. Teori pembelajaran sosial (social learning theory)
menganggap bahwa modeling akan memengaruhi suatu perilaku. Remaja yang
mengamati perilaku orang tua dalam menggunakan zat memiliki kecenderungan untuk

43
mengalami masalah dengan penggunaan zat itu sendiri. Pengawasan orang tua dan
penerapan disiplin yang konsisten dapat menurunkan risiko penggunaan zat pada anak.

Teman sebaya
Teman sebaya dapat memengaruhi nilai, sikap, dan perilaku remaja pada berbagai hal,
termasuk penggunaan zat. Memiliki kelompok sebaya yang menggunakan zat, merupakan
prediktor kuat penggunaan zat pada remaja, demikian juga persepsi bahwa kelompok
sebaya mendukung penggunaan zat. Kelompok sebaya juga diketahui memengaruhi
penggunaan zat melalui interaksi dengan faktor risiko lain seperti masalah keluarga, stres,
kesehatan mental, dan kepercayaan diri.

Pengaruh teman sebaya tidak hanya kuat pada kelompok remaja. Pada orang dewasa,
sebagai contoh perilaku minum alkohol, juga sangat dipengaruhi oleh teman sebaya. Hal
ini ditunjukkan oleh hasil beberapa penelitian pada mahasiswa dan pekerja.

Pasangan
Pada orang dewasa, pasangan merupakan faktor sosial yang penting dan paling
berpengaruh. Penelitian menunjukkan adanya perilaku yang serupa pada pasangan suami
istri dalam hal penggunaan zat. Suami istri cenderung menggunakan zat yang sama, dan
penggunaan zat yang tinggi pada salah satu pasangan merupakan prediktor penggunaan
zat pada pasangannya. Namun demikian, pernikahan dapat menjadi faktor protektif,
karena berhubungan dengan penurunan risiko penggunaan alkohol.

Etnis dan Budaya


Beberapa survei nasional di Amerika Serikat menunjukkan adanya perbedaan tingkat
penggunaan zat pada ras atau etnis berbeda, terutama pada kelompok minoritas (contoh
AfroAmerika). Beberapa hal yang berkaitan dengan hal ini adalah faktor risiko berupa
kemiskinan, diskriminasi, mikroagresi, dan stres di kalangan minoritas. Studi juga
menunjukkan adanya perbedaan dalam hal ketersediaan zat serta persetujuan orang tua
terhadap penggunaan zat, di antara beberapa ras di Amerika seperti kulit putih, kulit
hitam, dan Asia.

Lingkungan
Ketersediaan zat merupakan faktor utama pada permulaan penggunaan zat dan proses
berkembangnya menjadi suatu gangguan. Status sosial ekonomi juga memengaruhi
perilaku penggunaan zat. Kemiskinan merupakan faktor risko masalah penggunaan zat,
penghasilan yang rendah juga berhubungan dengan ketergantungan alkohol dan
komorbiditas gangguan psikiatrik. Kebijakan publik dan aturan sosial sangat memengaruhi
masalah penggunaan zat. Sebagai contoh, aturan mengenai pajak rokok dan alkohol serta

44
penentuan batasan usia legal untuk minum alkohol di suatu negara atau daerah, akan
memengaruhi kecenderungan munculnya masalah terkait penggunaan zat.

Pendekatan biopsikosial menjelaskan bahwa gangguan penggunaan zat terjadi akibat


interaksi dari berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial. Berdasarkan pemahaman ini,
tatalaksana terhadap gangguan penggunaan zat perlu mencakup tatalaksana biologis (fisik),
psikologis, dan juga sosial.

DAFTAR REFERENSI

1. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ) III,


Departemen Kesehatan RI, 1993.
2. The ICD 10 Classification of Mental and Behavioural Disorders, WHO, 1992.
3. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry.
Eleventh Edition. Benjamin James Sadock, Virginia Alcott Sadock, Pedro Ruiz. Wolters
Kluwer. Philadelphia. 2015.
4. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, Fifth Edition. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013.
5. American Psychiatric Association: The American Psychiatric Publishing Textbook of
Substance Abuse Treatment, Fifth Edition. Edited by Marc Galanter, Herbert D Kleber,
Kathleen T Brady. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013.
6. Miller PM. Principles of Addiction: Comprehensive Addictive Behaviors and Disorders.
Volume 1. Elsevier. San Diego, California, 2013.
7. Lowinson and Ruiz’s Substance Abuse: A Comprehensive Textbook, Fifth Edition.
Pedro Ruiz, Eric C Strain. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, PA, 2011.
8. Stahl’s Essential Psychopharmacology: Neuroscientific Basis and Practical
Application / Stephen M. Stahl. Fourth edition. Cambridge University Press, New York.
2013.
9. The National Institute on Drug Abuse (NIDA). Drug Abuse and Addiction. Available
online at http://www.drugabuse.gov.
10. The United Nations Office of Drugs and Crimes (UNODC). UNODC Early Warning
Advisory on New Psychoactive Substances. Available online at http://www.unodc.org

45
MATERI INTI 2

ASESMEN DAN DIAGNOSIS GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Gangguan penggunaan napza secara umum merupakan suatu masalah kompleks yang
meliputi aspek fisik, psikologis dan sosial. Untuk menentukan besaran masalah pada diri
seseorang, diperlukan asesmen klinis secara komprehensif, dimana hasil asesmen ini
merupakan dasar untuk menentukan intervensi atau rencana terapi yang sesuai untuk
individu yang bersangkutan. Dari segi terminologi, asesmen gangguan penggunaan napza
adalah suatu proses mendapatkan informasi menyeluruh tentang individu dengan riwayat
penyalahgunaan atau gangguan penggunaan napza. Asesmen dilakukan pada waktu sebelum
masuk program, selama menjalani program, dan setelah selesai program.

Asesmen dilakukan dengan cara observasi, wawancara maupun pemeriksaan fisik. Dalam
mengobservasi pasien, asesor/terapis perlu mendengarkan dengan seksama respons yang
diberikan pasien, baik yang bersifat verbal (apa yang dikatakan), maupun yang bersifat
nonverbal (bahasa tubuh, mimik muka, intonasi suara, dan lain-lain). Seringkali apa yang
dikatakan bukan hal yang sungguh-sungguh dialami oleh pasien. Untuk itulah seorang
asesor/terapis perlu terlatih dalam membaca bahasa tubuh pasien. Dalam melakukan
wawancara, teknik bertanya dengan pertanyaan terbuka perlu dikuasai oleh asesor/ terapis.
Setiap informasi yang diberikan oleh pasien merupakan faktor baru yang perlu ditambahkan
untuk memperoleh gambaran tentang pasien secara utuh. Sementara itu pemeriksaan fisik
dilakukan untuk melengkapi informasi tentang pasien, baik pemeriksaan umum seperti
tekanan darah, nadi dan suhu badan, maupun pemeriksaan penunjang lainnya yang
diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien (misalkan, urinalisis, laboratorium
lain, radiologi, dan sebagainya).

Untuk mendapatkan hasil asesmen yang komprehensif digunakan berbagai instrumen yang
sudah terstandarisasi dan dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih. Mengingat bahwa
asesmen merupakan salah satu upaya dalam penegakan diagnosis dan menentukan tindak
lanjut terapi untuk pasien, diperlukan suatu pemahaman tentang ihwal masalah
penyalahgunaan napza dan ketrampilan berkomunikasi dari asesor.

46
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Pembelajaran Umum
Pada akhir sesi, peserta mampu melakukan asesmen dan menegakkan diagnosis
penggunaan napza

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


Pada akhir sesi ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan pengertian dan tujuan asesmen
2. Menjelaskan pertanyaan dan komponen yang penting dalam asesmen klinis
3. Menjelaskan langkah-langkah asesmen dan prinsip-prinsip penegakan diagnosis
gangguan penggunaan napza
4. Menjelaskan prosedur pengisian formulir
5. Mampu melakukan wawancara sesuai dengan pertanyaan didalam formulir dan
melakukan pengisian formulir

III. POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan berikut:


Pokok Bahasan 1. Pengertian Dan Tujuan Asesmen Klinis
Pokok Bahasan 2. Komponen Klinis Dalam Asesmen Dan Kaitannya Dengan Rencana Terapi
Pokok Bahasan 3. Persiapan Pelaksanaan Asesmen Gangguan Penggunaan Napza
Pokok Bahasan 4. Prosedur Pengisian Formulir Asesmen Wajib Lapor
Pokok Bahasan 5. Teknik Wawancara Dan Pengisian Formulir Asesmen Wajib Lapor
Pokok Bahasan 6. Prinsip Penegakan Diagnosis Gangguan Penggunaan Napza

IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
PENGERTIAN DAN TUJUAN ASESMEN KLINIS

Melalui pemeriksaan klinis rutin, dokter seharusnya mampu mengidentifikasi pasien dengan
masalah penyalahgunaan napza. Beberapa pasien mungkin dengan suka rela mengakui
bahwa masuknya pasien ke rumah sakit berhubungan dengan penggunaan napza (misalnya
“Dok, saya saat itu sedang pedaw... jadi waktu dibonceng teman naik motor saya terjatuh dan
kepala saya terbentur jalan..”) sementara banyak pasien lainnya akan menunjukkan
penyangkalan yang kuat terhadap masalah penyalahgunaan napzanya. Pada keadaan yang
lain, penyakitnya jelas berhubungan dengan penggunaan napza (misalnya: delirium tremens
atau luka tembak akibat tembakan polisi saat dikejar karena masalah ganja) atau
terdokumentasi di catatan medik. Keadaan-keadaan tersebut tidak membutuhkan skrining
tambahan. Namun, pemeriksaan klinis masih mempunyai keterbatasan seperti pada kejadian
47
dimana klinisi gagal untuk mengenali pasien-pasien dengan keadaan intoksikasi akut, dan
kebutuhan akan pemeriksaan tambahan/penunjang laboratorium sebagai penyaring
(skrining) dirasa meningkat.

Tes narkotika dalam tubuh dapat menjadi skrining awal untuk mendeteksi masalah terkait-
penggunaan narkotika. Sayangnya, sensitivitas, spesifisitas, dan nilai prediktif dari toksikologi
sebagai marker untuk gangguan penggunaan narkotika pada pasien yang dirawat belum
diteliti dengan baik. Terlebih lagi, hasil tes tersebut menjadi sukar diinterpretasi karena hanya
mendeteksi penggunaan yang baru dan tidak mampu membedakan antara penggunaan legal
dan penggunaan ilegal, serta beberapa keterbatasan lain dari uji tersebut (misalnya, banyak
opioid yang tidak bereaksi silang dengan uji urin opiat yang biasanya standar untuk uji morfin).

Identifikasi status kesehatan jiwa secara umum dan penggunaan napza secara khusus serta
masalah yang ditimbulkannya bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana seperti
pemeriksaan urin dan darah sewaktu atau yang lebih kompleks yang meliputi wawancara
terstruktur, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan sebagainya. Seringkali penilaian
masalah tersebut melibatkan satu atau lebih instrumen. Cara yang lebih sederhana biasanya
menggunakan instrumen yang sederhana pengoperasiannya, cepat, dan berbiaya relatif
murah, tetapi hasilnya sangat terbatas atau kurang akurat sehingga tidak bisa dijadikan dasar
pengobatan. Cara ini sering disebut dengan skrining. Skrining bermanfaat untuk
mengidentifikasi riwayat penggunaan napza seseorang. Selanjutnya, untuk mendapatkan
gambaran klinis dan masalah yang lebih mendalam dari orang tersebut dipakai cara yang lebih
kompleks, yang sering disebut juga telaah, kajian, atau asesmen. Karena lebih kompleks,
asesmen memerlukan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih mahal, tetapi hasilnya lebih
akurat sehingga dapat dijadikan dasar pengobatan. Asesmen bermanfaat untuk
mengidentifikasi masalah-masalah yang diakibatkan penggunaan napza secara menyeluruh.

Skrining umumnya dipakai pada populasi umum untuk mendapatkan informasi secara cepat
terkait penggunaan napza, seperti pelaksanaan urinalisis pada siswa atau karyawan. Inisiatif
melakukan skrining pada umumnya berasal dari pihak yang mempunyai kepentingan, misal
sekolah, kepolisian, atau puskesmas. Contoh lain instrumen skrining adalah Alcohol, Smoking,
& Substance Involvement Screening Test (ASSIST); CRAFFT; dan AUDIT.

Sesuai dengan manfaat asesmen, asesmen dilakukan untuk memperoleh gambaran pasien
secara lebih menyeluruh (komprehensif). Dengan kata lain, asesmen bertujuan untuk
mengidentifikasi semua masalah dan kebutuhan pasien sehingga diperoleh gambaran yang
utuh mengenai kondisi pasien tersebut. Gambaran yang utuh tersebut akan memudahkan
dokter untuk merencanakan tata laksana berdasarkan prioritas. Instrumen yang populer
dipakai adalah Addiction Severity Indeks (ASI). Indonesia memodifikasi instrumen tersebut
menjadi Formulir Asesmen Wajib Lapor.

48
Tabel Perbandingan antara Skrining dan Asesmen

Skrining Asesmen

Subjek Populasi umum, orang yang Populasi dengan indikasi,


belum diketahui riwayat orang dengan masalah akibat
penggunaan napzanya napza

Inisiatif Fasyankes, sekolah, atau Pasien dengan keluhan


yang mempunyai
kepentingan lainnya

Hasil Sewaktu dan final Tidak final, hasil dapat


dimodifikasi dengan adanya
bukti baru

Kesimpulan Berdasarkan satu kriteria Berdasarkan sejumlah


kriteria

Akurasi Kurang Lebih baik

Biaya Lebih murah Lebih mahal

Dasar pengobatan Tidak Ya

Contoh instrumen ASSIST, CRAFFT, AUDIT ASI, Formulir Asesmen


Wajib Lapor

Dengan demikian, setiap penyedia layanan terapi rehabilitasi napza harus melakukan
asesmen untuk setiap pasien yang datang, bukan sekedar skrining. Hal ini sangat diperlukan
mengingat hasil asesmean menjadi alat bantu dalam menegakkan diagnosis dan menyusun
rencana terapi. Selain itu asesmen yang dilakukan secara berkala (misal, setiap 2 bulan) dapat
membantu dalam proses pengawasan keberhasilan terapi rehabilitasi pasien. Terakhir, yang
tidak kalah penting, hasil asesmen merupakan dokumen otentik resmi yang dapat menjadi
dasar bagi petugas kesehatan dalam memberikan keterangan bagi penegak hukum bilamana
pasien ditangkap karena menggunakan napza.

49
Pokok bahasan 2
KOMPONEN KLINIS DALAM ASESMEN DAN KAITANNYA DENGAN RENCANA TERAPI

Komponen Klinis dalam Asesmen

Formulir Asesmen Wajib Lapor (FAWL) merupakan modifikasi dari Addiction Severity Index
(ASI) edisi kelima. ASI merupakan instrumen wawancara semi-terstruktur yang
dikembangakan oleh Thomas A. McLellan bersama koleganya dari Universitas Pensylvania,
Amerika Serikat, pada 1980. Versi terakhir (kelima) diterbitkan pada 1990. FAWL merujuk
pada ASI v3.1. Serupa dengan ASI, FAWL mencakup 6 area (ranah) penting dari kehidupan
pasien:

1. Medis
2. Pekerjaan/dukungan hidup
3. Penggunaan alkohol dan zat adiktif lainnya
4. Hukum
5. Sosial/keluarga
6. Psikiatrik

Salah satu modifikasi yang membedakan antara ASI dan FAWL adalah ranah ketiga, yang mana
dalam ASI penggunaan alkohol dipisah dari pengunaan zat adiktif lainnya (sehingga ada tujuh
ranah dalam ASI). Keenam ranah kehidupan di atas tertuang dalam formulir sebagai enam
komponen klinis, selain komponen tambahan yang merupakan modifikasi dalam FAWL.

Sama halnya dalam praktik klinis sehari-hari, seorang tenaga medis (dokter) akan melakukan
anamnesis (baik auto- maupun allo-) tentang riwayat medis lengkap, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan status mental, dan pemeriksaan penunjang/laboratorium (sebagaimana
diperlukan) sebagai bagian dari asesmen terhadap pasiennya. Berikut ini dijabarkan lebih rinci
setiap tindakan tersebut:

a. Riwayat medis lengkap meliputi:


• Riwayat penggunaan napza (misal; usia pertama kali pakai, zat yang digunakan,
perubahan yang drasakan, riwayat toleransi, overdosis, percobaan untuk berhenti,
keinginan menggunakan dan sugesti)
• Riwayat pengobatan (misal; pengobatan yang dilakukan sebelumnya, metode
pengobatan yang pernah dicoba, hasil dari pengobatan yang telah dilakukan)
• Riwayat psikiatrik (misal; diagnosis psikiatrik, pengobatan yang telah dijalani, hasil
pengobatan)
• Riwayat keluarga (misal; penggunaan narkotika dalam keluarga, riwayat medis dan
psikiatrik keluarga)

50
• Riwayat medis umum (misal; sistem pengobatan yang diterima, riwayat trauma dan
pembedahan sebelumnya, riwayat seksual, pengobatan saat ini dan lampau, riwayat
nyeri)
b. Pemeriksaan fisik/sistem-organ di dalam asesmen meliputi:
• Kondisi umum (keadaan umum, tanda-tanda vital)
• Perilaku (tanda-tanda intoksikasi)
• Keadaan kulit (basah, kemerahan, bekas suntikan, peradangan, kekuningan, dll)
• Organ mata, telinga, hidung, dan tenggorokan (warna konjungtiva, pupil mata,
pembengkakan selaput lendir, septum nasi, dan lain-lain)
• Sistem pencernaan (Hepatomegali)
• Sistem respirasi dan kardiovaskular: paru, jantung, dan organ lainnya yang
berhubungan
• Organ reproduksi
• Neurologi (sensori, refleks patologis, fungsi saraf lainnya)
c. Pemeriksaan Status Mental (Dalam bentuk Checklist)
• Penampilan umum
• Perilaku dan interaksi dengan asessor
• Pembicaraan
• Aktivitas motorik
• Mood dan afek
• Persepsi (halusinasi)
• Proses pikir
• Isi pikir (ide-ide bunuh diri, menyakiti orang, waham)
• Kemampuan menilai: diri (tilikan), sosial
• Fungsi kognitif (orientasi, daya ingat, konsentrasi, intelegensia)
d. Pemeriksaan penunjang merupakan bagian penting dari asesmen klinis pada pasien
ketergantungan narkotika karena, meskipun tidak dapat dipakai untuk menegakkan
diagnosis, berguna bagi pengembangan rencana terapi yang komprehensif. Beberapa
pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk pasien dengan gangguan
penggunaan napza meliputi:
• Pemeriksaan darah dan urin rutin
• Tes Fungsi Hati (setidaknya SGOT dan SGPT)
• Tes HIV melalui VCT atau PITC
• Hepatitis B dan C
• Serologi untuk Infeksi Menular Seksual
• Tes untuk jenis zat (Toksikologi)
• Tes kehamilan untuk pasien wanita
Jika terdapat indikasi untuk melakukan pemeriksaan foto Rongent Thorax, EKG, EEG, CT
scan, atau MRI, maka pemeriksaan tersebut dapat pula dilakukan.

51
Riwayat penggunaan zat adiktif dan riwayat psikiatrik dalam praktik klinis sehari-hari
merupakan bagian dari riwayat medis yang lengkap, tetapi FAWL memisahkan ketiganya
menjadi tiga komponen terpisah.

HUBUNGAN ANTARA ASESMEN DAN RENCANA TERAPI


Pertanyaan Dalam Asesmen
Saat memulai asesmen, asesor perlu memahami beberapa pertanyaan penting untuk dapat
menyimpulkan masalah pasien dan mampu menyusun rencana untuk mengatasi masalah
tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi:

• Apa yang dianggap suatu masalah bagi pasien?


• Apa yang menjadi tujuan pasien dalam terapi?
• Apa saja dukungan yang tersedia yang dapat dipilih oleh pasien untuk mencapai tujuan
pasien?
• Hambatan apa saja yang mungkin menghalangi tujuan tersebut?
• Cara apa saja yang mungkin dilakukan untuk mengatasi hambatan yang akan dihadapi?
• Apakah individu dapat menyelesaikan fase krisis dalam kehidupannya? Dan bagaimana
dampaknya terhadap efikasi diri pasien?
• Apa saja kekuatan dan sumber daya yang dimilki oleh pasien dalam mencapai tujuan
pasien?
• Dukungan luar apa saja dari luar pasien yang membantu pasien untuk mencapai tujuan
terapi?
• Apa jalan yang terbaik yang bisa digunakan pasien baik kekuatan pasien sendiri maupun
dukungan sumber daya luar?
• Adakah keinginan pasien untuk melakukan sesuatu yang berbeda?

Setelah informasi klinis atau hasil dari asesmen menyatakan adanya masalah terkait-
penggunaan narkotika, selanjutnya dibutuhkan informasi tambahan untuk menentukan
adanya “keinginan untuk berubah” pada pasien. Selain pemeriksaan klinis dan penunjang,
informasi juga dapat diperoleh melalui cara lain seperti resep. Resep pasien yang dapat dilihat
dari farmasi/apotik dapat dijadikan informasi mengenai jenis obat dan dosis yang diberikan
pada pasien.

Di akhir asesmen, asesor diharapkan mempunyai pemahaman utuh tentang diri pasien
beserta masalahnya. Pemahaman tersebut dinilai melalui jawaban asesor terhadap tiga
pertanyaan berikut:

1. Apa arti napza bagi pasien?


2. Manfaat apa yang pasien peroleh dari menggunakan napza?
3. Apakah penggunaan napza menciptakan masalah bagi pasien?
52
Dengan melihat penggunaan napza merupakan suatu masalah, pendekatan yang
komprehensif akan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pokok bahasan 3
PERSIAPAN PELAKSANAAN ASESMEN KLINIS

Adiksi dan gangguan jiwa akibat pemakaian zat lainnya merupakan suatu penyakit
otak yang mana zat aktif memengaruhi area pengaturan perilaku. Dengan demikian, gejala
dan tanda utama dari penyakit tersebut adalah perubahan perilaku. Berbeda dari kebanyakan
penyakit lainnya, morbiditas pada adiksi bermula dari pencitraan diri (self-image, self respect,
self-concept, dan sense of self-efficacy serta gejala-gejala psikiatrik yang menjadi awal dari
penyakit); berlanjut pada hubungan interpersonal (keluarga, teman dekat, dan hubungan
sosial lainnya), kegemaran atau hobi, status finansial, aspek hukum, prestasi sekolah atau
pekerjaan; dan berakhir pada kerusakan organ atau fisik.
Asesmen mengungkap banyak hal, termasuk hal yang terungkap dalam skrining tetapi
dilakukan secara mendalam dan ditekankan pada area masalah yang terungkap. Tujuan
asesmen adalah untuk mengembangkan rencana terapi dan untuk menentukan program atau
layanan spesifik yang sesuai. Tahapan untuk asesmen meliputi riwayat penggunaan narkotika,
pola penggunaan saat ini, riwayat kesehatan mental dan gejala saat ini, riwayat dan status
kriminalitas, dan area fungsi psikososial lain, tipe penatalaksanaan dan layanan dukungan
yang dibutuhkan.
Dari berbagai manfaat tersebut, asesmen dirasa sangat penting. Dengan demikian,
asesmen menjadi suatu ketrampilan klinis dasar dan salah satu landasan bagi perawatan
pasien yang berkualitas. Asesmen yang baik mampu menghubungkan diagnosis dengan
penatalaksanaan awal, memastikan akurasi dari diagnosis awal, dan mengidentifikasi
perawatan yang paling efisien dan efektif.
Asesmen awal biasanya dilakukan pada saat pasien datang ke layanan. Meskipun
demikian, asesmen awal bisa dilakukan dalam dua minggu pertama perawatan bila pasien
datang dalam kondisi yang tidak memungkinkan asesmen dilakukan (misal, intoksikasi akut).
Asesmen perlu diulang secara periodik untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang baru
muncul setelah menjalani penatalaksanaan, contohnya riwayat kekerasan fisik atau seksual
yang baru dilaporkan setelah pasien merasa lebih nyaman berbicara kepada konselor dan
petugas partisipan lainnya. Relaps yang terjadi, perubahan rencana kehidupan atau
pekerjaan, dan masalah baru lainnya yang terjadi dalam masa pengobatan dapat menjadi
dasar untuk melakukan modifikasi rencana terapi awal menjadi lebih spesifik sesuai dengan
kemampuan penyedia layanan.

