Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

GASTROENTERITIS AKUT PADA ANAK

Pembimbing : dr. Yunilasari, Sp.A

Disusun oleh :
Anggit Ekawati (1102013030)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 2JULI 2018 -8 SEPTEMBER 2018
RSUD KABUPATEN BEKASI
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Gastroenteritis atau penyakit diare adalah penyakit yang terjadi


akibat adanya peradangan pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi
(Cakrawardi et. al,2009). Penyakit ini ditandai dengan gejalanya terutama diare,
muntah atau keduanya dan dapat juga disertai dengan demam, nyeri abdomen dan
anoreksia (Elliott J. E., 2007). Secara global, setiap tahun diperkirakan dua juta
kasus gastroenteritis yang terjadi di kalangan anak berumur kurang dari lima
tahun. Walaupun penyakit ini seharusnya dapat diturunkan dengan pencegahan,
namun penyakit ini tetap menyerang anak terutamanya yang berumur kurang dari
dua tahun. Selain menyebabkan jumlah kematian yang tinggi di kalangan anak,
penyakit gastroenteritis juga menimbulkan beban kepada ibu bapa dari segi biaya
pengobatan dan waktu. Penyakit ini terutama disebabkan oleh makanan dan
minuman yang terkontaminasi akibat akses kebersihan yang buruk (Howidi et. al,
2012).

Gastroenteritis atau penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan


masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan
mortalitasnya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit
Diare, Departemen Kesehatan (Depkes) dari tahun 2000 sehingga tahun 2010
terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 incidence rate penyakit
diare 301/1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun
2006 naik menjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000
penduduk. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), studi
mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahawa diare
masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama
kematian karena diare perlu tatalaksana yang cepat dan tepat (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia
Biasanya gastroenteritis dapat pulih sendiri tanpa terapi. Penatalaksanaan
kasus gastroenteritis mempunyai tujuan mengembalikan cairan yang hilang akibat
diare. Kegagalan dalam pengobatan gastroenteritis dapat menyebabkan infeksi
berulang atau gejala berulang dan bahkan timbulnya resistensi. Untuk
1
menanggulangi masalah resistensi tersebut, WHO telah merekomendasikan
pengobatan gastroenteritis berdasarkan penyebabnya. Terapi antibiotik
diindikasikan untuk gastroenteritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Hal ini
karena antibiotik merupakan obat andalan untuk terapi infeksi bakteri. Namun,
ketepatan dosis dan lama pemberian antibiotik adalah sangat penting agar tidak
terjadi resistensi bakteri dan infeksi berulang (Cakrawardi et. al, 2009). Resistensi
antibiotik di kalangan bakteri enterik dapat menimbulkan implikasi buruk karena
dapat mengancam nyawa dan menyebabkan penyakit yang lebih serius (A
Elmanama et al., 2013).

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Gastroenteritis adalah adanya inflamasi pada membran mukosa saluran
pencernaan dan ditandai dengan diare dan muntah (Chow et al., 2010).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Simadibrata K et al., 2009).

2.2. Epidemiologi
Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang sangat sering
ditemui. Penyakit ini lebih sering mengenai anak-anak. Anak-anak di negara
berkembang lebih beresiko baik dari segi morbiditas maupun
mortalitasnya.Penyakit ini mengenai 3-5 miliar anak setiap tahun dan
menyebabkan sekitar 1,5-2,5 juta kematian per tahun atau merupakan 12 % dari
seluruh penyebab kematian pada anak-anak pada usia di bawah 5 tahun (Chow et
al., 2010).
Pada orang dewasa, diperkirakan 179 juta kasus gastroenteritis akut terjadi
setiap tahun, dengan angka rawat inap 500.000 dan lebih dari 5000 mengalami
kematian (Al-Thani et al., 2013).
Secara umum , negara berkembang memiliki angka rawat inap yang lebih
tinggi dibandingkan dengan negara maju. Ini dimungkinkan berdasarkan fakta
bahwa anak-anak di negara maju memiliki status gizi dan layanan kesehatan
primer yang lebih baik (chow et al., 2010).
Di Indonesia pada tahun 2010 diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi
tertentu masih menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak pada pasien
rawat inap di Indonesia yaitu sebanyak 96.278 kasus dengan angka kematian
(Case Fatality Rate/CFR) sebesar 1,92% (kemenkes RI, 2012).

