Anda di halaman 1dari 2

Realisme sebagai Perspektif Klasik dalam Hubungan Internasional

Oleh : Nugraha Ryadi Kusuma (071711233069) - PIHI Kelas B

Salah satu perspektif klasik dalam Hubungan Internasional adalah realisme. Dalam Hubungan
Internasional, realisme merupakan salah satu perspektif yang memiliki pengaruh paling besar dan dominan.
Hal ini dikarenakan realisme dapat menyediakan jawaban atas permasalahan yang berkaitan dengan
terjadinya perang antar negara.

Tokoh yang pertama kali mencetuskan masalah realisme adalah Thucydides dan Hans J. Morgenthau
yang ajarannya kemudian disebut sebagai realisme klasik. Kemudian ada Niccolo Machiavelli dan Thomas
Hobbes yang juga turut andil dalam mengembangkan realisme sebagai perspektif dalam Hubungan
Internasional.

Ada empat asumsi dasar yang menjadi dasar pemikiran realisme. Pertama, mereka berpandangan
pesimis terhadap sifat manusia. Kedua, keyakinan mereka bahwa pada dasarnya hubungan internasional
bersifat konfliktual dan diselesaikan dengan cara perang. Ketiga, mereka menjunjung tinggi nilai keamanan
nasional dan kelangsungan hidup negara. Terakhir, adanya skeptisisme mengenai kemajuan politik
internasional sama dengan kemajuan politik dalam negeri.

Dasar normatif dari paham realisme adalah keamanan dan kelangsungan hidup negara. Maka dari itu,
realisme lebih mengedepankan negara atau state actor dalam hubungan internasional. Hal ini dikarenakan
dalam pandangan realisme, hanya negaralah yang dapat melakukan perang sebagai bentuk dari interaksi
internasional. Realisme mengesampingkan peran dari non-state actor, bahkan menganggap bahwa non-state
actor tidak penting dalam hubungan internasional.

Agenda utama dari realisme adalah masalah keamanan sebuah negara yang berdaulat. Mereka
menekankan pada penggunaaan perang sebagai penyelesaian dari setiap konflik. Namun, mereka juga
meyakini bahwa perdamaian dapat tercapai ketika ada balance of power. Menurut mereka, power dapat
menjadi alat penjaga perdamaian. Realisme juga lebih memilih menggunakan power dari negara-negara
besar ketimbang menyerahkan tugas menjaga perdamaian kepada non-state actor. Hal ini dikarenakan
kepercayaan mereka bahwa hanya negara besar yang dapat menyebabkan balance of power.

Realisme memandang sistem internasional sebagai sesuatu yang bersifat anarki. Maksudnya adalah
tidak ada suatu negara yang memiliki kekuatan lebih besar dari negara lain. Selain itu, mereka juga
menganggap bahwa kerjasama antar negara itu merupakan sebuah kerjasama yang penting ketika kerjasama
itu saling menguntungkan antar kedua negara. Kaum realis juga lebih mengedepankan kepentingan nasional
dalam melakukan hubungan internasional.

Mereka juga memiliki pandangan bahwa setiap negara harus dapat menjaga kestabilan keamanan dalam
negerinya. Dalam pandangan mereka, ketika keamanan dalam negeri sudah tercapai, maka akan timbul
sebuah kekuasaan atau authority dari negara. Ketika kekuasaan ini bersinggungan dengan kekuasaan negara
lain, maka saat itulah terjadi konflik.