53
Pokok bahasan 4
PROSEDUR PENGISIAN FORMULIR ASESMEN WAJIB LAPOR

4. Skala Penilaian Pasien

Hal penting bahwa pasien mengembangkan kemampuan untuk mengkomunikasikan


sejauh mana ia telah mengalami masalah di tiap area yang ditanyakan, dan sejauh mana
ia merasa terapi untuk masalah tersebut adalah penting. Perkiraan subyektif adalah
penting untuk menilai keikutsertaan pasien dalam asesmen masalah yang dimiliknya.

Untuk menstandarkan asesmen ini digunakan sebuah skala 5 poin (0-4) bagi pasien
menilai keparahan masalah mereka dan sejauh mana pasien merasa terapi adalah penting
untuk dirinya.
0 tidak sama sekali
1 ringan
2 sedang
3 berat
4 sangat berat

Beberapa pasien mampu menggambarkan kondisinya dengan menggunakan skala


tersebut, namun pasien-pasien yang lain harus menggunakan bahasa mereka sendiri
dalam mengungkapkan pendapatnya. Pada kasus-kasus seperti yang disebut terakhir,
pewawancara lebih baik bersikap fleksibel dengan memotivasi pasien untuk
menyampaikan secara rinci masalahnya dan membantu pasien menentukan skalanya,
daripada hanya sekedar memaksa pasien untuk menentukan sebuah pilihan dari skala
tanpa memberikan bantuan penilaian.

Penilaian pasien terhadap luas atau parahnya masalahnya di satu area tidak didasarkan
pada persepsinya terhadap masalah-masalah lain. Pewawancara harus berusaha untuk
mengklarifikasi masing-masing penilaian sehingga satu area masalah yang terpisah, dan
memfokuskan periode waktu pada 30 hari sebelumnya. Jadi, penilaian harus dibuat
berdasarkan masalah aktual saat ini, bukan masalah potensial. Jika seorang pasien
melaporkan tidak ada masalah selama 30 hari sebelumnya, lalu sejauh mana dia telah
diganggu oleh masalah-masalah itu harus 0 dan pewawancara harus menanyakan sebuah
pertanyaan penegasan sebagai pemeriksaan pada informasi sebelumnya. Contoh
penegasan yang dapat diungkapkan, ”Karena anda telah mengatakan anda tidak
mempunyai masalah medis dalam 30 hari terakhir, dapatkah saya mengasumsikan bahwa
pada saat ini anda tidak merasakan kebutuhan untuk terapi medis apapun?

54
5. Klarifikasi
Selama wawancara, upayakan untuk mengklarifikasi respons atau jawaban yang dianggap
penting untuk menghasilkan wawancara yang sahih. Untuk memastikan kualitas
jawaban, pastikan maksud dari tiap pertanyaan ditangkap jelas oleh pasien. Cara
mengajukan pertanyaan tidak harus persis seperti yang tertulis, pewawancara boleh
menggunakan kata-kata sendiri (rephrasing) atau sinonim yang sesuai .

Ketika pasien tampak mengalami kesukaran dalam memahami pertanyaan lebih lanjut,
lebih baik wawancara tidak dilanjutkan. Tunda lanjutan wawancara tersebut sehari atau
lebih agar pasien pulih dari kebingungan awal, yang mungkin merupakan efek disorientasi
dari penyalahgunaan zat akhir-akhir ini, dan dengan demikian akan terhindar dari
tindakan mencatat respons yang membingungkan. Demikian juga bagi pasien yang dalam
kondisi putus zat atau intoksikasi.

Jika pasien merasa tidak nyaman memberikan sebuah jawaban, maka pasien boleh
menolak untuk menjawab. Beri tanda silang di depan nomor pertanyaan. ”Tolong jangan
memberikan informasi yang tidak akurat!”.

6. Penilaian oleh Pewawancara


Penilaian tiap area didasarkan hanya pada jawaban terhadap pertanyaan yang
berhubungan dengan area tersebut, bukan jawaban tambahan yang berhubungan area
lain. Untuk meningkatkan keandalan dan perkiraan, pewawancara perlu mengembangkan
sebuah metode sistematis yang umum untuk memperkirakan keparahan dari tiap
masalah.

Keparahan didefinisikan sebagai kebutuhan untuk terapi jika saat wawancara belum
menerima terapi apapun; atau sebagai kebutuhan untuk tambahan jenis terapi jika saat
wawancara sudah menerima terapi dalam bentuk apapun. Penilaian ini harus didasarkan
pada jumlah, lama, dan intensitas gejala di dalam satu area masalah.

55
Berikut adalah petunjuk umum untuk penilaian:

Skor Interpretasi

0–1 Tak ada masalah nyata, terapi tak dianjurkan

2–3 Masalah ringan, terapi mungkin tak dianjurkan

4–5 Masalah sedang, terapi dianjurkan

6–7 Masalah sungguh-sungguh ada, terapi diperlukan

8–9 Masalah ekstrem, terapi mutlak diperlukan

Penilaian di atas dimaksudkan sebagai prakiraan seberapa mendesak suatu intervensi


diperlukan, tanpa memperhatikan ketersediaan terapi tersebut.

Contoh kasus. Seorang pasien dengan TB paru aktif yang mendapat penilaian akhir
keparahan adalah 9 untuk area medis mengartikan bahwa terapi OAT (misalnya) memang
sangat diperlukan.

Pasien yang menunjukkan sedikit gejala penyakit dapat dinilai dengan taraf keparahan
masalah medis yang rendah. Penilaian keparahan yang sangat tinggi harus menjadi
indikasi yang berhubungan dengan kebutuhan tinggi untuk terapi.

7. Prosedur Perolehan Penilaian Keparahan

Langkah 1
Dapatkan sebuah rentang skor (dua atau tiga skor) yang paling baik menggambarkan
kebutuhan pasien akan terapi pada saat ini berdasarkan data obyektif saja
1. Bentuklah sebuah gambaran kondisi pasien berdasarkan butir obyektif.
2. Formulasikan sebuah rentang perkiraan – kira-kira.

Langkah 2
Pilihlah satu skor di dalam rentang di atas menggunakan hanya data subjektif di
ranah/komponen tersebut.
1. Jika pasien menganggap masalah sungguh-sungguh dan merasa terapi adalah penting,
pilih skor yang tinggi di dalam rentang itu.
2. Jika pasien menganggap masalah kurang serius dan menganggap kebutuhan untuk
terapi kurang penting, pilihlah skor yang rendah.

56
Pokok bahasan 5
TEKNIK WAWANCARA DAN PENGISIAN FORMULIR ASESMEN WAJIB LAPOR

1. Teknik Wawancara

Untuk mendapatkan hasil asesmen yang akurat, diperlukan hubungan yang baik atau
terapeutik antara asesor/terapis dengan pasien. Enam sikap dan ketrampilan yang sebaiknya
dimiliki oleh asesor yaitu:

1. Kemampuan interpersonal yang baik, meliputi sikap hangat, ramah, menghargai dan
empati
2. Ketulusan dalam menolong pasien
3. Mampu memberikan afirmasi
4. Memberikan dukungan
5. Mampu menjadi pendengar yang baik melalui teknik “reflective listening”
6. Mampu memberikan pertanyaan terbuka dan menggali jawaban pasien tanpa
menginterogasi

Sikap tubuh (sebagaimana yang dipersyaratkan dalam melaksanakan konseling) juga


merupakan salah satu alat untuk membina hubungan yang baik dengan pasien.

Pewawancara harus memperkenalkan diri dan secara singkat menyatakan bahwa ia ingin
mengajukan beberapa pertanyaan berkenaan dengan riwayat kehidupan dan pemakaian
narkotika pasien. Pewawancara juga harus menyatakan bahwa wawancara akan bersifat
rahasia kecuali informasi yang berhubungan dengan keselamatan diri pasien atau orang lain.

Selanjutnya, pewawancara menggambarkan struktur wawancara, dengan menekankan enam


area masalah potensial. Keenam area tersebut adalah:

1. Medis
2. Pekerjaan/Dukungan
3. Zat/Alkohol
4. Hukum
5. Keluarga/Sosial
6. Psikiatris

Penting juga pewawancara menekankan sifat alamiah dari kontribusi pasien. Misalnya,
pewawancara harus menyatakan: “Saya memahami saat seseorang mempunyai masalah
penggunaan narkotika, ternyata banyak masalah lain yang secara signifikan berpengaruh

57
pada penggunaan narkotikanya seperti kondisi medis, pekerjaan, keluarga, dll. Oleh karena
itu, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin terkait dengan masalah
penggunaan narkotika anda saat ini.....”

Pewawancara sebaiknya memperpersiapkan pasien untuk memusatkan perhatian kepada


tiap-tiap area masalah secara independen. Hal tersebut bertujuan supaya pasien tidak
mengacaukan masalah di area tertentu dengan kesulitan yang dialami di area lain, seperti
mengacaukan masalah psikiatris dengan masalah akibat efek langsung dari intoksikasi zat.
Pewawancara dapat memperkenalkan tiap pergantian area pertanyaan, misalnya, “Kita telah
berdiskusi” tentang masalah medis anda, sekarang saya akan mengajukan beberapa
pertanyaan tentang pekerjaan atau dukungan lain yang mungkin anda miliki.” Demikian
selanjutnya untuk tiap perpindahan area masalah yang akan dinilai.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan memaksakan pasien untuk memberikan
jawaban untuk tiap pertanyaan yang dilakukan, buatlah tanda ’X’ bila pasien menolak
memberikan jawaban.

2. Pengisian Formulir Asesmen Wajib Lapor

Dalam melakukan pengisian formulir asesmen tekankan pasien untuk memahami tujuan
dilakukannya asesmen dalam wajib lapor sehingga mendorong kesungguhan pasien untuk
menjawab tiap pertanyaan. Pasien akan lebih terbuka untuk menjawab pertanyaan jika
pertanyaan diajukan dalam cara yang langsung dan tidak konfrontasional. Pewawancara
dapat hanya membaca pertanyaan seperti ditulis atau dapat dengan cara yang lebih efektif
menguraikan dengan kata-kata sendiri sehingga memperoleh informasi yang diinginkan.
Selain itu pewawancara dapat mengajukan pertanyaan tambahan untuk memberikan
informasi yang mendukung pewawancara memahami masalah pasien seutuhnya, sehingga
rencana terapi yang disusun sesuai dengan kebutuhan pasien.

58
Bagian kepala kuesioner :
Tanggal Kedatangan : Cantumkan tanggal-bulan-tahun kedatangan pasien
Nomor rekam medik : Cantumkan nomor rekam medik pasien atau nomor barcode bila
sudah tersedia
Nama : Cantumkan nama lengkap sesuai dengan tanda identitas diri pasien
(KTP) atau identitas lain serta sama dengan nama yang tertulis
dalam status rekam medis. Untuk anak dibawah umur maka identitas
sesuai dengan yang diberikan oleh orang tua atau wali anak
tersebut, dan lampirkan identitas orangtua atau wali anak.
Alamat tempat tinggal : Cantumkan alamat terakhir pasien atau alamat tujuan setelah pasien
selesai terapi. Bila pasien tidak memiliki tempat tinggal tetap,
cantumkan alamat dimana pasien paling sering tinggal
Telepon/HP : Cantumkan nomor telepon rumah atau telepon genggam pasien atau
nomor telepon keluarga/teman terdekat yang dapat dihubungi oleh
petugas
Usia : Cantumkan usia saat tanggal kedatangan
Jenis Kelamin : Cantumkan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, sesuai yang
terlihat

1. Informasi Demografis:
1. Status perkawinan:
Cantumkan kode status perkawinannya pada kotak yang diarsir sebelah kanan, sesuai
kondisinya saat ini. Misalkan pasien menjadi sudah menikah, maka tulis angka 2 di kotak
yang diarsir sebelah kananya.
2. Riwayat pendidikan:
Cantumkan kode pendidikan terakhir yang pernah ditempuh pada kotak yang diarsir
sebelah kanan, sebagaimana pencatuman kode perkawinan di atas.

Catatan Skala Penilaian Pasien:


Pada pertanyaan tentang Status Medis hingga Status Psikiatrik, terdapat skala penilaian pasien
pada sebelah kiri masing-masing domain. Skala penilaian pasien wajib diisi dengan cara bertanya
pada pasien setiap asesmen untuk masing-masing domain selesai dilakukan. Hal ini didasari
pertimbangan bahwa pendapat pasien merupakan masukan yang penting.
Tanyakan pada pasien, seberapa pentingnya ia membutuhkan terapi terkait kondisi medisnya.
Mintalah pasien untuk memberi nilai sebagai berikut;
0 = Tidak membutuhkan sama sekali
1 = Agak membutuhkan
2 = Cukup membutuhkan
3 = Membutuhkan
4 = Sangat membutuhkan

59
2. Status Medis:
Cantumkan kapan wawancara tentang status medis pasien dilakukan. Mohon diingat bahwa
wawancara mungkin saja dilakukan tidak bersamaan dengan tanggal kedatangan pasien.
1. Riwayat rawat inap yang tidak terkait masalah Narkotika:
Cantumkan jenis penyakit, tahun rawat dan lamanya perawatan (dalam hari).
Yang dimaksud disini adalah jumlah hari menginap di rumah sakit karena masalah medis,
misalnya karena penyakit typhus, demam berdarah, kecelakaan, atau perawatan medis
lainnya, termasuk over dosis dan delirium tremens. Tidak termasuk: detoksifikasi atau
bentuk lain terapi rehabilitasi alkohol dan napza; perawatan kejiwaan; atau perawatan
karena kelahiran anak secara normal (tanpa komplikasi)
Catatan: elaborasi jawaban pasien secara rinci, dengan menanyakan tahun ketika
perawatan terjadi, kejadian lain dalam kehidupan pasien pada waktu itu, untuk setiap
perawatan. Informasi tambahan membuat proses wawancara lebih mengalir sebagai
sebuah percakapan. Selain itu juga membantu kita melihat kemungkinan keterkaitan
masalah medis dengan waktu-waktu pemakaian Napzanya. Catatlah keterangan ini di
bagian yang kosong dari formulir tersebut.
2. Riwayat penyakit kronis:
Cantumkan penyakit kronis yang diderita pasien terutama yang memerlukan perawatan
berkesinambungan (misal: pengobatan, pengaturan diet, ketidakmampuan untuk
menjalankan kegiatan normal). Beberapa contoh dari penyakit kronis adalah: hipertensi,
diabetes, epilepsi, cacat fisik atau penderita HIV yang telah membutuhkan terapi Anti
Retroviral (ARV).
3. Saat ini sedang menjalani terapi medis? Catat kode jawaban pasien pada kotak yang diarsir
sebelah kanan pertanyaan.
Jenis terapi medis: Cantumkan bila pasien saat ini dalam program terapi tertentu, terkait
kondisi medis apa dan jenis terapi medis yang dijalani saat ini, misalnya pengobatan insulin
karena kondisi diabetis.
4. Status kesehatan:
Tanyakan apakah pasien pernah menjalankan tes HIV, Hepatitis B dan C? Tulis kode
jawaban pada kotak yang diarsir sebelah kanan pertanyaan. Apabila pasien tidak
keberatan, tanyakan bagaimana hasilnya.

60
3. Status Pekerjaan/Dukungan Hidup:
Cantumkan kapan wawancara tentang status pekerjaan/dukungan hidup pasien dilakukan. Mohon
diingat bahwa wawancara mungkin saja dilakukan tidak bersamaan dengan tanggal kedatangan
pasien.
1. Status pekerjaan:
Tanyakan apakah pada saat sekarang pasien mempunyai kegiatan atau pekerjaan tertentu.
Tulislah kodenya dikotak yang diarsir. Eksplorasi informasi tambahan dimana dia bekerja dan
sudah berapa lama dia menjalani pekerjaan tersebut. Tuliskan info tambahan di bagian-bagian
yang kosong. Bila tidak ada pekerjaan/kegiatan, langsung ke nomor 4.

2. Bila bekerja, pola pekerjaan:


Pewawancara harus menentukan pekerjaan yang paling mewakili kondisi pasien saat ini.
Pekerjaan penuh waktu adalah yang teratur, ≥ 35 jam/minggu. Pekerjaan paruh waktu dimana
pasien mempunyai jadwal kerja ≤ 35 jam /minggu, tapi teratur dan terus menerus. Yang
dimaksud dengan pekerjaan tidak tentu adalah pekerjaan dimana jumlah jam kerja kurang dari
35 jam/minggu, tetapi tidak memiliki jadwal tetap. Bila terdapat waktu yang sama untuk lebih
dari satu kategori, catatlah yang paling mewakili situasi saat ini.
3. Kode pekerjaan:
Pilihlah kode pekerjaan sesuai dengan pekerjaan pasien sehari-hari. Tentukan jenis pekerjaan
pasien masuk kelompok yang mana (kategori Holingshead) dan beri tanda dengan dilingkari.

4. Keterampilan teknis yang dimiliki:


Tanyakan pasien tentang pendidikan teknis formal atau pelatihan yang pernah mereka ikuti
dan dapat dituliskan dalam aplikasi pekerjaan (curiculum vitae).

5. Adakah yang memberi dukungan hidup bagi anda?


Tulis kode sesuai jawaban pasien di kotak yang diarsir.

Yang dimaksud dukungan hidup adalah pemberian uang, tempat tinggal, makanan, biaya
pengobatan/perawatan secara teratur dari berbagai sumber, kecuali institusi (mis. yayasan).
Catatan: Pasien yang tinggal dengan orang tua diatas usia 18 tahun, dianggap juga menerima
dukungan hidup, setidaknya dari segi tempat tinggal dan/atau makanan).

6. Bila ya, siapakah?


Tuliskan pemberi dukungan hidup bagi pasien, seperti orangtua, keluarga, teman saudara, dan
bukan sebuah institusi

7. Dalam bentuk apakah?


Tulis kode jawaban untuk masing-masing bentuk dukungan pada kotak yang diarsir

61
Kategori Holingstead

1. Eksekutif pengambil keputusan tertinggi, profesional utama, pemilik perusahaan besar


2. Manajer bisnis ukurang menengah; profesi (mis. dokter, perawat, apoteker, pekerja sosial
profesional, guru, psikolog, dll
3. Tenaga administratif, penyelia (supervisor, pemilik perusahaan kecil (mis. perusahaan roti, show
room mobil kecil, dll), dekorator, aktor, agen perjalanan, dll
4. Klerk, sales, teknisi, bisnis kecil (kasir bank/teller, petugas pembukuan, juru gambar, pencatat
waktu, sekretaris)
5. Manual terlatih (biasanya dalam menjalankan tugas, perlu menerima pelatihan), misalnya tukang
roti, tukang cukur, montir, juru masak, montir, tukang cat, penjahit, dll)
6. Semi-terlatih, mis. pembantu rumah sakit, tukang cat, pelayan, pelayan, supir, dll
7. Tidak terlatih (pembantu, penjaga, buruh, tukang parkir, dll)

DAFTAR ZAT YANG UMUM DIGUNAKAN:

Alkohol : Bir, anggur (wine), liquor, grain (metil alcohol),sopi,tuak,ciu


Heroin : Smack,H,Horse,Brown Sugar
Metadon : Dolophine, LAAM
Opiat: Opium, Fentanyl, Buprenorphine, pereda nyeri -Morfin, Dilaudid, Demerol,
Percocet, Darvon, dll.
Barbiturat : Nembutal, Seconal, Tuinal, Amytal, Pentobarbital, Secobarbital,
Fenobarbital, Fiorinal, Doriden, dll.
Sed/Hip/ : Benzodiazepin = diazepam, lorazepam, chlordiazepoxide,oxazepam
Trankuil clorazepate, flurazepam, triazolam, alprazolam, meprobamat,
Lain-lain = Kloral Hidrat, Quaaludes
Kokain : Kristal Kokain, Free-Base Cocaine, Crack, Rock,dll.
Amfetamin/ : Monster, Crank, Benzedrine, Dexedrine, methylphenidate/,
Stimulan Preludin, Metamfetamin, Speed, Ice, Crystal, Khat
Kanabis : Marijuana, Hashish, Pot, Bango Igbo, Indian Hemp, Bhang, Charas, Ganja,
Mota, Anasha
Halusinogen : LSD (Acid), Meskalin, Psilocybin (Mushrooms), Peyote, PCP, MDMA,Ekstasi,
Angel Dust
Inhalan : Nitrous Oxide (Whippits), Amyl Nitrite (Poppers), Lem, Solvents, Gasoline,
Toluene, Etc.

Zat-zat lain yang juga disalahgunakan di Indonesia adalah dekstrometrofan, triheksifenidil (THP),
gama-hidroksibutirit asid (GHB), ketamin, dan beberapa zat lain yang tidak dapat digolongkan pada
jenis zat-zat di atas, karena lebih sebagai prekursor (bahan dasar), demikian juga penggunaan napza
baru (NPS/New Psychoactive Substance) . Apabila pasien menggunakan zat-zat yang tidak dapat
digolongkan pada golongan besar di atas, silakan ditulis pada bagian paling bawah jenis Napza dalam
domain riwayat penggunaan NAPZA.

62
4. Status PenggunaanNarkotika :
Cantumkan kapan wawancara tentang status penggunaan narkotika pasien dilakukan. Mohon diingat
bahwa wawancara mungkin saja dilakukan tidak bersamaan dengan tanggal kedatangan pasien.
D1 – D11. Pertanyaan tentang status penggunaan narkotika terdiri dari 3 komponen:
- Penggunaan 30 hari terakhir
Tanyakan apakah pasien menggunakan zat terkait (D1 – D12) dalam 30 hari terakhir atau sebulan
terakhir. Bila ya, berapa harikah dalam sebulan lalu pasien menggunakannya. Penekanan adalah
pada jumlah hari, bukan dosis harian. Tuliskan jawaban pasien dalam format dua digit. Misalkan 8
hari, maka ditulis 08 pada kolom-kolom jawaban
- Penggunaan sepanjang hidup (dalam tahun)
Mencatat periode penggunaan tetap NAPZA. Yang dimaksud penggunaan tetap adalah:
 frekuensi 3 kali atau lebih tiap minggunya;
 penggunaan hanya dua hari seminggu atau tidak tentu, tetapi selalu dalam kondisi mabuk berat
atau menimbulkan problem pekerjaan, sekolah, atau kehidupan keluarga
 minum alkohol sesekali tetapi setiap kali minum dalam frekuensi terus menerus hingga
menimbulkan intoksikasi berat.
Perhitungan waktu menggunakan ”half rule time” yaitu enam bulan ke bawah dihitung 0 (nol) tahun
dan enam bulan atau lebih dihitung 1 (satu) tahun.
- Cara pakai
Terdapat lima cara pakai NAPZA, yaitu:
 Oral (kode 1);
 Nasal/suppositoria/sublingual (kode 2);
 Dirokok (kode 3);
 Suntik intra muskular (kode 4) dan
 Suntik intravena (kode 5).
Tulislah kodenya pada kotak cara pakai. Risiko penggunaan dicerminkan dari kode yang ada.
Semakin besar nilai kodenya, semakin berisiko. Bila pasien menggunakan dua cara, misalnya oral
(kode 1) dan suntik intravena (kode 5), maka yang ditulis dalam kotak cara pakai adalah kode 5.
Namun demikian pewawancara diharapkan menulis catatan penggunaan lainnya pada bagian yang
kosong.
Catatan: Penting menanyakan riwayat semua jenis zat (dari D1 hingga D12) yang pernah digunakan
tanpa memperhatikan masalah saat ini (misal, pengguna alkohol mungkin menggabungkan zat
dengan minum alkohol; seorang pengguna kokain mungkin tanpa menyadari akan masalah minum
alkohol).
Sebagai informasi tambahan tanyakan Kuantitas penggunaan tiap hari, perkiraan jumlah uang yang
dihabiskan untuk zat perhari dan bagaimana pola penggunaannya (hanya pada akhir minggu,
misalnya).
D12. Zat Multipel
Untuk mencatat informasi tentang kombinasi penggunaan zat. Dalam 30 hari terakhir, tanyakan berapa
hari pasien menggunakan lebih dari satu macam zat termasuk alkohol. Dalam penggunaan sepanjang
hidup tanyakan pasien berapa lama ia secara tetap (umumnya 3 kali per minggu selama
satu bulan atau lebih) menggunakan lebih dari satu zat per hari termasuk alkohol.

