Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Penyakit radang panggul (PRP) atau pelvis inflammatory disease (PID) dikenal sebagai suatu
kelainan yang manifestasinya dapat merusak sistem kesehatan reproduksi wanita. PRP
merupakan sindroma klinis yang disebabkan oleh naiknya mikroorganisme dari vagina dan
endoserviks ke endometrium, tuba fallopi, ovarium, dan organ sekitarnya, sehingga
spektrumnya merupakan kelainan inflamasi dari traktus genitalis bagian atas termasuk
endometritis, salpingitis, abses tubo-ovarial, dan pelvis-peritonitis. Infeksi intrauterina dapat
bersifat primer bila ditularkan langsung melalui sexually transmitted disease (STD), atau
bersifat sekunder sebagai akibat dari pemasangan IUD atau prosedur-2 sirurgik misalnya
terminasi kehamilan. Namun, meskipun IUD selama ini dikaitkan dengan makin meningkatnya
PRD, IUD modern yang diciptakan akhir-akhir ini risikonya semakin kecil. (Mbouw and
Foster, 2000).
Dalam dua dekade terakhir ini di seluruh dunia terjadi peningkatan insidensi PID yang
menyebabkan terjadinya epidemi sekunder dari infertilitas faktor tuba dan menyebabkan
terjadinya gangguan pada outcome kehamilan. Dalam praktik kedokteran di Inggris didapatkan
diagnosis PID 1,7% pada wanita berusia 16 - 46 tahun. Remaja merupakan penderita yang
lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok yang lebih tua. (Mbouw and Foster,
2000).
RADANG PADA KELENJAR BARTHOLIN
Bartholinitis
Bartolinitis adalah infeksi pada kelenjar bartolin. Bartolinitis juga dapat menimbulkan
pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa
nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring pembengkakan
pada kelamin yang memerah.
Bartolinitis adalah sumbatan duktus utama kalenjar bartolin menyebabkan retensi
sekresi dan dilatasi kistik. Bartholinitis adalah infeksi pada glandula bartholin yang mana
sering kali timbul pada gonorea akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya
streptococus atau basil coli.

Etiologi
Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian
dalam vagina agak keluar. Mulai dari chlamydia, gonorrhea, dan sebagainya. Infeksi ini
kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina.
a. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh :
Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks
Jamur : kandida albikan
Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis
Bakteri : neiseria gonore
b. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas:
Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika
Jamur : asinomises
Bakteri : neiseria gonore, stafilokokus dan E.coli

Patofisiologi
Obstruksi duktus utama kalenjar bartolini distal bisa karena retensi, sekresi dan dilatasi
kistik. Terjadi penumpukan sekret mukus pada kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini membesar
menjadi kista bartolini. Kista mengalami peradangan dengan tanda-tanda memerah, nyeri dan
lebih panas dari daerah sekitarnya (bartolinitis). Isi dalam berupa nanah dapat keluar melalui
duktus atau bila tersumbat (biasanya akibat infeksi). Radang pada kelenjar bartolini dapat
terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menahun dalam bentuk kista bartolini.
Manifestasi Klinis
1) Pada vulva: perubahan warna kulit, membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, nyeri
tekan
2) Kelenjar bartolin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan atau duduk, juga
dapat disertai demam
3) Kebanyakan wanita dengan penderita ini datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan
keputihan dan gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air
kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin
4) Terdapat abses pada daerah kelamin
5) Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah

Penanganan
Pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasi jenis bakteri penyebab
abses dan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti
Gonorrhea dan Chlamydia. Kultur jaringan diambil swab dari abses atau dari daerah lain seperti
serviks. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian.biopsi dilakukan apabila terjadi pada
kasus yang dicurigai keganasan. Terapi pengobatan juga dilakukan melalui pemberian
antibiotik spektrum luas.
Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan antibiotika golongan cefadroxyl
500 mg, diminum 3×1 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500
mg (misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan
pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis.
Pemeriksaan Penunjang:
a. Laboratorium
b. Vullva
c. Inspeculo
Penatalaksanaan bartholinitis dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik spektrum luas.
Pemberian antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti dari hasil
pengecatan gram maupun kultur, antara lain:
a) Infeksi Neisseria gonorrhoe:
- Ciprofloxacin 500 mg single dose
- Ofloxacin 400 mg single dose
- Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil)
- Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil)
b) Infeksi Chlamidia trachomatis:
- Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po
- Doxycyclin 2 X100 mg/ hari selama 7 hari, po
c) Infeksi Escherichia coli:
- Ciprofoxacin 500 mg oral single dose
- Ofloxacin 400 mg oral single dose
- Cefixime 400 mg single dose
d) Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :
- Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari
- Ampisilin 250-500 mg/ dosis 4x/hari, po.
- Amoksisillin 250-500 mg/dosi, 3x/hari po.

