Anda di halaman 1dari 1

POST-DEVELOPMENT:

MENINJAU ULANG
‘PEMBANGUNANʼ
oleh: Muhtar Habibi

Pendahuluan

‘Pembangunanʼ adalah ide yang paling sering


dibicarakan dalam upaya mengatasi
‘keterbelakanganʼ di Dunia Ketiga. Sejak masa
pasca Pencerahan Eropa hingga era pasca
Perang Dunia Kedua (PD II), pembangunan
diklaim untuk membantu membebaskan manusia
di belahan dunia lain dari belenggu
ketidakdewasaan dan irasionalitas mereka.
‘Tanggungjawabʼ untuk mendewasakan manusia
di wilayah luar Eropa (Dunia Ketiga) menjadi
legitimasi jaman kolonisasi. Sementara pasca PD
II, ‘tanggungjawabʼ tersebut diberi label yang
lebih spesifik: ‘pembangunanʼ, yang beroperasi
dengan berbagai institusi penopangnya.
Pembangunan menjadi sejenis panacea bagi
seluruh masalah di Dunia Ketiga. Bahkan
pembangunan sudah menjadi semacam ideologi
tersendiri (Easterly, 2007). Easterly menyatakan:

“Like all ideologies, development promises a


comprehensive final answer to all of societyʼs
problem, from poverty to illiteracy to violence
and despotic rulers. It shares the common
ideological characteristic of suggesting there is
only one correct answer, and it tolerates little
discent” (2007: 31).

‘Pembangunan sebagai ideologiʼ ini ternyata


tidak membawa hasil memuaskan. Hingga
sekarang, masalah besar yang dihadapi
pembangunan di Dunia ketiga: kemiskinan dan
kesenjangan ekonomi, disintegrasi sosial dan
degradasi lingkungan bukannya berkurang, tapi
justru bertambah parah (Korten, 1990; Everett,
1997; Lieten, 2002). Belum lagi persoalan budaya
terkait tercerabutnya identitas kultural mereka
maupun hancurnya nilai-nilai lokal. Kegagalan
pembangunan tersebut telah mendorong kritik
terhadap strategi pembangunan arus utama
(modernisasi). Berbagai strategi pembangunan
alternatif pun dikemukakan sejak era 1970-an:
dari mulai pendekatan pembangunan yang
berpusat pada manusia ‘human centre-
developmentʼ; kebutuhan dasar ‘basic needsʼ,
hingga strategi pembangunan yang berkelanjutan
‘sustainable developmentʼ (Mathews, 2004:
376). Atau juga dari kalangan Marxis yang
mengajukan paradigma ‘dependensiaʼ (Prebisch
1950; Frank, 1966; Cardoso, 1969). Pada
dasarnya berbagai pendekatan tersebut
mengajukan suatu pembangunan alternatif jenis
lain (another development) dari strategi
pertumbuhan ekonomi ala modernisasi.

Baru pada awal dekade 1990-an, muncul sebuah


kritik terhadap pembangunan yang lebih radikal.
Kelompok pengkritik yang diinspirasi oleh post-
modernisme ini menamakan diri mereka sebagai
Post-Development (selanjutnya disingkat PD).
Para penulis PD seperti: [Sachs (1992); Escobar
(1992, 1995); Esteva (1992, 1998); Rahnema
(1992, 1997); Nandy (1992)], mengkritik tajam
ide ‘pembangunanʼ itu sendiri. Mereka semua
mendeklarasikan penolakannya terhadap
gagasan pembangunan secara keseluruhan. Ide
pembangunan dianggap hanyalah cara Barat
untuk mengendalikan dan menguasai Dunia
ketiga. Para penulis PD sepakat untuk mencari
‘alternatif bagi pembangunanʼ daripada mencari
‘pembangunan alternatifʼ. Setelah hampir dua
dasawarsa kemunculannya, gagasan PD tetap
mendapat perhatian utama dari berbagai teorisi
pembangunan. Tulisan ini bermaksud untuk
menjelaskan gagasan PD mengenai
pembangunan dengan berupaya menjawab
pertanyaan-pertanyaan: bagaimana PD
menanggapi wacana pembangunan saat ini? Apa
latar belakang kritik PD? Bagaimana hubungan
PD dan post-modernisme? Bagaimana politik PD?
Lantas apa kontribusi gagasan tersebut terhadap
permasalahan pembangunan kontemporer?

