Anda di halaman 1dari 8

MINI PROJECT

PERAN KELUARGA DALAM PENATALAKSANAAN


SKIZOFRENIA DAN KASUS PASUNG DI PUSKESMAS
SILUNGKANG

Oleh:
dr. Fauzan Arisyi Koto
dr. Miftahul Jannah Afdhal

PENDAMPING
dr. Heru Fajar Syaputra

PUSKESMAS SILUNGKANG
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skizofrenia adalah penyakit yang mempengaruhi otak dan penyebab timbulnya

pikiran, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku yang aneh dan terganggu. Skizofrenia tidak

dapat didefinisikan sebagai penyakit tersendiri, melainkan diduga sebagai suatu sindrom atau

proses penyakit yang mencakup banyak jenis dengan berbagai gejala (Videbeck,2008).

Menurut World Health Organization, 2001 dalam Yosep, 2008, masalah gangguan

kesehatan jiwa diseluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius, paling

tidak ada satu dari empat orang didunia mengalami gangguan mental. WHO memperkirakan

ada sekitar 450 juta orang didunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Dalam Riskesdas

2013 prevalensi penderita gangguan jiwa berat 1,7/1000 orang. Dalam data Riskesdas 2013,

terdapat 14,3 % penderita gangguan jiwa di indonesia dengan penderita terbanyak dipedesaan

dibanding diperkotaan, sedangkan prevalensi gangguan mental emosional diatas umur 15

tahun rata-rata 6,0 %. Di Sumatera Barat prevalensi gangguan mental emosional mencapai

angka 4,5%.

Sekitar 25% pasien skizofrenia dapat pulih dari episode awal dan fungsinya dapat

kembali pada tingkat premorbid (sebelum muncul gangguan tersebut) sementara 25% tidak

akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada di

antaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan

efektif kecuali untuk waktu yang singkat (Arif, 2006). Hal tersebut membuat skizofrenia

menjadi salah satu gangguan mental yang sangat berat. Bila tidak segera ditangani, gangguan

ini akan sangat cepat mengganggu proses perkembangan kepribadian pasien, sehingga

mengakibatkan kerentanan yang berat dan berujung pada kerusakan pada kepribadian

individu (Arif, 2006).

2
Skizofrenia tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi pasien, tapi juga bagi orang-

orang terdekatnya. Selain dikarenakan biaya perawatan yang tinggi, hampir 70% penderita

adalah pasien di RSJ secara menahun. Akibatnya, kehadiran penderita cenderung dirasakan

sebagai beban keluarga (Arif, 2006). Perubahan yang dapat memicu munculnya stress pada

keluarga antara lain gejala skizofrenia yang mengganggu, perubahan rutinitas dan aktivitas

seluruh anggota keluarga sehari-hari, ketegangan hubungan keluarga dengan lingkungan

sosial, kehilangan dukungan sosial, berkurangnya waktu luang dan kondisi keuangan yang

memburuk (Stengard dalam Wardhani, 2013). Dampak-dampak yang dialami keluarga ini

cenderung membuat anggota keluarga menjauhkan diri dari penderita skizofrenia dan

cenderung menolak pasien skizofrenia (Koolaee & Eternadi, 2009). Penelitian Wardhani

(2013) menjelaskan bahwa perilaku keluarga terhadap pasien skizofrenia yang menolak

berupa keluarga tidak mencari informasi, merawat dengan merantai kaki, mengasingkan dan

berperilaku kasar selama penderita skizofrenia berada di rumah, dan keluarga menolak untuk

menjenguk ke rumah sakit jiwa. Tetapi tidak jarang beberapa keluarga menyerah untuk

menghadapi penderita skizofrenia, sehingga cenderung menjauhinya, dan beberapa di

antaranya memilih untuk memasung pasien skizofrenia.