2.3. Etiologi
Penyakit gastroenteritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu :
2.3.1. Faktor infeksi

3
a. Virus
Sejak tahun 1940-an, virus sudah dicurigai sebagai penyebab penting dari
gastroenteritis. Tetapi peranannya belum jelas sampai Kapikian et al. (1972)
mengidentifikasi adanya virus (Norwalk virus) pada feses sebagai penyebab
gastroenteritis. Satu tahun kemudian, Bishop et al., mengobservasi keberadaan
rotavirus pada mukosa usus anak dengan gastroenteritis, dan pada tahun 1975,
astrovirus dan adenovirus diidentifikasi pada feses anak yang mengalami diare
akut. Sejak saat itu, jumlah virus yang dihubungkan dengan gastroenteritis akut
semakin meningkat (Wilhelmi et al., 2003).
Beberapa virus yang sering menyebabkan gastroenteritis adalah :
a.1 Rotavirus
Rotavirus adalah virus yang paling sering menyebabkan diare yang parah
pada anak-anak di Amerika Serikat (Tucker et al., 1998). Hampir semua anak
pernah terinfeksi virus ini pada usia 3-5 tahun (Parashar dan Glass, 2012). Virus
ini tercatat menyebabkan sekitar 1/3 kasus diare yang dirawat inap dan
menyebabkan 500.000 kematian di dunia setiap tahun (WGO guideline, 2012).
Infeksi pada orang dewasa biasanya bersifat subklinis. Pada tahun 1973,
Bishop dan rekannya melihat dengan mikroskop elektron, pada epitel duodenum
anak yang mengalami diare, adanya virus berukuran 70 nm yang kemudian
dikenal sebagai rotavirus (dalam bahasa Latin , rota = wheel) karena tampilannya
(Parashar et al., 1998).
Rotavirus adalah anggota suku Reoviridae dengan struktur non-enveloped
icosahedral dan ketika diobservasi di bawah mikroskop elektron, mereka
memiliki bentuk seperti roda (Wilhelmi et al., 2003).
Rotavirus diklasifikasikan kedalam grup, subgrup dan serotipe berdasarkan
protein kapsidnya. Virus ini memiliki 7 grup yaitu A-G. Kebanyakan virus yang
menyerang manusia adalah grup A , tetapi grup B dan C juga dapat
menyeebabkan penyakit pada manusia (Parashar et al., 1998).
Rotavirus menginfeksi enterosit yang matur pada ujung vili usus halus dan
menyebabkan atrofi epitelium vilus, hal ini dikompensasi dengan repopulasi dari
epitelium oleh immature secretor cell, dengan hiperplasia sekunder dari kripta.
Sudah dikemukakan bahwa terjadi kerusakan selular yang merupakan akibat
sekunder dari iskemi vilus. Mekanisme yang menginduksi terjadinya diare akibat
virus ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi ada yang mengatakan bahwa diare

4
muncul dimediasi oleh penyerapan epitelium vilus yang relatif menurun
berhubungan dengan kapasitas sekretori dari sel kripta. Terdapat juga hilangnya
permeabilitas usus terhadap makromolekul seperti laktosa, akibat penurunan
disakaridase pada usus. Sistem saraf enterik juga distimulasi oleh virus ini,
menyebabkan induksi sekresi air dan elektrolit. Hal ini menyebabkan terjadinya
diare (Wilhelmi et al., 2003).
a.2 Enterik adenovirus
Virus ini menyebabkan 2-12% episode diare pada anak (Parashar dan
Glass, 2012). Human adenovirus merupakan anggota keluarga Adenoviridae dan
merupakan virus DNA tanpa kapsul, diameter 70 nm, dan bentuk icosahedral
simetris. Ada 4 genus yaitu Mastadenovirus, Aviadenovirus, Atadenovirus, dan
Siadenovirus. Pada waktu kini terdapat 51 tipe antigen human adenovirus yang
telah diketahui. Virus ini diklasifikasikan ke dalam enam grup (A-F) berdasarkan
sifat fisik, kimia dan kandungan biologis mereka (WHO, 2004). Serotipe enterik
yang paling sering berhubungan dengan gastroenteritis adalah adenovirus 40 dan
41, yang termasuk dalam subgenus F. Lebih jarang lagi, serotipe 31, 12 dan 18
dari subgenus A dan serotipe 1, 2, 5 dan 6 dari subgenus C juga terlibat sebagai
penyebab diare akut.
Sama dengan gastroenteritis yang disebabkan oleh rotavirus, lesi yang
dihasilkan oleh serotipe 40 dan 41 pada enterosit menyebabkan atrofi vili dan
hiperplasia kripta sebagai respon kompensasi, dengan akibat malabsorbsi dan
kehilangan cairan (Wilhelmi et al., 2003).
a.3 Astrovirus
Virus ini menyebabkan 2-10 % kasus gastroenteritis ringan sampai sedang
pada anak anak (Parashar dan Glass, 2012). Astrovirus dilaporkan sebagai virus
bulat kecil dengan diameter 28 nm dengan tampilan seperti bintang bila dilhat
dengan mikroskop elektron. Genom virus ini terdiri dari single-stranded, positive-
sense RNA. Astrovirus diklasifikasikan menjadi beberapa serotipe berdasarkan
kereaktifan dari protein kapsid dengan poliklonal sera dan monoklonal antibodi.
Patogenesis penyakit yang diinduksi oleh astrovirus belum sepenuhnya
dipahami, walaupun telah diduga bahwa replikasi virus terjadi di jaringan usus.
Penelitian pada orang dewasa tidak memberikan gambaran mekanisme yang jelas.
Penelitian yang dilakukan pada hewan, Didapati adanya atrofi pada vili usus juga
5
infiltrasi pada lamina propria menyebabkan diare osmotik ( Wilhelmi et al.,
2003).
a.4 Human calcivirus
Infeksi human calcivirus sangat sering terjadi dan kebanyakan orang
dewasa sudah memiliki antibodi terhadap virus ini (Parashar dan Glass, 2012).
Virus ini merupakan penyebab tersering gastroenteritis pada orang dewasa dan
sering menimbulkan wabah. (Wilhelmi et al., 2003). Human calcivirus adalah
anggota keluarga Calciviridae, dan dua bentuk umum sudah digambarkan yaitu
Norwalk-like viruses(NLVs) dan Sapporo-like viruses (SLVs) yang sekarang
disebut norovirus dan sapovirus. Virionnya disusun oleh single-structure capsid
Norovirus merupakan penyebab utama/terbanyak diare pada pasien
dewasa dan menyebabkan 21 juta kasus per tahun (Monroe, 2011).
Pada penelitian yang pernah dilakukan, infeksi oleh calcivirus yang
diobservasi mengakibatkan adanya ekspansi dari vili usus halus proksimal. Sel
epitel masih intak dan terdapat pemendekan mikrovili. Mekanisme terjadinya
diare masih belum diketahui, Diduga bahwa perlambatan waktu pengosongan
lambung yang diobservasi pada gastroenteritis yang disebabkan Norwalk virus
mungkin memiliki peranan.
Infeksi oleh Norwalk virus menginduksi respon antibodi spesifik IgG, IgA
dan IgM, bahkan jika telah terjadi eksposur sebelumnya. Dua minggu setelah
infeksi Norwalk virus, terjadi peningkatan sintesis jejunum terhadap IgA, dan
kebanyakan pasien resisten terhadap reinfeksi selama 4-6 bulan (Wilhelmi et al,.
2003)

