Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH BIOLOGI REPRODUKSI

“FISIOLOGI PERSALINAN”

OLEH :
KELOMPOK 4

1. NURNANI 12 02 0075
2. MAGFIRA OKTAVIANA 12 02 0065
3. MARNAWATI NAWIR 12 02 0066

4. MADE RISA 12 02 0068


5. MEGAWATI 12 02 0021

6. MELANI VERONIKA WATENTE 12 02 0022

7. MELINDA TA’ALI 12 02 0023


8. MIRA 12 02 0024
9. MUSLIMAT 12 02 0067
10. NIRMA ERFIANA 12 02 0024
11. NISA AMALIA 12 02 0025

12. NUR ANNISA 12 02 0070

JURUSAN : DIII KEBIDANAN


STIKES YAYASAN HUSADA MANDIRI POSO
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya kita berada dalam keadaan sehat walafiat dan mendapat kesempatan untuk
menyusun makalah yang berjudul tentang “ Fisiologi Persalinan” untuk memenuhi tugas
mata kuliah Biologi Reproduksi.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pengampu yang telah
memberikan bimbingan kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan, ucapan
terima kasih juga kami sampaikan kepada teman – teman yang selalu memberikan motivasi
dan dorongan dalam pembuatan makalah ini.
Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah ini memiliki berbagai kekurangan, untuk itu
segala kritik dan saran kiranya dapat disampaikan kepada penulis guna penyempurnaan
masalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan
serta wawasan bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi seluruh mahasiswa
kebidanan.

Poso, 19 April 2013

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................2
C. Rumusan Masalah..............................................................................................2

BABII PEMBAHASAN..........................................................................................................3
1. Teori Terjadinya Persalinan...............................................................................3
2. Jenis-Jenis Persalinan.........................................................................................4
3. Tahap Persalinan................................................................................................5
4. Tanda-Tanda Persalinan.....................................................................................7
5. His Palsu dan His Persalinan..............................................................................8
6. Konsep Moulage dalam Persalinan..................................................................10
7. Mekanisme Fisiologi Kala I sampai Kala II.....................................................11
8. Posisi Ibu dalam Persalinan..............................................................................15
9. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan................................................15
10. Penanganan-Penanganan Yang Dilakukan dalam ersalinan.........................15

BAB III PENUTUP................................................................................................................16


A. Kesimpulan........................................................................................................16
B. Saran dan Kritik.................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ilmu kebidanan adalah ilmu yang mempelajari tentang kehamilan, persalinan, dan
kala nifas serta kembalinya alat reproduksi ke keadaan normal. Kemampuan pelayanan
kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka
kematan ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa angka kematian
perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu negara untuk memberikan pelayanan
kesehatan. Indonesia, di lingkungan Asia, merupakan Negara dengan angka kematian
ibu dan perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan
kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu.
Dengan perkiraan persalinan di Indonesia setiap tahunnya atau terjadi setiap 26-27
menit. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan 30,5%, infeksi 22,5%, gestosis 17,5%,
dan anesthesia 2,0%. Kematian bayi sebesar 56/10.000 menjadi sekitar 280.000 atau
terjadi setiap 18-20 menit sekali. Penyebab kematian bayi adalah asfiksia neonatorum
49-60%, infeksi 24-34%, prematuritas BBL 15-20%, dan cacat bawaan 1-3%.
Memperhatikan angka kematian ibu dan bayi yang terjadi di Indonesia penulis
menyimpulkan bahwa sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat
pertolongan pertama persalinan.

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi yang normal. Kelahiran


seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang dinanti oleh ibu dan keluarganya
selama kurang lebih 9 bulan. Peran ibu adalah sebagai orang yang melahirkan bayinya.
Sedangkan peran seorang bidan adalah memantau proses persalinan untuk mendeteksi
adanya komplikasi dan memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin.
Persalinan adalah membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke jalan lahir.
Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir.
Persalinan dan kelahiran normal adalah pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan
37 – 42 minggu, lahir spontan denangan presentasi belakang kepala yang berlangsung
dalam 18 jam, tanpa komplikasi pada ibu maupun janin.(Sarwono, 2006).

