Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Glomerulonefritis akut merupakan penyakit ginjal noninfeksius yang
paling umum pada masa kanak-kanak, glomerulonefritis akut memengaruhi
glomerulus dan laju filtrasi ginjal, yang menyebabkan retensi natrium dan air,
serta hipertensi. Biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi streptokokus,
penyakit ini jarang memiliki efek jangka panjang pada system ginjal (Kathhleen,
2008). Glomerulonefritis akut memengaruhi anak laki-laki lebih sering daripada
anak perempuan, dan biasanya terjadi pada usia sekitar 6 tahun. Terapi yang
biasa diberikan mencakup pemberian antibiotic, antihipertensi, dan diuretic juga
restriksi diet. Komplikasi potensial meliputi hipertensi, gagal jantung kongestif,
dan penyakit ginjal tahap akhir.
WHO mempekirakan 472.000 kasus GNAPS terjadi setiap tahunnya
secara global dengan 5.000 kematian setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan
di Sri Manakula Vinayagar Medical College and Hospital India pada periode
waktu Januari 2012–Desember 2014 ditemukan 52 anak dengan diagnosis
GNAPS. Dari 52 pasien ditemukan 46 anak (88,4%) dengan GNAPS, usia pasien
berkisar antara 2,6– 13 tahun, 27 anak (52%) pada kelompok usia 5-10 tahun.
(Hidayani, 2016).
Di Indonesia pengamatan mengenai GNA pada anak di sebelas
universitas di Indonesia pada tahun 1997-2002, lebih dari 80% dari 509 anak
dengan GNA mengalami efusi pleura, kardiomegali serta efusi perikardial, dan
9,2% mengalami ensefalopati hipertensif. Selama 5 tahun sejak 1998-2002,
didapatkan 45 pasien GNA (0,4%) yaitu diantara 10.709 pasien yang berobat di
Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Empat puluh lima pasien ini terdiri

1
dari 26 laki–laki dan 19 perempuan yang berumur antara 4-14 tahun, dan yang
paling sering adalah 6–11 tahun. Angka kejadian ini relatif rendah, tetapi
menyebabkan morbiditas yang bermakna. Dari seluruh kasus, 95% diperkirakan
akan sembuh sempurna, 2% meninggal selama fase akut dari penyakit, dan 2%
menjadi glomerulonefritis kronis.
Maka sesuai dengan peran dan fungsi perawat adalah sebagai pelaksana
Asuhan keperawatan mencakup aspek preventif, promotif dan rehabilitative ingin
berpartisipasi melakukan asuhan keperawatan sehingga penulis tertarik
mengambil judul “Asuhan Keperawatan Pada An. Dengan GNA”.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa memahami tentang Asuhan Keperawatan Pada An. Dengan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA)
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Klien dengan Glomerulo
Nefritis Akut diharapkan:
a. Mampu memahami tentang konsep medis mulai dari definisi sampai
dengan komplikasi serta prognosis Glomerulo Nefritis Akut.
b. Mampu melakukan pengkajian pada anak dengan Glomerulo Nefritis
Akut (GNA)
c. Mampu menentukan masalah keperawatan pada anak dengan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA)
d. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada anak dengan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA)
e. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada anak dengan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA)
f. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada anak dengan
Glomerulo NefritisAkut (GNA)

2
g. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada anakdengan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA)

C. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini kami mengggunakan metode penulisan
study kepustakaan dan pengambilan data melalui internet dan beberapa sumber
yang lain.

D. Sistematika Penulisan
1. Kata pengantar
2. Daftar isi
3. BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari : latar belakang, tujuan penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan.
4. BAB II TINJAUAN TEORITIS : A. Konsep Dasar Medis : pengertian,
etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik,
penatalaksanaan, komplikasi, prognosis B. Konsep Dasar Keperawatan :
pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, evaluasi.
5. BAB III terdiri dari : kesimpulan dan saran
6. Daftar Pustaka.

3
BAB II

PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Glomerulonefritis akut merupakan penyakit ginjal noninfeksius yang
paling umum pada masa kanak-kanak, glomerulonefritis akut memengaruhi
glomerulus dan laju filtrasi ginjal, yang menyebabkan retensi natrium dan
air, serta hipertensi. Biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi
streptokokus, penyakit ini jarang memiliki efek jangka panjang pada system
ginjal. (Kathhleen, 2008).
Glomerulonefritis akut memengaruhi anak laki-laki lebih sering
daripada anak perempuan, dan biasanya terjadi pada usia sekitar 6 tahun.
Terapi yang biasa diberikan mencakup pemberian antibiotic, antihipertensi,
dan diuretic juga restriksi diet. Komplikasi potensial meliputi hipertensi,
gagal jantung kongestif, dan penyakit ginjal tahap akhir.
GNA adalah suatu reaksi imunnologi pada ginjal terhadap bakteri
atau virus tertentu. Yang sering ialah infeksi karena kuman streptococcus.
Data ini sering ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan lebih
sering mengenai anak pria dibanding anak perempuan. GNA didahului oleh
adanya infeksi ekstra renal terutama di traktus respiratorius bagian atas atau
kulit oleh kuman streptococcus beta hemolyticus golongan A, tipe 12, 4, 16,
25, dan 40. Hubungan antara GNA dan infeksi streptococcus ini ditemukan
pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa:
1. Timbulnya GNA setelah terjadinya infeksi skarlatina
2. Diisolasinya kuman streptococcus beta hemolyticus golongan A

4
3. Meningkatnya titer anti streptolisin pada serum pasien.
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah istilah yang secara luas
digunakan yang mengacu pada sekelompok penyakit ginjal dimana
inflamasi terjadi di glomerulus. (Brunner & Suddarth, 2001). Glomerulo
Nefritis Akut (GNA) adalah bentuk nefritis yang paling sering pada masa
kanak-kanak dimana yang menjadi penyebab spesifik adalah infeksi
streptokokus. (Sacharin, Rosa M, 1999). GNA adalah reaksi imunologi pada
ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat
infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun (Kapita
Selecta, 2000).
Kesimpulan, Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah suatu reaksi
imunologis ginjal terhadap bakteri / virus tertentu. Yang sering terjadi ialah
akibat infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun.

2. Anatomi Fisiologi
Anatomi Ginjal
a. Makroskopis
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang
peritonium (retroperitoneal), didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-
otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas
mayor) di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal
terdapat kelenjaradrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Kedua
ginjal terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3. Ginjal pada orang
dewasa berukuran panjang 11-12 cm, lebar 5-7 cm, tebal 2,3-3 cm,
kira-kira sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Berat kedua ginjal
kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau kurang lebih beratnya antara
120-150 gram.
Bentuknya seperti biji kacang, dengan lekukan yang menghadap
ke dalam. Jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih

5
besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang
dari pada ginjal wanita. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit ke bawah
dibandingkan ginjal kiri untuk memberi tempat lobus hepatis dexter
yang besar. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan
lemak yang tebal. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak
(lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam
guncangan.
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
fibrosa, terdapat cortex renalis di bagian luar, yang berwarna coklat
gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang berwarna coklat lebih
terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk kerucut yang
disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang
terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu
masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis
renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal.
Terbagi menjadi dua atau tiga kaliks renalis majores yang masing-
masing akan bercabang menjadi dua atau tiga kaliks renalis minores.
Medulla terbagi menjadi bagian segitiga yang disebut piramid. Piramid-
piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari
segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau
apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang
terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul
(Price,1995 : 773).

b. Mikroskopis
Ginjal terbentuk oleh unit yang disebut nephron yang berjumlah
1-1,2 juta buah pada tiap ginjal. Nefron adalah unit fungsional ginjal.
Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus,

6
tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus
distal, yang mengosongkan diri keduktus pengumpul. (Price, 1995)
Unit nephron dimulai dari pembuluh darah halus / kapiler,
bersifat sebagai saringan disebut Glomerulus, darah melewati
glomerulus/ kapiler tersebut dan disaring sehingga terbentuk filtrat (urin
yang masih encer) yang berjumlah kira-kira 170 liter per hari, kemudian
dialirkan melalui pipa/saluran yang disebut Tubulus. Urin ini dialirkan
keluar ke saluran ureter, kandung kencing, kemudian ke luar melalui
Uretra.
Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama
elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian
mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul
dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan
dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan
kotranspor. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urin.
c. Vaskularisasi ginjal
Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira
setinggi vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam
vena kava inferior yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri
renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri
interlobaris yang berjalan diantara piramid selanjutnya membentuk
arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis yang
tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian
membentuk arteriola aferen pada glomerulus (Price, 1995).
Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian
bercabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus
dan disebut kapiler peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem
portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya menuju vena
interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis untuk

7
akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh sekitar 1200
ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah
jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal
berada pada korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat
khusus aliran darah ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal
arteiol afferen mempunyai kapasitas intrinsik yang dapat merubah
resistensinya sebagai respon terhadap perubahan tekanan darah arteri
dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerulus tetap konstan ( Price, 1995).
d. Persarafan Pada Ginjal
Menurut Price (1995) “Ginjal mendapat persarafan dari nervus
renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah
yang masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan
pembuluh darah yang masuk ke ginjal”.

Fisiologi Ginjal
Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah yang sangat
banyak (sangat vaskuler) tugasnya memang pada dasarnya adalah
“menyaring/membersihkan” darah. Aliran darah ke ginjal adalah 1,2
liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah tersebut disaring menjadi cairan filtrat
sebanyak 120 ml/menit (170 liter/hari) ke Tubulus. Cairan filtrat ini diproses
dalam Tubulus sehingga akhirnya keluar dari ke-2 ginjal menjadi urin
sebanyak 1-2 liter/hari.
Fungsi ginjal adalah
a. memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
b. mempertahankan keseimbangan cairan tubuh,
c. mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh,
dan

8
d. mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin
dan amoniak.
e. mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang.
f. produksi hormon yang mengontrol tekanan darah.
g. produksi Hormon Erythropoetin yang membantu pembuatan sel darah
merah.

