Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam system
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam UUD NKRI 1945. Organisasi ini adalah organisasi non profit yang
bertujuan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat umum yang dapat
berupa peningkatan keamanan, peningkatan mutu pendidikan, atau
peningkatan mutu kesehatan dan lain-lain.
Organisasi pemerintah ini memiliki karakteristik tersendiri yang
lebih terkesan sebagai lembaga politik daripada lembaga ekonomi. Akan
tetapi, organisasi ini juga cenderung memiliki kesamaan dengan lembaga-
lembaga lainnya, yaitu memiliki aspek sebagai lembaga ekonomi. Di satu
sisi organisasi pemerintahan melakukan berbagai bentuk pengeluaran guna
membiayai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan pandangan aspek
ekonomi, dan di sisi lain organisasi ini harus melakukan berbagai upaya
untuk memperoleh penghasilan guna menutupi seluruh biaya tersebut
dengan pandangan aspek politik.
Namun dalam setiap pengeluaran biaya kegiatan-kegiatanpun
termasuk berawal dari implementasi suatu kebijakan, seperti contohnya
kebijakan dalam menigkatkan pelayanan keamanan dalam transportasi,
tentu ada dana yang dikeluarkan untuk menjadi modal dalam kelancaran
suatu kebijakan yang bersangkutan. Jadi, kebijakan daerahpun penting
untuk memajukan suatu daerah dan mensejahterakan rakyatnya yang
termasuk dalam kewajiban pemerintah daerah.

B. STUDI KASUS

Tingkatkan Pelayanan Terminal Pulo Gebang Perlu dibentuk BLUD

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 1


JAKARTA- Pemprov DKI siapkan terminal utama dan lima terminal
bantuan angkutan mudik pada musim lebaran 2017. Dinas perhubungan
harapkan, Terminal Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur, dikelola oleh
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) untuk meningkatkan pelayanan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah
mengatakan, untuk melayani musim mudik 2017, pihaknya telah
mempersiapkan tiga terminal Tipe A, yakni Terminal Pulo Gerbang,
Kalideres, dan Kampung Rambutan.
Nantinya, apabila kodisi tiga terminal tersebut di luar prediksi,
pihaknya akan mengoprasikan lima terminal bantuan, di antaranya yakni,
Terminal Lebak Bulus, Grogol, Rawamangun, Pulo Gandung dan Pasar
Minggu.
Andri mengaku, bila pelayanan Terminal Pulo Gebang yang sudah
beroperasi melayani musim mudik 2016 tidak mengalami perbedaan yang
signifikan pada musim mudik tahun ini. Hanya saja, bus pengumpunan
yang melayani kea rah terminal Pulo Gebang lebih banyak pada tahun ini.
“Pelayanan I Teminal Pulo Gebang masih sama, yakni ke Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Peningkatan pelayanan di Terminal Pulo Gerbang
idealnya menggunakan BLUD,” kata Andri Yansyah saat dihubungi, Jumat
(12/5/2017).
Andri menjelaskan, sejak dilauncing pada akhir tahun lalu,
Terminal Pulo Gebang masih berada di bawa Unit Pengelolaan (UP) yang
mesti menunggu anggran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) untuk
meningkatkan pelayanan. Dimana, untuk keperluan listrik, air dan
sebagainya saja, Terminal Pulo Gebang membutuhkan amggaran Rp 21
Miliar.
Padahal, kata Andri, untuk memberikan pelayanan khusus di
Terminal Pulo pelayanan Khususnya di Terminal Pulo Gebang yang
dimimpikan menjadi terminal internasional, tidak bisa menunggu anggaran
yang jadwalnya sudah ditentukan.
“Sistem Informasi Tekhnologi (IT) harus dipasang agar
pengawasan dan pelayanan dimaksimal. Belum kalau ada kerusakan
operasional pelayanan yang mendadak di terminal, atap bocor dan

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 2


sebagainya. Itu tidak bisa menunggu anggaran daerah yang sudah punya
jadwal,” ungkapnya.