Genealogi Pembangunan

Kita akan memulai pembahasan dengan


menelusuri asal-usul konsep ‘pembangunanʼ.
Konsep pembangunan dapat dilacak dari abad-
18 ketika pencerahan melanda Eropa. Pada masa
awal pencerahan itu, pembangunan dimaknai
sebagai proyek yang sengaja didesain untuk
mencapai tujuan tertentu. Pada masa ini,
pembangunan kapitalisme telah memaksa
pemerintah dan kritik sosial untuk mengatasi
kekacauan (urbanisasi yang massif,
pengangguran, kemiskinan, dan tuna wisma)
yang disebabkan kapitalisme. Sebagai respon
terhadap masalah tersebut, orang seperti Saint-
Simon dan Auguste Comte mulai berargumentasi
bahwa kemiskinan dan pengangguran pada awal
industrialisasi, dapat dan harus diatasi oleh
mereka yang tahu cara mengatasinya. Mereka
menganggap bahwa orang yang mampu ini,
dengan nilai posisi mereka dalam masyarakat,
mampu melihat solusi masalah dan harus
mendesain kebijakan untuk memperbaiki
kekacauan untuk selanjutnya membawa tatanan
ekspansi kapitalisme (Grischow & McKnight,
2003: 518).

Pencerahan dan dampak perubahan sosial yang


ditimbulkannya telah menarik perhatian
intelektual. Perhatian ini dimulai ketika majalah
Jerman, Berlinesche Monatschrift membahas
tentang “Was ist Aufklarung?” (apakah
pencerahan itu?) yang salah satu penulisnya
adalah Imannuel Kant (Khondker,1999: 164). Bagi
Kant, pencerahan menawarkan pada manusia
suatu jalan keluar dari ketidakdewasaan menuju
kondisi kedewasaan yang matang. Pencerahan
memungkinkan seseorang dapat mencapai
status dan kapasitasnya sebagai makhluk yang
dewasa dan rasional. Mengikuti alur Kant, maka
pencerahan memberi kemungkinan ‘kedewasaanʼ
pada seluruh umat manusia. Dengan demikian,
pencerahan Eropa berpotensi untuk
membebaskan manusia yang belum ‘dewasaʼ di
kawasan lain di dunia. Mereka yang memiliki kitab
suci rasionalitas (Eropa) mempunyai kewajiban
etika atau panggilan untuk menyebarkan risalah
dalam upaya membebaskan dan mendewasakan
orang yang masih dalam kondisi ‘belum dewasaʼ
atau masih terbelakang. Pernyataan ini menjadi
legitimasi bagi Eropa untuk melakukan kolonisasi
di berbagai belahan dunia lain.

Setelah berakhirnya era kolonial pasca


berakhirnya PD II, ‘tanggungjawabʼ untuk
mendewasakan manusia ini diberi label baru:
‘pembangunanʼ (Kiely, 1999: 31). Gagasan
pembangunan dituangkan secara eksplisit oleh
Presiden Truman pada pidato inagurasinya
tanggal 20 Januari 1949 yang menyatakan
perlunya negara maju untuk memecahkan
masalah di wilayah terbelakang (‘underdevelopʼ)
dengan ‘pembangunanʼ:

“More than half the people of the world are living


in conditions approaching misery. Their food is
inadequate, they are victims of disease. Their
economic life is primitive and stagnant. Their
poverty is a handicap and a threat both to them
and to more prosperous areas. For the first time
in history humanity possesses the knowledge
and the skill to relieve the suffering of these
people ... I believe that we should make available
to peace-loving peoples the benefits of our store
of technical knowledge in order to help them
realize their aspirations for a better life. What we
envisage is a program of development based on
the concepts of democratic fair dealing ...
Greater production is the key to prosperity and
peace. And the key to greater production is a
wider and more vigorous application of modem
scientific and technical knowledge” (cq. Kiely,
1999: 32).

