Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam


menjalankan suatu kegiatan di organisasi.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komperhensif
serta ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun
sehat secara berkualitas (Kozier, 1995).
Manajemen keperawatan merupakan proses bekerja melalui anggota staf
untuk memberikan asuahan keperawatan secara profesional. Proses manajemen
keperawatan sejalan dengan keperawatan sebagai salah satu metode pelaksanaan
asuhan keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan keduanya saling
menopang dan berkesinambungan.
Banyaknya tuntutan dalam pengembangan pelayanan kesehatan di
masyarakat umum, termasuk didalamnya keperawatan, merupakan salah satu
faktor yang harus dipahami dan diperhatikan oleh tenaga perawat, sehingga
perawat mampu bekerja secara nyata dan diterima dalam memberikan pelayanan
yang berkemanusiaan sesuai ilmu dan kiat serta kewenangan yang dimiliki. Salah
satu strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan
keperawatan adalah melakukan manajemen keperawatan dengan harapan, adanya
pengelolaan yang sesuai dan mampu mengefektifkan pembagian pelayanan
keperawatan dengan lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan
keperawatan yang diberikan.
Namun perlu disadari, tanpa adanya kerjasama dalam mewujudkan dan
mengelolanya, maka tulisan ini hanyalah menjadi teori semata. Untuk itu,
penyusun tertarik untuk membahas Konsep Dasar Manajemen Modelitas Asuhan
Keperawatan Profesional.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana definisi asuhan keperawatan profesional MAKP?


2. Apa saja faktor yang berhubungan dalam perubahan MAKP?
3. Bagaimana metode pengelolaan sistem pemberian asuhan keperawatan
professional dan metode penghitungan kebutuhan tenaga keperawatan?
4. Bagaimana cara penghitungan beban kerja serta aplikasi MAKP?

C. Tujuan

1. Untuk menjelaskan definisi modelitas asuhan keperawatan profesional


(MAKP).
2. Untuk menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan
MAKP.
3. Untuk menjelaskan metode pengelolaan sistem pemberian asuhan
keperawatan professional dan metode penghitungan kebutuhan tenaga
keperawatan.
4. Untuk menjelaskan cara penghitungan beban kerja serta aplikasi MAKP.

D. Manfaat

Adapun manfaat dari makalah ini, yaitu untuk memberikan wawasan pada
setiap pembaca khususnya perawat tentang konsep dasar manajemen model
asuhan keperawatan profesional dengan harapan bisa menerapkannya dalam
dunia pekerjaan sesuai dengan teori yang diuraikan.

2
3

BAB II

ISI

A. Pengertian
Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem
(struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional
mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang
pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) adalah sebuah sistem yang
meliputi struktur, proses, dan nilai profesional yang memungkinkan perawat
profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan dan mengatur lingkungan
untuk menunjang asuhan keperawatan sebagai suatu model berarti sebuah ruang
rawat dapat menjadi contoh dalam praktik keperawatan profesional di Rumah
Sakit (Sitorus, 2006).
Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan empat unsur,
yakni: standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan, dan sistem MAKP.
Dalam menetapkan suatu model, keempat hal tersebut harus menjadi bahan
pertimbangan karena merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Definisi tersebut berdasarkan prinsip-prinsip nilai yang diyakini dan akan
menentukan kualitas produk/ jasa layanan keperawatan. Jika perawat tidak
memiliki nilai-nilai tersebut sebagai sesuatu pengambilan keputusan yang
independen (mandiri), maka tujuan pelayanan kesehatan/ keperawatan dalam
memenuhi kepuasan pasien tidak akan dapat terwujud (Nursalam, 2014).

B. Faktor-faktor yang Berhubungan dalam Perubahan MAKP


1. Kualitas Pelayanan Kesehatan
Setiap upaya untuk meningkatkan pelayanan keperawatan, selalu bicara
mengenai kualitas. Kualitas amat diperlukan untuk:
a. Meningkatkan asuhan keperawatan kepada pasien/ konsumen;
b. Menghasilkan keuntungan (pendapatan) institusi;
c. Mempertahankan eksistensi institusi;
d. Meningkatkan kepuasan kerja;
e. Meningkatkan kepercayaan konsumen/ pelanggan;
f. Menjalankan kegiatan sesuai aturan/ standar.
2. Standar praktik keperawatan
Standar praktik keperawatan di Indonesia disusun oleh Depkes RI (1995)
yang terdiri atas beberapa standar. Menurut JCHO: Joint Commission on
Accreditation of Health Care Organisation (1999: 1; 4: 249-54) terdapat 8
standar tentang asuhan keperawatan yang meliputi (Novuluri, 1999; 4:
249-54):
a. Menghargai hak-hak pasien;
b. Penerimaan sewaktu pasien masuk Rumah Sakit (SPMRS);
c. Observasi keadaan pasien;
d. Pemenuhan kebutuhan nutrisi;
e. Asuhan pada tindakan nonoperatif dan administratif;
f. Asuhan pada tindakan operasi dan prosedur invasif;
g. Pendidikan kepada pasien dan keluarga;
h. Pemberian asuhan secara terus menerus dan berkesinambungan.
3. Model Praktik
a. Praktik keperawatan Rumah Sakit
Perawat profesional (Ners) mempunyai wewenang dan tanggung
jawab melaksanakan praktik keperawatan di Rumah Sakit dengan
sikap dan kemampuannya.
b. Praktik keperawatan rumah
Bentuk praktik keperawatan rumah diletakkan pada pelaksanaan
pelayanan/ asuhan keperawatan sebagai kelanjutan dari pelayanan
Rumah Sakit.

