Anda di halaman 1dari 1

Rangkuman dari Teori

Pembangunan
June 14, 2011

Beberapa Contoh Soal Ujian Akhir Semester Teori


Pembangunan

1. Jelaskan argument dasar teori modernisasi dan


relevansinya bagi Negara berkembang seperti
Indonesia! Apa kritik Anda terhadap teori modernisasi?
Apa alternatif yang bisa ditawarkan?

2. Jelaskan bagaimana teori struktural menjelaskan


kemajuan atau keterbelakangan suatu Negara! Apa
kontribusi penting teori ketergantungan dalam
perdebatan pembangunan?

3. Mengapa globalisasi selalu menimbulkan


kontroversi? Apa yang harus dilakukan Negara
berkembang untuk menghadapi globalisasi? Peran
pokok apa yang harus dijalankan pemerintah di tengah
kuatnya arus globalisasi?

4.Pemerintah adalah “a necessary evil”. Jelaskan makna


pertanyaan tersebut dan sertakan dengan contoh!

5.Apa argumen pokok post-developmentalisme dan apa


kontribusinya bagi pembangunan? Bagaimana fisibilitas
gagasan post-developmentalisme untuk Negara-negara
berkembang? Sejauh mana gagasan tersebut telah
diperhatikan dalam pembangunan di Negara
berkembang?

6. Mengapa pemberdayaan masyarakat penting untuk


dilakukan? Dari beberapa perspektif pemberdayaan,
perspektif manakah yang bisa digunakan untuk
memahami pemberdayaan di Negara berkembang
secara umum dan Indonesia secara khusus? Sertakan
dengan contoh!

7. Mengapa isu gender penting untuk dibicarakan dalam


pembangunan? Sejauh mana isyu gender sudah
dipertimbangkan dalam pembangunan di Negara-negara
berkembang seperti Indonesia? Tantangan atau kendala
pokok apakah yang dihadapi dalam pengarusutamaan
gender? Bagaimana mengatasi tantangan atau kendala
tersebut?

8. Mengapa pembangunan berkelanjutan penting untuk


diperhatikan? Sejauh mana agenda tersebut telah
berhasil dipromosikan dalam pembangunan di Negara
berkembang? Masalah atau kesulitan pokok apakah
yang harus diselesaikan agar pembangunan
berkelanjutan bisa diterapkan? Bagaimana posisi
Indonesia/Australia saat ini?

9. Mengapa Anda perlu untuk memahami teori


pembangunan?

JAWABAN :

1. Argument dasar dari teori Modernisasi adalah


Budiman (2000 :40) negara-negara yang belum
maju tersebut masih tradisonal, belum berhasil
lepas landas, karena baik orang-orangnya
maupun nilai-nilai yang hidup dimasyarakat
tersebut masih belum modern, sehingga tidak
menopang proses pembangunan. Dari penjelasan
tersebut dapat dilihat bahwa pandangan dari teori
modernisasi ingin mengungkapkan bahwa peran
internal dalam proses pembangunan dan
perubahan menuju dunia modern, keadaan
orangnya hingga nilai-nilai hidupnya masing
memegang budaya ketradisonalannya, hal
tersebut dilihat bahwa perubahan hanya akan
terjadi ketika faktor- faktor internal pada suatu
negara telah bersedia berubah untuk menjadi
lebih modern. Prilaku, aktifitas n budaya internal
pada suatu negara, akan membentuk tingkatan
modernitas suatu negara, akan berubah menjadi
lebih baik itu menurut teori modernisasi haruslah
merubah sedikit drmi sedikit masyarakat dan
pola2nya untuk bisa mnerima modernisasi. Teori
ini menyarankan agar negara2 berkembang
meminta bantuan pada negara2 maju, sehingga
harus ada hubungan yang erat antara negara2
bekembang dengan negara2 maju.

kritik

Teori modernisasi yang terlalu mempermasalahkan


tentang kualitas internal pada suatu negara. Negara
maju yang telah jauh di depan negara berkembang
dianggap tidak ada pengaruhnya, dan negara
berkembang sudah seharusnya membuat hubungan yang
erat karena dianggap negara maju bisa membantu
negara berkembang, padahal pada kenyataannya negara
maju dalam proses hubungan itu hanya memanfaatkan
negar-negara berkembang.

Alternatif

Alternatif yang dapat penulis tawarkan adalah andai


memang faktor internal menjadi terpenting, maka
manfaatkn sdm n sda secara optimal untuk kemajuan
negara, tapi bukan maksimal. Mari mulai
memanfaatkan kemampuan dalam negeri dengan
optimal, dan berusaha mencuri ilmu dari negara yang
telah maju, tetapi jangan dengan buta
mengaplikasikannya.

