Anda di halaman 1dari 1

GAGASAN DASAR

DEVELOPMENTALISME
Sekian banyak pembahasan tentang pembangunan
lazimnya selalu berangkat dari dua urutan historisitas
pemikiran ekonomi,yaitu dari paradigma ekonomi
klasik dan neo-klasik (Keynesian). Pada gerbong
ekonomi klasik dimotori oleh Adam Smith, David
Ricardo dan Thomas Malthus. Sementara itu, dalam
paradigma yang berbeda dan bahkan bermusuhan, Karl
Marx dan Lenin, dengan sosialismenya, memberikan
kontribusi penting bagi perkembangan ekonomi klasik
ini.

Kemudian dilanjutkan pada periode neo-klasik yang


dikomandani oleh John Maynard Keynes, E. Domar dan
R. Harrold serta WW. Rostow dkk. Sesuatu yanng mesti
dicatat adalah bahwa pada periode inilah pemikiran
ekonomi mulai diletakkan pada posisi penting konsep
pertumbuhan ekonomi dalam skala makro. Secara
sederhana bisa dilukiskan bahwa pandangan tersebut
menyebutkan adanya hubungan antara agregat
konsumsi dan investasi. Pada periode ini pula pendapat-
pendapat ekonomi mulai diletakkan pada dasar-dasar
pikiran tentang perekonomian nasional serta dampaknya
dalam rangka menurunkan angka pengangguran. Juga
dikenalkan konsep stabilitas ekonomi dan politik secara
nasional.

Sedikit melakukan review terhadap materi teori


pembangunan dunia ketiga, Arif Budiman membagi
teori pembangunan kedalam tiga kategori besar: yaitu
modernisasi, dependensi, dan pasca-dependensi. Teori
Modernisasi meletakkan faktor manusia dan budayanya
yang dinilai sebagai elemen fundamental dalam proses
pembangunan. Kategori ini dipelopori oleh orang-orang
seperti: (1) Harrod Domar dengan konsep tabungan dan
investasi (saving and investation), (2) Weber dengan
tesis etika protestan dan semangat kapitalisme (The
Protestan Ethics and The Spirit of Capitalism) (3)
David McClelland dengan konsep kebutuhan
berprestasi (Need of achievement), (4) WW. Rostow
dengan lima tahap pertumbuhan ekonomi (the five stage
of economic growth) (5) Alex Inkeles dan David Smith
dengan konsep manusia modern, serta (6) Bert Hoselitz
dengan konsep-konsep faktor-faktor non-ekonominya.

Secara teoritis, diskursus pembangunan memang


acapkali dilandasi oleh perspektif berbeda, yang hal itu
kemudian menimbulkan perdebatan sengit. Perdebatan
teoritik ini dipandang sebagai sesuatu yang wajar
karena ia bermula dari perbedaan paradigma atau sudut
pandang yang berupa ruang, waktu sekaligus
kepentingan yang berbeda pula. Tetapi meskipun
paradigma yang digunakan untuk menjelaskan
pembangunan tersebut berbeda, hal itu tetap tidak
menghalangi penyimpulan yang menyatakan bahwa
kajian pembangunan adalah kajian tentang perubahan
sosial (social change). Hampir keseluruhan
pembahasan pembangunan selalu menyinggung tentang
proses perubahan dalam suatu masyarakat dari kondisi
tertentu ke kondisi yang lain. Dengan bahasa lain,
pembangunan bisa diartikan sebagai proses perubahan
dari masyarakat tradisional agraris ke masyarakat
industrial modern. Oleh karena itu, pembangunan
acapkali diberi pengertian sebagai proses perubahan
tatanan hidup masyarakat yang sengaja direncanakan
(planned social change).