c. Praktik keperawatan berkelompok


Bentuk praktik keperawatan ini dipandang perlu di masa depan,
karena adanya pendapat bahwa rawat Rumah Sakit perlu dipersingkat,

4
mengingat biaya perawatan di Rumah Sakit diperkirakan akan terus
meningkat.
d. Praktik keperawatan individual
Bentuk praktik keperawatan ini sangat diperlukan oleh kelompok/
golongan masyarakat yang tinggal jauh terpencil dari fasilitas
pelayanan kesehatan, khususnya yang dikembangkan pemerintah

C. Metode Pengelolaan Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional


Keberhasilan suatu asuhan keperawatan kepada pasien sangat ditentukan oleh
pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan profesional. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan dan tuntutan
perkembangan iptek, maka metode sistem pemberian asuhan keperawatan harus
efektif dan efisien.

Ada beberapa metode sistem pemberian asuhan keperawatan kepada pasien.


Mc Laughin, Thomas, & Barterm (1995) mengidentifikasi delapan model
pemberian asuhan keperawatan, tetapi model yang umum digunakan di rumah
sakit adalah asuhan keperawatan total, keperawatan tim, dan keperawatan primer.
Terdapat 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian
asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 1998: 143).
1. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Metode Asuhan Keperawatan
(MAKP)
a. Sesuai visi dan misi institusi
Dasar utama penentuan model pemberian asuhan keperawatan harus
didasarkan pada visi dan misi rumah sakit.
b. Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam asuhan keperawatan
Proses keperawatan merupakan unsur penting terhadap
kesinambungan asuhan keperawatan kepada pasien. Keberhasilan
dalam asuhan keperawatan sangat ditentukan oleh pendekatan proses
keperawatan.
c. Efisien dan efektif penggunaan biaya

5
Setiap suatu perubahan, harus selalu mempertimbangkan biaya dan
efektivitas dalam kelancaran pelaksanaannya. Bagaimana pun baiknya
suatu model, tanpa ditunjang oleh biaya memadai, maka tidak akan
didapat hasil yang sempurna.
d. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga, dan masyarakat
Tujuan akhir asuhan keperawatan adalah kepuasan pelanggan atau
pasien terhadap asuhan yang diberikan oleh perawat. Oleh karena itu,
model yang baik adalah model asuhan keperawatan yang dapat
menunjang kepuasan pelanggan.
e. Kepuasan kinerja perawat
Kelancaran pelaksanaan suatu model sangat ditentukan oleh motivasi
dan kinerja perawat. Model yang dipilih harus dapat meningkatkan
kepuasan perawat, bukan justru menambah beban kerja dan frustasi
dalam pelaksanaanya
f. Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim
kesehatan lainnya
Komunikasi secara profesional sesuai dengan lingkup tanggung jawab
merupakan dasar pertimbangan penentuan model. Model asuhan
keperawatan diharapkan akan dapat meningkatkan hubungan
interpersonal yang baik antara perawat dengan tenaga kesehatan
lainnya.
2. Jenis Model Metode Asuhan Keperawatan (MAKP)
Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis & Huston (1998) ada 4
metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang sudah ada dan
akan terus dikembangkan di masa depan dalam menghadapi tren
pelayanan keperawatan, yaitu:
a. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia
kedua. Pada saat itu, karena masih terbatasnya jumlah dan
kemampuan perawat, maka setiap perawat hanya melakukan satu atau

6
dua jenis intervensi (misalnya, merawat luka) keperawatan kepada
semua pasien di bangsal.
Kelebihan:
1) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas
yang jelas, dan pengawasan yang baik;
2) Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga;
3) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial,
sedangkan perawat pasien diserahkan pada perawat junior
dan/atau belum berpengalaman.