RADANG PADA VAGINA


Vaginitis ditandai pruritus, keputihan, dispareunia, dan disuria. Bau adalah keluhan
yang paling sering dijumpai.
Vagina secara normal didiami oleh sejumlah organisme, anttara lain Lactobacillus
acidophilus, Difteroid, Candida dan flora yang lain. pH fisiologisnya sekitar 4,0 yang
menghambat bakteria patogenik tumbuh berlebihan. Ada juga keputihan fisiologik yang terdiri
dari flora bakteri, air, elektrolit, dan epitel vagina serta serviks. Khas warnanya putih, halus,
tidak berbau dan terlihat di vagina di daerah yang tergantung.
Diagnosis vaginitis umumnya memerlukan pemeriksaan mikroskopik cairan vagina.

Vaginosis Bakterial (Vaginitis Nonspesifik)


Vaginosis bakterial (VB) adalah penyebab vaginitis paling biasa. Tidak ada penyebab
infeksi tunggal tetapi lebih merupakan pergeseran komposisi flora vagina normal dengan
peningkatan bakteri anerobik sampai sepuluh kali dan kenaikan dalam konsentrasi Gardnerella
vaginalis. Dalam waktu yang bersamaan terjadi penurunan konsentrasi laktobasili.
VB dapat meningkatkan terkenanya dan penularan HIV. VB juga meningkatkan risiko
penyakit radang panggul (PID). VB lebih sering dijumpai pada pemakai AKDR dibanding
kontrasepsi lain (OR 2,0; IK 95% 1.1.-3.8) dan meningkatkan risiko penyakit menular seksual
(OR 1,7; IK95% 1..1.-2.9). Pada ibu hamil dengan VB meningkatkan infeksi klamidia dua kali
(19,5% vs 8,2%) dan gonorea enam kali lipat (3,2% vs 0,57%)3. Di samping itu, ada hubungan
kuat antara VB yang didiagnosis pada umur kehamilan 16 sampai 20 minggu dengan kelahiran
prematur (umur kehamilan kurang dari 37 minggu) (OR 2,0; IK 1.0-3.9).
Keluhan dan gejala. Ciri-ciri keputihan VB adalah tipis, homogen, warna putih abu-
abu, dan berbau amis. Keputihannya bisa banyak sekali dan pada pemeriksaan dengan
spekulum lengket di dinding vagina. Pruritus atau iritasi vulva dan vagina jarang terjadi.

Diagnosis dibuat dengan cara sebagai berikut:


 Identifikasi mikroskopik sel-sel clue pada usapan basah (lebih dari20%). Sel-sel clue adalah
sel-sel epitel vagina dengan kerumunan bakteri menempel pada membran sel. Tampak juga
beberapa sel radang atau laktobasili.
 pH cairan vagina sama atau lebih dari.
 Uji whiff positif yang berarti keluar bau seperti anyir (amis) pada waktu ditambahkan larutan
potasium hidroksida (KOH) 10% sampai 20% pada cairan vagina.
 Eritema vagina jarang.

Terapi:
 Metronidazol 500 mg per oral 2x sehari selama 7 hari.
 Metronidazol per vagina 2x sehari selama 5 hari.
 Krim klindamisin 2% per vagina 1x sehari selama 7 hari.

Trikomonas
Infeksi trikomonas adalah infeksi oleh protozoa Trichomonas vaginalis yang ditularkan
secara seksual. Merupakan sekitar 25% vaginitis karena infeksi. Trikomonas adalah organisme
yang tahan dan mampu hidup dalam handuk basah atau permukaan lain. Masa inkubasinya
berkisar 4 sampai 28 hari.
Keluhan dan gejala bisa sangat bervariasi. Klasik cairan vagina berbuih, tipis, berbau
tidak enak, dan banyak. Warnanya bisa abu-abu, putih, atau kuning kehijauan. Mungkin ada
eritema atau edema vulva dan vagina. Mungkin serviks juga tampak eritematus dan rapuh.