a.5. Virus lain


Terdapat juga beberapa virus lain yang dapat menyebabkan penyakit
gaastroenteritis seperti virus torovirus. Virus ini berhubungan dengan terjadinya
diare akut dan persisten pada anak, dan mungkin merupakan penyebab diare
nosokomial yang penting.Selain itu ada juga virus coronavirus, virus ini
dihubungkan dengan diare pada manusia untuk pertama kalinya pada tahun 1975,
tapi penelitian-penelitian belum mampu mengungkapkan peranan pastinya. Virus
lainnya seperti picobirnavirus. Virus ini diidentifikasi untuk pertama kalinya oleh
Pereira et al. pada tahun 1988 (Wilhelmi et al., 2003).

6
b. Bakteri
Infeksi bakteri menyebabkan 10%-20% kasus gastroenteritis. Bakteri yang
paling sering menjadi penyebab gastroenteritis adalah Salmonella
species,Campylobacter species, Shigella species and Yersina species (chow et al.,
2010). Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan gastroenteritis adalah :
b.1 Salmonella
Infeksi salmonella kebanyakan melalui makanan atau minuman yang
tercemar kuman salmonella (Noerasid, Suraatmadja dan Asnil, 1988). Sekitar
40000 kasus salmonella gastroenteritis dilaporkan setiap tahun (Tan et al., 2008).
Salmonella mencapai usus melalui proses pencernaan. Asam lambung bersifat
letal terhadap organisme ini tapi sejumlah besar bakteri dapat menghadapinya
dengan mekanisme pertahanan. Pasien dengan gastrektomi atau sedang
mengkonsumsi bahan yang menghambat pengeluaran asam lambung lebih
cenderung mengalami infeksi salmonella. Salmonella dapat menembus lapisan
epitel sampai ke lamina propria dan mencetuskan respon leukosit. Beberapa
spesies seperti Salmonella choleraesuis dan Salmonella typhi dapat mencapai
sirkulasi melalui sistem limfatik. Salmonella menyebabkan diare melalui beberapa
mekanisme. Beberapa toksin telah diidentifikasi dan prostaglandin yang
menstimulasi sekresi aktif cairan dan elektrolit mungkin dihasilkan (Harper dan
Fleisher, 2010).
b.2 Shigella