Pembangunan dipahami sebagai konsep yang tersusun


dan terencana secara sistematis, yang bertujuan
menciptakan suasana serta sistem baru. Emanuel
Subangun (1994) memberikan definisi sekaligus
interpretasi bahwa pembangunan adalah proses
perubahan yang bisa menjamin adanya konsolidasi
sistem dan membuka peluang baru. Dalam artian seperti
ini, maka pembangunan mesti ditafsirkan sebagai
perbaikan tata pergaulan secara terus-menerus yang
melingkupi seluruh sistem segi pergaulan.

Banyak sekali definisi dan pemahaman tentang


pembangunan. Dari berbagai definisi tersebut dapat
ditarik kesimpulan bahwa pemaknaan pembangunan
adalah proses transformasi segala bidang dari kondisi
tertentu menuju kondisi lain yang lebih baik. Hal senada
diungkap oleh Sail M. Katz, yang memberi penjelasan
bahwa pembangunan adalah pergeseran suatu kondisi
nasional tertentu menuju kondisi nasional yang
dianggap lebih baik dan menyejahterakan.

Pembangunan terkait dengan apa yang dianggap baik


atau buruk menurut pengalaman suatu bangsa. Katz
membagi pengertian pembangunan dalam dua model,
yaitu (1) culture spesific, sebuah konsep pembangunan
yang didasarkan pada negara mana yang
melaksanakannya, dan (2) time spesific, yang
didasarkan pada waktu melaksanakannya. Sebagai
contoh, pembangunan di Indonesia di masa Orde Lama
berbeda dengan masa Orde Baru. Orla menekankan
pada pembangunan politik sedangkan Orba
menekankan pada pembangunan ekonomi.

Untuk memahami model-model pembangunan yang


diterapkan oleh suatu negara, Martin Staniland (1985)
membuat kategorisasi kedalam empat orientasi, yang
selanjutnya menjadi fokus utama ke arah mana
pembangunan itu dijalankan oleh negara tersebut.
Pertama, orthodox liberalism adalah bentuk
pembangunan yang diterapkan oleh negara yang dalam
proses pembangunannya sangat mengagungkan konsep
individualisme. Konsep ini menganggap bahwa
masyarakat hanya sekedar sebagai agregasi dari sintesa
seluruh kepentingan individu. Model ini biasa dipakai
oleh negara-negara dengan sistem ekonomi kapitalisme.
Kedua, social critique of liberalism, adalah respon dari
model yang pertama. Pandangan ini menghujat konsep
liberal-ortodoks yang seolah-olah menegasikan
kepentingan sosial dalam pembangunan ekonomi.
Menurut pandangan ini, model pembanginan yang
pertama mengesankan bahwa kehidupan individu
berada dalam isolasi dan ruang kosong. Karenanya,
kepentingan sosial mesti disertakan dalam
pembangunan ekonomi. Ketiga, economism
perspektive, sepintas model ini mirip dengan liberal
ortodoks. Perbedaannya adalah posisi kebijakan-
kebijakan ekonomi dianggap sebagai segala-galanya.
Kebijakan politik dan aktifitas kenegaraan lainnya harus
ditentukan oleh tindakan-tindakan ekonomi. Keempat,
policism perspektive. Menurutnya, justeru faktor-faktor
politiklah yang mesti dominan dalam seluruh rangkaian
kebijakan ekonomi.

Mahbub ul-Haq menggunakan pendekatan


pembangunan dari faktor manusianya. Menurutnya,
tujuan utama yang mesti diprioritaskan dalam
pembangunan adalah menciptakan kondisi yang bisa
memungkinkan masyarakat bisa menikmati
kesejahteraan kehidupan yang lebij baik. Tujuan lain
dari pembangunan adalah menegasikan kehendak
peningkatan akumulasi kapital secara terus menerus.
Pendekatan semacam ini didukung oleh berbagai
pengalaman yang menunjukkan bahwa kaitan antara
pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia
seutuhnya tidaklah terjadi secara alami. Hal ini senada
dengan Dennis Goulet yang menguraikan bahwa
pembangunan harus menghasilkan solidaritas baru yang
mengakar ke bawah, yang mana tidak terjadi pada
masyarakat kapitalisme. Disamping itu, pembangunan
juga harus memperhatikan keragaman budaya,
lingkungan serta menjunjung tinggi martabat dan
kebebasan manusia dan masyarakat. Dalam literatur
yang lain Goulet sepakat dengan Gutieres yang menolak
istilah pembangunan. Ia lebih menyukai istilah
pembebasam (liberation).

