Anda di halaman 1dari 1

Catatan Usang

Hanya catatan usang untuk dibagi.


#mungkinjuganyampah

Beranda ▼

Selasa, 07 Juni 2011

DEVELOPMENTALISME; Konsep
Gagal Neoliberalisme (Studi
kasus: Indonesia)

Setelah Perang Dunia kedua, menjadi era baru

dalam tatanan interaksi transnasional khususnya bagi

negara-negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika

Latin. Masa tersebut merupakan masa dekolonisasi

bagi penjajahan bangsa-bangsa Barat untuk kemudian

menciptakan tatanan dunia yang dihuni oleh orang-

orang yang sama dan sederajat menurut harkat dan

martabat kemanusiaan. Banyak negara di Afrika, Asia,

maupun Amerika yang memperoleh kemerdekaannya

begitu saja sebagai sebuah hadiah pemberian

pemerintah negara penjajahnya. Akan tetapi, sebagian

yang lainnya memperolehnya melalui jalan perjuangan

panjang yang memakan banyak biaya, materi, dan

moral.

Bagi negara-negara yang baru merdeka

tersebut, tentunya berada dalam kondisi sedang

mencari konsep atau sistem yang ideal untuk

diterapkan dalam sistem politik dan pemerintahan

negaranya kelak. Beberapa negara mungkin memiliki

konsep sistem ideal yang akan diterapkannya, apalagi

bagi mereka yang memperoleh kemerdekaannya

melalui perjuangan panjang dan melelahkan. Akan

tetapi, konsep yang dikembangkannya umumnya

berideologi sosialis yang berakar dari bacaan-bacaan

para founding father-nya mengenai anti penindasan,

konsep kebebasan menentukan nasib sendiri sebagai

sebuah nation-state, dan penolakan terhadap

eksploitasi imperialisme. Hal ini kemudian akan

membenturkannya pada sebuah tembok negara-negara

maju penentu arah pertumbuhan dunia yang tidak

menyepakatinya karena perbedaan ideologisehingga

dengan mudahnya memicu konflik internal di dalam

negara tersebut. Sementara sebagian besar yang

lainnya sangat kabur dan tidak mempunyai visi dan

konsep yang ideal akan dibawa ke mana negara baru

yang dinaunginya, yang diperolehnya secara tiba-tiba

sebagai pemberian penjajah barat pasca dekolonisasi.

Konsep Developmentalisme

Negara-negara maju kemudian menawarkan

sebuah konsep yang dianggap baik untuk diterapkan

dalam sistem pemerintahan di negara-negara yang baru

saja memperoleh kemerdekaannya. Sebuah konsep

pembangunan (developmentalisme) yang dianggap

mampu untuk memperbaiki kehidupan sosial

masyarakat negara-negara dunia ketiga. Pembangunan

ini dianggap sebagai upaya-upaya untuk memperoleh

kesejahteraan atau taraf hidup yang lebih baik. Dengan

bantuan melimpah dari Amerika Serikat dan organisasi

swasta, satu generasi baru ilmuwan politik, ekonomi,

dan para ahli sosiologi, psikologi, antropologi, serta

ahli kependudukan menghasilkan karya-karya disertasi

dan monograf tentang Dunia Ketiga. Negara-negara

maju kemudian merekomendasikan pilihan untuk

beralih dan menerapkan konsep pembangunan kepada

negara-negara berkembang guna mewujudkan tujuan

negaranya dalam menciptakan kesejahteraan bagi

penduduknya.

Para penganut teori ini percaya bahwa segala

sesuatu menuju perubahan dapat dicapai dengan

pembangunan (developmentalisme). Mereka juga

meyakini bahwa tradisionalisme dianggap sebagai

masalah dan harus disingkirkan segera (Mansour

Fakih). Pemahaman akan pembangunan ini kemudian

diasumsikan dapat menjadi solusi dari berbagai macam

persoalan sosial di negara-negara berkembang seperti

kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai masalah

ekonomi lainnya.

Pembangunan atau developmentalisme sebagai

sebuah ideologi mulai dicanangnkan di akhir Perang

Dunia Kedua sebagai agenda untuk menyelamatkan

Eropa dan seluruh dunia dari pengaruh sosialisme dan

komunisme yang didegungkan oleh Uni Soviet.

Amerika Serikat kemudian tampil di depan sebagai

penyokong utama agenda developmentalisme ini. Pada

tahun 1950-an Amerika Serikat menjadi pemimpin

dunia sejak pelaksanaan Marshall Plan yang

diperlukan membangun kembali Eropa Barat setelah

Perang Dunia Kedua.

