Anda di halaman 1dari 29

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH PAPUA BARAT

OPTIMALISASI KEMAMPUAN PENYIDIK DITRESKRIMUM POLDA PAPUA


BARAT YANG PROMOTER
GUNA MENDUKUNG PENANGANAN TINDAK PIDANA PEMILU 2019
DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemikiran mainstream beranggapan bahwa kepastian hukum
merupakan keadaan dimana perilaku manusia, baik individu, kelompok,
maupun organisasi, terikat dan berada dalam koridor yang sudah
digariskan oleh aturan hukum. Kepastian hukum secara normatif adalah
ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena
mengatur secara jelas dan logis. Sudikno Mertokusumo (1986: 130)
menuturkan bahwa kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel
terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang
akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan
tertentu1 yang merupakan asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatuhan,
dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara2.
Ungkapan di atas merupakan suatu prinsip yang wajib dijunjung tinggi
oleh para penegak hukum. Upaya untuk mewujudkan kepastian hukum
tentu tidak lepas dari peran Polri sebagai aparat penegak hukum yang
melakukan penanganan tindak pidana.
Salah satu hal yang menjadi concern Polri menghadapi tahun politik
2019 adalah penanganan tindak pidana pemilu. Pemilu adalah sarana
pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam NKRI berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945, yang mana di dalam penyelenggaraannya tidak lepas dari

1 Mertokusumo, Sudikno, 1986, “Mengenal Hukum”, Liberty, Yogjakarta, hal : 130


2
https://www.scribd.com/doc/46240963/Asas-Kepastian-Hukum diunduh Rabu 14 Februari 2018,
pukul 17.53 WITA

1
2

berbagai pelanggaran. Pelanggaran Pemilu dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu


pelanggaran administratif, pelanggaran kode etik dan tindak pidana
Pemilu3. Berbagai pelanggaran yang dapat dikategorikan sebagai tindak
pidana Pemilu terjadi sepanjang tahapan pelaksanaan Pemilu. Melihat
kasus yang terjadi pada pelaksanaan Pemilu 2014 dan Pemilukada 2017
yang diselenggarakan di wilayah hukum Polda Papua Barat tidak lepas
dari berbagai pelanggaran yang bahkan menjadi tindak pidana Pemilu.
Namun jika dilihat dari proses penanganan dan penyelesaian kasus tindak
pidana pemilu yang ada selama ini, tidak banyak kasus yang sampai ke
tingkat pengadilan meskipun banyak pengaduan dan laporan ke Bawaslu.
Oleh karena itu Polri perlu berperan penting dalam menangani tindak
pidana Pemilu melalui berbagai upaya dan langkah sistematis yang salah
satunya dengan mengembangkan kemampuan dan atau keterampilan
Penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat, mengingat hal yang paling
penting agar penanganan tindak pidana Pemilu ini dapat berjalan dengan
efektif dan efisien adalah adanya Penyidik yang memiliki kemampuan dan
keterampilan yang tinggi. Meskipun harus diakui bahwa dalam
pelaksanaannya belum sepenuhnya optimal karena masih banyak
kendala dan hambatan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini
merupakan tantangan bagi pimpinan Ditreskrimum Polda Papua Barat
untuk melakukan berbagai langkah sistematis dan konseptual bagaimana
mengoptimalkan kemampuan Penyidik yang profesional, modern dan
terpercaya sesuai dengan commander wish Kapolri agar penanganan
tindak pidana pemilu dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dan memberikan kepastian hukum.

B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan Naskah ini
adalah “Bagaimana mengoptimalkan kemampuan penyidik
Ditreskrimum polda Papua Barat yang Promoter guna mendukung
penanganan tindak pidana Pemilu 2019 dalam rangka mewujudkan
kepastian hukum?”.

3
Undang-undang nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, Pasal 94
3

C. Pokok-pokok Persoalan
Pokok-pokok persoalan dalam penulisan NKP ini adalah:
1. Bagaimana kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam menyusun perencanaan penyidikan tindak pidana pemilu?
2. Bagaimana kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam membuat pengorganisasian penyidikan tindak pidana pemilu?
3. Bagaimana kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana pemilu?
D. Ruang lingkup Pembahasan
Dibatasi pada analisis kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam menangani tindak pidana Pemilu dimulai dari tahap
perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan agar terwujud
kepastian hukum bagi pelaku tindak pidana Pemilu.
E. Maksud dan Tujuan
1. Maksud penulisan NKP ini untuk memenuhi salah satu persyaratan
akademis dalam mengikuti seleksi Sespimmen Dikreg ke-58;
2. Tujuan penulisan NKP ini adalah sebagai sumbang saran pemikiran
bagi segenap anggota dan unsur pimpinan Polri dalam mengambil
langkah-langkah tepat dalam mengoptimalisasikan kemampuan
penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam menangani tindak
pidana pemilu.
F. Metode dan Pendekatan
1. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi, yaitu menganalisa
fakta-fakta yang ada melalui studi dokumentasi, disamping pencarian
informasi melalui fasilitas internet;
2. Pendekatan dilakukan melalui studi empiris, yaitu studi berdasarkan
pengalaman penulis menjadi anggota Polri dan studi kepustakaan,
yaitu menelaah berbagai referensi, baik melalui buku-buku yang ada
kaitannya dengan pembahasan maupun browsing melalui internet.
G. Tata Urut
BAB I : PENDAHULUAN
BAB II : LANDASAN PEMIKIRAN
4