Menurut Alex Inkeles, kegagalan dan keberhasilan


pembangunan diakubatkan oleh faktor mikro atau psiko
individual yang berproses ke arah modernitas melalui
transformasi karakterisrik dari pribadi tradisional ke
modern. Dengan kata lain, karakter masyarakat yang
masih tradisional harus diubah ke masyarakat modern,
dengan cara apapun. Tradisi masyarakat tradisional
yang sulit untuk ditembus modernisasi, menurutnya,
adalah hambatan besar bagi pembangunan. Arif
Budiman, berpendapat bahwa pembangunan pada
akhirnya mesti ditujukan pada manusianya lagi.
Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif.
Untuk bisa kreatif, mereka harus merasa bahagia, aman
dan bebas dari rasa takut. Karenanya harus diciptakan
lingkungan politik dan budaya yang kondusif, sehat dan
dinamis. Ia lebih humanis dalam menilai faktor
manusia, berbeda dengan Inkeles yang memaksakan
pendapatnya untuk merubah tatanan masyarakat dan
manusia dengan kemodernan.

Bagaimana sesungguhnya realitas yang sedang terjadi?


Bagaimana ikhwal pembangunan bisa bergeser menjadi
ideologi yang teramat mengesankan bagi negara Dunia
Ketiga, yang bernama developmentalisme itu, lepas dari
normativitas pemahaman dan konsep pembangunan
diatas?

Developmentalisme merupakan konsep pembangunan


yang dipahami Dunia Ketiga sebagai alernatif yang mau
tak mau harus diselenggarakan. Dalam hal ini, realitas
pembangunan berkait erat dengan peran penting
pemerintah sebagai penyelenggara. Di hampir seluruh
Dunia Ketiga, penafsiran konsep pembangunan
dipahami sebagai perbaikan umum dalam standar hidup.
Kehadiran pembangunan mesti dipahami sebagai sarana
untuk memperkuat negara, terutama melalui proses
industrialisasi yang mengikuti pola seragam dari negara
satu ke negara lainnya. Pandangan seperti inilah yang
kemudian memposisikan pemerintah sebagai subjek
pembangunan dan memperlakukan rakyat sebagi objek,
resipen, klien dan partisipan pembangunan.

Dunia Ketiga yang rata-rata adalah mantan negara


koloni, pada tingkat pertumbuhan ekonominya jelas
tertinggal jauh dengan Dunia Pertama. Fenomena ini
secara tidak langsung menimbulkan dampak kuat pada
sisi politiknya. Pemerintah Dunia Ketiga serta merta
nelegitimasi pelaksanaan pembangunan sebagai sal;ah
satu sarana akurat untuk memperkuat posisi status quo-
nya. Kehadiran pembangunan di Dunia Ketiga ini lebih
lanjut dijelaskan seolah-olah tanpa kendala apapun.
Konsepsi pembangunan tampaknya diterima begitu saja
oleh Dunia Ketiga tanpa kritik dan koreksi yang serius
dan mendalam.

Pada dasarnya, pembangunan diterima begitu saja oleh


para birokrat, akademisi, dan aktifis LSM negara Dunia
Ketiga tanpa mempertanyakan landasan ideollogis dan
diskursusnya. Pertanyaan terhadap pembangunan
semata-mata hanya mengenai metodologi atau
pendekatan dan bagaimana teknik pelaksanaan
pembangunan. Padahal yang semestinya dipertanyakan
secara serius dan mendasar adalah justeru pembangunan
itu sendiri merupakan suatu gagasan yang kontroversial
atau bahkan kontraproduktif. Benarkah pembangunan
benar-benar jawaban untuk memcahkan masalah bagi
berjuta-juta rakyat Dunia Ketiga, atau semata-mata alat
untuk menyembunyikan penyakit yang sebenarnya yang
lebih mendasar?