Tahap Pembentukan Urine


a. Filtrasi Glomerular
Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada
glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara
relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan
cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti
elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal
(RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau
sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125
ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal
dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate).
Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi
berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus
dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler
glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan
hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid
darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan
koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler
b. Reabsorpsi
Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non
elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi langkah kedua adalah

9
reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah
difiltrasi.
c. Sekresi
Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari
aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang
disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin).
Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat
dan kalium serta ion-ion hidrogen. Pada tubulus distalis, transfor aktif
natrium sistem carier yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion
kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium
keluar dari cairan tubular, cariernya bisa hidrogen atau ion kalium
kedalam cairan tubular “perjalanannya kembali” jadi, untuk setiap ion
natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium harus disekresi dan
sebaliknya.
Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada konsentrasi
cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium).
Pengetahuan tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini
membantu kita memahami beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit
dengan lainnya. Sebagai contoh, kita dapat mengerti mengapa bloker
aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau mengapa pada awalnya
dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis berat dikoreksi
secara theurapeutik.

3. Etiologi
Hubungan antara GNA dan infeksi streptococcus ini ditemukan
pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa:
1. Timbulnya GNA setelah terjadinya infeksi skarlatina
2. Diisolasinya kuman streptococcus beta hemolyticus golongan A
3. Meningkatnya titer anti streptolisin pada serum pasien.

10
Antara infeksi bakteri dan timbulnya GNA terdapat masa laten selama lebih
kurang 10 hari. Dari tipe-tipe tersebut diatas tipe 12 dan 25 lebih bersifat
nefritogen daripada yang lain. Mengapa tipe yang satu lebih bersifat
nefritogen daripada yang lainnya belum diketahui dengan jelas. Mungkin
faktor iklim atau alergi yang mempengaruhi terjadinya GNA setelah infeksi
dengan kuman Streptococcus. GNA juga dapat disebabkan oleh sifilis,
keracunan (timah hitam tridion), penyakit amiloid, thrombosis vena renalis,
purpur anafilaktoid, dan lupus erimatosis.

4. Patofisiologi
Suatu reaksi radang pada glomerulus dengan sebutan lekosit dan
proliferasi sel, serta eksudasi eritrosit, lekosit dan protein plasma dalam
ruang Bowman. Gangguan pada glomerulus ginjal dipertimbangkan sebagai
suatu respon imunologi yang terjadi dengan adanya perlawanan antibodi
dengan mikroorganisme yaitu streptokokus A.
Reaksi antigen dan antibodi tersebut membentuk imun kompleks yang
menimbulkan respon peradangan yang menyebabkan kerusakan dinding
kapiler dan menjadikan lumen pembuluh darah menjadi mengecil yang mana
akan menurunkan filtrasi glomerulus, insuffisiensi renal dan perubahan
permeabilitas kapiler sehingga molekul yang besar seperti protein
dieskresikan dalam urine (proteinuria).
a. Pathogenesis
Menurut penyelidikan klinik-imunologis dan percobaan pada binatang
menunjukkan adanya kemungkinan proses imunologis sebagai
penyebab. Beberapa penyelidik menunjukkan hipotesis sebagai berikut:
1) Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada
membrane basalis glomerulus dan kemudian merusaknya
2) Proses autoimun kuman Streptococcus yang nefritogen dalam tubuh
menimbulkan badan autoimun yang merusak glomerulus

11
3) Streptococcus nefritogen dan membrane basalis glomerulus
mempunyai komponen antigen yang sama sehingga dibentuk zat
anti yang berlangsung merusak membrane basalis ginjal
b. Patologi
Makroskopis ginjal tampak agak membesar, pucat dan terdapat titik-titik
perdarahan pada korteks. Mikroskopik tampak hampir semua
glomerulus terkena sehingga dapat disebut glomerulus difus. Tampak
proliferasi sel endotel glomerulus yang keras sehingga mengakibatkan
lumen kapiler dan ruang simpai Bowman menutup. Disamping itu
terdapat pula infiltrasi sel epitel kapsul, infiltrasi sel polimorfonukleus
dan monosit. Pada pemeriksaan mikroskop electron akan tampak
membrane basalis menebal tidak teratur. Terdapat gumpalan humps di
subepitelium yang mungkin dibentuk oleh globulin-gama, komplemen
badan antigen streptokokus.

12
Pathway

Infeksi streptococcus A, keracunan, sifilis, thrombosis vena renalis, penyakit kolagen,


malaria, endokarditis, bacterial sub akut, purpura anafilaktoid

Reaksi antigen & antibody abnormal

Fagositosis & pelepasan enzim lisosom

Merusak endotel & membrane basalis glmerulus

Inflamasi glomerulus

fungsi ginjal respon peradangan kerusakan jaringan ginjal

filtrasi glomerulus kerusakan dinding kapiler tekanan darah

Kelebihan edema vasospasme pembuluh darah


vol.cairan
proteinuria, hematuria gagal jantung
Kerusakan
integritas kulit
volume cairan
hipertensi menetap & kelainan
miokardium
Intoleransi aktivitas

Gangguan perfusi jaringan:


serebral/kardiopulmunal

13
5. Komplikasi
Komplikasi glomerulonefritis akut:
a. Oliguri sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai
akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi
ginjal akut dengan uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia dan hidremia.
Walaupun oliguria atau anuria yang lama jarang terdapat pada anak, jika
hal ini terjadi diperlukan peritoneum dialisis (bila perlu).
b. Ensefalopati hipertensi, merupakan gejala serebrum karena hipertensi.
Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah dan
kejang-kejang. Hal ini disebabkan karena spasme pembuluh darah lokal
dengan anoksia dan edema otak.
c. Gangguan sirkulasi berupa dipsneu, ortopneu, terdapat ronki basah,
pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang bukan saja
disebabkan spasme pembuluh darah tetapi juga disebabkan oleh
bertambahnya volume plasma. Jantung dapat membesardan terjadi gagal
jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.
d. Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia disamping sintesis
eritropoietik yang menurun.
e. Gagal Ginjal Akut (GGA)

6. Menifestasi klinis
a. Hematuria (urine berwarna merah kecoklat-coklatan)
b. Proteinuria (protein dalam urine)
c. Oliguria (keluaran urine berkurang)
d. Nyeri panggul
e. Edema, ini cenderung lebih nyata pada wajah dipagi hari, kemudian
menyebar ke abdomen dan ekstremitas di siang hari (edema sedang
mungkin tidak terlihat oleh seorang yang tidak mengenal anak dengan
baik).

14
f. Suhu badan umumnya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat terjadi tinggi
sekali pada hari pertama.
g. Hipertensi terdapat pada 60-70 % anak dengan GNA pada hari pertama
dan akan kembali normal pada akhir minggu pertama juga. Namun jika
terdapat kerusakan jaringan ginjal, tekanan darah akan tetap tinggi
selama beberapa minggu dan menjadi permanen jika keadaan
penyakitnya menjadi kronik.
h. Dapat timbul gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan,
dan diare.
i. Bila terdapat ensefalopati hipertensif dapat timbul sakit kepala, kejang
dan kesadaran menurun.
j. Fatigue (keletihan atau kelelahan).

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laju Endap Darah (LED) meningkat
b. Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air)
c. Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin darah meningkat bila fungsi
ginjal mulai menurun.
d. Jumlah urine berkurang
e. Berat jenis meninggi
f. Hematuria makroskopis ditemukan pada 50 % pasien.
g. Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++), leukosit (+), silinder leukosit
dan hialin.
h. Titer antistreptolisin O (ASO) umumnya meningkat jika ditemukan
infeksi tenggorok, kecuali kalau infeksi streptokokus yang mendahului
hanya mengenai kulit saja.
i. Kultur sampel atau asupan alat pernapasan bagian atas untuk identifikasi
mikroorganisme.

15
j. Biopsi ginjal dapat diindikasikan jika dilakukan kemungkinan temuan
adalah meningkatnya jumlah sel dalam setiap glomerulus dan tonjolan
subepitel yang mengandung imunoglobulin dan komplemen.

8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis
Tidak ada pengobatan yag khusus yang memengaruhi penyembuhan
kelainan di glomerulus.
1) Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dahulu dianjurkan selama 6-
8 minggu. Tetapi penyelidikan terakhir dengan hanya istirahat 3-4
minggu tidak berakibat buruk bagi perjalanan penyakitnya.
2) Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotic ini tidak
memengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi
menyebarnya infeksi streptococcus yang mungkin masih ada.
Pemberian penisilin dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pemberian
profilaksi yang lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap kuman
penyebab tidak dianjurkan karena terdapat imunitas yang menetap.
Secara teoretis anak dapat terinfeksi lagi dengan kuman neritogen
lain, tetapi kemungkinan ini sangat kecil.
3) Makanan pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1 g/kg
BB/hari) dan rendah garam (1g/hari). Makanan lunak diberikan
pada pasien dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu
normal kembali. Bila ada anuria atau muntah, diberikan IVFD
dengan larutan glukosa 10%. Pada pasien dengan tanpa
komplikasi pemberian cairan disesuaikan dengan kebutuhan,
sedangkan bila ada komplikasi seperti ada gagal jantung, edema,
hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan yang diberikan harus
dibatasi.

