Anda di halaman 1dari 34

makalah penyakit menular seksual

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penyakit kelamin adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan
seksual. Cara hubungan kelamin tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi
dapat juga secara ora-genital, atau ano-genital, sehingga kelainan yang timbul akibat
penyakit kelamin ini tidak terbatas hanya pada daerah genital saja, tetapi apat juga pada
daerah – daerah ekstra genital.
Meskipun demikian tidak berarti bahwa semuanya harus melalui hubungan kelamin,
tetapi ada beberapa yang dapat juga ditularkan melalui kontak langsung dengan alat –
alat, handuk, termometer, dan sebagainya. Selain itu penyakit kelamin ini juga dapat
menularkan penyakitnya ini kepada bayi dalam kandungan.
Pada waktu dulu penyakit kelamin di kenal sebagai Veneral Diseases yang berasal
dari kata venus (dewi cinta), dan yang termasuk dalam venereal diseases ini yaitu sifilis,
gonore, ulkus mole, limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale.
Ternyata pada akhir – akhir ini ditemukan berbagai penyakit lain yang juga dapat
timbul akibat hubungan seksual dan penemuan ini antara lain disebakan oleh perbaikan
sarana dan teknik laboratorium dan penemuan beberapa jenis penyaki secara epidemi
seperti herpes genetalis dan hepatitis B.
Oleh karena itu istilah V.D makin lama makin di tinggalkan dan di oerkenalkan
istilah Sexually Transmitted Diseases (S.T.D) yang berarti penyakit – penyakit yang
dapat di tularkan melalui hubungan kelamin, dan yang termasuk penyakit ini adalah
kelima penyakit V.D. tersebut di tambah berbagai lain yang tidak masuk V.D istilah
S.T.D. ini diindonesiakan menjadi P.M.S. (Penyakit Menular Seksual), ada pula yang
menyebutnya P.H.S. (penyakit hubungan seksual). Sehubungan P.M.S ini sebagian besar
di sebabkan oleh infeksi, maka kemudian istilah S.T.D telah di ganti menjadi S.T.I
(Sexually Transmitted Infection).

B. Rumusan Masalah
 Apa Definisi Penyakit Menular Seksual
 Apa Gejala PMS
 Bagaimana Cara penularan PMS
 Apa Bahaya atau Akibat PMS
 Tipe PMS yang umum terjadi
 Bagaimana Pencegahan PMS
 Bagaimana Penanganannya
 Bagaimana peran bidan dalam pencegahan dan penanggulangan PMS

C. Tujuan
 Untuk mengetahui Definisi Penyakit Menular Seksual
 Untuk mengetahui Gejala PMS
 Untuk mengetahui Bagaimana Cara penularan PMS
 Untuk mengetauhi Bahaya atau Akibat PMS
 Untuk mengetahui Tipe PMS yang umum terjadi
 Untuk mengetahui pencegahan PMS
 Untuk mengetahui penanganan dari PMS
 Untuk mengetahui cara bidan dalam pencegahan dan penanggulan PMN
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi
PMS adalah infeksi atau penyakit yang di tularkan melalui hubungan seks (oral,
anal, vagina) atau penyakit kelamin atau infeksi yang di tularkan melalui hubungan seks
yang dapat menyerang alat kelamin dengan atau tanpa gejala dapat muncul dan
menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, serta organ tubuh lainnya,
misalnya HIV/AIDS, Hepatitis B
Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang.
Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan
terinfeksi tentunya adalah seseorang yang sering “jajan” alias punya kebiasaan perilaku
yang tidak sehat.
Infeksi yang ditularkan lewat hubungan seksual, atau Penyakit kelamin menular
adalah penyakit yang cara penularanyya melalui hubungan kelamin. Yang ditularkan dari
satu orang ke orang lain saaat berhubungan badan. Tempat terjangkitnya penyakit
tersebut tidak semata-mata pada alat kelamin saja, tetapi dapat terjadi diberbagai tempat
diluar alat kelamin.yang tergolong dari penyakkit ini adalah : sifilis, gonore, ulkus mola,
linfegranuloma venereum, granuloma inguinale.

1.1 LATAR BELAKANG

Saat ini, penyakit menular seksual (PMS) makin marak menjangkiti banyak penduduk di
dunia, khususnya Amerika Serikat dan Kanada. Namun, tidak jarang pula penduduk di
Indonesia terjangkit berbagai jenis penyakit menular seksual tersebut. PMS sangat
berbahaya, karena tak sebatas menimbulkan efek pada organ kelamin semata, namun juga
dapat menimbulkan masalah lain pada beberapa alat indera seperti kulit, mata, dan lidah
(pada mulut). Hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dalam bidang
kesehatan seksual.

MENGETAHUI HIV/AIDS
Nama : Ni Putu Urmila Pujadevi
Kelas : IX5
Nomor : 40
Tahun Ajaran : 2011/2012
SMP Negeri 7 Denpasar
Jalan Gunung Rinjani

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya makalah dengan tema HIV/AIDS ini dapat terselesaikan.
Penulisan makalah dengan tema HIV/AIDS ini memiliki tujuan untuk memberikan
informasi serta menambah wawasan pembaca mengenai HIV/AIDS, baik itu cara penularan
maupun cara penanggulangan HIV/AIDS, dan sebagainya, mengingat remaja-remaja masa
kini banyak yang melakukan seks bebas.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak menemui kesalahan dan kesulitan
karena kurangnya wawasan dan ilmu pegetahuan, namun berkat bimbingan dan bantuan dari
berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari makalah dengan tema HIV/AIDS ini masih banyak kekurangan
dan perlu disempurnakan lagi, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Denpasar, Februari 2012