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memahami mengenai kebijakan daerah.
2. Untuk menganalisis kebijakan peningkatan pelayanan keamanan
transportasi pada studi kasus.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. PERENCANAAN KEBIJAKAN

Bridgeman-Davis dan Ferma-Yuwono dalam Nurcholis (2007:266) Perencanaan


kebijakan diartikan:

1. Proses untuk menentukan dan mengatur persoalan-persoalan publik dalam


rangka mencapai kesejahteraan bersama.

2. Proses merumuskan keputusan yang diambil untuk mengurus masalahmasalah


publik.

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 3


3. Pengaturan masalah umum yang hanya bisa dilakukan oleh lembaga (organisasi
publik) yang sah karena mempunyai kekuatan memaksa kepeda seluruh
masyarakat tanpa pandang bulu

4. Memiliki dimensi yang luas oleh karena itu perencanaan hams dilaksanakan
secara baik, matang, terfokus, terarah dan terorganisir.

Karakteristik perencanaan publik yang baik menurut Bajuri dan Yuwono (2002)
dalam Nurcholis (2007:266) adalah sebagai berikut:

1. Merupakan respon positif dan proaktif terhadap kepentingan publik.

2. Merupakan hasil dari konsultasi publik, debat publik atau analisis yang
mendalam, rasional dan ditujukan untuk kepentingan umum.

3. Merupakan hasil dari manajemen partisipatif yang tetap membuka diri


terhadap masukan sebelum ditetapkan sebagai kebijakan.

4. Akan menghasilkan rencana kebijakan yang mudah dipahami, mudah


dievaluasi, indikatornya jelas sehingga mekanisme akuntabilitasnya
mudah dipahami.

5. Merupakan produk pemikiran yang panjang yang telah


mempertimbangkan berbagai hal yang mempengaruhinya.

6. Merupakan perencanaan yang bervisi ke depan dan berdimensi Iuas karena


tidak diabaikan untuk kepentingan sesaat semata-mata.

Pada Pemerintah Daerah, lembaga sah yang membuat perencanaan kebijakan


publik adalah kepala daerah (KDH) dan DPRD. Langkah-langkah dalam
perencanaan kebijakan daerah menurut Nurcholis (2007: 267) adalah sebagai
berikut:

1. Membuat agenda kebijakan.

2. Melakukan identifikasi kebutuhan.

3. Membahas ususlan yang konkrit berdasarkan hasil identifikasi.


ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 4
4. Membahas usulan yang telah disajikan secara sistematis dan logis dalam
DPRD.

5. Penetapan kebijakan dalam bentuk peraturan daerah.

6. Melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan dalam perda oleh


pemerintah daerah.

Contoh perencanaan kebijakan daerah adalah APBD. Alur proses pembuatan


APBD adalah sebagai berikut (N urcholis, 2007: 267-268):

1. Pemerintah Daerah menyususn rancangan APBD sesuai dengan arah dan


kebijakan umum yang disepakati dan dipertajam dengan masukan masyarakat.
Dasar penyususnan rancangan APBD adalah need assessment, penilaian
kebutuhan, ketersediaan sumber daya dan penetapan sasaran-sasaran yang akan
dicapai

2. Pemerintah daerah menyampaikan rancangan APBD kepada DPRD

3. DPRD membahas rancangan APBD tersebut bersama eksekutif, masyarakat


yang diwakili oleh tokoh-tokoh masyarakat, kelompok kepentingan, kelompok
penekanan seperti mahasiswa, LSM.

