Anda di halaman 1dari 2

Latar Belakang

Penyakit kanker yang diderita pada usia anak-anak merupakan jenis kanker kronis.
Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan kemampuan bertahan para
penderita kanker semakin meningkat. Usia penderita kanker mayoritas berada pada rentang
usia kurang dari 15 tahun. Menurut data statistik resmi dari International Agency for
Research on Cancer (IARC) bahwa satu dari 600 anak akan menderita kanker sebelum
umur 16 tahun. Berdasarkan fakta dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2002-
2012) setiap tahun sebanyak 4.100 anak atau 2-3 persen anak-anak di Indonesia menderita
kanker, di mana gejalanya seringkali sulit dideteksi. Keadaan ini diperburuk dengan
kurangnya informasi mengenai kanker pada anak-anak dan rendahnya pengetahuan
orangtua bahwa anak-anak juga dapat terserang kanker sejak lahir.

Kementerian kesehatan menerangkan berdasarkan Data Global Burden Cancer


tahun 2012, jumlah kasus kanker-baru pada anak-anak dan dewasa, mencapai 14,1 juta
kasus dengan 8,2 juta kematian. Data ini menunjukkan adanya peningkatan jika
dibandingkan dengan data tahun 2008, dengan 12,7 kasus baru dengan 7,6 juta kematian.
World Health Organization juga memperkirakan bahwa ada 175.300 kasus baru kanker anak
dan ada sekitar 96.400 anak yang meninggal karena kanker di seluruh dunia. Hal ini
disebabkan banyaknya pasien yang berobat dalam stadium lanjut.

Di Indonesia, data registrasi kanker di DKI Jakarta menunjukkan jumlah kasus


kanker pada anak adalah sebesar 4,7 % (601 kasus) dari seluruh kasus kanker 12.792
kasus. Leukemia merupakan penyakit kanker yang terbanyak pada anak-anak. Leukemia
limfoblastik akut (LLA) menempati peringkat paling atas diantara penyakit kanker anak yang
dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM dengan jumlah pasien baru 60-70
pasien per tahunnya.

Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) menyebutkan, setiap tahun ada 4.100
anak terkena kanker. Leukemia bisa menyerang anak dari berbagai golongan umur, mulai
dari anak balita hingga menjelang dewasa muda, bahkan orang dewasa. Pada anak,
leukemia bahkan bisa terjadi sejak anak dilahirkan. Leukemia menduduki urutan tertinggi
dari jumlah kasus kanker pada anak. Data kasus di RS Kanker Dharmais menunjukkan,
sejak tahun 2006-2012, rata-rata ada 75 kasus kanker pada anak. Dari jumlah itu, kasus
yang paling banyak ditemukan adalah leukemia.

Leukimia limfoblastik akut mempengaruhi sistem imunologi pada tubuh anak


terutama selama menjalani pengobatan kemoterapi. Sehingga penderita memerlukan
perhatian khusus dari orangtua atau pengasuh. Kebanyakan orangtua atau pengasuh
kurang memahami kondisi penyakit anaknya sehingga mereka membutuhkan banyak
informasi terkait kondisi anaknya serta penanganan yang akan dilakukan. Dalam hal ini
orangtua dan pengasuh membutuhkan informasi yang akurat, sehingga perawat sehrusnya
mampu memfasilitasi proses pembelajaran bagi orangtua anak yang akan menjalani terapi.

Pelaksanaan proses pembelajaran yang difasilitasi oleh perawat mengacu kepada


pedoman diagnosa keperawatan NANDA dan dilakukan sesuai klasifikasi intervensi
keperawatan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang ada. Salah satu
contoh intervensi yang dapat dilakukan yakni pengajaran proses penyakit. Proses
pembelajaran tersebut selanjutnya dievaluasi untuk mengetahui keefektifan pembelajaran
terhadap pengetahuan orangtua terkait kondisi anaknya. Sehingga perlu dilakukan analisa
berkaitan dengan keefektifan tindakan pembelajaran dengan pengetahuan orangtua terkait
penyakit leukimia limfoblastik akut pada anak.