Penulis

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………………………
……..ii
DARTAR
ISI…..……………………………………………………………………………………..iii
BAB I (PENDAHULUAN)
1.1 Latar Belakang
Masalah…………….......................……………………..………………………..4
1.2 Rumusan
Masalah…………………………………………………………………………………4
1.3 Tujuan
Masalah…………………….......………………………………………………………….5
1.4
Manfaat……………….........………………………………………………………………
…….5
1.5
Metode.……………………………………………………………………………………
……...5
1.6 Ruang
Lingkup………………………………………......………………………..……………….
6
BAB II (PEMBAHASAN)
2.1 Pengertian
HIV/AIDS……………………………………………………......………………...….7
2.2 Sejarah
HIV/AIDS……………………………………………………………....…………….….8
2.3 Cara Peenularan
HIV/AIDS………………………………………………………………..….…..8
2.4 Cara Penanggulangan
HIV/AIDS………………………………………………………………….9
2.5 Mitos dan Fakta Masyarakat mengenai
HIV/AIDS……………………………….……….……….9
BAB III (PENUTUP)
3.1
Kesimpulan……………………………………………………………………………...………
….10
3.2
Saran……………….……………………………………………………..……………………1
0
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………………………
……iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Mendengar kata virus mungkin yang ada di pikiran kalian adalah sesuatu yang
membahayakan, apalagi mendengar virus HIV/AIDS. Kita semua mungkin sudah banyak
mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang HIV/AIDS, apalagi penyebaran HIV/AIDS ini
berlangsung secara cepat dan mungkin sekarang sudah ada di sekitar kita.
Sejauh ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini, bahkan
penyakit ini belum tentu bisa dicegah dengan vaksin. Tapi kita tidak perlu takut, dengan
membiasakan berperilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh
ajaran agama, maka kita akan terbebas dari HIV/AIDS.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.2.1 Apa itu HIV/AIDS ?
1.2.2 Bagaimana sejarah penyakit HIV/AIDS ?
1.2.3 Bagaimana cara penularan HIV/AIDS ?
1.2.4 Bagaimana cara penanggulangan HIV/AIDS ?
1.2.5 Bagaimana mitos dan fakta masyarakat mengenai HIV/AIDS ?

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain :
1.3.1 Mengetahui pengertian HIV/AIDS
1.3.2 Mengetahui sejarah HIV/AIDS
1.3.3 Mengetahui cara penularan HIV/AIDS
1.3.4 Mengetahui cara penanggulangan HIV/AIDS
1.3.5 Mengetahui mitos dan fakta masyarakat menegenai HIV/AIDS
1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin penulis capai adalah untuk memberikan informasi kepada
pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang HIV/AIDS,
sehingga dengan demikian kita semua dapat berusaha untuk menghindari diri dari
penyakit HIV/AIDS ini. Meskipun informasi yang penulis berikan melalui makalah
ini adalah sebagian kecil dan masih banyak kekurangan, tetapi setidaknya isi dari
makalah ini dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui tentang penyakit HIV/AIDS.
1.5 Metode
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam melengkapi makalah
ini, penulis menggunakan beberapa metode, antara lain :
1. Deskriptif
Pada metode ini ditunjukkan untuk memecahkan masalah yang ada ,
mengumpulkan data, sampai menarik kesimpulan dalam menyelesaikan makalah
ini.
2. Studi Pustaka
Pada metode ini, penulis membaca buku-buku yang berhubungan dengan
penulisan makalah ini terutama buku-buku yang berhubungan dengan HIV/AIDS,
dan mencari informasi pada internet.

