Anda di halaman 1dari 27

PARTISIPASI, DEMOKRASI, DESENTRALISASI

Konteks Perencanaan Partisipatif


Bagian I

EVOLUSI GAGASAN PARTISIPASI WARGA


PERUBAHAN KONSEP KEWARGAAN
• Makna Warga Mengalami Evolusi Pemaknaan dilandasi perubahan cara pandang posisi
dan relasi warga - negara
Makna warga Premis
Warga sebagai penerima  Pemerintah paling tahu permasalahan warga, memiliki seluruh
manfaat (beneficiaries) jawaban, dan paling dapat melaksanakan
 Warga hanya berperan untuk menikmati buah kerja teknokrat dan
birokrat
Warga sebagai pengguna  Kegagalan pembangunan dan perencanaan blue print
pembangunan (choosers  Pentingnya keberpemilikan atas proyek pembangunan
dan users)  Preferensi warga penting untuk diintegrasikan kedalam setiap tahapan
perencanaan dan pembangunan
Warga sebagai konsumen  Menciutnya peran negara dalam pembangunan
pembangunan (consumers)  Mekanisme pasar menjadi mekanisne terbaik dalam alokasi sumber
daya
 Pembangunan komunitas diarahkan pada upaya mendorong self-
reliant development
 Tumbuh dan berkembangnya NGO
PERUBAHAN KONSEP KEWARGAAN
Makna warga Premis
Warga sebagai pemangku  Berkembangnya metodologi PRA
kepentingan (stakeholder)  Partisipasi tidak lagi sebagai means tetapi juga sebagai ends
 Partisipasi aktif warga dipandang sebagai prasyarat
perubahansosial, ekonomi, dan relasi politik (pemberdayaan)
Warga (individu) sebagai  Partisipasi dianggap sebagai bagian dari hak dasar warga
pemegang hak  Setiap warga memiliki hak tidak hanya terkait pada proses
pembangunan/pegambilan keputusan namun hasil
pembangunan/keputusan publik tersebut
 Hak melekat pada setiap pribadi untuk menuntut
pertanggungjawaban negara dalam memenuhi kewajiban/tanggung
jawab
Bagian II

KRISIS DEMOKRASI DAN PARTISIPASI


ALASAN-ALASAN DIPERLUKANNYA PARTISIPASI
WARGA
• Institusi pemerintahan tidak akan benar-benar
mampu mewakili atau mengartikulasikan kebutuhan
warganya
• Aspirasi warga disalurkan melalui perwakilan yang dipilihnya
• Namun,sesempurna sistem demokrasi yang ada keterwakilan sempurna tidaklah mungkin benar-benar
tercapai
• Partisipasi warga menjembatani gap dengan menyediakan arena yang memungkinkan warga untuk
menyuarakan aspirasinya

• Institusi pemerintahan selalu perlu untuk diawasi dan


akuntabel
• Warga tidak dapat hanya menunggu pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan mereka
• Warga juga tidakdapat mengharapkan seluruh aparat pemerintah menjalankan tugasnya secara efektif dan
efisien dan akuntabel
• Tugas partisipasi warga adalah untuk memeastikan bahwa Birokrasi berjalan untuk warga masayarakat
ALASAN-ALASAN DIPERLUKANNYA PARTISIPASI
WARGA
• Warga yang paling memahami kebutuhan dan solusi
yang dibutuhkan
• Warga mengetahui apa yang dibutukan dan oleh karena perlu untuk terlibat dalam
proses mencari solusi
• Terdapat kebutuhan untuk melengkapi kepakaran teknis dengan pengetahuan dan
ketrampilan lokal.