Pernyataan Truman itu dianggap dengan jelas


menjadi dasar ide pemikiran pembangunan.
Dunia Ketiga dilihat sebagai masyarakat
terbelakang dan primitif. Namun hal ini dapat
diatasi dengan menempuh jalan yang sama
dengan Barat. Pihak Barat dapat membantu
wilayah ‘underdevelopʼ dengan membagi
kemakmuran dan melakukan transfer
pengetahuan untuk melalui transisi modernisasi.
Semua itu dapat dicapai dengan meningkatkan
produksi di negara terbelakang melalui
pengenalan metode rasional-ilmiah.

Sejak deklarasi itu, berbagai strategi telah


digunakan untuk mempromosikan pembangunan
(Kiely, 1999: 32). Pada masa 1940-1960-an,
pemikiran pembangunan didominasi pandangan
tentang ekonomi campuran dimana negara
memainkan peran penting dalam memimpin
industrialisasi. Pada periode 1970-an, ide
pembangunan didominasi pendekatan kebutuhan
dasar dan pendekatan redistribusi pendapatan
dalam pertumbuhan. Dekade 1980-an ditandai
kemunculan kembali pandangan neo-liberal yang
menuntut minimasi peran negara dalam
mengatur perekonomian dan pembangunan.
Negara dituntut untuk mengejar keunggulan
komparatif dalam ekonomi dunia yang ditandai
kompetisi perdagangan terbuka dan tidak
terbatas.

Meski demikian, pembangunan pasca perang


Dunia II secara umum didominasi pandangan
sempit pada pembangunan ekonomi. Bahkan
pembangunan semakin dipermiskin dan direduksi
menjadi pertumbuhan ekonomi belaka (Esteva,
1992: 12). Pembangunan dilihat secara
sederhana sebagai pertumbuhan pendapatan per
orang di wilayah terbelakang. Tujuan ini
pertamakali diajukan oleh Arthur Lewis pada
tahun 1944 dan dilembagakan oleh Piagam PBB
tahun 1947. Gagasan ini dilanjutkan oleh W.W
Rostow di Tahun 1960-an. Khondker (1999: 166)
menggambarkan konsepsi pembangunan masa
itu sebagai berikut:

“The core of the conception growth that


nurtured development economics contained the
notion of increasing production and
concumption, as well as increasing employment
and improved standard of living. The ide od
development in so far as it meant the
reconstruction of infrastructures of a war-torn
society, rebuilding institutions, and so forth, was
taken for granted”.

Pembangunan dalam hal ini diarahkan kepada


Dunia Ketiga agar mencapai hasil sebagaimana di
Dunia Pertama. Model pembangunan dalam
bentuk pembangunan insfrastruktur, pendidikan,
pertanian dan pertumbuhan industri dipimpin
negara dengan bantuan dana dari institusi
Bretton Woods. Proses pembangunan ini
kemudian dikenal dengan modernisasi di Dunia
Ketiga. Dalam kaitan ini, modernisasi dimaknai
sebagai: “process whereby the traditional and
backward Third World countries developed
towards greater similarity with the western, or
rather, the North-Western world” (Apter, cq.
Khondker, 1999: 166).