Oleh karena itu pada penulisan makalah ini kami akan membahas mengenai
proses fisiologis persalinan yang bertujuan untuk menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai ilmu kebidanan khususnya mengenai persalinan dan dalam
upaya meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan menurunkan angka kematian ibu
dan bayi.

4
B. Tujuan
1. Mahasiswa mengerti dan memahami teori terjadinya persalinan
2. Mahasiawa memahami dan mengetahui jenis-jenis persalinan
3. Mahasiswa mengerti dan memahami tahap persalinan
4. Mahasiswa mengerti dan memahami tanda-tanda persalinan
5. Mahasiawa memahami dan mengetahui perbedaan his palsu dan his persalinan
6. Mahasiawa memahami dan mengetahui konsep moulase dalam persalinan
7. Mahasiawa memahami dan mengetahui mekanisme fisiologi kala I sampai kalaII
8. Mahasiswa memahami dan mengetahui posisi ibu dalam persalinan
9. Mahasiawa memahami dan mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi
persalinan
10. Mahasiswa mengerti dan mengetahui penanganan-penanganan yang dilakukan
dalam persalinan

C. Rumusan masalah
1. Bagaimana Teori terjadinya persalinan ?
2. Apa saja jenis-jenis persalinan ?
3. Bagaimana tahapan dalam persalinan ?
4. Apa saja yang termasuk dalam tanda-tanda persalinan ?
5. Apa perbedaan his palsu dengan his persalinan ?
6. Bagaimana konsep moulase dalam persalinan ?
7. Bagaimana mekanisme fisiologi kala I sampai kala II ?
8. Bagaimana posisi ibu dalam persalinan?
9. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan ?
10. Apa saja penanganan-penanganan yang dilakukan dalam persalinan?

5
BAB II
PEMBAHASAN
1. Teori Terjadinya Persalinan
Proses terjadinya persalinan belum diketahui secara pasti, sehingga menimbulkan
beberapa teori yang berkaitan dengan mulainya kekuatan his. Perlu diketahui bahwa
ada dua hormon yang dominan saat hamil, yaitu estrogen dan progesteron. Estrogen
terdapat dalam keseimbangan sehingga kehamilan dapat dipertahankan. Perubahan
keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh
hipofise parst posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam bentuk Braxton Hicks.
Kontraksi Braxton Hicks akan menjadi kekuatan dominan saat mulainya persalinan.
Oksitosin diduga bekerjasama atau melalui prostaglandin yang makin meningkat mulai
dari umur kehamilan minggu ke-15. Disamping itu faktor gizi ibu hamil dan keregangan
otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan beberapa teori yang menyatakan


kemungkinan proses persalinan, antara lain :
 Teori Keregangan
1. Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
2. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat
mulai.
3. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan
tertentu,sehingga menimbulkan proses persalinan.

 Teori Penurunan Progesterone


1. Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur 28 minggu, dimana terjadi
penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan
buntu
2. Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih
sensitif terhadap oksitosin.
3. Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan
progesteron tertentu.

6
 Teori oksitosin internal
1. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior
2. Perubahan keeimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah
sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks.
3. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka
oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat mulai.

 Teori Prostaglandin
1. Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 minggu, yang
dikeluarkan oleh desidua.
2. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim
sehingga hasil konspsi dikeluarkan.
3. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan.

 Teori Hipotalamus-Pituitari dan Glandula Suprarenalis


1. Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi
kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Teori ini
dikemukakan oleh Linggin 1973.
2. Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan, hasilnya
kehamilan kelinci berlangsung lebih lama.
3. Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi
(mulainya) persalinan.
4. Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus-
pituitari dengan mulainya persalinan.
5. Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

2. Jenis-Jenis Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).

Jenis persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut:

7
 Persalinan Spontan
Disebut juga partus biasa (normal) adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan
tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
 Persalinan Buatan
Disebut juga partus luar biasa(abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan
bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
 Persalinan Anjuran
Bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan
rangsangan.

3. Tahap persalinan
 Persalinan Kala I (Pembukaan)
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai
pembukaan lengkap. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan
pembukaan primigravida 1 cm per jam dan pembukaan multigravida 2 cm per jam.
Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan.
Pada kala I ini terjadi pendataran dan penipisan serviks.