16
4) Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi,
pemberian sedative untuk menenangkan pasien sehingga dapat
cukup beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral
diberikan reserpin dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin
sebanyak 0,07 mg/kg BB secara intramuscular. Bila terjadi
dieresis 5-10 jam kemudian, selanjutnya pemberian sulfat
parenteral tidak dianjurkan lagi karena memberi efek toksis.
5) Bila anuria berlangsung lama (5-7hari), maka ureum harus
dikeluarkan dari dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum
dialysis, hemodialisisi, tranfusi tukar dan sebagainya.
6) Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulonefritis akut,
tetapi akhir-akhir ini pemberian furosamid (Lasix) secara
intravena (1mg/kg BB/kali) dalam 5-10 menit tidak berakibat
buruk pada hemodinamika ginjal dan filtrasi glomerulus.
7) Bila timbul gagal jantung, diberikan digitalis, sedativum dan
oksigen
b. Penatalaksanaan keperawatan
Pasien GNA perlu dirawat dirumah sakit karena memerlukan
pengobatan/pengawasan perkembangan penyakitnya untuk mencegah
penyakit menjadi lebih buruk. Hanya pasien GNA yang tidak terdapat
tekanan darah tinggi, jumlah urine satu hari paling sedikit 400ml dan
keluarga sanggup serta mengerti boleh dirawat di ruangan di bawah
pengawasan dokter. Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah
gangguan faal ginjal, resiko terjadi komplikasi, diet, gangguan rasa
aman dan nyaman, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
penyakit.
Gangguan faal ginjal. Ginjal diketahui sebagai alat yang salah satu
dari fungsinya adalah mengeluarkan sisa metabolisme terutama protein
sebagai ureum, juga kalium, fosfat, asam urat, dan sebagainya. Karena

17
terjadi kerusakan pada glumerolus (yang merupakan reaksi autoimun
terhadap adanya infeksi streptococcus ekstrarenal) menyebabkan
gangguan filtrasi glomerulus dan mengakibatkan sisa-sisa
metabolisme tidak dapat diekskresikan maka di dalam darah terdapat
ureum, dan lainnya lagi yang disebutkan di atas meninggi. Tetapi
tubulus karena tidak terganggu maka terjadi penyerapan kembali air
dan ion natrium yang mengakibatkan banyaknya urine berkurang, dan
terjadilah oliguria sampai anuria.
Untuk mengetahui keadaan ginjal, pasien GNA perlu dilakukan
pemeriksaan darah untuk fungsi ginjal, laju endap darah (LED), urine,
dan foto radiologi ginjal. Urine perlu ditampung selama 24 jam, diukur
banyaknya dan berat jenisnya (BJ) dicatat pada catatan khusus (catatan
pemasukan/pengeluaran cairan). Bila dalam 24 jam jumlah urine
kurang dari 400 ml supaya memberitahukan dokter. Tempat
penampung urine sebaiknya tidak dibawah tempat tidur pasien karena
selain tidak sedap dipandang juga menyebabkan bau urine didalam
ruangan. Penampung urine harus ada tutupnya yang cocok, diberi
etiket selain “nama” juga jam dan tanggal mulai urine ditampung.
Hati-hati jika ada nama yang sama jangan tertukar; tuliskan juga
nomor tempat tidur atau nomor register pasien. Tempat penampung
urine harus dicuci bersih setiap hari; bila terdapat endapan yang sukar
digosok pergunakan asam cuka, caranya merendamkan dahulu
beberapa saat baru kemudian digosok pakai sikat. Untuk membantu
lancarnya diuresis di samping obat-obatan pasien diberikan minum air
putih dan dianjurkan agar anak banyak minum (ad libitum) kecuali
jika banyaknya urine kurang dari 200 ml. berapa banyak pasien dapat
menghabiskan minum air supaya dicatat pada catatan khusus dan
dijumlahkan selama 24 jam. Kepada pasien yang sudah mengerti
sebelum mulai pencatatan pengeluaran/pemasukan cairan tersebut

18
harus diterangkan dahulu mengapa ia harus banyak minum air putih
dan mengapa air kemih harus ditampung. Jika anak akan buang air
besar supaya sebelumnya berkemih dahulu ditempat penampungan
urine baru ke WC atau sebelumnya gunakan pot lainnya. Dengan
demikian bahwa banyaknya urine adalah benar-benar dari keseluruhan
urine pada hari itu.
Resiko terjadi komplikasi. Akibat fungsi ginjal tidak fisiologis
menyebabkan produksi urine berkurang, sisa metabolisme tidak dapat
dikeluarkan sehingga terjadi uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia,
hidremia, dan sebagainya. Keadaan ini akan menjadi penyebab gagal
ginjal akut atau kronik (GGA/GGK) jika tidak secepatnya
mendapatkan pertolongan. Karena adanya retensi air dan natrium
dapat menyebabkan kongesti sirkulasi yang kemudian menyebabkan
terjadinya efusi ke dalam perikard dan menjadikan pembesaran
jantung. Jika keadaan tersebut berlanjut akan terjadi gagal jantung.
Keadaan uremia yang makin meningkat akan menimbulkan keracunan
pada otak yang biasanya ditandai dengan adanya gejala hipertensif
ensefalopati, yaitu pasien merasa pusing, mual, muntah, kesadaran
menurun atau bahkan lebih parah atau untuk mengenal gejala
komplikasi sedini mungkin pasien memerlukan:
1) Istirahat
2) Pengawasan tanda-tanda vital bila terdapat keluhan pusing
3) Jika mendadak terjadi penurunan haluaran urine periksalah dahulu
apakah pasien berkemih di tempat lain dan keadaan umumnya.
4) Jika pasien mendapat obat-obatan berikanlah pada waktunya dan
tunggu sampai obat tersebut betul-betul telah diminum (sering
terjadi obat tidak diminum dan disimpan di bawah bantal pasien).
Jika hal itu terjadi penyembuhan tidak seperti yang diharapkan.

19
5) Diet. Bila ureum darah melebihi 60 mg % di berikan protein 1 g/kg
BB/hari dan garam 1 g/hari (rendah garam). Bila ureum antara 40-
60 mg% protein diberikan 2 g/kg BB/hari dan masih rendah
garam. Jika pasien tidak mau makan karena merasa mual atau
ingin muntah atau muntah-muntah segera hubungi dokter, siapkan
keperluan infuse dengan cairan yang biasa dipergunakan ialah
glukosa 5-10% dan selanjutnya atas petunjuk dokter. Jika infuse
diberikan pada pasien yang tersangka ada kelainan jantung atau
tekanan darahnya tinggi, perhatikan agar tetesan tidak melebihi
yang telah dipergunakan dokter, bahayanya memperberat kerja
jantung.
6) Gangguan rasa aman dan nyaman.
Untuk memberikan rasa nyaman kepada pasien disarankan agar
sering kontak dan berkomunikasi dengan pasien akan
menyenangkan pasien, agar pasien tidak bosan pasien dibolehkan
duduk dan melakukan kegiatan ringan misalnya membaca buku
(anak yang sudah sekolah), melihat buku gambar atau bermain
dengan teman yang telah dapat berjalan. Sebagai perawat kita juga
harus mendampingi/mengajak bermain dengan pasien yang
memerlukan hiburan agar tidak bosan.
7) Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Penjelasan yang perlu disampaikan kepada orang tua pasien
adalah:
a) Bila ada anak yang sakit demam tinggi disertai rasa sakit
menelan atau batuk dan demam tinggi hendaknya berobat ke
dokter/pelayanan kesehatan supaya anak mendapatkan
pengobatan yang tepat dan cepat.
b) Jika anak sudah terlanjur menderita GNA selama dirawat
dirumah sakit, orang tua diharapkan dapat membantu usaha

20
pengobatannya misalnya untuk pemeriksaan atau tindakan,
sering memerlukan biaya yang cukup banyak sedangkan rumah
sakit tidak tersedia keperluan tersebut. (sebelumnya orang tua
diberi penjelasan mengenai perlunya pengumpulan urine dan
mencatat minum anak selama 24 jam, untuk keperluan
pengamatan perkembangan penyakit anaknya)
c) Bila pasien sudah boleh pulang, dirumah masih harus istirahat
cukup. Walaupun anak sudah diperbolehkan sekolah tetapi
belum boleh mengikuti kegiatan olahraga. Makanan, garam
masih perlu dikurangi sampai keadaan urine benar-benar
normal kembali (kelainan urine, adanya eritrosit dan sedikit
protein akan masih diketemukan kira-kira 4 bulan lamanya).
Jika makanan dan istirahatnya tidak diperhatikan ada
kemungkinan penyakit kambuh kembali. Hindarkan terjadinya
infeksi saluran pernapasan terutama mengenai tenggorokan
untuk mencegah penyakit berulang. Kebersihan lingkungan
perlu dianjurkan agar selalu diperhatikan khususnya
streptococcus yang menjadi penyebab timbulnya GNA. Pasien
harus control secara teratur untuk mencegah timbulnya
komplikasi yang mungkin terjadi seperti glomerulus kronik
atau bahkan sudah terjadi gagal ginjal akut. Juga petunjuk
mengenai kegiatan anak yang telah boleh dilakukan.

9. Prognosis
Gajala fisik menghilang dalan minggu ke-2 atau minggu ke-3 dan
tekanan darah umumnya menurun dalam waktu 1 minggu. Kimia darah
menjadi normal pada minggu ke-2. Hematuria mikroskopik dan makroskopik
dapat menetap selama 4-6 minggu. Hitung Addis menunjukan kenaikan
jumlah eritrosit untuk 4 bulan atau lebih, dan LED meninggi terus sampai

21
kira-kira 3 bulan. Protein sedikit dalam urine dan menetap untuk beberapa
bulan. Eksaserbasi kadang-kadang terjadi akibat infeksi akut selama fase
penyembuhan, tetapi umumnya tidak mengubah proses penyakitnya. Pasien
tetap mennjukan kelainan urine salama 1 tahun dianggap menderita
glomerulonefritis kronik, walaupun dapat terjadi penyembuhan sempurna.
Laju endap darah (LED) digunakan untuk mengukur progresivitas penyakit ini
karena umumnya tetap meninggi pada kasus-kasus yang menjadi kronik.
Diperkirakan 95%akan sembuh sempurna, 2% meninggal selama fase akut
dari penyakit ini dan 2% menjadi glomerulonefritis kronik.

