Anda di halaman 1dari 92

Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A.

SEJARAH IDEOLOGI DUNIA


Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme,
Anarkisme, Anarkisme-Marxisme, Konservatisme

“The history of all hitherto axisting society is the history of class struggle. Freeman and
slave, patrician and plebeian, lord and serf, guild master and journeyman, in a word,
oppressor and oppressed stood in constant opposotion to one another” [Marx & Engels, The
Manifesto of the Communist Party (1967)]. “The philosopher have only interpreted the wolrd,
in various ways; the point, however, is to change it”.
[Tesis XI–Feuerbach Karl Marx-1845]

Diterbitkan dan disebarkan


untuk amunisi intelektual kader inti ideologis
dan untuk kebutuhan gerakan sosial, atas kerjasama:
Komunitas Santri Progressif (KSP) Cilacap
Lembaga Kajian Sosiologi Dialektis (LKSD) Cilacap-Jogjakarta
Institute for Philosophycal and Social Studies (INSPHISOS) Cilacap-Jogjakarta
Komunitas Diskusi EYE ON THE REVOLUTION + FORDEM Cilacap
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jaringan Inti Ideologis
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

SEJARAH IDEOLOGI DUNIA


Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme,
Anarkisme, Anarkisme-Marxisme, Konservatisme

Penulis:
Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A.

Cetatakan I., April 2010


Cetakan II., Desember 2012

Editor/ Penyunting/ Lay-Outer/ Desain Grafis:


Tim Kreatif Revdem + Eye On The Revolution

Diterbitkan dan disebarkan


untuk amunisi intelektual kader inti ideologis
dan untuk kebutuhan gerakan sosial, atas kerjasama:
Komunitas Santri Progressif (KSP) Cilacap
Lembaga Kajian Sosiologi Dialektis (LKSD) Cilacap-Jogjakarta
Institute for Philosophycal and Social Studies (INSPHISOS) Cilacap-Jogjakarta
Komunitas Diskusi EYE ON THE REVOLUTION + FORDEM Cilacap
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jaringan Inti Ideologis
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

2
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

SEJARAH IDEOLOGI DUNIA


Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme,
Anarkisme, Anarkisme-Marxisme, Konservatisme

Penulis: Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A.©


Alumnus (S.1) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Alumnus Program Pascasarjana (S.2)
Sosiologi FISIPOL UGM, Dosen Institut Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG) Cilacap,
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) D.I. Jogjakarta, Menjabat Sekjend
DEMA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Cilacap di
Jogjakarta (HIMACITA), Direktur pada Lembaga Kajian Sosiologi Dialektis (LKSD)
Cilacap-Jogjakarta/ Institute for Philosophycal and Social Studies (INSPHISOS) Cilacap-
Jogjakarta/Komunitas Diskusi Eye on The Revolution + Fordem Cilacap, Website:
www.negaramarxis.blogspot.com/ www.sosiologidialektis.wordpress.com
Hp. 085 647 634 312, E-mail: nuriel.ugm@gmail.com

All rights reserved. Buku panduan Sekolah Ideologi Dunia ini diterbitkan atas solidaritas,
dukungan & kerjasama: Komunitas Santri Progressif (KSP) Cilacap, Lembaga Kajian
Sosiologi Dialektis (LKSD) Cilacap-Jogja, Institute for Philosophycal and Social Studies
(INSPHISOS) Cilacap-Jogjakarta, Komunitas Diskusi EYE ON THE REVOLUTION +
FORDEM Cilacap, PMII Jaringan Inti Ideologis Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur©Nur
Sayyid Santoso Kristeva©2012.

Sejarah Ideologi Dunia, Anti-Copyright © 2012, untuk diterbitkan dan disebarkan


Demi kebutuhan Kader Inti Ideologis dan kebutuhan gerakan sosial.
Editor/ Penyunting/ Lay-Outer/ Desain Grafis: Tim Kreatif Revdem + Eye On The Revolution

Edisi Khusus Komunitas untuk Program Sekolah Ideologi Dunia


Cetakan Pertama, Desember 2012

Diterbitkan, dicetak & didistribusikan atas kerjasama:


Komunitas Santri Progressif (KSP) Cilacap, Lembaga Kajian Sosiologi Dialektis
(LKSD) Cilacap-Jogjakarta, Institute for Philosophycal and Social Studies
(INSPHISOS) Cilacap-Jogjakarta, Komunitas Diskusi EYE ON THE
REVOLUTION + FORDEM Cilacap, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Jaringan Inti Ideologis Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Alamat Kantor Cilacap 1:
Kompleks Pondok Pesantren Al-Madaniyah Al-Islamiyah As-Salafiyah, Jl. Pucang D.37 RT.
01 RW IX Gumilir, Cilacap-Utara, Cilacap. Kode Pos. 53231, Alamat Kantor Cilacap 2: Jl.
Urip Sumoharjo No. 71 RT. 03 RW III Mertasinga, Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah
Kode Pos 53231

Anti-Copyright: dengan mencantumkan penulis sebagai hak dan pengakuan


intelektual penulis, maka penulis dan penerbit memperbolehkan untuk mengutip,
mereproduksi atau memperbanyak, baik sebagian maupun keseluruhan isi buku ini
dengan cara elektronik, mekanik, fotokopi, perekaman, scanner, microfilm, vcd &
cd-room, rekaman suara atau dengan tehnologi apapun dengan izin atau tanpa seizin penulis
dan penerbit. Dokumen intelektual ini diterbitkan dan disebarkan demi kebutuhan gerakan
sosial. Sebarkan & berorganisasilah! baca & lawan!

3
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI—4
PENGANTAR PENULIS—7
PERSEMBAHAN—10

Hand-Out 01: PRAWACANA: PENGANTAR IDEOLOGI—11


1. Pengertian Ideologi
2. Ideologi dalam Ilmu Sosial
3. Logika Dasar Ideologi
4. Proses Kelahiran Ideologi
5. Dimensi dan Tahapan Ideologi
6. Akar Ideologi dari Tiga Pendekatan Filsafat
7. Tiga Kategorisasi Ideologi
8. Fungsi dan Faktor Pendukung Ideologi

Hand-Out 02: KAPITALISME—16


1. Pengertian Kapitalisme
2. Sejarah Perkembangan Kapitalisme
3. Tiga Asumsi Kapitalisme Menurut Ayn Rand
4. Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Kapitalisme
5. Teori Dasar Ekonomi-Kapitalis
6. Akar Historis Kapitalisme
6.1 Kapitalisme Awal (1500-1750)
6.2 Kapitalisme Klasik (1750-1914)
6.3 Kapitalisme Lanjut (Pasca 1914)

Hand-Out 03: SOSIALISME—26


1. Pengertian Sosialisme
2. Sejarah Kelahiran Sosialisme
3. Sistem Politik Sosialisme
4. Sistem Ekonomi Sosialisme
5. Prinsip-prinsip Sosialisme
6. Sosialisme Utopis
7. Pemikir Utama Sosialisme Utopis

Hand-Out 04: KOMUNISME—31


1. Pengertian Komunisme
2. Ide Dasar Komunisme
3. Ciri-ciri Inti Masyarakat Komunis
4. Filsafat Perubahan Sosial dalam Manifesto Komunis
5. Kedudukan Proletariat dalam Komunisme
6. Sejarah Perkembangan Komunisme
7. Sistem Politik Komunisme
8. Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Komunisme
9. Prinsip-prinsip Komunisme

4
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 05: FASISME—38


1. Pengertian Fasisme
2. Konteks Sosial-Psikologis Fasisme
3. Latar Belakang Individu dalam Perkembangan Fasisme
4. Doktrin dan Gagasan Utama Fasisme
5. FASISME: Apa Itu dan Bagaimana Melawannya, Leon Trotsky [1944]
5.1 Kata Pengantar Edisi 1969
5.2 Fasisme -Apakah itu?
5.3 Bagaimana Mussolini meraih kemenangannya
5.4 Bahaya Fasis Muncul di Jerman
5.5 Dongeng Aesop
5.6 Polisi dan Tentara Jerman
5.7 Borjuis, Borjuis Kecil, dan Proletar
5.8 Runtuhnya Demokrasi Borjuis
5.9 Apakah Kaum Borjuis Kecil Takut Pada Revolusi?
5.10 Milisi Kelas Pekerja dan Musuh-Musuhnya
5.11 Perspektif di Amerika Serikat
5.12 Bangun Partai Revolusioner!

Hand-Out 06: ANARKISME—66


1. Etimologi
2. Anarkisme:
2.1 Teori Politik
2.2 Anarkisme dan Kekerasan
3. Sejarah dan Dinamika Filsafat Anarkisme
3.1 Anarkisme dan Marxisme
3.2 Pierre-Joseph Proudhon
3.3 Internationale Pertama
4. Varian-varian Anarkisme
4.1 Anarkisme-Kolektif
4.2 Anarkisme-Komunis
4.3 Anarko-Sindikalisme
4.4 Anarkisme-Individualism
4.5 Varian-varian Anarkisme lainnya
5. Anarkisme dan agama
5.1 Anarkis-Kristen
5.2 Anarkisme dan Islam
6. Kritik atas Anarkisme

Hand-Out 07: ANARKISME DAN MARXISME—74


1. Argumen-Argumen Seputar Isu Negara
1.1 Proses Transisi
1.2 Partai Politik
1.3 Kekerasan dan Revolusi
2. Argumen-Argumen Seputar Isu Kelas
3. Argumen Seputar Metoda Materialisme Historis
3.1 Determinisme
4. Anarko-Komunisme
4.1 Internasionale Pertama
4.2 Prinsip Dasar

5
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 08: KONSERVATISME—80


1. Perkembangan Pemikiran
1.1 Eropa
1.2 Tiongkok

LAMPIRAN DIAGRAM—83
 Diagram 1: Bagan Analisis Reframing Ideologi—Unsur-unsur atau perangkat
gagasan yang terangkum dalam sebuah ideologi, dijelaskan dalam: Austin Ranney,
Governig; An Introduction to Political Science (7th Edition; London: Prentice Hall
International, Inc., 1996) hlm. 71-73.

 Diagram 2: Arus Utama Sosialisme Warisan Eropa—Ditinjau dari Sejarah


Pendiri & Strategi Perjuangannya. [Sosialisme Utopis (Sosialisme Fabian)];
[Sosialisme Anarkis (Sosialisme Komunitarian/ Libertarian)]; [Sosialisme Marxis
(Sosialisme “Ilmiah.”)]

 Diagram 3: Sistem Tata Ekonomi: Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi


Kapitalisme; Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Sosialisme; Sistem
Perekonomian/ Tata Ekonomi Komunisme.

 Diagram 4: Karakteristik Umum dari Sosialisme dan Komunisme, dijelaskan


dalam: David Held, Models of Democracy (Jakarta: The Akbar Tandjung Institute,
Cet. I., 2007) h. 129.

 Diagram 5: Demokrasi Langsung dan Akhir dari Politik, dijelaskan dalam:


David Held, Models of Democracy (Jakarta: The Akbar Tandjung Institute, Cet. I.,
2007) h. 138.

REFERENSI—88
TENTANG PENULIS—91

6
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

PENGANTAR PENULIS

M EMBEDAH sejarah pemikiran ideologi dunia adalah sebuah


usaha yang amat sulit dan berat. Apalagi dengan menuliskan
dalam sebuah buku, karena gagasan dasar dari ideologi yang
kita bedah tersebar dalam banyak literature. Hanya dengan
mendiskusikan, menganalisis dan menakar apa sebenarnya yang
dimaksud dengan ideologi dan bagaimana gagasan pemikiran yang
dibangun, memungkinkan kita untuk dapat memahami. Melakukan
interpretasi terhadap sejarah pemikiran ideologi merupakan sebuah
aktifitas berfikir yang membutuhkan daya tahan dan penalaran yang
jernih dan kritis.
Kepekaan terhadap realitas sosial di sekeliling kita tidak
hanya mengandalkan cara-cara eksistensialisme tetapi juga perlu
memandang sisi subtansialisme. Arus ideologi dunia yang bertahan
dan bahkan berkembang tidak hanya telah memberikan dampak
perubahan material tetapi juga immaterial terutama ada pada
konstruksi berfikir kita dalam menjalani kehidupan. Ideologi bukanlah
suatu yang berdiri sendiri lepas dari kenyataan hidup masyarakat,
namun ideologi merupakan hasil konstruksi kebudayaan masyarakat
sehingga merupakan manifestasi dari kenyataan sosial.
Ideologi adalah rasionalisasi kolektif dari sebuah kelompok,
dimana rasionalisasi adalah ideologi pribadi bagi setiap individu. 1
Ideologi menurut konsepsi epifenomena merupakan sistem ide yang
mengekspresikan keinginan kelas dominan tapi juga mencerminkan
relasi antar kelas dalam bentuknya yang ilusif. Ideologi
mengekspresikan keinginan kelas dominan dalam arti bahwa ide-ide
yang membentuk ideologi adalah ide-ide yang—dalam periode sejarah
tertentu—mengartikulasikan ambisi, perhatian dan pertimbangan
kelompok sosial dominan sebagai cara melindungi dan
mempertahankan posisi dominasinya. Tapi ideologi mencerminkan
relasi antar kelas secara ilusif apabila ide-ide tersebut tidak secara
tepat menggambarkan sifat dan posisi relatif kelas yang diperhatikan;
dan tidak mencerminkan relasi itu dengan cara yang sesuai dengan
keinginan kelas dominan.2
Pada pembahasan buku ini dikemukakan tentang beberapa
ideologi besar (Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme,
Anarkisme, Anarkisme-Marxisme, Konservatisme), yaitu yang ideologi
mempunyai pengaruh dan dampak yang sangat kuat kepada
masyarakat termasuk para penganutnya. Sebetulnya tidak mutlak
pembahasan ideologi besar, tetapi walaupun demikian
pertimbangannya secara eksistensi dalam kehidupan masyarakat
menunjukkan eksis atau tidak eksistennya suatu ideologi, pembahasan
ini pula sebagai ilustrasi atau paparan historis ideologi-ideologi di

1
Benjamin Nelson (ed.) Freud Manusia Paling Berpengaruh Abad Ke-20, Judul Asli: Freud and the 20th
Century, Penerjemah: Yurni, M. Psi, (Surabaya: Ikon Teralitera, Cet. I., 2003) h. 115.
2
John B. Thompson, Kritik Ideologi Global; Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi
Massa, Judul Asli: Ideology and Modern Culture: Critical Social Theory in the Mass Communication
(California: Stanford University Press, 1990), Penerjemah: Haqqul Yakin (Yogyakarta: Ircisod, Cet. I., 2004) h.
63-67.

7
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

dunia. Ideologi dalam hal inilah tidak dipandang secara abstrak tetapi harus mampu terukur
terhadap kiprah eksistensinya, sehingga tidak heran apabila Soekarno pernah mengatakan
tentang perseteruan ideologi besar dunia. Beliau mengutip dan mengemukakan: “Bertrand
Russel pernah menulis, bahwa di dalam sejarah manusia adalah dua dokumen historis yang
sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannya bagian-bagian besar dari umat
manusia, dan yang bersaingan hebat satu sama lain. Dan dokumen historis itu ialah
‘declaration of independence’ Amerika tulisan Thomas Jafferson, dan ‘Manifes Komunis’
tulisan Karl Marx.” (Dibawah Bendera Revolusi. 1965. Hal: 329).
Patut kita telaah lebih lanjut, bahwa ideologi besar dunia yang sampai sekarang tetapi
bertahan dan menggurita adalah ideologi kapitalisme. Dalam buku ini kita tidak akan
mendiskusikan dengan menyatakan benar atau salah, tetapi mendiskusikan untuk memperjelas
pemahaman dan kemudian kita akan mampu beradaptasi dalam kehidupan. Tidak bisa
dipungkiri bahwa kehidupan saat ini kita sedang berkubang dengan dunia kapitalisme, dunia
uang, dunia ekonomi, dunia liberalisme perdagangan, dunia yang penuh dengan transaksi
ekonomi super besar dan cepat serta dalam skala yang sangat luas—mendunia.
Sistem ekonomi liberal yang dianut suatu negara untuk mengintegrasikan diri dalam
sistem ekonomi pasar, telah menyebabkan makin meningkatnya angka kesenjangan dan
kemiskinan di mana lebih dari 1,2 milyar penduduk bumi ini hidup dalam kemiskinan yang
ekstrem—kurang dari satu dollar AS/ hari karena repatriasi keuntungan investasi dan utang
yang ditanamkan di negara-negara miskin—sementara pemilik perusahaan Microsoft Bill
Gates, berpendapatan US$95 per detik. Bahkan kekayaan perusahaan-perusahaan
multinasional—General Motors pada tahun 1997 telah mencapai US$ 164 milyar—sementara
GDP Norwegia mencapai US$ 153 milyar, dan GDP Indonesia US$ 52,3 milyar. Makna
kapitalisme untuk kepentingan publik tersebut, oleh Adam Smith diilustrasikan dengan sangat
jelas: “Apa yang kita harapkan untuk makan malam kita tidaklah datang dari keajaiban dari si
tukang daging, si pemasak bir atau si tukang roti, melainkan dari apa yang mereka hormati
dan kejar sebagai kepentingan pribadi. Malah seseorang umumnya tidak berkeinginan untuk
memajukan kepentingan publik dan ia juga tidak tahu sejauh mana ia memiliki andil untuk
memajukannya. Yang ia hormati dan ia kejar adalah keuntungan bagi dirinya sendiri. Di sini
ia dituntun oleh tangan-tangan yang tak terlihat (the invisible hands) untuk mengejar yang
bukan bagian dari kehendak sendiri. Bahwa itu juga bukan merupakan bagian dari
masyarakat, itu tidak lantas berarti suatu yang lebih buruk dari masyarakat. Dengan mengejar
kepentingan sendiri, ia kerap kali memajukan kepentingan masyarakat lebih efektif
dibandingkan dengan jika ia sungguh-sungguh bermaksud memajukannya. Saya tidak pernah
menemukan kebaikan yang dilakukan mereka yang sok berdagang demi kepentingan publik”.
Premis ini di kemukakan Adam Smith dalam The Wealth of Nations pendahuluan dan catatan
pinggir oleh Edwin Cannan, New York: The Modern Library, 1973. Menurut Ayn Rand
(1970), kapitalisme adalah “a social system based on the recognition of individual rights,
including property rights, in which all property is privately owned". (Suatu sistem sosial yang
berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua
pemilikan adalah milik privat). Jorge Larrain memahami kapitalisme dengan menghadirkan
paham komunisme. Ia mengemukakan “kapitalisme dicirikan oleh dominasi obyek atas
subyek, modal atas pekerja, kondisi produksi atas produsen, buruh mati atas buruh hidup”.
Bahkan menurut Karl Marx kapitalisme adalah hasil dari praktek reproduksi manusia.
Untuk memahami model-model pembangunan yang diterapkan oleh sebuah negara,
Martin Staniland (1985) membuat kategorisasi kedalam empat orientasi, yang selanjutnya
menjadi fokus utama ke arah mana pembangunan itu dijalankan oleh negara tersebut.
Pertama, Orthodox Liberalism adalah bentuk yang diterapkan oleh negara yang
dalam proses pembangunannya sangat mengagungkan konsep individualisme. Konsep ini

8
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

menganggap bahwa, masyarakat hanya bisa sekedar agregasi dari sintesa seluruh kepentingan
individu. Model ini biasa dipakai negara-negara dengan sistem ekonomi kapitalis.
Kedua, Social Critique of Liberalism adalah respon dari model yang pertama.
Pandangan ini menghujat keras pandangan liberal ortodoks yang seolah-olah menegasikan
kepentingan sosial dalam pembangunan ekonomi. Menurut pandangan ini, model
pembangunan yang pertama mengesankan bahwa kehidupan individu berada dalam isolasi
dan ruang kosong. Karenanya kepentingan sosial harus disertakan dalam pembangunan
ekonomi. Termasuk dalam kategori model ini adalah welfare theory, humanizing theory, teori
kritik.
Ketiga, Economism Perspective. Sepintas model ini mirip dengan liberal-ortodoks.
Perbedaannya adalah bahwa posisi kebijakan-kebijakan ekonomi dianggap sebagai segala-
galanya. Kebijakan politik dan aktivitas kenegaraan atau non-ekonomi lainnya harus
ditentukan oleh tindakan-tindakan ekonomi. Indonesia pada masa rezim Orde Baru dapat
dikategorikan penganut model pembangunan ini. Keempat, Politicism Perspective merupakan
kebalikan dari model economism. Menurutnya, justru faktor politiklah yang mesti dominan
dalam seluruh rangkaian kebijakan ekonomi. Model ini dianut pemerintah Indonesia pada
masa demokrasi terpimpinnya Soekarno.
Denis Goulet dalam bukunya The Cruel Choice (1973) melihat keterbelakangan
(underdevelopment) tidak semata-mata sebagai kemelaratan dan pendapatan yang rendah.
Underdevelopment merupakan bentuk dehumanisasi, karenanya untuk dapat menghayatinya,
orang harus memahami alam pikiran keterbelakangan tadi. Bagi Goulet, pembangunan tidak
hanya masalah ekonomi, tetapi masalah kemanusiaan. Karenanya tolok u...kur keberhasilan
pembangunan menurutnya adalah, life sustenance, self esteem, dan liberation. Alberto
Guerreiro Ramos (1976) melihat terjadinya kecenderungan pembangunan nasional untuk
menumbuhkan dominasi manusia oleh enclave pasar, pada hakekatnya telah menumbuhkan
proses uni-dimensionalisasi kehidupan manusia menjadi makhluk yang hanya peka terhadap
rangsangan-rangsangan yang ditumbuhkan oleh mekanisme pasar. Oleh Karena itu upaya
untuk membebaskan manusia dari dominasi pasar, Ramos mengidealkan sebuah masyarakat
yang ia sebut sebagai masyarakat isonomi, dimana pasar hanya merupakan salah satu enclave
dalam realita sosial yang bersifat multi-sentrik; sedangkan individu hanyalah secara kebetulan
bersifat sebagai pemaksimum manfaat.
David Mc Clelland dalam bukunya The Achieving Society (1963) menunjuk faktor
mikro individual dalam mencari penyebab keberhasilan atau kegagalan pembangunan. Faktor
mikro indivudual tadi adalah faktor internal psikologis yang disebutnya sebagai “achievement
motivation” atau N-ach. Alex Inkeles menyatakan bahwa kegagalan dan keberhasilan
pembangunan diakibatkan oleh faktor mikro atau psikologi individual yang berproses ke arah
modernitas melalui transformasi karakteristik dari pribadi tradisional ke pribadi modern
sebagai akibat proses belajar dari lingkungan eksistensi dan pengalaman hidup.
Daniel Lerner dalam hasil laporan penelitian yang ditulis dalam buku The Passing of
Traditional Society (1968) melihat bahwa proses modernisasi sebagai problem kemanusiaan
yang memerlukan transformasi yang sistematis terhadap gaya hidup seseorang. Modernisasi
dipandang sebagai pergerakan atau pergeseran dari masyarakat non-participant yang ditandai
dengan sempitnya cakrawala masyarakat dan ideologi nasional, menuju masyarakat partisipan
dimana public affairs yang melintasi batas lokal dibuat oleh anggota masyarakat.
Berangkat dari perdebatan diatas, sudah seharusnya bagi insan muda eksponen
intelektual mahasiswa—menjadi bagian dari perubahan akan realitas sosial.

9
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

PERSEMBAHAN

KARYA INI SAYA DEDIKASIKAN UNTUK

Untuk Para Pendiri Republik Indonesia dan Para Alim Ulama


Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Aidit, Nyoto, Hadratus Syaikh Kiai
Hasyim Asy’ari, Ali Syariati, Asghar Ali Engineer, Hasan Hanafi, Arkoun, Abu Hasan Al-
Asy’ari, Abu Mansur Al-Maturidi, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Malik,
Imam Hambali, Imam Junaidi, Imam Ghozali, dll.

Untuk Semua Guru Intelektual


Sokrates, Plato, Aristoteles, Copernicus, Kepler, Galileo Galilei, Nicolo Machiavelli, Thomas
More, Francis Bacon, Rene Descrates, Blaise Pascal, Baruch Spinoza, Hobbes, John Locke,
Leibniz, Cristian Wolft, George Barkeley, David Hume, Voltaire, Jean Jacques Rousseau,
Immanuelt Kant, JC Ficte, FWJ Schelling, GWF Hegel, Athur Scopehauer, August Comte,
John Struat Mill Herbert Spencer, Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Soren Kiegarard, Friedrich
Nietzsche, William James, John Dewey, Henry Bergson, Edmund Husserl, Max Scheller,
Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Herbert Marcus, Ibnu
Khaldun, Arnold Toynbee, Patirin A. Sorikin, Emile Durkheim, Friedrich Engels, Talcots
Parson, Neil Smeller, Everett E. Hagen, David McClelland, Thorstein Veblen, WF Orgburn,
Al-Ghozali, Mohammed Arkoun, Paulo Freire, Michel Foucault, Ivan Illich, Habermas, Neil
Posman, Giroux, dll.

Untuk Kedua Orang Tuaku


Kedua orang tuaku Bapak H. Muhammad Nur Sayyidi, Ibunda tercinta Hj. Khamidah Nurul
Jannah, Kakakku Almarhumah Komyati Azizah, serta kepada semua intelektual,
akademisi, aktivis, pelajar, semua pecinta ilmu pengetahuan.

Untuk Para Aktivis Gerakan


Untuk mereka yang telah membunuh egoisme dan watak sektarianisme.
Untuk mereka yang telah menumbalkan dirinya pada realitas sosial. Untuk mereka yang
mengorbankan dirinya demi kaum miskin dan tertindas. Untuk mereka yang telah
mendedikasikan dirinya demi meneruskan ruh perjuangan pada pahlawan, para syuhada, para
alim ulama. Untuk mereka yang telah menitikan dirinya demi perjuangan ummat manusia
disekeliling mereka. Untuk mereka yang tidak pernah patah semangat, yang terus-menerus
berproses demi mencapai dan menemukan eksistensi dirinya. Untuk mereka yang tidak rela
nilai-nilai kemanusia dinista oleh sebuah rezim kekuasaan yang aristokratik. Untuk mereka
yang tidak pernah tunduk pada rezim tiranik. Untuk mereka yang cinta kebenaran dan
keadilan. Untuk mereka para martir revolusi sosial.

Untuk Tambatan Hatiku


Engkaulah laut pada perahuku—karena dirimulah yang selalu memberikan harapan, selalu
menuntun dan dengan sabar menunjukkan padaku cita-cita mulia. Engkaulah layar pada
perahuku—karena dirimulah yang telah memberi dorongan dengan tetes air mata. Engkaulah
nahkoda pada perahuku—karena dirimulah yang telah mengarahkan diriku dan menunjukkan
pada jalan yang diridhoi oleh-Nya. Buat laut, layar dan nahkodaku, ketika perahu terombang-
ambing nyaris kehilangan arah, teruslah menatih langkah hidupku
tuk sebuah harapan dan cita-cita mulia.

10
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 01:
PRAWACANA: PENGANTAR IDEOLOGI

1. Pengertian Ideologi
Pada dasarnya ideologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua kata: ideos artinya
pemikiran, dan logis artinya logika, ilmu, pengetahuan. Dapatlah didefinisikan ideologi
merupakan ilmu mengenai keyakinan dan cita-cita.3 Ideologi merupakan kata ajaib yang
menciptakan pemikiran dan semangat hidup diantara manusia terutama kaum muda,
khususnya diatara cendekiawan atau intelektual dalam suatu masyarakat. 4 Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa ideologi merupakan rumusan alam pikiran yang terdapat diberbagai
subyek atau kelompok masyarakat yang ada, dijadikan dasar untuk direalisasikannya. Dengan
demikian, ideologi tidak hanya dimiliki oleh negara, dapat juga berupa keyakinan yang
dimiliki oleh suatu organisasi dalam negara, seperti partai politik atau asosiasi politik, kadang
hal ini sering disebut subideologi atau bagian dari ideologi. Ideologi juga merupakan mythos
yang menjadi political doctrin (doktrin politik) dan political formula (formula politik). 5
Ideologi adalah suatu pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang
dipunyai dan dipegang oleh suatu masyarakat tentang bagaimana cara yang sebaliknya, yaitu
secara moral dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku mereka bersama dalam berbagai
segi kehidupan duniawi mereka. 6 Ideologi juga memiliki arti: konsepsi manusia mengenai
politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan untuk diterapkan dalam suatu masyarakat atau
negara. 7

2. Ideologi dalam Ilmu Sosial


Persoalan ideologi merupakan pusat kajian ilmu sosial. 8 Menurut Frans Magnis
Suseno,9 ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar
rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai
suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya
ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. Dengan
demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti
dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat
menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan
harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Dalam konteks inilah kajian ideologi
menjadi sangat penting, namun seringkali diabaikan.
Istilah ideologi adalah istilah yang seringkali dipergunakan terutama dalam ilmu-ilmu
sosial, akan tetapi juga istilah yang sangat tidak jelas. Banyak para ahli yang melihat
ketidakjelasan ini berawal dari rumitnya konsep ideologi itu sendiri. Ideologi dalam
pengertian yang paling umum dan paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah mengenai
sistem nilai, ide, moralitas, interpretasi dunia dan lainnya. Menurut Antonio Gramsci, 10
ideologi lebih dari sekedar sistem ide. Bagi Gramsci, ideologi secara historis memiliki
keabsahan yang bersifat psikologis. Artinya ideologi ‘mengatur’ manusia dan memberikan
tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan
mereka dan sebagainya.

3
Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim (Yogyakarta: Salahuddin Press, 1982) hlm. 7.
4
Ibid., hlm. 145.
5
Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat; Sejarah, Filsafat, Ideologi dan Pengaruhnya Terhadap Dunia
Ketiga (Jakarta: Bumi Aksara, 2007) hlm. 238.
6
Alfian, Pemikian dan Perubahan Politik Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1981) hlm. 187.
7
Sukarna, Suatu Studi Ilmu Politik Ideologi (Bandung: Alumni, 1981) hlm. 113.
8
Jorge Lorrain, Konsep Ideologi (Yogyakarta: LKPSM, 1996) hlm. 10.
9
Franz Magnis-Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius, 1991) hlm. 230.
10
Roger Simon, Gagasan-gagasan Politik Gramsci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 83.

11
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

3. Logika Dasar Ideologi


Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan11. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh
Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi
dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu
(bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan
beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas
yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk
menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran
abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga
membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti
sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit. (definisi
ideologi Marxisme). Ideologi sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berfikir yang
benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat. Ideologi secara etimologis
berarti permulaan. Secara terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun diatas
pemikiran-pemikiran (cabang). Ideologi adalah pemikiran mendasar dan patokan asasi
tingkah laku. Dari segi logika Ideologi adalah pemahaman mendasar dan asas setiap
peraturan.

4. Proses Kelahiran Ideologi


Tentang bagaimana ideologi lahir, pada dasarnya ideologi terumuskan dengan sejumlah
kemungkinan:
Pertama, ideologi lahir karena diinspirasikan oleh sosok tokoh yang luar biasa, dalam
sejarah bangsanya. Ia hadir membawa sekaligus mampu memberikan inspirasi serta pengaruh
kuat terhadap orang lain secara luas. Pada keadaan ini, gagasan seseorang yang ‘luar biasa’ itu
atas kehendak pelaku dan dukungan pengikut, alam pemikirannya mengenai cita-cita
masyarakat yang diperjuangkan dalam gerakan politik diakui dan dirumuskan secara
sistematis, telah menjadi ideologi. Ideologi itu lahir dari pemikiran seseorang.
Kedua, berdasarkan alam pikiran masyarakat, ideologi itu dirumuskan oleh sejumlah
orang yang berpegaruh dan merepresentasikan kelompok masyarakat kemudian disepakati
sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bilaperlu
diciptakan mitos-mitos untuk mendapatkan pengakuan legal dan kultural dari masyarakat
bersangkutan sehingga mereka tunduk dan meyakini.
Ketiga, berdasarkan keyakinan tertentu yang bersifat universal, ideologi itu lahir dan
dibawa oleh orang yang diyakini sebagai kehendak Tuhan, dengan pesan untuk melakukan
pembebasan dan memberikan bimbingan dalam mengatur kehidupan yang sebenarnya serta
konsekuensi moral dikemudian hari yang akan diterima bila melanggarnya. Ideologi ini syarat
dengan pesan moral yang sesuai dengan nurani serta dasar primordial manusia. Oleh sebab
itu, ideologi yang lahir dari suatu keyakinan Iman dan bersifat universal akan hidup secara
11
Anthony Downs dalam buku An Economic System of Democracy (New York: Harper & Row, 1957)
hlm. 96. mendefinisikan ideologi sebagai “a verbal image of the good society, and of the chief means of
constructing such a society.” Menurut Austin Ranney, setiap ideologi adalah seperangkat ide yang saling
bertautan secara logis dan memiliki titik beda dengan ideologi lain. Gagasan yang terangkum dalam sebuah
ideologi mencakup nilai-nilai (values), visi kemasyarakatan yang ideal (vision of the ideal polity), konsep asal-
usul manusia (conception of human nature), strategi tindakan (strategies of actions), dan siasat politik (political
taktics); lihat Austin Ranney, Governig; An Introduction to Political Science (7th Edition; London: Prentice Hall
International, Inc., 1996) hlm. 71-73. Sementara dalam bahasa yang agak lebih sederhana, pranarka menjelaskan
ideologi yang menurut hakikat dan sifatnya adalah sebuah pegangan untuk perjuangan; lihat A.M.W. Pranarka,
“Pasal 33 UUD 1945: Wawasan Dasar dan Konstruksi Operasionalnya, Suatu Tinjauan Ideologis,”dalam
Analisa CSIS, Tahun IV, No. 12, Desember 1986, Penjelasan tentang ideologi-ideologi dunia yang cukup
komprehensif; lihat William Ebenstein dan Edwin Fogelman, Isme-isme Dewasa ini, terj. Alex Jemadu (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1994). Lihat catatan kaki dalam A. Effendi Khoirie, Privatisasi Versus Neo-Sosialisme
Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 2003) hlm. 22.

12
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

permanen tidak akan goyah dan mati. Biasanya ideologi ini lahir diinspirasikan oleh spirit
agama. 12 Namun demikian, terlepas dengan cara apa dan bagaimana suatu ideologi itu lahir,
pada dasarnya ideologi sering disamakan sebagai suatu keyakinan, sebab ia mengandung
suatu mitos dan cita-cita yang harus direalisasikan dan memiliki nilai kebenaran. Bagi
pengikutnya tidak hanya diakui dan diikuti, lebih dari itu dihayati sebagai sesuatu yang
memiliki spirit hidup serta perjuangan dalam menjawab tantangan yang dirasakan. 13

5. Dimensi dan Tahapan Ideologi


Ada tiga dimensi yang perlu dipenuhi oleh suatu ideologi agar tetap mampu
mempertahankan relevansinya sebagai berikut: Pertama, dimensi realitas, adalah kemampuan
ideologi untuk mencerminkan realitas dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam
masyarakatnya. Karena hanya dari situlah anggota masyarakat akan merasa bahwa ideologi
itu memang miliknya. Kedua, dimensi idealisme, adalah kemampuan dasar ideologi yang
terkandung di dalam nilai-nilai dasar ideologi itu. Ketiga, dimensi fleksibilitas, dimensi ketiga
ini menuntut kemampuan ideologi bukan saja untuk melandasi dan meneropong perubahan
atas pembaruan masyarakat, tetapi juga sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan-
perubahan itu.14
Ali Syariati memberikan argumentasi atau pendapatnya bahwa suatu ideologi dalam
mengoperasionalisasikan nilai-nilai dalam masyarakat sebagai suatu kebenaran untuk dapat
diperjuangkan menjadi keyakinan atau pandangan hidup dalam kolektif masyarakat memiliki
tahapan-tahapan sehingga terbentuk sebuah ideologi, ini meliputi: Pertama, adalah cara kita
melihat dan mengungkapkan alam semesta, eksistensi, dan manusia. Kedua, cara khusus
dalam kita memakai dan menilai semua benda dan gagasan atau ide-ide yang membentuk
lingkungan sosial dan mental kita, Ketiga, mencakup usulan, metode sebagai pendekatan dan
keinginan yang kita manfaatkan untuk mengubah status quo yang kita tidak puas.15 Pada
tahap ketiga inilah ideologi mulai menjalankan misinya dengan memberikan para
pendukungnya pengarahan, tujuan dan cita-cita serta rencana praktis sebagai dasar perubahan
dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan. 16

6. Akar Ideologi dari Tiga Pendekatan Filsafat


Semenjak masa kelahiran para pemikir di Yunani, Romawi, Kelahiran kejayaan Yudea-
Kristiani, kemudian Islam dan Abad Pencerahan di Eropa Konstruk Filsafat yang melahirkan
ideologi-ideologi besar dunia sesungguhnya berakar dari tiga pendekatan filsafat, yakni:
Pertama, Filsafat Idealisme (philosophy of idealism), ini mengedepankan faham
rasionalisme dan individualisme, yang dalam kehidupan berpolitik telah melahirkan ideologi
Liberalisme dan Kapitalisme. Ide yang menjadikan kekuatan dasar menempatkan manusia
sebagai pusat di alam semesta (centre of nature), manusia sebagai titik pangkal terjadinya
perubahan sejarah. Ini melahirkan faham dalam membangun kehidupan kenegaraan dalam
konteks hubungan agama dengan negara adalah terpisah (separation) walau dalam hal-hal
ceremonial dan ritual agama masih diberikan peran. Pandangan kehidupan yang berdasar
ideologi liberalisme-kapitalisme, melahirkan faham Sekulerisme-Moderat17 dalam mengatur
kehidupan politik-kenegaraan.

12
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 240-241.
13
Ibid., hlm. 241.
14
Ali Syariati, op. cit., hlm. 148.
15
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 242.
16
Ali Syariati, op. cit., hlm. 148.
17
Sekulerisme-Moderat melihat agama sebagai urusan pribadi yang berkaitan dengan masalah-masalah
ruhani manusia, dan karena itu tidak boleh mencampuri urusan publik yang berkaitan dengan politik serta
menyangkut dunia materi. Dalam Amien Rais, Cakrawala Islam; Antara Cita dan Fakta (Bandung: Mizan,
1999) hlm. 124.

13
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kedua, Filsafat Materialisme (philosophy of materialism), ini mengedepankan faham


emosionalisme berupa perjuangan kelas dengan kekerasan dan kolektivisme, yang dalam
kehidupan berpolitik telah melahirkan ideologi Sosialisme-Komunisme. Materi (ekonomi),
yang menjadi kekuatan dasar menempatkan kondisi ekonomi sebagai faktor penentu
terjadinya perubahan sejarah. Ini melahirkan faham dalam membangun kehidupan
kenegaraan dalam konteks hubungan agama dengan negara adalah dipertentangkan (conflic).
Agama dianggap sebagai faktor penghambat, candu bagi masyarakat, karena itu tidak
diberikan peran sama sekali. Pandangan kehidupan yang berdasar ideologi Sosialisme-
Komunisme melahirkan faham Sekularisme-Radikal18 dalam mengatur kehidupan politik-
kenegaraan.
Ketiga, Filsafat Teologisme (philosophy of teologism). Dalam faham ini masih dibagi
menjadi dua: 1] faham agama yang menempatkan ajaran Tuhan memegang peran sentral
dalam kehidupan politik-kenegaraan, tetapi dalam konstruk politiknya, menjadikan pemuka
agama sebagai tokoh yang dikultuskan. 2] faham agama yang memang menempatkan ajaran
Tuhan sebagai sumber inspirasi, motivasi dan ekspresi. Ini menempatkan ajaran Tuhan
sebagai faktor integratif dan pencerahan. Dalam hubungannya dalam kehidupan politik-
kenegaraan, agama sebagai suatu yang suci kekuatannya bukan di pengkultusan dan
pemistikan melainkan agama sebagai pembimbing (guidens). Agama dapat didialogkan untuk
terlibat sebagai wacana sekaligus sumber etika, moral dan hukum, maka dalam kehidupan
politik-kenegaraan itu dapat dikatakan agama bersifat dinamis, dapat disebut pula sebagai
filsafat teologisme-dinamis. 19

7. Tiga Kategorisasi Ideologi


Secara sederhana, Franz Magnis Suseno 20 mengemukakan tiga kategorisasi ideologi.
Pertama, ideologi dalam arti penuh atau disebut juga ideologi tertutup. Ideologi dalam
arti penuh berisi teori tentang hakekat realitas seluruhnya, yaitu merupakan sebuah teori
metafisika. Kemudian selanjutnya berisi teori tentang makna sejarah yang memuat tujuan dan
norma-norma politik sosial tentang bagaimana suatu masyarakat harus di tata. Ideologi dalam
arti penuh melegitimasi monopoli elit penguasa di atas masyarakat, isinya tidak boleh
dipertanyakan lagi, bersifat dogmatis dan apriori dalam arti ideologi itu tidak dapat
dikembangkan berdasarkan pengalaman. Salah satu ciri khas ideologi semacam ini adalah
klaim atas kebenaran yang tidak boleh diragukan dengan hak menuntut adanya ketaatan
mutlak tanpa reserve. Dalam kaitan ini Franz Magnis-Suseno mencontohkan ideologi
Marxisme-Leninisme.
Kedua, ideologi dalam arti terbuka. Artinya ideologi yang menyuguhkan kerangka
orientasi dasar, sedangkan dalam operasional keseharianya akan selalu berkembang
disesuaikan dengan norma, prinsip moral dan cita-cita masyarakat. Operasionalisasi dalam
praktek kehidupan masyarakat tidak dapat ditentukan secara apriori melainkan harus
disepakati secara demokratis sebagai bentuk cita-cita bersama. Dengan demikian ideologi
terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter dan tidak dapat dipakai untuk melegitimasi kekuasaan
sekelompok orang.
Ketiga, Ideologi dalam arti implisit atau tersirat. Ideologi semacam ini ditemukan
dalam keyakinan-keyakinan masyarakat tradisional tentang hakekat realitas dan bagaimana
manusia harus hidup didalamnya. Meskipun keyakinan itu hanya implisit saja, tidak
dirumuskan dan tidak diajarkan namun cita-cita dan keyakinan itu sering berdimensi

18
Sekularisme-Radikal melihat agama sebagai musuh, karena dianggap sebagai perintang kemajuan.
Ibid.
19
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 242-244.
20
Franz Magnis-Suseno, op. cit., hlm. 232.

14
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

ideologis, karena mendukung tatanan sosial yang ada dan melegitimasi struktur non
demokratis tertentu seperti kekuasaan suatu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.

8. Fungsi dan Faktor Pendukung Ideologi


Ideologi adalah suatu sistem keyakinan yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau
bangsa yang bersifat menyeluruh yang mendalam mengenai segala segi kehidupan
kenegaraan, kemasyarakatan, dan kebagsaan. Ideologi mengandung kehendak dan cita-cita
tentang suatu kehidupan masyarakat yang ideal yang diyakini kebenarannya dan harus
diperjuangkan agar terwujud dengan kongkrit. Oleh karena itu ideologi merupakan panduan
bagi penganutnya untuk melakukan tindakan-tindakan secara praktis dan strategis untuk
mewujudkan kehendak dan cita-cita yang terkandung dalam ideologi tersebut. Ideologi
mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Etis, yaitu sebagai panduan dan sikap serta perilaku kelompok masyarakat dalam
kehidupan kenegaraan dan kebangsaan.
2. Fungsi Integrasi, yaitu nilai yang menjadi pengikat suatu bangsa atau masyarakat.
3. Fungsi Kritis, yaitu sebagai ukuran nilai yang dapat digunakan untuk melakukan kritik
terhadap nilai atau keadaan tertentu.
4. Fungsi Praxis, yaitu sebagai acuan dalam memecahkan masalah-masalah kongkrit.
5. Fungsi Justifikasi, yaitu ideologi sebagai nilai pembenar atas suatu tindakan atau
kebijakan tertentu yang dikeluarkan oleh suatu kelompok tertentu.
Menurut tokoh psyco-analisis Foucault, ideologi menyangkut empat faktor atau hal
penting: 1] Ekonomi sebagai basis, 2] Kelas yang berkuasa, 3] Kekuatan repressif, 4] Sesuatu
yang berlawanan dengan kebenaran sejati. Menurut Gianfranco, seorang pakar sosiologi ada
tiga kekuatan sosial yang mempengaruhi masyarakat: 1] Kekuatan politik, 2] Kekuatan
ekonomi, 3] Kekuatan normatif atau ideologi.[]

15
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 02:
KAPITALISME

1. Pengertian Kapitalisme
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal),
yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam
produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai
sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan
perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek
(1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi. Menurut
Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah “a social system based on the recognition of individual
rights, including property rights, in which all property is privately owned”. (Suatu sistem
sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana
semua pemilikan adalah milik privat) Heilbroner (1991) secara dinamis menyebut kapitalisme
sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Logika
formasi sosial yang dimaksud mengacu pada gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan
dalam proses-proses kehidupan dan konfigurasi-konfigurasi kelembagaan dari suatu
masyarakat. Istilah “formasi sosial” yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh
Jurgen Habermas. Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebut kapitalisme
sebagai salah satu empat formasi sosial (primitif, tradisional, kapitalisme, post-kapitalisme).