• Partisipasi memungkinan warga untuk membangun


kemitraan dengan pemerintah
• Pemerintah seringkali dianggap berjarak dengan konstituenannya,dimana
pemerintah baru mewujud ketika pemilu dan membayar pajak
EMPAT MODEL SISTEM GOVERNANCE:
1. Representative Democracy
• tugas politikus adalah mengartikulasikan interest publik dan
mencIptakan tindakan pemerintahan utk mencapai tujuan ini.
• Birokrat menjawab politikus dan politikus menjadi rakyat melalui
ballot box.
• Governance difokuskan pada institusi pemerintahan formal
• Model ini bekerja dalam setting homogen dan diversity kultural
terbatas
• Pengembangan birokrasi terstruktur secara hirarkikal fokus
pada teknikal dan administratif expertise dimana birokrat
bertanggung jawab kepada atasannya dan politikus daripada
kepada masyarakat.
2. Pluralist Democracy
• diversity dalam interest muncul dalam model ini.
• Tugas politikus adalah arbitrasi antara berbagai kepentingan
• Style sistem adalah politics of voice dalam bahasa dan wacana
legal : memproduksi klaim yang berdasar pada kerangka legal
utk menentukan legitimasinya.
• Strategic planning adalah upaya utk mentransformasikan
kompetisi dan argumen plural ke praktek consensus building
untuk menciptakan strategy
• Davidoff: setiap kelompok kepentingan menghasilkan
rencananya sendiri, sehingga muncul debat demokratis utk
mengenali kehebatan masing2 rencana. Peran perencana
adalah advocacy. Perencanaan menjadi praktek mediasi antara
interest yang bekompetisi.
3. Corporatisme
• semua kelompok berada dalam posisi sama utk berkompesis.
Pemerintah adalah ciptaan beberapa kelompok saja atau
sering disebut neo elite version of democracy. Contoh: spatial
alliances atau growth coalition.
• Praktek: praktek rutin yang stabil antara pemerintah, bisnis
dan serikat buruh.
• Asumsi: shared power world; power terbagi di berbagai
interest group terartikulasi dalam beberapa hal.
• Public interest adalah interest dari bisnis, dilaksanakan
sebagai keperdulian terhadap tenaga kerja.
• Keunggulan: dapat memberikan konsensus yang stabil, dapat
mengkoordinasi berbagi kepentingan policy dan dapat
menjalankan dalam konteks yang lebih lama.
4. Clientelisme
• interaksi antara politikus dan birokrat melalui jejaring sosial –
keluarga, sahabat, bisnis - yang mereka miliki utk menaglokasikan
sumber daya. Mereka melakukan ini secara diam-diam dan tidak
dikritisi dalam demokrasi.
• Jika pemerintahan dijalankan dengan menggunakan pajak atau upeti
maka cara ini berjalan baik karena politikus dan birokrat menjadi
penjaga dalam pengelolaan sumber daya ini. Mereka adalah patron,
utk mendapatkan klien,, mereka diimingi suara – reciprocal system.
Contoh: Italy selatan. Favour tidak saja akses kepada kontrak
pemerintahan dan dananya, juga pada keputusan land use, illegal
building.
PARTISIPASI SEBAGAI JAWABAN KRISIS
DEMOKRASI
• facilitating active political involvement of the citizenry,
• forging political consensus through dialogue, devising
and implementing public policies that ground a
productive economy and healthy society,
• ensuring that all citizens benefit from the nation’s
wealth.
“Representative democracy and the institutions of
State and government as we know them today
are no longer capable of serving citizens or
ensuring good governance in the future”
(Commonwealth Foundation, 1999)
PARTISIPASI SEBAGAI STRATEGI PENDALAMAN
DEMOKRASI
• Pengembangan Civil Society
• Participation dan Participatory governance
• Deliberative democracy
• Empowered participatory governance
Bagian III

DESENTRALISASI DAN TATA


PEMERINTAHAN LOKAL
“ Pemindahan kekuatan dan/atau kewenangan untuk
merencanakan, membuat keputusan dan mengatur
fungsi publik dari level pemerintahan yang tinggi ke yang
lebih rendah”
(Diane Conyer, 1990)

DEFINISI DESENTRALISASI
• memungkinkan terciptanya kesempatan perubahan
perubahan bentuk hubungan antara pemerintah dan
komunitas publik
• membuka kesempatan untuk membentuk hubungan baru
antara pemerintah lokal dan penduduk setempat
• membuka banyak pertanyaan dan tantangan dalam langkah
kita untuk berpartisipasi di proses pengambilan keputusan,
dan proses keseluruhan dan struktur pembangunan
perencanaan.