63
13. Jenis zat utama yang disalahgunakan: ...........................................
Pewawancara harus menentukan zat utama yang disalahgunakan berdasarkan tahun-tahun
penggunaan, seringnya terapi, riwayat jumlah mengalami Delirium Tremens (DTs) atau Ovedosis. Jika
informasi memberikan tidak ada indikasi yang jelas tentang masalah zat, lalu tanyakan pada pasien apa
yang ia anggap adalah masalah zat utama (pilih dari kelompok zat di atas: D1 – D12)

14. Pernahkah menjalani terapi rehabilitasi?


Tulis kode pilihan pasien pada kotak diarsir sebelah kanan

15. Jenis terapi rehabilitasi yang dijalani


Catat riwayat pasien menjalani program terapi rehabilitasi: misalkan detoksifikasi; program terapi
rumatan metadon; program terapi rumatan buprenorfin; rehabilitasi rawat inap jangka pendek;
rehabilitasi rawat inap jangka panjang; AA/NA, dan lain-lain.

16. Pernahkah mengalami overdosis?


Tulis kode pilihan pasien pada kotak diarsir sebelah kanan

17. Waktu overdosis


Catat kapan hal tersebut terjadi

18. Cara penanggulangan overdosis:


Tulis kode pilihan pasien pada kotak diarsir sebelah kanan

5. Status Legal :
Berapa kali kah dalam hidup anda ditangkap dan dituntut dengan hal berikut
Catatlah jumlah penangkapan dengan tuduhan resmi (tidak selalu harus berakibat pemenjaraan)
yangdialami pasien sepanjang hidupnya, untuk masing-masing jenis tindakan yang tertera pada nomor
1 hingga 14.
Misalkan, pasien mengalami penangkapan karena pemalsuan resep sebanyak 10 kali sepanjang
hidupnya. Maka, tuliskan dalam format dua digit pada kotak di sebelah kanannya
Catatan: Jangan masukkan kejahatan remaja (sebelum usia 18), kecuali jika pengadilan mengadili
pasien sebagai orang dewasa, yang terjadi dalam kasus kejahatan yang sangat serius.
15. Berapa kali tuntutan di atas berakibat vonis hukuman?
Catatlah berapa kali penangkapan dan penuntutan pada poin 1 – 14 berakibat pada vonis hukuman.
Dalam hal ini termasuk denda, masa percobaan, penundaan hukuman dan juga hukuman yang
memerlukan penahanan. Tuntutan untuk pembebasan bersyarat dan/atau pelanggaran masa
percobaan dianggap vonis hukuman.

64
6. Riwayat Keluarga/Sosial:
1. Dalam situasi seperti apakah anda tinggal 3 tahun belakangan?
Tulislah kode pilihan pasien pada kotak yang diarsir sebelah kanan. Pilihan menggambarkan dalam
situasi apa pasien hidup selama 3 tahun terakhir. Bila terdapat berbagai situasi, pilihlah yang paling
mewakili periode 3 tahun terakhir. Jika jumlah waktu atas masing-masing situasi kurang lebih sama,
pilihlah situasi yang paling terakhir.
2. Apakah anda hidup dengan seseorang yang mempunyai masalah penyalahgunaan zat
sekarang ini?
Tulislah kode pilihan pasien pada kotak yang diarsir sebelah kanan. Apabila jawabannya tidak,
dapat langsung bertanya pertanyaan nomor 4.
3. Jika ya, siapakah mereka?
Tulislah kode pilihan pasien pada kotak yang diarsir sebelah kanan.
Catatan: perjelas hubungan pasien dengan orang yang menggunakan zat
(ayah/ibu,abang/kakak/adik, suami/istri/pasangan, keluarga,lainnya)

4. Apakah anda memiliki konflik serius dalam berhubungan dengan:


Yang dimaksud dengan konflik serius adalah suatu hubungan yang buruk, mencakup . hambatan
komunikasi yang serius, ketidakpercayaan, tidak adanya saling pengertian, kebencian atau rasa
permusuhan.

Tulislah kode 1 untuk ya dan kode 0 untuk tidak pada kolom waktu berikut ini:
30 hari terakhir:
Tanyakan apakah pasien mengalami konflik dengan pihak-pihak yang tertera pada pilihan no 1 sampai
9, dalam 30 hari terakhir atau sebulan terakhir.
Sepanjang hidup:
Tanyakan apakah pasien sebelumnya mengalami konflik dengan pihak-pihak yang tertera pada pilihan
no 1 sampai 9, sepanjang hidupnya. Bila pasien menjawab ya untuk 30 hari terakhir, tidak berarti
otomatis ia mengalami konflik yang sama sepanjang hidupnya. Atau sebaliknya, apabila ia mengalami
konflik sepanjang hidupnya, belum tentu ia mengalaminya dalam 30 hari terakhir.

65
7. Status Psikiatris :
Apakah anda pernah mengalami hal-hal berikut ini (yang tidak merupakan akibat langsung dari
penggunaan zat):

1–9 : Tulislah kode 1 untuk ya dan kode 0 untuk tidak pada kolom waktu berikut ini:
30 hari terakhir:
Tanyakan apakah pasien mengalami kondisi yang tertera pada pilihan no 1 sampai 9, dalam 30 hari
terakhir atau sebulan terakhir.

Sepanjang hidup:
Tanyakan apakah pasien sebelumnya mengalami kondisi yang tertera pada pilihan no 1 sampai 9,
sepanjang hidupnya. Bila pasien menjawab ya untuk 30 hari terakhir, tidak berarti otomatis ia
mengalami situasi tersebut sepanjang hidupnya. Atau sebaliknya, apabila ia mengalami situasi
tertentu sepanjang hidupnya, belum tentu ia mengalaminya dalam 30 hari terakhir.

Pemeriksaan Fisik :
1 – 4 Tuliskan kondisi fisik pasien (tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu) sesuai pemeriksaan
yang dilakukan.
5. Pemeriksaan sistemik, terdiri dari
Sistem pencernaan : inspeksi bentuk abdomen, ada luka atau skar; palpasi perbagaan otot perut,
hati, limpa, adanya massa, asites; auskultasi bunyi usus
Sistem Jantung dan Pembuluh Darah :inspeksi bentuk thorax, kemungkinan adanya tanda
sianosis; palpasi daerah precortex; auskultasi frekuensi denyut jantung.
Sistem Pernapasan: inspeksi bentuk thorax, jenis pernapasan, retraksi iga; palpasi krepitasi;
perkusi; auskultasi suara napas
Sistem Saraf Pusat: tes sensorik rangsang nyeri atau panas ekstremitas atas dan bawah; tes
motorik ada tidaknya parese atau plegia; tes keseimbangan.
THT dan Kulit: apakah ada penurunan pendengaran, cairan telinga, membran timpani utuh / tidak;
bagaimana kondisi hidung; kondisi tenggorokan; kondisi kulit apakah ada rash, erupsi, skar, tato,
atau kelainan kulit lain.
6. Hasil Urinalisis:
Melalui prosedur skrining, tuliskan hasil urinalisis untuk masing-masing jenis zat yang diperiksa
dengan kode 1 untuk hasil positif dan kode 0 untuk hasil negatif pada kotak yang diarsir sebelah
kanan.

66
Kesimpulan:
Buatlah kesimpulan tentang pasien untuk masing-masing domain yang ada dengan mempertimbangkan
hasil asesmen dan pendapat subyektif pasien dalam skala penilaian.
Penilaian dapat berkisar pada satu hingga tiga nilai, bergantung pada pertimbangan pewawancara:
0-1: Tidak ada masalah yang berarti, pasien tidak membutuhkan intervensi / bantuan
2-3: Ada sedikit masalah, tetapi intervensi / bantuan tidak terlalu penting
4-5: Masalah tergolong sedang, dibutuhkan beberapa intervensi
6-7: Masalah serius, dibutuhkan intervensi / terapi / bantuan
8-9: Masalah sangat serius, pasien sangat membutuhkan intervensi / terapi /

Pokok Bahasan 6
PRINSIP PENEGAKAN DIAGNOSIS GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

Diagnosis merupakan dasar bagi perencanaan terapi selanjutnya. Prinsip penegakan diagnosis
gangguan penggunaan napza (gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif,
menurut PPDGJ III) dan gangguan jiwa penyerta adalah sebagai berikut:
1. Diagnosis tidak selalu dapat ditegakkan pada asesmen awal, dapat ditambahkan dengan
diagnosa banding.
2. Penegakan diagnosis dapat dibantu dengan adanya informasi tambahan dari keluarga atau
orang yang mengantar
3. Tegakkan diagnosis berdasarkan informasi yang didapat ketika pasien dalam kondisi sadar
penuh dan tidak mengalami sindrom intoksikasi zat akut atau putus zat
4. Pastikan diagnosis melalui asesmen ulang, bila perlu (mis; adanya dual diagnosis yang belum
terlihat pada asesmen awal)
5. Pemeriksaan penunjang laboratorium narkotika pada kondisi akut dapat membantu
penegakan diagnosis

Gangguan jiwa penyerta adalah adalah gangguan jiwa bukan akibat penggunaan zat psikoaktif
yang menyertai gangguan mental dan perilaku akibat pengunaan zat psikoaktif. Kondisi ini
populer dengan sebutan dual diagnoses. Suatu survey dalam komunitas yang besar melaporkan
bahwa 76% laki-laki dan 65% perempuan dengan gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat psikoaktif menderita gangguan jiwa lainnya. Gangguan jiwa yang banyak
menyertai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif antara lain gangguan
kepribadian antisosial, fobia (dan gangguan cemas lainnya), gangguan depresi berat, dan

67
gangguan distimia. Secara umum, makin poten suatu zat makin tinggi frekuensi gangguan jiwa
penyertanya. Contoh, orang dengan ketergantungan metamfetamin sering ditemukan juga
menderita gangguan depresi mayor.

Komorbiditas gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif dan ganguan jiwa
lainnya bisa dijelaskan melalui beberap fenomena. Fenomena pertama, zat psikoaktif (napza)
bekerja di susunan saraf pusat dan bermanifestasi pada perubahan pikiran, perasaan, dan
perilaku sampai dengan taraf gangguan jiwa. Contoh, gangguan psikotik pada orang dengan
ketergantungan aktif kokaina. Fenomena ini tidak dapat disebut kondisi dual diagnoses karena
gangguan psikotiknya disebabkan oleh kokaina. Fenomena kedua, orang yang menggunakan
napza untuk mengurangi, bahkan menghilangkan, ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh
gangguan jiwa yang sudah ada sebelumnya (sering disebut juga self-medication). Fenomena
lainnya adalah pengguna napza yang menderita gangguan jiwa tetapi hubungan patogenesis
diantara keduanya tidak dapat dijelaskan (serupa dengan orang dengan kencing manis yang
terinfeksi virus influenza). Kedua fenomena terakhir ini dapat disebut kondisi dual diagnoses.
Untuk dapat memastikan sifat hubungan antara penggunaan narkotika dan gangguan jiwa yang
menyertainya dibutuhkan ketelitian dalam melakukan anamnesis untuk mendapatkan riwayat
penyakit sekarang dan terdahulu.

Penggolongan Dan Kriteria Diagnostik Gangguan Mental Dan Perilaku Akibat


Pemakaian Zat Psikoaktif

Masalah kesehatan terkait-zat psikoaktif merupakan bagian dari kelompok gangguan jiwa.
Indonesia mempunyai Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia
(PPDGJ) III, yang merupakan adaptasi dari Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines (CDDG)
dari International Classification of Diseases revisi kesepuluh (ICD-10) bagian F, sebagai pedoman
penegakan diagnosis gangguan jiwa akibat pemakaian zat psikoaktif. PPDGJ III mencantumkan
sepuluh kondisi klinis dalam kelompok gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
psikoaktif.

68
Kondisi klinis yang tercantum dalam PPDGJ III meliputi:

1. Intoksikasi akut
2. Penggunaan yang merugikan
3. Sindrom ketergantungan
4. Keadaan putus zat
5. Keadaan putus zat dengan delirium
6. Gangguan psikotik
7. Sindrom amnesik
8. Gangguan psikotik residual dan awitan lambat

Selain delapan kondisi di atas, PPDGJ III membuka kemungkinan untuk kondisi klinis yang terinci
lainnya (gangguan mental dan perilaku lainnya akibat pemakaian zat psikoaktif) dan kondisi klinis
yang tak terinci (gangguan mental dan perilaku YTT akibat pemakaian zat psikoaktif).

1. Pedoman diagnostik PPDGJ III untuk intoksikasi akut:


Intoksikasi akut sering dikaitkan dengan tingkat dosis yang digunakan. Pengecualian dapat
terjadi pada individu dengan kondisi organic tertentu yang mendasarinya yang dalam dosis
kecil dapat menyebabkan efek intoksikasi berat yang tidak proporsional. Harus pula
dipertimbangkan disinhibisi sosial. Intoksikasi akut merupakan fenomena peralihan.
Intensitasi intoksikasi berkurang dengan berlalunya waktu dan pada akhirnya efeknya
menghilang bila tidak terjadi penggunaan zat lagi. Dengan demikian orang tersebut akan
kembali ke kondisi semula, kecuali jika ada jaringan yang rusak atau terjadi komplikasi
lainnya.

Gejala intoksikasi tidak selalu mencerminkan aksi primer dari zat. Sebagai contoh, zat
depresan dapat menimbulkan gejala agitasi atau hiperativitas, dan zat stimulan menimbulkan
penarikan diri secara sosial atau perilaku introvert. Efek zat sepserti kanabis dan
halusinogenika mungkin sukar diramal. Lebih-lebih, banyak zat psikoaktif mampu
menimbulkan berbagai bentuk efek ayng berbeda pada tingkat dosis yang berbeda. Sebagai
contoh, alkohol rupanya dapat mempunyai efek stimulan pada perilaku dalam dosis yang
lebih rendah, namun dapat meyebabkan agitasi dan agresi dengan meningkatnya dosis, dan
menimbulkan sedasi yang jelas pada dosis yang sangat tinggi.

69
2. Pedoman diagnostik PPDGJ III untuk penggunaan yang merugikan:
Untuk menegakkan diagnosis harus ada cedera nyata pada kesehatan jiwa atau fisik
pengguna.

Pola penggunaan yang merugikan sering dikecam oleh pihak lain dan sering kali disertai
berbagai konsekuensi sosial yang tidak diinginkan. Bila suatu pola penggunaan atau suatu zat
tertentu tidak disetujui oleh orang lain atau oleh budaya setempat, atau menjurus kepada
konsekuensi yang negatif secara sosial seperti penahanan atau cekcok dalam perkawinan
bukanlah merupakan bukti dari adanya penggunaan yang merugikan.

Intoksikasi akut atau “hangover” sendiri bukanlah merupakan bukti cukup untuk pemberian
kode pengunaan yang merugikan.

Jangan memberi diagnosis penggunaan yang merugikan kalau ada sindrom ketergantungan,
gangguan psikotik atau bentuk spesifik lain dari gangguan yang berkaitan dengan penggunaan
obat atau alkohol.

3. Pedoman diagnostik PPDGJ III untuk sindrom ketergantungan:


Diagnosis ketergantungan yang pasti ditegakkan jika ditemukan tiga atau lebih gejala di
bawah ini dialami dalam masa setahun sebelumnya:
a) Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk
menggunakan zat;
b) Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat sejak awal, usaha penghentian
atau tingkat penggunaannya;
c) Keadaan putus zat secara fisiologis ketika penghentian penggunaan zat atau
pengurangan, terbukti oang tersebut menggunakan zat atau golongan zat yang sejenis
dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus zat;
d) Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna
memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah;
e) Secara progresif mengabaikan alternative menikmati kesenangan karena penggunaan zat
psikoaktif lain, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendapatkan atau
menggunakan zat atau pulih dari akibatnya;
f) Terus menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan
kesehatannya, seperti gangguan fungsi hati karena minum alkohol berlebihan, keadaan
depresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya fungsi kognitif akibat

70
menggunakan zat; upaya perlu diadakan untuk memastikan bahwa penggunaan zat
sungguh-sungguh atau diharapkan untuk menyadari akan hakikat dan besarnya bahaya.

Memperbanyak pola kebiasaan penggunaan zat psikoaktif telah dideskripsikan sebagai


gambaran khas.

Ciri khas penting dari sindrom ketergantungan ialah penggunaan atau keinginan untuk
menggunakan zat psikoaktif. Kesadaran subjektif adanya kompulsi untuk menggunakan zat
biasanya ditemukan ketika berusaha untuk menghentikan atau mengatasi penggunaan zat.
Syarat diagnostik ini mengecualikan pasien pasca bedah yang mendapatkan opioida untuk
menghilangkan rasa nyeri dan kemudian menunjukkan tanda-tanda keadaan putus zat bila
zat tidak diberikan, namun mereka sebenarnya tidak menginginkan untuk melanjutkan
penggunaan zat.

Sindrom ketergantungan dapat juga terjadi terhadap bahan/zat yang spesifik, atau pada
golongan zat tertentu, atau pada aneka ragam zat.

4. Pedoman diagnostik PPDGJ III untuk keadaan putus zat:


Keadaan putus zat merupakan salah satu indikator dari sindrom ketergantungan dan
diagnosis sindrom ketergantungan zat harus turut dipertimbangkan.

Keadaan putus zat hendaknya dicatat sebagai diagnosis utama, bila hal ini merupakan alasan
rujukan dan cukup parah sehingga memerlukan perhatian medis secara khusus.

Gejala fisik bervariasi sesuai dengan zat yang digunakan. Gangguan psikologis merupakan
gambaran umum dari keadaan ptuts zat ini. Yang khas ialah pasien akan melaporkan bahwa
gejala putus zat akan mereda dengan meneruskan penggunaan zat.

Perlu diingat bahwa gejala putus zat dapat diinduksi dengna rangsang yang terkondisi/
dipelajari walaupun tanpa penggunaan zat sebelumnya. Pada kasus yang demikian, diagnosis
keadaan putus zat hendaknya dibuat hanya apabila taraf keparahaan putus obatnya cukup
berarti.

71
Pedoman diagnostik PPDGJ III untuk masing-masing kondisi klinis di atas agak sukar digunakan
karena penjabarannya sebagian besar berupa kalimat dalam alinea. Untuk kepentingan praktis,
dapat dipakai kriteria diagnostik untuk penelitian (DCR-10), yang merupakan penyerta ICD-10
(sumber PPDGJ III) atau kriteria diagnostik dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders edisi keempat dengan revisi teks (DSM-IV-TR).

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk intoksikasi akut – kriteria umum:

a. Bukti jelas dari penggunaan baru zat psikoaktif pada tingkat dosis yang cukup tinggi yang
konsisten dengan intoksikasi.
b. Gejala atau tanda dari intoksikasi sesuai dengan kerja dari zat dan cukup parah untuk
menyebabkan gangguan dalam tingkat kesadaran, kognisi, persepsi, afek, atau perilaku yang
bermakna klinis.
c. Bukan disebabkan oleh suatu gangguan medis yang tak berhubungan dengan penggunaan
zat, dan bukan disebabkan oleh gangguan mental atau perilaku lainnya.

Intoksikasi akut sering timbul pada orang-orang dengan masalah terkait-alkohol atau –zat yang
menetap. Bila ada masalah-masalah tersebut, seperti penggunaan yang merugikan, sindrom
ketergantungan, atau gangguan psikotik akibat penggunaan zat psikoaktif, masalah tersebut
harus dicatat.

Intoksikasi alkohol akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut terpenuhi; perilaku
disfungsional yang terbukti dengan sedikitnya satu dari tujuh perilaku berikut: disinhibisi,
argumentatif, agresi, suasana perasaan labil, perhatian terganggu, daya nilai terganggu, dan
gangguan fungsi personal; dan sedikitnya satu dari tanda berikut: jalan sempyongan, kesukaran
berdiri, slurred speech, nystagmus, penurunan tingkat kesadaran (misalnya stupor, koma), wajah
memerah, dan injeksi konjungtival. Intoksikasi alkohol akut yang parah bisa disertai dengan
hipotensi, hipotermia, dan depresi refleks muntah.

Intoksikasi opioida akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut yang terpenuhi;
perilaku disfungsional yang terbukti dengan sedikitnya satu dari enam perilaku berikut: apati dan
sedasi, disinhibisi, retardasi psikomotor, hendaya perhatian, hendaya daya nilai, dan gangguan
fungsi personal; dan sedikitnya satu dari empat tanda berikut: mengantuk, slurred speech,
konstriksi pupil (kecuali pada anoksia akibat dosis berlebih yang berat dimana terjadi dilatasi
pupil), dan penurunan tingkat kesadaran (misalnya stupor, koma). Intoksikasi opioida akut yang
parah bisa disertai dengan depresi pernafasan (dan hipoksia), hipotensi, dan hipotermia.

72
Intoksikasi kanabinoida akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut terpenuhi;
perilaku disfungsional atau gangguan persepsi yang meliputi sedikitnya satu dari dua belas
berikut: euforia dan disinhibisi, kecemasan atau agitasi, curiga atau ide-ide paranoid,
perlambatan waktu (rasa seperti waktu berjalan sangat lambat, dan/atau pengalaman ide-ide
mengalir cepat), hendaya daya nilai, hendaya perhatian, hendaya waktu reaksi, ilusi auditori,
visual, atau taktil, halusinasi dengan orientasi baik, depersonalisasi, derealisasi, dan gangguan
fungsi personal; dan sedikitnya satu dari empat tanda berikut: peningkatan nafsu makan, mulut
kering, injeksi konjungktival, dan takikardia.

Intoksikasi akut akibat penggunaan obat-obat sedativa-hipnotika ditandai dengan kriteria umum
untuk intoksikasi akut terpenuhi; perilaku disfungsional yang terbukti dengan sedikitnya satu dari
delapan perilaku berikut: euforia dan disinhibisi, apati dan sedasi, kekerasan atau agresi,
kelabilan suasana perasaan, hendaya perhatian, amnesia anterograd, hendaya performa
psikomotor, dan gangguan fungsi personal; dan sedikitnya satu dari enam tanda berikut: jalan
sempoyongan, kesukaran berdiri, slurred speech, nystagmus, penurunan tingkat kesadaran, dan
lesi kulit erythematous. Intoksikasi akut akibat penggunaan obat sedativa-hipnotika yang parah
bisa disertai dengan hipotensi, hipotermia, dan depresi refleks muntah.

Intoksikasi kokain akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut terpenuhi; perilaku
disfungsional atau abnormalitas persepsi yang terbukti dengan sedikitnya satu dari sebelas
berikut: euforia dan sensasi peningkatan energi, hypervigilance, keyakinan atau tindakan
grandios (kebesaran), kekerasan atau agresi, argumentatif, kelabilan suasana perasaan, perilaku
stereotipik repetitif, ilusi (auditori, visual, atau taktil), halusinasi biasanya dengan orientasi intak,
ide-ide paranoid, dan gangguan fungsi personal (sudah terlihat jelas dari interaksi sosial
pengguna, mulai dari gregariousness yang ekstrem sampai dengan withdrawal sosial); dan
sedikitnya dua dari sebelas tanda berikut: takikardia (terkadang bradikardia), aritmia kardiak,
hipertensi (terkadang hipotensi), berkeringat dan menggigil, mual atau muntah, bukti penurunan
berat badan, dilatasi pupil, agitasi (terkadang retardasi) psikomotor, kelemahan otot, nyeri dada,
dan kejang.

Intoksikasi akut akibat penggunaan stimulan selain kokain ditandai dengan kriteria umum untuk
intoksikasi akut terpenuhi; perilaku disfungsional atau abnormalitas persepsi yang terbukti
dengan sedikitnya satu dari sebelas berikut: euforia dan sensasi peningkatan energi,
hypervigilance, keyakinan atau tindakan grandios (kebesaran), kekerasan atau agresi,
argumentatif, kelabilan suasana perasaan, perilaku stereotipik repetitif, ilusi (auditori, visual,
atau taktil), halusinasi biasanya dengan orientasi intak, ide-ide paranoid, dan gangguan fungsi

73
personal (sudah terlihat jelas dari interaksi sosial pengguna, mulai dari gregariousness yang
ekstrem sampai dengan withdrawal sosial); dan sedikitnya dua dari sebelas tanda berikut:
takikardia (terkadang bradikardia), aritmia jantung, hipertensi (terkadang hipotensi), berkeringat
dan menggigil, mual atau muntah, bukti penurunan berat badan, dilatasi pupil, agitasi (terkadang
retardasi) psikomotor, kelemahan otot, nyeri dada, dan kejang.