Namun dengan berbagai pendekatan tersebut,


pembangunan tetap dianggap gagal. Setelah
setengah abad janji pembangunan, yang miskin
tetap miskin, kesenjangan bertambah parah, dan
mimpi untuk meningkatkan masa depan bagi
banyak orang, hanya mimpi yang mustahil
diwujudkan (Siemiatycki, 2005: 56; Mathews,
2004: 382). Paling tidak ada tiga masalah besar
yang dihadapi pembangunan: kemiskinan dan
kesenjangan ekonomi, disintegrasi sosial dan
degradasi lingkungan (Korten, 1990; Lieten,
2002). Antara pertengahan 1980-an hingga
2000, jumlah orang miskin meningkat dari 1,8
milyar menjadi 2,2 milyar. Di banyak kawasan,
bahkan ketika indeks kemiskinan telah dinaikkan,
kemiskinan stagnan pada tingkat yang sangat
tinggi (di Eropa Timur dari 0,2% menjadi 5,1%, di
Amerika Latin dari 15,3% menjadi 15,6%, di benua
Afrika dari 46,6% menjadi 46,3%). Perbandingan
pendapatan per kapita di negara terkaya dengan
negara termiskin telah meningkat dari tiga
banding satu pada tahun 1820 menjadi 11 kali
pada 1913 dan berlanjut menjadi 30 kali pada
1960 dan 74 kali pada tahun 1997. Selama
dekade terakhir, polarisasi pendapatan terus
meningkat. Perbandingan antara pendapatan
rata-rata kelompok 5 persen tertinggi dengan 5
persen kelompok dengan pendapatan rata-rata
terendah meningkat dari 78 kali pada tahun 1988
dan meningkat menjadi 123 kali pada tahun 1993.
Aset dari hanya sekitar 3 orang milyarder
melebihi gabungan GNP dari sedikitnya seluruh
negara maju dengan 600 juta penduduknya
(Lieten, 2002: 67-68). Sementara kerusakan
lingkungan terjadi di seluruh penjuru dunia,
terutama Dunia Ketiga. Kombinasi dari tekanan
jumlah penduduk, teknologi yang usang,
kegagalan pemerintah mengontrol, dan ekspansi
perusahaan multinasional telah secara massif
merusak lingkungan.

Post-Development: Kritik Radikal


‘Pembangunanʼ

Meningkatnya persoalan-persoalan global telah


memicu ketidakpuasan yang meluas terhadap
‘pembangunanʼ. Ketidakpuasan terhadap
pembangunan dapat dibagi dalam dua kelompok
berdasarkan derajat penolakannya. Kelompok
pertama adalah kelompok moderat, yang hanya
menolak gagasan pembangunan karena
pembangunan dianggap anti-lingkungan, anti-
perempuan, anti-rakyat, anti-Dunia Ketiga, anti-
budaya tradisi (Khondker, 1999: 169). Kritik ini
tidak menolak konsep pembangunan secara
keseluruhan. Mereka percaya bahwa
pembangunan dapat lebih memanusiakan, secara
budaya lebih sensitif, bahkan secara kejiwaan
mungkin lebih progresif. Bagi mereka, sebuah
upaya bagi perdamaian dan kemajuan tidak dapat
dengan mudah diraih khususnya jika alternatifnya
terlalu berbahaya.

Sementara kelompok kedua adalah yang lebih


radikal mengkritik pembangunan. Mereka
menolak ide ‘pembangunanʼ sebagai keseluruhan
(meski demikian, kita nanti akan melihat variasi
pandangan diantara mereka). Kelompok inilah
yang kemudian menamakan dirnya ‘PDʼ. Teori PD
dengan jelas menolak upaya reformasi proyek
pembangunan pasca Perang Dunia II dalam
rangka mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkannya (Mathews, 2004: 375). Mathews
menyatakan: “Post-Development theorists do not
believe that talk of 'sustainable development', a
'basic needs' approach or other 'improvements'
of the PwwnI development project are a cause for
hope, insisting that what is needed is to
'dethrone' development and 'leave it behind in
pursuit of radically alternative visions of sosial
life” (hal, 376). Proyek pembangunan pasca PD II
gagal tidak hanya karena buruknya implementasi
kebijakan, namun lebih karena kesalahan
pemahaman terhadap masalah pembangunan.
Satu alasan mengapa proyek pembangunan itu
salah pemahaman karena didasarkan pada
universalisasi pengalaman Barat, dengan
mengabaikan kemajemukan pengalaman,
kebutuhan dan keinginan yang mereka klaim
dibantu. Penolakan terhadap pembangunan tidak
harus berarti berakhirnya upaya untuk mengatasi
masalah pokok seperti kemiskinan, keterasingan
dan kesenjangan, namun lebih pada upaya
mencari alternatif untuk mengatasi masalah
tersebut.