2. Sejarah Perkembangan Kapitalisme


Robert E. Lerner dalam Western Civilization (1988) menyebutkan bahwa revolusi
komersial dan industri pada dunia modern awal dipengaruhi oleh asumsi-asumsi kapitalisme
dan merkantilisme. Direduksi kepada pengertian yang sederhana, kapitalisme adalah sebuah
sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di mana kekayaan yang terakumulasi
diinvestasikan kembali oleh pemilik pribadi untuk memperoleh keuntungan. Kapitalisme
adalah sebuah sistem yang didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-
batas lokal menuju skala nasional dan internasional. Pengusaha kapitalis mempelajari pola-
pola perdagangan internasional, di mana pasar berada dan bagamana memanipulasi pasar
untuk keuntungan mereka. Penjelasan Robert Learner ini paralel dengan tudingan Karl Marx
bahwa imperialisme adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme. Sistem kapitalisme, menurut
Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas
ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The
Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak utama kapitalisme klasik yang
mengekspresikan gagasan “laissez faire” dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan
merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara.
Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah
dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri
tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan negara (Robert Lerner, 1988). Awal abad 20
kapitalisme harus menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak diperkirakan
sebelumnya. Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis
uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis
memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan
seperti undang-undang anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan.
Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan meningkatnya tanggungjawab
pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan ekonomi merupakan indikasi terjadinya
transformasi kapitalisme. Transformasi ini, menurut Ebenstein, dilakukan agar kapitalisme
dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Lahirlah konsep
negara kemakmuran (welfare state) yang oleh Ebenstein disebut sebagai “perekonomian

16
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

campuran” (mixed economy) yang mengkombinasikan inisiatif dan milik swasta dengan
tanggungjawab negara untuk kemakmuran sosial.
Habermas memandang transformasi itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal
kepada kapitalisme lanjut (late capitalism. organized capitalism, advanced capitalism).
Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebutkan bahwa state regulated capitalism
(nama lain kapitalisme lanjut) mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses
konsentrasi ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan
struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar. Untuk melegitimasi
intervensi negara yang secara esensial kontradiktif dengan kapitalisme liberal, maka menurut
Habermas, dilakukan repolitisasi massa, sebagai kebalikan dari depolitisasi massa dalam
masyarakat kapitalis liberal. Upaya ini terwujud dalam sistem demokrasi formal.

3. Tiga Asumsi Kapitalisme Menurut Ayn Rand


Ayn Rand dalam Capitalism (1970) menyebutkan tiga asumsi dasar kapitalisme,
yaitu: (a) kebebasan individu, (b) kepentingan diri (selfishness), dan (c) pasar bebas. Menurut
Rand, kebebasan individu merupakan tiang pokok kapitalisme, karena dengan pengakuan hak
alami tersebut individu bebas berpikir, berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan
hidupnya. Pada gilirannya, pengakuan institusi hak individu memungkinkan individu untuk
memenuhi kepentingan dirinya. Menurut Rand, manusia hidup pertama-tama untuk dirinya
sendiri, bukan untuk kesejahteraan orang lain. Rand menolak keras kolektivisme, altruisme,
mistisisme. Konsep dasar bebas Rand merupakan aplikasi sosial dan pandangan
epistemologisnya yang natural mekanistik. Terpengaruh oleh gagasan “the invisible hand”
dari Smith, pasar bebas dilihat oleh Rand sebagai proses yang senantiasa berkembang dan
selalu menuntut yang terbaik atau paling rasional. Smith pernah berkata: “...free marker
forces is allowed to balance equitably the distribution of wealth”. (Robert Lerner, 1988).

4. Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Kapitalisme


Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh
kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi
barang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini
pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan
kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam
ekonomi. Dalam perekonomian kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai
dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba
sebesar-besarnya. Semua orang bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan
bebas dengan berbagai cara.

5. Teori Dasar Ekonomi-Kapitalis


Membincarakan dasar teori ekonomi kapitalisme, sosok Adam Smith dengan buku
termasyhurnya, The Wealth of Nations, dapat disebut sebagai Bapak Kapitalisme. Dalam
membahas teori dasar kapitalisme adalah dengan mengetahui ciri dasar sistem tersebut, yaitu
pemaksimalan keuntungan individu melalui kegiatan-kegiatan ekonomi yang dimaksudkan
membantu kepentingan publik.
Makna kapitalisme untuk kepentingan publik tersebut, oleh Adam Smith
diilustrasikan dengan sangat jelas: “Apa yang kita harapkan untuk makan malam kita tidaklah
datang dari keajaiban dari si tukang daging, si pemasak bir atau si tukang roti, melainkan dari
apa yang mereka hormati dan kejar sebagai kepentingan pribadi. Malah seseorang umumnya
tidak berkeinginan untuk memajukan kepentingan publik dan ia juga tidak tahu sejauh mana
ia memiliki andil untuk memajukannya. Yang ia hormati dan ia kejar adalah keuntungan bagi
dirinya sendiri. Di sini ia dituntun oleh tangan-tangan yang tak terlihat (the invisible hands)

17
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

untuk mengejar yang bukan bagian dari kehendak sendiri. Bahwa itu juga bukan merupakan
bagian dari masyarakat, itu tidak lantas berarti suatu yang lebih buruk dari masyarakat.
Dengan mengejar kepentingan sendiri, ia kerap kali memajukan kepentingan masyarakat lebih
efektif dibandingkan dengan jika ia sungguh-sungguh bermaksud memajukannya. Saya tidak
pernah menemukan kebaikan yang dilakukan mereka yang sok berdagang demi kepentingan
publik”.21 Penjelasan ilustratif tersebut sebenarnya tidak bermaksud lain kecuali kehendak
untuk memaknai kapitalisme dengan memadukan kepentingan individu di satu pihak dan
kepentingan publik di pihak yang lain. Dari premis itu ialah bahwa kapitalisme merupakan
sebuah sistem ekonomi yang lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi secara
individu. Meskipun demikian, orientasi individu tetap merupakan tahapan awal bagi
kepentingan publik atau sosial. Motif sosial yang tersembunyi (hidden social motive) yang
disebut Smith sebagai the invisible hands.
Kehendak untuk memadukan kepentingan privat dan publik ini selanjutnya
dijelaskan bahwa setiap manusia, dengan demikian, dipimpin langsung oleh kepentingan dan
tindak tanduk ekonominya. Manusia yang bersangkutanlah yang mengetahui apa kepentingan
mereka sesungguhnya. Oleh sebab itu, dialah yang dapat memenuhi kepentingan dengan
sebaik-baiknya. Hal ini bukan dimaksudkan untuk mengesampingkan kepentingan bersama,
tetapi mereka berfikir bahwa kepentingan bersama ini akan dapat diperhatikan dengan sebaik-
baiknya pula apabila setiap individu mendapat kesempatan untuk memenuhi, memuaskan, dan
mengekspresikan kepentingannya masing-masing tanpa restriksi.
Setelah ia menulis The Wealth of Nations, Smith sudah mengemukakan dalam
Theory of Moral Sentiments sebagai dasar filsafat teori ekonominya. Ia menentang dengan
tegas pendapat de Mandeville bahwa privet vice makes public benevit. De Mandeville
memandang bahwa kemewahan atau pengejaran keuntungan ekonomi itu dosa, meski dosa itu
sendiri diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat. Smith justru melihat sebaliknya, dengan
meniru gurunya Francis Hutcheson, ia mengatakan bahwa kebajikan adalah pengendali nafsu
dan bukan sebuah antipati yang mutlak. Dalam The Wealth of Nations sendiri, Smith pernah
mengatakan bahwa: “The nature and causes of the wealth of nations is what is properly
called political economy”. Ini menunjukkan bahwa nama bukunya saja sudah cukup untuk
menjelaskan apa sesungguhnya yang menjadi tujuan dari aktifitas ekonomi. 22
Mempelajari paradigma dan ide dasar kapitalisme juga bisa dilakukan dengan
membuat interpretasi-interpretasi karya Smith seperti yang banyak dilakukan. Kita memahami
bahwa masterpiece Smith tersebut sesungguhnya hanya meletakkan gagasan-gagasan
cemerlangnya secara umum saja. Sjahrir (1995) menerjemahkan The Wealth of Nations yang
membidani lahirnya teori kapitalisme itu dengan membuat rincian sederhana seperti, apa yang
harus diproduksi dan dialokasikan, bagaimana cara memproduksi dan mengalokasikan
sumber daya, serta bagaimana cara mendistribusikan sumber daya dan hasil produksi. 23
Pemahaman lain tentang ide dasar kapitalisme juga diberikan oleh Max Weber 24. Ia
mendefinisikan kapitalisme sebagai sistem produksi komoditi berdasarkan kerja berupah
untuk dijual dan diperdagangkan guna mencari keuntungan. Ciri produksi berdasarkan upah
buruh itu merupakan karakter mendasar bagi kapitalisme. Bagi Weber, ciri kapitalisme yang
lebih mendasar lagi adalah pada sistem pertukaran di pasar. Sistem di pasar ini menimbulkan
konsekuensi logis berupa rasionalisasi yang mengacu pada bagaimana cara meraih
21
Premis ini di kemukakan Adam Smith dalam The Wealth of Nations pendahuluan dan catatan pinggir
oleh Edwin Cannan, New York: The Modern Library, 1973, hlm. 14, 423.
22
L. J. Zimmerman, Sejarah Pendapat-pendapat tentang Ekonomi, Bandung: N.V. Penerbitan W. Van
Hoeve, ‘S-Gravenhage, 1995, hlm. 42-43. Edisi Indonesia dikerjakan oleh K. Siagian. Periksa buku aslinya yang
berjudul Geschiedenis Van Het Economisch Denken.
23
Sjahrir, Formasi Mikro-Makro ekonomi Indonesia, Jakarta, UI Press, 1995, hlm. 113-114.
24
Max Weber, The Protestant ethic of Spirit Capitalism, New York, Scribner, 1958, Edisi Inggrisnya
dikerjakan oleh Talcot Parson dengan Pengantar RH Tawney.

18
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain, bagaimana melakukan akumulasi


kapital secara terus menerus. Akumulasi kapital itu dimaksudkan untuk melakukan produksi
barang atau jasa yang lebih menguntungkan (more profitable). Keuntungan inilah yang secara
dominan bagi rasionalitas tekhnologi.
Sedangkan bagi Marx, kapitalisme tidak didefinisikan oleh motif atau orientasi kaum
kapitalis. Apapun motif yang mereka sadari, mereka sebenarnya didorong oleh logika sistem
ekonomi untuk memupuk modal. Kapitalisme bagi Marx suatu bentuk masyarakat kelas yang
distrukturasikan dengan cara khusus di mana manusia diorganisasikan untuk produksi
kebutuhan hidup.25
Sejalan dengan zaman, kapitalisme terus berkembang, bergerak dan beradaptasi
dengan sejarah. Jorge Larrain mengemukakan, “Kapitalisme dicirikan oleh dominasi obyek
atas subyek, modal atas pekerja, kondisi produksi atas produsen, buruh mati atas buruh hidup.
Bahkan menurut Marx, kapitalisme adalah hasil dari praktek reproduksi manusia. Marx
menganalisa hal tersebut tidak hanya untuk mengetahui bagaimana sistem itu bekerja dan
memproduksi diri sendiri, tetapi juga untuk menunjukkan kondisi yang mampu
menggantikannya”.26
Kapitalisme yang dibuat oleh Lorens Bagus, berasal dari bahasa Inggris, capitalism
atau kata latin, caput yang berarti kepala. Kapitalisme itu sendiri adalah sistem perekonomian
yang menekankan peranan kapital atau modal. 27 Poin-poin penting yang bisa dilihat dan biasa
digunakan untuk mengartikan kapitalisme adalah:
Pertama, kapitalisme adalah ungkapan kapitalisme klasik yang dikaitkan dengan apa
yang dimaksud oleh Adam Smith sebagai permainan pasar yang memiliki aturan sendiri. Ia
yakin bahwa dengan kompetisi, pekerjaan dari tangan yang tidak kelihatan akan menaikkan
harga pada tingkat alamiah dan mendorong tenaga kerja atau modal mengalami pergeseran
dari perusahaan yang kurang menguntungkan. Ini berarti kapitalisme merupakan usaha-usaha
kompetitif manusia yang akan dengan sendirinya berubah menjadi kepentingan bersama atau
kesejahteraan sosial (social welfare).
Kedua, kapitalisme merupakan ungkapan Prancis laissez-faire, laissez-passer, yang
berarti ‘semaunya’, yang dilekatkan sebagai ungkapan penyifat. Ungkapan laissez-faire
menekankan sebuah pandangan bahwa dalam sistem ini, kepentingan ekonomi dibiarkan
berjalan sendiri agar perkembangan berlangsung tanpa pengendalian Negara dan dengan
regulasi seminimal mungkin.
Ketiga, kapitalisme adalah ungkapan Max Weber bahwa ada keterkaitan antara
bangkitnya kapitalisme dengan protestanisme. Kapitalisme merupakan bentuk sekuler dari
penekanan protestanisme pada Individualisme dan keharusan mengusahakan keselamatan
sendiri.

6. Akar Historis Kapitalisme


Sistem perekonomian kapitalisme muncul dan semakin dominan sejak peralihan
zaman feodal ke zaman modern. Kapitalisme seperti temuan Karl Marx menjadi sistem yang
dipraktekkan di dunia bermula di penghujung abad XIV dan awal abad XV. Kapitalisme
sebagai sistem perekonomian dunia terkait erat dengan kolonialisme. Pada zaman

25
Pada tahun 1887, muncullah Das Capital-nya Marx yang amat termashur itu. Marx mengatakan bahwa
kapitalisme itu mempunyai ciri mutlak, yakni borjuis dan eksploitasi. Oleh karenanya, begitu Marx, dengan
revolusi kekerasanlah pemerintah sosialis harus didirikan. Demi terjaminnya stabilitas sistem ini, maka ia harus
dijaga oleh sistem kepemimpinan yang diktator proletariat.
26
Lihat Jorge Larrain, The Concept of Ideology, Forteword by Tom Bottomore, First Published,
Australia: Hotchinson Publishing Group, 1979, versi Indonesia oleh Ngatawi al Zastrouw (editor) dan Ryadi
Gunawan (penerjemah), Yogyakarta: LKPSM, 1997, hlm. 55.
27
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia, 1996, hlm.391.

19
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

kolonialisme ini akumulasi modal yang terkonsentrasi di Eropa (Inggris) didistribusikan ke


penjuru dunia, yang menghadirkan segenap kemiskinan di wilayah jajahannya.
Kelahiran kapitalisme ini dibidani oleh tiga tokoh besar, yaitu Martin Luther yang
memberi dasar-dasar teosofik, Benjamin Franklin yang memberi dasar-dasar filosofik dan
Adam Smith yang memberikan dasar-dasar ekonominya. Martin Luther yang memberi dasar-
dasar teosofik adalah seorang Jerman yang melakukan gerakan monumentalnya, 31 Oktober
1571 dengan menempelkan tulisan protesnya di seluruh penjuru Roma. Ia tidak menerima
kenyataan praktik pengampunan dosa yang diberlakukan gereja Roma. Kemudian ia
meletakkan ajaran dasarnya, yaitu: “Manusia menurut kodratnya menjadi suram karena dosa-
dosanya dan semata-mata lewat perbuatan dan karya yang lebih baik saja mereka dapat
menyelamatkan dirinya dari kutukan abadi”. Sedangkan bagi Benjamin Franklin yang
memberi dasar-dasar filosofik, mengajak orang untuk bekerja keras mengakumulasi modal
atas usahanya sendiri.
Kemudian Franklin mengamanatkan: “Waktu adalah Uang”. Bagi Adam Smith yang
memberikan dasar-dasar ekonominya dan tarcantum dalam buku An Inquiry into The Nature
and Causes of The Wealth Nations, Adam Smith lebih mengkongkretkan spirit kapitalismenya
dalam sebuah konsep sebagai mekanisme pasar. Basis folologisnya adalah laissez-faire,
laissez-passer. Ia mengatakan bahwa barang langka akan menyebabkan harga barang tersebut
menjadi mahal sehingga menjadi sulit didapatkan terutama oleh mereka yang berpenghasilan
rendah. Tetapi menurut Smith bahwa yang harus dilihat adalah perilaku produsen. Ketika
harga barang mahal, maka keuntungan akan meningkat. Ketika keuntungan yang dijanjikan
atas barang tersebut tinggi, maka banyak produsen yang memproduksinya. Sehingga dengan
demikian kelangkaan barang tersebut akan terpenuhi dan menjadi murah dan kebutuhan
masyarakat akan terpenuhi. Sehingga masalah yang terjadi di masyarakat akan diselesaikan
oleh the invisible hands.
Banyak pakar memberikan penjelasan bahwa kapitalisme sebagai sistem
perekonomian dunia baru dimulai sejak abad XVI. Menurut Dudley Dillard pada zaman kuno
sebenarnya sudah terdapat model-model ekonomi yang merupakan cikal-bakal kapitalisme.
Bagi Dillard, kapitalisme tidak saja dipahami sebagai sistem ekonomi pasca abad XVI.
Kantong-kantong kapitalisme sebagai cikal-bakal dan ruh kapitalisme justru mulai
berkembang diakhir abad pertengahan. Dillard membagi urutan perkembangan kapitalisme
menjadi tiga tahapan.28 Secara kronologis dalam tahapan sejarah perkembangannya:
Kapitalisme Awal, Kapitalisme Klasik dan Kapitalisme Lanjut.

6.1 Kapitalisme Awal (1500-1750).


Kapitalisme untuk periode ini masih mendasarkan pada pemenuhan kebutuhan pokok
yang ditandai dengan kehadiran industri sandang di Inggris sejak abad XIV sampai abad
XVIII. Meski industri sandang tersebut masih menggunakan mesin pemintal yang sangat
sederhana, pada gilirannya mampu meningkatkan apa yang disebut sebagai surplus sosial.
Seperti dijelaskan Dillar, dalam prakteknya industri sandang mengahadapi banyak problem
dan kesulitan. Namun demikian, berbagai kendala tersebut tak mampu menjadi penghalang
bagi kesuksesan industri tersebut. Bahkan di beberapa wilayah pelosok Inggris, industri
tersebut terus berkembang pesat selama kurun waktu abad XVI sampai XVII. Surplus sosial
yang didapatkan terus menerus secara produktif ternyata mampu menjadikan kapitalisme
mampu bersaing dengan sistem ekonomi sebelumnya. Kelebihan itu didayagunakan untuk
usaha perkapalan, pergudangan, bahan-bahan mentah, barang-barang jadi dan variasi untuk
kekayaan yang lain.

28
Sudono Sukirno, Ekonomi Pembangunan, Proses, Makalah dan Dasar Kebijaksanaan, Jakarta:
Lembaga Penerbit FE UI, 1985, hlm. 10.

20
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Perluasan demi perluasan dengan argumentasi produktifitas yang dilakukan


selanjutnya mengahdirkan fenomena dramatis dengan munculnya kolonisasi atau
imperealisme ke daerah-daerah lain yang tak memiliki keseimbangan produksi. Lebih lanjut
pada informasi yang sama, Dillar juga pernah menguraikan bahwa perkembangan kapitalisme
pada tahapan ini didukung oleh tiga faktor yang sangat penting yaitu: (1) dukungan agama
dengan menanamkan sikap dan karakter kerja keras dan ajuran untuk hidup hemat, (2)
hadirnya logam mulia terhadap distribusi pendapatan atas upah, laba dan sewa, serta (3)
keikutsertaan Negara dalam membantu membentuk modal untuk berusaha.
Studi Russel, Modes of Productions individu Wolrd History London and New York,
Routledge, 1988, menjelaskan bahwa kapitalisme pada fase ini tidak bisa tidak menyebut
bahwa Eropa dan Inggris abad ke-12 adalah sebagai lokasi awal perkembangan kapitalisme.
Russel menunjuk wilayah perkotaan untuk mencontohkan bahwa saudagar kapitalis menjual
barang-barang produksi mereka dalam suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Mula-mula mereka hanya menjual barang kepada teman sesama saudagar perjalanan.
Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi perdagangan publik.

6.2 Kapitalisme Klasik (1750-1914).


Pada fase ini terjadi pergeseran perilaku para kapitalis yang semula hanya
perdagangan publik, ke wilayah yang mempunyai jangkauan lebih luas yaitu industri.
Transformasi dari dominasi modal perdagangan ke dominasi modal industri yang seperti itu
merupakan ciri Revolusi Industri di Inggris. Perubahan dalam cara menentukan pilihan
tekhnologi dan cara berorganisasi berhasil memindahkan industri dari pedesaan ke sentra-
sentra perdagangan lama di perkotaan selama Revolusi Industri. Akumulasi kapital yang terus
menerus membengkak selama dua atau tiga abad mulai menunjukkan hasil yang baik pada
abad XVIII. Penerapan praktis dari ilmu pengetahuan teknis yang tumbuh selama berabad-
abad dapat sedikit demi sedikit dilakukan. Kapitalisme mulai menjadi penggerak bagi
perubahan tehnologi karena akumulasi modal memungkinkan penggunaan berbagai inovasi.
Tepat pada fase ini kapitalisme mulai meletakkan dasarnya yaitu laissez-faire,
laissez-passer sebagai doktrin mutlak Adam Smith. Dillar menerangkan bahwa
perkembangan kapitalisme pada fase kedua ini semata-mata menggunakan argumentasi
ekonomis. Perkembangan ini tentu saja menjadi parameter keberhasilan bagi kaum borjuis
dalam struktur sosial masyarakat. Kesuksesan ekonomis berimbas pada kesuksesan di bidang
politik, yaitu hubungan antara kapitalis dan Negara. Proses ini menguntungkan kapitalisme
terutama dalam penentuan gaya eksplorasi, eksploitasi dan perluasan daerah kekuasaan
sebagai lahan distribusi produksi. Periode kapitalisme klasik erat kaitannya dengan karya
Adam Smith An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth Nations (1776) melalaui
karya ini terdapat analisa bahwa kapitalisme kuno sudah berakhir dan bergeser menjadi
kapitalisme klasik.

6.3 Kapitalisme Lanjut (Pasca 1914).


Kapitalisme lanjut dijelaskan mulai berkembang sejak abad XIX, tepatnya tahun
1914, Perang Dunia I sebagai momentum utama. Abad XX ditandai oleh perkembangan
kapitalisme yang sudah tidak lagi bisa disebut sebagai kapitalisme tradisional. Kapitalisme
fase lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak oleh tiga momentum. Pertama,
pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua, bangkitnya kesadaran bangsa-
bangsa di Asia dan Afrika terhadap kolonialisme Eropa sebagai ekses dari kapitalisme klasik,
yang kemudian memanifestasikan kesadaran itu dengan perlawanan. Ketiga, Revolusi
Bolzhevik Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang
berupa pemilikan kapital secara individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas

21
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

sosial, bentuk pemerintahan dan kemapanan agama. Dari sana kemudian muncul ideologi
tandingan, yaitu komunisme.
Kapitalisme abad XX berhasil tampil meliuk-liuk dengan performance yang selalu
bergerak mengadaptasikan kebutuhan umat manusia pada zaman dan situasi lingkungannya.
Bagi Daniel Bell, 29 fleksibilitas ini sukses membawa kapitalisme sebagai akhir ideologi (The
End of Ideology) yang mengantarkan umat manusia tidak hanya menuju gerbang yang penuh
pesona ekstasi melainkan juga pada gerbang yang berpeluang besar untuk kehancuran umat
manusia.
Budiman (1997: 86) menyebut bahwa kapitalisme seolah menjadi pesolek tanpa
tanding dalam merebut perhatian para teoritisi sosial dunia. Salah satu hal yang membuat
kapitalisme bertahan adalah kelenturan produk yang ditawarkan. Produk-produk yang
disediakan bersifat adaptif dengan zamannya. Citra-citra yang disodorkan tidak pernah
dibiarkan begitu saja dan menjadi sebentuk kesombongan ideologis yang menjenuhkan,
melainkan disesuaikan dengan berbagai desakan pluralisasi wacana kehidupan. Kapitalisme
berhasil tetap bertahan karena ia mampu menghadirkan demokrasi ekonomi dan politik
sebagai bentuk keinginan umat manusia yang paling mutakhir, tapi sebatas citra, demokrasi
yang semu. Produk kapitalisme yang menggairahkan tersebut dipandang Guy Debord sebagai
trap, bahwa saat ini kapitalisme sedang menyiapkan perangkat kebudayaan yang
mengantarkan umat manusia pada kondisi komoditi yang final dan melelahkan. 30
Produk lain yang ditunjukkan oleh kapitalisme lanjut adalah sedemikian
menjamurnya korporasi-korporasi modern. Korporasi sudah tidak lagi bergerak di bidang
industri manufaktur, melainkan jasa dan informasi. Ia berusaha mendominasi dunia dengan
kecanggihan tekhnologi serta orientasi menghadapi ekonomi global. Ia lazim berbentuk
MNC/TNC (MultiNational Corporation/Trans National Corporation). Kehadirannya semakin
mempertegas bahwa pelaku aktifitas ekonomi sesungguhnya bukanlah institusi Negara,
melainkan para pengusaha bermodal besar. Sebab hanya dengan modal mereka bisa
melakukan kegiatan ekonomi apa dan di mana saja.
Dengan semakin pentingnya modal, peranan Negara menjadi tereduksi, tapi juga
hilang sama sekali. Negara hanya sekedar menjadi aktor pelengkap (Complement Actor) saja
dalam percaturan ekonomi dunia, meski dalam beberapa kasus peran Negara tetap dibutuhkan
sebagai fasilitator untuk mendukung roda ekonomi yang sedang diputar kapitalis. Inilah yang
dinubuat Galbraith dengan mengatakan bahwa korporasi modern menerapkan kekuasaan
melalui pemerintahan. Para kapitalis ini tetap membutuhkan keterlibatan Negara untuk
memfasilitasi setiap produk yang dipasarkan. Hubungan simbiosis mutualisme ini selanjutnya
menjadi karakter dasar dari kapitalisme lanjut. Peristiwa ini menyebabkan para pakar
menyebut bahwa kapitalisme lanjut adalah kapitalisme monopoli (monopoly capitalism) atau
kapitalisme kroni (crony capitalism).31

29
Penjelasan ini sekaligus mengawali kajian tentang Kapitalisme fase lanjut atau kapitalisme mutakhir
seperti yang diratapi oleh Daniel Bell. Beberapa kajian dalam poin ini sepenuhnya mengacu ke sana. Untuk
memperjelas keterangan ini periksa karya Bell seperti (1) The End of Ideology, New York: Free Press, 1960; (2)
The Coming of Post Industrial Society, New York: Penguin Books Edition, 1973; (3) The Cultural
Contradictions of Capitalism, New York: Basic Books, 1976. Sedangkan untuk edisi Indonesia, karya Bell ini
dapat diperhatikan di Y.B. Mangunwijaya (ed.), Tekhnologi dan Dampak Lingkungannya, Volume II, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1985; atau Daniel Bell dan Irving Kristol (ed.), Model dan Realita di Dalam Wacana
Ekonomi, Dalam Krisis Teori Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1988.
30
Guy Debord, The Society of The Spectacle, seperti dikutip oleh Fredric Jameson, Postmodernism or
The Cultural of The Late Capitalism, London, Verso, 1990, hlm. 8.
31
Kapitalisme monopoli sebagai bentuk dari kapitalisme fase lanjut seringkali diberi pengertian yang
merujuk pada peran penting dari kolaborasi di tingkat birokrat Negara dan pengusaha kapitalis untuk menguasai
lahan produksi yang ditujukan pada kepentingan-kepentingan publik.

22
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Korporasi modern dan Negara menjalin hubungan yang didasarkan pada distribusi
kekuasaan dan profit. Hubungan yang berkembang antara korporasi modern dan birokrasi
publik, seperti kapitalis yang membuat mobil dan Negara yang membangun jalan raya,
kapitalis yang membuat pesawat tempur dengan Negara yang mengendalikan Departemen
Udara dan sebagainya. 32 Selain hal itu, apa yang diungkap Galbraith sebagai kapitalisme
lanjut adalah pemfungsian institusi Negara sebagai jaminan kontrol dari doktrin mekanisme
pasar. Bahkan para kapitalis dengan sengaja berani membiayai dan merekayasa Negara.
Tujuannya adalah untuk mengatasi kemungkinan terjadinya disintegrasi sistem soaial dalam
struktur masyarakat yang diakibatkan oleh kontradiksi-kontradisi dalam tubuh kapitalisme itu
sendiri. Asumsi ini diperkuat oleh fakta pertumbuhan industri-industri kapitalisme hingga
menciptakan sindroma korporasi-korporasi modern ternyata memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap kekuasaan politik.
Dalam hal ini Galbraith memperkuat argumentasinya dengan uraian yang mendalam
tentang keterkaitan Negara dalam dimensi politis dan kapitalis dalam dimensi ekonomis.
Semakin menguatnya campur tangan institusi Negara ke dalam aktifitas-aktifitas ekonomi
acap mendisfungsionalisasikan fungsi dari Negara itu sendiri. Hal itu bisa ditunjukkan dengan
merosotnya atensi Negara yang bersangkutan terhadap persoalan-persoalan lain di luar
masalah teknis administratif.
Sementara menurut pandangan Clauss Offe dalam Habermas, sejauh kegiatan Negara
diarahkan pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, politik selalu menampilkan sifat negatif
yang khas. Politik diarahkan untuk mengatasi disfungsionalitas dan menghindari resiko-resiko
yang membahayakan sistem. Politik tidak diupayakan untuk merealisasikan tujuan-tujuan,
melainkan pada pemecahan masalah-masalah teknis. Kegiatan Negara dibatasi hanya pada
persoalan-persoalan teknis yang bisa dipecahkan secara administratif sehingga dimensi
praksisnya hilang.33 Hubungan faktor politik-kapitalis dengan melakukan kolaborasi adalah
cara pandang Keynes, dan persoalan itu susah untuk dihindarkan. Keynes sangat tertarik pada
keseluruhan adegan sosial dan politik yang diproduksi secara bersamaan. Ia memandang teori
ekonomi sebagai suatu alat kebijakan politik. Ia membelokkan apa yang disebut metode ilmu
ekonomi klasik yang bebas nilai untuk melayani tujuan dan target mental, dan untuk itu ia
membuat ilmu ekonomi menjadi persoalan politik dengan cara yang berbeda.
Keterkaitan Negara-kapitalis yang ditunjukkan dengan bergesernya mekanisme
kapitalisme bisa dipahami dari Negara Amerika. Yang terjadi di Amerika dewasa ini bukanlah
paham kapitalisme yang asli yang menganut paham laissez-faire, laissez-passer, melainkan
suatu sistem ekonomi yang tetap menggunakan prinsip dasar kapitalisme yang disesuaikan
dengan berbagai rambu hukum yang membatasi penguasaan resaources dan konsumsi yang
berlebihan, baik secara individual maupun pada tingkat perusahaan. 34 Nilai-nilai yang berlaku
pada sistem kapitalisme Amerika selalu mempertimbangkan beberapa aspek.
Pertama, Asas Kebebasan (freedom), dengan pengertian, bebas berkonsumsi dan
berinvestasi (free entry individu consumption and investment) serta pembatasan investasi
pemerintah sekaligus mengikhtiarkan model politik yang demokratis.
Kedua, Asas Keseimbangan (equality), dengan pengertian, adanya difusi antara
kekuatan politik dan ekonomi; adanya bargaining power yang sama untuk produsen dan

32
Lihat John Kenneth Galbraith, The New Industrial State, New York: Mentor Book Paperback Edition,
1972, hlm. 258. Periksa juga Budiman, Op. Cit.
33
Jurgen Hebermas, Ilmu dan Tekhnologi Sebagai Ideologi, Jakarta: LP3ES, 1990, hlm. 76-77.
34
Dalam banyak hal, pembahasan kapitalisme fase lanjut tidak bisa dilepaskan begitu saja dari
pembahasan tentang sistem ekonomi kapitalisme yang ada di Amerika. Sebab seperti yang sudah dijelaskan
terdahulu bahwa salah satu ciri pokok yang mendasari kapitalisme fase lanjut adalah pergeseran modal dari
kapitalisme klasik yang didominasi oleh Negara-negara Eropa menuju kapitalisme Amerika. Posisi Amerika
sebagai pusat perdagangan dunia (world trade center), dengan demikian, bisa dijadikan referensi dan parameter
perkembangan kapitalisme global selanjutnya.

23
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

konsumen serta adanya kesempatan yang sama sekaligus upaya untuk menciptakan
pemerataan.
Ketiga, Asas Keadilan (fairness), dengan pengertian, sebuah upaya untuk
menghindari praktik yang tidak adil seperti adanya upah buruh yang tidak memenuhi standar;
hubungan tuan dan majikan yang eksploitatif dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap praktek
ekonomi harus dilandasi dengan sikap yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan (full
honesty and disclosure).
Keempat, Asas Kesejahteraan (welfare), dengan pengertian, adanya pertimbangan
efisiensi alokasi dan produksi. Parameter kesejahteraan bisa diketahui melalui pengawasan
pemerintah terhadap stabilitas harga serta upaya untuk menciptakan kondisi ketenagakerjaan
yang bersifat full employment. Kesehatan dan keselamatan lingkungan hidup juga mendapat
perhatian yang besar.
Kelima, Asas Pertumbuhan Berkesinambungan (sustainable growth) yang
indikasinya adalah pertumbuhan pendapatan riil dan kemajuan tekhnologi. Ada beberapa
kebijaksanaan pemerintah Amerika yang menjadi prioritas dalam menjamin kebesaran
kapitalisme. Di antaranya adalah kebijaksanaan yang menjamin terciptanya kompetisi seperti
terciptanya UU Anti Trust (Sherman Act and Clayton Act). Tujuannya untuk mencegah
persaingan yang tidak sehat diantara pihak yang bersaing. Peraturan ini secara teknis
bertujuan untuk menjamin kebebasan dan keamanan dalam berinvestasi (free exit and entry).
Kemudian kebijaksanaan yang mengatur ke mana arah kompetisi digerakkan. Pengaturan-
pengaturan ini berfungsi untuk melindungi konsumen dan produsen. Hal itu bisa dilakukan
dengan menetapkan etika periklanan dan standarisasi barang-barang dari segi kualitas maupun
kuantitas. Perlindungan merk dagang dan hak cipta juga mendapatkan perhatian yang cukup
serius. Selain itu, adanya kebijaksanaan yang menjadi jaminan bagi distribusi pendapatan,
yakni melalui pajak. Pajak bisa difungsikan sebagai sarana pemerataan, insentif serta
regulator untuk mempengaruhi alokasi produksi maupun konsumsi.
Yang penting lagi adalah adanya kebijaksanaan yang mengatur public utility. Ide
dasar kapitalisme klasik laissez-faire, laissez passer dan jargon the invisible hand merupakan
asas fundamental yang terus-menerus diperbaiki dan digunakan untuk mencirikan
kapitalisme. Mereka berpandangan bahwa teori ekonomi secara jelas menunjukkan bahwa
mekanisme pasar tidak akan mampu menyelesaikan proses alokasi barang-barang publik
seperti hukum, pertahanan dan lingkungan. Padahal barang-barang ini merupakan sesuatu
yang vital bagi terjaminnya hidup manusia. Jika mekanisme pasar dibiarkan dengan
sendirinya untuk menentukan alokasi barang-barang publiknya, maka penyediaannya akan
cenderung lebih kecil dibandingkan dengan permintaan masyarakat (socially desirealible).
Karenanya diperlukan peranan pemerintah untuk menyediakannya. Tindakan ini menjamin
produksi barang-barang kebutuhan dasar (merit goods) diproduksi pada tingkat optimal secara
sosial. 35
Suasana lain dari kapitalisme lanjut adalah kompetisi (competition), dan kompetisi
dalam kapitalisme Amerika merupakan poin penting dari buku The New Industrial State
(1971) yang ditulis Galbraith. Menurutnya, dalam ilmu ekonomi klasik persaingan adalah
banyaknya penjual yang memperoleh bagian yang kecil dari pasaran. Galbraith kemudian
mengatakan bahwa model persaingan klasik ini sebagian besar sudah lenyap karena banyak
pasar yang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Galbraith juga mengatakan bahwa dalam
perkembangan kapitalisme, timbul institusi yang berusaha mengimbangi kelas kapitalis, yang
disebutnya sebagai kekuatan pengimbang (countervailing power). Kekuatan tersebut bisa

35
Ini semakin memperjelas bahwa teori mekanisme pasar tidak bisa dibiarkan sebebas apa yang sudah
didoktrinkan dalam teori ekonomi kapitalisme klasik. Pemerintah atau Negara dibutuhkan kehadirannya dalam
mengurusai bidang-bidang yang bersangkut-paut dengan kebutuhan publik seperti penjelasan di atas. Dengan
demikian, hadirnya Negara sebagai wasit adalah berfungsi untuk mengatur pasar.

24
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

berupa lembaga konsumen yang mengontrol perilaku dan pengaruh produsen, himpunan
buruh yang mengimbangi kekuatan kelas pemilik modal dan kelas manajer. Lembaga
pelindung konsumen, pelindung alam serta organisasi-organisasi volunteer lain yang berusaha
untuk mempertahankan sekaligus memperjuangkan kepentingan golongan lemah (marginal)
dalam masyarakat, yang tentunya mayoritas. Deskripsi awal dengan menyebut Amerika
sebagai pusat segala sesuatu untuk mengkaji kapitalisme lanjut harap dimaklumkan
mengingat kita tidak bisa menolak bahwa Amerika adalah sentral kapitalisme dunia dari pasca
perang dingin atau awal abad XIX sampai detik ini. Namun sample ini bukan serta merta
ingin menunjukkan bahwa kapitalisme lanjut hanya terbatas (limited) seperti yang tercermin
di Amerika. Seorang sejarawan peranakan Jepang, Francis Fukuyama, yang kemudian tenar
dengan karyanya, The End of History and Last Man, menyatakan bahwa demokrasi liberal
dan kapitalisme Amerika merupakan titik akhir dari perkembangan ideologi manusia.36
Fukuyama menjelaskan bahwa sejarah manusia ini sudah berhenti pada satu titik yang
ekstrim, yakni kapitalisme. Karenanya akhir sejarah akan merupakan saat yang menyedihkan.
Tatkala keberanian, semangat, imajinasi, idealisme dan humanisme mulai digantikan dengan
perhitungan-perhitungan ekonomi yang rasional. Pada saat itu pula manusia akan terjebak
pada pemecahan masalah teknis yang tidak ada habis-habisnya. Kapitalisme sibuk merancang
kebutuhan konsumen yang bercita rasa melangit. Sehingga Galbraith dalam karya yang sama
juga menuturkan bahwa selama paruh terakhir abad ini hampir tidak ada topik lain yang
dibahas secara serius dan mendalam kecuali tentang masa depan kapitalisme (The Future of
Capitalism).37
Akumulasi modal sekarang tidak sekedar menjadi kebiasaan. Ia telah menjadi sebuah
hukum, di balik nuansa ini, tersimpan keniscayaan akan adanya alienasi bagi mereka, para
kelompok mayoritas seperti buruh, petani dan perempuan. Kita menyadari bahwa kapitalisme
model baru menyimpan keniscayaan atas penindasan kelompok mayoritas. Segitiga konspirasi
ala O’Donnel sampai hari ini masih relevan dalam menjelaskan mekanisme ketertindasan
struktural rakyat. Secara empiris konspirasi itu dapat dilihat dari bagaimana kebijakan-
kebijakan Negara terbentuk atas pengaruh kepentingan TNC. Tiga pilar neo klasik, TNC/
MNC, World Bank/ IMF, dan WTO berjalan linier, sevisi, setujuan menuju kepentingan yang
sama, yakni liberalisasi pasar. Di samping itu ketiga institusi itu adalah kekuatan terbesar
dunia abad ini. Sehingga kita tidak pernah menemukan kebijakan internasional yang tanpa
memuat kepentingan ketiganya. Kita memang bisa menyadari bahwa kapitalisme lanjut tidak
hanya dipahami sesederhana itu. Jika hujatan terpedas hari ini pada kapitalisme diserangkan
oleh kelompok Marx dengan asumsi konflik kelas, sesungguhnya saat ini kita juga
menyaksikan bagaimana kapitalisme menghadapinya dengan dada terbuka. Cita-cita Marx
yang tertuang dalam kata-kata msayarakat tanpa kelas, justru secara mengejutkan, bukan
terjadi dalam masyarakat komunisme, melainkan dalam masyarakat kapitalisme. Konsep
pilihan publik (public choice) yang mencoba mengagregasikan kebutuhan-kebutuhan individu
berhadapan dengan Negara, justru pada akhirnya mampu menciptakan masyarakat tanpa
kelas. Maka pada saat kapitalisme, dalam kaitannya dengan Negara, mampu memelihara
Negara dengan mengupayakan reinventing government, bukan barang mustahil apabila
masyarakat tanpa kelas adalah milik kapitalisme, bukan komunisme. Masyarakat tanpa kelas
ternyata gagal dipraktekkan oleh komunisme. Barangkali inilah yang disebut sebagai akhir
sejarah itu, threshold capitalism.[]

36
Lihat Francis Fukuyama, The End of History and Last Man, London: Hamish Hamilton, 1992.
bandingkan dengan pandangan-pandangan dalam literatur abad ke-19 yang dikenal sebagai abad ideologi (the
age of ideology). Bandingkan juga dengan literatur abad ke-20 yang dianggap sebagai abad: (1) Akhir Ideologi
(The End of Ideology) karya sosiolog Daniel Bell, (2) Akhir Alam Semesta (The End of Nature) karya Paul
MacKiben.
37
Lihat Galbraith, op. cit.

25
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 03:
SOSIALISME

1. Pengertian Sosialisme
Sosialisme pada hakekatnya berpangkal pada kepercayaan diri manusia, melahirkan
kepercayaan pula bahwa segala penderitaan dan kemelaratan yang dihadapi dapat diusahakan
melenyapkannya.38 Penderitaan dan kemelaratan yang diakibatkan pembajakan politik dan
ekonomi dimana penguasa dan pengusaha dengan semangat liberal dan kapitalnya, memiliki
kekuatan penuh mengatur kaum kebanyakan warga negara, dengan segala keserakahan yang
didasarkan rasionalisme dan individualisme itu, mendorong sebagian orang mencari cara baru
guna pemecahan masalah sosial tanpa harus dilakukan dengan kekerasan.
George Lansbury, pemimpin partai buruh, menulis dalam bukunya My England (1934),
dijelaskan:

“Sosialisme, berarti cinta kasih, kerjasama, dan persaudaraan dalam setiap masalah
kemanusiaan merupakan satu-satunya perwujudan dari iman Kristiani. Saya sungguh
yakinapakah orang itu tahu atau tidak, mereka yang setuju dan menerima persaingan dan
pertarungan satu dengan yang lain sebagai jalan untuk memperoleh roti setiap hari, sungguh
melakukan penghianatan dan tidak menjalankan kehendak Allah.”39

Sosialisme adalah sebuah masyarakat dimana kaum pekerja sendiri yang menguasai
alat-alat produksi dan merencanakan ekonomi secara demokratik; dan semua ini secara
internasional. Istilah “sosialisme” atau “sosialis” dapat mengacu ke beberapa hal yang
berhubungan: ideologi atau kelompok ideologi. sistem ekonomi. negara. Kata ini mulai
digunakan paling tidak sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, pertama digunakan
untuk mengacu kepada pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Prancis, digunakan untuk
mengacu pada pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 dan kemudian oleh Pierre
Leroux dan J. Regnaud dalam l’Encyclopedie nouvelle. Penggunaan kata sosialisme sering
digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda oleh berbagai kelompok, namun hampir
semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani
pada abad ke-19 dan ke-20, yang berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan
masyarakat egalitarian, yang dengan sistem ekonomi, menurut mereka, dapat melayani
masyarakat banyak, ketimbang hanya segelintir elite.
Sosialisme sebagai ideologi menurut penganut Marxisme (terutama Friedrich Engels),
model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia, sebagai sifat dasar
manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa Pencerahan di abad ke-18, para pemikir dan
penulis revolusioner seperti Marquis de Condorcet, Voltaire, Rousseau, Diderot, abbe de
Mably, dan Morelly mengekspresikan ketidakpuasan berbagai lapisan masyarakat di Perancis.
Kemudian Sistem Ekonomi dalam sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada
konsep Marx tentang penghapuskan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme
menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditi penting
dan kepentingan masyarakat banyak, Seperti Air, Listrik, bahan pangan dll.
Sejumlah pemikir, pakar ekonomi dan sejarah, telah mengemukakan beberapa masalah
yang berkaitan dengan teori sosialisme, termasuk di antara mereka adalah antara lain Milton
Friedman, Ayn Rand, Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Joshua Muravchik. Kritik dan
keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi kategori berikut: Insentif, Harga,
Keuntungan dan kerugian, Hak milik pribadi. Keuntungan dalam anutan sosialisme kekinian

38
Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat (Bandung: Mizan, 1999) hlm. 188.
39
William Ebenstein & Edwin Fogelman, Isme-isme Dewasa ini, Edisi 9 (Jakarta: Erlangga, 1990) hlm.
220.

26
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

telah dimungkinkan. Berhubungan dalam keuangan dari suatu negara sosialis, untuk transaksi
atas barang, walaupun bukan terhadap pertanian.

2. Sejarah Kelahiran Sosialisme


Setelah melebarnya sayap-sayap ideologi liberalisme dan kapitalisme, maka dunia telah
tersebtuh ideologi ini dipenuhi dengan pragmatisme hidup, sikap individualistis, konsumeris,
hedonisme, materialisme, dan sekulerisme. Ini telah menimbulkan masalah sosial sampai pada
tingkat unit sosial terkecil, seperti melemahkan ikatan emosional dalam keluarga, disorientasi,
disorganisasi sosial, pada skala yang besar timbulnya aliansi sosial sebab jauh dari agama dan
kepentingan sosial dalam kehidupan sosiali dan ekonomi masyarakat. Lahirlah faham
sosialisme. Mereka menentang individu sebagai dasar pribadi, juga kebebasan ekonomi yang
perlu melibatkan negara. Faham sosialis mengusahakan indutri negara bukan semata untuk
digunakan mencari keuntungan yang melebihi usaha keuntungan kapitalis yang meungkin
berhasil, mungkin tida. Akan tetapi untuk penyelenggarakan industri yang lebih demokratis,
bermanfaat dan bermartabat, penggunaan mesin yang lebih memperhatikan manusia dan
penggunaan hasil kecerdasan manusia yang lebih bijak. 40 Lahirlah tokoh-tokoh sosialis,
seperti St. Simon (1760-1825), Fourier (1837), Robert Owen (1771-1858), Louis Blane
(1813-1882), Bakunin (1814-1876).