Ada dua bentuk yaitu bentuk diare (air) dan bentuk disentri (Noerasid dan
Asnil, 1988). Shigella tertentu melekat pada tempat perlekatan pada permukaan
sel mukosa usus. Organisme ini menembus sel dan berproliferasi. Multiplikasi
intraepitel merusak sel dan mengakibatkan ulserasi mukosa usus. Invasi epitelium
menyebabkan respon inflamasi. Pada dasar lesi ulserasi, erosi pembuluh darah
mungkin menyebabkan perdarahan. Spesies Shigella yang lain menghasilkan
exotoksin yang dapat menyebabkan diare (Harper dan Fleisher, 2010).
b.3 Campylobacter
Campylobacter memanfaatkan mobilitas dan kemotaksis untuk menelusuri
permukaan epitel saluran cerna, tampak menghasilkan adhesin dan sitotoksin dan
memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada makrofag, monosit dan sel epitel
tetapi terutama dalam vakuola (Harper dan Fleisher, 2010).
7
b.4 E. coli
E. coli terdapat sebagai komensal dalam usus manusia mulai dari lahir
sampai meninggal. Walaupun umumnya tidak berbahaya , tetapi beberapa jenis
dapat menyebabkan gastroenteritis (Noerasid dan Asnil, 1988).
E. coli yang dapat menyebabkan diare dibagi dalam tiga golongan, yaitu:
• Enteropathogenic (EPEC) : tipe klasik
• Enterotoxigenic (ETEC)
• Enteroinvasive (EIEC)
c. Parasit dan protozoa
Giardia lamblia adalah infeksi protozoa yang paling sering menyebabkan
gastroenteritis. Protozoa yang lain mencakup Cryptosporidium dan Entamoeba
hystolitica.
c.1 G. lamblia
Giardia adalah protozoa yang memiliki flagel, ditransmisikan melalui jalur
fekal-oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi feses. Setelah ditelan
dalam bentuk kista eksitasi melepaskan organisme di bagian atas usus halus.
Giardia kemudian melekat pada permukaan membran brush border enterosit.
Bakteri ini menyebabkan lesi sehingga terjadi defisiensi laktosa dan malabsorbsi.
c.2 Cryptosporidium

Organisme ini ditransmisikan melalui berbagai cara yang mencakup fekal-


oral, tangan ke mulut, dan orang ke orang melalui makanan, air, atau hewan
peliharaan yang terkontaminasi terutama kucing.
c.3 Entamoeba histolytica
Protozoa ini ditransmisikan melalui jalur fekal-oral. Infeksi protozoa ini
dimulai dengan tertelannya dalam bentuk kista. Eksitasi terjadi pada kolon
kemudian dilepaskan dalam bentuk trofozoid yang selanjutnya menginvasi
mukosa mengakibatkan peradangan dan ulserasi mukosa.
2.3.2. Faktor makanan
a. Malabsorbsi
a.1 Malabsorbsi karbohidrat
a.2 Malabsorbsi lemak : terutama Long Chain Triglyceride
a.3 Malabsorbsi protein : asam amino, B laktoglobulin

8
a.4 Malabsorbsi vitamin dan mineral
(Noerasid dan Asnil, 1988)
b. Keracunan makanan
Makanan yang beracun (mengandung toksin bakteri) merupakan salah satu
penyebab terjadinya diare. Ketika enterotoksin terdapat pada makanan yang
dimakan, masa inkubasi sekitar satu sampai enam jam. Ada dua bakteri yang
sering menyebabkan keracunan makanan yang disebabkan adanya toksin yaitu:
1. Staphylococcus
Hampir selalu S. Aureus, bakteri ini menghasilkan enterotoksin yang tahan
panas. Kebanyakan pasien mengalami mual dan muntah yang berat 2. Bacillus
cereus

2.4. Gambaran Klinis


Manifestasi klinis penyakit gastroenteritis bervariasi. Berdasarkan salah satu
hasil penelitian yang dilakukan pada orang dewasa :
 mual(93%)
 muntah(81%)
 diare(89%)
 nyeri abdomen(76%)
adalah gejala yang paling sering dilaporkan oleh kebanyakan pasien. Tanda-
tanda dehidrasi sedang sampai berat, seperti membran mukosa yang kering,
penurunan turgor kulit, atau perubahan
status mental, terdapat pada <10 % pada hasil pemeriksaan. Gejala pernafasan,
yang mencakup radang tenggorokan, batuk, dan rinorea, dilaporkan sekitar 10%
(Bresee et al., 2012).
Beberapa gejala klinis yang sering ditemui adalah :
2.4.1. Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200 ml dalam 24 jam (Simadibrata K et al., 2009).
Pada kasus gastroenteritis diare secara umum terjadi karena adanya
peningkatan sekresi air dan elektrolit.
2.4.2. Mual dan Muntah
9
Muntah diartikan sebagai adanya pengeluaran paksa dari isi lambung
melalui mulut. Pusat muntah mengontrol dan mengintegrasikan terjadinya
muntah. Lokasinya terletak pada formasio retikularis lateral medulla oblongata
yang berdekatan dengan pusat-pusat lain yang meregulasi pernafasan, vasomotor,
dan fungsi otonom lain. Pusat-pusat ini juga memiliki peranan dalam terjadinya
muntah. Stimuli emetic dapat ditransmisikan langsung ke pusat muntah ataupun
melalui chemoreceptor trigger zone (chow et al., 2010).
Muntah dikoordinasi oleh batang otak dan dipengaruhi oleh respon dari
usus, faring, dan dinding torakoabdominal. Mekanisme yang mendasari mual itu
sendiri belum sepenuhnya diketahui, tetapi diduga terdapat peranan korteks
serebri karena mual itu sendiri membutuhkan keadaan persepsi sadar (Hasler,
2012).
Mekanisme pasti muntah yang disebabkan oleh gastroenteritis belum
sepenuhnya diketahui. Tetapi diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan
stimulus perifer dari saluran cerna melalui nervus vagus atau melalui serotonin
yang menstimulasi reseptor 5HT3 pada usus. Pada gastroenteritis akut iritasi usus
dapat merusak mukosa saluran cerna dan mengakibatkan pelepasan serotonin dari
sel-sel chromaffin yang selanjutnya akan ditransmisikan langsung ke pusat
muntah atau melalui chemoreseptor trigger zone. Pusat muntah selanjutnya akaN
mengirimkan impuls ke otot-otot abdomen, diafragma dan nervus viseral lambung
dan esofagus untuk mencetuskan muntah (chow et al, 2010).
2.4.3. Nyeri perut
Banyak penderita yang mengeluhkan sakit perut. Rasa sakit perut banyak
jenisnya. Hal yang perlu ditanyakan adalah apakah nyeri perut yang timbul ada
hubungannnya dengan makanan, apakah timbulnya terus menerus, adakah
penjalaran ke tempat lain, bagaimana sifat nyerinya dan lain-lain. Lokasi dan
kualitas nyeri perut dari berbagai organ akan berbeda, misalnya pada lambung dan
duodenum akan timbul nyeri yang berhubungan dengan makanan dan berpusat
pada garis tengah epigastrium atau pada usus halus akan timbul nyeri di sekitar
umbilikus yang mungkin sapat menjalar ke punggung bagian tengah bila
rangsangannya sampai berat. Bila pada usus besar maka nyeri yang timbul
disebabkan kelainan pada kolon jarang bertempat di perut bawah. Kelainan pada
rektum biasanya akan terasa nyeri sampai daerah sakral (Sujono Hadi, 2002).

