Anda di halaman 1dari 13

TEORI DAN ISU-ISU PEMBANGUNAN

REGULATION THEORY AND POST DEVELOPMENTALISM

KELOMPOK 11

Indah Mustika Dewi

Muhammad Yusuf HN 1616041048

Rafie MR

Vivi Monica

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS LAMPUNG
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmatNYA lah kita dapat
menyelesaikan makalah ini hingga selesai.

Dan kami berharap dengan selesainya makalah ini dapat memperluas wawasan serta
pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dan para pembaca dalam hal Teori dan Isu – Isu
Pembangunan.

Mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini, karena penulis
masih belum memiliki kecukupan dalam hal pengetahuan dan pengalaman dalam membuat
makalah. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangatlah kami harapkan dalam
penyempurnaan makalah ini maupun makalah selanjutnya.

Bandarlampung, 05 Oktober 2017

Kelompok 11
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemikiran pembangunan modernisme saat ini hanya berpusat pada perkembangan


pembangunan dunia barat atau Negara maju yang pada hakikatnya justru menciptakan
sebuah ideologi bahwa Negara baratlah yang memegang struktur kekuasaan pembangunan
dunia dan membuat Negara-negara berkembangan akan selalu membutuhkan Negara maju.
Ketidakseimbangan pengaruh dan dominasi barat yang membuat para ahli Teori Anti
Pembangunan mencoba mengubah arah pikir pembangunan, Para pemikir pasca-
pembangunan mengamati dari perkembangan masyarakat vernakular, yang mana pekerjaan
mereka baik disektor informal maupun formal dan upaya mereka menghemat kebutuhan
hanyalah untuk memenuhi daripada gaya hidup mereka yang materialistis dan hedonis.

Arturo escobar dan Mansur faqih berpendapat teori pembangunan yang hadir adalah sebuah
wacana yang tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan kekuasaan. Oleh karena itu
mereka berusaha mendekonstruksi wacana pembangunan yang mendominasi masyarakat
dunia ketiga. Wolfgang Sachs adalah seorang penulis terkemuka dari pemikiran pasca-
pembangunan. Sebagian besar tulisannya difokuskan pada pembangunan berkelanjutan
lingkungan dan gagasan bahwa pengertian masa pembangunan secara alami praktek
berkelanjutan di dunia yang terbatas ini. Dari sinilah terciptalah pemikiran mengenai teori
pasca pembangunan untuk menyempurnakan teori sebelumnya.

Teori pasca pembangunan sendiri dimulai pada sekitar tahun 1980. Sebagian besar ahli
teori Pasca Pembangunan menyatakan bahwa pembangunan telah usang dan menuju
kebangkrutan sehingga memerlukan alternatif solusi baru dengan melahirkan teori
pembangunan yang lebih relevan dengan keadaan saat ini. Teori Pasca Pembangunan
menyajikan pemikiran bahwa pembangunan harus memperhatikan keadaan konteks local,
budaya dan sejarah yang diterapkan di masyarakat.
Pada dasarnya teori pasca pembangunan menggunakan pluralisme dalam gagasan dalam
pembangunan. Beberapa gagasan juga menilai bahwa pembangunan hanya membuat
negara-negara berkembang akan semakin terpuruk dan miskin, karena keterpusatan
pembanguna dari negara barat tidak dapat diterapakan secara serta merta ke negara-negara
berkembang tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Regulasi

Teori regulasi disampaikan oleh Stigler (1971) yang mengatakan bahwa aktivitas
seputar peraturan menggambarkan persaudaraan diantara kekuatan politik dari kelompok
berkepentingan (eksekutif/industri) sebagai sisi permintaan/demand dan legislatif sebagai
supply. Teori ini berpendapat bahwa dibutuhkan aturan-aturan atau ketentuan dalam
akuntansi. Pemerintah dibutuhkan peranannya untuk mengatur ketentuan-ketentuan
terhadap apa yang harus dilakukan perusahaan untuk menentukan informasi. Ketentuan
diperlukan agar semuanya baik pemakai maupun penyaji mendapatkan informasi yang
sama dan seimbang.