3. Sistem Politik Sosialisme


Sosialisme dengan demokrasi, memiliki hubungan yang sangat penting, ia menjadi
bagian dari kebijakan sosialis. Sosialisme dalam konteks demokrasi memiliki tujuan dengan
inti yang sama, yakni untuk lebih mewujudkan demokrasi dengan memperluas penerapan
prinsip-prinsip demokrasi dari hal-hal yang bersifat politis sampai pada yang bersifat non-
politis dalam masyarakat. Oleh sebab itu untuk mencapai cita-citanya, sosialis menggunakan
cara-cara yang demokratis:
Pertama, sosialisme menolak terminologi proletariat yang menjadi bagian konsep
komunisme. Kedua, kepemilikan alat-alat produksi oleh negara harus diusahakan secara
perlahan-lahan atau secara bertahap. Ketiga, kaum sosialis menuntut pendirian umum yang
demokratis bahwa pencabutan hak milik warga negara harus melalui proses hukum dan warga
negara tersebut harus mendapat kompensasi. Keempat, kaum sosialis menolak pengendalian
kekuasaan oleh sekelompok minoritas yang mengatasnamakan kekuatan revolusioner.41
Kelima, tidak sependapat bahwa dalam demokrasi hanya ada dua pilihan antara liberalis-
kapitalis dan komunisme. Partai-partai yang demokratis tidak menyibukkan dirinya untuk
menyelesaikan perjuangan seribu tahun dalam sehari, melainkan mereka berusaha untuk
memecahkan persoalan yang relatif dapat ditangani dan dihindarkan pemecahan kaku yang
tidak dapat ditarik kembali. 42

4. Sistem Ekonomi Sosialisme


Sosialisme adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup
besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur
tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata
kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas lng, dan lain
sebagainya. Dalam sistem ekonomi sosialisme atau sosialis, mekanisme pasar dalam hal

40
Mas’ud An Nadwi, Islam dan Sosialisme (Bandung: Risalah, 1983) hlm. 32-36.
41
Clement Attle, Perdana Menteri Inggris tahun 1945-1951, juga seorang Pemimpin Partai Buruh 1935-
1955, menulis dalam buku The Labour Party in Perspective (1937) bahwa kekuatan partainya bukan bergantung
pada kepemimpinan, melainkan kualitas rakyat jelata.
42
William Ebenstein & Edwin Fogelman, op. cit., hlm. 210.

27
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

permintaan dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku. Pemerintah mengatur
berbagai hal dalam ekonomi untuk menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.
Pada dasarnya sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dari kapitalisme, yakni
melestarikan kesatuan faktor tenaga kerja dan pemilikan. Pada abad ke-17 dan ke-18, saat
kapitalisme melewati tahap awal perkembangannya, kesatuan itu menjadi kenyataan. Inggris
di zaman John Locke masih hidup dan Amerika di zaman Thomas Jefferson menyaksikan
pertanian yang berukuran rata-rata, toko-toko,bengkel hanya dalam skala kecil keluarga saja.
Tenaga kerja dan pemilik berada dalam keseiringan. Ancaman utama dalam kesatuan ini
justru datang dari negara, yang berusaha untuk menetapkan dan mengatur.
Singkatnya negara memainkan peranan suatu badan yang berkuasa penuh dalam urusan
ekonomi. Akan tetapi, tatkala ekonomi kapitalis mengalami kemajuan, tanggungjawab
individu dan keluarga dalam urusan kepamilikan alat-alat produksi serta pengaturan tenaga
kerja perlahan-lahan digantikan oleh sistem ekonomi dalam mana perusahaan besar
mengambil alihfungsi-fungsi tersebut. Ketika bentuk usaha industri tumbuh semakin besar,
tanggungjawab tenaga kerja semakin beralih ke tangan masyarakat, sementara pemilikan tetap
secara perorangan. 43
Isu yang dalam mengembangkan sosialisme di Eropa berkaitan erat dengan masalah
ekonomi adalah:
Pertama, pemerataan sosial, salah satu kekuatan pendorong, yakni penentangannya
terhadap ketimpangan kelas sosial yang diterima oleh negara Eropa (maupun bagian dunia
yang lain) dari zaman feodal dimasa lalu.
Kedua, penghapusan kemiskinan. Yakni kemiskinan sebagai akibat dari akumulasi
sistem kapitalisme, maka bagi sosialisme; ‘tidak ada hak milik pribadi atas alat-alat produksi,
bahwa alat produksi harus menjadi kepemilikan komunal’. Dengan menekankan solidaritas
sosial dan kerjasama sebagai sarana untuk mengembangkan ekonomi dan membangun suatu
jaringan ikatan sosial dan ekonomi yang kuat guna membantu membentuk kepaduan nasioal.
Karena, begitu jauhnya kenyataan ekonomi dan politis telah melahirkan kegagalan. 44

5. Prinsip-prinsip Sosialisme
Sosialisme memiliki prinsip-prinsip dalam menegakkan suatu pemerintahan dan negara
dalam mewujudkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Ini meliputi masalah agama,
idealisme etis dan estetis, empirisme febian dan liberalisme. Prinsip-prinsip ideologi
sosialisme menurut Sydney Webb sebagaimana dalam bukunya Fabian Esseys (1889) itu,
menganggap sosialisme sebagai hasil yang tidak dapat diletakkan dari keberhasilan demokrasi
dengan kepastian yang datang secara bertahap (inevitability of gradualness) yang berbeda
dengan pandangan Karl Marx tentang kepastian revolusi. 45 Prinsip-prinsip ideologi sosialisme
adalah sebagai berikut:
Pertama, Masalah Agama. Dalam pembentukan gerakan sosialis pengaruh agama
merupakan yang paling kuat. Menemukan berbagai hal yang berhubungan dengan doktrin
keagamaan, sosial dan ekonomi serta banyaknya jumlah sekte keagamaan telah membuktikan
betapa adanya berbagai ajaran yang dipegangnya. Hal ini tampak terlihat di Inggris pada masa
itu menurut Attle.46 Hal ini karena dulu ada gerakan Kristiani Sosialis yang beranggapan
bahwa agama itu harus disosialisasikan dan sosialisme harus dikristianikan.47

43
Ibid., hlm. 217-218.
44
Lyman Tower Sargen, Ideologi-ideologi Politik Kontemporer; Sebuah Analisis Komparatif (Jakarta:
Erlangga, 1987) hlm. 149.
45
Mas’ud An Nadwi, op. cit., hlm. 32-36.
46
Adanya gerakan Sosialis Kristiani yang dipimpin oleh dua orang biarawan, yaitu Fredrick Maurice dan
Charles Kingsley mencapai puncak kejayaannya dalam pertengahan abad kesembilan belas serta menjadi sumber
penting untuk perkembangan organisasi kelas buruh serta sosialis kemudian. Prinsip yang menjadi pedoman bagi

28
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kedua, Idealisme Etis dan Estetis. Ini menjadi sumber sosialisme di Inggris, John
Ruskin dan William Morris mengungkapkan ini bukan suatu program politik dan atau
ekonomi, tetapi merupakan pemberontakan melawan kemelaratan, kebosanan, dan
kemiskinan hidup dibawah kapitalisme industri. Sebagaimana kedua tokoh itu, Charles
Dickens dan Thomas Carlyle serta pengarang lainnya yang melihat pengaruh peradaban
industri terhadap pribadi seseorang sebagai manusia. Pemberontakan etis dan estetis masa
Inggris Victoria merusak rasa percaya diri yang tumbuh pada masa itu. Sebab keraguan itu,
dirinya mendapatka banyak sosialis yang positif dapat dikembangkan mengenai langkah demi
langkah. 48 Ini bukan merupakan program politik dan ekonomi, melainkan pemberontakan dari
kehidupan yang kotor dan keadaan masyarakat yang miskin akibat kapitalis industri. 49
Ketiga, Empirisme Fabian. Ini merupakan ciri gerakan sosialis Inggris yang paling
khas. Masyarakat fabian didirikan pada tahun 1884, serta mengambil nama seorang Romawi,
yakni Quintus Fabius Maximus Cunctator, si “penunda’. Moto awal dari masyarakat itu
adalah ‘Engkau harus menunggu saat yang tepat; kalau saat yang tepat itu tiba engkau harus
melakukan serangan yang dahsyat, sebab jika tidak, penundaan yang engkau lakukan itu sia-
sia dan tidak akan membawa hasil. Tokoh-tokoh dari kalangan ini antara lain George Bernand
Shaw, Sydney dan Beatrice Webb, H.G. Wells dan Graham Walls, mereka bukan berasal dari
kalangan miskin. Dalam hal politik menghendaki suatu perubahan masyarakat secara
konstitusional. Perubahan itu jangan sampai melalui revolusi yang radikal dengan
membalikkan struktur politik dengan cara paksa atau kekerasan. Prinsip bahwa tidak mungkin
ada kemajuan kecuali kepada kelas menengah dan atas ditunjukkan bahwa tuntutan dasar
pikiran serta politik sosialis tadi masuk akal dan bersifat adil. 50
Keempat, Liberalisme. Ini telah menjadi sumber yang semakin penting bagi sosialisme,
terutama sejak Partai Liberal merosot peranannya, dan meningkatnya peran oleh Partai Buruh.
Dalam sosialisme juga ada kecenderungan berorientasi pada negara, masa dan kolektivitas.
Kedua kecenderungan itu masih Sunan Kalijaga menjadi seorang pribadi dan bukan menjadi
seorang anggota dalam daftar nasional. Namun demikian, dalam 40 tahun terakhir semakin
banyak orang Liberal yang menggabungkan diri dengan Partai Buruh. 51 Hal ini penting
terutama setelah partai liberal terjadi tidak berarti banyak beralih ke partai buruh. Sebab
dalam partai buruhlah, gagasan mereka dapat dikembangkan. 52
Oleh sebab itu sosialisme sebagai bentuk kekuatan politik, sosial dan ekonomi sangat
berpihak kepada tindakan populis dan untuk rakyat, ini dilakukan berupa pemberian
kesempatan kerja, menghapus diskriminasi, memperjuangkan mengenai persamaan hak,
memperjuangkan hak-hak pekerja, kerjasama serta menghapuskan persaingan dan mengatur
mekanisme ekonomi untuk kepentingan seluruh rakyat.

kalangan Sosialis Kristen adalah konsep yang menandaskan bahwa sosialisme harus dikristenkan dan
Kristianitas harus disosialisasikan. Lihat dalam William Ebenstein & Edwin Fogelman, op. cit., hlm. 219-220.
47
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 50.
48
William Ebenstein & Edwin Fogelman, op. cit., hlm. 222-223.
49
Ibid.
50
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 50.
51
Dalam pemilihan umum pasca perang yang diadakan pada tanggal 5 Juli 1945, partai buruh meraih 394
dari 640 kursi, dengan demikian untuk pertama kalinya dalam sejarah Inggris pemerintahan Partai Buruh
dibentuk dengan mayoritas yang mantap di Majelis Rendah. Antara tahun 1900 sampai 1918, partai buruh secara
resmi tidak terikat dengan sosialisme, meskipun mereka menghimpun banyak individu yang berhalauan sosialis.
Pada tahun 1918, ketika partai itu mengambil sosialisme sebagai programnya, komitmennya kepada nasioalisasi
industri hampir penuh. Partai buruh berubah secara drastis pandangannya dan mendorong nasionalisasi hanya
kalau secara pragmatis telah terbukti bahwa pemilikan oleh negara akan mendatangkan lebih banyak manfaat
bagi kemakmuran negara daripada pemilikan secara perorangan. Lihat dalam William Ebenstein & Edwin
Fogelman, op. cit., hlm. 223 & 229.
52
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 50.

29
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

6. Sosialisme Utopis
Sosialisme Utopis atau Sosialisme Utopia adalah sebuah istilah untuk mendefinisikan
awal mula pemikiran sosialisme modern. Para sosialis utopis tidak pernah benar-benar
menggunakan ini untuk menyebut diri mereka; istilah “Sosialisme Utopis” awalnya
diperkenalkan oleh Karl Marx dan kemudian digunakan oleh pemikir-pemikir sosialis
setelahnya, untuk menggambarkan awal kaum sosialis intelektual yang menciptakan hipotetis
masa datang dari penganut paham egalitarian dan masyarakat komunal tanpa semata-mata
memperhatikan diri mereka sendiri dengan suatu cara dimana komunitas masyarakat seperti
itu bisa diciptakan atau diperjuangkan.
Kata utopia sendiri diambil dari kisah pulau Utopia karangan Thomas Moore. Karena
Sosialisme utopis ini lebih merupakan sebuah kategori yang luas dibanding sebuah gerakan
politik yang spesifik, maka sebenarnya sulit untuk mendefinisikan secara tepat istilah ini.
Merujuk kepada beberapa definisi, desinisi sosialisme utopis ini sebaiknya melihat para
penulis yang menerbitkan tulisan-tulisan mereka pada masa antara Revolusi Perancis dan
pertengahan 1930-an. Definisi lain mengatakan awal mula sosialisme utopis jauh lebih ke
masa lalu, dengan mengambil contoh bahwa figur Yesus adalah salah satu diantara penganut
sosialisme utopis.
Walaupun memang terbuka kemungkinan siapapun yang hidup dalam waktu kapanpun
dalam sejarah dapat disebut sebagai seorang sosialis utopis, istilah ini lebih sering dipakai
terhadap para sosialis utopis yang hidup pada seperempat masa pertama abad 19. Sejak
pertengahan abad 19 dan selanjutnya, cabang-cabang sosialisme yang lain jauh melebihi versi
utopisnya, baik dalam perkembangan pemikirannya maupun jumlah penganutnya. Para
sosialis utopis sangat penting dalam pembentukan pergerakan modern bagi komunitas
intentional dan koperasi, techno komunisme.Istilah “sosialisme ilmiah” kadang digunakan
oleh para penganut paham Marxisme untuk menguraikan versi sosialisme mereka, terutama
untuk tujuan membedakannya dari Sosialisme Utopis dimana telah terdeskripsi dan idealistis
(dalam beberapa hal mewakili suatu yang ideal) dan bukan ilmiah, yaitu, yang dibangun
melalui pemikiran dan berdasarkan pada ilmu-ilmu sosial.

7. Pemikir Utama Sosialisme Utopis


Robert Owen (1771-1858) adalah seorang pelaku bisnis sukses yang menyumbangkan
banyak laba dari bisnisnya demi peningkatan hidup karyawannya. Reputasi dia meningkat
ketika dia mendirikan suatu pabrik tekstil di New Lanark, Skotlandia dan memperkenalkan
waktu kerja lebih pendek, membangun sekolah untuk anak-anak dan merenovasi rumah-
rumah tempat tinggal pegawainya. Ia juga merancang suatu komunitas Owenite yang disebut
New Harmony (Keselarasan Baru) di Indiana, AS. Komunitas ini bubar ketika salah satu dari
mitra bisnisnya melarikan diri dengan membawa semua laba yang ada. Kontribusi utama
Owen bagi pikiran kaum sosialis adalah pandangan tentang dimana perilaku sosial manusia
tidaklah tetap atau absolut, dan manusia mempunyai kehendak bebas untuk mengorganisir diri
mereka ke dalam segala bentuk masyarakat yg mereka inginkan.
Otienne Cabet (1788-1856) dipengaruhi oleh pemikiran Robert Owen, di dalam
bukunya Travel and adventures of Lord William Carisdall in Icaria (1840) ia memaparkan
suatu masyarakat komunal idealis. Usaha nya untuk membuatnya kembali (gerakan Icarian)
gagal. Charles Fourier (1772-1837) sejauh ini adalah seorang sosialis yang paling utopis.
Menolak semua tentang Revolusi Industri dan semua permasalahan yang timbul
menyertainya, ia membuat berbagai pendapat fantastis tentang dunia yang ideal yang ia
impikan. Selain beberapa kecenderungan yang jelas-jelas tidak sosialis, ia tetap memberi
kontribusi berarti bagi gerakan sosialis. Tulisan-tulisannya membantu Karl Marx muda dan
membantunya memikirkan teori alienasinya. Fourier juga seorang feminisme radikal.[]

30
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 04:
KOMUNISME

1. Pengertian Komunisme
Komunis mulai populer dipergunakan setelah revolusi di tahun 1830 di Peracis. Suatu
gerakan revolusi yang menghendaki perubahan pemerintahan yang bersifat parlementer dan
dihapuskannya raja. Istilah komunis, awalnya mengandung dua pengertian. Pertama, ada
hubungannya dengan komune (commune) suatu satuan dasar bagi wilayah negara yang
berpemerintahan sendiri, dengan negara itu sendiri sebagai federasian komune-komune itu.
Kedua, ia menunjukkan milik atau kepunyaan bersama. Pada esensinya adalah sebuah alra
berfikir berlandaskan kepada atheisme, yang menjadikan materi sebagai asal segala-galanya.
Ditafsirkannya sejarah berdasarkan pertarungan kelas faktor ekonomi. Karl Marx dan
Frederich Engels adalah tokoh utamanya dalam mengembangkan faham ini. 53
Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka
itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.Istilah komunisme sering
dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai
komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat
pula disebut “Marxisme-Leninisme”. Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari
peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun
pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai
membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa
berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi
“tumpul” dan tidak lagi diminati. Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem
sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi.
Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat
secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya
komunisme juga disebut anti liberalisme. Secara umum komunisme sangat membatasi agama
pada rakyatnya, dengan prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyatnya dari pemikiran
yang rasional dan nyata. Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya
Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan
sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang
masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

2. Ide Dasar Komunisme


Komunisme masa kini menitik beratkan empat ide: 1] Sekelumit kecil orang hidup
dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya
bergelimang papa sengsara, 2] Cara untuk merombak ketidakadilan ini adalah dengan jalan
melaksanakan sistem sosialis, yaitu sistem dimana alat produksi dikuasai negara dan
bukannya oleh pribadi swasta, 3] Pada umumnya, satu-satunya jalan paling praktis untuk
melaksanakan sistem sosialis ini adalah lewat revousi kekerasan, 4] Untuk menjaga
kelanggengan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran partai Komunis dalam jangka
waktu yang memadai.
Tiga dari ide pertama sudah dicetuskan dengan jelas sebelum Marx, sedangkan ide yang
keempat berasal dari gagasan Marx mengenai “diktatur proletariat”, sementara itu lamanya
berlaku kediktatoran Soviet sekarang lebih merupakan langkah-Iangkah Lenin dan Stalin
daripada gagasan tulisan Marx, Hal ini nampaknya menimbulkan anggapan bahwa pengaruh
Marx dalam Komunisme lebih kecil dari kenyataan sebenamya, dan penghagaan orang-orang

53
Abu Ridho, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (WAMY, 1999) hlm. 198.

31
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

terhadap tulisantulisannya lebih menyerupai etalase untuk membenarkan sifat “keilmiahan”


dari pada ide dan politik yang sudah terlaksana dan diterima.

3. Ciri-ciri Inti Masyarakat Komunis


Ciri-ciri inti masyarakat komunis adalah; 1] penghapusan hak milik pribadi atas alat-
alat produksi, 2] penghapusan kelas-kelas sosialisme, 3] menghilangnya negara, 4]
pengahpusan pembagian kerja. Kelas-kelas tidak perlu dihapus secara khusus sesudah kelas
kapitalisme ditiadakan karena kapitalisme sendiri sudah mengahapus semua kelas, sehingga
hanya tinggal proletariat. Itulah sebabnya revolusi sosialis tidak akan menghasilkan
masyarakat atas dan masyarakat bawah lagi. 54

4. Filsafat Perubahan Sosial dalam Manifesto Komunis55


Dalam materialisme dialektik, tindakan adalah yang pertama dan fikiran adalah yang
kedua. Aliran ini mengatakan bahwa tak terdapat pengetahuan yang hanya merupakan
pemikiran tentang alam; pengetahuan selalu dikaitkan dengan tindakan. Pada zaman dahulu,
menurut Marx, para filosof telah menjelaskan alam dengan cara yang berbeda-beda.
Kewajiban manusia sekarang adalah untuk mengubah dunia, dan ini adalah tugas dan misi
yang bersejarah dari kaum komunis. Dalam melakukan tugas ini, mereka tidak ragu-ragu
untuk mengambil tindakan dan menggunakan kekerasan guna mencapai maksud mereka.
Sesungguhnya, kebanyakan orang komunis percaya bahwa kekerasan adalah perlu untuk
menghilangkan kejahatan dari masyarakat.
Masyarakat, seperti benda-benda lain, selalu dalam proses perubahan. Ia tidak dapat
diam (statis) karena meteri itu sedniri bergerak (dinamis). Akan tetapi perubahan atau proses
perkembangan itu tidak sederhana, lurus atau linear. Selalu terjadi perubahan-perubahan yang
kecil, yang tidak terlihat, dan kelihatannya tidak mengubah watak benda yang berubah itu,
sampai terjadilah suatu tahap dimana suatu benda tidak dapat berubah tanpa menjadi benda
lain. Pada waktu itu terjadi suatu perubahan yang mendadak. Sebagai contoh, air dipanaskan
pelan-pelan, ia menjadi bertambah panas sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya secara
mendadak, pada suatu tahap, ia menjadi uap, dan terjadilah perubahan keadaan. Ada
perkembangan yang lalu dari perubahan kuantitatif yang sangat kecil dan tidak berarti,
kemudian menjadi perubahan yang penting terbuka dan kemudian menjadi perubahan
kualitas; terjadi juga suatu perkembangan dimana perubahan kualitatif terjadi dengan lekas
dan mendadak, berupa suatu loncatan dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. 56 Begitu
juga dalam hubungan ekonomi dari suatu masyarakat dan dalam pertarungan kepentigan
antara kelas, situasi revolusioner akan muncul. Jika ditafsirkan dengan cara ini maka
materialisme dialektik memberi dasar kepada perjuangan kelas dan tindakan revolusioner.
Pada tahun 1848 Karl Marx dan Freidrich Engels menerbitkan Manifesto Komunis,
suatu dokumen yang banyak mempengaruhi gerakan revolusioner. Akhirnya Karl Marx
menerbitkan karyanya yang besar, Das Kapital, Jilid pertama terbit pada tahu 1867. Marx
membentuk interpretasi ekonomi tentang sejarah, dan interpretasi tersebut telah berpengaruh
kuat selama seratus tahun terakhir ini. Bagi Marx faktor ekonomi adalah faktor yang
menentukan dalam perkembangan sejarah manusia. Sejarah digambarkan sebagai
pertempuran kelas, dimana alat-alat produksi, didistribusi dan pertukaran barang dalam

54
Franz Magnis-Suseno, Pemikian Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme
(Jakarta: Gramedia, 2000) hlm. 171.
55
Titus Smith Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat, Judul Asli: Living Issues in Philosophy, Seven
Edition, D. Van Nostrand Company, New York, 1979. Penerjemah: Prof. Dr. H.M. Rasjidi (Jakarta: Bulan
Bintang, 1984) h. 304-306.
56
Joseph Stalin, Dialectical and Historical Materialism (New York: Inter. Publisher, 1950) h. 8.

32
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

struktur ekonomi dari masyarakat menyebabkan perubahan dalam hubungan kelas, dan ini
semua mempengaruhi kebiasaan dalam tradisi politik, sosial, moral dan agama.
Terdapat lima macam sistem produksi, empat macam telah muncul bergantian dalam
masyarakat manusia. Sistem kelima diramalkan akan muncul pada hari esok yang dekat, dan
sekarang sudah mulai terbentuk.
Pertama, adalah sistem komunisme primitif. Sistem ini adalah tindakan ekonomi yang
pertama dan mempunyai ciri-ciri pemilikan benda secara kolektif, hubungan yang damai antar
perorangan dan tidak adanya tehnologi.
Kedua, adalah sistem produksi kuno yang didasarkan atas perbudakan. Cirinya adalah
timbulnya hal milik pribadi, yang terjadi ketika pertanian dan pemeliharaan binatang
mengganti perburuan sebagai sarana hidup. Dengan lekas, kelompok aristokrat dan kelas
tinggi memperbudak kelompok lain. Pertarungan kepentingan timbul ketika kelompok
minoritas menguasai sarana hidup.
Ketiga, adalah tingkatan dimana kelompok-kelompok feodal menguasasi penduduk-
penduduk. Pembesar-pembesar feodal menguasai kelebihan hasil para penduduk yghanya
dapat hidup secara sangat sederhana.
Keempat, timbulah sistem borjuis atau kapitalis dengan meningkatnya perdagangan,
penciptaan dan pembagian pekerjaan; sistem pabrik menimbulkan industrialis kapitalis, yang
memiliki dan mengontrol alat-alat produksi. Si pekerja hanya memiliki kekuatan badan, dan
terpaksa menyewakan dirinya. Sebagai giliran tangan menimbulkan masyarakat dengan
pengusaha kapitalis.
Sejarah masyarakat mulai pecahnya masyarakat primitif bersama adalah sejarah
pertarungan kelas. Selama seratus lima puluh tahun terakhir, kapitalisme industri dengan
doktrin self-interest (kepentingan diri sendiri)-nya telah membagi masyarakat menjadi dua
kelompok yang bertentangan: borjuis atau kelompok yang memiliki dan proletar atau kaum
buruh. Oleh karena kelas yang memiliki menguasai lembaga-lembaga kunci dari masyarakat
dan tidak mengizinkan perubahan besar dengan jalan damai, maka jalan keluarnya adalah
penggulingan kondisi sosial yang ada dengan kekerasan.
Setelah revolusi, menurut materialisme dialektik dan filsafat komunis, akan terdapat
dua tingkat masyarakat. Pertama tingkat peralihan, yaitu periode kediktatoran dari kaum
proletar. Dalam waktu tersebut orang mengadakan perubahan sosial yang revolusioner, dan
kelas-kelas masyarakat dihilangkan dengan dihilangkannya hak milik pribadi terhadap sarana
produksi, distribusi dan pertukaran (excange). Tingkat kedua setelah revolusi adalah tingkat
kelima dan tipe terakhir dari sistem produksi. Itu adalah “masyarakat tanpa kelas” atau
komunisme murni. Pada tingkatan tersebut bentrokan dan eksploitasi akan telah selesai, dan
semua orang, pria dan wanita akan terjamin kehidupannya yang layak. Negara tidak lagi
menjadi alat kelas dan dialektik tidak berlaku lagi dalam masyarakat tanpa kelas. Akan
terdapat kemerdekaan, persamaan, perdamaian dan rizki pun melimpah. Masyarakat akan
menyaksikan realisasi kata-kata: dari setiap orang menurut kemauannya, bagi setiap orang
menurut kebutuhannya.

5. Kedudukan Proletariat dalam Komunisme


Komunisme adalah doktrin mengenai keadaan bagi kemerdekaan proletariat.57 Bahwa
terwujudkanya komunisme membutuhkan keniscayaan terciptanya proletariat, dan proletariat
adalah Proletariat merupakan kelas dalam masyarakat yang hidup hanya dengan menjual
tenaga kerjanya dan tidak menarik keuntungan dari mana-mana jenis kapital; kebiluran dan
kesengsaraan mereka, hidup dan mati mereka, kewujudan semena-mena mereka bergantung
kepada keperluan tenaga pekerja–dan oleh kerana itu, bergantung kepada keadaan perniagaan
57
Diambil dari Prinsip-prinsip Komunisme, oleh Frederick Engels, Ditulis pada Oktober-November
1847, Dari Selected Works, Jilid1, muka surat 81-97, diterbitkan oleh Penerbit Progress, Moskow; 1969.

33
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

yang senantiasa berubah, dan ketidak-tentuan persaingan yang tidak terkawal. Proletariat, atau
kelas proletariat, merupakan, dalam sekata dua, kelas pekerja abad ke-19.58

[Mukadimah] Pada tahun 1847, Engels menulis dua program draf untuk Liga Komunis dalam
bentuk soalan bersiri, satu pada bulan Jun dan satu pada bulan Oktober. Yang kedua, yang
dikenali sebagai Prinsip-prinsip Komunis, diterbitkan buat kali pertama pada tahun 1914.
Dokumen Draf Pengakuan Keimanan Komunis yang lebih awal, hanya dijumpai pada tahun
1968. Ia diterbitkan buat kali pertama pada tahun 1969 di Hamburg, dengan empat dokumen
yang lain berkaitan dengan kongres pertama Liga Komunis, dalam risalah bertajuk Grundungs
Dokumente des Bundes der Kommunisten (Juni bis September 1847) atau Dokumen Pengasas
Liga Komunis. Di Kongress Liga Keadilan pada bulan Jun 1847, yang juga merupakan kongres
pengasasan Liga Komunis, mereka mengambil keputusan untuk meluluskan sebuah draf
‘pengakuan keimanan’ untuk diperdebatan oleh Liga itu. Dokumen yang dijumpai itu sudah
pasti merupakan draf ini. Bandingan di antara dua dokumen itu menunjukkan bahawa Prinsip-
prinsip Komunisme merupakan edisi yang disemak. Dalam Prinsip-Prinsip Komunisme, Engels
tidak menjawab tiga soalan, dalam dua kes dengan nota ‘tidak berubah’ (bleibt); ini jelasnya
merujuk kepada jawapan yang diberi dalam draf awal. Draf baru untuk program ini diusahakan
oleh Engels di bawah arahan badan pemimpin Liga Komunis cawangan Paris. Arahan tersebut
disetujui selepas kritikan tajam Engels pada 22hb Oktober, 1847 terhadap program draf yang
ditulis oleh ‘sosialis benar’ Moses Hess, yang kemudiannya ditolak. Sambil mempertikaikan
Prinsip-Prinsip Komunisme sebagai draf awal, Engels menyatakan pendapat beliau, dalam surat
kepada Karl Marx bertarikh 23-24hb November 1847, bahwa ia mungkin baik untuk
mengetepikan susunan soalan bersiri dan menulis sebuah program dalam bentuk manifesto.
“Timbangkanlah Pengakuan Keimanan sedikit. Saya percaya kita harus mengetepikan sususan
soalan bersiri dan memanggilkannya: Manifesto Komunis. Kerana sedikit sebanyak sejarah
harus dikaitkan dengannya, cara susunannya sekarang tidak berapa sesuai. Saya akan membawa
apa yang saya sudah selesaikan dengan saya; ia dalam susunan penceritaan, tetapi tidak ditulis
dengan baik, kerana saya menulisnya dengan cepat…” Pada kongres kedua Liga Komunis (9
November – 8 Desember 1847), Marx dan Engels mempertahankan prinsip-prinsip saintifik
komunisme dan diberi tugas menulis program dalam bentuk manifesto untuk Parti Komunis.
Dalam menulis manifesto tersebut, pengasas Marxsisme menggunakan kalimah-kalimah yang
ditulis dalam Prinsip-prinsip Komunisme. Engels menggunakan ungkapan Manufaktur dan
usulan seperti itu, yang telah diterjemahkan sebagai ‘pengeluaran,’ ‘bidang pengeluaran’ dan
sebagainya. Engels menggunakan perkataan ini secara benar, untuk menandakan pengeluaran
dengan tangan, bukannya pengeluaran kilang, yang Engels memberi nama ‘industri besar.’
Manufaktur berbeda daripada kraftangan (pengeluaran tukang di pekan-pekan Zaman
Pertengahan), di mana kraftangan diusahakan oleh artisan bebas. Manufaktur diusahakan oleh
pekerja yang bekerja untuk pedagang kapitalis, atau oleh kumpulan tukang kraf yang bekerja di
bengkel-bengkel besar yang dimiliki oleh kapitalis. Oleh kerana itu, ia merupakan keadaan
peralihan di antara kesatuan tukang (kraftangan) dan cara pengeluaran moden (kapitalis).
Dalam karya mereka yang ditulis pada waktu-waktu lain, Marx dan Engels menggantikan
ungkapan ‘penjualan tenaga pekerja,’ ‘nilai tenaga pekerja’ dan ‘harga tenaga pekerja’ yang
digunakan di sini dengan ungkapan ‘penjualan kuasa tenaga pekerja,’ ‘nilai kuasa tenaga
pekerja’ dan ‘harga kuasa tenaga pekerja’ (yang diperkenalkan oleh Marx) yang lebih tepat.

Proletariat menjelma semasa revolusi perindustrian, yang berlaku di England pada


hujung abad ke-18, dan yang diulangi di setiap negara bertamadun di seluruh dunia. Revolusi
perindustrian ini dijana oleh penciptaan enjin stim, mesin menenun mekanikal dan pelbagai
peralatan mekanikal yang lain. Mesin-mesin ini, yang begitu mahal sekali dan, oleh karena
itu, hanya dapat dibeli oleh kapitalis besar, mengubah cara pengeluaran dan mengambil
tempat bekas pekerja, kerana mesin-mesin tersebut menghasilkan komoditi yang lebih murah
dan lebih baik daripada yang dapat dihasilkan oleh para pekerja dengan roda penenun dan

58
Marx-Engels, Selected Works; Peking, Penerbit Foreign Languages, 1977.

34
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

penenun tangan mereka yang tidak memadai. Mesin-mesin tersebut menghadiahkan bidang
indutsri ke dalam tangan kapitalis besar dan menghancurkan nilai harta para pekerja
(peralatan, alat penenun dan sebagainya). Akibatnya, pihak kapitalis berjaya merangkul
kesemuanya dalam tangan mereka dan tidak terdapat apa-apa yang tinggal untuk para pekerja.
Ini menandakan pengenalan sistem perkilangan kepada industri tekstil. Selepas dorongan bagi
pengenalan mesin-mesin dan sistem perkilangan diberi, sistem ini menjalar dengan pantas ke
setiap bidang indutsri yang lain, khususnya pencetakan buku dan pengecapan kain, pembuatan
barangan tembikar, dan indutsri logam.
Pekerjaan-pekerjaan semakin dibahagikan di kalangan individu sehingga pekerja yang
dahulunya melaksanakan tugas yang menyeleruh, sekarang hanya melaksanakan sebahagian
daripada tugas tersebut. Pembahagian tugas ini membenarkan benda-benda dihasilkan dengan
lebih cepat dan lebih murah. Ia mengurangkan aktiviti pekerja kepada gerakan mekanikal
senang dan beterusan yang dapat dilaksanakan dengan lebih baik oleh mesin-mesin. Dalam
cara ini, segala industri tersebut jatuh, satu demi satu, di bawah kekuasaan stim, mesin-mesin
dan sistem perkilangan, seperti yang berlaku kepada penenunan dan penganyaman.
Tetapi, pada masa yang sama, bidang-bidang tersebut turut jatuh ke dalam tangan
kapitalis besar, dan para pekerja dilucutkan kebebasan mereka. Lama-kelamaan, bukan sahaja
pengilangan tulin bahkan juga kraftangan jatuh ke dalam cengkaman sistem perkilangan,
apabila kapitalis besar mengambil tempat tukang mahir kecil dengan mendirikan bengkel-
bengkel besar, yang lebih menjimatkan dan membenarkan pembahagian tugas yang lebih
terperinci. Begitulah hampir segala jenis pekerjaan diusahakan di kilang-kilang di setiap
negara bertamadun-dan, dalam hampir setiap bidang kerja, kraf-tangan dan pengeluaran telah
dilintasi. Proses ini telah menghancurkan kelas menengah lama pada tahap yang lebih teruk
lagi, khususnya tukang kraftangan kecil-kecilan; ia telah mengubah keadaan pekerja secara
menyeluruh; dan dua kelas baru telah diwujudkan yang, secara perlahan-lahan, sedang
menelan kelas-kelas yang lain. Ini merupakan: 1] Kelas kapitalis besar yang, di setiap negara
bertamadun, memiliki secara eksklusif segala keperluan hidup dan peralatan (mesin-mesin
dan kilang-kilang) dan bahan-bahan yang diperlukan untuk penghasilakn keperluan hidup. Ini
merupakan kelas borjuas, atau borjuasi. 2] Kelas yang tidak berharta, yang terpaksa menjual
tenaga pekerja mereka kepada borjuasi untuk mendapat, secara berbalas, keperluan hidup
untuk kesenangan mereka. Mereka diberikan nama kelas proletariat, atau pendek kata,
proletariat.

6. Sejarah Perkembangan Komunisme


Rusia, merupakan pusat kegiatan pembaharuan untuk menegakkan negara yang
berdasarkan faham komunisme setelah meletusnya Revolusi Bolshevik di tahun 1917. Pada
tahun 1919 didirikan Third International atau yang dikenal dengan Komunisme Internasional.
Sosialisme-komunis dikenal juga dengan istilah Boshevism, kelompok ini yang
memenangkan puncak revolusi di Rusia di tahun 1917 itu. Sebelumnya pada tahun 1989,
setelah berdiri Social Democracy Party yang membuka cakrawala berfikir baru bagi
parpenulis Rusia. Rapat kerja yang dilakukan di kota Perlizt dipenuhi dengan tantangan yang
tajam sesama mereka, sampai akhirnya kemudian terpecah menjadi dua golongan. Golongan
pertama memilih cara kerja memalui cara berjuang yang tidak revolusioner diberi nama
Menshevic atau kelompok minoritas. Adapun golongan kedua dengan pengikut mayoritas
memilih perjuangan dengan cara revolusioner, kelompok ini disebut Bolshevic. Golongan ini
berhasil memegang kekuasaan tertinggi di Rusia dibawah kepemimpinan Lenin, didukung
Trotsky59, yang dilanjutkan oleh Stalin, Kruschev, Beznev, Androvov, Chernenko sampai
Gorbachev.
59
Dalam pertarungan perebutan kekuasaan di Rusia sepeninggal Lenin, Trotsky orang kepercayaan
Lenin, pada akhirnya disingkirkan oleh Stalin sebagai penguasa baru Rusia. Trotsky memiliki perbedaan

35
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

7. Sistem Politik Komunisme


Secara teoretis, pemerintahan komunis yang didasarkan ideologinya memperlakukan
semua negara bagian mereka, rakyat dan cita-citanya menciptakan masyarakat sama rata-sama
rasa. Dalam kenyataannya kekerasan, penyingkiran lawan-lawan, pembuangan, pengasingan,
agitasi dan propaganda untuk menghancurkan bagi mereka yang tidak sejalan merupakan
tindakan yang biasa dan harus dijalankan dengan cara revolusioner dan radikal. Dengan
demikian ideologi komunisme dengan Marxisme-nya cenderung untuk melahirkan sistem
politik yang otoriter dan tiranik seperti yang diperlihatkan oleh penguasa Stalin dan Lenin di
Rusia, Mao Tse Tung di China, Fidel Castro di Kuba, Rezim Kemer Merah dengan Polpot
dan Khi Smpan di Kamboja, Kim Sung di Korea Utara, Afganistan di masa Babrak Karmal.
Sejumlah negara dikawasan Eropa Timur yang menjadi satelit Uni Sovyet seperti Hingaria,
Bulgaria, Jerman timur, Latvia, Lithuania, Estonia, Rumania, Polandia. Kemudian negara
dibawah Konfederasi Rusia yang menjadi Uni Sovyet seperti Georgia, Turkistan, Azerbaijan,
Turmikistan, Kazakstan, Armenia. Selain itu negara yang berporos kepada faham Marxis
dikawasan Afrika, Asia dan Amerika Latin.
Melalui partai komunis yang menganut single party memegang kekuasaan dengan
mutlak-diktator. Rakyat tidak mungkin mengembangkan buah pikirannya, apalagi melakukan
partisipasi politik yang berbeda dengan partai komunis yang berkuasa, termasuk untuk
mengemukakan kebijaksanaan partai negara. 60 Bagaimana Stalin dan Breznev, menumpas
sejumlah negara yang menuntut persamaan hak atau keinginan melepaskan diri dari satelit
Uni Sovyet seperti Geogia, Rumania, Polandia, Hongaria, Chekoslovakia dan Afganistan di
era 1950-an sampai 1970-an.
Dalam membawa misi komunismenya untuk mencapai dan menguasai politik dalam
masyarakat maupun negara, kalangan ini bila mungkin membentuk partai politik berupa partai
komunis. Dalam struktur politik, negara yang berfaham ideologi komunis menganut sistem
komando, hierarkis dari atas, dengan pola yang sentralistik, dan diktatur atas nama proletar,
sehingga sering disebut diktatur proletariat. Oleh karena itu dalam mengambil keputusan ada
tiga tingkat atau jalur untuk lahirnya suatu kebijakan politik, yakni; 1] Polit Biro (vanguard)
merupakan pimpinan tertinggi dan pemutus, 2] partai atau parlemen, 3] negara terakhir
masyarakat. Secara resmi, negara komunis mengaku kemajemukan masyarakat, sebagai
realisasinya ada wadah yakni partai. Akan tetapi masyarakat komunis, Marxisme, Leninisme
mengajarkan bahwa sosialisme dibentuk dan dipertahankan melalui “Kediktaturan
Proletariat.”61 Kediktaturan Proletariat dilakukan melalui partai hanya mungkin melalui
kediktaturan Polit Biro. Inilah doktrin Sentralisme Demokrasi.

8. Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Komunisme


Komunisme adalah suatu sistem perekonomian di mana peran pemerintah sebagai
pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak diperbolehkan
memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua
unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan
pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Namun tujuan sistem komunis tersebut belum pernah
sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara yang meninggalkan sistem komunisme
tersebut.
Lenin dalam melihat kemakmuran ekonomi yang menjadi syarat utama untuk mencapai
cita-cita komunis. Ia bersandar kepada tiga prinsip untuk mencapai tujuan tersebut: Pertama,
industrialisasi secara pesat, teruatama sekali dengan mengandalkan pembangunan indutri;

pendapat, disingkirkan dari Dewan Tertinggi Organisasi, kemudian terusir dari negaranya tahun 1928, serta
terbunuh di pengasingan.
60
Alfian, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1982) hlm. 45.
61
Firdaus Syam, op. cit., hlm. 59.

36
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kedua, perencanaan menyeluruh degan mengkoordinasikan kehidupan anggota masyarakat


secara seksama oleh suatu organisasi tehnik birokratis (kita harus meniru kapitalis); Ketiga,
perlembagaan persaingan sebagai cara untuk model dan rangsangan bagi usaha individu dan
kolektif, melalui pemberian rangsangan bagi kepentingan pribadi dalam bentuk gaji serta
imbalan yang tidak sama, dan insentif material dan jabatan untuk mereka yang ahli secara
tehnis dan cakap secara administratif. 62
Pada hakikatnya dalam penerapannya, ideologi komunisme dalam satu negara dengan
masyarakatnya tercipta bentuk pemerintahan serta sistem politiknya yang diktatur dan otoriter
penguasa dan partai terhadap rakyatnya. Dalam bidang ekonomi, telah menciptakan kelas
baru antara pemegang kekuasaan dengan rakyat, yakni ditindasnya hak rakyat dalam
berkreativitas dibidang ekonomi serta pemilikan. Dibidang sosial budaya telah menciptakan
manusia yang tidak lagi memiliki harkat kemanusiaan yang asasi dan universal.

9. Prinsip-prinsip Komunisme
Pertama, yang dimasud dengan ideologi komunisme ialah sistem politik, sosial,
ekonomi, dan kebudayaan berdasarkan ajaran Marxisme-Leninisme.
Kedua, ideologi komunis yang berasal dari pemikiran Marx memberikan ekspresi
harapan. Filsafat Marx yang komunis telah menyadarkan janji penyelamatan sosial. 63
Ketiga, orang komunis percaya bahwa historical materialis, sebab mereka memandang
soal-soal spiritual hanya sebagai efek sampingan hakikat dari keadaan perkembangan materi
termasuk ekonomi. Agama muncul menurut Marx disebabkan adanya perbedaan kelas sosial.
Agama menjadi produk perbedaan kelas. Agama merupakan perangkap yang dipasang kelas
penguasa untuk menjerat kelas proletariat yang tertindas. Apabila perbedaan kelas itu hilang,
maka agama dengan sendirinya akan lenyap sebab pada saat itu perangkap (agama) tidak
dibutuhkan lagi. 64 Komunisme juga tidak menerima pikiran orang lain (distrust of others
reasons), penyanggahan terhadap persamaan manusia (denial of human equality), dan
interpretasi secara ekonomi sistem terhadap sejarah (economic interpretation of history). Oleh
karena itu mereka tak segan-segan melakukan penipuan, pengkhianatan dan pembunuhan
untuk melenyapkan lawan-lawannya, meskipun dari anggota partainya sendiri. 65
Keempat, karena cara mencapai tujuan, sangat menghalalkan segala cara, sangat
menghalalkan kekerasan radikal, revolusioner dan perjuangan kelas, dengan sendirinya etika
tingkah laku didasarkan atas kekerasan (code of behavior of violence) serta tidak mengakui
pernyataan hak asasi manusia (denial of declaration of human right).
Kelima, cita-cita perjuangannya adalah membangun masyarakat tanpa negara, tanpa
kelas dengan konsep sama rata-sama rasa, ideologi komunis itu bersifat international dibidang
politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.
Keenam, pengendalian segala kebijakan berada ditangan segelintir orang yang diebut
Polit Biro, dengan sendirinya kebijakan ekonomi juga dilakukan secara tersentral (central
economic s ystem) dengan manajemen yang juga secara diktator (dictatoral management) dan
pemerintahan yang dikendalikan oleh sejumlah orang yang sedikit (government by the
few). 66[]

62
Ali Syariati, Kritik Islam atas Marxisme (Bandung: Mizan, 1983) hlm. 139.
63
Sjafruddin Prawiranegara, Agama dan Ideologi (Jakarta: Bulan Bintang, 1971) hlm. 9.
64
Murtadho Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah Kritik Islam atas Marxisme dan Teori lainnya, lihat
dalam Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat; Kajian Sejarah Perkembagan Pemikiran Negara, Masyarakat
dan Kekuasaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001) h. 292. Kajain mengenai Marxisme dalamperspektif
sosiologis dapat dilihat dalam tulisan Ali Syariati, Kritik atas Marxixme dan Aliran Barat Lainnya (Bandung:
Mizan, 1982).
65
Ibid.
66
Sukarna, Ideologi (Bandung: Alumni, 1981) hlm. 45, 48 dan 68.