Sementara itu, Uni Soviet juga telah melakukan

perluasan komunisme di seantero jagad. Uni Soviet

memperluas pengaruh politiknya sampai di Eropa

Timur dan Asia, antara lain di Cina dan Korea. Hal ini

mendorong Amerika Serikat untuk berusaha

memperluas pengaruh politiknya selain Eropa Barat,

sebagai salah satu usaha membendung penyuburan

ideologi komunisme.sementara itu, seperti yang telah

dipaparkan sebelumnya bahwa di Asia, Afrika, dan

Amerika Latin sedang bertumbuh banyak negara-

negara baru yang sedang berusaha mencari model-

model pembangunan yang bisa digunakan sebagai

contoh untuk membangun ekonominya dan mencapai

kemerdekaan politiknya. Dalam situasi dunia seperti

ini bisa dipahami jika elit politik Amerika Serikat

memberikan dorongan dan fasilitas bagi ilmuwan

untuk mempelajari permasalahan Dunia Ketiga.

Kebijakan ini diperlukan sebagai langkah awal untuk

membantu membangun ekonomi dan kestabilan politik

Dunia Ketiga, seraya untuk menghindari kemungkinan

jatuhnya negara baru tersebut ke pangkuan Uni Soviet

(Arief Budiman).

Para ahli, dengan pandangannya masing-

masing, secara umum memaparkan tentang konsep

pembangunan negara seperti yang pernah dialami oleh

maysarakat di negara-negara Eropa, khusunya Eropa

Barat. Mereka pada umumnya berasumsi bahwa

negara-negara berkembang pada hari ini sedang berada

pada level yang pernah pula dialami oleh negara-

negara Eropa beberapa abad sebelumnya. Oleh sebab

itu, untuk berdiri sejajar dengan masyarakat dan

negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara,

dibutuhkan sebuah pengelolaan sistem politik dan

pemerintahan yang sistematis dan berkelanjutan bagi

negara-negara dunia ketiga tersebut. Hal ini sekaligus

membicarakan dan merumuskan strategi dan

perencanaan pembangunan, perdagangan internasional,

transfer teknologi, investasi, yang kesemuanya untuk

mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara

Dunia Ketiga. Beberapa ilmuwan seperti WW Rostow,

Micahel Todaro, Arthur Lewis, Hollis Chenery, Everett

Hagen dan sebagainya memberikan argument-argumen

tersendiri mengenai hal tersebut.

Pada tahun 1960-an, ahli sejarah perekonomian

dari Amerika Serikat WW Rostow menyarankan bagi

negara-negara Dunia Ketiga untuk mengikuti tahap

pertumbuhan ekonomi (the stages of economic

development), yaitu :

1. Tahap Masyarakat Tradisional (Traditional

Society)

2. Tahap Masyarakat Transisi (Transitional

Stage) dan Persiapan untuk Tinggal Landas

3. Tahap Tinggal Landas (Take Off)

4. Tahap Gerakan Menuju Pematangan (Drive to

Maturity)

5. Tahap Komsumsi Massa Tingkat Tinggi (High

Mass Consumption)

Tahapan seperti disebutkan di atas pernah

dialami oleh sebagian besar negara-negara Eropa

dalam perkembangannya hingga menjadi seperti

sekarang ini. Hal ini pulalah yang diharapkan untuk

dapat diikuti oleh negara-negara Dunia Ketiga agar

dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara

maju di Eropa dan Amerika. Akan tetapi, tanpa

disadari bahwa hal inilah yang kemudian menjadi titik

kritik dari teori dan ideologi developmentalisme ini.

Overgeneralisasi yang terjadi dan keyakinan buta akan

mampu diterapkannya model pembangunan seperti ini

ke semua negara di seluruh dunia menjadikannya gagal

dalam mengatasi permasalahan yang kemudian terjadi

dan semakin membesar. Begitupula bahwa konsep

pembangunan tersebut harus mengabaikan analisa

mengenai potensi alam, karakter, perilaku dan watak

masyarakat serta lingkungan di mana teori tersebut

akan diterapkan. Setiap negara diajak untuk bermimpi

menjadi negara industry maju dengan standarisasi dan

visualisasi seperti yang ada di Eropa dan Amerika

Utara. Maka wajar saja jika setiap negara hendak

menjadi seperti Amerika dan Jerman yang maju dalam

industry berat seperti elektronik dan mesin-mesin, dan

kendaraan dengan mulai meninggalkan cara hidup

tradisional seperti bertani dan berkebun, walaupun

negara-negara tersebut memiliki potensi dalam bidang

tersebut.