Mueller mengatakan bahwa pembangunan adalah


seperangkat praktik yang dikendalikan oleh pranata-
pranata Dunia Pertama. Hubungan antara Dunia
Pertama dan Ketiga memang sengaja diciptakan. Dunia
Ketiga diberi pengertian sebagai negara miskin dan
terbelakang, sementara Dunia Pertama diberi label
negara industri maju. Perbedaan secara ekonomi inilah
yang kemudian mewujud dalam hubungan tersebut,
dimana teknologi dan informasi dari Dunia Pertama
dapat ditransfer ke Dunia Ketiga. Dari fenomena
tersebut Mueller menyebutkan bahwa hubungan itu
adalah hubungan imperialisme.

Hubungan yang bersifat imperialistik dan eksploitatif


pada gilirannya banyak melahirkan persoalan baru di
Dunia Ketiga. Terutama setelah negara-negara industri
besar melakukan investasi pada kebijakan
pembangunan ekonomi Dunia Ketiga. Mereka
menegaskan bahwa kapitalisme Dunia Ketiga yang
terutama muncul akibat dikte negara-negara industri
besar dan bisnis internasional tersebut menumbuhkan
kepentingan regional dan sektoral yang berakibat pada
meningkatnya ketimpangan pendapatan dan kekayaan,
menciptakan pengangguran dan berkurangnya
kesempatan kerja yang kronis, serta hanya memberi
keuntungan kepada sekelompok elit kecil ekonomi dan
politik.

Pembangunan yang kehadirannya disambut suka cita


oleh negara Dunia Ketiga, sesungguhnya sarat dengan
muatan ideologis yang membawa masalah baru.
Masalah-masalah baru yang segera tampak jelas adalah
semakin meningkatnya angka kemiskinan absolut dan
bertambahnya jumlah pengangguran. Ini bisa dikatakan,
karena meskipun pembangunan di Dunia Ketiga telah
diselenggarakan, angka-angka kemiskinan itu tidak
kunjung mengalami penurunan, malah justeru
meningkat dengan tajam.

Persoalan baru yang menimpa negara Dunia Ketiga


yang diakibatkan oleh pembangunan semakin
memperkuatkan pandangan bahwa pembangunan bukan
lagi merupakan upaya untuk menuntaskan masalah.
namun pembangunan itu sendiri ialah biang keladi dan
sumber dari masalah itu. Pembangunan yang dicita-
citakan sebagai sebagai harapan dunia ketiga untuk
memecahkan masalah, ternyata pada gilirannya berubah
menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Pembangunan
menciptakan masalah struktural dan sebaliknya proses
ekonomi, politik dan kultural di Dunia Ketiga juga
membentuk konsep pembangunan.

Realitas tersebut merupakan dampak langsung dari


hegemoni lembaga internasional, negara kapitalis maju
sekaligus globalisasi ekonomi yang tak terelakkan oleh
diskursus kapitalisme global. Fenomena selanjutnya
yang terjadi adalah terjebaknya Dunia Ketiga pada
konseptualisasi pembangunan ala kapitalisme. Konsep
pembangunan yang diterima apa adanya oleh negara-
negara Dunia Ketiga yang selanjutnya diseseuaikan
dengan doktrin industri maju, merupakan konsep yang
meletakkan paradigma pertumbuhan sebagai variabel
penting dalam tujuan pembangunan. Konsep ini tidak
lain adalah salah satu ajaran dari sistem ekonomi
kapitalisme. Sehingga fenomena pembangunan di
Dunia Ketiga sering disebut dengan kapitalisme Dunia
Ketiga.