BAB III : KONDISI FAKTUAL


BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BAB V : KONDISI IDEAL
BAB VI : PEMECAHAN MASALAH
BAB VII : PENUTUP

H. Pengertian-pengertian
1. Optimalisasi adalah proses, cara/perbuatan memuat optimal,
sedangkan mengoptimalkan / dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
berarti menjadikan paling baik, paling tinggi atau menguntungkan
dengan kata lain bahwa optimalisasi adalah membentuk sesuatu
untuk menjadi lebih tinggi atau lebih baik4;
2. Kemampuan adalah berasal dari kata ”mampu” yang memiliki arti : 1.
Kuasa (sanggup melakukan sesuatu, dapat, kemampuan :
kesanggupan; kecakapan; kekuatan), 2. Kemajuan5;
3. Penyidik adalah pejabat Polri atau pejabat pegawai negeri sipil
tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk
melakukan penyidikan (pasal 1 butir 1 KUHAP)6;
4. Tindak Pidana Pemilu adalah suatu perbuatan melawan hukum
berupa kejahatan atau pelanggaran yang diancam dengan hukuman
pidana penjara, kurungan atau denda7 yang dijelaskan oleh pasal 488
s/d pasal 554 Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu;
5. Kepastian Hukum adalah ketika suatu peraturan dibuat dan
diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis,
jelas dalam artian tidak menimbulkan keraguan (multi-tafsir) dan logis
dalam artian menjadi suatu sistem norma, sehingga tidak
menimbulkan konflik norma yang ditimbulkan dari ketidakpastian
aturan, seperti kontestasi, reduksi atau distorsi8.

4 Drs. Peter Salim, MA, 1991, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer


5 Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2005
6 Pasal 1 butir 1 KUHAP
7 Muladi dan Barda Nawawi Arief. 1998. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Bandung. Alumni. Hlm 4
8 http://ockyprayogawirayudha.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_19.pdf, diunduh
Rabu 14 Februari 2018, pukul 19.24 WITA
BAB II

LANDASAN PEMIKIRAN

A. Teori Kompetensi
Kompetensi adalah sebagai karakteristik yang mendasari
seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam
pekerjaannya dan mengandung makna bagian dari kepribadian yang
mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat
diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan9. Karakteristik
kompetensi terdiri dari 3 (tiga), yaitu : Knowledge, adalah informasi
yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu; Skills, adalah
kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik
maupun mental; Self Concept / attitude, adalah sikap dan nilai-nilai
yang dimiliki seseorang..
B. Teori Manajemen
Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan
organisasi yang telah ditetapkan melalui kegiatan perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan
pengendalian / pengawasan (controlling)10. Fungsi manajemen adalah
sebagai berikut: 1) perencanaan; 2) pengorganisasian; 3) pelaksanaan;
dan 4) pengawasan.
C. Teori Analisa SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan strategi organisasi. Analisis ini
didasarkan pada logika untuk memaksimalkan kekuatan dan peluang,
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan
ancaman11. Analisis ini sangat relevan digunakan dalam menganalisa
kekuatan dan kelemahan organisasi dalam upaya mengetahui hakekat
ancaman dan peluang, sehingga pimpinan mampu menentukan

9 Spencer, M. Lyle and Spencer, M. Signe ,1993, Competence at Work Modelas for
Superrior Performance, John Wily & Son, Inc, New York, USA. Hal 9
10 Terry, George R. 1993. Principles of Management. Saduran Drs. Sujai. Bandung:
Penerbit Grafika
11 Freddy Rangkuti, 2009, Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT Gramedia
pustaka utama, Jakarta, hal : 18
5
6

langkah pengambilan keputusan. Metode Analisa SWOT dilakukan


melalui analisis kekuatan (strengths), analisa kelemahan (weakness),
analisa peluang (opportunities) dan analisis ancaman (threats).
D. Teori Manajemen Strategik
Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu
perumusan strategi, implementasi strategi, serta evaluasi dan
pengendalian strategi, yang diawali dengan pengamatan lingkungan.
Berikut penjelasan singkat mengenai tahapan-tahapan utama dalam
proses manajemen strategik12:
1. Perumusan strategi, yaitu 1) analisis lingkungan internal; 2)
melakuan analisis lingkungan eksternal; 3) mengembangkan visi
dan misi; 4) menyusun sasaran dan tujuan; 5) merumuskan dan
memilih strategi tepat; 6) menentukan pengendalian;
2. Implementasi strategi, yaitu: 1) penetapan tujuan; 2) perumusan
kebijakan; 3) memotivasi pekerja; 4) alokasi sumber daya;
3. Evaluasi strategi, proses yang ditujukan untuk memastikan
apakah tindakan-tindakan strategik yang dilakukan sudah sesuai
dengan perumusan strategi yang telah dibuat atau ditetapkan
E. Konsep Penyidikan Tindak Pidana Pemilu
Penyidikan tindak pidana yang profesional diperlukan dalam
pemilihan umum anggota DPR, DPD, DPRD, dan Pilpres secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sebagai perwujudan
kedaulatan rakyat untuk menghasilkan wakil rakyat yang aspiratif,
berkualitas dan bertanggung jawab13. Berdasarkan Perkap No 10
Tahun 2013, penyidikan tindak pidana Pemilu dilaksanakan melalui 4
tahapan sesuai dengan manajemen penyidikan yaitu Perencanaan,
Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengendalian. Oleh karena itu
kemampuan penyidik dalam menangani tindak pidana pemilu akan
dilihat dari aspek kemampuan perencanaan, kemampuan
pengorganisasian dan kemampuan melaksanakan penyidikan.

12 Musa Hubeis dan Mukhamad Najib, 2008, Manajemen Strategik, Dalam Pengembangan Daya
Saing Organisasi, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
13
Perkap No 10 Tahun 2013 tentang Tatacara Penyidikan Tindak Pidana Pemilu
BAB III