Diagnosis:
 Preparat kaca basah memperlihatkan protozoon fusiformis uniseluler yang sedikit lebih
besar dibanding sel darah putih. Ia mempunyai flagela dan dalam spesimen dapat dilihat
gerakannya. Biasanya ada banyak sel radang.
 Cairan vagina mempunyai pH 5,0 sampai 7,0.
 Pasien yang terinfeksi tapi tidak ada keluhan mungkin diketahui terinfeksi dengan
diketemukannya Trichomonas pada usapan Pap.

Terapi dengan metronidazol 2 g per oral (dosis tunggal). Pasangan seks pasien sebaiknya juga
diobati.

Kandida
Vaginitis kandida bukan infeksi menular seksual karena Candida merupakan penghuni
vagina normal. Pada 25% perempuan bahkan dijumpai di rektum dan rongga mulut dalam
persentase yang lebih besar. Candida albicans menjadi patogen pada 80% sampai 95% kasus
kandidiasis vulvovaginalis, dan sisanya adalah C. glabrata dan C. tropicalis. Faktor risiko
infeksi meliputi imunosupresi, diabetes mellitus, perubahan hormonal (misal kehamilan),
terapi antibiotika spektrum luas, dan obesitas.
Keluhan dan gejala. Beratnya keluhan tidak ada hubungannya dengan jumlah
organisme. Keluhan yang menonjol adalah pruritus, seringkali disertai iritasi vagina, disuria,
atau keduanya. Cairan vagina klasik berwarna putih seperti susu dan tidak berbau. Pemeriksaan
spekulum seringkali memperlihatkan eritema dinding vulva dan vagina, kadang-kadang
dengan plak yang menempel.
Diagnosis dibuat kalau preparat KOH cairan vagina menunjukkan hife dan kuncup
(larutan KOH 10% sampai 20% menyebabkan lisis sel darah merah dan putih sehingga
mempermudah identifikasi jamur). Mungkin diperlukan untuk melihat banyak lapangan
pandangan agar dapat menemukan patogen. Preparat KOH negatif tidak mengesampingkan
infeksi. Pasien dapat diterapi berdasar gambaran klinis. Dapat dibuat biakan dan hasilnya bisa
diperoleh dalam waktu 24 sampai 72 )am.
Terapi terdiri dari aplikasi topikal imidasol atau triasol, seperti mikonasol, klotrimasol,
butokonasol, atau terjonasol. Obat-obat ini dapat diresepkan sebagai krim, supositoria, atau
keduanya. Lama pengobatan bervariasi tergantung obat yang dipilih. Dosis tunggal flukonasol
150 mg per oral mempunyai tingkat kemanjuran tinggi.
RADANG PADA SERVIKS UTERI
Servisitis ditandai oleh peradangan berat mukosa dan submukosa serviks. Secara
histologik dapat dilihat infiltrasi sel-sel peradangan akut dan kadang-kadang nekrosis sel-sel
epitel. Patogen utama servisitis mukopurulen adalah C. trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae,
keduanya ditularkan secara seksual. Servisitis mukopurulen dapat didiagnosis dengan
pemeriksaan kasar. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pengecatan Gram.

Klamidia Trakomatis
Merupakan organisme yang paling sering ditularkan secara seksual. Faktor risikonya
antara lain meliputi umur di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual, status sosial ekonomi
rendah, pasangan seksual banyak, dan status tidak menikah.
Mikrobiologi. C. trachomatis adalah organisme intraseluler yang lebih menyukai
menginfeksi sel-sel skuamokolumner, yaitu pada zona transisi serviks.
Keluhan dan gejala. Infeksi klamidia tidak menimbulkan keluhan pada 30% sampai 50% kasus
dan dapat menetap selama beberapa tahun. Pasien dengan servisitis mungkin mengeluh keluar
cairan yagina, bercak darah, atau perdarahan pascasanggama. Pada pemeriksaan serviks
mungkin tampak erosi dan rapuh. Mungkin ada cairan mukopurulen berwarna kuning-hijau.
Pengecatan Gram memperlihatkan lebih dari 10 lekosit polimorfonuklear per lapangan
pencelupan minyak.
Diagnosis dengan biakan adalah yang paling optimal tetapi cara ini makan waktu,
memerlukan keterampilan teknis tinggi, dan fasilitas biakan sel yang memadai. Rekomendasi
terapi dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) :
 Azitromisin 1 g per oral (dosis tuggal) atau
 Doksisiklin 100 mg per oral 2x sehari selama 7 hari.