Kekurangan:
1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat;
2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan
proses keperawatan;
3) Persepsi perawat cenderung pada tindakan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.
b. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim
Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda-
beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok
pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/ grup yang terdiri atas
tenaga profesional, teknikal, dan pembantu dalam satu kelompok kecil
yang saling membantu.
Kelebihan:
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh;
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan;
3) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah
diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.

Kekurangan:
Komunikasi antara anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit untuk
dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

7
c. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer
Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus-
menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan dan koordinasi asuhan keperawatan selama
pasien dirawat.
Kelebihan:
1) Bersifat kontinuitas dan komprehensif;
2) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap
hasil dan memungkinkan pengembangan diri;
3) Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter, dan
rumah sakit (Gillies, 1989).
Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan
karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu, asuhan
yang diberikan bermutu tinggi, dan tercapai pelayanan yang
efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi, dan
advokasi. Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer
karena senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi pasien
yang selalu diperbarui dan komprehensif.

Kekurangan:

Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman


dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction,
kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai
keperawatan klinis, akuntabel, serta mampu berkolaborasi dengan
berbagai displin ilmu.

d. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Kasus


Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat,
dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk
keperawatan khusus seperti: isolasi, intensive care.
Kelebihan:

8
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus;
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.

Kekurangan:
1) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggung jawab;
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan
dasar yang sama.
D. Metode Penghitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan
Berikut ini akan dipaparkan beberapa pedoman dalam penghitungan
kebutuhan tenaga keperawatan di ruang rawat inap.
1. Metode rasio
Metode perhitungan dengan cara rasio menggunakan jumlah tempat tidur
sebagai pembanding dari kebutuhan perawat yang diperlukan dan sering
digunakan karena sederhana dan mudah. Namun, ada kelemahannya yaitu
hanya mengetahui jumlah perawat secara kuantitas tetapi tidak bisa
mengetahui produktivitas perawat dan kapan tenaga perawat tersebut
dibutuhkan oleh setiap unit Rumah Sakit.
2. Metode need
Metode ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja. Untuk
menghitung kebutuhan tenaga, diperlukan gambaran tentang jenis
pelayanan yang diberikan kepada pasien selama di Rumah Sakit.
3. Metode demand
Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga menurut kegiatan yang
memang nyata dilakukan oleh perawat.
4. Menghitung tenaga perawat berdasarkan Full Time Equivalent (FTE)
Konsep ini didasarkan bahwa seorang perawat bekerja penuh waktu
dalam setahun, artinya bekerja selama 40 jam/minggu atau 2.080 jam
dalam periode 52 minggu. Jumlah waktu tersebut meliputi waktu
produktif maupun nonproduktif, sedangkan yang dipertimbangkan hanya
waktu produktif yang digunakan untuk perawatan pasien yang didasarkan

9
pada tingkat ketergantungannya karena akan mempengaruhi jumlah jam
perawat yang dibutuhkan.
E. Penghitungan Beban Kerja
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan beban kerja
perawat anatara lain :
1. Jumlah pasien yang dirawat setiap hari/ bulan/ tahun di unit tersebut
2. Kondisi atau tingkat ketergantungan pasien
3. Rata-rata hari perawatan
4. Pengukuran keperawatan langsung, perawatan tidak langsung dan
pendidikan kesehatan
5. Frekuensi tindakan perawatan yang dibutuhkan pasien
6. Rata-rata waktu perawatan langsung, tidak langsung dan pendidikan
kesehatan.
Ada tiga cara dapat digunakan untuk menghitung beban kerja secara personel
antara lain sebagai berikut.
1. Work sampling
Teknik ini digunakan pada dunia industri untuk melihat beban kerja yang
dipangku oleh personel pada suatu unit, bidang maupun jenis tenaga
tertentu.
Pada teknik work sampling kita akan mendapatkan ribuan pengamatan
kegiatan dari sejumlah personel yang kita amati. Oleh karena besarnya
jumlah pengamatan kegiatan penelitian akan didapatkan sebaran normal
sampel pengamatan kegiatan penelitian. Artinya data cukup besar dengan
sebaran sehingga dapat dianalisis dengan baik. Jumlah pengamatan dapat
dihitung.
2. Time and motion study
Pada teknik ini kita mengamati dan mengikuti dengan cermat tentang
kegiatan yang dilakukan oleh peringkat kusonel yang sdang kita amati.
Melalui teknik ini akan didapatkan beban kerja personel dan kualitas
kerjanya.