1.6 Ruang Lingkup


Pada makalah ini, penulis akan membahas tentang pengertian HIV/AIDS, bagaimana
sejarah HIH/AIDS, bagaimana cara penularan HIV/AIDS, bagaimana cara penanggulangan
HIV/AIDS, dan bagaimana mitos dan fakta masyarakat mengenai HIV/AIDS. Jadi batas
pembahasan makalah ini hanya sampai pada mitos dan fakta masyarakat mengenai
HIV/AIDS.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang
menyerang sel darah putih manusia yang merupakan bagian terpenting dalam sistem
kekebalan tubuh manusia. Virus ini hidup di dalam darah penderita HIV, virus ini
juga tidak memandang usia, warna kulit, orientasi seksual, agama maupum faktor
pembeda lainnya. Sekali saja HIV hidup dalam tubuh kita, itu artinya kita sudah
terinfeksi virus ini, dan sejauh ini belum ada obat untuk memusnahkan virus HIV ini,
namun masih banyak upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari virus
HIV.
AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala
penyakit syndrome akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. Atau suatu
kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) yang merusak sel-sel kekebalan tubuh manusia.
Dalam proses perkembangan virus HIV dari infeksi menjadi penyakit AIDS
ada 4 fase, yaitu :
Fase 1 : Fase ini dimulai tepat setelah infeksi, dan berlangsung selama beberapa
minggu. Fase 1 ditandai dengan tidak enak badan seperti flu, meski pada 20%
penderita mengalami flu yang parah, namun tes HIV yang dilakukan pada fase ini
mungkin menunjukkan bahwa penderita tidak terinfeksi HIV.
Fase 2 : Fase ini adalah tahap terpanjang diantara fase lainnya, bahkan dapat
berlangsung hingga 10 tahun. Pada fase ini gejala pada penderita hampir tidak terlihat,
padahal sebenarnnya pada fase inilah virus sedang berkembang. Secara perlahan HIV
menghancurkan sel-sel CD-4 yang berjumlah banyak untuk melawan penyakit,
dengan sedikitnya sel-sel CD-4 yang penderita miliki, sistem kekebalan tubuh
penderita akan terus menurun, walaupun tubuh akan mengganti sel CD-4 yang rusak
sebanyak mungkin, namun tetap saja sel CD-4 akan kalah dengan perkembangan
virus HIV yang berkembang sangat cepat.
Fase 3 : Fase ini dimulai ketika sel CD-4 dalam tubuh sudah dikuasai virus HIV.
Ketika sistem kekebalan tubuh sudah gagal, penyakit-penyakit akan mudah masuk ke
dalam tubuh penderita, dan ironisnya penyakit ini mengendalikan tubuh penderita dan
berbagai gejala penyakitpun berkembang. Pada awalnya terjadi gejala-gejala ringan
seperti: lelah, diare, inveksi jamur, demam, berkeringat pada malam hari , berat badan
terus menurun, pembengkakkan elenjar limpa, sariawan terus menerus. Tetapi seiring
dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh, gejala-gejala ini akan semakin parah.
Fase 4 : Pada fase ini, ketika gejala-gejala penyakit seperti Tuberculosis (Kanker)
menjadi semakin parah, selanjutnya penderita didiagnosis menderita AIDS. Pada fase
ini obat-obatan anti virus hanya bisa memperlambat perkembangan virus HIV saja.
2.2 Sejarah HIV/AIDS
AIDS bermula dari daratan Afrika. Sejarah HIV/AIDS ini bermula dari
kebiasaan masyarakat setempat mengosumsi daging kera. Darah kera yang
mengandung virus HIV itu lalu masuk ke tubuh manusia, dan kemungkinan mereka
menyantap daging kera teresebut karena budaya mereka. Virus ini menyebar di benua
Afrika jauh sebelum penelitian AIDS dilakukan. Namun kematian yang dilaporkan
bukan karena HIV/AIDS saja, melainkan penyakit seperti TBC dan sesak napas
lainnya, dan kemungkinan penyakit ini juga termasuk gejala-gejala awal HIV/AIDS
(namun ada juga yang tidak).
Sejarah HIV/AIDS lainnya bermula pada tahun 1983 dari keberhasilan
penelitian oleh Jean Claude Cherman dan rekannya Francoise Barre Sinoussi dari
Perancis, yang berhasil membuktikan bahwa virus HIV adalah penyebab penyakit
AIDS. Nama AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) sendiri diberi nama
oleh Centre for Disease Control and Prevention (CDC), di Atlanta, AS. Sebelumnya
Jean Claude Cherman menyebutnya HTLV-III atau LAV.
2.3 Penularan HIV/AIDS
Virus HIV terdapat dalam darah, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua
specimen yang berupa cairan tubuh yang berasal dari tubuh penderita HIV dapat
dipastikan infeksius dan sangat potensial untuk menularkan virus ini pada orang lain
(namun ada juga cairan lain yang tidak tercemar virus HIV ini, salah satunya adalah
air liur), termasuk ketika seorang penderita HIV positif melakukan hubungan seksual
dengan pasangannya, dan bukan tidak mungkin bila nanti pasangan seksualnya
tersebut akan terinfeksi virus HIV juga, apalagi jika tidak menggunakan pengaman
(kondom).
Baik penderita pria maupun wanita sangat riskan untuk menularkan virus HIV
ini pada pasangan seksualnya ketika berhubungan badan, yakni melalui cairan
sperma bagi penderita pria, dan melalui darah menstruasi atau cairan lain pada vagina
bagi penderita wanita. Selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat ditularkan
melalui jarum suntik yang digunakan bersamaan oleh seseorang yang terinfeksi HIV
dengan orang yang tidak terinfeksi HIV, dan kemungkinan besar orang yang tidak
terinfeksi HIV ini akan terinfeksi HIV. Virus HIV juga dapat ditularkan oleh seorang
ibu yang positif terinfeksi HIV kepada bayinya pada waktu hamil atau menyusui,
karena air susu yang diberikan sang ibu positif terinfeksi HIV.
2.4 PENANGGULANGAN HIV/AIDS
Hindari hubungan seksual diluar nikah, dan usahakan hanya berhubungan
dengan satu pasangan seksual saja, gunakan kondom untuk mengurangi resiko
penularan HIV saat berhubungan badan, ibu yang terinfeksi HIV saat hamil sebaiknya
melakukan terapi atau vaksinasi agar kemungkinan kecil bayi yang dikandungnya
tidak terinfeksi HIV juga, bagi penderita HIV sebaiknya tidak melakukan donor
darah, penggunaan jarum suntik seperti akupuntur, tato, tindik harus dijamin
sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS,
yaitu: memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh
masyarakat tentang HIV/AIDS, melalui penyebaran brosur, poster-poster yang
berhubungan dengan HIV/AIDS, melakukan seminar-seminar terbuka atau melalui
iklan diberbagai media massa baik itu media cetak maupun media elektronik.
Penyaluran-penyaluran ini harus dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan kepada semua lapisan masyarakat, agar masyarakat dapat
mengetahui bahaya HIV/AIDS, sehingga berusaha menghindari diri dari sesuatu yang
dapat menyebabkan HIV/AIDS.
Bagi seseorang yang menderita AIDS sebaiknya selalu memeriksakan
darahnya sekitar 3-6 bulan sekali demi keselamatan pasangan seksualnya, selalu
mendekatkan diri pada Tuhan, dan bagi masyarakat harusnya memberi dukungan
pada penderita AIDS agar penderita AIDS ini lebih semangat menjalani sisa
hidupnya.
Dengan adanya usaha-usaha di atas, niscaya masalah AIDS dapat diatasi, dan
paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua
pihak.
2.5 Mitos dan Fakta Masyarakat Mengenai HIV/AIDS
Mitos 1 : HIV/AIDS akan menular jika tinggal satu rumah dengan penderita
HIV/AIDS
Fakta 1 : Tidak benar, karena HIV/AIDS adan menular melalui darah
Mitos 2 : HIV/AIDS akan menular melalui alat-alat makan
Fakta 2 : Tidak benar, karena HIV/AIDS adan menular melalui darah
Mitos 3 : HIV/AIDS akan menular melalui jabat tangan atau bersentuhan
langsung
Fakta 3 : Tidak benar, karena HIV/AIDS adan menular melalui darah
Mitos 4 : HIV/AIDS akan menular melalui ciuman basah
Fakta 4 : Tidak benar, karena virus HIV tidak terdapat di dalam air luir
Mitos 5 : Wanita penderita AIDS tidak dapat hamil
Fakta 5 : Tidak benar, ini sangat tidak dibenarkan, karena wanita penderita
AIDS dapat saja hamil, namun kemungkinan besar bayi yang
dikandungnya akan terinfeksi HIV juga

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, dan dapat
menyebabkan timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia,
sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan akhirnya meninggal. Penggunaan
narkotika suntikan, Homoseks, Biseks, WTS, maupun seks bebas adalah salah satu
penyebab terjadinya penyebaran HIV/AIDS secara cepat. Adapun gejala-gejala
penderita AIDS, yaitu : demam berkepanjangan, batuk dan sariawan yang terus
menerus, berat badan menurun drastis, dan sebagainya, yang akan diakhiri dengan
kematian. Oleh karena itu, kita harus melakukan pencegahan sedini mungkin,
misalnya: tidak melakukan hubungan seksual secara bebas, menghindari penggunaan
suntikkan narkoba, dan sebagainya.
Masalah HIV/AIDS ini tidak tentu akan menyebar luas apabila dilakukan
pencegahan sedini munkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak, dan
memegang teguh ajaran agama.
3.2 Saran
Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan
berusaha menghindari diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit HIV/AIDS.
Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah, jangan bergonta ganti pasangan
seksual. Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, pastikan jarum suntik yang
digunakan itu baru dan steril. Apabila melakukan transfusi darah, periksakan terlebih
dahulu apakah transfusi darah itu bebas dari virus HIV atau tidak. Bagi ibu hamil
yang terinveksi virus HIV, sebaiknya melakukan terapi atau vaksinasi pada janinnya,
agar nanti bayi yang dilahirkannya kemungkinan kecil terinveksi HIV, dan jangan
member ASI pada bayi, karena dari ASI itu virus HIV akan mudah masuk ke dalam
tubuh bayi.
Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika
melalui alat suntik, alat-alat tatto, anting tindik, dan sebagainya, karena alat-alat
seperti itu tidak ada gunanya, dan hindari diri dari pergaulan bebas yang bersifat
negatif.
Orang yang mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV, hendaknya
menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus HIV tidak
menular pada pasangan seksualnya. Dan ingat HIV/AIDS ada dimana saja dan kapan
saja bisa menyerang kita.

