Anda di halaman 1dari 3

Perspektif Klasik, Great Debates, dan Liberalisme dalam Hubungan Internasional

Oleh : Nugraha Ryadi Kusuma (071711233069) - PIHI Kelas B

Great Debates dalam Hubungan Internasional terdiri atas perdebatan antara kaum realis dan kaum
liberalis, lalu ada perdebatan mengenai pendekatan tradisional melawan behavioralisme, perdebatan antara
neo-realisme atau neoliberalisme melawan neo-marxisme, dan perdebatan antara tradisi yang telah mapan
dengan alternatif dari kaum pasca positivisme.

Perdebatan pertama adalah perdebatan antara realisme dan liberalisme. Realisme dipandang sebagai
teori yang mendominasi dalam hubungan internasional. Hal ini didasari oleh empat hal, yaitu adanya
pandangan pesimistis yang merupakan bagian dari sifat manusia, adanya kepercayaan bahwa hubungan
internasional selalu bersifat konfliktual dan diselesaikan dengan cara perang, nilai-nilai keamanan nasional
dan kelangsungan hidup negara yang dijunjung tinggi, serta sikap skeptisisme bahwa kemajuan politik
internasional beriringan dengan kemajuan politik dalam negeri.

Paham ini ditentang oleh kaum liberalis yang mengkritik kaum realis yang lebih mengedepankan anarki
dan perang dalam hubungan internasionalnya. Keyakinan akan kemajuan merupakan salah satu asumsi dasar
dalam liberalisme. Kaum liberal juga menilai bahwa prinsip nasional yang dimiliki manusia bisa digunakan
untuk hal-hal yang bersifat kooperatif sehingga dapat memberi manfaat yang besar karena kepentingan
manusia yang berbeda-beda. Dalam Great Debate ini, kaum realis memenangkan perdebatan dan realisme
menjadi salah satu paham yang umum digunakan dalam hubungan internasional.

Selanjutnya adalah perdebatan antara pendekatan tradisional dan behavioralisme. Behavioralisme


bukanlah suatu teori baru dalam Hubungan Internasional, melainkan sebuah metode baru dalam mempelajari
hubungan internasional. Behavioralisme menggunakan metode ilmiah berupa pengumpulan data-data dan
membuat hipotesis tentang hubungan internasional. Pendekatan tradisional sendiri masih menganggap
bahwa Hubungan Internasional adalah ilmu pengetahuan sosial yang menekankan pada nilai-nilai yang
bersifat subjektif. Perdebatan ini tidak dimenangkan oleh siapa-siapa.

Perdebatan antara kaum neo-marxisme dengan kaum neo-realis atau neoliberalisme terjadi dalam
masalah sistem ekonomi dunia. Neoliberalisme menekankan pada konsep bahwa aktor memiliki kepentingan
masing-masing. Neo-marxisme menentang pandangan ini dan menyatakan bahwa neoliberalisme
menimbulkan kapitalisme dan kesenjangan antara kaum proletar dan kaum borjuis. Perdebatan ketiga ini
sebenarnya hanya membuat Hubungan Internasional semakin rumit karena telah menggeser kajian di
dalamnya yang awalnya berpusat pada isu-isu politik menjadi berpusat pada isu ekonomi dan sosial.

Berkembangnya behavioralisme secara tidak langsung terkait dengan berkembangnya metode


positivisme. Metode ini lebih mendorong kita untuk meyakini bahwa Hubungan Internasional merupakan
penelitian ilmiah yang tidak bisa mengesampingkan fakta dan harus teruji menggunakan penelitian ilmiah.
Metodologi ini kemudian ditentang oleh sebagian orang yang kemudian membuat metode post-positivisme
yang mencakup metode-metode lain secara lebih luas. Pendekatan-pendekatan lain itulah yang melahirkan
teori-teori baru dalam Hubungan Internasional, antara lain post-modernisme, teori kritis, konstruktivisme,
dan feminisme. Teori kritis muncul sebagai perkembangan dari teori marxisme dan bertentangan dengan
teori positivisme yang bersifat terlalu objektif. Teori post-modernisme menolak segala jenis anggapan
mengenai realita dan pengetahuan mengenai dunia. Mereka beranggapan bahwa pengetahuan yang
dihasilkan manusia tidak seluruhnya bersifat objektif. Senada dengan post-modernisme, teori
konstruktivisme juga menyatakan bahwa tidak mungkin diteliti secara mudah dengan teori-teori yang
diajukan oleh kaum positivis. Teori feminisme sendiri mulai berkembang semenjak adanya kesadaran akan
persamaan gender dalam liberalisme.