Terapi alternatif:
 Eritromisin basa 500 mg per oral 4x sehari selama 7 hari atau
 Eritromisin etilsuksinat 800 mg 4x sehari selama 7 hari atau
 Ofloksasin 300 mg per oral 2x sehari selama 7 hari atau
 Levofloksasin 500 mg per oral 1x sehari selama 7 hari.
 Pasangan seks harus dirujuk ke klinik atau dokter untuk mendapatkan pengobatan. Uji
kesembuhan hanya diperlukan pada pasien hamil atau jika tetap ada keluhan.

Gonorea
Mikrobiologi. N. Gonorrhoeae adalah diplokokus gram negatif yang menginfeksi epitel
kolumner atau pseudostratified. Oleh karena itu, traktus urogenitalis merupakan tempat infeksi
yang biasa. Manifestasi lain infeksi adalah gonorea faringeal atau menyebar. Masa inkubasi 3
sampai 5 hari.
Keluhan dan gejala. Seperti infeksi klamidia, seringkali pasien tidak mempunyai
keIuhan tetapi mungkin mereka datang dengan cairan vagina, disuria, atau perdarahan uterus

abnormal.


Diagnosis. Biakan dengan medium selektif merupakan uji terbaik untuk gonorea. Lidi
kapas steril dimasukkan ke dalam kanal endoserviks selama 15 sampai 30 detik kemudian
spesimen diusap pada medium. Dapat juga digunakan kulturet tetapi mungkin sensitivitasnya
lebih rendah. Diagnosis ditegakkan jika pada pengecatan Gram terlihat diplokoki intraseluler
tetapi sensitivitasnya hanya sekitar 60%.
Rekomendasi terapi menurut CDC:
 Seftriakson 125 mg i.m. (dosis tunggal) atau
 Sefiksim 400 mg per oral (dosis tunggal) atau
 Siprofloksasin 500 mg per oral (dosis tunggal) atau
 Ofloksasin 400 mg per oral (dosis tunggal) atau
 Levofloksasin 250 per oral (dosis tunggal).

RADANG PADA KORPUS UTERI


Endometritis (Nonpuerperal)
Patofisiologi penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen yang naik dari serviks ke
endometrium. Bakteri patogen meliputi C. Trachomatis, N. Gonorrhoeae, Streptococcus
agalactiae, cytomegalovirus, HSV dan Mycoplasma hominis. Organisme yang menyebabkan
vaginosis bakterial dapat juga menyebabkan endometritis histologik meskipun pada
perempuan tanpa keluhan. Endometritis merupakan komponen penting penyakit radang
panggul (PID) dan mungkin menjadi tahapan antara dalam penyebaran infeksi ke tuba fallopii.

Keluhan dan Gejala


 Endometritis kronik.
Banyak perempuan dengan endometritis kronik tidak mempunyai keluhan. Keluhan klasik
endometritis kronik adalah perdarahan vaginal intermenstrual. Dapat juga terjadi perdarahan
pascasanggama dan menoragia. Perempuan lain mungkin mengeluh nyeri tumpul di perut
bagian bawah terus-menerus. Endometritis menjadi penyebab infertilitas yang jarang.
 Endometritis akut
Jika endometritis terjadi bersama PID akut maka biasa terjadi nyeri tekan uterus. Sulit untuk
menentukan apakah radang tuba atau endometrium yang menyebabkan rasa tidak enak di
panggul.

Diagnosis
Diagnosis endometritis kronik ditegakkan dengan biopsi dan biakan endometrium.
Gambaran histologik klasik endometritis kronik berupa reaksi radang monosit dan sel-sel
plasma di dalam stroma endometrium (lima sel plasma per lapangan pandangan kuat). Tidak
ada korelasi antara adanya sejumlah kecil sel lekosit polimorfonuklear dengan endometritis
kronik. Pola infiltrat radang limfosit dan sel-sel plasma yang tersebar di seluruh stroma
endometrium terdapat pada kasus endometritis berat. Kadang-kadang bahkan terjadi nekrosis
stroma.

Terapi
Terapi pilihan untuk endometritis kronik adalah doksisiklin 100 mg per oral 2x sehari
selama 10 hari. Dapat pula dipertimbangkan cakupan yang lebih luas untuk organisme anerobik
terutama jika ada vaginosis bakterial. Jika terkait dengan PID akut terapi harus fokus pada
organisme penyebab utama termasuk N. gonorrhoeae dan C. trachomatis, demikian pula
cakupan polimikrobial yang lebih luas.

