Anda di halaman 1dari 1

The Everlasting

Gaze
"The more truths you spill out, the more generic you
become." – Douglas Coupland

Menu

OCT 29 Post Development: Apa dan


2012 Mengapa

Leave a reply

Di Indonesia, kata dan konsepsi ‘pembangunan’

teramat keramat. Padahal, maknanya tidak pernah

dimengerti, apalagi digugat. Pembangunan

sebenarnya memiliki arti yang bersayap. Ia tidak

semestinya dianggap berkesudahan, alias final.

Sebagai sebuah kata kerja, dan aktifitas, membangun

juga menyiratkan sebuah kelanjutan. Coba gunakan

kata memelihara, merawat atau pun membongkar,

merusak, menghancurkan, atau merubuhkan sebagai

tindak lanjut membangun. Logikanya, secara

konseptual, dalam risalah ‘pembangunan’, perlu ada

cara pandang alternatif yang menanggapi stagnasi

gagasan pembangunan.

Hal ini terlebih relevan, jika pembangunan yang kita

kenal ternyata hanya membangun, tetapi tidak

menghidupi. Lebih-lebih jika pembangunan hanya

berlaku untuk segelintir, dan tidak sesama, apalagi

semua. Di sinilah makna kata membangun perlu

dibongkar, atau setidaknya ditinjau kembali.

Dalam khasanah akademik global, istilah post


development kemudian muncul sebagai an‐
titesis dari development: pembangunan. Ia –
post development- bukan barang baru yang
dijual dengan mantra-mantra lama, ataupun
barang lama yang dibungkus dalam kemasan
baru. Perdebatan yang melahirkan gagasan
ini mengular dari perdebatan soal aplikasi
teori neoklasik (pertumbuhan ekonomi), struk‐
turalisme (Import Substitution Industry-ISI)
dan teori dependensi (ketergantungan negara
ketiga pada kemajuan ekonomi negara perta‐
ma) hingga ke ketimpangan globalisasi, yang
berujung pada pertanyaan yang paling funda‐
mental, yakni makna, lantas masa depan
pembangunan itu sendiri.

Karena nyatanya, pembangunan justru kerap menjadi

pemicu kemiskinan dan keterbelakangan, hingga

pada kerusakan lingkungan. Selain itu, dusta terbesar

pembangunan adalah klaim soal meningkatnya kese‐

jahteraan, dimana yang sesungguhnya terjadi adalah

pemusatan kekayaan, dimana segelintir orang men‐

guasai hajat hidup orang banyak dan berujung pada

ketimpangan dan ketidakadilan. Hal ini berlaku baik di

tingkat global maupun di sebagian besar negara

dunia pertama dan sisanya.

Syahdan, tidak ada saat yang lebih tepat untuk

memikirkan kembali pembangunan secara

keseluruhan ketimbang saat ini. Dengan iklim dunia

yang berada di ambang kehancuran, dan nyatanya

peminggiran masyarakat lokal dengan segenap

kekayaan dan identitasnya, jalan utama

pembangunan tiap negara masih tidak berubah.

Dipandu oleh gurita kapitalisme, negara terus

memaksakan dirinya sebagai aktor utama

pembangunan dengan menggunakan peta yang

sama sekali tidak menyertakan aspek lingkungan

hidup, partisipasi masyarakat, efek sosial, kedaulatan

komunitas dan keberlanjutan. Di Indonesia, hal ini

sangat terasa melalui MP3EI, proyek yang digadang-

gadang sebagai katalis pertumbuhan ekonomi

nasional.

Sebaliknya, bukankah kita sudah kenyang

mendengar kasus-kasus yang terjadi di Papua,

Minahasa, Bima, Danau Toba, dan tak terhingga

cerita lainnya mengenai ayam yang mati di lumbung

padi? Ditopang dengan cara pandang

developmentalist, kisah seperti ini akan terus

berulang. Iman pada pertumbuhan lah yang

mendorong kita untuk merelakan kekayaan (alam,

finansial, akses) pada segelintir orang demi ilusi akan

kesejahteraan bersama. Benar, pertumbuhan pada

aras global telah berhasil menurunkan persentase

kemiskinan global, namun angka mutlaknya telah

bertambah. Seperti diungkapkan Arturo Escobar,

pembangunan pada akhirnya hanya mereproduksi

relasi kuasa yang timpang. Jangan heran jika banyak

lara pertumbuhan yang tidak disuarakan,

memungkinkan para pendukung Structural

Adjustment memenangi perang ideologis dalam hal

kebijakan ekonomi dan pembangunan melalui

institus-institusi strategis nan dogmatis (IMF, WB,

OECD, WTO, dll).

Post development sejatinya menawarkan solusi baru,

yakni cara pandang melampaui pembangunan yang

mengukur keberhasilan negara dalam hal produksi

dan konsumsi ekonominya (post growth). Post

development dalam beberapa aspek sejalan dengan

perkembangan pemikiran teori sosial yang banyak

merujuk pada gagasan post-strukturalis, post

modernis dan post colonial, yang menyangkal

keabsahan narasi besar serta universalitas

pengetahuan. Yang lebih utama, post development

paling tepat sebagai gagasan emansipasi negara

dunia ketiga dalam menulis naskah dan narasi

pembangunan mereka sendiri. Hal lain yang perlu

dicatat, post development tidaklah sama dengan

gagasan human development atau people centered

development. Ia justru sudah mencakup dan melebur

kesemuanya. Dalam hal ini, jalan yang hendak

ditempuh adalah dengan mendengarkan aktor-aktor

pinggiran yang selama ini hanya menjadi penonton

pembangunan, dan mencari jalan keluar yang sesuai

dengan kaidah koeksistensi, pencarian makna

kebebasan yang melekat pada individu serta

komunitasnya, untuk membiarkan narasi kecil

menjadi pelantun kehidupan yang berarti.