DAFTAR PUSTAKA

Suharma dkk. 2010. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMP KELAS IX. Bogor :
Yudistira
Sawali dkk. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTS Kelas IX. Yogyakarta: PT
Citra Aji Parama
http//www.google.com
http//www.masbied.com
http//id.wikipedia.org/wiki/AIDS
http//webgila.com/Health/HIV/AIDS
http//infopenyakit.com/2007/12

Makalah HIV/AIDS
Posted on May 3, 2012

Makalah tentang HIV/ AIDS dan Cara Pencegahannya

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kami mengankat masalah AIDS dalam Makalahini kami ingin mengetahui lebih jauh tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah AIDS tersebut. Seperti yang kita ketahui
bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum ada obatnya dan belum ada vaksin yang
bisa mencegah serangan virus HIV, sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit
yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia baik sekarang maupun waktu yang datang.

Selain itu AIDS juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi
mental. Mungkin kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik, ataupun
seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap penyakit AIDS.
Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara langsung karena gejalanya baru
dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari segi mental, orang yang mengetahui dirinya
mengidap penyakit AIDS akan merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan. Semua itu
menunjukkan bahwa masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari kehidupan kita semua.

Dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami sebagai pelajar, sebagai bagian
dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa, merasa perlu memperhatikan
hal tersebut. Oleh karena itu kami membahasnya dalam makalah ini.

TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan kami mengangkat masalah AIDS dalam Makalah ini adalah untuk mengkaji
dan mengetahui apa sebenarnya AIDS itu, mengapa AIDS perlu mendapat perhatian khusus,
serta bagaimana gejala-gejalanya. Selain itu kami Juga ingin mengetahui bagaimana
penularan AIDS, siapa saja yang kemungkinan besar bisa tertular AIDS, bagaimana keadaan
AIDS di Indonesia, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan AIDS.

MANFAAT PENELITIAN.
Adapun manfaat yang ingin kami capai adalah untuk memberikan informasi kepada para
pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang AIDS, sehingga dengan
demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa saja
menyebabkan penyakit AIDS. Meskipun informasi yang kami berikan melalui Makalah ini
hanya sebagian kecil dan mungkin masih mempunyai kekurangan, tetapi setidaknya isi dari
Makalah ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui tentangh AIDS itu sendiri.

RUMUSAN MASALAH.

Rumusan masalah adalah rumusan yang disusun untuk memahami apa dan bagaimana
masalah yang diteliti. Sesuai dengan judul makalah ini, yaitu bahaya AIDS dan cara
pencegahannya maka rumusan masalah adalah :

“ Apakah bahaya AIDS dan bagaimana cara pencegahannya ”.

HIPOTES

Hipotesa berasal dari kata Hype artinya kurang, dan tesis artinya pendapat atau penelitian.
Jadi Hipotesa adalah suatu pendapat atau pernyataan yang masih bersifat sementara dan
kebenarannya harus dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian (Jawaban sementara terhadap
masalah penelitian yang sudah ditetapkan).

Adapun Hipotesa dari makalah ini adalah orang yang selalu melakukan hubungan seksual
diluar nikah, lebih mudah terserang penyakit AIDS.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode adalah suatu cara yang digunakan dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan Penelitian
adalah seperangkat usaha yang terorganisasi untuk mengetahui, mengkaji, dan mengambil
fungsi dari sesuatu yang menjadi objek penelitian, yang sistimatis, terarah, dan mempunyai
tujuan. Jadi metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan untuk menemukan,
mengetahui, mengkaji, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu hal yang menjadi
objek penelitian .

Dalam melakukan sesuatu penelitian, ada beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu
observasi, wawancara, metode study perpustakaan, analisis media massa ataupun melalui
pembagian angket. Adapun metode yang kami gunakan dalam menyusun makalah ini adalah
:

Analisis Media Massa

Teknik analisa media massa termasuk metode pengumpulan data sekunder, yang dilakukan
dengan menganalisis media massa yang memuat uraian dan data-data yang erat kaitannya
dengan masalah yang diteliti.

Misalnya : Surat Kabar, majalah, dan sebagainya.


Metode Study Kepustakaan

Metode Study kepustakaan juga termasuk metode pengumpulan data sekunder dan hampir
sama dengan teknik analisis media massa. Melalui metode ini kita dapat memperoleh data
melalui buku-buku kepustakaan, karya-karya tulisan arsip-arsip, dan sebagainya.

Karena metode pengumpulan data yang kami gunakan adalah metode study perpustakaan dan
analisa media massa, maka data-data yang terdapat dalam makalah ini termasuk jenis data
SEKUNDER, yang diperoleh dari buku-buku, perpustakaan, majalah, surat kabar, dan
semacamnya. Meskipun dalam makalah ini terdapat data yang berbentuk angka, tetapi data-
data tersebut tidak termasuk data primer, karena angka tersebut kami peroleh dari buku-buku
perpustakaan dan media massa yang kami jadikan sumber pengambilan data.

BAB II

BAHAYA AIDS DAN CARA PENCEGAHANNYA

HIV DAN AIDS

HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia,
yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.

AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejala


kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.

BAHAYA AIDS

Oarang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama
hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang
berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus
AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan tekanan mental dan
penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau
menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan.
Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan
penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.

GEJALA-GEJALA AIDS

Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam
tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa
sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah + 3 bulan.
Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :

 Berat badan turun dengan drastis.


 Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
 Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab.
 Mencret atau diare yang berkepanjangan.
 Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM).
 Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
 Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-
kelamaan akan berakhir dengan kematian.

PENULARAN AIDS

Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular virus influensa. Kita tidak usak terlalu
mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan menular dengan cara –
cara seperti di bawah ini :

 Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual ).
 Bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita.
 Bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS.
 Makan dan minum.
 Gigitan nyamuk dan serangga lain.
 Sama-sama berenang di kolam renang

Hal-hal diatas bukan penyebab menularnya AIDS dapat terjadi melalui cara-cara sbb :

 melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV


 Transfusi darah yang mengandung virus HIV
 Melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah di pakai orang yang
mengidap virus AIDS
 Hubungan pranatal, yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS kepada
janin yang dikandungnya.