KONDISI FAKTUAL

Upaya untuk mewujudkan kepastian hukum dilakukan melalui


penegakan hukum yang diimplementasikan dengan penanganan perkara
pidana baik itu melalui penyelidikan maupun penyidikan. Penanganan
perkara pidana yang dilaksanakan oleh Ditreskrimum Polda Papua Barat
tergambar dalam jumlah kasus yang ditangani dan jumlah kasus yang
selesai. Berdasarkan data yang dihimpun, penyelesaian kasus oleh
Ditresrimum Polda Papua Barat masih rendah hal tersebut dapat dilihat
pada grafik berikut ini:
Grafik 3.1 Data Perkara Ditreskrimum Polda Papua Barat 2015 s/d 2017
248
250 Persentase Penyelesaian
200 151
150 126
CT 2015
100 69 60,88% 67%
CC 2016
50 12 8
2017
0 55%
Tahun Tahun Tahun
2015 2016 2017
Sumber: Ditreskrimum Polda Papua Barat, 2018
Berdasarkan grafik 3.1 diatas, dapat dilihat bahwa trend kasus yang
ditangani Ditreskrimum Polda Papua Barat meningkat setiap tahunnya.
Namun penyelesaian kasus masih sangat rendah tidak ada yang mencapai
70%. Hal ini mengakibatkan lambatnya proses pemberian kepastian hukum
bagi masyarakat khususnya bagi terlapor maupun pelapor. Gambaran ini
menunjukkan bahwa penanganan kasus oleh penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat masih berjalan ditempat. Begitu pula dengan penanganan
tindak pidana Pemilu dan atau Pemilukada. Banyak laporan yang diajukan
kepada Bawaslu Provinsi Papua Barat maupun KPU namun hanya sedikit
saja yang diproses hingga ke pengadilan. Hal ini mengakibatkan
munculnya banyak kekecewaan dari masyarakat terhadap Polri khususnya
Polda Papua Barat. Padahal penegakan hukum pada tindak pidana pemilu
merupakan hal yang amat penting demi mewujudkan Pemilu yang bersih,
jujur dan adil (free and fair election). Berdasarkan penelusuran penulis

7
8

berikut adalah penanganan tindak pidana Pemilu 2014 dan Pemilukada


2017 yang ditangani oleh Diterskrimum Polda Papua Barat:
Grafik 3.2 Tindak Pidana Pemilu & Pemilukada di Papua Barat
11
12 6
6
0
Pemilu 2014 Pemilukada
2017
Sumber: Ditreskrimum Polda Papua Barat 2015 dan 2017
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa tindak pidana Pemilu
2014 ada 6 kasus dan Pemilukada ada 11 kasus. Melihat jumlah kasus ini
dapat disimpulkan bahwa tindak pidana hanya sedikit, namun melihat fakta
di lapangan banyak laporan tindak pidana Pemilu/Pemilukada yang masuk
ke Bawaslu dan KPU. Ini menunjukkan bahwa penanganan tindak pidana
Pemilu masih memiliki berbagai hambatan dan kendala. Hal yang
ditemukan di lapangan adalah seringnya bolak balik berkas antara Bawaslu
dan penyidik serta antara penyidik dan Kejaksaan. Hal ini terjadi karena
berbagai hal diantaranya adalah minimnya waktu penyelesaian (waktu
penyelidikan hanya 1x24 jam dan penyidikan maksimal 14 hari) perkara,
lemahnya koordinasi antar lembaga dibawah payung Sentra Penegakan
Hukum Terpadu (Gakkumdu antara Bawaslu, Polri dan Kejaksaan) serta
lemahnya kemampuan penyidik dalam menuntaskan kasus tindak pidana
Pemilu. Jumlah penyidik yang dimiliki oleh Ditreskrimum Polda Papua Barat
sangat jauh dari DSPP. Selain itu banyak penyidik yang belum atau kurang
mendapatkan pelatihan terutama tentang tindak pidana Pemilu sesuai
undang-undang. Kondisi sumber daya manusia yang dimiliki oleh
Ditreskrimum Polda Papua Barat dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1 Data Personel Ditreskrimum Polda Papua Barat 2017
No Pangkat DSP Riil Kurang Ket
1 PAMEN 27 6 21
2 PAMA 44 3 41
3 BINTARA 86 23 64
4 PNS 27 0 27
Jumlah 184 32 152
Sumber data: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Ditreskrimum Polda
Papua Barat tahun 2017
9

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa secara kuantitas jumlah


personel yang dimiliki oleh Ditreskrimum Polda Papua Barat sangat jauh
dari DSP dimana jumlah personel yang dimiliki hanya 32 orang sedangkan
DSP seharusnya 84 orang atau hanya terpenuhi sebesar 17,29%. Hal ini
tentunya menyebabkan beban kinerja menjadi lebih besar terutama
menghadapi Pemilu dalam menangani tindak pidana Pemilu yang mana
sebagaimana diketahui tindak pidana pemilu di Indonesia
Selain ditinjau dari segi kuantitas, dari segi kualitas pun penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat belum memiliki kemampuan yang baik
dalam menangani tindak pidana Pemilu. Berdasarkan Perkap No 14 tahun
2012 tentang Manajemen Penyidikan dan Perkap No 10 Tahun 2013
tentang Tata Cara Penyidikan Tindak Pidana Pemilu maka proses
penyidikan terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengendalian. Hal ini sesuai dengan teori manajemen
yang dikemukakan oleh George R. Terry (1993). Oleh karena itu
kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam menangani
Tindak Pidana Pemilu akan ditinjau dari kemampuan perencanaan,
pengorganisasian dan pelaksanaan dengan melihat 3 aspek kompetensi
yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude)
sebagaimana dijelaskan berikut ini:
A. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam menyusun perencanaan penyidikan tindak pidana Pemilu
Perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan dan diikuti
dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan tersebut. Berdasarkan penelusuran penulis kemampuan
penyidik dalam menyusun perencanaan penyidikan tindak pidana
Pemilu belum optimal dengan indikasi:
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Masih ada penyidik yang kurang memahami tata cara
pembuatan rencana penyidikan yang tepat dan akuntabel;
b. Masih ditemukan penyidik yang salah menerapkan pasal
yang akan diterapkan akibat kurangnya pengetahuan
terhadap peraturan terutama UU No 7 tahun 2017.
10