Hubungan yang lebih erat antara developmentalisme


sebagai model pembangunan di Dunia Ketiga dengan
konsep pembangunan ala kapitalisme, bisa
diungkapkan. Secara umum, dimensi makro mengenai
perubahan masyarakat Dunia Ketiga, sebenarnya bisa
kita lacak dari gagasan mengenai developmentalisme
yang mengedepankan aspek pertumbuhan. Sebuah
perekonomian yang dikuasai oleh mekanisme pasar dan
keterkaitan pada pertumbuhan yang ada dalam sistem
perekonomian, ternyata tidak satupun diantara dua
kekuatan ini yang ditiadakan oleh realitas bahwa pasar
sering dipengaruhi atau diatur melalui tindakan yang
secara resmi atau tidak resmi membatasi persaingan,
atau oleh fakta bahwa laju pertumbuhan bisa jauh
berbeda pada masa yang berbeda. Karena itu,
meminjam kritik Berger, masuk akal kiranya bahwa
dalam serangan-serangan terhadap kapitalisme
belakangan ini, kritik terhadap pasar erat kaitannya
dengan kritik terhadap pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan negara


Dunia Ketiga melalui proses industrialisasi lebih lanjut
berkembang menjadi legitimasi mutlak pada institusi
perdagangan internasional yang dipercaya sebagai
sarana untuk mendistribusikan produk domestik. Selain
itu, perdagangan internasional dapat juga difungsikan
sebagai sarana untuk menciptakan produk-produk yang
tidak diproduksi pasar domestik. Dalam realitasnya,
negara-negara berkembang (Asia, Amerika Latin dan
Afrika) tidak bisa segera memulai dan mempercepat
perdagangan internasional.

Mengapa? Karena di negara-negara tersebut, yang


akibat kolonialisasi sampai tahun 1930-an, sama sekali
tidak memiliki basis industri. Dengan alasan itulah,
begitu Perang Dunia Kedua selesai, negara-negara
berkembang segera mengembangkan basis industri
untuk menciptakan produk-produk andalan sebagai
dasar melakukan perdagangan internasional.

Aparat pembangunan percaya bahwa perdagangan


internasional merupakan kunci untuk menciptakan
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang bagi
negara berkembang. Perdagangan internasional dapat
mempercepat perluasan pasar bagi produk lokal yang
dapat meningkatkan efisiensi, alokasi sumber daya dan
dana yang lebih baik. Perdagangan internasional juga
diharapkan mampu menyediakan produk negara maju
yang dibutuhkan oleh negara berkembang. Produk
negara maju yang berteknologi tinggi tersebut
selanjutnya ditransfer ke negara berkembang, atau biasa
dikenal dengan alih teknologi. Kapitalisme dengan
ideologinya terus berusaha memperluas horizon pasar
dan menciptakan suasana ketergantungan negara Dunia
Ketiga terhadap rasionalitas teknologi. Muncullah apa
yang kita sebut sebagai konsep alih teknologi.
Parahnya, kejadian kejadian setelah itu adalah
meluasnya semangat konsumerisme serta kepuasan
pada kesenangan jangka pendek. Sebuah kondisi yang
disebut Illich sebagai keterbelakangan mental.

Transfer teknologi dari negara Dunia Pertama ke Dunia


Ketiga ini bukan berarti serta merta menjadikan negara-
negara Dunia Ketiga segera mengikuti perkembangan
ekonomi negara maju. Namun, dibalik transfer
teknologi tersebut ada banyak hal yang secara otomatis
menjadi konsekuensi logis dan dampaknya.