Menurut Scott (2009) terdapat dua teori regulasi yaitu public interest theory dan interest
group theory. Public interest theory menjelaskan bahwa regulasi harus dapat
memaksimalkan kesejahteraan sosial dan interest group theory menjelaskan bahwa regulasi
adalah hasil lobi dari beberapa individu atau kelompok yang mempertahankan dan
menyampaikan kepentingan mereka kepada pemerintah.
Teori regulasi menunjukkan hasil dari tuntutan publik atas koreksi terhadap kegagalan
pasar. Dalam teori ini kewenangan pusat termasuk badan pengawas regulator diasumsikan
memiliki kepentingan terbaik dihati masyarakat. Peraturan yang dibuat pemerintah
dianggap sebagai trade off antara biaya regulasi dan manfaat sosial dalam bentuk operasi
omproved pasar.

B. Post Development

Gagasan utama teori ini adalah pendekatan “diskursus” yang mengkonstruksi


pembangunan dan mencoba mencari penjelasan mengenai kegagalan yang terjadi
(Foucault:1980).
Post development sejatinya menawarkan solusi baru, yakni cara pandang melampaui
pembangunan yang mengukur keberhasilan negara dalam hal produksi dan konsumsi
ekonominya (post growth). Post development dalam beberapa aspek sejalan dengan
perkembangan pemikiran teori sosial yang banyak merujuk pada gagasan post-
strukturalis, post modernis dan post colonial, yang menyangkal keabsahan narasi besar
serta universalitas pengetahuan. Yang lebih utama, post development paling tepat sebagai
gagasan emansipasi negara dunia ketiga dalam menulis naskah dan narasi pembangunan
mereka sendiri. Hal lain yang perlu dicatat, post development tidaklah sama dengan
gagasan human development atau people centered development. Ia justru sudah
mencakup dan melebur kesemuanya. Dalam hal ini, jalan yang hendak ditempuh adalah
dengan mendengarkan aktor-aktor pinggiran yang selama ini hanya menjadi penonton
pembangunan, dan mencari jalan keluar yang sesuai dengan kaidah koeksistensi,
pencarian makna kebebasan yang melekat pada individu serta komunitasnya, untuk
membiarkan narasi kecil menjadi pelantun kehidupan yang berarti.

Sekilas, post development terdengar seperti romantisasi yang berlebih. Membayangkan


dunia yang lebih baik tanpa tuntutan materiil atau modernisasi. Memang, tanpa praksis
atau bukti keberhasilan, inilah kritik terbesar terhadap gagasan tersebut. Namun,
pengejawantahan Post Development tidak sesempit dan sepicik yang kita, atau mereka
para pendukung faham laissez faire growth, bayangkan. Ada banyak cara untuk
mengartikulasikannya dalam wujud yang realistis: green growth, sustainable growth,
pembangunan berbasis komunitas adalah beberapa contohnya. Post development juga
tidak berarti subsistensi, ketiadaan atau penghentian pembangunan, melainkan
perencanaan yang tidak lagi berlandaskan pertumbuhan, tetapi pada pluralisme tujuan,
kebutuhan dan keberlanjutan.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Isu – isu pembangunan


GAGALNYA PENERAPAN POST DEVELOPMENTALISME
DI INDONESIA

DEVELOPMENTALISME; Konsep Gagal Neoliberalisme (Studi kasus: Indonesia)