PembangunanIsme Indonesia

Pembangunan dalam arti di atas di mulai di

Indonesia sejak awal 1970-an di masa-masa awal

berkuasanya rezim Orde Baru. Ketika dalam sebuah

kunjungannya ke Indonesia, WW Rostow

merekomendasikan teorinya untuk diterapkan di

Indonesia. Penguasa Indonesia pada masa itu,

Soeharto, menyambut baik usulan Rostow, maka

jadilah kebijakan-kebijakan ekonomi politik Orde Baru

selanjutnya mengikuti arus aliran developmentalisme.

Pemerintah Indonesia pada masa itu kemudian

meminta saran dan usulan dari beberapa pakar

(teknokrat), yang dikemudian hari begitu dominan

dalam menentukan arah dan kebijakan politik Orde

Baru. Mereka yang kemudian dikenal sebagai “Mafia

Barkeley” seperti Ali Murtopo, Sudjono Humardhani,

dan sebagainya tersebut merumuskan berbagai

kebijakan pembangunan yang akan diaplikasikan

dalam pelaksanaan sistem pemerintahan di Indonesia.

Gagasan mereka dianggap akan mampu

menyelamatkan Indonesia dari “sakitnya” akibat

keterlibatannya dengan pengaruh ideologi komunisme

semasa Orde Lama.

Gagasan dan teori pembangunan ini kemudian

bahkan telah dianggap sebagai “agama baru” karena

mampu menjanjikan untuk dapat memecahkan

masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan

keterbelakangan yang dialami oleh berjuta-juta

masyarakat di Indonesia. Istilah pembangunan atau

development tersebut telah menyebar dan digunakan

sebagai visi, teori, dan proses yang diyakini kebenaran

dan keampuhannya oleh masyarakat secara luas. Setiap

program Pembangunan menunjukkan dampak yang

berbeda tergantung pada konsep dan lensa

Pembangunan yang digunakan (Mansour Fakih).

Ada beberapa program pembangunan yang

kemudian direncanakan oleh Pemerintah pada waktu

itu, seperti Pembangunan Lima Tahun (PELITA), dan

Pembangunan Jangka Panjang (PJP) setelah 25 tahun

sejak PELITA pertama. Beberapa agenda kemudian

diprogramkan, yang menurut subjektivitas penulis

adalah agenda-agenda positivistic semata dan

merupakan agenda untuk melanggengkan kekuasaan.

Perencanaan selama 25 tahun tentunya mustahil untuk

terwujud dalam beberapa pucuk kepemimpinan yang

berbeda, walaupun mempunyai visi yang sama, karena

masing-masing kepala mempunyai penafsiran dan

rumusan metodologinya sendiri dalam upaya

mewujudkan visinya tersebut. Bahkan Penjelasan

kemajuan ekonomi Orde Baru melalui penjelasan

statistik, layak untuk dipertanyakan. Sebab statistik

bisa saja digunakan sebagai manipulasi semata bahkan

digunakan sebagai pembenaran guna menutupi

kesenjangan yang terjadi antar masyarakat. Apalagi ini

terjadi dalam suatu sistem negara otoritarian yang

sangat tertutup dan menentang kebebasan erargumen

yang dapat mengancam stabilitas politik. Pada

kenyataannya, premis angka pertumbuhan ekonomi

yang tinggi berarti kondisi ekonomi yang baik hanya

bualan (Anis Ananta). Hal ini karena ternyata masih

banyak saja jumlah orang miskin, pengangguran, dan

kelaparan di negeri ini.

Pembangunan di Indonesia pada masa itu

dicitrakan identik dengan pertumbuhan ekonomi,

dengan indikator bahwa sebuah masyarakat dinilai

berhasil melaksanakan pembangunan bila

pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup

tinggi. Dengan demikian, yang diukur adalah

produktivitas masyarakat atau produktivitas negara

dalam setiap tahunnya. Secara teknis ilmu ekonomi,

ukuran yang digunakan untuk mengihitung

produktivitas adalah Gross National Product (GNP)

dan Gross Domestic Product (GDP). Suatu hal yang

sangat tidak adil, mengingat banyak orang yang pada

dasarnya tidak tersentuh manfaat dari sistem

pembangunan ini. Beberapa orang kaya mungkin

mendapatkan keuntungan berpuluh kali lipat dari

pendapatan seratus penduduk yang menjadi buruh di

pabriknya. Pendapatan besar tersebut tentunya akan

mampu menutupi penghasilan kecil buruhnya, jika

dikumulasikan dan kemudian dibagi rata sebesar

jumlah penduduk Indonesia. Dalam angka, kita akan

mendapatkan nilai yang bisa saja menunjukkan

indikasi keberhasilan pembangunan di Indonesia.

Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya,

dan merata pendapatan penduduknya, sebenarnya bisa

saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi

semakin miskin. Hal ini disebabkan karena

pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang

tinggi itu sering tidak memperdulikan dampak

terhadap lingkungannya, yaitu lingkungan yang

semakin rusak dan sumber daya alam yang semakin

terkuras. Sementara itu percepatan bagi alam untuk

melakukan rehabilitasi lebih lambat dari percepatan

perusakan sumber alam tersebut (Arief Budiman).

Pembangunan yang terjadi di Indonesia adalah

bagaimana menjual asset-aset negara dan kekayaan

alam rakyat Indonesia untuk diolah dan diatur sendiri

oleh pihak asing, tanpa kontribusi sebesar keuntungan

yang diperoleh perusahaan, investor, dan negara basis

perusahaan tersebut.

Selanjutnya, atas nama pembangunan,

pemerintah juga sering memberangus kritik yang

muncul dari masyarakat. Kritik tersebut dinilai dapat

mengganggu stabilitas politik. Hal tersebut dilakukan

karena mengangap bahwa stabilitas politik adalah

sarana penting untuk memungkinkan pelaksanaan

pembangunan (Arief Budiman). Ideologi ini benar-

benar telah dijadikan alat untuk memberangus protes

rakyat. Kita bisa melihat cotoh kecil bagaimana semua

kata yang dicurigai akan mengingatkan memory

kolektif rakyat akan masa lalu diburamkan. kata

"buruh" misalnya, dirubah menjadi "karyawan"

melalui Pembinaan Pusat Bahasa. Bahkan ilmu-ilmu

sosial di bawah kungkungan developmentalisme atau

pembangunanIsme Indonesia sekedar berfungsi

sebagai "pertukangan, punya daya besar tetapi

membudak, seperti serdadu" (Ariel Heryanto).

Pengembangan ilmu-ilmu sosial semua

termanifestasikan dalam wujud rekayasa pengetahuan

guna menunjang kebijakan rezim yang ada (Soeharto).

Sebab, ilmu sosial di Indonesia, pinjam bahasa

Soedjatmoko, sekedar "studi pesanan untuk memoles

citra kebijakan dan diarahkan untuk menciptakan

proyek". Artinya, ilmu sosial dibajak dan ilmuwannya

hanya menjadi makelar rezim kekuasaan, seperti

kelompok Mafia Barkeley tersebut.

Begitulah gambaran bagaimana pelaksanaan

pembangunan di Indonesia. Sebuah agenda yang

benar-benar rapi dan berlangsung dalam waktu yang

lama. Lantas mengapa tidak ada yang berani

mengusiknya? Bukankah agenda tersebut malah

membelenggu kebebasan rakyat? Mengapa negara-

negara maju tidak melakukan intervensi lagi?sejumlah

pertanyaan yang bisa kita jawab dengan singkat.

Karena agenda developmentalisme merupakan agenda

global yang dikomandoi oleh negara-negara maju

sebagai proyek neoliberalisme guna memudahkan

jalannya untuk menancapkan kukunya di negara-

negara Dunia Ketiga. Hal ini sekaligus untuk

membendung upaya Uni Soviet untuk memperluas

pengaruhnya. Untuk itu, mereka membutuhkan

kekuatan yang besar untuk bisa dikendalikan dalam

mengatur rakyat di negara-negara tersebut. Umumnya,

mereka menggunakan tangan militer dalam hal seperti

ini.

Akan tetapi terlepas dari semua agenda yang

menyangkut kepentingan negara-negara maju tersebut,

teori dan paham developmentalisme ini telah gagal

dalam membangun negara-negara Dunia Ketiga dan

melepaskan mereka dari belenggu permasalahan sosial

yang dihadapinya.

saharpova di 12:48 AM

2 komentar:

niqquina 18 September 2013 21.33


bagus, tp lebih bagus lagi kalo ada rujukannya.
Balas

saharpova 28 September 2013 00.59


Hahaha
Ini tulisan waktu S1. Memang mengada-ada
kayaknya.. :-D

kerjanya semalam sebelum dikumpul soalnya..


Balas

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai: Google Account

Publikasikan Pratinjau

‹ Beranda ›
Lihat versi web

SANDALJEPIT

saharpova
Bandung, Indonesia
ahh.. sudahlah..
Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.