2. Teori ketergantungan menjelaskan kemajuan atau


keterbelakangan suatu negara disebabkan oleh
“perkembangan dan dan ekspansi dari kehidupan
ekonomi negara-negara lain”. Secara umum dapat
disimpulkan bahwa teori ketergantungan memandang
keadaan suatu negara itu disebabkan oleh negara-negara
lain yang memiliki hubungan dengan negara tersebut,
namun dalam hubungan tersebut lebih sering merugikan
suatu negara tersebut dalam menjalin hubungan, pada
teori ini sangat tegas mengatakan bahwa lebih celaka
bila berhubungan banyak dengan negara lain, terutama
negara-negara kapitalis, karena negara yang
berhubungan dengan negara maju yang dalam teorinya
menggunakan sistem kapitalis tersebut akan diekploitasi
dan akan sangat merugikan negara yang melakukan
hubungan dengan negara lain.

Peran Penting

Teori ini merupakan teori yang menyangkal dan


membantah argumen dari teori modernisasi yang
mengatakan bahwa kemandirian itu tidak tidak akan
memberikan kemajuan pada suatu negara, negara harus
melakukan hubungan dengan negara2 maju yang
kapitalis bila ingin maju. Teori ketergantungan memiliki
komitmen untuk berusaha mandiri dengan sumber daya
sendiri dan apabila berhubungan dengan negara lain
haruslah hubungan yang saling menguntungkan.

Catatan : Menurut penulis, sperti yang dikatakan oleh


Bung Karno dengan “BERDIKARI” alias berdiri dikaki
sendiri dan tidak mengharapkan bantuan negara
kapitalis itu ada benarnya, kenyataan menjawab bahwa
hubungan yang berlebihan dengan negara-negara
kapitalis hanya merugikan.

3. Kontroversinya globalisasi disebabkan oleh pengaruh


yang dibawanya dan karena kondisi atau keadaan
hingga kualitas negara yang masuk ke dalam prosesnya.
Selama ini bagi negara atau bangsa yang tidak mampu
untuk memfilter berbagai macam unsur terutama unsur
budaya, gaya hidup hingga ideologi, maka akan
merasakan dampak negatif dari globalisasi, karena
globalisasi yang pada umumnya membawa
westernisasi, yaitu budaya dan gaya hidup barat yang
tentunya sangat berbeda dengan budaya negara lain
khususnya Indonesia. Arus teknologi informasi dan
komunikasi yang sangat terbuka luas akan membawa
unsur negatif, maka sangat diperlukan sebuah saringan
untuk mencegahnya. Untuk masalah kondisi serta
kualitas negara yang ikut ke dalam lingkaran globalisasi
antara lain yaitu, tidak sebanding atau setaranya kualitas
SDM yang dimiliki suatu negara dengan negara lain,
begitupula teknologi yang digunakan, dan berbagai
keadaan baik itu ekonomi, budaya, sosial dan
masyarakat pada suatu negara belum siap untuk masuk
ke dalam proses global atau globalisasi, sehingga
seringkali disimpulkan bahwa globalisasi belumlah
saatnya dijalankan terutama pasar bebas yang sangat
memberatkan negara berkembang yang belum memiliki
kekuatan baik secara ekonomi atau lainnya.

Negara bekembang khususnya Indonesia dalam


menghadapi globalisasi dapat melakukan beberapa hal,
antara lain :

– Meningkatkan kulitas SDM dan mengoptimalkan


SDA yang tersedia,

– Pemerintah mulai melihat secara serius dan membuat


kebijakan tentang manghadapi periode globalisasi
tersebut,

– Selanjutya kemajuan dan kebebasan teknologi dan


informasi dimanfaatkan dengan baik dan apabila ada
pemerintah bersiap sedia dengan peraturan bila ada
penyalahgunaan,

Peran pokok dari pemerintah berada pada bagaimana


bisa membuat regulasi atau kebijakan untuk masyarakat
dalam menghadapinya, mulai dari peningkatan
pemahaman ideologi negara buat seluruh masyarakat,
terutama buat kalangan remaja sebagai penerus bangsa,
hingga aturan yang mengatur penggunaan dan
implementasi berbagai unsur globalisasi yang datang.
Sedangkan pada tubuh pemerintah, mulailah mengambil
yang positif dari berbagai unsur globalisasi, seperti
budaya sadar diri, tidak korupsi, akuntabilitas,
transparansi hingga budaya tepat waktu dan janji.