KELOMPOK YANG MEMPUNYAI RESIKO TINGGI TERTULAR AIDS

 Mereka yang sering melakukanhubungan seksual diluar nikah, seperti wanita dan pria tuna
susila dan pelanggannya.
 Mereka yang mempunyai bayak pasangan seksual misalnya : Homo seks ( melakukan
hubungan dengan sesama laki-laki ), Biseks ( melakukan hubungan seksual dengan sesama
wanita ), Waria dan mucikari.
 Penerima transfusi darah
 Bayi yang dilahirkan dari Ibu yang mengidap virus AIDS.
 Pecandu narkotika suntikan.
 Pasangan dari pengidap AIDS

CARA PENCEGAHAN AIDS

 Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang
pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain.
 Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual.
 Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil.
Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
 Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.
 Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin
sterilisasinya.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah
penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi
kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu
melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang
berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak
maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus
dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat
mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang
bisa menimbulkan virus AIDS.

USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN APABILA TERINFEKSI VIRUS AIDS

Usaha-usaha yang dilakukan terinfeksi virus AIDS disebut juga penerapan strategi
pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV / AIDS sangat penting mengetahui dinamika HIV,
serta perjalanan penyakit ( patogenesis ) sehingga dapat melakukan tindakan dan pengobatan
tepat waktu.

Beberapa harapan dan kabar baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di
Kanada saat ini cukup banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi.
Beberapa obat penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk
mendapat izin. Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral loard” yang prosesnya lebih
mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Dan semua usaha diatas seharusnya di
tunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi mereka yang termasuk
kelompok resiko tinggi terkena AIDS selalu memeriksakan darahnya secara teratur, paling
sedikit 3-6 bulan sekali, demi keselamatan pasangan seksualnya. Dan yang tidak kalah
penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Yaitu dengan melaksanakan ibadah-
ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya, agar
penderitaan yang dirasakan tidak terlalu berat. Dan bagi masyarakat hendaknya jangan
menjauhi mengucilkan mereka yang terinfeksi AIDS, tetapi seharusnya memberi dorongan
atau semangat hidup, misalnya melalui nasehat-nasehat yang bisamenumbuhkan rasa percaya
diri, sehingga mereka yang telah mengidap virus AIDS tidak putus asa dalam menjalani
hidupnya.

Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah AIDS dapat diatasi, paling tidak dapat
dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.

MISTERI PENDEMI HIV/AIDS DIDUNIA

WHO ( World Healty Organisation)

WHO melaporkan bahwa sejak pertengahan 1995, jumlah komulatif penderita AIDS
sebanyak 20 juta. 18,5 juta orang dewasa dengan separuhnya adalah kaum wanita, dan 1,5
juta adalah anak-anak. 50% dari penderita AIDS adalah kaum remaja /kaum muda dalam
kelompok berusia 15-24 tahun.

Sejak 1 Januari 1996 WHA melaporkan jumlah penderita AIDS sebanyak 41 juta HIV/AIDS
didunia. Dengan 35,4 juta remaja dan dewasa, 15,5 jutawanita, dan 5,6 juta anak-anak.
Sedangkan untuk tahun 2000 ini WHO memperkirakan jumlah HIV akan mencapai 30-40
juta dan jumlah AIDS 12-18 juta.

PENDEMI HIV/AIDS REGONAL ASIA TENGGARA


Pendemi HIV/AIDS regonal asia tenggara pada tahun 1994 secara komulatif ditemukan 3745
AIDS, sedangkan sudah diperkirakan lebih dari 2 jura dari 11 negara termasuk Indonesia, dan
jumlah tersebut akan menjadi 3,5 juta ditahun 1995.

SYNDROMA GUNUNG ES

Syndroma gunung es ini lebih menakutkan dunia, karena dengan ditemukannya HIV melalui
pemeriksaan darah secara efidemilogi penyebaran HIV dimasyarakat akan menjadi lebih
banyak 100-1000 kali. Sedangkan ditemukan satu AIDS berarti sudah ada 100-8000 orang
yang tertular. Dari data yang ditemukan, HIV AIDS dapat terkena pada siapa saja, baik orang
miskin, orang kaya, berpendidikan tinggi ataupun rendah, laki-laki maupun wanita dan
sabagainya.

Saat ini infeksi AIDS pada wanita meningkat dengan cepat, karena wanita merupakan
kelompok yang rendah dan mudah terinfeksi tanpa disadari. Sedangkan anak yang lahir dari
ibu yang mengidap HIV, setelah usia 2 tahun sudah mulai menunjukkan HIV terbesar 30-
40%.

SITUASI AIDS DI INDONESIA

Penyakit AIDS banyak ditemukan diluar negeri, tetapi karena hubungan dengan bangsa
menjadi semakin erat, maka penularannya harus tetap diwaspadai. Banyak orang asing datang
ke indonesia dan banyak pula orang indonesia pergi keluar negeri untuk berbagai keperluan.
Hal itu membuka kemungkinan terjadinya penularan AIDS.

Jumlah HIV/AIDS di Indonesia sampai akhir 1996, terdapat 449 kasus dengan 341 HIV dan
108 AIDS, terdapat di 16 propensi di Indonesia. Wanita yang terkena sebanyak 122 orang,
WNI sebanyak 304 orang, Heteroseksual 276 orang, homoseks dan biseks 84 orang, drag user
4 orang, perinatal 1 dan 80 tidak diketahui cara tranmisinya. Menurut golongan umur,
diindonesia ternyata yang paling banyak terserang AIDS adalah usia 20-29 tahun yaitu 120
orang, bayi yang berumur kurang dario 1 tahun dan 50 orang belum diketahui umurnya.

Dari 108 AIDS yang terbesar di 10 propinsi dan yang meninggal 66 orang, DKI Jakarta
terbanyak dengan 57 AIDS dan 35 sudah meninggal.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Tuhan YME. Mempunyai kekuasaan dalam mengatur segala sesuatu yang ada dimuka bumi
ini, Dialah yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Begitupun dengan segala
peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini misalnya : kebahagiaan, kesedihan bencana alam,
kelahiran, kematian, dan sebaginya. Muncullah virus HIV/AIDS merupakan salah satu
peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia.

HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, dan dan dapat menyebabkan
timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah
terserang penyakit dan lam kelamaan akan meninggal, sudah menjadi sifat manusia yang
selalu ingin merasakan kenikmanatan tanpa mempedulikan akibatnya, misalnya : melakukan
perzinahan, penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya. Kits umat manusia sudah
mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang,baik menurut ajaran agama
masing-masing maupun aturan hukum yang berlaku. Tetapi dari sebagian kita tetap saja
melakukan hal-hal tersebut, misalnya : WTS, Homoseks,Biseks, Mucikari, dan orang-orang
yang sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual diluar nikah. Dan
berbahaya, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya.

Adapun gejala-gejala yang dapat kita lihatpada penderita AIDS yaitu demam yang
berkepanjangan di sertai keringat malam, batuk dan sariwan yang terus menerus,berat badan
turun dengan drastis, dsb, yang akan di akhiri dengan kematian.

Oleh karena itu, kita harus menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan AIDS,
yaitu melalui pencegahan misalnya :tidak melakukan hubungan seksual secara bebas,
menghidarkan penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya.

AIDS merupakan cobaan atau bahkan hukuman daru Tuhan,yang tidak pernah di duga oleh
umat manusia.

Tapi bagaimanapun beratnya cobaan yang diberikan, Tuhan YME. Akan selalu membukakan
jalan bagi umatnya. Misalnya : sekarang dicanada telah ada obat anti HIV yang efektif untuk
pengobatan kombinasi. Masalah AIDS ini tidak tentu akan menyebar luas, apabila dilakukan
pencegahan secara dini, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.

SARAN

 Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha
menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
 Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti
pasangan seksual.
 Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan dulu apakah alat suntik
itu steril atau tidak.
 Apabila melakukan tranfusi darah, terlebih dahulu perikasakan apakah tranfusi darah itu
bebas dari virus HIV.
 Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat
suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa saja menularkan AIDS, karena
alat-alat aeperti itu tidak ada gunanya.dan hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat
negatif.
 Apabila ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang
mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan denganbaik, agar segala
sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan diri sejak dini dari
AIDS.
 Orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan kondom
apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada pasangan
seksualnya.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

“MISTERI PENDEMI HIV /AIDS” Oleh PAUL F. MATULESSY MD. MN.

BUKU PANDUAN BELAJAR SPK, KURIKULUM 1994 Penerbit.


DEPDIKBUD/DEPKES, tahun 1997
Brosur AIDS, yang diedarkan oleh Exposa bekerjasama dengan DEPKES, tahun 1999

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pertama kali dikenal pada tahun 1981 di
Amerika Serikat dan disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV-1). AIDS adalah
suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan system kekebalan tubuh; bukan penyakit bawaan
tetapi diddapat dari hasil penularan. penyakit ini merupakan persoalan kesehatan masyarakat
yang sangat penting di beberapa negara dan bahkan mempunyai implikasi yang bersifat
internasional dengan angka moralitas yang peresentasenya di atas 80 pada penderita 3 tahun
setelah timbulnya manifestasi klinik AIDS. Pada tahun 1985 Cherman dan Barre-Sinoussi
melaporkan bahwa penderita AIDS di seluruh dunia mencapai angka lebih dari 12.000 orang
dengan perincian, lebih dari 10.000 kasus di Amerika Serikat, 400 kasus di Francis dan
sisanya di negara Eropa lainnya, Amerika Latin dan Afrika. Pada pertengahan tahun 1988,
sebanyak lebih dari 60.000 kasus yang ditegakkan diagnosisnya sebagai AIDS di Amerika
Serikat telah dilaporkan pada Communicable Disease Centre (CDC) dan lebih dari
setengahnya meninggal. Kasus-kasus AIDS baru terus-menerus di monitor untuk ditetapkan
secara pasti diagnosisnya. Ramalan baru-baru ini dari United States Public Health Service
menyatakan, bahwa pada akhir tahun 1991, banyaknya kasus AIDS secara keseluruhan di
Amerika Serikat doperkirakan akan meningkat paling sedikit menjadi 270.000 dengan
179.000 kematian. Juga telah diperkirakan, bahwa 74.000 kasus baru dapat di diagnosis dan
54.000 kematian yang berhubungan dengan AIDS dapat terjadi selama tahun 1991 saja.
Sebagai perbandingan dapat dikemukakan, kematian pasukan Amerika selama masa perang
di Vietnam berjumlah 47.000 korban.
Selain itu, berdasarkan data Departemen kesehatan (Depkes) pada periode Juli-
September 2006 secara kumulatif tercatat pengidap HIV positif di tanah air telah mencapai
4.617 orang dan AIDS 6.987 orang. Menderita HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib,
sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis terutama pada penderitanya maupun pada
keluarga dan lingkungan disekeliling penderita.
Secara fisiologis HIV menyerang sisitem kekebalan tubuh penderitanya. Jika ditambah
dengan stress psikososial-spiritual yang berkepanjangan pada pasien terinfeksi HIV, maka
akan mempercepat terjadinya AIDS, bahkan meningkatkan angka kematian. Menurut Ross
(1997), jika stress mencapai tahap kelelahan (exhausted stage), maka dapat menimbulkan
kegagalan fungsi system imun yang memperparah keadaan pasien serta mempercepat
terjadinya AIDS. Modulasi respon imun penderita HIV/AIDS akan menurun secara
signifikan, seperti aktivitas APC (makrofag); Thl (CD4); IFN ; IL-2; Imunoglobulin A, G, E
dan anti-HIV. Penurunan tersebut akan berdampak terhadap penurunan jumlah CD4 hingga
mencapai 180 sel/ l per tahun.
Pada umumnya, penanganan pasien HIV memerlukan tindakan yang hampir sama.
Namun berdasarkan fakta klinis saat pasien control ke rumah sakit menunjukkan adanya
perbedaan respon imunitas (CD4). Hal tersebut menunjukkan terdapat factor lain yang
berpengaruh, dan factor yang diduga sangat berpengaruh adalah stress.
Stress yang dialami pasien HIV menurut konsep psikoneuroimunologis, stimulusnya
akan melalui sel astrosit pada cortical dan amigdala pada system limbic berefek pada
hipotalamus, sedangkan hipofisis akan menghasilkan CRF (Corticotropin Releasing Factor).
CRF memacu pengeluaran ACTH (Adrenal corticotropic hormone) untuk memengaruhi
kelenjar korteks adrenal agar menghasilkan kortisol. Kortisol ini bersifat immunosuppressive
terutama pada sel zona fasikulata. Apabila stress yang dialami pasien sangat tinggi, maka
kelenjar adrenal akan menghasilkan kortisol dalam jumlah besar sehingga dapat menekan
system imun (Apasou dan Sitkorsky,1999), yamg meliputi aktivitas APC (makrofag); Th-1
(CD4); sel plasma; IFN ; IL-2;IgM-IgG, dan Antibodi-HIV (Ader,2001).
Perawat merupakan factor yang berperan penting dalam pengelolaan stress, khususnya
dalam memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat
beradaptasi dengan sakitnya. Selain itu perawat juga berperan dalam pemberian dukungan
social berupa dukungan emosional, informasi, dan material (Batuman, 1990; Bear, 1996;
Folkman Dan Lazarus, 1988).
Salah satu metode yang digunakan dalam penerapan teknologi ini adalah model asuhan
keperawatan. Pendekatan yang digunakan adalah strategi koping dan dukungan social yang
bertujuan untuk mempercepat respon adaptif pada pasien terinfeksi HIV, meliputi modulasi
respon imun (Ader, 1991 ; Setyawan, 1996; Putra, 1990), respon psikologis, dan respon
social (Steward, 1997). Dengan demikian, penelitian bidang imunologi memilki empat
variable yakni, fisik, kimia, psikis, dan social, dapat membuka nuansa baru untuk bidang ilmu
keperawatan dalam mengembangkan model pendekatan asuhan keperawatan yang
berdasarkan pada paradigm psikoneuroimunologi terhadap pasien HIV (Nursalam, 2005).
B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian dari HIV/AIDS ?