Setelah Perang Dunia kedua, menjadi era baru dalam tatanan interaksi transnasional
khususnya bagi negara-negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Masa tersebut
merupakan masa dekolonisasi bagi penjajahan bangsa-bangsa Barat untuk kemudian
menciptakan tatanan dunia yang dihuni oleh orang-orang yang sama dan sederajat menurut
harkat dan martabat kemanusiaan. Banyak negara di Afrika, Asia, maupun Amerika yang
memperoleh kemerdekaannya begitu saja sebagai sebuah hadiah pemberian pemerintah
negara penjajahnya. Akan tetapi, sebagian yang lainnya memperolehnya melalui jalan
perjuangan panjang yang memakan banyak biaya, materi, dan moral.
Bagi negara-negara yang baru merdeka tersebut, tentunya berada dalam kondisi sedang
mencari konsep atau sistem yang ideal untuk diterapkan dalam sistem politik dan
pemerintahan negaranya kelak. Beberapa negara mungkin memiliki konsep sistem ideal
yang akan diterapkannya, apalagi bagi mereka yang memperoleh kemerdekaannya melalui
perjuangan panjang dan melelahkan. Akan tetapi, konsep yang dikembangkannya
umumnya berideologi sosialis yang berakar dari bacaan-bacaan para founding father-nya
mengenai anti penindasan, konsep kebebasan menentukan nasib sendiri sebagai sebuah
nation-state, dan penolakan terhadap eksploitasi imperialisme. Hal ini kemudian akan
membenturkannya pada sebuah tembok negara-negara maju penentu arah pertumbuhan
dunia yang tidak menyepakatinya karena perbedaan ideologisehingga dengan mudahnya
memicu konflik internal di dalam negara tersebut. Sementara sebagian besar yang lainnya
sangat kabur dan tidak mempunyai visi dan konsep yang ideal akan dibawa ke mana negara
baru yang dinaunginya, yang diperolehnya secara tiba-tiba sebagai pemberian penjajah
barat pasca dekolonisasi.
Pembangunan dalam arti di atas di mulai di Indonesia sejak awal 1970-an di masa-masa
awal berkuasanya rezim Orde Baru. Ketika dalam sebuah kunjungannya ke Indonesia, WW
Rostow merekomendasikan teorinya untuk diterapkan di Indonesia. Penguasa Indonesia
pada masa itu, Soeharto, menyambut baik usulan Rostow, maka jadilah kebijakan-
kebijakan ekonomi politik Orde Baru selanjutnya mengikuti arus aliran
developmentalisme. Pemerintah Indonesia pada masa itu kemudian meminta saran dan
usulan dari beberapa pakar (teknokrat), yang dikemudian hari begitu dominan dalam
menentukan arah dan kebijakan politik Orde Baru. Mereka yang kemudian dikenal sebagai
“Mafia Barkeley” seperti Ali Murtopo, Sudjono Humardhani, dan sebagainya tersebut
merumuskan berbagai kebijakan pembangunan yang akan diaplikasikan dalam pelaksanaan
sistem pemerintahan di Indonesia. Gagasan mereka dianggap akan mampu menyelamatkan
Indonesia dari “sakitnya” akibat keterlibatannya dengan pengaruh ideologi komunisme
semasa Orde Lama.
Gagasan dan teori pembangunan ini kemudian bahkan telah dianggap sebagai “agama
baru” karena mampu menjanjikan untuk dapat memecahkan masalah-masalah sosial seperti
kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami oleh berjuta-juta masyarakat di Indonesia.
Istilah pembangunan atau development tersebut telah menyebar dan digunakan sebagai
visi, teori, dan proses yang diyakini kebenaran dan keampuhannya oleh masyarakat secara
luas. Setiap program Pembangunan menunjukkan dampak yang berbeda tergantung pada
konsep dan lensa Pembangunan yang digunakan (Mansour Fakih).
Ada beberapa program pembangunan yang kemudian direncanakan oleh Pemerintah pada
waktu itu, seperti Pembangunan Lima Tahun (PELITA), dan Pembangunan Jangka Panjang
(PJP) setelah 25 tahun sejak PELITA pertama. Beberapa agenda kemudian diprogramkan,
yang menurut subjektivitas penulis adalah agenda-agenda positivistic semata dan
merupakan agenda untuk melanggengkan kekuasaan. Perencanaan selama 25 tahun
tentunya mustahil untuk terwujud dalam beberapa pucuk kepemimpinan yang berbeda,
walaupun mempunyai visi yang sama, karena masing-masing kepala mempunyai
penafsiran dan rumusan metodologinya sendiri dalam upaya mewujudkan visinya tersebut.
Bahkan Penjelasan kemajuan ekonomi Orde Baru melalui penjelasan statistik, layak untuk
dipertanyakan. Sebab statistik bisa saja digunakan sebagai manipulasi semata bahkan
digunakan sebagai pembenaran guna menutupi kesenjangan yang terjadi antar masyarakat.
Apalagi ini terjadi dalam suatu sistem negara otoritarian yang sangat tertutup dan
menentang kebebasan erargumen yang dapat mengancam stabilitas politik. Pada
kenyataannya, premis angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi berarti kondisi ekonomi
yang baik hanya bualan (Anis Ananta). Hal ini karena ternyata masih banyak saja jumlah
orang miskin, pengangguran, dan kelaparan di negeri ini.
Pembangunan di Indonesia pada masa itu dicitrakan identik dengan pertumbuhan ekonomi,