10
2.4.4. Demam
Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari
yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu ( set point ) di
hipotalamus (Dinarello dan Porat, 2012).
Temperatur tubuh dikontrol oleh hipotalamus. Neuron-neuron baik di
preoptik anterior hipotalamus dan posterior hipotalamus menerima dua jenis
sinyal, satu dari saraf perifer yang mengirim informasi dari reseptor hangat/dingin
di kulit dan yang lain dari temperatur darah. Kedua sinyal ini diintegrasikan oleh
thermoregulatory center di hipotalamus yang mempertahankan temperatur
normal. Pada lingkungan dengan subuh netral, metabolic rate manusia
menghasilkan panas yang lebih banyak dari kebutuhan kita untuk
mempertahankan suhu inti yaitu dalam batas 36,5-37,5ºC (Dinarello dan Porat,
2012).
Pusat pengaturan suhu terletak di bagian anterior hipotalamus. Ketika
vascular bed yang mengelilingi hipotalamus terekspos pirogen eksogen tertentu
(bakteri) atau pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF), zat metabolik asam arakidonat
dilepaskan dari sel-sel endotel jaringan pembuluh darah ini. Zat metabolik in
seperti prostaglandin E2, melewati blood brain barrier dan menyebar ke daerah
termoregulator hipotalamus, mencetuskan serangkaian peristiwa yang
meningkatkan set point hipotalamus. Dengan adanya set point yang lebih tinggi,
hipotalamus mengirim sinyal simpatis ke pembuluh darah perifer, menyebabkan
vasokonstriksi dan menurunkan pembuangan panas dari kulit ( Prewitt, 2005).

Tabel 2.1. Gejala Klinis berdasarkan patogen


Patogen Gejala Klinis
11
Nyeri Perut Demam Mual,muntah
Shigella ++ ++ ++
Salmonella ++ ++ +
Campylobacter ++ ++ +
Yersinia ++ ++ +
Norovirus ++ +/- +
Vibrio +/- +/- +/-
Cyclospora +/- +/- +
Cryptosporidium +/- +/- +
Giardia ++ - +
Shiga toksin E. ++ 0 +
coli
Keterangan : ++,biasanya terjadi; +, dapat terjadi; +/-, bervariasi; -, tidak terjadi;
0, atipikal/ sering tidak terjadi.

2.5. Penegakan Diagnosa


2.5.1. Anamnesa

Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu mual,
muntah, nyeri abdomen, demam dan tinja yang sering, bisa air, malabsorbtif, atau
berdarah tergantung bakteri yang menyebabkan (Simadibrata K et al., 2009).
Curiga terjadinya gastroenteritis apabila terjadi perubahan tiba-tiba
konsistensi tinja menjadi lebih berair, dan/atau muntah yang terjadi tiba-tiba.
Pada anak biasanya diare berlangsung selama 5-7 hari dan kebanyakan
berhenti dalam 2 minggu. Muntah biasanya berlangsung selama 1-2 hari, dan
kebanyakan berhenti dalam 3 hari.
Tanyakan :
1. Kontak terakhir dengan seseorang yang mengalami diare akut dan/atau
muntah
2. Pajanan terhadap sumber infeksi enterik yang diketahui (mungkin dari
makanan atau air yang terkontaminasi)
3. Perjalanan atau bepergian

2.5.2. Pemeriksaan fisik


Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna
dalam menentukan keparahan penyakit. Status volume dinilai dengan menilai

12
perubahan pada tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas.
Pemeriksaan abdomen yang seksama juga merupakan hal yang penting dilakukan
(Simadibrata K et al., 2009).