Sekilas, post development terdengar seperti


romantisasi yang berlebih. Membayangkan
dunia yang lebih baik tanpa tuntutan materiil
atau modernisasi. Memang, tanpa praksis
atau bukti keberhasilan, inilah kritik terbesar
terhadap gagasan tersebut. Namun, penge‐
jawantahan Post Development tidak sesempit
dan sepicik yang kita, atau mereka para pen‐
dukung faham laissez faire growth,
bayangkan. Ada banyak cara untuk mengar‐
tikulasikannya dalam wujud yang realistis:
green growth, sustainable growth, pembangu‐
nan berbasis komunitas adalah beberapa
contohnya. Post development juga tidak be‐
rarti subsistensi, ketiadaan atau penghentian
pembangunan, melainkan perencanaan yang
tidak lagi berlandaskan pertumbuhan, tetapi
pada pluralisme tujuan, kebutuhan dan
keberlanjutan.

Aktornya? Tidak mungkin tidak melibatkan negara,

meski ia tidak lagi yang pertama dan utama. Di sinilah

paradoks perencanaan pembangunan, dimana ia

tidak bisa berjalan di ruang hampa alias ketiadaan

negara. Post development juga sangat mungkin self

contradicting, karena dalam upayanya untuk

memerdekakan subyek, ia terjebak dalam upaya

untuk melakukan hal yang sama seperti development,

lantas menjadi proyek pencerahan yang kembali

menjadi perangkap, menjelma sebuah oxymoron.

Post development juga dianggap akan berujung pada

statisme, dimana gagasan modernisasi justru

ditangkal dengan kearifan lokal dan tradisi yang

belum tentu lebih baik dari rasionalisasi, fondasi

utama modernisasi.

Ada banyak cara bagaimana kita bisa mulai mencari

penerapannya. Salah satunya adalah dengan

mencari alternatif alat ukur pembangunan yang absah

dan andal (HDI hanya salah satunya. Ada pula

Happiness Index di Bhutan). Lainnya adalah mencari

basis ekonomi non-industri yang berkelanjutan. Saya

sendiri percaya ekonomi informal bisa menjadi

jawaban, namun hal ini dilematis ketika dihadapkan

pada ekonomi global yang berbasis keuntungan

komparatif sehingga mensyaratkan kehadiran industri

skala menengah-besar yang kuat dan tidak bisa

ditelan oleh industri besar seperti Cina. Paradoks lain,

untuk bisa menjalankan green growth, negara

berkembang masih juga bertumpu pada teknologi dan

kapital negara-negara OECD.

Di sini terlihat beberapa lubang yang, seringnya,

ditinggalkan oleh gagasan besar seperti post

development. Namun, dalam jangka panjang,

gagasan post development akan menemukan lahan

semainya. Sebagai sebuah antitesis, sudah

seharusnya ia bertugas untuk menggugat dan

memperbaiki sebuah tesis usang: pembangunan.

Beberapa referensi utama gagasan post development

(John Rapley: Understanding development):

1.James Ferguson: The Anti-Politics Machine:

'Development,' Depoliticization, and Bureaucratic

Power in Lesotho

2.Wolfgang Sachs : The Development Dictionary:

A Guide to

Knowledge as

Power.

3. Arturo Escobar : Encountering Development:

Making and

unmaking of the

third world

4. Stuart Corbridge : Post-Marxism and

development

studies : beyond

the impasse

(Journal)

5. Joseph Stiglitz : Globalization and its

discontents

Catatan: Di Indonesia, gagasan post development

sedikit banyak ditularkan oleh almarhum Mansour

Fakih. Bukunya Runtuhnya Teori Pembangunan dan

Globalisasi adalah rujukan utama dan senantiasa

relevan.

Don't be shellfish...

This entry was posted in Food for Thought and


tagged Development Issues, Post Development
.

← Juggling Di Peron →

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a

href="" title=""> <abbr title=""> <acronym

title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite>

<code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite="">

<strike> <strong>

Post Comment

Search

RUBRIKASI

Film
Food for Thought
Literatur
Musik
None of the Above
Pendidikan
Recommended
Take Me Somewhere Nice

ARTIKEL TERBARU

Di dalam Luar Batang


Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan
Universities in Indonesia: Overcoming Inertia

ARSIP

Select Month

RESOURCES

academia.edu
CIPG – Innovation, Policy, Governance
LinkedIn
My Youtube

TETANGGA

Adhytia Utama
Andaru Pramudito
Berto Tukan
Deasy Elsara
Dinda Nuurannisa Yura
Dwitri Amalia
Farhanah Faridz
Maulida Raviola
Raka Ibrahim
Rega Ayundya Putri
Reney Mosal
Reza Wattimena
Rinaldi Ridwan

TAGS

Development Issues
Everything in Between
Food for Thought Gibberish
Globalisation Indonesia Jalan Jalan
Keliling Indonesia Nyinyir On Google On lit-
erature on Music Pendidikan
Pondering Poskolonialisme Post
Development Recommended Riset

KATA MEREKA

"To live is the rarest thing in the world. Most people


exist, that is all." - Oscar Wilde: The Soul of Man under
Socialism -

Proudly powered by WordPress