KESEMPATAN YANG DIBUKA OLEH


DESENTRALISASI
• Mendistribusikan kembali sumberdaya untuk membantu
kaum miskin
• Penyebaran pelayanan yang lebih efektif dan responsif
• Meningkatkan tanggung jawab
• Meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam proses
pengambilan kebijakan
• Memperdalam demokrasi

KEUNTUNGAN DESENTRALISASI
PERENCANAAN RASIONAL INSTRUMENTAL VS PERENCANAAN
KOMUNIKATIF
Prosedur Perencanaan Rasional Instrumental
Tindakan
Pengetahua yang
Mengarahkan
n Rasional berorientasi
pada ke masa
Instrumental
depan

Prosedur Perencanaan PARTISIPATIF

Masyarakat Kompleks
(Beragam & Saling Bergantung)
Pengetahuan
Lain

Tindakan
Pengetahuan Kolektif yang
Pengetahuan Proses dan
Rasional Komunikas Mengarahka Mengarahka berorientasi
Instrumental n pada keputusan n pada
i (Dialog) Bersama ke masa
depan

Pengetahua
n Lain

Sumber: Diolah dari Friedman 1987; Healey 1981; Forester, 1989; T. Sager, 1994; Innes, 1995; Hailey, 2000; Woltjer 2000; Innes & Bohr 2010.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
DINAMIKA PARTISIPASI

• Komitmen politik dari pemerintah/partai politik pemenang pemilu


• Akses terhadap informasi dan dokumen publik
• Kerangka hukum untuk mendorong pelembagaan partisipasi
warga
• Tradisi dan organisasi warga
• Sumber daya keuangan di tingkat daerah
• Kecakapan partisipatif
ARENA PERENCANAAN PARTISIPATIF

Media Gerakan
& Perubahan
Sosial
Perspective

PERENCANAAN
PARTISIPATIF
Siklus Proyek
Aktor Metode &
Teknik

Komponen
Fungsi
Democratic Partisipasi
Governance
AKTOR DALAM PERENCANAN PARTISIPATIF
• Aktor Perencanaan Partisipatif sebagai Media Gerakan dan
Perubahan Sosial
• Kelompok-kelompok miskin dan marjinal yang menjadi objek
ketidakadilan proses pembangunan
• Pihak-pihak yang berkuasa:
• Pemerintah;
• Pemilik modal;
• Tokoh-tokoh yang berkuasa
• Aktor pendamping kelompok marjinal yang berfungsi sebagai
organizer, katalisator, fasilitator proses pembelajaran
AKTOR DALAMPERENCANAN PARTISIPATIF
• Aktor Perencanaan Partisipatif sebagai Siklus Proyek Pembangunan
• Kelompok-kelompok masyarakat sebagai penerima manfaat
• Pihak pemberi dana
• Pemerintah;
• Lembaga Donor
• NGOs
• Pendamping bisanya merupakan bagian dari pihak pemberi dana dengan
peran yang beragam:
• Fasilitator
• Organizer
• Manajer,
• dsb
AKTOR DALAM PERENCANAN PARTISIPATIF
• Aktor Perencanaan Partisipatif sebagai Siklus Democratic
Governance
• Kelompok-kelompok masyarakat sebagai bagian dari warga
• Pemerintah
• DPRD
• Fasilitator bisanya merupakan bagian dari entitas pemerintah
atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan
proses fasilitasi
ARENA PERENCANAAN PARTISIPATIF
• Perencanaan partisipatif
dalam kerangka proyek
• Perencanaan partisipatif
dalam kerangka tata
kepemerintahan demokratis
PERGESERAN DALAM MEWUJUDKAN
PERUBAHAN
QUESTIONS
• Menurut Saudara, apakah desentralisasi di Indonesia sudah
menerapkan system yang benar dan mencapai tujuan yang
diharapkan? Berikan perspektif analisis saudara dan salah satu
contoh konkret dari sistem desentralisasi yang baik dan/atau
yang buruk (level wilayah atau kota).