ADNEKSA DAN JARINGAN DI SEKITARNYA


Penyakit Radang Panggul
Penyakit radang panggul (PID: Pelvic Inflammatory Disease) adalah infeksi pada alat
genital atas. Proses penyakitnya dapat meliputi endometrium, tuba fallopi, ovarium,
miometrium, parametria, dan peritoneum panggul. PID adalah infeksi yang paling penting dan
merupakan komplikasi infeksi menular seksual yang paling biasa.
Patofisiologi dan mikrobiologi. Seperti endometritis PID disebabkan penyebaran
infeksi melalui serviks. Meskipun PID terkait dengan infeksi menular seksual alat genital
bawah tetapi prosesnya polimikrobial.
Salah satu teori patofisiologi adalah bahwa organisme menular seksual seperti N.
gonorrhoeae atau C. trachomatis memulai proses inflamasi akut yang menyebabkan kerusakan
jaringan sehingga memungkinkan akses oleh organisme lain dari vagina atau serviks ke alat
genital atas.
Aliran darah menstruasi dapat mempermudah infeksi pada alat genital atas dengan
menghilangkan sumbat lendir serviks, menyebabkan hilangnya lapisan endometrium dan efek
protektifnya serta menyediakan medium biakan yang baik untuk bakteri yaitu darah
menstruasi.
Biakan endoserviks yang positif untuk patogen tertentu tidak selalu ada kaitannya
dengan biakan intraabdominal yang positif.
Isolat yang diperoleh langsung dari alat genital atas meliputi berbagai macam bakteria,
termasuk C. trachomatis, N. gonorrhoeae, dan banyak bakteria aerobik dan anaerobik lainnya.
Pencegahan lebih ditekankan pada terapi agresif terhadap infeksi alat genital bawah dan terapi
agresif dini tehadap infeksi alat genital atas. Ini akan mengurangi insidensi akibat buruk jangka
panjang. Terapi pasangan seks dan pendidikan penting untuk mengurangi angka kejadian
kekambuhan infeksi.
Baik penelitian klinis maupun laboratoris telah menunjukkan bahwa pemakaian
kontrasepsi mengubah risiko relatif terjadinya PID.
Metode kontrasepsi mekanis memberikan obstruksi mekanis ataupun rintangan
kimiawi. Bahan kimia yang dipakai sebagai spermisida bersifat letal baik untuk bakteria
maupun virus.
Ada hubungan antara pemakaian kontrasepsi pil dengan insidensi PID yang lebih
rendah dan perjalanan infeksi yang lebih ringan kalau terjadi infeksi. Efek protektifnya tidak
jelas, tetapi mungkin terkait dengan perubahan pada konsistensi lendir serviks, menstruasi yang
lebih pendek, atau atropi endometrium.

Faktor Risiko
Riwayat PID sebelumnya.
 Banyak pasangan seks, didefinisikan sebagai Iebih dari dua pasangan dalam waktu 30 hari,
sedangkan pada pasangan monogami serial tidak didapatkan risiko yang meningkat.
 Infeksi oleh organisme menular seksual, dan sekitar 15% pasien dengan gonorea anogenital
tanpa komplikasi akan berkembang menjadi PID pada akhir atau segera sesudah menstruasi.
 Pemakaian AKDR dapat meningkatkan risiko PID tiga sampai lima kali. Risiko PID
terbesar terjadi pada waktu pemasangan AKDR dan dalam 3 minggu pertama setelah
pemasangan.
Gejala dan Diagnosis
Keluhan atau gejala yang paling sering adalah nyeri abdominopelvik. Keluhan lain
bervariasi, antara lain keluarnya cairan vagina atau perdarahan, demam dan menggigil, serta
mual dan disuria. Demam terlihat pada 60% sampai 80% kasus.
Diagnosis PID sulit karena keluhan dan gejala-gejala yang dikemukakan sangat
bervariasi. Pada pasien dengan nyeri tekan serviks, uterus, dan adneksa, PID didiagnosis
dengan akurat hanya sekitar 65%. Karena akibat buruk PID terutama infertilitas dan nyeri
panggul kronik, maka PID harus dicurigai pada perempuan berisiko dan diterapi secara agresif.
Kriteria diagnostik dari CDC dapat membantu akurasi diagnosis dan ketepatan terapi.