37
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 05:
FASISME

1. Pengertian Fasisme
George Mosse menilai kemunculan fasisme sebagai reaksi terhadap liberalisme dan
positivisme 67 yang terlihat dari kecenderungannya yang ‘anti-intelektualisme’ (anti
intellectualism) dan dogmatisme. Fasisme merupakan manifestasi kekecewaan terhadap
kebebasan individual (individual freedom) dan kebebasan berfikir (freedom of thought).
Liberalsme dan positivisme, ini agak aneh, membuat individu ‘takut akan kebebasan’. dengan
menjadi fasis—menganut fasisme—individu merasa ‘bebas’ setelah melarikan diri dari
kebebasan. ia ‘menikmati’ kebebasan justru dalam belenggu kebebasan. Kemuncuan fasisme
juga merupakan ekses industrialisasi, modernisasi serta demokratisasi. Kemunculannya
merupakan reaksi terhadap berbagai kesenjangan, penderitaan berkepanjangan, rasa ketakutan
akan ketiadaan harapan masa depan yang lebih baik. Demokratisasi misalnya dianggap hanya
ilusi dan melahirkan dominasi dan hegemoni struktural minoritas terhadap mayoritas,
kebebasan anarkis dan lain-lain. Dalam kasus Jerman di masa perang Dunia I dan II,
kemunculan fasisme distimulasi oleh anarki sosial yang diakibatkan kekacauan domestik dan
politik internasional.
Fasisme ditinjau dari akar-akar pemikirannya tergolong unik. Ia, seperti dikatakan
Hayes merupakan percampuran berbagai teori yang paling radikal, reaksioner dan mencakup
berbagai gagasan ras, agama, ekonomi, sosial, dan moralitas akar-akar filosofis. Akar-akar
fasisme bisa dilacak dalam pemikiran Plato, Aristoteles, Hegel, Rosenberg, Doriot, Farinasi,
Gobinau, Sorel, Darwin, Nietzsche, Marinetti, Oswald, Spengler, Chamberlain dan lain-lain. 68
Jadi fasisme, memiliki akar-akar intelektual dan filosofis ratusan, bahkan ribuan tahun yang
lalu. Dalam bentuknya yang modern dan kontemporer, dan dalam formatnya yang par
exellence terjadi ketika Borneo Mussolini menguasai Italia (1922), Hitler dengan Nazinya
mendominasi Jerman (1933) Franco berkuasa di Spanyol (1936), Tenno Heika memerintah
Jepang (1930-an) dan Amerika Latin dimasa pemerintahan Juan Peron (1950-an).
Mussolini dan Hitler merupakan tokoh fasisme yang fenomenal. Fasisme merupakan
sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam
paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Kata fasisme
diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat
tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman
Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada
kekuasaan pejabat pemerintah. Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk
Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa
dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan
fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme
dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai
bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.

2. Konteks Sosial-Psikologis Fasisme


Munculnya fasisme dan komunisme di suatu negara disebabkan karena latar belakang
sosial yang berbeda. William Ebenstein mencatat bahwa komunisme pada umumnya lahir

67
Paul Hayes, Fascism (London: George Allen and Unwin Ltd., 1973) hlm. 17., dalam Ahmad Suhelmi,
Pemikiran Politik Barat; Kajian Sejarah Perkembagan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2001) hal. 333.
68
Paul Hayes, Fascism (London: George Allen and Unwin Ltd., 1973) hlm. 18.

38
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

dalam masyarakat yang masih terbelakang (underdevelopment societies)69 dengan struktur


sosial feodalistik-aristokratik da semi agraris. Komunisme dalam masyarakat demikian,
memiliki daya pikat yang kuat terhadap kelas-kelas sosial tertindas. Sehingga komunisme
dianggap sebagai ideologi penyelamat dan pemberi harapan akan masa depan yang lebh baik.
Dilain fihak fasisme umumnya, dengan pengecualian tertentu, muncul dalam masyarakat yang
telah maju (developed countries) dan makmur serta telah mengalami proses industrialisasi dan
modernisasi yang pesat serta relatif berhasil mengembangkan tehnologi tinggi (high
technology).70
Penelitian empirik membuktikan semakin modern dan semakin pesat masyarakat
mengalami industrialisasi, masyarakat itu semakin kurang merasa memiliki (sense of
belonging) atas segala sesuatu disekitarnya. Rasa tak memiliki itu mengakibatkan masyarakat
industrial dan modern itu dihinggapi rasa frustasi, marah dan merasa tidak aman dalam
menghadapi berbagai persoalan hidup dan memiliki watak vandalistik dan destruktif. Kondisi
psikologis ini memberikan lahan subur bagi munculnya fasisme. Fasisme juga lahir dalam
negara yang mengalami kegagalan demokratisasi. Dengan kata lain, fasisme akan mudah
berkembang dalam negara post-democracy,71 negara yang ‘pernah’ mengalami demokrasi.
Kegagalan proses demokratisasi, yang disebabkan faktor domestik dan internasional,
memberikan lahan subur bagi pertumbuhan fasisme. Indikator kegagalan itu diantaranya
sentralisasi kekuasaan pada segelintir elit penguasa, terbentuknya monopoli dan oligopoli
dibidang ekonomi, besarnya tingkat pengangguran baik dikalangan kelas bawah seperti buruh,
petani atau kelas menengah atas seperti cendekiawan, kaum industrialis maupun pemilik
modal (kapitalis).
Masyarakat luas kecewa terhadap demokrasi yang dianggap hanya ilusi keadilan politik
dan tidak dapat dijadikan standar nilai bagi pembentukan sistem politik-ekonomi yang lebih
baik. Kekecewaan itulah yang menyebabkan fasisme memperoleh basis legitimasi dan
dukungan luas massa berbagai kalangan industrialis, buruh, petani, cendekiawan, dan perwira
militer. Itu berbeda dengan latar belakang struktur sosial politik tempat bekambangnya
komunisme. Faham Marxis-Leninis itu cenderung akan berkembang dalam masyarakat pra-
demokrasi dengan mayoritas penduduk belum mengalami ‘pendewasaan politik’, struktur
sosialnya yang hierarkis-tradisional.
Erich Fromm dalam Escape from Freedom72 menguraikan teori menarik mengenai
konteks psikologis fasisme. Ia berteori bahwa ada kaitan erat antara vaiabel-variabel ekonomi
dengan variabel psikologis. Karena itu from menolak tesis fasisme semata-mata muncul
sebagai akibat determinisme ekonomi, kecenderungan-kecenderungan ekspansif
imperealisme-kapitalisme atau penaklukan negara oleh partai tunggal yang didukung kaum
industrialis dan The Jungkers. Fromm juga keberatan dengan tesis L. Mumford yang menilai
fasisme semata-mata sebuah fenomena psikopatologi yang tidak terkait dengan determinisme
ekonomi. Teori psikopatologis memiliki asumsi bahwa fasisme tidak lain merupakan sebuah
manifestasi mereka yang mengidap penyakit neurotik (neurotic), kegilaan (madness), dan
berkepribadian tidak seimbang (mentally unbalanced).
Berpijak pada kasus Jerman, Fromm berteori bahwa variabel-variabel psikologis
fasisme tidak berdiri sendiri sebab ia terbentuk oleh variabel-variabel ekonomi. Nazisme
misalnya, memang merupakan masalah ekonomi (dan politik) tapi sepenuhnya bisa difahami
bila melihatnya dari pendekatan psikopatologi. Hal terakhir inilah yang dibahas Fromm dalam
karyanya diatas. Variabel psikologis itu menurut Fromm adalah keadaan mental yang letih

69
William Ebenstein, Today Isms; Communism, Fascism, Capitalism, Socialism (New Jersey: Prentice-
Hall, Inc., 1970) hlm. 121.
70
Ibid. hlm. 121.
71
Ibid.
72
Erich Fromm, Escape from Freedom (New York: Avon Books, 1965)

39
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

dan pasrah total. Keadaan psikologis ini dialami para pekerja Jerman sesudah Revolusi 1918.
Dan pada pasca perang mereka memiliki harapan-harapan besar akan terjadinya perbaikan
ekonomi, sosialisme, politik. Tetapi semuanya hancur tahun 1930 akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Krisis itu mengakibatkan penderitaan diluar batas kesanggupan mental kelas
pekerja untuk menanggungnya. Akhirnya mereka letih dan pasrah menghadapi persoalan
hidup dan merasa kurang percaya (skeptis) terhadap akseptabilitas dan kapabilitas para
pemimpin dan semua organisasi politik di Jerman.

3. Latar Belakang Individu dalam Perkembangan Fasisme


Menurut Eberstein73 perkembangan fasisme juga dilatarbelakangi oleh kecenderungan-
kecenderungan tertentu dalam kepribadian individu-individu dalam masyarakat. Pertama,
kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri secara terpaksa dengan cita-cita dan
praktik-praktik kuno. Kedua, kepribadian yang kaku secara emosional dan kurang memiliki
imajinasi intelektual yang luas dan terbuka. Individu bersangkutan berpandangan ‘inward
looking’ dan menilai sesuatu secara hitam putih. Ketiga, individu memiliki watak
mementingkan status dan kekuasaan atau pengaruh. Ia merasa dengan memiliki keduanya
akan dapat mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya. Keempat, individu tersebut
memiliki kecenderungan loyalitasyg kuat pada kelompoknya sendiri. Ia melihat kelompoknya
sebagai yang kuat, memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandigkan dengan kelompok-
kelompok lainnya. Kadang individu seperti itu merasa benar sendiri, yang lainnya salah.
Kelima, ia memiliki disiplin dan kepatuhan yang kuat dan cenderung kurang Sunan Kalijaga
akan kebebasan dan spontanitas dalam hubungan-hubungan kemanusiaan.

4. Doktrin dan Gagasan Utama Fasisme


Fasisme memiliki gagasan-gagasan dan doktrin-doktrin, sebagaimana diuraikan oleh
Hayes74, Ebenstein75, dan Bracher 76; doktrin Pertama, adalah gagasan mengenai Mitos Ras
Unggul (the myth of race). Konsep keunggulan atau superioritas ras merupakan doktrin
sentral fasisme. Menurut fasisme secara rasial manusia tidak sama. Ada ras superior dan ras
inferior. Ras superior inilah yang telah ditentukan secara alamiah akan menjadi penguasa atas
ras inferior. Mereka berhak untuk memperbudak ras inferior. Atas dasar mitos ras itu
Gobineau mengembangkan gagasan anti-egalitarianisme. Masyarakat manusia menurutnya
bersifat hierarkis. Ada yang secara alamiah ditakdirkan jadi penguasa dan dikuasai tergantung
dari jenis ras apa mereka berasal. Maka menurutnya elit merupakan lapisan sosial yang paling
esensial bagi usaha melestarikan masyarakat manusia yang beradab. 77
Kedua, Doktrin Anti-Semitisme. Mitos ras itu melahirkan sikap-sikap kebencian
mendalam kepada ras lain, khususnya Yahudi. Kebencian itu termanifestasi dalam berbagai
bentuk. Dari bentuknya yang paling ‘halus’ seperti sindiran dan caci maki hingga bentuknya
yang paling vulgar dan kejam seperti penyiksaan dan pembantaian massal terhadap orang-
orang Yahudi. Dalam terminologi Barat, sikap-sikap demikian dinamakan anti-semitisme.
Inilah doktrin fasisme kedua yang berkembang pesat di Jerman pada masa perang Dunia I dan
II. Bila dilacak akar historis kulturalnya sebenarnya telah berkembang di Eropa sejak ratusan,
bahkan ribua tahun yang lalu.

73
Diringkas dari Eberstein, op. cit., hlm. 127-131. Tinjauan psikoanalisis mendalam dan kritis tentang
kepribadian seorang fasis otoriter bisa dibaca dalam T. W. Adorno, The Authoritarian Personality (New York:
Harper & Row, 1950).
74
Paul Hayes, Fascism (London: George Allen and Unwin Ltd., 1973).
75
William Ebenstein, Today Isms; Communism, Fascism, Capitalism, Socialism (New Jersey: Prentice-
Hall, Inc., 1970).
76
Karl Dietrich Bracher, The German Dictatorship; The Origins, Structure and Consequences of
National Socialism, Trans. By J. Steinberg (London: Penguin Book, 1988).
77
Paul Hayes, op. cit., hlm. 23.

40
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Berdasarkan kajian Dimont 78, Arendt79, Sartre80 dan Stokes81 bisa dikatakan bahwa
anti-semitisme telah terjadi ribuan tahun lalu di Mesir ketika Fir’aun berkuasa. Yahudi disiksa
dan dijadikan budak, menjadi objek penyiksaan dan diusir ketika Nebukadnezar menguasai
Babilonia. Dimasa Imperium Romawi, orang-orang Yahudi mengalami penderitaan
berkepanjangan akibat loyalitas mereka diragukan penguasa imperium. Di abad pertengahan,
Yahudi juga mengalami penderitaan lahir batin karena mitos dan cerita takhayul yang
berkembang pada masa itu menganggap mereka sebagai ‘Penghianat Kristus’ saingan umat
Kristen sebagai ‘orang-orang pilihan’ (the chosen people) kaki tangan setan, penyembah-
penyembah setan dan hantu yang berwujud manusia.
Ketiga, Doktrin Totalitarianisme. Giovanni Gentile (1819-…), seorang ideolog fasis
menilai fasisme sebagai suatu doktrin totaliter. Artinya, fasisme tidak sekedar suatu istem
organisasi politik atau pemerintahan melainkan juga keseluruhan kehendak (will), pemikiran
(thought), dan perasaan (feeling) suatu bangsa.82 Jadi watak dasar fasisme menurut Gentile
adalah ‘totaliter’, komprehensif dan mencakup semua. Doktrin totalitarianisme dalam fasisme
ini memiliki akar-akar intelektualnya dalam gagasan-gagsan Herakleitus, Palto, Aristoteles
dan Hegel.
Menurut pemikir Yunani Kuno Herakleitus, totalitarianisme muncul dari kepercayaan
bahwa dunia merupakan suatu totalitas. Sesuatu yang ada di dunia ini merupakan bagian
integral dari tatanan keseluruhan dan kesatuan. Individu misalnya, hanya akan berarti bila
mereka dalam totalitas kolektif individu. Gagasan Plato yang digunakan sebagai dasar
perumusan doktrin totalitarianisme fasis adalah teori negara kesatuan, komunisme primitif,
etos kemiliteran Sparta, dan kesatuan antara kepentingan individu dengan kepentingan negara.
Sumbangan Aristoteles adalah gagasannya tentang negara organik, sistem etika sosial terpadu,
pembenaran fisik dan moral terhadap perbudakan manusia oleh manusia. Mengenai yang
terakhir Aristoteles menulis bahwa kelas inferior haruslah dijadikan budak bagi kelas
superior.83
Hegel merupakan filosof yang gagasannya paling banyak dijadikan sebagai dasar
doktrin totalitarianisme fasis. Menilai Hegel dalam meletakkan dasar intelektual
totalitarianisme fasis, Karl Popper menyebut Hegel sebagai; “the seminal factors in the rise of
totalitarian philosophy and fascist practice” dan “link between totalitarian philosophy of the
past and of the present.” Hegel, misalnya kata Karl Popper, telah menemukan kembali
gagasan-gagasan Plato tentang pemberontakan dan kebebasan dan akal. 84 Menurut Hayes,
Hegel telah memperkenalkan pada masyarakat politik dan intelektual Jerman suatu filsafat
aneh dan unik yang sepenuhnya bernuansa totalitarianisme. Filsafatnya adalah suatu
pencampuran berbagai gagasan mistisisme, universalisme, aristokratisme, anti-demokrasi dan
utilitarianisme. Pencampuran gagasan-gagasan itu, meskipun aneh dan tidak koheren tetap
memiliki daya pikat yang kuat bagi penganut fasisme di negara-negara Eropa, khususnya
Jerman. 85
78
Lihat Max Dimont, Jews, God and History (The New York: The New York American Library, 1962)
juga The Indestructible Jews ((The New York: The New York American Library, 1973).
79
Hannah Arendt, Anti-Semitisme, Part one of the Origins of Totalitarianisme (New York: Harcourt and
Brace World. Inc., 1968).
80
Jean Paul Sartre, Anti-Semite and The Jew, Trans. By George J. Backer (New York: Schoker Books,
1972)
81
Roger Stokes, The Jew, Rome and Armageddon (Adelaide Hills Christadelphian Ecclesia, 1987)
82
Hitler dikutip dalam David Coopeman and Walter, Power and Civilizations, Political Thought in The
Twetieth Century (New York: Thomas Y. Crowell Company, 1962) hlm. 261.
83
Aristoteles dikutip dalam Hayes, op. cit., hlm. 50.
84
Ibid., hlm. 40. Pemikiran Popper tentang Hegel bisa ditelaah dalam karya karya monumentalnya, The
Open Society and Its Enemiesm vol. II., The High Tide of Propechy Hegel and Marx, The Aftermath (London:
Routledge and Keagan Paul, 1962).
85
Hayes, op. cit., hlm. 45.

41
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Doktrin negara totaliter fasis yang berprinsip bahwa negara merupakan pusat dan tujuan
akhir eksistensi manusia memiliki akar intelektualnya dalam gagasan kenegaraan Hegel.
Filosof Jerman ini mengatakan bahwa keberadaan suatu bangsa, dan tujuan subtansialnya
haruslah negara. Maka, negara merupakan dasar dan pusat seluruh unsur-unsur kongkret
dalam kehidupan manusia seperti seni, hukum, moral, agama, dan ilmu pengetahuan. 86 Disisi
lain Hegel juga mengemukakan gagasan negara organis yang diterapkan dalam praktik
fasisme di Jerman. Negara organis adalah negara yang tidak memiliki kewajiban moral
terhadap individu-individu. Ia bebas melakukan apapun yang dikehendakinya tanpa harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya secara moral kepada siapapun.
Keempat, Doktrin tentang Elite dan Pemimpin. Fasisme percaya bahwa manusia secara
alamiah telah ditentukan untuk menjadi penguasa (the ruler) dan yang dikuasai (the ruled).
Jadi, ada sebagian manusia yang memiliki kualitas kemanusiaan superior dan yang lainnya
tidak memiliki kualitas itu. Pandangan ini merupakan konsep dari ocial destiny dalam
fasisme. Menurut doktrin ini massa (rakyat) tidak berhak dan tidak memiliki kemampuan
memerintah sebab hanya kelompok elite yang memiliki kualitas itu. Demokrasi, dengan
demikian hanyalan ilusi politik yang tak akan pernah terwujud dalam kenyataan. Doktrin ini
memiliki akar pemikirannya dalam tradisi intelektual Plato, Aristoteles, Machiavelli, Hobbes,
Fichte, Herder, dan Hegel.
Di Jerman, Herder mengkombinasikan gagasan elitisme ini dengan semangat
nasionalisme dan penolakan terhadap rasionalisme. Hasilnya adalah sebuah kredo intelektual
dan filsafat yang secara berhasil digunakan untuk membangkitkan kesadaran nasionalisme
dan kesadaran elite Jerman. Kesadaran itu membuat bangsa Jerman yakin bahwa mereka
adalah manusia pilihan yang berhak menguasai dan memerintah dunia. Hegel dilain pihak
juga merumuskan premis-premis yang dijadikan alat pembenaran doktrin fasisme ini. Hegel
berpendapat bahwa sejarah dunia tidak lain hanyalah sejarah orang-orang besar. Manusia
unggul, atau meminjam konsep Hegel heroic leader (pemimpin heroik), yang sebenarnya
‘pencipta’ sejarah kemanusiaan dan peradaban, bukan massa. Doktrin ini berpegaruh da
diterima oleh para nasionalis dan fasis Eropa, khususnya di Jerman dan Italia. Mussolini dan
Hitler mengakui dipengaruhi oleh konsep ‘heroic leader’ Hegel ini. Pengaruh Hegel ini
tampak dalam tulisan Hitler ketika ia menulis bahwa dalampendapat umum, semuanya salah
dan semuanya orang besar. Dan, untuk menemukan apa yang benar merupakan tugas orang
besar (The Great Man). Orang besar inilah yang mampu mengekspresikan kehendak
zamannya, dan pelaksana kehendak itu.

5. FASISME: Apa Itu dan Bagaimana Melawannya, Leon Trotsky [1944] 87


5.1 Kata Pengantar Edisi 196988
Kaum liberal dan bahkan kebanyakan dari mereka yang menganggap dirinya Marxis
bersalah atas penggunaan kata ‘fasis’ secara berlebihan seperti yang terjadi hari-hari ini.
Mereka mengumbarnya sebagai label atau kutukan politis terhadap khususnya figur-figur
sayap kanan yang mereka benci, atau terhadap kaum reaksioner secara umum. Sejak Perang
Dunia Kedua, label fasis telah dilekatkan pada figur-figur dan gerakan-gerakan seperti Gerald
L. K. Smith, Senator Joseph McCarthy, Senator Eastland, Barry Goldwater, Minutemen, John
Birch Society, Richard Nixon, Ronald Reagan, dan George Wallace. Apakah mereka
86
Ibid., hlm. 45.
87
Sumber: Fascism: What It is and How to Fight It, Leon Trotsky, 1944. Diterjemahkan oleh Dewey
Setiawan. Diedit oleh Ted Sprague (Oktober 2007). Kompilasi pertama dari pamflet Trotsky melawan Fasisme
diterbitkan oleh Pioneer Publishers pada Agustus 1944 dan dicetak kembali oleh penerbit yang sama pada tahun
1964. Kompilasi edisi revisi ini diterbitkan pada April 1969 dan di pindah-mediakan ke dalam Internet oleh
Zodiac, mantan direktur Marx-Engels Internet Archive, Agustus 1993. Pamflet ini tidak dilindungi oleh hak
cipta.
88
Oleh George Lavan Weissman

42
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

semuanya betul-betul fasis, atau beberapa saja? Jika hanya beberapa saja, lalu bagaimana
orang bisa membedakannya?
Bebasnya penggunaan istilah fasis menunjukkan kekaburan makna dari istilah itu
sendiri. Saat diminta untuk mendefinisikan fasisme, kaum liberal menjawab dengan istilah-
istilah seperti kediktatoran, nerosis massa, anti-Semitisme, kekuatan propaganda jahat, efek
hipnotik seorang orator jenius-sinting pada massa dan seterusnya. Impresionisme dan
kebingungan kaum liberal bukanlah hal yang terlalu mengherankan. Berbeda dengan
Marxisme yang mempunyai keunggulan untuk menganalisa dan membedakan fenomena
sosial dan politik. Bahwasanya banyak dari mereka yang mengaku dirinya Marxis tak bisa
mendefinisikan fasisme lebih baik dari kaum liberal bukanlah kesalahan mereka seluruhnya.
Entah mereka sadar atau tidak, kebanyakan dari warisan tradisi intelektual mereka bersumber
dari kubu sosial demokratik (sosialis reformis) dan gerakan-gerakan Stalinis, yang
mendominasi kaum kiri di era 1930-an, yaitu pada saat fasisme meraih kemenangan demi
kemenangan yang gemilang. Gerakan-gerakan ini tidak hanya mengizinkan Nazisme merebut
kekuasaan di Jerman tanpa adanya satupun perlawanan yang berarti, namun juga gagal
memahami sifat dan dinamika fasisme and cara untuk melawannya. Setelah kemenangan
fasisme, mereka memiliki banyak hal yang harus disembunyikan dan maka dari itu mereka
menarik diri dari usaha untuk membuat analisa Marxis yang, paling tidak, bisa mendidik
generasi-generasi selanjutnya.
Akan tetapi, ada sebuah analisa Marxis tentang fasisme. Analisa ini dibuat oleh Leon
Trotsky, bukan sesudah kehancuran Fasisme, namun dalam masa kejayaannya. Ini adalah
salah satu sumbangsih Trotsky yang terbesar kepada Marxisme. Dia memulai pekerjaan ini
sesudah kemenangan Mussolini di Italia pada tahun 1922 dan mempergencar usaha itu di
tahun-tahun sebelum kemenangan Hitler di Jerman pada tahun 1933.
Dalam usahanya untuk membangkitkan Partai Komunis Jerman dan Komunis
Internasional (Komintern) dari ancaman fatal dan menciptakan sebuah Front-persatuan
melawan Nazisme, Trotsky membuat kritik komprehensif terhadap kebijakan-kebijakan kaum
sosial demokrat dan partai-partai Stalinis. Karya ini merupakan peringatan atas posisi bunuh
diri, tidak-efektif dan keliru yang dapat diambil oleh organisasi-organisasi buruh dalam
menghadapi fasisme, karena posisi partai-partai di Jerman yang cuma berkisar dari
oportunisme dan pengkhianatan dari pihak kanan (sosial demokratik) sampai kemandulan dan
pengkhianatan ultra-kiri (Stalinis).
Gerakan Komunis masih dalam kondisi kemabukan ultra-kirinya (apa yang disebut
sebagai Periode Ketiga) saat gerakan fasis mulai berkembang dengan pesat bak bola salju
yang menggelinding. Bagi kaum Stalinis, setiap partai kapitalis secara otomotis adalah ‘fasis’.
Yang lebih parah dari tindakan yang mendisorientasi kelas pekerja semacam ini adalah
pernyataan terkenal dari Stalin bahwa fasisme dan sosial demokrasi adalah “kembar” dan
bukan saling bertentangan. Atas dasar itu, kaum sosialis disebut sebagai ‘sosial fasis’ and
dianggap sebagai musuh utama. Sebagai akibat dari langkah ini, pembentukan front persatuan
dengan organisasi-organisasi sosial-fasis menjadi tidak dimungkinkan lagi, dan mereka yang
menuntut front-front semacam itu, seperti halnya Trotsky, dituduh juga sebagai sosial fasis
dan diperlakukan sebagaimana layaknya seorang sosial fasis.
Begitu jauhnya garis kaum Stalinis dari kenyataan bisa dilihat dari penerjemahan
konsep ini dalam konteks Amerika. Pada pemilu tahun 1932, kaum Stalinis Amerika
mengutuk Franklin Roosevelt sebagai kandidat fasis dan Norman Thomas sebagai kandidat
sosial fasis. Apa yang konyol dalam konteks politik Amerika Serikat ini menjadi hal yang
tragis dalam kasus Jerman dan Austria.
(Baru-baru ini [1969], istilah sosial fasisme mulai muncul lagi dalam artikel-artikel
anggota gerakan kiri baru. Apakah mereka yang menggunakan istilah itu berfikir bahwa

43
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

merekalah yang menciptakannya? Atau, jika mereka sadar akan sejarah, apakah mereka acuh
tak acuh terhadap konotasi istilah tersebut?)
Setelah Nazi merebut kekuasaan, kaum Stalinis menyombongkan diri dengan
mengatakan bahwa garis politik mereka 100 persen benar, bahwa Hitler hanya dapat bertahan
dalam beberapa bulan saja, dan bahwa Soviet Jerman akan bangkit sesudahnya. Batas waktu
untuk keajaiban ini ternyata molor dari tiga, enam, sampai sembilan bulan, dan selanjutnya
bualan-bualan itu menghilang dalam kebisuan. Tingkat kekalahan yang diderita kelas pekerja,
yang merupakan sifat khusus dari fasisme, yang membedakannya dari rezim atau kediktatoran
reaksioner lainnya, menjadi nyata untuk semua orang, dan ancaman terhadap Uni Soviet atau
kehadiran imperialisme Jerman yang dipersenjatai kembali mulai menjadi nyata. Hal ini
membawa perubahan dalam garis politik Moskow di tahun 1935 dan partai-partai Komunis di
seluruh penjuru dunia berzigzag jauh ke kanan, bahkan ke posisi kanan kubu sosial demokrat.
Ini adalah posisi mereka di hadapan bahaya fasis yang menyebar di Prancis dan Jerman.
Kehancuran militer fasisme Jerman dan Italia dalam Perang Dunia Kedua meyakinkan
mayoritas orang bahwa fasisme telah dimusnahkan untuk selamanya dan didiskreditkan
sampai titik di mana dia tak bisa menarik pengikut lagi. Peristiwa-peristiwa semenjak itu,
khususnya kebangkitan kelompok dan tendensi fasis baru di hampir semua negara kapitalis,
telah mementahkan harapan semacam itu. Ilusi bahwa Perang Dunia Kedua dilakukan untuk
menjadikan dunia aman dari bahaya fasisme telah lenyap seperti ilusi sebelumnya bahwa
Perang Dunia Pertama dilakukan untuk menjadikan dunia aman bagi demokrasi. Bibit fasisme
merupakan karakter khusus di dalam kapitalisme; sebuah krisis dapat meningkatkannya ke
level epidemik kecuali bila penanganan-penanganan yang drastis diterapkan atasnya.
Karena peringatan awal telah datang, kami menawarkan kompilasi baru ini—sebuah
kumpulan kecil tulisan terpilih dari Trotsky mengenai fasisme–sebagai sebuah sumbangan
bagi gudang senjata anti fasis.

5.2 Apakah Fasisme Itu?89


Apakah fasisme itu? Istilah ini berasal dari Italia. Apakah semua bentuk kediktatoran
kontra-revolusioner itu bisa disebut fasis? (Katakanlah sebelum kedatangan fasisme di Italia).
Kediktatoran Primo de Rivera di Spanyol, 1923-30, disebut sebagai kediktatoran kaum
fasis oleh Komintern. Benarkah hal itu? Kami percaya bahwa pendapat itu salah.
Gerakan fasis di Italia adalah sebuah gerakan spontanitas massa yang masif, dengan
para pemimpin baru yang berasal dari rakyat biasa. Gerakan fasis Italia berasal dari gerakan
plebian (catatan: plebian berarti berasal dari rakyat biasa), disetir dan dibiayai oleh kekuatan
borjuis besar. Fasisme berkembang dari kaum borjuis kecil, kaum lumpenproletar, bahkan
pada tingkatan tertentu dari massa proletar; Mussolini, yang dulunya seorang sosialis, adalah
seorang yang “tumbuh dan besar sendiri” dari gerakan ini.
Di lain pihak, Primo de Rivera adalah seorang aristokrat. Dia pernah menempati posisi
birokrat dan militer tinggi dan pernah juga menjadi gubernur Catalonia. Dia meraih
kesuksesannya dalam perebutan kekuasaan dengan bantuan negara dan militer. Kediktaturan
Spanyol dan Italia adalah dua bentuk kediktaturan yang benar-benar berbeda. Adalah penting
untuk membedakan keduanya. Mussolini mengalami kesulitan dalam merekonsiliasi institusi-
institusi militer lama dengan milisi fasis. Masalah ini tidak dialami oleh Primo de Rivera.
Gerakan fasisme di Jerman secara umum lebih mirip dengan gerakan yang terjadi di
Italia. Gerakan tersebut adalah gerakan massa, yang pemimpinnya banyak menggunakan
demagogi sosialis secara luar biasa. Hal tersebut sangat dibutuhkan dalam pembentukan
gerakan massa.

89
Potongan-potongan surat Trotsky kepada seorang kamerad Inggris, 15 November 1931; dimuat di The
Militant, 16 Januari.

44
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Basis asli (bagi fasisme) adalah borjuis kecil. Di Italia, mereka memiliki basis yang
sangat luas-borjuis kecil perkotaan besar dan kecil, dan para petani. Di Jerman, serupa dengan
di Italia, terdapat basis yang luas bagi fasisme.
Bisa dikatakan, dan ini benar di dalam beberapa hal, bahwa kelas menengah baru,
fungsionaris negara, administrator swasta, dan sebagainya adalah basis dari fasisme di sana.
Ini adalah pertanyaan baru yang harus dianalisa.
Dalam rangka memprediksi segala hal yang berhubungan dengan fasisme secara benar,
adalah perlu untuk memiliki sebuah definisi tentang gerakan ini. Apakah fasisme itu? Apa
saja yang menjadi dasar, bentuk, dan karakternya? Bagaimana dia akan berkembang?
Semuanya perlu kita telaah dengan pendekatan Marxis dan ilmiah.

5.3 Bagaimana Mussolini Meraih Kemenangannya90


Saat sumber daya ‘normal’ militer dan polisi dalam kediktatoran borjuis, bersama
dengan tabir parlementer mereka, sudah tak mampu lagi mempertahankan stabilitas
masyarakat—keniscayaan rezim fasis telah tiba. Melalui agen fasis, kapitalisme
menggerakkan massa borjuis kecil yang irasional dan kelompok-kelompok lumpenproletariat
yang rendah dan terdemoralisasi–seluruh manusia yang telah digiring ke dalam kesengsaraan
dan kemarahan oleh kapitalisme.
Dari fasisme, kaum borjuis menuntut sebuah pekerjaan yang menyeluruh; setelah
selesai menggunakan perang sipil, kaum borjuis menuntut kedamaian untuk periode bertahun-
tahun. Dan agen fasis, dengan menggunakan borjuis kecil sebagai alat penghancur, dengan
menabrak semua halangan yang ada di jalannya, melakukan tugasnya dengan baik. Setelah
fasisme menang, kapital finansial segera dan langsung memusatkan di tangannya semua organ
dan institusi kekuasaan, eksekutif administratif, dan pendidikan negara; seluruh aparatus
negara bersama dengan tentara, pemerintahan daerah, universitas-universitas, sekolah-
sekolah, pers, serikat buruh, dan koperasi. Saat sebuah negara berubah menjadi fasis, bukan
berarti hanya bentuk-bentuk dan metode-metode pemerintahan yang berubah sesuai dengan
bentuk yang ditentukan oleh Mussolini—perubahan dalam lingkup ini pada akhirnya hanya
berperan sangat kecil. Tapi yang pertama dan utama adalah dibinasakannya organisasi buruh;
kaum proletar dihancurkan sampai tak berbentuk sama sekali; dan sebuah sistem administrasi
diciptakan untuk menpenetrasi massa secara mendalam dan berfungsi untuk mengganggu
kristalisasi independen kaum proletariat. Hal-hal tersebut adalah inti dari fasisme.
Fasisme Italia adalah hasil yang segera muncul dari pengkhianatan kaum reformis di
saat kebangkitan kaum proletar Italia. Pada waktu (Perang Dunia Pertama) berakhir, terdapat
tren naik dalam gerakan revolusioner Italia, dan pada bulan September 1920 gerakan tersebut
berhasil melaksanakan penyitaan pabrik-pabrik dan industri-industri oleh para pekerja.
Kediktaturan proletariat merupakan sebuah kenyataan pada saat itu; yang kurang saat itu
adalah untuk mengorganisirnya dan mengambil darinya semua kesimpulan yang diperlukan.
Kekuatan Sosial Demokrasi ternyata ketakutan dan loncat mundur. Setelah usahanya yang
berani dan heroik, kaum proletar ditinggalkan begitu saja untuk menghadapi kekosongan.
Terganggunya (terhentikannya) gerakan revolusioner ini dalam kenyataanya menjadi faktor
yang terpenting di dalam perkembangan fasisme. Di bulan September, perkembangan
revolusioner menjadi terhenti; dan bulan November menjadi saksi dari sebuah demonstrasi
penting yang pertama dari kaum fasis (direbutnya Bologna). 91

90
Diambil dari “Bagaimana Selanjutnya? Pertanyaan Vital bagi Kaum Proletar Jerman”, 1932
91
[Catatan: kampanye kekerasan kaum fasis dimulai di Bologna pada tangggal 21 November 1920.
Ketika anggota dewan dari kubu Sosial Demokratik, pemenang pemilihan daerah, muncul di balai kota untuk
memperkenalkan walikota yang baru, mereka disambut dengan tembakan senapan yang membunuh 10 orang dan
mencederai 100 lainnya. Kaum fasis menindak lanjutinya dengan “ekspedisi penghukuman” ke wilayah-wilayah
pedesaan di sekitarnya yang merupakan daerah kubu “Liga Merah”. “Skuadron Aksi” berseragam hitam dengan

45
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Adalah benar bahwa kaum proletar, bahkan sesudah bencana September, masih mampu
melaksanakan pertempuran defensif. Tapi kubu Sosial Demokrasi hanya peduli dengan satu
hal: menarik para pekerja dari pertempuran dengan timbal balik konsesi. Kubu Sosial
Demokrasi berharap bahwa sikap pasif kaum pekerja akan mengembalikan ‘opini publik’
kaum borjuis untuk melawan kaum fasis. Celakanya lagi, kaum reformis bahkan
menggantungkan harapannya pada raja Victor Emmanuel. Sampai pada jam yang terakhir,
mereka masih sekuat tenaga berusaha mencegah kaum pekerja untuk memerangi kelompok-
kelompok Mussolini. Ini tidak menghasilkan apapun untuk mereka. Sang raja, bersama
dengan lapisan atas borjuis, pindah ke pihak fasisme. Setelah menyadari pada momen terakhir
bahwa kubu fasisme tak bisa dikontrol lagi, kubu Sosial Demokrat menyerukan kepada para
pekerja untuk mengadakan mogok umum. Tapi pengumuman mereka menemui kegagalan.
Kaum reformis sudah memlembabi bubuk mesiu ini terlalu lama karena takut bubuk mesiu ini
akan meledak. Ketika mereka dengan tangan gemetar ingin membakar bubuk mesiu ini,
bubuk tersebut tak mau terbakar.
Dua tahun sesudah kemunculan pertamanya, fasisme berkuasa penuh. Fasisme ini
diuntungkan oleh fakta bahwa periode pertama dari kekuasannya ditandai dengan sebuah
kondisi ekonomi yang positif, setelah masa depresi di tahun 1921-22. Kaum fasis
menghancurkan massa proletar yang sedang mundur dengan mengerahkan massa borjuis kecil
secara besar-besaran. Tapi hal tersebut tidaklah dicapai dengan sekali pukul. Bahkan sesudah
dia meraih kekuasaan, Mussolini menjalankan pemerintahannya dengan hati-hati: karena
belum adanya model pemerintahan fasis di masa itu. Selama dua tahun pertama, bahkan
konstitusi tidak dirubah. Pemerintahan fasis mengambil bentuk karakter sebuah koalisi. Di
tengah-tengah periode tersebut, kelompok-kelompok fasis sibuk bekerja dengan kayu
pemukul, pisau, dan pistol. Hanya dengan demikian pemerintah fasis terbentuk secara
perlahan-lahan, yang berarti pencekikan penuh bagi semua organisasi massa independen.
Mussolini mencapai semua itu dengan jalan membirokratiskan partai fasis. Setelah
menggunakan kekuatan kaum borjuis kecil, fasisme mencekik mereka dengan cekikan negara
borjuis. Mussolini tidak mungkin tidak melakukan hal tersebut, sebab kekecewaan dari massa
yang dia sudah persatukan telah menjelma menjadi bahaya langsung yang paling besar
didepannya. Berubah menjadi birokratis, fasisme hampir-hampir menyamai bentuk
kediktaturan polisi dan militer. Fasisme tidak lagi memiliki dukungan sosial seperti
sebelumnya. Bagian utama dari fasisme–borjuis kecil—telah tereduksi. Hanya kemandegan
historis yang menyebabkan pemerintah fasis tetap mampu membuat kaum proletar dalam
keadaan yang terpecah-pecah dan menyedihkan.
Dalam kasus Hitler, kaum sosial demokrasi Jerman secara politik tak mampu
menambahkan apapun: yang dilakukannya hanya mengulang secara menjemukan apa yang
telah dilakukan kaum reformis Italia dengan temperamen yang lebih besar. Kaum reformis
Italia menjabarkan fasisme sebagai sebuah kegilaan paska perang; kaum reformis Jerman
melihatnya sebagai bentuk ‘Versailles’ atau kegilaan akibat krisis. Dalam kedua kasus
tersebut, kaum reformis menutup mata mereka terhadap karakter organik fasisme sebagai
sebuah gerakan massa yang muncul dari kejatuhan yang dialami kapitalisme. 92
Takut terhadap mobilisasi pekerja revolusioner, kaum reformis Italia menggantungkan
semua harapannya pada ‘negara’. Slogan mereka adalah, ‘Tolong! Victor Emmanuel, tekanlah

kendaraan yang disuplai oleh para tuan tanah besar mengambil alih desa-desa dengan serangan kilat, memukul
dan membunuh petani-petani kiri dan pemimpin-pemimpin buruh, menghancurkan markas-markas organisasi
radikal, dan meneror para penduduk. Didorong oleh kesuksesan mereka yang mudah, kaum fasis kemudian
meluncurkan serangan dalam skala besar di kota-kota besar.]
92
[Catatan: Perjanjian Versailles, dijatuhkan pada Jerman sesudah Perang Dunia Pertama; hal yang
paling dibenci darinya adalah ganti rugi tanpa batas waktu yang harus diserahkan pada kubu Sekutu dalam
bentuk ‘perbaikan’ bagi kerusakan dan kehilangan akibat perang. “Krisis” yang dimaksud pada paragraf di atas
adalah depresi ekonomi yang menyapu dunia kapitalis setelah kolapsnya Wall Street di tahun 1929.]

46
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

mereka!’ Kaum Sosial Demokrasi Jerman tidak memiliki sokongan demokratik seperti halnya
sebuah monarki yang setia pada konstitusi. Mereka harus puas dengan seorang presiden–
’Tolong! Hindenburg, tekanlah mereka!’93
Saat berperang melawan Mussolini, atau dalam kata lain saat mundur dari hadapan
Mussolini, Turati mengangkat mottonya yang spektakular, “seseorang harus memiliki
kedewasaan untuk menjadi seorang pengecut.” [Filippo Turati (1857-1937), teoritikus
reformis terkenal Partai Sosialis Italia.] Kaum reformis Jerman lebih sedikit serius dengan
slogan-slogan mereka. Mereka menuntut “Keberanian dalam ketidakpopuleran” (Mut zur
Unpopularitaet) – yang artinya sama saja. Seseorang harus berani melawan ketidakpopuleran
yang disebabkan oleh kepengecutannya sendiri yang cuma menunggu kesempatan baik dari
musuh.
Penyebab-penyebab yang sama akan menghasilkan efek-efek yang sama pula. Bila
deretan peristiwa-peristiwa bertumpu pada kepemimpinan partai Sosial Demokrasi, karir
Hitler bisa dipastikan menjadi lancar.
Namun kita harus mengakui bahwa Partai Komunis Jerman juga belajar sedikit dari
pengalaman Italia.
Partai Komunis Italia terbentuk pada waktu yang hampir bersamaan dengan fasisme.
Tetapi, kondisi-kondisi kemandegan revolusioner yang sama, yaitu yang membawa kaum
fasis pada kekuasaan, terbukti menghambat perkembangan partai Komunis. Mereka tidak
mengerti sepenuhnya akan bahaya fasisme; mereka menidurkan diri mereka sendiri dengan
ilusi-ilusi revolusioner; mereka menentang secara kuat kebijakan front persatuan; singkatnya,
mereka menderita penyakit kekanak-kanakan. Tidaklah mengejutkan! Umurnya hanyalah dua
tahun. Dalam pandangan matanya, fasisme muncul hanya sebagai ‘reaksi kapitalis’. Partai
Komunis Italia tidak bisa mengerti karakter-karakter khusus fasisme yang berasal dari
mobilisasi borjuis kecil melawan massa proletar. Kecuali Gramsci, kawan-kawan Italia
menginformasikan pada saya bahwa Partai Komunis bahkan tidak memperhitungkan adanya
kemungkinan-kemungkinan perebutan kekuasaan oleh kaum fasis. Setelah revolusi proletar
telah menderita kekalahan, setelah kapitalisme telah merebut posisinya dan kubu kontra
revolusioner berkuasa, mana mungkin terdapat jenis kebangkitan kontra revolusioner yang
lain? Bagaimana bisa kaum borjuis melawan dirinya sendiri! Inilah inti dari orientasi politik
Partai Komunis Italia. Akan tetapi, seseorang haruslah melihat kenyataan bahwa fasisme Italia
merupakan sebuah fenomena baru, yang sedang dalam proses pembentukan; adalah sulit,
bahkan bagi sebuah partai yang lebih berpengalaman, untuk memahami karakter khusus
fasisme.94
Kepemimpinan Partai Komunis Jerman sekarang mengulangi hampir secara harfiah
posisi-posisi yang diambil oleh Partai Komunis Italia; fasisme tidak lain adalah reaksi
kapitalis; dari sudut pandang kaum proletar, perbedaan antara tipe-tipe dari reaksi kapitalis
adalah tidak penting sama sekali. Radikalisme vulgar seperti ini kurang bisa dimaafkan
mengingat partai Komunis Jerman adalah lebih tua dibandingkan Partai Komunis Italia pada

93
[Catatan: Marshal Paul von Hindenburg (1847-1934), jendral kaum Junker yang meraih ketenaran pada
perang dunia pertama dan tak lama berselang menjadi presiden republik Weimar. Di tahun 1932, kaum sosial
demokrat mendukungnya dalam pemilu ulang sebagai ‘yang tidak lebih jahat’ dibandingkan dengan Nazi.
Hindenburgh menunjuk Hitler sebagai kanselir di bulan Januari 1933.]
94
[Catatan: Antonio Gramsci (1891-1937): seorang pendiri Partai Komunis Italia, dipenjarakan oleh
Mussolini pada tahun 1926, meninggal dalam tahanan sebelas tahun kemudian. Dia mengirimkan surat dari
dalam penjara, atas nama komite politik Partai Komunis Italia, memprotes kampanye Stalin melawan kubu
Oposisi Kiri. Taglatti, sebagai wakil dari Italia di Komintern di Moscow saat itu, mensensor surat tersebut.
Sepanjang era Stalin, memori tentang Gramsci dihapuskan secara sengaja. Dalam periode de-Stalinisasi, dia
‘ditemukan kembali’ oleh Partai Komunis Italia dan secara formal dinobatkan sebagai pahlawan dan martir.
Sejak itu, banyak sekali pengakuan internasional terhadap tulisan-tulisan teoritikalnya, terutama catatan Gramsci
dalam penjara.]