Intoksikasi halusinogen akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut terpenuhi;
perilaku disfungsional atau abnormalitas persepsi yang terbukti dengan sedikitnya satu dari
sebelas berikut: kecemasan dan ketakutan, ilusi atau halusinasi (auditori, visual, atau taktil) yang
timbul dalam keadaan terjaga penuh, depersonalisasi, derealisasi, ide-ide paranoid, ide-ide
rujukan, kelabilan suasana perasaan, hiperaktivitas, tindakan impulsif, hendaya perhatian, dan
gangguan fungsi personal; dan sedikitnya dua dari tujuh tanda berikut: takikardia, palpitasi,
berkeringat dan menggigil, tremor, pandangan buram, dilatasi pupil, dan inkoordinasi.

Intoksikasi nikotin akut ditandai dengan kriteria umum untuk intoksikasi akut terpenuhi; perilaku
disfungsional atau abnormalitas persepsi yang terbukti dengan sedikitnya satu dari lima berikut:
insomnia, mimpi aneh (bizarre), kelabilan suasana perasaan, derealisasi, dan gangguan fungsi
personal; dan sedikitnya satu dari empat tanda berikut: mual atau muntah, berkeringat,
takikardia, dan aritmia jantung.

Intoksikasi akut akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap ditandai dengan kriteria
umum untuk intoksikasi akut terpenuhi; perubahan perilaku yang meliputi sedikitnya satu dari
delapan perilaku berikut: apati dan letargi, argumentatif, kekerasan atau agresi, kelabilan
suasana perasaan, hendaya daya nilai, hendaya perhatian dan daya ingat, retardasi psiko-motor,
dan gangguan fungsi personal; dan sedikitnya satu dari tujuh tanda berikut: jalan sempoyongan,
kesukaran berdiri, slurred speech, nystagmus, penurunan tingkat kesadaran, kelemahan otot, dan
pandangan buram atau diplopia. Intoksikasi akut akibat penggunaan inhalansia dicatat di sini.
Intoksikasi akut akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap bila parah bisa disertai dengan
hipotensi, hipotermia, dan depresi refleks muntah.

Kriteria intoksikasi akut akibat penggunaan multi zat dan zat psikoaktif lainnya dipakai ketika
terdapat bukti intoksikasi yang disebabkan oleh penggunaan baru zat psikoaktif lain (misalnya
phencyclidine) atau multi zat psikoaktif yang tidak pasti zat mana yang menonjol.

74
Kriteria diagnostik DCR-10 untuk penggunaan yang merugikan:

a. Adanya bukti yang jelas bahwa penggunaan zat tersebut berhubungan dengan dampak buruk
(kerugian) fisis atau psikologis, termasuk hendaya daya nilai atau perilaku disfungsional.
b. Sifat dari kerugian tersebut harus dapat diidentifikasi secara jelas (dan disebutkan).
c. Pola penggunaan telah menetap sesingkatnya satu bulan atau terjadi berulang dalam periode
12-bulan.
d. Gangguan tersebut tidak memenuhi kriteria untuk gangguan mental atau perilaku apapun
terkait zat yang sama dalam periode waktu yang sama (kecuali untuk intoksikasi akut).

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk putus zat: (kriteria umum)

a. Bukti yang jelas penghentian atau pengurangan baru dari penggunaan zat setelah
penggunaan berulang, dan biasanya berkepanjangan dan/atau dosis-tinggi dari zat tersebut.
b. Gejala dan tanda sesuai dengan gambaran dari keadaan putus zat dari zat tersebut.
c. Tidak disebabkan oleh suatu gangguan medis yang tak berhubungan dengan penggunaan zat,
dan tidak disebabkan oleh gangguan mental atau perilaku lainnya.

Keadaan putus alkohol ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat terpenuhi
disertai adanya tiga dari sepuluh hal berikut: tremor (dari tangan yang direntangkan, lidah, atau
kelopak mata), berkeringat, mual atau muntah, takikardia atau hipertensi, agitasi psikomotor,
sakit kepala, insomnia, lesu atau kelemahan, halusinasi atau ilusi (visual, taktil, atau auditori)
yang hilang-timbul, dan kejang grand-mal.

Keadaan putus opioida ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat terpenuhi
disertai adanya tiga dari dua belas hal berikut: nagih obat opioida, rinorea atau bersin-bersin,
lakrimasi, nyeri atau kram otot, kram perut, mual atau muntah, diare, dilatasi pupil, piloereksi
atau menggigil berulang, takikardia atau hipertensi, menguap, dan tidur gelisah.

Keadaan putus kanabinoida ditandai dengan kecemasan, mudah tersinggung, tremor pada
tangan yang direntangkan, berkeringat, dan nyeri otot. Gejala dan tanda tersebut timbul setelah
penghentian penggunaan kanabinoida dosis-tinggi yang berkepanjangan dan berlangsung
selama beberapa jam sampai dengan tujuh hari. Kriteria diagnostik definitif belum ada.

Keadaan putus sedativa-hipnotika ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat
terpenuhi disertai adanya tiga dari sebelas hal berikut: tremor (dari tangan yang direntangkan,

75
lidah, atau kelopak mata), mual atau muntah, takikardia, hipotensi postural, agitasi psikomotor,
nyeri kepala, insomnia, lesu atau kelemahan, halusinasi atau ilusi (visual, taktil, atau auditori)
yang hilang-timbul, ide-ide paranoid, dan kejang grand mal. Bila ada delirium, harus dibuat
diagnosis keadaan putus sedatifa-hipnotika dengan delirium.

Keadaan putus kokain ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat terpenuhi;
suasana perasaan disforik (contohnya kesedihan atau anhedonia); dan dua dari enam gejala dan
tanda berikut: letargi dan kelelahan, retardasi psikomotor atau agitasi, nagih kokain, peningkatan
nafsu makan, insomnia atau hipersomnia, dan mimpi bizarre atau yang tak menyenangkan.

Keadaan putus stimulan selain kokain ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat
terpenuhi; suasana perasaan yang disforik (contohnya kesedihan atau anhedonia); dan dua dari
enam gejala dan tanda berikut: letrgi dan kelelahan, retardasi psikomotor atau agitasi, nagih
obat-obat stimulan, peningkatan nafsu makan, insomnia atau hipersomnia, dan mimpi bizarre
atau yang tidak menyenangkan.

Keadaan putus nikotin ditandai dengan kriteria umum untuk keadaan putus zat terpenuhi
disertai dua dari sepuluh gejala dan tanda berikut: nagih tembakau (atau produk yang
mengandung nikotin lainnya), lesu atau kelemahan, kecemasan, suasana perasaan yang disforik,
mudah tersingggung atau gelisah, insomnia, peningkatan nafsu makan, peningkatan batuk,
ulserasi mulut, dan kesukaran berkonsenterasi.

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk sindrom ketergantungan:


Tiga atau lebih manifestasi berikut harus timbul bersama selama sesingkatnya satu bulan atau
bila menetap untuk periode kurang dari satu bulan, manifestasi-manifestasi tersebut timbul
bersama secara berulang dalam periode 12-bulan:

a. Keinginan kuat atau kompulsi untuk mengonsumsi zat.


b. Hendaya kapasitas untuk mengendalikan perilaku mengonsumsi-zat dalam hal awitan,
terminasi, atau tingkat penggunaan, yang terbukti dengan: zat tersebut seringkali dikonsumsi
dalam jumlah yang lebih besar atau dalam periode yang lebih panjang dari yang dikehendaki,
atau upaya yang tidak berhasil atau keinginan yang menetap untuk menghentikan atau
mengendalikan penggunaan zat.
c. Keadaan putus zat fisiologis ketika penggunaan zat dikurangi atau dihentikan, yang terbukti
oleh sindrom putus zat yang khas untuk zat tersebut, atau penggunaan zat yang sama (atau
berhubungan dekat) dengan maksud meredakan atau menghindari gejala-gejala putus zat.

76
d. Bukti toleransi terhadap efek zat, seperti adanya kebutuhan untuk meningkatkan secara jelas
jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek yang dikehendaki, atau terjadi penurunan
efek yang nyata dengan penggunaan berkelanjutan dengan jumlah yang sama dari zat.
e. Praokupasi dengan penggunaan zat, yang termanifestasi dengan: kesenangan atau minat
alternatif yang penting dikurbankan atau dikurangi dikarenakan penggunaan zat, sejumlah
besar waktu dipakai dalam aktivitas yang diperlukan untuk mendapatkan zat, mengonsumsi
zat, atau pulih dari efeknya.
f. Tetap menggunakan zat meskipun terdapat bukti jelas adanya konsekuensi yang merugikan,
yang terbukti dengan penggunaan berlanjut ketika orang tersebut sebenarnya menyadari,
atau diharapkan sudah menyadari sifat kerugiannya.

Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk ketergantungan zat:


Suatu pola penggunaan zat yang maladaptif, secara klinis mengarah pada gangguan atau
penderitaan yang signifikan, diperlihatkan dengan 3 atau lebih dari hal dibawah ini, muncul
kapanpun dalam periode 12 bulan.

A. Toleransi, ditentukan oleh berikut ini:


a. Kebutuhan yang jelas untuk meningkatkan sejumlah zat untuk mendapatkan efek yang
diinginkan atau intoksikasi.
b. Secara jelas efeknya berkurang jika penggunaan dilanjutkan dengan jumlah zat yang sama
B. Putus zat, ditunjukkan oleh berikut ini:
a. Karakteristik sindrom putus zat (merujuk pada Kriteria Diagnosis Putus Zat Spesifik A dan
B).
b. Menggunakan zat yang sama (atau berhubungan dekat) untuk mengurangi atau
menghindari gejala putus zat
C. Zat sering digunakan dalam jumlah besar atau selama periode yang lebih lama dari yang
diharapkan
D. Terdapat suatu keinginan yang kuat atau upaya yang tidak berhasil untuk mengurangi atau
mengontrol penggunaan zat
E. Sejumlah besar waktu digunakan untuk aktivitas mencari zat (misalnya mengunjungi berbagai
dokter atau perjalanan jarak jauh), menggunakan zat, atau pulih dari efek zatnya.
F. Aktivitas sosial, pekerjaan, atau rekreasional penting lain ditinggalkan atau dikurangi karena
penggunaan zat.

77
G. Penggunaan zat diteruskan walaupun telah mengetahui dirinya telah mempunyai
permasalahan fisik atau psikologik berulang atau menetap yang disebabkan atau
dieksaserbasi oleh zat (misalnya, terus menggunakan kokain walaupun mengetahui kokain
menyebabkan depresi atau terus minum alkohol walaupun mengetahui bahwa luka
lambungnya diperberat oleh konsumsi alkohol).

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk keadaan putus zat dengan delirium adalah kriteria umum untuk
keadaan putus zat dan kriteria untuk delirium terpenuhi. Kriteria untuk delirium adalah sebagai
berikut:

A. kesadaran berkabut dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan,


atau mengalihkan perhatian;
B. gangguan kognisi, yang termanifestasi dengan
1) hendaya daya ingat segera (immediate recall) dan jangka pendek (recent memory),
dengan daya ingat remote yang relatif intak, disertai
2) disorientasi waktu, tempat, atau orang;
C. sedikitnya satu dari empat gangguan psikomotor berikut:
1) perubahan cepat dan tak dapat diprediksi dari hipoaktivitas ke hiperaktivitas,
2) peningkatan waktu reaksi,
3) peningkatan atau penurunan arus pembicaraan, dan
4) peningkatan reaksi kejut;
D. gangguan tidur atau siklus tidur-bangun, termanifestasi dengan sedikitnya satu dari tiga hal
berikut:
1) insomnia dengan atau tanpa kantuk di siang hari, atau keterbalikan siklus tidur-bangun,
2) perburukan gejala-gejala di malam hari, dan
3) mimpi yang mengganggu dan mimpi buruk yang bisa berlanjut sebagai halusinasi ilusi
setelah bangun;
E. awitan cepat dan fluktuasi gejala-gejala sepanjang hari; dan
F. bukti objektif dari riwayat, pemeriksaan fisik dan neurologik atau uji laboratorium dari
penyakit serebral atau sistemik yang mendasari yang dapat dianggap bertanggung jawab
untuk manifestasi A-D.

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk gangguan psikotik akibat penggunaan zat psikoaktif adalah
sebagai berikut: awitan gejala-gejala psikotik berada dalam dua minggu masa penggunaan zat;

78
gejala-gejala psikotik tersebut menetap selama lebih dari 48 jam; dan durasi gangguan tak lebih
dari enam bulan.

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk sindrom amnesik akibat penggunaan zat psikoaktif adalah
sebagai berikut: hendaya daya ingat yang termanifestasi dalam defek recent memory (hendaya
dalam mempelajari materi baru) sampai tingkat yang cukup berat untuk mengganggu kehidupan
sehari-hari dan penurunan kemampuan untuk mengingat pengalaman-pengalaman lampau;
tidak ada defek dalam mengingat segera (immediate recall), kesadaran berkabut dan gangguan
perhatian, dan penurunan intelektual secara global; dan tidak ada bukti objektif dari pemeriksaan
fisik dan neurologik, uji laboratorium atau riwayat gangguan atau penyakit otak lain selain yang
berhubungan dengan penggunaan zat, yang dapat dianggap bertanggung jawab untuk
manifestasi klinis tersebut.

Kriteria diagnostik DCR-10 untuk gangguan residual dan gangguan psikotik awitan-lambat
akibat penggunaan zat psikoaktif adalah sebagai berikut:

A. kondisi dan gangguan memenuhi kriteria untuk sindrom individual tercantum dibawah harus
berhubungan jelas dengan penggunaan zat. Bila awitan dari kondisi tersebut timbul setelah
penggunaan zat psikoaktif, harus dapat ditunjukkan bukti kuat yang mendemonstrasikan
hubungannya.
a. Kilas balik
b. Gangguan kepribadian atau perilaku
c. Gangguan afektif residual
d. Demensia
e. Hendaya kognitif menetap lainnya
f. Gangguan psikotik awitan-lambat

79
Klasifikasi PPDGJ III dan ICD-10 untuk gangguan jiwa akibat penggunaan narkotika
Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (F1x.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol (F10.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida (F11.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida (F12.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika (F13.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain (F14.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein (F15.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenika (F16.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau (F17.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap (F18.xx)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan penggunaan zat psikoaktif lainnya (F19.xx)
Intoksikasi akut (F1x.0x)
Tanpa komplikasi (F1x.00)
Dengan trauma atau cedera tubuh lainnya (F1x.01)
Dengan komplikasi medis lainnya (F1x.02)
Dengan delirium (F1x.03)
Dengan distorsi persepsi (F1x.04)
Dengan koma (F1x.05)
Dengan konvulsi (F1x.06)
Intoksikasi patologis alkohol (F10.07)
Penggunaan yang merugikan (F1x.1)
Sindrom ketergantungan (F1x.2x)
Kini abstinen (F1x.20)
Kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung (F1x.21)
Kini dalam pengawasan klinis atau dengan pengobatan pengganti (ketergantungan terkendali) (F1x.22)
Kini abstinen tetapi mendapat terapi aversif atau obat penyekat (F1x.23)
Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif) (F1x.24)
Penggunaan berkelanjutan (F1x.25)
Penggunaan episodik (F1x.26)
Keadaan putus zat (F1x.3x)
Tanpa komplikasi (F1x.30)
Dengan komplikasi (F1x.31)
Keadaan putus zat dengan delirium (F1x.4x)
Tanpa konvulsi (F1x.40)
Dengan konvulsi (F1x.41)
Gangguan psikotik (F1x.5x)
Lir-skizofrenia (F1x.50)
Predominan waham (F1x.51)
Predominan halusinasi (F1x.52)
Predominan polimorfik (F1x.53)
Predominan gejala depresif (F1x.54)
Predominan gejala manik (F1x.55)
Campuran (F1x.56)
Sindrom Amnestik (F1x.6)
Gangguan psikotik residual dan onset lambat (F1x.7x)
Kilas balik (F1x.70)
Gangguan kepribadian atau perilaku (F1x.71)
Gangguan afektif residual (F1x.72)
Demensia (F1x.73)
Hendaya kognitif menetap lainnya (F1x.74)
Gangguan psikotik onset lambat (F1x.75)
Gangguan mental dan perilaku lainnya (F1x.8)
Gangguan mental dan perilaku yang tak terinci (F1x.9)

80
MATERI INTI 3
PENATALAKSANAAN TERAPI DAN REHABILITASI

I. DESKRIPSI SINGKAT

Masalah gangguan penggunaan narkotika merupakan masalah kompleks dan


penatalaksanaannya melibatkan banyak bidang keilmuan, baik medis maupun nonmedis.
Penatalaksanaan seseorang dengan ketergantungan narkotika merupakan suatu proses yang
membutuhkan waktu relatif lama dan melibatkan berbagai pendekatan dan latar belakang
profesi. Gangguan penggunaan narkotika merupakan masalah biopsikososiokultural yang sangat
rumit sehingga perlu ditanggulangi secara multidisiplin dan lintas sektoral dalam suatu program
yang menyeluruh (komprehensif) serta konsisten.
Gangguan penggunaan narkotika pada pasien jarang ditemukan berdiri sendiri melainkan
terdapat bersama dengan gangguan lain (komorbiditas) seperti depresi atau ansietas. Gangguan
jiwa komorbid tersebut bisa merupakan faktor predisposisi pemakaian narkotika atau akibat dari
pemakaian narkotika dalam jangka waktu tertentu. Selain mengakibatkan gangguan jiwa, cara
pemakaian narkotika tersebut (khususnya penggunaan dengan cara suntik) juga dapat
mengakibatkan penyakit penyulit (komplikasi) seperti infeksi HIV/AIDS, Infeksi Menular Seksual
(IMS), hepatitis B atau C dan lain-lain.
Gangguan pemakaian narkotika merupakan bagian dari gangguan jiwa, yang bisa diatasi
melalui terapi dan rehabilitasi. Dalam memberikan terapi dan rehabilitasi tersebut, ada dua hal
yang harus dipertimbangkan. Hal pertama terkait dengan kompetensi fasilitas kesehatan dan hal
yang lain terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional.
Fasilitas kesehatan di Indonesia dikategorikan menjadi Program Pelayanan Kesehatan
tingkat 1, 2, dan 3 (PPK 1 , PPK 2, dan PPK 3). Setiap kategori mempunyai kompetensi yang
berbeda-beda, akibat dari ketersediaan sumberdaya yang belum merata. PPK 1 (PKM dan klinik)
mempunyai kompetensi melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan psikiatrik, dan
penatalaksanaan gawat darurat (seperti menjaga tanda-tanda vital dalam batas normal atau
mengatasi keadaan gaduh gelisah), serta melakukan rujukan ke PPK 2 atau PPK 3 bila perlu
(misalnya bila terdapat ide bunuh diri atau terdapat komplikasi medik yang memerlukan rawat
inap). Beberapa PPK 1 juga dapat memberikan layanan terapi rumatan metadon. PPK 2, selain
mempunyai kompetensi PPK 1, dapat merawat inap pasien dengan komplikasi medik (misalnya
ide bunuh diri atau komplikasi medik berat), memberikan intervensi psikososial, dan melakukan
pemeriksaan penunjang. PPK 3, selain memiliki kompetensi PPK 1 dan 2, mampu memberikan

81
intervensi psikososial yang lebih beragam atau lengkap (seperti terapi kognitif perilaku, terapi
kelompok, dan terapi keluarga). Pemahaman mengenai hal ini penting sebagai pertimbangan
dalam memberikan terapi dan rehabilitasi bagi penderita gangguan pemakaian narkotika.
Pemberian terapi dan rehabilitasi bagi gangguan pemakaian narkotika juga dipengaruhi
oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Belum ada kejelasan mengenai penggantian
biaya perawatan dan pengobatan bagi penderita gangguan pemakaian narkotika.
Modul ini diharapkan menjadi acuan bagi penerima wajib lapor pecandu narkotika pada
institusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk dapat melakukan penatalaksanaan terapi
dan rehabilitasi sesuai dengan kemampuan fasilitas kesehatan yang dimiliki.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu melakukan penatalaksanaan terapi dan
rehabilitasi ketergantungan narkotika sesuai dengan kemampuan fasilitas kesehatan
yang dimiliki ketergantungan narkotika.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Menjelaskan prinsip dan konsep dasar proses terapi.


2. Menjelaskan berbagai jenis modalitas terapi pada pasien ketergantungan
narkotika.
3. Menjelaskan terapi pasca detoksifikasi (rehabilitasi).
4. Menjelaskan tentang harm reduction.
5. Menyusun rencana terapi.

III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut:
Pokok bahasan 1. Tujuan Dan Konsep Dasar Proses Terapi
Pokok bahasan 2. Berbagai Jenis Modalitas Terapi Bagi Pasien Ketergantungan Narkotika
Pokok bahasan 3. Terapi Residensial
Pokok bahasan 4. Harm Reduction
Pokok bahasan 5. Rencana Terapi

82
IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
TUJUAN DAN KONSEP DASAR PROSES TERAPI

Tujuan terapi

Tujuan terapi ketegantungan zat:

1. Abstinensia atau penghentian total penggunaan zat


Tujuan terapi ini tergolong sangat ideal. Sebagian besar pasien ketergantungan zat tidak
mampu atau kurang termotivasi untuk mencapai tujuan ini.
2. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps.
Pelatihan relapse prevention program, cognitive behavior therapy, opiate antagonist
maintenance therapy merupakan beberapa pilihan untuk mencapai tujuan terapi ini.
3. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial
Tujuan utama terapi ini agar dampak buruk akibat ketergantungan narkotika dapat
dikendalikan dan pasien dapat meneruskan kebiasaannya yang positif. Terapi substitusi
rumatan metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.

Konsep Dasar Proses Terapi


Untuk mencapai tujuan diatas, program terapi dan rehabilitasi yang direncanakan dapat
berbasis-rawat inap (di rumah sakit atau komunitas) dan berbasis-rawat jalan (klinik). Program
terapi yang diberikan menyasar pada masalah pemakaian zat dan pada kondisi medis penyerta,
serta pada masalah psikososial. Program terapi dan rehabilitasi bagi masalah pemakaian zat bisa
berupa, antara lain, detoksifikasi, simtomatik, dan rumatan. Kondisi medis penyerta bisa berupa,
misalnya, infeksi HIV dan gangguan psikotik akibat pemakaian zat, termasuk masalah kesehatan
lainnya yang belum jelas hubungannya dengan riwayat pemakaian zat. Program terapi dan
rehabilitasi yang diberikan bergantung pada kondisi medis penyerta tersebut. Orang-orang
dengan masalah pemakaian zat biasanya juga tidak lepas dari masalah psikososial dalam
kehidupannya. Program terapi dan rehabilitasi bagi masalah psikososial tersebut bisa berupa
psikoterapi, konseling, dan pencegahaan kekambuhan. Pemilihan program terapi dan rehabilitasi
bergantung pada banyak faktor, antara lain taraf pemakaian, jenis zat yang dipakai, dan kondisi
pasien. Sebagai contoh, rawat inap bisa dipertimbangkan pada kasus intoksikasi stimulan dengan
gejala psikotik tetapi tidak pada kasus pemakaian kanabis secara rekreasional, benzodiazepin
potensi sedang-tinggi dapat diberikan untuk mengurangi kegelisahan pada kasus putus alkohol

83
tetapi tidak dianjurkan untuk kegelisahan pada kasus putus sedatif, dan program detoksifikasi
tersedia bagi kasus ketergantungan alkohol, opioid, dan sedatif, tetapi tidak tersedia bagi kasus
gangguan pemakaian zat yang lain. Dengan demikian, perlu dipertimbangkan beberapa konsep
berikut untuk memudahkan pemilihan terapi dan rehabilitasi bagi masalah pemakaian zat.
1. Tidak ada satu bentuk terapi yang sesuai untuk semua individu. Masing-masing pasien
ketergantungan narkotika memerlukan jenis terapi yang sesuai dengan kebutuhannya.
2. Kebutuhan guna mendapatkan terapi harus selalu tersedia sepanjang waktu, karena pasien
ketergantungan narkotika tidak mempunyai pendirian yang stabil.
3. Terapi yang efektif harus mampu memenuhi banyak kebutuhan individu, tidak hanya semata-
mata karena kebutuhan menggunakan narkotika.
4. Rencana pelayanan dan terapi seorang individu harus dinilai secara kontinyu dan sewaktu-
waktu perlu dimodifikasi guna memastikan bahwa rencana terapi telah sesuai dengan
perubahan kebutuhan orang tersebut.
5. Mempertahankan pasien dalam periode terapi yang adekuat merupakan sesuatu yang
penting guna menilai apakah terapi efektif atau tidak
6. Konseling dan terapi perilaku merupakan komponen kritis sebagai bagian penting terapi
ketergantungan narkotika
7. Medikasi merupakan elemen penting pada terapi kebanyakan pasien ketergantungan
narkotika
8. Seorang pasien ketergantungan narkotika yang secara bersama-sama juga menderita
gangguan mental harus mendapatkan terapi untuk kedua-duanya secara integratif
9. Detoksifikasi hanya merupakan taraf permulaan terapi ketergantungan narkotika dan kalau
dianggap sebagai satu-satunya cara maka hanya mendatangkan sedikit keberhasilan terapi.
10. Terapi yang dilakukan secara sukarela tidak menjamin menghasilkan suatu bentuk terapi yang
efektif
11. Kemungkinan penggunaan narkotika kembali selama terapi berlangsung harus dimonitor
secara berkesinambungan
12. Program terapi harus menyediakan assesment untuk HIVAIDS, Hepatitis B dan C, Tuberkulosis
dan penyakit infeksi lain serta harus dilakukan konseling untuk membantu pasien
ketergantungan narkotika memodifikasi atau merubah tingkah lakunya, agar tidak
menyebabkan dirinya atau diri orang lain pada posisi yang berisiko mendapatkan infeksi.
13. Pemulihan dari ketergantungan narkotika merupakan proses jangka panjang dan sering
membutuhkan episode terapi berulang-ulang

84
Pokok bahasan 2
BERBAGAI JENIS MODALITAS TERAPI BAGI PASIEN KETERGANTUNGAN NARKOTIKA

Jenis Terapi Ketergantungan Zat


Terapi dan rehabilitasi ketergantungan zat mempunyai banyak jenis dan sebutan yang seluruhnya
dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan, modalitas, atau yang lainnya. Pada modul ini,
pengelompokan terapi dan rehabilitasi medis merujuk kepada Permenkes no. 2415 tahun 2011.