22
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a) Genitourinaria
a. Urine berwarna coklat keruh
b. Proteinuria
c. Peningkatan berat jenis urine
d. Penurunan haluaran urine
e. Hematuria
b) Kardiovaskular
Hipertensi ringan
c) Neurologis
a. Letargi
b. Iritabilitas
c. Kejang
d) Gastro Intestinal
a. Anoreksia
b. Muntah
c. Diare
e) Mata, Telinga, hidung dan tenggorokan
Edema periorbital sedang
f) Hematologis
a. Anemia sementara
b. Azotemia
c. Hiperkalemia
g) Integumen
a. Pucat
b. Edema menyeluruh

23
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan retensi air
dan hipernatremia
b. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan oliguria
c. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan anoreksia
d. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelelahan
e. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas
dan edema
f. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan rawat inap anak dirumah
sakit
g. Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman intruksi
perawatan dirumah

3. Intervensi Keperawatan
a. Diagnosa 1: Gangguan perfusi jaringan serebral yang berhubungan
dengan retensi air dan hipernatremia
Hasil yang diharapkan: anak memiliki perfusi jaringan normal yang
ditandai oleh TD normal, penurunan retensi cairan, dan tidak ada tanda
hipernatremia.
Intervensi:
1) Pantau dan catat TD anak setiap 1-2 jam selama fase akut
Rasional: pemantauan sering memungkinkan deteksi dini, dan
penanganan segera terhadap TD anak
2) Lakukan tindakan kewaspadaan berikut ini bila terjadi kejang:
a. Pertahankan jalan napas melalui mulut dan letakkan peralatan
penghisap disisi tempat tidur anak

24
b. Sematkan tanda diatas tempat tidur anak dan pada pintu,
berisi peringatan tentang status kejang anak yang ditujukan
untuk petugas kesehatan.

Rasional: melakukan tindak kewaspadaan bila terjadi kejang


dapat mencegah cedera selama episode serangan kejang.
Kendati tidak umum pada glomerulusnefritis akut, kejang
dapat terjadi akibat kurang perfusi oksigen ke otak.

c. Beri obat anti-hipetensi, misalnya hidralazin hidroksida


(Aprisonilene) sesuai program. Pantau anak untuk adanya efek
samping.
Rasional: pemberian obat anti hipertensi dapat diprogramkan,
karena hipertensi tidak terkontrol dapat menyebabkan
kerusakan ginjal. Kendati penyebab persis hipertensi tidak
diketahui, hipertensi mungkin berhubungan dengan kelebihan
beban cairan didalam system sirkulasi.
d. Pantau status volume cairan anak setiap 1-2 jam. Pantau
haluaran urine; haluaran harus 1-2ml/kg/jam.
Rasional: pemantauan sangat penting dilakukan, karena
penambahan volume lebih lanjut akan meningkatkan TD.
e. Kaji status neurologis anak ( tingkat kesadaran, reflek dan
respon pupil) setiap 8 jam. Beritahu dokter segera setiap ada
perubahan signifikan pada status anak
Rasional: pengkajian yang sering memungkinkan deteksi dini
dan terapi yang memadai untuk setiap perubahan status
neurologi anak.
f. Beri obat diuretic misalnya hidroklorotiazi (Esidrix) atau
puromesid (lasix) sesuai program.

25
Rasional: diuretic meningkatkan ekskresi cairan.
b. Diagnosa 2: Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan
oliguria
Hasil yang diharapkan: anak dapat mempertahankan volume cairan
normal yang ditandai oleh haluaran urin rata-rata sebanyak 1-2
ml/kg/jam
intervensi:
1) Timbang berat badan anak setiap hari, dan pantau haluaran
urine setiap 4 jam.
Rasional: menimbang berat badan setiap hari dan pemantauan
haluaran urine yang sering, memungkinkan deteksi dini dan
terapi yang tepat terhadap perubahan yang terjadi pada status
cairan anak. Kenaikan berat badan yang cepat mengindikasikan
retensi cairan. Penurunan haluaran urin dapat mengindikasikan
ancaman gagal ginjal.
2) Kaji anak untuk deteksi edema, ukur lingkar abdomen setiap 8
jam, dan (untuk anak laki-laki periksa pembengkakan pada
skrotum.
Rasional: pengkajian dan pengukuran yang sering,
memungkinkan deteksi dini dan pemberian terapi yang tepat
terhadap setiap perubahan kondisi anak. Lingkar abdomen
yang bertambah dan pembengkakan pada skrotum biasanya
mengindikasikan asites.
3) Pantau anak dengan cermat untuk melihat efek samping
pemberian terapi diuretic, khususnya ketika menggunakan
hidroklorotizid atau furosemid.
Rasional: obat-obatan diuretic dapat menyebabkan
hipokalemia sehingga membutuhkan pemberian suplemen
kalium per intravena.

26
4) Pantau dan catat asupan cairan anak.
R/: anak membutuhkan pembatasan asupan cairan akibat
retensi cairan dan penurunan laju filtrasi glomerulus; ia juga
membutuhkan retriksi asupan natrium.
5) Kaji warna, konsistensi dan berat jenis urine anak.
Rasional: urine yang berbusa mengindikasikan peningkatan
deplesi protein, suatu tanda kerusakan fungsi ginjal.
6) Pantau semua hasil uji laboratorium yang di programkan.
Rasional: peningkatan kadar nitrogen urea darah dan kreatinin
dapat mengindikasikan kerusakan fungsi ginjal.
c. Diagnosa 3: Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia
Hasil yang diharapkan: anak akan mengalami peningkatan asupan
nutrisi yang ditandai oleh makan sekuran-kurangnya 80% porsi
setiap kali makan.
Intervensi:
1) Beri diet tinggi karbohiodrat.
Rasional: diet tinggi karbihidrat biasanya terasa lebih lesat dan
member kalori esensial bagi anak.
2) Beri makanan porsi kecil dalam frekuensi sering, yang
mencakup beberapa makanan favorit anak.
Rasional: menyediakan makanan dalam porsi yang lebih kecil,
untuk satu kali makan tidak akan membebani anak sehingga
mendorongnya makan lebih banyak setiap kali anak duduk.
Dengan member anak makanan favoritnya, akan memastikan ia
mengkonsumsi setiap porsi makanan lebih banyak.
3) Batasi asupan natrium dan protein anak sesuai program.
Rasional: karena natrium dapat menyebabkan retensi cairan,
biasanya natrium dibatasi dengan gangguan ini. Pada kasus-

27
kasus berat, ginjal tidak mampu memetabolisasi protein
sehingga membutuhkan retriksi protein.
d. Diagnosa 4: Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan
kelelahan
Hasil yang diharapkan: anak akan mengalami peningkatan
toleransi beraktivitas yang ditandai oleh kemampuan bermain
dalam waktu yang lama.
Intervensi:
1) Jadwalkan periode istirahat untuk setiap kali beraktivitas.
Rasional: periode istirahat yang sering dapat menyimpan
energy dan mengurangi produksi sisa metabolic yang dapat
membebani kerja ginjal lebih lanjut.
2) Sediakan permainan yang tenang, menantang dan sesuai usia.
Rasional: permainan yang demikian dapat menyimpan energy
tetapi mencegah kebosanan.
3) Kelompokan asuhan keperawatan anak untuk memungkinkan
anak tidur tanpa gangguan dimalam hari.
Rasional: mengelompokkan pemberian asuhan keperawatan,
membantu anak tidur sesuai dengan kebutuhan.
e. Diagnosa 5: Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan
dengan imobilitas dan edema.
Hasil yang diharapkan: anak akan mempertahankan integritas kulit
normal, yang ditandai oleh warna kulit kemerah mudaan, dan tidak
ada kemerahan, edema, serta kerusakan kulit.
Intervensi:
1) Beri matras busa berlekuk sebagai tempat tidur anak.
Rasional: matras busa berlekuk mengatasi bagian-bagian
tulang yang menonjol sehingga mengurangi resiko kerusakan
kulit.

28
2) Bantu anak mengubah posisi setiap 2 jam.
Rasional: mengganti posisi dengan sering dapat mengurangi
tekanan pada area kapiler dan meningkatkan sirkulasi sehingga
mengurangi resiko kerusakan kulit.
3) Mandikan anak setiap hari, menggunakan sabun yang
mengandung lemak tinggi
Rasional: deodorant dan sabun yang mengandung parfum
dapat mengeringkan kulit sehingga mengakibatkan kerusakan
kulit.
4) Topang dan tinggikan ekstremitas yang mengalami edema.
Rasional: menopang dan meninggikan ekstremitas dapat
meningkatkan aliran balik vena dan dapat mengurangi
pembengkakan.
5) Pada anak laki-laki, letakkan bantalan sekitar skrotumnya.
Rasional: pemberian bantalan dapat mencegah kerusakan kulit.
f. Diagnosa 6: Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan rawat
inap anak dirumah sakit
Hasil yang diharapkan: orang tua akan mengalami penurunan rasa
cemasyang ditandai oleh pengungkapan ketakutan mereka, dan
pemahaman tentang kondisi anak.
Intervensi:
1) Dengarkan setiap kekhawatiran orang tua.
Rasional: mendengar dapat member dukungan selama stress.
2) Jelaskan semua prosedur kepada orang tua, dan libatkan
mereka dalam diskusi tentang perawatan anak.
Rasional: dengan terus mempertahankan orang tua agar tetap
memperoleh informasi, dan melibatkan mereka dalam diskusi
tentang perawatan anak, dapat mengembangkan kemampuan
control sehingga mengurangi kecemasan.