2. Bagaimana patofisiologi virus HIV ?
3. Bagaimana manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang dalam penanganan
penularan virus HIV/AIDS ?

C. Tujuan

1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS serta memahami bahayanya.


2. Mengetahui dan memahami patofisiologi virus HIV.
3. Mengetahui dan mendeskripsikan manifestasi klinik dan pemeriksaan
penunjang dalam menangani penularan virus HIV/AIDS.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian HIV/AIDS
AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang
menyerang tubuh manusia seesudah system kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat
kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena bebrbagai jenis infeksi bakteri,
jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering
kali menderita keganasan,khususnya sarcoma Kaposi dan imfoma yang hanya menyerang
otak. Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. Retrovirus
mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus
DNA dan dikenali selam periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV
menginfeksi tubuh dengan periode imkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya
menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan
system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari
CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam prose itu, virus tersebut menghancurkan
CD4+ dan limfosit.
Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang
dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural.
Tiga gen tersebut yaitu gag, pol, dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili
polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh,
Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase,
protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan
glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif,
vpu, dan vpr.

Siklus Hidup HIV


Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini
berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu baru untuk mereplikasi diri.
Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap
oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel
yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh
darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
 Masuk dan mengikat
 Reverse transkripstase
 Replikasi
 Budding
 Maturasi

Tipe HIV
Ada 2 tipe HIV yang menyebabkan AIDS: HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam
subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan
kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe
HIV-1 dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV
baru d seluruh dunia

B. Etiologi
HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV)
atau human T-cell leukemia virus 111 (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell
lymphotrophic virus (retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun
1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada
tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah.
Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung
virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.
Hiv TERDIRI ATAS hiv-1 DAN hiv-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas
dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk
merusak sel darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa
factor T4 (CD4). Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper
secara progresif dan menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi
sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali
virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh
korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi
virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang
agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga
penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang
dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang
terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak
sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan
berkembang menjadi AIDS yang full-blown.

C. Patofisiologi Virus HIV/AIDS


1. Mekanisme system imun yang normal
Sistem imun melindungi tubuh dengan cara mengenali bakteri atau virus yang
masuk ke dalam tubuh, dan bereaksi terhadapnya. Ketika system imun melemah
atau rusak oleh virus seperti virus HIV, tubuh akan lebih mudah terkena infeksi
oportunistik. System imun terdiri atas organ dan jaringan limfoid, termasuk di
dalamnya sumsum tulang, thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix,
darah, dan limfa.
o Sel B
Fungsi utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral.
Masing-masing sel B mampu mengenali antigen spesifik dan
mempunyai kemampuan untuk mensekresi antibodi spesifik.
Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen, membuat
antigen lebih mudah untuk difagositosis (proses penelanan dan
pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan
membungkus antigen dan memicu system komplemen (yang
berhubungan dengan respon inflamasi).
o Limfosit T
Limfosit T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
a. Regulasi sitem imun
b. Membunuh sel yang menghasilkan antigen
target khusus.
Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti
CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakannya dengan sel
lain. Sel CD4+ adalah sel yang membantu mengaktivasi sel B,
killer sel dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel
CD8+ membunuh sel yang terinfeksi oleh virus atau bakteri
seperti sel kanker.
o Fagosit
o Komplemen

2. Penjelasan dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV


Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang
dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural.
Tiga gen tersebut yaitu gag, pol, dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili
polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh,
Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase,
protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan
glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif,
vpu, dan vpr.
Siklus Hidup HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini
berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu beru untuk mereplikasi diri.
Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap
oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel
yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh
darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
 Masuk dan mengikat
 Reverse transkripstase
 Replikasi
 Budding
 Maturasi

3. Tipe dan sub-tipe dari virus HIV.


Ada 2 tipe HIV yang menyebabk
an AIDS: HIV-1 yang HIV-2. HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih
cepat. Berbagai macam subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis
yang spesifik dan kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1
dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d
seluruh dunia.

4. Efek dari virus HIV terhadap system imun


 Infeksi Primer atau Sindrom Retroviral Akut (Kategori Klinis A)
Infeksi primer berkaitan dengan periode waktu di mana HIV
pertama kali masuk ke dalam tubuh. Pada waktu terjadi infeksi primer,
darah pasien menunjukkan jumlah virus yang sangat tinggi, ini berarti
banyak virus lain di dalam darah.
Sejumlah virus dalam darah atau plasma per millimeter mencapai
1 juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering menunjukkan sindrom
retroviral akut. Tanda dan gejala dari sindrom retrovirol akut ini
meliputi : panas, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare,
berkeringat di malam hari, kehilangan berat badan, dan timbul ruam.
Tanda dan gejala tersebut biasanya muncul dan terjadi 2-4 minggu
setelah infeksi, kemudian hilang atau menurun setelah beberapa hari
dan sering salah terdeteksi sebagai influenza atau infeksi
mononucleosis.
Selama imfeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam darah
menurun dengan cepat. Target virus ini adalah limfosit CD4+ yang ada
di nodus limfa dan thymus. Keadaan tersebut membuat individu yang
terinfeksi HIV rentan terkena infeksi oportunistik dan membatasi
kemampuan thymus untuk memproduksi limfosit T. Tes antibody HIV
dengan menggunakan enzyme linked imunoabsorbent assay (EIA) akan
menunjukkan hasil positif.