2.5.3. Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan tinja
Pemeriksaan tinja yang dilakukan adalah pemeriksaan makroskopik dan
mikroskopik, biakan kuman, tes resistensi terhadap berbagai antibiotika, pH dan
kadar gula, jika diduga ada intoleransi laktosa.
b. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah yang dilakukan mencakup pemeriksaan darah lengkap,
pemeriksaan elektrolit, pH dan cadangan alkali, pemeriksaan kadar ureum.

2.6. Komplikasi
2.6.1. Dehidrasi

Dehidrasi ialah komplikasi yang paling sering terjadi pada penderita


gastroenteritis.
Penentuan derajat dehidrasi :

Tabel 2.2. Klasifikasi dehidrasi


Gejala/Tanda Klasifikasi dehidrasi

Tanpa dehidrasi Ringan-sedang Berat


Keadaan Baik, Sadar Gelisah Letargi/Tidak
umum sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Rasa haus Minum biasa, tidak Sangat haus Tidak bisa
haus minum
Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat
lambat
(≥ 2 detik)

Catatan :
• Pembacaan tabel dari kanan ke kiri.

13
• Kesimpulan derajat dehidrasi ditentukan bila dijumpai≥ 2
gejala/tanda pada kolom yang sama.

Tabel 2.3. Penentuan derajat dehidrasi menurut Maurice King


Bagian tubuh Nilai gejala yang ditemukan
yang diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau, koma
apatis, ngantuk atau syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Ubun-ubun besar Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Kering dan sianosis
Denyut Kuat < 120 Sedang (120-140) Lemah > 140
nadi/menit

Catatan :
1. Untuk menentukan kekenyalan kulit, kulit perut dijepit antara ibu jari dan
telunjuk selama 30-60 detik, kemudian dilepas. Jika kulit kembali normal
dalam waktu :
• 1 detik : turgor agak kurang (dehidrasi ringan)
• 1-2 detik : turgor kurang (dehidrasi sedang)
• 2 detik : turgor sangat kurang (dehidrasi berat)
2. Berdasarkan skor yang terdapat pada seorang penderita dapat ditentukan
derajat dehidrasinya :
• 0-2 : dehidrasi ringan
• 3-6 : dehidrasi sedang
• 7-12 : dehidrasi berat
3. Pada anak-anak dengan ubun-ubun besar sudah menutup, nilai untuk
ubun-ubun besar diganti dengan banyaknya/ frekuensi kencing (Noerasid,
Suraatmadja dan Asnil, 1988).
2.6.2. Gangguan keseimbangan asam basa (Metabolik asidosis)
Metabolik asidosis terjadi karena adanya kehilangan Na-bikarbonat
bersama tinja, adanya ketosis kelaparan akibat metabolisme lemak tidak sempurna

14
sehingga terjadi penimbunan keton dalam tubuh, terjadi penimbunan asam laktat,
produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan
oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria), dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan
ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan.
Pernafasan bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernafasan Kuszmaull
(Noerasid, Suraatmadja dan Asnil, 1988).
2.6.3. Hipoglikemia
Gejala-gejala hipoglikemia berupa lemas, apatis, peka rangsang, tremor,
berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.
2.7.4 Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa muntah, dapat terjadi gangguan
sirkulasi darah berupa syok hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang
dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan
dalam otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditangani penderita dapat
meninggal.

2.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang kita lakukan pada pasien dewasa berdasarkan
WGO Guideline (2012), yaitu :
a. Melakukan penilaian awal
b. Tangani dehidrasi

Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua


kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah maupun sedang
dirawat di rumah sakit, yaitu:

1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru


Oralit
Oralit baru ini adalah oralit dengan osmolaritas yang rendah. Keamanan oralit ini
sama dengan oralit yang selama ini digunakan, namun efektivitasnya lebih baik
daripada oralit formula lama. Oralit baru dengan low osmolaritas ini juga
menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu mengurangi
pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%.

15
Selain itu, oralit baru ini juga telah direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF
untuk diare akut non-kolera pada anak.

Ketentuan pemberian oralit formula baru

Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru


a) Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang untuk
persediaan 24 jam
b) Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan
c) ketentuan:
Untuk anak berumur < 2 tahun: berikan 50-100 ml tiap kali BAB
Untuk anak 2 tahun atau lebih: berikan 100-200ml tiap BAB
d) Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa
larutan harus dibuang.