Jenis terapi dan rehabilitasi medis ketergantungan zat:

1. Terapi dan rehabilitasi medis rawat jalan

Terapi dan rehabilitasi medis rawat jalan meliputi intervensi medis dan intervensi psikososial,
yang masing-masing meliputi:

1) Intervensi medis:
a. Program detoksifikasi
b. Terapi simtomatik
c. Terapi rumatan
d. Terapi kondisi medis penyulit/penyerta
2) Intervensi psikososial, antara lain:
a. Psikoterapi (terapi kognitif dan perilaku, terapi dinamik, dan sebagainya)
b. Konseling (konseling adiksi, konseling pasangan/pernikahan, dan lain-lain)

Terapi dan rehabilitasi medis rawat inap meliputi semua jenis terapi dan rehabilitasi yang bisa
diberikan melalui rawat jalan ditambah rehabilitasi dengan pendekatan filosofis, antara lain
Komunitas Terapeutik (Therapeutic Community, TC), 12-Langkah, dan yang sudah teruji
secara ilmiah lainnya. Selain itu, intervensi medis didalam terapi dan rehabilitasi medis rawat
inap juga diperuntukan bagi situasi kegawatdaruratan medis.

Program Detoksifikasi

Program detoksifikasi merupakan intervensi medik jangka pendek yang biasanya merupakan
terapi awal suatu ketergantungan zat.

85
Tujuan terapi detoksifikasi:
 mengurangi, meringankan, atau meredakan keparahan gejala-gejala putus zat
 mengurangi keinginan, tuntutan dan kebutuhan pasien untuk “mengobati dirinya sendiri”
dengan menggunakan zat-zat illegal
 mempersiapkan untuk proses terapi lanjutan yang dikaitkan dengan modalitas terapi
lainnya, seperti: therapeutic community, berbagai jenis terapi rumatan atau terapi lain
 menentukan dan memeriksa komplikasi fisik dan mental, serta mempersiapkan
perencanaan terapi jangka panjang

Terapi Simtomatik

Tidak semua masalah terkait-zat memerlukan detoksifikasi dengan intervensi medis. Bila
detoksifikasi menjadi pilihan, belum tentu program tersebut dapat langsung diberikan. Pada
situasi dimana detoksifikasi tidak menjadi pilihan atau tidak memungkinkan dijadikan prioritas
utama, biasanya dokter memberikan intervensi medis (terapi) berdasarkan gejala yang menonjol.
Gejala tersebut bisa merupakan bagian dari kedaruratan medik dan psikiatrik yang terjadi akibat
ketergantungan narkotika, misalnya gajala depresif dan gejala psikotik.

Termasuk kedaruratan medik yang terjadi akibat penggunaan narkotika dan zat adiktif lain
adalah:

 Intoksikasi akut
 Keadaan putus zat
 Keadaan putus zat dengan delirium
 Gangguan psikotik
 Gaduh gelisah
 Gangguan cemas/panik
 Depresi berat dan percobaan bunuh diri

86
Intoksikasi akut
Kondisi intoksikasi akut seringkali disebut secara tidak tepat dengan overdosis oleh
masyarakat. Gejala intoksikasi akut bergantung pada zat yang dipakai. Tenaga medis harus
mengenali gejala intoksikasi akut dari tiap-tiap zat untuk dapat mendiagnosis secara tepat
dan menentukan terapi yang sesuai. Intoksikasi narkotika dan zat adiktif dapat
membahayakan karena dapat terjadi agresivitas, impulsivitas, agitatif kecuali intoksikasi akut
tembakau yang jarang terjadi. Intoksikasi akut kokain, amfertamin, dan beberapa jenis
halusinogen dapat menyebabkan kejang, tekanan darah naik, gangguan irama jantung,
hipertermia, dehidrasi. Secara umum, intoksikasi akut dapat dikategorikan kondisi medik
sedang, kecuali intoksikasi tembakau termasuk kondisi medik ringan. Pada intoksikasi kafein
terjadi gangguan irama jantung, agitasi Pada intoksikasi PCP dapat terjadi kejang. Pasien
dengan intoksikasi akut sebaiknya dirawat inap. Tujuan utama terapi pada kondisi ini adalah
menjaga sistem kardiovaskuler dan respirasi tetap berfungsi normal. Tujuan selanjutnya
adalah untuk menghambat progresivitas perburukan kondisi atau menghindari gejala yang
lebih berat dan lebih sukar ditangani, seperti kejang, dan memulihkan fungsi organobiologik,
seperti kesadaran. Untuk intoksikasi akut opioid dapat diberikan antagonis opioid yaitu
naloxone. Untuk intoksikasi akut benzodiazepin dapat diberikan flumazenil.

Keadaan putus zat/keadaan putus zat dengan delirium


Keadaan putus zat adalah kondisi klinis yang timbul ketika seseorang mengurangi atau
menghentikan penggunaan narkotika atau zat adiktif lain setelah ia menggunakan zat
tersebut berulang kali, biasanya setelah periode penggunaan yang lama dan/atau dalam
jumlah yang banyak. Delirium merupakan keadaan dimana seseorang kehilangan
kemampuan untuk mengalihkan, memusatkan, dan mempertahankan perhatiannya; kondisi
ini berfluktuasi sejalan dengan waktu; dan bisa disertai dengan agitasi.
Keadan putus alkohol dan keadaanputus sedativa-hipnotika dapat disertai kejang, agitasi,
hipotensi postural serta delirium,oleh karena itu sebagai kondisi medik yang berat maka
harus dirawat inap. Keadaan putus kokain stimulan lainnya dapat disetai agitasi dan ide
bunuh diri. Oleh karena itu tergolong kondisi medik berat dan karenanya harus dirawat inap.
Keadan putus tembakau dan keadaan putus ganja pada umumnya termasuk kondisi medik
ringan, oleh karenanya tidak perlu rawat inap. Keadaan putus opioda bukan keadaan yang
gawat tetapi pasien menderita antara lain karena rasa nyeri seluruh badan. Pasien ini tidak
harus diirawat inap, tetapi bila pasien menghendaki dirawat inap maka sebaiknya dirawat
inap.

87
Gangguan psikotik
Gejala psikotik yang muncul pada waktu atau dalam waktu dua minggu penggunaan
narkotika/ zat adiktif lain, berlangsung paling sedikit 48 jam dan lamanya tidak lebih dari 6
bulan. Gejala psikotik merupakan sekelompok gejala yang menandakan bahwa pasien tak
mampu membedakan antara realita dan nonrealita, seperti ketidaksesuaian afek, halusinasi,
dan waham. Bila disertai agresivitas harus dirawat inap. Obat yang dapat diberikan adalah
golongan antipsikotik, disarankan yang atipikal (seperti risperidone, olanzapine, dan
aripiprazole). Contoh antipsikotik tipikal antara lain haloperidol, chlorpromazine, dan
trifluoperazine.

Gaduh-gelisah
Pasien gaduh-gelisah harus dirawat inap karena kemungkinan akan mengganggu ketertiban
umum. Obat yang dapat diberikan adalah dari golongan major tranqulizer (antipsikotik),
terutama yang atipikal. Mengingat kondisi pasien yang gaduh-gelisah, pertimbangkan rute
pemberian yang sesuai.

Gangguan cemas/panik
Ganguan cemas/panik pada umumnya tidak memerlukan rawat inap. Obat yang dapat
diberikan antara lain golongan benzodiazepin (seperti alprazolam dan lorazepam) dan
golongan antipsikotik tipikal dosis rendah (seperti haloperidol 0,5 mg dan trifluoperazine 1
mg). Pertimbangkan ulang untuk pemberian golongan benzodiazepin, khususnya yang
potensi kuat/ tinggi. Mengingat risiko toleransi dari obat-obat golongan itu, pastikan bahwa
pemberiannya akan memberikan manfaat yang lebih tinggi daripada efek yang tak diinginkan.

Depresi berat dan Percobaan Bunuh Diri


Pasien dengan Depresi berat dan Percobaan Bunuh Diri harus dirawat inap. Obat yang dapat
diberikan antara lain golongan benzodiazepin, golongan antipsikotik (baik atipikal maupun
tipikal), dan antidepresan (seperti fluoxetine dan maproptiline). Mengingat efek perbaikan
suasana perasaan dari antidepresan yang relatif lambat dan pemberiannya yang jangka
panjang, pertimbangkan pemberian antidepresan untuk gejala/sindrom depresif! Belum
cukup bukti yang mendukung penggunaan antidepresan untuk gejala depresif. Antidepresan,
terutama golongan Selective Serotonine Reuptake Inhibitor, dikaitkan dengan kejadian yang
tak diinginkan (yakni peningkatan usaha bunuh diri). Jadi, pertimbangkan pemberiannya pada
episode depresif berat.

88
Terapi Rumatan

Terapi rumatan merupakan terapi yang menggunakan zat agonis, baik penuh maupun parsial,
atau zat antagonis yang biasanya diberikan setelah pasien melalui proses detoksifikasi. Terapi ini
bertujuan untuk mencegah relaps, yakni kembali kepada pemakaian zat yang tak terkendali dan
membahayakan diri serta menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Terapi rumatan tersedia
untuk beberapa zat yang sangat terbatas, seperti opioid dan tembakau. Obat yang dipakai dalam
terapi rumatan opioid adalah metadona (agonis penuh) dan buprenorfin (agonis parsial), serta
nalokson dan naltrekson (antagonis).

Sejak tahun 1960-an metadona merupakan terapi baku untuk pasien-pasien ketergantungan
opioida di Amerika dan Eropa. Salah satu kelemahan metadona adalah risiko overdosis sejalan
dengan meningkatnya besar dosis yang berakibat fatal. Buprenorfin dimanfaatkan sebagai terapi
rumatan karena pada dosis tinggi buprenorfin bersifat antagonis, dengan demikian relatif lebih
aman daripada metadona. Dalam pelaksanaannya, terapi rumatan buprenorfin bermasalah
dikarenakan penyalahgunaan buprenorfin dengan cara disuntikkan sehingga berisiko
menimbulkan dampak buruk penularan penyakit. Dalam perkembangannya, buprenorfin
dikombinasi dengan naltrekson untuk mengatasi masalah tersebut. Jika kombinasi tersebut
disalahguna dengan cara disuntikkan maka naltrekson akan bekerja lebih dulu sehingga akan
timbul gejala putus opioid. Terapi rumatan dengan nalokson, yang dikenal dengan istilah Opiate
Antagonist Maintenance Therapy, harus diberikan bersama dengan konseling. Untuk tembakau
tersedia varenicline. Di Indonesia tersedia program terapi rumatan metadon (yang dikelola oleh
pemerintah pusat) dan terapi rumatan buprenorfin-naltrekson untuk ketergantungan opioid, dan
terapi varenicline untuk ketergantungan tembakau.

Terapi Kondisi Medis Penyulit Atau Penyerta

Gangguan penggunaan narkotika pada pasien jarang ditemukan berdiri sendiri melainkan
terdapat bersama dengan gangguan lain (lihat MATERI INTI 2, Pokok Bahasan IV.B). Kondisi medis
penyulit atau yang menyertai masalah penggunaan narkotika bisa dikelompokkan menjadi
masalah organobiologik (kondisi medis umum) dan masalah psikologik/psikiatrik. Penggunaan
narkotika dengan cara suntik dapat membuat seseorang tertular penyakit penyulit (komplikasi)
seperti HIV/AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS), hepatitis B atau C, dan lain-lain. Sesuai dengan
konsep dasar proses terapi, program terapi harus menyediakan asesmen untuk HIV/AIDS,

89
Hepatitis B dan C, Tuberkulosis, dan penyakit infeksi lain dan harus melakukan konseling untuk
membantu pasien ketergantungan narkotika memodifikasi atau merubah tingkah lakunya, agar
tidak menyebabkan dirinya atau diri orang lain pada posisi yang berisiko mendapatkan infeksi.
Obat yang dapat diberikan bergantung pada diagnosis KMU. Pertimbangkan interaksi antara obat
yang diberikan dan zat yang dipakai serta efek dari interaksi tersebut.

Masalah psikiatrik yang menyertai masalah penggunaan narkotika sering disebut juga dengan
dual diagnosis. Dual diagnosis adalah istilah klinis untuk kasus ketergantungan narkotika yang
didapati bersama dengan gangguan psikiatrik lainnya. Pasien-pasien dengan kombinasi
ketergantungan narkotika dan gangguan psikiatri membutuhkan terapi khusus yang bertujuan
untuk mempersiapkan dirinya dalam program pemulihan yang sesuai dan adekuat. Obat yang
dapat diberikan bergantung pada diagnosis (lihat “Terapi simtomatik” di atas). Mengingat
keterbatasan sumber daya layanan kesehatan primer, sangat disarankan untuk merujuk setiap
kasus dual diagnosis kepada psikiater atau fasilitas yang lebih mumpuni.

Pokok Bahasan 3
TERAPI RESIDENSIAL

Terapi dan rehabilitasi medis rawat inap bagi pengguna narkotika meliputi:
1. Program berbasis-rumah sakit
2. Program berbasis-komunitas

Program terapi dan rehabilitasi medis berbasis-rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis rumah
sakit, meliputi:

a. General hospital based program


Rehabilitasi dilaksanakan di rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah. Program rehabllitasi di rumah sakit umum pada umumnya adalah
rehabiltasi fisik atau medik, yaitu mengobati penyakit komorbiditas dan pemulihan kondisi
fisik
b. psychiatric hospital
Rehabilitasi dilaksanakan di rumah sakit jiwa yang diselenggarakan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah. Program rehabilitasi yang ada adalah rehabilitasi mental yaitu mengobati
gangguan jiwa lain yang terdapat bersama-sama dengan Gangguan penggunaan
narkotika/zat adiktif lain (dual diagnosis).

90
c. rumah sakit khusus untuk gangguan penggunaan narkotika
Sebagai contoh, Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta mempunyai fasilitas IGD, unit
rawat inap detoksifikasi, unit rawat inap untuk rehabilitasi, unit pasien dengan diagnosis
ganda, dan terapi rumatan metadon.

Program terapi dan rehabilitasi berbasis-komunitas dilaksanakan di fasilitas rehabilitasi yang


diselenggarakan oleh masyarakat, seperti TC dan 12-langkah. Program-program tersebut
biasanya dilaksanakan dalam bentuk yang murni, tanpa intervensi medis (yang membedakan
dengan yang dilaksanakan di rumah sakit).

Pokok Bahasan 4
HARM REDUCTION

Harm reduction adalah suatu kebijakan atau program yang ditujukan untuk menurunkan
konsekuensi kesehatan, sosial dan ekonomi yang merugikan sebagai akibat penggunaan
narkotika tanpa kewajiban abstinensia dari penggunaan narkotika. Beberapa program harm
reduction:

1. Syringe Exchange Program


Tersedianya tempat penukaran semprit dan jarum suntik bekas dengan yang steril. Atau
tersedianya semprit dan jarum suntik steril tanpa penukaran dengan semprit dan jarum
suntik bekas.
2. Methadone Maintenance Treatment Program (MMTP)
MMTP telah dikembangkan sejak tahun 60an sebagai suatu cara untuk mengurangi angka
kriminalitas, konsekuensi sosial yang merugikan dan infeksi HIV/AIDS.
3. Education, Outreach Program and Bleach Kits
Ini adalah suatu program edukasi membersihkan jarum suntik yang sudah dipakai untuk
mencuci-hamakan jarum bekas.
4. Tolerance Areas
Tolerance areas adalah suatu tempat yang diperkenankan untuk melakukan kebiasaan
menggunakan narkotika melalui suntikan tanpa mendapatkan hukuman. Cara tersebut
memerlukan koordinasi dan pengawasan yang ketat.
5. Kawasan Bebas Asap Rokok

91
kawasan bebas asap rokok merupakan tempat-tempat atau gedung-gedung yang tidak
diperkenankan orang untuk merokok.

Pokok Bahasan 5
RENCANA TERAPI

Rencana terapi merupakan salah satu bekal untuk berhasilnya suatu terapi. Rencana terapi dibuat
berdasarkan hasil asesmen komprehensif yang sesuai dengan kondisi pecandu narkotika dengan
jenis gangguan penggunaan narkotika dan kebutuhan pecandu narkotika, yang meliputi antara
lain pelayanan detoksifikasi, pelayanan rehabilitasi, dan pelayanan rawat jalan rumatan.

Rencana terapi disusun dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan awal dan diagnosis yang
diperoleh berdasarkan hasil asesmen. Salah satu model yang bisa digunakan dalam rencana
terapi bagi pecandu narkotika adalah dengan melihat tahapan perubahan perilaku sesuai dengan
teori Prochaska dan DiClemente (1986) dan Davidson, dkk (1991). Selanjutnya, rencana terapi
yang telah disusun tersebut harus disepakati oleh pecandu narkotika; orang tua, wali, atau
keluarga pecandu narkotika; dan pimpinan institusi penerima wajib lapor.

Tidak semua institusi wajib lapor memiliki modalitas terapi yang lengkap. Pada layanan yang tidak
tersedia perawatan khusus maka petugas tersebut wajib untuk melakukan rujukan ke tempat lain
sesuai dengan kebutuhan pecandu narkotika tersebut.

Melalui program wajib lapor, pecandu narkotika diharapkan setidaknya memperoleh konseling
dasar terkait perilaku ketergantungan narkotikanya. Melalui program ini juga diharapkan
pecandu narkotika memperoleh informasi yang diperlukan untuk meminimalisasi risiko yang
dihadapinya dan memperoleh rujukan untuk perawatan lanjutan yang sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan yang bersangkutan. Melalui program ini pula pecandu narkotika mendapatkan
pengobatan dan atau perawatan melalui rehablitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Rehabilitasi medis dapat dilaksanakan melalui rawat jalan dan/atau rawat inap sesuai dengan
rencana terapi yang telah disusun. Rehabilitasi rawat inap dimulai dengan program rawat inap
selama 3 (tiga) bulan untuk kepentingan asesmen lanjutan, serta penatalaksanaan medis untuk
gangguan fisik dan mentalnya. Pelaksanaan rehabilitasi dilanjutkan dengan program rawat inap
jangka panjang atau dialihkan ke program rawat jalan. Pelaksanaan rehabilitasi lanjutan dengan
program rawat jalan hanya dapat dilaksanakan untuk terpidana dengan pola penggunaan

92
rekreasional atas jenis narkotika amfetamin, ganja dan benzodiazepin, dan/atau berusia di
bawah 18 tahun. Pelaksanaan rehabilitasi lanjutan yang dilakukan dengan rawat jalan
mewajibkan pecandu narkotika untuk datang pada lembaga rehabilitasi sesuai ketentuan yang
berlaku dan dilakukan pemeriksaan urin sewaktu-waktu.

Sesuai dengan konsep dasar proses terapi, rencana terapi seorang pecandu narkotika harus
dinilai secara berkesinambungan dan dapat dimodifikasi sewaktu-waktu bila perlu, untuk
memastikan kesesuaian antara rencana terapi dan perubahan kebutuhan orang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 422/MENKES/SK/III/2010 tentang


Pedoman Penatalaksanaan Medik Gangguan Penggunaan NAPZA.
2. Modul Pelatihan Teknis Medis Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat
3. Kep Menkes No. 486/MENKES/SK/IV/2007 tentang Kebijakan & Rencana Strategi
Penanggulangan Penyalahgunaan NARKOTIKA
4. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, Departemen
Kesehatan RI, 1993
5. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th edition, American Psychiatric
Association, 2013.

93
MATERI INTI 4
KONSELING DASAR ADIKSI NAPZA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Masalah adiksi NAPZA melibatkan aspek biologik, psikologik, dan sosial. Oleh karena itu dalam
penatalaksanaannya harus bersifat komprehensif dengan memberikan intervensi biologik
(farmakoterapi) dan intervensi psikososial. Konseling merupakan salah satu jenis intervensi
psikososial. Konseling merupakan suatu dialog interaktif antara terapis dan pasien yang
berdasarkan pada hubungan kolaborasi antara konselor dan pasien yang membantu pasien
untuk menyadari adanya masalah dalam perilaku penggunaan NAPZA. Konseling melibatkan
berbagai keterampilan konselor, teknik mengajar, dan dukungan emosional yang membantu
seseorang menuju kemandiriannya, mengembangkan keterampilan dalam menghadapi
masalah, mengembangkan fungsi sosial, dan menjadi pengambil keputusan yang baik. Untuk
mampu memberikan konseling secara profesional, terapis harus mengetahui prinsip dasar
konseling dan penerapannya.

II. TUJUAN PEMBELAJARAAN


A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu melakukan konseling dasar adiksi.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


1. Menjelaskan pengertian konseling dan menerapkan teknik dasar konseling
NAPZA
2. Menjelaskan tahap-tahap perubahan perilaku dan wawancara motivasional
serta penerapan teknik mengatasi resistensi

III. Pokok Bahasan

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut:


Pokok bahasan 1. Menjelaskan pengertian konseling dan menerapkan teknik
dasar
konseling NAPZA
Pokok bahasan 2. Menjelaskan tahap-tahap perubahan perilaku & wawancara
Motivasional serta penerapan teknik mengatasi resistensi

94
IV. URAIAN MATERI

Pokok Bahasan 1
MENJELASKAN PENGERTIAN KONSELING DAN MENERAPKAN TEKNIK DASAR
KONSELING NAPZA

Konseling merupakan bagian yang sangat penting dalam tata laksana gangguan penggunaan
NAPZA (GPN) karena terdapat hubungan yang bermakna antara konseling dan perubahan
perilaku positif pada orang dengan gangguan penggunaan NAPZA. Ada banyak jenis konseling
yang dapat diterapkan pada pasien dengan GPN, seperti misalnya konseling individual,
pasangan, keluarga, marital, vokasional, dan lainnya. Salah satu yang mendasar adalah
konseling gangguan penggunaan NAPZA yang lebih dikenal sebagai konseling adiksi NAPZA.
Prinsip dasar konseling ini sama dengan prinsip dasar konseling secara umum. Yang berbeda
adalah fokus masalah yang diangkat pada umumnya berkisar pada masalah gangguan
penggunaan NAPZA.

Konseling merupakan proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah


interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu, yang merupakan proses yang
dinamis berdasarkan hubungan kolaboratif. Tugas konselor adalah memberdayakan pasien
melalui berbagai teknik, meliputi:
• fasilitasi
• pengajaran
• dukungan

Tujuan konseling adalah:

1. Membantu kemampuan pasien untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan realistik.
2. Menuntun perilaku pasien agar mampu mengemban konsekuensinya.
3. Memberikan informasi dan edukasi.