 Kala II ( kala pengeluaran janin)


Gejala utama kala II adalah
 His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100
detik.
 Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaranan cairan
secara mendadak.
 Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan,
karena tertekannya fleksus frankenhouser.
 Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi:
1) Kepala membuka pintu.

8
2) Subocciput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar,
dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya.
 Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu penyesuaian kepala
pada punggung.
 Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan:
1) Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, ditarik curam ke bawah
untuk melahirkan bahu depan, dan curam keatas untuk melahirkan bahu
belakang.
2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi.
3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban
 Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.

 Kala III (Pengeluaran Uri)


Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan
lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan plasenta pada lapisan Nitabusch, karena sifat
retraksi otot rahim.
Lepasnya placenta sudah dapat diperkirakan dengan memperlihatkan tanda-tanda
sebagai berikut:
1) Uterus menjadi bundar
2) Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim
3) Tali pusat bertambah panjang.
4) Terjadi perdarahan
Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara Crede pada fundus
uteri.

 Kala IV (Kala Pengawasan)


Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan
postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama.
Observasi yang dilakuakn:
1) Tingkat kesadaran penderita
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, dan
respirasi.
9
3) Kontraksi uterus
4) Terjadinya perdarahan
Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500
cc.

4. Tanda-tanda Permulaan Persalinan


Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita
memasuki “bulannya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory
stage of labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
1) Lightening atau settling yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama
pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
2) Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3) Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih
tertekan oleh bagian terbawah janin.
4) Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari
uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa
bercampur darah bloody show).

Tanda-tanda persalinan
 Terjadinya His Persalinan
His persalinan mempunyai sifat :
1) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan.
2) Sifatnya teratur, interval makin pendek, durasi makin lama dan kekuatannya
makin besar.
3) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks.
4) Makin beraktivitas (jalan) kekuatan makin bertambah

 Pengeluaran Lendir Bercampur Darah (Pembawa Tanda)


Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan
menimbulkan:

10
1) Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.
2) Terjadi perdarahan Pendataran dan pembukaan servik.
3) kapiler pembuluh darah pecah.

 Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran
cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan
pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam.

5. Perbedaan His Palsu dan His Persalinan


Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi ini dapat
dikemukakan sebagai keluhan, karena dirasakan sakit dan mengganggu. Kontraksi
Braxton Hicks terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen, progesteron, dan
memberikan kesempatan rangsangan oksitosin.
Dengan demikian makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan progesteron
makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering,
sebagai his palsu.
 His permulaan (palsu)
1) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
2) Datangnya tidak teratur, interval panjang, durasinya pendek.
3) Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda.
4) Tidak bertambah bila beraktivitas.
 His persalian
1) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan.
2) Sifatnya teratur, interval makin pendek, durasi makin lama dan kekuatannya
makin besar.
3) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks.
4) Makin beraktivitas (jalan) kekuatan makin bertambah

His atau kekuatan kontraksi rahim yang normal mempunyai sifat dimulai dari
salah satu tanduk rahim, kemudian menjalar keseluruh otot rahim. Kekuatan ini

11
seperti memeras isi rahim. Otot rahim yang berkontraksi tidak akan kembali
kepanjang semula, sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim.

Kontraksi uterus/His yang normal karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik
dan sempurna mempunyai sifat-sifat :
1. kontraksi simetris
2. fundus dominan
3. relaksasi
4. involuntir : terjadi diluar kehendak
5. intermitten : terjadi secara berkala (berselang-seling)
6. terasa sakit
7. terkoordinasi
8. kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kmia dan psikis.

Perubahan-perubahan akibat his :


1. Pada uterus dan servik
Uterus teraba keras/padat karena kontraksi. Tekanan hidrostatis air ketuban dan
tekanan intrauterin naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar (effacement)
dan terbuka (dilatasi).
2. Pada ibu
Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim. Juga ada kenaikan nadi dan
tekanan darah.
3. Pada janin
Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero-plasenter kurang, maka timbul hipoksia janin.
Denyut jantung janin melambat (bradikardi) dan kurang jelas didengar karena adanya
iskemia fisiologis.