2. Keterampilan (Skill):
a. Beberapa penyidik kurang mahir menggunakan peralatan
IT seperti komputer sehingga kesulitan dalam memuat
perencanaan penyidikan;
b. Masih ada beberapa penyidik yang belum mampu
menyusun rencana penyidikan yang baik yang memuat
penentuan sasaran penyidikan; personel yang ditunjuk;
cara bertindak; waktu yang akan digunakan; dan
pengendalian penyidikan.
3. Perilaku (Attitude)
a. Kerap ditemukan penyidik yang hanya copy paste dari
format sebelumnya sehingga terjadi kesalahan pengetikan;
b. Masih banyak penyidik yang kurang teliti dalam menyusun
rencana penyidikan tindak pidana Pemilu.
B. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam membuat pengorganisasian penyidikan tindak pidana
pemilu
Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan
orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang
sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan
yang telah ditentukan. Berdasarkan penelusuran penulis kemampuan
penyidik dalam membuat pengorganisasian penyidikan tindak pidana
Pemilu belum optimal dengan indikasi:
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Sebagian penyidik kurang memahami indikator
pengorganisasian sumber daya penyidikan;
b. Masih ada penyidik yang belum memahami peraturan
maupun piranti lunak yang akan digunakan dalam
penyidikan akibat kurangnya minat membaca.
2. Keterampilan (Skill):
a. Masih banyak penyidik yang kurang memiliki kemampuan
dan pengalaman di bidang penyidikan dan belum mahir
11

melakukan pemberkasan perkara serta lemah dalam


penguasaan administrasi Penyidikan;
b. Kerap ditemukan penyidik yang belum mampu dalam
menyusun sarana prasarana dan anggaran yang akan
digunakan dalam penyidika tindak pidana Pemilu.
3. Perilaku (Attitude)
a. Masih ada penyidik yang kurang memiliki integritas dalam
menyusun pengorganisasian akibat beban kerja yang tinggi
dikarenakan kurangnya personel;
b. Ada beberapa penyidik yang kerap menunda-nunda
penyusunan pengorganisasian sumber daya penyidikan.
C. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana pemilu
Berdasarkan penelusuran penulis kemampuan penyidik dalam
melaksanakan penyidikan tindak pidana Pemilu belum optimal dengan
indikasi:
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Lemahnya pemahaman dan pengetahuan sebagian besar
penyidik terhadap pasal-pasal dalam undang-undang no 7
tahun 2017 tentang Pemilu akibat minimnya sosialisasi dan
pembinaan yang diterima sehingga kerap ditemukan
kesalahan penerapan pasal dan lamanya penerapan pasal
b. Masih banyak penyidik yang kurang mengetahui
kelengkapan administrasi laporan tindak pidana Pemilu
akibat lemahnya koordinasi pada Sentra Gakkumdu.
2. Keterampilan (Skill):
a. Masih banyak Penyidik yang kurang memiliki daya analisis
(Low Literacy Percentage) terhadap tindak pidana Pemilu
akibat kompleksitas dan sulitnya pembuktian kasus;
b. Sebagian besar Penyidik kurang memiliki pengalaman
(empirical value) yang memadai dalam menangani tindak
pidana Pemilu akibat pemilihan penyidik yang itu-itu saja
sebagai personel yang ditempatkan di Sentra Gakkumdu;
12

c. Dalam melaksanakan pemanggilan dan pemeriksaan


terhadap saksi atau tersangka, penyidik kurang
memperhatikan faktor kecepatan dan ketepatan waktu
padahal waktu yang diberikan hanya 14 hari;
d. Masih banyak Penyidik yang kurang mampu menjalin
hubungan kerjasama, seperti halnya kemampuan
melakukan negosiasi dan komunikasi yang baik terutama
dengan CJS dan pihak yang terlibat dalam Sentra
Gakkumdu serta dengan tersangka.
3. Perilaku (Attitude)
a. Masih ditemukan adanya perilaku oknum Penyidik yang
mudah disuap untuk memberikan tingkat keringanan
maupun pemberhentian perkara atau bahkan meminta
imbalan dengan dalih biaya operasional;
b. Masih banyak penyidik kurang memiliki kematangan
emosional dan mental yang kerap muncul emosi dalam
pelaksanaan penyidikan.
D. Implikasi tidak optimalnya kemampuan penyidik Ditreskrimum
Polda Papua Barat yang Promoter
Implikasi yang terjadi karena belum optimalnya kemampuan
Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam menangani tindak pidana
Pemilu adalah sebagai berikut:
1. Peran dan kemampuan Penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat dalam menangani tindak pidana Pemilu kurang
memberikan hasil yang optimal, sehingga timbul opini negatif
dari berbagai kalangan dan masyarakat;
2. Penanganan tindak pidana Pemilu yang tidak berjalan efektif dan
efisien sehingga tidak mampu mendukung pelaksanaan Pemilu
2019 yang jujur dan berkeadilan;
3. Tidak tercapainya kepastian hukum bagi pelaku tindak pidana
Pemilu akibatnya banyak pelaku yang bebas sehingga upaya
untuk mewujudkan kepastian hukum terhambat.
BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Faktor yang mempengaruhi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda


Papua Barat dalam menangani tindak pidana Pemilu dapat dianalisa dari
beberapa faktor, baik dari lingkungan eksternal maupun internal dengan
melalui analisa SWOT yaitu kekuatan (strenghts), kelemahan
(weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats).
A. Faktor Internal
1. Kekuatan
a. Program Promoter Kapolri nomor 4 tentang peningkatan
profesionalisme polri menuju keunggulan dan program
nomor 9 tentang penegakan hukum yang lebih profesional
dan berkeadilan;
b. Adanya pedoman tentang penanganan tindak pidana
khususnya Pemilu melalui perkap No 10 tahun 2013 yang
memuat secara umum tentang kompetensi penyidik;
c. Komitmen pimpinan Papua Barat untuk mendukung
pelaksanaan Pemilu 2019 dengan mengoptimalkan
kemampuan penyidik Diterskrimum Polda Papua Barat;
d. Kebijakan pimpinan Papua Barat untuk meningkatkan
kompetensi penyidik Diterskrimum Polda Papua Barat
khususnya terkait penanganan tindak pidana Pemilu;
e. Keinginan kuat seluruh penyidik Diterskrimum Polda Papua
Barat untuk merubah mind set dan culture set serta
meningkatkan kemampuan yang Promoter.
2. Kelemahan
a. Jumlah personel yang memiliki kompetensi/kemampuan
dalam teknologi informasi dan komunikasi masih terbatas;
b. Masih terbatasnya dukungan anggaran dan sarana
prasarana terhadap penanganan tindak pidana;
c. Atensi dan pengawasan dari unsur pimpinan terhadap
penyidik dipandang masih kurang;