Hasil konseling sangat bergantung pada hubungan antara pasien dengan konselor, sedangkan
hubungan antara konselor dan pasien akan bergantung pada situasi dan kenyamanan yang
dirasakan oleh pasien. Dengan demikian, penting bagi konselor untuk menciptakan situasi
yang sedemikian rupa dan membuat pasien merasa nyaman untuk mendapatkan hasil
konseling yang optimal. Hubungan antara konselor dan pasien bersifat terapeutik yang
mampu memfasilitasi suatu perubahan perilaku. Konselor seharusnya memfasilitasi
pasiennya untuk mengidentifikasi masalah diri pasien, potensi yang dimiliki pasien, alternatif
jalan keluar, dan strategi perilaku yang perlu pasien tampilkan.

95
Karakteristik dan gaya dari konselor memiliki efek yang sangat besar pada proses terapi dan
keberhasilan atau kegagalan selanjutnya terutama dalam hal hubungan konselor-pasien.
Motivasi pasien mempengaruhi keterlibatan pasien dalam terapi dan hasil akhir terapi dapat
dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seorang konselor dan gaya interaksi sebanyak
karakteristik pasien dan teknik-teknik konselor.

Membangun hubungan baik dalam konteks konseling membutuhkan karakter khusus, yaitu:
1. Bersikap hangat: ramah, menjabat tangan (sesuai konteks), menyambut pasien secara
wajar, mempersilakan duduk, senyum dan bersahabat
2. Mampu menjadi pendengar yang baik: mendengarkan apa yang dikatakan pasien, baik
secara verbal maupun nonverbal, memberi penguat bicara, tidak menyela perkataan
pasien kecuali memang diperlukan.
3. Mampu memahami apa yang dirasakan pasien (berempati): konselor mencoba merasakan
apa yang dirasakan pasien. Menerima perasaan pasien yang subyektif yang ditunjukkan
dengan ekspresi wajah, respons verbal maupun bahasa tubuh konselor yang adekuat.
4. Tidak bersikap menghakimi (judgmental): tidak mengambil kesimpulan secara cepat atas
apapun yang diutarakan atau ditampilkan pasien, menghargai pasien dengan segala atribut
yang ada padanya.
5. Bertanggung jawab: konselor mematuhi janji pertemuan, memberitahu pasien apabila
berhalangan, melakukan pencatatan dan menyimpan segenap informasi yang diperoleh
dengan baik sesuai aturan yang berlaku.
6. Tulus: konselor bersikap terbuka dan sungguh-sungguh dalam membantu pasien. Tidak
didasari oleh agenda lain selain keinginan untuk menolong atau memfasilitasi perubahan
pada diri pasien.
7. Fleksibel: konseling tidak bisa dijalankan secara kaku. Topik-topik yang telah direncanakan
konselor berdasarkan identifikasi yang sebelumnya dilakukan dapat berubah sewaktu-
waktu seiring dengan berjalannya proses konseling.

Hubungan baik konselor-pasien harus dipertahankan dalam konteks hubungan profesional


agar fungsi konseling tetap berjalan secara optimal. Ruang lingkup batasan hubungan
konselor-pasien meliputi:
• Memberikan aturan tentang peran konselor
• Menetapkan batasan perilaku: hindari hubungan ganda (dual relationship), baik dari sisi:
 Sosial: misalnya, menjalin hubungan asmara, menganggap pasien sebagai anak
 Finansial: misalnya, meminjam atau memberikan uang, membuat bisnis bersama
pasien, dan sebagainya.

96
Dalam situasi dimana hubungan ganda tidak dapat dihindari, upayakan untuk
meminimalisasi keterlibatan konselor. Misalnya, sudah terlanjur berbisnis bersama,
upayakan agar mengalihkan pelaksanaan bisnis tersebut pada orang lain.
• Mengklarifikasi berbagai harapan
• Melindungi konselor, pasien, dan mitra kerja lainnya

Dalam pelaksanaan konseling dapat terjadi keadaan transference dan Counter-transference


antara konselor dengan pasien.

• Transference adalah suatu proses dimana pasien memindahkan kepada konselor atau
(transfers) sikap, perasaan dan hasrat berdasarkan hubungan personal pasien yang
berarti khusus. Hal ini terkadang timbul sebagai suatu proses ketidaksadaran
(unconscious) berdasarkan pengalaman masa kanak pasien dimana seperti perasaan
cinta, benci, kebimbangan, kemarahan dan/atau dimana ketergantungan muncul dan
mengarah pada konselor. Layaknya hubungan yang membantu semakin terasa
mendalam, konseling mungkin dapat memicu perasaan terkait dengan apa yang pernah
dirasakan/dialami oleh pasien dengan orang – orang yang bermakna sebelumnya. Pasien
mungkin saja mengalami interaksi dengan konsleor sama persis dengan yang pernah
pasien alami dengan seseorang yang bermakna sebelumnya di masa lalunya.
Transference dapat menjadi positif ataupun negatif tergantung dari pengalaman masa
lalu pasien. Sebagai contoh, terkadang transference dapat menjadikan hubungan yang
membantu menjadi mendalam disaat pasien bersikap dan berperilaku yang positif
kepada pasien. Sebaliknya akan berubah menjadi negatif terkait bagaimana pasien
melihat dan bereaksi kepada konselor.
• Counter-transference merupakan suatu sifat alamiah yang dapat muncul di saat seorang
konselor memindahkan kepada pasien sikap, perasaan dan hasrat terhadap oranglain
yang berasal dari pengaaman masa lalunya, atau pengalaman saat ini di dalam
kehidupannya. Sebagai contoh, seorang konselor yang mempunyai permasalahan dimasa
mudanya dapat bereaksi dengan pasien yang muda persis sepert reaksinya terhadap
anaknya sendiri. Counter transference dapat menyebabkan konselor kehilangan
obyektifitas dari dirinya terhadap pasien dan untuk intervensi yang dikembangkannya
adalah tidak mencakup dari kepentingan yang terbaik untuk pasien. Counter transference
adalah normal, semua konselor mengalami itu. Isu utama dari konselor adalah
bagaimana dapat untuk mengenali hal tersebut dan secara efektif memprosesnya
sehingga tidak berdampak yang negatif kepada pasien.

97
Kriteria Konseling
 Fokus pada masalah pasien.
 Percakapan dua arah.
 Terstruktur: menyambut, membahas, membantu menetapkan pilihan, mengingatkan.
 Bertujuan membantu pasien untuk mengenal dirinya, memahami permasalahannya,
melihat peluang dan mencari alternatif penyelesaiannya.
 Memerlukan kemampuan melakukan komunikasi interpersonal.
 Dilakukan dalam suasana yang menjamin rasa aman dan nyaman.

Lama dan frekuensi konseling


Proses konseling hendaknya dijalankan dengan durasi waktu 30 hingga 60 menit. Upayakan
untuk selalu memulai konseling dengan mengulas apa yang telah diperoleh pada sesi
sebelumnya dan sejauh mana keterampilan baru telah diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Pasien sebaiknya diberitahu bila waktu konseling akan habis. Proses konseling yang
optimal dilakukan minimal 8 kali pertemuan untuk setiap pasien. Pada pasien yang memiliki
masalah personal yang kompleks dapat dilakukan sesi konseling hingga 20 kali pertemuan
atau lebih, bergantung pada kompleksitas yang dialami dan karakteristik pasien itu sendiri.
Jarak antara satu sesi dengan sesi lain idealnya 1 minggu.
Keterampilan dasar dalam konseling meliputi:
1. Mendengar secara aktif
2. Mengajarkan

1. Mendengar secara aktif.


Konselor yang baik memang harus dapat menjadi pendengar, namun tidak secara pasif.
Kemampuan untuk mendengar disini harus bersifat aktif yang akan mendorong pasien
untuk berbagi informasi baik secara verbal maupun ekspresi non verbal. Mendengar aktif
berarti kemampuan untuk mendengar apa yang dikatakan oleh pasien baik secara verbal
maupun non verbal, memahaminya dan mengkomunikasikan pemahaman itu dengan
menunjukkan empati kepada pasien. Mendengar secara aktif juga dapat memberikan
respon yang tepat kepada pasien, yaitu:
a. Membangun dan mempertahankan hubungan baik (rapport)
b. Membantu pasien merasa lebih dekat.
c. Membantu pasien untuk mengekspresikan perasaan.
d. Menciptakan pengetahuan yang saling mendukung antara pasien dengan konselor.

98
Seorang konselor tidak serta merta mampu mendengarkan pasien secara aktif.
Ketrampilan mendengar aktif harus dilatih. Adapun faktor-faktor yang menjadi
penghambat mendengar aktif diantaranya adalah:
• Bersikap reaktif secara emosional
• Berpikir bagaimana merespons pasien sementara pasien masih berbicara
• Memberikan perhatian pada berbagai hal yang ada di sekitar kita
• Adanya sikap praduga yang ada dalam pikiran kita
• Berpikir tentang masalah kita sendiri
• Melamun

Adapun bagian mendengar aktif adalah sebagai berikut:


1. Hadir
Kehadiran artinya konselor menunjukkan ekspresi kesadaran dan ketertarikan apa
yang dikomunikasikan oleh pasien baik verbal maupun non verbal. Jadi konselor
memperhatikan komunikasi verbal dan non verbal dari pasien dan
mengkomunikasikan kembali kepada pasien. Hadir membantu konselor untuk
memahami pasien lebih baik dengan mengobservasi secara lebih hati-hati. Hadir
membantu pasien untuk menjadi relaks dan nyaman, merasa bebas mengekspresikan
ide-ide dan perasaannya, dapat mempercayai konselor sehingga membuat pasien
memiliki peranan yang lebih aktif. Kehadiran dapat ditandai oleh:
a. Kontak mata dan ekspresi wajah yang sesuai.
b. Mempertankan postur yang relaks dengan menggunakan gerakan tangan dan
bahu.
c. Secara verbal memberikan dukungan atas perkataan pasien dengan memberikan
kata-kata seperti “um-hmm” atau “ya” atau dengan mengulang kata kunci.
d. Melakukan observasi pada bahasa tubuh pasien.

2. Parafrase
Parafrase dilakukan dengan mengucapkan kembali isi dari pernyataan pasien dengan
menggunakan kata-kata yang mirip diucapkan oleh pasien. Tujuan dari parafrase
adalah mengkonfirmasi kepada pasien bahwa konselor mengerti apa yang dikatakan
oleh pasien.

Parafrase dapat membantu konselor untuk memperjelas persepsi tentang pernyataan


pasien dan menggarisbawahi isu penting. Sedangkan untuk pasien, parafrase
membuat pasien mengerti bahwa konselor memahami apa dikatakan oleh pasien,
mengklarifikasi pernyataan pasien, dan fokus pada apa yang penting dan berkaitan.

99
Parafrase memungkinkan konselor untuk melakukan verifikasi terhadap persepsi
mereka akan pernyatan pasien yang menjadi fokus dari isu sehingga membuat pasien
dapat menceritakan lebih lanjut.

3. Refleksi perasaan
Refleksi perasaan adalah ekspresi konselor terhadap perasaan pasien, baik verbal
maupun nonverbal. Konselor mencoba mengetahui emosi pasien dan merespon untuk
menunjukkan pemahaman tentang kondisi emosi pasien. Konselor menggunakan
tehnik merefleksikan perasaan, mengekspresikan perasaan pasien yang terlihat dari
pernyataan verbal dan nonverbal. Pada refleksi perasaan, elemen yang menjadi fokus
adalah emosi pasien.

Refleksi perasaan membantu konselor untuk memahami apakah dirinya sudah


memahami emosi pasien dan membawa masalah yang ada pada pasien tanpa pasien
merasa terpaksa. Refleksi perasaan membantu pasien untuk mengetahui bahwa
konselor memahami perasaannya, meningkatkan kesadaran tentang perasaan
dirinya, dan mempelajari hubungan antara perasaan dan perilaku.

Secara teknis, refleksi perasaan juga disebut sebagai mendengar reflektif. Ada 3 tipe
refleksi:
1. Refleksi sederhana: mendengarkan isi pembicaraan pasien dan mengamati
perilaku pasien. Sangat bermanfaat untuk membina hubungan baik.
Contoh A:
• Pasien: “saya belum ingin berhenti dalam waktu dekat”
• Konselor: “jadi anda belum siap untuk tidak pakai napza saat ini”
Contoh B:
• Pasien: “sekarang ini saya udah ngerasa lebih enak, tapi saya nggak tau apa
istri saya udah bisa mempercayai saya sekarang ini”
• Konselor: “tampaknya perasaan anda campur aduk, di satu sisi fisik merasa
lebih baik, tetapi di sisi lain merasa sangsi dengan hubungan anda dengan istri
anda”

2. Refleksi yang diamplifikasi: menambahkan atribut pada refleksi sederhana tetapi


tidak dalam bentuk yang sarkastik. Mohon hati-hati untuk tidak menggunakan
bentuk refleksi ini pada tahap awal dan hati-hati apabila pasien merasa lebih
buruk.

100
Contoh A:
• Pasien: “saya tahu saya buat salah, tapi tuntutan orangtua kan juga nggak
masuk akal”
• Konselor: “hmm...sepertinya anda tidak bisa menerima tuntutan apapun”
• Pasien: “wah bukan gitu...saya nerima kalo saya harus berhenti, tapi orangtua
tuntutannya kan lebih dari itu, gak realistis, bikin males....”

3. Refleksi dua sisi: menerima apa yang diucapkan pasien, tetapi juga mengutarakan
apa yang pernah dikatakan pasien sebelumnya. Bentuk refleksi ini juga tidak sesuai
pada tahap-tahap awal konseling.
Contoh A:
• Pasien: “kenapa sih harus berhenti? Orang kalo nggak pernah coba-coba make
tuh gampang tua, gak menikmati hidup”
Konselor: “sebentar....jadi menurut anda dengan make itu artinya bagian dari
cara menikmati hidup ya?. Tapi minggu lalu anda bilang bahwa anda capek dan
merasa menyia-nyiakan waktu dengan kehidupan kayak begini”

4. Rangkuman
Rangkuman merupakan bagian dimana konselor dan pasien menyatukan bersama-
sama apa yang sudah dibicarakan, meyakinkan bila pasien sudah memahami isi sesi
dengan baik, dan menyiapkan pasien untuk berpindah dari suatu tahapan perubahan
ke tahapan perubahan selanjutnya.

Rangkuman membantu konselor untuk:


a. Fokus pada isi sesi yang sudah berlangsung.
b. Melakukan konfirmasi persepsi dari pasien.
c. Fokus pada satu isu sambil meningkatkan pemahaman masalah lainnya.
d. Terminasi sesi secara logik.

Sedangkan untuk pasien, rangkuman berguna untuk:


a. Melakukan klarifikasi apa yang mereka maksud.
b. Memahami bahwa konselor mengerti dengan kondisi pasien.
c. Memiliki keinginan untuk berpindah dari suatu tahap perbahan ke tahap
perubahan selanjutnya.

101
2. Mengajarkan pasien
Mengajarkan suatu keterampilan baru membutuhkan waktu dan praktek untuk setiap
orang. Konselor harus dapat mengenali kesulitan pasien dalam mengubah pola perilaku
penggunaan NAPZA, khususnya dalam keadaan putus zat. Penggunaan NAPZA dalam
jangka panjang juga akan menganggu fungsi neurokognitif, yaitu meliputi gangguan
perhatian dan memori, yang mempengaruhi proses belajar suatu keterampilan baru. Oleh
karena itu pengulangan setiap sesi diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Pengulangan
dilakukan oleh konselor dengan menyatakan kembali informasi dan mempraktekan
keterampilan yang diperlukan pasien dalam mengontrol penggunaan NAPZA.

Mempelajari keterampilan baru membutuhkan waktu dan praktek. Proses pembelajaran


seringkali membutuhkan kesalahan untuk kemudian dikenali kesalahan itu dan menjadi
referensi yang lebih baik dalam pematangan keterampilan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan oleh konselor adalah:

1. Mempraktekan merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran. Dalam


proses pembelajaran seringkali terjadi kesalahan, sehingga penting untuk membuat
perubahan berdasarkan kesalahan yang terjadi dan kemudian dicoba lagi sampai
terbentuk keterampilan yang diinginkan.
2. Konselor harus menyediakan banyak kesempatan bagi pasien untuk mempraktekan
keterampilan tersebut, baik dalam maupun luar sesi. Pada setiap sesi harus
memberikan kesempatan pasien untuk berlatih, meninjau kembali ide-idenya,
meningkatkan perhatian dan mendapatkan umpan balik dari konselor. Hal yang dapat
dilakukan lagi adalah memberikan pekerjaan rumah sehingga pasien akan semakin
dapat meningkatkan keterampilan tersebut.
3. Praktek akan berguna apabila pasien melihat ada nilai tambah dan kegiatan yang
nyata.

Pasien tidak akan melatih keterampilan dan melakukan tugas rumah tanpa mereka
memahami mengapa keterampilan itu dapat membantu mereka pulih dari
ketergantungan NAPZA. Konselor harus secara konstan menekankan bagaimana
pentingnya pasien berlatih keterampilan baru yang baik dan alasan mengapa ia harus
melakukan hal itu.

a. Memberikan alasan yang rasional dan jelas kepada pasien tentang tugas-tugas atau
latihan di rumah yang harus dikerjakan merupakan hal yang penting. Banyak pasien
yang keluar dari sesi konseling karena tidak tahu pentingnya melakukan hal itu.

102
b. Pasien akan melakukan praktek keterampilan baru atau tugas rumah apabila mereka
mengetahui manfaat keterampilan baru untuk mereka. Jadi pada sesi pertama,
konselor harus menekankan manfaat praktek yang harus dikerjakan di luar sesi.

Ketika pasien memberikan informasi maka konselor harus menggunakan informasi


tersebut untuk memotivasi mereka dengan memberikan umpan balik yang membangun
dengan fokus pada pasien tentang:

a. Gaya pasien dalam menghadapi masalah.


b. Menggunakan sumber-sumber yang tersedia.
c. Melihat kelemahan dan kelebihan pasien.

Dalam memberikan umpan balik konselor:


1. Menjelaskan bahwa bila pasien mempraktekan keterampilan baru tesebut maka
secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
2. Menjelaskan pada pasien mengenai monitoring tugas. Penjelasan dapat dilakukan
secara sederhana, yaitu dengan memperlihatkan secara singkat pemahaman tentang
kosnep dasar pengobatan, tingkat kemampuan kognitif, fleksibilitas, pemahaman
tentang perilaku pasien, motivasi, mekanisme koping, impulsivitas, kemampuan
verbal, dan kondisi emosional
3. Konselor harus mengekplorasi pembelajaran apa yang didapatkan oleh pasien dari
penerapan tugas tersebut. Hal ini akan membantu konselor untuk memilih topik di
sesi selanjutnya.
4. Konselor dapat memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah dilakukan oleh pasien
walaupun hal kecil, karena dengan dukungan seperti itu maka pasien akan tertarik
untuk kembali menerapkan tugas tersebut.
5. Kegagalan dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya rasa putus asa atau pasien
tidak melihat manfaat dari keterampilan tersebut. Konselor harus mengeksplorasi
kesulitan yang dihadapioleh pasien dan membantu mereka dalam menghadapi
kesulitan tersebut.

103
Pokok Bahasan 2
TAHAP PERUBAHAN PERILAKU & WAWANCARA MOTIVASIONAL

TAHAP PERUBAHAN PERILAKU

Psikolog James O. Prochaska, John C. Norcross dan Carlo C. DiClemente menulis dan meneliti
tentang bagaimana orang berubah selama lebih dari 20 tahun. Mereka mengembangkan
sebuah model dari proses perubahan. Kesiapan untuk berubah dan dinamik dari tahap-tahap
perubahan dikembangkan oleh Prochaska, Norcross, dan Diclemente (1994); Mereka
mengidentifikasi enam tahap perubahan: precontemplation, contemplation, preparation,
action, maintenance, dan recycling dan relapse. Konselor tidak hanya perlu untuk
memahami tahap kesiapan, tapi harus mengetahui bagaimana berespons secara tepat untuk
memfasilitasi individu bergerak ke sebuah tahap kesiapan yang lebih tinggi. Tahap perubahan
dapat dideskripsikan dalam model diagram dibawah ini:

Pre-
Relaps contemplation
e

Contemplation
Maintenance

Determination/
Action Preparation

a. Tahap Pra-Perenungan (Precontemplation)


Di tahap pertama ini terdapat penyangkalan atau kurangnya kesadaran akan kebutuhan
untuk berubah. Di tahap pra-perenungan, pasien tidak mempunyai pikiran untuk berhenti
dari penyalahgunaan NAPZA, pasien menggunakan penyangkalan sebagai mekanisme
pertahanan diri yang paling utama. Pada saat ini biasanya pasien menolak berbicara
tentang masalah yang dimilikinya atau tidak merasa perlu konseling kesehatan.
Precontemplation merupakan taraf kesiapan paling rendah untuk berubah. Pada tahap

104
ini, strategi paling baik adalah memberikan informasi, membentuk hubungan baik, dan
menciptakan keragu-raguan tentang perilaku penggunaan NAPZA-nya.

Tugas konselor menghadapi pasien di tahap pra-perenungan:


1. memberi informasi tentang efek ketergantungan NAPZA, bahaya yang berhubungan
dengan ketergantungan NAPZA.
2. membangkitkan keinginan pasien untuk sebuah gaya hidup yang berbeda,
mengidentifikasi hambatan untuk pemulihan, dan membantu pasien untuk
mengidentifikasi cara untuk meningkatkan harga diri (self esteem).

b. Tahap Perenungan (Contemplation).


Di tahap ini biasanya pasien memiliki kesadaran bahwa perilaku penggunaan NAPZA-nya
mungkin bermasalah. Mungkin ia juga mempertimbangkan untuk menerima atau
menolak perubahan perilaku dalam mengatasi masalahnya tersebut. Pada tahap ini dapat
dilakukan proses mendengar aktif pada pasien dan mengidentifikasi hal-hal yang bersifat
positif dan negatif dari perubahan yang akan dibuat. Sebuah pertanyaan yang dianjurkan
pada tahap ini adalah, “apakah perubahan perilaku yang akan dilakukan sungguh-sungguh
bermanfaat?”

Tugas konselor menghadapi pasien di tahap perenungan:


1. Memelihara proses perubahan dengan memberikan dukungan.
2. Memberikan umpan balik, melakukan konfrontasi dengan ramah, lemah lembut,
humor
3. Memberikan penghargaan (reward) untuk perjuangan dan keberhasilan pasien.

c. Tahap persiapan (Preparation)


Pada tahap ini keputusan untuk berubah biasanya telah diambil pasien, sehingga
diperlukan adanya suatu persiapan. Pasien tidak hanya mengakui adanya masalah dan
kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadap masalah tersebut, tetapi ia juga
memutuskan untuk berubah dan mulai membuat rencana untuk berubah.

Tugas konselor menghadapi pasien di tahap persiapan:


1. Membantu pasien untuk melakukan perubahan.
2. Mengidentifikasi hambatan yang ada.
3. Membantu pasien untuk perencanaan perubahan.

105
d. Tahap Aksi (Action)
Tahap aksi merupakan permulaan dari proses pemulihan. Di tahap aksi ini individu secara
aktif terlibat di dalam proses perubahan, dan mengambil langkah pertama ke arah
pemulihan. Pada tahap ini, pasien dapat bekerjasama dengan konselor untuk
mengevaluasi, merencanakan, dan mengimplementasikan sebuah rencana konseling.
Tugas utama konselor adalah mendukung usaha-usaha perubahan dan menguatkan
komitmen dan keterlibatan pasien. Sebuah pertanyaan mendasar untuk diajukan pada
tahap ini adalah, “Apakah yang akan anda lakukan?” Selama tahap aksi, dapat terjadi
kekambuhan, namun hal tersebut biasa terjadi.

Tugas konselor menghadapi pasien di tahap aksi:

1. Membantu pasien untuk mematuhi rencana terapi


2. Membantu pasien mengidentifikasikan berbagai kekuatan yang dimiliki pasien,
mengidentifikasi masalah yang dihadapi, dan mengembangkan berbagai strategi
untuk mengatasi masalah tersebut.