4. DPRD menyetujui rancangan APBD menjadi APBD definitif.

5. Kepala Daerah menetapkan APBD yang telah disetujui DPRD tersebut menjadi
perda.

6. Pemerintah Daerahomelaksanakan APBD tersebut


Menyusun arah dana kebijakan/ Pembangunan
Jangka Panjang

o Menyusun Rencana Pembangunan Jangka


Menengah

o PEMDA Menyusun Program DPRD


PEMDA DPRD
o Pembangunan Daerah Tahunan

o Menetapkan Program Pembangunan Daerah

ADMINISTRASI
o Menyusun Perda PEMERINTAHAN
(Tentang APBD, dll) DAERAH 5

o Menetapkan Perda

o Melaksanakan Perda
Masyarakat

Sumber : Nurcholis (2007; 263)

Gambar 8.1. Perencanaan Kebijakan Pemerintah Daerah

B. PELAKSANAAN KEBIJAKAN

Setelah kebijakan publik ditetapkan langkah selanjutnya adalah melaksanakan


kebijakan tersebut. Kebijakan pemerintah daerah ditetapkan oleh kepala daerah
dengan persetujan dari DPRD dalam bentuk peraturan daerah. Yang wajib
melaksanakan perda adalah pemerintah daerah sebagai eksekutif. Pemerintah
daerah yang terdiri dari kepala daerah dan perangkat daerah menyusun strategi
pelaksanaan kebijakan, sekretariat daerah menyediakan data dan informasi yang
berkaitan dengan pokok kebijakan, menyediakan pelayanan administrasi kepada
seluruh perangkat daerah. Sekretaris daerah melakukan koordinasi dengan dinas
dan lembaga teknis. Dinas sebagai pelaksana kebijakan membuat perumusan
teknis sesuai dengan lingkup tugasnya, memberikan perizinan dan pelayanan
umum dan melakukan monitoring terhadap tugas yang menjadi lingkup tugasnya
(Nurcholis, 2007:268-269).

Agar pelaksanaan kebijakan berjalan dengan baik menurut Nurcholis


(2006:272) maka kebijakan hendaknya:

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 6


a. Dirancang sesuai dengan kerangka acuan dan teori yang kuat

b. Korelasi yang jelas antara kebijakan dan implementasinya

c. Ditetapkan adanya organisasi yang mengkoordinir pelaksanaan kebijakan


sehingga proses implementasi kebijakan dapat berjalan baik.

d. Dilakukan sosialisasi kebijakan yang akan diterapkan sampai organisasi


pelaksana tingkat terbawah

e. Dilakukan pemantauan secara terus menerus.

f. Diberi bobot yang sama penting antara kebijakan dan implementasinya.

Agar kebijakan berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka
diperlukan suatu kondisi yang mendukung implementasi kebijakan. Menurut
Nurcholis (2007: 272) terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhi kebijakan,
yaitu:

a. Dukungan dan penolakan dari lembaga eksternal.

b. Ketersediaan waktu dan sumber daya yang cukup.

c. Dukungan dari berbagai surnber daya yang ada, makin banyak yang
mendukung makin tinggi tingkat kesuksesannya.

d. Kemampuan pelaksana kebijakan menganalisis kausalitas persoalan yang


timbul dari pelaksana kebijakan

e. Kepatuhan para pelaksana kebijakan terhadap kesepakatan dan tujuan


yang telah diciptakan dalam tingkat koordinasi.

Kelima kondisi ini sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan sebuah


kebijakan. Misalkan Dukungan dan penolakan dari lembaga eksternal, apabila
suatu kebijakan itu didukung oleh LSM, masyarakat, kelompok profesia clan
lembaga lain diluar lembaga pelaksana tentunya akan mengurangi hambatan
dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Begitu pula dengan ketersediaan sumber

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 7


daya, baik manusia maupun modal keuangan dan peralatan atau perlengkapan.
Apabila suatu kebijakan tidak didukung oleh sumber daya manusia yang
kompeten tentunya akan sulit bagi pelaksana tersebut dalam memecahkan masalah
apabila terjadi hambatan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.