47
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

saat itu; dan juga, Marxisme saat ini telah diperkaya oleh pengalaman tragis di Italia.
Menekankan bahwa fasisme sudah ada di sini atau menolak kemungkinan mereka merebut
kekuasaan, secara politis berujung ke hal yang sama. Dengan mengabaikan sifat spesifik dari
fasisme, kemauan untuk melawan fasisme akan menjadi lumpuh.
Pihak yang harus memikul tanggung jawab dari semua ini, tentu saja, adalah
kepemimpinan Komintern. Dari semua orang, kaum komunis Italia seharusnya wajib untuk
memperingatkan kaum Komunis Jerman. Tapi Stalin, bersama dengan Manuilsky, memaksa
mereka untuk menyangkal pelajaran terpenting dari kehancuran mereka sendiri. 95
Kita juga telah mengamati dengan kecepatan seperti apa Ercoli melompat ke posisi
sosial fasisme — dalam kata lain, ke posisi pasif menunggu kemenangan fasis di Jerman. 96

5.4 Bahaya Fasis Muncul di Jerman 97


Pemberitaan resmi Komintern menggambarkan hasil dari pemilu di Jerman (September
1930) sebagai sebuah kemenangan besar bagi Komunisme, yang semakin menggelorakan
slogan Soviet Jerman. Kaum optimis birokratis tidak ingin bercermin pada pengertian dari
dinamika kekuatan yang terlihat dari statistik pemilu. Mereka melihat naiknya jumlah pemilih
Komunis secara terpisah dari tugas-tugas revolusioner yang diciptakan oleh situasi tersebut
dan halangan-halangan yang muncul. Partai Komunis menerima sekitar 4,600,000 suara
dibandingkan dengan 3,300,000 pada tahun 1928. Dari sudut pandang mekanisme
parlementer ‘normal’, peraihan 1,300,000 suara adalah signifikan, bahkan jika kita
memperhitungkan naiknya jumlah total pemilih. Tapi prestasi partai ini akan memudar jika
kita memperhatikan kenaikan fasisme dari 800,000 menjadi 6,400,000 suara. Hal yang tak
kurang penting untuk dievaluasi adalah kenyataan bahwa kubu Sosial Demokrasi, lepas dari
kekalahan-kekalahan substansial mereka, tetap mampu mempertahankan kader-kader utama
mereka dan masih menerima suara dari buruh yang lebih besar [8,600,000] dibandingkan
dengan partai Komunis.
Sementara itu, jika kita harus bertanya pada diri kita sendiri, ‘kombinasi keadaan
internasional dan domestik apa yang mampu membelokkan kelas pekerja ke Komunisme
dengan kecepatan yang lebih hebat?’ kita tidak dapat menemukan keadaan yang lebih tepat
selain situasi di Jerman dewasa ini: Young’s Noose, krisis ekonomi, disintegrasi
pemerintahan, krisis parlementarianisme, terbongkarnya kebangkrutan Sosial Demokrasi yang
sekarang berkuasa. Melihat keadaan historis yang konkrit ini, daya tarik dari Partai Komunis
Jerman dalam kehidupan sosial bangsa, walaupun meraih 1,300,000 suara, tetap kecil secara
proporsional. 98
Kelemahan dari posisi Komunisme, yang tanpa bisa dipungkiri bersumber pada
kebijakan dan rezim Komintern, akan terlihat lebih jelas jika kita membandingkan pengaruh
sosial Partai Komunis dengan tugas-tugas konkrit yang tidak bisa ditunda lagi yang telah
dibebankan padanya oleh kondisi historis sekarang ini.

95
[Catatan: Dmitri Manuilsky (1883-1952): mengepalai Komintern dari 1929 sampai 1934;
pemecatannya menandai perubahan dari ultra-kiri ke oportunisme periode Front Popular. Belakangan muncul di
panggung diplomatik, sebagai delegasi untuk PBB.]
96
[Catatan: Ercoli. Nama pena komintern untuk Palmiro Togliatti (1893-1964). Mengepalai Partai
Komunis Italia setelah pemenjaraan Gramsci. Dia mempertahankan semua garis zigzag komintern, tetapi setelah
kematian Stalin dia mengkritisi pemerintahan Stalin bersama dengan karakter-karakternya yang masih berlanjut
di Uni Soviet dan gerakan komunis internasional.]
97
Diambil dari “Perubahan dalam Komunis Internasional dan Situasi di Jerman”, 1930.
98
[Catatan: ‘Young’s Noose ‘: sebuah referensi pada “Young Plan”. Owen D. Young, seorang pelaku
bisnis kenamaan dari Amerika, yang merupakan Agent-General bagi perbaikan Jerman selama 1920-an.
Dimusim panas 1929, dia menjadi ketua dari sebuah konferensi yang mengadopsi rencananya untuk
menggantikan Dawes Plan yang tidak sukses demi ‘memfasilitasi’ pembayaran Jerman terhadap perbaikan-
perbaikan seperti yang tercantum dalam perjanjian Versailles.]

48
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Adalah benar bahwa Partai Komunis sendiri tak mengharapkan pencapaian semacam
itu. Ini membuktikan bahwa di bawah hempasan kesalahan dan kekalahan, kepemimpinan
partai-partai Komunis menjadi tidak biasa dengan tujuan-tujuan dan pemikiran-pemikiran
besar. Kalau kemarin mereka meremehkan kesempatan-kesempatan yang mereka punyai, kali
ini mereka sekali lagi meremehkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Akibatnya, satu
bahaya menjadi semakin berlipatganda.
Padahal, karakter pertama dari partai yang benar-benar revolusioner adalah mampu
untuk melihat realitas yang ada di depannya.
Dalam rangka menggiring krisis sosial ke revolusi proletar, adalah penting bahwa,
disamping kondisi lainnya, pergeseran yang menentukan dari kaum borjuis kecil terjadi ke
arah proletar. Ini akan memberikan kesempatan bagi proletar untuk menempatkan dirinya
pada garda depan bangsa sebagai pemimpin.
Pemilu yang terakhir memperlihatkan sebuah pergeseran ke arah yang berbeda -
disinilah terdapat signifikansi utama dari gejala-gejala fasisme. Di bawah hantaman krisis,
kaum borjuis kecil berbelok, tidak ke arah revolusi proletar, tapi ke arah reaksi imperialis
yang paling ekstrem, yang juga menarik dibelakangnya sebagian massa proletar yang cukup
besar.
Pertumbuhan besar dari Sosialisme Nasional adalah sebuah ekspresi dari dua faktor:
krisis sosial yang mendalam, yang megoyangkan stabilitas massa borjuis kecil, dan tidak
adanya partai revolusioner yang dianggap oleh massa rakyat sebagai pemimpin revolusioner
yang bisa diterima oleh mereka. Jika partai Komunis adalah partai pengharapan revolusioner,
maka fasisme, sebagai sebuah sebuah gerakan massa, adalah partai keputus-asaan kontra-
revolusioner. Saat pengharapan revolusioner merengkuh seluruh massa proletar, bagian-
bagian borjuis kecil yang tumbuh dan dalam jumlah yang patut diperhitungkan akan terseret
ke arah jalan revolusi. Dalam lingkup ini, hasil pemilu ini secara jelas memperlihatkan
gambaran yang berlawanan: keputus-asaan kontra-revosioner merangkul borjuis kecil dengan
kekuatan yang sangat besar sehingga ia juga menarik banyak massa proletariat ...
Fasisme di Jerman benar-benar telah menjadi ancaman yang nyata; sebagai ekspresi
akut dari posisi rezim borjuis yang tak tertolong lagi, peranan konservatif dari Sosial
Demokrasi dalam rezim ini, dan ketidakberdayaan partai Komunis untuk mengenyahkannya.
Siapapun yang menolak fakta ini adalah buta atau pembual belaka....
Bahaya tersebut menjadi semakin akut dalam hubungannya dengan tempo
perkembangannya, yang tidak bergantung pada kita semata. Karakter mendadak dari kurva
politik seperti yang terlihat dari hasil pemilu menunjukkan fakta bahwa tempo perkembangan
krisis nasional dapat berubah dengan sangat cepat. Dengan kata lain, rentetan-rentetan
kejadian penting dapat hadir kembali di Jerman esok hari, di dalam jalan historis yang baru;
kontradiksi usang antara kematangan situasi revolusioner, pada satu pihak, dan kelemahan
serta impotensi partai revolusioner, pada lain pihak. Ini harus dibeberkan secara jelas, terbuka
dan, terutama, tepat pada waktunya.
Dapatkah kekuatan perlawanan konservatif buruh Sosial Demokrat diprediksi
sebelumnya? Tidak bisa. Berdasarkan kejadian-kejadian tahun lalu, kekuatan ini terlihat
sangat besar. Tetapi sebenarnya, faktor yang paling membantu penggelembungan Sosial
Demokrasi adalah kebijakan Partai Komunis yang salah, yang menemukan generalisasi
tertingginya dalam teori sosial fasisme yang tidak masuk akal. Untuk mengukur perlawanan
nyata dari anggota-anggota sosial demokrat, dibutuhkan instrumen pengukur yang berbeda,
yaitu, taktik Komunis yang tepat. Lewat cara ini – dan ini bukanlah hal yang remeh –
tingkatan persatuan internal dari Sosial Demokrasi dapat diukur dalam sebuah periode yang
terhitung singkat.
Dalam bentuk yang berbeda, apa yang baru dijelaskan di atas dapat diaplikasikan pada
fasisme: fasisme bersumber, terlepas dari kondisi-kondisi lain yang hadir, dari kekacauan

49
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

strategi Zinoviev-Stalin. Di manakah letak kekuatan serangannya? Dimanakah letak


stabilitasnya? Sudahkah dia mencapai titik kulminasi, sebagaimana yang kaum ex-officio
optimis [Komintern dan pejabat-pejabat Partai Komunis] katakan kepada kita, atau apakah ini
barulah langkah pertama dari jenjang yang ada? Hal-hal tersebut tidak bisa diprediksi secara
mekanis. Mereka hanya bisa ditentukan lewat aksi. Khususnya dalam hal fasisme, yang
merupakan pisau di tangan kelas musuh, kebijakan yang salah dari Komintern dapat
menghasilkan hasil-hasil fatal dalam waktu singkat. Di lain pihak, kebijakan yang benar –
meski tidak dalam periode sesingkat itu - bisa melumpuhkan posisi fasisme. 99
Jika partai Komunis, walaupun di dalam keadaan yang menguntungkan, terbukti tak
berdaya mengguncang struktur kubu Sosial Demokrasi dengan bantuan formula sosial
fasisme, maka fasisme yang riil sekarang mengancam struktur tersebut, tak lagi dengan
formula muluk-muluk yang disebut radikalisme, tetapi dengan formula kimia yang
menghasilkan ledakan-ledakan. Tak peduli seberapa benar bahwa Sosial Demokrasi melalui
kebijakannya secara keseluruhan mengkondisikan mekarnya fasisme, tetapi juga benar
kenyataaan bahwa fasisme datang sebagai ancaman mematikan terutama bagi kubu Sosial
Demokrasi, yaitu mereka-mereka yang kebesarannya ditopang oleh bentuk-bentuk pasifis-
demokratik-parlementer dan metode-metode pemerintah.
Kebijakan front persatuan para buruh untuk melawan fasisme mengalir dari situasi ini.
Ini membuka kesempatan yang luar biasa bagi Partai Komunis. Tapi kondisi untuk
kemenangan harus diwujudkan dalam bentuk penolakan terhadap teori dan praktek dari sosial
fasisme, yang kesalahannya menjadi tanda positif dalam keadaan saat ini.
Krisis sosial secara tidak terelakkan akan menghasilkan perpecahan-perpecahan yang
mendalam di dalam kubu Sosial Demokrasi. Radikalisasi dari massa akan mempengaruhi
kubu Sosial Demokrat. Kita harus membikin persetujuan dengan berbagai organisasi-
organisasi Sosial Demokratik dan faksi-faksi yang melawan fasisme, dengan menaruh
prasyarat-prasyarat yang jelas atas hubungan ini kepada para pemimpin sosial demokrasi, di
depan mata massa.... Kita harus segera meninggalkan segala omong kosong ofisial tentang
front persatuan dan mulai melihat kembali kebijakan front persatuan seperti yang
diformulasikan oleh Lenin dan selalu diterapkan oleh Bolshevik di tahun 1917.

5.5 Dongeng Asoep100


Seorang penjual ternak suatu waktu menggiring beberapa kerbau ke penyembelihan.
Dan sang penyembelih datang pada malam hari dengan pisau tajamnya.
‘Mari kita merapatkan barisan dan kita tanduk si penyembelih,’ saran salah satu dari
kerbau-kerbau tersebut.
‘Jika anda tak keberatan, tolong katakan dalam hal apa si penyembelih lebih buruk dari
si penjual ternak yang telah menggiring kita kemari dengan tongkatnya?’ balas kerbau-kerbau
lain, yang telah menerima pendidikan politiknya dari institut Manuilsky. 101
‘Tapi, kita juga mampu untuk membereskan si penjualnya juga sesudahnya!’

99
[Catatan: “Strategi Zinoviev-Stalin”: Gregory Y. Zinoviev (1883-1936), ketua Komintern mulai dari
pembentukannya di tahun 1919 sampai pemecatannya oleh Stalin pada tahun 1926. Setelah kematian Lenin,
Zinoviev dan Kamenev membentuk sebuah blok dengan Stalin (Troika) untuk melawan Trotsky dan
mendominasi partai Soviet. Pada masa dominasi Zinoviev-Stalin dalam Komintern, garis oportunis menggiring
gerakan pada kekalahan demi kekalahan dan pelewatan kesempatan-kesempatan yang berharga, terutama
penundaan revolusi Jerman pada 1923. Setelah pecah dengan Stalin, Zinoviev menyatukan pengikutnya dengan
Oposisi Kiri Trotskyist. Tetapi pada tahun 1928, setelah pemecatannya dari partai Oposisi Persatuan, Zinoviev
kembali ke Stalin. Setelah diterima kembali oleh partai, dia ditendang keluar lagi di tahun 1932. Setelah
mengingkari semua pandangan-pandangan kritisnya, dia diterima lagi, tapi di tahun 1934, dia dikeluarkan dan
dipenjara. Dia “mengaku” dalam Pengadilan Moscow pada tahun 1936 dan dieksekusi.]
100
Diambil dari “Bagaimana Selanjutnya? Pertanyaan Vital bagi Kaum Proletar Jerman”, 1932.
101
[Maksud Trotsky disini adalah Komintern.]

50
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

‘Tak ada yang perlu dikerjakan,’ balas kerbau-kerbau itu lagi secara tegas kepada sang
pengusul. “Kamu mencoba, dari kiri, untuk melindungi musuh kita — kamu adalah si
penyembelih-sosial itu sendiri.”
Dan mereka menolak untuk merapatkan barisan.

5.6 Tentara dan Polisi Jerman 102


Menghadapi ancaman nyata, kaum Sosial Demokrasi menggantungkan harapannya
bukan pada ‘Front Besi’, melainkan pada polisi Prusia. Kenyataan bahwa banyak polisi
tersebut direkrut dari kalangan pekerja Sosial-Demokratik tidaklah berarti sama sekali.
Kesadaran ditentukan oleh lingkungan, juga dalam kasus ini. Pekerja yang menjadi seorang
polisi dalam sebuah negara kapitalis, adalah seorang polisi borjuis, bukanlah seorang pekerja.
Dalam tahun-tahun terakhir, polisi-polisi ini memerangi lebih banyak pekerja revolusioner
dibandingkan pengikut-pengikut Nazi. Pelatihan seperti itu meninggalkan efek-efek yang
khas. Dan, di atas segalanya: setiap polisi tahu bahwa meski pemerintah dapat berganti, polisi
akan tetap bertahan.103
Dalam isu tahun baru mereka, organ teoritis dari kubu Sosial Demokrasi, Dar Freie
Wort (sungguh sebuah lembaran-lembaran terbitan yang buruk!) menerbitkan sebuah artikel
yang mengagung-agungkan kebijakan ‘toleransi’. Hitler dilukiskan tak akan mampu
menundukkan polisi dan Reichswehr [Tentara Jerman]. Berdasarkan konstitusi, Reichswehr
berada di bawah komando presiden Republik Jerman. Karenanya, demikian mereka
menyimpulkan, fasisme tidaklah berbahaya sepanjang pemerintahan dipegang oleh presiden
yang taat pada konstitusi. Rezim Bruening harus didukung sampai pemilihan presiden
sehingga presiden yang konstitusional bisa terpilih melalui sebuah aliansi dengan borjuis
parlementer; dan maka dari itu jalan Hitler ke kekuasaan akan tertutup untuk tujuh tahun ke
depan.104
Politikus-politikus reformis—para ahli kolusi yang bodoh, ahli intrik dan pemuja karir
yang lihai, konspirator kementerian dan parlementar yang hebat—terlempar dari kekuasaan
mereka secara cepat oleh rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dihadapkan pada
kontigensi mendesak, mereka menampakkan diri mereka sebagai– tak ada ekspresi yang lebih
sopan selain ini–mayat-mayat yang inkompeten.
Bergantung pada seorang presiden sama halnya dengan bergantung pada ‘pemerintah’!
Dihadapkan pada bentrokan yang akan muncul antara proletar dan borjuis kecil fasis–dua
kubu mayoritas di negara Jerman–kaum Marxis dari Vorwaerts [koran utama sosial
demokratik] berteriak pada para penjaga malam untuk memberikan bantuan pada mereka
“Tolong! Pemerintah, tekanlah mereka!” (Staat, greif zu!)

102
Diambil dari “Bagaimana Selanjutnya? Pertanyaan Vital bagi Kaum Proletar Jerman”, 1932.
103
[Catatan: ‘Front Besi’: sebuah blok yang terdiri dari beberapa serikat buruh yang besar dan kelompok-
kelompok borjuis ‘republiken’ yang memiliki sedikit prestise, atau tidak sama sekali, di antara massa. Blok ini
dibentuk oleh Sosial Demokrat diakhir 1931. Kelompok-kelompok tempur yang disebut Tinju Besi (Iron Fist)
dibentuk dalam serikat-serikat buruh ini, dan organisasi olahraga para pekerja digiring ke dalam Front Besi.
Dalam parade dan rally awal mereka, ribuan pekerja mengangkat tangannya, meneriakkan ‘kebebasan’, dan
bersumpah untuk mempertahankan demokrasi. Massa dalam partai Sosial Demokratik dan serikat-serikat buruh
percaya bahwa organisasi ini akan digunakan untuk menghentikan Hitler. Tetapi ini tidak terjadi.]
104
[Catatan: Heinrich Bruening adalah kanselir dari tahun 1930-32. Pemerintahan parlementer reguler di
Jerman berakhir pada Maret 1930. Sesudahnya diikuti oleh beberapa rangkaian rezim Bonapartist – yaitu
Bruening, von Papen, von Schleicher, kanselir-kanselir yang memerintah dengan tidak berdasarkan pada
prosedur parlementer biasa, tetapi dengan prosedur ‘darurat’. Figur-figur Bonapartis ini menampilkan diri
mereka sebagai penyelamat politik yang dibutuhkan negara untuk melewati krisis, dan oleh karenanya mereka
berada di atas kelas dan partai. Mereka tidak bergantung pada partai demokratis borjuis yang lama tetapi pada
komando mereka terhadap polisi, tentara, dan birokrasi pemerintahan. Berpura-pura menyelamatkan negara dari
bahaya dari kubu kiri (sosialis dan komunis) dan kanan (fasis), mereka melepaskan pukulan terkeras mereka
pada pihak kiri, karena kepentingan utama mereka adalah menyelamatkan kapitalisme.]

51
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

5.7 Borjuis, Borjuis Kecil, dan Proletariat105


Semua analisa serius terhadap situasi politik harus mengambil titik berangkat dari
hubungan mutual antara tiga kelas: borjuis, borjuis kecil (termasuk para petani), dan proletar.
Borjuis yang kuat secara ekonomi mewakili bagian kecil dari sebuah negara. Untuk
memperkuat dominasinya, mereka harus memastikan hubungan mutual yang pasti dengan
borjuis kecil dan dengan kelas proletariat melalui perantaraan borjuis kecil.
Untuk memahami hubungan dialektis antara tiga kelas tersebut, kita harus membedakan
tiga tahapan sejarah: pada saat awal perkembangan kapitalistik, ketika kaum borjuis
menggunakan metode-metode revolusioner untuk menyelesaikan tugas-tugasnya; pada
periode pertumbuhan dan pendewasaan rezim kapitalis, saat borjuis membentuk dominasinya
dengan bentuk-bentuk yang demokratis, konservatif, pasifis, dan stabil; dan akhirnya, pada
periode kemunduran kapitalisme, saat kaum borjuis dipaksa untuk menggunakan metode-
metode perang sipil dalam melawan proletar untuk menjaga hak eksploitasinya.
Karakterisrik program politik dari tiga tahapan ini–JACOBINISME [sayap kiri
kekuatan borjuis kecil pada revolusi Prancis; pada fase paling revolusionernya, dipimpin oleh
Robespierre], reformis DEMOKRASI (termasuk Sosial Demokrasi), dan FASISME–adalah
program-program mendasar dari tendensi borjuis kecil. Fakta ini sendiri, diatas segalanya,
memperlihatkan betapa maha pentingnya—bukannya sekedar penting saja—penentuan-diri
massa borjuis kecil bagi keseluruhan nasib masyarakat borjuis.
Tapi, hubungan antara borjuis dan dukungan sosialnya, yaitu borjuis kecil, sama sekali
tidak bersandarkan pada kepercayaan mutual dan kolaborasi mutual. Berdasarkan karakter
massanya, borjuis kecil adalah sebuah kelas yang tersisihkan dan tereksploitasi. Mereka
melihat kaum borjuis dengan rasa iri dan sering juga dengan rasa benci. Kaum borjuis, pada
pihak lain, tidak mempercayai kaum borjuis kecil walaupun menggunakan dukungan dari
mereka, karena mereka sangat takut terhadap kecenderungan kaum borjuis kecil untuk
menghancurkan batasan-batasan yang dibentuknya dari atas.
Saat mereka merencanakan dan melapangkan jalan bagi perkembangan borjuis, dalam
setiap langkah mereka kaum Jacobin terlibat dalam pertentangan yang tajam dengan kaum
borjuis. Mereka melayani kaum borjuis di dalam perjuangan mereka yang keras dalam
melawan borjuis. Setelah mereka telah mencapai titik tertinggi dari peran historis mereka
yang terbatas, kaum Jacobins jatuh, karena dominasi kapital adalah sesuatu yang sudah pasti.
Melewati serangkaian tahapan, kaum borjuis kemudian membangun kekuasaannya
dalam bentuk demokrasi parlementer. Walaupun demikian, hal tersebut tidak dilakukan secara
damai dan sukarela. Kaum borjuis benar-benar takut terhadap hak pilih universal. Tapi pada
akhirnya, dengan bantuan kombinasi antara kekerasan dan konsesi, antara penindasan dan
perubahan (reformasi), mereka berhasil mensubordinasi ke dalam kerangka kerja demokrasi
formal tidak hanya kaum borjuis kecil tapi juga kaum proletar secara signifikan, melalui kelas
borjuis kecil baru – yaitu kaum buruh aristokrat. Pada bulan Agustus 1914, kaum borjuis
imperialis mampu, melalui cara demokrasi parlementer, memimpin jutaan pekerja dan petani
ke dalam perang. 106
Tetapi dengan adanya perang muncullah kemunduran yang besar dalam kapitalisme dan
terutama pada bentuk demokratis dari dominasinya. Tidak ada lagi perubahan-perubahan dan
revisi-revisi yang baru, tetapi yang ada adalah pemotongan dan penghapusan perubahan-
perubahan yang sudah ada. Dengan ini, kubu borjuis bertentangan tidak hanya dengan
institusi demokrasi proletarian (organisasi-organisasi buruh dan partai-partai politik) tetapi

105
Diambil dari “Satu-Satunya Jalan Bagi Jerman”, ditulis pada September 1932, dipublikasikan di
Amerika Serikat pada April 1933.
106
[Catatan: 4 Agustus 1914: kolapsnya Internasional Kedua. Wakil-wakil Partai Sosial Demokratik
Jerman di Reichstag memvoting budget perang pemerintahan imperialis; pada hari yang sama, wakil-wakil
Partai Sosialis Prancis juga melakukan hal yang sama dalam ‘Chamber of Deputies’.]

52
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

juga dengan demokrasi parlementer yang melahirkan organisasi-organisasi buruh di dalam


kerangkanya. Karena itu, kampanye yang mereka lakukan adalah melawan ‘Marxisme’ pada
satu pihak dan melawan parlementarisme demokratis pada pihak yang lain.
Tapi seperti halnya borjuis liberal yang pada zamannya tidak mampu dengan kekuatan
mereka sendiri menghancurkan feudalisme, monarki, dan gereja, kaum kapital saat ini juga
tak mampu dengan kekuatan mereka sendiri berhadapan dengan proletar. Mereka butuh
dukungan borjuis kecil. Untuk tujuan ini, mereka harus dihela, dikuatkan, dimobilisasi, dan
dipersenjatai. Tetapi metode ini menyimpan bahaya-bahayanya sendiri. Meskipun kaum
borjuis menggunakan fasisme, mereka juga takut terhadap fasisme. Pada bulan Mei 1926,
Pilsudski dipaksa untuk menyelamatkan masyarakat borjuis melalui kudeta yang diarahkan
melawan partai-partai tradisional borjuis Polandia. Masalah ini berkembang jauh. Pemimpin
partai Komunis Polandia, Warski, yang berasal dari kubu Rosa Luxemburg dan kemudian
menyeberang ke kubu Stalin dan bukannya Lenin, menganggap kudeta Pilsudski sebagai jalan
menuju “kediktatoran revolusioner demokratik” dan menyerukan kepada para buruh untuk
mendukung Pilsudski. 107
Pada pertemuan Komisi Polandia dari Komite Eksekutif Komintern pada tanggal 2 Juli
1926, penulis artikel ini (maksudnya Leon Trotsky sendiri) menyikapi kejadian-kejadian di
Polandia itu:
“Dilihat secara menyeluruh, kudeta kubu Pilsudski adalah cara-cara borjuis kecil, cara-
cara ‘plebian’, dalam mengatasi permasalahan mendesak masyarakat borjuis yang sedang
mengalami pembusukan dan kemunduran. Di sini kita bisa melihat sebuah kemiripan
langsung dengan fasisme Italia”.
“Kedua bentuk fasisme ini memiliki ciri-ciri umum: mereka merekrut laskar
penggempurnya terutama dari kelas borjuis kecil; Pilsudski seperti halnya Mussolini
menggunakan metode-metode ekstra parlementer, dengan kekerasan secara terbuka, dengan
metode-metode perang sipil; keduanya tidak mempunyai tujuan untuk menghancurkan
masyarakat borjuis, sebaliknya mereka bertujuan melanggengkan masyarakat borjuis.
Walaupun mereka memperkuat kubu borjuis kecil, mereka secara terbuka bergabung dengan
borjuis besar setelah perebutan kekuasaan. Secara tidak sengaja, sebuah generalisasi sejarah
muncul di sini, mengingatkan kita kembali pada evaluasi yang diberikan Marx menyangkut
Jacobinisme sebagai metode plebian untuk menghancurkan musuh-musuh feodal kelas
borjuis...Ini terjadi pada periode kebangkitan kelas borjuis. Saat ini kita harus mengatakan
bahwa, pada periode kemundurannya, kelas borjuis sekali lagi menggunakan metode plebian
dalam menyelesaikan tugas-tugasnya yang sudah tidak progresif lagi dan sungguh-sungguh
reaksioner. Dalam pengertian ini, fasisme merupakan karikatur dari Jacobinisme.”
“Kaum borjuis tak mampu mempertahankan kekuasaannya dengan cara dan metode-
metode negara parlementer yang diciptakannya sendiri; mereka membutuhkan fasisme
sebagai sebuah senjata pertahanan diri, setidaknya dalam waktu-waktu kritis. Walaupun
demikian, kaum borjuis tidak menyukai metode ‘plebian’ dalam menyelesaikan masalahnya.
Mereka selalu menentang Jacobinisme, yang telah membuka jalan bagi perkembangan
masyarkat borjuis dengan darahnya. Kaum fasis lebih dekat dengan kaum borjuis yang

107
[Catatan: Joseph Pilsudski (1876-1935): seorang sosialis dengan pandangan-pandangan nasionalistik,
pada tahun 1920, dia memimpin kekuatan anti-Soviet di Polandia; di tahun 1926, dia memimpin sebuah kudeta
dan membangun sebuah kediktatoran fasis. Warski, teman dari Rosa Luxemburg, dia mendukung Luxemburg di
dalam perdebatannya dengan kaum Bolshevik. Saat Komintern berzigzag ke kiri dalam fase ‘Periode Ketiga’-
nya, Warski diturunkan dari kepemimpinan Partai Komunis Polandia, tapi tidak dipecat. Dia menghilang dari
Uni Soviet pada masa pembersihan besar-besaran di tahun 1936-38. Rosa Luxemburg (1870-1919): Teoritikus
dan pemimpin besar revolusioner. Pada awalnya aktif dalam gerakan sosialis di Polandia tempat asalnya, dia
kemudian menjadi pemimpin sayap kiri Partai Sosial Demokratik Jerman. Rosa dan Karl Liebknecht dipenjara
karena perlawanannya terhadap Perang Dunia I. Sesudah mereka dibebaskan, mereka memimpin Spartakusbund.
Keduanya dipenjara dan dibunuh saat revolusi yang gagal pada tahun 1919.]

53
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

mengalami kemunduran dibandingkan kaum Jacobin dengan kaum borjuis yang sedang
bangkit. Tetapi, kaum borjuis yang sadar tidak terlalu mendukung metode fasis dalam
menyelesaikan tugas-tugasnya meskipun mereka melayani kepentingan masyarakat borjuis,
sebab mereka melihat bahaya dibaliknya. Karena itu terdapat oposisi dari partai-partai borjuis
terhadap fasisme.”
“Kaum borjuis menyukai fasisme seperti halnya seorang pria yang sakit gigi menyukai
giginya dicabut. Lingkaran-lingkaran masyarakat borjuis yang sadar telah mendukung kerja
sang dokter gigi Pilsudski dengan keraguan, tetapi pada analisa terakhir mereka menerima
kenyataan yang tidak terelakkan ini, meski dengan ancaman-ancaman, dengan negosiasi-
negosiasi alot dan segala bentuk tawar-menawar. Maka, idola kaum borjuis kecil di masa lalu
itu berubah menjadi gendarme kapital (catatan editor: gendarme adalah polisi di negara
Prancis).”
Dalam usaha membatasi ruang gerak historis dari fasisme sebagai penggusur politik
Sosial Demokrasi, dimunculkanlah teori sosial fasisme. Pada awalnya teori ini muncul
sebagai suatu kebodohan yang tidak berbahaya, penuh dengan jargon dan kepura-puraan.
Kejadian-kejadian selanjutnya telah menunjukkan pengaruh destruktif teori Stalinis ini pada
seluruh perkembangan Komunis International.
Apakah karena peran historis dari Jacobinisme, dari demokrasi, dan dari fasisme, maka
kaum borjuis kecil dikutuk untuk tetap menjadi sebuah alat ditangan kapital sampai hari
akhirnya? Jika hal tersebut benar adanya, maka kediktaturan proletariat akan menjadi
mustahil di negara-negara dimana kaum borjuis kecil merupakan mayoritas dan, lebih dari itu,
bahkan menjadi sangat sulit di negara lainnya dimana kubu borjuis kecil mewakili minoritas
yang penting. Untungnya, hal itu tidak benar adanya. Pengalaman Komune Paris
[‘kediktaturan proletariat’ yang pertama, 18 Maret 1871] telah menunjukkan, setidaknya di
dalam batasan-batasan sebuah kota, seperti halnya pengalaman Revolusi Oktober [Revolusi
Rusia 1917] telah menunjukkan sesudahnya dalam skala yang jauh lebih besar dan melewati
periode yang jauh lebih panjang, bahwa aliansi kaum borjuis kecil dan borjuis besar tidaklah
permanen. Karena borjuis kecil tidak mampu menghasilkan sebuah kebijakan yang
independen (itu juga alasan mengapa ‘kedikatatoran demokratis’ borjuis kecil tak mampu
terwujud), kelas ini tak memiliki pilihan lain yang tersisa baginya selain memilih antara kaum
borjuis dan proletar.
Di dalam era kebangkitan, pertumbuhan, dan mekarnya kapitalisme, biasanya kaum
borjuis kecil secara patuh berada dalam kontrol kapitalis, walaupun kadang-kadang terjadi
ledakan-ledakan ketidakpuasan yang singkat. Mereka tak mampu melakukan hal lainnya.
Tetapi di bawah kondisi disintegrasi kapitalisme dan kebuntuan situasi ekonomi, mereka
berjuang, mencari, dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari belenggu tuan-tuan dan
penguasa-penguasa masyarakat yang lama. Mereka cukup mampu menghubungkan nasibnya
dengan nasib kaum proletar. Untuk itu, hanya satu hal yang dibutuhkan: kaum borjuis kecil
harus memperoleh kepercayaan pada kemampuan proletariat untuk memimpin masyarakat
menuju jalan yang baru. Dan kaum proletar hanya dapat menginspirasikan kepercayaan ini
melalui kekuatannya, melalui ketegasan tindakannya, melalui ofensif yang hebat melawan
musuhnya, melalui kesuksesan kebijakan revolusionernya.
Tapi, terkutuklah jika partai revolusioner tidak mampu mengukur ketinggian suatu
situasi! Perjuangan sehari-hari kaum proletar telah mempertajam ketidak-stabilan masyarakat
borjuis. Mogok-mogok kerja dan gangguan-gangguan politik telah memperparah situasi
ekonomi negara. Kaum borjuis kecil dapat menerima secara sementara kesengsaraan yang
semakin memburuk, jika melalui pengalaman mereka muncul kepercayaan bahwa kaum
proletar berada dalam posisi untuk memimpin mereka ke jalan yang baru. Tapi jika partai
revolusioner, di dalam perjuangan kelas yang semakin menajam, selalu tidak mampu
menyatukan kelas pekerja untuk tujuan ini, bila ia tidak bisa mengambil keputusan tegas,

54
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

kebingungan, bertengkar sendiri, maka kaum borjuis kecil kehilangan kesabaran dan mulai
melihat pekerja revolusioner sebagai mereka yang bertanggung jawab atas kesengsaraannya.
Semua partai-partai borjuis, termasuk kaum Sosial Demokrasi, memusatkan pemikirannya
untuk tujuan ini. Saat krisis sosial mencapai keparahan yang luar biasa, sebuah partai tertentu
muncul dengan tujuan langsung mengagitasi kaum borjuis kecil dan mengarahkan kebencian
dan kekecewaannya untuk melawan kaum proletar. Di Jerman, fungsi historis ini dilakukan
oleh sosialisme nasional (Nazisme), sebuah gerakan yang luas yang ideologinya terdiri dari
asap busuk masyarakat borjuis yang mengalami disintegrasi.

5.8 Runtuhnya Demokrasi Borjuis108


Sesudah perang, serangkaian revolusi-revolusi brilian penuh kemenangan hadir di
Rusia, Jerman, Austria-Hungaria, dan lalu di Spanyol. Tetapi hanya di Rusialah kaum proletar
merebut kekuasaan penuh di tangannya, menghancurkan penghisapnya, dan tahu bagaimana
menciptakan dan mengelola negara buruh. Di semua tempat lainnya, kaum proletar, walaupun
mereka menang, berhenti separuh jalan karena kesalahan kepemimpinan mereka. Akibatnya,
kekuasaan lepas dari dari tangan mereka, bergeser dari kiri ke kanan, dan jatuh sebagai
korban fasisme. Di negara-negara yang lain, kekuasaan jatuh ke tangan kediktaturan militer.
Tak ada satupun parlemen yang mampu mendamaikan kontradiksi kelas dan menjanjikan
kedamaian di dalam perkembangan peristiwa-peristiwa. Konflik-konflik diselesaikan dengan
jalan kekerasan.
Dalam kurun waktu yang lama, masyarakat Prancis berfikir bahwa fasisme tak
mempunyai urusan apa-apa dengan mereka. Mereka memiliki sebuah republik dimana semua
permasalahan diselesaikan oleh rakyat yang bebas melalui implementasi hak pilih universal.
Tetapi pada tanggal 6 Februari 1934, ribuan kaum fasis and royalis, dipersenjatai dengan
revolver, tongkat pemukul, dan pisau, memaksakan sebuah pemerintahan reaksioner
Doumergue, yang di bawah perlindungannya kelompok-kelompok fasis terus tumbuh dan
mempersenjatai dirinya. Apakah yang akan terjadi di esok hari?109
Tentu saja, di Prancis, seperti juga di beberapa negara Eropa tertentu (Inggris, Belgia,
Belanda, Swiss, negara-negara Skandinavia), parlemen, pemilihan umum, kemerdekaan
demokratis, atau sisa-sisanya masih eksis. Tetapi di semua negara ini, hukum historis yang
sama akan berjalan, yaitu hukum kemunduran kapitalisme. Jika alat-alat produksi tetap berada
di tangan sebagian kecil kapitalis, tak ada jalan keluar bagi masyarakat. Mereka dikutuk
masuk dari satu krisis ke krisis yang lain, dari kebutuhan ke kesengsaraan, dari yang sudah
buruk menjadi lebih buruk lagi. Di berbagai negara, kehancuran dan disintegrasi kapitalisme
terekspresi dalam beragam bentuk dan tempo yang tidak sama. Tetapi ciri-ciri dasar dari
proses ini adalah sama di mana-mana. Kaum borjuis menggiring masyarakat menuju
kebangkrutan penuh. Mereka tak mampu lagi meyakinkan masyarakat, baik tentang roti atau
perdamaian. Inilah alasan kenapa mereka tak bisa lagi mentolerir keadaan yang demokratis.
Mereka dipaksa untuk menghancurkan para pekerja dan petani dengan menggunakan
kekerasan fisik. Namun kekecewaan para pekerja dan petani tidak bisa diselesaikan semata-
mata oleh polisi saja. Terlebih lagi, membuat tentara melawan rakyat adalah hal yang sangat
sulit dan hampir mustahil. Bila ini dilakukan, hal pertama yang terjadi adalah disintegrasi di
dalam tentara dan berakhir dengan tergiringnya sejumlah besar tentara ke pihak rakyat.
Karena itulah, kaum kapitalis finansial terpaksa membentuk kelompok-kelompok
tempur khusus, dilatih untuk memerangi para pekerja tak ubahnya anjing yang dilatih untuk
berburu. Fungsi historis fasisme adalah untuk menghancurkan kelas buruh, menghancurkan
organisasi-organisasinya, dan merampas kemerdekaan politik ketika kaum kapitalis

108
Diambil dari “Kemanakah Arah Prancis?”, 1934
109
[Catatan: Gaston Doumergue: perdana menteri Bonapartist Prancis. Menggantikan Edouard Daladier.
Pemerintahan Daladier jatuh sehari sesudah kerusuhan fasis pada tanggal 6 Februari 1934.]

55
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

menyadari bahwa mereka tak mampu lagi memimpin dan mendominasi dengan mesin
demokrasi.
Kaum fasis mendapatkan sumber daya manusianya dari kaum borjuis kecil. Kaum
borjuis kecil telah hancur luluh-lantak oleh kapitalis besar. Tak ada jalan keluar bagi mereka
di dalam kondisi sosial saat ini, mereka tidak tahu jalan keluar lainnya. Kaum fasis
membelokkan kekecewaan, kemarahan, dan kesengsaraan kaum borjuis kecil dari kapital
besar ke para pekerja. Boleh dibilang bahwa fasisme adalah tindakan untuk menjadikan kaum
borjuis kecil sebagai alat yang digunakan oleh musuhnya, yaitu kapitalis besar. Dengan cara
ini, kaum pemilik modal besar meruntuhkan kelas-kelas menengah dan kemudian, dengan
bantuan demagogi fasis bayaran, memprovokasi kaum borjuis kecil yang putus-asa untuk
melawan para pekerja. Rezim kaum borjuis dapat dipertahankan hanya dengan metode-
metode kejam seperti demikian. Untuk berapa lama? Sampai mereka digusur oleh revolusi
proletar.

5.9 Apakah Kaum Borjuis Kecil Takut Pada Revolusi? 110


Kretin-kretin parlementer, yang menganggap dirinya sebagai ahli tentang masyarakat,
seringkali berkata:
“Seseorang tidak boleh menakut-nakuti kelas menengah dengan revolusi. Mereka tidak
suka ekstremitas”.
Secara umum, penegasan di atas adalah salah sama sekali. Biasanya, pemilik usaha
kecil memilih untuk tenang-tenang saja selama bisnis berjalan baik dan dia masih berharap
bahwa masa depan akan menjadi lebih baik.
Tetapi ketika harapan ini hilang, dengan mudah dia akan marah dan siap untuk
mengambil tindakan-tindakan yang paling ekstrem sekalipun. Jika tidak, bagaimana bisa
mereka menjungkalkan negara demokratis dan membawa fasisme pada kekuasaan di Italia
dan Jerman? Kaum borjuis kecil yang putus-asa melihat bahwa di dalam fasisme, yang
terpenting dari semuanya, ada sebuah kekuatan penghancur dalam melawan modal besar, dan
percaya bahwa, tak seperti partai-partai kelas pekerja yang hanya melawan melalui kata-kata
saja, fasisme akan menggunakan kekerasan untuk membangun ‘keadilan’ yang lebih baik.
Ditinjau dari kebiasaannya, petani dan artisan bersifat realistis. Mereka memahami bahwa
seseorang tidak boleh melupakan penggunaan kekerasan.
Adalah salah, sangat salah, untuk menyatakan bahwa kaum borjuis kecil tidak berpihak
pada partai-partai kelas pekerja karena mereka takut terhadap ‘tindakan-tindakan ekstrem’.
Kenyataannya cukup bertolak belakang. Kaum borjuis kecil yang di bawah, dengan massanya
yang besar, hanya melihat partai-partai kelas pekerja sebagai mesin-mesin parlementer. Kaum
borjuis kecil tidak mempercayai kekuatan kaum proletar, kapasitas mereka untuk berjuang,
dan juga kesiapan mereka pada saat ini untuk membawa perjuangan sampai ke titik akhir.
Dan jika keadaannya seperti itu, apakah berguna usaha-usaha untuk menggeser wakil-
wakil kapitalis demokratis dengan wakil-wakil partai kiri di parlemen? Itulah yang dipikirkan
dan dirasakan para tuan tanah kecil yang kecewa, dihancurkan, dan setengah tereksploitasi.
Tanpa sebuah pemahaman akan psikologi para petani, artisan, para pekerja dan fungsionaris
rendahan, dan lain-lain – sebuah psikologi yang datang dari krisis sosial – adalah tidak
mungkin untuk membuat sebuah kebijakan yang tepat. Kaum borjuis kecil secara ekonomis
tidak dapat berdiri sendiri dan secara politis terpecah-belah. Karena itulah mereka tidak
mampu menjalankan sebuah kebijakan yang independen. Mereka butuh seorang ‘pemimpin’
yang memberikan mereka rasa percaya diri. Kepemimpinan individual atau kolektif ini,
contohnya dari seorang figur yang terkenal atau sebuah partai, dapat ditawarkan kepada
mereka oleh salah satu kelas fundamental – kaum borjuis besar ataupun proletar. Fasisme

110
Diambil dari “Kemanakah Arah Prancis?”, 1934

56
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

melepaskan dan mempersenjatai massa yang porak-poranda ini. Dari massa yang banyak itu,
mereka mengorganisasir kelompok-kelompok tempur. Ini memberikan kaum borjuis kecil
sebuah ilusi bahwa mereka adalah kekuatan yang independen. Mereka mulai membayangkan
bahwa mereka benar-benar akan memerintah negara. Tidak mengherankan jika ilusi-ilusi dan
harapan-harapan tersebut mampu menarik perhatian kaum borjuis kecil!
Akan tetapi, kaum borjuis kecil juga dapat menemukan seorang pemimpin dari kubu
proletar. Hal ini dibuktikan di Rusia dan kurang lebih di Spanyol. Di Italia, Jerman, dan di
Austria, kaum borjuis kecil sebenarnya tergiring ke arah yang sama. Tapi partai-partai
proletar lokal di negara-negara tersebut tak mampu mengemban tugas sejarahnya.
Untuk menggiring kaum borjuis kecil ke pihaknya, kaum proletar harus memenangkan
kepercayaan borjuis kecil. Dan untuk bisa melakukan hal tersebut, proletar harus mempunyai
kepercayaan pada kekuatannya sendiri terlebih dahulu.
Mereka harus memiliki sebuah program aksi yang jelas dan harus siap untuk merebut
kekuasaan dengan semua cara yang memungkinkan. Dipersiapkan oleh partai revolusioner
untuk perjuangan yang menentukan dan tak kenal ampun, kaum proletar harus mengajak
petani-petani dan borjuis kecil kota:
“Kami berjuang untuk merebut kekuasaan. Inilah program-program kami. Kami siap
untuk mendiskusikan perubahan-perubahan dalam program kita. Kami akan menggunakan
kekerasan hanya untuk kaum borjuis besar dan antek-anteknya, tetapi dengan anda sang
pekerja keras, kami ingin membangun suatu aliansi dengan berdasar pada dasar-dasar
program yang disetujui bersama”.
Kaum petani memahami bahasa seperti itu. Hanya saja mereka harus memiliki
kepercayaan pada kapasitas proletariat untuk merebut kekuasaan.
Untuk itu diperlukan tindakan untuk membersihkan front persatuan dari semua
pendistorsian, keragu-raguan, dan semua frase-frase kosong. Dibutuhkan juga pemahaman
terhadap situasi dan penempatan diri pada jalan revolusi.