13
14

d. DSP yang sudah dijadikan tolak ukur belum mengacu pada


ABK (Analisa Beban Kerja) dan kondisi penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat belum sesuai DSP;
e. Lemahnya kompetensi penyidik dalam menangani tindak
pidana Pemilu dari aspek kemampuan perencanaan,
pengorganisasian, dan pelaksanaan penyidikan.
B. Faktor Eksternal
1. Peluang
a. Adanya Sentra Gakkumdu sebagai sarana untuk
mempermudah penanganan tindak pidana Pemilu;
b. Dukungan penuh dari Pemerintah agar Polri dapat
meningkatkan profesionalisme penyidik sehingga mampu
mendukung nawacita Presiden;
c. Adanya lembaga pengawas eksternal sebagai kontrol
terhadap penyidikan yang dilakukan oleh penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat;
d. Tersedianya kerjasama antar unsur Criminal Justice
System (CJS) dalam penanganan tindak pidana Pemilu;
e. Pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang
mendukung peningkatan kemampuan penyidik utamanya
dalam penanganan tindak pidana Pemilu.
2. Kendala
a. Tingginya pengeluaran dalam pelaksanaan kampanye
mendorong timbulnya praktik tindak pidana Pemilu;
b. Adanya beberapa pihak yang ingin memanfaatkan situasi
politik sehingga memunculkan isu-isu sensitif terutama
SARA dan Hoax;
c. Masih ada kelompok masyarakat yang memiliki citra negatif
terhadap penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri;
d. Sikap ego sektoral dari masing-masing instansi dalam
menjalin hubungan kerjasama dalam Sentra Gakkumdu;
e. Kemampuan keuangan Negara belum bisa memenuhi
kebutuhan ideal Polri.
BAB V

KONDISI IDEAL

Tindak Pidana Pemilu dalam perkembangannya mengalami banyak


perubahan baik berupa peningkatan jenis tindak pidana sampai perbedaan
tentang penambahan sanksi pidana. Hal ini disebabkan karena semakin
hari tindak pidana pemilu semakin menjadi perhatian yang serius karena
ukuran keberhasilan Negara demokratis dilihat dari kesuksesannya
menyelenggarakan pemilu. Penegakan hukum tindak pidana Pemilu
dengan penerapan sanksi pidana bertujuan untuk menimbulkan efek jera
sehingga pelanggaran pemilu tidak terjadi berulang kali. Oleh karena itu
penanganan tindak pidana Pemilu harus didukung oleh kemampuan
Penyidik yang Promoter. Berdasarkan pembahasan pada Bab III, maka
kondisi ideal terkait kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam menangani tindak pidana Pemilu adalah sebagai berikut:
A. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam menyusun perencanaan penyidikan tindak pidana Pemilu
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Seluruh penyidik telah memahami tata cara pembuatan
rencana penyidikan yang tepat dan akuntabel;
b. Semua penyidik memahami pasal yang akan diterapkan
dalam penyidikan tindak pidana Pemilu.
2. Keterampilan (Skill):
a. Semua penyidik telah mahir menggunakan peralatan IT
seperti komputer sehingga tidak ditemui kesulitan dalam
memuat perencanaan penyidikan;
b. Seluruh penyidik mampu menyusun rencana penyidikan
yang baik.
3. Perilaku (Attitude)
a. Tidak ditemukan lagi penyidik yang hanya copy paste dari
format sebelumnya sehingga lebih akuntabel;
b. Seluruh penyidik teliti dalam menyusun rencana penyidikan
tindak pidana Pemilu.

15
16

B. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat


dalam pengorganisasian penyidikan tindak pidana pemilu
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Setiap penyidik telah memahami indikator
pengorganisasian sumber daya penyidikan;
b. Semua penyidik telah memahami peraturan maupun piranti
lunak yang akan digunakan dalam penyidikan dengan
meningkatkan minat membaca.
2. Keterampilan (Skill):
a. Meningkatnya kemampuan dan pengalaman penyidik di
bidang penyidikan, mahir melakukan pemberkasan perkara
dan menguasai administrasi Penyidikan;
b. Seluruh penyidik mampu menyusun sarana prasarana dan
anggaran yang akan digunakan dalam penyidikan tindak
pidana Pemilu.
3. Perilaku (Attitude)
a. Penyidik memiliki integritas yang tinggi dalam menyusun
pengorganisasian penyidikan;
b. Penyidik segera menyusun pengorganisasian sumber daya
penyidikan dengan meningkatnya loyalitas kerja.
C. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat
dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana pemilu
1. Pengetahuan (Knowledge):
a. Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan penyidik
terhadap pasal-pasal dalam undang-undang Pemilu
dengan mengintensifkan sosialisasi dan pembinaan;
b. Seluruh penyidik telah mengetahui kelengkapan
administrasi laporan tindak pidana Pemilu dengan
intensifnya koordinasi pada Sentra Gakkumdu.
2. Keterampilan (Skill):
a. Semua Penyidik telah memiliki daya analisis (low literacy
percentage) terhadap tindak pidana Pemilu meskipun
dihadapkan dengan kompleksitas dan sulitnya pembuktian;
17

b. Setiap Penyidik teah memiliki pengalaman (empirical value)