3. Tahap Mempertahankan (Maintenance)


Di dalam tahap mempertahankan, pasien mempelajari perilaku yang dapat mendukung
mereka untuk bebas dari penggunaan NAPZA yang merugikan. Pasien diajak untuk
memiliki keterampilan dalam menghadapi masalah yang dihadapi sehari-hari sehinggan
hal ini dapat mendukung mereka untuk mempertahankan perubahan. Keterampilan yang
diberikan termasuk untuk mempertahankan pekerjaan dan mengembangkan hubungan-
hubungan yang akan mendukung kepulihan.

Tugas konselor menghadapi pasien di tahap mempertahankan:

1. Mengidentifikasi berbagai situasi berisiko tinggi yang dapat menggiring kekambuhan


2. Memfasilitasi ketrampilan yang diperlukan dalam memecahkan masalah, komunikasi
efektif, hubungan interpersonal yang sehat
Sebuah pertanyaan dasar pada tahap ini adalah, “Apa yang dapat menolong anda ketika
menghadapi masalah itu?” Tahap mempertahankan tidak mempunyai batas waktu
khusus, karena terus berlangsung selama hidup pasien.

106
4. Kekambuhan (Recyling and Relapse).
Kekambuhan berarti bahwa hasil perubahan belum menetap karena individu terlibat di
dalam situasi risiko tinggi dimana kekambuhan tidak dapat dihindarkan, misalnya karena
tidak mendapatkan dukungan sosial. Situasi berisiko ini membuat pasien tergelincir
kembali pada tahap yang lebih rendah, biasanya kembali pada tahap perenungan. Selama
tahap ini pasien memiliki ambivalensi untuk mencoba lagi.

Tugas konselor bila terjadi kekambuhan:

1. Membantu pasien untuk menghadapi ambivalensi


2. Mengevaluasi komitmen untuk berubah, mengidentifikasi dan mengatasi hambatan
yang ada.
Sebuah pertanyaan penting untuk diajukan di tahap ini adalah, ”Apakah tujuan dari
perubahan saat ini?”

WAWANCARA MOTIVASIONAL

Untuk dapat mendorong perubahan perilaku pada pasien untuk menjadi lebih baik maka
perlu dilakukan terapi untuk meningkatkan motivasi disebut dengan Motivational
Enhancement Therapy (MET). Elemen utama dari MET adalah Wawancara Motivational
(Motivational Interviewing).

Miller dan Rollnick (1991) mengembangkan suatu teknik wawancara motivasional yang secara
umum digunakan untuk asesmen penyalahgunaan NAPZA. Proses wawancara motivasional
dilakukan dengan pendekatan client-centered yang bertujuan untuk membantu seseorang
menggali dan mengatasi ambivalensi penggunaan Napzanya.

Dasar dari wawancara motivasional adalah memahami tahapan perubahan perilaku pada
pasien dan kapan serta bagaimana mereka masuk ketahapan perubahan selanjutnya.
Wawancara motivasional ini sangat berguna pada tahap perubahan prekontemplasi dan
kontemplasi, walaupun begitu dapat pula diterapkan pada setiap tahap perubahan perilaku.

Tujuan dari wawancara motivasional adalah untuk menggali pandangan pasien menghadapi
permasalahannya, menyokong perubahan dengan menghindari label, menyatakan bahwa
yang bertanggung-jawab untuk target terapi dan pembuat keputusan terletak pada pasien.

107
Prinsip wawancara motivasional:

1. Mengekspresikan empati
Suatu gambaran bahwa konselor menerima pasien apa adanya, dapat memahami pasien
dengan permasalahannya, tidak memberikan suatu label kepada pasien (misal: alkoholik,
jungkie, dll).
2. Membangun ketidakcocokan/kesenjangan (develop discrepancy)
Memotivasi perubahan perilaku pasien dengan menggambarkan perbedaan antara
penyalahgunaan NAPZA beserta permasalahan yang berhubungan dengan perilaku
mereka saat ini.
3. Menghindari argumentasi
Menerima ambivalensi pasien sebagai sesuatu yang wajar/normal. Ambivalensi dan
kesenjangan yang muncul dapat menimbulkan perdebatan yang tidak nyaman bagi
pasien. Jangan menyerang pasien atas penggunaan NAPZA dan permasalahannya, tetapi
gali pengetahuan pasien tentang risiko terkait perilakunya dan bantu pasien memahami
secara akurat konsekuensi negatif dari penggunaan Napzanya.

4. Dukungan keyakinan diri


Konselor memberikan dukungan bahwa pasien mampu merubah perilaku mereka dalam
penggunaan zatnya. Hal ini merupakan motivator penting dan mengingatkan pasien untuk
bertanggungjawab dalam memilih dan mengadakan perubahan personal.
5. Ketrampilan khusus
Ketrampilan ini bertujuan untuk mendorong pasien mau berbicara, menggali ambivalensi
dan menjelaskan alasan mereka untuk mengurangi atau berhenti dari penggunaan
NAPZA-nya.
a. OARS
• Open ended questions (pertanyaan terbuka). Dapat membantu konselor
memahami sudut pandang pasien, menyediakan informasi tambahan dalam cara
yang netral, mendorong pasien untuk lebih banyak berbicara dan membantu
konselor menghindari membuat praduga.
• Affirmations (penegasan). Membuat pernyataan mengenai seseorang secara tulus
dan positif dan dapat mendorong tumbuhnya perasaan keyakinan seseorang
dengan kemampuannya untuk mencapai sukses dalam situasi tertentu (self
efficacy)
• Reflective Listening (mendengarkan dengan cara merefleksikan). Merupakan
bentuk dari aktif mendengarkan mendengarkan, mengulang pernyataan pasien
untuk merefleksikan apa yang konselor piker/dengar dan mendorong pasien untuk
berbicara.
• Summarizing (membuat kesimpulan). Merupakan kumpulan dari reflective
listening
108
b. Berbicara mengenai perubahan
Ada empat kategori penting dalam membicarakan perubahan:
• Mengenali kerugian bila tetap menyalahgunakan NAPZA
• Mengenali manfaat bila tidak menyalahgunakan NAPZA
• Menyampaikan optimisme tentang perubahan
• Menyampaikan tujuan untuk perubahan

STRATEGI MEMOTIVASI SESUAI TAHAPAN PERUBAHAN

Tahapan Perubahan Pasien Strategi Memotivasi yang Sesuai


Precontemplation: (1) Bina hubungan baik, minta persetujuan,
Pasien: bangun kepercayaan.
 Belum mempertimbangkan (2) Bangkitkan keragu-raguan atau fokuskan
untuk berubah atau tidak pikiran pasien tentang penyalahgunaan
punya keinginan untuk zatnya melalui:
berubah. - Eksplorasi kejadian yang membawa pasien
 Belum mengkhawatirkan pola berobat atau hasil dari pengobatan yang
penggunaan narkobanya, sebelumnya.
berapa jumlah dan frekuensi - Timbulkan persepsi pasien tentang
yang mereka konsumsi. masalah yang ada terkait penggunaan
 Tidak mau menerima dan narkoba.
tidak mengetahui seberapa - Jelaskan informasi faktual tentang risiko
penggunaan narkoba.
seriusnya masalah yang
- Sediakan umpan balik personal tentang
ditimbulkan atas penggunaan asesmen yang diperoleh.
narkobanya dan mereka - Eksplorasi tentang keuntungan dan
masuk dalam pengguna kerugian penggunaan narkoba.
berisiko. - Bantu untuk intervensi lain yang
bermakna.
- Uji adanya kesenjangan antara persepsi
pasien dengan persepsi orang lain tentang
masalah perilaku.
- Tunjukkan perhatian dan biarkan pintu
selalu terbuka untuk pasien.
Contemplation :  Menormalisasi sikap ambivalen.
 Pasien mengenali dan  Bantu pasien untuk berubah melalui :
mempertimbangkan - Hubungkan manfaat dan kerugian tetap
kemungkinan untuk menyalahgunakan napza dan bila berhenti
mengubah perilaku, namun menggunakan napza
masih ambivalen dan belum - Ubah motivasi intrinsik maupun ekstrinsik.
memiliki kepastian. - Kaji nilai-nilai personal pasien dan
 Faktor ekstrinsik lebih hubungannya dengan perubahan.
banyak mendominasi - Yakinkan pasien bebas memilih,
bertanggung jawab, dan mampu
109
pemikiran mereka untuk memberdayakan diri sendiri untuk
berubah. berubah.
a. Dorong pasien memberdayakan diri dan
bangkitkan harapan mereka tentang pentingya
terapi
b. Simpulkan pernyataan motivasi diri.
Preparation:  Perjelas tujuan dan strategi pasien untuk
 Pasien memiliki komitmen berubah.
dan mempunyai rencana  Berikan beberapa menu untuk berubah atau
untuk berubah dalam waktu mendapatkan terapi
dekat namun masih belum  Dengan persetujuan pasien, berikan pendapat
jelas apa yang akan dilakukan. atau saran
 Pasien sudah menemukan  Negosiasi kontrak rencana perubahan perilaku
resolusi dan membuat  Pertimbangkan kendala yang ringan dalam
pernyataan yang dapat perubahan.
bertujuan untuk memotivasi  Bantu pasien dapatkan daftar untuk dukungan
dirinya sendiri. sosial.
 Eksplorasi harapan dari rencana terapi dan
peran pasien dalam perubahan perilaku.
 Identifikasi apa yang sebelumnya telah
dikerjakan dan siapa yang dapat diajak
bekerjasama di masa datang.
 Bantu pasien untuk menghadapi kendala dalam
masalah keuangan, perawatan anak,
transportasi, atau kendala yang lainnya.
Action: (2) Dukung pasien dalam menjalani proses
Psien secara aktif telah pemulihan.
mengambil satu langkah untuk (3) Dukung upaya perubahan melalui langkah-
berubah tetapi belum mencapai langkah kecil tetapi realistis dikerjakan
kestabilan. (4) Kenali kesulitan-kesulitan pasien pada
tahap awal perubahan.
(5) Bantu pasien untuk mengenali situasi risiko
tinggi melalui analisis fungsional dan
kembangkan strategi yang untuk
menghadapi situasi tersebut.
(6) Bantu pasien memperoleh penguatan baru
untuk perubahan positif.
(7) Bantu pasien untuk mengkaji kekuatan
keluarga dan dukungan sosial.
Maintenance :  Bantu pasien untuk mengidentifikasi kegiatan
Pasien sudah mencapai tujuan yang terkait dengan kondisi bebas zat
awal seperti abstinensia dan  Dukung perubahan gaya hidup pasien.
sekarang bekerja untuk dapat  Afirmasi kemampuan pasien untuk lepas dari
mempertahankannya. masalah dan kemampuan memberdayakan diri.
 Pertahankan kontak untuk dukungan.

110
 Bantu pasien menerapkan dan menggunakan
strategi untuk terhindar dari kekambuhan.
 Kembangkan rencana untuk “lari dari api” agar
tidak menggunakan narkoba kembali.
 Tinjau tentang rencana jangka panjang pasien
Slip dan kambuh:  Bantu pasien untuk masuk kembali dalam
Pasien mengalami gejala-gejala lingkaran perubahan dan puji keinginannya
kembali menggunakan narkoba untuk melakukan perubahan positif.
dan harus mengatasi  Eksplorasi makna dan kenyataan dari
konsekuensinya dan kekambuhan sebagai kesempatan untuk
memutuskan apa yang akan belajar.
dilakukan selanjutnya.  Bantu pasien untuk memperoleh strategi
alternatif dalam memecahkan masalah.
 Pertahankan kontak untuk dukungan.

Pasien yang berada pada tahap pra-perenungan (precontemplation) dan perenungan


(contemplation) atau bahkan saat mengalami kekambuhan, seringkali menampilkan sikap
resisten atau “melawan” yang umumnya hadir dalam bentuk-bentuk berikut ini:
• Mendebat (arguing)
• Menyela / menginterupsi
• Menyangkal
• Mengabaikan
Dalam proses konseling, sikap-sikap di atas sangat umum terjadi. Untuk itu konselor perlu
mencermati timbulnya resistensi pasien dan tidak terjebak pada perdebatan panjang dengan
pasien. Perdebatan tidak dapat lagi dianggap sebagai konseling, bahkan menjadi
kontraproduktif dalam perubahan perilaku.

Resistensi adalah tanda bahwa konselor perlu merubah arah dengan lebih mendengarkan
pasien secara hati-hati.

111
Prinsip dasar dalam mengatasi resistensi adalah:
• Hindari argumentasi
• Tidak bersikap menghakimi dan tetap menghargai pasien
• Mendorong pasien untuk tetap mengemukakan pendapatnya dan bertahan dalam proses
perubahan

Strategi untuk mengatasi resistensi disebut sebagai “bergulir dengan resistensi” (rolling with
resistance). Adapun tekniknya adalah sebagai berikut:
• Mendengar reflektif
• Memindahkan fokus pembicaraan: alihkan energi dan perhatian pasien dari yang awalnya
hanya memikirkan hambatan dan tantangan, menjadi lebih memperhatikan potensi dan
kekuatan yang dimiliki
• Menyetujui dengan berputar: menyetujui apa yang dikatakan pasien tetapi dengan sedikit
“memutar” isinya agar diskusi dapat berjalan lebih lanjut. Serupa dengan refleksi yang
teramplifikasi.
• Mengubah kerangka pikir: tawarkan interpretasi baru dan positif dari informasi negatif
yang disediakan pasien. Terimalah validitas persepsi pasien seberapapun subyektifnya,
tetapi di saat yang bersamaan, tawarkan persepsi baru pada pasien agar dapat ia
pertimbangkan.
• Menekankan pilihan personal dan kontrol personal: kembali ingatkan pasien bahwa diri
merekalah yang paling bertanggungjawab dalam membuat pilihan. Bangunlah efikasi diri
(keyakinan diri pasien untuk mampu membuat keputusan).

112
DAFTAR PUSTAKA

1. American Psychiatric Association.1994. Diagnostic and statistical manual of mental


disorders. 4 th.ed. Washington D.C: Author.175-191;175-272.
2. Asian Centre for Certification and Education of Addiction Professional (ACCE) Colombo
Plan Curricula 4 Counseling, Colombo Plan, 2012.
3. Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.1993. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III).
4. Doweiko, Harold E, Concepts of Chemical Dependency (6th Ed.), Brooks/Cole, CA 93950
USA, 20029
5. Groth-Marnat, Gerry, 2003. Handbook of Psychological Assesment. New York: Van
Nostrand Reinhold Company. Inc. 638.
6. Meier, S.T. & Davis, S. R. 2001. 4th.ed. The Elements of Counseling. United Kingdom:
Brooks/Cole. Thomson Learning. .:58-59).
7. Turning Point Alcohol and Drug Centre, Inc.2001. Training Handbook. Stages of
Change.Fitzroy Vic 3065
8. Ivey, A.E.; Ivey, M.B.; Smeke-Morgan, L.1997. Counseling and Psychotherapy. A
Multicultural Perseptive. Boston: Allyn & Bacon.50-88;380-403.
9. Panduan konseling adiksi bagi petugas kesehatan, Depkes, 2010
10. Marsh A, Dale A. Addiction Counselling. IP Communication. Melbourne. 2006

113
MATERI INTI 5

SISTEM RUJUKAN

I. DESKRIPSI SINGKAT

Rehabilitasi gangguan penggunaan Napza merupakan proses yang berkelanjutan dan


disesuaikan dengan kebutuhan pasien bukan hanya dari sisi penggunaan Napza tapi juga
terkait permasalahan medis, pekerjaan/dukungan hidup, keluarga, hukum dan psikiatris.
Komponen perawatan gangguan penggunaan Napza yang komprehensif menurut NIDA
meliputi asesmen, rencana rawatan, farmakoterapi, rawatan lanjut, manajemen kasus,
konseling dan terapi perilaku, kelompok dukungan, monitoring penggunaan obat, layanan
kesehatan jiwa, layanan medis umum, layanan pendidikan, layanan HIV/AIDS, layanan
hukum, layanan vokasional, layanan keuangan, layanan perumahan, layanan keluarga dan
layannan perawatan anak. Layanan –layanan tersebut tidak semuanya berada dalam sebuah
lembaga rehabilitasi medis sehingga perlu adanya jejaring rujukan antar lembaga rehabilitasi
medis maupun antara lembaga rehabilitasi medis dengan fasilitas pelayanan kesehatan lain,
lembaga rehabilitasi sosial atau institusi lain yang memilki layanan sesuai dengan kebutuhan
pasien.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


A. Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta mampu menjelaskan proses rujukan.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


1. Peserta mampu menjelaskan sistem rujukan.
2. Peserta mampu mengidentifikasikan fasilitas kesehatan dan institusi lain sebagai
rujukan layanan narkotika.
3. Peserta mampu mengisi formulir rujukan.

III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN


Pokok bahasan 1: Sistem Rujukan
Pokok bahasan 2: Fasilitas Kesehatan Rujukan Layanan Narkotika
Pokok bahasan 3: Formulir Rujukan

114
IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
SISTEM RUJUKAN

Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang


mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik,
baik vertikal maupun horizontal, dan dilakukan secara rasional.

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari rujukan internal dan rujukan
eksternal.

• Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas
induk.
• Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan
kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun
vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).

Dalam melaksanakan program pengobatan diperlukan suatu sistem rujukan yang berfungsi di
antara berbagai tingkat layanan kesehatan yang berbeda. Pasien perlu dirujuk apabila
terdapat kondisi medis, baik secara fisik maupun psikiatrik, yang sulit diatasi. Dalam merujuk
paisen yang perlu diperhatikan adalah puskesmas maupun rumah sakit yang kita jadikan
rujukan memang menyediakan layanan untuk kasus narkotika, karena kadangkala puskesmas
maupun rumah sakit menolak bila mengetahui pasien yang dikirim adalah pengguna napza.
Hal lain yang perlu diperhatikan saat akan merujuk pasien antara lain:

1. Teliti menilai kondisi yang menjadi masalah utama pasien yang mau dirujuk
2. Rujuk pasien ke RS dengan fasilitas sesuai masalah utama tersebut
Contoh: Pasien pengguna zat dengan apendisitis akut seyogyanya dirujuk ke RS yang
memiliki layanan bedah untuk penatalksanaan appendisitis akut bukan ke RSKO
3. Lengkapi rujukan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang spesifik (kalau ada) yang
mendukung alasan untuk merujuk

Sehubungan dengan pelaksanaan program Wajib Lapor, institusi-institusi yang ditunjuk oleh
Kementerian Kesehatan (yaitu rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, RSKO, puskesmas, dan
lembaga rehabilitasi medis) sebagai IPWL diharapkan dapat memberikan pelayanan untuk
gangguan penggunaan napza dengan kondisi klinis tertentu sesuai sarana-prasarana dan SDM
yang tersedia.

115
IPWL seharusnya memiliki data fasilitas pelayanan kesehatan, lembaga rehabilitasi sosiail
atau institusi lain yang menyelenggarakan program /layanan sebagai berikut:

1. Program terapi untuk gangguan mental


2. Program terapi untuk gangguan fisik
3. Layanan ODHA (VCT, ARV)
4. Layanan hukum
5. Layanan terapi keluarga
6. Pendidikan dan pelatihan
7. KB dan layanan kehamilan
8. Program perumahan
9. Layanan vokasional
10. General financial assistence
11. Kelompok dukungan

Setiap rumah sakit dan puskesmas seharusnya menyediakan informasi mengenai


ketersediaan layanan kesehatan yang berhubungan dengan penggunaan napza. Jika di RSU,
RSJ, atau RSKO (PPK 2 dan 3) kondisi klinis pasien sudah stabil maka RS tersebut dapat
mengirim kembali ke rumah sakit awal (PPK 2) atau puskesmas (PPK 1) yang mengirim untuk
melanjutkan pengobatan. Dengan kata lain, sistem rujukan ini terjadi secara timbal balik.
Sistem rujukan harus menjamin bahwa kepindahan pasien dari satu tempat layanan ke
tempat layanan yang lain tidak mengalami hambatan dan kerumitan (administrasi atau yang
lainnya) demi kelangsungan pengobatan.

Tata Cara Rujukan


Rujukan dapat bersifat vertikal dan horizontal. Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan
antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatannya (seperti dari PPK 1 [puskesmas] ke PPK
2 [RS] atau sebaliknya), sedangkan rujukan horizontal merupakan rujukan antara pelayanan
kesehatan dalam satu tingkatan (misalnya seperti antar-puskesmas atau antar-RS). Rujukan
horizontal dilakukan apabila fasilitas kesehatan atau IPWL asal tidak dapat memberikan
pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien atau karena keterbatasan fasilitas dan
peralatan, serta ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap.

Pasal 11 Permenkes No.1 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan
perorangan menyebutkan bahwa setiap fasilitas kesehatan wajib melakukan rujukan apabila
pasien memerlukannya, kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat persetujuan pasien
dan keluarganya, alasan yang sah adalah pasien tidak dapat ditransportasikan atas alasan
medis, sumber daya atau geografis. Dengan demikian, pada saat melakukan rujukan petugas
harus memberikan penjelasan terlebih dahulu dan harus mendapatkan persetujuan dari
pasien atau keluarganya.
116
Penjelasan yang diberikan petugas meliputi:

A. Informasi Internal (kondisi pasien)


1. Diagnosis
2. Terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan
3. Alasan dan tujuan dilakukan rujukan
4. Risiko yang timbul apabila rujukan tidak dilakukan
5. Transportasi rujukan
6. Risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan
B. Informasi Eksternal (deskripsi rumah sakit dan puskesmas rujukan):
1. Sistem pembayaran yang akan di gunakan (napza tidak ditanggung BPJS)
2. Fasilitas dan sumber daya manusia yang dimiliki rumah sakit maupun puskesmas
rujukan
3. Jenis layanan yang tersedia di RS/puskesmas rujukan
4. Jam layanan
5. Kemudahan akses
6. Kemungkinan rujuk balik

Proses rujukan mengikuti mekanisme sebagai berikut:

1. Sebelum melakukan rujukan lakukan pertolongan pertama dan/atau stabilisasi kondisi


pasien sesuai indikasi medis
2. Institusi penerima wajib lapor melakukan kontak komunikasi terlebih dahulu dengan
rumah sakit yang dimaksud guna kesiapan penerimaan.
3. Institusi penerima wajib lapor membuat surat rujukan kepada rumah sakit rujukan.
4. Rumah sakit yang dituju memberi konfirmasi penerimaan pasien kepada institusi
penerima wajib lapor.

Kriteria kasus yang dapat dilayani di suatu tempat rujukan:


1. Kasus yang Dapat Dirawat di Puskesmas :
 intoksikasi.
 keadaan putus zat ringan maupun sedang.
 Tidak memiliki kondisi komorbiditas fisik dan atau psikiatrik yang berat.
 Tidak mengalami penurunan kesadaran yang berat.

117
2. Kasus Yang Dapat Dirawat di RSU:
 intoksikasi.
 Keadaan putus zat ringan sampai berat.
 Memiliki kondisi komorbiditas fisik dan/atau psikiatrik yang berat.
 Mengalami penurunan kesadaran yang berat (bila tersedia fasilitas ICU)

Merujuk kepada Standar Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA (yang dalam
proses revisi), kompetensi tiap pusat pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Pusat Pelayanan Kesehatan tingkat I
- kegawatdaruratan (penanganan awal sebelum dirujuk)
- Terapi simtomatik
- Rawat jalan rumatan
- Asesmen dan Konseling dasar adiksi
- Pemeriksaan penunjang (rapid test NAPZA, Darah Perifer Lengkap, Screening
faktor risiko, Rapid Test HIV)

2. Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat II


- kegawatdaruratan (penanganan awal sebelum dirujuk)
- Terapi simtomatikRawat jalan rumatan
- Asesmen dan Konseling dasar adiksi
- Pemeriksaan penunjang (rapid test NAPZA, Darah Perifer Lengkap, Screening
faktor risiko, Rapid Test HIV)
- Detoksifikasi
- Konseling dasar dan psikoterapi
- rawat inap jangka pendek
- penanganan pasien dengan komorbiditas fisik
- Pemeriksaan penunjang (Rapid Test NAPZA 5 zat, Kimia Darah, Thorax Photo,
Screening faktor risiko, Rapid Test HIV, Psikotest)

3. Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat III


- kegawatdaruratan (penanganan awal sebelum dirujuk)
- Terapi simtomatik

118
- Rawat jalan rumatan
- Asesmen dan Konseling dasar adiksi
- Pemeriksaan penunjang (rapid test NAPZA, Darah Perifer Lengkap, Screening
faktor risiko, Rapid Test HIV)
- Detoksifikasi
- Konseling dasar dan psikoterapi
- rawat inap
- integrated dual diagnosis treatment
- rehabilitasi dan pasca rehab
- penanganan pasien dengan komorbiditas fisik
- Pemeriksaan penunjang (ELISA, Rapid test HIV, Serologi [Hep-C, Hep-B], EKG, EEG,
Rontgen Thorax, Kimia Darah [Fungsi Hati, fgs ginjal, GD, UL, DPL, elektrolit],
Mikrobiologi, Psikotest)

Pokok Bahasan 2
FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN LAYANAN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

Kemampuan layanan
Sesuai dengan PP no. 25 tahun 2011 tentang Wajib Lapor, pengguna narkotika wajib
melaporkan dirinya ke fasilitas kesehatan yang sudah ditentukan, yaitu pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas), rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis yang ditentukan
oleh menteri kesehatan, serta rehabilitasi sosial yang ditentukan oleh menteri sosial. Saat ini
semua institusi tersebut milik pemerintah. Institusi Pelaksana Wajib Lapor (IPWL) harus
memenuhi persyaratan ketenagaan dan memiliki keahlian dan kewenangan di bidang
gangguan penggunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA).