29
3) Rujuk orang tua ke kelompok pendukung yang tepat, jika
dibutuhkan.
Rasional: kelompok pendukung memberi wacana bagi orang
tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran.
g. Diagnosa 7: Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan
pemahaman intruksi perawatan dirumah.
Hasil yang diharapkan: orang tua akan mengekspresikan
pemahaman tentang instruksi perawatan dirumah.
Intervensi:
1) Jelaskan kepada orang tua tentang patofisiologi penyakit.
Rasional: penjelasan yang demikian membantu orang tua
memahami penyakit dan pentingnya melanjutkan terapi
dirumah.
2) Yakinkan kembali orang tua bahwa penyakit tersebut jarang
menyebabkan efek jangka panjang.
Rasional: orang tua biasanya kuatir tentang efek penyakit,
khususnya jika menjalani dialisis. Selama fase akut penyakit.
3) Jelaskan kepada orang tua tentang pentingnya
mempertahankan anak pada restriksi diet natrium, sampai
edema mereda dan fungsi ginjal kembali normal.
Rasional: diet restriksi natrium diperlukan karena asupan
natrium yang berlebihan dapat menghalangi eksresi air.
4) Instruksikan orang tua untuk membatasi aktivitas anak sampai
dokter menyetujui bahwa anak dapat melakukan aktivitas
seperti sedia kala.
Rasional: restriksi aktivitas diperlukan untuk mencegah stress
pada ginjal yang dapat menyebabkan kekambuhan penyakit.
5) Ajarkan orang tua tentang tanda dan gejala infeksi pernapasan
atas, seperti meningkatnya suhu tubuh, nyeri tenggorokan dan

30
batuk; juga ajarkan mereka tentang tanda dan gejala gagal
ginjal misalnya penurunan haluaran urine, kenaikan berat
badan dan edema.
Rasional: dengan mengetahui tanda dan gejala infeksi berulang
serta gagal ginjal mendorong orang tua mencari bantuan medis
saat diperlukan.
6) Anjurkan orang tua untuk menepati semua perjanjian tindak
lanjut itu
Rasional: suatu kunjungan tindak lanjut sangat diperlukan
untuk menentukan resolusi penyakit dan mendeteksi
komplikasi.

4. Implemantasi
Pelaksanaan atau implementasi adalah pemberian tindakan keperawatan
yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan rencana tindakan yang telah
disusun. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat dalam
pencatatan keperawatan agar tindakan keperawatan terhadap klien
berlanjut. Prisip dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu cara
pendekatan pada klien efektif, tehnik komunikasi teraupetik serta
penjelasan untuk setiap tindakan yang di berikan kepada klien.
Pelaksanaan disesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan. Dalam
melakukan tindakan keperawatan mengunakan tiga tahap yaitu
independent, dependent, dan interdependent, tindakan keperawatan secara
independent adalah suatu tindakan yang di lakukan oleh perawat tanpa
petunjuk dan perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya dependent
adalah tindakan yang sehubungan dengan pelaksanaan rencana. Tindakan
medis interdependent adalah tindakan keperawatan yang menjelaskan
suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga
kesehatan lain nya, misalnya tenaga social, ahli gizi, dan dokter.

31
Ketrampilan yang harus di punya perawat dalam melaksanakan tindakan
keperawatan yaitu kognitif, dan sikap psikomotor.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan
rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan
terjadi pada tahap evaluasi adalah masalah dapat diatasi, masalah teratasi
sebagian, masalah belum teratasi atau timbul masalah yang baru. Evaluasi
dilakukan yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah yang dilaksanakan untuk membantu keefektifan
terhadap tindakan. Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang
dilakukan pada akhir tindakan keperawatan secara keseluruhan sesuai
dengan waktu yang ada pada tujuan. Evaluasi disesuaikan dengan kriteria
hasil yang telah ditentukan:
a) Anak memiliki perfusi jaringan normal yang ditandai oleh TD normal,
penurunan retensi cairan, dan tidak ada tanda hipernatremia.
b) Anak dapat mempertahankan volume cairan normal yang ditandai oleh
haluaran urin rata-rata sebanyak 1-2 ml/kg/jam
c) Anak akan mengalami peningkatan asupan nutrisi yang ditandai oleh
makan sekuran-kurangnya 80% porsi setiap kali makan.
d) Anak akan mengalami peningkatan toleransi beraktivitas yang ditandai
oleh kemampuan bermain dalam waktu yang lama.
e) Anak akan mempertahankan integritas kulit normal, yang ditandai oleh
warna kulit kemerah mudaan, dan tidak ada kemerahan, edema, serta
kerusakan kulit.
f) Orang tua akan mengalami penurunan rasa cemasyang ditandai oleh
pengungkapan ketakutan mereka, dan pemahaman tentang kondisi
anak.

32
g) Orang tua akan mengekspresikan pemahaman tentang instruksi
perawatan dirumah.

33
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus
1. Pengkajian
I. IDENTITAS DATA
Nama : An. R
Tempat/ Tanggal lahir : Bandung, 1 Mei 2005
Usia : 13 tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Bandung
No. Medrek : 3270/ 2018
Nama Ayah : Tn. S
Pendidikan Ayah : STM
Pekerjaan Ayah : Buruh
Nama Ibu : Ny. L
Pendidikan Ibu : SMA
Pekerjaan Ibu : Karyawan swasta
Alamat orang tua : s.d.a

II. DIAGNOSA MEDIS


Glomerulo Nefritis Akut (GNA)

III. WAKTU DAN TEMPAT


Tanggal masuk rumah sakit : 10 Juli 2018
Tanggal pengkajian : 13 Juli 2018
Tempat praktik : Ruang Anak Otje RS. Rajawali

34
IV. RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG
Keluhan utama : Bengkak di seluruh badan
1. Saat masuk Rumah Sakit
Anak mengalami bengkak seluruh tubuh sejak 5 hari sebelum masuk
rumah sakit. Bengkak awalnya terjadi pada mata saja, timbul saat
bangun tidur, dan menghilang saat siang hari. Lama-kelamaan
bengkak menjadi menetap dan meluas hingga keseluruh tubuh. BAK
anak berwarna kuning keruh, tidak ada rasa nyeri saat BAK, tidak
ada kesulitan untuk BAK, tidak ada nyeri pinggang, nyeri perut dan
tidak ada riwayat terjatuh sebelumnya. Anak juga menjadi jarang
BAK, hanya 2 kali dalam sehari dengan jumlah yang tidak terlalu
banyak. Sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit anak menderita
panas, panas tidak naik, panas turun dengan obat penurun panas,
siang dan malam sama, selama panas tidak ada kejang, mengigau dan
mengigil. Nafsu makan menurun dan meminum kurang dari
biasanya, BAB normal. Tidak ada perdarahan gusi maupun mimisan.
Anak juga ada menderita batuk dan pilek. Klien memeriksakan diri
ke Puskesmas, kemudian dirujuk ke RS Rajawali Bandung. Tekanan
darah 150/90mmHg, N: 89x/menit, regular, Suhu: 36,6° C, Respirasi
24x/menit. Berat badan 50kg, tinggi badan :145cm
2. Saat pengkajian
Klien mengatakan masih bengkak di mata badan tetapi berkurang jika
dibandingkan saat awal masuk rumah sakit. BAK 5 kali sehari, warna
kuning jernih, tidak berbusa. Bengkak dirasakan pada mata, pipi dan
di sekitar perut. Tekanan darah 140/100 mmHg, N: 88x/menit,
regular, Suhu: 36,5° C, Respirasi 24x/menit. Berat badan 48 kg.
klien juga mengeluhkan kadang-kadang suka pusing.
3. Keluhan penyerta
Tidak ada

35
V. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KESEHATAN
1. Prenatal
Ibu klien mengatakan ketika saat hamil tidak mengalami kendala
kesehatan, riwayat darah tinggi tidak ada, mual dan muntah di pagi
hari sampai bulan ketiga. Pemeriksaan kemahilan dilakukan di
Bidan praktek secara teratur setiap bulan dan mendapat imunisasi
TT.
2. Intranatal
Ibu klien mengatakan an. R lahir di Bidan praktek, usia kehamilan 9
bulan, lahir normal dengan BB 2,8 kg dan PB 50 cm. Saat lahir bayi
langsung menangis keras.
3. Postnatal
Ibu klien mengatakan an. R mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan
dan mulai makan PASI setelah 6 bulan. Bila anak sakit selalu
dibawa ke puskesmas.

VI. RIWAYAT MASA LALU


1. Penyakit waktu kecil
Klien mengalami demam, batuk dan pilek.
2. Pernah dirawat di RS
Selama klien sakit belum pernah dirawat di rumah sakit.
3. Obat yang pernah digunakan
Hanya obat demam batuk dan pilek.
4. Tindakan operasi
Klien belum pernah dilakukan operasi.
5. Alergi
Klien tidak memiliki alergi.
6. Imunisasi
Ibu klien mengatakan anak R sudah diimunisasi lengkap.

36
VII. RIWAYAT KELUARGA
Dalam keluarga klien tidak ada yang pernah mengalami sakit yang sama
dengan klien dan riwayat keluarga yang menderita sakit ginjal.

VIII. RIWAYAT SOSIAL


1. Yang mengasuh anak
Klien diasuh oleh kakek dan neneknya saat ibu dan ayahnya bekerja.
2. Hubungan dengan keluarga
Hubungan dengan keluarga yang baik.
3. Hubungan dengan teman sebaya
Klien biasa bermain bola dengan teman sebayanya di lapangan dekat
rumah.
4. Pembawaan secara umum
Klien anak yang senang bergaul dan ramah.
5. Lingkungan rumah
Klien tinggal dengan orangtuanya dan berdekatan dengan rumah
kakek dan neneknya. Klien tinggal di lingkungan yang bersih.

IX. KEBUTUHAN DASAR


N
JENIS KEBUTUHAN SEBELUM MASUK RS SESUDAH MASUK RS
o.
1. Pola persepsi dan Klien merasa yakin sakitnya Klien merasa yakin sakitnya
pemeliharaan dapat disembuhkan. Klien pergi dapat disembuhkan. Klien pergi
kesehatan ke Puskesmas bila sakit ke Puskesmas dan di rujuk ke
RS
2. Pola nutrisi metabolik Makan nasi, daging, sayur habis Makan nasi, daging, sayur habis
1 porsi. Minum air putih dan 1 porsi. Minum air putih ± 1000
minuman kemasan ± 1500 cc/hari
cc/hari
3. Pola eliminasi BAB 1x/hari, konsistensi BAB 1x/hari, konsistensi
lembek. lembek.
BAK 4-5 x/hari, warna kuning BAK 2 x/hari, warna kuning
jernih keruh, berbusa.