5.10 Milisi Kelas Pekerja dan Musuh-Musuhnya111


Untuk berjuang, adalah perlu untuk menjaga dan memperkuat alat-alat perjuangan –
organisasi, pers, pertemuan, dan lain-lainnya. Fasisme [di Prancis] mengancam semua itu
secara langsung dan tiba-tiba. Mereka masih terlalu lemah untuk melakukan perjuangan
perebutan kekuasaan secara langsung, tetapi mereka cukup kuat untuk merontokkan
organisasi-organisasi kelas pekerja sedikit demi sedikit, memperkuat serangan-serangan
mereka, dan untuk menyebarkan kekecewaan serta ketidakpercayaan para pekerja pada
kekuatan mereka sendiri..
Fasisme mendapatkan pertolongan dari mereka-mereka yang tidak sadar yang
mengatakan bahwa “perjuangan fisik” adalah salah atau tak berpengharapan, serta menuntut
Doumergue untuk melucuti senjata milisi fasisnya. Tak ada yang lebih berbahaya bagi kaum
proletar, terutama untuk situasi saat ini, selain racun berasa gula dalam bentuk harapan-
harapan yang palsu. Tak ada yang meningkatkan keangkuhan kaum fasis begitu banyak
seperti halnya ‘pasifisme lembek’ dari organisasi-organisasi pekerja. Tak ada yang merusak
kepercayaan kelas-kelas menengah terhadap kelas pekerja selain keragu-raguan, pasifitas dan
tidak adanya keinginan untuk bertarung.
Le Populaire [Koran Partai Sosialis] dan terutama l’Humanite [Koran Partai Komunis]
menulis setiap hari:
“Front persatuan adalah sebuah blokade dalam melawan fasisme...”;
“Front persatuan tidak akan membiarkan...”;
“Kaum fasis tidak akan berani”, dan sebagainya.

111
Diambil dari “Kemanakah Arah Prancis?”, 1934

57
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kesemuanya adalah omong kosong. Perlu ditegaskan kepada para pekerja, kaum
Sosialis, dan Komunis secara langsung: jangan biarkan dirimu dinina-bobokan oleh omong
kosong para jurnalis dan orator-orator yang dangkal. Ini adalah masalah hidup dan mati kita
dan masa depan sosialisme. Kita bukannya mengingkari pentingnya front persatuan. Kami
sudah menuntut hal ini jauh-jauh hari ketika para pemimpin kedua partai masih menolaknya.
Front persatuan membuka banyak sekali kemungkinan, tapi hanya sebatas itu. Front persatuan
semacam itu, dalam dirinya sendiri, tak akan menentukan apapun. Perjuangan massa-lah yang
menentukan. Front persatuan ini akan terlihat kegunaannya jika kelompok komunis dan
kelompok sosial demokrat saling membantu ketika kelompok fasis menyerang Le Populaire
atau l’Humanite. Tapi untuk itu, kelompok-kelompok tempur proletar haruslah dibentuk dan
dididik, dilatih dan dipersenjatai. Tanpa adanya sebuah organisasi pertahanan, seperti halnya
milisi pekerja, Le Populaire atau l’Humanite mungkin masih mampu menulis artikel sesuka
mereka tentang kehebatan front persatuan, namun kedua koran tersebut akan segera menemui
diri mereka sendiri tanpa pertahanan saat mereka menghadapi serangan pertama kaum fasis
yang dipersiapkan dengan baik.
Kami ingin mempelajari dengan kritis ‘argumen-argumen’ dan ‘teori-teori’ dari
mereka-mereka yang menentang dibentuknya milisi pekerja; mereka ini yang sangat banyak
dan berpengaruh di dalam dua partai kelas pekerja.
Kita sering mendengar hal semacam ini: “Kita membutuhkan pertahanan-massa dan
bukannya milisi”.
Tetapi apakah yang dimaksud dengan ‘pertahanan-massa’ tanpa adanya organisasi-
organisasi tempur, tanpa kader-kader khusus, tanpa senjata? Menyerahkan tanggung jawab
pertahanan dalam melawan fasisme pada massa yang tidak terorganisir dan tak dipersiapkan
sama dengan memainkan peran yang lebih rendah dari Pontius Pilatus. Menyangkal peran dari
milisi sama halnya dengan menafikkan peran kaum garda depan. Kalau begitu, apa gunanya
sebuah partai? Tanpa dukungan dari massa, milisi tak akan berarti sama sekali. Tapi, tanpa
kelompok-kelompok tempur yang terorganisir, massa yang paling heroikpun akan
diluluhlantakkan oleh geng-geng fasis. Adalah omong kosong untuk mengkontradiksikan
antara milisi dengan pertahanan. Milisi adalah sebuah organ pertahanan.
“Untuk membentuk organisasi milisi,” tukas para penentang yang, tentu saja, tidak
serius dan jujur, “sama dengan melibatkan diri dalam provokasi.”
Ini bukanlah sebuah argumen, tetapi sebuah penghinaan. Jika kebutuhan akan
pertahanan dalam organisasi-organisasi pekerja datang dari situasi, bagaimana bisa seseorang
tidak menyerukan pembentukan sebuah milisi? Mungkin mereka bermaksud untuk
mengatakan bahwa pembentukan sebuah milisi ‘memprovokasi’ serangan dari kaum fasis dan
represi pemerintah. Kalau yang dimaksud demikian, ini merupakan argumen yang benar-
benar reaksioner. Liberalisme selalu mengatakan kepada para pekerja bahwa dengan
perjuangan kelasnya mereka memprovokasi sebuah reaksi.
Kaum reformis kerap mengulang tuduhan ini terhadap kaum Marxis, kaum Menshevik
terhadap kaum Bolshevik. Tuduhan semacam ini adalah berdasarkan suatu pemikiran jika
kaum tertindas tidak melawan, maka kaum penguasa tidak akan memukul mereka. Ini adalah
filosofi dari Tolstoy dan Gandhi, tapi bukanlah filosofinya Marx dan Lenin. Jika l’Humanite
ingin membangun doktrin “jangan melawan kejahatan dengan kekerasan”, mereka seharusnya
tidak menggunakan palu dan arit atau emblem Revolusi Oktober sebagai simbolnya,
sebaiknya mereka menggunakan simbol kambing suci yang menyediakan susu kepada
Gandhi.
“Tetapi mempersenjatai para pekerja hanyalah cocok dalam sebuah situasi yang
revolusioner, yang belum datang saat ini.”
Argumen yang bijaksana ini sama saja dengan mempersilakan kaum pekerja untuk
dibantai sampai situasi menjadi revolusioner. Mereka yang kemarin mengkhotbahkan tentang

58
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

‘periode ketiga’ tidak ingin melihat apa yang sedang terjadi di depan mata mereka. Masalah
tentang mempersenjatai diri terdorong ke depan sebab situasi ‘demokratis’, ‘normal’ dan
‘damai’ telah memberikan jalan bagi situasi yang ‘tak stabil’, ‘kritis’, dan ‘kacau’ yang dapat
mentransformasikan dirinya ke dalam situasi yang revolusioner, bahkan juga kontra
revolusioner.112
Alternatif dari situasi ini tergantung terutama pada: apakah pekerja yang berpandangan
maju akan membiarkan dirinya diserang tanpa ampun dan dikalahkan sedikit demi sedikit
atau membalas setiap pukulan dengan dua pukulan, meningkatkan keberanian kaum tertindas
dan menyatukan mereka dalam panji-panji mereka. Sebuah situasi yang revolusioner tidaklah
jatuh dari langit. Situasi ini mengambil bentuknya melalui partisipasi aktif kelas revolusioner
dan partainya.
Sekarang kaum Stalinis Prancis berargumen bahwa milisi buruh tidaklah melindungi
kaum proletar Jerman dari kekalahannya. Padahal baru kemarin mereka menyangkal
kekalahan mereka di Jerman dan menegaskan bahwa kebijakan kaum Stalinis Jerman adalah
benar dari awal sampai akhir. Sekarang mereka membebankan semua kesalahan pada milisi
pekerja Jerman (Rote Front) [Front Tempur Merah: milisi yang didominasi kaum Komunis
yang dilarang oleh pemerintahan Sosial Demokrasi setelah kerusuhan May Day Berlin, pada
tahun 1929]. Dari satu kesalahan, mereka terjatuh ke dalam sebuah kesalahan lainnya yang
berlawanan secara diametris, yang tak kalah mengerikannya. Milisi, dalam dirinya sendiri,
tidaklah menyelesaikan permasalahan. Sebuah kebijakan yang tepat dibutuhkan. Sementara
itu, kebijakan Stalinisme di Jerman (“sosial fasisme adalah musuh utama”), perpecahan dalam
organisasi-organisasi buruh, percumbuan dengan nasionalisme, putschisme, menyebabkan
secara fatal terisolasinya garda depan proletar dan keruntuhannya. Dengan strategi yang
benar-benar keliru, tak akan ada milisi yang bisa menyelamatkan situasi.
Omong kosong jika, dalam dirinya sendiri, organisasi milisi akan terjerumus dalam
adventurisme, memprovokasi musuh, menggeser perjuangan politik menjadi perjuangan fisik,
dan lain sebagainya. Semua omongan ini tak lebih dari sebuah kepengecutan politik belaka.
Barisan milisi, sebagai organisasi garda depan yang kuat, terbukti merupakan
pertahanan yang paling pasti dalam melawan petualang-petualang politik, melawan terorisme
individu, melawan ledakan-ledakan spontan yang berdarah.
Pada waktu yang sama, barisan milisi merupakan satu-satunya cara yang serius untuk
mencegah terjadinya perang sipil yang dipaksakan oleh kubu fasis kepada kaum proletar.
Biarkanlah para pekerja, lepas dari tidak adanya sebuah ‘situasi revolusioner’, meluruskan
‘patriot-patriot anak mama’ dengan cara mereka sendiri, dan niscaya rekrutmen kelompok-
kelompok fasis baru akan menjadi lebih sulit.
Tapi para ahli strategi, dibingungkan dengan cara pikirnya sendiri, menyangkal kami
dengan argumen-argumen yang lebih bodoh. Kami mengutipnya secara tekstual:
“Jika kita merespon tembakan revolver kaum fasis dengan tembakan revolver yang
lain,” tulis L’Humanite pada tanggal 23 Oktober [1934], “Kita melupakan fakta bahwa
fasisme adalah produk dari rezim kapitalis dan bahwa dalam perang melawan fasisme kita
menghadapi keseluruhan sistem.”
Tak ada kalimat-kalimat yang lebih membingungkan dan salah daripada kalimat-
kalimat di atas. Adalah tidak mungkin untuk membela diri atas serangan kaum fasis sebab
mereka adalah ‘sebuah produk dari rezim kapitalis’. Ini berarti kita harus membatalkan semua
perjuangan, karena semua kejahatan sosial dewasa ini adalah ‘produk-produk dari sistem
kapitalisme’.

112
[Catatan: “Periode Ketiga”: berdasarkan skema kaum Stalinis, periode ini adalah ‘periode terakhir
kapitalisme’, periode kematiannya yang segera datang dan penggeserannya oleh soviet. Periode ini dianggap
penting oleh komunis ultra-kiri dan taktik-taktik adventuris, khususnya konsep sosial fasisme.]

59
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Ketika kaum fasis membunuh seorang revolusioner, atau membakar habis gedung koran
proletar, para pekerja diharapkan untuk mengeluh secara filosofis: ‘Pembunuhan dan
pembakaran tersebut adalah produk-produk dari sistem kapitalis’, dan pulang dengan hati
yang tenang. Sikap fatalisme menggantikan teori militan Marx demi keuntungan musuh kelas
kita. Keruntuhan kaum borjuis kecil adalah, tentu saja, produk dari sistem kapitalisme.
Pertumbuhan kelompok-kelompok fasis juga, sebagai konsekwensinya, adalah produk dari
kehancuran kaum borjuis kecil. Tapi di pihak lain, peningkatan penderitaan dan perlawanan
kaum proletar juga merupakan produk-produk dari kapitalisme, dan milisi pekerja, pada
gilirannya, adalah produk dari makin tajamnya perjuangan kelas. Lalu kenapa, bagi kaum
‘Marxis’ l’Humanite, kelompok-kelompok fasis adalah produk yang sah dari kapitalisme dan
milisi pekerja adalah produk yang tidak sah dari – kaum Trotskyis? Sulit untuk memahami
ujung atau pangkal dari pernyataan ini.
“Kita harus menghadapi seluruh sistem kapitalisme “ demikian kita sering diberitahu.
Bagaimana caranya? Di awang-awang? Kaum fasis di negara-negara yang berbeda
memulainya dengan menggunakan revolver dan mengakhirinya dengan menghancurkan
seluruh ‘sistem’ organisasi-organisasi pekerja. Bagaimanakah kita bisa menghadapi serangan
bersenjata musuh jika tidak dengan pertahanan bersenjata untuk, pada gilirannya, balas
menyerang?
l’Humanite sekarang mengakui pentingnya pertahanan di dalam tulisan-tulisan mereka,
tetapi hanya dalam bentuk ‘pertahanan diri massa’. Milisi bersifat merugikan karena, seperti
anda lihat, mereka memisahkan kelompok tempur dari massa. Tetapi kenapa terdapat
detasemen-detasemen bersenjata independen diantara kaum fasis yang tidak terpisah dari
massa reaksionernya, yang sebaliknya meningkatkan keberanian dan kepercayaan massa
tersebut dengan serangan-serangan mereka yang tersusun rapi? Atau mungkin massa pekerja
lebih rendah kualitasnya dalam pertempuran dibandingkan dengan kaum borjuis kecil?
Terjerat dalam kebingungan, l’Humanite akhirnya mulai ragu-ragu dengan pendapatnya
sendiri: tampaknya pertahanan diri massa membutuhkan pembentukan ‘kelompok pertahanan
diri’ khusus. Kelompok-kelompok dan detasemen-detasemen khusus diajukan untuk
menggantikan konsep milisi yang ditolak. Pada awalnya seolah-olah perbedaan yang ada
hanya menyangkut soal nama. Tak bisa disangkal, nama yang diajukan oleh L’Humanite tidak
berarti apapun. Seseorang bisa mengajukan konsep ‘pertahanan diri massa’, tetapi tidak
mungkin mengajukan konsep ‘kelompok pertahanan diri’ sebab tujuan dari kelompok tersebut
bukanlah untuk membela dirinya sendiri tapi untuk membela organisasi-organisasi pekerja.
Tetapi, tentu saja ini bukan soal nama belaka. “Kelompok pertahanan diri”, menurut
l’Humanite, harus menolak penggunaan senjata demi menghindari jatuhnya mereka ke dalam
“putschisme”. Orang-orang bijaksana ini memperlakukan kelas pekerja tak ubahnya seperti
bayi yang harus dilarang memegang pisau di tangannya. Selain itu, seperti kita ketahui
bersama, pisau adalah monopoli dari Camelots du Roi [kaum monarkis Prancis yang
bergabung dengan koran Charles Maurras, Action Francaise, yang merupakan kubu anti
demokratik dan seringkali menggunakan kekerasan], yang merupakan ‘produk sah dari
kapitalisme’ dan, dengan bantuan pisau, telah menjungkalkan ‘sistem’ demokrasi. Lalu
bagaimana ‘kelompok pertahanan diri’ ini dapat membela dirinya dalam melawan
revolvernya kaum fasis? “Secara ideologis,” tentu saja. Dengan kata lain: mereka bisa
bersembunyi. Tanpa memiliki apa yang mereka butuhkan di tangan mereka, mereka harus
mencari “pertahanan diri” di kaki mereka. Dan sementara itu, kaum fasis menghancurkan
organisasi-organisasi pekerja tanpa perlawanan sama sekali. Tetapi jika kaum proletar
menderita kekalahan yang hebat, setidaknya mereka tidak jatuh ke dalam ‘putschisme’. Para
pembual ini, yang berlindung dibawah panji-panji ‘Bolshevisme’, hanya menimbulkan
kemuakan dan kebencian saja.

60
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Selama ‘periode ketiga’ yang indah – saat ahli-ahli strategi l’Humanite terserang
halusinasi, ‘menguasai’ jalan-jalan setiap hari dan mengutuk semua orang yang tidak
bergabung dengan keekstravaganzaan mereka sebagai kaum ‘sosial fasis’ – kami sudah
memprediksikan: “Pada momen dimana tuan-tuan ini terbakar ujung-ujung jarinya, mereka
akan menjadi kaum oportunis terburuk yang pernah ada.” Prediksi ini sekarang telah digenapi
sepenuhnya. Pada saat dimana persetujuan tentang pembentukan milisi semakin tumbuh dan
menguat di dalam gerakan partai Sosialis, para pemimpin dari apa yang disebut sebagai partai
Komunis ini lari ke pipa air untuk mendinginkan keinginan pekerja maju untuk mengorganisir
dirinya dalam barisan-barisan tempur. Dapatkah seseorang membayangkan perbuatan yang
lebih celaka dan terkutuk dari tindakan ini?
Dalam Partai Sosialis sesekali keberatan semacam ini juga terdengar dari anggota-
anggota partai: “Sebuah milisi memang harus dibentuk tapi tidak ada gunanya untuk
mengumumkan secara terbuka tentang hal ini.”
Seseorang bisa menghargai kawan yang berharap untuk melindungi bagian praksis
masalah dari mata dan telinga yang tidak berkepentingan. Tapi menjadi terlalu naif untuk
berfikir bahwa sebuah milisi bisa diciptakan tanpa terlihat dan secara rahasia di dalam
kungkungan empat tembok. Kita membutuhkan puluhan, dan selanjutnya ratusan, bahkan
ribuan petarung. Ini bisa terwujud jika jutaan pekerja wanita dan pria, dengan para petani
dibelakangnya, memahami kebutuhan akan milisi dan menciptakan di sekeliling sukarelawan
tersebut sebuah atmosfer simpati yang menggairahkan dan juga dukungan-dukungan aktif.
Kerahasiaan dapat dan harus hanya menyangkut aspek-aspek teknis pembentukan milisi.
Namun kampanye politis harus dikembangkan secara terbuka, dalam pertemuan-pertemuan,
di pabrik-pabrik, di jalan-jalan dan pada tempat-tempat berkumpulnya massa.
Kader-kader fundamental milisi haruslah terdiri dari pekerja-pekerja pabrik yang
dikelompokkan menurut tempat kerja mereka, saling tahu satu sama lain dan mampu
melindungi detasemen tempur mereka dari provokasi agen-agen musuh dengan lebih baik dan
pasti dibandingkan birokrat-birokrat yang paling tinggi. Pekerjaan-pekerjaan konspiratif,
tanpa mobilisasi terbuka massa, akan mengambang tanpa mampu berbuat apa-apa pada saat
bahaya datang. Setiap organisasi pekerja harus menceburkan diri dalam pekerjaan ini. Untuk
masalah ini, tidak boleh ada garis demarkasi antara partai pekerja dan organisasi-organisasi
buruh. Bersama-sama mereka harus memobilisasi massa. Dengan cara ini, kesuksesan milisi
rakyat akan terjamin penuh.
“Tapi darimanakah para pekerja akan mendapatkan senjatanya” sanggah sang ‘realis’
yang bijak — atau kaum filistin penakut – “musuh memiliki senapan, meriam, tank, gas, dan
pesawat udara. Para pekerja cuma memiliki ratusan revolver dan pisau saku.”
Keberatan semacam ini diangkat untuk menakuti para pekerja. Di satu pihak, mereka
menyamakan senjata kaum fasis dengan senjata negara. Tapi di pihak lain, mereka menoleh
kepada negara dan menuntut negara untuk melucuti senjata kaum fasis. Logika yang luar
biasa! Pada kenyataannya, kedua posisi mereka sama-sama salah. Di Prancis, kaum fasis
masih jauh dari mengontrol negara. Pada tanggal 6 Februari, mereka memasuki konflik
bersenjata dengan polisi negara. Karena itulah adalah salah untuk berbicara mengenai meriam
dan tank saat masalahnya adalah perjuangan bersenjata yang mendesak untuk melawan kaum
fasis. Kaum fasis tentu saja lebih kaya dibandingkan dengan kita. Lebih mudah bagi mereka
untuk membeli senjata. Tetapi para pekerja jumlahnya jauh lebih banyak, lebih pandai, dan
lebih setia, saat mereka sadar akan sebuah kepemimpinan revolusioner yang tegas.
Sebagai tambahan dari sumber lain, para pekerja juga dapat mempersenjati diri mereka
dengan melucuti senjata kaum fasis.
Ini merupakan salah satu bentuk perjuangan yang penting dalam melawan kaum fasis.
Saat gudang senjata para pekerja semakin penuh dengan senjata dari depo-depo kaum fasis,
bank-bank dan trust-trust akan berlaku lebih hati-hati dalam membiayai persenjataan penjaga-

61
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

penjaga mereka yang kejam. Adalah mungkin juga, otoritas-otoritas yang khawatir akan mulai
mencegah mempersenjatai kaum fasis agar tidak memberikan sumber-sumber tambahan
senjata bagi para pekerja. Kita telah lama mengetahui bahwa hanya taktik revolusioner yang
dapat menghasilkan, sebagai efek samping, ‘perubahan-perubahan’ atau konsesi-konsesi dari
pemerintah.
Tapi bagaimana caranya melucuti kaum fasis? Secara alami, tidak mungkin untuk
melakukannya dengan artikel-artikel koran saja. Skuadron tempur harus dibentuk. Badan
intelijen harus dibangun. Ribuan informan dan pembantu-pembantu yang baik dari seluruh
penjuru akan membantu secara sukarela saat mereka menyadari bahwa masalah ini sudah
ditangani secara serius oleh kita. Ini membutuhkan sebuah kehendak untuk aksi pekerja.
Tetapi senjata-senjata kaum fasis tentu saja bukanlah satu-satunya sumber yang ada. Di
Prancis, terdapat lebih dari satu juta pekerja yang terorganisir. Secara umum, jumlah ini
termasuk kecil. Tapi ini benar-benar cukup untuk dijadikan permulaan dalam mengorganisir
milisi pekerja. Jika partai-partai dan serikat-serikat buruh hanya mempersenjatai 1/10 dari
anggotanya, itu sudah akan menjadi sebuah kekuatan yang berjumlah 100,000 orang. Tak
dapat diragukan bahwa dengan seruan “front persatuan”, jumlah sukarelawan yang akan maju
ke depan untuk bergabung dalam milisi pekerja akan jauh melebihi jumlah itu. Kontribusi
partai-partai dan serikat-serikat buruh, sumbangan-sumbangan sukarela, akan dalam tempo
satu atau dua bulan mampu menjamin persenjataan dari 100,000 sampai 200,000 prajurit-
prajurit kelas buruh. Massa fasis akan tenggelam dalam rasa takut. Seluruh perspektif
perkembangan situasi akan menjadi lebih menjanjikan.
Menjadikan ketiadaan senjata atau alasan-alasan obyektif lain untuk menjelaskan
kenapa tidak ada usaha pembentukan sebuah milisi sampai sekarang adalah usaha untuk
membodohi diri sendiri dan orang lain. Halangan prinsipil – bisa dikatakan halangan satu-
satunya – berakar pada karakter konservatif dan pasif para pemimpin organisasi-organisasi
pekerja tersebut. Para pemimpin yang skeptis itu tidak mempercayai kekuatan kaum proletar.
Mereka menaruh harapan mereka pada mukjizat-mukjizat dari atas dibandingkan memberikan
wadah revolusioner bagi energi-energi yang berdenyut dari bawah. Kaum buruh sosialis harus
memaksa pemimpin mereka untuk membentuk milisi pekerja secepatnya, kalau tidak
pemimpin-pemimpin ini harus memberikan jalan kepada kekuatan-kekuatan yang lebih segar
dan muda.
Sebuah pemogokan tidak bisa kita bayangkan jadinya tanpa propaganda dan agitasi.
Juga tak bisa dibayangkan jika aksi massa diadakan tanpa penjagaan satuan pengamanan dari
serikat pekerja (penjaga piket) yang, saat mereka mampu, menggunakan persuasi, tapi jika
perlu, menggunakan paksaan. Pemogokan adalah bentuk paling mendasar dari perjuangan
kelas yang selalu menggabungkan, dalam proporsi yang bervariasi, metode-metode
‘ideologis’ dengan metode-metode fisik. Perjuangan melawan fasisme secara mendasar
merupakan perjuangan politis yang membutuhkan sebuah milisi seperti halnya aksi massa
membutuhkan satuan pengamanan serikat pekerja (penjaga piket). Pada dasarnya, satuan
penjaga piket itulah embrio dari lahirnya milisi pekerja. Seseorang yang mencoba menolak
perjuangan fisik harus menolak seluruh bentuk perjuangan, karena roh tak bisa hidup tanpa
daging.
Mengikuti pandangan dari teoritikus militer terkemuka Clausewitz, perang adalah
kelanjutan dari pertarungan politik dengan metode yang lain. Definisi ini sesuai sepenuhnya
dengan perang sipil. Adalah keliru untuk membedakan perjuangan politik dan perjuangan
bersenjata. Ketika perjuangan politik, oleh sebab desakan kebutuhan internal,
mentransformasikan dirinya ke dalam perjuangan bersenjata, kita tak mungkin bisa
mencegahnya.
Tugas partai revolusioner adalah untuk memprediksikan waktu di mana kita tak bisa
lagi menolak transformasi politik ke dalam konflik bersenjata secara terbuka, dan dengan

62
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

seluruh kekuatan yang ada mempersiapkan diri untuk momen itu, seperti halnya yang
dilakukan oleh kelas penguasa.
Detasemen-detasemen milisi pertahanan dalam melawan fasisme adalah langkah
pertama dalam mempersenjatai kaum proletar, dan bukannya langkah terakhir. Slogan kita
adalah:
“Persenjatai proletar dan petani-petani revolusioner!”
Milisi pekerja harus, pada analisa akhir, merangkul semua pekerja. Program ini hanya
bisa dipenuhi di dalam negara pekerja yang menguasai semua alat produksi dan tentunya alat-
alat pemusnah – antara lain, semua senjata beserta perusahaan-perusahaan yang
memproduksinya.
Tapi, tidak mungkin kita membentuk negara para pekerja dengan tangan kosong. Hanya
politisi-politisi tidak berguna macam Renaudel yang dapat berbicara mengenai jalan
konstitusional dan damai menuju sosialisme. Jalan konstitusional telah terpotong-potong oleh
parit-parit yang dibikin oleh kelompok fasis. Banyak parit-parit menghadang di depan kita.
Kaum borjuis tak akan ragu-ragu untuk mengambil jalan kudeta dengan bantuan polisi dan
militer demi mencegah kaum proletar menuju kekuasaan. 113
Sebuah negara sosialis para pekerja hanya bisa diwujudkan melalui kemenangan sebuah
revolusi.
Setiap revolusi dipersiapkan melalui perkembangan ekonomi dan politik, tapi selalu
ditentukan oleh konflik bersenjata secara terbuka diantara kelas-kelas yang saling
bertentangan. Sebuah kemenangan revolusioner hanya dapat menjadi kenyataan sebagai hasil
agitasi politik yang berkepanjangan, periode pendidikan dan organisasi massa yang
berkepanjangan.
Konflik bersenjata sendiri juga harus dipersiapkan jauh sebelumnya. Pekerja-pekerja
yang perpandangan maju harus tahu bahwa mereka harus bertempur dan memenangkan
sebuah perjuangan sampai mati. Mereka harus mempersenjatai diri mereka, sebagai jaminan
emansipasi mereka.

5.11 Perspektif di Amerika Serikat 114


Keterbelakangan kelas pekerja di Amerika Serikat hanyalah bersifat relatif. Dalam
banyak sisi, mereka adalah kelas pekerja yang paling progresif di dunia, baik secara teknis
dan dalam standar kehidupannya.
Pekerja-pekerja Amerika sangat siap tempur – seperti yang kita telah lihat selama
pemogokan-pemogokan mereka. Mereka sudah melakukan pemogokan yang paling hebat di
dunia. Apa yang kurang dari pekerja Amerika adalah semangat generalisasi, atau analisis,
terhadap posisi kelasnya dalam masyarakat secara menyeluruh. Kekurangan dalam pemikiran
sosial ini berakar pada sejarah negara tersebut.
Tentang fasisme.
Di semua negara dimana fasisme menang, sebelum pertumbuhan fasisme dan
kemenangannya kita mengalami sebuah gelombang radikalisasi massa – pekerja dan petani
miskin, dan kelas borjuis kecil. Di Italia, sesudah perang dan sebelum 1922, kita memiliki
gelombang revolusioner yang luar biasa; negara menjadi lumpuh, polisi tak lagi eksis, serikat-

113
[Catatan: Pierre Renaudel (1871-1935): sebelum Perang Dunia I, seorang tangan kanan pemimpin
sosialis Jean Jaures dan editor dari l’Humanite. Selama perang, dia merupakan patriot sayap kanan. Pada dekade
30-an, dia dan Marcel Deat memimpin kaum revisionis yang bertendensi “neo-sosialis”. Dikalahkan dalam
konvensi Juli 1933, tendensi ini pecah dari partai Sosialis. Sesudah kerusuhan fasis pada 6 Februari 1934,
kebanyakan dari kaum “neo” ini bergabung dengan partai Radikal, partai utama dalam kapitalisme Prancis.]
114
Dari “Beberapa Pertanyaan Menyangkut Masalah-Masalah Amerika”, Internasional Keempat,
Oktober 1940.

63
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

serikat pekerja dapat melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan – tapi tidak ada partai
yang mampu untuk merebut kekuasaan. Maka sebagai sebuah reaksi datanglah fasisme.
Di Jerman, hal yang sama terjadi. Kita memiliki sebuah situasi revolusioner pada tahun
1918; kelas borjuis bahkan tidak meminta untuk berpartisipasi dalam kekuasaan. Kaum sosial
demokrat melumpuhkan revolusi saat itu. Sesudah itu para pekerja mencoba lagi pada tahun
1922-23-24. Tapi tahun-tahun itu adalah tahun kebangkrutan partai Komunis – yang telah kita
kemukan di atas. Dan pada tahun 1929-30-31, kalangan pekerja Jerman memulai lagi sebuah
gelombang revolusioner baru. Terdapat kekuatan yang luar biasa pada kelompok komunis dan
serikat-serikat pekerja, namun sesudah itu keluarlah kebijakan yang terkenal (sebagai bagian
dari gerakan Stalinis) mengenai sosial fasisme, sebuah kebijakan yang dikeluarkan guna
melumpuhkan kelas pekerja. Hanya sesudah tiga gelombang besar inilah fasisme menjadi
gerakan yang masif. Tidak ada pengecualian di dalam hukum ini – fasisme datang hanya saat
kelas pekerja tidak mampu merebut nasib masyarakat ke dalam tangannya.
Di Amerika Serikat kita mengalami hal yang sama. Saat ini sudah terdapat elemen-
elemen fasis, dan, tentu saja, mereka telah mendapatkan model-model untuk gerakan mereka
dari fasisme Italia dan Jerman. Oleh karenanya mereka akan berkembang dalam tempo yang
lebih cepat. Tapi kita juga memiliki model-model dari negara-negara lain. Gelombang sejarah
selanjutnya di Amerika Serikat akan merupakan gelombang radikalisme massa, dan bukannya
fasisme. Tentu saja, perang dapat menghambat radikalisasi untuk beberapa waktu, tapi
selanjutnya perang akan memberikan radikalisasi tersebut sebuah tempo dan peralihan-
peralihan yang jauh lebih dahsyat.
Kita tidak boleh mengidentifikasi kediktatoran perang – kediktatoran mesin-mesin
militer, pejabat-pejabat militer, kapital keuangan – sebagai kediktaturan fasis. Untuk
kediktaturan fasis, pertama kali yang disyaratkan adalah terdapatnya perasaan putus asa dari
massa yang besar di dalam masyarakat. Saat partai-partai revolusioner mengkhianati mereka,
saat garda depan kaum pekerja menunjukkan ketidakmampuannya untuk memimpin rakyat
menuju kemenangan, maka para petani, usahawan kecil, pengangguran, prajurit, dan lain-lain
akan mampu mendukung gerakan fasis, tapi, sekali lagi, hanya jika pengkhianatan itu terjadi.
Sebuah kediktatoran militer merupakan institusi birokratis, yang dipaksakan oleh mesin
militer dan berdasarkan pada disorientasi masyarakat dan kepatuhan mereka terhadapnya.
Beberapa waktu sesudahnya perasaan mereka dapat berubah dan mereka bisa memberontak
melawan kediktatoran tersebut.

5.12 Bangun Partai Revolusioner!


Pada setiap diskusi politik, pertanyaan yang selalu muncul adalah: bisakah kita
membentuk sebuah partai yang kuat pada masa krisis? Tidakkah kekuatan fasis akan
mengantisipasi tindakan kita? Bukankah sebuah tahap perkembangan fasis adalah tidak
terelakan?
Kesuksesan fasisme dapat dengan mudahnya membuat orang-orang kehilangan semua
perspektif, menggiring mereka untuk melupakan kondisi-kondisi faktual yang telah
memungkinkan penguatan dan kemenangan fasisme. Akan tetapi, pemahaman yang jelas
menyangkut kondisi-kondisi seperti ini sangatlah penting bagi kaum buruh Amerika Serikat.
Kita dapat menjadikannya sebagai sebuah hukum historis: fasisme hanya mampu menang di
negara-negara dimana partai-partai buruh konservatifnya mencegah kaum proletar untuk
menggunakan situasi revolusioner dan merebut kekuasaan. Di Jerman kita bisa menemui
adanya dua situasi revolusioner seperti yang dimaksud: 1918-1919 dan 1923-1924. Bahkan di
tahun 1929, sebenarnya perjuangan merebut kekuasaan oleh kaum proletariat masihlah
dimungkinkan. Pada tiga kasus ini, kaum sosial demokrasi dan Komintern (Stalinis) secara
keji menggagalkan perebutan kekuasaan, dan karenanya menempatkan masyarakat dalam

64
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

sebuah kebuntuan. Hanya di bawah dan di dalam kondisi-kondisi seperti ini kebangkitan
fasisme dan kemenangannya dalam perebutan kekuasaan dimungkinkan terjadi.
Selama kekuatan proletariat terbukti tidak mampu, pada sebuah tahap tertentu, untuk
meraih kekuasaan, imperialisme akan mulai menjalankan kehidupan ekonomi dengan metode
yang dimilikinya; partai fasis yang meraih kekuasaan negara adalah mekanisme politiknya.
Kekuatan produksi berada dalam kontradiksi yang luar biasa tidak hanya dengan kepemilikan-
kepemilikan pribadi tetapi juga dengan batasan-batasan negara. Imperialisme merupakan
ekspresi dari kontradiksi tersebut. Kapitalisme imperialis mencoba untuk menyelesaikan
kontradiksi ini melalui suatu usaha perluasan batasan-batasan negara, perebutan wilayah-
wilayah baru, dan sebagainya. Negara totalitarian, dengan menafikkan segala aspek-aspek
ekonomis, politis, dan kehidupan budaya demi kapital keuangan, merupakan instrumen untuk
menciptakan sebuah negara supernasionalis, kekaisaran imperialis, penguasa benua-benua,
bahkan penguasa seluruh dunia.
Semua karakter-karakter kebebasan yang sudah kita telah analisa, baik satu persatu
maupun seluruhnya dalam totalitas mereka, telah menjadi semakin jelas atau mengemuka.
Baik analisa teoritis maupun juga pengalaman sejarah yang kaya pada seperempat abad
terakhir ini telah menunjukkan secara berimbang bahwa fasisme adalah mata rantai terakhir
dari rangkaian politik tertentu yang dibentuk antara lain oleh: krisis terparah dalam
masyarakat kapitalis; perkembangan radikalisasi kelas pekerja; meningkatnya simpati
terhadap kelas pekerja, keinginan akan perubahan pada pihak borjuis kecil pertanian dan
urban; kebingungan luar biasa kaum borjuis, manuver licik kaum borjuis yang ditujukan demi
menghindari klimaks revolusi; kelelahan dari kaum proletariat; bertambahnya kebingungan
dan kemasabodohan; bertambah buruknya krisis sosial; penderitaan yang dialami borjuis
kecil, keinginannya akan sebuah perubahan; kegilaan kolektif kaum borjuis kecil,
kesiapannya dalam mempercayai mukjizat, kesiapannya dalam mengambil tindakan
kekerasan; perkembangan perlawanan terhadap proletariat, yang telah menipu harapan kaum
borjusi kecil. Kesemuanya adalah premis-premis dalam pembentukan partai fasis secara cepat
beserta kemenangannya.
Terbukti dengan sendirinya bahwa radikalisasi kelas pekerja di Amerika Serikat barulah
melewati fase-fase awal saja, cenderung hanya dalam lingkup gerakan buruh. Periode
sebelum perang dan kemudian periode perang itu sendiri, dapat menginterupsi proses
radikalisasi ini secara sementara, khususnya saat sejumlah besar pekerja terserap ke dalam
industri perang. Tetapi interupsi dalam proses radikalisasi ini tidaklah bisa berlangsung dalam
waktu yang lama. Tahap kedua dalam radikalisasi ini akan mengambil karakter yang benar-
benar lebih tajam ekspresinya. Masalah pembentukan partai buruh yang independen akan
terdorong ke depan. Tuntutan transisional kita akan meraih popularitas yang luar biasa. Di
pihak lain, kaum fasis, tendensi-tendensi reaksioner akan menarik diri ke belakang,
mengambil langkah defensif, sembari menunggu momen yang lebih tepat. Ini adalah
perspektif yang paling dekat dengan kenyataan. Tak ada pekerjaaan yang lebih tak berharga
daripada memikirkan apakah kita bisa berhasil membangun sebuah partai pelopor
revolusioner yang kuat atau tidak. Di depan kita terbentang sebuah perspektif yang
menguntungkan, yang menyediakan semua pembenaran terhadap aktivisme revolusioner.
Adalah perlu untuk menggunakan kesempatan-kesempatan yang terbuka dan membangun
partai revolusioner.[]

65
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 06:
ANARKISME

Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala
bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang
menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan,
beserta perangkatnya harus dihilangkan/ dihancurkan. Secara spesifik pada sektor ekonomi,
politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan pengelolaan, tanpa aturan birokrasi
yang didefinisikan secara luas sebagai pihak yang superior dalam wilayah ekonomi, politik
dan administratif (baik pada ranah publik maupun privat).

1. Etimologi
Anarkisme berasal dari kata dasar anarki dengan imbuhan isme. Kata anarki merupakan
kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/ Jerman/ Prancis), yang
berakar dari kata Yunani anarchos/anarchein. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/ tanpa/
nihil/ negasi) yang disisipi n dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang
menerapkan kontrol dan otoritas-secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani).
Anarchos/ anarchein= tanpa pemerintahan atau pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan
memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai,
mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya. Sedangkan Anarkis berarti orang yang
mempercayai dan menganut anarki. Sedangkan isme sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.

2. Anarkisme
“Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara
manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan
pergerakan dari manusia” (Peter Kropotkin) “Penghapusan eksploitasi dan penindasan
manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan
pemerintahan yang menindas” (Errico Malatesta)

2.1. Teori Politik


Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa
hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha
mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat
diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan
sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah
kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan
Bakunin yang terkenal: “kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme
tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan.”115

2.2. Anarkisme dan Kekerasan


Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan
kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para
anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di
Yunani. Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi: Terkadang cinta
hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan Yang sangat sarat akan penggunaan
kekerasan dalam sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat
berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan
menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti

115
The Political Philosophy of Bakunin, Hal. 269, Mikhail Bakunin

66
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama hal tersebut


ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara. Namun demikian, tidak sedikit juga
dari para anarkis yang tidak sepakat untuk menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang
harus ditempuh. Dalam bukunya What is Communist Anarchist, pemikir anarkis Alexander
Berkman menulis:”Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan
perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan
semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia.
Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas.
Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok
anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang
anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup
didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam
perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan,
monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam
kesetaraan.” (Alexander Berkman, What is Communist Anarchist 1870 - 1936).
Dari berbagai selisih paham antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan
sebagai sebuah metode, kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik
anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna
tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai
sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku
alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

3. Sejarah dan Dinamika Filsafat Anarkisme


Anarkisme sebagai sebuah ide yang dalam perkembangannya juga menjadi sebuah
filsafat yang juga memiliki perkembangan serta dinamika yang cukup menarik.

3.1. Anarkisme dan Marxisme


Marxisme dalam perkembangannya setelah Marx dan Engels berkembang menjadi 3
kekuatan besar ideologi dunia yang menyandarkan dirinya pada pemikiran-pemikiran Marx.
Ketiga ideologi itu adalah : (1) Komunisme, yang kemudian dikembangkan oleh Lenin
menjadi ideologi Marxisme-Leninisme yang saat ini menjadi pegangan mayoritas kaum
komunis sedunia; (2) Sosialisme Demokrat, yang pertama kali dikembangkan oleh Eduard
Bernstein dan berkembang di Jerman dan kemudian berkembang menjadi sosialis yang berciri
khas Eropa; (3) Neomarxisme dan Gerakan Kiri Baru, yang berkembang sekitar tahun 1965-
1975 di universitas-universitas di Eropa.
Walaupun demikian, ajaran Marx tidak hanya berkutat pada ketiga aliran besar itu
karena banyak sekali sempalan-sempalan yang memakai ajaran Marx sebagai basis ideologi
dan perjuangan mereka. Aliran lain yang berkembang serta juga memakai Marx sebagai tolak
pikirnya adalah Anarkisme. Walaupun demikian anarkisme dan Marxisme berada
dipersimpangan jalan dalam memandang masalah-masalah tertentu. Pertentangan mereka
yang paling kelihatan adalah persepsi terhadap negara. Anarkisme percaya bahwa negara
mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang monopoli kekuasaan yang bersifat
memaksa. Negara hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok elit secara politik dan ekonomi,
dan kekuatan elit itu bisa siapa saja dan apa saja termasuk kelas proletar seperti yang
diimpikan kaum Marxis. Dan oleh karena itu kekuasaan negara (dengan alasan apapun) harus
dihapuskan.
Disisi lain, Marxisme memandang negara sebagai suatu organ represif yang merupakan
perwujudan kediktatoran salah satu kelas terhadap kelas yang lain. Negara dibutuhkan dalam
konteks persiapan revolusi kaum proletar, sehingga negara harus eksis agar masyarakat tanpa
kelas dapat diwujudkan. Lagipula, cita-cita kaum Marxis adalah suatu bentuk negara sosialis

67
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

yang bebas pengkotakan berdasarkan kelas. Selain itu juga, perbedaan kentara antara
anarkisme dengan Marxisme dapat dilihat atas penyikapan keduanya dalam seputar isu kelas
serta seputar metoda materialisme histories.

3.2. Pierre Joseph Proudhon


Pierre-Joseph Proudhon, adalah pemikir yang mempunyai pengaruh jauh lebih besar
terhadap perkembangan anarkisme; seorang penulis yang betul-betul berbakat dan ‘serba
tahu’ dan merupakan tokoh yang dapat dibanggakan oleh sosialisme moderen. Proudhon
sangat menekuni kehidupan intelektual dan sosial di zamanya, dan kritik-kritik sosialnya
didasari oleh pengalaman hidupnya itu. Diantara pemikir-pemikir sosialis di zamannya, dialah
yang paling mampu mengerti sebab-sebab penyakit sosial dan juga merupakan seseorang
yang mempunyai visi yang sangat luas. Dia mempunyai keyakinan bahwa sebuah evolusi
dalam kehidupan intelektual dan sosial menuju ke tingkat yang lebih tinggi harus tidak
dibatasi dengan rumus-rumus abstrak. Proudhon melawan pengaruh tradisi Jacobin yang
mendominasi pemikiran demokrat-demokrat di Perancis dan kebanyakan sosialis pada saat
itu, dan juga pengaruh negara dan kebijaksanaan ekonomi dalam proses alami kemajuan
sosial. Baginya, pemberantasan kedua-dua perkembangan yang bersifat seperti kanker
tersebut merupakan tugas utama dalam abad kesembilan belas. Proudhon bukanlah seorang
komunis. Dia mengecam hak milik sebagai hak untuk mengeksploitasi, tetapi mengakui hak
milik umum alat-alat untuk ber produksi, yang akan dipakai oleh kelompok-kelompok
industri yang terikat antara satu dengan yang lain dalam kontrak yang bebas; selama hak ini
tidak dipakai untuk mengeksploitasi manusia lain dan selama seorang individu dapat
menikmati seluruh hasil kerjanya. Jumlah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk
memproduksi sebuah benda menjadi ukuran nilainya dalam pertukaran mutual. Dengan sistem
tersebut, kemampuan kapital untuk menjalankan riba dimusnahkan. Jikalau kapital tersedia
untuk setiap orang, kapital tersebut tidak lagi menjadi sebuah instrumen yang bisa dipakai
untuk mengeksploitasi.