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan
nafsu makan anak. Penggunaan zinc ini memang popular beberapa tahun
terakhir karena
memilik evidence based yang bagus. Beberapa penelitian telah
membuktikannya.Pemberian zinc yang dilakukan di awal masa diare selam 10
hari ke depan secara signifikan menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien.
Lebih lanjut, ditemukan bahwa pemberian zinc pada pasien anak penderita
kolera dapat menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan. Zinc
16
termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan
yang optimal. Meski dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi fisiologis, zinc
berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan
seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan. Zinc
juga berperan dalam system kekebalan tubuh dan meripakan mediator potensial
pertahanan tubuh terhadap infeksi. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam
pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap fungsi imun atau
terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel
saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan
absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus,meningkatkan kecepatan regenerasi
epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan
respon imun yang mempercepat pembersihan pathogen dari usus. Pengobatan
dengan zinc cocok diterapkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia
yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh
karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitas yang kurang
memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air
besar sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.
Dosis zinc untuk anak-anak
Anak di bawah umur 6 bulan : 10mg (½ tablet) per hari
Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah sembuh
dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI ,
atau oralit, Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau
dilarutkan dalam air matang atau oralit.

Group RDA Zinc

Bayi 4-5 mg

Anak usia 1-3 tahun 3 mg

Anak usia 4-8 tahun 4-5 mg

Wanita yang tidak hamil 8-9 mg

17
Wanita hamil dan menyusui 9-13mg

Pria 13-19mg

3. ASI dan makanan tetap diteruskan


sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat untuk
mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisis yang hilang. Pada
diare berdarah nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu makan
menandakan fase kesembuhan.

4. Antibiotik selektif
Antibiotik jangan diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare
berdarah atau kolera. Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan
memperpanjang lamanya diare karena akan megganggu keseimbangan flora
usus dan Clostridium difficile yang akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit
disembuhkan.
Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh
karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited
dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotika. Hanya sebagian kecil (10-20%)
yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti . cholera, Shigella,
Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Campylobacter,dan sebagainya.

18
5. Nasihat kepada orang tua
kembali segera jika demam, tinja berdarah, berulang, makan atau minum
sedikit, sangat halus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

19
20
c. Pertahankan hidrasi dengan larutan rehidrasi oral
d. Atasi gejala-gejala lain
e. Lakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk analisis
f. Pertimbangkan terapi antimikroba untuk patogen spesifik

2.8. Pencegahan
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk penyakit gastroenteritis
dapat dilakukan melalui berbagai cara salah satunya adalah dengan pemberian
vaksin rotavirus, dimana rotavirus itu sendiri sangat sering menyebabkan penyakit
ini. Selain itu hal lain yang dapat kita lakukan ialah dengan meningkatkan
kebersihan diri dengan menggunakan air bersih ataupun melaksanakan kebiasaan
mencuci tangan dan juga memperhatikan kebersihan makanan karena makanan
merupakan salah satu sumber penularan virus yang menyebabkan gastroenteritis
(WGO, 2012).

21
DAFTAR PUSTAKA

Adyanastri, Festy, 2012. Etiologi dan Gambaran Klinis Diare Akut di RSUP Dr.
Kariadi Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Al-Thani, A., Boris, M., Al-Lawati, N. Dan Al-Dhahry. S., 2013. Characterising the
aetiology of severe acute gastroenteritis among patients visiting a hospital in Qatar
using real-time polymerase chain reaction. BMC infectious Disease, 13 : 329
Ayuningtyas, N. V., 2012. Hubungan Frekuensi Jajan Anak dengan Kejadian Diare
Akut pada Anak Sekolah Dasar di SDN Sukatani 4 dan SDN Sukatani 7
Kelurahan Sukatani, Depok Tahun 2012. FKM Universitas Indonesia.

Bresee, J. S., et al., 2012. The Etiology of Severe Acute Gastroenteritis Among Adults
Visiting Emergency Departments in the United States. The Journal of Infectious
Disease. 205 : 1374-1381.

Cakrawardi, Wahyudin, E., Saruddin, B., 2009. Pola Penggunaan Antibiotik pada
Gastroenteritis Berdampak Diare Akut Pasien Anak Rawat Inap di Badan
Layanan Umum Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Majalah
Farmasi dan Farmakologi, Vol. 15, No. 2,Juli 2011,69 – 72.

Chan,S.S.W., Ng, K.C., Lyon, D.J., Cheung, W.L., Cheng, AFB., Rainer, T.H., 2003.
Acute bacterial gastroenteritis: a study of adult patients with positive stool
cultures treated in the emergency department. Emerg Med J, 20:335–338

Chow, C. M., Leung, A. K. C., Hon, K. L., 2010. Acute Gastroenteritis : From
Guideline to Real Life. Clinical and Experimental Gastroenterology,3:97-112

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2012. Profil Kesehatan Indonesia Tahun


2011. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Dinarello, C. A., Porat, R., 2012. Fever and Hyperthermia. Dalam : Longo, D. L.,
Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J. (eds). 2012

Harrison’s Principles of Internal Medicinie. 18 ℎ ed. USA : The Mc Graw-Hill


Companies,Inc.