BAB III

PEMBAHASAN
Berdasarkan studi kasus, yang menjadi sorot utamanya ialah mengenai
keefektifan pengelolaan angkutan mudik lebaran yang dikelola oleh Badan
Layanan Umum Daerah. Terlihat setelah implementasi dari kebijakan dalam
penambahan beberapa Terminal di Pulo Gebang; Kalideres, Kampung Rambutan,
Lebak Bulus, Grogol, Rawamangun, Pulo Gadung, dan Pasar Minggu daerah
Jakarta Timur bahwa pengelolaan dalam peningkatan pelayanan Terminal Pulo
Gebang oleh BLUD yang dilimpahkan oleh Dinas Perhubungan diharapkan dapat
memperlancar arus transportasi mudik dengan aman sudah efektif.

Dikatakan bahwa implementasi kebijakan pengelolaan peningkatan


pelayanan Terminal Pulo Gebang efektif karena, operasi atau pelaksananaan
peningkatan pelayanan ini sudah berlangsung sejak satu tahun terakhir dan
mendapat respon atau dampak yang positif dari masyarakat. Artinya, kebijakan ini
pro pada masyarakat dan berhasil menjadi solusi dari rumusan masalah angkutan
mudik yang kurang dalam segi jumlah dan fasilitas, maka diadakannya
penambahan terminal ynag memadai dan maksimal. Serta karena kondisi dan

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 8


pelayanan di Terminal Pulo Gebang telah terlaksana dengan baik, Dinas
perhubungan akan menambah terminal bantuan dan juga menambah fasilitas
dimana untuk keperluan listrik, air, dan sebagainya. Oleh karenanya dalam proses
pembukaan Terminal Pulo Gebang diharapkan bisa menjadi Terminal
Internasional, dengan harus menggunakan sistem Informasi Teknologi yang wajib
dipasang agar pengawasan dan pelayanan lebih maksimal lagi.

Berdasarkan tinjauan pusataka, tentunya dalam mengambil suatu


kebijakan perlu ada rumusan masalah dan perencanaan kebijakan yang
mendahuluinya. Perencanaan kebijakan diartikan sebagai proses untuk
menentukan dan mengatur persoalan-persoalan, untuk mengurus masalah dalam
rangka mencapai kesejahteraan bersama, disahkan oleh lembaga yang sah dan
memiliki dimensi yang luas secara baik, matang, terfokus, terarah, dan
terorganisir. Berdasarkan studi kasus, Perencanaan Kebijakan Peningkatan
Pelayanan dengan Penambahan Terminal di Pulo Gebang merupakan proses untuk
mengurus masalah yang timbul karena kurangnya angkutan mudik dan fasilitas
yang tidak layak, disahkan oleh Pemerintah Daerah Jakarta Timur, memiliki
dimensi yang luas secara baik karena berdampak positif dan pro terhadap
masyarakat, matang sudah terlaksana dengan APBD sebagai sumber modal
kelancaran kebijakan, terfokus untuk mengatasi solusi transportasi mudik, dan
terorganisir untuk masyarakat yang ingin mudik pada tahun 2017.

Menurut studi kasus, Kebijakan Penambahan Terminal Pulo Gebang dalam


peningkatan pelayanannya merupakan respon positif dan proaktif kepentingan
public terhadap arus mudik yang terus bertambah setiap tahunnya, dan selalu
diperlukannya akses trasnportasi yang lancar agar mudik menjadi mudah.
Kebijakan ini juga merupakan hasil dari konsultasi public, debat publik atau
analisis yang mendalam, rasional dan ditujukan untuk kepentingan umum, oleh
DisHub DKI dan BLUD Jakarta Timur yang ditujukan untuk kepentingan
masyarakat yang ingin mudik. Kebijakan itu pula merupakan hasil dari
manajemen partisipatif yang tetap membuka diri terhadap masukan sebelum
ditetapkan sebagai kebijakan, maksudnya tentu dalam perencananaan yang baik

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 9


tata kelola dalam partisipasi BLUD menjadi masukan sebelum dan juga sudah
ditetapkannya sebagai kebijakan. Kebijakan tersebut juga akan menghasilkan
rencana kebijakan yang mudah dipahami, mudah dievaluasi, indikatornya jelas
sehingga mekanisme akuntabilitasnya mudah dipahami, merupakan produk
pemikiran yang panjang yang telah mempertimbangkan berbagai hal yang
mempengaruhinya, merupakan perencanaan yang bervisi ke depan dan berdimensi
Iuas karena tidak diabaikan untuk kepentingan sesaat semata-mata.