Dalam melakukan observasi pada ibu – ibu bersalin hal – hal yang harus diperhatikan
dari his:
1. Frekuensi his
Jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau persepuluh menit.
2. Intensitas his

12
Kekuatan his diukurr dalam mmHg. intensitas dan frekuensi kontraksi uterus
bervariasi selama persalinan, semakin meningkat waktu persalinan semakin maju.
Telah diketahui bahwa aktifitas uterus bertambah besar jika wanita tersebut berjalan
– jalan sewaktu persalinan masih dini.
3. Durasi atau lama his
Lamanya setiap his berlangsung diukurr dengan detik, misalnya selama 40 detik.
4. Datangnya his
Apakah datangnya sering, teratur atau tidak.
5. Interval
Jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his datang tiap 2 sampe 3
menit
6. Aktivitas his
Frekuensi x amplitudo diukur dengan unit Montevideo.

6. Konsep Moulage Dalam Persalinan


Moulage adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Moulage itu mungkin karena
adanya sutura. Tulang kepala yang yang saling menyusup atau tumpang tindih
menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggul (cephalo pelvic
disproportion -CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-benar terjadi jika tulang
kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan. Apabila ada dugaan disproporsi
tulang panggul sangat penting untuk memantau kondisi janin dan kemajuan
persalinan.
Segera lakukan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda
disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai.
Moulage merupakan perubahan bentuk kepala dalam usaha menyesuaikan diri
dengan bentuk panggul yaitu dengan bergesernya tulang tengkorak yang satu
dibawah tulang tengkorak yang lain. Dengan adanya moulage ukuran yang melalui
jalan lahir menjadi kecil sedangkan ukuran yang tegak lurus menjadi lebih panjang.
Misalnya pada presentasi belakang kepala diameter suboksipito bregmatika menjadi
kecil dan diameter mento oksipitalis bertambah. Biasanya os oksipital dan kadang-

13
kadang juga os frontal bergeser dibawah os parietal kemampuan moulage dapat
menentukan apakah perrsalinan dapat berlangsung dengan spontan atau tidak.
Namun moulage yang terlalu kuat dapat berbahaya karena dapat menimbulkan
perdarahan dalam tengkorak.

7. Mekanisme fisiologi kala I sampai kala IV


Mekanisme persalinan Normal adalah gerakan janin yang mengakomodasikan
diri terhadap panggul ibu. Penyesuaian diri berupa : fleksi, rotasi dari janin. Hal ini
sangat penting untuk kelahiran melalui vagina oleh karena janin tersebut harus
menyesuaikan diri dengan ruangan yang tersedia didalam panggul. Diameter-diameter
yang lebih besar dari janin harus menyesuaikan diri dengan diameter yang paling
besar dari panggul ibu agar janin bisa masuk melalui panggul untuk dilahirkan.

Turunnya kepala dibagi menjadi dua yaitu:


 Masuknya kepala dalam pintu atas panggul
Masuknya kedalam pintu atas panggul pada primigravida (yang baru
pertama kali hamil) sudah terjadi pada bulan terkahir kehamilan tetapi pada
multigravida (yang sudah pernah hamil sebelumnya) biasanya baru terjadi pada
permulaan persalinan. Masuknya kepala kedalam pintu atas panggul biasanya
dengan sutura sagitalis, melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya
sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir, ialah tepat diantara simpisis
dan promontorium, maka kepala dikatakan dalam synclitismus dan synclitismus
os parietal depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke depan
mendekati simpisis atau agak kebelakang mendekati promontorium maka posisi
ini disebut asynclitismus. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam
asynclitismus posterior yang ringan. Asynclitismus posterior ialah jika sutura
sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal
depan. Asynclitismus anteriorialah jika sutura sagitalis mendekati promontorium
sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang.