3.3. Internationale Pertama (Mikhail Bakunin 1814-1876)


Tokoh utama kaum anarkisme adalah Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang
kemudian sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Ia memimpin kelompok anarkis
dalam konverensi besar kaum Sosialis sedunia (Internasionale I) dan terlibat pertengkaran dan
perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan dari kelompok Marxis
mainstream dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan sebagai perjuangan kaum sosialis.
Sejak Bakunin, anarkisme identik dengan tindakan yang mengutamakan kekerasan dan
pembunuhan sebagai basis perjuangan mereka. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas
gedung-gedung milik negara, dan perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme
sebagai cara untuk menggerakkan massa untuk memberontak.116 Mikhail Bakunin merupakan
seorang tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan
‘penganut’ ajaran Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap
kolektivisme dalam First International mengakui hak milik kolektif atas tanah dan alat-alat
produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja seseorang. Bakunin juga
merupakan anti komunis yang pada saat itu mempunyai karakter yang sangat otoritar. Pada
salah satu pidatonya dalam kongres—Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan—di Bern
(1868), dia berkata: Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan
masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan
konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan Negara—
pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin
116
Franz Magnis Suseno. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme,
Jakarta, 1999

68
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu
memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.
Bakunin dan anarkis-anarkis lain dalam First International percaya bahwa revolusi
sudah berada di ambang pintu, dan mengerahkan semua tenaga mereka untuk menyatukan
kekuatan revolusioner dan unsur-unsur libertarian di dalam dan di luar First International
untuk menjaga agar revolusi tersebut tidak ditunggangi oleh elemen-elemen kediktatoran.
Karena itu Bakunin menjadi pencipta gerakan anarkisme moderen. Peter Kropotkin adalah
seorang penyokong anarkisme yang memberikan dimensi ilmiah terhadap konsep sosiologi
anarkisme.Anarkisme model Bakunin, tidaklah identik dengan kekerasan. Tetapi anarkisme
setelah Bakunin kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang menjadikan kekerasan
sebagai jalur perjuangan mereka. Dan puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga
menjadikan sosialisme Marx sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme. gerakan ini
menjadikan sosialisme Marx dan anarkisme Bakunin sebagai dasar perjuangan mereka.
Bahkan gerakan mereka disebut Anarko-Sindikalisme.

4. Varian-varian Anarkisme
Anarkisme, yang besar dan kemudian berbeda jalur dengan Marxisme, bukan
merupakan suatu ideologi yang tunggal. Di dalam anarkisme sendiri banyak aliran-aliran
pemikiran yang cukup berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu terutama dalam hal
penekanan dan prioritas pada suatu aspek. Aliran-aliran dan pemikiran-pemikiran yang
berbeda di dalam Anarkisme adalah suatu bentuk dari berkembangnya ideologi ini
berdasarkan perbedaan latar belakang tokoh, peristiwa-peristiwa tertentu dan tempat/lokasi
dimana aliran itu berkembang.

4.1. Anarkisme-Kolektif
Kelompok anarkisme-kolektif sering diasosiasikan dengan kelompok anti-otoritarian
pimpinan Mikhail Bakunin yang memisahkan diri dari Internationale I. Kelompok ini
kemudian membentuk pertemuan sendiri di St. Imier (1872). Disinilah awal perbedaan antara
kaum anarkis dengan Marxis, diman sejak saat itu kaum anarkis menempuh jalur perjuangan
yang berbeda dengan kaum Marxis. Perbedaan itu terutama dalam hal persepsi terhadap
negara. Doktrin utama dari anarkis-kolektif adalah “penghapusan segala bentuk negara” dan
“penghapusan hak milik pribadi dalam pengertian proses produksi”. Doktrin pertama
merupakan terminologi umum anarkisme, tetapi kemudian diberikan penekanan pada istilah
“kolektif” oleh Bakunin sebagai perbedaan terhadap ide negara sosialis yang dihubungkan
dengan kaum Marxis. Sedangkan pada doktrin kedua, anarkis-kolektif mengutamakan
penghapusan adanya segala bentuk hak milik yang berhubungan dengan proses produksi dan
menolak hak milik secara kolektif yang dikontrol oleh kelompok tertentu. Menurut mereka,
pekerja seharusnya dibayar berdasarkan jumlah waktu yang mereka kontribusikan pada proses
produksi dan bukan “menurut apa yang mereka inginkan”. Pada tahun 1880-an, para
pendukung anarkis kebanyakan mengadopsi pemikiran anarkisme-komunis, suatu aliran yang
berkembang terutama di Italia setelah kematian Bakunin. Ironisnya, label “kolektif” kemudian
secara umum sering diasosiasikan dengan konsep Marx tentang negara sosialis.

4.2. Anarkisme-Komunis (William Godwin)


Ide-ide anarkis bisa ditemui dalam setiap periode sejarah, walaupun masih banyak
penelitian yang harus dilakukan dalam bidang ini. Kita menemuinya dalam karya filsuf
Tiongkok, Lao-Tse (yang berjudul Arah dan Jalan yang Benar)117 dan juga filsuf-filsuf

117
Lao tse, Arah dan Jalan yang Benar. diterjemahkan kedalam bahasa inggris dari the German of
Alexander Ular. Penerbit the Inselbucherei, Leipzig.

69
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Yunani seperti Hedonists118 dan Cynics119 dan orang-orang yang mendukung ‘hukum alam’
khususnya Zeno yang menemukan aliran ‘Stoic’ yang berlawanan dengan Plato. Mereka
menemukan ekspresi dari ajaran-ajaran Gnostics, Karpocrates di Alexandria dan juga
dipengaruhi oleh beberapa aliran Kristen di Zaman Pertengahan di Prancis, Jerman dan
Belanda. Hampir semua dari mereka menjadi korban represi. Dalam sejarah reformasi
Bohemia, anarkisme ditemui dalam karya Peter Chelciky (The Net of Faith) yang mengadili
negara dan gereja seperti yang dilakukan oleh Leo Tolstoy di kemudian hari. Humanis besar
lainnya adalah Rabelais yang dalam karyanya menggambarkan kehidupan yang bebas dari
semua cengkraman otoritas. Sebagian dari pemrakarsa ideologi libertarian lainnya adalah La
Boetie, Sylvan Marechal, dan Diderot. Karya William Godwin yang berjudul ‘Pertanyaan
Mengenai Keadilan Politik dan Pengaruhnya Terhadap Moralitas dan Kebahagiaan’,
merupakan bagian penting dari sejarah anarkisme kontemporer. Dalam karyanya tersebut
Godwin menjadi orang pertama yang memberikan bentuk yang jelas mengenai filsafat
anarkisme dan meletakannya dalam konteks proses evolusi sosial pada saat itu. Karya
tersebut, boleh kita bilang adalah ‘buah matang’ yang merupakan hasil daripada evolusi yang
panjang dalam perkembangan konsep politik dan sosial radikal di Inggris, yang meneruskan
tradisi yang dimulai oleh George Buchanan sampai Richard Hooker, Gerard Winstanley,
Algernon Sydney, John Locke, Robert Wallace dan John Bellers sampai Jeremy Bentham,
Joseph Priestley, Richard Price dan Thomas Paine. Godwin menyadari bahwa sebab-sebab
penyakit sosial dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk negara tetapi karena adanya negara
itu. Pada saat ini, negara hanyalah merupakan karikatur masyarakat, dan manusia yang ada
dalam cengkraman negara ini hanyalah merupakan karikatur diri mereka karena manusia-
manusia ini digalakkan untuk menyekat ekspresi alami mereka dan untuk melakukan
tindakan-tindakan yang merusak akhlaknya. Hanya dengan cara-cara tersebut, manusia dapat
dibentuk menjadi hamba yang taat. Ide Godwin mengenai masyarakat tanpa negara
mengasumsikan hak sosial untuk semua kekayaan alam dan sosial, dan kegiatan ekonomi
akan dijalankan berdasarkan ko-operasi bebas diantara produsen-produsen; dengan idenya,
Godwin menjadi penemu Anarkisme Komunis.

Errico Malatesta (1853-1932)


Namun demikian, kelompok anarkisme-komunis pertama kali diformulasikan oleh
Carlo Cafiero, Errico Malatesta dan Andrea Costa dari kelompok federasi Italia pada
Internasionale I. Pada awalnya kelompok ini (kemudian diikuti oleh anarkis yang lain setelah
kematian Bakunin seperti Alexander Berkman, Emma Goldman, dan Peter Kropotkin)
bergabung dengan Bakunin menentang kelompok Marxis dalam Internasionale I.Berbeda
dengan anarkisme-kolektif yang masih mempertahankan upah buruh berdasarkan kontribusi
mereka terhadap produksi, anarkisme-komunis memandang bahwa setiap individu seharusnya
bebas memperoleh bagian dari suatu hak milik dalam proses produksi berdasarkan kebutuhan
mereka. Kelompok anarkisme-komunis menekankan pada egalitarianism (persamaan),
penghapusan hirarki sosial (social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi
kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan
kesukarelaan. Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam
anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk berkontribusi pada
produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan pilihannya sendiri.

118
Salah satu Hedonis awal adalah Cyrenaics (400 SM), yang menggagaskan ide bahwa seni kehidupan
adalah memaksimalkan setiap detik kehidupan untuk kenikmatan yang memuaskan indera dan intelek.
119
Para pengikut Diogenes (400-325 SM), yang mengemukakan filsafat hidup bahwa dengan mereduksi
keinginan seseorang sampai pada kebutuhan minimal, disatu sisi memerlukan disiplin diri yang keras, tapi disis
lain akan mengantar pada swasembada/ ketidaktergantungan dan kebebasan. Mazhab ini mengalami masa
kejayaan pada tahun abad 3 SM dan muncul lagi pada abad 1 M.

70
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

4.3. Anarko-Sindikalisme
Bendera yang digunakan dalam gerakan Anarko-Sindikalisme.Salah satu aliran yang
berkembang cukup subur di dalam lingkungan anarkisme adalah kelompok anarko-
sindikalisme. Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-sindikalisme antara lain Rudolf
Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa
pergerakan ini sangat penting bagi masa depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul
Anarchosyndicalism pada tahun 1938.120 Pada awalnya, Bakunin juga adalah salah satu tokoh
dalam anarkisme yang gerakan-gerakan buruhnya dapat disamakan dengan orientasi
kelompok anarko-sindikalisme, tetapi Bakunin kemudian lebih condong pada anarkisme-
kolektif. Anarko-sindikalisme adalah salah satu cabang anarkisme yang lebih menekankan
pada gerakan buruh (labour movement). Sindikalisme, dalam bahasa Perancis, berarti ‘trade
unionism’. Kelompok ini berpandangan bahwa serikat-serikat buruh (labor unions)
mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara
revolusioner, mengganti kapitalisme serta menghapuskan negara dan diganti dengan
masyarakat demokratis yang dikendalikan oleh pekerja. Anarko-sindikalisme juga menolak
sistem gaji dan hak milik dalam pengertian produksi. Dari ciri-ciri yang dikemukakan diatas,
anarko-sindikalisme sepertinya tidak mempunyai perbedaan dengan kelompok-kelompok
anarkisme yang lain. Prinsip-prinsip dasar yang membedakan anarko-sindikalisme dengan
kelompok lainnya dalam anarkisme adalah: (1) Solidaritas pekerja (Workers Solidarity); (2)
Aksi langsung (direct action); dan (3) Manajemen-mandiri buruh (Workers self-management).

4.4. Anarkisme-Individualisme
Anarkisme individualisme atau Individual-anarkisme adalah salah satu tradisi filsafat
dalam anarkisme yang menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan individual.
Konsep ini umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individual-anarkisme percaya
bahwa “hati nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh institusi atau badan-badan
kolektif atau otoritas publik”. Karena berasal dari tradisi liberalisme, individual-anarkisme
sering disebut juga dengan nama “anarkisme liberal”.
Tokoh-tokoh yang terlibat dalam individual-anarkisme antara lain adalah Max Stirner,
Josiah Warren, Benjamin Tucker, John Henry Mackay, Fred Woodworth, dan lain-lain.
Kebanyakan dari tokoh-tokoh individual-anarkisme berasal dari Amerika Serikat, yang
menjadi basis liberalisme. Dan oleh karena itu pandangan mereka terhadap konsep individual-
anarkisme kebanyakan dipengaruhi juga oleh alam pemikiran liberalisme.Individual-
anarkisme sering juga disebut “anarkisme-egois”, karena salah satu tokohnya, Max Stirner,
menulis buku “Der Einzige und sein Eigentum” (Bahasa Inggris: The Ego and Its Own /
Bahasa Indonesia: Ego dan Miliknya) 121 yang dengan cepat dilupakan, tetapi mengalami
kebangkitan lima puluh tahun kemudian, buku tersebut lebih menonjolkan peran
individu.Buku Stirner itu pada dasarnya adalah karya filsafat yang menganalisa
ketergantungan manusia dengan apa yang dikenal sebagai—kekuasaan yang lebih Tinggi—
(higher powers). Dia tidak takut memakai kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari hasil
survei. Buku tersebut merupakan pembrontakan yang sadar dan sengaja yang tidak
menunjukan kehormatan kepada otoritas dan karenanya sangat menarik bagi pemikir mandiri.

4.5. Varian-varian Anarkisme lainnya


Selain aliran-aliran yang disebut diatas, masih banyak lagi aliran lain yang memakai
pemikiran anarkisme sebagai dasarnya. Antara lain: Post-Anarchism, yang dikembangkan
oleh Saul Newman dan merupakan sintesis antara teori anarkisme klasik dan pemikiran post-

120
Anarchosyndicalism oleh Rudolph Rocker diterbitkan kembali pada 7 September 2006
121
Stirner, Max (1907). The Ego and His Own. Diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam Bahasa
Inggris oleh Steven T. Byington. New York: Benj. R. Tucker

71
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

strukturalis. Anarki pasca-kiri, yang merupakan sintesis antara pemikiran anarkisme dengan
gerakan anti-otoritas revolusioner diluar pemikiran ‘kiri’ mainstream. Anarka-Feminisme,
yang lebih menekankan pada penolakan pada konsep patriarka yang merupakan perwujudan
hirarki kekuasaan. Tokohnya antara lain adalah Emma Goldman. Eko-Anarkisme dan
Anarkisme Hijau, yang lebih menekankan pada lingkungan. Anarkisme insureksioner, yang
merupakan gerakan anarkis yang menentang segala organisasi anarkis dalam bentuk yang
formal, seperti serikat buruh, maupun federasi. Definisi tentang anarkisme insureksioner
dijelaskan dalam jurnal Do or Die dan pamflet-pamflet grup Venomous Butterfly yang
insureksionis: Adalah suatu bentuk, yang tidak dapat terbakukan dalam satu kubu, serta
sangat beragam dalam perspektifnya. Anarkisme Insureksioner bukanlah sebuah solusi
ideologis bagi masalah-masalah sosial, dan juga bukan komoditi dalam pasar ideologi yang
digelar kapitalisme. Melainkan, ia adalah praktek berkelanjutan yang bertujuan untuk
mengakhiri dominasi negara dan berteruskembangnya kapitalisme, yang membutuhkan
analisa-analisa dan diskusi-diskusi untuk menjadikannya semakin maju dan berkembang.
Menurut sejarahnya, kebanyakan anarkis, kecuali mereka yang percaya bahwa peradaban
kapitalisme akan terus berkembang hingga titik kehancurannya sendiri, percaya bahwa
sebentuk aktivitas insureksioner dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan masyarakat
secara radikal. Dalam artian ini, negara harus dipukul mundur dari eksistensinya oleh mereka
yang tereksploitasi dan termarjinalkan, dengan demikian para anarkis harus menyerang:
menunggu sistem ini melenyap dan menghancurkan dirinya sendiri adalah sebuah kekalahan
telak.

5. Anarkisme dan Agama


Pada dasarnya, sejak mulai dari Proudhon, Bakunin, Berkman, dan Malatesta sampai
pada kelompok-kelompok anarkis yang lain, anarkisme selalu bersikap skeptik dan anti
terhadap institusi agama. Dalam pandangan mereka, institusi keagamaan selalu bersifat
hirarki dan mempunyai kekuasaan seperti layaknya negara, dan oleh karena itu harus ditolak.
Tetapi dalam agama sendiri (Kristen, Yahudi, Islam, dll) sebenarnya pemikiran akan
‘anarkisme’ dalam pengertian ‘without Ruler’ sudah banyak ditemui.

5.1. Anarkis-Kristen
Dalam agama Kristen, konsep yang dipakai oleh kaum anarkis-kristen adalah
berdasarkan konsep bahwa hanya Tuhan yang mempunyai otoritas dan kuasa di dunia ini dan
menolak otoritas negara, dan juga gereja, sebagai manifestasi kekuasaan Tuhan. Dari konsep
ini kemudian berkembang konsep-konsep yang lain misalnya pasifisme (anti perang), non-
violence (anti kekerasan), abolition of state control (penghapusan kontrol negara), dan tax
resistance (penolakan membayar pajak). Semuanya itu dalam konteks bahwa kekuasaan
negara tidak lagi eksis di bumi dan oleh karena itu harus ditolak. Tokoh-tokoh yang menjadi
inspirasi dalam perkembangan gerakan anarkis-kristen antara lain: Soren Kierkegaard, Henry
David Thoreau, Nikolai Berdyaev, Leo Tolstoy, dan Adin Ballou.

5.2. Anarkisme dan Islam (Hakim Bey)


Dalam agama Islam, kelompok anarkisme melakukan interpretasi terhadap konsep
bahwa Islam adalah agama yang bercirikan penyerahan total terhadap Allah, yang berarti
menolak peran otoritas manusia dalam bentuk apapun. Anarkis-Islam menyatakan bahwa
hanya Allah yang mempunyai otoritas di bumi ini serta menolak ketaatan terhadap otoritas
manusia dalam bentuk fatwa atau imam. Hal ini merupakan elaborasi atas konsep ‘tiada
pemaksaan dalam Beragama’. Konsep anarkisme-islam kemudian berkembang menjadi
konsep-konsep lainnya yang mempunyai kemiripan dengan ideologi sosialis seperti
pandangan terhadap hak milik, penolakan terhadap riba, penolakan terhadap kekerasan dan

72
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

mengutamakan self-defense, dan lain-lain. Kelompok-kelompok dalam Islam yang sering


diasosiasikan dengan anarkisme antara lain : Sufisme dan Kelompok Hashshashin. Salah
seorang tokoh muslim anarkis yang berpengaruh yaitu Peter Lamborn Wilson, yang selalu
menggunakan nama pena Hakim Bey. Dia mengkombinasikan ajaran sufisme dan neo-pagan
dengan anarkisme dan situasionisme. Dia juga merupakan seorang yang terkenal dengan
konsepnya Temporary Autonomus Zones. Yakoub Islam, seorang anarkis muslim, pada 25
Juni 2005 mempublikasikan Muslim Anarchist Charter (Piagam Muslim Anarkis), yang
berbunyi: Tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusannya; Tujuan dari hidup
ialah untuk membangun sebuah hubungan kasih yang damai dengan Yang Maha Esa melalui
pemahaman untuk bertindak sesuai ajaran, wahyu, serta tanda-tandanya di dalam
Penciptaannya juga hati manusia; Demi tujuan seperti itu kita harus memiliki komitmen yang
kuat untuk mempelajarinya dengan kehendak hati yang bebas, dan secara sadar menolak
setiap bentuk kompromi dengan institusi kekuasaan, entah dalam bentukbnya yang yuridis,
relijius, sosial, korporatik maupun politis; Demi tujuan seperti itu kita harus aktif di dalam
kegiatan merealisasikan keadilan yang bertujuan untuk membangun sebuah komunitas-
komunitas dan masyarakat dimana pembangunan jiwa yang spiritual tidak terbatasi lagi oleh
kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian. Muslim Anarchist Charter menolak: Kekuatan fasis
yang bertujuan untuk memapankan kebenaran tunggal yang absolut, termasuk patriarki,
kerajaan, dan kapitalisme.

6. Kritik atas Anarkisme


Baik secara teori ataupun praktek, anarkisme telah menimbulkan perdebatan dan kritik-
kritik atasnya. Beberapa kritik dilontarkan oleh lawan utama dari anarkisme seperti
pemerintah. Beberapa kritik lainnya bahkan juga dilontarkan oleh para anarkis sendiri serta
ada juga yang muncul dari kalangan kaum kiri otoritarian seperti yang dilontarkan oleh
kalangan marxisme. Kritik biasanya dilontarkan sekitar permasalahan idealisme anarkisme
yang mustahil dapat diterapkan di dunia nyata, seperti apa yang banyak dipecaya oleh para
anarkis mengenai ajaran bahwa manusia pada dasarnya baik dan bisa menggalang solidaritas
kemanusiaan untuk kesejahteraan manusia tanpa penindasan oleh sebagiannya yang hal
tersebut banyak dibantah oleh para ekonom. Dan juga mengenai ajaran bahwa setiap manusia
lahir bebas setara yang juga dibantah oleh para pakar sosiolog.122 Kritik juga dilontarkan atas
penolakan anarkisme terhadap organisasi sentralis seperti pemerintahan kaum buruh, partai
revolusioner, dan lain sebagainya, yang dianggap oleh banyak pihak justru akan melemahkan
posisi kaum anarkis apabila revolusi terjadi. Hal ini juga yang dituduhkan kepada para anarkis
saat revolusi Spanyol terjadi, paska pengambilan kekuasaan oleh kaum proletariat atas rezim
fasis yang pada saat itu berkuasa di Spanyol. 123[]

122
Zaro Sastrowardoyo, Anarkisme Sosial.
123
Manifesto World Revolution.

73
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 07:
ANARKISME DAN MARXISME124

Saat komunisme anarkis dan marxisme adalah dua filsafat politik yang berbeda,
terdapat beberapa kemiripan antara metodologi dan ideologi yang dikembangkan oleh
beberapa anarkis dan Marxis, bahkan sejarah keduanya juga saling beririsan. Keduanya
berbagi tujuan-tujuan jangka panjang yang serupa (komunisme tanpa negara), musuh politik
yang sama (konservatif dan elemen-elemen sayap kanan), melawan target-target struktural
yang sama (kapitalisme dan pemerintahan yang eksis saat ini). Banyak Marxis telah turut
berpartisipasi dengan sepenuh hati dalam revolusi-revolusi anarkis, dan banyak anarkis yang
juga berlaku demikian dalam revolusi-revolusi Marxis. Tetapi bagaimanapun juga, anarkisme
dan Marxisme tetap menyimpan saling ketidaksetujuan yang kuat atas beberapa isu, termasuk
di dalamnya peran alamiah negara, struktur kelas dalam masyarakat dan metoda materialisme
historis. Dan selain bentuk kerjasama, terjadi juga konflik-konflik berdarah antara para
anarkis dan Marxis, seperti yang terjadi dalam represi-represi yang dijalankan oleh para
pendukung Uni Soviet melawan para anarkis.

1. Argumen-argumen Seputar Isu Negara


Para ahli ilmu-ilmu politik modern pada umumnya mendefinisikan “negara” sebagai
sebuah institusi yang tersentralisir, hirarkis dan berkuasa yang mengembangkan sebuah
monopoli atas penggunaan kekuasaan fisik yang terlegitimasi, tak beranjak dari definisi yang
awalnya diajukan oleh seorang sosiologis Jerman, Max Weber, dalam esai tahun 1918-nya,
Politik-Politik Sebagai sebuah Lapangan Pekerjaan. Definisi ini diterima oleh nyaris semua
mazhab-mazhab pemikiran politik modern selain Marxisme, termasuk di dalamnya
anarkisme. Marxisme memiliki definisi yang unik tentang negara: negara adalah sebuah organ
represi kelas yang satu atas kelas yang lain. Bagi para Marxis, setiap negara secara intrinsik
adalah sebuah kediktatoran kelas yang satu atas kelas lainnya. Dengan demikian, dalam teori
Marxis dipahami bahwa lenyapnya kelas akan berbarengan dengan lenyapnya negara.
Bagaimanapun juga, tetap terdapat pertemuan di antara kedua kubu. Para anarkis percaya
bahwa setiap negara secara tak terelakkan akan didominasi oleh elit-elit politik dan ekonomi,
yang dengan demikian secara efektif menjadi sebuah organ dominasi politik. Dari sudut yang
berbeda, para Marxis percaya bahwa represi kelas yang berhasil selalu mengikutsertakan
kapasitas kekerasan yang superior, dan bahwa seluruh masyarakat selain sosialisme dikuasai
oleh sebuah kelas minoritas, maka dalam teori Marxis semua negara non-sosialis akan
memiliki karakter negara seperti yang diyakini oleh para anarkis.

1.1. Proses Transisi


Teori tentang negara menentukan secara langsung pertanyaan praksis tentang
bagaimana transisi menuju masyarakat tanpa negara yang diidam-idamkan baik oleh para
anarkis maupun Marxis tersebut mengambil bentuknya. Kaum Marxis percaya bahwa sebuah
transisi yang berhasil menuju komunisme, yang jelas berarti masyarakat tanpa negara, akan
membutuhkan sebuah represi atas para kapitalis yang apabila dibiarkan tentu akan
membangun kembali kekuatannya, dan akan dibutuhkan juga eksistensi negara dalam sebuah
bentuk yang dikontrol oleh para pekerjanya. Kaum anarkis menentang “negara pekerja” yang
diadvokasikan oleh para Marxis sebagai sesuatu yang tidak logis semenjak sesegera sebuah
kelompok mulai memerintah melalui aparatus negara, maka mereka akan berhenti menjadi
pekerja (apabila sebelumnya mereka adalah pekerja) dan dengan demikian akan segera
bertransformasi menjadi penindas baru.
124
Bahwa dua kubu yang dibahas dalam tulisan ini adalah kecenderungan dalam Anarkisme dan
Marxisme Klasik. Lihat pula Anarkisme, Marxisme, Komunisme, Marxis Otonomis, Komunis Libertarian.

74
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kaum anarkis mendukung argumen mereka dengan merujuk pada Uni Soviet yang
berkarakter anti demokrasi serta berbagai negara “Marxis” lain, sementara para Marxis
mendukung argumen mereka dengan merujuk pada kehancuran revolusi-revolusi yang
dipimpin para anarkis semacam dalam Revolusi Meksiko 1910 dan Perang Sipil Spanyol.
Dengan demikian, kaum anarkis berusaha untuk “menghancurkan” negara yang eksis saat ini,
serta segera menggantikannya dengan konsil-konsil pekerja, sindikat-sindikat atau berbagai
metoda organisasional yang desentralis dan non-hirarkis. Kaum Marxis secara kontras, justru
berusaha “merebut kekuasaan”, yang berarti secara gradual mengambil alih negara borjuis
yang eksis saat ini, atau menghancurkan negara yang eksis saat ini melalui sebuah revolusi
dan menggantinya dengan sebuah negara baru yang tersentralisir (Leninisme, Trotskyisme,
Maoisme) atau melalui sebuah sistem konsil pekerja (Komunisme Konsilis, Marxisme
Otonomis). Posisi kaum Marxis melebur ke dalam anarkisme pada akhir spektrumnya, karena
kaum anarkis juga saling tidak setuju di antara mereka sendiri tentang bagaimana sebuah
sistem konsil pekerja yang demokratis dan memonopoli kekerasan akan dapat dianggap
sebagai sebuah struktur negara atau tidak, sementara kaum Marxis bertengkar di antara
mereka sendiri sebagian besarnya atas bentuk kediktatoran proletariat.

1.2. Partai Politik


Isu perebutan negara mengarah pada isu tentang keberadaan partai politik, yang juga
memisahkan jalan antara kaum anarkis dan Marxis. Kebanyakan kaum Marxis melihat partai
politik sebagai sesuatu yang berguna atau bahkan dibutuhkan untuk merebut kekuasaan
negara, semenjak mereka kebanyakan melihat bahwa sebuah upaya yang terkoordinasi dan
tersentralisirlah yang akan mampu mengalahkan kelas kapitalis dan negara, serta
memapankan sebuah badan koordinasi yang mampu mempertahankan revolusi. Partai politik
juga menjadi sentral perjuangan semenjak mayoritas kaum Marxis percaya bahwa kesadaran
kelas harus disuntikkan ke dalam kelas pekerja, yang seringkali harus dilakukan oleh mereka
yang berada di luar kelas tersebut. Tapi bagaimanapun juga, kaum Marxis saling berbeda
pendapat tentang apakah sebuah partai revolusioner harus turut serta dalam sebuah pemilu
borjuis atau tidak, peran apa yang harus dijalankan pasca revolusi, dan bagaimana ia harus
diorganisir. Di sisi lain, para anarkis umumnya menolak untuk berpartisipasi dalam
pemerintahan, menolak membentuk sebuah partai politik, semenjak mereka melihat struktur
organisasinya yang hirarkis sebagai sebuah kedenderungan otoritarian dan menindas,
walaupun toh kebanyakan kaum anarkis juga tak mampu menjawab tentang bagaimana
sebuah kesadaran revolusioner dapat dibangkitkan tanpa keberadaan kekuatan kelompok-
kelompok pelopor, yang bagi kaum Marxis terwujud melalui partai politik. Bagaimanapun
juga perdebatan dan berbagai perbedaan saling berhadap-hadapan, banyak dari mereka, para
anarkis, mengorganisir secara politis berdasarkan pada sistem demokrasi langsung dan
federalisme dalam upayanya untuk berpartisipasi secara lebih efektif di tengah perjuangan
popular dan mendorong rakyat menuju revolusi sosial.

1.3. Kekerasan dan Revolusi


Pertanyaan praksis lainnya yang berhubungan dekat dengan teori negara adalah kapan
dan sebesar apa kekerasan dapat diterima dalam upayanya untuk meraih kemenangan dalam
sebuah revolusi. Para anarkis berargumen bahwa seluruh bentuk negara adalah sesuatu yang
tak dapat dilegitimasi lagi karena semuanya bergantung pada kekerasan yang sistematis, dan
sementara sebagian dari para anarkis dapat membenarkan saat kekerasan berskala kecil atau
pembunuhan terarah atas elit-elit dilakukan berdasarkan atas kebutuhan dalam beberapa kasus
(misalnya kampanye “Propaganda by the Deeds”), kekerasan massal melawan rakyat biasa
“sebagaimana yang dipraktekkan oleh Lenin dan Trotsky dalam menumpas pemberontakan
Kronstadt dan Makhnovis, oleh Stalin dalam “Pembersihan Besar-Besaran” atau oleh Mao

75
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

selama “Revolusi Kultural”, tak akan pernah dapat diterima dan dibenarkan. Kebanyakan
kaum Marxis berargumen bahwa kekerasan berskala besar dapat dibenarkan dan dengan
demikian “perang keadilan” adalah sesuatu yang mungkin, setidaknya dalam lingkup terbatas
dari pertahanan diri secara kolektif, misalnya dalam melawan sebuah kudeta atau invasi
imperialis. Beberapa lainnya (khususnya para Stalinis) berargumen lebih jauh, bahwa tujuan
dapat menghalalkan cara, sehingga dalam teorinya, sejumlah apapun kekerasan dan
pertumpahan darah akan dapat dibenarkan dalam upayanya untuk menuju komunisme.

2. Argumen-argumen Seputar Isu Kelas


Analisa-analisa kelas baik dari kaum Marxis ataupun anarkis berdasarkan pada ide
bahwa masyarakat terbagi ke dalam berbagai macam “kelas-kelas” yang berbeda, masing-
masing memiliki kepentingan yang juga berbeda tergantung pada kondisi materialnya. Kelas-
kelas tersebut juga berbeda, bagaimanapun juga, dalam soal di mana mereka menarik garis
pemisah di antara mereka. Bagi kaum Marxis, dua kelas yang paling relevan adalah “borjuis”
(pemilik alat produksi dan tidak bekerja) dan proletariat (mereka yang tak memiliki alat
produksi dan harus bekerja oleh karenanya). Marx percaya bahwa kondisi-kondisi pekerja
industri yang unik serta menyejarah akan mendorong mereka untuk mengorganisir diri
mereka bersama-sama untuk kemudian mengambil alih peran negara dan alat-alat
produksinya dari kelas borjuis, mengkolektivisasinya, serta menciptakan sebuah masyarakat
tanpa kelas yang diselenggarakan oleh para proletariat sendiri. Mayoritas para Marxis,
merujuk pada analisa-analisa Karl Marx sendiri, mengesampingkan para petani, pemilik alat
produksi kecil “borjuis kecil” dan lumpen proletariat “level terendah dari proletariat, yang
biasanya menganggur, miskin, tidak memiliki kemampuan kerja, kriminal dan karakteristik
mereka yang paling sering ditemui adalah ketiadaan kesadaran kelas “sebagai kelompok-
kelompok yang tak akan mampu menciptakan revolusi. Analisa kelas kaum anarkis telah
mendahului Marxisme dan berkontradiksi dengannya. Kaum anarkis berargumen bahwa
bukanlah kelas penguasa secara keseluruhan yang sesungguhnya mengatur jalannya negara,
melainkan sekelompok minoritas yang menjadi bagian di dalam kelas penguasa (yang dengan
demikian juga mempertahankan kepentingannya), memiliki fokus-fokus mereka sendiri, di
antaranya yaitu mempertahankan kekuasaan.
Sekelompok minoritas revolusioner yang mengambil alih kekuasaan negara dan
memaksakan keinginannya pada rakyat berarti juga tidak berbeda dengan otoritarianisme
sekelompok kecil penguasa dalam sistem kapitalisme, yang tentu juga akan segera
bertransformasi menjadi sebuah kelas penguasa baru. Hal ini telah diprediksikan oleh
Bakunin jauh sebelum revolusi Oktober di Russia terjadi. Selain itu, para anarkis juga melihat
bahwa sebuah revolusi yang sukses tak akan pernah dapat lepas dari dukungan para petani,
dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan melakukan redistribusi lahan di antara para petani
tak bertanah. Dengan demikian jelas bahwa kaum anarkis menolak kepemilikan tanah oleh
negara, serta mereka menganggap bahwa kolektivisasi sukarela jauh lebih efisien dan layak
didukung (berdasarkan pada kasus perang sipil Spanyol 1936 di mana para anarkis
mempopulerkan kolektivisasi lahan, sementara mereka yang sebelumnya telah memiliki lahan
sendiri diperbolehkan untuk tetap memilikinya tetapi dilarang menyewa tenaga kerja untuk
mengolah lahan tersebut). Beberapa anarkis modern (khususnya para pendukung parekon
ekonomi partisipatif) berargumen bahwa kini terdapat tiga kelas yang relevan bagi sebuah
perubahan sosial, bukan hanya dua. Secara kasar, mereka adalah kelas pekerja (termasuk di
dalamnya setiap orang yang menggunakan tenaga kerjanya dalam memproduksi atau
mendistribusikan produk termasuk mereka dalam industri jasa), kelas koordinator (mereka
yang pekerjaannya adalah mengkoordinasikan dan memanajemeni para pekerja) dan kaum elit
atau kelas pemilik (yang mana pendapatannya diambil atas kemakmuran dan sumber daya).
Para anarkis ini menyatakan dengan tegas bahwa Marxisme telah gagal dan akan selalu gagal,

76
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

karena ia menciptakan sebuah kediktatoran melalui kelas-kelas koordinator dan karenanya


juga “kediktatoran proletariat” secara logis menjadi tak mungkin. Perbedaan-perbedaan inti
tersebut kemudian memunculkan fakta bahwa para anarkis tidak membeda-bedakan petani,
lumpen dan proletariat, melainkan mereka mendefinisikan bahwa mereka yang harus bekerja
untuk bertahan hidup adalah kelas pekerja (walaupun terdapat berbagai perbedaan politik dari
berbagai sektor sosial yang berbeda dalam kelas pekerja).
Selanjutnya, analisa kelas Marxian memiliki konsekuensi tentang bagaimana kaum
Marxis memandang gerakan-gerakan pembebasan seperti gerakan perempuan, gerakan
masyarakat adat, gerakan minoritas etnis dan gerakan homoseksual. Kaum Marxis
mendukung beberapa gerakan pembebasan, tidak hanya karena gerakan tersebut memang
harus didukung atas tuntutan dan programnya, melainkan karena gerakan-gerakan tersebut
dibutuhkan bagi sebuah revolusi kelas pekerja yang tak akan dapat berhasil tanpa persatuan.
Bagaimanapun juga, kaum Marxis percaya bahwa seluruh upaya rakyat yang tertindas dalam
membebaskan dirinya sendiri akan gagal kecuali mereka mengorganisir diri dalam garis
kelasnya, karena para borjuis yang terdapat dalam setiap gerakan tersebut dalam titik tertentu
akan mengkhianati perjuangan, dan di bawah kapitalisme, kekuasaan sosial terpusat pada
siapa yang menguasai alat produksi. Para anarkis mengkritisi kaum Marxis karena terlalu
memberi prioritas pada perjuangan kelas. Mereka menjelaskan bahwa perubahan arah sejarah,
perjuangan antara mereka yang tertindas dan menindas, beroperasi dengan dinamikanya
sendiri. Para anarkis melihat gerakan pembebasan rakyat tertindas secara fundamental dapat
dilegitimasi, tak peduli apakah itu gerakan proletariat, gerakan petani, atau apapun, tanpa
merasa perlu untuk mengkotakkan mereka dalam sebuah skema gerakan khusus bagi revolusi.
Walaupun demikian, banyak juga anarkis yang percaya bahwa perjuangan isu tunggal hanya
akan membatasi ruang pandang dan gerak, dan karenanya harus selalu melihat sebuah
perjuangan dalam kerangka perjuangan yang lebih besar (sebagaimana yang dilakukan oleh
kaum Marxis).

3. Argumen Seputar Metoda Materialisme Historis


Marxisme menggunakan sebuah bentuk analisa perkembangan masyarakat manusia
yang disebut “materialisme historis”. Analisa ini menempatkan ide bahwa manusia hidup
dalam sebuah dunia material yang terdeterminasi, dan aksi untuk mengubah dunia terdapat
dalam batas-batas apa yang memang dapat dicapai sesuai dengan alur kesejarahan. Secara
lebih spesifik, relasi produksi yang menjadi basis fundamental sistem ekonomi adalah alat
penentu gerak sejarah. Yang menggaris bawahi proses tersebut adalah adanya ide tentang
kontradiksi dan pertentangan antar kelas yang secara alamiah membentuk serta menggerakkan
kemajuan sosial. Marx mengambil formulasi materialisme historis ini dari sistem filsafat
dialektika Hegel. Metoda ini bekerja melalui asumsi bahwa setiap fenomena alam hanya dapat
didefinisikan dengan cara mengkontraskannya dengan fenomena lain. Marx dan Engels
berargumen bahwa metoda tersebut dapat diaplikasikan pada masyarakat manusia dalam
bentuk materialisme historis, sehingga kelas-kelas masyarakat yang ada dapat dipelajari
dengan menggunakan kontradiksinya, misalnya, karakteristik majikan hanya dapat dipahami
apabila dikontraskan dengan karakteristik pekerja. Sementara mayoritas para anarkis,
menggunakan berbagai macam alat analisa sosial, walaupun sebagian anarkis lain melihat
materialisme historis ini sangat efektif untuk digunakan sebagai pisau analisa mereka dan
melihatnya sebagai sebuah titik pemersatu dalam sebuah perjuangan kelas. Mayoritas anarkis,
bahkan juga menganggap bahwa materialisme historis adalah sebuah ilmu palsu yang tak
dapat dibuktikan secara universal. Mereka juga menganggap bahwa metoda ini hanya akan
mendehumanisasikan analisa-analisa sosial politik dan jelas karenanya menjadi tidak layak
digunakan sebagai sebuah metodologi universal.

77
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

3.1. Determinisme
Sebuah interpretasi yang simpel dari materialisme historis menyatakan bahwa apabila
memang Marxisme benar tentang kelas-kelas yang saling berkontradiksi di bawah
beroperasinya sistem kapitalisme, maka sebuah revolusi kelas pekerja tak akan terelakkan
lagi. Beberapa Marxis, khususnya mereka para pemimpin Internasional Kedua, meyakini hal
ini. Bagaimanapun juga, tingkat di mana revolusi harus dilakukan oleh mereka yang telah
sadar akan posisi kelasnya, menjadi sebuah perdebatan tersendiri di kalangan kaum Marxis,
yang mana sebagian berpendapat bahwa pernyataan Karl Marx yang terkenal, “Aku bukan
seorang Marxis”, adalah sebuah penolakan konsep determinisme. Perdebatan ini diperdalam
dengan terjadinya Perang Dunia I, saat partai-partai sosial demokrat dari Internasional Kedua
mendukung upaya-upaya negara untuk terlibat di dalam perang.
Sementara di sisi lain, para Marxis yang menjadi oposisi perang, seperti Rosa
Luxemburg, menyalahkan Internasional Kedua sebagai sebuah “pengkhianatan” atas doktrin
sosialisme yang pada gilirannya dianggap hanya berupaya untuk mereformasi negara
kapitalis. Sementara sebagaimana mayoritas anarkis menolak metoda dialektika historis
materialis, para anarkis tersebut juga tidak memiliki klaim tentang bagaimana sebuah revolusi
akan terjadi. Mereka melihat bahwa revolusi dapat terjadi hanya apabila memang masyarakat
menghendakinya.

4. Anarko-Komunisme
Anarko-Komunisme adalah suatu bentuk dari anarkisme yang mengajarkan
penghapusan negara (atau institusi kenegaraan) dan faham kapitalisme, untuk sebuah jaringan
asosiasi sukarela di mana semua orang bebas untuk memenuhi kebutuhannya.Anarko-
Komunisme juga dikenal dengan sebutan anarkis komunisme, komunis anarkisme,
anarkisme-komunis ataupun komunisme libertarian. Namun, walaupun semua anarkis
komunis adalah komunis libertarian, tetapi tidak semua komunis libertarian adalah anarkis
(menganut faham anarkisme), misalnya dewan komunis. Hal yang membedakan anarko-
komunisme dari varian lain dari libertarian komunisme adalah bentuk oposisinya terhadap
segala bentuk kekuasaan politik, hirarki dan dominasi. Komunisme bisa tumbuh subur
dinegara-negara miskin maupun negara berkembang, namun dengan runtuhnya negara-negara
komunis yang kuat menyebabkan faham-faham komunis inipun tidak akan bisa berkembang
menjadi besar.

4.1. Internasionale Pertama


Kelompok anarkisme-komunis pertama kali diformulasikan oleh Carlo Cafiero, Errico
Malatesta dan Andrea Costa dari kelompok federasi Italia pada Internasionale I. Pada awalnya
kelompok ini (kemudian diikuti oleh anarkis yang lain setelah kematian Bakunin seperti
Alexander Berkman, Emma Goldman, dan Peter Kropotkin) bergabung dengan Bakunin
menentang kelompok Marxis dalam Internasionale I. Berbeda dengan anarkisme-kolektif
yang masih mempertahankan upah buruh berdasarkan kontribusi mereka terhadap produksi,
anarkisme-komunis memandang bahwa setiap individu seharusnya bebas memperoleh bagian
dari suatu hak milik dalam proses produksi berdasarkan kebutuhan mereka.

4.2. Prinsip Dasar


Kelompok anarkisme-komunis menekankan pada egalitarianisme (persamaan),
penghapusan hirarki sosial (social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi
kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan
kesukarelaan. Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam
anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk berkontribusi pada
produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan pilihannya sendiri.Salah satu

78
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

hal yang membedakan antara anarkisme-kolektif dengan anarkisme-komunis adalah


pandangan mengenai gaji dan upah pekerja. Anarkisme-komunis berpendapat bahwa tidak
ada satu carapun yang dapat mengukur kontribusi seseorang terhadap proses produksi dan
ekonomi karena kesejahteraan adalah hasil dari produksi bersama. Sistem ekonomi yang
berdasarkan gaji/upah pekerja dan hak milik adalah bentuk penyiksaan negara dan
aparaturnya dengan tujuan untuk mempertahankan hak milik pribadi dan juga
ketidakseimbangan hubungan ekonomi diantara para pelaku produksi. Selain itu, anarkisme-
komunis menolak sistem gaji/upah pekerja dengan dasar filosofi bahwa pada hakikatnya
manusia itu “malas” dan “egois”. Anarkisme-komunis juga mendukung komunisme (dalam
sistem pemikiran Marxisme) dengan penekanan pada penjaminan kebebasan dan juga
kesejahteraan bagi setiap orang, dan tidak mendukung komunisme dalam hal yang
berhubungan dengan kekuasaan. Hal inilah yang membuat anarkisme-komunis sering
disamakan dengan filsafat egalitarian.[]

79
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Hand-Out 08:
KONSERVATISME

Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional.


Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Latin, conservare, melestarikan; “menjaga,
memelihara, mengamalkan”. Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan
berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-
beda pula. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang
lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante.
Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang otentik sebagai “bertahannya dan
penguatan orang-orang tertentu dan ungkapan-ungkapan kebudayaannya yang dilembagakan.
Roger Scruton menyebutnya sebagai pelestarian ekologi sosial dan politik penundaan, yang
tujuannya adalah mempertahankan, selama mungkin, keberadaan sebagai kehidupan dan
kesehatan dari suatu organisme sosial.