yang memadai dalam menangani tindak pidana Pemilu
dengan menggilir personel yang ditempatkan dan
ditugaskan di Sentra Gakkumdu;
c. Dalam melaksanakan pemanggilan dan pemeriksaan
terhadap saksi atau tersangka, penyidik selalu
memperhatikan faktor kecepatan dan ketepatan waktu;
d. Seluruh Penyidik mampu menjalin hubungan kerjasama
ditunjang dengan kemampuan negosiasi dan komunikasi
yang baik terutama dengan CJS dan pihak yang terlibat
dalam Sentra Gakkumdu serta dengan tersangka.
3. Perilaku (Attitude)
a. Tingginya sikap kejujuran dan anti korupsi penyidik
sehingga penyidik tidak mudah tergiur dengan imbalan dari
tersangka;
b. Seluruh penyidik kurang memiliki kematangan emosional
dan mental dalam pelaksanaan penyidikan.
D. Kontribusi keberhasilan kemampuan penyidik Ditreskrimum
Polda Papua Barat yang Promoter
Kontribusi keberhasilan kemampuan penyidik Ditreskrimum
Polda Papua Barat yang Promoter adalah sebagai berikut:
1. Peran dan kemampuan Penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat dalam menangani tindak pidana Pemilu memberikan hasil
yang optimal, sehingga timbul opini positif dari berbagai
kalangan dan masyarakat;
2. Penanganan tindak pidana Pemilu berjalan efektif dan efisien
sehingga mampu mendukung pelaksanaan Pemilu 2019 yang
jujur dan berkeadilan;
3. Tercapainya kepastian hukum bagi pelaku tindak pidana Pemilu
secara profesional dan berkeadilan sehingga upaya untuk
kepastian hukum terwujud.
BAB VI
PEMECAHAN MASALAH

Bertitik tolak pada pembahasan sebelumnya, baik kondisi faktual,


faktor-faktor yang mempengaruhi maupun kondisi ideal, maka pada bab ini
akan dibahas perumusan pemecahan masalah dengan mengacu pada teori
manajemen strategik dengan merumuskan: visi, misi, tujuan, sasaran,
kebijakan dan implementasi strategi (action plan).
A. Visi
“Terwujudnya kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam menangani tindak pindana Pemilu 2019
sehingga kepastian hukum dicapai”.
B. Misi
1. Mewujudkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam menyusun perencanaan penyidikan
tindak pidana pemilu;
2. Mewujudkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam membuat pengorganisasian
penyidikan tindak pidana pemilu;
3. Mewujudkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam melaksanakan penyidikan tindak
pidana pemilu.
C. Tujuan
1. Tercapainya kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam menyusun perencanaan penyidikan
tindak pidana pemilu;
2. Tercapainya kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam membuat pengorganisasian
penyidikan tindak pidana pemilu;
3. Tercapainya kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam melaksanakan penyidikan tindak
pidana pemilu.

18
19

D. Sasaran
1. Meningkatkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam menyusun perencanaan penyidikan
tindak pidana pemilu pada aspek pengetahuan, keterampilan,
dan sikap melalui berbagai pelatihan dan pembinaan serta
pemberian sistem imbalan;
2. Meningkatkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam membuat pengorganisasian
penyidikan tindak pidana pemilu pada aspek pengetahuan,
keterampilan, dan sikap melalui berbagai pelatihan dan
pembinaan serta pemberian sistem imbalan
3. Meningkatkan kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang Promoter dalam melaksanakan perencanaan
penyidikan tindak pidana pemilu pada aspek pengetahuan,
keterampilan, dan sikap melalui berbagai pelatihan dan
pembinaan serta pemberian sistem imbalan.
E. Kebijakan
1. Menyelenggarakan pembinaan dan pelatihan secara bertahap
dan berkesinambungan agar dapat meningkatkan kemampuan
penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat yang Promoter dalam
menangani tindak pidana Pemilu;
2. Melaksanakan Perkap No 14 tahun 2012 tentang manajemen
penyidika serta Perkap No 10 tahun 2013 tentang tata cara
penyidikan tindak pidana pemilu berlandaskan UU no 7 Tahun
2017 tentang Pemilu secara efektif dan efisien.
F. Strategi
1. Jangka Pendek (6 Bulan)
a. Meningkatkan kompetensi penyidik dalam menangani
tindak pidana pemilu dari aspek kemampuan perencanaan,
pengorganisasian dan pelaksanaan penyidikan;
b. Menyusun pedoman teknis terkait penanganan tindak
pidana Pemilu;
20

c. Mengintensifkan perubahan mind set dan culture set


penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat sehingga
tercapai kemampuan penyidik yang Promoter;
d. Meningkatkan atensi dan pengawasan unsur pimpinan
terhadap penyidik di lapangan.
2. Jangka Sedang (12 bulan)
a. Memberdayakan peran aktif lembaga pengawas eksternal
sebagai kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh
penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat;
b. Memanfaatan perkembangan informasi dan teknologi yang
mendukung peningkatan kemampuan penyidik dalam
penanganan tindak pidana Pemilu.
3. Jangka Panjang (24 bulan)
a. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi di
dalam Sentra Gakkumdu dan CJS;
b. Meningkatkan citra positif masyarakat terhadap penegakan
hukum yang dilakukan oleh Polri.

G. Implementasi strategi / action plan


1. Jangka Pendek (0-6 Bulan)
a. Meningkatkan kompetensi penyidik dalam menangani
tindak pidana pemilu dari aspek kemampuan perencanaan,
pengorganisasian dan pelaksanaan penyidikan, melalui:
1) Mengembangkan pemenuhan kuantitas penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat melalui
penambahan Penyidik secara bertahap sesuai
dengan beban tugas yang dihadapi;
2) Meningkatkan pengetahuan perundang-undangan
yang berkaitan dengan Pemilu serta taktik dan teknik
penyidikan melalui kegiatan dikjur, pelatihan,
workshop, diskusi, dan seminar, baik di dalam internal
kepolisian maupun di luar kepolisian;
3) Melaksanakan pelatihan komunikasi dan penggunaan
IT modern dengan mengundang pakar nasional
21