Ketergantungan Dunia Ketiga terhadap Dunia


Pertama

Konsep alih teknologi yang bagi Dunia Ketiga dianggap


dapat memberi harapan itupun digunakan oleh Dunia
Pertama sebagai sarana untuk mengeksploitasi sumber
daya alam negara Dunia Ketiga. Sementara itu, proses
pembangunan tidak berjalan seimbang antara kondisi
senyatanya masyarakat Dunia Ketiga pada umumnya,
dipadukan dengan konsep pertumbuhan ekonomi ala
kapitalisme yang menciptakan penciptaan angka gross
national product setinggi-tingginya merupakan
penyebab tak terelakkan dalam masalah ketergantungan
Dunia Ketiga pada negara Dunia Pertama.
Ketergantungan Dunia Ketiga pada Dunia Pertama
berakibat erat pada situasi sosial politik di negara yang
bersangkutan. Tuntutan negara industri maju pada
negara miskin adalah tuntutan yang sepihak dan
berusaha mencapai kepentingan dominan negara
industri maju tersebut.

Karakter ekspolitasi yang bermuara pada dependensia,


melekat erat dan menjadi sifat yang dominan dalam
setiap proses pembangunan di negara Dunia Ketiga.
Fenomena tersebut diperparah dengan adanya wacana
globalisasi di penghujung abad ke XIX sampai
sekarang. Dalam wacana globalisasi, berarti proses
pembanguna di suatu negara tidak bisa dilepaskan
dengan keberadaan negara lain. Artinya, proses
pembanguna di suatu negara akan terkait erat dengan
proses pembangunan di negara lain.

Globalisasi ini juga memunculkan institusi urgen yang


tidak bisa dilepaskan pembahasannya. Ia adalah media
massa. Media massa menjadi salah satu instrumen yang
kuat dalam memberikan kontribusi terhadap
developmentalisme di Dunia Ketiga. Media massa
berfungsi sebagai sarana untuk menyebarluaskan
gagasan pembangunan secara merata. Melalui mesia
massa, developmentalisme mendapat dukungan untuk
membuat legitimasi-legitimasi pada mekanisme pasar,
alih teknologi dan pembenaran-pembenaran tingkah
laku serta gaya hidup modern. Sedangkan yang
demikian adalah perangkap kapitalisme.

Developmentalisme telah menciptakan keinginan bagi


Dunia Ketiga untuk menjadi modern.
Developmentalisme dan modernisme menjadi pasangan
serasi yang selalu bergandengan mesra, dan kemudian
bergerak menuju Dunia Ketiga dengan tawaran konsep
pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, sekurang-
kurangnya bisa kita simpulkan bahwa
developmentalisme adalah modal pembangunan yang
ditawarkan negara-negara Dunia Pertama yang
kapitalistik pada negara Dunia Ketiga dengan memakai
angka-angka pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur
dan parameter keberhasilannya. Developmentalisme
atau pembangunanisme yang terjadi di Dunia Ketiga
dimaknai sebagai pembangunan ekonomi an sich.
Sementara pembangunan ekonomi adalah pembangunan
yang meletakkan parameter pertumbuhan ekonomi
sebagai indikasi mutlak atas keberhasilan dan
kegagalannya.

Sekarang yang menjadi persoalan ialah, sampai sejauh


mana pertumbuhan ekonomi bisa mengukur
keberhasilan sebuah pembangunan? Bagaimanakah
dengan realitas ekonomi Dunia Ketiga yang tidak
membaik sementara mereka telah melaksanakan
pembangunan? Sementara sesuatu yang sedang terjadi
pada pembangunan di Dunia Ketiga adalah bahwa
konsepsi pertumbuhan ekonomi yang ditawarkan
justeru menjadi bumerang yang menikam balik.
Pertumbuhan ekonomi ternyata tidak berhasiln
digunakan sebagai parameter untuk menilai suatu
pembangunan.