37
4. Pola tidur dan istirahat Siang tidur 2 jam Siang tidur 3 jam
Malam tidur 8 jam Malam tidur 8 jam
5. Pola aktivitas dan Klien tidak mengalami sesak Klien tidak mengalami sesak
latihan nafas. ADL dilakukan mandiri. nafas. ADL dilakukan mandiri.
6. Pola persepsi dan Fungsi penglihatan, Fungsi penglihatan,
kognitif pendengaran dan penciuman pendengaran dan penciuman
baik. Kemampuan memori dan baik. Kemampuan memori dan
komunikasi baik. komunikasi baik.
7. Pola persepsi dan Klien anak yang ceria. Sebagai Klien tidak minder. Klien
konsep diri anak sekolah klien mempunyai banyak ditengok temanya.
banyak teman.
8. Pola peran dan Klien anak sekolah SMP. Klien mendapat dukungan
hubungan dengan Hubungan dengan anggota support dari keluarga dan
sesame keluarga yang lain baik. teman-temannya.
9. Pola koping dan Klien selalu menceritakan Klien menghadapi sakitnya
toleransi stres kesulitan masalahnya kepada dengan tenang karena mendapat
orangtuanya. dukungan dari keluarga.
10 Pola reproduksi dan Kllien dalam masa remaja. Kllien dalam masa remaja.
seksualitas Tidak ada masalah pada organ Tidak ada masalah pada organ
reproduksi. reproduksi.
11 Pola nilai dan Klien seorang anak yang Klien beribadah sesuai
kepercayaan beragama Islam. Klien pergi kemampuan klien dan dibantu
mengaji ke mesjid pada sore oleh orang tua. Klien yakin akan
hari. kesembuhan penyakitnya.

X. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Sakit sedang, tenang.
2. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Nadi : 89 x/ menit
Respirasi : 24 x/ menit
Suhu : 36,5o C
3. Antropometri
BB : 48 kg

38
4. Pemeriksaan fisik
- Kepala
Bentuk simetris, tidak ada luka dan lecet. Pertumbuhan rambut
merata dan bentuk rambut lurus. Pasien dapat menggerakkan kepala
kekiri, ke kanan, depan maupun belakang. Tidak ada
pembengkakan kelenjar tiroid dan limfe. Permukaan kepala dan
rambut bersih.
- Mata
Bentuk simetris, bola mata dapat digerakkan ke segala arah,
konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, mata bersih,
ketajaman penglihatan baik, tampak ada edema palpebra, reflek
pupil +/+, kornea +/+.
- Telinga
Bentuk simetris, kllien dapat mendengar dengan baik, tidak terdapat
kotoran dalam telinga, tidak ada peradangan, dan tidak ada cairan
yang keluar dari telinga.
- Hidung
Bentuk simetris, hidung tampak bersih, tidak ada sekret dalam
hidung, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada sianosis,
hidung kokoh, jalan nafas paten, mukosa berwarna merah muda,
fibrisae ada, Konka tidak membesar, tidak ada polip, tidak ada
deviasi septum, sinus tidak nyeri.
- Mulut
Bentuk bibir simetris, mukosa bibir lembab, tidak terdapat iritasi
pada rongga mulut, gigi lengkap, tidak terpasang gigi palsu, tidak
terdapat caries, bentuk lidah simetris. Klien mengatakan tidak mual
dan muntah.

39
- Dada
Bentuk dada normal, simetris, pergerakan dada simetris, tidak
tampak adanya retraksi interkostal, supraskapula, ekspansi paru kiri
kanan sama, vocal premitus paru kiri dan kanan sama, saat
diperkusi suara paru bagian apek kiri dulnes, dan bagian basal
pekak, Suara paru kiri dan kanan, Diameter anterior : posterior 1: 2,
frekuensi nafas 24 x/menit, bunyi jantung S1 dan S2 murni dan
regular, HR 89 x/menit.
- Perut
Abdomen tampak cembung pada saat klien terlentang, tampak
asites, bising usus 6 x/menit, pada saat diperkusi terdengar timpani
pada area lambung, tidak ada bruit aorta. Tidak terdapat
pembengkakan dan nyeri tekan pada hepar dan lien. Saat diperkusi
terdengar timpani pada area lambung.
- Ekstremitas
Bentuk tangan dan kaki simetris, integritas kulit baik, CRT < 2
detik, tidak ada sianosis, edema di tangan dan kaki sudah tidak ada,
kekuatan otot pada tangan dan kaki penuh
5 5
5 5
- Kulit
Kulit tampak bersih, lembab, turgor kulit baik, kuku tangan dan
kaki pendek. Suhu 36,5o C.
- Genitalia
Tampak bersih, tidak ada bau, klien dapat BAK tanpa ada keluhan.

40
XI. TERAPI YANG DIDAPAT
NO JENIS TERAPI RUTE DOSIS INDIKASI
1. Prednisone Peroral 4x 5 tab Anti radang
2. Furosemid Peroral 2x ½ tab diuretik
3. Captopril Peroral 2x 1tab Antihipertensi
4. Albuforce Peroral 3x 1 cth Menambah asupan
albumin

XII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium
TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL
9 Juli 2018 Urin Warna kuning jernih Warna kuning jernih
pH 6 4,8-8
Albumin 3+ / positif 3
Sedimen
Leukosit 1-3 1-5 /LPB
Erytrosit 0-2 0-2 /LPB
Epytel 0-2 Positif/LPB
10 Juli 2018 Darah
Hb 11,4 13-16 g/dL
Leukosit 10.000 4500-11000/ µL
Haematokrit 34 40-48 vol%
Trombosit 188.000 150.000-500.000/ µL

Urin
pH 5 4,5-8
BJ 1.025 1,015-1,025
Leukosit + -
Sedimen
Erytrosit 30-40 0-2 /LPB
Epytel 3-5 1-5 /LPB
Leukosit 6-8 Positif/LPB
Granula 1-3
12 Juli 2018 Kimia
Cholesterol 171 <200 mg/dL
Protein total 6,9 6,1-8,2 (gr%)
Albumin 3,5 3,8-5,0 (gr%)
Globulin 3,40 2,3-3,2 (gr%)

Serologi
ASTO +, positif 600 -
CRP -, negative -

41
ANALISA DATA
Nama pasien : An. R Ruang/ Unit : R. Otje RS Rajawali
No. Register : 3270/ 2018 D.Medis : GNA

N Hari/
Data Etiologi Problem
o tanggal
1 Jumat S: Infeksi streptococcus Kelebihan volume
13-7-2018 Klien mengatakan Aureus cairan
wajahnya bengkak.

O: Reaksi antigen dan


- Anak mengalami antibody abnormal
bengkak seluruh
badan.
- BAK 2x/ hari, Fagositosis dan pelepasan
berwarna kuning enzim lisosom
keruh, berbusa.
- Perut tampak asites.
- Tekanan darah Merusak endotel dan
140/100 mmHg, Nadi membrane basalis
89x/ menit, RR 24 glomerulus
x/menit, suhu 36,5o
C.
- Hasil Lab : Inflamasi glomerulus
Tgl 9/7/2018
Urin pH 6
Albumin +3 Fungsi ginjal menurun

Tgl 12/7/2018
Serologi ASLO +600 Filtrasi glomerulus
menurun

Kelebihan volume cairan

2. Jumat S: Infeksi streptococcus Gangguan perfusi


13-7-2018 Klien mengatakan Aureus jaringan serebral
kadang pusing.

O: Reaksi antigen dan


- Anak mengalami antibody abnormal
bengkak pada mata
dan seluruh badan.
- BAK 2x/ hari, Fagositosis dan pelepasan

42
berwarna kuning enzim lisosom
keruh, berbusa.
- Perut tampak asites.
- Tekanan darah Merusak endotel dan
140/100 mmHg, Nadi membrane basalis
89x/ menit, RR 24 glomerulus
x/menit, suhu 36,5o
C.
Inflamasi glomerulus

Kerusakan jaringan ginjal

Tekanan darah meningkat

Vasospasme pembuluh
darah

Hipertensi

Gangguan perfusi
jaringan serebral
3. Jumat S: Infeksi streptococcus Kurangnya
13-7-2018 Klien dan keluarga Aureus pengetahuan
mengatakan belum
mengatahui tentang Inflamasi glomerulus
penyakit yang dialami.

O: Terjadi bengkak pada


- Klien mengalami mata dan seluruh badan
sakit GNA untuk
yang pertama kali.
- Klien dan keluarga Merupakan penyakit yang
belum mengetahui jarang terjadi
tentang penyakit yang
dialami klien.
- Klien dan keluarga Kurangnya informasi
belum memahami tentang penyakit yang
instruksi perawatan di dialami
rumah.