Salah satu tokoh kelompok ini, Arturo Escobar,


menganggap bahwa kritik terhadap
pembangunan selama ini dirasa sudah tidak
mencukupi lagi. Hal ini disebabkan tiga hal
(Escobar, 1992a: 22). Pertama, sebagian besar
kritik disampaikan dalam cara pandang dan
budaya bagaimana pembangunan itu
didefinisikan. Ini telah sampai pada jalan buntu.
Karena itu, krisis saat ini tidak mengarah pada
perlunya “jalan” yang lebih baik dalam
membangun, tidak juga pentingnya
“pembangunan jenis lain”. Sebuah kritik terhadap
wacana dan praktik pembangunan akan
membantu menjernihkan dasar bagi kita untuk
bersama membayangkan alternatif masa depan:

“Such analyses have generated proposals to


modify the current regime of development: ways
to improve upon this or that aspect, revised
theories or conceptualizations, even its
redeployment within a new rationality (for
instance, sosialist, anti-imperialist, or ecological).
These modifications, however, do not constitute
a radical positioning in relation to the discourse;
they are instead a reflection of how difficult it is
to imagine a truly different domain. Critical
thought should help recognize the pervasive
character and functioning of development as a
paradigm of self-definition” (Escobar, 1992a:
25).

Kedua, menurut Escobar, ‘pembangunanʼ harus


dilihat sebagai ciptaan dan strategi yang
diproduksi “Dunia Pertama” tentang
pembangunan tertinggal di “Dunia Ketiga”, dan
bukan hanya alat ekonomi untuk mengontrol
realitas alam dan sosial dari Asia, Afrika, maupun
Amerika Latin. ‘Pembangunan adalah mekanisme
utama yang melaluinya, dunia diproduksi dan
memperoduksi dirinya sendiri, yang
memarginalisasi atau menyingkirkan cara lain
dalam berpikir dan bertindakʼ. Bagi Escobar,
masalah dengan ‘pembangunanʼ adalah bahwa
gagasan tersebut bersifat eksternal, didasarkan
pada model industri Barat, sementara yang
diperlukan lebih kepada wacana yang lebih
membumi atau asli dari masyarakat setempat.
Karena itu, pembangunan harus ditolak. Ketiga,
memikirkan “alternatif bagi pembangunan”
memerlukan transformasi baik dalam teori dan
praktik mengenai gagasan pembangunan,
modernitas dan ekonomi. Transformasi ini diraih
dengan membangun gerakan sosial praktis guna
merespon tatanan sosial pasca perang yang
dominan.

Para penulis PD yang lain [Nandy (1989); Sachs


(1992); Rahnema (1992, 1997); Esteva (1992,
1998)] juga menyatakan penolakannya terhadap
pembangunan. Sachs (1992) menolak
pembangunan karena menganggap bahwa
konsep tersebut telah ‘out of dateʼ dengan empat
alasan (Sachs, 1992: 2). Pertama, kepercayaan
terhadap teknologi mendorong kerusakan alam.
Kedua, gagasan pembangunan yang diinisiasi
Truman merupakan visi tatanan dunia yang
digunakan dalam rangka memerangi komunisme.
Kini setelah Perang Dingin berakhir dengan
runtuhnya Uni Soviet, maka doktrin Truman
kehilangan tenaga ideologi dan bahan bakar
politiknya. Ketiga, pembangunan justru
melanjutkan kesenjangan kekayaan antara Utara-
Selatan yang semakin bertambah, bukannya
menurun sebagaimana yang dijanjikan
pembangunan: “…in 1960, the Northern countries
were 20 times richer than the Southern, in 1980
46 times”. Keempat, konsep pembangunan
menghilangkan kemajemukan, sehingga
membosankan: “For development cannot be
separated from the idea that all people of the
planet are moving along one single track towards
some state of maturity, exemplified by the
nations running in front”.