10
Penelitian dengan menggunakan teknik ini dapat digunakan untuk
melakukan evaluasi tingkat kualitas suatu pelatihan atau pendidikan yang
bersertifikat atau bisa juga digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan
suatu metode yang ditetapkan secara baku oleh suatu instansi seperti
rumah sakit.
3. Daily log
Daily log atau pencatatan kegiatan kegiatan sendiri merupakan bentuk
sederhana work sampling yaitu pencatatan dilakukan sendiri oleh personel
yang diamati. Pencatatan meliputi kegiatan yang dilakukan dan waktu
yang diperlukan untuk melakukan kegiatan tersebut. Menuliskan secara
rinci kegiatan dan waktu yang diperlukan merupakan kunci keberhasilan
dari pengamatan dengan daily log.

F. Aplikasi Modelitas Asuhan Keperawatan Professional (MAKP)

Perubahan model sistem pemberian asuhan keperawatan sejalan dengan


perkembangan dan perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi di Indonesia,
model sistem asuhan keperawatan juga harus berubah menuju praktik
keperawatan profesional. Model sistem asuhan keperawatan yang dapat
dikembangkan adalah metode tim, primer, kasus dan gabungan (moduler)
(Nursalam, 2014).
Berikut langkah-langkah pengelolaan MAKP:
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data bisa didapatkan dari sumber daya manusia (M1-Man),
jumlah tenaga di ruangan Rumah Sakit, kebutuhan tenaga, penghitungan
BOR (Bed Occupacy Rate), diagnosis penyakit terbanyak, dan
penghitungan beban kerja perawat.

2. Analisis SWOT
Pada analisis SWOT ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
a. Pengisian item IFAS dan EFAS.

11
Cara pengisian faktor IFAS dan EFAS disesuaikan dengan komponen
yang ada dalam pengumpulan data. Data tersebut dibedakan menjadi
2, yaitu IFAS (internal factors) yang meliputi aspek Weakneses serta
Strength dan faktor EFAS (external factors) yang meliputi aspek
Opportunity serta Threatened.
b. Bobot
Pemberian bobot berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap
strategi perusahaan/ Rumah Sakit.
c. Peringkat (Rating)
Data rating didapatkan berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan
pengukuran langsung.
3. Identifikasi Masalah
Identifikasi setiap masalah berdasarkan ketenangan (M1), sarana dan
prasarana (M2), Metode (M3), prioritas masalah, dan mutu (M5).
4. Perencanaan (rencana strategis)
a. Pengertian
Supriyanto dan Damayanti (2007) menjelaskan perencanaan strategis
merupakan bagian dari manajemen strategi, yang memiliki arti suatu
perencanaan sebagai tindakan adaptif atau penyesuaian terhadap
tuntutan atau masalah atau perubahan yang ada di lingkungan
organisasi sehingga organisasi dapat melakukan tindakan adaptif
dalam tuntutan perubahan.
b. Penyusunan perencanaan strategis
Proses perencanaan strategis meliputi tiga tahap yaitu:
1) Perumusan yang meliputi pembagian misi, penentuan tujuan
utama, penilaian lingkungan eksternal dan internal dan evaluasi
serta pemilihan alternative;
2) Penerapan; dan
3) Pengendalian.

12
c. Indikator perencanaan strategis
Supriyono dan Damayanti (2007) menyatakan bahwa perencanaan
strategis yang berhasil efektif dan efisien dapat didasarkan pada:
1) Pemahaman, visi, misi, dan tujuan organisasi;
2) Pemahaman lingkungan eksternal organisasi (peluang dan
ancaman);
3) pemahaman kemampuan sumber daya internal (kekuatan dan
kelemahan);
4) penguasaan manajemen efektif, dan dapat dipengaruhi oleh
budaya organisasi.
d. Faktor yang mempengaruhi perencanaan strategis
Menurut Asmarani (2006) ada tiga faktor yang mempengaruhi
perencanaan strategis, di antaranya:
1) Faktor manajerial
2) Faktor lingkungan
3) Budaya organisasi
5. Pelaksanaan
Penerapan MAKP sesuai dengan perencanaan yang telah disusun
sebagaimana tertuang dalam GANN chart.
6. Evaluasi
a. Evaluasi struktur.
b. Evaluasi proses.
c. Evaluasi hasil.

13
14

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pemaparan di atas, bahwa model asuhan keperawatan
profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang
memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan
termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut.
Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan empat unsur,
yakni: standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan, dan sistem MAKP.
Selain adanya kerangka kerja dalam MAKP juga banyak faktor-faktor yang
berhubungan dalam perubahannya serta ada metode untuk pengelolaan sistem
MAKP tersebut.

B. Saran
Adapun saran yang dapat penyusun sampaikan, yaitu supaya perawat ketika
bekerja di Rumah Sakit dapat mengaplikasikan teori yang telah dipaparkan dalam
makalah ini guna untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang lebih
efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA

Error: Reference source not found (diakses pada tanggal 29 November 2017
Pukul 20:00)