1. Perkembangan Pemikiran
Konservatisme belum pernah, dan tidak pernah bermaksud menerbitkan risalat-risalat
sistematis seperti Leviathan karya Thomas Hobbes atau Two Treatises of Pemerintah karya
Locke. Akibatnya, apa artinya menjadi seorang konservatif di masa sekarang seringkali
menjadi pokok perdebatan dan topic yang dikaburkan oleh asosiasi dengan bermacam-macam
ideologi atau partai politik (dan yang seringkali berlawanan). R.J. White pernah
mengatakannya demikian: “Menempatkan konservatisme di dalam botol dengan sebuah label
adalah seperti berusaha mengubah atmosfer menjadi cair. Kesulitannya muncul dari sifat
konservatisme sendiri. Karena konservatisme lebih merupakan suatu kebiasaan pikiran, cara
merasa, cara hidup, daripada sebuah doktrin politik.” Meskipun konservatisme adalah suatu
pemikiran politik, sejak awal, ia mengandung banyak alur yang kemudian dapat diberi label
konservatif, baru pada Masa Penalaran, dan khususnya reaksi terhadap peristiwa-peristiwa di
sekitar Revolusi Perancis pada 1789, konservatisme mulai muncul sebagai suatu sikap atau
alur pemikiran yang khas. Banyak orang yang mengusulkan bahwa bangkitnya
kecenderungan konservatif sudah terjadi lebih awal, pada masa-masa awal Reformasi,
khususnya dalam karya-karya teolog Anglikan yang berpengaruh, Richard Hooker “yang
menekankan pengurangan dalam politik demi menciptakan keseimbangan kepentingan-
kepentingan menuju keharmonisan sosial dan kebaikan bersama. Namun baru ketika polemic
Edmund Burke muncul-Reflections on the Revolution in France-konservatisme memperoleh
penyaluran pandangan-pandangannya yang paling berpengaruh.
Edmund Burke (1729-1797) Negarawan Inggris-Irlandia Edmund Burke, yang dengan
gigih mengajukan argumen menentang Revolusi Perancis, juga bersimpati dengan sebagian
dari tujuan-tujuan Revolusi Amerika. Tradisi konservatif klasik ini seringkali menekankan
bahwa konservatisme tidak mempunyai ideologi, dalam pengertian program utopis, dengan
suatu bentuk rancangan umum. Burke mengembangkan gagasan-gagasan ini sebagai reaksi
terhadap gagasan ‘tercerahkan’ tentang suatu masyarakat yang dipimpin oleh nalar yang
abstrak. Meskipun ia tidak menggunakan istilah ini, ia mengantisipasi kritik terhadap
modernisme, sebuah istilah yang pertama-tama digunakan pada akhir abad ke-19 oleh tokoh
konservatif keagamaan Belanda Abraham Kuyper. Burke merasa terganggu oleh Pencerahan,
dan sebaliknya menganjurkan nilai tradisi. Meskipun secara nominal Konservatif, Disraeli
bersimpati dengan beberapa tuntutan dari kaum Chartis dan membela aliansi antara kaum
bangsawan yang bertanah dengan kelas pekerjaan dalam menghadapi kekuatan kelas
menengah yang meningkat. Ia membantu pembentukan kelompok Inggris Muda pada 1842
untuk mempromosikan pandangan bahwa yang kaya harus menggunakan kekuasaan mereka
untuk melindungi yang miskin dari eksploitasi oleh kelas menengah. Perubahan Partai

80
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Konservatif menjadi suatu organisasi massa modern dipercepat oleh konsep tentang
“Demokrasi Tory“ yang dihubungkan dengan Lord Randolph Churchill.
Sebuah koalisi Liberal-Konservatif pada masa Perang Dunia I berbarengan dengan
bangkitnya Partai Buruh, mempercepat runtuhnya kaum Liberal pada 1920-an. Setelah Perang
Dunia II, Partai Konservatif membuat konsesi-konsesi bagi kebijakan-kebijakan sosialis kaum
Kiri. Kompromi ini adalah suatu langkah pragmatis untuk memperoleh kembali kekuasaan,
tetapi juga sebagai akibat dari sukses-sukses awal dari perencanaan sentral dan kepemilikan
negara yang menciptakan suatu consensus lintas-partai. Hal ini dikenal sebagai
‘Butskellisme’, setelah kebijakan-kebijakan Keynesian yang hampir identik dari Rab Butler
atas nama kaum Konservatif, dan Hugh Gaitskell untuk Partai Buruh. Namun demikian, pada
1980-an, di bawah pimpinan Margaret Thatcher, dan pengaruh Sir Keith Joseph, Partai ini
kembali ke gagasan-gagasan ekonomi liberal klasik, dan swastanisasi dari banyak perusahaan
negara pun diberlakukan. Untuk pembahasan lebih terinci, lihat Sejarah Partai Konservatif.
Warisan Thatcher bersifat campuran. Sebagian komentator menyatakan bahwa ia
menghancurkan konsensus tradisional dan filosofi Partai, dan, dengan melakukan hal itu,
menicptakan suatu situasi di mana public tidak benar-benar tahu nilai-nilai apa yang dipegang
oleh Partai. Kini Partai Konservatif mencoba mencari jati dirinya.

1.1. Eropa
Di bagian-bagian lain dari Eropa, konservatisme arus utama seringkali diwakili oleh
partai-partai Kristen Demokrat. Mereka membentuk faksi besar Partai Rakyat Eropa di
Parlemen Eropa. Asal-usul partai-partai ini umumnya adalah partai-partai Katolik dari akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20, dan ajaran sosial Katolik seringkali menjadi inspirasi awal
mereka. Setelah bertahun-tahun, konservatisme pelan-pelan menjadi inspirasi ideologis utama
mereka, dan mereka umumnya menjadi kurang Katolik. CDU, partai saudaranya di Bavaria
Uni Sosial Kristen (CSU), dan Imbauan Kristen Demokrat (CDA) di Belanda adalah partai-
partai Protestan-Katolik.
Di negara-negara Nordik, konservatisme diwakili dalam partai-partai konservatif liberal
seperti Partai Moderat di Swedia dan Partai Rakyat Konservatif di Denmark. Secara domestik,
partai-partai ini umumnya mendukung kebijakan kebijakan yang berorientasi pasar, dan
biasanya memperoleh dukungan dari komunitas bisnis serta kaum profesional kerah putih.
Secara internasional, mereka umumnya mendukung Uni Eropa dan pertahanan yang kuat.
Pandangan-pandangan mereka tentang masalah-masalah sosial cenderung lebih liberal
daripada, misalnya, Partai Republik Amerika Serikat. Konservatisme sosial di negara-negara
Nordik seringkali ditemukan dalam partai-partai Kristen Demokrat mereka. Di beberapa
negara Nordik, partai-partai populis sayap kanan telah memperoleh dukungan sejak 1970-an.
Politik mereka telah dipusatkan pada pemotongan pajak, pengurangan imigrasi, dan undang-
undang yang lebih keras dan kebijakan-kebijakan ketertiban.
Pada umumnya, orang dapat mengklaim bahwa kaum konservatif Eropa cenderung
untuk lebih moderat dalam berbagai isu sosial dan ekonomi, daripada konservatif Amerika.
Mereka cenderung cukup bersahabat dengan tujuan-tujuan negara kesejahteraan, meskipun
mereka juga prihatin dengan lingkungan bisnis yang sehat. Namun demikian, beberapa
kelompok cenderung lebih mendukung agenda-agenda libertarian atau laissez-faire yang lebih
konservaitf, khususnya di bawah pengaruh Thatcherisme. Kelompok-kelompok konservatif
Eropa sering memandang diri mereka sebagai pengawal-pengawal prudence, moderasi,
pengalaman-pengalaman histories yang sudah teruji, dibandingkan dengan radikalisme dan
eksperimen-eksperimen sosial. Persetujuan dari budaya tinggi dan lembaga-lembaga politik
yang mapan seperti monarki ditemukan dalam konservatisme Eropa. Kelompok-kelompok
konservatif arus utama seringkali adalah pendukung-pendukung gigih Uni Eropa. Namun
demikian, orang juga dapat menemukan pula unsur-unsur nasionalisme di banyak negara.

81
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

1.2. Tiongkok
Di Tiongkok konservatisme didasarkan pada ajaran-ajaran Kong Hu Cu. Kong Hu Cu
yang hidup pada masa kekacauan dan peperangan antara berbagai kerajaan, banyak menulis
tentang pentingnya keluarga, kestabilan sosial, dan ketaatan terhadap kekuasaan yang adil.
Gagasan-gagasannya terus menyebar di masyarakat Tiongkok. Konservatisme Tiongkok yang
tradisional yang diwarnai oleh pemikiran Kong Hu Cu telah muncul kembali pada tahun-
tahun belakangan ini, meskipun selama lebih dari setengah abad ditekan oleh pemerintahan
Marxis-Leninis yang otoriter.Setelah kematian Mao pada 1976, tiga faksi berebutan untuk
menggantikannya: kaum Maois garis keras, yang ingin melanjutkan mobilisasi revolusioner;
kaum restorasionis, yang menginginkan Tiongkok kembali ke model komunisme Soviet; dan
para pembaharu, yang dipimpin oleh Deng Xiaoping, yang berharap untuk mengurangi
peranan ideology dalam pemerintahan dan merombak ekonomi Tiongkok.
Nilai-nilai Tiongkok yang tradisional telah muncul dengan cukup kuat, meskipun lama
ditekan oleh rezim komunis yang revolusioner. Saat ini, Partai Komunis Tiongkok dikelola
oleh para teknokrat, yang mengusahakan stabilitas dan kemajuan ekonomi, sementara
menindas kebebasan berbicara dan agama. Partai dilihat oleh sebagian orang sebagai
penerima Mandat Surgawi, sebuah gagasan Tiongkok tradisional. Partai Komunis
menjinakkan dirinya sendiri dan tidak lagi secara konsisten menganjurkan teori Marxis yang
revolusioner, dan sebaliknya berpegang pada fleksibilitas ideologist teologi yang konsisten
dengan ucapan Deng Xiaoping, yakni mencari kebenaran di antara fakta. Cinta tanah air dan
kebanggaan nasional telah muncul kembali seperti halnya pula tradisionalisme. Nasionalisme
Tiongkok cenderung mengagung-agungkan negara Tiongkok yang sangat tersentralisasi dan
kuat. Pemerintah berusaha untuk memenangkan dan mempertahankan kesetiaan warga
negaranya serta orang-orang Tiongkok yang baru-baru ini pindah ke luar negeri. Sebuah buku
laris baru-baru ini China Can Say No mengungkapkan sebuah sentiment yang mendukung
sebuah cara Tiongkok yang unik yang, dengan terus terang, tidak perlu melibatkan norma-
norma Amerika, seperti individualisme dan liberalisme Barat. Selain itu, nasionalisme
Tiongkok masih mungkin akan berkembang, karena generasi para pemimpin Tiongkok akan
bertumbuh dalam lingkungan yang dipenuh dengan semangat nasionalisme. Sejak 1990-an,
telah muncul gerakan neo-konservatif di Tiongkok (tidak ada kaitannya dengan gerakan neo-
konservatif di AS).

Wallaahu a’lam bisshawaab.

Jogjakarta, Bulaksumur, April 2010

Cilacap, Ponpes Al-Madaniyyah As-Salafiyyah, Oktober 2012

Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I, M.A.

82
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

LAMPIRAN DIAGRAM:

Diagram 1:
Bagan Analisis Reframing Ideologi
Unsur-unsur atau perangkat gagasan yang terangkum dalam sebuah ideologi,
dijelaskan dalam: Austin Ranney, Governig; An Introduction to Political Science
(7th Edition; London: Prentice Hall International, Inc., 1996) hlm. 71-73.

Visi
Konsep asal-
Komponen kemasyara- Strategi
usul manusia Siasat politik
Nilai-nilai katan yang tindakan
(conception (political
(value) ideal (vision of (strategies of
of human taktics)
the ideal actions)
nature)
Ideologi polity)
Kapitalisme
Sosialisme
Komunisme
Fasisme
Anarkisme
Konservatisme

Diagram 2:
Arus Utama Sosialisme Warisan Eropa
Ditinjau dari Sejarah Pendiri & Strategi Perjuangannya.
[Sosialisme Utopis (Sosialisme Fabian)]; [Sosialisme Anarkis (Sosialisme
Komunitarian/ Libertarian)]; [Sosialisme Marxis (Sosialisme “Ilmiah.”)]

Sosialisme Utopis Sosialisme Anarkis Sosialisme Marxis


(Sosialisme Fabian) (Sosialisme Komunitarian (Sosialisme “Ilmiah”)
/Libertarian)
Pelopor  Henri Saint-Simon  Pierre Joseph Proudhon  Karl Marx (1818 –
(1760-1825) (1809 – 1865) 1883)
 Robert Owen (1771  Michael Bakunin (1814  Friedrich Engels (1820
– 1858) – 1876) – 1895)
 Charles Fourier  Georges Sorel (1847 –  Vladimir Ilyich Lenin
(1772 – 1837) 1922) (1870 – 1924)
 Peter Kropotkin (1842 –  Rose Luxemburg
1921) (1870 – 1919)
 Mahatma Gandhi (1869-  Antonio Gramsci
1948) (1891 – 1937)
 Mao Zedong (1893-
1976)
Strategi  Kapitalis yang  Buruh bersatu dalam  Buruh adalah kaum
Perubahan budiman serikat-serikat buruh yang paling tertindas
Sosial yang mengembalikan yang bersatu secara karena mereka hanya
Dianjurkan/ keuntungan federatif (anarko- dapat memasarkan
Dilaksanakan perusahaan untuk sindikalisme), untuk ototnya dan mengalami
memperbaiki melakukan tekanan alienasi total,
kesejahteraan buruh terhadap negara dan sementara nilai lebih
dan keluarga modal. komoditi hasil keringat
mereka (gaji,  Negara digemboskan mereka terus
perumahan, dengan membangun memperkaya sang
pendidikan, jaminan komunitas-komunitas kapitalis.
hari tua). yang mandiri: Gandhi  Karena kaum buruh

83
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

 Sikap terhadap merealisasi ide (proletar) hanya akan


ajaran agama, Kropotkin ini dengan kehilangan belenggu
khususnya Kristen, membentuk ashram- mereka, mereka adalah
positif, karena ashram yang sekaligus kelas yang paling
diharapkan bahwa merupakan unit produksi berkepentingan untuk
kaum kapitalis yang tekstil hasil pintalan dan melakukan revolusi
diilhami oleh ajaran tenunan sendiri, dengan untuk merebut
Kristianinya akan kebun kapasnya sendiri; kekuasaan atas alat-alat
berusaha ashram-ashram itu produksi.
memperbaiki nasib menjadi basis gerakan  Negara adalah ‘alat
buruh dan orang- massa pendukung kekuasaan’ kaum
orang miskin di Gandhi dalam menolak borjuis
sekitar perusahaan impor garmen dari  Untuk merebut
(sesuai dengan Inggris kekuasaan negara,
Khotbah di Atas  Cara-cara perlawanan kaum buruh
Bukit dan kaum anarkis ada yang memerlukan pimpinan
Pengadilan bersifat keras (mis. kaum intelektual yang
Terakhir). Bakunin), ada yang menguasai teori dan
 Pewaris pemikiran tanpa kekerasan strategi: itulah Partai
utopianisme di (Kropotkin dan Gandhi) Komunis.
Indonesia:  Agama adalah soal  Untuk menjaga agar
Mohammad Hatta pribadi para anarkis. Partai Komunis tidak
(alm).  Pewaris pemikiran sekedar memenuhi
anarkisme di Indonesia: kepentingan pribadi
Ibu Gedong Oka (alm) elite partai, Partai
dengan Ashramnya di harus dikawal dan
Candi Dasa, Bali. dikoreksi oleh dewan-
dewan buruh (tesis
Gramsci).
 Nasib petani gurem
baru mulai mendapat
perhatian oleh Gramsci
di Italia, sementara
Lenin merintis jalan ke
arah industrialisasi
pertanian secara
kolektif. Ini kemudian
diteruskan secara
represif oleh Stalin dan
diikuti oleh Mao
Zedong dengan
membentuk komune-
komune di daerah
pedesaan yang diawasi
oleh komisaris Partai
Komunis Tiongkok di
setiap desa.
 Kapitalisme adalah
motor penggerak
kolonialisme dan
imperialisme (Lenin &
Luxemburg).
 Agama (baca: Gereja
di masa hidup Marx
dan Engels) adalah

84
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

candu bagi rakyat


karena berkolusi
dengan Negara dan
Modal, sementara
kaum miskin diiming-
imingi dengan
keselamatan di sorga.
 Pewaris pemikiran
Marxisme di
Indonesia: khusus
Marxisme-Leninisme:
Partai Komunis
Indonesia (PKI);
Berbagai aliran
Marxisme mulai
dipelajari dan
dipraktekkan oleh
banyak kelompok Kiri
muda.

Diagram 3:
Sistem Tata Ekonomi:
Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Kapitalisme; Sistem Perekonomian/
Tata Ekonomi Sosialisme; Sistem Perekonomian/ Tata Ekonomi Komunisme.

Sistem Perekonomian/ Tata Sistem Perekonomian/ Tata Sistem Perekonomian/ Tata


Ekonomi Kapitalisme Ekonomi Sosialisme Ekonomi Komunisme
Kapitalisme adalah sistem Sosialisme adalah suatu sistem Komunisme adalah suatu
perekonomian yang perekonomian yang sistem perekonomian di mana
memberikan kebebasan secara memberikan kebebasan yang peran pemerintah sebagai
penuh kepada setiap orang cukup besar kepada setiap orang pengatur seluruh sumber-
untuk melaksanakan kegiatan untuk melaksanakan kegiatan sumber kegiatan
perekonomian seperti ekonomi tetapi dengan campur perekonomian. Setiap orang
memproduksi baang, manjual tangan pemerintah. Pemerintah tidak diperbolehkan memiliki
barang, menyalurkan barang masuk ke dalam perekonomian kekayaan pribadi, sehingga
dan lain sebagainya. Dalam untuk mengatur tata kehidupan nasib seseorang bisa
sistem ini pemerintah bisa perekonomian negara serta ditentukan oleh pemerintah.
turut ambil bagian untuk jenis-jenis perekonomian yang Semua unit bisnis mulai dari
memastikan kelancaran dan menguasai hajat hidup orang yang kecil hingga yang besar
keberlangsungan kegiatan banyak dikuasai oleh negara dimiliki oleh pemerintah
perekonomian yang berjalan, seperti air, listrik, dengan tujuan pemerataan
tetapi bisa juga pemerintah telekomunikasi, gas lng, dan ekonomi dan kebersamaan.
tidak ikut campur dalam lain sebagainya. Dalam sistem Namun tujuan sistem komunis
ekonomi. Dalam ekonomi sosialisme atau tersebut belum pernah sampai
perekonomian kapitalis setiap sosialis, mekanisme pasar dalam ke tahap yang maju, sehingga
warga dapat mengatur hal permintaan dan penawaran banyak negara yang
nasibnya sendiri sesuai dengan terhadap harga dan kuantitas meninggalkan sistem
kemampuannya. Semua orang masih berlaku. Pemerintah komunisme tersebut.
bebas bersaing dalam bisnis mengatur berbagai hal dalam
untuk memperoleh laba ekonomi untuk menjamin
sebesar-besarnya. Semua orang kesejahteraan seluruh
bebas malakukan kompetisi masyarakat.
untuk memenangkan
persaingan bebas dengan
berbagai cara.

85
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Diagram 4:
Karakteristik Umum dari Sosialisme dan Komunisme,
dijelaskan dalam: David Held, Models of Democracy
(Jakarta: The Akbar Tandjung Institute, Cet. I., 2007) h. 129.

Ciri-ciri Sosialisme (pemerintahan dialektator


Komunisme
Khusus proletariat)
Tujuan 1. Pengambil alihan semua kapital 1. Berakhirnya eksploitasi pada buruh
Umum berskala besar. secara bertahap, kepemilikan sosial
2. Kedali utama produksi berada di atas kepemilikan.
tangan negara. 2. Konsesnsus kepada semua pertanyaan
3. Kemajuan kekuatan produktif yang publik, oleh karena itu, tidak ada
sangat pesat. hukum, disiplin, kekerasan.
4. Pembubaran negara borjuis secara 3. Pemenuhan semua kebutuhan
bertaha. material.
5. Mempertahankan revolusi melawan 4. Pekerjaan dan tugas yang dibagikan
sisa-sisa orde lama. secara kolektif.
5. Pemerintahan-sendiri (bahkan
demokrasi menjadi berlebihan).
Negara 1. Penyaluran fungsi eksekutif dan 1. Penghapusan fungsi-fungsi legislatif
legislatif. dan eksekutif (tidak lagi diperlukan).
2. Seua aparat pemerintahan merupakan 2. Distribusi tugas-tugas administrasi
subjek yang dapat dipilih secara dengan rotasi dan pemilihan kembali.
teratur, diberi mandat daru daerah 3. Pembubaran semua angkatan
pemilikan dan diberhentikan. bersenjata dan pelaku kekerasan
3. Pemilihan dan pemberhentian semua (koersif).
jaksa dan hakim, serta semua pejabat
administratif lainnya.
4. Penggantian kekuatan angkatan
bersenjata dan polisi dengan milisi
rakyat.
5. Otonomi lokal sepenuhnya dalam
kerangka dewan daerah (struktur
piramida).
Ekonomi 1. Perluasan hak milik negara atas 1. Penghapusan pasar, perdagangan dan
perusahaan-perusahaan. peran uang.
2. Kontril negara atas kredit. 2. Dihapusnya pembagian buruh,
3. Kontrol negara atas komunikasi dan perputaran semua tugas.
transportasi. 3. Masyarakat menikmati berbagai jenis
4. Penghapusan hak milik pribadi atas pekerjaan dan waktu luang.
tanah secara bertahap dan perngolahan 4. Jam kerja dikurangi menjadi sangat
semua alam. minimal.
5. Kesempatan kerja yang sama untuk 5. Dengan dihapuskannya kelangkaan,
semua warga; pengaturan umum semua kebutuhan dapat terpenuhi dan
terhadap pekerjaan. ide tentang hak milik pribadi menjadi
tidak ada artinya lagi.
Masyarakat 1. Pajak yang cukup tinggi. 1. Prinsip-prinsip kooperasi disebarkan
2. Tidak ada lagi hak waris. ke seluruh urusan publik.
3. Pendidikan bebas biaya bagi semua 2. Menghilangnya perbedaan sosial,
anak. kultural, regional dan rasial yang
4. Penyatuan kembali kota dan negara menjadi sumber-sumber konflik.
melalui distribusi jumlah penduduk 3. Masyarakat menggunakan seluruh
yang lebih adil diseluruh negara serta kemampuan mereka dan dibatasi oleh
penyatuan antara lingkungan kerja dan kebebasan orang lain.
non-kerja.

86
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

4. Rumah tangga didasarkan pada


pengatural komunal, tetap monogami,
walaupun tidak selalu menjadi
komitmen seumur hidup.

Tujuan keseluruhan dari kedua tahap:


1. Perluasan produksi yang terencana dan penghapusan kelangkaan.
2. ‘Administrasi orang-orang’ digantikan dengan ‘administrasi barang-barang’ untuk
‘menghapuskan negara’.
3. Prinsip keadilan akan ditegakkan secara bertahap; ‘dari setiap orang berdasarkan
kemampuannya; bagi setiap orang berdasarkan kebutuhannya.’

Diagram 5:
Demokrasi Langsung dan Akhir dari Politik,
dijelaskan dalam: David Held, Models of Democracy
(Jakarta: The Akbar Tandjung Institute, Cet. I., 2007) h. 138.

Prinsip-prinsip pertimbangan:
‘Pembangunan yang bebas dari semuanya’ hanya dapat diraih dengan ‘pembangunan yang bebas
dari semua orang.’ Kebebasan membutuhkan berakhirya eksploitasi dan terutama kesetaraan
politik dan ekonomi yang benar-benar lengkap; hanya kesetaraan yang dapat menjamin keadaan-
keadaan yang diperlukan untuk merealisasikan kemampuan manusia sehingga ‘setiap orang dapat
memberi’ sesuai dengan kemampuannya dan ‘menerima apa yang mereka butuhkan.’

Sosialisme Komunisme
Ciri-ciri utama: Ciri-ciri utama:
1. Masalah-masalah publik diatur oleh komune 1. ‘Pemerintah’ dan ‘politik’ dalam semua
dan dewan wilayah yang terstruktur dalam bentuk memberi kesempatan bagi
suatu struktur piramida. pengaturan diri.
2. Personel pemerintahan, penegak hukum, 2. Semua masalah publik diatur secara
administrator merupakan subjek yang dipilih kolektif.
secara teratur, diberi mandat dari komunitas 3. Konsesus merupakan prinsip pengambilan
mereka da dapat diberhentikan. keputusan untuk pelayanan publik.
3. Pegawai-pegawai publik dibayar dengan 4. Distribusi dari semua tugas administrasi
upah yang tidak lebih besar daripada upah melalui perputaran atau pemilikan.
para pekerja. 5. Penggantian semua kekuatan bersenjata dan
4. Milisi rakyat yang mendukung orde politik koersif dengan pengawasan diri.
yang baru adalah subjek untuk kontrol
komunitas.
Kondisi-kondisi umum: Kondisi-kondisi umum:
1. Persatuan seluruh kelas pekerja. 1. Semua sisa-sisa kelas menghilang.
2. Kekalahan borjuasi. 2. Penghapusan kelangkaan dan hak milik
3. Dihapusnya semua hak istimewa kelas- pribadi atas alat-alat produksi.
kelas. 3. Penghapusan pasar, perdagangan dan uang.
4. Kemajuan penting dari kekuatan produksi 4. Akhir dari pembagian kerja sosial.
sehingga semua kebutuhan dasar dapat
dipenuhi dan masyarakat mempunyai waktu
yang cukup untuk mengejar aktivitas selain
pekerjaan.
5. Penyaluran progresif negara dan
masyarakat.

87
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

REFERENSI PRIMER

Alfian, Pemikian dan Perubahan Politik Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1981)


_______, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1982)
An-Nadwi, Mas’ud, Islam dan Sosialisme (Bandung: Risalah, 1983)
Attle, Clement, Perdana Menteri Inggris tahun 1945-1951, juga seorang Pemimpin Partai
Buruh 1935-1955, menulis dalam buku The Labour Party in Perspective (1937)
Arendt, Hannah, Anti-Semitisme, Part one of the Origins of Totalitarianisme (New York:
Harcourt and Brace World. Inc., 1968).
A Documentary History of Libertarian Ideas. Anarchism. Volume One: From Anarchy to
Anarchism (300CE to 1939) Robert Graham, editor. Black Rose Books, Montreal
and London 2005.
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia, 1996
Bell, Daniel, (1) The End of Ideology, New York: Free Press, 1960; (2) The Coming of Post
Industrial Society, New York: Penguin Books Edition, 1973; (3) The Cultural
Contradictions of Capitalism, New York: Basic Books, 1976.
_______, dan Kristol, Irving (ed.), Model dan Realita di Dalam Wacana Ekonomi, Dalam
Krisis Teori Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1988.
Bracher, Karl Dietrich, The German Dictatorship; The Origins, Structure and Consequences
of National Socialism, Trans. By J. Steinberg (London: Penguin Book, 1988).
Barker, John H. Individualism and Community: The State in Marx and Early Anarchism
(Individualisme dan Komunitas: Negara dalam pandangan Marx dan Anarkisme
Klasik). New York: Greenwood Press, 1986.
Cole, G.D.H., History of Socialist Thought, in 7 volumes, Macmillan and St. Martin’s Press
(1965).
Downs, Anthony, An Economic System of Democracy (New York: Harper & Row, 1957)
Debord, Guy, The Society of The Spectacle, seperti dikutip oleh Fredric Jameson,
Postmodernism or The Cultural of The Late Capitalism, London, Verso, 1990
Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat (Bandung: Mizan, 1999)
Dimont, Max, Jews, God and History (The New York: The New York American Library,
1962) juga The Indestructible Jews ((The New York: The New York American
Library, 1973).
D’Agostino, Anthony. Marxism and the Russian Anarchists (Marxisme dan Kaum Anarkis
Rusia). San Francisco: Germinal Press, 1977.
Dolgoff, Sam (ed.). Bakunin on Anarchism (Bakunin dalam Anarkisme). Montreal: Black
Rose Books, 2002.
Engels, Frederick, Prinsip-prinsip Komunisme Ditulis pada Oktober-November 1847, Dari
Selected Works, Jilid1, muka surat 81-97, diterbitkan oleh Penerbit Progress,
Moskow; 1969.
_______, Friedrich, The Origin Of The Family, Private Property And The State, Zurich, 1884
Ebenstein, William dan Fogelman, Edwin, Isme-isme Dewasa ini, terj. Alex Jemadu (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1994).
_______, William, Today Isms; Communism, Fascism, Capitalism, Socialism (New Jersey:
Prentice-Hall, Inc., 1970)
Fukuyama, Francis, The End of History and Last Man, London: Hamish Hamilton, 1992.
Fried, Albert, and Sanders, Ronald, eds., Socialist Thought: A Documentary History, Garden
City, NY: Doubleday Anchor, 1964.
Fromm, Erich, Escape from Freedom (New York: Avon Books, 1965)
Galbraith, John Kenneth, The New Industrial State, New York: Mentor Book Paperback
Edition, 1972

88
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Halevy, Elie, Histoire du Socialisme Europen. Paris, Gallimard, 1937


Harrington, Michael, Socialism, New York: Bantam, 1972
Hebermas, Jurgen, Ilmu dan Tekhnologi Sebagai Ideologi, Jakarta: LP3ES, 1990
Hayes, Paul, Fascism (London: George Allen and Unwin Ltd., 1973)
Hitler dikutip dalam David Coopeman and Walter, Power and Civilizations, Political Thought
in The Twetieth Century (New York: Thomas Y. Crowell Company, 1962).
Harper, Clifford, Anarchy: A Graphic Guide, (Camden Press, 1987) (An excellent overview,
updating Woodcock’s classic, and beautifully illustrated throughout by Harper’s
woodcut-style artwork)
Khoirie, A. Effendi, Privatisasi Versus Neo-Sosialisme Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 2003)
Kristeva, Nur Sayyid-Santoso, Negara Marxis & Revolusi Proletariat (Jogjakarta: Pustaka
Pelajar Cet. 1., 2011).
_______, Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx: Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam,
Skripsi pada Fakultas Tabiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Tahun 2005.
_______, Manifesto Wacana Kiri: Membentuk Solidaritas Organik, Buku Panduan Pelatihan
Basis 1 (2007).
_______, Teori Analisis Geo-Ekosospol, Buku Panduan Pelatihan Basis 2 (2009).
_______, Marxisme untuk Revolusi Demokratik (Sebuah Analisis Pemikiran), Buku Panduan
Sekolah Marxis 1 (2007).
_______, Pemikiran Marx Tentang Kritik Ekonomi-Politik; Melacak Gagasan Dasar
Kapitalisme Buku Panduan Sekolah Marxis 2 (2009).
_______, Seri Ideologi Dunia (Marxisme, Sosialisme, Komunisme, Kapitalisme, Fasisme,
Anarkisme, Sindikalisme, Anarko-Sindikalisme, Konservatisme, Sosialisme-
Demorasi, dll), Buku Panduan Sekolah Ideologi 1 (2008).
_______, Manifesto Ideologi kiri: Melacak Akar Ideologi Dunia & Epistemologi Perubahan
Sosial Revolusioner-Subversif, Sekolah Ideologi 2 (2007).
Lorrain, Jorge, Konsep Ideologi (Jogjakarta: LKPSM, 1997). Terj. Ngatawi al Zastrouw
(editor) dan Ryadi Gunawan. Judul asli: The Concept of Ideology, Forteword by Tom
Bottomore, First Published, Australia: Hotchinson Publishing Group, 1979.
Mannheim, Karl, Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik (Jogjakarta:
Kanisius, 1993).
Market Socialism: the debate among socialists, ed. Bertell Ollman (1998)
Mangunwijaya, Y.B. (ed.), Tekhnologi dan Dampak Lingkungannya, Volume II, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1985;
Marx-Engels, Selected Works; Peking, Penerbit Foreign Languages, 1977.
Muthahhari, Murtadho, Masyarakat dan Sejarah Kritik Islam atas Marxisme dan Teori
lainnya, dalam Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat; Kajian Sejarah
Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2001)
Pranarka, A.M.W., “Pasal 33 UUD 1945: Wawasan Dasar dan Konstruksi Operasionalnya,
Suatu Tinjauan Ideologis,”dalam Analisa CSIS, Tahun IV, No. 12, Desember 1986
Prawiranegara, Sjafruddin. Agama dan Ideologi (Jakarta: Bulan Bintang, 1971)
Popper, Karl, The Open Society and Its Enemiesm vol. II., The High Tide of Propechy Hegel
and Marx, The Aftermath (London: Routledge and Keagan Paul, 1962).
Ranney, Austin, Governig; An Introduction to Political Science (7th Edition; London: Prentice
Hall International, Inc., 1996)
Rais, Amien, Cakrawala Islam; Antara Cita dan Fakta (Bandung: Mizan, 1999)
Ridho, Abu, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (WAMY, 1999)
Syariati, Ali, Tugas Cendekiawan Muslim (Jogjakarta: Salahuddin Press, 1982)

89
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

_______, Kritik Islam atas Marxisme (Bandung: Mizan, 1983)


_______, Kritik atas Marxixme dan Aliran Barat Lainnya (Bandung: Mizan, 1982).
Syam, Firdaus, Pemikiran Politik Barat; Sejarah, Filsafat, Ideologi dan Pengaruhnya
Terhadap Dunia Ketiga (Jakarta: Bumi Aksara, 2007)
Sukarna, Suatu Studi Ilmu Politik Ideologi (Bandung: Alumni, 1981)
_______, Ideologi (Bandung: Alumni, 1981)
Suseno, Franz Magnis, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Jogjakarta: Kanisius, 1991)
Suseno, Franz Magnis, Pemikian Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme (Jakarta: Gramedia, 2000)
Simon, Roger, Gagasan-gagasan Politik Gramsci (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Smith, Adam, The Wealth of Nations pendahuluan dan catatan pinggir oleh Edwin Cannan,
New York: The Modern Library, 1973
Sjahrir, Formasi Mikro-Makro ekonomi Indonesia, Jakarta, UI Press, 1995
Sukirno, Sudono, Ekonomi Pembangunan, Proses, Makalah dan Dasar Kebijaksanaan,
Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 1985
Sargen, Lyman Tower, Ideologi-ideologi Politik Kontemporer; Sebuah Analisis Komparatif
(Jakarta: Erlangga, 1987)
Stalin, Joseph, Dialectical and Historical Materialism (New York: Inter. Publisher, 1950)
Suhelmi, Ahmad, Pemikiran Politik Barat; Kajian Sejarah Perkembagan Pemikiran Negara,
Masyarakat dan Kekuasaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001)
Sartre, Jean Paul, Anti-Semite and The Jew, Trans. By George J. Backer (New York: Schoker
Books, 1972)
Stokes, Roger, The Jew, Rome and Armageddon (Adelaide Hills Christadelphian Ecclesia,
1987)
Titus, Smith, Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat, Judul Asli: Living Issues in Philosophy,
Seven Edition, D. Van Nostrand Company, New York, 1979. Penerjemah: Prof. Dr.
H.M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984)
T. W. Adorno, The Authoritarian Personality (New York: Harper & Row, 1950).
Thomas, Paul, Karl Marx and the Anarchists (Karl Marx dan Kaum Anarkis). London:
Routledge, 1985.
Vincent, K. Steven. Between Marxism and Anarchism: Benoit Malon and French Reformist
Socialism (Antara Marxisme dan Anarkisme: Benoit Malon dan Kaum Sosialis
Reformis Perancis). Berkeley: University of California Press, 1992.
Ursula K. Le Guin, The Dispossessed, (a 1974 science fiction novel that takes place on a
planet with an anarchist society; winner of both the Hugo and Nebula Awards for
best novel.)
Weinstein, John, Long Detour: The History and Future of the American Left, Westview Press,
2003, Leo Panitch, Renewing Socialism: Democracy, Strategy, and Imagination.
Wilson, Edmund, To the Finland Station: A Study in the Writing and Acting of History,
Garden City, NY: Doubleday, 1940.
Weber, Max, The Protestant ethic of Spirit Capitalism, New York, Scribner, 1958, Edisi
Inggrisnya dikerjakan oleh Talcot Parson dengan Pengantar RH Tawney.
Woodcock, George, Anarchism, (Penguin Books, 1962) (For many years the classic
introduction, until in part superseded by Harper’s Anarchy: A Graphic Guide)
_______, (Ed.) The Anarchist Reader, (Fontana/Collins 1977) (An anthology of writings from
anarchist thinkers and activists including Proudhon, Kropotkin, Bakunin, Bookchin,
Goldman, and many others.)
Zimmerman, L. J., Sejarah Pendapat-pendapat tentang Ekonomi, Bandung: N.V. Penerbitan
W. Van Hoeve, ‘S-Gravenhage, 1995. Edisi Indonesia dikerjakan oleh K. Siagian.
Periksa buku aslinya yang berjudul Geschiedenis Van Het Economisch Denken.[]

90
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

TENTANG PENULIS

Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A., lahir di Cilacap 27


Juli 1980 dari keluarga petani miskin di pesisir selatan kota
Cilacap Jawa Tengah. Berkat ketekunan dan kegigihanya
mencari ilmu sejak tahun 1999 ia melanjutkan studi di Fakultas
Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan melahirkan
karya ilmiah berbentuk skripsi kontroversial dan dianggap
keluar dari tradisi akademik UIN, dengan judul: “Emansipasi
Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx: Tinjauan Filsafat
Pendidikan Islam”. Dan tahun 2010 ini selesai menempuh studi
di Program Pascasarjana Sosiologi Fisipol UGM dengan
menyusun tesis berjudul: “Negara Marxis & Revolusi
Proletariat: Studi Analisis Ajaran Marxis Tentang Negara &
Tugas-Tugas Proletariat di Dalam Revolusi Sosial” yang kini
menjadi buku diterbitkan Pustaka Pelajar Jogjakarta.
Perjalanan akademis dari sekolah dasar sampai
sekolah menengah ditempuh di desa kelahirannya Cilacap. Kemudian melanjutkan Sekolah
Menegah Atas di Madrasah Aliyah sekaligus menjadi santri dan Lurah di Pondok Pesantren
Pendidikan Islam (PPPI) Miftahussalam Al-Haditsah Banyumas. Kegemaranya melahap buku
kiri, filsafat dan sosial sejak SMU telah menciptakan pemikiran dan pengaruh di lingkungan
organisasi dan kelompok studi, sehingga selain menjadi lurah pondok ia juga dipercaya
sebagai ketua OSIS MA dan MTS PPPI Miftahussalam Banyumas dan masuk terpilih sebagai
siswa teladan tingkat SMU se-eks Karesidenan Banyumas.
Kegemarannya berorganisasi, berdiskusi dan berdialektika terus dilanjutkan selama
menjadi mahasiswa. Di Intra kampus ia terlibat secara politik di PRM dan didelegasikan
untuk menjabat posisi prestisius sebagai Sekjend DEMA UIN Sunan Kalijaga. Aktif di
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma Fakultas Tarbiyah, Komunitas Studi Ilmu
Pendidikan (KSIP) Fakultas Tarbiyah, Dewan Senat Presidium Mahasiswa Fakultas Tarbiyah,
dan karena nalar pemberontakan jalanan gerakan intra kampus ia terlibat demonstrasi
pembubaran seminar nasional dan penolakan konversi IAIN menjadi UIN, aksi penolakan
SISDIKNAS dan aksi pembubaran partai Golkar setelah penumbangan Rezim Orba ‘98.
Kemudian di gerakan ekstra kampus pernah aktif secara kultural di PMII Rayon
Fakultas Tarbiyah dan terus berproses di PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga, Pengurus
Cabang PMII D.I. Yogyakarta dan kemudian secara kultural berproses di Bidang Kaderisasi
PB PMII. Pernah terlibat advokasi petani di Klaten bersama dengan jaringan Katholik.
Terlibat advokasi anak jalanan dengan LSM Humana. Menjadi peserta vouletir diskusi di
LKiS. Di kampus dan luar kampus ia gigih membetuk forum diskusi pembebasan. Forum
diskusi yang pernah digeluti antara lain Forum Diskusi para seniornya; Forum Diskusi Sosial
“T-Visionary Club”, Forum Diskusi Filsafat “Kipas” dan membidani Forum Diskusi
“Komunitas Kultural” serta Forum Diskusi “Lintas Organ Ekstra”. Di organisasi etnis ia
pernah menjabat sekjend HIMMAH SUCI dan ketua umum Himpunan Mahasiswa Cilacap-
Jogjakarta (HIMACITA), ia juga membidani berdirinya organ-organ etnis dilingkungan UIN.
Menjadi deklarator sekaligus menjabat sebagai dewan presidium Komite Mahasiswa Cilacap
se-Indonesia (KMCI).
Selepas studi sebagai sarjana muda ia melanjutkan untuk mengaji kitab kuning di
Ponpes Al-Madaniah Cilumpang-Cilacap terutama mengkaji ilmu alat, fiqih, tauhid dan
tafsir, juga untuk mengobati kekeringan spiritualitas selama menjadi aktivis. Selain mengaji
kitab kuning ia juga menjadi dosen muda progressif di Institut Agama Islam Imam Ghozali
(IAIIG) Cilacap dan tetap aktif di pembasisan kader dan gerakan sosial. Terlibat di Jaringan

91
sejarah ideologi dunia/ nur sayyid santoso kristeva

Kultural PMII Jawa Tengah, khususnya di Jaringan Inti Ideologis Sayap Kiri Pesisir
Selatan—yang dianggap sebagai gerakan sparatis dan subversif oleh sebagian pengurus
Korcab PMII Jateng. Selain itu bersama SETAM dan aktivis PMII Cilacap terlibat perebutan
(reclaiming) tanah petani dengan Perhutani di tumpangsari Cilacap. Terlibat aktif di
LAKPESDAM NU, IPNU, Gerakan Pemuda Anshor, Lembaga Advokasi Buruh Migran
Cilacap, Yapeknas, Lajnah Bahsul Masail, Dialog Antar Agama FKUB, LP Ma’arif.
Membidani sekolah kader kultural: Pelatihan Basis, Sekolah Ideologi, Sekolah Marxis,
Sekolah Gerakan Sosial, Sekolah Pendidikan Kritis, Sekolah Filsafat dan menginisiasi
pembentukan organ taktis Front Aksi Mahasiswa Cilacap (FAM-C) untuk memekikkan
aspirasi perlawanan dan isu-isu polulis.
Jaringan intelektual yang pernah dan sedang digelutinya antara lain: Center for Asia
Pasific Studies Gadjah Mada University (PSAP) Jogjakarta, Institute for Islamic and Social
Studies (LKiS) Jogjakarta, Indonesia Sanitation Sector Development Program (WSP/
BAPPENAS) Jakarta, Institute for Human Resources Studies and Development (LKPSM)
Jakarta, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LAPPERA) Jogjakarta, Institute
for Women and Children’s Studies & Development (LSPPA) Jogjakarta, Institute for Human
Resources Studies and Development (LKPSM) Cilacap, Forum Kerukunan Ummat Beragama
(FKUB) Cilacap, Institute for Research and Empowerment (IRE) Jogjakarta, Institute
Sosiologi Dialektis (INSIDE) Gadjah Mada University, Institute for Philosophycal and Social
Studies (INPHISOS) Yogyakarta, Forum Diskusi Eye on The Revolution + Revdem
Yogyakarta.
Sampai saat ini masih laten mendampingi pembasisan kader secara kultural di
lingkungan PMII Yogyakarta, Jaringan Gerakan Prodem Jawa Tengah + Jawa Barat + Jawa
Timur dan khususnya Jaringan PMII Jawa Tengah Sayap Kiri Pesisir Selatan. Untuk
mewadahi dan menjaga spirit intelektual di Jogjakarta ia telah membentuk Lembaga Kajian
Sosiologi Dialektis (LKSD), Institute for Philosophical and Social Studies (INSPHISOS),
Forum Diskusi EYE ON THE REVOLUTION + REVDEM, dan sampai saat ini ditengah
keseriusan menyusun tesis, ia terus berusaha membunuh waktu dan terus produktif untuk
melahirkan karya intelektual karena terinspirasi oleh karya-karya hebat seperti: Shahihain
Bukrari Muslim, Al-Ihya Ulumuddin Ghozali, Magnum Opus Das Capital Karl Marx,
Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dan Master Peace Madilog Tan Malaka. Karena karya-
karya besar dan berpengaruh tersebut maka, penulis berusaha terus menggerus pikiran dalam
membuat manuskrip buku panduan praxis aktivis gerakan sosial untuk jaringan revolusi
demokratik (revdem) dan untuk Pembasisan Kader Gerakan PMII, antara lain: Manifesto
Wacana Kiri: Membentuk Solidaritas Organik (2007) Buku Panduan Pelatihan Basis 1. Teori
Analisis Geo-Ekosospol (2009) Buku Panduan Pelatihan Basis 2. Marxisme untuk Revolusi
Demokratik (2007). Buku Panduan Sekolah Marxis 1. Pemikiran Marx Tentang Kritik
Ekonomi-Politik; Melacak Gagasan Dasar Kapitalisme (2009) Buku Panduan Sekolah
Marxis 2. Seri Ideologi Dunia (2008) Buku Panduan Sekolah Ideologi 1. Manifesto Ideologi
kiri: Melacak Akar Ideologi Dunia dan Epistemologi Perubahan Sosial Revolusioner-
Subversif (2007) Buku Panduan Sekolah Ideologi 2. Refleksi Paradigma Pendidikan Kritis;
dari Tatanan Ekonomi Global Sampai Kapitalisasi Pendidikan (2007) Buku Panduan
Pelatihan Pendidikan Kritis. Paradigma dan Sosiologi Perubahan Sosial (2007) Buku
Panduan Sekolah Analisis Sosial. Merebut Alat Produksi Pengetahuan; Transformasi dari
Student Movement Menuju Social Movement (2008) Buku Panduan Sekolah Gerakan Sosial.
Metodologi Pelatihan, Fungsi dan Peranan Fasilitator (2009) Buku Panduan Training
Fasilitator Transformatif, Sejarah Teologi Islam dan Akar Pemikiran Ahlussunah Wal
Jama’ah, Edisi Khusus Komunitas untuk Program Sekolah Aswaja, Cetakan Pertama, Juni
2012; dan karya subversif lainnya.[] Contac person penulis: Hp. 085 647 634 312, E-Mail:
nuriel.ugm@gmail.com.[]

92