dengan indikator bahwa sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan
bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi. Dengan demikian, yang
diukur adalah produktivitas masyarakat atau produktivitas negara dalam setiap tahunnya.
Secara teknis ilmu ekonomi, ukuran yang digunakan untuk mengihitung produktivitas
adalah Gross National Product (GNP) dan Gross Domestic Product (GDP). Suatu hal yang
sangat tidak adil, mengingat banyak orang yang pada dasarnya tidak tersentuh manfaat dari
sistem pembangunan ini. Beberapa orang kaya mungkin mendapatkan keuntungan
berpuluh kali lipat dari pendapatan seratus penduduk yang menjadi buruh di pabriknya.
Pendapatan besar tersebut tentunya akan mampu menutupi penghasilan kecil buruhnya,
jika dikumulasikan dan kemudian dibagi rata sebesar jumlah penduduk Indonesia. Dalam
angka, kita akan mendapatkan nilai yang bisa saja menunjukkan indikasi keberhasilan
pembangunan di Indonesia.
Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya, dan merata pendapatan penduduknya,
sebenarnya bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin. Hal ini
disebabkan karena pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi itu sering
tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungannya, yaitu lingkungan yang semakin
rusak dan sumber daya alam yang semakin terkuras. Sementara itu percepatan bagi alam
untuk melakukan rehabilitasi lebih lambat dari percepatan perusakan sumber alam tersebut
(Arief Budiman). Pembangunan yang terjadi di Indonesia adalah bagaimana menjual asset-
aset negara dan kekayaan alam rakyat Indonesia untuk diolah dan diatur sendiri oleh pihak
asing, tanpa kontribusi sebesar keuntungan yang diperoleh perusahaan, investor, dan
negara basis perusahaan tersebut.
Selanjutnya, atas nama pembangunan, pemerintah juga sering memberangus kritik yang
muncul dari masyarakat. Kritik tersebut dinilai dapat mengganggu stabilitas politik. Hal
tersebut dilakukan karena mengangap bahwa stabilitas politik adalah sarana penting untuk
memungkinkan pelaksanaan pembangunan (Arief Budiman). Ideologi ini benar-benar telah
dijadikan alat untuk memberangus protes rakyat. Kita bisa melihat cotoh kecil bagaimana
semua kata yang dicurigai akan mengingatkan memory kolektif rakyat akan masa lalu
diburamkan. kata "buruh" misalnya, dirubah menjadi "karyawan" melalui Pembinaan Pusat
Bahasa. Bahkan ilmu-ilmu sosial di bawah kungkungan developmentalisme atau
pembangunanIsme Indonesia sekedar berfungsi sebagai "pertukangan, punya daya besar
tetapi membudak, seperti serdadu" (Ariel Heryanto). Pengembangan ilmu-ilmu sosial
semua termanifestasikan dalam wujud rekayasa pengetahuan guna menunjang kebijakan
rezim yang ada (Soeharto). Sebab, ilmu sosial di Indonesia, pinjam bahasa Soedjatmoko,
sekedar "studi pesanan untuk memoles citra kebijakan dan diarahkan untuk menciptakan
proyek". Artinya, ilmu sosial dibajak dan ilmuwannya hanya menjadi makelar rezim
kekuasaan, seperti kelompok Mafia Barkeley tersebut.
Begitulah gambaran bagaimana pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Sebuah agenda
yang benar-benar rapi dan berlangsung dalam waktu yang lama. Lantas mengapa tidak ada
yang berani mengusiknya? Bukankah agenda tersebut malah membelenggu kebebasan
rakyat? Mengapa negara-negara maju tidak melakukan intervensi lagi?sejumlah pertanyaan
yang bisa kita jawab dengan singkat. Karena agenda developmentalisme merupakan
agenda global yang dikomandoi oleh negara-negara maju sebagai proyek neoliberalisme
guna memudahkan jalannya untuk menancapkan kukunya di negara-negara Dunia Ketiga.
Hal ini sekaligus untuk membendung upaya Uni Soviet untuk memperluas pengaruhnya.
Untuk itu, mereka membutuhkan kekuatan yang besar untuk bisa dikendalikan dalam
mengatur rakyat di negara-negara tersebut. Umumnya, mereka menggunakan tangan
militer dalam hal seperti ini.
Akan tetapi terlepas dari semua agenda yang menyangkut kepentingan negara-negara maju
tersebut, teori dan paham developmentalisme ini telah gagal dalam membangun negara-
negara Dunia Ketiga dan melepaskan mereka dari belenggu permasalahan sosial yang
dihadapinya.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Post development muncul pada sekitar tahun 1980, seiring dengan
perkembangan munculnya gerakan-gerakan akar rumput (grassroots). Teori post
development banyak mengkritik mengenai teori sebelumnya yaitu, development theory.
Teori Post Developmet muncul sebagai kritik terhadap teori Development yang lebih
bernuansa kebarat-baratan, dan bertujuan utama untuk mengendalikan serta menguasai
pemikiran negara-negara berkembang dunia ketiga. Namun ternyata Kemunculan Post
Development tidak juga membawa perubahan besar dalam pembangunan negara – negara
berkembang pasca dunia ketiga.