Penolakan terhadap pembangunan juga


diungkapkan oleh Nandy (1989). Baginya,
berbagai alternatif pembangunan hanyalah
produk dari cara pandang yang sama terhadap
pengetahuan dan pembangunan: “…alternative
development is rejected because 'most of the
efforts are also products of the same worldview
which has produced the mainstream concept of
science, liberation and development” (Nandy,
1989: 270). Sementara Rahnema menegaskan
kembali bahwa pembangunan telah gagal bukan
karena implementasinya yang buruk, namun lebih
karena pemahaman yang keliru terhadap
keinginan orang yang menjadi targetnya: “…
development did not fail because governments,
institutions and people implemented it poorly,
but rather because it is 'the wrong answer to [its
target populations'] needs and aspirations'.
Development is thus to be rejected rather than
reformed.” (Rahnema, 1997: 379). Bagi Rahnema,
gagasan Barat tentang kemajuan hanya akan
menyebabkan polusi karena industrialisasi,
tercerabutnya orang pribumi dari akar budayanya
dan menjadi korban global eksploitasi kapitalisme
yang memanipulasinya lewat media, mendorong
mereka untuk mengkonsumsi barang yang salah
dengan alasan yang salah dengan uang yang
mereka tidak miliki (Shuurman, 2000: 10).

Lebih lanjut, menurut Esteva (1992), sejak pidato


Truman tahun 1949, pembangunan membawa
satu makna: melarikan diri dari kondisi yang
kurang pantas dengan sebutan ‘underdevelopʼ.
Dalam satu hari, dua milyar orang menjadi
‘terbelakangʼ karena adanya ‘pembangunanʼ.
Pembangunan dengan menggunakan ukuran
Barat adalah penyebab adanya ‘keterbelakanganʼ
itu sendiri. Pembangunan saat itu dilihat sebagai
kata kunci untuk menyelesaikan semua masalah,
namun bagi Esteva (1992j10), “for two-thirds of
the people on the earth : ‘developmentʼ is a
reminder of what they are not. It is a remainder of
an undesirable, undignified condition. To escape
from it, they need to be enslaved to otherʼs
experience and dreams”. Esteva berpendapat,
pembangunan hanyalah sebuah surat peringatan
dari Barat tentang apa yang tidak dimiliki oleh
Dunia Ketiga dengan menggunakan ukuran Barat.
Gagasan ‘pembangunanʼ Barat menciptakan
suatu kondisi yang tidak menyenangkan dan
tidak pantas bagi masyarakat Dunia Ketiga.
Masyarakat Dunia Ketiga dituntut untuk
mengikuti pengalaman dan impian Barat, jika
ingin keluar dari kondisi ketidaknyamanan yang
diciptakan oleh pembangunan itu.

Sejumlah ilmuwan tersebut, seperti diungkapkan


Escobar, sepakat tentang penolakan terhadap
pembangunan. Daripada mencari ‘pembangunan
alternatifʼ, mereka lebih suka berbicara tentang
‘alternatif bagi pembangunanʼ, penolakan
menyeluruh terhadap seluruh paradigma
pembangunan: “They see this reformulation as a
historical possibility already underway in
innovative grassroots movements and
experiments (Escobar, 1992a: 27). Bagi para
penulis PD, lebih jelasnya gambaran hubungan
antara pembangunan, di satu sisi, -yang ditandai
dengan keuntungan, patriarki dan objektivitas
pengetahuan dan teknologi-, dengan
marginalisasi pengetahuan dan kehidupan orang
di sisi yang lain, mendorong pencarian alternatif
yang makin mendalam. Menurut Escobar,
pencarian alternatif bagi ‘pembangunanʼ harus
diawali dengan transformasi tatanan yang
memproduksi kebenaran dan mendefinisikan
pembangunan. Dalam bahasa Escobar:

“It may be said that what is at stake is the


transformation of the political, economic and
institutional regime of truth production that has
defined the era of development. This in turn
requires changes in institutions and sosial
relations, openness to various forms of
knowledge and cultural manifestations, new
styles of participation, greater community
autonomy over the production of norms and
discourses. Whether or not the formation of
nuclei or nodal points around specific sosial
relations or problems leads to significant
transformations in the prevailing regime remains
to be seen” (Escobar, 1992a: 27).

Begitu pula Rahnema & Bawtree (1997) dalam


The Post-Development Reader menyatakan
bahwa ‘alternatif bagi pembangunanʼ adalah
sebuah panggilan pada cara baru tentang
perubahan, pembangunan, yang selama ini
dikontruksi oleh proyek pembangunan pasca
Perang Dunia II. ‘Alternatif bagi pembangunanʼ
adalah upaya mencapai masyarakat yang lebih
baik dengan cara baru. Mereka dengan jelas
menggambarkan hal tersebut:

“The contributors [to The Post-Development


Reader] generally agree that the people whose
lives have often been traumatized by
development changes do not refuse to accept
change. Yet what they seek is of a quite different
nature. They want change that would enable
them to blossom 'like a flower from the bud' (a
good definition in Webster's dictionary for what
development should be!); that could leave them
free to change the rules and the contents of
change, according to their own culturally defined
ethics and aspirations” (cq. Mathews, 2004:
376).

Post-Development dan Post-Modernisme

Pada bagian ini, kita akan mendiskusikan


hubungan antara PD dengan post-modernisme.
Kritik PD terhadap pembangunan tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh post-modernisme yang
mengarahkan kritiknya pada modernitas. Namun
mendefinisikan post-modernisme adalah sesuatu
yang sulit karena digunakan di berbagai bidang
dari mulai filsafat, sastra, ilmu sosial, seni
budaya, hingga arsitektur (Saughtads, 2001).
Pemikir post-modernime dari berbagai bidang
memiliki pendapat dan definisi yang berbeda.
Meski demikian, sejak diperkenalkan pertamakali
oleh seniman Inggris, John Watkins pada tahun
1870-an, dan pada 1917 oleh Rudolf Panwitz,
istilah post-modernisme biasanya menunjuk pada
reaksi negatif maupun penyangkalan terhadap
modernisme (Hasan, 1981: 31; Appignanesi, et.al,
1998).

Istilah post-modernisme baru menjadi


perdebatan yang hangat sejak terbitnya karya
Francois Lyotard tahun 1979 yang berjudul The
Postmodern Condition (Ferraris&Segre, 1988:
12). Lyotard mengartikan post-modernisme
secara sederhana sebagai “…incredulity towards
metanarratives” (ketidakpercayaan terhadap
metanarasi). Lyotard menggunakan istilah post-
modernisme untuk menjelaskan keadaan
pengetahuan di masyarakat yang paling maju.
Menurutnya, pengetahuan tersebut dicirikan
dengan penolakan terhadap penjelasan yang
mentotalisasi atau narasi besar. Dengan
gambaran seperti itu, kita tidak bisa memberikan
definisi tentang konsep besar apapun:
‘pembangunanʼ, ‘modernnitasʼ, maupun ‘budaya
tradisionalʼ. Perspektif post-modernisme yang
anti-esensialis dan konstruktivis melihat konsep-
konsep itu sebagai sesuatu yang secara aktif
terus-menerus dibentuk oleh manusia. Atau
dalam bahasa Lyotard, pengetahuan hanyalah