melalui kegiatan seminar, on the job training, diskusi


panel maupun kegiatan lainnya;
4) Melakukan pembinaan dan pelatihan pemberkasan
perkara dan administrasi Penyidikan dengan
mengundang instruktur dari Mabes serta pakar hukum
5) Melaksanakan berbagai pelatihan dan pembinaan
rohani dan mental untuk mendukung gerakan revolusi
mental sebagai sarana merubah sikap penyidik ke
arah yang lebih baik melalui metode NAC, ESQ,
maupun kegiatan spiritual building lainnya;
6) Memberikan pembinaan melalui metode “Mentorisasi”
dari penyidik yang paham tentang tindak pidana
pemilu kepada penyidik yang kurang memahami agar
seluruh penyidik memiliki daya analisis yang kuat
serta pengalaman yang cukup:
7) Membuat program edukasi dalam berbagai bentuk
kegiatan seperti Jam pimpinan, coaching clinic, Inter
Personal Skill, menumbuhkan jiwa Problem Solving
terkait tindak pidana Pemilu;
8) Mengirimkan penyidik secara bertahap untuk belajar
dan menimba pengalaman langsung di KPUD dan
Bawaslu Provinsi guna meningkatkan pengetahuan
lebih mendalam terhadap tindak pidana Pemilu.
b. Menyusun pedoman teknis terkait penanganan tindak
pidana Pemilu, melalui:
1) Membuat buku panduan (buku saku) berisi pasal-
pasal yang diterapkan dalam tindak pidana Pemilu
karena banyaknya pasal tindak pidana pemilu dalam
UU No 7 tahun 2017 tentang Pemilu;
2) Membuat panduan penyusunan administrasi
penyidikan yang akuntabel dan mudah dipahami oleh
seluruh penyidik terutama terkait time line
penyelesaian penyelidikan dan penyidikan;
22

3) Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) teknik


penyelidikan dan penyidikan tentang pengungkapan
suap pada pelaksanaan Pemilu;
4) Meningkatkan sosialisasi perkap No 10 tahun 2013
tentang tata cara penyidikan tindak pidana Pemilu
secara intensif dan berkesinambungan;
5) Merumuskan Pilun berupa Surat Perintah, MoU, serta
pilun lain yang berkaitan dengan peningkatan
kemampuan Penyidik dalam menangani tindak pidana
Pemilu untuk kemudian diusulkan pada Kapolda
melalui Dirreskrimum, guna kejelasan peran, fungsi,
mekanisme dan prosedur kerja.
c. Mengintensifkan perubahan mind set dan culture set
penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat sehingga
tercapai kemampuan penyidik yang Promoter, melalui:
1) Membuat pakta integritas yang ditandatangani
Penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat sebagai
bentuk komitmen untuk perubahan;
2) Memberikan pemahaman dan penekanan terhadap
penyidik bahwa tugas negara adalah tugas utama;
3) Membuat kotak pengaduan dan saran untuk
perubahan mind set dan culture set yang lebih baik;
4) Mengintensifkan pemberian kebijakan sistem imbalan
melalui program reward and punishment secara
obyektif dan berbasis kinerja.
d. Meningkatkan atensi dan pengawasan unsur pimpinan
terhadap penyidik di lapangan, melalui:
1) Memimpin pelaksanaan supervisi secara langsung di
lapangan guna meninjau kondisi riil pelaksanaan
tugas di lapangan;
2) Melaksanakan peninjauan secara langsung untuk
memberikan arahan dan petunjuk teknis secara tepat
sesuai kondisi objektif di lapangan.
23

3) Memberdayakan peran peran pengawas internal


Polda untuk melakukan pengawasan secara intensif
terhadap pelaksanaan tugas Penyidik;
4) Memberikan tindakan korektif dan direktif terhadap
pelaksanaan tugas dan perilaku penyidik.
2. Jangka Sedang (0-12 Bulan)
a. Memberdayakan peran aktif lembaga pengawas eksternal
sebagai kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh
penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat, melalui:
1) Membuat pernyataan melalui media dengan
memberikan kesempatan kepada masyarakat sebagai
pengawas eksternal untuk memberikan kontrol sosial
terhadap kinerja Penyidik;
2) Mengundang lembaga pengawas eksternal seperti
ombudsman, LP3BH, maupun lembaga pengawas
lain untuk aktif mengawasi kinerja penyidik serta
memberikan feed back positif untuk perubahan yang
lebih baik ke depannya.
b. Memanfaatan perkembangan informasi dan teknologi yang
mendukung peningkatan kemampuan penyidik dalam
penanganan tindak pidana Pemilu, melalui:
1) Memasang dan menggunakan sarana prasarana yang
dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi dan
koordinasi dengan instansi terkait seperti
Teleconference, Video Group Conference dan lain
sebagainya;
2) Membuat video-video pelatihan sebagai sarana self
training yang diupload melalui media sosial maupun
jejaring sosial yang dimiliki Ditreskrimum Polda Papua
Barat yang dapat diunduh oleh seluruh penyidik;
3) Mengoptimalkan penggunaan alat-alat penyadapan
modern untuk membuka bukti terhadap tindak pidana
Pemilu;
24

4) Membuat sistem terpadu berbasis internet yang


terkoneksi dengan unsur yang berada dalam CJS
maumun Sentra Gakkumdu sebagai pusat monitor
data dan lalu lintas pertukaran berkas elektronik.
3. Jangka Panjang (0-24 Bulan)
a. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi di
dalam Sentra Gakkumdu dan CJS, melalui:
1) Membuat MoU dengan pihak kejaksaan dan Bawaslu
Provinsi Papua Barat dalam menghadapi Pemilu 2019
sehingga ada kejelasan jalur komunikasi, tata cara
bertindak maupun poin-poin kerjasama lainnya;
2) Mengadakan pelatihan bersama terutama terkait
pemahaman undang-undang Pemilu dengan
mengundang pihak dari KPU;
3) Mengintensifkan koordinasi melalui kegiatan coffee
morning secara intensif dan berkala.
b. Meningkatkan citra positif masyarakat terhadap penegakan
hukum yang dilakukan oleh Polri, melalui:
1) Membuka sentra pengaduan khusus akan kritik dan
saran masyarakat terhadap penanganan tindak
pidanan pemilu yang dilaksanakan oleh penyidik;
2) Menerbitkan SP2HP secara online dan dapat dilihat
perkembangan kasusnya oleh masyarakat secara
terbuka;
3) Melaksanakan penegakan hukum secara profesional
dan berkeadilan terhadap semua penanganan tindak
pidana melalui democratic policing.
BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan yaitu:
1. Kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam
menyusun perencanaan penyidikan tindak pidana Pemilu masih
belum memadai yang ditinjau dari aspek pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Oleh karena itu perlu upaya
peningkatan dengan cara: pelatihan IT, on the job training,
diskusi panel, pelatihan dan pembinaan rohani dan mental,
program edukasi, pembuatan SOP, Buku Saku, sosialisasi;
2. Kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam
membuat pengorganisasian penyidikan tindak pidana pemilu
belum optimal ditinjau dari aspek pengetahuan, keterampilan
dan sikap. Oleh karena itu perlu adanya upaya perbaikan
dengan cara: pembinaan dan pelatihan pemberkasan perkara
dan administrasi Penyidikan, pelatihan dan pembinaan rohani
dan mental, rumuskan pilun;
3. Kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda Papua Barat dalam
melaksanakan penyidikan tindak pidana pemilu belum optimal
ditinjau dari aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Oleh
karena itu perlu upaya perbaikan melalui: dikjur, pelatihan,
workshop, diskusi, seminar. pelatihan dan pembinaan rohani dan
mental, mentorisasi, mengirimkan penyidik ke KPUD, panduan
penyusunan administrasi penyidikan.
B. Rekomendasi
1. Merekomendasikan kepada Kapolri up As SDM untuk memenuhi
jumlah penyidik Ditreskrimum Polda Papua BArat agar sesuai
DSP, analisis beban kinerja (ABK) serta pemilihan penyidik agar
memperhatikan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki;