4. A necessary evil bila diartikan secara bahasa maka


artinya adalah sebuah atau sesuatu yg jahat yg
diperlukan. Setelah mencoba mencari dari berbagai
referensi, dapat salah satu mengatakan seperti ini
“Birokrasi (sebagai necessary evil, hantu yang
menakutkan yang dibutuhkan) mulai dari era Weber,
Parson, sampai pada Osborne dan Gaebler dalam
Reinventing Government-nya tampak masih
memposisikan masyarakat sebagai objek pasif[1]”. Bila
melihat dari arti dan penjelasan dari referensi tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa sebagai sesuatu atau
biasanya adalah “hantu” yang menakutkan, namun
diperlukan. Ketika mulai berurusan dengan pemerintah
terutama dengan proses birokrasinya, maka publik atau
masyarakat umum akan berpikir panjang, mulai dari
proses yang akan berbelit-belit dan panjang hingga
biayanya yang bisa saja besar, walau dalam teori atau
aturan tidak dan yang menjadi cost tinggi biasanya
karena adanya pungutan liar dari aparatur birokrasinya.
Setelah menimbang dan memperhitungkan berbagai hal
tersebut tentunya akan menghalangi keinginan publik
untuk berurusan dengan pemerintah namun tidak dapat
tidak, yang namanya prosedur dan regulasi kewajiban
sebagai warga negara maka harus mengurus berbagai
macam bentuk surat dan perizinan hingga tanda
pengenal pada pemerintah, suka tidak suka sebagai
warga negara pemerintah itu adalah “hantu” yang
menakutkan dan sangat dibenci namun diperlukan,
selain hal tersebut tentunya ada banyak masalah yang
juga berhubungan dengan pemerintah, contohnya bila
ada negara mulai bangkrut atau inflasi maka negara
akan turun tangan sebagai pengatur segala sesuatu
terutama proses ekonomi negara, sehingga bagi para
pengusaha atau kapital akan terbelengu kebebasannya,
namun mau bagaimana lagi hanya itulah yang bisa
menyelamatkan negara.

5. Argumen dari post-developmentalisme adalah


“Bahwa ‘pembangunan’ tidak bertujuan untuk
membangun manusia, tapi kendali oleh manusia itu
sendiri tanpa adanya dominasi, kemampuan lokal itu
perlu diberdayakan terutama inisiatif tentang
membangun, dalam pembangunan tidak ada indikator
sebagai terget keberhasilan[2]”. Jelas sekali bagaimana
argumen dari post-developmentalisme, dimulai dari
bagaimana memandang pembangunan hingga
menggagas bahwa pentingnya pemberdayaan atau
menghargai peran lokal, tidak harus pembangunan itu
mengikuti kehendak dan tuntunan barat atau negara
maju, namun boleh saja mengarahkan pembangunan
sesuai dengan yang diinginkan, terlebih ketika teori ini
memndang bahwa pembangunan itu tidak ada indikator
dan pentingnya memandang harkat martabat manusia
dalam pembangunan, dan seingat penulis Pak Gaby
mengatakan pandangan teori ini tentang lingkungan
yang juga harus diperhatikan.

Selanjutnya pada referensi lain mengatakan bahwa


”Pembangunan tidak selalu berarti peningkatan taraf‐
hidup, tetapi peralihan dari ekonomi yang sebelumnya
bersifat informal ke dalam jaringan sirkulasi komoditas
(the incorporation of previously informal economies
into the networks of commodity circulation). Contoh:
peralihan status kerja dan fungsi ekonomi ibu rumah‐
tangga[3]”. Dapat disimpulkan bagaimana post-
developmentalism sangat lain dari teori pembangunan,
karena memandang pembangunan itu bukan harus
membuat kehidupan ini menjadi lebih baik, tetapi
perubahan secara horizontal pun dianggap sebagai
pembangunan seperti yang telah dicontohkan tersebut.

Bagi negara-negara berkembang post-developmentalism


cukup memberi angin segar, karena selama ini sebagai
negara berkembang tentunya lebih banyak dirugikan
oleh negara-negara maju, terutama ketika dibentuknya
indikator seperti apa yang harus dicapai oleh negara
berkembang untuk menjadi maju, kemudian aliran ini
juga menolak adanya rekayasa sosial, yang merupakan
sebuah metode dari negara-negara kapitalis untuk
menguasai negara-negara yang sedang berkembang.
Sehingga ada sedikit kemungkinan untuk
mengaplikasikan teori ini pada negara berkembang,
namun tidak harus melupakan bagaimana peran
internasional juga penting.

