Anda di halaman 1dari 8

k

KAJIAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN


A. Umum

Visi dan Misi RSU Delima Medan :


1. Visi :
Memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik, bermutu, terjangkau dan profesional
2. Misi :
a. Memberikan pelayanan dengan mutu terbaik
b. Mengedepankan layanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau oleh seluruh
masyarakat umum.
c. Membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat sehingga tercapai keluarga sehat sejahtera.
Pelayanan yang dilakukan Rumah Sakit Umum Delima secara garis besar terdiri :
1. Pelayanan medik.
2. Pelayanan Kefarmasian
3. Pelayanan Keperawatan, dan Kebidanan.
4. Pelayanan Penunjang Klinik.
5. Pelayanan Penunjang Non Klinik.
6. Pelayanan Rawat Inap.
Kapasitas maksimal terhadap ketersediaan tempat tidur sebesar 100 tempat tidur, namun
sampai saat ini yang terealisasi masih 60 tempat tidur.
Berdasarkan maksimal terhadap ketersediaan tempat tidur yang terealisasi di RSU Delima
periode Januari sampai Desember 2017, persentase tingkat hunian Bed Occupancy Rate
(BOR) sebesar 43,5% dengan rata-rata tempat tidur sebanyak ± 35 tempat tidur per bulan.
B. Sumber Air Limbah dari Proses Produksi
Dari kegiatan operasional RSU Delima secara umum, air limbah yang dihasilkan berasal
dari proses mandi, cuci, kakus (MCK), dimana karakteristik air limbah yang dihasilkan
tergolong dalam karakteristik domestik. Sumber air yang digunakan untuk kegiatan tersebut
berasal dari PDAM sebesar 16,80 m3/hari dengan waktu operasional rata-rata selama 24
jam/hari.

Perkiraan kebutuhan dan penggunaan air


Sumber Penggunaan Jumlah (M3/hari)
Operasi 1,36
Air PDAM (16,80 m3/hari) Dapur 1,84
Laundry 1,35
Kantor (Karyawan) 3,12
Ruang Rawat Inap 8,40
Penyiraman area dan Taman 0,24
Total 16,80 m3/hari

C. Sumber Dampak
Dampak diperkirakan bersumber dari limbah proses MCK (Ruang perawatan, perkantoran,
dan umum)., pencucian peralatan (Laboratorium, Poliklinik, Dapur, dan Laundry),
Penyiraman taman, dan area. Berdasarkan pencatatan debit harian pembuangan rata-rata
jumlah debir air limbah yang dibuang sebesar 25,80 m3/hari. Didasarkan pada perkiraan
perhitungan debit yang dibuang melalui pengolahan, potensi air limbah yang dihasilkan
diperoleh nilai sebesar 78,47%.

D. Jenis Dampak
Beban penggunaan parameter yang digunakan sebagai potensi dampak yang akan dipantau
disesuaikan Dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kebutuhan Republik
Indonesia Nomor P.68/Menhlk/Setjen/Kum.1/8/2016, pada Lampiran I tentang Baku Mutu
Air Limbah Domestik Tersendiri, yang memuat potensi dampak sebagai berikut :
NO Parameter Potensi Dampak
1 pH Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan
yang mempunyai nilai pH dengan kisaran toleransi antara
asam lemah sampai asam lemah sampai basa lemah. pH
yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik pada
umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan
yang bersifat asam maupun basa akan membahayakan
kelangsungan hidup organisme karena akan
menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan
respirasi. Disamping itu pH sangat rendah akan
menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat
yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan
mengancam kelangsungan hidup organisme akutaik.
Sementara pH yang tinggi akan menyebabkan
keseimbangan antara ammonium dan ammoniak dalam
air akan terganggu, dimana kenaikan pH diatas netralkan
meningkat konsentrasi ammoniak yang juga sangat toksik
bagi organisme.

Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi


tergantung pada suhu, oksigen terlarut, dan kandungan
garam-garam ionik suatu perairan. Kebanyakan perairan
alami memiliki pH berkisar antara 6-9. Sebagian besar
biota perairan sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 (Effendi, 2003 dalam).
Nilai pH sangat menentukan dominasi fitoplankton. Pada
umumnya alga biru lebih menyukai pH netral sampai
basa dan respon pertumbuhan negatif terhadap asam
(pH<6). Chrysophyta umumnya pada kisaran pH 4,5-8,5
dan pada umumnya diatom pada kisaran pH yang netral
akan mengandung keanekaragaman jenisnya.
2. BOD BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu
karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut
yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri)
untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik
dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metealf
& Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa
bahan organik yang siap terdekomposisi (readily
decomposable organic matter)

Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran


jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba
yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap
masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari
pengertian0pengertian ini dapat dikatakan bahwa
walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi
untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran
jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable
organics) yang ada di perairan.

Oksidasi biokimiawi ini merupakan proses yang lambat


dan secara teoritis memerlukan reaksi sempurna. Dalam
waktu 20 hari, oksidasi mencapai 95-99% sempurna dan
dalam waktu 5 hari seperti yang umum digunakan untuk
mengukur BOD yang kesempurnaan oksidasinya
mencapai 60-70%. Suhu 20̊C yang digunakan merupakan
nilai rata-rata untuk daerah perairan arus lambat didaerah
iklim sedang dan mudah ditiru dalam inkubator. Hasil
yang berbeda akan diperoleh pada suhu yang berbeda
karena kecepatan reaksi biokimia tergantung dari suhu.

BOD merupakan paremeter yang umum dipakai untuk


menentukan tingkat pencemaran bahaan organik pada air
limbah. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan
bahan pencemaran akibat air buangan dan untuk
mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts
dan SS Santika, 1987). Adanya bahan organik yang
cukup tinggi (ditunjukkan dengan nilai BOD dan COD)
menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan
bahan organik tersebut secara biologis menjadi senyawa
asam-asam organik.

Pemeriksaan BOD 5 diperlukan untuk menentukan beban


pencemaran terhadap air buangan domestik juga untuk
mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air
tercemar. Penguraian zat organik adalah peristiwa
alamiah jika suatu badan air tercemar adalah zat organik
maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut
dalam air selama proses biodegradable berlangsung,
sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air
dan keadaan pad abadan air dapat menjadi anaerobik
yang ditandai dengan timbulnya bau busuk.

Jika limbah organic yang dilepaskan keperairan semakin


banyak, nilai BOD 5 akan semkain meningkat pula. Hal
ini akan mengakibatkan menurunnya kandungan oksigen
terlarut dalam air, sehingga terjadi defisiensi oksigen.
Jika BOD5 dan laju oksidasi melampaui laju reoksidasi,
terjadi defisiensi oksigen yang berkepanjangan. Jika hal
ini dibiarkan terus terjadi kerusakan ekosistem perairan
karena, oksigen terlarut kecil, sehingga tidak dapat
mendukung kehidupan organism akuatik yang ada
didalamnya. Sebaliknya jika tidak ada tambahan limbah
organic lagi. Limbah yang ada akan teroksidasi sempurna
secara bertahap (Dix, 1981).
3. COD COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah
oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan
organik yang terkandung dalam air ( Boiyd, 1990). Hal
ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara
kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium
bikromat pada pada kondisi asam dan panas dengan
katalisator perak sulfat (Boyd, 1990; Metcalf & Eddy,
1991), sehingga segala macam bahan organik, baik yang
mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan
teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD
dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik
yang sulit urai yang ada diperaiaran.

COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk


mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam
limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium
dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD
merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik
yangs secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses
biologis dan dapat menyebabkan berkurang nya oksigen
terlarut dalam air.

Jika pada perairan terdapat bahan organic yang resisten


terhdap degradasi biologis, misalnya tannin, fenol,
polisacharida dan sebgainya, maka lebih cocok dilakukan
pengukuran COD daripada BOD. Kenyataannya hampir
semua zat organic dapat dioksidasi oleh oksidator kuat
seperti kalium permanganat dalam suasana asam,
diperkirakan 95%-100% bahan organic dapat dioksidasi.
Konsentrasi COD yang tinggi menyebabkan kandungan
oksigen terlarut didalam air menjadi rendah, bahkan
habis sama sekali. Akibatnya oksigen sebagai sumber
kehidupan bagi makhluk air (hewan dan tumbuh-
tumbuhan tidak dapat terpenuhi sehingga makhluk air
tersebut menjadi mati