Menurut survei Kementerian Sosial pada 2008, dari sekitar 650 ribu penderita

gangguan jiwa berat di Indonesia, sedikitnya 30 ribu dipasung. Memasung pasien skizofrenia

berarti keluarga melakukan segala tindakan pengikatan dan pengekangan fisik yang dapat

mengakibatkan kehilangan kebebasan seseorang (Minas & Diarti, 2008 dalam Lestari,

Choiriyyah, dan Mathafi, 2013). Pemasungan menjadi salah satu bentuk perilaku keluarga

untuk menangani penderita skizofrenia, padahal pemasungan jelas akan memperparah

penderitaan pasien skizofrenia. Dampak negatifnya, yaitu penderita mengalami trauma,

dendam kepada keluarga, merasa dibuang, rendah diri, dan putus asa. Hal ini akan

memunculkan depresi dan gejala bunuh diri pada korban pemasungan (Lestari, Choiriyyah,

3
dan Mathafi, 2013). Hasil penelitian dari Divisi Psikiatri Komunitas Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengenai dampak

pemasungan menunjukan bahwa dalam kurun waktu 2006-2007 terdapat 15 kasus

pemasungan penderita skizofrenia di Samosir, Sumatera Utara, dan Bireuen, Aceh.

Pemasungan tersebut membuat kaki dan tangan korban mengecil. Setelah diperiksa dengan

saksama, otot dari pinggul sampai kaki mengecil karena lama tidak digunakan. Dampak ini

dijumpai pada penderita yang sudah dipasung selama sepuluh tahun (Minas dan Diatri, 2008)

Berdasarkan penjelasan di atas, sudah pasti pemasungan melanggar Hak Asasi

Manusia (HAM) karena dipandang tidak manusiawi, dan menambah siksaan fisik dan psikis.

Pemasungan sangat bertolak belakang dengan Undang-undang yang telah dibuat, yakni

dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

menyatakan: “Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental

berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara,

untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya,

meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Pada tahun 2010, pemerintah berusaha mengatasi

masalah pemasungan tersebut dengan mencanangkan program Indonesia Bebas Pasung.

Program tersebut berjalan cukup baik. Terjadi penurunan jumlah pemasungan di Indonesia.

Data epidemiologis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia

adalah 1%, pada studi lain didapatkan rentang yang tidak jauh berbeda yaitu 0,6-1,9 %.

Skizofrenia ditemukan pada semua lapisan masyarakat dan area geografis, prevalensi maupun

insidensinya secara kasar sama di seluruh dunia. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat

Departemen Kesehatan mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di

masyarakat sangat tinggi, yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa

rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia. Di

4
era globalisasi gangguan kejiwaan meningkat sebagai contoh penderita tidak hanya dari

kalangan kelasa bawah, sekarang kalangan pejabat dan masyarakat lapisan menengah ke atas

juga terkena gangguan jiwa (Sutatminingsih, Raras. 2002). Berdasarkan Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas) 2007 disebutkan, rata-rata nasional gangguan mental emosional ringan,

seperti cemas dan depresi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 11,6%, dengan

angka tertinggi terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%. Sedangkan yang mengalami gangguan

mental berat, seperti psikotis, skizofrenia, dan gangguan depresi berat, sebesar 0,46%.

(Anonim, Depkes RI).

Penanganan pasien skizofrenia tidak lagi dihospitalisasi untuk periode waku yang

lama, tetapi kembali hidup dimasyarakat dengan dukungan yang diberikan oleh keluarga dan

layanan pendukung. Klien dapat hidup bersama anggota keluarga, secara mandiri, atau

dengan program residential seperti group home tempat mereka menerima layanan yang

dibutuhkan tanpa perlu dimasukan ke rumah sakit. Program Assertive Community Treatment

(ACT), terbukti berhasil dalam mengurangi angka klien masuk rumah sakit melalui

penatalaksanaan gejala dan pengobatan, membantu klien memenuhi kebutuhan sosial,

rekreasional, dan vokasional, serta memberi dukungan kepada klien dan keluarga mereka

(McGrew, Wilson & Bond,1996 dalam Videbeck,2008).

Keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kesembuhan pasien

skizofrenia. Keluarga merupakan lingkungan terdekat pasien, dengan keluarga yang bersikap

teurapeutik dan mendukung pasien, masa kesembuhan pasien dapat dipertahankan selama

mungkin. Sebaliknya, jika keluarga kurang mendukung, angka kekambuhan akan lebih cepat.

Berdasarkan penelitian bahwa angka kekambuhan pada pasien gangguan jiwa tanpa terapi

keluarga sebesar 25-50%, sedangkan angka kambuh pada pasien yang mendapatkan terapi

keluarga adalah sebesar 5-10% (Keliat,2010).

5
Kontuinitas pengobatan dalam penatalaksanaan skizofrenia merupakan salah satu

faktor keberhasilan terapi. Pasien yang tidak patuh dalam pengobatan akan memilki resiko

kekambuhan lebih tinggi di bandingkan dengan pasien yang patuh dalam pengobatan.

Ketidakpatuhan berobat ini yang merupakan alasan kembali dirawat dirumah sakit. Pasien

yang kambuh membutuhkan waktu yang lebih lama dan dengan kekambuhan yang berulang,

kondisi pasien bisa semakin memburuk dan sulit untuk dikembalikan ke keadaan semula.

Pengobatan skizofrenia ini harus dilakukan terus menerus sehingga pasien nantinya dapat

dicegah dari kekambuhan penyakit dan dapat mengembalikan fungsi untuk produktif serta

akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup (Yuliantika dkk,2012).

Jumlah kunjungan pasien dengan gangguan jiwa berat di Puskesmas Silungkang

setiap tahunnya masih belum terdata dengan baik. Sehingga hal ini mempersulit upaya

penanganan masalah kesehatan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Silungkang.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang peranan keluarga dalam penatalaksanaan pasien skizofrenia dan kasus pasung di

Puskesmas Silungkang.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada mini project ini adalah bagaimana peranan keluarga

dalam penatalaksanaan skizofrenia dan kasus pasung di Puskesmas Silungkang?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui peranan keluarga dalam penatalaksanaan skizofrenia dan kasus pasung di


Puskesmas Silungkang

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengidentifikasi jumlah penderita skizofrenia di Puskesmas Silungkang.

6
2. Mengidentifikasi jumlah kasus pasung di Puskesmas Silungkang.

3. Mengidentifikasi tingkat kepatuhan kontrol rutin dan minum obat pada pasien
skizofrenia di Puskesmas Silungkang.

4. Menganalisa peranan keluarga dalam penatalaksanaan skizofrenia di Puskesmas


Silungkang.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Puskesmas

Di harapkan laporan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi,


sehingga segala kekurangan yang masih terjadi dapat diperbaiki dan kelebihan yang
sudah ada dapat dilanjutkan sebaik-baiknya dengan kinerja tim yang lebih efektif,
selain itu hasil evaluasi dapat direalisasikan kedepannya.

1.4.2 Bagi masyarakat


Dari hasil identifikasi masalah yang ada di harapkan bermanfaat dalam
meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, baik bagi masyarakat yang
tidak menderita skizofrenia sehingga dapat lebih memahami arti penting pencegahan
skizofrenia dengan pola mental hidup sehat dan bagi masyarakat yang sudah
dinyatakan menderita skizofrenia agar senantiasa rutin konrtol mengunjungi faskes
terdekat untuk mencegah perburukan.

1.4.3 Bagi Penulis

Sebagai bahan pembelajaran dan menambah pengetahuan penulis tentang


efektifitas penatalaksanaan kasus skizofrenia dan upaya pencegahan skizofrenia di
Puskesmas Silungkang di Puskesmas Silungkang.
1.5 Metodologi

Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara deskriptif. Data yang


diambil kemudian diolah dan dipaparkan dalam bentuk deskripsi berupa presentasi dan
tabel.

7
8