Pada negara berkembang tidak cukup banyak


diperhatikan, karena pada kenyataannya negara-negara
berkembang pada saat ini pada umumnya akan memilih
salah satu metode yang diajukan oleh teori
pembangunan yang dibawa oleh negara-negara maju,
sehingga dapat disimpulkan negara-negara berkembang
masih sangat besar ketergantungannya pada negara
maju, baik dengan alasan tergantung karena terpaksa
atau memang atas dasar keinginan sendiri.

6. Sebelum menjawab lebih jauh, mari lihat konsep


utama pada pemberdayaan masyarakat, “pertama,
kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses
yang memberikan atau mengalihkan sebagian
kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan (power) kepada
masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya. Proses
ini dapat dilengkapi pula dengan upaya membangun
asset material guna mendukung pembangunan
kemandirian mereka melalui organisasi; dan kedua,
kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang
menekankan pada proses memberikan stimulasi,
mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai
kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa
yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses
dialog”[4]. Sepintas lalu itulah yang menjadi konsep
dasar sperti apa saja bentuk pemberdayaan yang bisa
dilakukan. Pemberdayaan masyarakat sangat penting
dilakukan karena pada masyarakat tentunya memiliki
kemampuan untuk mandiri dan berusaha dengan
kemampuan yang dimiliki dalam mencapai tujuan yang
ingin dicapai, dan merupakan sebuah kekuatan besar
untuk dijadikan senjata perubahan dari keadaan yang
terpuruk dan terbelakang baik dari sisi ekonomi atau
sosial menjadi masyarakat yang lebih baik dan modern,
karena dalam pergerakannya selama ini masyarakat
sering tertindas dan dalam lingkaran kemiskinan.
Begitulah mengapa pemberdayaan yang merupakan
gerakan bersama dari masyarakat untuk mencapai
keinginan dan tujuan mereka, tanpa harus dibantu lagi
dan masyarakat haruslah diberikan dorongan untuk
memberdayakan dirinya ataupun dengan cara
memberikan sebagian kekuasaan penentuan kepada
masyarakat sendiri.

Untuk perspektif,saya kurang bahan..maaf..

7. Untuk gender teman2 dapat melihat paper kelompok


11,,klik disini..

8. Karena pembangunan berkelanjutan merupakan


kegiatan lanjutan dari pembangunan yang selama ini
banyak berdampak buruk pada lingkungan, baik itu
lingkungan alam maupun lingkungan sosial ekonomi.
Karena konsep yang ditawarkan oleh pembangunan
berkelanjutan menurut Emil Salim adalah pembangunan
berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang
mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam dan
sumber daya manusia, dengan menyerasikan sumber
alam dengan manusia dalam pembangunan (yayasan
SPES,1992:3), sehingga dapat disimpulkan ketika
segala sesuatu yang selama ini dilakukan pembangunan
secara maksimal, mulai dari pemanfaatan sumber daya
alam melalui sumber daya manusianya, sehingga alam
merupakan objek yang indah dan sangat berharga untuk
dimanfaatkan tanpa melihat masa akan datang, melalui
konsep pembangunan berkelanjutan dicoba untuk
memperbaiki itu semua. Alam dan manusia adalah dua
elemen penting di dunia ini yang tidak dapat
dipisahkan, jadi untuk membentuk hubungan yang baik
dan tidaklah terputus hanya karena ingin memnuhi
keinginan dan kebutuhan, maka perlu penataan kembali
dari pembangunan yang dilakukan.

Pada negara berkembang cukup gencar dilakukan,


contohnya dengan adanya kebijakan negara yang telah
mapan atau maju akan memberikan bantuan atau
bayaran kepada negara berkembang pada hutan yang
tidak dibabat atau dimanfaatkan sebagai bentuk ganti
rugi karena hilangnya potensi keuntungan. Selain hal
tersebut mungkin semakin gencarnya kegiatan sadar
lingkungan dalam bentuk kebijakan bebas kendaraan
dan hemat BBM.

Masalah apa saja yang mesti diselesaikan agar


pembangunan dapat diterapkan, antara lain yaitu[5] :

¨ Kerusakan lingkungan Indonesia

¨ Keterbatasan Sumber Daya Manusia

¨ Gagalnya implementasi kebijakan pemerintah

¨ Masih banyak pengangguran, kemiskinan dan


stabilitas ekonomi yang rendah

Beberapa hal tersebutlah yang masih menjadi ganjalan


agar pembangunan dapat diselaraskan dengan
lingkungan, sehingga apabila semua tersebut belum
teratasi maka konsep pembangunan akan tetap seperti
biasanya, yaitu bagaimana bisa mendapat keuntungan
dan membangun negara menjadi modern tanpa melihat
keharusan menjaga lingkungan dan memberikan hak
hidup pada lingkungan.