 Majunya kepala

14
Majunya kepala pada primigravida terjadi setelah kepala masuk kedalam
rongga panggul dan biasanya baru dimulai pada kala 2. Pada multigravida
sebaiknya majunya kepala dan masuknya kepala kedalam rongga panggul terjadi
bersamaan. Yang menyebabkan majunya kepala : Tekanan cairan intrauterin,
tekanan langsung oleh fundus pada bokong, kekuatan meneran, melurusnya
badan janin oleh perubahan bentuk rahim. Penurunan terjadi selama persalinan
oleh karena daya dorong dari kontraksi dan posisi, serta peneranan selama kala 2
oleh ibu.
Penurunan kepala mengalami tahapan-tahapan sebagai berikut:
1) Fiksasi (engagement), merupakan tahap penurunan pada waktu diameter
biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu.
2) Desensus merupakan syarat utama kelahiran kepala, terjadi karena adanya
tekanan cairan amnion, tekanan langsung pada bokong saat kontraksi, usaha
meneran, ekstensi dan pelurusan badan janin.
3) Fleksi, sangat penting bagi penurunan kepala selama kala 2 agar bagian
terkecil masuk panggul dan terus turun. Dengan majunya kepala, fleksi
bertambah hingga ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambahnya fleksi
ialah ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir yaitu diameter
suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis
(11,5 cm). Fleksi disebabkan karena janin didorong maju, dan sebaliknya
mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul
atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan dorongan dan tahanan ini terjadilah
fleksi, karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment
yang menimbulkan defleksi.
4) Putaran paksi dalam/rotasi internal, pemutaran dari bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke
depan ke bawah sympisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang
terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar
kedepan kebawah simpisis. Putaran paksi dalam mutlak perlu untuk kelahiran
kepala karena putara paksi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan
posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang tengah dan
pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi

15
selalu kepala sampai ke hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai
di dasa panggul. Sebab-sebab putaran paksi dalam : Pada letak fleksi, bagian
belakang kepala merupakan bagian terendah dari kepala. Pada bagian
terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit yaitu pada
sebelah depan atas dimana terdapat hiatus genetalis antara M. Levator ani
kiri dan kanan. Pada ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah
diameter anteroposterior. Rotasi internal dari kepala janin akan membuat
diameter enteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala akan
menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul.
5) Ekstensi, setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar panggul,
terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini terjadi pada saat lahir
kepala, terjadi karena gaya tahanan dari dasar panggul dimana gaya tersebut
membentuk lengkungan Carrus, yang mengarahkan kepala keatas menuju
lubang vulva sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya.
Bagian leher belakang dibawah occiputnya akan bergeser dibawah simpisis
pubis dan bekerja sebagai titik poros. Uterus yang berkontraksi kemudian
memberi tekanan tambahan atas kepala yang menyebabkan ekstensi kepala
lebih lanjut saat lubang vulva-vagina membuka lebar. Pada kepala bekerja
dua kekuatan, yang satu mendesaknay ekbawah dan satunya kerena
disebabkan tahanan dasar panggul yang menolaknya keatas. Resultantenya
ialah kekuatan kearah depan atas. Setelah subocciput tertahan pada pinggir
bawah sympisis maka yang dapat maju karena kekuatan tersebut diatas
adalah bagian yang berhadapan dengan subocciput, maka lahirlah berturut-
turut pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi hidung dan mulut
dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Subocciput yang menjadi pusat
pemutaran disebut hypomoclion.
6) Rotasi eksternal/putaran paksi luar, terjadi bersamaan dengan perputaran
interior bahu. Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali ke
arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang etrjadi
karena putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi.
7) Restitusi adalah perputaran kepala sejauh 45ᴼ baik kearah kiri atau kanan
bergantung pada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi oksiput

16
anterior. Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang kepala berhadapan
dengan tuber ischidicum. Gerakan yang terakhir ini adalah gerakan paksi luar
yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu, menempatkan diri
dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.
8) Ekspulsi, setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah sympisis dan
menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depat
menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan
lahi mengikuti lengkung carrus (kurva jalan lahir).

Penurunan kepala dapat juga digambarkan seperti dibawah ini :

17
8. Posisi ibu dalam Persalinan :
1) Posisi litotomi : Posisi yang umum dimana wanita berbaring terlentang dengan
lutut ditekuk, kedua paha diangkat ke samping kanan dan kiri.

2) Posisi duduk : sekarang posisi duduk telah dikembangkan di negara-negara Amerika


Latin. Untuk itu dibuat meja bersalin khusus dimana wanita dapat duduk sambil
melahirkan.