Kemiskinan, pengangguran, angka inflasi yang terus


merangkak naik, eksploitasi yang semakin tajam,
intervensi Dunia Pertama pada Dunia Ketiga,
merupakan rentetan contoh dari masalah baru Dunia
Ketiga sebagai akibat dari ideologi pembangunan yang
mengkhawatirkan sekaligus mencekam itu. Apakah
fenomena tersebut lebih diakibatkan karena kesalahan
paradigma? Memang banyak konsepsi pembangunan
yang mutakhir yang menderita karena sifatnya yang
ahistoris-universal dan tidak terikat waktu. Hal ini
bahwa dunia telah berhasil menumbuhkan atau merubah
cara-cara secara obyektiv dan bahwa teori-teori itu
sendiri tidak berkembang. Sebagai akibatnya, ada dan
akan selalu ada ekonom, politisi, perencana
pembangunan yang dengan sengaja masih menerapkan
teori-teori usang yang tidak sesuai dan acapkali diikuti
dengan konsekuensi-konsekuensi yang sangat distorsif.
Hal ini bisa ditunjukkan oleh fakta sosial ekonomi yang
ada. Misal, penerapan filsafat pasar bebasnya Milton
Friedman di Argentina, Chili, Uruguay dan Brazil,
adalah sangat cocok dengan kepentingan-kepentingan
politik pengusaha-pengusaha militer di sana. Hasilnya,
penerapan itu kemudian melahirkan konsekuensi
ekonomi, sosial dan politik yang benar-benar negatif.

Namun, bagaimanapun juga negara-negara Dunia


Ketiga tetap pada pendiriannya bahwa pembangunan
tetap harus dilaksanakan. Penyelenggaraan
pembangunan, selain untuk menciptakan tatanan
kehidupan masyarakat yang sejahtera dan mapan secara
ekonomi, juga dimaksudkan untuk mengejar
ketertinggalan pertumbuhan ekonomi dari Dunia Barat.
Barangkali bagi Dunia Ketiga, pembangunan memang
menyakitkan, meski tetap harus dilakukan. Perhatikan
apa yang dikatakan oleh Dudley Seers dari Institut
Studi-Studi Pembangunan Universitas Sussex dalam
pidato kepresidenannya pada Kongres Dunia
Masyarakat Pembangunan Internasional Kesebelas (SII)
di New Delhi, November 1969:

"Kita telah salah mengartikan hakekat tantangan utama


pada paruh kedua abad kedua puluh dengan membuat
lima persen tingkat pertumbuhan gross national
product sebagai target bagi Dasawarsa Pembangunan
Pertama. Kecerobohan kita adalah karena kita
mengartikan pembangunan dengan pembangunan
ekonomi dan selanjutnya mengartikan pembangunan
ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi. Adalah naif
mengasumsikan bahwa peningkatan dalam pendapatan
nasional lebih cepat dari pertumbuhan penduduk akan
membawa dampak pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan menjadi lebih baik. Pertumbuhan ekonomi,
cepat atau lambat akan membawa dampak perpecahan
pada masalah sosial politik, namun karakteristik tertentu
dari pertumbuhan ekonomi sesungguhnya merupakan
biang keladi dari semua persoalan itu. Oleh karena itu,
pertanyaan-pertanyaan yang segera dapat diajukan
dalam pembangunan ekonomi suatu negara adalah: apa
yang telah terjadi dengan kemiskinan? apa yang sedang
terjadi dengan pengangguran? Apa yang telah terjadi
dengan ketimpangan? Jika satu atau dua hari masalah
utama tersebut semakin memburuk, apalagi kalau
ketiga-tiganya, maka sangat aneh untuk menyebut hal
itu sebagai sebuah pembangunan, walaupun pendapatan
perkapita naik dua kali lipat.

Akar Historis Pembangunan

Tatkala PD II usai, muncul situasi yang sering disebut


dengan Perang Dingin, yakni perang untuk
memperebutkan simpati Dunia Ketiga antara Blok
Sosialis dan Blok Kapialis. Front yang tercipta dalam
perang dingin pada tahun 1950-an adalah dengan
mengatasnamakan dua adikuasa, mereka melakukan
gerakan untuk memperoleh pengaruh bagi Dunia
Ketiga. Paling tidak sama persis dengan apa yang
dilakukan oleh GATT pada tahun 1956 ketika
menunjukkan perhatiannya akan permasalahan
perdagangan negara-negara berkembang. Uni Soviet
menandinginya dengan mengusulkan suatu konferensi
ekonomi dunia untuk membahas permasalahan
pembangunan dan perdagangan.