B. Kelemahan dan Kelebihan


Kelemahan :
Meskipun teori post-development merupakan teori alternative dan kritikan
terhadap teori development yang memiliki pemikiran mengenai keprihatinan
kepraktisannya, masih timbulnya kritikan atau kecemasan dari ahli – ahli teori
pembangunan. Karena bisa diperhatikan bahwa teori post-development tidak memiliki satu
definisi yang jelas, melainkan memiliki banyak definisi yang menjelaskan mengenai post-
development itu sendiri apa. Yang pastinya mengenai studi pembangunan yang masih
paling praktis yakni mengenai displin, Karena bersngkutan dalam beberapa cara
memproduksi analisis – analisis dengan aplikasi yang layak. Kesalahan fatal dalam teori
post-development sendiri adalah bahwa post-development menentang secara efektif tanpa
mengajukan usulan atau alternative – alternative yang menggantikan atau kebijakan
mengenai penentangan akan teori pembangunan, dalam arti kata “mengusulkan”. Hal ini
ada kemungkinan bahwa teori post-development tidak perlu menawarkan alternative
kepada teori development karena belum bisa memberikannya.

Kelebihan :
Teori post development menawarkan sebuah alternatif baru untuk
memperbaiki pemikiran development yaitu, dengan membentuk struktur sosial baru yang
jauh lebih baik daripada struktur yang terbentuk pada teori development. Struktur politik
demokrasi dan mengembangkan pengetahuan local dibandingkan pengetahuan modern
C. Kritik dan Saran
Saran :
Seharusnya teori Post Development lebih dikembangkan dan membantu
memberi usulan atau alternatif yang menggantikan atau kebijakan mengenai penentangan
akan teori pembangunan dalam pengembangan teori sebelumnya, sehingga teori post
development dapat menjadi teori yang menyempurnakan teori pembangunan sebelumnya.

Kritik :
‘Pembangunan sebagai ideologi’ ini ternyata tidak membawa hasil
memuaskan. Hingga sekarang, masalah besar yang dihadapi pembangunan di Dunia ketiga:
kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, disintegrasi sosial dan degradasi lingkungan
bukannya berkurang, tapi justru bertambah arah (Korten, 1990; Everett, 1997; Lieten,
2002). Belum lagi persoalan budaya terkait tercerabutnya dentitas kultural mereka maupun
hancurnya nilai-nilai lokal. Kegagalan pembangunan tersebut telah mendorong kritik
terhadap strategi pembangunan arus utama (modernisasi). Berbagai trategi pembangunan
alternatif pun dikemukakan sejak era 1970-an.
DAFTAR PUSTAKA

James Ferguson: The Anti-Politics Machine: 'Development,' Depoliticization, and


Bureaucratic Power in Lesotho

Wolfgang Sachs : The Development Dictionary: A Guide to Knowledge as Power.

Arturo Escobar : Encountering Development: Making and unmaking of the third world

Stuart Corbridge : Post-Marxism and development studies : beyond the impasse (Journal)

Joseph Stiglitz : Globalization and its discontents

Arif, Sirojuddin. 2013. Paska-Pembangunan & Pertanyaan tentang Alternatif. USA:


Dipublikasikan oleh Lembaga Penelitian SMERU.

Escobar, Arturo. 2000. Beyond the Search for a Paradigm? Post-Development and beyond.
London: SAGE Publications.

Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development: The Making and Unmaking of the Third
World.

Fakih, Mansour. 2001. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist
Press bekerjasama dengan Pustaka Pelajar.