25
26

2. Merekomendasikan kepada Kapolri up. As Sarpras agar dapat


mengembangkan fasilitas teknologi berbasis teknologi untuk
pengungkapan tindak pidana Pemilu;
3. Merekomendasikan kepada Kapolri untuk mengusulkan kepada
Presiden agar Sentra Gakkumdu ditingkat pusat dibuat
permanen agar lebih efektif dalam memonitoring sentra
Gakkumdu provinsi ataupun kabupaten/kota.
DAFTAR PUSTAKA

Kitab Undang-undang Hukum Pidana Repubik Indonesia Pasal 1 butir 1


Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum
Peraturan Kapolri Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi
Polri Tingkat Kepolisian Daerah
Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Manjemen Penyidikan
Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyidikan
Tindak Pidana Pemilu
Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Panduan Penyusunan
Kerjasama Polri
Peraturan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Patroli
Ditreskrimum Polda Papua Barat. 2018. Data Perkara. Manokwari.
Ditreskrimum Polda Papua Barat. 2017. Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah (LKIP) Ditreskrimum Polda Papua Barat tahun 2017.
Manokwari. Papua Barat.
Freddy Rangkuti, 2009, Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis,
PT Gramedia pustaka utama, Jakarta
Mertokusumo, Sudikno, 1986, “Mengenal Hukum”, Liberty, Yogjakarta
Drs. Peter Salim, MA. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer.
Modern English Press. Jakarta.
Alwi Hasan, dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen
Pendidikan Nasional Balai Pustaka. .Jakarta.
Muladi dan Barda Nawawi Arief. 1998. Teori-teori dan Kebijakan Pidana.
Alumni. Bandung.
Spencer, M. Lyle and Spencer, M. Signe ,1993, Competence at Work
Modelas for Superrior Performance, John Wily & Son, Inc, New
York, USA
Terry, George R. 1993. Principles of Management. Saduran Drs. Sujai.
Bandung: Penerbit Grafika
Musa Hubeis dan Mukhamad Najib, 2008, Manajemen Strategik, Dalam
Pengembangan Daya Saing Organisasi, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
Ristianto Fadilah. 2011. Kepastian Hukum. Diuntuh dari
https://www.scribd.com/doc/46240963/Asas-Kepastian-Hukum
pada Senin 11 Februari 2018, pukul 17.53 WITA
http://ockyprayogawirayudha.student.umm.ac.id/download-as-
pdf/umm_blog_article_19.pdf, diunduh Rabu 14 Februari 2018,
pukul 19.24 WITA

27
28

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................... 1
B. Pokok Permasalahan ................................................. 2
C. Pokok- Pokok Persoalan ............................................ 3
D. Ruang Lingkup Pembahasan .................................... 3
E. Maksud dan Tujuan .................................................... 3
F. Metode dan Pendekatan ............................................ 3
G. Tata Urut ................................................................... 3
H. Pengertian-pengertian ................................................ 4

BAB II : LANDASAN TEORI


A. Teori Kompetensi ...................................................... 5
B. Teori Manajemen ....................................................... 5
C. Teori Analisis SWOT ................................................. 5
D. Teori Manajemen Strategik ........................................ 6
E. Konsep Penyidikan Tindak Pidana Pemilu ................ 6

BAB III : KONDISI FAKTUAL


A. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam menyusun perencanaan
penyidikan tindak pidana Pemilu ............................... 9
B. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam membuat pengorganisasian
penyidikan tindak pidana pemilu ............................... 10
C. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam melaksanakan penyidikan
tindak pidana pemilu .................................................. 11
D. Implikasi tidak optimalnya kemampuan penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat yang Promoter ...... 12
29

BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


A. Faktor Internal ......................................................... 13
B. Faktor Eksternal ...................................................... 14
BAB V : KONDISI IDEAL
A. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam menyusun perencanaan
penyidikan tindak pidana Pemilu .............................. 15
B. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam membuat pengorganisasian
penyidikan tindak pidana pemilu ............................... 16
C. Kondisi kemampuan penyidik Ditreskrimum Polda
Papua Barat dalam melaksanakan penyidikan
tindak pidana pemilu ................................................ 16
D. Kontribusi keberhasilan kemampuan penyidik
Ditreskrimum Polda Papua Barat yang Promoter ..... 17
BAB VI : UPAYA PEMECAHAN MASALAH
A. Visi............................................................................ 18
B. Misi ........................................................................... 18
C. Tujuan ...................................................................... 18
D. Sasaran .................................................................... 19
E. Kebijakan.................................................................. 19
F. Strategi ..................................................................... 19
G. Implementasi Strategi / action plan .......................... 20
BAB VII : PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................. 25
B. Rekomendasi .......................................................... 25
Daftar Pustaka