Menurut catatan sejarah, dua seteru ini saling melempar


agitasi, provokasi dan persuasi agar Dunia Ketiga
mengikuti salah satu dari paham ideologi mereka.
Perang dingin antara Blok Kapitalis dengan Blok
Sosialis acapkali direpresentasikan sebagai perang
antara USA dengan sekutunya versus USSR dan negara
Eropa Timur komunis lainnya. Negara-negara kapitalis
berusaha keras agar paham sosialisme-komunisme tidak
menjadi paham yang mendunia. Demikian pula
sebaliknya, blok sosialisme-komunisme dengan gencar
melancarkan jargon anti-kapitalisme.

Para kaum kapitalis kemudian membuat strategi


gerakan agar kapitalisme bisa diterima. Setidaknya
berangkat dari kecerdasan ideologi ini akhirnya
kapitalisme berhasil membuat produk baru yang
dikemudian hari kita sebut sebagai pembangunan. Pada
waktu bersamaan, komunisme bagai ditelan ombak,
mati tak bersuara lagi. Blok kapitalisme yang diwakili
Amerika Serikat melalui Presiden Harry S. Truman
pada tanggal 20 Januari 1949 menggagas istilah baru
yang kemudian dikenal dengan konsep
underdevelopment atau keterbelakangan.

Inilah awal mula diskursus sekaligus konsep


pembangunan secara resmi diluncurkan. Berbagai
bantuan teknis secara besar-besaran, bilateral maupun
multilateral, langsung dijalankan ketika Presiden
Truman menyatakan Butir Keempat dalam pidato
pelantikannya (20/1/49) yang berbunyi: "Suatu program
baru yang berani menyediakan keuntungan-keuntungan
kemajuan ilmu pengetahuan dan industri bagi bagi
perbaikan dan pertumbuhan di wilayah terbelakang".
Program Butir Keempat tersebut adalah pengungkapan
praktis dari sikap Amerika terhadap negara-negara
Dunia Ketiga yang sedang diancam oleh dominasi
komunisme.

Wacana pembangunan selanjutnya menjadi isu sentral


perbincangan kenegaraan dimana-mana. Bahkan untuk
tidak memperlemah apa yang disampaikan Presiden
Truman, pemerintah Amerika Serikat menjadikannya
sebagai kebijakan resmi. Maksudnya jelas, yakni upaya
dalam rangka membendung pengaruh sosialisme-
komunisme di negara Dunia Ketiga. Upaya selanjutnya
dari pemerintah Amerika Serikat adalah bagaimana
melakukan sosialisasi gagasan pembangunan ini di
negara-negara Dunia Ketiga. Para ilmuwan pun
dikerahkan untuk memberikan kontribusi pemikirannya
pada gagasan baru ini.

Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada waktu


itu memang tidak sia-sia. Hal ini dibuktikan dengan
sambutan luar biasa dari Dunia Ketiga atas gagasan
pembangunan tersebut. Dunia Ketiga yang ekonominya
lemah secara otomatis terpikat. Apalagi pembangunan
datang dengan membawa persuasi cantik memikat, dan
berusaha meyakinkan bahwa dengan pembangunan
ekonomi Dunia Ketiga akan bertambah maju. Mereka
mengatakan bahwa pembangunan juga berusaha
memberikan kepastian akan jaminan kesejehteraan dan
kemapaman ekonomi.

Literatur pertama yang menjelaskan tentang


pembangunan ini adalah The International Economy
yang dikaji oleh Ellsworth. Ellsworth menjelaskan
bahwa salah satu kecenderungan sosial utama pasca
Perang Dunia II adalah mimpi buruk sekaligus
keresahan yang semakin memuncak bagi negara-negara
Dunia Ketiga secara ekonomi. Realitas semacam ini