3) Cara berbaring :
- Menurut Walchon: di tepi tempat tidur
- Menurut Teenk-Willink: memakai bantal
- Menurut Jonges: untuk memperlebar pintu bawah panggul.
- Menurut posisi sims: posisi miring

9. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

1) Kekutan Mendorong Jani Keluar (Power)


Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari his
atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan tenaga
primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh adanya kontraksi dan retraksi
otot-otot rahim.
His (kontraksi otot rahim) adalah kontraksi uterus karena otot – otot polos
rahim bekerja dengan baik dan sempurna. Pada waktu kontraksi otot – otot rahim
menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih
kecil serta mendorong janin dan kantung amneon ke arah segmen bawah rahim
dan serviks.
- Kontraksi otot dinding perut.
- Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan.
- ligmentous action terutama lig. Rotundum.
2) Factor Janin
3) Factor Jalan Lahir

18
 Pasanger (janin dan plasenta)
Selama janin dan plasenta berada dalam rahim pertumbuhannya belum tentu
normal, kelainan genetik dan kebiasaan ibu yang buruk dapat menjadikan adanya
pertumbuhan yang tidak normal antara lain:
1) Kelainan bentuk dan besar janin : anensefalus, hidrosefalus dan janin makrosomia
2) Kelainan pada otak kepala : presentasi puncak, muka, dahi dan kelainan occiput.
3) Kelainan letak janin : letak sungsang, lintang, mengolak, rangkap.
Setelah persalinan kepala, badan janin tidak akan mengalami kesulitan. Kepala janin
memiliki ciri oval yang membuat bagian lain lebih mudah lahir setelah bagian
besarnya lahir, berbentuk kogel atau mudah digerakkan kesegala arah dan
persendian sedikit kebelakang yang berfungsi untuk fleksi pada putaran paksi dalam.

 Passage atau jalan lahir


Merupakan jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari rongga panggul,
dasar panggul, serviks dan vagina. Syarat agar janin dan plasenta dapat melalui jalan
lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus normal.
Pessage terdiri dari :
1) Bagian keras tulang-tulang panggul (rangka panggul)
a. Os. Coxae
- Os. illium
- Os. Ischium
- Os. Pubis
b. Os. Sacrum = promotorium
c. Os. Coccygis
2) Bagian lunak : otot-otot, jaringan dan ligamen-ligamen.

 Psikologis
Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan disaat
merasa kesakitan awal persalinan. Perasaan positif ini berupa kelegaan hati karena
merasa telah menjadi “wanita sejati”.
Psikologis meliputi:
1) Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual.
19
2) Pengalaman bayi sebelumnya.
3) Kebiasaan adat
Sikap negatif terhadap peralinan dipengaruhi oleh:
a. Persalinan sebagai ancaman terhadap keamanan
b. Persalinan sebagai ancaman pada self-image
c. Medikasi persalinan
d. Nyeri persalinan dan kelahiran

 Penolong
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang
mungkin terjadi pada ibu dan janin. Dalam hal ini proses tergantung dari kemampuan
skil dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan.

10. Penanganan yang Dilakukan Dalam Persalinan


1) Untuk mencegah luka yang jelek dan pinggir luka yang tidak rata dan kurang bersih,
pada beberapa keadaan dilakukan episiotomy, dan pada keadaan lain dengan
pimpinan persalinan yang baik.
2) Bila dijumpai robekan perineum, lakukan penjahitan luka dengan baik lapis demi lapis,
perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina (dead space)
yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak
baiknya penyembuhan luka.
3) Berikan antibiotic yang cukup.
4) Pada luka perineum lama (old perineal tear), lakukan perineoplastik dengan membuat
luka baru dan menjahitnya kembali sebaik-sebaiknya.

20
DAFTAR PUSTAKA

1) Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
2) Obstetri fisiologi.1983. Bandung:Eleman
3) Prawirohardjo, Sarwono.2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
4) Prawirohardjo, Sarwono.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
5) Sujiyatini. Asuhan Kebidanan II (Persalinan). Yogyakarta:Rohima Press
6) Prof. Dr. Rustam Mochtar. Buku obstetric fisiologi edisi 2

21