Kurangnya pengetahuan

43
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama pasien : An. R Ruang/ Unit : R. Otje RS Rajawali
No. Register : 3270/ 2018 D.Medis : GNA

NO. DX PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan retensi air

2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan oligouria

3. Kurangnya pengatahuan berhubungan dengan kurang mendapat


informasi

44
INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama pasien : An. R Ruang/ Unit : R. Otje RS Rajawali
No. Register : 3270/ 2018 D.Medis : GNA

TGL/ NO TUJUAN DAN KRITERIA


INTERVENSI KEPERAWATAN TTD
WAKTU DX HASIL
Jum’at 1 Perfusi jaringan normal setelah 1. Pantau dan catat TD anak setiap 1-2 jam selama Permana
13 Juli 2018 dilakukan tindakan keperawatan fase akut.
J 09.00 WIB selama 3 hari, dengan kriteri : Rasional: pemantauan sering memungkinkan
deteksi dini, dan penanganan segera terhadap TD
anak
- Tekanan darah normal
2. Lakukan tindakan kewaspadaan berikut ini bila
- Penurunan retensi cairan terjadi kejang:
- Tidak ada tanda-tanda a. Pertahankan jalan napas melalui mulut dan
hipernatremia letakkan peralatan penghisap disisi tempat tidur
anak
b. Sematkan tanda diatas tempat tidur anak dan
pada pintu, berisi peringatan tentang status
kejang anak yang ditujukan untuk petugas
kesehatan.
Rasional: melakukan tindak kewaspadaan bila
terjadi kejang dapat mencegah cedera selama
episode serangan kejang. Kendati tidak umum
pada glomerulusnefritis akut, kejang dapat terjadi
akibat kurang perfusi oksigen ke otak.
3. Kolaborasi pemberian obat anti-hipetensi,
misalnya hidralazin hidroksida (Aprisonilene)
sesuai program. Pantau anak untuk adanya efek
samping.

45
Rasional: pemberian obat anti hipertensi dapat
diprogramkan, karena hipertensi tidak terkontrol
dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Kendati
penyebab persis hipertensi tidak diketahui,
hipertensi mungkin berhubungan dengan kelebihan
beban cairan didalam system sirkulasi.
4. Pantau status volume cairan anak setiap 1-2 jam.
Pantau haluaran urine; haluaran harus 1-
2ml/kg/jam.
Rasional: pemantauan sangat penting dilakukan,
karena penambahan volume lebih lanjut akan
meningkatkan TD.
5. Kaji status neurologis anak ( tingkat kesadaran,
reflek dan respon pupil) setiap 8 jam. Beritahu
dokter segera setiap ada perubahan signifikan pada
status anak.
Rasional: pengkajian yang sering memungkinkan
deteksi dini dan terapi yang memadai untuk setiap
perubahan status neurologi anak.
6. Kolaborasi pemberian obat diuretic misalnya
hidroklorotiazi (Esidrix) atau puromesid (lasix)
sesuai program.
Rasional: diuretic meningkatkan ekskresi cairan.

Jum’at 2 Volume cairan dalam keadaan 1. Timbang berat badan anak setiap hari, dan pantau Permana
13 Juli 2018 normal setelah dilakukan haluaran urine setiap 4 jam.
J 09.00 WIB tindakan keperawatan selama 3x Rasional: menimbang berat badan setiap hari dan
pemantauan haluaran urine yang sering,
24 jam, dengan criteria :
memungkinkan deteksi dini dan terapi yang tepat
terhadap perubahan yang terjadi pada status cairan
- Haluaran urin rata-rata anak. Kenaikan berat badan yang cepat
sebanyak 1-2 ml/kg/jam. mengindikasikan retensi cairan. Penurunan haluaran

46
- Edema palpebra urin dapat mengindikasikan ancaman gagal ginjal.
berkurang. 2. Kaji anak untuk deteksi edema, ukur lingkar
- Bengkak pada badan abdomen setiap 8 jam, dan (untuk anak laki-laki
periksa pembengkakan pada skrotum.
berkurang
Rasional: pengkajian dan pengukuran yang sering,
- Asites (-) memungkinkan deteksi dini dan pemberian terapi
yang tepat terhadap setiap perubahan kondisi anak.
Lingkar abdomen yang bertambah dan
pembengkakan pada skrotum biasanya
mengindikasikan asites.
3. Pantau anak dengan cermat untuk melihat efek
samping pemberian terapi diuretic, khususnya ketika
menggunakan hidroklorotizid atau furosemid.
Rasional: obat-obatan diuretic dapat menyebabkan
hipokalemia sehingga membutuhkan pemberian
suplemen kalium per intravena.
4. Pantau dan catat asupan cairan anak.
Rasional: anak membutuhkan pembatasan asupan
cairan akibat retensi cairan dan penurunan laju
filtrasi glomerulus; ia juga membutuhkan retriksi
asupan natrium.
5. Kaji warna, konsistensi dan berat jenis urine anak.
Rasional: urine yang berbusa mengindikasikan
peningkatan deplesi protein, suatu tanda kerusakan
fungsi ginjal.
6. Pantau semua hasil uji laboratorium yang di
programkan.
Rasional: peningkatan kadar nitrogen urea darah dan
kreatinin dapat mengindikasikan kerusakan fungsi
ginjal.

47
Jum’at 3 Klien dan keluarga memahami 1. Jelaskan kepada orang tua tentang patofisiologi Permana
13 Juli 2018 tentang instruksi perawatan di penyakit.
J 09.00 WIB rumah setelah mendapatkan Rasional: penjelasan yang demikian membantu
orang tua memahami penyakit dan pentingnya
tindakan perawatan selama 1x 24
melanjutkan terapi dirumah.
jam, dengan criteria : 2. Yakinkan kembali orang tua bahwa penyakit
tersebut jarang menyebabkan efek jangka panjang.
- Klien dan keluarga Rasional: orang tua biasanya kuatir tentang efek
memahami tentang penyakit, khususnya jika menjalani dialisis. Selama
perawatan di rumah fase akut penyakit.
3. Jelaskan kepada orang tua tentang pentingnya
mempertahankan anak pada restriksi diet natrium,
sampai edema mereda dan fungsi ginjal kembali
normal.
Rasional: diet restriksi natrium diperlukan karena
asupan natrium yang berlebihan dapat menghalangi
eksresi air.
4. Instruksikan orang tua untuk membatasi aktivitas
anak sampai dokter menyetujui bahwa anak dapat
melakukan aktivitas seperti sedia kala.
Rasional: restriksi aktivitas diperlukan untuk
mencegah stress pada ginjal yang dapat
menyebabkan kekambuhan penyakit.
5. Ajarkan orang tua tentang tanda dan gejala infeksi
pernapasan atas, seperti meningkatnya suhu tubuh,
nyeri tenggorokan dan batuk; juga ajarkan mereka
tentang tanda dan gejala gagal ginjal misalnya
penurunan haluaran urine, kenaikan berat badan dan
edema.
Rasional: dengan mengetahui tanda dan gejala
infeksi berulang serta gagal ginjal mendorong orang
tua mencari bantuan medis saat diperlukan.

48
6. Anjurkan orang tua untuk menepati semua
perjanjian tindak lanjut itu
Rasional: suatu kunjungan tindak lanjut sangat
diperlukan untuk menentukan resolusi penyakit dan
mendeteksi komplikasi.

49
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama pasien : An. R Ruang/ Unit : R. Otje RS Rajawali
No. Register : 3270/ 2018 D.Medis : GNA

TGL/
NO DX IMPLEMENTASI KEPERAWATAN RESPON KLIEN TTD
WAKTU
13 Juli 2018 1 1. Mengukur tanda-tanda vital R/ Tekanan darah 140/100 mmHg, Nadi 84 permana
Jumat x/menit, RR 24 x/menit, suhu 36,5o C
09.00 WIB
2. Memantau status volume cairan anak R/ Balance cairan dari jam 06.00-09.00 WIB
minum ± 300 cc, BAK ±400 cc.

3. Mengkaji status neurologis anak R/ Kesadaran composmentis, GCS= E4 M6


V5
13 Juli 2018 2 1. Menimbang berat badan anak R/ BB 48 kg permana
Jumat
10.00 WIB 2. Memantau efek samping pemberian R/ Urin warna putih jernih, klien mengatakan
diuretic sering BAK

13 Juli 2018 3 1. Memberikan pendidikan kesehatan R/ klien dan keluarga memahami tentang GNA permana
Jumat tentang GNA
11.00 WIB 2. Menginstruksikan untuk membatasi R/ Klien dan keluarga memahami tujuan
aktivitas anak untuk sementara membatasi aktivitas

50
EVALUASI
Nama pasien : An. R Ruang/ Unit : R. Otje RS Rajawali
No. Register : 3270/ 2018 D.Medis : GNA
TGL/ NO
EVALUASI KEPERAWATAN TTD
WAKTU DX
Sabtu, 1 S: Permana
14 Juli 2018 Klien mengatakan sudah tidak pusing lagi
J 13.00 WIB
O:
- Kesadaran composmentis.
- Tekanan darah 140/ 90 mmHg, nadi 89 x/menit,
respirasi 22 x/menit, suhu 36,8o C.
- Edema palpebra masih ada tetapi berkurang.
- Asites (-)

A: Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5

Sabtu, 2 S: Permana
14 Juli 2018 Klien mengatakan mata dan pipi masih bengkak tetapi
J 13.00 WIB berkurang

O:
- Edema palpebra masih ada tetapi berkurang.
- Asites (-)
- Haluaran urin rata-rata > 1 cc/kgBB/jam
- Balance cairan I= 1050 cc, O= 3800 cc
- Bengkak di badan berkurang.

A: Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5 dan 6

Sabtu, 3 S: Permana
14 Juli 2018 Klien mengatakan sudah memahami tentang penyakit yang
J 13.00 WIB dialami klien

O:
- Klien dan keluarga dapat mengekspresikan tentang
penyakit klien
- Klien memahami dan akan melaksanakan perawatan di
rumah.

51
- Klien sementara akan membatasi aktivitas.