 LIBERALISME

Liberalisme muncul pada abad ke-17, ditandai dengan karya Immanuel Kant yang berjudul Perpetual
Peace. Tetapi, liberalisme sebagai perspektif baru mulai dipelajari pada abad ke-20 setelah berakhirnya
Perang Dunia I. Liberalisme memiliki beberapa perspektif dasar. Pertama, liberalisme meyakini bahwa pada
hakikatnya, semua manusia memiliki sifat baik. Kedua, liberalisme lebih menekankan pada kerjasama
ketimbang perang dan kekerasan dalam interaksi internasional. Ketiga, kedudukan politik internasional
maupun politik dalam negeri sejajar pentingnya dalam liberalisme. Terakhir, liberalisme juga menekankan
pada efek positif dari hubungan internasional.

Dalam pandangan liberalisme, aktor yang memiliki andil besar adalah state-actor atau negara. Dalam
pandangan mereka, hanya negara yang dapat melakukan hubungan internasional. Namun, kaum liberalis
juga mengakui peran dari non-state actor yang besar dalam hubungan internasional.

Agenda yang dibawa oleh liberalisme adalah perdamaian abadi di dunia. Agenda mereka itu dapat
dicapai dengan cara kerjasama dalam bidang keamanan. Maka dari itu, Amerika Serikat sebagai role model
negara liberalis selalu mengajukan untuk membuat organisasi dunia seperti Liga Bangsa-Bangsa setelah
Perang Dunia I dan Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah Perang Dunia II. Liberalisme juga menciptakan
aktor baru dalam hubungan internasional, yaitu transnational corporation dan nongovernmental
organization yang memiliki peran besar dalam kerjasama antar negara yang tidak memandang batas negara.
Walaupun liberalisme selalu menggadang-gadangkan perdamaian dunia sebagai salah satu agenda mereka,
kaum liberalis pun juga mempercayai adanya kemungkinan untuk berperang. Menurut liberalisme,
peperangan adalah sesuatu yang bersifat human nature atau manusiawi karena dalam anggapan mereka,
perang terjadi ketika dua kepentingan nasional negara saling bersinggungan. Namun, mereka tetap optimis
dengan kemungkinan bahwa kemajuan politik internasional akan selalu tercapai walaupun terjadi
peperangan di dalam perjalanannya. Liberalisme juga masih mengakui tentang adanya anarki dalam sistem
internasional. Tetapi, mereka memandang anarki ini sebagai salah satu cara untuk memenuhi kepentingan
nasional dan masih bisa dilakukan secara kooperatif.
Immanuel Kant diakui sebagai pemikir dan penggagas dari liberalisme dengan karya tulisnya Perpetual
Peace yang dianggap sebagai pertanda awal munculnya liberalisme di abad ke-17. Selain Kant, ada John
Locke dan Jeremy Bentham yang juga turut andil dalam mengembangkan teori-teori mengenai liberalisme.
Salah satu tokoh yang menganut paham liberalisme klasik adalah Presiden ke-28 Amerika Serikat,
Woodrow Wilson. Wilson menerapkan liberalisme klasik dalam pemerintahannya dan membuat Amerika
Serikat menjadi salah satu stabilisator dunia pasca Perang Dunia I. Di luar itu, ada tokoh lain seperti J.J.
Rousseau yang juga memiliki andil dalam mengembangkan liberalisme.