Berdasarkan studi kasus, penilaian keberhasilan pelaksanaan kebijakan


dengan baik yakni dirancang sesuai dengan kerangka acuan dan teori yang kuat,
yang diawali dengan perumusan masalah terhadap bertambahnya arus mudik
setiap tahunnya; Korelasi yang jelas antara kebijakan dan implementasinya,
dilihat dari respon masyakat terhadap penambahan terminal di Pulo Gebang yang
berpengaruh terhadap kelancaran akses mudik; Ditetapkannya organisasi yang
mengkoordinir pelaksanaan kebijakan sehingga proses implementasi kebijakan
dapat berjalan baik, yang tampak dari keputusan Dinas Perhubungan DKI
menunjuk BLUD Jakarta Timur untuk mengelolanya dan pihak DisHub juga
berperan dalam mendukung peningkatan pelayanan tersebut; Dilakukan sosialisasi
kebijakan yang akan diterapkan sampai organisasi pelaksana tingkat terbawah,
tampak dari penggunaan system IT dalam pengawasan dan pemberitahuan
informasi langsung kepada masyarakat; Dilakukan pemantauan secara terus-
menerus, tentu pemantauan dilakukan oleh semua kalangan dari Pemprov DKI,
DisHub DKI, BLUD, media massa, dan masyarakat yang nantinya menjadi bahan
evaluasi kebijakan; Diberi bobot yang sama penting antara kebijakan dan
implementasinya, yang akan tampak dari penilaian yang dilakukan pada tahap
evaluasi kebijakan.

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 10


BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kebijakan daerah yang berkarakteristik baik dalam segi perencanaannya dan
pelaksanaannya ialah yang menjadi solusi terhadap masalah-masalah publik yang
proaktif dan diprioritaskan. Seperti dalam contoh studi kasus Kebijakan
Penambahan Beberapa Terminal di Pulo Gebang merupakan kebijakan daerah
yang baik dilihat dari segi perencanaan, pelaksananaan, dan evaluasi yang dilihat
dari respon positif masyarakat terhadap masalah akan kelancaran akses mudik
tahun 2017.

B. SARAN
Agar suatu kebijakan tetap dalam hasil solutif dalam menyelesaikan masalah-
masalah dalam masyarakat, sebaiknya pemerintah melakukan ;
 Memperbanyak sosialisasi dan pendekatan secara langsung dengan
masyarakat.
 Pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi dalam menentukan
kebijakan dan menuyusun RAPBD ynag menjadi sumber modal
kelancaran implementasi kebijakan, sesuai dengan arah dan manajemen

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 11


partisipatif ynag disepakati bersama dalam proses penentuan
kebijakannya.
 Serta melaksanakan kebijakan tersebut baik pemerintah daerah maupun
masyarakat saling mendukung dan terjalin komunikasi yang baik, karena
apabila suatu kebijakan tidak menjadi pendukung atau kontra terhadap
masalah-masalah masyarakt akan sulit nantinya bagi tercapainya tujuan
kebijakan dalm memecahkan masalah karena menjadi hambatan dalam
pelaksanaan kebijakan itu.

DAFTAR PUSTAKA
https://metro.sindonews.com/read/1204683/171/tingkatkan-pelayanan-terminal-
pulo-gebang/2017//

Arenawati (2016). ADMINITRASI PEMERINTAHAN DAERAH Sejarah, Konsep,


dan Penatalaksanaan di Indonesia Edisi 2. Yogyakarta: Graha Ilmu.

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH 12