Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Apakah diagnosis sudah tepat ?


Wanita, G1P0A0, hamil cukup bulan datang ke PONEK RSUD
Palembang Bari pada tanggal 25 Agustus 2017 pukul 01.55 WIB dengan
keluhan ingin melahirkan dengan darah tinggi.
Pengambilan data pada kasus ini dilakukan dengan menggunakan data
primer melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik langsung kepada pasien, dan
data sekunder yaitu melalui rekam medik. Dalam kesempatan kali ini
dilakukan telaah kasus mulai dari identitas pasien sampai pada lembar follow
up pasien.
Riwayat perjalanan penyakit adalah sebagai berikut, Wanita, G1P0A0,
hamil cukup bulan datang ke PONEK RSUD Palembang Bari dengan keluhan
ingin melahirkan dengan darah tinggi. Pasien juga merasakan perut mules
yang menjalar ke pinggang sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien
mengetahui memiliki darah tinggi pada umur kehamilan 9 bulan ini. Pasien
mengeluh pusing namun menyangkal adanya pandangan mata kabur dan nyeri
ulu hati. Keluar lendir bercampur darah (+) dan air (-), mual (-), muntah (-).
Gerakan janin masih dirasakan pasien.
Pada pemeriksaan fisik, tekanan darah pasien 180/120 mmHg yang
menandakan terjadi darah tinggi pada kasus ini. Status obstetrikus meliputi
pemeriksaan dalam dan luar, untuk pemeriksaan luar didapatkan TFU 3 jari di
bawah processus xiphoideus, presentasi kepala dan kepala bayi belum masuk
PAP. Pemeriksaan dalam didapatkan posisi porsio medial, konsistensi lunak,
dan pembukaan 1 cm. Pemeriksaan laboratorium didapatkan proteinuria (++).
Diagnosis ibu pada kasus ini tepat yaitu preeklampsia berat, karena
pada kasus ini didapatkan pasien G1P0A0 hamil aterm dengan tekanan darah
tinggi, tidak mempunyai riwayat tekanan darah tinggi pada kehamilan
sebelumnya, namun mempunyai riwayat keluarga hipertensi (+) pada ibu.
Kemudian dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium darah

29
30

lengkap serta urin lengkap didapatkan TD 180/120 mmHg serta proteinuria


(++). Meskipun pada teori seharusnya proteinuria > 5 g/24 jam atau kualitatif
4+ (++++) tetapi sudah didapati tekanan darah sistole > 160 mmHg dan
diastole >110 mmHg dimana sudah terdapat satu gejala untuk menegakkan
diagnosis preeklampsia berat.
Pasien ini tidak mengalami pandangan kabur, nyeri ulu hati, mual-
muntah dan sakit kepala sehingga impending eklampsia dapat disingkirkan.
Pada pasien ini juga tidak mengalami kejang sehingga diagnosis eklampsia
pun dapat disingkirkan.

4.2 Apakah Penatalaksanaan sudah tepat?


Untuk penatalaksanaan pada kasus ini, pasien dirawat di rumah sakit
dengan rencana akan dilakukan seksio sesarea atas indikasi preeklampsia
berat.
Dilakukan pemeriksaan laboratorim darah berupa pemeriksaan Hb,
Urin Lengkap, golongan darah, waktu perdarahan, dan waktu pembekuan
sebagai bahan rujukan pre-operatif. Pemeriksaan laboratorium pada kasus ini
sudah lengkap karena dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan pemeriksaan
lainnya untuk mengetahui apakah preeklampsianya sudah mengganggu organ
lain atau tidak. Didapatkan dari hasil pemeriksaan tersebut tidak terjadi
gangguan pada fungsi ginjal pasien.
Pada pasien ini dilakukan terapi aktif berupa sectio caesarea karena
sudah timbul onset partus dan umur kehamilan ≥ 37 minggu . Hal ini sesuai
dengan teori bahwa terapi aktif dapat dilakukan pada kasus preeklamsia berat
apabila terjadi3:
a. Kegagalan terapi medikamentosa
b. Tanda dan gejala impending eklampsia
c. Gangguan fungsi hepar
d. Gangguan fungsi ginjal
e. Timbulnya onset partus, ketuban pecah dini, dan perdarahan
f. Umur kehamilan ≥ 37 minggu
31

Kemudian tatalaksana yang diberikan post operasi sectio caesarea yaitu


IVFD RL dengan 2 oxytocin. Pemberian cairan RL bertujuan untuk
menggantikan kehilangan cairan yang terjadi akibat perdarahan pada saat
dilakukan operasi. Pemberian oxytocin bertujuan untuk meningkatkan
kontraksi dari uterus sehingga akan terjadi involusi uteri untuk mencegah
terjadinya perdarahan
Penatalaksanaan medikamentosa kurang tepat, karena diberikan terapi
MgSO4 sebagai anti kejang untuk PEB sebanyak 10 cc. Berdasarkan teori
yang diberikan adalah 8cc pada bokong kanan dan kiri atau masing-masing 4
cc. Pada pasien diberikan obat anti hipertensi Nifedipine 3x10 mg dan
dopamet 3 x 250 mg, dimana pemilihan obat ini sudah tepat.
Nifedipine merupakan obat lini pertama yang digunakan. Obat ini yang
merupakan golongan calcium channel blocker bekerja pada otot polos
arteriolar dan menyebabkan vasodilatasi dengan menghambat masuknya
kalsium ke dalam sel sehingga berkurangnya resistensi perifer akibat
pemberian calcium channel blocker dapat mengurangi afterload, sedangkan
efeknya pada sirkulasi vena hanya minimal. Dosis yang diberikan paada
pasien ini sudah sesuai dengan teori bahwa regimen yang direkomendasikan
adalah 10 mg kapsul oral, diulang tiap 15 – 30 menit, dengan dosis
maksimum 30 mg.3
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV sebagai antibiotik, dikombinasikan dengan
injeksi Metronidazole 3 x 500 mg IV yang merupakan antibiotik anaerob.
Antibiotika profilaksis juga perlu diberikan untuk mencegah kemungkinan
infeksi khususnya dengan infeksi pascaoperasi.20 Selain itu juga diberikan
pronalges suppositoria 4x 50 mg. Pronalges merupakan obat ketoprofen
golongan NSAID yang digunakan untuk mengurangi rasa nyeri tingkat ringan
sedang. Untuk menghilangkan rasa nyeri post operatif, pasien ini diberikan
Injeksi Tramadol 3 x 100 mg IV. Pemberian obat injeksi ini diberikan paling
selama 1 hari pasca operasi, dimana hal ini sudah tepat. Kemudian,
digantikan dengan obat oral berupa antibiotik Cefixime 2 x 100 mg per oral
dan Metronidazole 3 x 500 mg, analgetik berupa As. Mefenamat 3 x 500 mg
32

per oral, neurodex 2 x 250 mg dan pemberian anti hipertensi nifedipine 3x1
dan dopamet 3x1 tidak diteruskan pada kasus ini.