Antara Indonesia dan Australia memiliki posisi yang


berbeda, Indonesia sebagai negara berkembang
tentunya masih menjadi objek penanamn konsep
pembangunan berkelanjutan dan sering mendapat
sorotan sebagai negara yang masih belum peduli
lingkungan, sehingga mendapat bantuan seperti penulis
katakan sebelumnya, yaitu bantuan ganti rugi.
Sedangkan Australia saat sekarang sudah mulai
menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan
dengan berbagai kebijakan baik dalam tata kota, air
bersih, hingga bantuan yang diberikan kepada negara
lain.

9. Manurut penulis pentingnya mempelajari Teori


Pembangunan karena sebagai mahasiswa jurusan
Manajemen dan Kebijakan Publik akan berurusan
dengan bagaimana membangun masyarakat dan
lingkungan ke depannya, tentunya dalam setiap
kegiatan yang dilakukan haruslah dengan bekal ilmu
yang cukup sebagai salah satu tuntunan agar tidak salah
dan tepat dalam menyusun kebijakan. Teori
Pembangunan yang semakin berkembang tentunya
harus terus dipelajari selain untuk bekal profesi ke
depan perlu juga untuk melihat mengapa bangsa ini
masih terus berjalan lambat dalam menggapai tujuan
lebih baik, bagaimana konsep pembangunan itu,
haruskah negara ini terus mengikuti konsep
pembangunan yang dibawa oleh negara-negara maju
sang kapital dunia agar bisa dikatakan modern, ataukah
negara ini harus membuat jalur modern sendiri agar bisa
terwujud cita-cita sebagai manusia yang terus berubah
menjadi lebih baik.

[1] Merupakan resensi dari buku Kapitalisme Birokrasi,


Kritik Reinventing Government Osborne-karya Gaebler
Fadillah Putra dan Saiful Arif oleh Fachrurozi, 2001,
dalam http://www.averroespress.net/, diakses pada 12
Juni 2011 pukul 07.45 WIB.

[2] Presentasi mahasiswa pada mata kuliah Teori


Pembangunan, Jurusan MKP, FISIPOL, UGM, 2011,
Yogyakarta: Tidak diterbitkan.

[3] http://kumoro.staff.ugm.ac.id/?
act=download&f=Teori%20Pasca-Pembangunan.pdf

[4]
http://suniscome.50webs.com/data/download/005%20K
onsepsi%20Pemberdayaan.pdf

[5] Presentasi kelompok pada mata kuliah Teori


Pembangunan, 2011, jurusan Manajemen dan Kebijakan
Publik, FISIPOL, UGM, Yogyakarta: Tidak diterbitkan.

Advertisements
Demokrasi, Globalisasi dan
Koperasi
a. Buatlah analisis mengenai
tahapan demokrasi yang saat
ini dicapai oleh Indonesia?
Tahapan pertama, berjalan
sebelum keruntuhan rezim
otoritarian atau totalitarian.
Tahapan ini disebutnya
dengan Pratransisi. Tahapan
kedua, terjadinya liberalisasi
politik awal. Dan tahap ini
ditandai dengan terjadinya
Pemilu yang demokratis serta
regulasi kekuasaan sebagai
konsekuensi dari hasil Pemilu.
Tahapan…
In "Kuliah"

SEJARAH JURUSAN
MANAJEMEN DAN
KEBIJAKAN PUBLIK UGM
Seiring dengan
perkembangan yang terjadi
pada Fakultas Ilmu Sosial
Politik, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, tahun
1957 pun ditetapkan sebagai
tahun pendirian Jurusan
Manajemen dan Kebijakan
Publik (JMKP) yang ketika itu
namanya disebut Jurusan
Usaha Negara. Pada tahun
1964, Jurusan Usaha Negara
berubah nama menjadi
Jurusan Ilmu Administrasi
Negara (JIAN). Penggunaan…
In "INFORMASI"

Asal Usul Kehidupan


Kapan dimana dan dengan
cara bagaimana kehidupan di
bumi ini berawal? adalah
pertanyaan yang terus
menggoda para ilmuwan.
Berbagai teori asal-usul
kehidupan telah disusun oleh
para pakar tetapi belum ada
satupun teori yang diterima
secara memuaskan oleh
semua pihak. Teori tentang
asal-usul kehidupan yang
pernah disusun oleh para ahli
di…
In "INFORMASI"