Kriteria minimum untuk diagnosis klinis adalah sebagai berikut (ketiga-tiganya harus ada) :
 Nyeri gerak serviks
 Nyeri tekan uterus


 Nyeri tekan adneksa

Kriteria tambahan seperti berikut dapat dipakai untuk menambah spesifisitas kriteria
minimum dan mendukung diagnosis PID :

 Suhu oral > 38,3"C


 Cairan serviks atau vagina tidak normal mukopurulen


 Lekosit dalam jumlah banyak pada pemeriksaan mikroskop sekret vagina dengan salin
 Kenaikan laju endap darah

 Protein reaktif-C meningkat


 Dokumentasi laboratorium infeksi serviks oleh N. gonorrhoeae atau C. trachomatis

Kriteria diagnosis PID paling spesifik meliputi:


 Biopsi endometrium disertai bukti histopatologis endometritis
 USG transvaginal atau MRI memperlihatkan tuba menebal penuh berisi cairan dengan atau
tanpa cairan bebas di panggul atau kompleks tubo-ovarial atau pemeriksaan Doppler
menyarankan infeksi panggul (misal hiperemi tuba)
 Hasil pemeriksaan laparoskopi yang konsisten dengan PID

Kriteria rawat inap sebagai berikut :

 Kedaruratan bedah (misal apensisitis) tidak dapat dikesampingkan


 Pasien sedang hamil


 Pasien tidak memberi respon klinis terhadap antimikrobia oral


 Pasien tidak mampu mengikuti atau menaati pengobatan rawat jalan


 Pasien menderita sakit berat, mual dan muntah, atau demam tinggi
 Ada abses tuboovarial.

Terapi
Terapi PID harus ditujukan untuk mencegah kerusakan tuba yang menyebabkan
infertilitas dan kehamilan ektopik, serta pencegahan infeksi kronik. Banyak pasien yang
berhasil diterapi dengan rawat jalan dan terapi rawat jalan dini harus menjadi pendekatan
terapeutik permulaan. Pemilihan antibiotika harus ditujukan pada organisme etiologik utama
(N. gonorrhoeae atau C. trachomatis) tetapi juga harus mengarah pada sifat polimikrobial PID.
Untuk pasien dengan PID ringan atau sedang terapi oral dan parenteral mempunyai
daya guna klinis yang sama. Sebagian besar klinisi menganjurkan terapi parenteral paling tidak
selama 48 jam kemudian dilanjutkan dengan terapi oral 24 jam setelah ada perbaikan klinis.
Rekomendasi terapi dari CDC.

Terapi Parenteral
a) Rekomendasi terapi parenteral A.
 Sefotetan 2 g intravena setiap 12 jam atau
 Sefoksitin 2 g intravena setiap 6 jam ditambah
 Doksisiklin 100 mg oral atau parenteral setiap 12 jam.
b) Rekomendasi terapi parenteral B.
 Klindamisin 900 mg setiap 8 jam ditambah
 Gentamisin dosis muatan intravena atau intramuskuler (2 mg/kg berat badan) diikuti dengan
dosis pemeliharaan (1,5 mg/kg berat badan) setiap 8 jam. Dapat diganti dengan dosis
tunggal harian.
c) Terapi parenteral alternadf.
Tiga terapi alternatif telah dicoba dan mereka mempunyai cakupan spektrum yang luas.
 Levofloksasin 500 mg intravena 1x sehari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg intravena
setiap 8 jam atau
 Ofloksasin 400 mg intravena setiap 12 jam dengan atau tanpa metronidazol 500 mg
intravena setiap 8 jam atau
 Ampisilin/Sulbaktam 3 g intravena setiap 5 jam ditambah doksisiklin 100 mg oral atau
intravena setiap 12 jam.

Akibat Buruk 


Sekitar 25% pasien PID mengalami akibat buruk jangka panjang. Infertilitas terjadi sampai
20%. Perempuan dengan riwayat PID mempunyai 6 sampai 10 kali lebih tinggi risiko
kehamilan ektopik. Telah dilaporkan terjadinya nyeri panggul kronik dan dispareunia.
Sindroma Fitz-Hugh-Curtis adalah terjadinya perlengketan fibrosa perihepatik akibat proses
peradangan PID. Ini dapat menyebabkan nyeri akut dan nyeri tekan kuadran kanan atas.