Tidak semua puskesmas menjadi tempat wajib lapor bagi pengguna narkotika, hanya yang
berada di daerah kantong-kantong pecandu narkotika saja yang akan menjadi tempat wajib
lapor. Ada dua tingkat puskesmas yang menjadi tempat wajib lapor, yakni puskesmas IPWL
yang melayani rehabilitasi ketergantungan lewat program terapi rumatan metadon (PTRM)
dan puskesmas IPWL yang melayani konseling saja.

Untuk mendukung keberhasilan proses wajib lapor perlu dibentuk jaringan kerjasama antar-
layanan, baik secara horizontal maupun secara vertikal, atas dasar sikap saling menghormati
dan menghargai. Sistem rujukan untuk pasien dengan gangguan penggunaan narkotika perlu
dikoordinasi. Koordinasi tersebut menjadi bagian dan tanggung jawab Kementerian
Kesehatan, Kementerian Sosial, Badan Narkotika Nasional, dan Pusdokkes, serta melibatkan

119
Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit Umum, RSJ, puskesmas, pasien sendiri, organisasi
berbasis keagamaan, dan LSM setempat.

Di bawah ini bisa di lihat alur rujukan pada pengguna narkotika

Kemitraan di tingkat kabupaten/ kota meliputi:


 Dinas kesehatan setempat yang bertanggung jawab atas pelayanan medis
 Layanan klinik di RSU, RSJ seperti rawat inap dan rawat jalan
 Puskesmas yang di tunjuk untuk rawat jalan
 Rehabilitasi medis dan sosial yang ditunjuk
 Kelompok pengguna narkotika dan dukungan sebaya
 Organisasi masyarakat,keagamaan dan LSM terkait
 Unsur pemerintah setempat

120
Kapasitas
Ketersediaan layanan rehabilitasi dalam jajaran/dukungan kemenkes:
1. Rehabilitasi rawat jalan dan rawat inap terkait pengguna zat dan gangguan mental:
RSKO dan 16 RSJ di beberapa provinsi (kecuali NTT, papua barat, maluku utara,
Gorontalo, sulawesi barat, Banten,kepulauan Riau) rehabilitasi ini mencakup rawat
jalan jangka pendek maupun rawat jalan jangka panjang, Rehabilitasi yang di
selenggarakan oleh BNN / Kemensos.
2. Gangguan fisik sebagai masalah utama.
Semua puskesmas maupun rumah sakit terdekat dengan ketersediaan fasilitas sesuai
masalah utama saat akan dirujuk.
3. Program terapi rumatan metadona ( 92 klinik di 17 provinsi):
• Tersedia di DKI Jakarta, Jabar (Bandung, Bekasi, Sukabumi, Garut, Subang,
Tasikmalaya dan Cirebon) Jateng ( Semarang, Purwokerto, Salatiga, Solo dan
Temanggung) DIY (Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul) Jatim (Surabaya, Malang,
Pasuruan, Jember, Madiun dan Banyuwangi) Banten ( Kota Tangerang, Kab.
Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Serang) Bali (Denpasar, Tabanan)
Sulsel ( kota Makassar dan Pare-Pare), Kalbar (Pontianak dan Singkawang), Kaltim
(Balikpapan dan Samarinda), Jambi (Kota Jambi), Riau (Kota Pekanbaru), Sumut
(kota Medan, Tanjung Morawa dan Pematang Siantar), Kep Riau( kota Batam),
Lampung , Sumbar (Kota Padang), Sumsel (Palembang).
• RSKO, 7 RSJ , 26 RSU, 48 Puskesmas, 9 lapas/rutan

121
Pokok Bahasan 3
FORMULIR RUJUKAN

Surat pengantar rujukan harus memuat identitas pasien, hasil pemeriksaan (anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang) yang telah dilakukan, diagnosis kerja dan
terapi, dan/atau tindakan yang telah diberikan.
Bila terkait program wajib lapor, cantumkan rencana terapi atau terapi yang sudah dijalankan
bagi pasien yang sudah menjalani asesmen.
Surat rujukan dilampiri (kalau sudah ada): hasil pemeriksaan lab, hasil pemeriksaan radiologi,
hasil pemeriksaan urinalisis, formulir asesmen yang berisi kesimpulan, resume, diagnosis dan
rencana terapi.

122
Daftar Pustaka
1. 4 macam sistem rujukan kesehatan, Putu Sudaryasa
2. Pedoman pengembangan jejaring layanan,dukungan, perawatan dan pengobatan HIV
dan AIDS ,depkes 2007
3. Pedoman Penatalaksanaan Medik Gangguan pengunaan NAPZA, kepmenkes no 442
/2010
4. Permenkes No.1 tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
5. PP pelaksanaan wajib lapor narkotika tahun 2010
6. SKN ,Azrul Anwar
7. Formulir rujukan ,RSKO
8. Peranan kementrian kesehatan dalam kebijakan nasional rehabilitasi penyalah guna
NARKOTIKA,dr Supriyanto, Sp P MARS
9. Kepmenkes no 421 /2010 tentang pelayanan dan terapi rehabilitasi NAPZA

123
MATERI INTI 6
PENCATATAN DAN PELAPORAN

I. DESKRIPSI SINGKAT

Pencatatan dan pelaporan dalam program Wajib Lapor dan Rehabilitasi Medis merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari rekam medis pecandu narkotika. Oleh karena itu, alur
pencatatan dan pelaporan terkait wajib lapor dan Rehabilitasi Medis mengikuti kaidah dan
aturan Rekam Medis, baik di Rumah Sakit ataupun di Puskesmas. Rekam medis adalah
keterangan, baik yang tertulis maupun yang terekam, tentang identitas, anamnesa,
pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnosis, segala pelayanan, tindakan medis, dan
pengobatan yang diberikan kepada pasien, baik yang dirawat inap, yang dirawat jalan,
maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat. Rekam medis juga merupakan
kompilasi fakta tentang kondisi kesehatan dan penyakit seorang pasien yang meliputi
keadaan sakit sekarang dan waktu lampau, serta pengobatan yang telah dan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan professional secara tertulis.

Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Peraturan Menteri
Kesehatan No. 269 tahun 2008 tentang Rekam Medis menyatakan bahwa informasi tentang
identitas, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan harus dijaga
kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, petugas kesehatan tertentu, petugas pengelola dan
pimpinan fasilitas kesehatan. Informasi tersebut di atas hanya dapat dibuka dalam hal:

1. Untuk kepentingan kesehatan pasien


2. Memenuhi permintaan aparatur hukum dalam rangka penegakkan hukum atas perintah
pengadilan
3. Permintaan atau persetujuan pasien sendiri
4. Permintaan institusi atau lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan
5. Untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan audit medis sepanjang tidak
menyebutkan identitas pasien

Permintaan rekam medis sebagaimana tersebut di atas disampaikan secara tertulis kepada
pimpinan fasilitas kesehatan.

IPWL mengeluarkan kartu pasien (sebagai bukti telah wajib lapor pecandu narkotika) apabila
petugas sudah selesai melaksanakan proses asesmen dan penyusunan rencana terapi yang
disepakati oleh petugas dan pasien. Petugas kesehatan juga tetap melakukan pengawasan
dalam bentuk pendampingan dan pemberian motivasi secara berkesinambungan agar proses
pemulihan bagi pecandu narkotika dapat bertahan. Pengawasan ini menjadi tanggung jawab
tidak hanya petugas kesehatan tapi juga pihak-pihak terkait lainnya serta masyarakat.

124
Mengingat pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA kerap berhubungan dengan tindak
kriminalitas, tak jarang petugas kesehatan (dalam hal ini dokter sebagai profesi yang
tersumpah) diminta keterangan sebagai ahli. Keterangan ahli dapat diberikan secara lisan
atau tertulis. Keterangan ahli secara lisan bisa diberikan pada saat sidang di pengadilan dan
pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum (yang kemudian dituangkan
dalam satu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan
atau pekerjaan). Keterangan ahli secara tertulis adalah surat keterangan dari ahli yang
memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan
yang diminta secara resmi kepadanya.

Rekam Medis, sesuai dengan Pasal 13 Permenkes no. 269 tahun 2008, dapat dijadikan alat
bukti dalam proses penegakan hukum, disiplin kedokteran dan kedokteran gigi, dan
penegakkan etika kedokteran dan etika kedokteran gigi. Oleh karena itu, pencatatan hasil
asesmen (yang merupakan bagian dari rekam medis) harus mencantumkan segala informasi
yang diperlukan dan dibuat secara otentik (diantaranya mencantumkan tanggal pelaksanaan,
nama dan tanda tangan pelaksananya).

Rumah Sakit dan Puskesmas menyampaikan laporan dalam periode yang telah ditentukan ke
dinas kesehatan dan Kementerian Kesehatan sesuai dengan aturan yang berlaku. Data ini
merupakan data penting yang termasuk dalam Sistem Informasi Kesehatan. Untuk
mempermudah pencatatan dan pelaporan pasien pecandu narkotika, Kementerian
Kesehatan membangun sistem pelaporan berbasis web terkait wajib lapor dan rehabilitasi
medis penyalahgunaan NAPZA yang disebut Sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan
Rehabilitasi Medis atau dikenal dengan SELARAS. Melalui SELARAS kerahasiaan data pasien
terjamin karena pelaporan dari fasilitas layanan kesehatan termasuk Institusi Penerima Wajib
Lapor (IPWL) dalam format enkripsi sehingga hanya pelapor dan penerima laporan saja yang
bisa membuka data yang telah terenkripsi tersebut. User dari Fasyankes atau IPWL
mendapatkan password unik yang berbeda satu sama lain. Sehingga user lain tidak dapat
membuka file dari sesama IPWL meskipun mempunyai aplikasi SELARAS yang sama sehingga
kerahasiaan pasien benar-benar terjamin.

Aplikasi SELARAS yang dikembangkan diharapkan dapat membantu IPWL dalam pengajuan
klaim ke Kementerian Kesehatan. Data pelaporan dapat menjadi bahan untuk melakukan
verifikasi pasien sehingga akan menghemat kertas karena IPWL tidak perlu melakukan
fotocopy berkas sebagai bahan untuk verifikasi. Upaya ini juga membantu dalam mewujudkan
“paper less and go green” dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

125
II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu melaksanakan pencatatan dan pelaporan

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mengikuti materi ini, peserta latih mampu:
1. Menjelaskan mengenai pencatatan dan pelaporan sebagai bagian dari rekam medis
2. Menjelaskan pengisian format pencatatan pelaporan
3. Menjelaskan mekanisme pelaporan
4. Melakukan pengelolaan data
5. Melakukan pencatatan dan pelaporan menggunakan aplikasi SELARAS

III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut:

Pokok bahasan 1. Pencatatan dan pelaporan sebagai bagian dari rekam medis
Pokok bahasan 2. Format Pelaporan
Pokok bahasan 3. Mekanisme Pelaporan
Pokok bahasan 4. Pengelolaan data
4.1 Pengumpulan Data
4.2 Rekapitulasi Data
4.3 Pengolahan Data
4.4 Pencatatan dan Pelaporan menggunakan SELARAS

126
IV. URAIAN MATERI

Pokok bahasan 1
PENCATATAN DAN PELAPORAN SEBAGAI BAGIAN DARI REKAM MEDIS

PENCATATAN
Pencatatan adalah cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencatat data yang
penting mengenai pelayanan kesehatan atau pelayanan penggunaan Narkotika yang
selanjutnya disimpan sebagai arsip baik di Puskesmas, RS/RSJ maupun di klinik layanan bagi
korban penyalahgunaan narkotika.
Macam-macam pencatatan dalam pelayanan kesehatan:
a. Pencatatan rawat jalan untuk mencatat data pengunjung atau pasien
b. Pencatatan rawat inap untuk mencatat perhitungan pasien rawat inap yang dilakukan
setiap hari pada suatu ruang rawat inap
c. Pencatatan harian rutin untuk mencatat data pengunjung atau pasien yang dikumpulkan
selama sehari.

Pencatatan dan pelaporan pelayanan gangguan penggunaan narkotika di RSU/RSJ memakai


formulir RL4a (sesuai Sistem Informasi RS yang merupakan sistem pencatatan dan pelaporan
terpadu di RSU/RSJ yang seragam untuk seluruh RSU/RSJ di Indonesia) dan formulir data
pasien penyalahgunaan narkotika. Untuk fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah dapat
menggunakan SELARAS, pencatatan dan pelaporan dapat dilakukan melaluinya. Melalui
sistem informasi ini, diharapkan kendala pengiriman data dapat diatasi. Selama sistem ini
belum berjalan seperti yang kita inginkan, petugas pengisi data IPWL melakukan pencatatan
data PENGUNJUNG (dan bukan data kunjungan). Sebagai contoh, Ari mendapat konseling
adiksi setiap 2 minggu sekali selama 4 bulan. Pada data Kunjungan tercatat bahwa Ari
mendapat pelayanan sebanyak 8x sedangkan pada data pengunjung, Ari hanya tercatat 1x.

Formulir Data Pasine Penyalahgunaan narkotika yang dikeluarkan oleh Direktorat


Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Rl dilaporkan tiga kali dalam
setahun meliputi data Pengunjung (nama, jenis kelamin, umur, kasus baru/lama, pendidikan,
pekerjaan, pekerjaan orangtua, status perkawinan, zat yang sering digunakan, cara
penggunaan zat, mulai penggunaan, cara masuk institusi, cara keluar institusi, sumber zat dan
motivasi penggunaan narkotika)

127
PELAPORAN
Pelaporan adalah mekanisme yang digunakan oleh fasilitas kesehatan untuk melaporkan
kegiatan pelayanan yang dilakukannya kepada institusi yang lebih tinggi (dalam hal ini Dinas
Kesehatan dan atau Kementerian Kesehatan).

Sistem pelaporan menggunakan format yang telah disiapkan, dilakukan berjenjang dengan
alur:

 RSJ/RSU Vertikal: melaporkan secara langsung ke Kementerian Kesehatan dengan


tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi.
 RSU/RSJ Provinsi: melaporkan secara langsung ke Dinas Kesehatan Provinsi
 RSU dan Puskesmas melaporkan secara langsung ke Dinas Kesehatan kabupaten /kota.
 Dinas Kesehatan kabupaten/kota kemudian melaporkan kedinas kesehatan Provinsi.
 Dinas kesehatan Provinsi kemudian melaporkan ke Kementerian Kesehatan cq.
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza.

Tujuan Pelaporan

 Pelaporan dari instansi kesehatan (seperti Puskesmas, RSU/RSJ maupun Klinik Layanan
bagi penyalahgunaan Narkotika) merupakan suatu alat untuk memantau pelayanan
kesehatan, baik bagi kepentingan pasien yang bersangkutan, petugas kesehatan yang
melayani maupun pihak perencana dan penyusun kebijakan.
 Untuk memperoleh informasi semua pasien penyalahguna Narkotika yang masuk dan
keluar rumah sakit selama 24 jam.
 Untuk mengetahui jumlah pasien penyalahguna Narkotika yang masuk/ keluar/
meninggal di Rumah Sakit selama sebulan, triwulan, semester dan setahun.

Pokok Bahasan 2
FORMAT PELAPORAN

 Bilamana fasyankes/IPWL belum dapat menggunakan SELARAS, data rekapitulasi


pengunjung dilaporkan menggunakan format dibawah sambil menunggu beroperasinya
SELARAS di IPWL tersebut.

128
CATATAN PASIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA

TAHUN :
BULAN :
INSTITUSI : RSJ/RSU/PUSKESMAS/PANTI REHABILITASI
NAMA INSTITUSI :
ALAMAT :
DAERAH / KOTA :
PROVINSI :

STATUS MODALITAS JENIS STATUS NAPZA YANG USIA PERTAMA KALI CARA PAKAI
NO REKMED USIA PENDIDIKAN PEKERJAAN DIAGNOSA
PASIEN TERAPI KELAMIN PERNIKAHAN DIGUNAKAN PAKAI NAPZA NAPZA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

KETERANGAN
No Rekmed / WL 1. Lama 1. Asesmen lanjutan 1. Laki-laki 1. < 15 tahun 1. Belum kawin 1. Tidak sekolah 1. Alkohol 1. < 15 tahun Isi sesuai kode 1. Oral
2. Baru 2. Evaluasi Psikologis 2. Perempuan 2. 15-19 tahun 2. Kawin 2. SD 2. Heroin 2. 15-19 tahun PPDGJ - III 2. Mukosa

3. Program detoksifikasi 3. 20 - 24 tahun 3. Duda / Janda 3. SLTP 3. Metadon / Buprenorfin 3. 20 - 24 tahun 3. Sal Pernapasan

4. Wawancara
4. 25 - 29 tahun 4. SMU / SMK 4. Opiatlain/analgesik 4. 25 - 29 tahun 4. Injeksi Non IV
Motivasional
5. Intervensi Singkat 5. 30 - 34 tahun 5. Akademi / D3 5. Barbiturat 5. 30 - 34 tahun 5. IV
6. Terapi rumatan 6. 35 - 39 tahun 6. Perguruan Tinggi 6. Sedatif/Hipnotik/ 6. 35 - 39 tahun
7. Rehabilitasi rawatinap 7. > 40 tahun 7. Kokain 7. > 40 tahun
8. Konseling 8. Amfetamin
9. Lain-lain 9. Kanabis
10. Halusinogen
11. Inhalan
12. Lebih dari1 zat per hari

129
Pokok Bahasan 3
MEKANISME PELAPORAN

Jenis Pelaporan

1. Pelaporan bulanan
a. Pelaporan bulanan rutin dari Puskesmas, RS/RSJ ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota
merupakan laporan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Puskesmas, RS/RSJ
selama satu bulan, sebagai hasil kompilasi atau pengolahan dari kumpulan
pencatatan harian selama satu bulan, kemudian dibuat laporan bulanan. Laporan
yang disampaikan menggunakan format pelaporan RL 4a dan RL 4b.
b. Bulanan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) baik Kabupaten/Kota maupun Dinkes Provinsi
ke Pusat atau Kementerian Kesehatan, yang merupakan hasil rekapitulasi yang
dilakukan oleh Dinkes baik Kabupaten/Kota maupun Dinkes Provinsi sebagai hasil
pelaporan dari kumpulan pelaporan bulanan rutin setiap Puskesmas, RS/RSJ maupun
klinik di wilayahnya.
2. Laporan tiga bulanan (triwulan)
Pelaporan triwulan dari Puskesmas, RS/RSJ ke Kementerian Kesehatan melalui Direktorat
Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza merupakan laporan
kegiatan pelayanan triwulanan yang dilakukan oleh Puskesmas, RS/RSJ selama tiga bulan,
sebagai hasil kompilasi atau pengolahan dari kumpulan pencatatan harian selama tiga
bulan. Laporan yang disampaikan menggunakan format pelaporan catatan pasien
penyalahgunaan NAPZA seperti contoh diatas.

130
Pokok bahasan 4
PENGELOLAAN DATA

PENGUMPULAN DATA
Data yang akan dilaporkan, bersumber dari formulir asesmen wajib lapor. Data yang
dikumpulkan berupa:

 Status pasien
 Modalitas terapi
 Jenis Kelamin
 Usia
 Status Pernikahan
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Narkotika yang Digunakan
 Usia Pertama Kali Pakai Narkotika
 Diagnosa
 Cara Pakai Narkotika

REKAPITULASI DATA
Dari data yang telah dikumpulkan diatas, di rekapitulasi menggunakan catatan pasien
penyalahgunaan Narkotika. Kolom-kolom diisi dengan angka-angka sesuai dengan
keterangan sebagai berikut:

 No Rekmed: merupakan identitas pasien berdasarkan nomor rekam medis dan atau bar
code dari kartu wajib lapor.
 Status pasien:
1. Baru : Jika pasien baru mendapatkan layanan di institusi pemberi layanan
2. Lama : Jika pasien pernah mendapatkan layanan di institusi pemberi layanan
 Modalitas terapi
1. Asesmen lanjutan
2. Evaluasi Psikologis
3. Program detoksifikasi
4. Wawancara Motivasional
5. Intervensi Singkat
6. Terapi rumatan
7. Rehabilitasi rawat inap
8. Konseling
9. Lain-lain

131
 Jenis Kelamin  NAPZA yang Digunakan
1. Laki-laki 1. Alkohol
2. Perempuan 2. Heroin
3. Metadon / Buprenorfin
 Usia 4. Opiatlain/analgesik
1. <15 Tahun 5. Barbiturat
2. 15 – 19 tahun 6. Sedatif/Hipnotik/
3. 20 – 24 tahun 7. Kokain
4. 25 – 29 tahun 8. Amfetamin
5. 30 – 34 tahun 9. Kanabis
6. 35 – 59 tahun 10. Halusinogen
7. > 60 tahun 11. Inhalan
12. Lebih dari 1 zat per hari
 Status Pernikahan
1. Belum kawin  UsiaPertama Kali PakaiNarkotikaa
2. Kawin 1. <15 Tahun
3. Duda/Janda 2. 15 – 19 tahun
3. 20 – 24 tahun
 Pendidikan 4. 25 – 29 tahun
1. Tidak Sekolah 5. 30 – 34 tahun
2. SD 6. 35 – 39 tahun
3. SLTP 7. > 40 tahun
4. SMU/SMK
5. Akademi / D3  Diagnosa
6. PerguruanTinggi Ditulis sesuaikodifikasi PPDGJ -III

 Pekerjaan  Cara Pakai Narkotika


1. PNS 1. Oral
2. TNI/POLRI 2. Mukosa
3. Swasta 3. Sal Pernapasan
4. Wiraswasta 4. Non IV Injection
5. Pelajar 5. IV Injection
6. Mahasiswa
7. Buruh
8. PekerjaSeks
9. AnakJalanan
10. Lain-lain

132
PENGOLAHAN DATA
Data yang telah direkapitulasi kemudian diolah menggunakan spread sheet atau program lain
yang disediakan untuk memudahkan penghitungan.

PENYUSUNAN LAPORAN
Laporan kemudian disusun menurut waktu yang telah ditentukan. Laporan kemudian
dikirimkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

PENCATATAN DAN PELAPORAN MENGGUNAKAN SELARAS


Pencatatan dan pelaporan dalam Sistem Elektronik Pencatatan dan pelaporan rehabilitasi
medis (SELARAS) dilakukan seperti tercantum dalam “BUKU PANDUAN OPERASIONAL
SELARAS” (terlampir).

Daftar Pustaka

7. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran


8. Undang-Undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika
9. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2011 tentang Wajib Lapor
10. Peraturan Menteri Kesehatan No. 269 Tahun 2008 tentang Rekam Medis
11. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1171 Tahun 2011 tentang Sistem Informasi Rumah Sakit
12. Peraturan Menteri Kesehatan No. 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan
Perekam Medis
13. Peraturan Menteri Kesehatan No. 50 Tahun 2015 tentang Juknis Pelaksaanan Wajib Lapor
dan Rehabilitasi Medis bagi Pencandu, Penyalahguna, dan Korban Penyalahgunaan Napza
14. Keputusan Menteri Kesehatan No. 422 Tahun 2010 tentang Pedoman Penatalaksanaan
Medik Gangguan Penggunaan Napza
15. Departemen Kesehatan RI., Pedoman Sistem Pencatatan Rumah Sakit (Rekam
medis/Medical Record , 1994
16. Konsil Kedokteran Indonesia, Manual Rekam Medis , 2006
17. Kementerian Kesehatan, Juknis SIRS 2011 : Sistem Informasi RS, 2011

133