5. Cara penularan HIV/AIDS


Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :
1. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV
tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual
berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai selaput
lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam
cairan tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995). Selama
berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding vagina, dubur, dan
mulut yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah pasangan
seksual (Syaiful, 2000).
2. Ibu pada bayinya
Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan
laporan CDC Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01%
sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS,
kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau
gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%
(PELKESI, 1995). Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui
transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa
bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).
3. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh
darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alat-alat
lain yang darah,cairan vagina atau air mani yang terinfeksi HIV,dan
langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa
menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5. Alat-alat untuk menoleh kulit
Alat tajam dan runcing seperti jarum,pisau,silet,menyunat seseorang,
membuat tato,memotong rambut,dan sebagainya bisa menularkan HIV
sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa disterilkan terlebih dahulu.
6. Menggunakan jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di
gunakan oleh parah pengguna narkoba (injecting drug user-IDU) sangat
berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai IDU
secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur, pengaduk,dan
gelas pengoplos obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu
tangan,toilet yang di pakai secara bersama-sama,berpelukan di
pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, gigitan
nyamuk,dan hubungan social yang lain.

D. Manifestasi Klinis
Gejala dini yang sering dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai

flu biasa sebelum tes serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat

badan lebih dari 10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik,

kelelahan, limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi

HIV yaitu :

1.Infeksi HIV Stadium Pertama

Pada fase pertama terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi

gejala-gejala yang mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.

2.Persisten Generalized Limfadenopati


Terjadi pembengkakan kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu

malam atau kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh

jamur kandida di mulut.

3.AIDS Relative Complex (ARC)

Virus sudah menimbulkan kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi

berbagai jenis infeksi yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini

penderita menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan

penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah

dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.

4.Full Blown AIDS.

Pada fase ini sistem kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap

infeksi sehingga dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru

pneumocytik, sarcoma kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman

opportunistik, gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum

saatnya. Jarang penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum

waktunya.

E. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human

Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan

kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan

isolasi social.
2. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,

ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit

kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan

maranik endokarditis.

4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human

Immunodeficienci Virus (HIV)

c. Gastrointestinal
1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,

dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat

badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.

2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal,

alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam

atritis.

3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal

yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri

rectal, gatal-gatal dan siare.

d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek ,batuk, nyeri,
hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek
nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
 Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

 Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan

pendengaran dengan efek nyeri.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan uji antibody terhadap antigen virus
structural. Hasil positif palsu dan negative palsu jarang terjadi.
2. Untuk transmisi vertical (antibody HIV positif) dan serokonversi (antibody
HIV negative), serologi tidak berguna dan RNA HIV harus diperiksa. Diagnosis
berdasarkan pada amflikasi asam nukleat.
3. Untuk memantau progresi penyakit, viral load (VL) dan hitung DC4
diperiksa secara teratur (setiap8=12 minggu). Pemeriksaan VL sebelum
pengobatan menentukan kecepatan penurunan CD4, dan pemeriksaan
pascapengobatan (didefinisikan sebagai VL <50 kopi/mL). menghitung CD4
menetukan kemungkinan komplikasi, dan menghitung CD4 >200 sel/mm3
menggambarkan resiko yang terbatas. Adapun pemeriksaan penunjang dasar
yang diindikasikan adalah sebagai berikut :
Semua pasien CD4 <200 sel/mm3
Antigen permukaan HBV* Rontgen toraks
Antibody inti HBV+ RNA HCV
Antibody HCV Antigen kriptokukus
Antibody IgG HAV OCP tinja
Antibody Toxoplasma
Antibody IgG sitomegalovirus CD4 <100 sel/mm3
Serologi Treponema PCR sitomegalovirus
Rontgen toraks Funduskopi dilatasi
Skrining GUM EKG
Sitologi serviks (wanita) Kultur darah mikrobakterium
 HAV, hepatitis A, HBV, hepatitis B, HCV, hepatitis C
 *Antigen/antibody e HBV dan DNA HBV bila positif.
 + Antibodi permukaan HBV bila negative dan riwayat imunisasi
 Bila terdapat kontak/riwayat tuberculosis sebelumnya, pengguna
obat suntik dan pasien dari daerah endemic tuberculosis.
4. ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) adalah metode yang
digunakan menegakkan diagnosis HIV dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu
sebesar 98,1-100%. Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah
infeksi.
5. WESTERN blot adalah metode yang digunakan menegakkan diagnosis HIV
dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaanya
cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
6. PCR (polymerase Chain Reaction), digunakan untuk :
a. Tes HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada pada bayi yang
dapat menghambat pemeriksaan secara serologis. Seorang ibu yan menderita
HIV akan membentuk zat kekebalan untuk melawan penyakit tersebut. Zat
kekbalan itulah yang diturunkan pada bayi melalui plasenta yang akan
mengaburkan hasil pemeriksaan, seolah-olah sudah ada infeksi pada bayi
tersebut. (catatan : HIV sering merupakan deteksi dari zat anti-HIV bukan
HIV-nya sendiri).
b. Menetapakan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok
berisiko tinggi.
c. Tes pada kelompok berisiko tinggi sebelum terjadi serokonversi.
d. Tes konfirmasi untuk HIV-2, sebab ELISA mempunyai sensitivitas
rendah untuk HIV-2.
7. Serosurvei, untuk mengetahui prevalensi pada kelompok berisiko,
dilaksanakan 2 kali pengujian dengan reagen yang berbeda.
8. Pemeriksaan dengan rapid test (dipstick).

G. Tata Laksana HIV


Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang

tidak terinfeksi.

2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir

yang tidak terlindungi.

3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status

Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.

4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.

5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya


yaitu :
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik

Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,


nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah
kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
1. Terapi AZT (Azidotimidin)

Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien
AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
1. Terapi Antiviral Baru

Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan


menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obat ini adalah :
1. Didanosine

2. Ribavirin

3. Diedoxycytidine

4. Recombinant CD 4 dapat larut

1. Vaksin dan Rekonstruksi Virus

Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon,
maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian
dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman
dan keberhasilan terapi AIDS.
1. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan

sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang

mengganggu fungsi imun.

2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan

mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).


DAFTAR PUSTAKA
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan
pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog Kedokteran.


Jakarta Barat: Binarupa Aksara

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series