A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Lanjutkan intervensi 5 dan 6

B. Pembahasan
Anak R. umur 13 tahun, berat badan 48 kg, tinggi badan 145 cm, usia
kelas 8 SMP, mengalami edema pada seluruh badan. Hal ini bisa disebabkan
karena glomerulus nefritis akut pasca streptococcus. Gejala timbul setelah infeksi
kuman streptococcus Beta hemolitikus grup A di saluran nafas bagian atas.
Terutama menyerang anak usia sekolah. Penyakit ini bersifat bersifat self
limiting, tapi dapat menyebabkan gagal ginjal akut. 95% pasien dapat sembuh
dengan sendirinya, 5% diantaranya dapat mengalami perjalanan penyakit
memburuk dengan cepat.
Timbulnya gejala pada penyakit faringitis streptococcus sering mendadak.
Selain rasa sakit tenggorokkan, gejala demam, menggigil, malaise, sakit kepala,
terutama pada anak-anak muda sakit perut, mual, vomiting. Sakit tenggorokan,
demam, benjolan di anterior kelenjar getah bening leher sebesar 1-2 cm, eritema,
keputihan bilateral atas pembesaran amandel dan faring posterior. Sebuah tes
antigen dari specimen tenggorokan hasil usap positif untuk kelompok
streptococcus.
C3 diketahui mempengaruhi kejadian penyakit inflamasi. Hubungan
dengan penyakit autoimun sering berisi beberapa immunoglobulin dan protein
komponen, IgG, IgM, IgA, C3. Gangguan yang berhubungan dengan tingkat C3
rendah termasuk glomerulonefritis akut post streptococcus, lupus eritematosis

52
sistemik, glomerulo nefritis membranoproliferative. Glomerulonefritis akut post
streptococcus terjadi setelah infeksi saluran nafas atas. Tingkat serum C3
biasanya berkurang pada fase akut dan kembali normal 6-8 minggu setelah onset.
Aspek social penyakit meliputi persepsi orang tua penyakit yang serius
sehingga mencari pelayanan yang terbaik, dan orang tua juga kooperatif dengan
usaha dari pelayanan kesehatan. Factor lain yang mempengaruhi psikososial
penyakit adalah kebiasaan pola hidup pada diri dan lingkungan untuk
mengurangi factor predisposisi. Edukasi pada orangtua merupakan hal yang
penting perlunya pemantauan jangka panjang dan resiko besar terjadinya
gangguan tumbuh kembang dan komplikasi penyakit. Selain itu juga edukasi
kepada orang tua dan keluarga untuk menyiapkan secara mental dan psikologis
terhadap prognosis.
Pemberian berbagai regimen penicillin intramuscular dikaitkan dengan
penurunan 80% dibandingkan dengan pengobatan tanpa antibiotic. Terapi
antibiotic juga mengurangi resiko supuratif dari infeksi streptococcus, juga
mengurangi durasi gejala streptococcus. Dalam uji coba terkontrol, tingkat
demam dan sakit tenggorokan secara signifikan lebih rendah pada 24 jam antara
pasien yang diobati dengan antibiotic. Antibiotic mungkin kurang efektif dalam
mengatasi gejala jika pengobatan tertunda, disarankan bahwa anak-anak
menerima pengobatan untuk faringitis streptococcus selama 24 jam sebelum
mereka kembali ke sekolah.
Untuk diit terkait Glomerulonefritis perlu pembatasan garam dapur: 20
mEq/hari (<5 g/hari) 2 atau 1 g/hari, protein 1 g/kgBB/hari. Kebutuhan kalium
70-90 mEq/kgBB/hari, kebutuhan kalsium: 600-1000 mEq/kgBB/hari.
Komplikasi Glomerulnefritis Akut Pasca Streptococcus terutama
hipertensi dan disfungsi ginjal akut. Hipertensi pada 60% pasien dan dapat
berhubungan dengan hipertensi ensefalopati pada 10% kasus. Komplikasi
potensial lainnya termasuk gagal jantung, hiperkalemia, hiperfosfatemia,
hipokalsemia, asidosis, kejang dan uremia. Manajemen diarahkan untuk

53
mengobati efek akut dari insufisiensi ginjal dan hipertensi. 10 hari terapi
antibiotic sistemik dengan penicillin dianjurkan untuk membatasi penyebaran
organism nefritogenik, terapi antibiotic tidak mempengaruhi glomerulonefritis.
Dari kasus tersebut dapat disimpulkan anak dengan Glomerulonefritis akut
post streptococcus, yang terbukti dengan adanya hasil serologi ASTO + 600 yaitu
suatu sindroma nefrotik akut yang bisa ditandai dengan hematuria, oligouria,
edema, dan hipertensi. Gejala timbul setelah infeksi streptococcus beta
hemolitikus group A di saluran nafas atas, terutama menyerang anak usia
sekolah. Secara klinis dapat dibuktikan pada pasien ini dengan adanya riwayat
faringitis streptococcus, kelainan urinalisis (proteinuria/ albuminuria), edema,
didukung hasil laboratorium ASTO meningkat 600iu/ml, albumin urin +3,
Leukosit urin +6, eritrosit +2.
Secara klinis pasien dalam kasus ini tampak sehat dan komunikatif selama
pemeriksaan dan makanan yang disediakan rumah sakit selalu habis walau
kadang hanya sisa sedikit sehingga status gizi baik. Pemulihan sempurna terjadi
pada lebih 95% anak dengan glomerulonefritis akut pasca streptococcus.
Kematian dalam tahap akut dapat dihindari dengan manajemen yang tepat.
Selama komplikasi belum ada prognosis baik. Kekambuhan sangat jarang terjadi.

54
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis ginjal
terhadap bakteri / virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman
streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun. Masalah keperawatan yang
muncul adalah Gangguan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan
retensi air dan hipernatremia, Kelebihan volume cairan yang berhubungan
dengan oliguria, Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia, Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan
kelelahan, Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas
dan edema, Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan rawat inap anak
dirumah sakit, Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman
intruksi perawatan di rumah. Pasien GNA perlu dirawat dirumah sakit karena
memerlukan pengobatan/pengawasan perkembangan penyakitnya untuk
mencegah penyakit menjadi lebih buruk. Masalah pasien yang perlu diperhatikan
adalah gangguan faal ginjal, resiko terjadi komplikasi, diet, gangguan rasa aman
dan nyaman, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Untuk klien dan keluarga
Orang tua diharapkan dapat membantu usaha pengobatannya misalnya untuk
pemeriksaan atau tindakan, sering memerlukan biaya yang cukup banyak
sedangkan rumah sakit tidak tersedia keperluan tersebut. (sebelumnya orang
tua diberi penjelasan mengenai perlunya pengumpulan urine dan mencatat

55
minum anak selama 24 jam, untuk keperluan pengamatan perkembangan
penyakit anaknya)
2. Untuk perawat
Perawat diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan
pendokumentasian keperawatan yang lebih akurat dan lengkap sesuai
dengan keadaan klien guna mempercepat penyembuhan dan meningkatkan
kepuasan klien. Pentingnya memberikan edukasi kepada klien untuk
menambah pengetahuan. Penjelasan yang perlu disampaikan kepada orang
tua pasien adalah:Bila ada anak yang sakit demam tinggi disertai rasa sakit
menelan atau batuk dan demam tinggi hendaknya berobat ke
dokter/pelayanan kesehatan supaya anak mendapatkan pengobatan yang
tepat dan cepat. Jika anak sudah terlanjur menderita GNA selama dirawat
dirumah sakit, orang tua diharapkan dapat membantu usaha pengobatannya
misalnya untuk pemeriksaan atau tindakan (sebelumnya orang tua diberi
penjelasan mengenai perlunya pengumpulan urine dan mencatat minum anak
selama 24 jam, untuk keperluan pengamatan perkembangan penyakit
anaknya). Bila pasien sudah boleh pulang, dirumah masih harus istirahat
cukup. Walaupun anak sudah diperbolehkan sekolah tetapi belum boleh
mengikuti kegiatan olahraga. Makanan, garam masih perlu dikurangi sampai
keadaan urine benar-benar normal kembali (kelainan urine, adanya eritrosit
dan sedikit protein akan masih diketemukan kira-kira 4 bulan lamanya). Jika
makanan dan istirahatnya tidak diperhatikan ada kemungkinan penyakit
kambuh kembali. Hindarkan terjadinya infeksi saluran pernapasan terutama
mengenai tenggorokan untuk mencegah penyakit berulang. Kebersihan
lingkungan perlu dianjurkan agar selalu diperhatikan khususnya
streptococcus yang menjadi penyebab timbulnya GNA. Pasien harus control
secara teratur untuk mencegah timbulnya komplikasi yang mungkin terjadi
seperti glomerulus kronik atau bahkan sudah terjadi gagal ginjal akut. Juga
petunjuk mengenai kegiatan anak yang telah boleh dilakukan.

56
3. Untuk mahasiswa
a. Mahasiswa diharapkan lebih memahami teori tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan Glomerulo Nefritis Akut
sehingga mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada
klien dengan Glomerulo Nefritis Akut sehingga secara
komprehensif.
b. Mahasiswa meningkatkan komunikasi terapeutik sehingga
terjadi trust antara klien dan mahasiswa guna tercapai tujuan
asuhan keperawatan.

57
DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L. 2002. “Buku Saku Keperawatan Pediatri”. Jakarta: EGC.

Harnowo, Sapto. 2001. “Keperawatan Medikal Bedah untuk Akademi Keperawatan”.


Jakarta: Widya Medika.

Hidayani, A. 2016. “Profil glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak yang
dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado”
Menado: Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember, 2016.

Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. St. Louis Missouri: Mosby INC.

Mansjoer, Arif M. 2000.”Kapita Selekta Kedokteran”, ed 3, jilid 2. Jakarta: Media


Aesculapius.

Mc. Closkey, cjuane, dkk. 1996. NIC. St.Louis missouri: Mosby INC.

Morgan Speer, Kathleen. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik dengan


klinikal pathways. Jakarta: EGC

Ngastiyah. 2005.”Perawatan Anak Sakit”. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia. A, Lorraine, M. Wilson. (1995). Buku 1 Patofisiologi “Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit”, edisi : 4. Jakarta : EGC.

Sacharin, Rosa M. 1999. “Prinsip Keperawatan Pediatrik”. Jakarta: ECG.

Santosa Budi. 2006. “Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006”: Definisi


dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Suriadi, dkk. 2001.”Asuhan Keperawatan Anak”. Jakarta: PT. Fajar Luterpratama.

58