22
Dinas Kesehatan Sumatera Utara, 2014. Rekapitulasi Laporan Penyakit Diare Tingkat
Propinsi.

Hadi, S., 2002. Gastroenterologi. Bandung : Penerbit P.T. Alumni.

Harper, M. B., Fleisher, G. R., 2010. Infectious Disease Emergencies. Dalam :


Fleisher G. R., Ludwig, S. (eds). Textbook of Pediatric Emergency Medicine.
Philadelphia : Wolters/Kluwer/Lippincott Williams and Wilkins.

Hasler, W. L., 2012. Nausea, Vomiting, and Indigestion. Dalam : Longo, D. L., Fauci,
A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J. (eds). 2012.
Harrison’s Principles of Internal Medicinie. 18 ℎ ed. USA : The Mc Graw-Hill
Companies,Inc.

Ismail, R., Wahyu, H., 1988. Muntah Pada Anak. Dalam : Suharyono, Boediarso, A.,
Halimun, E.M. (eds). 1988. Gasteroenterologi Anak Praktis. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta :109-115.

Kementerian Kesehatan RI, 2011. Situasi diare di Indonesia. Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Korompis, F., Tjitrosantoso, H., Goenawi, L.R., 2013. Studi Penggunaan Obat pada
Penderita Diare Akut di Instalasi Rawat Inap BLU RSUP Prof. Dr. R. Kandou
Manaso Periode Januari-Juni 2012. Jurnal Ilmiah Farmasi Unsrat (2) : 2302-
2493.

Lopman, B. A., Hall, A. J., Curns, A. T., dan Parashar, U. D., 2011. Increasing Rates
of Gastroenteritis Hospital Discharges in US Adults and the Contribution of
Norovirus, 1996-2007. Clinical Infectious Disease 52 (4): 466-474.

Manatsathit, S., et al., 2002. Guideline for the management of acute diarrhea in adults.
Journal of Gastroenterology and Hepatology ,17: S54–S71

Monroe, S. S., 2011. Control and Prevention of Viral Gastroenteritis.Emerging


Infectious Disease 17 (8) : 1347-1348.

Noerasid, H., Suraatmadja, S. Dan Asnil, P.O., 1988. Gasteroenteritis (Diare) Akut.
Dalam : Suharyono, Boediarso, A., Halimun, E.M. (eds). 1988. Gasteroenterologi
Anak Praktis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta : 51-76.

23
Parashar, U. D., Bresee, J. S., Gentsch, J. R dan Glass, R. I., 1998. Rotavirus.
Emerging Infectious Disease. Vol 4, No. 4, October-December 1998.

Parashar, U. D., Glass, R. I., 2012. Viral Gastroenteritis. Dalam : Longo, D. L., Fauci,
A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J. (eds). 2012.
Harrison’s Principles of Internal Medicinie. 18 ℎ ed. USA : The Mc Graw-Hill
Companies,Inc.

Prewitt, E. M., 2005. Fever : Facts, Fiction, Pathophysiology. Critical Care Nurse.
Ohio : Summa Health System.

Sastroasmoro, S., dan Ismail, S., 2013. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Edisi ke-4. Jakarta : Sagung Seto.

Simadibrata K, M., Daldiyono, 2009. Diare Akut. Dalam : Sudoyono, A. W.,


Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata K, M., Setiasi, S. (eds). 2009. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing, Jakarta : 548-556.

Tan, J. S., File, T. M. Salata, R. A., Tan, M. J., 2008. Expert Guide to Infectious
Disease. 2 ed. USA : American College of Physicians.

Tucker, A. W., Haddix, A. C. Bresee, J. S., Holman, R. C., Parashar, U. D., Glass, R.
I., 1998. Cost-Effectiveness Analysis of a Rotavirus Immunization Program for
United States. JAMA. 279 : 1371-1376.

Wahyuni, A., 2007. Statistika Kedokteran. Jakarta : Bamboedoea.

WGO, 2012. Acute Diarrhea in Adults and Children : A Global Perspective. World
Gastroenterology Organization.

WHO, 2004. Guidelines for Drinking-Water Quality. Volume 1: Recommendations.


3 ed. Geneva : World Health Organization.

Wilhelmi, I., Roman, E., Sanchez-Fauquier, A., 2003. Virus Causing Gasteroenteritis.
Clinical Microbiology dan Infection. 9 : 247-262.

Yusuf, S., 2011. Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak. Sari Pediatri. 13(4) : 265-
270.

24
Zolotor, A. J., Randolph, G. D., Johnson, J. K., Wegner, S., Edwards, L., Powell,
C., Esporas, M. H., 2007. Effectiveness of a Practice-Based, Multimodal
Quality Improvement Intervention for Gastroenteritis Within a Medicaid
Managed Care Network. Pediatric. American Academy of Pediatric. Available
from : http://pediatrics.aappublications.org/content/120/3/e644.full.html
[Accessed 15 March 2014].

25